Film, Resensi

Unicorn Store: Menjadi Dewasa adalah Ujian

Resensi Film oleh Nanda Insadani

Berapa banyak orang dewasa yang ingin kembali ke masa kanak-kanak mereka lantaran sebuah anggapan bahwa masa kanak-kanak adalah yang terbaik dibanding masa apa pun dalam hidup? Soal berapa, tidak ada yang tahu, tapi kalau soal banyak, ya tentu banyak.

Poster Film Unicorn Store

Sebabnya, tentu saja adalah ihwal pikiran; cara berpikir orang dewasa jauh tidak mengasyikkan ketimbang cara berpikir anak-anak. Anak-anak tidak pernah berpikir bahwa di dunia ini ada yang tidak mungkin, sedangkan orang dewasa sebaliknya. Berpikir bahwa segalanya mungkin, semuanya masuk akal adalah menyenangkan. Itu membuat masa kanak-kanak kita dipenuhi dengan mimpi-mimpi yang penuh warna.

Sejak kecil, kita banyak melihat hal-hal asing yang begitu menghibur dan membahagiakan hati dari tayangan televisi atau buku-buku bergambar yang pernah kita miliki. Ambil saja sebagai contoh, seekor kuda bertanduk dengan surai keemasan yang bisa terbang—yang kita sebut Unicorn. Kemudian, lantaran bisa menunggangi kuda terbang terlihat mengasyikkan, kita pun sempat beranda-andai ingin memilikinya. Tentu saja orang dewasa akan menertawakan impian itu. Mereka berpikir kuda bertanduk yang bisa terbang adalah fiktif, sehingga mereka akan melarang anak-anak mereka untuk tidak mengimpikannya. Lantas, siapa yang salah? Apakah anak-anak yang mengimpikan itu atau orang dewasa yang menciptakan karakter tersebut?

Brie Larson yang merupakan sosok manusia dewasa (ia lahir pada tahun 1989) mencoba menggali masa lalunya; berupaya melihat jauh ke hati masa kecilnya: apa yang ia impikan saat itu? Yang kemudian lahirlah film Unicorn Store sebagai jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kita menyikapi pendewasaan diri alih-alih melupakan impian masa kecil kita?”

Debut Penyutradaraan yang “Cerah”

Sewaktu berperan sebagai Molly di 21 Jump Street (2012), barangkali Brie Larson tak akan menyangka bahwa tiga tahun ke depan ia akan diganjar gelar Aktris Terbaik oleh Academy Award—sebuah pencapaian gemilangnya dalam dunia seni peran setelah bermain penuh emosi di film Room (2015). Menggenggam Piala Oscar tidak membuat Brie lega. Ia mencoba peruntungan dengan menjadi sutradara sekaligus pemeran utama di film Unicorn Store.

Unicorn Store sebenarnya sudah dirilis pada September 2017 dan ditayangkan di Festival Film Internasional Toronto, tapi Netflix mengambil alih pendistribusian film ini pada awal April kemarin. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa Brie Larson menyutradarai film ini sebelum peran dahsyatnya di salah satu film Marvel Cinematic Universe, yakni Captain Marvel yang dirilis awa Maret lalu.

Sebuah aksi “multifungsi”—yakni menjadi sutradara sekaligus aktor utama pada satu film, bukanlah hal yang baru. Sebut saja yang paling tersohor: Charlie Chaplin, Clint Eastwood, dan di Indonesia kita mempunyai Ernest Prakasa dan Raditya Dika. Dan Brie Larson berharap, ia juga dapat menjadi sutradara yang diperhitungkan hasil kerjanya.

Benar saja, dengan Brie duduk di bangku pengarah, Unicorn Store tampil begitu cerah dan berusaha mencerahkan pula. Identik dengan warna-warni, Brie Larson tampak berupaya semaksimal mungkin menggarap naskah buatan Samantha McIntyre tersebut. Ia juga tak luput terhadap detail-detail yang sangat sepele, seperti pernak-pernik dan segala benda yang berkaitan dengan Unicorn, si kuda bertanduk.

Banyak yang Tidak Menyukai Film Ini

Di IMDB, Unicorn Store hanya mendapatkan nilai 5,5 dan Rotten Tomatoes juga tak bisa memberi lebih selain angka 60 persen. Penulis sempat beranggapan bahwa semua penilaian buruk itu terjadi akibat “Judge a book by the cover”. Kita semua pernah mendengar masalah Brie Larson soal argumennya yang terkesan rasis dan feminis. Ternyata penulis salah, bukan itu yang membuat nilai jelek pada film, tetapi film itu sendiri.

Meski pengarahan dari Brie Larson lumayan baik, tapi pada akhirnya naskah ceritalah yang menentukan. Di beberapa bagian, Unicorn Store terasa menjemukan dan tidak jelas: entah itu soal ambisi si tokoh utama atau batasan antara dunia surealis dengan dunia nyata.

Masih dalam lingkup ketidakjelasan, Unicorn Store seperti tak tahu harus meraih penonton yang mana: anak-anak atau dewasa? Untuk tontonan anak-anak, Unicorn Store begitu sukar dimengerti. Banyak metafora di sana, dialog-dialognya yang penuh lawakan absurd juga bukan konsumsi anak-anak. Untuk tontonan dewasa, Unicorn Store tidak menjadi lebih pantas setelah kita lihat banyak serbuk perak dan gambar kuda poni bertebaran.

Perihal peran dan hubungan antar tokoh, Unicorn Store juga tidak bisa diandalkan. Brie Larson, yang berperan sebagai perempuan gagal sarjana dan egois, seolah bermain tunggal. Film seakan-akan adalah panggung milik Brie semata. Adanya Samuel L. Jackson—yang merupakan rekan Brie di dua film lainnya, Kong: Skull Island (2017) dan Captain Marvel (2018), tidak berhasil tampil menonjol dan justru malah terkesan kikuk dan aneh.

Mamoudou Athie, yang menjadi love interest-nya Brie Larson di film ini juga terasa kurang “menggigit”. Ia tampak malu-maludalam berakting sepanjang film.

Pesan untuk Dunia

Terlepas dari segala kelemahannya, Unicorn Store sebenarnya memiliki banyak pesan, hanya saja tidak disampaikan secara eksplisit. Terkait tumbuh dewasa, Unicorn Store hendak menyampaikan bahwa menjadi dewasa tidaklah mudah; menjadi dewasa adalah ujian. Di situ kita akan diuji, apakah kita akan merelakan impian imajinatif kita sewaktu kanak-kanak atau tetap hidup dengan hal itu sampai masa tua.

Pada pembukaan film saja—sewaktu Kit melukis abstrak di dinding sebagai potret dirinya, kita sudah disuguhkan sebuah nilai kehidupan yang mendalam: tak semua orang dapat menerima diri kita seutuhnya. Kit juga memberi pelajaran pada kita bahwa apabila kita berlaku egois; memaksa dunia untuk mengerti kita, maka yang terjadi adalah pengucilan dan kesulitan dalam beradaptasi. Alih-alih membesarkan kepala terhadap dunia, membesarkan hati adalah pilihan yang tepat, sehingga satu hal yang perlu kita sadari di dunia ini: hal paling dewasa yang bisa kita lakukan adalah gagal terhadap sesuatu yang paling kita pedulikan.

Nanda Insadani, yang bukan siapa-siapa ini lahir di Medan, pada awal orde Reformasi. Gemar membaca dan berpikir. Kumpulan cerpennya, Ketakutan Seorang Penulis Miskin (2019). Dapat dijumpai di Facebook dengan nama asli.

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Memasak Ibu

perempuan kecil memasak
untuk menghadirkan aroma tubuh ibunya

(Sala, 2019)

Apakah Cinta Itu

di jauh, gadis kecil bertanya
pada ibu di rumah
apakah cinta itu, bu?
cinta itu, nak
saat kamu tidak berhasrat mengubah apapun
dari orang lain
pernah kamu jatuh cinta?
kupikir belum
bahkan kepada ibu?
ya, bahkan kepada ibu

(Sala, 2019)

Halaman Belakang

kesedihan adalah mengalami pertemuan
beku
kamu tak percaya diri menemuiku di keramaian
aku tak percaya diri mencintaimu

apakah kita perlu sering-sering bertamu
di halaman pungkasan majalah mingguan
sekadar untuk bertemu
di ruang depan pikiran

(Sala, 2019)

Setengah Hari

siang baru setengah dan miring ke kanan
sebab hujan tak bercabang
bertamu di himpitan pintu kamar
di dalamnya, mataku
hilang di tiap gigitan jambu

orang-orang kecut memandang
nyala neon
seperti ilustrasi komet jatuh
di pelajaran IPA sekolah dasar
mengumpati sabtu yang gagal tidur

(Sala, 2019)

Aku Tidak Suka Bekerja

aku tidak suka bekerja.
kecuali minggu,
hari-hari jadi sibuk dan menyebalkan
aku jadi tak punya cukup waktu
memandang buku-buku

sebetulnya kamu juga, tidak
suka bekerja
tapi bekerja sudah jadi
kehidupan itu sendiri

kenapa begitu?
karena bapak sudah jarang memberi uang saku
kamu anak laki-laki, dan harus
mandiri

(Sala, 2019)

Puisi di Jalan

di jalan
aku sering jadi puisi

sekian kilometer puisi tak tercampak
ingatan
duduknya tenang
menyusun diksi sesuai warna baju

lampu tiba-tiba memerah
wajah puisi jadi ramah
diantarnya senyum koma ke tiap-tiap arah

di puluhan jalan berlubang
puisi membenamkan diri
mengamati
batu-batu kecil bergaun malam

setelah tanjakan
puisi hilang di belokan
ia, tak pernah sampai rumah

(Sala, 2019)

Lelaki Bermata Jauh

waktu dan keriuk kerupuk hijau pernah kita simpan
baik-baik di toples bekas biskuit lebaran
tiap susunan kita tata dengan pertimbangan setiti

dua ratus tiga puluh bulan kemudian
di hari rekah, kita kalah
dan sepakat tak ada lagi tiket terselip di jendela kereta yang muram
kita pilih gembok tanpa kunci untuk stasiun kota yang tenggelam

(Sala, 2019)

Rizka Nur Laily Muallifa.Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya. Aktif di KomunitasDiskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, Bentara Muda Solo

Cerpen

Perempuan Tiga Puluh Tahunan dan Lubang Hitam yang Menganga di Dinding Kamarnya

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Sungguh, ia ragu-ragu mengayunkan langkah ke lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya. Selain karena lubang hitam itu bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala, lubang hitam itu juga terlihat bagai moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Bahkan, peluh seni yang terus tumbuh di dahinya sebesar biji-biji jagung, berjatuhan satu demi satu. Membasahi permukaan permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai. Namun, permukaan permadani klasik yang lembut pemberian suaminya itu, belum cukup memberikannya ketenangan untuk melawan rasa takut yang sedari tadi membingkai pikirannya. Ia lunglai. Terjatuh. Dan tak sadarkan diri.

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan itu siuman. Ia mendapati lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya kian besar. Cukup untuk memasukkan seekor gajah ke dalamnya. Ia pun melihat, lubang hitam itu benar-benar moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Gelap dan pengap. Serta, aroma lembap yang begitu kentara.

Ia menangis. Ada kesedihan yang maha yang menyelusup ke dalam batinnya dan melukai. Darah mengucur deras. Anyir darah yang menggenangi batinnya menyeruak menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya mual sejadi-jadinya. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah. “Tolong jangan paksa saya masuk ke dalam sana,” racaunya. Ia coba menahan sekuat tenaga. Tapi, lagi-lagi, anyir darah yang menggenangi batinnya itu kembali menyeruak dan menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya semakin mual. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah untuk kedua kalinya. “Tolong, jangan, saya mohon….”

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan yang tadi sempat siuman dalam ketidaksadaran dirinya itu kembali pingsan. Dan, dalam pingsannya itu ia bermimpi–sama seperti mimpi yang kerap menghantuinya sejak dulu. Di mimpinya, ia melihat dirinya berjalan menyusuri lorong gelap yang ada di lubang hitam itu. Berjalan dan terus berjalan. Ia mengendap-endap. Membuntuti dirinya sendiri yang terpaut belasan langkah di depannya. Ia merasa lelah, tapi tak mampu untuk berhenti. Terus dan terus menyusuri lorong gelap hingga secercah cahaya kemerah-merahan terlihat dari ujung sana. Ia pun cepat-cepat memacu langkah. Buru-buru ingin mengetahui cahaya apa yang ada di ujung sana. Hingga tanpa ia sadari, dirinya tidak lagi berada di depannya–bahkan tidak lagi ada di sana.

Cahaya kemerah-merahan itu ternyata senja. Ya, senja. Senja yang menyelimuti tanah landai yang cukup luas yang ditumbuhi alang-alang yang sedang berbunga. Dan, dari sela-sela alang-alang yang sedang berbunga tersebut, perempuan tiga puluh tahunan melihat aliran sungai yang agak berkelok dan panjang. Aliran sungai itu mengarah ke dalam hutan. Berada persis di hadapannya. Akan tetapi, bukan lebatnya hutan dan panjangnya aliran sungai itu yang menarik perhatiannya saat ini, melainkan sesosok gadis kecil. Gadis kecil yang bermain-main di pinggiran sungai sambil mengejar seekor kupu-kupu. Setiap kali kupu-kupu itu hinggap di pucuk bunga-bunga liar yang tumbuh di tepian sungai, gadis kecil itu mengintai lalu menyergapnya. Dan, apabila kupu-kupu itu berhasil lolos, kemudian terbang terlalu tinggi atau jauh ke tengah sungai, maka gadis kecil itu akan menari-nari seolah-olah tidak memedulikan kupu-kupu itu lagi. Sampai kupu-kupu itu terkecoh lalu kembali hinggap dan gadis kecil itu akan menyergapnya lagi.

Selangkah demi selangkah perempuan tiga puluh tahunan itu mendekat. Ia melihat gadis kecil yang mengenakan gaun panjang–berwarna putih–tanpa lengan itu sedang menari-nari di hadapannya. Rambut gadis kecil itu hitam legam agak bergelombang dan panjangnya sedikit melewati bahu. Sesekali angin menerpa rambutnya, juga rambut perempuan tiga puluh tahunan itu. “Anak manis, siapa nama kamu?” perempuan tiga puluh tahunan menyapa dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin mengagetkan gadis kecil itu.

Alih-alih menjawab, gadis kecil malah menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia lantas menunjuk kupu-kupu yang masih terbang ke sana-kemari. Perempuan tiga puluh tahunan paham maksud dari gadis kecil tersebut. Ia lalu diam. Menunggu dan terus mengamati gadis kecil itu hingga senja berangsur pekat. Dan, rembulan muncul perlahan-lahan.

“Boleh saya ikut bersama kamu, anak manis?”

Gadis kecil mengangguk, kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai menuju hutan. Perempuan tiga puluh tahunan bergegas menyusulnya.

“Anak manis, tunggu!”

Bagi perempuan tiga puluh tahunan, gadis kecil itu terlampau gesit. Ia kesulitan mengikuti langkah gadis kecil itu ketika melewati bebatuan licin yang besarnya tiga kali dari buah nangka paling besar yang pernah ia lihat semasa kecil dulu. Perempuan tiga puluh tahunan berhenti sejenak. Ia mengatur napas.

“Anak manis, tunggu! Jangan tinggalkan saya!”

Perempuan tiga puluh tahunan langsung mengejar tatkala bebatuan licin yang sejak tadi jadi rintangannya sudah tidak ada lagi. Ia berlari sekencang-kencangnya–saat melihat gadis kecil itu lamat-lamat tenggelam ke dalam hutan.

“Kamu di mana?”

Dengan napas tersengal-sengal, ia nekat masuk dan mencari-cari gadis kecil itu di dalam sana. Ia menatap pohon-pohon besar yang akar-akarnya berjuraian menghunjam tanah. Perempuan tiga puluh tahunan itu bergidik. Ia merasa akar-akar pohon yang berjuraian itu seolah-olah hendak menggerayangi tubuh dan merobek-robek perutnya. Matanya berkunang-kunang. Dan, hampir saja perempuan tiga puluh tahunan itu pingsan, seandainya saja gadis kecil itu tidak segera menghampiri dan menjawil tangannya.

“Anak manis, tolong, jangan jauh-jauh, saya takut.”

Gadis kecil tersenyum. Ia kembali melangkah sembari menggamit tangan perempuan tiga puluh tahunan itu. Perempuan tiga puluh tahunan cuma bisa pasrah.

“Di mana kita sekarang?”

Perempuan tiga puluh tahunan mengamati pohon-pohon besar yang kini terlihat jauh lebih tinggi dan besar daripada pohon-pohon yang ia lihat tadi. Dan, akar-akar gantung pohon-pohon besar itu tampak lebih kokoh daripada akar-akar tadi yang sempat membuatnya ngeri. Ia pun melihat, di bawahnya, daun-daun yang berguguran yang telah berwarna kuning kecokelatan itu terhampar dengan sangat tebal. Daun-daun layu itu juga terasa begitu lembap.

“Kita mau ke mana?”

Gadis kecil mengarahkan telunjuknya ke sebongkah batu yang ada di dekat tebing–batu dan tebing hutan itu berjarak tinggal beberapa langkah lagi.

“Di mana rumah kamu?” perempuan tiga puluh tahunan celingukan; ia tak melihat sebuah rumah–atau apa pun yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal–di sekitar situ.

Dengan ringan gadis kecil itu tersenyum.

“Di mana orangtua kamu? Saya tak melihat siapa pun di sini selain kamu,” perempuan tiga puluh tahunan langsung duduk menyandar pada batu yang tadi mereka tuju. Ia kelelahan. “Papa kamu di mana?”

Gadis kecil menggeleng. Ia tampak murung.

“Kamu tidak punya papa?”

Gadis kecil bergeming.

“Maafkan saya sudah menanyakan hal itu.”

Suasana tiba-tiba menjadi kaku. Perempuan tiga puluh tahunan menyesal telah membuat gadis kecil itu bersedih. Meskipun dalam hatinya, ia iri pada gadis kecil tersebut. Ia senantiasa iri pada tiap-tiap anak yang tidak mempunyai papa. “Beruntunglah manusia yang tidak mempunyai papa. Beruntunglah Isa putra Maryam. Beruntunglah kamu, anak manis,” gumam perempuan tiga puluh tahunan itu seraya melempar pandang ke arah langit. Memandangi bintang-bintang yang terlihat–yang tidak terhalangi oleh kerindangan pohon-pohon besar itu. Sejenak kemudian, perempuan tiga puluh tahunan memejamkan mata, “Seandainya saya seperti kamu.”

“Bagaimana dengan mama kamu? Kamu pasti punya mama, kan?” perempuan tiga puluh tahunan kembali menoleh. “Di mana dia sekarang?”

Gadis kecil tidak menjawab.

“Oh, anak manis, tolong jangan katakan kepada saya, kalau kamu tidak seberuntung itu. Setidaknya, dulu, saya pernah mempunyai seorang mama yang sangat baik,” perempuan tiga puluh tahunan menghela napas cukup panjang, “walau TBC akhirnya membuat dia mati.”

“Ta-nah.”

“Apa?” tentu saja perempuan tiga puluh tahunan itu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis kecil tersebut. Akan tetapi, mengapa gadis kecil itu berkata demikian; tanah?

“Ibuku adalah ta-nah.”

Perempuan tiga puluh tahunan terperanjat mendengar perkataan gadis kecil tersebut. Ia tatap gadis kecil itu dengan saksama. Gadis kecil lalu mendekat. Mengangsurkan tangannya pada perempuan tiga puluh tahunan. Mengajak perempuan tiga puluh tahunan itu melihat sisi sebaliknya dari batu yang ia jadikan sandaran. Dan, di situ, di sela-sela antara batu dan tebing hutan itu, perempuan tiga puluh tahunan mendapati gundukan daun yang tidak terlalu tinggi. Gadis kecil lantas menunjuk gundukan itu.

Dengan sigap perempuan tiga puluh tahunan menyibak daun-daun layu yang terasa basah dan menutupi ceruk di sela-sela batu dan tebing hutan itu. Betapa terkejutnya ia, kala mendapati kerangka bayi yang tersembunyi di balik serasah pada sebuah ceruk di lantai hutan. Bahkan, tengkorak bayi yang ia temukan itu tidak lebih besar dari kepalan tangannya. Dan, kerangka bayi yang masih terlihat utuh itu juga tampak seperti kerangka bayi yang baru saja dilahirkan.

Ia mengerang. Sesuatu berdetak dalam perutnya. Makin lama makin terasa. Dan semakin kencang. Detak itu seolah berkejar-kejaran dengan detak jantungnya sendiri. Sesuatu yang ada di perutnya itu kini berontak. Menendang-nendang. Memukul-mukulnya dari dalam. Perempuan tiga puluh tahunan mendekap perutnya yang membesar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Dan tiba-tiba saja, bak menerima hantaman keras, perempuan tiga puluh tahunan itu terpekik, “… akhh!” Ia terpelanting jauh. Seketika segalanya jadi menghitam.

“Hahaha.”

“Hahaha.”

“Mari bersulang.”

“Mari kita rayakan.”

Suara ramai orang yang bercakap-cakap itu membuatnya terbangun. Samar-samar, serupa bayangan, dilihatnya dua orang yang tengah asyik bercakap-cakap itu mengangkat gelas dengan penuh sukacita. Ia masih terbujur lemah di atas permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai itu. Dan, mereka, dua orang laki-laki tua yang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa itu kian menjengkelkan. Perempuan tiga puluh tahunan mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap dua laki-laki tua yang saling berbesan itu lenyap dari penglihatannya. Perempuan tiga puluh tahunan kemudian menangis. Ia teringat seorang lelaki yang dulu pernah ia jadikan kekasih dalam khayalannya. Laki-laki yang kerap memberikannya bahu tiap-tiap ia merasakan sedih. Laki-laki yang seringkali mengusap-usapkan hidungnya ke pipi, leher, juga payudara dan selangkangannya. Laki-laki yang tidak pernah lupa mengecupkan bibirnya dengan penuh penghayatan. Dan, laki-laki itu, sayangnya mati dengan cara yang entah bagaimana. Perempuan tiga puluh tahunan tidak pernah tahu. Ia tak pernah paham. Namun, dalam lamunannya, ia meyakini, bahwasanya laki-laki itu mati dimangsa kawanan serigala lapar. Sebagaimana yang pernah diceritakan mamanya dahulu: cuma serigala laparlah yang tega menghabisi nyawa orang baik-baik. Dan serigala lapar itu tentu tidak akan melakukannya sendirian.

Dua laki-laki tua saling berbesan itu kini raib dari penglihatannya. Ia melihat lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya masih bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala. Dan, di depan lubang hitam yang menyala-nyala itu pula, ia menyaksikan dirinya tengah mengendap-endap membuntuti gadis kecil yang berjalan menyusuri lorong gelap dan menakutkan itu. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu menangis sejadi-jadinya.***

Abdullah Salim DalimuntheTinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Setelah Menulis Puisi Tentang Kematian Sosok M

Cerpen Wawan Kurniawan

Dia menulis sebuah nama di dalam puisinya, berinisial M. Bila kau membacanya, tentu saja itu akan membuatnya semakin mengerti, bahwa puisi itu ditulis tidak sembarangan. Ada banyak alasan mengapa dia menulis puisi untuk M, salah satunya karena sosok berinisial M itu datang menemuinya melalui mimpi. Di atas pesawat menuju Belanda, melalui racun arsenik— seseorang berhasil merenggut nyawanya. Malam kemarin, dia kembali memimpikan sosok M.

“Kau tak perlu menulis puisi tentang kematianku!” pinta sosok M dalam mimpinya.

“Mengapa?” Dia terdiam sejenak lalu kembali angkat bicara, “Saya sudah mengetahui kisahmu dari ayah saya, dia kenal siapa yang membunuhmu tapi dia telah terbunuh oleh orang bejat itu.”

“Sudahlah, jika kau masih ingin menikmati duniamu, berhentilah menulis puisi tentang kematianku.”

“Saya tak takut dengan mereka, saya bahkan ingin membalas dendam ayah saya.”

“Tunggu dulu…” belum sempat sosok M menjelaskan sesuatu, dia terbangun dengan tubuh penuh keringat.

Di dinding kamarnya, sebuah sketsa wajah sosok M terbingkai dan terpajang di samping rak buku. Dia melihat wajah sosok M dan bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa?”

Dia tak heran melihat sosok M datang dalam mimpinya. Ini bukan kali pertama, sudah tiga bulan lamanya. Sebuah media nasional memuat puisi-puisinya dan beberapa orang menayangkan potongan puisinya di instagram. Tiap kali dia melihat puisi-puisinya, ada keberanian yang membuatnya ingin terus menulis. Dia ingin mengenang sosok M dalam puisinya. Tapi di saat yang bersamaan, dia ragu jika benar-benar menulis untuk mengenang sosok M.

Seminggu setelah mimpi terakhirnya bertemu sosok M terjadi, sebuah puisi dia tulis sepanjang tujuh halaman tanpa rima dan irama, seperti yang sering dia lakukan dalam beberapa puisi sebelumnya. Hanya ada sebuah metafora yang sulit dipahami. Bertahun-tahun setelah puisi itu ditulis, kabarnya menghilang. Tak seorang pun mengetahui keberadaan penyair kita ini. Sosok M hilang belasan tahun lalu dan kematiannya masih dikenang orang-orang yang mencari kebenaran. Penyair kita hilang dalam puisi dan di dalam mimpi, dia datang menemui seorang pelajar yang hendak ke Belanda agar tak meneguk minuman di pesawat dan dia akan selamat. Tapi seperti itulah mimpi.***

Wawan Kurniawan menulis puisi, cerpen, esai, novel dan menerjemahkan. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul, Persinggahan Perangai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017). Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Salah satu novel karyanya yang berjudul Seratus Tahun Kebisuan menjadi Novel Pilihan Unnes International Novel Writing Contest 2017. Twitter: @wnkurn

Cerpen

Mencatat Ibu

Cerpen Jihan Suweleh

Matahari pecah menyebar kuningnya di langit depan rumahku. Di sana aku juga melihat Ibu yang menyapu halaman dengan wajah lesu. Pada sore yang terang, daun-daun dan sampah bergumul di tangan wanita berdaster kembang. Bolak-balik ia ambil dedaunan dan sampah untuk dimasukkan ke dalam tong bercorak mawar. Lisda, adikku, ia yang menggambar mawar itu di tong sampah yang tidak lebih tinggi dari dengkulku. Ia bilang, meski hanya tong sampah tetap harus terlihat megah. Padahal gambar mawar yang berserak di seluruh tubuh tong itu justru lebih terlihat norak ketimbang indah.

Ini bukan sore yang pertama Ibu menyapu halaman rumah. Sejak masih dalam gendongannya, aku selalu melihat Ibu menyapu di sana setiap habis Asar, dengan mata yang lebih gelap dari malam, seolah menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa-siapa. Ketika masih balita, mana aku paham soal luka, tetapi aku merasakan basah air mata itu, setiap hari, setiap malam, bahkan setiap Ibu menyapu halaman rumah dengan senyum-senyum yang ia simpulkan saat membalas sapa para tetangga.

Sudah 28 tahun usiaku, dan Ibu masih saja menyapu. Entah untuk mengusir kesedihannya, atau hanya agar terlihat sibuk biar tak ditanya perihal matanya yang selalu bengkak dengan lekuk senyum yang lebar. Aku tidak tahu apa yang membuat Ibu bersedih. Tidak ada yang tahu apa saja yang pernah Ibu lalui kendati kami tinggal di bawah atap yang sama, sebab kami keluarga yang hampir tidak pernah berbagi cerita. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Kami semua perempuan, dan memiliki Bapak berbeda.

Adik pertamaku bernama Linda, kedua Lena, ketiga Lisda, dan terakhir Lala. Aku sendiri bernama Lara. Jika kujelaskan mereka satu persatu, sungguh aku pusing sendiri, sebab sulit sekali menjabarkan pernikahan yang kawin cerai. Aku saja bingung, mengapa Ibu sampai bisa menjadi janda dari lima laki-laki.

“Kata Mamaku, kamu itu anak haram.”

“Tahu dari mana?”

“Mamakulah, kan tadi sudah kubilang.”

“Mamamu tahu dari mana?”

“Kata Mamaku dulu Ibumu itu wanita murahan.”

“Heh, buktinya apa!”

“Kamu dan adik-adikmu punya bapak beda!”

“Ibu hanya bercerai!”

“Ha ha ha, kita itu hanya anak kecil di mata orang dewasa, jadi jangan percaya-percaya amat sama mereka. Bagi mereka, menipu kita adalah hal yang paling menyenangkan.”

“Mamamu juga orang dewasa!”

“Mamaku orang baik, nggak kayak Ibu kamu!”

“Nggak ada orang baik yang ngejelek-jelekin teman sendiri!”

“Teman? Memangnya Mamaku berteman sama Ibu kamu?”

“Setiap sore Mama kamu sapa Ibuku.”

“Hiiiih, begitu saja dibilang teman. Huuu anak haram!”

Aku tidak mengerti. Sejak kecil banyak sekali yang berkata seperti itu padaku, dan bagiku mereka itu tidak lebih dari anak-anak yang cepat tua karena terlalu sibuk ikut campur urusan orang dewasa. Namun, setiap kali kuceritakan itu pada Ibu, ia menangis, tak jarang ia malah memukulku.

“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” katanya.

Sebenarnya aku tak ingin menyakitinya, bahkan aku mencoba mengerti, mungkin Ibu memang sangat sensitif, aku mesti berhati-hati setiap kali bicara padanya. Aku sangat penasaran, siapa Bapakku dan Bapak adik-adikku, sebab Ibu selalu bilang Bapak kami mati tenggelam, atau terbakar. Entah tenggelam di laut mana, terbakar di perapian apa, dan setiap kami tanya lagi, ia selalu mengalihkan pembicaraan.

Pernah suatu kali saat aku remaja, Ibu bicara padaku di dapur sambil membuat sayur sup. Ia bilang, aku tidak boleh percaya pada siapapun kecuali pada Ibu, karena sejahat apapun keluarga, mereka tetap akan melindungi keluarganya, beda dengan orang lain. Mendengar itu, lidahku langsung panas. Sontak kujawab, ada banyak teman yang seperti saudara, kudengar itu dari cerita-cerita orang di televisi. Mereka mengatakan kadang keluarga lebih jauh dari orang lain, dan orang lain justru yang selalu ada untuk mereka.

“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” Ah, entah sudah berapa kali kalimat itu kudengar dari mulutnya. Aku muak. Tapi aku bingung sebetulnya perkataanku mana yang membuatnya sakit.

“Aku menyesal punya anak sepertimu! Mestinya kamu tidak lahir dari rahimku!” Suara Ibu menggelegar di kupingku. Bahkan sayur sup seperti memaki-maki kompor, ikut mengaduhkan suasana tegang antara aku dan Ibu. Pisau yang sejak tadi terlentang di dekat cucian kotor tiba-tiba serasa melompat, lalu menancapkan dirinya ke jantungku. Begitu perih kurasakan.

“Mestinya kamu tidak tinggal bersamaku. Aku menyesal telah melahirkanmu.”

Lirih kudengar suara Ibu. Getaran suaranya begitu terasa hingga membekukan bibirku yang tak lagi mampu berucap apa-apa. Pada hening yang merobek sendu, aku melihat jelas gelap tatap matanya. Kudengar lagi suara sedih, tetapi bukan suara Ibu. Itu suaraku. Benarkah hanya perkataanku yang membuat sakit? Tidakkah kau merasakan kesakitanku selama ini, menjadi anak yang hanya diam demi menjaga rahasia yang sudah diketahui orang banyak. Aku menutup telingaku, biar tak lagi kudengar suara itu, tetapi justru suara itu semakin kencang terdengar, seperti gema dalam ruang kedap suara, dan hanya aku yang mampu mendengarnya.

Ibu meninggalkan dapur yang berantakan sambil menangis, yang sebelumnya ia lempar panci berisi sayur sup hingga tumpah hampir mengenai kakiku, ia juga mendorong piring-piring dan tumpukan gelas yang ada di dekat kompor hingga semua pecah terbelah.. Aku merasa Ibu terpukul, meski sebenarnya akulah yang merasa lebih terpukul.

Akibat pertengkaran itu, Ibu menjadi murung. Rumahku ini seperti dilanda musim pancaroba, yang sebentar-sebentar panas, sebentar-sebentar dingin, tetapi sama-sama membuat sakit. Tanpa percakapan dan tanpa ekspresi, terlebih pelukan, mustahil rasanya. Adik-adikku memihak pada Ibu, karena mereka butuh makan dan bertahan hidup. Semakin hari aku semakin terasing di rumah sendiri.

“Ibu, apa kau masih marah padaku?”

“Kelahiranmu adalah kekecewaan bagiku. Sulit untuk tidak marah.”

“Tapi Bu, bukankah dulu Ibu sayang padaku? Kau menggendongku.”

“Ya, jelas. Kalau kau tidak kugendong, tidak kususui, apa nanti kata tetangga?!”

“Ibu hanya pura-pura mencintaiku?”

“Salah bila kau berbicara cinta denganku.”

“Aku anakmu kan, Bu?”

“Kau hanya numpang lahir dari rahimku.”

Aku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Entah kesedihan apa ini namanya. Darah memang tak mengucur, tapi jantungku terus menjerit bagai ingin melepaskan boroknya yang telanjur bertahan bertahun-tahun. Mendengar perkataan itu, lukaku lebih dalam ketimbang luka Ibu. Namun, ada orang yang bilang, bahwa luka dan kesedihan tak pantas dibanding-bandingkan. Kalau begitu, aku sedih, sedih yang dalam, dan Ibu tak pernah ingin mengerti luka-lukaku. Terserah bila setelah ini ada yang bilang bahwa luka memang hanya mampu dimengerti oleh diri sendiri. Aku tidak peduli lagi pada ucapan siapapun.

***

Sore ini, saat kutuliskan cerita mengenai Ibuku pada kalian, dari balik jendela kamar yang berdebu dan bau amis, dengan laptop hitam, tetapi tak sehitam mata Ibuku yang menyimpan banyak kejanggalan di hidupnya. Tepat di sore ini, aku juga melihat Ibu masih jelas menyapu halaman rumah, memasukkan daun-daun kering dan sampah yang baginya mungkin lebih berharga ketimbang aku. Di sore ini, ketika matahari meleleh dan membentuk dirinya yang lain, aku melihat.., aku melihat segalanya yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Ternyata hidup semudah ini, kita hanya perlu menerima segalanya tanpa perlu peduli omongan orang lain.

“Kak Lara, lagi apa?”

“Lihat Ibu nyapu.”

“Hah? Ibu?”

“Iya.”

“Kak Lara, ikhlaskan Kak, jangan jadi beban.”

“Maksudmu?”

“Ibu kita sudah meninggal 7 tahun yang lalu…”

“Jaga mulutmu, Linda! Ibu masih hidup! Kamu menyakiti hati Ibu!”

“Ibu sudah meninggal, Kak. Kalau Kak Lara begini terus, Ibu jadi tambah sakit.”

“Jangan macam-macam kamu, Lin! Jaga mulut kamu!”

Linda pergi dari kamarku. Kamar yang dulunya adalah kamar Ibu. Demi mampu memeluknya, aku harus tinggal di kamarnya. Mencium baunya yang menempel di ruang itu, merasakan tubuhnya yang sulit sekali kupeluk. Bukan hanya Linda yang bertingkah aneh, semua adik-adikku yang lain juga memaksaku meyakini bahwa Ibu sudah pergi dan tak akan pernah kembali, sebab Ibu bukan pergi ke warung atau pasar untuk membeli sayur. Namun, Ibu pergi menuju Tuhan, meminta ranting kering di dadanya dicabut selamanya. Ranting kering yang tumbuh sejak dulu, hingga kami tak mampu memeluknya, karena itu hanya akan melukai kami, kata mereka. Tetapi aku tak percaya. Aku tak boleh percaya pada siapapun kecuali pada Ibu.

“Ibu bunuh diri, Kak. Di kamar ini,” kata Lena sambil mengusap pundakku.

“Itu tidak benar.”

“Bahkan darahnya masih ada di kamar ini, sampai warnanya menjadi cokelat.” Aku dengar suara Lena melemah.

“Kita harus cat ulang kamar Ibu.” Lala menyahut.

“Iya, aku setuju,” sambar Lisda.

“Kalau memang benar Ibu bunuh diri, bagaimana caranya ia mati?” tanyaku pada mereka.

Mereka saling melirik seolah menyembunyikan sesuatu.

“Lebih baik Kak Lara istirahat, Kakak terlihat lelah sekali.” Lisda merangkulku.

“Tidak. Aku tidak apa. Bukankah keluarga kita memang sudah sangat lelah menjalani hidup?”

“Kak, tidak usah mengungkit hal yang mestinya tidak perlu kita masalahkan.” Lena menyakitiku dengan suaranya yang lembut.

“Bersaudara dengan lima bapak yang berbeda apa itu bukan masalah? Tidak pernah melihat bapak sejak lahir apa itu tidak masalah? Melihat Ibu menangis setiap hari apa itu tidak masalah? Disebut anak haram oleh orang-orang apa itu tidak masalah?”

“Kaaaaaak….”

“Sekarang kutanya, bagaimana cara Ibu mati?”

“Kaaaaak….”

“Kalian hanya perlu menjawab, apa susahnya?”

Hening.

Tidak lama Linda datang membawa setumpuk koran. Aku disuruh membaca pada bagian-bagian berita yang ia minta aku untuk membacanya. Darahku serasa berhenti dan dingin. Pisau di dapur seperti kembali terbang menancap jantungku.

“Ibu kita PSK?”

“Iya, Ibu kita PSK,” kata mereka.

“Ibu mati di kamar ini, di kemaluannya ada ranting kayu.” Lisda menangis. Kami semua menangis.

Ranting kering tumbuh di dada Ibu, sejak kami lahir dan berkembang sebagai anak manusia tanpa Bapak dan tanpa hangat sebuah pelukan. Setiap kali dekat Ibu, kami tertusuk. Setiap kali melihat Ibu, kami tersakiti. Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak tetapi cantik. Ada yang tidak mampu kami ketahui pada Ibu sebelumnya, kemaluannya yang ternyata bercahaya, yang bisa membawa masuk banyak laki-laki dan melahirkan anak-anak perempuan. Kemaluan Ibu sudah ditutupnya, agar tidak ada lagi yang masuk tanpa bertanggungjawab. Pisau serasa kembali memasuki dadaku, menembus jantung atas nama Ibu. Sementara ranting kering masuk pada kemaluan Ibu, yang sebelumnya lebih dulu tumbuh di dadanya yang ranum. ***

Jihan SuwelehLahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Cerpen

Tari 9 Bidadari

Cerpen S. Prasetyo Utomo

/1/

Di antara sembilan penari bedhaya, Arum tampak paling memancarkan daya pikat  memerankan bidadari. Mereka menari di panggung yang didirikan di pelataran sendang.Arum seperti menemukan kembali kegairahan hidupnya dalam  tari bedhaya: mengisahkan sembilan bidadari turun dari kahyangan, mandi di sendang, menjaga kesuburan bumi, menaungi alam lereng Gunung Merapi.

Arum mempelajari tari bedhaya sembilan bidadari dari Ki Broto yang menciptakannya selama sembilan bulan. Ia mesti belajar dari awal, seperti ketika remaja dulu, dari sembah hingga jemari menerpa dan mengibaskan ujung-ujung kain selendang. Ia mesti matang memeragakan tari ini, dan melatih delapan penari muda untuk mementaskannya di padepokan Ki Broto dan beberapa kota.

Kini umur Arum 45, seorang janda yang memutuskan bercerai dengan suami. Ia mengikuti permintaan Ki Broto untuk kembali menari bedhaya. Bukan bedhaya semang. Bukan bedhaya ketawang. Ia menarikan bedhaya sembilan bidadari. Lebih mirip dengan bedhaya srimpi. Ia suntuk berlatih, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, agar bisa tampil dengan gerakan-gerakan dan kelenturan tubuh yang luluh dalam peran bidadari. Ia berpuasa untuk bisa merasuk ke dalam peran bidadari yang dibawakannya di panggung.

Kini ia sadar benar bila setiap orang memandanginya, memerhatikan tiap jengkal langkah kaki dan gerak tubuhnya. Ia seperti kembali ke masa silam, masa remaja ketika berguru pada Retna Astuti. Ia senantiasa dipuja penonton setiap kali  menari.

Semua tamu yang datang di padepokan Ki Broto, berpusat memandangi Arum. Begitu pula dengan para tetangga  yang menonton pergelaran gladi resik pergelaran tari itu, kebanyakan berbinar-binar takjub mengagumi tarian  Arum. Mereka tak berkedip menatap janda itu menari bedhaya, dengan keagungan penari ternama.

“Apa kau masih menolak sumbangan  bosku untuk pergelaran ini?” tanya Arum pada Ki Broto, pemilik padepokan. Arum seorang manajer pemasaran sebuah hotel, yang bekerja pada seorang pengusaha.

“Aku tak mau berhutang budi pada bosmu,” tukas Ki Broto. “Pasti ada kemauan besar di balik kebaikan itu.”

“Ia tak nuntut apa pun.”

“Kali lain pasti dia nuntut agar akujual bukit di sebelah padepokan.Ia ingin dirikan hotel di bukit itu.”

“Tak ada niat jahat bos padamu.”

Dalam sepasang mata Ki Broto yang bening terbaca keteguhan pendiriannya. Ki Broto tidak membantah. Ia hanya mengusap-usap jenggotnya yang memutih. Arum sudah mengenal Ki Broto semenjak lelaki itu jejaka, sebagai sesama penari di padepokan Retna Astuti. Lelaki itu tak pernah meninggalkan keterampilannya menari.Tak pernah mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan uang. Ia menetapkan hidupnya sebagai penari. Ia membeli tanah di lereng Gunung Merapi, lahan yang dianggap angker, dengan pohon randu gumbala tua yang dulu pernah ditebar potongan-potongan mayat Ranem, seorang penjaja cinta. Sebuah sendang bening berada di bawah pohon randu gumbala itu. Kini pohon randu gumbala tua itu sudah ditebang, ditanami pohon nangka. Sendang bening dengan air  berlimpah terus memancar, terus mengalir  melalui pancuran bambu. 

Tiap kali Ki Broto memperoleh rezeki, selalu membeli lahan di sebelah tanah yang sudah dimilikinya. Lahan itu kian luas, dan setelah ia menikah, ditempatinya, didirikan padepokan: bangunan-bangunan dari kayu jati.Ia mendirikan rumah-rumah penginapan di sekitar padepokan. Orang-orang berdatangan untuk menonton pergelaran tari, musik, teater, dan wayang. Selalu dipergelarkan pementasan seni yang dihadiri penonton dari kota dan tamu-tamu dari lain daerah yang menikmati penginapan di padepokan.

/2/

Malam sudah larut di depan panggung pergelaran tari.Masih belum beranjak, Ki Broto, Arum, para penari, dan penabuh gamelan duduk bercerita. Mereka minum kopi dan merokok, kecuali para penari. Mereka baru saja selesai melakukan latihan tari bedhaya terakhir kali, sebelum pementasan sesungguhnya besok malam dan pentas keliling ke beberapa kota. Besok malam akan banyak tamu yang hadir dari hotel tempat Arum bekerja sebagai manajer pemasaran. Sang pengusaha – pemilik hotel – membujuk Arum untuk ikut menari dalam pergelaran Ki Broto, dengan menyembunyikan hasrat menguasai padepokan di balik kebaikan-kebaikan yang dilakukannya.

“Bergabunglah dengan kegiatan di padepokan Ki Broto. Aku akan membantu biaya pergelaran. Bujuk ia agar menjual bukit sebelah padepokan itu untuk kita dirikan hotel baru. Atau, bila padepokan itu bangkrut, kita kuasai agar jatuh ke tanganku,” pinta sang pengusaha, yang senantiasa diingat Arum.

Para penari sudah berpamitan pulang, sebagian penari yang tinggal di padepokan sudah beranjak beristirahat ke dalam bilik mereka. Arum masih duduk di antara penikmat kopi. Bagaimana membujuk Ki Broto, agar bukit di sebelah padepokan itu dijual pada sang pengusaha untuk dijadikan hotel? Arum belum berani bicara. Ia merasa mesti mencari suasana yang lebih longgar dan menyenangkan. Ia membayangkan, tak cukup hanya sekali bujuk rayu agar bukit itu lepas dari kepemilikan Ki Broto.

Tengah malam itu Arum melihat kegairahan Ki Broto memperbincangkan  tari ciptaannya, sebelum besok malam bedhaya sembilan bidadari dipentaskan. Ia merasakan degup dada yang lembut, tak meletup-letup seperti masa remaja, bila menjelang naik panggung.Ketika masih berguru pada Retna Astuti, seringkali ia meredakan rasa gugup, salah tingkah dan cemas menjelang pentas.

Arum berpamitan pada Ki Broto, meski masih merindukan gurauan-gurauan di bawah panggung dengan para penabuh gamelan.

“Aku mengundang Ibu Retna Astuti untuk menyaksikan pergelaran kita besok malam. Tentu kau tak ingin mengecewakannya,” kata Ki Broto, melepas kepulangan Arum.

/3/

Menari bedhaya sembilan bidadari di atas panggung padepokan Ki Broto, Arum merasakan kepercayaan diri yang utuh.  Hampir dua jam ia menari. Lepas pergelaran tari bedhaya sembilan bidadari, Arum merasakan sambutan meriah penonton, rasa takjub yang dikumandangkan melalui tepuk tangan panjang. Seluruh penonton berdiri, dan Arum yang turun dari panggung paling depan, disalami penonton dan menerima ucapan selamat bertubi-tubi.

“Tarianmumembuat mata siapa pun tak berkedip!” sanjung sang pengusaha. “Kau pasti segera memperoleh kepercayaan Ki Broto, dan ini jangan kausia-siakan.”

Orang-orang yang mengenal Arum memangili namanya. Beberapa orang meminta foto bersama. Ia paling akhir mencapai pendapa rumah Ki Broto. Di pintu pendapa ia disambut Retna Astuti, akrab, penuh rasa kangen, dan dekapan yang hangat. Dekapan ini tak pernah dirasakan dulu, semasa ia berguru menari pada Retna Astuti, perempuan enam puluh tahun yang menyembunyikan keningratannya itu.

“Kau memang muridku yang paling berbakat,” kata Retna Astuti, dengan kewibawaan seorang guru tari, sambil memandangi tubuh Arum yang masih sempurna  dengan kelenturan dan keluwesannya. “Tapi kamu perlu belajar pada Ki Broto, yang setia pada guru, dan memiliki keteguhan hati.”

“Mohon berkenan memaafkan saya, Ibu.”

“Bukan aku yang harus memaafkanmu,” kata Retna Astuti, tegas, memandang dengan tatapan tajam. “Lihat dirimu sekarang, dikagumi semua orang. Tapi sebagai siapakah kamu? Hatimu pun kaugadaikan. Dikuasai orang lain.”

Masih tersenyum, meski memaksakan diri, Arum tak ingin luruh di hadapan guru tarinya yang bertahun-tahun menempa ketajaman perasaannya sebagai penari. Arum masih tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya malam itu. Ia bahkan tak ingin melepas dandanan tarinya. Masih tercium wangi melati. Masih basah keringat mengaliri lekuk tubuhnya. Ia menampakkan diri sebagai penari yang paling murah senyum dan ramah malam itu. Sama sekali tak tampak bila ia tengah tersinggung dengan kata-kata guru tarinya, yang menikam begitu tajam.

“Kalau kau ingin tahu apa yang mesti kaulakukan, tanyakan pada Ki Broto!” pinta Retna Astuti, sebelum mereka berpisah.

/4/

Tengah malam itu ketika Arum melewati pintu gerbang rumah yang dibukakan satpam, masih tersisa rias tari pada wajahnya. Ia memasuki ruang tamu. Ia enggan menghapus rias tarinya. Telah lama, bertahun-tahun lamanya, ia tak mengenakan busana tari, dengan riasan dan aroma melati yang melekat pada tubuhnya.  Ia seperti menemukan kembali kebahagiaan yang lenyap.Selama ini hatinya keropos, dan tindakannya mengingkari diri sendiri.

“Lihat, kau menjelma bidadari paling cantik dalam panggung tari!”selalu diingat, guru tarinya, Retna Astuti menyanjung usai pergelaran.

Arum mencoba untuk rebah dan memejamkan mata. Tapi selalu terbayang keramaian pementasan tari di padepokan Ki Broto. Ia seperti dikembalikan pada masa kegairahan menari di masa muda, dari satu panggung pementasan ke panggung pementasan yang lain, yang penuh ketakjuban. 

Semalaman Arum tak bisa tidur. Ia tak dapat memejamkan mata. Telah lama ia hidup seorang diri di rumah ini, tanpa suami, tanpa anak. Ia hanya tinggal berdua dengan adik lelakinya yang berjalan ngesot, tak bisa bicara. Ada dua satpam dan seorang pembantu yang setia, berusia agak tua.

Apa yang mesti kutanyakan pada Ki Broto? pikir Arum. Lama ia mempertimbangkan diri untuk bertemu lelaki setengah baya yang selalu mengenakan pakaian lurik, blangkon, dan bersarung itu. Lelaki itu hidup bahagia di padepokan. Lelaki yang senantiasa tidur larut, setelah minum kopi, merokok, dan berbincang-bincang dengan orang-orang terdekat. Dalam hati Arum, ia akan menemui sahabatnya itu besok malam. Dalam waktu luang, ia akan ngobrol bersama, sebagaimana dulu semasa remaja, ia selalu mencari sahabatnya itu untuk memperoleh pertimbangan dan keputusan hati.

/5/

Masih terlalu pagi, ketika Arum turun dari ranjangnya. Ia belum memejamkan mata semalaman. Ia menanti fajar, ingin segera bertemu dengan Ki Broto. Guru tarinya, Retna Astuti, memintanya untuk bertanya pada Ki Broto, apa yang harus dilakukannya? Belum mandi, hanya cuci muka, menyisir rambut, Arum mengendarai mobil meninggalkan pelataran rumah, dengan tatapan mata satpam yang penuh tanda tanya.

Mencapai padepokan Ki Broto, Arum merasakan pagi berkabut yang tenang. Arum menemui Ki Broto yang tengah memeragakan tari bedaya sembilan bidadari di pelataran sendang, mencari gerak yang lebih indah.

“Aku ingin berhenti sebagai manajer pemasaran hotel. Sudah kuputuskan untuk  bergabung dengan padepokanmu,” kata Arum, tenang.

***

Pandana Merdeka, April 2019

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Esai

Kabar Bohong

Esai Alexander Robert Nainggolan

Alkisah, Nabi Yusuf dipanggil oleh Zulaikha, istri dari majikannya ke dalam kamar. Zulaikha yang terpesona akan ketampanannya bermaksud ingin bercumbu dan menginginkan dirinya. Dan ajakan dari Zulaikha itupun ditolak oleh Yusuf, bermaksud untuk keluar kamar menuju pintu, namun Zulaikha bersikeras dan menarik gamis yang dikenakannya. Gamis itupun robek di bagian belakang. Keinginan Zulaikha gagal untuk bercinta.

Celakanya, Zulaikha malah menyebarkan kabar bohong dengan menyebutkan bahwa Yusuflah yang ingin memperkosanya. Untungnya, sebagaimana kisah itu berlanjut ucapan Zulaikah– yang konon memiliki kecantikan tak terperi itu tidak serta merta ditelan mentah-mentah oleh suaminya. Ia menguji dengan penalaran yang cerdas, jika bagian depan gamis yang robek maka benarlah kabar yang disampaikan Zulaikha. Namun jika gamis bagian belakang yang robek, maka benarlah pernyataan dari Yusuf.

Kisah Nabi Yusuf sudah bertahun-tahun lampau lewat dalam peradaban manusia. Namun cerita itu setidaknya relevan untuk saat ini. Ketika begitu banyak orang yang berbicara, dengan sungguh-sungguh, terkesan penuh dengan keyakinan– namun ternyata hanya bualan semata. Segala yang didekripsikan, apa yang terjadi dalam dirinya tak lebih adalah gembar-gembor, hiperbola yang berlebihan. Nyatanya fakta berbicara.

Meskipun dengan keajaiban teknologi dan berita yang super cepat, dalam hitungan detik kita pun tak bisa mencegahnya. Kemajuan tekonologi untuk menyebarkan kabar  yang cuma berada di ujung jari manusia. Dengan hanya menekan tombol pada telepon pintar melalui media sosial, kitapun turut terkena getahnya. Bahwa apa yang diucapkan ternyata berbanding 180 derajat dari kenyataan yang terjadi.

Ada seseorang yang barangkali piawai untuk mengekspresikannya. Sehingga dari mimik atau gestur tubuhnya kita merasa terhipnotis dan mengamini bila yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Namun kebenaran adalah keselarasan dari fakta, bukan sekadar opini yang dibangun dari pendapat-pendapat. Parahnya lagi, jika ternyata opini yang diungkapkan ternyata hanya merupakan manipulasi yang bertolak belakang dengan kejadian sesungguhnya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam sebuah teori bahwa kebenaran memerlukan konsistensi atau kecocokan. Antara fakta yang melingkupinya, sehingga dapat dicocokkan dengan segala bukti yang ada.

Dengan kecepatan arus teknologi yang melingkupi kita saat ini, kita diharapkan untuk dapat memilah setiap kabar. Kabar yang terlanjur tersebar dalam media sosial. Barangkali dengan mengujinya. Tidak dengan gegabah membagikan kabar itu di mana saja.

Demikianlah, setidaknya kita harus bisa bertindak. Menjadikan diri sendiri sebagai filter, dengan menelaah akan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan kata lain, kita harus pandai untuk berandai-andai dan menduga-duga kebenaran itu sendiri. Kecuali, dalam karya sastra– sebuah fakta yang nyata bisa menjadi kebohongan. Sebab karya sastra membutuhkan imajinasi dan metafora. Kebenaran yang disuguhkan dalam karya sastra barangkali berpijak kepada realitas. Namun ia dibalut dengan sejumlah personifikasi lain, yang tentunya berusaha mengungkapkan keindahan dengan cara yang lain.

Meskipun, jauh hari sastrawan F. Rahardi menegaskan bahwa karya sastra bukanlah kebohongan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan: karya sastra adalah fiksi. Beda fiksi dengan  nonfiksi adalah fiksi merupakan tulisan berdasarkan imajinasi, sementara nonfiksi adalah tulisan berdasarkan data dan fakta nyata. Jadi karya sastra sebagai fiksi memang bukan sesuatu yang nyata, tetapi karya sastra juga bukan kebohongan. Sastrawan bukan seorang pembohong. Sastrawan yang baik justru selalu menyuarakan kebenaran. Ini bukan pendapat saya pribadi tetapi ada di Webster, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Encyclopedia Americana, Encyclopedia of Writing, Ensiklopedi Indonesia, dan lain-lain. Padanan kata imajinasi adalah khayalan, rekaan, angan-angan. Lawan kata imajinasi adalah kenyataan, fakta, realitas, sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. (Harian Kompas, 19 Maret 2000)

Menurut kamus besar, bohong bermakna: tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya. Seorang yang berbohong senantiasa berusaha untuk menutupi kebenaran yang melingkupinya. Maka apa yang dikabarkannya akan berusaha untuk dicarikan penguat, ditutupi. Walaupun sebagaimana peribahasa, sepintar-pintar kita menutupi bangkai, baunya akan tercium juga.

Apa yang terjadi belakangan ini dengan fenomena kabar bohong (hoax) yang makin “menggila”, barangkali kita perlu untuk terus melakukan cek dan re-cek akan kebenaran sebuah berita. Dengan melakukan pemilahan, kita tak akan membuat dunia semakin gaduh terhadap kenyataan sebuah berita.

Meskipun kita tahu ada banyak tingkatan akan kebenaran. Kebenaran terdiri dari kebenaran indera merupakan tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia, yang kedua sebagai tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio. Ketiga sebagai tingkat filosofis, yakni sebagai rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya. Dan yang terakhir adalah tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.

Dalam kamus umum bahasa indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni:

  1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya); misalnya, kebenaran berita ini masih saya sangsikan; kita harus berani membela kebenaran dan keadilan.
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya); misalnya, kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama.
  3. Kejujuran; kelurusan hati; misalnya, tidak ada seorangpun sangsi akan kebaikan dan kebenaran hatimu.
  4.  Selalu izin; misal, dengan kebenaran yang dipertuan.
  5. Jalan kebetulan; misal, penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran

Pada akhirnya untuk memilah arus informasi yang terlanjur mengembara ke dalam benak orang banyak, kita mesti bertindak seperti suami Zulaikha, mengujinya dengan berbagai paradigma atau kemungkinan-kemungkinan. Sebab kebenaran tak pernah hadir majemuk, ia tunggal meskipun kita memandangnya dari sisi mana saja. Walaupun terkadang kita akan sulit untuk membedakannya. Mana yang kabar benar atau bohong. Namun dengan tidak gegabah ketika mengkhidmati sebuah kabar, niscaya akan dapat dibedakan mana yang sungguhan atau palsu. Bukankah sebutir mutiara akan tetap bercahaya walaupun ia berada di dalam lumpur sekalipun?

Nah, sudah siapkah anda untuk berbohong kali ini?

Alexander Robert NainggolanLahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kecamatan Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media.Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Bukunya Rumah Malam di Mata Ibu (Kumpulan Cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (Kumpulan Puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (Kumpulan Cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (Kumpulan Puisi, Basabasi, 2016).

Cerpen

Sebuah Cerita Tentang Rumah

Oleh Ardy Kresna Crenata

Hari ini pun ia begitu diam. Bahkan, aku rasanya belum sedikit pun mendengar suaranya. Ketika akan menyantap hidangan ia memang mengucapkan “itadakimasu[1] namun ia mengucapkannya dengan sangat pelan, seakan-akan ia berusaha agar tak seorang pun mendengarnya, seakan-akan ia enggan aku dan Kanae-san atau siapa pun menyadari keberadaannya. Kami membiarkannya. Ah, tidak. Aku yang membiarkannya, sementara Kanae-san sesekali mengajaknya bicara atau sekadar menyuruhnya mencoba hidangan demi hidangan. Sesekali ia mengangguk.

Kami mulai menikmati makan malam bertiga seperti ini sejak lima hari yang lalu. Saat itu, aku terkejut mendapati seseorang asing duduk di kursi yang biasa kududuki, dan ia seorang diri saja di sana dan menatapku tanpa emosi. Kanae-san saat itu sedang mempersiapkan sesuatu di dapur, dan ia lupa memberitahuku bahwa malam itu kami kedatangan “tamu”. Aku menghampirinya, duduk di sebuah kursi di hadapannya. Aku mengira ia teman-main Kanae-san dan karenanya aku mencoba bersikap ramah dengan menanyainya siapa namanya dan apa yang tengah dan akan dilakukannya di rumah kami, namun ia tak menjawabnya; ia bahkan segera mengalihkan tatapan matanya dariku, dan tingkahnya ini tentu membuatku kesal. Terang-terangan tunjukkan kekesalanku itu lewat raut mukaku. Akan tetapi, ia tak terlihat terganggu.

Beberapa belas menit kemudian aku mulai mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Kanae-san bilang ia ditelepon seorang teman-aktivis-nya dan diminta datang ke kantor lembaga kemanusiaan tempat temannya itu bekerja, saat itu juga. “Ada orang yang butuh pertolonganku. Gitu kata temenku,” jelas Kanae-san. Seseorang yang dimaksud temannya itu konon baru saja mengalami serangkaian “kejahatan” yang mengarahkannya pada upaya bunuh diri, hanya saja ia terselamatkan sebab jumlah pil tidur yang ditelannya rupanya masih kurang banyak. (Bisa dibilang seseorang ini memiliki tingkat imun dan daya tahan tubuh yang sangat baik. Untunglah!) Kanae-san menemui seseorang itu, mendekatinya dan duduk di sampingnya, dan mulai mengajaknya bicara. Lalu tanpa diduga, seseorang itu mulai menangis. Menangis dan menangis. Teman-aktivis-nya memberitahu Kanae-san bahwa selama lebih dari setengah jam berada di sana seseorang itu hanya diam seperti mayat hidup.

Seseorang itu kemudian dibawa Kanae-san ke rumah ini, dan kini ia berada di hadapanku. Aku ingat di malam pertama ia bersama kami itu aku mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan rupanya aku masih terus melakukannya hingga detik ini. Ia begitu misterius. Begitu kesan yang kutangkap. Saat teman-aktivis Kanae-san menemukannya ia begitu kumuh dan tak membawa satu tanda pengenal pun. Sepasang suami-istri yang memanggil ambulans dan menyertainya ke rumah sakit mengatakan mereka menemukannya di kursi sebuah taman dalam keadaan sebelah tangan terkulai hingga hampir menyentuh tanah, dan semacam cairan putih mulai membusa di mulutnya. “Aku curiga dia korban human trafficking.” Begitu Kanae-san memberitahuku. Aku pun berpikir demikian.

***

Selama tiga hari kemudian Kanae-san mencoba beragam cara untuk membuat perempuan itu bicara; setidaknya mengatakan siapa namanya sesungguhnya dan di mana ia pernah tinggal. Menurutku, jika dilihat dari kulit mukanya yang masing kencang, ia masihlah di pertengahan dua puluh, dan mungkin sempat menjalani kehidupan yang cukup mewah. Mengenakan salah satu kaus leher kura-kura milikku ia tampak begitu muda meski tanpa gairah. Dulu, lebih dari lima tahun yang lalu, Kanae-san membeli kaus itu untukku.

Sesungguhnya aku mengerti mengapa ia masih sediam ini. Dulu pun, agaknya, aku tak langsung membuka diri kepada Kanae-san; aku seperti khawatir seseorang yang begitu saja menolongku dan menampungku itu hanyalah sosok busuk lain yang harus kuhadapi dalam hidupku; hidupku yang sudah kelewat suram—saat itu. Karena kesabaran Kanae-san-lah barangkali aku akhirnya membuka diri, sedikit demi sedikit. Aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menceritakan apa saja yang bisa kuceritakan, demi meringankan beban Kanae-san dan bebanku sendiri. Dua-tiga bulan kemudian, aku sudah bisa tersenyum dan menyambut guyonan-guyonannya.

Kali ini pun Kanae-san agaknya akan mengulangi apa yang dilakukannya itu. Ia memang berpengalaman, dan professional. Aku tahu di dalam hatinya ia sesungguhnya kerap mengeluh dan ia melepaskan kepenatan dan tekanan-tekanan yang dirasakannya di tempat-tempat tertentu, meski kadang ia kewalahan juga. Suatu dini hari, misalnya, lima tahun yang lalu, aku terbangun dan ingin kencing, dan tak sengaja kutemukan Kanae-san sedang menangis sesenggukan di kotatsu[2]. Televisi di hadapannya ketika itu menyala namun tanpa suara.

Kembali ke perempuan itu. Sejujurnya, melihatnya mengingatkanku pada diriku sendiri. Diriku lima tahun lalu. Aku pun dulu mungkin masih semuda itu, hanya saja bentuk mukaku tak se-kawaii[3] bentuk mukanya. Aku tak akan terkejut jika di hari-hari yang dijalaninya sebelum bersama kami itu ia rupanya seorang model majalah lokal, atau ambassador sebuah produk kecantikan yang iklannya belum tayang di televisi. Sesuatu semacam itu. Tetapi membayangkan itu benar, dan menyandingkannya dengan kenyataan ia mencoba bunuh diri dan seperti tak memiliki siapa-siapa lagi, tak pelak lagi membuatku risau. Seseorang di hadapanku ini mungkin sedang menahan sesuatu yang teramat muram dan ia bisa saja memuntahkannya sewaktu-waktu dan itu, sangat mungkin, akan memengaruhi kehidupan kami.

“Besok siang bisa nemenin Mima-tan belanja? Aku akan seharian di luar. Baru pulang malam,” ujar Kanae-san.

Aku mengangguk. Besok hari libur dan aku tak punya rencana bepergian.

“Sudah saatnya Mima-tan melihat kembali dunia luar. Terlalu lama mendekam di sini bisa bikin dia lupa kalau dia itu manusia,” tambah Kanae-san.

Kembali, aku mengangguk. Kalau tidak salah lima tahun lalu aku pun mulai diajak “melihat” kembali dunia luar di hari kelimaku.

Beberapa minggu berlalu dan kondisi perempuan itu mulai membaik. (Kanae-san memanggilnya dengan namanya, tetapi aku entah kenapa selalu menghindari itu; seakan-akan di dalam diriku ada dorongan untuk menjauhkan diriku darinya meski jelas sekali ia mengingatkanku pada diriku dulu.) Sekarang, ia mulai merespons ucapan-ucapan Kanae-san dengan ucapan juga. Ia pun sesekali tersenyum meski masih terlihat memaksakan diri. Kepadaku, ia mulai menunjukkan keramahannya, seperti dengan mengangguk dan memberiku senyumnya itu. Aku mulai lega dan berharap kondisinya akan terus membaik. Tetapi di saat yang sama, sekiranya ini bukan perasaanku saja, sesuatu di dalam diriku justru berharap suatu hari nanti perempuan ini akan pergi kembali ke tempatnya yang semestinya dan meninggalkan kami.

***

Kanae-san sejauh ini telah cukup berhasil mengorek informasi tentang perempuan itu, dan ia begitu senang akan hal ini. Setidaknya itulah yang terlihat di binar matanya. Tentu saja ia tidak melakukannya seorang diri; si teman-aktivis-nya tadi (juga teman-temannya yang lain) ikut mendatangi sejumlah tempat dan menanyai sejumlah orang. Rupanya, setidaknya dari pencarian sementara, perempuan itu pernah terlibat dalam suatu produksi film porno; ia berperan sebagai si aktris dan pembuatan film itu melibatkan sebuah rumah produksi ternama dan seorang bintang porno terkenal. Kabar ini sebenarnya masih samar, tetapi jika benar, sungguh aku bersimpati padanya. Ia sesungguhnya dikontrak—sebab dibayar agaknya kelewat kasar—untuk bersetubuh dengan seorang lelaki saja, tetapi kenyataannya, saat proses pembuatan film berlangsung, ia disetubuhi juga oleh lelaki-lelaki lain. Ada yang mengatakan jumlah lelaki-di-luar-kontrak itu lima orang. Ada juga yang mengatakan tujuh orang. Pada saat pengambilan gambar itu tentulah ia tak berdaya; bagaimanapun ia satu-satunya perempuan di tempat itu dan ia dalam keadaan lemas—mungkin juga ngilu. Setelah pengambilan gambar selesai, setelah ia berada di kamar apartemennya, ia mulai menyesali apa yang telah dilakukannya itu, dan setelah lama memikirkannya ia pun memutuskan untuk tidak lagi melakukannya. (Tidak lagi! Sebab sekali saja sudah cukup!) Tetapi rupanya ia harus menerima kenyataan bahwa kontrak yang tempo hari ditandatanganinya itu mengandung sesuatu yang tidak ia ketahui, bahwa jika ia memutuskan kontrak begitu saja hanya setelah satu produksi film maka ia diharuskan membayar uang kompensasi yang begitu besar—puluhan juta Yen—dan ia harus membayarnya dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Mau tidak mau, ia kembali menjalani produksi film yang lain, dan terus seperti itu sampai ia tidak tahu lagi apakah ketika melakukannya ia sedang bekerja atau justru diperbudak. Ia memang dibayar, sesuai yang tertera di kontrak. Tetapi ia tak lagi menikmatinya. Tak sedikit pun menikmatinya.

Dan mulailah ia akrab dengan ide-ide bunuh diri. Pernah, misalnya, ia membayangkan menyelipkan pisau lipat di belahan dadanya, dan ia mengeluarkan pisau ini saat si aktor pasangannya mulai menciuminya dan menikamkan pisau itu ke perutnya sendiri, atau ke lehernya yang tengah diciumi si aktor itu. Pernah juga, saat tengah menjalani satu produksi film, dalam keadaan menelentang dan telanjang dan sekuat tenaga menahan rasa sakit di bawah perutnya, ia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah botol anggur. Di dalam benaknya ia memanjangkan tangan kirinya dan mengambil botol itu dan memecahkannya, lantas menikam dirinya sendiri di leher sepuas hatinya.

Ketika ia benar-benar mencoba bunuh diri (dengan menelan sekaligus sejumlah pil tidur yang ia beli dari sebuah konbini[4] dengan sisa uang terakhirnya), ia sudah beberapa lama melarikan diri dari orang-orang yang terlibat dalam produksi film-film porno yang dibintanginya tadi. Ia tak langsung menelan sejumlah pil tidur itu setelah ia membelinya; untuk beberapa lama pil-pil itu bercokol di saku celananya dan ia tak menyentuhnya. Bisa jadi, ia bimbang. Atau takut. Ia tentulah menilai hidup yang dijalaninya sudah tak berarti lagi; bahwa ia mungkin lebih baik mati saja daripada terus hidup namun menderita dan menderita. Entah di mana keluarga dan teman-temannya. Informasi yang terkumpul belum sampai menyentuh dua hal ini. Beberapa lama perempuan itu berkeliaran dari satu trotoar ke trotoar lain, dari satu taman ke taman lain, dari satu kursi ke kursi lain. Ia tak lagi makan, dan entah telah berapa hari berlalu sejak terakhir kali ia mandi. Dan begitulah ia kemudian menelan sekaligus pil-pil tidur itu, dan sepasang suami-istri yang kebetulan pulang larut dan hendak bermesraan di sekitar taman menemukannya dan menyelamatkannya dari kematian—meski ia mungkin tak mengharapkannya.

Setelah mengetahui sepenggal masa lalunya itu aku jadi melihatnya secara berbeda. Sedikit berbeda. Di dalam diriku aku memang masih merasakan dorongan untuk menjauhkan diriku darinya, dan diam-diam aku masih berharap suatu saat nanti ia akan pergi, membiarkan aku dan Kanae-san menikmati hari-hari kami berdua lagi. Tetapi sepertinya, aku juga mulai menyayanginya. Lebih tepatnya, aku kasihan padanya. Aku tak ingin sesuatu seburuk itu kembali menimpanya.

***

Enam tahun lalu, selama hampir satu tahun penuh, aku menghabiskan malam-malamku di sebuah ruas jalan di Akihabara, menawari lelaki-lelaki yang kutemui kalau-kalau mereka ingin menghabiskan satu sampai satu setengah jam denganku untuk mengobrol, hanya mengobrol, tentunya dengan imbalan sekian ribu Yen. Hampir satu tahun penuh. Selama itu aku telah berhadapan dengan dan melayani orang-orang yang berbeda, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menjengkelkan. Semula aku kira para pelangganku itu akan lebih banyak orang-orang tua; lelaki-lelaki empat puluh tahun ke atas yang tak lagi bisa menikmati kehidupan keluarganya atau telah menyerah mencari pasangan. Rupanya, lama-kelamaan, orang-orang yang duduk dan bicara di hadapanku justru anak-anak muda; lelaki-lelaki di pertengahan dua puluh atau awal tiga puluh yang kadung malas mencari teman-ngobrol yang sesungguhnya. Suatu ketika, aku jenuh. Beberapa teman-seprofesiku kudengar menerima tawaran-tawaran yang lebih jauh dari pelanggan-pelanggan mereka seperti berkencan di luar jam kerja atau bahkan bersanggama, mungkin untuk mengatasi kejenuhan mereka. Aku sendiri? Tidak. Bagaimanapun aku bukan pelacur dan apa yang kulakukan selama hampir satu tahun itu lebih ke sebuah upaya untuk mengatasi kesunyianku sendiri, sebab baik rumah maupun sekolah sudah menjadi ruang-ruang lain di mana kesunyianku itu tumbuh. Apa yang kulakukan itu adalah rumahku. Aku seperti sedang membangun rumahku sendiri. Begitulah saat itu aku berpikir. Hingga kemudian, aku jenuh. Selama beberapa hari aku menjalani profesiku itu tanpa menikmatinya lagi, tanpa sedikit pun menikmatinya lagi. Dan di masa itulah Kanae-san muncul.

“Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini? Nggak pulang?”

Itulah yang ditanyakan Kanae-san di pertemuan pertama kami. Aku menatapnya curiga. Saat itu aku sedang menengadah memandangi langit dan bertanya-tanya apa yang dilakukan makhluk-makhluk lain di luar angkasa sana—kalau memang mereka ada. Kanae-san tentu menyadari aku masih mengenakan seragam sekolahku, dan karena itulah ia menghampiriku.

Menikmati hari-hari bersama Kanae-san di rumah ini, selama lima tahun, membuatku kembali merasa hidup. Agaknya sesuatu positif ini mulai mendatangiku di tahun keduaku bersamanya. Kanae-san, meski telah tahu betul di mana orangtuaku tinggal dan seperti apa mereka, tak mendesakku untuk pulang. Ia hanya bilang bahwa aku, dan setiap orang yang merasa sendirian di dunia ini, sesungguhnya tak pernah sendirian. Akan ada orang-orang seperti dirinya yang akan menemani mereka; yang akan menerima mereka dan menemani mereka. “Kalau suatu hari nanti kamu sudah merasa ingin pulang, pulanglah,” ujarnya, hampir empat tahun yang lalu.

Di akhir tahun keduaku bersama Kanae-san aku lulus dari SMA, dan beberapa bulan setelahnya aku melanjutkan studi ke sebuah universitas di Tokyo atas dorongan darinya. (Ia bahkan ikut membiayaiku dengan menjual mobil-pribadinya yang telah digunakannya selama bertahun-tahun!) Tahun lalu, entah ini kebetulan atau apa, aku berkesempatan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa asing di sebuah kota di Indonesia. Kanae-san menyambutku setibanya aku di bandara Haneda, beberapa bulan setelahnya. Ia merangkulku dan menangis. Ia bilang ia merindukanku.

Sejak memutuskan untuk percaya padanya, aku telah berkali-kali pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju-baju ganti dan peralatan sekolah. Kanae-san tak sedikit pun menanyaiku apa yang terjadi di rumah dan bagaimana reaksi ayah-ibuku atas “kepindahanku”, dan ia selalu menyambutku dengan senyumannya yang terasa tulus dan hangat itu. Aku sangat menghargai pengertiannya dan, di saat yang sama, menyayanginya.

***

Kanae-san tak menikah. Setidaknya itu yang aku tahu. Umurnya saat ini empat puluh tiga dan ia sudah seperti ibuku sendiri. Apakah ia tidak kesepian? Kadang-kadang aku memikirkannya, dan selepasnya aku selalu bersyukur bahwa bisa jadi dengan ia tidak menikah itulah aku jadi bisa hidup dengannya, di rumahnya ini, layaknya ibu dan anak, atau dua orang teman dekat. Ia, pernah aku berpikir, mungkin mengisi kesunyian dan kesendirian yang dirasakannya akibat tak menikah itu dengan menampung dan merawat orang-orang seperti kami—aku dan si perempuan tadi. Bisa jadi dugaanku ini tepat sasaran.

“Malam ini menu kita sashimi[5],” teriak Kanae-san, dari dapur.

Aku merebahkan diriku di sofa, dan menyalakan televisi.

“Kerja-sambilanhari ini gimana?” teriaknya lagi. “Mima-tan katanya pengen tahu,” sambungnya, lantas tertawa.

“Lumayan ngerepotin,” balasku, sambil menoleh ke arah dapur.

Kanae-san lalu memberitahuku bahwa ofuro[6] sudah siap seandainya aku ingin menggunakannya. Kuucapkan terima kasih, tetapi ia mengoreksiku dengan berkata bahwa seseorang yang semestinya menerima ucapan terima kasih dariku itu adalah seseorang lain yang tengah berada di sampingnya, yang tengah membantunya menyiapkan makan malam; seseorang yang sampai detik ini aku masih juga enggan menyebut namanya itu.

“Ah, oke. Terima kasih ya,” ujarku.

Seseorang itu tak menjawabnya, atau mungkin ia menjawabnya tetapi dengan volume yang begitu rendah.

“Semalam katanya Mima-tan mimpiin kamu. Makanya dia penasaran dan pengen tahu kabarmu hari ini,” kata Kanae-san, hampir-hampir berteriak, dan kembali ia tertawa.

Jujur saja aku tak tahu harus meresponsnya seperti apa. Aku hanya memandangi layar televisi sambil mengganti-ganti saluran; membiarkan tawa Kanae-san—juga suara tipis perempuan itu—melayang-layang di dalam kepalaku, melayang-layang di dalam diriku.

Dan meski aku tahu betul aku tak mungkin mengganti-ganti saluran televisi selamanya, aku terus saja melakukannya seolah-olah aku berpikir aku bisa dan harus mencoba melakukannya selamanya. Seakan-akan, di titik aku berhenti melakukannya, sesuatu teramat penting yang telah susah-payah kumiliki akan terenggut dariku, begitu saja terenggut dariku, dan aku tak akan bisa lagi mendapatkannya.(*)


[1] Kata yang biasa diucapkan orang Jepang saat akan menyantap hidangan makanan ataupun minuman.

[2] Meja-kayu berkaki rendah yang dilengkapi dengan pemanas; biasa dipasang dan digunakan di musim dingin.

[3] cantik, imut.

[4] Convenient store

[5] Potongan ikan mentah. Biasanya disajikan dengan kecap.

[6] Bathtub versi orang Jepang. Sering juga diartikan kamar mandi ala Jepang yang terpisah dari toilet, di mana di dalamnya ada bathtub yang biasa diisi dengan air panas atau air hangat.

Ardy Kresna Crenata menulis esai, cerpen, dan puisi. Buku kumpulan cerpennya: Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (DIVA Press, 2017).

Esai

Pepatah-pepatah Usang dan Geseran Pemikiran yang Mengembalikan Jalan

Esai Richard Oh

Di zaman kasak-kusuk seperti ini, mungkin kita lebih memahami kenapa pepatah seperti, Diam adalah Bijak,  sebagai sebuah penyesatan yang sangat merugikan. Mana mungkin diam itu bisa menjadi bijak? Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu sebuah gaya yang lebih menyembunyikan kebingungan atau sebuah tenggang rasa yang lebih mengacu pada keuntungan berdiam daripada merugikan orang lain.  Nah, itu satu lagi kebiasaan berpikir yang sama sekali tidak masuk akal. Merugikan orang. Bagaimana manusia bisa berpikir dirinya bisa merugikan orang, kalau dia tidak juga berpikir keuntungan dirinya?

Diam itu sama sekali tak berguna, kecuali bagi seorang bankir yang memperhitungkan untung dan rugi. Diam itu juga tidak bijak. Kecuali kalau kita balik ke era romantis dahulu, di mana seseorang berambut panjang dan suka bermain gitar dan berkecenderungan diam seperti manusia penuh penderitaan, seperti objek ketabahan dalam kesunyian atau kesunyian berpendam seribu kebijakan atau kebajikan. Stereotipe jadul yang entah kenapa menjadi populer di kampus sini dan tokoh romantis di sekian film laku. Tapi kita paham itu. Karena seorang pendiam bisa dengan mudah diproyeksi apapun di kepala kita: soliter, berarti kuat dan tabah secara karakter, romantis seperti seekor hewan peliharaan yang tidak membuat jengkel karena diapapun ia tidak membalas kembali dengan menggigit, misterius mengundang keingintahuan, simpatik karena tidak rewel mengusik urusan siapapun. Karakter yang sebenarnya warisan dari era ketika manusia memandang kehidupan sebagai sebuah tragedi. Di era setelah Goethe menjadi sebuah karakter romantika kelas wahid. Karakter penuh sensibilitas dan kehalusan jiwa dan kesabaran mendengar semua keluhan dan…tak berguna bukan? Karena apa yang bisa dilakukan manusia seperti itu, selain sebuah pundak atau bantal tangisan atau tong sampah semua kekesalan dan keluhan. 

Ada lagi satu frase populer yang beberapa tahun terakhir sering diutarakan sebagai sebuah bendara putih untuk memartisi diri dari pengkritik, sebuah warisan dari relativisme pascamoderen: Jangan menghakimi orang. Kita ketahui hari ini, di era serba relatif seperti sekarang, berdiam seribu kata sama sekali bukan sebuah penanda kebijakan atau tidak berbicara terus terang sebuah kebajikan berkonotasi tidak menghakimi orang. Di era di mana semua okay dan setiap hal memiliki berbagai sudut pandang, di mana letak kebenaran diberangus sebanyak alasan dan justifikasi, semua tergantung dari sudut pandang mana, tanpa sebuah wawasan yang menaungi apapun yang beredar. Tidakkah kita juga bisa berpikir: karena semuanya relatif maka berlaku kritis memungkinkan terwujudnya sebuah ruang di mana kekacrutan dan kekacauan bisa ditengarakan menjadi sebuah kecerahan solusi?

Mengkritisi tindak-tanduk seorang tercinta, teman dan kolega semakin terasa penting, karena tindakan itu mencerminkan sebuah partisipasi atau pertukaran berguna untuk mempertahankan sebuah standar kehidupan dalam setiap komunitas atau lingkaran kecil hubungan keluarga ataupun pertemanan. Menghakim dan mengkritik adalah dua hal yang berbeda. Menghakimi seseorang memiliki konotasi menjatuhkan seseorang untuk kepentingan diri. Mengkritik dengan berniat untuk memperbaiki adalah tindakan partisipatif yang benar. Dalam kekalutan era modern, kedua hal ini menjadi sengkarut tak terpisahkan. Sehingga saat ini mengkritik menjadi sebuah penghakiman yang melanggar kepribadian seseorang. Dalam keadaan seperti itu, seorang kekasih, teman, kolega, saudara, tak berdaya berkontribusi sama sekali. Karena ia menjadi seseorang yang mendengar tanpa berekspresi  atau sekutu keterpurukan yang diharapkan hanya simpati atau telinga yang sabar mendengar.

Empati tentunya memiliki fungsi yang tidak pasif untuk membangun semangat. Membangun semangat tentunya bukan hanya melewatkan masa sulit dengan rasionalisasi sederhana, tapi untuk menguasai persoalan agar bisa memajukan diri ke arah yang jauh lebih baik. Empati bukanlah pengasuh yang membantu seseorang terhanyut dalam perasaannya. Mestinya ia menjadi sebuah pelajaran berharga untuk diri sendiri untuk meluaskan wawasan terhadap keragaman dunia dan sifat-sifat manusia. Tidak seperti dipahami oleh Martha Nussbaum yang berpikir bahwa empati atau welas asih bisa menjadi sebuah terapi kehidupan, saya ingin mengajukan sebuah pemikiran sederhana: bahwa semua hal yang bisa memajukan manusia terletak bukan di perasaan, tapi di akal yang bisa membongkar kebuhulan situasi untuk sebuah jalan yang lebih mantap. Semangat dan perjuangan berasal dari sebuah perspektif pikiran yang mendorong seseorang untuk berorientasi ke sebuah arah di wawasan yang semakin membuka jalan ke depan.

Kritik mengacu pada debat dalam sebuah persilangan pemikiran. Di situ, baik sang pengkritik dan sang pembela diri memperoleh perspektif baru atau sebuah dimensi di luar diri. Di situ terlihatnya sebuah pandangan yang berguna untuk masing-masing mempertimbangkan. Kritikan bisa ditolak atau diterima, tapi dengan sebuah alasan atau landasan yang kuat sebagai argumentasinya.

Aleteia, keterbukaan dalam kebenaran, dan parrhesia, berani berbicara sebenarnya, adalah dua acuan yang dibutuhkan saat ini. Di manapun kita berada, dengan siapapun kita berhubungan atau bergaul, di situlah kita bisa menegakkan pilar-pilar kebersamaan yang saling membantu bahu-membahu untuk membangun sebuah komunitas yang tidak lagi mempersoalkan keuntungan secara individu atau keunggulan bagi siapa yang memicu persaingan tapi menciptakan sebuah arena kehidupan yang memungkinkan setiap individu bergerak dengan tempo dan energi yang berbeda ke arah sebuah dunia yang lebih baik untuk semua.

Richard Oh, sastrawan dan sutradara. Bersama Takeshi Ichiki merintis Kusala Sastra Khatulistiwa.

Cerpen

Penerbangan Mawar

Cerpen Kiki Sulistyo

Pesawat ini akan jatuh. Semalam pilot -setengah terpaksa- ikut pesta minum-minum bersama kawan-kawannya. Ia tidak fit di penerbangan ini, lalu panik dan tak bisa mengendalikan pesawat. Aku akan mati, hancur bersama tubuh pesawat yang jatuh ke laut. Aku bayangkan saat-saat terakhir itu. Siaran berita menyiarkan kecelakaan tersebut; mereka suka dengan berita-berita semacam itu.

Mereka akan mewawancara istriku. Dengan terbata-bata dan mata merah-basah istriku menyampaikan perasaannya, sesekali ia tak sanggup mengucapkan kata-kata, menangis tersedu-sedu. Sebelumnya, reporter itu meminta istriku menggendong anak kami; bocah dua tahun yang belum tahu apa-apa. Anak itu ikut menangis, bukan karena mengerti, tapi karena melihat ibunya menangis. Anehnya aku bisa membayangkan wawancara itu sementara di sisi lain aku membayangkan tubuhku telah hancur dan ruhku mungkin telah terisap lubang hitam yang membuat Stephen Hawking terkenal.

Pramugari, sesaat sebelum memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan, menyampaikan padaku bahwa lantaran aku duduk dekat jendela darurat, aku ikut bertanggungjawab menyelamatkan penumpang lain jika terjadi situasi darurat. Andai seseorang mengatakan padaku kalimat “bila terjadi situasi darurat” aku akan langsung merasa bahwa situasi darurat pasti akan terjadi. Aku melihat jendela darurat itu dan merabanya, menduga-duga sanggupkah aku membukanya nanti. Pramugari menatapku, sekilas aku merasa pandangannya mengejek, seakan-akan mau bilang, “Tidak akan terjadi apa-apa, bodoh. Ini cuma formalitas.”

Seorang perempuan duduk di sebelahku dan di sebelahnya lagi duduk pasangannya; seorang laki-laki kurus berambut kribo. Mereka tampak acuh dan tak ambil pusing. Aku melirik, ada tato mawar di leher perempuan itu. Mawar itu mekar dan berwarna biru.

Kembali aku bayangkan pesawat ini jatuh ke laut, tapi karena cuaca cerah, aku mengubah penyebabnya; bukan lagi karena pilot mabuk, melainkan seseorang telah membajak sistem perangkatnya. Navigasi jadi kacau dan pilot kebingungan sebelum akhirnya gagal menyelamatkan pesawat. Apakah hal seperti itu mungkin terjadi? Entahlah. Aku ingin bertanya pada perempuan di sebelahku, tapi kukira itu akan terdengar konyol.

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Memasang headset dan memejamkan mata, pasangannya melakukan hal yang sama. Awak pesawat menyampaikan saat lepas landas sudah tiba, dan bersiap terbang. Ada peringatan untuk mematikan semua barang elektronik. Tapi perempuan di sebelahku serta pasangannya tampak tidak peduli.

Terdengar suara gemuruh demikian keras, lalu goncangan. Ketika pesawat mulai mengudara, kurasakan seperti ada batang-batang udara memasuki telingaku. Aku tersentak seolah akan tenggelam. Biasanya setelah menelan ludah perasaan itu akan hilang, tapi kali ini tidak. Batang-batang udara terasa semakin padat menggumpal di telingaku. Untuk beberapa lama aku benar-benar merasa tenggelam.

Bobot tubuhku seakan melompat keluar, memantul-mantul di dinding pesawat. Aku membuka mata dan merasakan keheningan yang misterius. Perempuan di sebelahku masih memejamkan mata, begitu juga pasangannya. Keduanya seperti tertidur. Dan aku perhatikan semua penumpang pesawat juga tertidur. Tanda sabuk pengaman sudah dimatikan, aku berdiri dan memperhatikan lebih saksama. Aku lihat para pramugari juga tertidur tapi dalam posisi berdiri.

Tiba-tiba radio pesawat berbunyi, “Ground control to Major Tom. Ground Control to Major Tom.” Sial. Ada apa ini? Apakah pesawat akan jatuh? Aku baru ingat kalau kalimat itu seperti lirik lagu dari penyanyi yang sudah mati. “Penumpang sekalian, ini pilot Anda, David Bowie…” Aku melihat keluar jendela, langit sangat biru, tumpukan awan membuat gumpal yang berlapis-lapis. Satu bagian awan tampak seperti tebing karang, bagian yang lain mirip patung dewa yang sedang menunjuk.

Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya bergerak-gerak seperti berusaha melepaskan diri. Sebentar kemudian tato itu terkelupas dari kulit leher si perempuan. Mawarnya melayang-layang sesaat di dalam pesawat sebelum bergerak mendekati jendela, lalu perlahan-lahan menembusnya, terapung di luar, di langit yang terang, lalu membesar, membesar dan melingkupi pemandangan. Pesawat seperti berada dalam kelopak mawar. Dari celah-celah jendela, aroma mawar itu merembes masuk bagaikan air hujan di tembok orang miskin. Dalam waktu singkat pesawat sudah dipenuhi bau mawar yang wangi tapi demikian menajam hingga terasa menyesakkan dada. Tapi seluruh penumpang dan pramugari masih tertidur, seakan tak terpengaruh. Aku mengetuk-ngetuk tempat masker oksigen, namun masker itu tidak turun-turun juga. Wangi mawar semakin mencekik bagai gas bocor. Aku meronta-ronta menyadari sebentar lagi akan habis napas. Sewaktu napasku sudah demikian sesak, aku lihat para penumpang terapung-apung bagai benda di ruang hampa udara. Pandanganku pudar, aku menggapai-gapai berusaha memegang apa saja, seakan-akan aku sedang berada dalam laut.

Aku bergerak-gerak, mencoba mencari celah untuk menghirup udara. Tapi dinding atas pesawat tak bisa ditembus. Aku nyaris kehabisan napas, kalau saja aku tak melihat sebatang tangan menjulur dari atas. Segera aku memburu tangan itu, dengan upaya yang demikian keras aku berhasil menjulurkan tanganku ke arah tangan itu. Dan begitu tersentuh tangan itu segera mencengkeram tanganku dan menariknya ke atas.

Dinding atas pesawat jebol, aku keluar dan muncul di permukaan laut. Tangan tadi rupanya milik perempuan yang duduk di sebelahku. Ia berada dalam perahu, sendirian dan basah kuyup. “Kejadiannya benar-benar gila. Aku tidak bisa memahaminya. Pilot itu, siapa namanya? dia berniat menghabisi kita. Tuhan melindungi kita. Ucapkan Amin, ayo ucapkan Amin!” Perempuan itu meracau tidak karu-karuan. “Apa kau mendengarku?” teriaknya. Sementara dari dalam laut pesawat yang kami tumpangi muncul seperti seekor paus. Tiba-tiba perempuan itu melompat ke laut dan berseru, “Sampai jumpa, jaga perahu ini, aku akan kembali, aku harus mencari kekasihku.” Lalu ia lenyap.

Laut berangsur-angsur tenang. Gelombang kecil tak cukup kuat untuk menggoyangkan perahu. Aku sendirian dan tak tahu bagaimana cara mengendalikan perahu. Kubiarkan arus mengombang-ambingkannya sembari membayangkan ada satu pulau kecil di dekat sini tempat perahu ini bisa terdampar. Tiba-tiba dari dalam laut pesawat kembali muncul, kulihat perempuan tadi merangkul tubuh kekasihnya dan terlontar ke udara bagai ikan terbang. Mereka melenting jauh ke angkasa dan menghilang begitu saja. Ketika sekali lagi pesawat itu muncul, perahuku berada tepat di atasnya. Oleh desakan dari bawah perahuku terjungkal, tubuhku melayang di udara lantas jatuh menimpa air. Tamat sudah riwayatku, aku tidak akan bisa bertahan lagi, aku sungguh-sungguh akan mati. Segala ingatan tentang segala sesuatu mendesak ke dalam pikiranku seolah-olah mereka takut tak dapat bagian. Aku ingat segala tindakan buruk yang pernah kulakukan, pada saat yang sama aku juga ingat segala kebaikan yang pernah kuberikan kepada orang. Aku menimbang-nimbang, dan jika aku merasa keburukanku lebih banyak, air laut mencekikku lebih kuat bagaikan algojo, tapi bila kupikir kebaikanku lebih banyak, air laut akan mengurangi cekikannya. Situasi itu lebih menyiksa dari apapun, sebab kedua kutub pikiran ini seperti saling belit, saling banting, tak ada yang mau mengalah.

Bagaimana caranya supaya aku bisa selamat? Aku tidak pernah belajar berenang, dan di tengah-tengah samudera luas ini percuma mengharapkan ada orang datang untuk menyelamatkan.

Semuanya buyar ketika terdengar pengumuman dari awak pesawat bahwa kami sudah mendarat, aku hanya merasakan sedikit benturan ketika tadi roda pesawat menyentuh landasan pacu. Aku lega. Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya berkerut-kerut. Tapi tidak sampai terkelupas.

Setelah turun aku segera bergegas keluar bandara. Di sana sudah banyak orang berkumpul, sebagian besar menangis tersedu-sedu. Perempuan bertato mawar setengah berlari menghampiri satu kerumunan kecil. Laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya berjalan menuju arah lain. Ternyata mereka bukan pasangan. Sirin, rekan kerjaku, kulihat di antara orang-orang. Segera ia melambaikan tangan begitu melihatku.   

“Syukurlah, Tom. Kamu sudah tiba. Kantor menelpon terus.”

“Jadi bagaimana?” tanyaku. “Kita pilih saja sekarang, yang mana menurutmu?” ucap Sirin. Aku melihat sekeliling, dalam kesedihan dan dukacita setiap orang tampak serupa. “Nah, yang itu saja,” kataku sembari menunjuk ke suatu kerumunan.

Kami segera bergerak. Sirin menyiapkan kamera, aku memegang mikrofon. “Itu putra Anda?” tanyaku pada perempuan bertato mawar di leher yang terus-menerus tersedu sembari melirik seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun. Perempuan itu mengangguk. “Kami hendak mewawancarai Anda. Bisakah Anda menggendongnya?” tanyaku.

(Kekalik-Bakarti, 2018)

Kiki SulistyoMeraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).