Cerpen

Laut Terbelah

Cerpen Ken Hanggara

Di hari ketika Musa dan pengikutnya berbondong-bondong meninggalkan Mesir, kumpulan mega berarak persis menuju laut dan seketika permukaan air jadi gelap, tetapi ikan-ikan tetap berenang seperti biasa seakan-akan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dan seakan-akan segalanya masih dan akan terus berjalan normal, meski sebenarnya telah muncul beberapa potong pertanda sepele yang barangkali tidak terlihat oleh mata makhluk biasa, tentang lahirnya sesuatu yang agung dan tercatat di sebuah kitab suci dan terkenang hingga berabad lamanya dan bahkan hingga kiamat: perahu nelayan putus asa, beberapa kuda yang berbincang dengan burung-burung, dan diri saya yang tak terlibat apa-apa, kecuali sebagai penonton, tetapi tentang diri saya itu tidaklah penting, karena ada ataupun tidak diri saya ini, toh Musa dan para pengikutnya tetap menuju tanah yang dijanjikan, di seberang yang jauh dan tak terjangkau oleh imajinasi ikan-ikan, sehingga saat kabar dari masa lalu tentang raja yang mengaku sebagai tuhan itu sampai ke telinga saya, saya tidak akan menduga ada peristiwa sehebat ini; ribuan orang berjalan setengah berlari ke arah laut dalam formasi yang terlihat tanpa direncana dan terburu-buru dengan jumlah yang dapat membuat tanah di dekat pantai bergetar-getar seiring dekatnya jarak mereka dari kemerdekaan, dan itu sambung-menyambung tanpa henti sampai ikan-ikan sadar bahwa jumlah manusia yang lari dari raja zalim itu tidaklah tanggung-tanggung, oleh karena getaran dahsyat yang diakibatkan derap langkah mereka memang mencapai titik yang memungkinkan dalam membuat air di laut turut bergetar, dan tentu perahu sang nelayan yang putus asa juga turut bergetar, tapi yang ada di kepala orang udik itu hanya bahwa dirinya sedang tak waras dan kegelapan di langit, juga gempa serupa tabuhan perkusi dari bawah air di balik lantai perahu, seakan bukan kenyataan dan cuma terbit dari pikiran sendiri, dan semua ini menjadi bahan lelucon burung-burung yang sejak dulu kerap membawa kabar dari Mesir untuk ikan-ikan, dan siapa pula yang tidak paham jikalau burung-burung ini mendapat kabar dari beberapa kuda dan terkadang bangsa belalang atau bahkan katak dan unta, dan tidak jarang juga arwah orang-orang yang tidak lama meninggal di kawasan proyek ambisius sang raja yang ingin disembah sebagai tuhan dan ingin menang sendiri, yang berupa piramid dan patung dan segala bangunan yang entah bagaimana lagi saya menyebutkannya, tetapi mereka, burung-burung itu, tidak mungkin bicara dengan manusia yang putus asa dan bingung demi mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga mereka hanya tertawa sekaligus menangis karena tidak bisa berbuat lebih, dan karena inilah ikan-ikan lalu menghibur setiap ekor burung yang terlibat dalam perkara aneh ini dengan bilang bahwa segala kematian itu urusan Tuhan yang Mahaesa, termasuk kematian seseorang yang secara konyol terjadi di waktu bersamaan dengan hikayat agung yang bakal tercatat dalam lembar sejarah dan kitab suci, dan lagi pula mereka juga sadar pada akhirnya nanti si nelayan itu juga kaget lantaran Musa dan seluruh pengikutnya berjalan ke arah yang sama, dan barangkali di saat yang sama dia akan melihat betapa malu dia jika harus mati dengan ditonton oleh ribuan orang, tapi siapa pun tak bisa membaca masa depan, dan nasib sang nelayan tidak ada yang tahu sampai seluruh manusia, yang ribuan jumlahnya tadi, yang dipimpin Musa, benar-benar tiba di tepian pantai, sehingga seluruh semesta pun, pada detik saat mega pekat berarak ke sini, memutuskan menunggu; burung-burung, ikan-ikan, beberapa kuda yang telah kabur dari tuan mereka, beberapa belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain; tak ada satu pun yang sanggup melewatkan apa yang akan terjadi, dan semua bakal terus bertanya-tanya: dengan mukjizat macam apa Musa bisa membawa para pengikutnya lolos dari raja dan pasukannya, sementara di sini, tidak lama lagi, mereka menjumpai titik akhir berupa air yang hanya sanggup dilalui oleh ikan-ikan, perenang andal, dan perahu dan bukannya orang-orang tua renta, bayi-bayi, para wanita lemah, lelaki loyo, orang-orang pemalas, dan siapa pun yang tidak sanggup berenang dan tidak kuasa melawan ganasnya Laut Merah, dan saya sendiri yakin tak ada yang selamat kalau harus memaksa terjun ke air, kecuali tidak ada pilihan lain selain mati ketimbang menjadi budak raja yang mengaku sebagai tuhan, dan itu sungguh akan menjadi kisah paling menyedihkan yang akan saya saksikan, tapi saya berharap di detik-detik genting ini agar mukjizat Musa—yang tak kalah hebat ketimbang mengubah tongkat menjadi ular atau mengeluarkan cahaya dari telapak tangan—benar-benar lahir atas izin Tuhan yang Mahaesa, dan ini membuat saya terus saja berdoa, bahkan meski getaran di bumi akibat derap langkah ribuan pengikut Musa mulai bikin kacau tempat bernaung saya, dan bahkan meski suatu ketika saya harus berhenti oleh karena menyadari betapa perahu nelayan itu kini berada tidak jauh dari sekumpulan ikan-ikan yang terlihat cemas (yang mungkin membuat sang nelayan semakin terbenam dalam emosi yang tidak terkendali sehingga tanpa berpikir panjang membunuhi ikan-ikan itu untuk pelampiasan, karena sejatinya dirinya tak bisa benar-benar menghabisi dirinya sendiri dengan terjun ke laut dan pasrah didekap air hingga tewas—entah karena mulai memikirkan tentang neraka yang kelak menelannya bulat-bulat dalam keabadian atau entah karena mulai terpikir tentang solusi yang lebih baik ketimbang lari dari masalah dengan mencabut nyawanya sendiri), saya tetap berdoa, dan memang terkabullah doa itu setelah beberapa saat Musa berdiri di tepi suatu tebing di salah satu bagian pantai ini, dan dia terlihat bersujud dengan khusyuk, lalu bangkit dan berjalan ke dekat batas air dan tanah, dan di sanalah dia jamah permukaan air laut dengan ujung tongkat sebelum laut yang telah bergejolak karena angin dan pergerakan tidak wajar dari seisi semesta, terbelah menjadi dua, dan tentu saja ini membuat saya dan burung-burung dan ikan-ikan dan beberapa kuda yang telah kabur dari tuan masing-masing dan para belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain, dan juga seluruh pengikut Musa, serta tak ketinggalan: si nelayan yang bermaksud bunuh diri di laut, melongo berjamaah, seakan-akan barusan kami disuguhi sihir paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi, tetapi tentu saya tahu itu bukan sihir, karena sihir sangat dibenci oleh Tuhan dan siapa pun hamba yang terlibat dengan ilmu sihir, apa pun alasannya, diharamkan menyentuh wanginya surga, sehingga ini tentunya tidak lain hanyalah suatu mukjizat, dan jujur saja, inilah pertama kali saya menonton Musa memperagakan mukjizat atas seizin Tuhan yang Mahaesa, karena dari setiap mukjizat lama yang telah dia tampilkan di luar sana, yang hikayatnya disampaikan kuda dan belalang dan burung-burung dan entah makhluk hidup jenis apa lagi kepada saya dan beberapa makhluk lain di sekitar sini, tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan pada titik ini saya benar-benar merasa dada saya mulai penuh dan boleh jadi bakal meledak, sehingga saya juga yakin si nelayan yang kini perahunya oleng tak keruan dan malah terseret ke tepi atau batas pembelahan laut yang serupa air terjun di tengah laut, juga merasakan sensasi yang sama atau lebih gila di dadanya, dan ini membuat lelaki itu terlihat bersujud di atas perahu lalu bangkit dan menangis dan seluruh makhluk, yang melihat keberadaan perahu kecil itu sebagai titik kecil yang nyaris mencapai batas pembelahan air laut, tampak berteriak dan mulai khawatir orang tolol itu bakal mati karena jatuh ke dasar laut yang berupa jalanan pasir berbatu yang basah, tetapi ternyata nelayan itu dapat melompat dari perahu lalu berenang menuju batas pembelahan dan membiarkan tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah selagi ribuan pengikut Musa mempercepat laju mereka agar tak terkejar oleh rombongan Fir’aun yang ternyata mencapai titik yang tidak jauh dari laut, dan karena rombongan raja itu mampu menghabisi mereka sewaktu-waktu, Tuhan memberi hukuman yang setimpal, dan hukuman ini tidak sampai berimbas pada nelayan tolol yang keburu bergabung bersama Bani Israil yang masih memenuhi jalan dadakan di dasar laut yang kanan-kirinya ditemboki air setinggi bangunan-bangunan yang dulu mereka dirikan dengan darah dan air mata demi raja yang kini mengejar mereka, dan tentu beberapa orang bertanya-tanya terkait apa yang dilakukan nelayan tolol itu sehingga dia seakan terjun dari atas, dari langit yang mendung, tapi nelayan itu hanya bilang, dia nyaris tersesat dan kini bertekad meluruskan hidupnya, dan para pengikut Musa membiarkan orang itu berlari bersama mereka, lalu seiring lenyapnya detik demi detik hukuman Tuhan yang tak lagi ditunda, karena persis setelah Musa dan ribuan orang yang bersamanya mencapai seberang, saya melihat Fir’aun dan pasukannya dilumat habis oleh laut karena kini tembok air raksasa itu roboh dan bergejolak, kembali ke asal, kembali ke takdir dirinya sebagai laut, sebagai kumpulan air dalam jumlah besar yang akan dan selalu setia memenuhi setiap lubang atau celah yang tersisa karena memang begitulah hukum alam bekerja untuk air, dan tentu saja situasi ini merugikan siapa pun yang masih tertinggal di jalan yang terbentuk akibat mukjizat Musa yang terhebat, kecuali saya dan ikan-ikan lain yang memang dilahirkan untuk bernapas dalam air.

Gempol, 2018-2024


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV sejak 2012. Karyanya tersebar di pelbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ atau IG kenhanggara.

Cerpen

Pelajaran dari Kegelapan

Cerpen Era Ari Astanto

Dalam sunyi yang pekat, aku berdiri di hadapan kegelapan, bertanya pada diri sendiri apa makna dari hidup ini. Selama ini, aku percaya bahwa segala sesuatu memiliki dualitas: terang dan gelap, baik dan jahat, benar dan salah. Namun, di tengah kekacauan dunia yang terus menerus berderu, aku mulai ragu. Mungkinkah dunia tidak se-hitam-putih yang selama ini kupercaya? Mungkinkah ada kebenaran dalam kebohongan, atau kebaikan dalam keburukan?

Pemikiran ini muncul tiba-tiba, saat aku lelah mencari jawaban pada segala hal umum yang dipuja manusia. Terlebih, semua yang kuketahui tentang Iblis—entitas yang selalu digambarkan sebagai sumber segala kejahatan—seolah terbentang di hadapanku sebagai jalan yang harus kujelajahi. Bukankah untuk memahami cahaya, kita juga harus memahami kegelapan? Bukankah untuk mengantisipasi maling, kita harus tahu cara maling? Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju perjalanan yang tak seorang pun sebelumnya berani tempuh.

Di sebuah bukit terpencil, tersembunyi di pedalaman, di antara pohon-pohon kurus yang tak nyaris berdaun, aku mendirikan altar sederhana. Ala kadarnya, karena aku tak pernah tahu cara memanggil Iblis. Aku hanya fokus pada keinginanku: merasakan kehadiran kegelapan. Dengan kehangatan api unggun yang mengelilingiku, aku mencoba memanggil makhluk yang dalam cerita-cerita selalu digambarkan dengan tanduk, ekor, dan tatapan penuh kebencian. Aku tak tahu ritual apa yang tepat; hanya mengikuti apa yang intuisi bisikkan. Malam itu, bulan tersembunyi di balik awan, dan hanya suara angin yang berbisik pelan. Alam seakan mendukung kesunyian, suasana menjadi lebih dingin, seolah kehadiranku di tempat itu memang direstui.

Tidak ada mantra atau jampi-jampi. Aku hanya mengulurkan tanganku ke arah api unggun yang kubuat sambil berkata: wahai makhluk kegelapan, datanglah. Dan tiba-tiba angin kencang datang, menyapu api itu dan mengirimkan kepulan asap ke arahku. Aku terbatuk-batuk dan hampir ngglimpang, sementara di kejauhan, aku melihat sesuatu bergerak dalam kegelapan. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang buruk? Apakah Iblis akan memakanku atau mencabik-cabikku?

Dalam keheningan itulah dia muncul. Tidak seperti yang kucoba bayangkan. Sosok yang berdiri di hadapanku tidak bertanduk, tidak juga berwajah menakutkan. Ia hanya serupa seorang pria dengan mata tajam dan senyum tipis, seakan tahu lebih banyak dari yang siap ia katakan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi aura yang terpancar darinya membuatku sadar bahwa ia bukanlah makhluk biasa.

“Apa yang kau cari?” suaranya dalam, tetapi terdengar seperti bisikan yang langsung menembus pikiranku.

“Aku mencari kebenaran,” jawabku, mencoba menahan getaran dalam suaraku. “Aku ingin mengetahui sisi lain dari yang selama ini disebut sebagai kegelapan.”

Ia mengamati wajahku dengan saksama, seolah menimbang-nimbang apakah aku layak mendapatkan apa yang kucari. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku beranjak, melangkah di belakangnya, mengikuti ke mana pun ia akan membawaku. Meski aku sedikit ragu.

Perjalanan kami berlangsung dalam keheningan, tetapi tiba-tiba, suasana berubah menjadi menegangkan. Kami melewati sebuah jembatan yang goyang-goyang, tampaknya hampir ambruk. Aku hampir terpeleset ketika satu papan jembatan patah di bawah kakiku, dan Iblis dengan tenang menangkapku dengan satu tangan, seakan kejadian itu sudah diprediksi. Ketika kami menyeberangi jembatan, perasaanku campur aduk—antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang mendesak-desak.

Di sebuah tempat, dia memggeser sebuah batu, lalu tampak lorong kegelapan yang benar-benar gelap. Kami memasukinya. Sangat gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Aku terus berpegangan pada jubahnya. Hingga perlahan kulihat samar cahaya.

Kami tiba di sebuah tempat yang menyerupai desa kecil, dengan rumah-rumah tampak kosong, seperti telah lama ditinggalkan. Namun, tidak ada kesan suram di sana, hanya keheningan yang sedikit mencekam. Ia menuju ke sebuah bangunan sederhana, lalu masuk ke dalam. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan besar, dengan pelita kecil yang menyala di tengah, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Ia duduk di hadapan pelita itu, dan mengisyaratkan agar aku duduk di seberangnya.

“Kenapa kau ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku lelah dengan semua kebohongan yang ada di dunia ini,” jawabku, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba muncul. “Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sisi yang selama ini dianggap jahat.”

Ia tersenyum, kali ini lebih jelas, dan untuk pertama kalinya aku melihat kilatan humor dalam matanya. “Manusia selalu takut pada kegelapan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada banyak hal yang tersembunyi. Aku bukan sekadar wujud kejahatan, seperti yang kalian yakini. Aku adalah cerminan dari keinginan terdalam kalian, sisi yang kalian tolak tetapi tidak mungkin bisa dimusnahkan.”

Mendengar perkataannya, aku merasa seolah terperangkap dalam labirin pemikiran yang rumit. Semua hal yang kukira benar mulai goyah. “Tapi, tidakkah itu berbahaya?” tanyaku. “Menghadapi sisi kelam bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang yang dalam.”

Iblis tersenyum sinis, seolah tahu jawaban yang ingin ia berikan. “Kehidupan itu sendiri adalah risiko. Kegelapan tidak selalu berarti kejahatan; ia bisa jadi cermin bagi kebenaran yang kau cari. Yang kau anggap sebagai dosa sering kali adalah cara untuk mencari kebebasan, untuk mencari arti dalam hidup yang terperangkap dalam rutinitas yang membosankan.”

Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan bergetar dan sebuah balok besar jatuh dari langit-langit, hampir menimpa kami. Kami melompat ke samping, dan aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Iblis berusaha dengan canggung mengangkat puing-puing itu. Dalam kekacauan kecil itu, Iblis tersenyum, tampaknya merasakan absurditas situasi ini. Dalam sekejap, suasana yang mencekam berubah menjadi komedi hitam yang menggugah.

“Lihatlah,” katanya sambil mengangkat puing-puing dengan susah payah, “bahkan dalam kegelapan, kita bisa menemukan momen-momen lucu yang mengingatkan kita akan kemakhlukan kita.”

Aku terdiam, terpesona oleh cara pandangnya. Iblis itu menyadarkanku bahwa meskipun kehidupan bisa menyakitkan dan tidak terduga, ada keindahan dalam kesedihan itu.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana ia dahulu adalah malaikat yang jatuh, bukan karena kejahatan, tetapi karena ia mempertanyakan aturan yang menurutnya tidak adil. “Kebebasan adalah anugerah yang paling berharga,” katanya. “Namun, untuk memiliki kebebasan, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Aku memilih kebebasan, dan karenanya aku menjadi apa yang kalian sebut Iblis.”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang diucapkannya menggugah sesuatu dalam diriku yang selama ini terpendam. “Manusia,” ia melanjutkan, “sering kali menganggap keburukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi tidak pernah belajar darinya. Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari hal-hal yang kalian sebut sebagai dosa.”

“Apa yang bisa manusia pelajari dari dosa?” tanyaku, merasa semakin tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Kemandirian,” jawabnya tanpa ragu. “Aku mewakili keinginan untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada apa pun kecuali pada diri sendiri. Dalam setiap dosa, ada keinginan untuk bebas dari aturan, dari batasan, dari segala yang membatasi manusia menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi tentu saja, seperti yang kau tahu, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran.”

Seolah terhipnotis, aku membayangkan bagaimana dunia ini jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Seberapa sering kita menjauhi kegelapan, apalagi memikirkannya, padahal sebenarnya ia menyimpan pelajaran berharga. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sendiri penuh dengan batasan yang diciptakan oleh ekspektasi sosial. Aku merasa terjebak dalam persepsi yang dibentuk oleh orang lain, hingga kehilangan jejak diri.

Saat fajar tiba, dan aku harus kembali ke dunia nyata, Iblis itu memberiku pesan terakhir. “Jangan pernah takut untuk melihat ke dalam kegelapan,” katanya. “Mendekati bukan berarti melakukan, kau tentu tahu itu. Karena dalam kegelapan, kau akan menemukan bagian dirimu yang selama ini kau abaikan, kau kutuk-kutuk sebagai musuh yang menyesatkan. Tapi ingat, jangan pernah membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Mempelajari dosa tidak berarti harus melakukannya. Melakukan kebebasan bukan berarti menindas karena orang lain juga memiliki hak untuk bebas.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang penuh, tetapi juga dengan hati yang lebih ringan. Perjalananku untuk mencari kebenaran mungkin belum selesai, tetapi aku merasa telah menemukan arah baru. Iblis bukanlah musuh—yang menjadi musuh nyata adalah godaannya—, melainkan guru yang membimbingku melalui lorong gelap yang selama ini kutakuti. Cara mengalahkan godaannya adalah mempelajarinya. Aku belajar bahwa kebaikan dan keburukan tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa untuk memahami dunia ini dan diri sendiri, haruslah berani menghadapi setiap sisi gelap-terang dari diri kita sendiri.

Kembali ke kehidupan sehari-hari, aku membawa pelajaran dari Iblis itu. Aku mencoba untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan yang paling penting, aku berusaha untuk tidak takut pada kegelapan dalam diriku. Karena di sana, tersembunyi kekuatan yang bisa membantuku menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Tapi perjalanan ini tidaklah tanpa rintangan. Setiap kali aku berhadapan dengan kegelapan, bayangan Iblis itu terlintas dalam pikiranku. Ia adalah pengingat bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima dan dikelola. Di dalam setiap pengalaman pahit, ada pelajaran berharga.

Dengan pemahaman yang baru, aku mulai berani mempertanyakan norma-norma yang selama ini membatasi diriku. Aku bertanya pada diriku sendiri—apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan ketika aku menjawab, suara Iblis kembali terbayang, menegaskan bahwa kebebasan dan segala perbuatan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Di setiap langkahku, aku mulai merasakan kekuatan dari sisi gelap yang selama ini kutakuti. Dalam ketidakpastian, aku menemukan ketegasan. Dalam kegelapan, aku menemukan cahaya. Dalam setiap langkahku, aku selalu ingat: bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan mungkin, itulah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Dalam pengembaraanku untuk memahami diri sendiri, aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar jahat, dan bahwa di balik setiap kegelapan, terdapat kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.

Dan aku tak akan melupakan pengakuan iblis: Aku dibuang bukan karena ingin kekebasan, tapi kebodohanku yang kucoba tutupi dengan berlagak sok paling unggul dengan mengatakan “aku dari api, sedangkan dia hanya dari tanah”, sehingga tak sudi jika harus membungkuk apalagi menyungkur di hadapan moyangmu dan seluruh keturunannya.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Cerpen

Kekalahan yang Dimenangkan

Cerpen Septi Rusdiyana

Cerita ini bukan tentang aku, melainkan kisah kakakku, Nun. Perempuan yang mengaku telah jatuh cinta berulang kali pada suaminya. Terdengar sangat romantis, ya? Tapi percayalah, hanya dengan hati kamu baru akan benar-benar mengerti mengapa Nun bisa begitu.

Wonogiri, 28 Desember 2023. Aku turut dalam rombongan bus yang mengantar Nun dan suaminya, Satya, ke acara unduh mantu. Selesai acara, aku dan kedua orangtuaku memutuskan tinggal di rumah Satya, meski hanya semalam. Sebelum pulang, aku sempat ngobrol dengan Nun di kamarnya.

“Apa kau bahagia?” tanyaku.

Nun tersipu. Wajahnya nampak berseri-seri. Nun mengangguk semangat. Saking semangatnya, aku merasa hampir tidak lagi bisa mengenalinya. Benarkah seorang lelaki sanggup membuat wanita berubah begitu cepat? Nun memelukku. Mataku basah. Kali pertama, Nun meminta maaf dan berjanji akan menjadi kakak terbaik untukku.

Sejenak pikiranku melambung ke masa lalu. Di rumah, hubunganku dengan Nun tidak baik. Sejak kecil aku membencinya karena bapak ibu selalu membandingkanku dengannya. Nun beruntung, selain cantik, otaknya juga encer. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah gagal. Saking pintarnya, belum juga lulus kuliah, Nun sudah menjadi asisten dosen. Satu hal yang menurutku Nun tidak lebih unggul dariku: aku memiliki jauh lebih banyak teman, baik perempuan atau laki-laki. Tapi bagi Nun, sepertinya itu bukan masalah. Karena hampir seluruh waktunya memang tersita hanya untuk belajar dan bekerja.

Aku tidak banyak berinteraksi dengan Nun. Sejak SMA aku memilih sekolah di luar kota, sekadar ingin terlepas dari beban mental di rumah. Hingga suatu malam yang gerimis, tiba-tiba Nun datang ke kost-ku. Tentu saja aku terkejut. Tidak hanya itu, aku ngomel-ngomel saat ia menerobos masuk lalu berbaring di kasurku. Matanya terpejam. Ia tidak memedulikan ocehanku. Saat aku hampir saja menarik tangannya, tubuh Nun terguncang, disusul isakan yang semakin lama semakin keras. Aku bingung harus melakukan apa, karena selama ini kami tidak dekat. Aku memilih duduk di sampingnya, membiarkannya menangis hingga selesai. Setelah Nun bisa bercerita, aku akhirnya tahu, ia menjadi seperti tadi karena rekan dosen yang ia kira menyukainya, akan menikah dengan perempuan lain. Celakanya, perempuan itu merupakan rekan sesama dosen di kampus tempat Nun bekerja.

Sejak itu, Nun memutuskan resign dan memilih menjadi relawan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Sejak itu pula, aku tinggal di rumah. Kebetulan kuliahku sudah selesai dan tinggal mengerjakan skripsi.

Hampir setiap hari Nun menghubungiku. Aku juga mulai membuka diri. Bahkan, aku menjadi orang pertama yang tahu kalau Nun akhirnya menjatuhkan hati pada seorang lelaki bernama Satya. Sayang, saat Nun pulang dan menceritakan perihal rencananya, bapak ibu tidak setuju. Menurut mereka, Satya tidak akan sanggup menghidupi Nun, karena lelaki itu hanya seorang buruh tani. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah Nun. Meski tidak menangis, bibirnya terus bergetar. Seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.

Hari-hari terlewat dengan biasa saja. Suatu pagi, saat aku masuk ke kamar Nun, kudapati tubuhnya bersandar di dekat lemari. Saat kudekati, tubuhnya tak bergerak. Wajah Nun pucat dan terdapat luka sayat di pergelangan tangannya.

“Aku sangat bahagia. Satya menjadi milikku.” Suara Nun menyadarkanku kembali.

“Terus kabari aku, ya?” sahutku. Nun mengangguk.

Sebelum aku dan kedua orangtuaku pamit, aku sempat berjabat tangan dengan Satya. Entah, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kurang baik, tapi aku memutuskan mengenyahkan rasa itu.

Dua bulan setelahnya, Nun menelepon saat tengah malam. Ia bercerita kalau Satya belum pulang. Ia sangat cemas. Saat aku menanyakan ke mana suaminya, aku merasa Nun sedang menutupi sesuatu. Apa yang ia tuturkan seperti tidak menjawab apa yang kutanyakan. Namun saat ia mengakhiri panggilan karena Satya sudah pulang, aku kembali mengabaikan rasa itu.

4 April 2024. Setelah mengambil data tambahan di Solo, aku menghubungi Nun. Memberi kabar padanya kalau aku ingin mampir ke Wonogiri. Nun dan Satya menyambutku dengan senang. Aku diminta tinggal selama beberapa hari di sana. Meski rumah dan kehidupan yang mereka jalani sangat sederhana, keduanya terlihat bahagia. Apalagi saat Nun memberitahuku kalau ia sedang hamil. Aku ikut senang mendengarnya.

Pada malam ke-4, aku sulit tidur dan memutuskan duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel. Tidak lama, pintu terbuka. Satya masuk ke rumah. Aku menyapanya, lalu sengaja berbasa-basi agar dia mau menemaniku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku memulai obrolan.

“Habis ronda. Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Satya balik.

“Nggak bisa tidur.”

“Mbakyumu nggak bangun, kan?”

Aku menggeleng.

“Dia itu paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah. Padahal aku juga nggak ke mana-mana, paling di gardu ronda depan.” Satya mulai menyalakan rokok di mulutnya.

Merasa mendapat angin, aku mulai banyak bertanya untuk memuaskan hasrat keingintahuanku. Maklum, sejak awal aku belum mengenal Satya dengan baik. Entah karena terlalu polos atau bagaimana, dia merespons semua pertanyaanku apa adanya. Aku tidak berhasil menangkap sebuah kebohongan di wajah dan suaranya. Salah satu pertanyaan yang kuajukan adalah alasan mereka memutuskan menikah. Satya kemudian bercerita panjang kalau pertemuan awalnya dengan Nun adalah ketika Nun mengajar anak-anak usia dini di balai desa.

“Saat itu aku datang untuk memperbaiki pintu kamar mandi. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget. Buru-buru aku melepas pelukan itu. Takut dilihat orang lain yang nantinya bisa muncul fitnah.”

Aku mendengar ceritanya dengan khusyuk. Singkat cerita, aku akhirnya tahu, rupanya Nun yang selama ini mengejar-ngejar Satya agar mau menikahinya. Bahkan, Nun sempat beberapa kali mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Satya terus menolak.

“Itu yang pada akhirnya membuat Mas luluh?” tanyaku.

Satya menggeleng. Dia mengatakan kalau hanya soal ancaman, dia bisa mencari cara untuk membebaskan diri.

“Dia bilang wajahku mirip sama lelaki yang disukainya, tapi lelaki itu memilih menikahi perempuan lain,” Satya menjeda bicaranya. “Biar orang miskin, aku tetap laki-laki yang punya harga diri. Itu sudah menjelaskan kalau mbakyumu mencintai orang lain. Bukan aku,” lanjutnya lagi.

“Lalu apa alasannya dong?” tanyaku semakin penasaran.

“Simbok,” jawab Satya. “Beberapa hari setelah kejadian itu, malamnya almarhumah simbok datang lewat mimpi. Di situ simbok bilang: Sing sabar yo, Le. Uripmu yen iso manfaat, iso nylametke uriping liyan, berkah uripmu (Yang sabar ya, Nak. Hidupmu jika bisa bermanfaat, bisa menyelamatkan hidup orang lain, maka berkahlah hidupmu),” lanjut Satya menirukan ucapan ibunya.

Aku tercekat. Dadaku berdesir. Orang yang selama ini kupikir menyimpan maksud buruk pada Nun, ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

“Sudah dulu ya, ngobrolnya dilanjut besok lagi.” Satya berlalu menuju kamar tanpa menunggu responsku.

Aku terpaku di bangku kayu dengan banyak sekali pertanyaan lanjutan. Apakah Nun mencintai Satya? Apakah Satya mencintai Nun? Apakah mereka sedang saling menyakiti? Kehidupan macam apa yang saat ini mereka jalani? Apakah mereka bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan sepertinya, aku tidak ingin mengerti.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu dari dua putri cantik bernama Negar dan Nala. Anggota komunitas menulis Kamar Kata.

Cerpen

Seorang Laki-laki dan Mainan Favoritnya

Cerpen Titi Setiyoningsih

“Laki-laki hanya akan merusak mainan favoritnya,” katamu sekian kalinya di depan cermin. Tampak tanda kebiruan di bawah matamu, merah muda di sudut bibir, dan sayatan kecil di kening atas.

Pelan sambil meringis kesakitan kamu tepuk-tepuk concealer dengan beauty blender untuk menyamarkan warna tanda luka itu. Perih. Sakit. Tapi tak sesakit yang dirasakan hatimu. Lalu agar lebih sempurna, kamu tambahkan foundation, bedak tebal, lengkap dengan blush on dan gincu nude merah jambu.

Terdengar ketukan pintu apartemen. Wajahmu yang semula muram otomatis kau tarik seceria mungkin. “Halo, ayo masuk,” ujarmu berusaha menutupi kegelisahan. Dua perempuan itu serta merta memelukmu. Erat sekali. Sampai pundakmu yang masih lebam kembali terasa sakit. Tapi kamu tak boleh mengaduh, kamu harus meyakinkan mereka bahwa kamu baik-baik saja.

“Gimana keadaanmu?” tanya mereka. “Gila ya laki-laki itu! Sudah berapa kali dia melakukan ini sama kamu? Berita kalian sudah viral di mana-mana! Untung ada yang ambil videonya!”

Kamu persilakan mereka duduk di sofa paling nyaman di pojok ruangan. “Bisa-bisanya lima tahun kamu bertahan dengan laki-laki sekasar itu? Kamu sudah putusin dia, kan?”

Kamu menggeleng pelan. Kedua sahabatmu yang sekarang merangkap tim pengacaramu menampilkan raut tak percaya.

“Kenapa belum?”

Bendungan di matamu tak bisa lagi kau tahan. Jebol disusul tangis sesenggukan. Sahabatmu kembali memelukmu. “Please, bantu aku cabut laporanku, aku berubah pikiran,” bisikmu. “Kalau kalian sayang aku, tolong bantu cabut laporanku kemarin,” rintihmu.

“Dia mukulin kamu di depan umum lho, semua orang sudah tahu sekarang. Kamu diancam dia?” tanya salah satu dari mereka.

Kamu hanya diam dan menggeleng. Bagaimana cara menjelaskan kepada kedua perempuan ini? Mereka tidak akan percaya dengan ceritamu. Selama ini ada suara di kepala laki-laki itu. Suara-suara itu memanggil hujan lebat disertai petir yang membuat laki-laki itu mengakhiri hari-hari indah penuh kesenangan mereka.  Kamu terlalu tahu banyak tentang laki-laki itu yang mereka tidak tahu. Apalagi setiap kali dirimu teringat tatapan laki-laki itu saat pertama kali mendapatkanmu. Mereka berdua mesti melihat bagaimana tatapan mata itu berbinar kala itu.

“Dia begitu karena cinta sama aku. Kasihan dia,” katamu akhirnya.

“Kamu nggak kasihan sama Mama Papamu? Kami semua nggak mau kamu disakiti!” nada mereka kini mulai meninggi.

Kamu mulai gelisah dan menggigiti kuku. Kamu mendadak tak lagi mengenal kedua perempuan di depanmu. Mereka tak lagi memahamimu sama seperti kedua orangtuamu. Mereka masih terperangkap dalam kardus plastik di toko mainan. Sedangkan laki-laki itu telah mengeluarkanmu dari kotak kardus di pajangan. Membawamu ke dunia luar, mengambil semua rasa sakit, dan membuat hidupmu jauh lebih nyata. Dirimu dan laki-laki itu sama-sama memiliki luka di masa yang lampau. Luka yang hanya bisa dipahami kalian berdua, tidak dengan lainnya.

Sebelum kamu bertemu dengannya, hidupmu jauh lebih merana. Beberapa kali kau coba sayat tanganmu dengan pisau dapur. Tak ada yang betul-betul mengerti kamu. Juga dunia yang ditawarkan kedua orangtuamu terkesan kosong. Kaku. Seperti mesin. Juga sekeras batu. Lalu datang laki-laki itu menarikmu ke dunia baru. Dunia sesungguhnya, real, bukan imitasi. Dunia yang terasa gila sekaligus memabukkan. Dia memperlakukanmu dengan hati pun pengertian. Sejak itu tak lagi terlintas pisau dapur yang menggorok tanganmu. Dia memberimu warna. Kadang merah muda ketika kalian kasmaran. Biru saat kamu rindu. Abu-abu saat hujan, kelabu seperi sekarang. Tapi tak pernah hitam seperti yang dulu keluargamu lukiskan padamu.

“Kalau dia cinta kamu, dia nggak mungkin nyakitin kamu. Dia nggak mungkin mukul kamu sampai pingsan,” ujar sahabatmu kembali melembut.

“Kalian tak mengerti. Akulah favoritnya. Laki-laki hanya akan merusak sesuatu yang menjadi favoritnya,” katamu mulai melamun. Bukankah demikian? Bocah laki-laki hanya akan menyentuh dan seringkali tak sengaja merusak mainan favorit yang kerap dimainkannya.

Air matamu kembali mengalir. Disusul buliran keringat di kening. Kali ini membuat bedakmu luntur. Kedua temanmu terperangah dengan wajahmu yang tampak mengerikan. Kebiruan di bawah mata dan merah muda di sudut bibir. Kamu menyadari arti tatapan mereka.

“Aku akan memperbaiki diriku. Setelah aku memperbaiki diriku, dia akan merindukanku,” ujarmu setengah berbisik.

“Laki-laki itu sudah membuangmu!” kata sahabatmu jengkel.

“Setelah aku memperbaiki diriku lagi, dia akan merindukanku,” katamu ke sekian kali. “Sekarang kalian pulanglah!” ***


Titi Setiyoningsih, dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS). E-mail: [email protected]

Puisi

Puisi Aris Rahman Yusuf

Rumah Bambu

Saat membersihkan rumah

terlintas olehku

tentang sebuah ingatan

rumah bambu

berdinding kata mutiara

Di kamar tengah

aku pernah tenggelam

oleh banjir air mata

sebab sebuah kepulangan

Setelah kepulangan

bayangan lesap

kata-kata tergenggam erat

dan, ketika lepas

ia beraroma mawar

Mojokerto, 9 Agustus 2024


Meditasi

pejamkan mata

dari serpih duka

terserak

tutup telinga

dari bising lisan

menekan iman

biarkan napas turun-naik

mengempas segala selidik

menarik tali cahaya

mengikat legam prasangka

Mojokerto, 3 September 2024


Filosofi Pelukan

Pada mulanya, cinta adalah gaib.

Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.

Pada mulanya, kita hanya sendirian.

Hingga akhirnya, tercipta pasangan.

Dari sebuah sepi,

tercipta rindu yang mengisi.

Sebuah peluk,

hadir dari lamun yang ramai

mengusik damai.

Sebab pelukan,

adalah obat manjur

menutup luka bakar.

Mojokerto, 14 September 2024


Masih Bisakah Aku Menulis

aku masih ingin menulis

namun kata-kata terasa habis

sajak-sajak terasa kikis

membuat hati seakan teriris

sajak-sajakku mungkin terbang

berkelana mencari sarang

hinggap pada sebuah kepala

yang merindukan nyala

sajak-sajakku mungkin kritis

sehingga sulit untuk ditulis

masih bisakah aku menulis?

ataukah menunggu hati kalis

Mojokerto, 14 September 2024


Hadiah Puisi

akhirnya kita memilih

untuk saling berpegangan

setelah badai mengguncang

tubuh kapal dengan kenestapaan

kita pernah memilih

untuk saling menjauh

hingga jerih mulai berlabuh

kita saling mempersembahkan puisi

untuk kembali saling mengisi

meski masih ada mulut latah memprovokasi

mulut yang bilang itu basi

Mojokerto, 15 September 2024


Saat Makan Nasi

Ia makan nasi dengan wajah pasi

lidahnya pelan menelan duka

pikirannya hanya berperang

tanpa berani keluar dari sarang

Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil

hanya jerit mengisi ruang dada

ia tetap menghitung almanak

hingga jerit lepas satu-satu

Ia makan nasi dengan perlahan

Sambil menyembunyikan duka tertahan

Mojokerto, 30 September 2024


Sebuah Wajah

Sebuah wajah tergeletak di meja

wajah itu tertutup rahasia

mengajak mata menyelam

memetik tabir yang karam

Wajah itu bisa berubah warna

mencairkan suasana

menyalakan cinta

melenyapkan duka

bahkan menanam petaka

Wajah itu memancarkan cahaya

di alam baka

Mojokerto, 1 Oktober 2024


Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.

Cerpen

Sumbangan Awal Tahun

Cerpen Puput Sekar

“Baik, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, berarti Bapak dan Ibu di sini menyepakati keputusan barusan, ya. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk sumbangan awal tahun ini,” pungkas Murtado, Kepala Sekolah SD Negeri Kabutsari yang menjadi pimpinan rapat awal tahun di sekolah itu.

Murtado mesam-mesem semringah. Rapat kali itu tidak terkendala apa pun. Seperti biasa uang sumbangan akan mengalir lagi untuk pembangunan sekolah itu yang rencananya akan dipakai untuk pengadaan CCTV, perbaikan pagar, pembangunan aula, perbaikan lapangan basket. Dalam waktu tiga tahun menjabat di sekolah itu, ia telah banyak melakukan pembangunan yang berhasil dilaksanakan. Tentu saja ini akan menjadi hal baik bagi sekolah, juga bagi kelangsungan kariernya.

Sejak dulu kemampuannya dalam bernegosiasi dengan wali murid selalu berdampak positif. Jarang ada sanggahan atau keberatan mengenai program sekolah yang telah ia tetapkan. Semua berjalan lancar.

Sementara di bangku wali, Ali mendengar kasak-kusuk wali murid lainnya yang membuatnya ingin bergerak.

“Aku aja belum bayar LKS, uang kas kelas, eh ini udah diminta uang sumbangan,” bisik perempuan yang duduk di depannya kepada teman duduknya.

“Iya. Sekarang apa-apa mahal. Ditambah uang sumbangan. Katanya sumbangan, tapi kok dipatok nominal dan ada tenggat waktu maksimal pembayaran,” bisik yang lainnya.

“Gaji suamiku hanya dua juta rupiah. Dibagi-bagi buat macam-macam. Kalau awal tahun begini, ruwet urusan.”

Dan bisikan-bisikan itu semakin lama semakin berdengung seperti sekumpulan tawon. Bukan hanya mengganggu gendang telinga Ali, tetapi juga mengusik hati nuraninya. Sayangnya suara-suara dengung itu terdengar berbeda di depan kelas. Terlebih bagi pendengaran Murtado. Ia sama sekali tidak mempedulikan dengungan. Ia hanya mempedulikan fakta yang sampai pada penglihatannya bahwa sampai ia selesai memberikan penjelasan tidak ada satu pun dari mereka yang berdengung tidak setuju dengan keputusannya.

Dengung keberatan itu tidak pernah sampai ke telinga Pak Murtado. Justru sikap taat dan patuh pada keputusan pria paruh baya itu. Sejurus kemudian Ali tunjuk tangan. Ia merasa perlu menjadi jembatan kasak-kusuk yang ia dengar.

Wajah semringah Murtado seketika berubah mengernyit ketika seorang lelaki yang duduk di bangku belakang tunjuk tangan. Lelaki itu lalu berdiri. Tubuhnya kurus dan ringkih. Murtado menyambutnya dengan tersenyum, meski kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.

“Nama saya Ali, wali murid dari Adiba.” Dengan suara serak lelaki itu memperkenalkan diri.

Ternyata bukan saja tubuh ringkihnya yang kurang sedap dipandang mata, suaranya juga mengganggu pendengaran. Di tenggorokannya seperti penuh dengan dahak yang mengumpul, dan itu terdengar menjijikan bagi peserta rapat lainnya.

Murtado mulai mengerti situasi. Ya, setiap tahun pasti ada saja wali murid yang keberatan dengan uang sumbangan yang menurutnya sangat kecil, dan memang kecil jika dibandingkan sekolah sekolah negeri lainnya. Murtado merasa telah berhitung dengan cermat mengenai rencana anggaran biaya yang telah ia keluarkan. Ia mengerti dengan kondisi perekonomian mereka yang empot-empotan. Maka ia menetapkan nominal yang kecil. Barangkali jika ada orang tua seperti Ali yang mengajukan keberatan, ia cukup maklum. “Silakan, Pak Ali,” ujar Murtado ramah.

“Saya keberatan. Terus terang saya menyekolahkan anak saya di sekolah negeri karena yang saya tahu tidak ada pungutan apa pun. Sebab memang sekolah negeri dibuat minim biaya agar orang tidak mampu seperti kami tetap bisa merasakan pendidikan. Bukan begitu, Pak?”

“Benar, Pak Ali.”

“Nah jika begitu, mengapa Bapak menetapkan patokan biaya kepada kami siswa kelas satu? Bahkan Bapak mengatakan mematok hal serupa kepada setiap kelas setiap tahunnya. Berarti sama saja dengan daftar ulang. Maaf, ini sumbangan atau iuran wajib, Pak?”

“Sumbangan, Pak. Sumbangan biaya pembangunan.”

“Kok jadi rancu kedengarannya, ya, Pak. Sumbangan tetapi diwajibkan. Kenapa Bapak tidak menetapkan saja sebagai iuran wajib? Jika iuran wajib seperti itu kan enak, Pak. Saya bisa melaporkan kepada dinas terkait bahwa ada pungutan liar di sekolah ini.”

Wajah Pak Murtado memerah. Ia tidak menyangka kalimat menusuk itu keluar dari lelaki kerempeng seperti Ali. Tetapi ia harus tetap tersenyum. Senyum itu sudah puluhan tahun ia latih, terutama pada situasi genting dan memuakkan seperti ini.

“Saya bisa jelaskan, Pak Ali?”

Ali mengangguk, meski wajahnya mengeras. Sebenarnya sudah sedari tadi ia tahan pernyataan keberatannya. Sebenarnya jika dikatakan keberatan, tidak juga. Ia masih mampu membayar besaran uang lima ratus ribu rupiah itu.

“Begini, Pak,” lanjut Murtado, “Uang limaratus ribu rupiah itu barangkali berat bagi bapak, tetapi itu bukan buat saya. Itu untuk kepentingan sekolah, sebab pemerintah saat itu sudah tidak lagi menurunkan uang untuk pengembangan sekolah. Maka kami berinisiatiaf untuk melakukan swadaya antara pihak sekolah dan wali murid. Hal ini dibolehkan, Pak, selama ada kesepakatan dengan wali murid.”

“Kalau saya tidak sepakat, Pak?”

Murtado masih menjaga senyumnya, juga berusaha mengelola emosinya dengan baik, meski ia akui bahwa perasaannya teracak-acak oleh Ali.

“Silakan, Pak. Jika tidak sepakat, Bapak bisa ke ruangan saya. Kita bicarakan secara personal. Semua bisa dikomunikasikan. Nanti saya akan berikan keringanan untuk Bapak.”

“Tapi saya tidak mau ke ruangan, Bapak. Ini bukan masalah keringanan. Saya tidak mau mengemis untuk itu. Saya ingin hak saya sebagai wali murid.”

‘Asyem!’ Murtado mengumpat dalam hati. Ia mulai jengkel. “Maaf, hak yang seperti apa maksud, Pak Ali?”

“Tadi Bapak bilang pemerintah membolehkan menarik pungutan, asal berdasarkan kesepakatan dengan wali murid. Nah, saya kan bagian dari wali murid, Pak. Saya tidak sepakat!”

“Sekali lagi, Pak, Anda bisa mengajukan keringanan di ruangan saya.”

“Tapi saya tegaskan lagi, saya tidak mau mengemis seperti itu.”

Murtado menarik napas. Seketika ruangan mulai riuh. Dengungan itu terdengar lagi seperti tawon. Wali murid yang lain diberikan suguhan tontonan drama yang tidak kalah menariknya dari drama politik pemilihan kepala daerah belakangan ini.

“Pak Ali, sekali lagi saya jelaskan; uang itu bukan untuk saya, tetapi untuk pengembangan sekolah. Bapak bisa cek di beberapa sekolah negeri di dekat sini. Semua telah menjadi hal lumrah, Pak. Apa Bapak tidak ingin sekolah anak kita ini menjadi sekolah yang maju. Saya hanya berperan sebagai fasilitator.”

“Berarti ini sama saja dengan pungutan liar kan, Pak?”

“Lho kok pungutan liar? Kalau pungutan liar, Bapak dan Ibu wali murid tidak saya kumpulkan di sini. Kita berkumpul di sini untuk musyawarah.”

“Musyawarah atau mendengarkan keputusan Bapak? Musyawarah atau terpaksa menuruti keinginan pihak sekolah?”

Darah Murtado sudah sampai di ubun-ubun. Tetapi ia berusaha sekuat tenaga menjaga sikapnya. Ia sadar, zaman ini adalah zaman viral. Ponsel di mana-mana, mana tahu ada yang diam-diam merekam perselisihannya dengan wali murid.

“Sekarang begini saja, Pak. Saya kembalikan kepada Bapak Ibu wali murid di sini.” Murtado lalu beralih kepada wali murid yang lain. Wali murid yang tengah terkesima dengan peristiwa menakjubkan barusan.

“Bapak dan Ibu, mohon maaf, sekarang yang mengajukan keberatan seperti Pak Ali, silakan tunjuk tangan,” ucap Murtado dengan suara penuh penekanan.

Murtado memandangi wali murid satu per satu. Mereka semua diam. Tidak ada yang menunjuk tangan kecuali Ali. Hal itu telah cukup bagi Murtado untuk memberikan jawaban pamungkas kepada Ali.

“Pak Ali, mohon maaf. Sudah lihat, kan? Semuanya diam. Artinya Bapak dan Ibu semua setuju, ya?”

“Setuju!” jawab mereka serempak. Seperti sebuah alunan koor yang bersatu padu. Menciptakan nada harmonis pada pendengaran Murtado. Sebaliknya, bagi Ali, suara itu terdengar seperti suara para pasukan pengkhianat. Rahang Ali mengeras. Ia tahu, ia sedang dilucuti oleh orang yang sedang ia bela.

“Nah, Pak Ali. Jelas, ya. Semuanya sudah setuju. Jadi kalau Bapak tidak setuju, silakan ke ruangan saya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Saya tidak pernah ada maksud memberikan pungutan liar. Pungutan ini murni atas kesepakatan wali murid lainnya,” terang Murtado dengan tenang. Senyumnya mengembang, senyum kemenangan.

‘Jancuk!’umpat Ali dalam hati. Matanya memandang seluruh ruangan kelas.

Lagi-lagi terdengar suara berdengung tertuju kepada Ali. Dengan gusar Ali meninggalkan ruangan. Meninggalkan sorot mata menyala kepada Murtado dan semua wali murid di ruangan itu.

Murtado masih berusaha tersenyum, meski keringat sudah membasahi punggungnya. Ia lalu menutup rapat kali itu dengan mengucapkan syukur.

“Tenang, Pak, saya punya video lengkapnya. Kalau sampai orang itu nekat membuat keributan di luar, kita bisa counter  dengan video ini. Apalagi tadi Bapak tetap tenang menghadapinya,” bisik Pak Bandri-wakilnya.

Murtado mengangguk-angguk lega. Lalu melempar senyum kepada semua peserta rapat.

Sementara dari bangku siswa, suara-suara itu terdengar lagi. Suara dari orang yang didengar Ali. Orang-orang yang itu-itu lagi.

“Hidup lagi susah, malah cari masalah. Padahal solusinya jelas, kalau keberatan tinggal minta keringanan di ruang kepala sekolah. Gitu aja kok repot!”

“Udah miskin, sok enggak mau ngemis!”

“Yah, namanya juga menuntut ilmu. Pungutan uang untuk fasilitas itu wajar. Kalau sekolah bagus, yang untung kan anak dia juga. Kok malah marah-marah enggak jelas.”

“Setiap liburan bisa jalan-jalan, kulineran, ngajak anak berenang. Giliran disuruh sumbangan alot! Pakai muter-muter omongannya!”


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Cerpen

Naga/Na.ga /n Suatu Hari, Suatu Hari Roti Kukus Jadi Bubur

Cerpen Beri Hanna

Seekor naga dan roti kukus menjadi bubur selalu terbayang ketika saya membaca novel karangan Nawir. Dia melihat seorang berjalan kemudian menghilang pada suatu malam. Entah apa maksudnya. Kata-kata seperti baris puisi dalam gelas wiski. Kuat seperti akan membekas tetapi cepat terlupakan ketika kau tertidur.

Saya selalu bertanya, mengapa seseorang bisa makan roti dan seseorang yang lain bisa memakan kacang? Pertanyaan saya berlanjut hingga apa pentingnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu! Kadang saya merasa pusing, kadang kala tidak. Kadang saya diam memikirkan sesuatu yang diam dan sunyi, dalam arti tidak ada. Ketika saya sampaikan apa yang saya pikirkan ini kepada seorang teman, dia kemudian berkata, lebih baik saya menggiling biji kopi kemudian merebus air.

Masalahnya saya selalu lupa, di mana saya telah menyalakan kompor gas untuk memanaskan air. Apakah benar di dapur? Tetapi perasaan saya, tidak demikian, melainkan di sebuah lorong semacam pipa parabola. Kadang tiap kali mengerjakan sesuatu saya selalu teringat hal lain. Seperti gangguan sinyal satelit yang menyedot piksel menjadi titik semut.

Seperti seorang anak kecil pernah menyanyikan lagu Benyamin Sueb, Kompor Meleduk. Hati-hati, kata anak kecil ini kemudian mengingatkan. Dalam lirik lagu itu, ada kata Jakarta Kebanjiran. Apakah benar? Saya tidak tahu karena tiang parabola di rumah seingat saya telah menjadi dapur.

“Apa, sih yang kamu pikirin?” begitu tanya teman saya, seperti kesal. Tapi saya diam, tidak menjawabnya.

Saya selalu ingin diam dalam kata-kata sebuah cerita yang mengganggu. Karena itu akan membuat saya sibuk bertanya. Menimbang satu keadaan dengan keadaan lain. Tapi saya selalu dianggap aneh.

Tentang seekor naga dan roti kukus, kerap dianggap semacam ilusi yang diada-adakan dalam igauan. Saya berkali-kali diingatkan untuk tidak membaca novel. “Semua novel itu racun,” kata teman saya, keras melarang. Dan karena saya tidak peduli, takdir membawa semua novel-novel itu terkubur pada suatu tempat yang tidak lagi diketahui.

“Suatu hari kau pasti paham,” kata teman saya.

Saya memang akhirnya mengerti, bahwa hidup teman saya, bernasib seperti novel-novel itu.

Seorang tetangga yang selama ini tidak peduli, mengantarkan saya pada sebuah tempat, dan dia menunjuk sambil berkata meyakinkan, “Di sini temanmu tertidur.”

“Suatu hari,” katanya yang tak ingin saya dengar. Saya tahu, dia mungkin akan berkata persis seperti yang ditulis Nawir di dalam novelnya. Seseorang bisa saja berjalan pada suatu malam dan kemudian menghilang begitu saja. Tanpa diketahui, tanpa diinginkan kembali.

Saya tak berkata apa-apa saat itu. Dan tak berlama-lama di tempat itu. Saya segera pulang, kemudian menyalakan teve mencari hiburan. Mencuci baju, mengisi teka-teki silang, berjalan-jalan mencari udara dan memesan tiket bioskop tanpa teman saya.

Hari-hari berjalan seperti biasa, persis ketika saya selalu membayangkan naga dan roti kukus jadi bubur. Seorang anak kecil masih menggemari lagu Benyamin. Ia selalu bernyanyi keras sehingga saya ikut hafal bagaimana lagu itu seharusnya dinyanyikan.


Beri Hanna, penulis dan arsiparis liar.

Cerpen

Sahabat Sehidup Semati

Cerpen Ken Hanggara

Aku pulang dari menjenguk sahabatku di rumah sakit dalam keadaan melamun selagi bermotor. Di sebuah tikungan, dari arah lain, sebuah truk melaju kencang, nyaris melibasku. Aku banting setir ke kanan, tapi dengan cepat kukendalikan keseimbangan. Malam itu tidak terjadi apa-apa. Aku tiba di rumah dengan selamat, tapi tubuhku sangat lemas. Segera aku berbaring menenangkan diri. Pikiranku tersita oleh satu-satunya yang nyaris tak pernah kupikirkan: kematian.

“Bagaimana jika seseorang tiba saatnya mati? Apa ia menyadarinya? Atau, maut datang begitu saja tanpa peringatan?”

Aku tak tidur semalaman hanya karena tahu, sedikit saja motorku salah kukendali tadi, mungkin kini tubuhku sudah tak keruan lagi bentuknya; dilibas truk sebesar itu.

Memikirkan itu, aku benar-benar ketakutan.

***

Mudakir, sahabatku itu, koma dan divonis menderita penyakit tertentu. Aku tidak bisa mengingat nama aneh penyakitnya, tetapi yang jelas dia sakit berat.

Aku kenal Mudakir saat SMP. Waktu itu, kami tertangkap basah hendak kabur dari pagar belakang saat jam istirahat. Aku dan Mudakir sama-sama murid nakal. Kami akrab setelah tahu ada banyak kesamaan di antara kami.

Aku dan Mudakir sama-sama tidak memiliki bapak. Bapak kami meninggal dunia ketika ibu kami masih mengandung kami. Dan, tahu apa yang terdengar aneh dan ajaib? Ibu kami sama-sama tahu bapak kami sebenarnya sudah mempunyai istri di kota lain, tetapi pasrah dan menerima keadaan itu. Meninggalnya bapak kami mendatangkan dua orang asing ke rumah kami yang berdiri di lokasi berbeda; dua wanita yang lebih muda dari dua ibu kami. Aku percaya wajahku dan Mudakir sama terlihat kagetnya ketika para istri muda itu mengaku di depan ibu kami masing-masing bahwa mereka adalah orang yang juga berduka, meski kami berada di lokasi (dan waktu) yang berbeda.

Yang perlu diperjelas di sini, agar cerita ini tidak salah dipahami, baik aku maupun Mudakir punya cerita masing-masing. Artinya, bapak kami dua individu yang berbeda fisik, tetapi memiliki kesamaan yang nyaris seratus persen dari segi nasib.

Aku dan Mudakir heran pada kisah hidup kami yang hampir sama, sehingga sejak tahu rahasia masing-masing ini, kami pikir kami tidak mungkin berpisah. Kami pikir kami ditakdirkan untuk berteman sampai kiamat.

Segala yang Mudakir sampaikan padaku, entah soal kesedihan atau kegembiraan yang dialaminya, selalu memberi dampak yang sama padaku, dan begitu pula jika aku yang membawa kabar-kabar tertentu; Mudakir juga selalu dapat merasakan sensasi yang sama dengan yang kurasa.

Keadaan ini membuat kami kadang-kadang dianggap sebagai dua makhluk aneh di sekolah. Kami bukan saudara, tidak juga punya hubungan kekerabatan, dan baru ketemu di tahun kedua di bangku SMP. Bagaimana mungkin pada titik ini kami merasa bertemu sosok yang seakan-akan saudara kembar yang dapat merasa segala yang dialami antara satu dan lainnya?

Ibu kami sama-sama tertawa dan menganggap kami lucu waktu kami saling balas mengunjungi rumah. Suatu hari saat di rumah Mudakir, kepalaku dielus-elus ibunya dan beliau berkata, “Kamu seperti anak saya sendiri. Sering main ke sini, sering menghihur Mudakir. Sering nginap. Senang ada kamu. Anak saya jadi tidak kesepian!”

Tahu apa yang lagi-lagi terdengar aneh dan ajaib? Setelah Mudakir bertamu ke rumahku sebanyak sebelas kali (serupa dengan jumlah kunjunganku ke rumahnya), ia disambut ibuku dengan kalimat yang sama persis dengan kalimat sambutan ibu Mudakir saat terakhir kali aku bertandang ke rumah mereka!

Aku tidak tahu garis takdir macam apa yang mengatur semua ini, tetapi tentu saja di atas sana, Tuhan mengerjakan sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku sendiri termasuk orang yang rajin beribadah, dan … ah, inilah yang membedakan kami. Antara aku dan Mudakir, yang membedakan hidup kami hanyalah soal sering atau tidak seringnya kami menjalankan perintah-Nya.

Meski nakal, aku dikenal sebagai siswa yang pandai mengaji dan hafal beberapa surah panjang dalam Alquran. Beda dengan Mudakir yang pemalas jika harus berangkat mengaji. Akibatnya, ia sering menungguku di kebun atau di sawah atau di mana pun dia bisa, sehingga kami akan bersepeda entah ke mana selepas jam mengaji kelar.

Aku sendiri kadang-kadang tidak setuju usul Mudakir tentang beberapa hal, misal ketika dia berhasrat memberikan pelajaran pada penjaga sekolah dengan membocorkan ban motornya. Kubilang pada Mudakir saat itu, “Jangan begitu. Beliau juga galak demi pekerjaannya!”

Dan, Mudakir hanya dapat menyahut, “Kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya kamu tidak seru lagi!”

Hanya saja, meski beberapa kali berdebat soal seperti ini, kami tetaplah sepasang sahabat yang lekat karena memiliki lebih banyak kesamaan. Di tahun-tahun berikutnya, setelah kami masuk kuliah dan lulus dan mendapat pekerjaan di tempat yang kami juga inginkan, kami tahu perbedaan kecil antara kami yang kusebutkan di atas seakan tiada artinya. Aku memaklumi kebandelan Mudakir ketika dia sengaja pergi ke suatu tempat dan meninggalkan kewajiban beribadah. Saranku tidak pernah benar-benar dia hiraukan dan dia hanya berkata, “Aku ditakdirkan bukan sebagai orang alim.”

Pada suatu hari, ketika aku sedang sibuk menenangkan anakku yang sakit demam, sebuah telepon masuk ke ponselku. Dari istri Mudakir; ia bilang, suaminya sedang kritis dan dibawa ke rumah sakit.

“Tiba-tiba pingsan, Mas!” kata wanita itu di seberang telepon.

Aku pun meninggalkan anak dan istriku, lalu meluncur ke rumah sakit sore itu juga. Di sana kutemukan sosok yang nyaris seratus persen bernasib sama denganku selama ia hidup di muka bumi ini sedang terbaring lemah tak berdaya.

Dua hari berlalu. Dokter mengajakku menepi ke pojok ruangan yang dihuni oleh empat pasien, dan dengan tampang prihatin dia berkata, “Kemungkinan hidup Saudara Mudakir ini amat kecil, Pak. Maafkan kami.”

Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi dokter mengulangi, bahwa apa yang saat ini dialami Mudakir termasuk kejadian langka.

“Mereka yang dalam kondisi seperti yang teman Bapak alami saat ini, biasanya tak bisa selamat. Hanya Tuhan yang tahu kenapa teman Anda masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Kami tak bisa memberikan jaminan apa-apa,” tutur dokter sebelum akhirnya meninggalkanku.

Aku pamit pulang pada istri Mudakir, karena perutku mulai terasa mual dan kepala pusing tak keruan. Setelah beberapa kali menyambanginya ke kamar selama dua hari ini, untuk kali pertama aku merasakan firasat yang tidak enak. Aku tidak tahu apa itu. Di hari itulah, sebuah truk nyaris melibasku tanpa ampun.

***

Aku bangun untuk mengambil air minum di dapur. Malam merayap kian larut. Aku duduk terbengong-bengong di meja makan sambil memegang gelas dengan isinya yang tinggal setengah. Aku memikirkan banyak hal yang terjadi selama dua hari terakhir, sejak Mudakir masuk rumah sakit karena mendadak jatuh pingsan. Hari pertama, aku tersandung di tempat parkir rumah sakit. Tukang parkir yang ada di situ membantuku berdiri sembari berkata, “Wah, nyaris saja sampean celaka, Pak!”

Aku melihat tukang parkir itu menunjuk palang besi berkarat, persis di dekat posisi kepalaku terjatuh. Aku tidak memikirkan apa-apa selain hanya kurang hati-hati saja saat melangkah.

Kejadian berikutnya, saat pulang ke rumah esok harinya setelah semalaman duduk di dekat tempat tidur Mudakir. Kupacu motorku dengan pelan karena mataku lumayan mengantuk. Dengan berusaha menjaga agar kedua mataku tidak terpejam, aku mencoba menghitung angka-angka fibonacci, dan memikirkan hal-hal lucu yang terlintas. Kupikir itu ampuh. Karena konsentrasiku tersita pada isi kepalaku saja, tidak sengaja kutabrak mobil yang terparkir di depanku.

Aku kaget bukan main dan meminta maaf pada pemilik mobil yang emosional, tapi dia tidak sudi mendengar penjelasanku dan langsung meninju dada serta perutku sampai empat atau enam kali; aku tidak ingat. Seingatku, orang-orang berdatangan melerai dan aku mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dari dompetku sebagai ganti rugi. Setiba di rumah, aku merasa badanku kepayahan, karena pemilik mobil tadi berbodi kekar dan tinjuannya lumayan memberikan dampak.

Sampai di situ, aku tidak sadar akan apa yang sejauh ini kami (aku dan Mudakir) yakini bersama. Ketika truk nyaris melibasku dari arah depan beberapa jam yang lalu, aku baru memikirkan ini. Mudakir pingsan dan kepalanya membentur lantai kamarnya hingga berdarah; aku tersandung dan nyaris merobek wajahku sendiri dengan palang di tempat parkir. Tubuh Mudakir kian memburuk kondisinya; tubuhku sakit tidak keruan oleh tinjuan seseorang. Sampai esok pagi aku tidak tidur dan terus memikirkan ini. Apa setelah Mudakir benar-benar mati nanti, sesuatu yang besar juga terjadi padaku?

Aku tak berani memikirkan itu. Aku merasa kematian yang diatur oleh Tuhan tiada hubungannya dengan semua itu. Tapi, aku tetap saja merasa takut. Ketika ada telepon yang mengabarkan kematian Mudakir, aku menangis. Waktu itu, di belakangku, muncul istriku. Dia kebingungan.

“Sahabat sehidup sematiku sudah mati, tetapi aku masih hidup, Mar!”

Dengan wajah sangat kesal, istriku membalas, “Ya, memang begitulah hukumnya. Kupikir kamu orang yang beriman dan percaya takdir-Nya. Kenapa malah berpikir yang tidak-tidak? Tidak ada hubungan aneh apa pun antara kalian selain bahwa kalian adalah sepasang sahabat!”

Apa benar demikian?

Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu sampai beberapa hari ke depan berlalu tanpa ada satu pun hal buruk terjadi padaku.***

Gempol, 2017-2024


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Cerpen

Ibu Seorang Perampok

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Memasuki pelataran rumah yang terletak di Lembah Kelelawar, Salindri merasakan langkah kakinya bergetar. Tiga puluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Dulu ia meninggalkan Samsul, anak lelakinya yang masih bayi,  dan diasuh Nenek. Ia tak pernah pulang. Tak  pernah bertemu Samsul, yang kini mendekam sepuluh tahun di penjara, menanti hukuman mati, karena merampok seorang nasabah bank, menembak mati  tiga polisi dan membunuh sesama napi.

Di depan pintu rumah kayu Salindri berhadapan dengan Surti, perempuan muda, sintal, agak genit, dan Laila, seorang gadis kecil 9 tahun. Salindri sempat mendengar dari beberapa orang, Surti  seorang penyanyi Orkes Melayu Mawar Rembulan yang diidolakan banyak orang. Begitu juga Laila, anaknya, yang mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi cilik.

Surti dan Laila  memandang Salindri  dengan tatapan aneh. Mereka curiga dengan kehadiran perempuan setengah baya itu. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya itu mendadak mendatangi rumahnya?

Tatapan Salindri  menyelidiki perempuan muda sintal yang dianggapnya sebagai istri Samsul.   

“Apa kau istri anakku?” tanya Salindri menyelidik.

“Saya istri Samsul. Ibu siapa?”

“Aku perempuan yang melahirkan Samsul.”  

“Samsul selalu cerita, Ibu meninggalkannya ketika ia masih bayi.”

“Tentu dia sangat ingin kuasuh,” kata perempuan setengah baya itu. “Boleh aku menginap di sini?”  

“Oh, tentu saja. Ini rumah Ibu,” balas Surti, dengan keramahan seorang anak menantu pada ibu mertuanya. “Kebetulan sekali Ibu datang. Nanti malam Samsul dihukum mati, besok pagi dimakamkan.”

Pucat  wajah Salindri. Tubuh perempuan setengah baya itu gemetar. Ia merasa bersalah. Ia meninggalkan suami dan anak yang kini menjelang dijatuhi hukuman mati. Ia menyiram bensin dan membakar suami yang tak mau berhenti berjudi. Ia  melarikan diri dari rumah, mengembara di ibu kota, tak berani pulang.

Kini Salindri memasuki kamar yang dikosongkan sejak kematian Panji Rangsang, suaminya. Ia  menemukan tempat tidur dan lemari baju kayu sonokeling, masih kokoh, kecoklatan, kusam berdebu. Tiga puluh tahun meninggalkan rumah papan kayu di Lembah Kelelawar, ia masih menemukan kenangan seperti semasa pengantin baru.

Di dalam kamar itu Salindri merasakan degup jantung yang kencang. Tubuhnya lemas. Ia merasa telah menjelma iblis betina yang mengorbankan anaknya sendiri.     

***  

Pagi berkabut, dalam sunyi tanah kuburan di lereng Gunung Wurung, Salindri berdiri goyah di bawah pohon trembesi, menanti jenazah Samsul dimakamkan. Di sisinya berdiri gelisah Surti dan Laila.     

Hanya beberapa orang yang mengusung dan mengiringi jenazah Samsul. Liang lahat sudah digali kemarin sore. Salindri sangat ingin melihat wajah anak lelakinya. Tetapi komandan regu tembak,  yang mengiringi jenazah Samsul, tak memperkenankannya membuka peti mati. Salindri berdiri memandangi peti mati jenazah anak lelakinya diturunkan ke dalam liang lahat, ditimbuni tanah hingga berupa gundukan yang ditaburi bunga. Seorang ulama membaca doa, seperti tergesa-gesa, dan terkesan melakukan pemakaman rahasia. Hanya beberapa orang desa yang hadir dalam pemakaman. Suro Kolong turut melayat. Lelaki setengah baya itu berdiri di sisi ulama yang membaca doa. Beberapa pelayat  buru-buru meninggalkan makam.  

“Kudengar Samsul kebal peluru,” kata Salindri pada anak menantunya. “Bagaimana mungkin ia bisa ditembak mati?”   

Menuruni jalan setapak makam Gunung Wurung, Salindri terus menunduk, seperti ingin menyembunyikan masa lalu yang dijalaninya bersama Samsul. “Tiap tubuh yang kebal pasti memiliki kelemahan. Peluru yang digunakan menembak Samsul sudah disepuh mantra Suro Kolong yang dikenal sakti. Kekebalan Samsul tak ada artinya.”

Salindri teringat akan sosok Suro Kolong, lelaki yang selalu tirakat di Gunung Jabalkat. “Seingatku, Suro Kolong pernah berguru pada Ki Gandrung Marsudi.”  

“Samsul juga berguru ke sana. Tapi Suro Kolong lebih sakti.”           

***

KetikaSurti mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya, dimasukkan dalam kopor, dan dikemas rapi, Salindri tercengang. Apakah menantunya akan meninggalkan rumah ini?   

“Apa yang kaulakukan?” tanya Salindri, dengan pandangan tak mengerti.    

”Kami akan meninggalkan rumah ini. Kami akan menetap di kota, agar saya bisa lebih mudah menerima tanggapan nyanyi.”

“Kau akan meninggalkanku seorang diri di rumah ini?”   

“Saya tak bisa bersama Ibu. Seorang lelaki akan melamar saya. Kami segera nikah.”  

“Siapa laki-laki itu?”

“Ibu akan mengenalnya.”

Siang hari komandan regu tembak datang dengan mengendarai mobil sedan. Di belakangnya sebuah truk bak terbuka diparkir di pelataran rumah dan seluruh barang-barang Surti diangkat ke dalamnya. Komandan regu tembak menjemput Surti dan Laila.       

“Itukah calon suamimu?” tanya Salindri dengan sepasang mata keheranan.

“Ya.”

“Kau akan jadi istri kedua?”

Surti mengangguk, setengah terpaksa. “Aku merasa tenteram dan dilindungi.”

“Tapi kenapa dia tampak sungkan padaku? Ia seperti ingin menghindariku.”

“Dia cuma belum akrab pada Ibu. Kalau sudah akrab, ia akan menjadi lelaki yang menyenangkan.”

Salindri merasa bahwa komandan regu tembak menyembunyikan sesuatu yang belum dipahaminya. Sepasang mata komandan regu tembak  memancarkan  rahasia yang ingin disingkap Salindri.    

***

Menjelang sore seluruh barang Surti dan Laila sudah dimasukkan ke dalam truk. Komandan regu tembak mengendarai sebuah mobil sedan memarkir mobil itu di tepi jalan Lembah Kelelawar. Salindri merasakan sepi yang menggerogoti jiwanya. Ia akan tinggal seorang diri di rumah warisan suaminya.  Tak ada tetangga yang menempati rumah di lembah ini.  

“Biar Laila tinggal bersamaku di rumah ini,” pinta Salindri. “Ingin kutebus kesalahanku pada Samsul dengan mengasuh cucu.”  

Lama Surti memandangi Laila dan komandan regu tembak.       

“Laila bukan cucumu. Ia anak gadisku,” balas komandan regu tembak.

“Bagaimana mungkin Laila bukan anak Samsu?”  

Terdiam sesaat, komandan regu tembak itu menukas sopan, “Tanyakan keadaan anak lelakimu itu pada Suro Kolong. Ia pernah mencelakai Samsul.”   

Salindri tertegun. Lama memandangi Laila, dan gadis kecil itu hanya terdiam. Mengikuti semua perintah komandan regu tembak, Surti dan Laila berpamitan pada Salindri.  Lembah Kelelawar senyap. Pohon sonokeling, jati, dan munggur yang rimbun memendam angin pegunungan.

“Kau puas bisa menghukum mati anakku dan mengawini jandanya?” kata Salindri pada komandan regu tembak, ketika lelaki setengah baya itu berpamitan.

***

Matahari hampir tenggelam. Di  ladang jagung Suro Kolong, Salindri   menjumpai lelaki setengah baya itu. Ia sudah mengenal lelaki setengah baya itu semenjak masih tinggal di Lembah Kelelawar, sebelum meninggalkan desa. Perempuan setengah baya itu tampak gugup dan gelisah.     

“Apa yang kaulakukan terhadap anak lelakiku?” tanya Salindri, dengan suara yang bergetar.   

“Oh, dia pernah menggagahi putriku, Tari, di sendang.”

“Lalu, kau balas dendam pada Samsul?”

“Aku memukuli punggungnya pakai tongkat sonokeling.”

“Apa lagi?”

“Samsul pernah mencuri jagung di ladang pada tengah malam. Aku meminta Subro, anak lelakiku untuk memanah selangkangannya.”

“Kenapa kamu sekeji itu?”

“Anakmu akan lebih keji, kalau tak dilukai kelaminnya. Cuma aku yang bisa melukainya.”

Dada Salindri bergemuruh. Tetapi ia tak berani menumpahkan kemarahannya pada lelaki setengah baya di sisinya. Ia menunduk, meninggalkan ladang jagung. Dalam hati ia merencakan balas dendam.***

Pandana Merdeka, Juli 2024


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).