Cerpen

Mantra Gaib Sanjiwini

Cerpen Nur Khafidhin

/1/ Kematian Sentanu.

Dewa Trimurti yang terdiri dari Siwa, Wisnu, dan Brahma menciptakan dunia menjadi tiga dunia. Mayapada[1], madyapada[2], dan marcapada[3]. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan alam semesta. Namun, keseimbangan semesta itu hancur tatkala terjadi peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya. Pintu madyapada dan marcapada terbuka. Awalnya pintu itu hanya dapat dilalui seratus makhluk setiap hari, baik dari madyapada atau dari marcapada. Namun, sekarang pintu keduanya terbuka sangat lebar, ribuan makhluk dapat keluar masuk dengan bebas.

Peristiwa itu pun tak menghentikan peperangan. Pihak dewata tak pernah mau menyerah walau selalu kalah melawan para raksasa dalam peperangan yang berkepanjangan sampai berabad-abad. Mereka akan terus bertempur untuk membawa kembali Kacha—putra dari Resi Brihaspati yang disembunyikan pihak raksasa. Namun, tak ada satu pun kemenangan yang dimenangkan oleh pihak dewata karena Sukrasarya memiliki mantra gaib sanjiwini. Mantra tersebut dapat menghidupkan siapa saja yang mati. Alhasil, para raksasa yang mati dihidupkan kembali dengan mudah.

Resi Brihaspati dengan tipu muslihatnya lantas menyuruh Sentanu untuk berguru kepada Sukrasarya. Diam-diam Resi Brihaspati telah menuliskan kutukan di punggung Sentanu. Hal itu dipergunakan untuk berjaga-jaga jika Sentanu berkhianat. Kutukan itu tak hanya berlaku ketika ia hidup, tetapi juga semua keturunannya. Sentanu disuruh tapa brata sampai tujuh tahun. Bertapa yang tak hanya untuk menyucikan jiwanya. Namun, juga untuk memperkuat kutukan tersebut. Tujuh tahun pun berlalu, ia pergi ke istana Wrishaparwa untuk mengutarakan niat berguru kepada Sukrasarya.

“Hamba Sentanu, hamba ke sini atas utusan Resi Brihaspati. Hamba diutus untuk berguru kepada Sukrasarya.” Sentanu bersujud di hadapan Sukrasarya.

Sesuai tradisi yang luhur, seorang guru tak boleh menolak permintaan dari seorang murid yang hendak berguru. Sukrasarya yang seorang arif bijaksana tak bisa menolak siapa pun yang ingin berguru kepadanya walau seorang utusan dari musuh perangnya. Ia berkata, “Aku menghormati Resi Brihaspati. Aku akan menerimamu sebagai muridku.”

Sentanu seorang murid yang patuh dan mempunyai niat yang murni untuk berguru. Ia selalu melakukan perintah dari Sukrasarya. Alhasil, putri Sukrasarya—Dewi Gangga suka kepadanya. Mereka akhirnya menikah. Namun, kabar itu pun tersebar di kalangan raksasa. Mereka takut Sentanu dapat menguasai mantra gaib sanjiwini. Ilmu tersebut menjadi senjata pamungkas dalam setiap peperangan yang dimenangkan pihak raksasa.

Sukrasarya meminta Sentanu mencari rumput guna makanan sapinya. Kesempatan itu dipergunakan Rukmakala yang sebagai pemimpin raksasa untuk membunuh Sentanu. Rukmakala yang ahli membuat strategi pun dengan mudah dapat menjebak Sentanu. Beberapa raksasa mengikutinya secara hati-hati, menyekapnya, dan lantas memutilasi tubuhnya. Sore harinya, Sentanu tak pulang ke rumah Sukrasarya. Ia merasa khawatir karena biasanya ketika sore hari Sentanu akan pulang. Lantas Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Tubuh Sentanu yang telah terpotong-potong mulai bersatu di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Rukmakala memimpin raksasa untuk membunuhku dan tubuhku dimutilasi.”

Keesokan harinya, Sukrasarya sedang sibuk dan tak bisa melatih Sentanu. Alhasil, memintanya untuk melakukan bertapa brata seorang diri di mebaong[4]. Namun, Rukmakala dan prajuritnya diam-diam mengikutinya. Mereka melakukan hal yang sama, menyekap tubuh Sentanu lantas memotongnya menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah pusarnya. Tubuh bagian atas yang terdiri dari kepala, dua tangan, dan setengah perut di kubur ke gunung. Bagian tubuh bawahnya yang terdiri dari perut, dan kedua kakinya di larung ke laut.

Berhari-hari, Sentanu tak pulang dan Sukrasarya mencarinya ke mebaong. Namun, tak bertemu dengan Sentanu. Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Bola mata Sentanu datang di hadapannya. Ia tak bertanya seperti biasanya, memilih untuk mengambilnya, dan melihat semua kejadian yang ada melalui bola mata Sentanu. Sukrasarya melihat kejadian beringas yang dilakukan para raksasa. Sentanu dipukul oleh ratusan raksasa, tubuhnya tak lagi utuh, bola matanya keluar, dan setelah tak bernyawa tubuhnya dipotong Rukmakala menjadi dua bagian. Namun, Sentanu tak mau melawan karena menghormati Sukrasarya. Ia tak mau menyakiti hati gurunya walau risikonya adalah kematian.

/2/ Impian Dewi Gangga.

Dewabrata terlahir menjadi sosok raksasa dalam wujud yang sempurna, sesuai dengan mantra sanghyang sarasija maya hireng[5]. Raksasayang memiliki wajah galak, mata yang melotot, mempunyai taring, serta mempunyai rambut api. Ia langsung dapat berjalan, berlari mengelilingi ibunya, tetapi matanya melihat percikan darah di baju ibunya—Dewi Gangga. Darah itu memicu naluri raksasadalam tubuhnya untuk menggigit ibunya. Namun, Drupada berusaha menghalaunya, tetapi nasib sial menimpanya. Dewabrata menggigit lehernya sampai putus. Hal itu membuat semua orang yang menunggu Dewi Gangga melahirkan menjadi murka.

Dewi Gangga dengan sisa tenaganya menghunjamkan ngad[6] tepat di leher anaknya. Seketika kekuatan raksasadalam tubuh Dewabrata melemah. Ia memeluk anaknya penuh kasih sayang, berusaha melindungi dari amukan warga, dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, semua sia-sia, tak ada yang mau mendengarnya.

“Bunuh bayi sialan itu!” Durna berusaha mengambil Dewabrata dari pelukan Dewi Gangga.

“Dia telah membunuh pamannya!” kata Kresna dengan penuh luapan emosi.

“Dasar anak sialan! Bunuh dia sekarang!” Kripa marah melihat Drupada tergeletak tak bernyawa.

“Aku akan membunuhnya!” kata Rukmakala yang sejak dulu mempunyai rasa iri terhadap Sentanu.

“Kita bunuh dia sekarang!” ujar semua warga.

Dewi Gangga merasa sedih melihat semua orang ingin membunuh anaknya. Ia pun berkata, “Aku tak akan membunuhnya! Aku akan merawatnya.”

“Kalau kau berniat merawatnya, pergi dari desa ini!” kata Durna penuh emosi. Beberapa warga berusaha untuk mengejar Dewi Gangga. Namun, Durna menghentikannya karena Dewi Gangga telah memenuhi janjinya untuk meninggalkan desa.

Dewi Gangga membawa anaknya ke mebaong. Ia bertapa brata untuk meminta pertolongan kepada Sukrakarya. Dewi Gangga memanggil Sukrakarya sampai beberapa kali. Namun, tak ada jawaban. Alhasil, Dewi Gangga menggigit jari telujuk kanannya, menuliskan mantra di tanah dengan darah yang keluar dari jari telunjuknya, dan melafalkan mantra: Segara minaka dasarku, danu minaka rangi ulunku, ih teka engko buta dengen, tluh tranjana, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko lamubu ring sagara danau, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko ring awak sariranku, tan wani engko lumabu ring sagara danau, tan wani engko ring awak sariranku, teka ngeb, teka ngeb, teka ngeb[7].

Seketika di depannya ada Sukrakarya. Ia bersemadi di ranting pohon dengan kondisi kepala di bawah. Dewi Gangga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sukrakarya perlahan turun dengan santai, berjalan di atas udara, dan mengucapkan mantra pamugpug desti[8]: Ono sang bua raja pati, ring kenetasira alungguh, yan ana leyak bebai ring rajianku, poma sira ngapusana ong sing akarya ala ring aku, poma alihakena saguna penaruhe ono sidi rastu tastastu astu, ono lang bang bang nama suaha. Sukrakarya memetik satu daun dan mengikatnya dengan sehelai rambut untuk dijadikan kalung. Hal itu dipergunakan untuk melemahkan kutukan Resi Brihaspati dalam tubuh Dewabrata.

“Anakku jangan bersedih, tak ada ujian yang melebihi ketabahan hati manusia. Kau pasti dapat mengatasi ujian ini!”

“Kutukan dari Resi Brihaspati telah tertanam dalam anakku.”

“Jika kau dapat menghadapi ujian ini. Kau akan berada di alam yang lebih tinggi dari mayapada, anakku!”

“Selama ini tak ada impian yang aku inginkan. Namun, sebelum mati aku hanya ingin anakku terbebas dari kutukan ini. Tolonglah cucumu!”

Sukrakarya mendekat pada Dewi Gangga dan mencium keningnya. “Setiap orang akan menanggung takdirnya masing-masing.” katanya. “Aku merasa orang yang paling bersalah dalam perang yang berkepanjangan ini.” Tubuh Sukrakarya perlahan mulai menghilang untuk menyucikan diri.

***

Lima belas tahun kemudian, Sentanu datang ke tempat Sukrakarya bertapa dengan tatapan yang muram dan tak bergairah hidup. Menceritakan proses ketika dapat hidup kembali. “Air hujan akan bermuara ke laut. Tubuhku yang telah membusuk dan telah bersatu dengan tanah perlahan mengikuti air hujan. Sedikit demi sedikit semua tubuhku telah bertemu di laut dan menjadi satu. Aku pikir aku sudah mati, tetapi mantra gaib sanjiwini dapat menghidupkan aku kembali.”

“Kau menjadi sengsara karena kesalahanku. Maafkan aku!” Sukrakarya bersujud di kaki Sentanu. Namun, Sentanu mencegahnya.

“Sukrakarya telah menjadi guru yang baik. Maafkan hamba yang sebagai muridmu membuat para raksasa murka.” Sentanu hendak bersujud di kaki Sukrakarya, tetapi dicegah.

Sentanu meminta maaf dan meminta izin pamit. Seiring kepergiannya, matahari yang mulai terbenam bergerak ke arah timur, ribuan makhluk dari madyapada dan marcapada bergerak mengikutinya. Semua korban peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya pun juga melakukan hal yang sama.

Sentanu terbang ke langit, tubuhnya berubah menjadi kereta kematian yang terbuat dari tengkorak. Ribuan makhluk yang mengikutinya satu demi satu masuk ke dalam kereta kematian, perlahan meluncur melewati panorama yang sunyi, dan muram. Sejauh mata memandang hanya terlihat ribuan makhluk dari madyapadadan marcapadadalam hamparan lautan api, terombang-ambing dalam ombak api yang menggulung tinggi, tercipta buih api yang terus bergerak mengikuti angin, dan menciptakan suara deburan ombak yang menyayat jiwa. Angin bergerak dengan cepat dan menciptakan angin topan. Mereka tersapu angin topan sampai menggapai langit, terus berputar-putar, meliuk-liuk, dan terdengar raungan kematian yang menyedihkan. Semua makhluk yang ada di dalam kereta kematian seketika diam mematung, tak ada satu pun yang berani bersuara, dan mereka ketakutan.***

                 Di Ruang Sang Hyang Widhi, 31 Desember 2020 – 6 Februari 2021


Nur Khafidhin, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.


[1] Dunia para dewa-dewi.

[2] Dunia bagi demit, jin, dan makhluk halus.

[3] Dunia yang dihuni oleh manusia, raksasa, dan margasatwa.

[4] Hutan yang mempunyai bentuk seperti leher manusia.

[5] Mantra untuk berubah menjadi raksasa berwajah angker dan galak.

[6] Pisau yang terbuat dari bambu.

[7] Mantra yang terdapat pada lontar wrespati kalpa.

[8] Mantra untuk menghidupkan jimat sebelum dipakai.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Bayi-bayi Pabrik

Jam makan siang milik perempuan

dihimpit ruang pabrik yang sesak menekan ubun-ubun

dan bau peluh dari ketiak-ketiak buruh

di gedung sebelah karib-karibnya menjerit

sambil melucuti celana yang penuh air ketuban

pecah, sungsang, buka empat pendarahan pula

tak ada tanda atau bunyi, tak ada ambulance

di jam makan siang yang terik menyengat tubuh

bayi-bayi pabrik menangis kencang meratapi nasib ibu

bayi-bayi menahan lapar di masa harga susu naik tajam

dan buruh perempuan tak dapat cuti bulanan

tak boleh menuntut atau minta jatah tunjangan

di jam makan siang milik perempuan

hanya bungkaman.

21 November 2020


Tasminah

Subuhmu lepas pesat

ditawan keranjang-keranjang tahu mentah yang getir

seperti laku sepuhmu

kau tinggal sembab di depan pawon

menakar terigu dan kacang tanah yang kehilangan kulit

dan kau kehilangan pegangan

masamu lewat diganti keriput tak menawan

di antara dua tungku

kayu bakar yang asapnya membawa sisa mimpimu terbang ke langit-langit dapur

kau koyak dan retak

mirip telur-telur ayam kampung di kandang

hitam pekat dan abu-abu laik masa muda yang sia-sia itu.

22 November 2020


Bocahmu

Dari balik pintu itu

bocahmu mengintip ketakutan

matanya nanar

hanya tangan kirinya bergerak

sambil menutupkan buntalan kaki boneka

pada mulut mungilnya

bocahmu ingin menjerit

melihatmu menggorok bapaknya yang bengis

tapi kau sumpal dengan tangan berdarah-darah

lalu dikisahkan seorang nenek membopong cucunya

menuruni bukit berlari menembus kabut pagi

mencari keadilan di jalan-jalan.

23 November 2020


Kota Muda-mudi

Di kota muda-mudi sengketa cinta bukan tragedi

politik dan hukum kepemilikan bermain fasih

dan semua mafhum, cinta membuat segala jadi buta

lain waktu di kota muda-mudi setia dijual murah

kepercayaan jadi lagu lama yang tak begitu populer dinyanyikan

sebab cinta tak bisa memihak setia dan percaya

lalu di kota muda-mudi yang riuh ramai

semua manusia merasai sepi

kehilangan nurani.

24 November 2020


Jika Tak Ada Orang

Aku adalah aku jika tak ada orang di satu ruang

memakai kemeja, berias dan menari

mengelilingi sudut-sudut peribadatan yang sunyi

seperti bermain di opera

atau menjelma komposer

jika tak ada orang aku menjadi aku

melepas alas kaki dan mengerang semauku

memeluk otoritasku

seperti jasadku

menjelma ruh dan mencintai aku.

25 November 2020


Sepatu Merah

Sepatu merah setengah abad ditikam kusam

keluar dari kardus pitanya

meraih tubuhku

seperti tukang pos meminta bayar beberapa ribu

ongkos kirim dari sepersekian

dimensi waktu

Rasa-rasanya kau reinkarnasi

mewujud Laksmi reformasi ikut meledak

ndakik-ndakik di kejauhan pantang padam selintas jalan

Sepatu merahmu menggoda mata-mata jalang manusia

yang dipikat kehilangan tubuh pongah melulu

menutub aib-aib, mengumpat

Apa kaki bersih mendadak complong?

sebab sadar rupa kaki tangan berakal kosong

berkah kaca, cermin-cermin mengganti posisi.

Desember 2020.


480

Delapan hari

480 mayat siap angkut ke liang

aku bersama seluruh jenazah

tanpa tangis pecah sanak kadang

di samping pembaringan

kulihat liang-liang lain beku

menyerupai wajah peti-peti yang segera ditimbun

ditutup gundukan tanah merah aroma fanbo

aku rebah di hadapan giliran sekian

waktu gerimis membengkokkan hasrat

pendoa yang panik

kami disilakan bergegas turun

membenamkan jasad, menyelamatkan ego.

21 Januari 2021


Pokping

Satu tandan pokping

disisir per biji menunggu tengkulak

pohon terakhir menunggu ajal sepertiga siang yang mamang

Hujan tak jadi hujan

tapi mendung membawa resah

petani-petani menjemur calon nasi menimbun jatah jagung basah

Hujan tak hujan nasib pokping setandan mesti lunas

ditukar pindang atau teri kawat, “harga jatuh, tak mungkin daging.

tak butuh daging buat mengupaya hidup

Satu tandan menguning

di teras menanti jodoh setengah hati

pada pembeli yang meriang, minta selirang

21 Januari 2021


Ada Jasadku di Sampingmu

Sangkar-sangkar diisi penuh jaring laba-laba, sisa belulang serangga

kursi rotan di teras belakang keropos

burung-burung menyisakan bulu di rumah kosong

tapi nyala lilinmu abadi

bertahun-tahun kau melewatinya

melayat pada pinggiran kota yang lusuh

mengubur anak-anak yang tergilas truk-truk

mengabadikan potret tikus-tikus

menyemburkan isi perut dibakar aspal dikubur debu jalan

sampai sirine meraung menemukan aku

di sebelah jasad dan ruhku yang pengelana mengendus maut.

24 Januari 2021


Gimah

Di masa ketiak Gimah mengeluh

pagi-pagi mendadak gerah dan lengket

empat puluh lima kilo bukan soal jarak dan waktu tunggu

tak banyak desing angkot memburu tubuh

orang-orang yang jenak di pinggiran

sebab kaki-kaki bapak tempat bertumpu bermain

kendang kentrung sepanjang terik menyongsong kuasa recopentung

momenmu usah diulang-ulang

pelagu babad tanah jawa, walisongo, nabi-nabi

seorang belia ngentrung bareng bapaknya di lintas kota

tak banyak desing angin menjamah tubuh

orang-orang yang lupa musim dan tanah ibu

dan kaki bapak tak kokoh lagi menyokong cerita-ceritamu

kau, berjalan sorangan

tapi kelak namamu dihiraukan, mbok Gimah

si tukang kentrung pemikul laju mula amanah

pengantar tuntunan yang terseok-seok tontonan.

29 Januari 2021


Rizka Hidayatul Umami, lahir di Tulungagung. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan. uku pertamanya berjudul Dongeng Rukmini (2017). Bisa disapa lewat instagram dan twitter @morfo_biru, juga facebook: Tacin.

Cerpen

Elegi Sebatang Pohon

Cerpen Ardi Wina Saputra

Sialan! Lelaki tambun itu dengan lancangnya mengencingiku. Belum sirna bau kencing dari para pemabuk yang menempel di kaki-kakiku sejak semalam, eh sekarang ditambah lagi dengan bau kencing dari lelaki tambun berkepala plontos itu. Beginilah nasib menjadi pohon cemara tua, kekar dan rimbun saja tak cukup untuk disegani. Beberapa bagian tubuhku bopeng oleh luka. Sebulan ini, ada semacam kertas yang menempel di tubuhku. Aku tak mampu membacanya karena posisi kertas itu sehadap denganku. Biarlah, yang pasti aku tetap kokoh pada pendirianku menunggu SusterAgatha, perawat cantik dari Klinik St. Melania. Kesetiaan cintaku padanya telah mengakar menembus tanah. Menjalar dan terus menjalar ke bawah. Menembus kerikil, menembus pasir, menembus humus, dan menembus remah-remah peti matiku sendiri.

***

Sebelum menjadi pohon cemara, aku memanglah seorang lelaki yang gagah perkasa. Tubuhku tinggi dan kekar, hidungku mancung, daguku lancip, dan rambutku pirang seperti rambut papi dan mami di Roterdam sana. Kedatanganku di kota Madiun ini tak lepas dari prestasiku sebagai lulusan terbaik akademi militer di Belanda. Aku ditugaskan pemerintah untuk mengamankan objek vital mereka di Hindia. Salah satunya adalah  kota Madiun yang sedang berkembang pesat. Kota ini memiliki pabrik gula Pf. Pagoetan yang hasilnya mampu diekspor ke Burma dan Srilanka. Belum lagi kebun teh di Jamus dan kebun kopi di Dungus yang hasilnya sudah mulai dilirik pedagang dari Gujarat. Ada juga perusahaan kereta milik pemerintah, Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij[1] yang digunakan untuk membangun kereta api di seantero tanah Jawa. Politik etis juga membuat kota ini semakin penting. Ursulin, Lazaris dan beberapa ordo lainnya sudah memulai membangun sekolah untuk orang Jawa, Tiong Hoa, dan Belanda. Mulai dari Holands Chinese School[2], SD Eropa, Sekolah Pribumi Belanda, TK Eropa, TK Jawa, Sekolah Melania, Kursus Mengetik dan Stenografi, Kursus Jerman, Kursus Perancis, Kursus Musik, dan Panti Asuhan. Belum lagi pembangunan gereja di Wilstraat[3] Madiun dan tempat peribadatan lainya. Jumlah orang Belanda di kota ini semakin lama semakin meningkat. Itulah sebabnya aku ditugaskan untuk memberikan pengamanan ekstra.

Dulu, berbagai pertempuran dan pemberontakan baik dari dalam maupun luar kota sudah kuatasi. Bahkan tak jarang aku menumpas oknum tentara Belanda yang kedapatan bersekongkol dengan sempalan tentara Residen untuk menguasai pabrik gula. Desing peluru hingga suara mortir telah fasih menjamah telingaku. Tak jarang beberapa tembakan bersarang pada lengan dan pahaku. Semua itu membuatku semangat dan meningkatkan adrenalinku untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Namun ada satu peluru yang tak mampu kusembuhkan hingga kini. Peluru cinta dari bidadari pada lelaki yang telah lama merindukan belaian wanita.

Aku ingat betul, peluru itu mulai bersarang menembus tulang rusukku ketika Klinik St. Melania dibuka di Madiun pada Jumat 6 Februari 1931. Saat itu tepat setengah enam sore, Residen, Asisten Residen, Walikota, dan para donatur datang ke pembukaan Klinik St. Melania.Aku dan pasukanku diberi kepercayaan untuk menjaga prosesi pembukaanya. Ny. Wagemans, presidente[4] dari distrik Madiun selaku perwakilan dari Klinik St. Melania mempersilakan Ny Residen yaitu Ny. Van den Bosch untuk membuka pintu pertama dan mempersilakan para tamu serta donatur untuk masuk.

“Lihatlah salah satu wanita yang sejak tadi mendampingi Ny. Wagemas itu! Suster Agatha namanya!” ujar Robert, kawan yang saat itu berdinas denganku.

Mataku menurut saja pada arah telunjuk Robert. Telunjuknya yang berbulu mengarah pada wanita berseragam perawat, bukan biarawati. Kulitnya tidak cokelat juga tidak terlalu putih, tapi kuning langsat. Hidungnya mancung, tubuhnya tinggi semampai, wajahanya oval, dan bibirnya mungil. Bibir itulah yang ternyata mampu mengeluarkan sebutir peluru lalu melesat dan bersarang di dadaku ketika mulai diletupkan dalam bentuk senyuman.

“Agatha, Kemari!” panggil Robert.

Ia tidak menjawab, hanya melempar senyum yang mampu memporak-porandakan pilar-pilar cinta dalam lubuk hatiku. Ia lalu melanjutkan tugasnya kembali. Memeriksa beberapa pasien dan sesekali menjawab pertanyaan tamu.

“Kau mengenalnya?” tanyaku pada Robert.

“Dia sama sepertiku Pak, ayahnya Belanda dan Ibunya dari Jawa. Sebelum bekerja di sini, dia menjadi salah satu guru di Hollands Chinese School, sekolah anakku. Dia juga teman baik istriku,” jawab Robert lalu menyeret tanganku.

Sebagai rekan setim, tentu ini tidak sopan. Tapi apa daya, ada magnet yang amat besar membawaku ke arahnya. Saat itu, aku mencoba memberanikan diri berkenalan. Kuulurkan tangan dan dia menjabat tanganku. Ada arus yang begitu besar dari telapak tangan kanannya yang mampu merasuki sekujur tubuhku.

“Aku harus profesional Tuan Robert, kedatanganku ke sini adalah melayani pasienku dan aku tak akan berlama-lama dengan orang lain selain pasienku,” ujarnya pada Robert.

Memang dia lahir di Jawa, tapi kelogisan dan kelugasanya menunjukkan dia memang benar ada darah Belanda mengalir dalam tubuhnya. Sebelum ayah dan ibuku meninggal, mereka pernah berpesan padaku agar aku menikah dengan wanita berdarah Belanda. Kini usiaku bertengger mendekati penghujung kepala tiga, tapi istri pun aku tak punya. Aku terlalu sibuk dengan karier kemiliteranku. Inikah akhir dari pencarianku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergelayutan dalam kepalaku.

Pertemuan dengan Agatha terjadi begitu singkat. Aku ingin menemuinya lagi. Sesampainya di markas, aku bingung mencari cara agar aku bisa menemuinya. Tak ada cara lain selain menjadi pasien. Aku sadar bahwa pedang dan peluru tak dapat melukaiku, maka aku mencari cara lain. Kuminum obat-obatan yang entah apa namanya agar tubuhku demam. Satu, dua, tiga jam aku menunggu, aku tak merasakan apapun. Otakku bekerja keras mencari cara agar aku dapat sakit. Berbagai hal bodoh kulakukan agar aku dapat sakit tapi tak juga berhasil. Hingga sampailah pikiranku pada hal paling bodoh. Aku ingat, tak jauh dari sini ada semak belukar. Kuambil motorku dan kujelajah semak-semak itu sendirian di tengah malam yang masih gerimis.

“Dapat!” teriakku ketika menemukan beberapa lubang ular di semak-semak itu. Tanpa ragu, kumasukkan tangan kiriku ke dalamnya.

“Arghhhh!”

Sakit memang, seperti ada jarum yang menancap sangat tajam di tanganku. Satu, dua, dan tiga kali barulah kucabut tanganku dari lobang itu. Kulihat ada tiga pasang luka tusuk mirip bekas suntikan yang ukuranya berbeda menembus tanganku.

“Berhasil!” ujarku mantap. Kunyalakan kembali motorku dan aku bergegas menembus hujan menuju markasku.

“Aku digigit ular! Aku digigiit ular!” Sesampainya di markas, aku sengaja meronta-ronta di samping ruang tempat tidur prajurit, mencari perhatian sekaligus pertolongan. Beberapa prajurit terbangun, lalu datang mengerumuniku. Ada juga yang bergegas keluar mencari pertolongan pertama. Tubuhku mengigil dengan amat dahsyat, gigiku gemertakan, bahkan aku sempat muntah. Pengelihatanku mulai kabur.

“Bawa aku ke klinik St. Melania!” pesanku pada salah satu prajurit yang kepalanya paling dekat denganku. Setelah berucap demikian, mataku semakin kabur dan semua menjadi gelap.

***

Saat itu aku tak sadarkan diri cukup lama. Aku merasa tertidur sangat pulas sekali, hingga suatu ketika kubuka mata dan aku sudah berbaring di bawah salib yang menempel di dinding ruangan Klinik St. Melania. Ada Robert dan seorang prajurit di sampingnya. Samar-samar aku masih ingat wajah prajurit itu adalah wajah prajurit yang kuberi pesan agar bersedia membawaku ke Klinik St. Melania. Aku tersenyum pada prajurit itu, lalu pada Robert. Sayangnya, Robert malah menatap mataku dengan tatapan sinis.

“Di mana dia?” ujarku pada Robert yang aku yakin sudah sangat tahu maksudku.

“Hampir seharian penuh kau sudah tak sadarkan diri. Siang tadi, Suster Agatha berangkat bersama salah satu pemimpin Pabrik Gula di Madiun, Tuan Abelard namanya. Mereka berlayar menuju Amsterdam menggunakan kapal J.J. Johan de Witt yang diberangkatkan dari Surabaya siang ini,” jelasnya.

“Ada keperluan apa lelaki itu membawa Suster Agatha pergi?” tanyaku.

“Tuan Abelard mengajak Suster Agatha untuk menandatangani beberapa perjanjian donasi dari perusahaan di Amsterdam.”

“Lalu kapan Agatha kembali?” tanyaku penasaran.

“Mereka akan kembali paling cepat Natal tahun depan. Itu pun kalau tidak ada halangan,” ujar Robert lagi.

Mendengar Suster Agatha dibawa pergi laki-laki lain, semangat hidupku menurun drastis. Aku tahu benar sifat licik Tuan Abelard dalam memikat wanita, karena aku pernah bekerjasama denganya dalam misi pengamanan aset pabrik gula di Madiun sehingga kami menjadi akrab dan sering berkomunikasi. Andai Natal tahun depan Suster Agatha benar-benar kembali, aku yakin dia sudah tak sesuci dulu lagi dan pantang bagiku yang perwira tinggi ini untuk mendapatkan sisa dari laki-laki lain. Aku berjanji pada diriku sendiri, kelak jika aku sembuh maka aku akan membeli peti mati terbaik, mengeduk tanah di belakang klinik ini dan mengakhiri hidupku dengan membaringkan diri, menembakkan peluru dari ujung revolver kesayanganku.

***

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menepati janji yang telah kubuat sendiri. Begitu sembuh, kubeli peti mati berbahan kayu berukir perjamuan terakhir Kristus. Lalu malamnya, kugali makamku sendiri tepat di belakang Klinik Melania. Dua petugas yang berjaga di klinik itu kuminta untuk membantuku mengangkat peti dan memasukkanya ke lubang galianku. Mereka tahu benar reputasi dan pangkatku di kota ini, sehingga tak berani bertanya dan hanya menunduk sambil mengerjakan setiap perintahku. Setelah itu, mereka kusuruh kembali ke pos jaga. Aku terjun masuk ke peti mati lalu berbaring, dan kuletakkan ujung revolver di samping pelipisku. Pada hitungan ketiga kutekan pelatuknya dan semua menjadi terang seterang cahaya yang menarikku dengan sangat cepat untuk keluar dari jasadku. Kini sukmaku benar-benar terbebas tapi pergerakanku terbatas. Aku tak bisa pergi terlalu jauh dari jasadku, karena apabila hal itu terjadi maka sukmaku perlahan akan sirna. Mau tidak mau aku harus berdiam di sini menatap jasadku, melihat dua petugas jaga yang tergopoh-gopoh memanggil warga dan polisi untuk menutup petiku, melihat keributan malam itu, melihat upacara militer sederhana di atas pemakamanku, dan melihat para pelayat yang datang silih berganti. Namun, wajah Agatha tak muncul dari puluhan pelayat di kota itu.

Lambat laun, kulihat sendiri kulit, daging, dan seluruh organ tubuh beserta seluruh tulang belulangku hancur lebur bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Peti matiku juga telah rapuh, rengat, keropos, dan tergerus menjadi remah-remah bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Namun kerinduanku pada Agatha tak bisa sirna begitu saja. Kerinduan ini harus tetap kujaga. Tanah pemakamanku sangat gembur oleh hujan dan subur karena jasadku yang terurai di dalamnya. Pelayatku bermacam-macam profesinya, termasuk petani dan tukang kebun. Beberapa dari mereka tampaknya tak sengaja menjatuhkan benih ketika melayat. Oleh sebab itu kuputuskan untuk menyatukan jasadku pada salah satu benih yang telah tercampur aduk dalam tanah kuburku. Lalu benih itu mengeluarkan akar, merambat ke bawah menembus humus, menembus tanah, menembus kerikil, dan merambat ke atas menjadi tunas menyembul di atas permukaan tanah. Semakin lama semakin meninggi, tumbuh daun satu demi satu hingga rimbun dan barulah kusadari bahwa wujudku sekarang adalah pohon cemara. Aku masih berharap kalau Agatha sampai di Madiun, dia tak perlu bingung mencari pohon Natal karena dia bisa memelukku sewaktu-waktu. Tubuh baruku juga semakin kokoh, tahan angin, tahan petir, tapi tak tahan menimang rindu.

Dari bentuk baruku ini aku menunggu kedatangan Agatha sambil menjaga Klinik St. Melania yang semakin lama semakin sepi, semakin kosong, ditinggalkan pengelolanya, dibiarkan, lapuk, roboh, dan hancur tergerus zaman. Ribuan tamparan sinar matahari dan ratusan tangis purnama telah kulewati sendiri. Jutaan manusia silih berganti melintasiku, puluhan ribu jenis debu kendaraan telah kuhirup.

Hingga suatu ketika dari arah utara, ada sekelompok komplotan turun dari mobil, mukanya garang tubuhnya gempal juga legam, jumlahnya lima. Mereka turun di dekatku berdiri, bergerombol tapi tak mau mendekat karena bau kencing yang masih menyengat.

Salah satu dari mereka berperawakan rapi, berjas dan berdasi, mengarahkan telunjuknya ke arahku dan berkata pada orang-orang berbadan gempal yang mengitarinya, “Sesuai dengan isi poster yang telah tertempel di pohon cemara itu, maka besok saya minta kalian semua untuk membersihkan wilayah ini sekaligus menebang pohon itu! Kita akan bangun proyek besar di tempat ini!”


Ardi Wina Saputra,Anggota Komunitas Pelangi Sastra Malang.


[1] Perusahaan jawatan kereta api Belanda

[2] Sekolah untuk Belanda dan China

[3] Jalan raya

[4] Pimpinan

Buku, Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

di luar ketiadaan

di luar ketiadaan, sesuatu yang tak teraba

oleh mata terbuka, menciptakanmu,

menciptakan ruang dan waktu,

nama dan bahasa,

rindu dan cinta,

semesta.

di luar ketiadaan, semesta menjadi

kekosongan. rindu dan cinta lebur,

nama dan bahasa hancur,

ruang dan waktu remuk,

dirimu tak terbentuk.

di luar ketiadaan, tampak

hanya ‘ada’, yang akan

menutupi ‘ketiadaan’ itu sendiri.


kemungkinan

mungkin, di bawah pohon itu,

kita pernah bercengkerama.

soal filsafat dan agama,

soal ada dan tak ada,

soal moral dan dogma,

soal muasal bahasa-bahasa,

soal adam dan hawa,

soal penciptaan dunia,

dan sebagainya.

tapi mungkin tak seperti itu.

kita tak pernah di sana,

tak bercengkerama soal apa pun.

yang ada hanya angin

menggugurkan daun-daun.


distopia

aku terjaga dan tak menemukan diriku

yang sesungguhnya.

berjalan dengan kaki yang tak menginjak

sebagaimana mestinya.

memandang dengan mata yang buta.

ruang sepertinya hanya terbuat dari kegelapan.

duh, tuhan yang menguasai alam,

kenapa mesti ada kebangkitan?

tak ada musik

mengalun di sini,

apalagi cericit burung pagi hari,

apalagi nyanyianmu

(yang di telingaku

kuanggap sebagai kebahagiaan tertentu).

duh, tuhan yang menciptakan bunyi,

kenapa mesti ada sunyi?

sesekali kurasa ada yang memanggil.

pelan-pelan tapi bergema.

mungkin dirimu

tapi tak kutahu itu di mana.

arah jalan semakin lama

semakin bercabang

dan setiap cabang

hanya berisi kekosongan

tuhan, sejak kapan kita berjauhan?


setelah kata-kata tak ada lagi

setelah kata-kata tak ada lagi,

dengan apa kita bicara,

menulis puisi,

dan mengarang cerita?

kepada apa kita musti membaca,

memahami,

dan menduga tanda-tanda?

bagaimana cara berbagi,

berjanji,

dan menjawab tanda tanya?

setelah kata-kata tak ada lagi,

mungkin hanya hening,

dan kita menjadi batu,

bisu,

mungkin hanya dingin

yang lain.


lekas peluk aku

lekas, lekas peluk aku dan tenangkan

keriuhan di kepalaku. makin hari,

bumi makin lupa cara menerima

manusia. kota makin membara,

dan hujan jatuh lebih sering dalam

bentuk melankolia. duh, manisku,

aku mencintaimu di tengah-tengah

kepadatan penduduk, di sekitar

kerumunan buruh harian, anak

jalanan, gerombolan tunawisma,

dan sebagainya. aku mencintaimu

pada zaman di mana aparat

tak pernah bersahabat, pada waktu

di mana pemerintah lupa menaruh

nuraninya. lekas peluk aku dan

tenangkan keriuhan di kepalaku.

sebab negara tak pernah memeluk

penduduknya. tak menjamin

ketenangan rakyatnya.


hatiku gelombang

hatiku gelombang:

bergemuruh

dalam pencarian.

dan kau pantai:

menunggu

dalam keheningan.

untuk dapat bertemu,

keakuanku perlu selesai.

perlu lebur menjadi buih.

hancur menjadi kekasih.


cara terbaik membuka mata

setelah kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.


percintaan kuli bangunan

o astaga, di ruang ini kita cuma berdua.

selain itu; kalender tahun lalu,

gitar tua, jendela yang tak terlalu

beres engselnya, dan jam dinding

yang kelihatan lain. kamu mau

kutandai lehermu? atau telinga?

atau… tutup pintunya. dalam

percintaan kita, jangan ada

yang boleh masuk, apalagi aturan

negara. di luar, biar berkecamuk,

biar kota sibuk merawat polusi

dan polisi (dua hal yang amat

mengganggu ini). biarin aja.

keringat kita, pelan dan amat pelan,

menyusun bahasa, yang tidak

dipahami oleh para pembenci;

oknum partai, pemegang kekuasaan,

ustaz palsu, pendakwah gadungan,

aparat taik, kontraktor taik, bos taik.

o gendaanku yang paling yoi,

jangan tidur malam ini. kita

main sampai pagi. sampai pagi.


aku akan memelukmu

aku akan memelukmu dalam

bentuk bayangan tidak utuh,

asing dan jauh. lalu cerita

soal hidup dalam kesia-siaan

dan kematian dari orang yang

terlupakan. aku akan menyiram

pohonan yang subur di tubuhmu

dengan air mata kedukaanku:

selain kebahagiaan, kesedihan

juga butuh dibagikan.


aku ingin menyudahi kesedihanku

aku ingin menyudahi kesedihanku

sebagai manusia

yang kerap gagal memaknai

jalur-jalur hidupnya.

menjadi batu, misalnya,

atau cemara atau keheningan beranda.

diam dan mengamati

bagaimana cara manusia

meluaskan kebodohannya sendiri.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah tayang di media cetak dan online. Buku kumpulan puisinya, agaknya mau terbit tahun ini.

Cerpen

Cinta Seorang Pelukis

Cerpen A. Warits Rovi

Wajah Lin adalah inspirasi cinta yang melebihi keindahan lanskap sebuah pantai, yang menggugah hatiku untuk melukis sesuatu yang indah. Dan harus kuakui, sebulan terakhir aku tak perlu datang ke pantai atau datang ke tempat wisata untuk melahirkan lukisan yang indah. Cukup melihat wajah Lin, maka lukisanku akan indah. Bahkan aku merasa, seandainya satu minggu tak bertemu Lin, mungkin—atau bisa dipastikan—bakat melukisku akan pudar. Setelah cinta berkuasa, segalanya seperti harus menghamba.

***

Lin kerap menunjukkan gambar sketsa yang sebenarnya jelek, tapi dengan dorongan hati yang entah kenapa, aku mengacungkan jempol atas gambar itu. Lin tersenyum. Sementara teman-temannya berdehem, sembari bisik-bisik, lalu bersama-sama menertawakanku. Aku membentaknya dengan suara lantang dan sebuah amuk telapak tangan mendarat keras di datar meja. “Duarrr.” Aku berjalan sambil berkacak pinggang dari satu bangku ke bangku lain, kutatap tajam mata anak didikku yang hanya bisa menunduk dan gemetar. Tiba-tiba kelas menjadi sepi. Aku marah-marah sekitar dua menit. Kulihat semua siswa menunduk tegang, hanya jemari mereka yang bergerak-gerak iseng, ada yang memencet pelan cat air, ada yang menggores-goreskan pensil, ada yang melipat-lipat ujung kertas. Jafri, siswa paling potensial yang duduk di pojok ruangan hanya memutar-mutar pensil.

“Baiklah, sekarang kita akhiri saja materi pada kesempatan kali ini. Dan kalian akan kukasih tugas. Buatlah lukisan absurd bertema cinta, utamakan dominasi warna hijau di lukisan kalian, dengan spasial tak lebih dari ukuran folio, boleh menggunakan pensil, cat atau crayon. Setelah berdoa, kalian boleh keluar,” ujarku bersamaan ketika kuhempas pantat di atas kursi, anak-anak membaca doa. Kurapikan buku-buku yang berisi materi yang sedianya ingin kuajarkan kepada mereka. Tapi laju waktu selama 20 menit sangat memisau perasaanku ketika aku ditertawakan mereka. Aku masih dengan wajah memerah dan dada serasa hendak meledak dengan emosi yang membuncah. Anak-anak pulang satu per satu dengan wajah yang seperti diselimuti mendung. Entah kenapa sebulan terakhir aku sering sentimen dan selalu bersikap kasar di depan anak-anak, tak selayaknya perupa yang mestinya menggunakan kelembutan hati untuk mencipta. Padahal selama enam tahun aku mengajar les melukis hanya saat ini aku seperti ini, seperti sebuah lukisan yang diciprat warna hitam oleh pelukisnya dan diabai terjemur di bawah terik matahari; kasar dan semrawut.

Ruang kelas semakin senyap, menyisihkan desir angin lirih dari arah pintu. Dalam ruangan hanya tinggal Lin dan Jafri, masih sibuk memasukkan alat-alat lukisnya ke dalam tas. Sore masih membias cahaya putih tak begitu kuning, membentuk segaris sorot memanjang di datar tembok, itu artinya senja masih lama. Anak-anak pasti sadar bahwa mereka keluar terlalu dini.

“Saya pamit pulang, Pak,” suara Lin dan Jafri hampir bersamaan membelah senyap. Sontak aku mengangguk dan entah dari mana tiba-tiba aku merasa ada sesungging senyum di bibirku. Wajah Lin yang dibalut jilbab ungu sempurna menaklukkan luapan emosi yang memuai dalam dada. Aku hanya bisa mengangguk, sebagai patung yang diam atas kehendak pemahatnya, betapa Lin adalah pemahat ulung bagi hatiku yang beku.

“Aku mencintai Lin, Bu. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikannya, karena Lin terlalu menghormatiku sebagai seorang guru. Tentu kewibawaanku akan ternoda bila harus menyatakan cinta kepadanya. Walau aku sadar mau tidak mau cinta itu harus diungkapkan dengan jalan yang baik. Dan yang paling kukhawatirkan, aku tidak sanggup menahan rasa sakit hati misalnya Lin menolak cintaku. Aku bingung, Bu,” ungkapku suatu pagi di depan lukisan almarhum ibu. Tanganku meraba-raba lukisan wajah ibu, dan air mataku menetes jatuh.

***

Aroma cat dan pensil kuhidu dari kertas dan belacu yang menumpuk di atas meja. Anak-anak baru saja menyetor tugas lukisan bertema “cinta”. Beragam bentuk dan kombinasi warna tertuang di datar kertas, seperti embun pecah di daun singkong. Aku mengoreksinya satu per satu.

Rata-rata material utama dari lukisan anak-anak adalah gambar hati tertembus anak panah. Itu pertanda imaji anak-anak tentang cinta masih statis, mengacu pada simbol cinta masa lampau. Jujur hanya Jafri yang punya kecerdasan visual-spasial dan imaji yang inovatif. Lukisan cinta yang ia setor berupa gambar sebuah gembor yang menyiram bunga, dengan sapuan cat abu-abu menyerupai tetes-tetes air yang jatuh dari lubang kecil di ujung leher gembor yang melengkung. Aku tertarik dengan lukisan itu. Tapi aku tidak bisa untuk mengacungkan jempol kepada Jafri. Karena jika itu kulakukan, Lin pasti jadi orang yang terkalahkan.

Sejenak kutatap wajah anak-anak. Mereka berwajah dingin, menunggu karya-karyanya dinilai dan diulas. Ruangan lebih senyap dari sebelumnya. Angin sore memainkan gantungan anak kunci.

“Lukisan kalian yang ada di depanku ini, semuanya salah. Minggu kemarin aku menyuruh kalian membuat lukisan bertema cinta. Tapi kenapa malah seperti ini?” ungkapan pertamaku membuat anak-anak saling pandang, dan tidak ada yang berani nyeletuk. Jafri menoleh ke arah Lin. Lin menoleh ke arah Jafri.

“Aku ingin pertemuan yang akan datang, kalian bisa melukis cinta dengan tepat.”

“Mohon maaf, Pak! Apa dari semua lukisan itu tidak ada yang bagus?” tanya salah seorang siswa dengan tatap mata sedikit awas, karena mungkin ia takut salah. Aku hanya bisa tersenyum. Aku memilah lukisan itu dengan selusup ibu jari memisah lembar demi lembar.

“Kalau bicara soal bagus, lukisan ini yang bagus. Tapi masih kurang mengena ke tema,” kataku seraya menunjukkan selembar kertas, hasil lukisan Lin. Lukisan setengah absurd berupa gambar hati tertusuk peniti dengan dominasi warna jingga.

Anak-anak terpaku menatap lukisan yang kupegang. Dan aku berbohong untuk kesekian kalinya. Sebenarnya hatiku sadar, jika lukisan Lin tak begitu bagus. Aku sadar bahwa apa yang baru saja kulakukan hanyalah suara cinta.

“Jadi, lukisan itu yang paling bagus ya, Pak?”

“Iya. Ini yang paling bagus.”

Lin tersipu mendengar ucapanku yang menobatkan lukisan miliknya paling bagus. Sementara anak-anak sebatas saling pandang, tak lagi berani bisik-bisik dan mengoceh. Aku malu kepada diri sendiri. Cinta telah menuntutku jadi begini.

Sore itu pikiranku tak keruan oleh godaan wajah Lin. Akhirnya materi harus segera kusudahi. Aku menyuruh anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, lagi-lagi untuk membuat lukisan cinta.

***

Di sela waktu, ketika anak-anak mengawali pelajaran dengan berdoa. Tak kubuang kesempatan untuk merogoh isi tas, mengeluarkan sebuah lukisan dan menggelarnya di atas meja. Aku tak pernah bosan mengamati lukisan wajah Lin di selembar kain belacu buatanku itu. Aku tersenyum dan hatiku bahagia, anak-anak selesai berdoa, lekas kulipat dan kumasukkan kembali lukisan itu ke dalam tas. Biar ia menjadi rahasiaku sendiri yang mampu berbicara kepada perasaan tanpa sepengetahuan siapa-siapa.

Anak-anak menyetor tugas lukisnya ke hadapanku. Kembali kuamati 20 lukisan aneka rupa dengan kuar harum cat menusuk hidung. Aku menggeleng-geleng, seraya kulepas jimpitan lembar-lembar yang telah kukoreksi. Anak-anak memandang dengan sedikit cemas.

“Semua lukisan yang kalian setor, sama seperti yang minggu lalu. Tak satu pun yang pantas untuk disebut lukisan cinta,” kata-kataku membuat anak-anak terdiam, sebagian saling pandang dan sebagian yang lain menjaga tatap matanya yang tajam tertuju kepadaku.

“Dan lukisan yang paling bagus, tetap karya Lin.”

“Huuuuuu!” suara anak-anak serentak, membuat lecut pecut ke telingaku, sontak aku naik darah. Dan telapak tanganku memukul meja. Duarr!!

“Sekarang kalian pulang! Cepat!” Amarahku memuncak, jantungku seperti mendidih. Anak-anak keluar menenteng tas. Sekali lagi aku merasa bahwa cinta telah membuatku semakin jadi patung yang tak kuasa atas tubuhnya sendiri, beruntung aku punya prinsip, tak apa menjadi patung, asal hati bahagia.

Setelah semua siswa keluar, tiba-tiba Lin berdiri di hadapanku, ia menunduk, menampakkan wajah yang minta dikasihani.

“Lin!’

“Iya, Pak.”

“Mengapa kamu berdiri di sini?”

“Saya ingi tahu. Lukisan cinta itu sebenarnya seperti apa, Pak?”

Aku terdiam. Dan dadaku berkecamuk, tapi hatiku bahagia bisa berhadap-hadapan setengah meter dengan orang yang diam-diam kucintai. Dengan pertanyaan itu, Lin seperti membuka sebuah jalan bagiku untuk masuk ke hatinya. Aku tak ingin membuang kesempatan.

“Lukisan cinta seperti ini, Lin,” jawabku seraya menyodorkan lukisan wajah Lin yang kubuat di kain belacu. Lin menerima lukisan itu dengan tangan gemetar. Aku tersenyum bahagia. Magma cinta yang berabad bergelegak, kini telah meledak.

“Terima kasih, bapak telah memberitahu lukisan cinta yang sebenarnya kepada saya. Saya akan memberikan lukisan cinta ini kepada Jafri. Karena saya sudah lama mencintai Jafri, Pak,” ucap Lin sembari mencium kain belacu itu tiga kali.***

Rumah FilzaIbel, 2021


A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. Bisa disapa melalui email: [email protected]

Buku, Resensi

Negara, Peliknya Administrasi dan Hidup Orang-orang Biasa

Oleh Poppy Trisnayanti Puspitasari

La Muli tidak dibuka dengan adegan mengerikan. Lembar-lembar selanjutnya pun, tidak dihiasi orang yang mati bunuh diri, adegan seks tersurat hingga pembantaian. Bagi pembaca yang terbiasa mengonsumsi sastra serius dengan cerita menghentak dan berdarah-darah, La Muli barangkali mengejutkan. Namun bagi pembaca yang sebelumnya pernah membaca karya lain dari Nunuk Y. Kusmiana, ketiadaan hal-hal ekstrim tadi tentu tidak bikin terkejut.

Lengking Burung Kasuari (LBK), menjadi karya perdana Nunuk yang menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lalu. Nyaris serupa dengan La Muli, LBK menceritakan kehidupan sehari-hari pendatang di tanah Irian Jaya. Jika LBK menceritakan kehidupan keluarga tentara kelas menengah yang pendatang dari Jawa, La Muli sebaliknya. La Muli justru menceritakan kehidupan kelas bawah keluarga nelayan pendatang dari Buton.

Pergulatan keluarga dalam LBK dan La Muli pun nyaris serupa, harus ada upaya bertahan hidup, mengakali penghasilan dan penyesuaian diri dengan budaya-budaya di tanah rantau. Meski tentu saja, persoalan air hingga sanitasi tidak dialami sama sekali oleh kelas menengah dalam LBK, beda betul dengan kelas bawah dalam La Muli yang salah satu permasalahan utamanya adalah hal satu ini.

LBK di awal hingga akhir novel menyajikan sudut pandang putri tertua keluarga tentara yang berusia tujuh tahun. Sedang La Muli sebagai naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019, menyajikan sudut pandang orang ketiga dalam sebagian besar jalan ceritanya. Gaya berbahasa dalam La Muli pun tidak berbunga-bunga. Pergantian waktu, latar dan para tokoh yang berhadapan selalu ditandai satu paragraf penjelas tanpa diksi-diksi sukar.

Pantainya landai. Pasirnya hitam. Air lautnya kotor. Mungkin pengaruh dari pasir yang hitam itu. Kampung itu belum benar-benar bangun, kecuali sekelompok kecil nelayan yang baru pulang melaut. (hal 117)

Sinar mentari siang memancar ganas. Seolah ingin menghanguskan apa saja. Di dalam gereja hantaman sinar mentari siang teredam sedikit oleh langit-langit. Angin mengalir masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Mengusir pengap yang terperam di dalam ruangan. (hal 124)

Tapi bagaimana La Muli yang tanpa kalimat berbunga dan hampir minim adegan ekstrim menjadi menarik buat terus dibaca? Semua ternyata bertumpu pada lokalitas yang bukan tempelan. Dialog dibuat berbahasa Indonesia kental logat Papua. Meski demikian, Nunuk tidak memaksakan kosakata lokal yang harus dijejalkan catatan kaki agar pembaca mengerti. Lokalitas Papua yang disajikan pun jauh dari koteka, upacara bakar batu dan hal-hal yang biasa dicap primitif dan disajikan di media massa. La Muli justru menunjukkan pergerakan masyarakat urban di tahun 1980an yang ternyata juga terjadi di Papua.

Salah satu poros permasalahan dalam novel ini adalah persoalan administrasi. Dapat dikatakan, peliknya administrasi menjadi sosok antagonis alias penghalang bagi para tokoh utama. La Muli si pendatang mesti dihadapkan dengan kekagetannya soal pembentukan er-te alias Rukun Tetangga. Rutinitasnya sebagai nelayan pun kerap berubah, ketika mesti berkenaan dengan persoalan warga yang katanya wajib jadi tanggungan ketua er-te. La Muli dan sesama pendatang lainnya di tahun tersebut ternyata buta soal perapihan administrasi dan pembentukan perangkat kampung. Hal tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 11 sebagai berikut:

“Apa persisnya tugas ketua er-te?” celetuk salah satu peserta rapat.

“Salah satunya berhubungan dengan administrasi. Mencatat nama-nama penduduk. Membuat rekomendasi kalau penduduk ingin mendapatkan surat rujukan untuk membuat ka-te-pe, atau membuat surat pengantar untuk mengurus surat kelakuan baik. Contoh surat rekomendasinya seperti ini.” kata Obet sambil mengambil selembar blanko isian.    

Tidak jauh berbeda dengan La Muli, suku Kayo Batu mesti juga menyesuaikan diri dengan perapihan administrasi. Persoalan tanah adat dan peralihan pemerintahan dari Belanda hingga akhirnya Indonesia, menjadi hal yang suku asli Jayapura ini mesti perjuangkan. Perjuangan soal tanah adat tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 157.

“Bagaimana kalau saya pelajari lebih teliti berkas-berkasnya?” tambah gubernur. “Lebih-lebih setelah pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, yang tersisa hanya masa lalu yang sudah selesai. Singkat kata, peristiwa ini terjadi di masa lalu dengan pemerintahan yang bebeda. Saat ini bapak-bapak berhadapan dengan perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Akan saya pelajari dan memberikan jawaban tertulis. Begitu lebih baik?”

Tidak ada perang si jahat melawan si baik dalam novel ini. Baik La Muli dan orang-orang suku Kayo Batu hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan usaha apapun yang mereka bisa. Mereka tidak memahami atau terlalu peduli dengan pergolakan politik, peralihan kekuasaan dan sejenisnya. Yang mereka lakukan hanya memerjuangkan hak dan makan dari keringat sendiri. Mula-mula kehidupan pendatang dan suku asli Jayapura ini pun cenderung tanpa gejolak, jika saja perapihan administrasi tidak tiba-tiba hadir kemudian memaksa mereka mengikutinya.

Nunuk telah memotret lokalitas yang betul-betul tidak bisa ditempelkan jika latar belakangnya selain Jayapura. Ada persoalan sejarah hingga peralihan kekuasaan yang goncangannya membuat novel setebal 196 halaman ini bergerak dinamis. Para tokoh yang berprofesi sebagai polisi dan tentara tidak lepas juga dalam jalan cerita. Mereka ini yang diceritakan menjaga perdamaian di tanah Irian Jaya meski ternyata, kebijakan yang dibuat turut pula membikin rumit kehidupan masyarakat kelas bawah karena tidak disesuaikan adat setempat. Tokoh berseragam lain, ada pula yang digambarkan menempuh kebijakan demi mempermudah urusan negara di tempat dirinya bekerja, sekalipun menyadari telah menyalahi hak orang lain.

Kesenjangan antara kebijakan, perapihan administrasi dan juga diterapkannya dua hal tadi tanpa mengindahkan adat setempat yang ternyata menyumbang depresi dalam diri para tokoh La Muli. Semuanya terasa serba tiba-tiba. Dari kehidupan mereka yang dulunya datar dan sekadar memenuhi kebutuhan perut, namun tiba-tiba mesti berlarian memenuhi aturan-aturan baru dari orang-orang berseragam yang digambarkan sangat pula para tokoh ini hormati. Masih orang-orang berseragam ini pula yang ternyata hampir semuanya berasal dari luar Jayapura. Hal demikian yang barangkali juga menyumbang kebijakan-kebijakan yang ditelurkan dan paksa diterapkan pada akhirnya tanpa melihat adat sekitar.

Para penulis yang berambisi mengemukakan tema-tema lokalitas, agaknya mesti betul-betul menguliti La Muli agar apa yang diusung bukan lagi hanya tempelan, apalagi sekadar drama percintaan urban yang paksa diberi latar pantai dan profesi nelayan. Sebuah cerita yang di mana saja latarnya diganti sekalipun, bukan menjadi masalah. Demikian barangkali akan serupa La Muli, yang memang bukan sekadar novel dengan tempelan latar pantai, profesi nelayan dan kosakata berbau daerah yang padanan katanya sukar dicari dalam Bahasa Indonesia.

Halaman terakhir novel ini pun tidak betul-betul menunjukkan kesedihan atau kebahagiaan yang terang. Para tokoh ditunjukkan mesti terus melanjutkan hidup yang tidak tahu bagaimana ujungnya. Mereka yang kemudian tidak sengaja memilih, hidup dipermudah negara atau kemanusiaan antar orang-orang biasa. Kemudian Nunuk dalam La Muli barangkali pula ingin menyampaikan, sastra serius yang apik tidak mesti dibuka dan ditutup dengan kejadian-kejadian tragis.


Poppy Trisnayanti Puspitasari, belajar menulis di Pelangi Sastra Malang. Dapat ditemui di blognya http://semangkaaaaa.blogspot.com