Cerpen

Laut Terbelah

Cerpen Ken Hanggara

Di hari ketika Musa dan pengikutnya berbondong-bondong meninggalkan Mesir, kumpulan mega berarak persis menuju laut dan seketika permukaan air jadi gelap, tetapi ikan-ikan tetap berenang seperti biasa seakan-akan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dan seakan-akan segalanya masih dan akan terus berjalan normal, meski sebenarnya telah muncul beberapa potong pertanda sepele yang barangkali tidak terlihat oleh mata makhluk biasa, tentang lahirnya sesuatu yang agung dan tercatat di sebuah kitab suci dan terkenang hingga berabad lamanya dan bahkan hingga kiamat: perahu nelayan putus asa, beberapa kuda yang berbincang dengan burung-burung, dan diri saya yang tak terlibat apa-apa, kecuali sebagai penonton, tetapi tentang diri saya itu tidaklah penting, karena ada ataupun tidak diri saya ini, toh Musa dan para pengikutnya tetap menuju tanah yang dijanjikan, di seberang yang jauh dan tak terjangkau oleh imajinasi ikan-ikan, sehingga saat kabar dari masa lalu tentang raja yang mengaku sebagai tuhan itu sampai ke telinga saya, saya tidak akan menduga ada peristiwa sehebat ini; ribuan orang berjalan setengah berlari ke arah laut dalam formasi yang terlihat tanpa direncana dan terburu-buru dengan jumlah yang dapat membuat tanah di dekat pantai bergetar-getar seiring dekatnya jarak mereka dari kemerdekaan, dan itu sambung-menyambung tanpa henti sampai ikan-ikan sadar bahwa jumlah manusia yang lari dari raja zalim itu tidaklah tanggung-tanggung, oleh karena getaran dahsyat yang diakibatkan derap langkah mereka memang mencapai titik yang memungkinkan dalam membuat air di laut turut bergetar, dan tentu perahu sang nelayan yang putus asa juga turut bergetar, tapi yang ada di kepala orang udik itu hanya bahwa dirinya sedang tak waras dan kegelapan di langit, juga gempa serupa tabuhan perkusi dari bawah air di balik lantai perahu, seakan bukan kenyataan dan cuma terbit dari pikiran sendiri, dan semua ini menjadi bahan lelucon burung-burung yang sejak dulu kerap membawa kabar dari Mesir untuk ikan-ikan, dan siapa pula yang tidak paham jikalau burung-burung ini mendapat kabar dari beberapa kuda dan terkadang bangsa belalang atau bahkan katak dan unta, dan tidak jarang juga arwah orang-orang yang tidak lama meninggal di kawasan proyek ambisius sang raja yang ingin disembah sebagai tuhan dan ingin menang sendiri, yang berupa piramid dan patung dan segala bangunan yang entah bagaimana lagi saya menyebutkannya, tetapi mereka, burung-burung itu, tidak mungkin bicara dengan manusia yang putus asa dan bingung demi mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga mereka hanya tertawa sekaligus menangis karena tidak bisa berbuat lebih, dan karena inilah ikan-ikan lalu menghibur setiap ekor burung yang terlibat dalam perkara aneh ini dengan bilang bahwa segala kematian itu urusan Tuhan yang Mahaesa, termasuk kematian seseorang yang secara konyol terjadi di waktu bersamaan dengan hikayat agung yang bakal tercatat dalam lembar sejarah dan kitab suci, dan lagi pula mereka juga sadar pada akhirnya nanti si nelayan itu juga kaget lantaran Musa dan seluruh pengikutnya berjalan ke arah yang sama, dan barangkali di saat yang sama dia akan melihat betapa malu dia jika harus mati dengan ditonton oleh ribuan orang, tapi siapa pun tak bisa membaca masa depan, dan nasib sang nelayan tidak ada yang tahu sampai seluruh manusia, yang ribuan jumlahnya tadi, yang dipimpin Musa, benar-benar tiba di tepian pantai, sehingga seluruh semesta pun, pada detik saat mega pekat berarak ke sini, memutuskan menunggu; burung-burung, ikan-ikan, beberapa kuda yang telah kabur dari tuan mereka, beberapa belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain; tak ada satu pun yang sanggup melewatkan apa yang akan terjadi, dan semua bakal terus bertanya-tanya: dengan mukjizat macam apa Musa bisa membawa para pengikutnya lolos dari raja dan pasukannya, sementara di sini, tidak lama lagi, mereka menjumpai titik akhir berupa air yang hanya sanggup dilalui oleh ikan-ikan, perenang andal, dan perahu dan bukannya orang-orang tua renta, bayi-bayi, para wanita lemah, lelaki loyo, orang-orang pemalas, dan siapa pun yang tidak sanggup berenang dan tidak kuasa melawan ganasnya Laut Merah, dan saya sendiri yakin tak ada yang selamat kalau harus memaksa terjun ke air, kecuali tidak ada pilihan lain selain mati ketimbang menjadi budak raja yang mengaku sebagai tuhan, dan itu sungguh akan menjadi kisah paling menyedihkan yang akan saya saksikan, tapi saya berharap di detik-detik genting ini agar mukjizat Musa—yang tak kalah hebat ketimbang mengubah tongkat menjadi ular atau mengeluarkan cahaya dari telapak tangan—benar-benar lahir atas izin Tuhan yang Mahaesa, dan ini membuat saya terus saja berdoa, bahkan meski getaran di bumi akibat derap langkah ribuan pengikut Musa mulai bikin kacau tempat bernaung saya, dan bahkan meski suatu ketika saya harus berhenti oleh karena menyadari betapa perahu nelayan itu kini berada tidak jauh dari sekumpulan ikan-ikan yang terlihat cemas (yang mungkin membuat sang nelayan semakin terbenam dalam emosi yang tidak terkendali sehingga tanpa berpikir panjang membunuhi ikan-ikan itu untuk pelampiasan, karena sejatinya dirinya tak bisa benar-benar menghabisi dirinya sendiri dengan terjun ke laut dan pasrah didekap air hingga tewas—entah karena mulai memikirkan tentang neraka yang kelak menelannya bulat-bulat dalam keabadian atau entah karena mulai terpikir tentang solusi yang lebih baik ketimbang lari dari masalah dengan mencabut nyawanya sendiri), saya tetap berdoa, dan memang terkabullah doa itu setelah beberapa saat Musa berdiri di tepi suatu tebing di salah satu bagian pantai ini, dan dia terlihat bersujud dengan khusyuk, lalu bangkit dan berjalan ke dekat batas air dan tanah, dan di sanalah dia jamah permukaan air laut dengan ujung tongkat sebelum laut yang telah bergejolak karena angin dan pergerakan tidak wajar dari seisi semesta, terbelah menjadi dua, dan tentu saja ini membuat saya dan burung-burung dan ikan-ikan dan beberapa kuda yang telah kabur dari tuan masing-masing dan para belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain, dan juga seluruh pengikut Musa, serta tak ketinggalan: si nelayan yang bermaksud bunuh diri di laut, melongo berjamaah, seakan-akan barusan kami disuguhi sihir paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi, tetapi tentu saya tahu itu bukan sihir, karena sihir sangat dibenci oleh Tuhan dan siapa pun hamba yang terlibat dengan ilmu sihir, apa pun alasannya, diharamkan menyentuh wanginya surga, sehingga ini tentunya tidak lain hanyalah suatu mukjizat, dan jujur saja, inilah pertama kali saya menonton Musa memperagakan mukjizat atas seizin Tuhan yang Mahaesa, karena dari setiap mukjizat lama yang telah dia tampilkan di luar sana, yang hikayatnya disampaikan kuda dan belalang dan burung-burung dan entah makhluk hidup jenis apa lagi kepada saya dan beberapa makhluk lain di sekitar sini, tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan pada titik ini saya benar-benar merasa dada saya mulai penuh dan boleh jadi bakal meledak, sehingga saya juga yakin si nelayan yang kini perahunya oleng tak keruan dan malah terseret ke tepi atau batas pembelahan laut yang serupa air terjun di tengah laut, juga merasakan sensasi yang sama atau lebih gila di dadanya, dan ini membuat lelaki itu terlihat bersujud di atas perahu lalu bangkit dan menangis dan seluruh makhluk, yang melihat keberadaan perahu kecil itu sebagai titik kecil yang nyaris mencapai batas pembelahan air laut, tampak berteriak dan mulai khawatir orang tolol itu bakal mati karena jatuh ke dasar laut yang berupa jalanan pasir berbatu yang basah, tetapi ternyata nelayan itu dapat melompat dari perahu lalu berenang menuju batas pembelahan dan membiarkan tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah selagi ribuan pengikut Musa mempercepat laju mereka agar tak terkejar oleh rombongan Fir’aun yang ternyata mencapai titik yang tidak jauh dari laut, dan karena rombongan raja itu mampu menghabisi mereka sewaktu-waktu, Tuhan memberi hukuman yang setimpal, dan hukuman ini tidak sampai berimbas pada nelayan tolol yang keburu bergabung bersama Bani Israil yang masih memenuhi jalan dadakan di dasar laut yang kanan-kirinya ditemboki air setinggi bangunan-bangunan yang dulu mereka dirikan dengan darah dan air mata demi raja yang kini mengejar mereka, dan tentu beberapa orang bertanya-tanya terkait apa yang dilakukan nelayan tolol itu sehingga dia seakan terjun dari atas, dari langit yang mendung, tapi nelayan itu hanya bilang, dia nyaris tersesat dan kini bertekad meluruskan hidupnya, dan para pengikut Musa membiarkan orang itu berlari bersama mereka, lalu seiring lenyapnya detik demi detik hukuman Tuhan yang tak lagi ditunda, karena persis setelah Musa dan ribuan orang yang bersamanya mencapai seberang, saya melihat Fir’aun dan pasukannya dilumat habis oleh laut karena kini tembok air raksasa itu roboh dan bergejolak, kembali ke asal, kembali ke takdir dirinya sebagai laut, sebagai kumpulan air dalam jumlah besar yang akan dan selalu setia memenuhi setiap lubang atau celah yang tersisa karena memang begitulah hukum alam bekerja untuk air, dan tentu saja situasi ini merugikan siapa pun yang masih tertinggal di jalan yang terbentuk akibat mukjizat Musa yang terhebat, kecuali saya dan ikan-ikan lain yang memang dilahirkan untuk bernapas dalam air.

Gempol, 2018-2024


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV sejak 2012. Karyanya tersebar di pelbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ atau IG kenhanggara.

Cerpen

Sahabat Sehidup Semati

Cerpen Ken Hanggara

Aku pulang dari menjenguk sahabatku di rumah sakit dalam keadaan melamun selagi bermotor. Di sebuah tikungan, dari arah lain, sebuah truk melaju kencang, nyaris melibasku. Aku banting setir ke kanan, tapi dengan cepat kukendalikan keseimbangan. Malam itu tidak terjadi apa-apa. Aku tiba di rumah dengan selamat, tapi tubuhku sangat lemas. Segera aku berbaring menenangkan diri. Pikiranku tersita oleh satu-satunya yang nyaris tak pernah kupikirkan: kematian.

“Bagaimana jika seseorang tiba saatnya mati? Apa ia menyadarinya? Atau, maut datang begitu saja tanpa peringatan?”

Aku tak tidur semalaman hanya karena tahu, sedikit saja motorku salah kukendali tadi, mungkin kini tubuhku sudah tak keruan lagi bentuknya; dilibas truk sebesar itu.

Memikirkan itu, aku benar-benar ketakutan.

***

Mudakir, sahabatku itu, koma dan divonis menderita penyakit tertentu. Aku tidak bisa mengingat nama aneh penyakitnya, tetapi yang jelas dia sakit berat.

Aku kenal Mudakir saat SMP. Waktu itu, kami tertangkap basah hendak kabur dari pagar belakang saat jam istirahat. Aku dan Mudakir sama-sama murid nakal. Kami akrab setelah tahu ada banyak kesamaan di antara kami.

Aku dan Mudakir sama-sama tidak memiliki bapak. Bapak kami meninggal dunia ketika ibu kami masih mengandung kami. Dan, tahu apa yang terdengar aneh dan ajaib? Ibu kami sama-sama tahu bapak kami sebenarnya sudah mempunyai istri di kota lain, tetapi pasrah dan menerima keadaan itu. Meninggalnya bapak kami mendatangkan dua orang asing ke rumah kami yang berdiri di lokasi berbeda; dua wanita yang lebih muda dari dua ibu kami. Aku percaya wajahku dan Mudakir sama terlihat kagetnya ketika para istri muda itu mengaku di depan ibu kami masing-masing bahwa mereka adalah orang yang juga berduka, meski kami berada di lokasi (dan waktu) yang berbeda.

Yang perlu diperjelas di sini, agar cerita ini tidak salah dipahami, baik aku maupun Mudakir punya cerita masing-masing. Artinya, bapak kami dua individu yang berbeda fisik, tetapi memiliki kesamaan yang nyaris seratus persen dari segi nasib.

Aku dan Mudakir heran pada kisah hidup kami yang hampir sama, sehingga sejak tahu rahasia masing-masing ini, kami pikir kami tidak mungkin berpisah. Kami pikir kami ditakdirkan untuk berteman sampai kiamat.

Segala yang Mudakir sampaikan padaku, entah soal kesedihan atau kegembiraan yang dialaminya, selalu memberi dampak yang sama padaku, dan begitu pula jika aku yang membawa kabar-kabar tertentu; Mudakir juga selalu dapat merasakan sensasi yang sama dengan yang kurasa.

Keadaan ini membuat kami kadang-kadang dianggap sebagai dua makhluk aneh di sekolah. Kami bukan saudara, tidak juga punya hubungan kekerabatan, dan baru ketemu di tahun kedua di bangku SMP. Bagaimana mungkin pada titik ini kami merasa bertemu sosok yang seakan-akan saudara kembar yang dapat merasa segala yang dialami antara satu dan lainnya?

Ibu kami sama-sama tertawa dan menganggap kami lucu waktu kami saling balas mengunjungi rumah. Suatu hari saat di rumah Mudakir, kepalaku dielus-elus ibunya dan beliau berkata, “Kamu seperti anak saya sendiri. Sering main ke sini, sering menghihur Mudakir. Sering nginap. Senang ada kamu. Anak saya jadi tidak kesepian!”

Tahu apa yang lagi-lagi terdengar aneh dan ajaib? Setelah Mudakir bertamu ke rumahku sebanyak sebelas kali (serupa dengan jumlah kunjunganku ke rumahnya), ia disambut ibuku dengan kalimat yang sama persis dengan kalimat sambutan ibu Mudakir saat terakhir kali aku bertandang ke rumah mereka!

Aku tidak tahu garis takdir macam apa yang mengatur semua ini, tetapi tentu saja di atas sana, Tuhan mengerjakan sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku sendiri termasuk orang yang rajin beribadah, dan … ah, inilah yang membedakan kami. Antara aku dan Mudakir, yang membedakan hidup kami hanyalah soal sering atau tidak seringnya kami menjalankan perintah-Nya.

Meski nakal, aku dikenal sebagai siswa yang pandai mengaji dan hafal beberapa surah panjang dalam Alquran. Beda dengan Mudakir yang pemalas jika harus berangkat mengaji. Akibatnya, ia sering menungguku di kebun atau di sawah atau di mana pun dia bisa, sehingga kami akan bersepeda entah ke mana selepas jam mengaji kelar.

Aku sendiri kadang-kadang tidak setuju usul Mudakir tentang beberapa hal, misal ketika dia berhasrat memberikan pelajaran pada penjaga sekolah dengan membocorkan ban motornya. Kubilang pada Mudakir saat itu, “Jangan begitu. Beliau juga galak demi pekerjaannya!”

Dan, Mudakir hanya dapat menyahut, “Kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya kamu tidak seru lagi!”

Hanya saja, meski beberapa kali berdebat soal seperti ini, kami tetaplah sepasang sahabat yang lekat karena memiliki lebih banyak kesamaan. Di tahun-tahun berikutnya, setelah kami masuk kuliah dan lulus dan mendapat pekerjaan di tempat yang kami juga inginkan, kami tahu perbedaan kecil antara kami yang kusebutkan di atas seakan tiada artinya. Aku memaklumi kebandelan Mudakir ketika dia sengaja pergi ke suatu tempat dan meninggalkan kewajiban beribadah. Saranku tidak pernah benar-benar dia hiraukan dan dia hanya berkata, “Aku ditakdirkan bukan sebagai orang alim.”

Pada suatu hari, ketika aku sedang sibuk menenangkan anakku yang sakit demam, sebuah telepon masuk ke ponselku. Dari istri Mudakir; ia bilang, suaminya sedang kritis dan dibawa ke rumah sakit.

“Tiba-tiba pingsan, Mas!” kata wanita itu di seberang telepon.

Aku pun meninggalkan anak dan istriku, lalu meluncur ke rumah sakit sore itu juga. Di sana kutemukan sosok yang nyaris seratus persen bernasib sama denganku selama ia hidup di muka bumi ini sedang terbaring lemah tak berdaya.

Dua hari berlalu. Dokter mengajakku menepi ke pojok ruangan yang dihuni oleh empat pasien, dan dengan tampang prihatin dia berkata, “Kemungkinan hidup Saudara Mudakir ini amat kecil, Pak. Maafkan kami.”

Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi dokter mengulangi, bahwa apa yang saat ini dialami Mudakir termasuk kejadian langka.

“Mereka yang dalam kondisi seperti yang teman Bapak alami saat ini, biasanya tak bisa selamat. Hanya Tuhan yang tahu kenapa teman Anda masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Kami tak bisa memberikan jaminan apa-apa,” tutur dokter sebelum akhirnya meninggalkanku.

Aku pamit pulang pada istri Mudakir, karena perutku mulai terasa mual dan kepala pusing tak keruan. Setelah beberapa kali menyambanginya ke kamar selama dua hari ini, untuk kali pertama aku merasakan firasat yang tidak enak. Aku tidak tahu apa itu. Di hari itulah, sebuah truk nyaris melibasku tanpa ampun.

***

Aku bangun untuk mengambil air minum di dapur. Malam merayap kian larut. Aku duduk terbengong-bengong di meja makan sambil memegang gelas dengan isinya yang tinggal setengah. Aku memikirkan banyak hal yang terjadi selama dua hari terakhir, sejak Mudakir masuk rumah sakit karena mendadak jatuh pingsan. Hari pertama, aku tersandung di tempat parkir rumah sakit. Tukang parkir yang ada di situ membantuku berdiri sembari berkata, “Wah, nyaris saja sampean celaka, Pak!”

Aku melihat tukang parkir itu menunjuk palang besi berkarat, persis di dekat posisi kepalaku terjatuh. Aku tidak memikirkan apa-apa selain hanya kurang hati-hati saja saat melangkah.

Kejadian berikutnya, saat pulang ke rumah esok harinya setelah semalaman duduk di dekat tempat tidur Mudakir. Kupacu motorku dengan pelan karena mataku lumayan mengantuk. Dengan berusaha menjaga agar kedua mataku tidak terpejam, aku mencoba menghitung angka-angka fibonacci, dan memikirkan hal-hal lucu yang terlintas. Kupikir itu ampuh. Karena konsentrasiku tersita pada isi kepalaku saja, tidak sengaja kutabrak mobil yang terparkir di depanku.

Aku kaget bukan main dan meminta maaf pada pemilik mobil yang emosional, tapi dia tidak sudi mendengar penjelasanku dan langsung meninju dada serta perutku sampai empat atau enam kali; aku tidak ingat. Seingatku, orang-orang berdatangan melerai dan aku mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dari dompetku sebagai ganti rugi. Setiba di rumah, aku merasa badanku kepayahan, karena pemilik mobil tadi berbodi kekar dan tinjuannya lumayan memberikan dampak.

Sampai di situ, aku tidak sadar akan apa yang sejauh ini kami (aku dan Mudakir) yakini bersama. Ketika truk nyaris melibasku dari arah depan beberapa jam yang lalu, aku baru memikirkan ini. Mudakir pingsan dan kepalanya membentur lantai kamarnya hingga berdarah; aku tersandung dan nyaris merobek wajahku sendiri dengan palang di tempat parkir. Tubuh Mudakir kian memburuk kondisinya; tubuhku sakit tidak keruan oleh tinjuan seseorang. Sampai esok pagi aku tidak tidur dan terus memikirkan ini. Apa setelah Mudakir benar-benar mati nanti, sesuatu yang besar juga terjadi padaku?

Aku tak berani memikirkan itu. Aku merasa kematian yang diatur oleh Tuhan tiada hubungannya dengan semua itu. Tapi, aku tetap saja merasa takut. Ketika ada telepon yang mengabarkan kematian Mudakir, aku menangis. Waktu itu, di belakangku, muncul istriku. Dia kebingungan.

“Sahabat sehidup sematiku sudah mati, tetapi aku masih hidup, Mar!”

Dengan wajah sangat kesal, istriku membalas, “Ya, memang begitulah hukumnya. Kupikir kamu orang yang beriman dan percaya takdir-Nya. Kenapa malah berpikir yang tidak-tidak? Tidak ada hubungan aneh apa pun antara kalian selain bahwa kalian adalah sepasang sahabat!”

Apa benar demikian?

Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu sampai beberapa hari ke depan berlalu tanpa ada satu pun hal buruk terjadi padaku.***

Gempol, 2017-2024


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).

Cerpen

X, Y, dan Z

Cerpen Ken Hanggara

Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.

“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.

Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.

Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.

Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.

Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.

Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.

Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.

“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.

Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.

Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.

Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.

Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.

Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”

Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.

X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.

Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.

“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.

Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.

Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.

Y benar-benar pusing memikirkan itu.

Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.

Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.

Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***

Gempol, 2019-2023


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.