Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Seblak Sublimasi

pada tepian jalan dekat toko swalayan
kerumunan adalah antidot kesepian urban

teramat dingin diabaikan oleh kenyataan
percakapan sengit dilakukan dalam genggaman

lalu dicarilah sekelumit letup kehangatan
alibi lepas dari kejaran segepok persoalan

bertemulah pada sebuah warung seblak
barangkali jadi awalan bekal buat tergelak

dalam panas minyak goreng curah
segala yang keras akan luluh pasrah

bawang merah bawang putih pun akur
berjumpa dan sepakat untuk melebur

kemiri daun bawang dan cabai rawit
aduk pelan pelan melupakan rasa sakit

ditambah gelegak didih air meletuk
kerupuk pun lunglai kehilangan keriuk

sawi mi makaroni baso dan sosis
tipis celoteh kadang sanggup mengiris

bisa juga tambahkan sepasang ceker
mesti cermat agar cinta tak mudah tercecer

paduan aroma kencur dan kenyal telur
jadi bagian dari resep memanjangkan umur

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024


Apologia Jelaga

saat terjaga dari himpitan malam
ingin  dia tulis sajak tentang tuhan
tetapi kata-kata berjalan pada hampar
basah dan telanjang

lalu pertanyaan tentang cinta
menjelma antologi nonsens
yang sasar pada geletar

entah di mana kalam
yang ada kenyal kelam di semak liar
pengakuannya hari ini seonggok hambar

Bekasi, 30 Maret 2024 


Sajak Dinding Kamar

ia begitu keras dan dingin
dengan ketebalan disepuh waktu
dan tafsir yang kirimkan lembap
menampung nyanyian mimpi

ia pun rajin merekam kejadian
pertempuran di atas ranjang
geliat pemikiran dan ideologi
pergulatan tindih dan silang
pertukaran rintih dan riang
kata kata berpilin dalam kepalan
setiap pergerakan disulut saat remang

lalu ia membaca percikan memanjang
menderetkan kumpulan teriakan
suara suara yang kemarin tertahan
di pedalaman dinding kamar
menjelma ledakan ledakan di halaman koran

Bekasi, 30 Maret 2024 


Laki Laki dan Perempuan

seorang laki laki terburu buru
nyalakan cinta dari matanya yang gelap
untuk dunia yang tak dipahaminya

seorang perempuan diam diam
sembunyi di balik mulutnya yang amat sepi
telah siapkan liang jebakan begitu rapi

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024 


Alarm Jam 3 Dini Hari

kau matikan bunyi alarm itu
yang sebenarnya tadi kau tunggu
kau pun menggerutu: ah itu lagu
mengganggu komposisi mimpiku

kau ingin sembahyang dan berdoa
tapi kau urungkan karena belum mandi besar
sehabis berjam jam bersenggama
dengan sajak sajak yang sintal dan liar

kau pijat sendiri kepalamu di atas telinga
masih ada sisa cenut cenut dari lenguh kata
lah, buat apa aku bengong terjaga jam segini
kalau hanya bisa mengencani sepi

Tangsel, 21 Mei 2024 


Budhi Setyawan, atau Buset, seorang dosen yang menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi. Buku puisi terbarunya Elegi Elegi Yogya (2024). Instagram: busetpurworejo

Puisi

Puisi Aris Rahman Yusuf

Rumah Bambu

Saat membersihkan rumah

terlintas olehku

tentang sebuah ingatan

rumah bambu

berdinding kata mutiara

Di kamar tengah

aku pernah tenggelam

oleh banjir air mata

sebab sebuah kepulangan

Setelah kepulangan

bayangan lesap

kata-kata tergenggam erat

dan, ketika lepas

ia beraroma mawar

Mojokerto, 9 Agustus 2024


Meditasi

pejamkan mata

dari serpih duka

terserak

tutup telinga

dari bising lisan

menekan iman

biarkan napas turun-naik

mengempas segala selidik

menarik tali cahaya

mengikat legam prasangka

Mojokerto, 3 September 2024


Filosofi Pelukan

Pada mulanya, cinta adalah gaib.

Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.

Pada mulanya, kita hanya sendirian.

Hingga akhirnya, tercipta pasangan.

Dari sebuah sepi,

tercipta rindu yang mengisi.

Sebuah peluk,

hadir dari lamun yang ramai

mengusik damai.

Sebab pelukan,

adalah obat manjur

menutup luka bakar.

Mojokerto, 14 September 2024


Masih Bisakah Aku Menulis

aku masih ingin menulis

namun kata-kata terasa habis

sajak-sajak terasa kikis

membuat hati seakan teriris

sajak-sajakku mungkin terbang

berkelana mencari sarang

hinggap pada sebuah kepala

yang merindukan nyala

sajak-sajakku mungkin kritis

sehingga sulit untuk ditulis

masih bisakah aku menulis?

ataukah menunggu hati kalis

Mojokerto, 14 September 2024


Hadiah Puisi

akhirnya kita memilih

untuk saling berpegangan

setelah badai mengguncang

tubuh kapal dengan kenestapaan

kita pernah memilih

untuk saling menjauh

hingga jerih mulai berlabuh

kita saling mempersembahkan puisi

untuk kembali saling mengisi

meski masih ada mulut latah memprovokasi

mulut yang bilang itu basi

Mojokerto, 15 September 2024


Saat Makan Nasi

Ia makan nasi dengan wajah pasi

lidahnya pelan menelan duka

pikirannya hanya berperang

tanpa berani keluar dari sarang

Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil

hanya jerit mengisi ruang dada

ia tetap menghitung almanak

hingga jerit lepas satu-satu

Ia makan nasi dengan perlahan

Sambil menyembunyikan duka tertahan

Mojokerto, 30 September 2024


Sebuah Wajah

Sebuah wajah tergeletak di meja

wajah itu tertutup rahasia

mengajak mata menyelam

memetik tabir yang karam

Wajah itu bisa berubah warna

mencairkan suasana

menyalakan cinta

melenyapkan duka

bahkan menanam petaka

Wajah itu memancarkan cahaya

di alam baka

Mojokerto, 1 Oktober 2024


Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.

Puisi

Puisi M.Z. Billal

BELAJAR MEMASAK

 

ia melihatmu tersenyum lagi. usai perdebatan panjang dan kau

menangis. malam itu. rasanya seperti matahari terbit dari dadanya

sendiri dan ia ingin sedikit memperlambat gerak waktu. agar malam

tidak lekas datang seperti mata dan bisik orang-orang yang tidak

berhenti mengintai dan mencecar, bagaimana perasaanmu dan ia bekerja

ketika memutuskan untuk saling memasuki tubuh dan kehidupan,

sementara kau tahu betul bahwa kau, baru saja diminta untuk mencintai

orang lain yang bukan ia; kedua orang tuamu berkata demikian.

kau lantas mengatakan lagi padanya meski ia sudah tahu.

aku ikan yang lupa cara naik ke permukaan dan kau sulur cahaya

yang jatuh lurus di palung gelap dada

 

dan ia menemukanmu sedang sibuk belajar memasak pagi-pagi sekali.

meneliti bahan-bahan di buku resep berulang kali seolah

kau ingin menerjemahkan sendiri Yale Cullinary Tablets dari Mesopotamia.

jamuan lezat untuk orang terkasih, katamu. semur sepasang merpati

ditemani dua gelas anggur putih barangkali hidangan yang indah untuk mengisahkan

bagaimana sebenarnya cinta bisa saling melahap satu sama lain. setidaknya

menyantap kesedihan dan kekecewaan yang kerap ia dan kau terima belakangan ini.

 

ini menakjubkan! aku seperti dicumbu tapi tidak oleh bibir dan dengus napasmu.

ia tidak tahan untuk tidak memujimu. barangkali ia pun ingin segera memainkan

lakon; pengunjung rumah makan yang jatuh hati pada juru masak Babilonia kuno.

kemungkinan besar ia akan bercinta denganmu di dapur rahasia itu.

pasti kau akan sangat bahagia bukankah? tentu saja. bahagia yang tidak terucap oleh suara

dan tak mampu tertulis dalam kata. sebab kau tahu bahwa selepas makan malam ini

kisah kalian berdua akan menjadi cerita yang paling banyak

diperbincangkan dan ditulis berulang kali. terutama kedua

orang tuamu, yang terus memaksa kapan kau melamar orang pilihannya

tapi bukan ia. bukan orang yang kau ajak untuk mati bersama usai menyantap

hidangan penutup mata dari panduan

memasak menu khusus untuk memisahkan raga sepasang pecinta; tapi tidak jiwanya.

 

terakhir ia membisikimu;

aku baru tahu rasa rosary pea dicampur benzodiazepine seperti ini.

 

dan kalian tiada. atas nama cinta.

 

2023


RANTAI MAKANAN

#1

adalah rantai makanan di hutan hujan tropis. Cinta itu.

diburu dan memburu. sebagian berlari kencang, yang lain bersembunyi.

Hidup karena cinta. Mati pun karenanya pula. antara rela dan terpaksa mengikhlaskan.

seperti rusa sambar kehilangan tanah kelahiran. berkali-kali takut, berseru-seru.

bahkan menyamar jadi kerbau peliharaan lelaki tua patah hati. bertahun-tahun

lamanya tidak makan. selepas kekasihnya memilih lelaki lain yang wajahnya lebih tampan.

hanya karena tampan. bukan karena perangai rupawan.

 

#2

dan ia ular jantan yang memangsamu sebab cinta adalah garis takdir.

demikian alasannya. datang kepadamu pada hari rabu kelabu. mengasihimu

sebagai anak babi jantan tersesat; ia coba meredakan

ketakutanmu dari perburuan beruang cokelat. selepas hujan

dan memberimu apel merah hutan. kau bilang, ibu tak akan pernah datang,

sudah tertulis di lauhul jenggala. lalu kau mati. menyerahkan diri atas nama cinta

yang mati rasa. dan ketika ular jantan itu baru saja melahap bagian terakhir tubuhmu.

ia juga mati. ditembak. peluru panas pemburu yang tergila-gila pada daging

ular sawah jantan.

 

#3

di meja makan malam. pukul tujuh lebih sepuluh. di hadapan sup kentang

dan mujair goreng. sebagai manusia yang ingin bebas. kau mengakui

kepada ayah-ibumu yang penuh cinta. bahwa kau sangat menyukai menu

makan malam kali ini. tapi kau juga menyukai lelaki berambut ikal

yang pekan lalu kau ajak singgah di beranda. kau mencintai ia.

demikian katamu. ibumu nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

sementara ayahmu bersikap tenang. ia berkaca-kaca. barangkali dadanya yang lebur.

bagaimana mungkin putra kesayangannya mencintai pria lain? juga. sebab ia

sudah berusaha melepas masa lalu. ketika memutuskan perempuan di hadapanmu

menjadi ibu. menjadi pendamping hidupnya.

 

2023


SUSU

 

ia meletakkan segelas susu hangat di meja dan meraih gagang telepon untuk berbicara kepadamu. pemuda itu ingin bebas tanpa harus ketakutan memeluk dirinya sendiri. namun ia tidak pula ingin membenci susu hangat lezat buatan ibunya. kadang ia ingin menjelma jadi botol-botol wiski yang keparat tapi bebas di malam tahun baru.

 

kau menelepon dari mana? ia menjawab dengan suara rapuh. Minnesota, aku membacamu di koran dan kurasa aku ingin bunuh diri.

 

kau membakar penindasan itu. dari Eureka Valley. suaramu bergemuruh tapi syahdu. menyusup dengan berani hingga ke gang-gang sempit di luar San Francisco. aku tahu kalian marah, aku juga marah. dan kita tak akan lagi duduk bersembunyi di kloset.

 

dan Hillsborough dari Mission Disctrict yang ditikam lima belas kali itu adalah bukti seruan licik dan brutal penuh kebencian, kefanatikan, ketidaktahuan, intimidasi, dan prasangka yang sialan. jangan pernah dilupakan! demikian katamu berorasi.

 

lagi dan lagi dan lagi, kau melemparkan kembang api harapan ke udara. memasuki kantor pemerintahan sebagai pemenang dan berseru-seru tanpa lelah. menekankan kebenaran akan keberadaan dan persamaan hak yang sejak lama ditindas. orang berhak punya cinta, orang tak bisa dipaksa memilih, orang tak bisa terus bersembunyi!

 

tapi pada akhirnya inilah bagian yang paling ia tak suka. ia menghubungimu lagi dengan perasaan lebih baik. pemuda rapuh dari Minnesota itu. ia masih suka susu. dan mengagumimu seperti segelas susu. namun ia sangat berduka, betul-betul berduka. bahkan jelas bukan hanya ia yang berduka. tatkala mendapati kabar orang-orang akan mengantar tidurmu yang malang dalam keheningan nyala lilin di sepanjang jalan Castro menuju City Hall. orang-orang yang sebetulnya menggulung badai kemarahan di dada mereka yang berdarah. seperti tubuh dan rasa sakitmu.

 

“if a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door”

namaku Harvey Milk. aku di sini untuk merekrutmu!


RUMPUT YANG BERNYANYI

 

O beloved moon, fear not the dawn that separates us.

For we will meet again, when the world goes to sleep

_Ramchandra Siras_

 

 

puisi yang pedih adalah cinta yang dihakimi

seperti rumput yang memang layak mati ketika pikiranmu dipenuhi sugesti: itu harus mati.

 

dan rumput-rumput di Aligarh selalu bernyanyi:

cinta tak pernah keji. cinta adalah puisi yang jernih. cinta adalah aku;

kata-kata yang merangkul kaki Ramchandra ketika

Paya Khalci Hirawal*) menjejak seolah cinta benar-benar memiliki sepasang kaki.

berlari ke lembah, menyaksikan bunga-bunga mekar dan bersyukur pada hari-hari perayaan.

 

ia tak pernah mati, meski ia sudah tiada.

tapi pernahkah kau merasakan lubang kesepian ini semakin menganga?

mengisap seperti mesin penyedot debu yang besar sekali

bahkan juga bisa membunuhmu, memadamkan seluruh siaran kebencian

televisi dan koran lokal, dan meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan Uttar Pradesh.

 

In the light of day, I am unseen.

It is in your light, my hearts awakens

 

cinta melahap kesedihannya. cinta menyembuhkan luka

batinnya. cinta merobek lembar 377**) . cinta menjelma angin

yang memasuki jendela kamarnya. cinta menidurkannya

meski kematiannya tak pernah seadil cinta itu sendiri.

dan cinta membiarkan rumput-rumput di Aligarh terus bernyanyi:

Ramchandra sudah pergi, tapi aku masih tumbuh di sini. puisi-puisi selalu bersemi.

jangan pernah takut terpisahkan, karena kita akan bertemu lagi.

2023


HIDUP SEBAGAI PUISI

 

ketika kau memutuskan untuk jadi pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang

menghabiskan waktunya untuk bertikai dengan ragam dan kelas kata. kau sepenuhnya

 

akan hidup sebagai puisi. metafora adalah pakaianmu. dan kau akan benar-benar

ahli dalam berbohong tapi juga jujur untuk mengatakan kebohongan. bahkan hingga

 

berjilid-jilid manuskripmu, kau akan seperti cacing tanah, yang mengurai potongan-

potongan cerita di dalam tanah. hanya untuk menyuburkan pohon kenangan milik

 

orang lain. ya, menjadi pesyair juga umpama kau adalah pejabat pemerintah yang suka

sekali mengurai kata-kata indah agar orang-orang terbuai dan kembali masuk jerat

 

hasratmu sementara kau terus hidup sebagai puisi. puisi-puisi yang memabukkan.

puisi-puisi yang bertabur cinta. sebab menjadi pesyair sendiri juga merupakan

 

jebakan. kau akan terperangkap oleh perasaanmu sendiri. kesepianmu, kesedihanmu,

amarahmu, bahkan rasa rindumu adalah jenis-jenis makanan yang hanya bisa membuatmu

 

kuat untuk bertahan sebagai pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang merelakan

sendiri dirinya untuk terluka, melukai, mencintai, dicintai, membunuh, atau terbunuh.

 

2022


NE M’OUBLIE MIE

 

ia mulai gelisah dari tempat yang sembunyi lagi sangat rendah, tapi Dia tahu ia berada di sana. meskipun tak terlihat. semua sedang gembira, ia belum. mereka saling berkenalan dan memuji, ia masih menanti. kebun yang semula sunyi dan kelam kini sudah indah. berbagai warna memancar sampai ke langit. sementara ia masih setia menunggu-Nya memanggil. apakah Dia lupa? tentu tidak. tolong jangan lupakan aku, tolong jangan lupakan aku. ia berseru-seru di antara bising kebahagiaan yang lain.

tidak. tidak mungkin Aku melupakanmu. Aku mengatur dan mengingat segalanya. nama itu untukmu. “Jangan Lupakan Aku”. Dia tersenyum kepadanya. agar semua ingat kepadanya. meskipun Dia tahu ia berbeda, Dia juga tahu ia beriman.

 

2023


SELAMAT PAGI AKU

 

selamat pagi aku

bagaimana kabarmu hari ini?

 

di gerbang yang ke sekian ribu

pagi. kulihat diriku yang lalu

di mana-mana. menjadi ruh apa saja.

menjadi cinta yang ditunggu-tunggu

seolah aku selalu hidup sebagai

bulan kasih sayang. juga menjadi

akar pohon rasa lelah

yang membelit liar seluruh

dada yang dewasa

meski kerindanganku selalu tampak

baik-baik saja. aku menyaksikan

segala yang terpotret dan tersimpan

di kepala. sementara sisa yang lain

menjadi abu tanda

tanya sebelum aku

menggapai daun jendela

 

dan hari ini aku masih terlahir

lagi sebagai orang baru dengan tubuh

dan luka dan harapan yang sama.

aku melangkah memasuki hari ini.

waktu yang pendek untuk rasa ingin

yang panjang. sementara di tanganku

memegang jaring nelayan. entah apa

yang harus kulakukan

dengan ini. ikan tidak berenang

di permukiman warga, di ruang kerja

atau di jalan yang sibuk,

bukankah? ya. aku terus saja melangkah.

berusaha dan bertanya-tanya.

 

halo aku. ternyata sudah sore saja

bagaimana kabarmu hari ini?

pulanglah. kembali lagi esok.

akan kutulis lagi sepucuk

surat pendek seperti biasanya.

bacalah sebelum mengunjungi

gerbang ke sekian ribu pagi itu.

2023


KEPADA SESUATU DI SURAKARTA

 

kehampaan ini membentang sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

 

aku menghabiskan waktu

di balik layar komputer, menikam

huruf-huruf dan angka-angka seperti

perburuan bintang jatuh di langit selatan.

sementara kau masih menjadi kopi

dan dinding hijau alpukat yang selalu

kuiimpikan sebagai portal

memasuki duniamu.

 

kau adalah ganymede yang membuat

zeus tak ingin jauh-jauh darimu.

hingga aku pun menjadi ia yang betul-betul

tak  mampu lagi menahan diri untuk

tidak memasuki  tubuhmu

menanam pohon  jambu mawar  dan anggur

di sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

yang hampa dan tidak ada

siapa-siapa kecuali

cintaku dan aku.

 

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.

Puisi

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Satu Warna

 

/Nona/

 

Pada tungku yang menyayang yin dan yang

aku duduk di sudut sambil mengaduk warna hitam saja.

Aku memangku kisah cinta kita seperti

dua telapak tangan melindungi lilin perawan.

 

Aku menatap diriku pada rumah ibadah

dan membiarkannya terbakar sepenuhnya.

Aku bilang, kita tak mungkin bercinta di sana.

Di sana keluargaku bercampur pada tungku yin dan yang.

 

Langkah gontai di tengah buruan kecewa dan malu

membawaku kembali pada lembut suara dan harum rambutmu.

Lidah kelu yang tadi tak bisa bertingkah dan menyangkal kini

cekatan mengkaji setiap bagian tubuhmu dengan napas memburu

dengan bantuan jari jemari karena itu saja yang aku punya.

 

Mengaduk rasa yang sama: saliva kita

membuka kelopak bunga yang sama—tak kautemukan

muntahan busuk itu, kita hanya menangis.

 

/Dara/

 

Tak perlu kautanggalkan mahkotamu itu

sebab kau harus tetap menjadi ratu.

Jangan kau pergi meninggalkan ibu kota dan

menjelajah dunia untuk menjadi bapak-bapak pendiri.

 

Lalu akan melanglang buana diriku dalam lika-liku indramu:

akan kusamarkan cita rasa kaki Adam

yang selama ini menjejaki Puncak Sri Pada hatimu;

akan lekat hatimu bermandikan pasir rusuh

dalam kecemburuan Hawa di daratan Arab.

 

Bersatu padu dalam jalinan kasih yang samar,

selama bulan masih bersinar, kita harus

sembunyi dengan benar, dan jangan sampai

matahari mengolok kita penuh sinar.

 

Rambut kita berkelindan dengan kerlingan bara api

dan dari tangis serta elegi kita akan kembali

kepada tungku yang memanggang yin dan yang

dan mencelupkan jiwa kita ke sana: jurang hitam legam.

 

Sampai lilin kita yang perawan padam,

janganlah engkau berhenti mengaduk, Sayang.

 


Diskursus Emosi

 

Sangkakala berbunyi di ujung malam

mengguncang orang-orang yang beriman.

Mereka yang teguh kembali runtuh

meski telah matang dalam persiapan.

 

Di tengah dimensi emosi yang gagap

mimpi buruk hinggap di antarmasa gelap.

Dan pagi tiba. Ia membuka mata.

Mimpi indahnya lenyap begitu saja.

 

Ia tak ingin kembali pada hari lalu yang gelap,

tetapi pagi memaksanya melanjutkan pemaknaan.

Ia menjawab pertanyaan dengan asal-asalan

lalu pulang dengan tegap menawan.

 

Ia melihat kanan dan kiri,

ladang bunga berwarna-warni.

Sementara dirinya adalah gurun pasir,

tersesat mencari sumber mata air.

 

Di matanya ia temukan oasis,

ia mandi di sana sepuasnya.

 


Menyetubuhi Kata

 

Aku memetik helai rambutmu,

merajutnya menjadi metafora.

 

Aku memangkas mimpi-mimpimu,

lelap mereka bermakna ganda.

 

Aku menambang lubang hidungmu,

konjungsi melenggang bebas

bersama tanda baca mewujud kalimat.

 

Aku memoles bola matamu,

memastikan setiap pembaca berkaca-kaca.

 

Aku menjadikan pangkuanmu perpustakaanku,

pahamu tempatku mengeja rindu.

 

Aku menggigit daun telingamu,

mengimitasi suara agar lidahku serbaguna.

 

Aku meludah di telapak tanganmu,

mencongkel air yang berkerak di garis-garis idenya.

 

Aku mencabik buah dadamu,

merasakan haru merasuk, lalu nafsu

memburu pena agar berdansa leluasa.

 

Aku melamun di tepi pipimu,

mengunyah diksi sambil disapu ombak.

 

Aku menusuk punggungmu,

menanam cinta pada setiap ruas

yang bermekar lindu konsonannya.

 

Aku mengecup bibirmu dengan syahdu,

mengalirkan rima di tiap merahnya.

 

Kini puisi telah lahir.

Ia telanjang bulat.

Mari tanggalkan baju kita

agar puisi ini punya busana.

Kita lanjut lagi bercinta

agar puisi-puisi lain bisa terbaca.

 


Telanjang

 

Mari kita bergandeng tangan

dan berjalan bersama-sama

dengan kondisi telanjang

menuju toko pakaian di sudut jalan

lalu membeli dosa sampai banyak sekali

untuk mengenyahkan malu di wajah kita.

 


Telanjur Tenggelam

 

Pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam

adalah menangis di hadapan mereka karena mereka tenggelam

kemudian pergi dan membiarkan mereka mati karena tenggelam.

 

Belasungkawa pertama untuk orang yang mati karena tenggelam

adalah menangis di hadapan jasad mereka karena mereka tenggelam

dan menyesali kenapa tidak menarik mereka ketika mereka tenggelam.

 


Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.

Puisi

Puisi Yeni Kartikasari

kobar

; ummu jamil

kawanku ini muskil menguntitmu. cerita yang kaudengar bukanlah karangannya. kau sendiri yang membuat kisah itu, sejak suamimu mendustakan titah. “terputuslah dari rahmat tuhan,” kata lelaki pujaan hatimu itu kala dua genggam tahi unta ditimpukkan ke punggung kawanku. tapi kawanku yang bersahaja, lagi pemurah kalbunya, lembut lisan, dan sejuk dipandang, tersenyum sejenak, “tunggulah ash-shiddiq, kau akan melihat kuasa.” dan, aku benar menyaksikan segala tuaimu, wahai perempuan panjang lidah dan pembual. kini tubuhmu kian melorot dan kerut di antara dahimu meliuk-liuk. kau menjadi reyot di mataku, barangkali juga mata kawanku, atau mungkin di mata suamimu nanti, tatkala kau kembali ke rumah untuk mengajaknya bercinta.

ponorogo, agustus 2024


sabda

; ash-shiddiq

sungguh, ash-shiddiq, aku ini seorang penyair yang tak pantas kau lukai dengan sabda langitmu yang turun tanpa bentuk. sabda-sabda itu hanya kedustaan. sabda-sabda langitmu hanyalah kehinaan. maka, percayalah padaku, lenyapkan kawanmu, lalu ikutlah aku seperti orang-orang quraisy memegang kakiku. aku teramat benar adanya. ada tanpa kasak-kusuk ketiadaan yang kerap digaungkan kawanmu perihal tuhannya.

sungguh, ash-shiddiq, dibanding kawanmu, kata-kataku lebih segar layaknya air laut merah dan tak kering semacam ayat-ayat tuhannya yang berpasir. aku ini penyair wanita dengan segala kebenaran di atas kebenaran. maka, di mana kawamu itu? kini, untuk kesekian, ingin kuhujam mulutnya dengan batu-batu yang telah dikutuk latta dan uzza—penciptaku yang maha tinggi setinggi-tingginya, sebab ia telah meragukan syairku dan mengagungkan sabda langitnya.

sungguh, ash-shiddiq, aku ingin kau menyaksikan antara syairku dan sabda langit kalian, mana di antara keduanya yang mampu membuat orang-orang di tanah ini menundukkan kepala?  keluarlah! jangan kau sembunyikan diri dan melindungi ia. di mana penyair gersang itu? apa diam-diam ia telah tak mampu menandingi syairku?

ponorogo, agustus 2024


jalan lain

; kawanku

pulanglah

wanita itu

telah membawa

kerusakan

kau bisa lewat manapun

yang kau ingin

dari tenggara

barat daya

timur laut

atau mana saja

sebab kita telah belajar

rasi bintang

dan macam garis langit

dengar, kawanku

ini musim semi

edar pandangmu

ke berbagai penjuru,

lalu temukan biduk itu

di petang paling pekat

jika di sana kau temui

sesuatu serupa gayung dan gagang

atau layang-layang

yang terikat sehelai benang,

berjalanlah ke arah

bintang terterang

karena ia adalah petunjuk

biar kau sampai padaku

sebelum kita sama-sama menua

sebelum wanita itu

menghancurkan jalan kita

ponorogo, agustus 2024


suatu garis

; ash-shiddiq

telingaku pekak

tapi sunyi terasa

seperti punya bunyi

suara apa itu?

katakan dari sana

agar aku dapat

terus mengenali

apa itu sebuah deru,

dengung, gemuruh,

lengking, atau apa?

sebab, semuanya menyatu

hingga garis khayal

yang ku bayangkan

di langit

buyar

di sini

aku lemah

menyusun

garis-garis itu

tiada bentuk golok,

garpu, sendok,

atau peti mati

yang berhasil

aku bentuk

katakan segera

apa nama suara

yang memenuhi

pendengaranku?

sebab pelan-pelan

aku jadi kosong

suhu sudah menembus

tulangku dan aku

teramat ngilu

katakan dari sana

atau kalau kau tidak tahu

setidaknya

kaulah

yang harus

menemuiku

dan lupakan

wanita itu

ponorogo, agustus 2024


nur

; ash-shiddiq

aku adalah nur

pembawa kayu bakar1 itu tak akan bisa melihat kawanmu.

ponorogo, agustus 2024

1) pembawa sebutan al qur’an bagi ummu jamil binti harb bin umayyah.


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Pengakuan Tangan

maafkan tanganku jika suka

mengelus halus pipimu

meski tak harus menunggu

air matamu jatuh terlebih dahulu.

tanganku selalu kaku

untuk melakukan sesuatu

yang pada akhirnya

hanya menjadi sia-sia.

begitu berat bagi tanganku

menamparmu 

& begitu ringan bagi tanganku

memelukmu.

mungkin itu salah satu alasan;

tanganku diciptakan.

Yogyakarta, 2024


Seperti Apologi

ada yang bergetar dalam diri

tapi tak mampu diucapkan lidah.

ingin kunyatakan sesuatu

tapi kenyataan lebih dulu menyadariku.

dunia begitu ambigu,

& aku tiba-tiba setuju.

bahwa yang jauh

bisa jadi lebih menyentuh.

Yogyakarta, 2024


Iklan Kesedihan

telah kupromosikan kesedihan ini,

tapi nyaris tak ada yang tertarik

& tak ada yang mau menarikku

dari terjalnya jurang kemiskinan.

kemudian kesepian menggugat;

tentang kesehatan cinta, keadilan rindu

& kesejahteraan nasib masa depan yang belum tentu

karena engkau masih tak mau memikirkan kesedihanku.

sebenarnya, ingin rasanya aku berbagi kesedihan ini,

kesedihan yang seharusnya menjadi milik kita bersama

tapi nyaris hanya koran yang mau menerima dan menghantarkannya;

ke berbagai penjuru mata,

mungkin juga termasuk matamu yang tak suka membaca air mataku.

Yogyakarta, 2024


Pencerahan

pembunuhan terhadap tuhan

sudah lama direncanakan,

& kematiannya kita rayakan

dengan tidak sederhana.

& kini saatnya kita ciptakan kembali

sebagai proyeksi ketenangan;

karena iman di hati

masih merasa kehilangan.

sebagaimana lilin menyala

ketika ditiup, kemana perginya?

tapi kita lupa bertanya,

kecuali setelah kehilangan

makna dari keberadaanya.

sedang tuhan telah mati,

sejak kebebasannya kerap dibatasi

dengan dasar kebenaran pemikiran kita sendiri.

lalu apalagi yang berharga

selain kejadian yang tak terduga?

maka yang ada di luar sana,

menciptakan kita

juga untuk bertanya, misalnya;

sudah berapa tuhan

kita ciptakan di dunia?

Yogyakarta, 2024


Memorabilia yang Lain

aku akan mengenangmu, alena

sebelum senja ini selesai

mewarnai pelupuk mata.

di antara terumbu karang

kesunyian telah kubentang

lewat ketam bayang-bayang.

di sini, alena

kukenang kembali pulau dan nelayan

yang asin dan yang mulai asing.

karena segalanya mesti berakhir,

termasuk matamu dari mata penyair,

maka, kusimpan rindu yang amis itu

pada bait sajakku; dari waktu ke waktu.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

X

kau adalah x

yang berubah menjadi suara

yang kedap di kepalaku

menjadi dengung

kau telah melintasi tujuh dimensi

mampir di setiap kelahiran

menjadi suara bayi yang menangis

menjadi jerit putus asa seorang gadis

yang diselingkuhi kekasihnya

menjadi bisik pelan sebuah rahasia yang dijaga turun temurun

hingga batas yang sudah digambar takdir

lalu hari ini,

kau berada di bawah gedung

dengan kekasihmu

kau menangis ke arahku

yang siap melompat dari ketinggian–

seratus meter lebih

tapi tak berubah

di mataku, kau hanya memburam

2024


Rum Raisin Chocolate Ice Cream

siapa yang bisa melolong seperti anjing?

kau hanya wanita yang menangis setiap kali tubuhmu patah

di braga, trotoar menunggumu

dan seorang kekasih yang baik hati sedang duduk di bawah lampu

bersama anjing dan rum raisin chocolate ice cream yang sudah meleleh menjadi sisa udara dingin di tangannya

sedalam apa masa lalu menyayat kulit tubuhmu?

di kamarmu, kau cium aroma rum dan coklat yang meleleh

kau kenali udara dingin itu lebih dari mengenali dirimu sendiri

di braga, rum raisin chocolate ice cream

tinggal berupa aroma kehilangan yang tajam

lelaki itu menuntun anjingnya pulang lebih baik dari hari sebelumnya

lalu, kau ingin melolong?

di kamarmu, kau sedang merangkak menjadi–

anjing?

2024


Bunga Sihir

you are daffodil

but i’m devil?

kelak kesedihanmu sampai ke telinga bulan

; bakung yang merintih di sajak-sajak rapuh yang menggema sepanjang sungai mengalir tanpa ampun dan tanpa maklum

melewati keras kepalanya peradaban

melewati aku

di dinding kepalamu

kau bentuk senja menjadi tubuh perempuan

kau cium keningnya sepanjang umur dan sepanjang apa pun yang tak terjangkau ujung

kau adalah bakung

tumbuh sepanjang tubuhku

bungamu mekar di dadaku seperti sihir

kau merasuki tubuhku

melampaui akal

kau bawa jiwa perempuan yang kau cintai

lalu aku jadi menderita

ingatanku jadi lorong gelap menuju matamu

aku sudah menolakmu seperti iblis

aku siapkan racun paling mematikan

apabila kuminum, tubuhmu pecah dalam tubuhku

serpihan halusmu akan mengalir melalui arteri

lalu kulihat engkau hanya berupa–

wajah yang pucat

who’s the devil?

2024


Dari Aethelflaed ke Perutku

disaksikan bulan pukul dua pagi

aku melihat ia turun dari mata aethelflaed

lalu berdiri di kaki ranjang

ke mana perginya cermin-cermin di kamarku?

lady of the mercians

di dinding, aku melihat bayangannya berwarna putih

seperti warna sayap malaikat

dan kuda-kuda berlari

lalu seluruh kecemasanku lenyap

ia memelukku sampai gelap dan

rambutku jatuh helai demi helai

menjadi hujan yang lamat-lamat hilang

di pahaku bau amis darah berganti jadi aroma bebukitan dan bau dinding tua

lihatlah, tanpa cermin aku melihat aethelflaed melalui tubuh itu

; gadis kecil yang meringkuk tanpa ibu

menahan sakit perut datang bulan

yang membuatnya kedinginan

2024


Blur

begitu jauhnya aku

hingga tak berjarak dan tak terhitung

aku kehilangan tangan dan dahimu

aku kehilangan udara hangat hingga tubuhku biru. hingga bibirku kaku.

tapi aku tidak menangis

sejak lama dadaku sudah menjadi es

meski nyeri

dan sekelilingku menjadi mendung

lalu dingin

mengapa aku sulit menemukanmu? mengapa kamu tidak menemukanku

berikan lenganmu,

aku hampir hilang

2024


Petite Fleur

dadaku baru tumbuh sebesar kiwi

kiwi paling kecil yang pernah kumakan

kau bilang aku adalah gadis kecil yang manis

kau letakkan jarimu dengan gemetar

kelak di sini akan mekar bunga, katamu

tapi aku memelihara api

kau menggendongku seperti menggendong permen kapas

aku seakan melayang di punggungmu yang seluas gardenia

dan tidur layaknya peri kecil yang pucat

seperti vampir

lelaki besar yang tingginya mirip eiffel yang sulit kujangkau, sudah sejauh apa kau tamasya?

dadaku sudah tumbuh mekar

kau akan hirup wangi bunga yang dulu kau tanam di puting susuku

pinggangku sudah kuukir menjadi lembah

kau akan betah menjatuhkan diri di sana

seberapa jauh buku-buku membawamu lari dariku?

kuciptakan jalan pulang dari helai-helai bulu mataku yang jatuh

kau tidak mungkin tersesat bahkan jika matamu terpejam

bahkan jika kau tikam rembulan 

kau akan tetap menemukan jalan kembali

apa yang kau temui di sana?

konon harga kesetiaan lebih mahal dari mimpi, kan?

2023


Sejarah Kehilangan

di tubuhmu yang malang

waktu sudah amat matang

jarumnya berdetak ke arah maut

kau duduk saja di sana

dengan letih yang kau sembunyikan di dada

matamu menatap lurus pada ia yang berdiri di seberang jalan

di kepalamu tergambar sebuah wajah

seperti tayangan di televisi tua

dan adegan seorang gadis kecil yang menuntun chihuahua yang

kehujanan di punggung jembatan

tubuhmu menggigil

arloji berdetak lemah

ia masih bertahan di seberang jalan

sekarang wujudnya mirip seorang lelaki besar yang sedang mengawasimu

tangannya yang panjang dan gelap bergerak tak karuan

lalu cepat meraih tengkukmu yang dingin dan ungu

di kaca sebuah gedung

tak kulihat lagi wajah yang pucat

dan tak kulihat juga bayang seorang gadis mungil

yang menangis sambil menuntun chihuahua

maka aku merasakan lagi

kehilangan yang tidak asing

2023


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media. Penulis dapat ditemui di Instagram @_galuhayara

Puisi

Puisi Alexander R. Nainggolan

Sajak Tentang Stasiun

orang-orang, bukan aku

rel dingin

kereta

keberangkatan yang janggal

lalu pada siapa akan tertuju

batas jalan

orang-orang, bukan kau

duduk melipat waktu

tenggelam dalam lamunan

aku bertabrakan dengan mereka

bukan kereta

kalender berganti

pagi, siang, sore

jam bergegas

detik-detik

terhambat

aku dan kau berjalan

entah memikirkan apa

atau hampa

kosong

melayang dalam kembara

tak jelas letak akal

tak ada tanda

peta-peta lama

yang mampu mencatat langkah

orang-orang mulai berteriak;

kapan kereta berangkat?

2019


Sajak Tentang Istri

                        – rina

“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”

lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi

luruh masuk dalam tangismu semalam

masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku

di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam

tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia

sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak

menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu

setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap

merupa gerimis masai. renyah dalam duka

terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku

“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”

semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu

menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu

setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai

bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,

atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah

tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah

di halaman hatimu

“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”

lantas kugegaskan saja perjalanan ini

mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru

bukan sesat dan penuh isak

2019


Sajak Tentang Hujan Malam

tak ada yang kekal

bau hujan

tanah yang bergulingan

aspal basah

cahaya lampu bersejajar

semua mengkilap

menghapus duka

hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku

lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia

mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu

seperti bekas darah merah di celana dalammu

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun

ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai

tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap

asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin

adakah yang kekal?

selain matahari

aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam

gulita. kubaca zarathustra

tak ada

tak

tak ada

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi

2019


Ujung Percakapan

1.

percakapan ini akan ada ujungnya

kau akan mendapati sebuah pagi

yang miskin matahari di sana

tak ada bentang cakrawala

cuma pertikaian yang kerap tak sudah

2.

mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu

kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur

masih banyak hal-hal lain yang tak terucap

bukan karena kata

bukan sekadar percakapan hampa

3.

tapi sudah jauh kita melangkah

tak perlu kita kebas lintangan nasib

sebab akan kita khidmati seluruh karib

merentangkan sebilah mimpi yang resah

2019


Senin Pagi

Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi

Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah

Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi

2019


Gerimis Tak Sampai

Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi

Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini

Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah

Tapi, gerimis tak lagi sampai

Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang

Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori

2019


Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).

Puisi

Puisi Khairuz Zaman NT

Sandal

Dulu, ibuku berkata

Anak kecil tidak boleh membawa sandal

Jika hendak bermain keluar

Takut hilang dan tertinggal

Kecuali ke madrasah dan langgar.

“Sandal hanya untuk perjalanan jauh

Melewati aspal dan terjal

Supaya kakimu bisa tahan

Menginjak rindu di tanah orang.

Sekarang aku paham

Juga lebih butuh banyak sandal

Ketika hidup mulai licin dan berliku

Pada takdir yang berbatu.

Aku tahu mengapa kakak dulu

Banyak mengoleksi sandal:

Ia harus menyesuaikan kenyataan

Dengan kaki yang mulai enggan berjalan.

Dan aku lebih suka sandal tebal

Ketika tak ada lagi tangan ibu ‘tuk dipegang.

Sandal adalah sepasang alas

Bagi kaki yang tak pernah tidur pulas.

Annuqayah, 2023


Kayu Bakar

Karena merindukan abu

Dapur menjadi ibu

Dengan tangan iba

Memungut kayu-kayu.

Sejak rintik pertama,

Mata wadung dibasuh

Di tubuh kayu yang mulai basah

Dan aku mulai membaca urat kayu

Sebagai surat yang ditulis hujan kepada akar.

Sebab ranting tak pernah mampu

Mematangkan lapar dan senyum ibu

Dalam tungku tak ada yang abadi

Kayu hanya akan menjadi abu

Dan kembali ke rahim waktu.

Sedang aku adalah iba di mata ibu

Yang tiba-tiba tabu untuk menjadi kayu

:hangus terbakar, arang padam dikubur kabar.

Annuqayah, 2023


Nirsampah

Aku tak pernah tahu

Seorang teman yang berangkat

Di awal sya’ban

Akan pulang dengan tangan

Tak berdebu

Yang aku tahu,

Ia selalu

Menyapu masa lalu

Halaman yang menyimpan

Kesedihan daun-daun

Dan mengekalkan bau dapur

Di Panggung Harjo

Kaki ramadhan mengantarku

Menjemput mimpi kiai

Menyambut senyum bumi

Di sinilah, hidungku

Hidung seorang santri

Tak mencium bau

Mulut dan perut

Manusia

Di laboratorium itu

Mesin-mesin menjerit

Menguliti nasib

Mencacah dan dipilah

Dengan doa-doa Khalifah

Matahari jatuh di mesin pemusnah

“akankah kita mereplika mereka?”

Tetapi, sampah adalah santri

Dipasrahkan sepenuhnya oleh wali

Dan tak maujud satu pun alat

Untuk mengasuh dan merawat

Kemudian,

Di Kemisan

Tong rongsok

Mengelas karat

Tang karet

Lehernya diikat

Dengan teriak panjang

Kelamin tumbuh

Dan kran kencing

Ke dalam botol

Muasal musim lebat

Meski di bawah ketiak

Kemarau

Aku tak pernah tahu

Sebuah kampung yang diapit Panggung

Krapyak dan Arca Yoni

Menetaskan darah nifasnya

Di ujung sebuah pulau

Bertabur garam

Yang aku tahu

Seorang lurah datang

Pada malam tanpa

Kur badar

Nyanyi-nyanyian

Dan penyambutan

Ia hanya menanam himmah

Nirsampah

Dan menitipkan qaul

“teknologi mesin adalah jalan terakhir”

Annuqayah, 2023


Polisi yang Lain

Di jalan Panti Rapih, pukul delapan lewat delapan

Seorang pemuda menyetop motor

Berplat nomor mati:

Remaja solo

Mahasiswi gajah Mada

Berhenti dengan degup kesal aneh

Di jalan Sabirin, jam mogok

Mata macet

Bunga Flamboyan

Kuntum Delonix regia

Memekarkan netra

Di sepanjang jalan kota

Di jalan itu

Polisi tak ada

Hanya sepasang manusia

Saling memenjara tatapan

Dan memborgol masa depan

Sebuah jalan tanpa waktu

Tanpa rambu

Mengantarku kepadamu.

Annuqayah, 2023


Borgol

Cincin ini adalah borgol

Yang dipasangkan Tuhan

Di jemariku-jemarimu

Saat kita tertangkap basah memanjat doa

Dan saling bertukar fatihah

Masih lekat dalam ingatan,

Malam-malam aku memasuki rumah-Nya

Seraya diam-diam mencuri rida.

Sementara, kau mencari kunci

Di bawah rak mimpi ibu

Untuk membuka kepala bapak.

Adakah ia akan menggandengkan tangan kita

Hingga Tuhan kehilangan cara melepaskannya

Atau ia hanya seutas tali pengikat kayu

Yang dikumpulkan hanya untuk menjadi abu.

Siapa pun –termasuk kita—ingin

Memasuki liang itu

Mengerami janji yang tertulis

Di langit-langit azali.

Annuqayah, 2024


Sebatang Kayu

; sapardi djoko damono

Aku ingin hidup sebagai sebatang kayu

Setia mengabdi pada tungku

Meski ia tahu

Pada akhirnya akan menjadi abu.

Aku ingin mati sebagai sebatang kayu

Sabar ditebang menjadi lembar buku

Meski ia tahu

Pada akhirnya tak pernah subur ditulis waktu.

Aku ingin tetap sebagai sebatang kayu

Meski hidup menjadi payung

Dan mati tak ada berkabung.

Annuqayah, 2023


Khairuz Zaman NT, kelahiran Sumenep, 24 Pebruari. Santri PP. Annuqayah daerah lubangsa, aktif di Sanggar Andalas dan Padepokan Salak.