Cerpen

Yang Berganti Nama di Buku Sejarah

Cerpen Erna Surya

Terakhir kali kulihat wajah itu bukan ketika kami masih bersembunyi di kolong jembatan dekat Kali Code, menunggu iring-iringan truk tentara berlalu. Bukan juga saat kami menggenggam erat tangan masing-masing di tengah gelap, berharap fajar tak datang membawa peluru. Wajah terakhir itu kulihat di ruang interogasi, bertahun-tahun kemudian, di antara bau darah yang belum kering dan suara logam memukul tembok. Ia tersenyum, entah kepada siapa. Dan aku tahu, di detik itu, seseorang sedang mencatat dosa terakhirku di buku yang tak bisa kubaca.

“Tuhan tidak akan menaruh belas kasihan pada bajingan sepertimu,” katanya pelan.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari popor senapan.

Ya, memang.

Bukankah terlalu banyak wajah yang sudah kulenyapkan atas nama sesuatu yang kusebut ideologi? Bukankah terlalu banyak tubuh yang kubenamkan di lubang-lubang tak bernama yang bahkan tikus pun enggan singgah di sana? Aku tak pernah menghitung berapa nyawa yang kutarik keluar dari jasadnya. Kalau ada yang mau membangun monumen dari tulang belulang itu, mungkin satu bukit di pinggir Bantul akan penuh sesak dengan kepala manusia.

Kau tahu, dulu kami tak menyebutnya pembunuhan. Kami menamai itu “pembersihan.” Kata yang manis, rapi, dan terdengar seperti tugas mulia. Tapi malam-malam di kepalaku masih meneteskan darah hingga hari ini.

***

Aku dijuluki Gatot, bukan karena aku gagah, tapi karena aku yang paling cepat menusukkan bayonet tanpa perlu perintah dua kali. Tahun-tahun itu, udara Jogja penuh dengan bisik-bisik tentang pengkhianat, dan aku seorang pemuda yang baru lepas dari barisan rakyat dan dipilih jadi tangan kirinya negara.

Setiap malam, aku dan dua orang lainnya, Gendon dan Wiryo, menjemput orang-orang yang dituduh simpatisan. Kami membawa mereka dengan truk ke tepi sungai atau sawah yang sudah kering, lalu suara tembakan menjadi tanda berakhirnya urusan. Kadang tak perlu tembakan; cukup sebuah cangkul yang menghantam tengkuk.

Kami tidak diberi nama, hanya nomor. Nomorku 23. Aku tak tahu siapa 1 sampai 22, tapi aku tahu nomor 24 adalah Sulastri, perempuan yang kemudian mengubah segalanya.

Dia bukan tawanan. Dia juru ketik di pos komando, sering membawa termos kopi dan senyum kecil. Di antara bau keringat tentara dan lumpur, senyumnya seperti air yang menetes di batu panas. Aku mencintainya dalam diam yang bodoh. Mungkin itu satu-satunya hal manusiawi yang masih tersisa di dalam diriku saat itu.

***

Suatu malam, setelah menuntaskan “pembersihan” terakhir di daerah Klaten, aku kembali ke barak. Sulastri duduk di meja ketik, menggigit bibirnya, menyalin laporan tentang berapa kepala yang hilang hari itu. Aku membaca sekilas: 23 orang.
Angka yang kebetulan sama dengan nomorku.

“Kau tidak lelah, Las?” tanyaku.

“Kalau lelah, untuk siapa aku bekerja, Gatot?” jawabnya, tanpa menatapku.
Suaranya serak tapi lembut, seperti serat daun pisang yang digesek angin.

Malam itu kami bicara banyak hal, tentang rumahnya di Kulon Progo yang terbakar, tentang adik laki-lakinya yang ditangkap di Surakarta, tentang keyakinan bahwa Tuhan pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang berdosa. Aku ingin mengatakan padanya bahwa Tuhan mungkin sudah mati di lubang tempat kami mengubur para lelaki itu, tapi bibirku kelu.

Sejak malam itu, aku berhenti menghitung berapa mayat yang kuurus. Aku mulai menghitung berapa kali Sulastri tersenyum padaku.

***

Lalu, sebuah laporan datang: Sulastri dicurigai membocorkan nama-nama ke pihak seberang.

Aku menertawakan kabar itu. Tapi tawa itu berhenti ketika Letnan memanggilku dan memerintahkan aku sendiri yang menginterogasinya.

“Kau yang paling dekat dengannya. Kau tahu bagaimana memancingnya bicara,” katanya.

Aku menolak. Tapi perintah adalah perintah. Malam itu aku duduk di seberang Sulastri, di ruang sempit berlampu pijar. Meja di antara kami basah oleh keringat dan kopi tumpah. Ia menatapku seperti menatap seseorang yang sudah ia siapkan di dalam doa: bukan untuk keselamatan, tapi untuk pengampunan.

“Kau harus bicara, Las. Mereka akan datang jika aku tak mendapatkan pengakuan.”

“Apa yang harus kuakui, Gatot?”

“Apa pun yang mereka mau dengar.”

“Kalau begitu aku akan mengaku semuanya, termasuk dosamu sendiri.”

Dan di situlah, aku untuk pertama kalinya merasakan takut. Bukan takut pada peluru, tapi pada kebenaran yang bisa menghancurkan diriku sendiri.

“Aku tidak pernah membocorkan rahasia. Tapi aku mencintaimu,” katanya kemudian. “Dan itu sudah cukup untuk membuatku mati di sini, bukan?”

Suaranya pecah. Aku menunduk. Tanganku gemetar di atas meja.
Di luar, suara jangkrik bersahutan seperti nyanyian pengantar ke liang kubur.

Keesokan harinya, Sulastri “dihilangkan.” Aku tidak hadir dalam eksekusi itu, tapi aku tahu siapa yang memegang pistol. Dan entah kenapa, sejak saat itu, aku berhenti bermimpi.

***

Lima belas tahun kemudian, ketika orde yang dulu kami bela runtuh oleh orde yang baru, aku masih hidup. Rambutku memutih, tanganku gemetar, tapi bayangan Sulastri tetap jernih di kepalaku.

Aku tinggal di rumah tua di pinggir Kali Gajah Wong. Setiap kali hujan datang, air sungai naik dan menyeret sisa-sisa lumpur yang seperti masih menyimpan suara jeritan malam. Orang-orang bilang aku gila karena sering berbicara sendiri di tepi air. Mereka tak tahu, aku sedang berbicara dengan masa laluku.

Suatu sore, seorang lelaki muda datang mengetuk pintuku.
Namanya Rama, wartawan dari Jakarta. Katanya, ia menulis buku tentang mereka yang hilang di masa lalu. Di tangannya ada map cokelat, dan di dalamnya ada foto Sulastri muda, tersenyum.

“Kami menemukan kuburan massal di Bantul,” katanya pelan.

“Ada sepotong tulang dengan gelang perak bertuliskan Las.”

Aku hampir roboh. Gelang itu pernah kuberikan padanya, malam sebelum ia lenyap.

“Apakah Anda mengenalnya, Pak Gatot?”

Aku tidak menjawab.  Aku menatap foto itu lama, seolah wajah di sana bisa berbicara.

Rama lalu menyalakan perekam dan berkata, “Boleh saya dengarkan cerita Anda?”

Dan sejak itu, percakapan ini dimulai. Entah ia sadar atau tidak, aku bicara bukan hanya padanya. Mungkin juga pada Sulastri, pada Tuhan yang dulu diam, pada setiap arwah yang masih gentayangan menuntut nama mereka disebut.

***

“Jadi, Bapak membenarkan semua tuduhan itu?” suara Rama bergetar.

“Tidak perlu dibenarkan. Itu sudah terjadi.”

“Berapa orang yang Bapak habisi?”

“Cukup untuk membuat sejarah tak bisa tidur.”

Aku tersenyum getir. Kadang-kadang dosa memang terdengar seperti humor yang gagal.

Rama mencatat dengan cepat. “Mengapa Bapak mau bicara sekarang?”

“Karena aku ingin mati dengan wajah Sulastri menatapku, bukan punggungnya yang menjauh.”

Ia diam. Di luar, hujan mulai turun deras. Butir-butir air menimpa genting seperti langkah kaki ribuan orang yang kembali dari liang.

“Tapi, apakah Anda menyesal?”

Aku tertawa pendek. “Penyesalan itu cuma hiburan bagi mereka yang tidak sempat menebus apa pun.”

“Lalu apa yang Anda harapkan?”

“Pertemuan.”

“Dengan siapa?”

“Dengan dia yang terakhir tersenyum padaku.”

Rama menatapku lama. Mungkin ia pikir aku sudah pikun. Tapi aku tahu, di matanya ada rasa takut yang sama seperti dulu kulihat di mata para tawanan sebelum peluru menembus kepala mereka.

***

Malam itu, setelah Rama pergi, aku duduk di depan jendela. Lampu minyak menyala redup. Di meja, foto Sulastri tergeletak, separuh basah oleh air hujan yang menetes dari atap bocor. Aku menatapnya lama, wajah yang tak berubah meski waktu sudah berkarat.

Kau tahu, kadang Tuhan memilih cara yang aneh untuk menghukum manusia. Ia memberiku umur panjang agar aku sempat menonton ulang semua perbuatanku tanpa bisa menghapus satu pun adegan.

Di luar, kali meluap. Airnya hitam, berbau lumpur dan besi.
Aku berdiri, melangkah ke halaman, membiarkan air menyentuh mata kakiku. Hujan masih turun seperti tirai yang menutup panggung dosa.

Di tepi air, aku mendengar suara perempuan memanggil namaku. Lembut, jauh, tapi jelas.

“Gatot…”

Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan wajahku sendiri di permukaan air dan di belakangnya, samar, seolah ada bayangan perempuan berkebaya, tersenyum.
Senyum yang sama, yang terakhir kulihat di ruang interogasi.

***

“Jadi, apa yang akan kau lakukan jika Tuhan datang malam ini?” suara itu bergema di kepalaku.

“Mungkin aku akan minta Ia menukarkanku dengan satu tulang Sulastri.”

“Kau pikir Tuhan peduli pada transaksi seperti itu?”

“Kalau Ia tak peduli, kenapa Ia biarkan aku tetap hidup sampai sekarang?”

Suara itu tertawa. Tawa yang getir, seperti ranting patah di musim kering.
Aku tak tahu apakah itu suara nuraniku, atau Sulastri, atau bahkan Tuhan sendiri yang sedang menyamar dalam pikiranku.

Malam semakin pekat. Aku melangkah ke tengah halaman, air kini setinggi lutut. Di kejauhan, petir menyambar, menyingkap sejenak siluet pepohonan seperti bayangan orang-orang yang pernah kukubur. Mereka berdiri berbaris, menatapku.
Aku memejamkan mata.

“Las,” bisikku, “Kalau kau di sana, maafkan aku.”

Angin menjawab dengan desir lembut, seolah jari-jari halus menyentuh wajahku. Lalu sunyi. Aku kembali ke rumah, menyalakan rokok terakhir, duduk di kursi bambu. Di meja, foto itu masih menatapku.

***

Pagi belum datang ketika pintu rumahku diketuk. Rama berdiri di luar, wajahnya pucat. Di belakangnya, dua polisi berpakaian sipil.

“Mereka ingin bicara dengan Bapak,” katanya lirih.

Aku tahu apa artinya. Mungkin mereka baru menemukan lagi lubang lain, mungkin namaku tercantum di catatan lama yang baru dibuka.

Aku tersenyum. “Akhirnya giliran saya.”

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, aku mengambil langkah ke dalam, membuka laci meja, dan mengeluarkan sepucuk pistol tua. Mereka berteriak, tapi aku tidak menodongkan senjata itu ke arah mereka. Aku menatapnya sebentar. Itu besi dingin yang dulu menjadi perpanjangan tanganku untuk mencabut nyawa orang lain.

Tiba-tiba, aku mendengar lagi suara itu. “Tidak perlu buru-buru, Gatot. Kematian akan menemukanmu tanpa bantuanmu sendiri.”

Aku menurunkan pistol. Menyerahkannya ke polisi yang mendekat.
“Ambil saja. Aku sudah terlalu tua untuk menembak siapa pun.”

Mereka menggiringku ke mobil. Rama menatapku dengan mata yang tak bisa kutafsirkan, antara kasihan dan jijik.

Sebelum mobil beranjak, aku berkata pelan, “Kalau nanti kau menulis buku itu, jangan lupakan Sulastri. Katakan padanya, aku masih menunggu di seberang.”

Rama tidak menjawab.

***

Kini aku duduk di ruangan sempit ini, temboknya lembap, atapnya bocor. Aku menulis di selembar kertas yang mungkin tidak akan pernah sampai ke mana pun.
Sulastri, kalau kau masih ada di udara, datanglah malam ini. Bawa kembali senyummu, meski aku tahu itu akan membakar mataku sendiri.

Aku tidak tahu apakah besok aku masih hidup. Aku tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan pengakuan seorang algojo yang menyesal setengah hati.

Yang kutahu hanya satu: di luar sana, hujan belum berhenti. Dan di antara suara air yang jatuh di genting, aku masih bisa mendengar bisikanmu. Pelan, nyaris hilang. Ia mengulang kalimat yang sama:

“Tidak ada yang benar-benar mati, Gatot. Kita hanya berganti nama di buku sejarah.”

Aku tersenyum. Dan malam pun menutup wajahnya perlahan, menyembunyikan segalanya di balik tirai air.

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Menikah

Cerpen Septi Rusdiyana

“Bagaimana? Berhasil?” tanyaku pada Rena, sembari menyerahkan sekaleng minuman dingin dan sebungkus keripik kentang. Ia meraih keduanya tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu. Desis bunyi soda saat kaleng dibuka mengiringi pandangan Rena, pada Sirih Gading yang bertengger rimbun di tepi kolam ikan milikku.

“Lebih sulit dari urusan perceraian kemarin, Dis,” jawab Rena usai meneguk minuman.

Aku duduk di sebelah Rena. Mengikuti arah pandang mata itu, sekadar mengisi jeda waktu antara senyap suasana sore, dan riuhnya pikiranku sendiri. Sampai detik ini, aku masih saja tidak berhasil menemukan alasan mengapa Rena bersikeras untuk menikah lagi.

“Gadis, apa kau punya asuransi?” tanya Rena tiba-tiba.

Otakku nge-lag. Selama ini asuransi yang pernah kumiliki hanya BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Itu pun kini sudah tak berguna sejak aku resmi menjadi pengangguran tiga bulan lalu. Dana simpanan sudah dicairkan, sepertinya hampir habis untuk bayar kontrakan dan hidup sehari-hari. Setelah kupikir-pikir, aku baru sadar jika selama ini aku tak pernah menabung.

“Aku mau jadi kodok.”

Belum sempat aku menanggapi bab asuransi, pernyataan Rena membuat otakku kembali waspada.

Rena mengawali cerita dengan membuka keripik kentang. Suapan demi suapannya tampak kaku, seolah gerakan itu mengisyaratkan kejengkelan.

“Aku ingin melompat bebas. Bersama diriku. Aku tak butuh siapa dan apa pun lagi. Pria baik hati hanya tercipta di dongeng. Kalaupun lahir di dunia, mereka tak disisakan untukku.”

Rena memalingkan pandangan dari kolam ke wajahku. Ia berhenti menjejalkan keripik kentang ke mulutnya, “Bagaimana kalau kita berdua menikah? Aku bisa menghidupi dirimu yang penuh kemalangan ini. Kau tak perlu berubah, jadilah seperti biasa: Gadis yang menyayangi, menemani dan mendengar bualanku. Kita bahkan tak butuh sex karena kita sama-sama membencinya, bukan?” ungkap Rena serius. Aku hampir percaya. Tapi sebelum aku bereaksi, Rena kembali bicara.

“Berjanjilah padaku, Dis. Tetaplah melajang. Aku tidak mau kau merasakan apa yang kualami,” ralat Rena seperti ia baru saja tersadar akan sesuatu.

Perubahan tiba-tiba itu tidak membuatku terkejut. Aku sangat mengenal Rena. Meski di luar ia tampak serampangan dan ceplas-ceplos, aku tahu ucapannya bukan omong kosong. Ia kecewa. Mungkin perasaan dan jiwanya sudah terlanjur terluka sangat dalam.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman. Rena mulai menyalakan rokok di bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya ia tak ingin lagi diganggu. Aku cukup duduk menemani. Kadang, diam bukan berarti tak peduli. Bagi kami, diam justru menjadi titik tertinggi untuk memahami bahwa tidak selamanya penderitaan butuh validasi.

Ingatanku melayang saat aku menjadi bridesmaid di hari pernikahan Rena. Wajahnya kala itu begitu cerah. Seolah yakin bahwa bersama suaminya, sisa usia Rena akan habis dengan penuh kebahagiaan. Setidaknya itulah yang kupercaya karena selepas menikah, Rena ikut suaminya ke Jakarta. Kami tak pernah lagi berkabar. Hingga dua tahun kemudian, Rena mendatangi kontrakanku.

“Apa malam ini aku boleh tidur di rumahmu?” tanya Rena saat itu. Tubuhnya lusuh. Wajahnya sekusut rambutku. Tentu aku menyambutnya tanpa banyak bertanya. Aku ingat hanya bisa memasakkannya mi instan usai membiarkan Rena mandi dan berganti pakaian.

“Besok, tolong temani aku,” pinta Rena terdengar seperti titah yang tak berani aku bantah, apalagi kupertanyakan.

Sejak hari itu, aku selalu ada untuk Rena. Aku menemaninya ke rumah sakit. Rena menjalani pemeriksaan sekaligus visum yang pada akhirnya berhasil membuatnya cerai dari suami. Keluarga besar Rena mengutuknya. Aku menjadi saksi betapa kisah Rena semacam drama Cina yang kutonton hampir setiap malam. Rena tak mengeluh. Ia tak pernah takut pada keputusan yang sudah diambil. Rena juga tak berniat agar bisa reinkarnasi dan hidup kembali ke masa lalu, untuk balas dendam pada mantan suami serta keluarganya.

“Aku lapar, apa kau masih punya mi instan?” Pertanyaan Rena membuyarkan lamunanku.

“Sepiring nasi dan semangkok sop brokoli pun ada. Aku tak semiskin itu, sampai hanya ada makanan instan saja di rumah.”

Rena terkekeh. Tapi aku tahu ia tidak sedang mengejekku. Rena tampak tidak baik-baik saja. Bagiku, Rena seperti sebuah lukisan picisan yang gagal dipamerkan. Rena mungkin berhasil keluar dari pernikahan yang ia anggap neraka. Tapi ia masih terpenjara pada penyesalan dan ketidakpuasan akan dirinya sendiri.

Apa yang ia coba lakukan sekarang hanya caranya menghibur diri. Kadang, lelah bisa memacu adrenalin yang lain. Termasuk hal absurd yang baru saja dilakukan Rena hari ini. Ia pergi ke kantor catatan sipil untuk bertanya syarat-syarat mendaftar pernikahan bagi dirinya, dengan dirinya sendiri.

“Mereka semua tolol. Tidak punya pikiran terbuka,” kata Rena di antara denting suara sendok garpu di atas piring. Kami melanjutkan obrolan di meja makan.

“Atau bisa jadi kamulah yang dianggap tolol oleh mereka,” sahutku.

“Aku hanya ingin menyelamatkan asetku. Bagaimanapun aku masih punya saham dan harta yang harus kulindungi.”

“Begitu ya?”

“Kau tahu, Gadis, pria yang dulu kucintai dengan membabi buta, rupanya punya utang segunung sebelum menikah denganku. Atas nama cinta dan penerimaan tulus, pada akhirnya akulah yang menutup utang itu.” Rena mengambil kerupuk dan menggigitnya.

“Dasar brengsek! Dia pintar mencuci otakku. Aku terperdaya. Lagi-lagi, atas nama cinta dan pengabdian, aku harus melayani hasratnya yang tak biasa. Kekuatannya seperti tak habis-habis. Aku terus dipaksa hingga nyeri tak terperi itu akhirnya melantakkan kepercayaanku padanya. Aku melawan dengan sisa harapan. Lalu keberanian dan kekuatan besarku muncul, justru di saat dia tuntas menghajarku.”

Hatiku ngilu mendengar Rena bercerita. Aku tak berani menanggapi.

“Tapi sudahlah. Semua telah berlalu. Bagiku hal itu hanya luka kecil seperti kena sundutan rokok,” lanjut Rena lagi.

“Oh ya, Dis…..,” Rena menjeda bicara. Seperti tiba-tiba ingat sesuatu.

Aku menatapnya.

“Di kantor catatan sipil tadi, ada seorang lelaki yang terus melihatku. Dia tidak ikut-ikutan menertawai atau menasihatiku. Dia hanya menyaksikan pertikaian kami. Entahlah, Dis, rasanya hatiku hangat waktu itu. Seperti pelukanmu. Ya, benar. Rasanya sama seperti pelukanmu. Dan kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tidak terlalu sial hari ini.”

Rena menyunggingkan senyum yang mungkin, baru kali ini kulihat kembali, sejak ia mengetuk pintu kontrakanku malam itu.

“Apa kau jatuh cinta?” tanyaku usai jeda sunyi terlalu lama.

Rena gelagapan. Wajahnya memerah. “Sinting!” umpatnya padaku.

Aku menatap punggung Rena yang kian menjauh. “Obatmu, jangan lupa diminum sebelum tidur,” teriakku sebelum tubuh Rena hilang di balik kamar. Mungkin, malam ini Rena sudah tidak butuh lagi obat itu.

Sekarang, akulah yang cemas. Apa benar aku harus melajang seumur hidupku? Atau sebaiknya mengikuti jejak Rena dan menjadi kodok. Ah, mungkin benar ucapan Rena. Aku harus mulai berpikir tentang asuransi. Setidaknya aku masih punya sesuatu yang pantas dilindungi. Meski bukan untuk siapa-siapa.***

____________________

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen

Cerpen

Amplop Cokelat

Cerpen Khairul Azzam EM

Sore itu, sinar matahari mulai meredup, menimpa dinding rumah susun yang sudah tua dan berkarat di pinggiran kota. Di salah satu ruangan sempit lantai tiga, Hamid duduk di tepi tempat tidur, menatap lembaran kertas catatan pengeluaran yang ia susun rapi di meja kayu yang permukaannya sudah halus. Di ruangan itu, udara terasa lembab, bercampur bau debu yang tak pernah hilang meskipun lantai dan perabot sudah disapu dan dibersihkan setiap hari. Suara langkah kaki orang yang berlalu-lalang di lorong terdengar jelas, begitu juga suara percakapan, tangisan anak-anak, atau teriakan orang yang marah, semuanya menyatu menjadi bunyi khas yang tak terpisahkan dari kehidupan di tempat itu.

Hamid adalah guru di sekolah dasar yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Gajinya tidak besar, hanya cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan, dan sisanya harus diatur sedemikian rupa agar bisa memenuhi segala hal yang harus dibayar setiap bulan. Setiap kali tanggal pembayaran tiba, ia selalu merasa seperti berjalan di atas tali yang tipis, satu langkah salah semuanya akan runtuh. Ada uang sewa tempat tinggal yang harus diserahkan tepat waktu, tagihan air yang nilainya kadang naik tanpa alasan yang jelas, tagihan listrik yang sering membuat ia terkejut melihat angkanya, biaya pendidikan kedua anaknya yang tidak pernah turun, dan juga cicilan sepeda motor yang ia beli dua tahun lalu untuk memudahkan perjalanan ke tempat kerja. Di luar itu, ibunya yang tinggal di desa juga sering membutuhkan biaya pengobatan, karena tubuhnya semakin lemah dan penyakit tuanya makin sering menyerang.

“Kamu tidak pernah memikirkan nasib kita, Hamid. Setiap hari hanya pulang dengan wajah tenang, seolah-olah tidak ada beban yang menekan bahumu, padahal di sini tagihan menumpuk seperti gunung,” kata Siti, istrinya, sambil meletakkan piring kotor di meja dengan suara yang agak keras. Matanya tampak lelah, garis halus di wajahnya makin terlihat jelas, bukti dari hari-hari yang dijalani dengan kekhawatiran yang tak berhenti datang. Ia tidak benar-benar marah pada suaminya, hanya rasa cemas yang menumpuk lama membuatnya tidak bisa menahan perkataan yang tajam.

Hamid hanya tersenyum tipis, mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali melihat catatan di tangannya. “Aku tahu, Siti. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi apa yang bisa kita lakukan selain berusaha sekuat tenaga dan tetap sabar? Segala hal akan berlalu, percayalah padaku,” jawabnya dengan suara lembut, seolah-olah ia sedang menenangkan diri sendiri sekaligus menenangkan hati istrinya. Selama sepuluh tahun pernikahan, ia sudah terbiasa mendengar keluhan, omelan, atau kata-kata yang menyakitkan dari mulut orang yang dicintainya. Ia tidak pernah membalas dengan kemarahan, karena ia sadar, tekanan hidup membuat semua orang mudah tersentuh dan kehilangan kesabaran. Ia memahami bahwa di balik setiap kata yang tajam, tersembunyi rasa sayang dan keinginan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.

***

Setiap pagi, Hamid bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan diri, mencium kening anak-anaknya yang masih tidur nyenyak, lalu berangkat menuju sekolah dengan sepeda motor tuanya yang kadang-kadang bermasalah di tengah jalan. Di sekolah, ia mengajar dengan penuh semangat, berusaha memberikan ilmu sebaik-baiknya, seolah-olah tidak ada beban berat yang menunggunya di rumah. Murid-muridnya menyukainya karena ia sabar, pandai berbicara, dan selalu memberikan dorongan semangat kepada siapa saja yang merasa sulit untuk belajar. Bagi Hamid, mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang, melainkan tugas yang harus dijalankan dengan hati, dan di sana ia menemukan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan nilai mata uang.

Pulang dari sekolah, ia tidak langsung beristirahat. Ia masih harus mengurus pekerjaan rumah tangga yang belum selesai, pergi ke kantor pembayaran untuk melunasi segala tagihan, atau berjalan menuju kediaman ibunya untuk memeriksa keadaan dan memberikan sedikit uang yang tersisa dari penghasilannya. Ketika malam tiba dan semua orang di rumahnya sudah tidur lelap, Hamid masih duduk di meja kerjanya, menulis. Di saat yang sepi dan sunyi itu, pikirannya mengalir bebas, dan segala kesusahan yang dirasakan berubah menjadi kata-kata yang disusun menjadi cerita. Ia menulis tentang kehidupan orang biasa, tentang harapan di tengah kesulitan, tentang kebaikan hati yang tetap terjaga meskipun sering diuji oleh keadaan. Ia melakukan hal ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk menumpahkan isi hati dan menyampaikan pesan yang dirasakannya penting bagi orang lain.

Suatu sore, ketika Hamid baru saja pulang dari mengantar obat ke rumah ibunya, Kusnanto, tetangga yang tinggal di ruangan seberang, memanggilnya sambil berdiri di depan pintu. Kusnanto adalah orang yang suka berbicara lantang, selalu tampak santai dan tidak pernah tampak kesulitan meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun, orang-orang di lingkungan itu sering menduga bahwa ia melakukan hal-hal yang tidak sah untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak.

“Hamid, aku punya tawaran yang bagus untukmu. Jika kamu bersedia membantu melakukan satu hal saja, kamu bisa mendapatkan uang yang cukup besar dalam waktu singkat. Masalah uang yang selalu menyusahkanmu akan selesai seketika,” kata Kusnanto dengan nada rendah, sambil melihat ke kiri dan kanan seolah-olah takut didengar orang lain. Ia lalu menjelaskan maksudnya, bahwa pekerjaan itu sebenarnya adalah bagian dari tindakan yang melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, meskipun ia mencoba menyembunyikan sifat buruknya dengan kata-kata yang manis.

Hamid mendengarkan dengan tenang sampai Kusnanto selesai berbicara, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Terima kasih atas kebaikanmu untuk memikirkan nasibku, Pak Kusnanto. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Uang memang dibutuhkan, tapi aku tidak mau mendapatkan sesuatu yang membuat hati tidak tenang dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Selama aku masih mampu bekerja dengan cara yang benar dan jujur, aku akan terus melakukannya, meskipun hasilnya tidak banyak dan butuh waktu lama,” jawabnya dengan sopan namun tegas.

***

Wajah Kusnanto berubah menjadi marah. Ia mulai berbicara kasar, menyebut Hamid orang yang bodoh, keras kepala, dan tidak mengerti keadaan. Ia mengatakan bahwa Hamid akan terus hidup dalam kesulitan seumur hidupnya karena terlalu memikirkan aturan dan kebaikan, sementara orang lain bisa menikmati kemewahan dengan jalan yang lebih mudah. Hamid hanya diam, mendengarkan semua perkataan kasar itu tanpa membantah atau meninggikan suara. Ketika Kusnanto pergi dengan perasaan marah, Hamid masuk ke dalam ruangannya, melihat wajah istrinya yang tampak cemas karena mendengar segalanya, lalu tersenyum dan berkata, “Semua akan baik-baik saja, Siti. Kita tetap bisa bertahan.”

Sejak hari itu, Kusnanto sering menyebarkan berita buruk tentang Hamid kepada tetangga lain. Ia mengatakan bahwa Hamid orang yang sombong, tidak mau menolong orang lain, dan merasa lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya. Banyak orang mulai mengubah sikapnya, menjadi dingin atau berbicara buruk di belakang punggung Hamid. Namun, Hamid tidak mempedulikannya. Ia tetap bersikap ramah, menyapa siapa saja yang ditemuinya, dan melakukan tugasnya dengan penuh kesungguhan seperti biasa. Baginya, penilaian orang lain tidak sepenting keyakinan yang dipegangnya selama ini, bahwa kebenaran dan kejujuran akan membawa hasil yang baik pada waktunya sendiri.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pada suatu siang yang cerah, ketika Hamid sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, dua orang lelaki berpakaian rapi datang dan mencari namanya. Seluruh tetangga di lorong rumah susun itu memperhatikan dengan rasa penasaran, bertanya-tanya siapa mereka dan apa maksud kedatangannya. Kedua tamu itu menyerahkan sebuah amplop cokelat yang besar dan tebal kepada Hamid, sambil menjelaskan bahwa mereka adalah utusan dari penerbit buku terkenal di ibu kota. Amplop itu berisi uang hasil penjualan buku yang telah ditulis Hamid dan diterbitkan setahun yang lalu, yang ternyata disukai banyak pembaca dan dicetak ulang berkali-kali di seluruh negeri.

“Bapak Hamid, karya tulis Bapak sangat menginspirasi banyak orang. Buku ini telah dibaca oleh ribuan orang, dan permintaan untuk mencetak lebih banyak salinan terus berdatangan. Inilah bagian hasil yang menjadi hak Bapak,” kata salah satu tamu itu dengan nada hormat.

Ketika kedua orang itu pergi, berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh bagian bangunan tempat tinggal itu. Orang-orang mulai mengingat bahwa selama ini buku yang dibaca oleh anak-anak mereka di rumah atau di sekolah, yang berisi cerita tentang kesederhanaan, ketabahan, dan kebaikan hati, sebenarnya dibuat oleh orang yang selama ini dianggap miskin dan tidak berharga oleh sebagian besar dari mereka. Kusnanto terdiam tanpa kata-kata ketika mendengar kabar itu, merasa malu dan sadar bahwa semua ucapannya selama ini ternyata salah dan tidak berdasar.

***

Di dalam ruangannya, Hamid memegang amplop cokelat itu dengan tangan yang tenang. Ia melihat istrinya yang matanya basah oleh air mata bahagia, melihat anak-anaknya yang tersenyum lebar karena tahu kesulitan mereka akan segera berakhir. Hamid tersenyum, sama seperti senyum yang selalu ditunjukkannya saat menghadapi hari-hari yang berat.[]

Probolinggo, Mei 2026

____________________

Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.

Cerpen

Bonus

Cerpen Kesit Himawan Setyadji

Awan lari tergopoh-gopoh menyusuri labirin stasiun di antara orang-orang yang saling berlomba-lomba mengejar keberangkatan KRL. Elevator tidak cukup cepat untuk mengantarnya ke depan pintu gerbong. Naik turun tangga menjadi pilihan, meski keringat akan bercucuran. Awan terus mengumpat, sembari sesekali melihat jam tangan. “Anjing! Terlambat!” Pagi ini jadwal presentasi desain proyek rumah sakit di kantornya.

Meski roda gerbong sudah bergulir menjauhi stasiun, namun pikiran Awan masih tertinggal di peron. Beberapa menit sebelumnya, ketika pintu gerbong akan segera ditutup, dia menyerobot mendahului perempuan berbaju ungu dan berbadan dua. Perasaan berdosa terus menghantuinya. Persoalan desakan waktu mematikan hati nuraninya. Tempat duduk mereka tidak jauh, bahkan Awan sempat mendengar perempuan itu bicara dengan seseorang perihal kampungnya yang terancam digusur dampak proyek besar yang segera dibangun. Hal itu semakin membuatnya cemas. Sejenak di benak Awan sempat terlintas bayangan rumah kecil warisan bapaknya di kampung, rumah tempat dia dan istrinya akan membesarkan anak yang kini sedang berada di kandungan.

Seiring laju kereta, ingatan Awan pada kejadian di depan pintu gerbong mulai menjauh. Pandangan kosong seperti lahan permukiman yang telah diratakan sebelum didirikan bangunan. Jajaran gedung di belakang kaca-kaca gerbong menjelma tampilan desain di layar laptopnya. Penumpang lain mengimpit berjarak lima belas sentimeter dari batang hidungnya, berubah menjadi wajah dingin klien yang akan dihadapinya nanti. Embusan bau napas dan keringat menambah penat pikirannya. Tangannya masih kuat menggenggampegangan di bawah langit-langit gerbong. Namun matanya hampir menyerah. Sesekali kepalanya terbentur bahu penumpang lain. Tujuh stasiun sudah terlewati. Tersisa tiga stasiun lagi untuk sampai tujuan. Isi gerbong mulai surut. Awan melangkah ke kursi kosong di samping pintu gerbong. Sisa perjalanan cukup untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Tengah bulan lalu, Awan menyerahkan surat kepada pimpinan kantor. Keputusannya untuk berhenti bekerja sebenarnya sudah bulat, namun pimpinan menahannya dan berjanji memberikan bonus besar jika dia mampu menyelesaikan proyek desain rumah sakit. Isi dalam kandungan istri, membuatnya sedikit melunakkan rencana itu. Siang malam, Awan mengerjakan desain yang ditugaskan pimpinan. Tidak hanya di kantor, di rumah pun dia melanjutkan pekerjaan itu. Dia berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin. Janji pimpinan terngiang-ngiang membakar semangatnya.

Semalam, ketika Awan masih bergelut dengan pekerjaan. Istrinya terbangun dan menunjukkan foto USG anaknya.

“Bayinya terbelit tali pusar. Kata dokter kemungkinan operasi sesar,” kata istrinya penuh risau dengan besarnya biaya persalinan.

“Tenang saja, Dik,” kata Awan. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia akan mendapat bonus dari kantor. Dengan uang itu, permasalahan biaya kelahiran anaknya sudah ada solusi. Mereka saling berbalas pandang dengan senyum yang tersungging. Kelegaan terlihat dari mata istrinya yang berkaca-kaca. Sementara jemarinya menari di laptop, dia membayangkan anaknya tertidur cantik di ranjang bayi bagus dengan pakaian ungu. Kemudian, dia menoleh ke arah istrinya yang sudah berbaring di kasur.

Kelelahan dan kejenuhan sudah menumpuk di pundaknya. Pengerjaan desain rumah sakit telah menyita banyak waktunya. Dia mengerjakannya sendiri, karena teman-teman di kantor juga sudah memiliki beban proyek masing-masing. Ketika hal itu mendera, ingatan bonus yang akan diterima menjadi obat penawar rasa lelahnya. Namun sedikit kegundahan bercokol di hatinya, pimpinannya tidak memberitahu di mana lokasi proyek itu akan dibangun.

Kakinya yang menjulur tersaruk penumpang lain. Awan tersentak memaksa matanya terbuka. Nama stasiun tujuan terdengar dari pengeras suara. Laptop dimatikan dan dimasukkan kembali ke tas. Pintu gerbong segera terbuka. Dia berdiri gontai melangkah ke pintu keluar stasiun. Sejenak di peron, tangannya mengeluarkan ponsel memesan ojek dari aplikasi daring.  Dia kembali berlari ke luar stasiun menuju pengemudi ojek yang sudah menunggunya di jalan depan stasiun.

Awan sampai di kantor dengan muka lusuh. Kelopak matanya menggantung. Rambutnya berantakan. Masih ada waktu sepuluh menit untuk presentasi. Setelah membasuh muka di kamar mandi. Dia melangkah pelan menuju ke ruang rapat. Di dalam ruangan sudah duduk beberapa orang termasuk pimpinannya. Ketika tangannya membuka pintu, secara tak sengaja terdengar pembicaraan pimpinan dengan seseorang yang diduganya pemilik proyek. Sebuah nama kampung disebut sebagai lokasi proyek. Pintu ruang rapat terasa berat untuk dibuka. Dinding kantor mulai mengimpitnya. Dadanya mulai sesak, membuat napasnya menjadi pendek. Ruangan kantor yang sebelumnya ramai suara papan ketik komputer tiba-tiba membisu. Dia kembali teringat dengan perempuan berbaju ungu dan berbadan dua yang antreannya diserobot saat di stasiun.

Tangannya menarik pelan pegangan menutup pintu ruang rapat. Dia berbalik arah menjauhi ruangan rapat. Ponsel kembali diambilnya. Dia termangu duduk di tangga depan pintu kantor, memandang foto USG kandungan istrinya di layar ponsel. Lalu, dia menulis beberapa kata. Awan menghela napas panjang. Jarinya menekan tanda kirim. Sebuah kalimat kepada pimpinannya: Pak, saya berhenti sekarang saja. Bonusnya tidak saya ambil.

____________________

Kesit H. Setyadji, tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio.

Cerpen

Gerbong Kematian

Cerpen Khairul A. El Maliky

Siang itu matahari berdiri tepat di atas kepala, Panas menggantung di udara desa, menyelinap ke sela-sela dinding bambu, ke punggung-punggung ibu yang membungkuk di dapur rumah Bu Sarkiyem. Hajatan akan dimulai selepas zuhur. Dandang besar mengepulkan uap, pisau beradu dengan talenan, dan tawa kecil bercampur gosip mengalir seperti kuah santan yang belum mendidih sempurna.

Tak ada yang menyangka siang itu akan mengunci desa ke dalam ingatan paling kelam.

Sulastri—bunga desa itu—seharusnya sedang bersolek. Ia dikenal cantik, kulitnya kuning matang seperti padi yang siap dipanen, tubuhnya berisi, senyumnya sering membuat pemuda lupa jalan pulang. Ia anak baik-baik, kata orang. Rajin membantu ibunya, jarang keluar malam, dan bila berjalan selalu menunduk seperti menyembunyikan cahaya. Tapi siang itu, ia tak ada di antara ibu-ibu yang mondar-mandir. Tak ada pula di beranda yang ramai. Seolah ia sudah lebih dulu pergi, menjemput takdirnya sendiri.

Jeritan pertama pecah seperti piring terjatuh.

“Ya Allah!”

Ibu-ibu berhenti. Wajan tergantung di udara. Di atas lincak bambu, tergeletak sesuatu yang tak seharusnya ada: sepotong lengan manusia, basah oleh darah, jari-jarinya bergerak seperti masih mencari tubuhnya. Detik berikutnya, sepotong kaki mencelat, terhempas, bergerak sebentar lalu diam. Dapur berubah menjadi kubangan ngeri. Di teras, kepala seorang gadis dengan mata melotot menghadap langit—mulutnya terbuka seolah hendak berteriak lagi—membuat Bu Sarkiyem menjerit panjang lalu roboh pingsan.

***

Waktu berhenti. Lalu berlari liar.

Bapak-bapak yang semula memotong daging di halaman depan berhamburan. Ada yang muntah, ada yang gemetar, ada yang terdiam seperti patung tanah liat. Barulah mereka sadar: rel kereta api itu dekat. Terlalu dekat. Di sanalah, beberapa menit lalu, Sulastri berjalan di tengah rel seperti orang linglung, meniti besi panas tanpa tujuan.

Klakson kereta dari arah selatan melengking panjang, suara yang biasanya hanya membuat anak-anak menutup telinga kini berubah jadi terompet kematian. Orang-orang berteriak memanggil namanya. “Lastri! Minggir, Lastri!” Tapi gadis itu tak menoleh.

Tatapannya kosong, seperti telah ditinggal penghuninya. Dan ketika ular besi itu melaju tanpa ampun, tubuh Sulastri disambar, dihempas, dipatahkan menjadi potongan-potongan, disebar ke dapur, teras, halaman—ke kehidupan orang-orang yang tak siap menerima kenyataan.

Warga berhamburan mengumpulkan puing-puing itu dengan tangan gemetar dan doa yang patah-patah.

Kompol Sukma datang sore itu.

Seragamnya rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kehati-hatian seorang yang tahu: kematian selalu menyisakan teka-teki. Ia meminta warga berkumpul, satu per satu memberi keterangan. Pak Muklis, lelaki setengah baya yang dikenal dekat dengan Sulastri, maju lebih dulu.

“Gadis itu baik, Bu Kompol,” katanya lirih. “Tak pernah bikin malu keluarga. Pemuda kampung banyak yang naksir.”

“Apakah ada yang mendekatinya secara khusus?” tanya Kompol Sukma.

Pak Muklis ragu sejenak. “Ada… Joni.”

Nama itu seperti batu jatuh ke kolam. Joni dikenal berandalan, anak orang kaya. Sudah beristri dua. Meski begitu, kabarnya ia masih sering bersikap gatal, menggoda Sulastri dengan kata-kata yang tak pantas.

Pernah mengajak melakukan perbuatan mesum, kata orang. Sulastri menolak.

Kompol Sukma mencatat. Ia menemui Mel dan Dila, dua istri Joni. Keduanya berkata serempak: Joni sedang bekerja di Surabaya. Alibi yang rapi, terlalu rapi. Kompol Sukma mencium sesuatu yang ganjil, tetapi polisi lain mengingatkan: kecurigaan bukan bukti.

***

Pemakaman berlangsung sunyi. Tanah merah menutup potongan tubuh yang disatukan seadanya. Di sela doa, Pak Muklis bertanya kepada Kiai Komar, tokoh agama yang disegani desa.

“Apakah orang yang bunuh diri bisa masuk surga, Kiai?”

Kiai Komar terdiam. Ia yang biasanya lantang di mimbar, tiba-tiba kehabisan kata. “Selama ini,” ujarnya pelan, “saya hanya membaca apa yang ditulis di buku.”

Jawaban itu bergaung lebih keras dari takbir. Sejak hari itu, warga mulai memandang Kiai Komar dengan mata berbeda. Pidato-pidato yang dulu menggetarkan kini terasa kosong. Ilmu yang dibaca tanpa bukti hidup.

Kompol Sukma tak berhenti. Ia memerintahkan pencarian Joni. Dugaan sementara: Sulastri dirudapaksa, trauma membuatnya linglung. Joni akhirnya tertangkap. Di ruang pemeriksaan, ia duduk dengan tangan terborgol, wajahnya pucat namun matanya tajam.

“Saya tidak merudapaksa Sulastri,” katanya. “Sejahat-jahatnya saya, Bu Kompol, saya masih punya nurani dan akal. Allah menganugerahi akal untuk berpikir. Saya tahu akibatnya. Penjara menanti. Dan saya tidak mau.”

Kalimat itu menancap. Kompol Sukma merasakan sesuatu yang jarang ia akui: tersentuh. Ia melihat banyak penjahat, tetapi jarang mendengar pengakuan yang dibungkus kesadaran diri. Jika bukan Joni, lalu siapa?

***

Hari-hari berikutnya, Kompol Sukma seperti berjalan di lorong gelap. Hingga suatu sore, di warung kopi, ia mendengar obrolan dua pemuda.

“Menurutmu, surga dan neraka itu ada?” tanya yang satu.

“Entahlah,” jawab lainnya. “Kiai Komar sering bilang begitu. Tapi… lihatlah.”

Nama itu lagi. Kiai Komar. Kompol Sukma menyimak. Obrolan bergeser ke cerita lama: Kiai Komar bukan hanya penceramah. Ia dikenal sebagai ahli spiritual, penyembuh penyakit gaib. Salah satu keluarga Sulastri bercerita—dengan suara ditahan—bahwa Sulastri pernah kena guna-guna. Dibawalah ia ke Kiai Komar. Ia masuk kamar untuk “pengobatan”. Keluar dari sana, Sulastri berubah. Linglung. Menangis tanpa sebab. Membenturkan kepala ke tembok. Bicara sendiri. Hingga akhirnya meniti rel, menjemput kematian.

Potongan-potongan itu menyatu.

Kompol Sukma meminta autopsi. Keluarga menolak. Jenazah sudah dimakamkan. Tapi demi kebenaran, mereka setuju. Hasil forensik dingin dan kejam: ditemukan cairan sperma. Kesimpulan klinis tanpa emosi, namun memekakkan telinga.

Kecurigaan berubah menjadi keyakinan.

Kiai Komar dipanggil. Di hadapan Kompol Sukma, ia tak lagi tampak seperti singa mimbar. Suaranya bergetar. Ia bicara tentang niat baik, tentang doa, tentang ujian iman. Tapi fakta berdiri seperti dinding. Tak bisa ditembus retorika.

Desa berguncang. Orang-orang teringat diamnya Kiai Komar di pemakaman. Terngiang kalimat: membaca tanpa bukti. Mereka merasa dikhianati—bukan hanya oleh seorang manusia, tapi oleh kepercayaan yang mereka bangun bertahun-tahun.

***

Gerbong kematian itu bukan hanya kereta yang menabrak Sulastri. Ia adalah rangkaian peristiwa yang membawa rahasia, dosa, dan kemunafikan, melaju tanpa rem, menghantam siapa saja yang berdiri di jalurnya.

Kompol Sukma menatap rel yang kini sunyi. Besi itu dingin, tak bersalah. Manusia-lah yang sering memilih berjalan di atasnya, memejamkan mata, berharap takdir akan menyingkir. Tapi takdir, seperti kereta, hanya tahu satu arah.

Di ujung senja, desa kembali beraktivitas. Ibu-ibu memasak. Bapak-bapak bekerja. Hidup berjalan, seperti biasa. Namun sejak Sulastri, tak ada lagi bunga yang mekar tanpa bayangan. Dan setiap klakson kereta, selalu mengingatkan: kebenaran mungkin terlambat, tetapi ia akan tiba—dengan atau tanpa kita siap.[]

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.

Cerpen

Negeri Tanpa Bayang-Bayang

Cerpen Rasyid Yudhistira

Di kota ini, cahaya adalah tuhan yang bengis dan lampu-lampu merkuri adalah nabi yang tidak pernah tidur. Mereka melarang bayangan karena dianggap sebagai lubang hitam dalam kesetiaan, sebuah ruang gelap di mana pengkhianatan bisa tumbuh subur tanpa terdeteksi radar keamanan. Setiap orang dipaksa berdiri di bawah pijar dua puluh empat jam, hingga mereka menjadi makhluk-makhluk transparan yang kehilangan kedalaman. Namun, di sebuah sudut gang yang luput dari sorot lampu patroli, aku melihat lelaki bisu itu—si penjahit ingatan—sedang menekuni pekerjaannya dengan khusyuk. Jemarinya yang kasar memegang jarum perak, menusuk kulit-kulit pucat para korban yang telah kehilangan nama, menyatukannya dengan robekan senja yang ia curi dari ufuk terjauh, sebuah perlawanan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh aroma melati dan anyir darah yang mulai menguap ke langit.

Metropolis ini bernama Lux-Aeterna. Sebuah nama yang terdengar seperti janji surga, namun bagi mereka yang merindukan kantuk, ia adalah neraka yang benderang. Di bawah rezim yang memuja kejernihan mutlak, kegelapan adalah musuh negara nomor satu. Undang-Undang Anti-Kegelapan telah menghapus malam dari kalender. Matahari memang terbenam, tetapi ribuan megawatt lampu sorot segera menggantikannya, memastikan tidak ada satu senti pun tanah yang tidak terjamah sinar. Akibatnya, manusia-manusia di Lux-Aeterna kehilangan bayangan mereka sendiri. Mereka berjalan seperti hantu-hantu yang dipaksa eksis, rata dan tanpa dimensi, seolah-olah mereka hanyalah gambar di atas kertas yang disorot lampu dari segala arah.

Saksia adalah bagian dari mesin besar ini, setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia bekerja di gudang tekstil negara, melipat kain-kain putih seragam yang akan dikenakan oleh seluruh penduduk agar pantulan cahaya semakin maksimal. Saksia adalah seorang saksi mata yang bisu—bukan karena ia lahir tanpa suara, melainkan karena ia telah memutuskan bahwa di dunia yang bising oleh dengung trafo listrik, kata-kata hanyalah sampah yang mengotori kesunyian. Namun, di balik bisunya, ia memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih berbahaya ia adalah seorang Penyelundup Senja.

Semuanya bermula ketika suatu malam, saat ia baru saja menutup bengkel rahasianya di ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca, ia menemukan sesosok tubuh. Tubuh itu tergeletak tepat di depan pintu, seperti sebuah paket kiriman maut. Itu adalah tubuh seorang aktivis, seseorang yang pernah berteriak tentang hak-hak atas kegelapan di alun-alun kota sebelum akhirnya dihilangkan oleh Brigade Cahaya.

Tubuh itu mengenaskan. Ia kosong. Bukan hanya nyawanya yang hilang, tapi identitasnya telah dikuras habis. Kulitnya sepucat kertas kalkir, tanpa bekas luka, tanpa tahi lalat, dan yang paling mengerikan tanpa bayangan. Rezim telah menggunakan teknologi radiasi untuk menghapus jejak eksistensialnya. Ia hanyalah seonggok daging tanpa narasi, menunggu untuk dilupakan oleh sejarah yang ditulis dengan tinta cahaya. Saksia menatap mata mayat itu yang terbuka lebar, memantulkan pijar lampu merkuri dari langit-langit gang. Di sana, Saksia tidak melihat kematian, ia melihat sebuah penghinaan terhadap martabat manusia.

Saksia memutuskan untuk pergi. Ia harus melakukan perjalanan ke perbatasan terjauh kota, sebuah wilayah yang disebut Zona Hitam, satu-satunya tempat di mana geografi masih mengizinkan matahari untuk terbenam secara alami tanpa intervensi lampu-lampu raksasa. Wilayah itu adalah tanah terlarang, dipagari kawat berduri dan dijaga oleh menara-menara pengawas yang siap memuntahkan peluru cahaya pada siapa pun yang mendekat.

Dengan mengendap-endap seperti seekor kucing yang mencari lubang tikus, Saksia menembus perimeter. Di sana, ia menyaksikan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh penduduk Lux-Aeterna Senja. Ia melihat bagaimana langit berdarah oleh warna jingga, bagaimana ungu tua perlahan menelan cakrawala, dan bagaimana emas tembaga menyelinap di antara awan-awan.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan gunting karatannya. Ini bukan gunting biasa; ini adalah alat yang ia temukan di reruntuhan museum sejarah, sebuah benda yang konon pernah digunakan untuk memotong tali pusar pahlawan-pahlawan masa lalu. Saksia mulai bekerja. Ia menggunting potongan-potongan warna dari langit yang sedang sekarat itu. Ia menggunting warna jingga yang hangat, ungu yang melankolis, dan merah tembaga yang penuh amarah. Ia memasukkan potongan-potongan langit itu ke dalam sebuah kantong kulit kedap cahaya.

Tiba-tiba, suara sirene membelah kesunyian. Sorot lampu dari menara pengawas menyapu padang ilalang. Brigade Cahaya telah mendeteksi anomali pada spektrum warna di wilayah itu. Saksia segera merangkak, membenamkan dirinya ke dalam gorong-gorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam sana, di tempat yang tidak pernah mengenal matahari, ia merasakan ketakutan yang murni. Beton itu berbau lumut dan kencing, tapi baginya, itu adalah tempat yang paling jujur di seluruh kota. Ia mendekap kantong berisi potongan senja itu di dadanya, merasakan kehangatan yang sisa-sisa dari matahari yang asli.

Kembali ke ruang bawah tanahnya, ritual itu pun dimulai.

Saksia meletakkan tubuh aktivis itu di atas meja kayu. Ia menyalakan sebatang lilin kecil—satu-satunya sumber cahaya yang ilegal namun jujur. Ia mengambil jarum peraknya. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, ia mulai menjahit potongan-potongan senja yang ia curi ke dalam pori-pori kulit sang korban.

Tusukan pertama jarum itu membawa kembali sebuah memori suara tawa seorang anak kecil yang sedang mengejar layang-layang di sore hari. Saksia merasakannya merayap di ujung jarinya. Tusukan kedua membangkitkan aroma kopi yang diseduh di dapur pada hari Minggu yang malas. Tusukan ketiga, sebuah kecupan perpisahan di stasiun kereta yang basah. Setiap jahitan adalah upaya memulihkan identitas yang telah dirampas. Kulit yang tadinya pucat dan transparan mulai terisi oleh warna-warna senja yang dalam.

Ini adalah proses yang menyakitkan. Tubuh mayat itu tampak bergetar, seolah-olah sel-selnya menolak untuk kembali menjadi nyata setelah sekian lama dianggap tiada. Namun Saksia tidak berhenti. Ia menjahit nama yang hilang ke dalam nadi, ia menyulam kenangan ke dalam otot.

Keajaiban pun terjadi. Saat jahitan terakhir selesai, tubuh itu tidak lagi menjadi mayat yang kaku. Alih-alih membusuk, tubuh itu perlahan-lahan mulai berpendar dengan warna ungu yang lembut, lalu menguap. Ya, menguap menjadi rintik-rintik hujan.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Lux-Aeterna diguyur hujan. Tapi itu bukan hujan air biasa. Itu adalah hujan lokal yang hanya jatuh di sekitar gang-gang sempit, dan aromanya bukan aroma tanah kering, melainkan aroma melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun puitis.

Orang-orang di kota mulai terbangun. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka yang benderang, menatap langit dengan bingung. Mereka menyentuh rintik hujan itu, dan mereka yang tersentuh tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Sebuah harapan, yang selama ini terkubur di bawah tumpukan propaganda, mulai tumbuh seperti kecambah di antara retakan aspal. Bisik-bisik mulai menjalar Ada seseorang yang sedang mengembalikan ingatan kita.

Namun, penguasa tidak tinggal diam. Bagi rezim, hujan beraroma melati adalah bentuk pembangkangan sipil yang paling berbahaya. Hujan itu tidak logis. Hujan itu subversif. Mereka segera memperketat pengawasan. Brigade Cahaya dikerahkan dengan kekuatan penuh, membawa lampu-lampu sorot portabel yang mampu membakar kulit.

Saksia tahu waktunya hampir habis. Ia kembali ke mejanya, dan kali ini, ia menemukan tubuh yang berbeda. Tubuh itu masih hangat. Saat ia membersihkan wajah tubuh itu dari debu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajahnya sendiri—atau mungkin bukan dirinya, melainkan bayangan dirinya di masa lalu, atau mungkin kekasih yang telah lama ia lupakan namanya. Di dunia ini, perbedaan antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur saat semua orang dipaksa menjadi sama.

Tiba-tiba, pintu gudangnya didobrak.

Jangan bergerak! Matikan kegelapan itu! teriak seorang komandan Brigade Cahaya.

Lampu-lampu sorot raksasa diarahkan ke arah Saksia. Cahaya putih yang steril dan membutakan menerjang setiap sudut ruangan, menghancurkan sisa-sisa warna senja yang ia simpan dalam botol-botol kaca. Saksia terpojok. Ia merasakan matanya perih, seolah-olah cahaya itu ingin mencongkel keluar bola matanya. Ia tidak bisa lagi melihat warna jingga atau ungu. Semuanya menjadi putih—putih yang hampa, putih yang mematikan.

Namun, Saksia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang masih memegang jarum dan sisa-sisa benang jingga terakhir, ia melakukan sesuatu yang melampaui logika maut. Ia tidak menjahit mayat itu. Ia mulai menjahit sisa-sisa senja terakhir itu ke kulitnya sendiri.

Ia menusuk lengannya, menjahit warna merah tembaga ke ototnya. Ia menusuk dadanya, menyatukan sisa ungu dengan jantungnya. Ia memeluk tubuh korban yang ada di depannya, menyatukan eksistensi mereka dalam satu jahitan yang besar dan semrawut.

Hentikan! teriak sang komandan, tapi suaranya tenggelam oleh dengung energi dari lampu-lampu sorot yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

Terjadi sebuah ledakan metafisik. Tubuh Saksia tidak hancur karena peluru atau panasnya lampu. Tubuhnya pecah karena ia sudah terlalu penuh dengan langit. Ia meledak menjadi badai hujan darah dan melati yang luar biasa hebat. Hujan itu bukan lagi rintik-rintik kecil, melainkan air bah yang mengguyur seluruh penjuru Lux-Aeterna.

Lampu-lampu merkuri di jalanan mulai korsleting dan meledak satu per satu saat air hujan itu menyentuh kabel-kabelnya. Kota itu sejenak jatuh ke dalam kegelapan yang sudah lama dirindukan.

Pemerintah segera mengeluarkan dekrit baru payung dilarang dan hujan dianggap sebagai infiltrasi asing. Mereka mengklaim bahwa air yang jatuh dari langit adalah limbah kimia yang sengaja disebarkan oleh teroris untuk merusak mental rakyat. Namun, bagaimana kau bisa memenjarakan bau darah yang telah menyatu dengan udara Bagaimana kau bisa melarang hidung untuk bernapas

Beberapa hari kemudian, di alun-alun kota, gubernur berpidato di bawah lampu-lampu cadangan yang baru dipasang, lebih menyilaukan dari sebelumnya. Ia berusaha meyakinkan rakyat bahwa bayangan adalah ilusi, sebuah cacat penglihatan yang harus disembuhkan. Ia bicara tentang kemajuan, tentang masa depan yang tanpa noda.

Tapi ia tidak sadar, saat ia bicara dengan semangat yang meluap-luap, setetes air hujan yang tersisa di atap podium jatuh tepat di lidahnya yang sedang menjilat bibir. Air itu membawa rasa amis sejarah yang berusaha ia hapus—rasa besi, rasa duka, rasa melati. Sang gubernur tersedak sejenak. Dan di bawah podium, di tengah terik lampu yang paling terang sekalipun, sebuah keajaiban terjadi.

Bayangannya sendiri mulai muncul. Bayangan itu tidak patuh; ia tidak mengikuti gerakan sang gubernur. Bayangan itu mulai menari, meliuk-liuk di atas lantai beton, menjahit dirinya sendiri ke tanah dengan benang-benang jingga yang tak bisa diputus oleh gunting mana pun. Dan di seluruh alun-alun, rakyat yang berdiri diam mulai melihat ke bawah kaki mereka. Di sana, di bawah pijar lampu yang angkuh, bayangan-bayangan mereka telah kembali, hitam dan pekat, membawa kembali kedalaman yang telah lama hilang.

Saksia telah hilang, memang. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki suara bisu. Namun ia ada di sana, di setiap aroma melati yang tertinggal di baju penduduk kota, dan di setiap bayangan yang kini berani menentang cahaya. Di negeri itu, ingatan telah menemukan jalan pulangnya, dijahit oleh benang-benang senja yang abadi.

____________________

Rasyid Yudhistira. Penulis yang membawa perspektif unik dari disiplin keteknikan. Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Rasyid dikenal memiliki gaya penulisan khas yang ia sebut “Sexy Simplicity,” mengedepankan diksi ringkas namun menghadirkan kedalaman makna, memadukan sensualitas dengan religius. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Pencapaian terbesarnya adalah ketika karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Cerpen

Penjual Bayangan

Cerpen Erna Surya

Setiap malam Minggu, pasar malam itu riuh seperti kerumunan tawon. Komidi putar menjadi sentral. Pedagang berjejer di sekeliling. Anak-anak  berlari membawa balon. Beberapa dari mereka merengek di depan orang tua, dan berakhir dengan tarikan tangan si ibu yang mengajak pulang dengan paksa. Suara musik dangdut berdentam. Bercampur dengan suara ibu-ibu yang menawar panci obral dengan harga sepertiga dari yang ditawarkan. Sementara itu, bapak-bapak lebih memilih mengisap rokok di pinggiran sembari berbincang diselingi tawa.

Dari semua keriuhan itu, tak ada yang memperhatikan lapak paling sudut. Ia berada di bawah lampu yang menggantung lemas seperti leher ayam dipotong setengah. Di sana, lelaki tua dengan topi lebar duduk tenang. Pandangannya mengedar ke seluruh arah, lalu diam lagi. Di hadapannya, tak ada barang jualan. Tak ada rak, tak ada etalase, tak ada poster promo. Hanya selembar kain hitam terbentang, dan di atasnya: bayangan-bayangan. Ya, lelaki itu si penjual ‘bayangan’.

Aneka macam bentuknya. Ada bayangan orang-orang kaya dengan segala macam kemewahannya. Juga bayangan perempuan muda dengan rambut panjang yang cantik dan bertubuh langsing. Bayangan lelaki tinggi berjas yang pintar bermain kata-kata konon katanya yang paling laris di antara semuanya. Bayangan anak kecil hanya sebagai pelengkap, jumlahnya tak banyak. Juga bayangan-bayangan dengan bentuk tak jelas tanpa simbol apa pun.

Mula-mula, orang-orang mengira itu pertunjukan sulap. Beberapa dari mereka mendekat, menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan lelaki itu. Namun semenit kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan menjauh. Kecewa. Merasa sia-sia mengapa harus mengeluarkan antusias yang besar untuk mendekati lelaki itu.

Tapi malam berikutnya, seorang remaja bernama Alin membeli bayangan ramping dan anggun. Sesuai dengan apa yang diinginkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak bulian yang masuk ke telinganya lantaran tubuhnya yang terus membesar lantaran banyak makan. Alin kesal. Dan ia berjanji suatu saat akan menjadi berbeda. Sejak itu, bayangan asli Alin tak pernah terlihat lagi. Ia berjalan membuntuti bayangan baru itu, seakan tubuhnya hanya pelengkap.

Alin berubah. Pertama-tama, keluarganya yang menyadari itu. Lama-kelamaan semua orang ikut merasakan perubahannya. Ia mulai berbicara dengan nada genit, langkahnya naik turun seperti ingin menggoda mata lelaki agar melihat pantatnya, matanya lebih nakal dan mengundang birahi. Teman-temannya bilang bahwa itu bukan Alin.

Lalu Doni, sopir ojek online, membeli bayangan bertubuh tegap dan berkumis. Memang sudah lama lelaki itu berambisi ingin jadi anggota DPR. Hanya sekadar mimpi kosong. Faktanya, Doni tetaplah sopir ojek online. Ia bilang ingin lebih disegani banyak orang. Setelah membeli bayangan itu, ia tak lagi mengenal orang tuanya. Setiap kali ibunya memanggil, ia menoleh dengan bingung. “Ibu siapa, ya?”

Lambat laun, lapak si penjual bayangan jadi primadona. Orang-orang antre. Harga tak jadi soal. Seorang dosen tua menukar bayangannya dengan bayangan anak muda agar bisa mengencani mahasiswi yang minta nilai A. Seorang perempuan simpanan membeli bayangan biar tampak seperti istri sah, biar diajak ke pesta-pesta, katanya. Bahkan pejabat kota, diam-diam, membeli bayangan tentara. Setelah itu, ia mulai memberi perintah dengan suara meledak-ledak dan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Lalu satu per satu, mereka mulai menghilang. Bukan dalam sekejap. Awalnya tubuh mereka jadi samar, seperti kabut pagi yang enggan bubar. Suara mereka menjadi gema yang memantul sendiri. Akhirnya, yang tersisa hanya bayangan—yang tetap beraktivitas seperti biasa: berbelanja, naik bus, bercermin.

Ketika tubuh-tubuh tak lagi ada, pasar malam berubah. Lampu-lampu tetap menyala, tapi cahayanya dingin seperti api tua yang nyaris padam. Tenda-tenda berdiri, tapi tak ada suara tawa, tak ada bau gorengan, tak ada antrean. Boneka-boneka hadiah tergantung tanpa peminat. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tak pernah dimatikan, tapi iramanya melambat, seperti rekaman yang digerus usia.

Bayangan-bayangan masih mondar-mandir, membeli minuman dari warung yang dijaga bayangan lain. Mereka bermain kora-kora, naik bianglala, memotret diri di cermin—semuanya tanpa tubuh, tanpa suara, tanpa napas.

Udara di pasar malam itu seperti disaring dari kenangan yang buruk: lembab, kosong, menggantung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap kemenyan yang entah dari mana. Sesekali terdengar suara derit besi tua dari wahana permainan yang bergerak sendiri. Kota perlahan berubah jadi museum bayangan.

Di malam ke-77 sejak lapak itu muncul, jurnalis tua bernama Pak Winarto datang membawa pena dan catatan. Ia satu-satunya orang yang belum membeli bayangan. “Saya lebih suka bayangan saya sendiri,” katanya. “Meski jelek dan bungkuk.”

Ia duduk di depan lapak itu. Penjual bayangan masih sama: diam, wajahnya tak kelihatan karena tertutup bayangannya sendiri.

“Apa sebenarnya yang kau jual?” tanya Pak Winarto.

“Apa yang orang-orang cari,” jawab si penjual.

“Dan itu?”

“Bayangan yang mereka inginkan. Bayangan yang mereka bayangkan tentang diri mereka.”

Pak Winarto mengangguk. Ia menulis sesuatu. Pena di tangannya bergetar. Bayangannya sendiri tiba-tiba menjauh sedikit, berdiri tak sejajar.

“Apa yang terjadi pada mereka yang menghilang?” tanya Pak Winarto.

“Mereka tak tahan jadi palsu terlalu lama. Tubuh tak bisa hidup dalam kepalsuan. Maka bayangan mengambil alih.”

“Dan tempat ini?”

“Sudah lama kehilangan cahaya. Sekarang hanya tinggal bayangan yang merayap.”

Pak Winarto menatap langit. Tak ada bintang. Ia menulis kalimat terakhir: Manusia kini hanya ingin menjadi apa yang tampak, bukan apa yang nyata. Maka, yang nyata pun lenyap pelan-pelan.

Ia menutup buku catatannya. Saat bangkit berdiri, ia sadar: tak ada suara jejak kaki. Tubuhnya sepenuhnya terhisap bayangan. Pak Winarto menghilang.

Tapi lapak itu tetap ada. Pak Winarto lupa bahwa dulu ia sangat idealis dalam menuliskan pemberitaan. Kini entah ke mana idealisme itu setelah menyaksikan setumpuk uang di hadapannya. Konon katanya, itu dari pengusaha yang sengaja membuang limbah ke sungai dan meminta Pak Winarto untuk menulis berita yang lain saja, jangan tentang pencemaran sungai yang sudah meracuni banyak warga.

Suatu hari, saat kota lain mulai penasaran dan mengirim utusan, mereka hanya melihat bayangan-bayangan yang menjual bayangan-bayangan lain.

Tak ada tubuh, tak ada wajah. Ketika salah satu utusan memutuskan membeli satu bayangan gagah milik seseorang yang entah siapa, ia pun tidak kembali.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Kamar Belakang

Cerpen Erna Surya

Aku tidak pernah mengunci pintu kamar belakang. Istriku yang memintanya. Katanya supaya udara tetap masuk. Katanya supaya tidak lembap. Katanya supaya tidak seperti gudang. Padahal memang itu gudang.

Sebelum anak itu datang, ruangan itu hanya berisi kardus bekas, kipas rusak, dan koper lama yang tidak pernah kami buka lagi sejak pindah rumah. Setelah anak itu datang, semua barang kami keluarkan. Kami bersihkan lantainya. Kami beli kasur tipis. Kami tidak beli lemari. Anak itu tidak punya banyak barang.

Namanya Damar. Umurnya sembilan tahun waktu pertama kali datang. Anak dari adik istriku. Orang tuanya kecelakaan motor di jalan provinsi. Mati di tempat. Tidak ada yang mau mengurusnya.

“Kita saja,” kata istriku waktu itu. Aku tidak langsung jawab.

Aku hanya melihat foto anak itu yang dikirim lewat WhatsApp. Kulitnya gelap. Matanya kosong. Seperti tidak sedang melihat siapa pun.

“Kita tidak punya anak,” kata istriku lagi. Aku tetap tidak jawab.

Dua minggu kemudian, anak itu sudah tidur di kamar belakang.

***

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Damar bangun pagi, makan, duduk, kadang membantu Rani, istriku, di dapur kalau diminta. Dia tidak pernah meminta sesuatu. Tidak pernah rewel. Tidak pernah mengganggu.

Aku memperhatikannya dari jauh. Cara dia berjalan, cara dia duduk, cara dia menatap sesuatu. Ada yang tidak pas. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Seolah-olah dia tidak benar-benar hadir.

Suatu malam, aku bangun karena ingin ke kamar mandi. Rumah gelap. Lampu di ruang tengah mati. Tapi dari arah kamar belakang, ada cahaya. Pintunya terbuka sedikit.

Aku mendekat tanpa suara. Dari celah itu aku melihat Damar duduk di lantai. Dia tidak memakai baju. Hanya celana pendek. Tubuhnya kurus. Tulang bahunya menonjol. Dia tidak bergerak. Tidak sedang bermain. Tidak sedang melakukan apa pun. Hanya duduk.

Aku berdiri di sana beberapa detik, menunggu dia menyadari keberadaanku. Tapi dia tidak menoleh. Tidak bereaksi. Seolah-olah aku tidak ada. Akhirnya aku kembali ke kamar.

Aku tidak menceritakan itu kepada Rani.

Beberapa hari kemudian, aku kehilangan uang. Tidak banyak. Seratus ribu. Tapi aku yakin aku menyimpannya di dompet. Aku bukan tipe orang yang ceroboh soal uang. Aku tidak langsung menuduh,hanya mencoba memastikan.

Saat makan malam, aku bertanya dengan nada biasa.

“Damar, kamu ambil uang Om?”

Dia menggeleng. “Tidak.”

Jawabannya cepat. Tidak ragu. Aku melihat matanya. Tetap datar. Tidak ada perubahan.

Rani langsung menyela. “Ngapain kamu nuduh anak kecil?”

“Aku cuma tanya.”

“Ya jangan begitu.”

Nada suaranya berubah. Lebih tajam. Aku tidak melanjutkan.

Malamnya, aku masuk ke kamar belakang saat Damar sudah tidur. Aku membuka tas kecilnya pelan-pelan. Tidak ada banyak barang di dalamnya. Dua baju, satu celana, dan sebuah plastik kecil. Di dalam plastik itu ada uang. Lebih dari yang hilang dariku. Aku menutup tas itu kembali tanpa mengambil apa pun, lalu keluar tanpa suara.

Sejak itu, aku mulai lebih sering memperhatikan. Damar sering bangun malam. Tidak selalu, tapi cukup sering untuk membuatku sadar itu bukan kebetulan. Kadang dia duduk seperti yang kulihat sebelumnya. Kadang berdiri di dekat pintu. Kadang menghadap ke sudut ruangan. Dia tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluh. Rani tetap menganggap semuanya normal.

“Anak trauma memang begitu,” katanya suatu kali ketika aku menyinggungnya.

Aku tidak yakin dia benar. Tapi aku juga tidak ingin berdebat.

***

Suatu sore, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi. Rani belum pulang kerja. Aku meletakkan tas di ruang tengah dan langsung menuju dapur. Tapi langkahku berhenti ketika melihat pintu kamar belakang terbuka.

Aku mendekat. Damar ada di dalam. Dia sedang memegang ponsel. Aku justru baru tahu kalau Damar punya ponsel. Dia menatap layar dengan serius. Jarinya bergerak pelan. Membuka sesuatu. Lalu berhenti.

“Ngapain?”

Suaraku membuatnya kaget. Ponsel itu jatuh ke lantai. “Tidak apa-apa,” katanya cepat.

Aku mengambil ponsel itu. Layar masih menyala. Ada foto. Foto Rani. Tanpa pakaian. Tanganku tiba-tiba gemetar. Aku tidak tahu kapan foto itu diambil.  Aku menatap Damar.

“Apa ini maksudnya?”

Dia tidak menjawab. Aku mendekat. Memegang lengannya.

“Kamu ngerti ini apa?”

Dia tetap diam. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku menamparnya. Tidak terlalu keras. Tapi cukup membuatnya jatuh ke samping. Dia tidak menangis. Tidak berteriak. Dia hanya menatapku. Tatapannya tetap sama seperti pertama kali aku melihatnya di foto. Kosong.

Malam itu, aku menceritakan semuanya kepada Rani. Aku pikir dia akan marah kepada Damar. Ternyata tidak. Dia marah kepadaku.

“Kamu mukul anak kecil?”

“Dia punya ponsel!”

“Terus?”

“Ada foto kamu di situ.”

“Terus kamu mukul dia?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dia terima. Rani berdiri dan pergi ke kamar belakang. Aku tidak ikut.

Dari ruang tengah, aku mendengar suaranya pelan. Seperti sedang menenangkan seseorang. Aku tidak mendengar suara Damar. Itu membuatku lebih tidak nyaman.

***

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Pintu kamar belakang mulai dikunci. Bukan olehku. Oleh Rani. Dari luar.

Aku tidak pernah melihat langsung kapan dia menguncinya. Tapi setiap malam, setelah Damar masuk, pintu itu tertutup dan tidak bisa dibuka dari dalam. Aku sempat bertanya sekali.

“Kenapa dikunci?”

Rani menjawab singkat. “Supaya dia tidak keluar malam-malam.”

Aku tidak membantah. Aku juga tidak setuju. Aku hanya diam.

Damar tidak keluar lagi dari kamar itu. Makanannya diantar. Air minumnya diantar. Kadang Rani masuk sebentar, lalu keluar lagi. Aku jarang pergi ke kamar belakang. Hanya sesekali, saat pintu terbuka, aku bisa melihat bayangan tubuhnya di dalam.

Hari-hari selanjutnya, rumah tetap berjalan seperti biasa. Kami tetap bekerja. Tetap makan bersama, meski sekarang hanya berdua. Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sedang terjadi. Seolah-olah kami sepakat untuk tidak menyentuhnya.

Beberapa hari kemudian, bau mulai muncul. Awalnya samar. Aku pikir dari saluran air. Rani bilang mungkin dari luar. Kami tidak terlalu memikirkannya. Tapi bau itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Aku mulai merasa tidak nyaman setiap kali melewati lorong menuju kamar belakang.

Suatu sore, aku berhenti di depan pintu itu. Pintunya tertutup. Terkunci. Aku mengetuk pelan.

“Damar.”

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap tidak ada suara. Aku melihat Rani yang berdiri di ruang tengah.

“Kamu buka!” kataku.

Dia tidak bergerak.

Aku mendekat padanya.

“Kamu buka sekarang!”

Dia tetap diam. Aku tidak menunggu lagi. Aku mengambil kunci yang tergantung di dekat dapur. Tanganku sedikit gemetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Aku memutarnya perlahan.

Pintu terbuka.

Bau itu langsung keluar. Lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak masuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Rani berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan napasnya. Kami tidak bicara.

Tidak ada yang bergerak. Aku menutup pintu itu kembali. Perlahan.

***

Malam itu, kami tetap tidur seperti biasa. Lampu dimatikan. Tidak ada percakapan. Tidak ada keputusan. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, menghadap arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah Rani tidur. Aku sendiri tidak benar-benar tidur.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Rumah masih sunyi. Aku berpakaian tanpa suara. Saat hendak keluar, aku berhenti di lorong. Melihat ke arah kamar belakang. Pintunya sedikit terbuka. Aku tidak ingat pernah membukanya lagi. Aku tidak melihat ke dalam. Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri beberapa detik. Lalu pergi. Aku tidak tahu siapa yang membuka pintu itu. Dan aku tidak yakin aku ingin tahu.

Klaten, 30 Maret 2026

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Pada Sebuah Malam

Cerpen Erna Surya

Gang itu selalu berbau air got. Aku sudah hafal baunya seperti hafal garis-garis di telapak tanganku sendiri. Malam turun pelan-pelan, dan lampu-lampu kuning menggantung dengan cahaya remang. Di kursi plastik yang retak, aku duduk bersama dua perempuan lain, menunggu nasib datang dalam bentuk laki-laki dengan uang.

Aku menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya keluar dari hidung. Rasanya seperti mengusir sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Sesuatu itu semacam kekhawatiran bila esok aku tak bisa makan, atau pekan depan tak ada uang yang bisa kukirimkan ke kampung. Panen gagal, bapak sudah berkabar kemarin.

“Sepi,” kata Santi di sebelahku.

“Belum jamnya,” jawabku.

Padahal kami tahu, kadang bukan soal jam. Kadang soal keberuntungan, kadang soal muka, kadang soal siapa yang lebih dulu berdiri saat ada lelaki lewat. Dunia kecil kami punya hukum yang tidak tertulis, tapi ditaati.

Lalu aku melihatnya.

Seorang lelaki muda berdiri di mulut gang. Aku melihatnya seperti orang tersesat yang tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menemukan jalan kecil ini. Wajahnya biasa saja, terlalu biasa malah, seperti wajah-wajah yang mudah dilupakan. Tapi ada sesuatu di matanya. Aku bisa menangkapnya di tengah cahaya remang ini.

Aku melambaikan tangan. “Mau main, Mas?”

Ia mendekat pelan-pelan, aku melihat ada ketakutan di matanya.

“Yang murah,” katanya.

Aku tertawa kecil. “Semua di sini murah. Tinggal kuat-kuatan saja.”

Ia tidak ikut tertawa. Hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk.

Aku berdiri, mematikan rokok dengan ujung sandal, lalu memberi isyarat agar ia mengikutiku. Kami masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang berjalan. Ia berjalan di belakangku. Kulihat langkahnya ragu-ragu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.

Di kiri kanan, pintu-pintu terbuka sedikit. Potongan hidup orang lain berjatuhan seperti serpihan kaca: seorang ibu memarahi anaknya yang menangis, seorang lelaki tua batuk sambil meludah ke lantai, televisi menyala dengan suara yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

“Pertama kali?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab. Lalu pelan-pelan, ia mengangguk.

Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya. “Kelihatan.”

Kami sampai di kamarku. Kecil, pengap. Dindingnya mengelupas. Kasur tipis tergeletak di lantai, sprei lusuh bergambar kartun yang dulu mungkin lucu, sebelum semuanya jadi seperti ini.

“Duduk saja,” kataku.

Ia duduk di ujung kasur, kaku seperti patung yang belum selesai dipahat.

Aku membuka jepit rambut, membiarkan rambutku jatuh berantakan. Aku sudah melakukan ini ratusan kali, gerakan yang sama, urutan yang sama, seperti ritual yang kehilangan makna tapi tetap dijalankan.

“Kamu kerja apa?” tanyaku.

“Tidak kerja.”

“Sekolah?”

“Tidak juga.”

Aku menoleh. “Terus ngapain?”

Ia berpikir lama, seperti pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab.

“Hidup saja,” katanya akhirnya.

Aku tertawa kecil. “Semua orang juga begitu.”

Tapi entah kenapa, dari mulutnya, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lain. Aku mulai membuka pakaianku. Satu per satu. Seperti menghitung sesuatu yang tidak pernah selesai.

“Mau cepat atau lambat?” kataku.

Ia menatapku. Terlalu lama.

Aku berhenti. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” katanya.

Udara dingin tiba-tiba menyentuh kulitku, tapi aku sudah kebal. Tubuh ini bukan lagi milikku sepenuhnya. Ia sudah dibagi-bagi menjadi waktu dan tarif.

Ia mendekat. Tangannya menyentuh lenganku dengan hati-hati, seperti aku ini kaca yang bisa pecah kapan saja. Aku hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena aneh.

“Kamu unik,” kataku.

“Ibu saya bilang begitu juga,” jawabnya.

“Ibumu masih hidup?”

Ia mengangguk.

“Baik?”

Ia diam. Matanya beralih ke cermin retak di sudut ruangan. Bayangannya terbelah-belah.

“Kadang. Tapi banyak tidak baiknya,” katanya pelan.

Aku tidak bertanya lagi. Aku sudah belajar bahwa beberapa jawaban hanya akan melukai kalau dipaksa keluar.

Kami berbaring. Kasur berderit, seperti mengeluh pada nasibnya sendiri.

Setelah semua selesai, ia terus menatapku.

“Jangan dilihatin terus,” kataku. “Bikin risih.”

Ia mengalihkan pandangan, tapi sebentar saja. Lalu kembali lagi, lebih dalam, lebih tajam.

“Kamu pernah ingin mati?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tertawa. “Setiap hari.”

“Kenapa tidak?”

“Belum sempat,” jawabku. “Utang masih banyak.” Tiba-tiba, aku teringat pada rentenir yang akan menagih uang esok pagi.

Ia mengangguk, lalu ia mulai bercerita. Tentang kucing yang ia lihat di pinggir jalan. Tentang suara kereta di malam hari. Tentang seorang anak perempuan yang menangis di halte. Cerita-cerita kecil yang tidak penting, tapi ia ceritakan dengan keseriusan yang membuatku tidak enak untuk memotongnya.

Kadang ia berhenti di tengah kalimat, menatap ke sudut ruangan, lalu melanjutkan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku mulai merasa lelah. Tapi ada sesuatu yang membuatku tetap diam. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin juga rasa takut yang pelan-pelan menyusup.

“Kamu sering ke sini?” tanyaku, mencoba mengalihkan.

Ia menggeleng.

“Kenapa ke sini?”

Ia tersenyum tipis. “Disuruh.”

“Siapa?”

Ia tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke cermin retak itu.

“Mereka,” katanya.

Aku mengerutkan kening. “Mereka siapa?”

Ia menatapku lagi. “Yang suka bicara.”

Aku tertawa, tapi terasa kering. “Kamu bercanda ya?”

Ia tidak tertawa.

Di luar, suara orang bertengkar terdengar. Botol pecah. Seseorang berteriak. Dunia terus berjalan seperti biasa, tapi di dalam kamar ini, aku merasakan waktu  seperti tersangkut di sesuatu yang tak terlihat.

“Kamu minum?” tanyaku setelah merasakan ada sesuatu yang aneh di bola matanya.

“Tidak.”

“Obat?”

Ia menggeleng.

Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-kata terasa seperti tidak punya tempat untuk jatuh. Ia menyentuh wajahku. Kali ini tidak selembut tadi. Ada tekanan kecil, seperti ingin memastikan aku benar-benar ada.

“Kamu mirip,” katanya.

“Mirip siapa?”

Ia tidak menjawab. Tiba-tiba, aku merasa ruangan ini terlalu sempit. Udaranya terlalu tebal. Seperti ada sesuatu yang ikut masuk bersama kami tadi, dan sekarang berdiri di sudut, menonton.

Lalu semua gelap. Tapi, aku masih bisa mendengar suara terakhirnya: Ibuku. Dia suka pukul aku.

***

Orang-orang bilang aku mati malam itu. Mereka menemukan tubuhku di kasur esok harinya, dengan mata yang masih terbuka. Seolah-olah aku belum selesai melihat sesuatu.

_____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Nasib

Cerpen Drew Andre A. Martin

“Perhatikan mereka,” bisik Maria ke telingaku dengan bola matanya melihat seseorang yang dibicarakan. Mendengarnya, aku terkekeh seraya menelangkupkan telapak tangan ke bibirku. “Benar, kan?!” Kembali Maria berucap dengan cukup lantang dan percaya diri, sembari kami melanjutkan perjalanan.

Kalina, namaku. Sedangkan Maria, temanku sejak kami balita. Usia kami tak terpaut tahun. Aku, lahir di bulan Mei, sedangkan Maria di bulan Desember. Berbeda dengan usia kami yang terpaut jauh oleh bulan, nasib kami amat sama. Aku bekerja sebagai penyemir sepatu dan pelukis jalanan. Sedangkan Maria, pengamen. Rute jalan menuju kantor—salah satu cara kami mencintai nasib—berlawanan arah saat sampai di perempatan jalan. Maria, ke arah barat. Sedangkan aku ke timur.

Menjadi penyemir sepatu bukanlah perkara mudah di akhir-akhir ini. Orang-orang beralih dari sepatu kulit ke sepatu canvas. Kadang juga, satu per satu langgananku, mulai menyemir sepatunya sendiri di rumah, apalagi harga semir tak begitu mahal akibat turunnya peminat. Karenanya, aku mencoba menjadi pelukis jalanan. Biasanya aku pergi ke kantor hanya membawa sikat sepatu dan semir, sekarang aku juga membawa peralatan lukis di dalam tasku. Sempat terpikir olehku, untuk melukis gambar di sepatu-sepatu canvas, mungkin nanti.

Sesampainya di kantorku—tempat biasa aku berhenti untuk menawarkan jasa semir sepatu dan melukis—seorang laki-laki yang kutaksir usianya empat puluhan, menghampiriku. Bertanya dia. “Mbaknya sudah nggak nyemir lagi?”

“Masih, Pak.”

“Tolong semirkan sepatu saya.”

“Silakan duduk di sini, Pak.”

Bapak itu duduk. Bersandar dia di tempat duduknya. Sepatu yang dikenakannya bertumpu ke kursi kecil. Sengaja kupersiapkan agar sepatu tak perlu dilepas.

“Kamu melukis juga?” tanya bapak itu dengan matanya yang terfokus di layar ponselnya.

“Iya, Pak,” jawabku sembari tetap fokus menyemir. “Kalau Bapak mau, saya bisa melukis sesuai keinginan Bapak.” Berharap, si bapak tersebut mengiyakan.

“Boleh, tapi …” Sebentar dia, melihat arloji di lengan kirinya. “Ah, tidak masalah. Untuk harga, murah, ‘kan?”

“Bagi Bapak, tentulah murah,” jawabku setelah menyelesaikan pekerjaan menyemir sepatunya, sembari mendongakkan kepala dan tersenyum.

“Berapa?”

Kedua matanya nyaris keluar saat melihat daftar harga melukisku. Seolah ada yang salah soal harga. Kujawab, tentulah tidak, Pak. Itu sudah benar.

“Terlalu mahal kurasa dengan harga lima belas ribu, nyaris sepadan dengan harga jasa semir sepatumu.”

“Itu sangat murah bagi Bapak.” Tak lupa aku memuji penampilannya dengan sangat baik di hari ini. Kata Maria, aku harus melakukan pujian, karena orang-orang yang berada tak seperti kami, amatlah suka bila diberi pujian, apalagi dibesarkan segala kebaikannya, meski sebenarnya tak baik.

Menurut Maria, hanya itu yang bisa membuat mereka membeli apa yang sebenarnya tak ingin mereka beli. Ibarat kata, mereka membayar pujian yang sudah kadung, ketimbang membeli produk barang atau jasa. Imbuh Maria, orang-orang rendahan, orang-orang miskin di mata mereka, kepalang tanggung kalau tidak memerankan nasib yang sudah jadi nasibnya.

“Kau gila! Apa kau tak ingin memiliki nasib seperti mereka?” Aku menghardik Maria.

“Kau sama saja seperti mereka.” Maria melirik dengan tawa menyebalkan. “Kau mengataiku gila, sedangkan kau pun gila. Mana mungkin, aku tidak mau jadi seperti mereka? Tentulah aku mau.”

“Ucapan adalah doa. Kau sendiri, ‘kan yang mengajarkan itu kepadaku? Termasuk idemu menyebut kantor untuk tempat kita bekerja.” Aku kesal, Maria menjadi munafik.

Maria tertawa dengan jeda, lalu membuang muka, lanjut meludah. “Cara untuk bahagia, ya …, dengan cara itu. Mencintai nasib. Dan saat kau sudah mencintai nasib dengan baik, maka amatlah kepalang tanggung, jika kau tidak totalitas memerankannya.”

“Memerankan nasib atau memanfaatkan keadaan?” tanyaku dengan merendahkan intonasi.

“Memerankan nasib.”

Berulang kali aku mencoba memerankan nasibku.

Sejujurnya memerankan nasib, nyatanya membuahkan hasil di tiap harinya. Namun, tidak dengan hari ini. Entah aku kurang totalitaskah? Atau, bukan hariku? Atau, justru bapak itulah yang lebih totalitas memerankan nasibnya?

“Kalau sepuluh ribu, mungkin aku mau. Itu pun kalau kamu mengiyakan,” ujar bapak tersebut.

“Boleh, Pak. Setidaknya bisa membuat Bapak senang.”

“Tidak-tidak, akulah yang justru membutamu senang. Selain aku membeli jasa semir, aku juga membeli produk lukisanmu.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menahan emosi.

Sejak hari itu, aku menjadi tahu apa yang pernah dibicarakan Maria kepadaku. Jika ingin tidak kena masalah, jangan sekali-kali adu nasib dengan orang-orang yang beruntung, Harga dirimu bisa dibelinya.

Soal harga diri yang dibelinya itu, menurut dia tidaklah sama dengan merendahkan diri untuk mendapatkan keuntungan. Aku menyipitkan mata, kemudian disusul dengan melipat kedua lengan, jari telunjuk kanan, mengetuk lengan kiri. Kau akan tahu sendiri. Kau tak akan mengerti yang kumaksud Kalina, kalau kau tak mengalaminya sendiri nanti. Penjelasanku yang berupa ucap kata ini, tak akan mampu dicerna dengan baik oleh lambung di kepalamu. Maria tertawa puas. Aku, mencoba ikut tertawa juga, setidaknya aku mencoba tak cukup keras dengan diri dan nasib yang perlahan-lahan sedang kucoba nikmati dan kucintai sepenuhnya.

Diulurkan oleh si bapak sekerat foto yang sedikit usang. “Lukislah ini. Nanti pukul lima sore, aku ambil.”

“Kalau besok pagi diambilnya bagaimana?”

“Aku bisanya sore ini. Kalau kamu tidak bisa, ya, tidak apa-apa. Aku urungkan.”

“Baik, akan selesai hari ini.”

Bapak itu tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kantorku.

Mendengkus lalu aku. Ditolak tidaklah mungkin, karena butuh uang. Tak ditolak pun, harga bayar jasa tak sepadan dengan usaha melukis foto dengan kondisi gambar yang tidak memungkinkan. Kalau sudah begini, kata terakhir yang sekaligus meredakan sesal, kesal, amarah, ialah kata-kata Maria yang kemudian kulontarkan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kedua telingaku. “Mari kita memerankan peran kita dengan totalitas!”

Datang lalu seorang ibu. Membawa tas keresek besar, berisi lima pasang sepatu milik anak laki-lakinya.

“Tak jadi masalah jika tidak bisa selesai hari ini. Aku hanya minta kau selesaikan sepasang saja, bisa, ‘kan?” pinta ibu yang baru datang ke kantorku, setelah kukatakan alasanku tidak bisa menyelesaikan menyemir hari itu.

“Boleh, Bu. Tapi untuk empat pasang, benar-benar boleh saya selesaikan besok?”

“Iya, tidak apa-apa.”

Selesai kusemir, ibu tersebut pergi. Dia membayarnya lunas. Bahkan memberikan tips yang lumayan banyak. “Terimalah semua.”

Kudongakkan kepalaku melihat hamparan langit biru di atas dengan senyum yang terkembang, sembari ucap, “barangkali ini adalah usaha memerankan dan mencintai nasib dengan benar.”

Sejenak sebentar, aku merasa geli. Lama-lama bahasaku, agaklah seperti Maria. Tapi, tak salah juga. Dengan cara itu, aku tak terlalu keras dengan nasib. Tak pula marah menyalak kepada ibu dan bapak, yang tak memberikan kewajibanku sebagai seorang anak, sepertinya, yang kini berhasil menjadi seorang manusia yang benar-benar mencintai dengan ikhlas pada nasib sendiri.

***

“Hei! Kau juga belum pulang? Untung saja di perempatan jalan tadi, aku tak langsung menuju rumah. Ke sini, mampir beli es teh langgananku.” Maria melihat wajahku dengan wajah simpan tanda tanya.

“Lembur.”

“Aduh, duh, rezeki besar nih!” Maria menepuk bahuku.

“Syukurlah. Kau tidak ingin bertanya, berapa ongkos lukisan ini?”

“Berapa memangnya?”

“Sepuluh ribu.” Aku tertawa.

Bukannya ikut tertawa, Maria tercengang. Untungnya dia tak marah seperti bisanya. “Kau serius? Sedetail ini? Melukis gambar dua orang, ditambah lagi dengan pepohonan rindang dan rerumputan, sepuluh ribu?” Maria masih tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang berbohong?”

Maria menggeleng.

“Kau gila!”

“Kau pun juga gila!”

Kami tertawa bersama-sama.

“Bukankah begini harusnya memerankan nasib? Sedikit banyak harus kita iyain, selain nikmatin?”

“Kau terlalu gila, Kalina! Kau banting harga dirimu di bawah rata-rata kerendahan status sosialmu.” Maria tertawa, lantas terdiam sejenak. “Maksudku, rata-rata kerendahan status sosial kita. Ya, kerendahan status sosial kita, Kalina!” Maria tersenyum garis dan memelukku.

“Sekali, dua atau tiga kali, tak masalah, ‘kan?” tanyaku sembari merapikan alat-alat semir dan lukis.

“Lima, enam atau berkali-kali juga tidak masalah. Asal jangan terlalu sering juga, laaah! Itung-itung sebagai, jeda lelah.”

“Jeda lelah? Kurasa tidak.” Aku menyangkal.

“Lalu?”

“Membuat bahagia orang-orang yang ngakunya berduit, kaya raya, tapi aslinya kere!”

“Udah pinter nih, Kalina!”

Kami tertawa lagi dan lagi. Tak peduli banyak orang melihat ke arah kami.

“Tunggu-tunggu.”

“Kenapa, Maria?”

“Bukan aslinya, kere sih.”

“Terus?”

“Yaaa, emang kere!” Maria tertawa paling keras.

“Garing!”

“Enggak … Enggak. Ini serius, Kalina.”

“Awas kalau garing!”

“Ya, emang …” Maria menggantungkan ucapannya.

“Kere, lagi!”

“Bukan-bukan.” Ada jeda sebentar saat dia selesaikan tawa gelinya. “Ya, karena dia tidak siap aja jadi kere. Kebutuhan pamer ke orang-orang aja, harganya tinggi, tak sebanding dengan  kemampuan daya beli barang yang benar-benar miliki kualitas! Dia takut, uangnya habis sedikit demi sedikit karena gengsinya, sih yah.”

“Terus yang kere siapa dong?” tanyaku.

“Nggak perlu dijawab, udah taulah kau.”

Lima menit setelah aku selesai membereskan alat-alat kerjaku, bapak pemesan lukisan datang.

“Cukup bagus juga, sebagai pelukis jalanan,” ujar si bapak sembari memperhatikan lukisanku dengan foto miliknya yang kukembalikan padanya. “Bisa kusarankan nanti, ke teman-teman kantorku. Kalau perlu kita bisa kerja sama. Bisa, ‘kan?” tanya si bapak sembari memberikan dua lembar uang kertas yang bernilai sepuluh ribu.

Kuanggukkan kepala, meski tak begitu yakin bisa bekerja sama dengannya.

“Paaak!” Maria memanggil si bapak.

Kembali lagi dia ke arah kami.

“Kau, kenapa panggil dia lagi!” aku lumayan gusar.

“Diam, kau. Diam!” pinta dengan memejamkan kedua matanya, dan menaruh telunjuknya ke bibirnya yang mengatup.

“Ini, Pak.” Maria memberi dua lembar yang bernilai sepuluh ribu, ke bapak tersebut. “Lukisan itu gratis untuk Bapak. Kalina, yang melukis foto Bapak tadi, hari ini sedang berbahagia.”

“Wah, sering-sering bahagia, yah.  Biar aku dapat gratis lagi!” pekik bapak dengan mata berbinar-binar.

Kuanggukkan kepala.

“Kau gila?” Aku memarahi Maria, setelahnya si bapak pergi. “Aku tidak mau gratisin dia!”

“Membahagiakan orang kok setengah-setengah. Sekalianlah.” Nada bicara Maria terdengar selengekan.

Kubayar sepuluh ribu ke Maria, sebagai gantinya.

“Kau, ‘kan tadi sudah membuatnya bahagia. Nah, sekarang aku ingin membuatnya bahagia.” Maria tak mau menerimanya.

“Kurasa kita tidak membuatnya bahagia, Mar. Melainkan mempermalukannya!” geramku.

“Malu? Kau yakin dia malu?” tanya Maria dengan wajah merah padam, menahan tawanya. “Tidak ada malu yang tampak di wajahnya itu, justru yang tampak urat malunya sudah putus, seperti urat malu milik kita.” Maria kemudian lepaskan pingkal tawanya amat keras. kalau sudah terpingkal seperti itu, air matanya pasti keluar. Sampai aku tak bisa membedakan, apakah dia benar-benar terpingkal, atau justru, dia sedang menertawai lelahnya.

________________________

Drew Andre A. Martin. Lahir di Jawa. Karya tunggal pertamanya; Virama Dvasasa, yang berisi dua belas judul cerita pendek. Selain sebagai penulis dan pengarang, Drew juga sebagai, cartomancer dan numerologist.

Sosial media miliknya:

Facebook dan Instagram: @drewandreamartin

X: @drwandreamartin.