Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Hujan di Telinga

seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan

melewati kebosanan demi kebosanan

dengan cara mengudara

lewat kata-kata

yang hidup dan berkembang biak

di jantung telepon genggam

kemudian muncul hantu

yang menari di tengah hujan

sembunyi di balik ramainya bunyi atap

dan pekikan udara

aku menyaksikan semua itu sambil merokok

dan menulis sebuah puisi iseng

di dalam telinga, muncul bunga bunga

2019


Ke Tenggara Jiwa

menangkal kesepian demi kesepian

yang diam di sarkofagus tepi jiwa

aku berjoget di udara

bersamamu, melewati banyak lagu burung

di awan tinggi

kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah

yang selalu berdoa

terus berdoa

agar senantiasa kaya

di atas sana

malaikat bercahaya putih suci bersih

sebagai peracik ulung kebahagiaan

berencana membakar sebuah mall

agar seluruh orang yang cari duit di sana

pulang, dan meminta

menangis

dan memeluk

agar ibu

selalu mau melepas diri dari keterpojokan

dan selalu tinggal

di rumah

menyapu banyak masalah

2019


Obat Gila

dengan segala hormat, puisi

dengan segala takut, segala sisi formal,

segala aturan

agar arus bawah tetap di bawah

agar purna akal tetap di langit tinggi

kepadamu puisi

kugali huruf-huruf

tegang badan sendiri bak kaktus di tengah

hutan

tiada matahari tiada angin

tiada apa pun

yang ada hanya cahaya samar

menembus hingga ke tulang

dan ketika pulang

hai puisi, hai umur panjang

kupulangkan segala kenang

agar purna harapan

yang diam di tepi tangis

panjang

oh doa doa

oh apa saja

lekas pulangkan segera

obat bagi jiwa

2019


Beku

siluman berkepala nabi

mendaftarkan diri masuk pegawai negeri

agar candala demi candala

di lebat hujan sana

tiada meminta apa

bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau

ketika salju menampar mukanya

di sisi terakota

lelakinya, namanya topik

sedang memasak es batu

dan menanak banyak embun

untuk perempuan salju tadi

dua gelas sirup rasa jambu muda

tersedia begitu saja

setelah badai salju ribuan daya

menenggelamkan tubuh-tubuh penuh

elektron

dan, mati juga akhirnya

kala topik bertanya,

“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah

tiada?”

2019


Bertahan

seekor sapi dari dalam kitab suci,

sejak 14 abad lalu, mencoba

muncul ke dalam pinggan nasimu

tapi gagal, selalu gagal

sebab, ayam-ayam di kampus

dan ayam kampus di pusat perbelanjaan

menawarkan nubuat gurih nikmat

ke dalam tubuhmu yang universal

dirimu, dan sekularisme yang sering main

di celana

menjadi juri bagi dirimu sendiri

kau bertahan, selalu bertahan

agar lepas segala beban

agar pergi ingatan

akan tetapi, kau selalu menolak

kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam

pinggan nasi

yang kau upayakan diri tanggungmu

mampu menahan isak ribuan tahun

ragamu, dan asa kemerdekaan

bertahan, bertahan, bertahan

demi ayam-ayam amerika di restoran

kenamaan

dan seragam sekolah anakmu

kau menarik kembali sapi di kitab suci

dan memasak sebuah sup

kau menangisi kuahnya

sebab

itu kuah air matamu

itu kuah pedih sembilu

2019


Ruang Tulis

hai

ke mana seluruh isi bumi?

aku ingin menitipkan lara ini

untuk teman segala kenang

untuk hidup!

apa? apa aku harus tiap hari di sini

sendiri di balik sepi

apa? kau tak mendengarku?

oh baiklah

akan kutelan sendiri hidupku

aku tak akan mati-mati

tak akan pernah kalah!

lihat saja!

2019


Ruang Tulis /2/

sungguh, aku ingin menemukan diriku

di kedalaman sendiri

di tepi apa pun

tidak ada suara

tidak apa pun

bahkan diriku pun tak

kunjung kutemukan

aku terus menulis

dan menulis

hingga letihku

penuh seluruh

2019


Ruang Tidur

di gelap hebat ini, kekasih

aku tertidur, dan terbangun

satu jam kemudian.

tidak ada apa-apa di sini

kecuali doa

doa-doa panjang

yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,

menjadi seekor puisi yang

mudah-mudahan kau mau

mudah-mudahan kau

lelap bersamanya

dan membangunkanku lagi

satu jam kemudian

2019


Ruang Tidur /2/

kubikinkan ruang tidur untukmu

biar kau tak butuh lagi pelukan,

kening yang telah dikecup,

atau sentuhan ngilu ke jantung

besok senin, kekasih

dan kau masih terbang di udara?

tidak, sesekali jangan begitu

kewarasan orang kota akan menelanjangimu

2019


Tidur

di lagu terakhir ini

telah kuhempas badan

kuhempas apa saja!

aku ingin ke sana, Rabbi

ke sudut jauh

memulangkan segala ingin

menafikan semua mau

rebah aku dalam tiap sujud

tunduk, aku patuh

tolonglah, tolong aku

mengenal yang namanya istirah

2019


Ruangan Ini Beku dan Dingin

salju masih menembus rumah

dinginnya ke jantung

kecut badan remuk di tulang

kunyalakan ponsel pintar

kutarik orang-orang

untuk menerjemahkan hidup pelik ini

menerjemahkan peta

tapi, seorang pun tidak

mengetuk pintu

mengucap salam, atau apa pun

Padang, 10 Januari 2019


Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

Cerpen

Gasing Tengkorak

Cerpen Siska Amelia

Wajahnya tampak gelisah. Rambut ikal sebahu tergerai dilapih kelembai. Sesekali mulut dibuka lebar, tertawa sambil membelalakkan mata, mengedarkan tatapan liar pada dinding bercat abu-abu. Penat melepas tawa tak beralasan, ia meraung-raung. Ditarik-tariknya rambut, lalu berteriak tidak menentu.

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Si wanita semakin menggila tingkah lakunya. Sama sekali tidak memedulikan banyak pasangan mata yang tengah menatap heran. Dia mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Sambil menari-nari, dilempar serampangan baju itu. Perlahan semua yang menutupi tubuh dilepas. Dengan menyuguhi pandangan beringas, ia menempelkan tubuh bagian depan pada dinding, di samping kiri ranjang. Kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar dinding, lalu berteriak, menggeliat, mengamuk, tertawa, dan kadang mengeluarkan suara tangisan. Wanita tak berayah-beribu itu, nampak jelas begitu kesakitan.

Rosmayenti. Begitu warga memanggil namanya. Perawan usia 25 tahun, terkenal seantero kampung Karamba karena kemolekan tubuh dan paras dahayu yang Tuhan anugerahi. Tak ayal, berderet lelaki bertandang hendak mempersunting wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Sayang, wajah cantik tak selaras dengan tuturnya saat lelaki datang meminang. Rangkaian kata menghunus ulu hati acapkali terlontar dari bibir bergincunya. Menolak mentah dengan kata-kata pedas adalah hal lumrah baginya.

Hide. Satu di antara puluhan lelaki yang kerap mendapat perlakuan semena-mena dari Rosmayenti. Pria yang telanjur jujur mengungkapkan segala isi hati, malah disiram cerca-maki karena profesinya hanya penjual kayu bakar. Diusahakan Hide meredam hati yang memanas. Bergeming. Lelaki piatu tersebut memutuskan pergi tanpa wacana walau sepatah kata. Setiba di rumah, sengaja dia menutup rapat kejadian merendahkan harga diri, pada bapak yang begitu dihormati. Enggan Hide berbagi pilu dengan bapak yang turut dihina Rosmayenti. Suasana duka seratus hari kehilangan istri masih membekas basirah. Tentu ia tak mau menambah rasa sakit, jika dia bicara perihal apa yang dialaminya. Namun, saat wajah Hide tampak murung, justru bapak menenangkannya. Hide sedikit heran karena hal itu, dia coba menelisiknya mengapa bapak tampak tenang, tetapi diurungkannya, karena dia pikir itu bukan sesuatu yang buruk, justru dia menganggap apa yang ditunjukkan bapak melegakan hatinya. Hanya pada Mandaro, kawan karibnya, Hide menumpah-ruahkan segala isi hati.

Malam ini, langit tidak mengumbar banyak bintang. Hide yang dihubungi temannya agar menyegerakan langkah ke rumah ini, ternganga begitu melihat Rosmayenti berjingkrak tanpa busana, berkelakuan serupa binatang. Kemudian pikirannya mengembara, menjajaki setiap jengkal kejadian tujuh hari lalu.

“Pernah kau dengar tentang gasing tengkorak, Hide?” Mandaro melempar pertanyaan setelah mendengar semua yang Hide ceritakan. Kening Hide mengerut diiringi gelengan kepala, memberi isyarat bahwa dia tak paham dengan apa yang Mandaro ucap.

“Gasing tengkorak adalah gasing yang dibuat dari tengkorak jidat manusia yang mati berdarah,” tutur Mandaro. Ditatap seriusnya Hide yang mendengar dengan saksama.

“Almarhum kakek pernah bercerita tentang lelaki tua yang memiliki gasing tengkorak di kampung kita,” kata Mandaro melanjutkan obrolan.

“Lalu? Apa gunanya gasing tengkorak untukku, hah? Aku ini jatuh cinta, bukan ingin bermain gasing layaknya anak kecil.” Hide mengeluh kesal. Dihempas paksa tubuhnya pada kursi kayu bercorak kuno.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau cerita tentang gasing tengkorak yang mampu membuat wanita idaman kau menuruti maumu, hah?”

“Edan. Mana mungkin aku lakukan hal macam itu untuk taklukkan Rosmayenti?” ucap Hide. Ditekannya pemantik hingga mengeluarkan api kemerahan. Dia menghisap tembakau kuat sampai bara api meremang.

“Jangan naif, Kawan. Aku bisa saja mengantarmu ke rumah lelaki tua pemilik gasing tengkorak. Kakek bilang bahwa ia telah menurunkan ilmu gasing tengkoraknya pada seseorang.” Mandaro menyeruput  dan merasakan sejenak kopi tanpa gula mengalir, membasahi tenggorokan, lantas kembali angkat bicara.

“Kakek tak pernah bilang kepada siapa lelaki tua itu mewarisi ilmu gasing tengkorak. Kau dan aku bisa bertanya langsung pada lelaki tua tersebut.”

“Lalu?”

“Kita temui pemilik gasing tengkorak yang baru dan meminta agar Rosmayenti tunduk padamu.”

“Memangnya di mana rumah lelaki tua itu?”

Rimbo Data.”

Mereka beradu pandang. Bergeming. Hide hafal jalan menuju rimbo data. Beberapa kali bapaknya mengajak dia ke hutan lebat itu, mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Tetapi, Hide tidak mengetahui ada sebuah rumah di hutan yang lengang. Bapak juga tidak pernah bercerita. Barangkali terlalu sibuk dan fokus memilih kayu untuk keberlangsungan hidup.

Pikiran Hide menerawang, mengingat cerca-maki yang Rosmayenti lontarkan, tidak hanya padanya, tapi juga pada bapaknya. Untuk sesaat, darah dendam mengaliri tubuh Hide, namun raib begitu ia mengenang mendiang ibu yang selalu tanamkan nilai-nilai agama.

Mandaro mengambil secarik kertas dan pena bertinta biru. Ia nodai kertas itu, lalu menaruhnya di meja cokelat bermotif dedaunan.

Netra Hide tertuju pada kertas coretan Mandaro yang tertulis ‘Denah Lokasi Rumah Lelaki Tua Pemilik Awal Gasing Tengkorak’. Hide diam. Satu sisi ia menginginkan Rosmayenti, tapi di lain sisi, ia teringat mendiang ibu. Air muka Hide menampakan kebingungan yang sangat.

Rosmayenti kian meradang. Ia menerkam dan menerjang siapa saja yang ingin mendekatinya. Wanita paruh baya yang berniat menutupi tubuhnya dengan sarung, langsung dicekik hingga tak mampu memekik. Beruntung warga bisa melerai. Nahas, beberapa pemuda yang melerai malah dilempari apa saja oleh Rosmayenti. Tatapannya mendelik ke sekeliling, ia mulai menghalau orang-orang yang awalnya diacuhkan. Mereka ketakutan dan berhamburan, tak mau menjadi korban keberingasan wanita angkuh ini.

Pintu kamar telah dikunci Rosmayenti. Derap langkah warga perlahan menjauh, kembali ke-rumah masing-masing. Meninggalkan Rosmayenti yang terus saja mengerang.

***

Hide mengayuh sepeda begitu terburu. Kertas denah pemberian Mandaro digenggam erat. Ia mulai menapaki hutan rimbo data, membelah jalanan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar, juga tinggi. Hawa dingin pagi langsung memagut tubuhnya, serta-merta menghujam wajah penasaran lelaki penjual kayu bakar itu.

Hide memutuskan tidak ingin menuruti saran Mandaro untuk menjadikan gasing tengkorak sebagai media menganiaya Rosmayenti dan patuh padanya. Hide hanya berencana menemui lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak, memastikan apakah ada orang lain yang telah mendatangi lelaki tua tersebut. Dia juga hendak menanyakan siapa gerangan pemilik gasing tengkorak yang baru. Menguliti semua hal secara tuntas.

Rasa keingintahuan yang membuncah, membuat Hide semakin menambah kecepatan menga-yuh. Ia mau penderitaan Rosmayenti segera berakhir, walaupun kelakuan gadis berambut pirang itu malah membuatnya menderita. Belum pernah Hide menyayangi wanita begitu tulus, kecuali sayangnya pada Rosmayenti saat ini. Dia juga tidak mau gadisnya merasa sakit lagi.

Hanyalah gubuk reot beratapkan ijuk yang dilihat Hide di lokasi denah. Di sekeliling rumah tumbuh banyak ilalang, hal itu yang membuat Hide tak hirau sebelum-sebelumnya.

Pintu gubuk dibuka lebar seperti menunggu kedatangan tamu. Hide berencana masuk, tapi terhenti ketika melihat Rosmayenti yang berjalan perlahan menuju gubuk. Hide segera menyembunyikan diri di sisi kiri gubuk, memerhatikan langkah Rosmayenti yang memasuki gubuk.

Pintu gubuk ditutup saat Rosmayenti masuk. Hide mengendap-ngendap. Hide mengintip dari lubang gubuk yang ada. Dia melihat lelaki mengenakan topeng tengah memainkan gasing tengkorak. Gasing yang bertali kain kafan terus berputar diiringi sayup nyanyi samar. Asap mengepul dari kemenyan yang dibakar di dalam batok tempurung. Lelaki itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tumpul begitu melihat kedatangan Rosmayenti. Dengan wajah penuh kemenangan lelaki itu berkata, “Ini ganjaran untukmu karena telah berani meludahi wajahku tiga hari lalu.”

Lelaki itu memerintahkan Rosmayenti untuk berbaring pada kasur tipis yang telah disediakan. Rosmayenti bagaikan boneka hidup yang menuruti saja kemauan lelaki bertopeng. Dengan beringas, dia mulai menggerayangi tubuh Rosmayenti.

Tak tinggal diam, Hide berniat menghentikan perbuatan itu. Namun, belum sempat hal itu dilakukannya, lidah Hide terasa kelu, hatinya getir, badan serasa kaku ketika melihat lelaki itu melepas topengnya dan mencium bibir Rosmayenti.

B … ba … bapak,” ujarnya terbata. Masih sulit hati Hide memercayai lelaki itu ialah orang yang dikenal, disayang, dan sangat dihormatinya.

Seseorang menepuk pundak Hide dari belakang. Segera Hide membalikkan badan. Di depannya berdiri seorang kakek dengan tongkatnya. Dialah lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak. Dia menatap Hide tajam sembari menyisir jenggot yang telah memutih, lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di gubuk yang telah aku wariskan kepada muridku?”


Siska Amelia, beberapa tulisannya pernah memenangkan lomba, yang terbaru adalah cerpen berjudul ‘Palasik’, menjadi juara favorit lomba menulis cerpen nasional yang diadakan lomba online tahun 2020.

Cerpen

Kari

Cerpen Sasti Gotama

Saya benci kari. Namun, hari ini saya terpaksa memasaknya. Kari yang saya maksud bukan kari ala India, tapi kari ala Indonesia. Shanti, kekasih saya yang memperkenalkannya. Ia berasal dari sana. Namun, seperti kari Indonesia yang menyimpan potongan ayam di balik kentalnya kuah santan, Shanti menyimpan banyak kisah rahasia yang dapat membakar isi koran lokal Warburton di musim salju yang beku.

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Di salah satu jalan utama Warburton itulah, pertama kali saya bertemu dengan Shanti. Suatu hari di musim gugur, ia menggelar lapak makanan Indonesia dalam bazar komunitas. Kala itu, ia terlihat cantik sekali. Rambut hitam panjangnya sesekali dipermainkan angin  sehingga melayang menutupi matanya. Kulitnya yang sewarna kulit gandum tampak begitu menggoda. Bibirnya yang setebal bibir Kim Kardashian tampak sensual. Serasi dengan gaun merah berpotongan rendah yang dikenakannya.

Ia yang menyapa saya lebih dulu kala itu.

“Hai, Tuan. Anda harus mencoba kari kami.”

Awalnya saya tak peduli. Saya takut ternyata ia tak memanggil saya, melainkan lelaki lain di sekitar saya. Saya terbiasa tak terlihat, serupa hantu gentayangan. Namun, ia sepertinya tak menyerah. Ia keluar dari stan dan menghadang saya.

“Kari kami istimewa, Tuan!” katanya dalam bahasa Inggris beraksen Asia. “Ini khas Indonesia,” lanjutnya.

“Apa istimewanya?”

“Kari kami tidak sepekat kari India atau Malaysia. Selain itu juga banyak khasiatnya. Kami menggunakan daun jeruk dan serai segar. Bagus untuk daya tahan tubuh terutama di musim gugur seperti ini.”

“Saya tak suka masakan Asia.”

“Anda belum mencoba.”

“Saya tak ingin mencoba.”

“Anda harus mencoba. Aku beri cuma-cuma.” Ia memandang saya penuh arti. Pupilnya langsung tertuju pada mata saya.

Ia menarik tangan saya menuju stannya dan memberikan satu wadah plastik berbentuk bundar yang saya yakini bukan khusus untuk mengemas makanan. Pastinya kari di dalamnya sudah berubah menjadi makanan beracun yang 
terkontaminasi BPA.

“Aku yakin Anda akan menyukainya. Trust me!” Ia meletakkan bungkusan itu di tangan saya, lalu tersenyum puas.

Sesampai di rumah, bungkusan itu langsung saya lempar ke keranjang sampah. Buat apa? Hanya sekumpulan racun yang akan menyebabkan sel-sel saya bertransformasi menjadi sekumpulan alien ganas.

Namun, esoknya kami bertemu lagi di rumah makan tempat saya biasa sarapan. Rupanya ia bekerja sebaik pramusaji di sana. Ia yang mengantarkan kopi dan panekuk saya.

“Bagaimana karinya?” tanyanya. Hari itu ia memakai pakaian kasual: kaus putih sederhana dan jeans, membuatnya tampak lebih menarik. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda.

“Lumayan,” gumam saya. Saya harap, ia tak punya antena untuk mendeteksi kebohongan. Sebetulnya, saya ingin ia segera menyingkir dari saya.

“Ah, syukurlah. Itu pertama kali aku memasak kari. Biasanya ibuku di Indonesia yang memasaknya. Ia pandai membuat kari. Aku terpaksa belajar kilat membuatnya gara-gara teman satu apartemen memaksaku untuk mengisi stannya.”

Dalam hati, saya mengucapkan syukur banyak-banyak, lolos dari jebakan menjadi kelinci percobaannya.

“Jika Anda suka,  akan kubuatkan lagi. Besok aku antar ke rumah Tuan.”

Oh, tidak! Saya harus membuat alasan. Tapi saya urungkan niat saya. Gadis ini cukup menggoda. Ia sedikit membungkuk di depan saya sehingga dadanya agak terbuka.

“Boleh. Rumah saya di pojok sana.” Saya tunjukkan rumah bercat kelabu  yang tak jauh dari rumah makan ini. Terlihat jelas dari jendela di hadapan saya. “Dan, panggil saya Mark, jangan Tuan.”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Shanti,” katanya.

Sejak kejadian setahun lalu itu, kami semakin sering bertemu. Ia kadang mampir ke rumah membawa semangkuk kari, menaruhnya di pantri, dan membiarkannya mendingin sembari kami berbincang. Dan saya selalu membuangnya setelah Shanti pulang.

Ia gadis yang pintar. Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Banyak hal yang ia ceritakan, termasuk awal mula ia datang ke Warburton.

“Aku ingin melihat salju.”

Sudah kukatakan, alasannya  aneh. Tapi mungkin sama anehnya dengan alasan kami, warga Warburton, ke Bali hanya karena ingin berjemur di bawah sinar matahari.

Namun, tak lama, alasan Shanti ini berubah. Tepatnya setelah saya memberikan kunci duplikat dan menyilakannya tinggal di rumah.

“Aku melarikan diri,” katanya sambil bergolek malas di tempat tidur, memunggungi saya.

“Dari apa?”

“Pembedaan. Pengucilan.”

“Di?”

“Di rumah, lingkungan, kota, negara, semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Ia berbalik badan dan melihat saya dengan mata redup. “Saat lahir, namaku Santo. Padahal, sejak berumur lima tahun, aku merasa sebagai Shanti. Dokter membantuku mengubah cangkang.”

Ia mengatakannya dengan lugas, satu menit sebelum kami bercinta. Hasrat saya sudah memuncak sebelum ia mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya menghalangi  apa yang tertunda? Saya tak pernah dekat dengan siapa pun. Bagi saya, ia tetap Shanti yang saya kenal.

Di lain kesempatan, ia juga mulai terbuka tentang perasaannya. Malam itu kami sedang duduk di sofa,  menonton film Pursuit of Happiness.

“Aku  juga ingin bahagia,” bisiknya. Tangannya terbenam dalam mangkuk besar berisi popcorn.

“Berbahagialah.”

“Iya. Kupikir sekarang aku bahagia. Tidak seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu tidak ada yang mau mengerti. Menurut mereka, aku harus seperti cangkangku. Padahal, aku bukanlah kelomang yang bisa mudah berpindah cangkang. Jika cangkangnya sudah tak sesuai, ia bisa mencari cangkang siput, tutup botol, atau kerangka bulu babi.”

“Hmm ….” Saya tidak terlalu peduli dengan ceritanya. Mata saya lebih fokus ke akting Will Smith yang membosankan.

Shanti menyandarkan kepalanya di lengan kiri saya.

“Di negara asalku, mereka hanya melihat ini sebagai dosa, tanpa peduli apa yang kurasa. Misalnya ini pun memang dosa, lebih baik Tuhan yang menghukumku, karena Dia yang menciptakan dan tahu betapa berat cobaan yang kuhadapi. Aku pun tak ingin seperti ini. Sudah berkali-kali kucoba berlaku seperti cangkangku. Tapi, aku tak mampu.”

Sepertinya ia menangis. Suaranya bergetar. Namun, akting Will Smith yang memuakkan lebih menyita perhatian saya. Memang kenapa kalau dulu ia menderita? Toh, semua telah dilewatinya. Sekarang ia bebas menjadi apa saja yang ia mau.

“Kadang aku iri dengan yang senasib denganku di belahan dunia lain. Di sana, paling tidak mereka masih dianggap manusia. Mereka bisa menjadi pegawai pabrik, pilot, bahkan pramugari. Tapi, aku cukup bahagia saat ini. Hanya saja, aku rindu kampung halaman. Rindu kari buatan ibu.”

Tiba-tiba ia bangkit. “Akan kubuatkan kari!” ucapnya dengan suara serak yang diriang-riangkan. Jemarinya yang lentik mengusap air mata hingga tanpa sisa. Ia segera beranjak ke dapur. Aduh, sepertinya saya harus pura-pura tertidur atau mati saja sekalian. Saya benci kari!

***

Setelah enam bulan bersama, lambat laun ia mulai berubah. Semakin lama ia semakin mengekang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak penting.

Misalnya saat kami berbelanja di supermarket kota untuk mengisi kulkas kami yang kosong. Ia mempertanyakan mengapa saya tak mau menggandeng tangannya.

“Apakah kamu malu terlihat bersamaku?”

Saya menggeleng. Ayolah, ini bukan masalah malu atau tidak. Memang inilah saya, biasa tak terlihat. Rasanya tidak nyaman, menunjukkan kemesraan di tempat umum. Namun, hal ini membuat Shanti berpikir lain. Ia mengomel di sepanjang lorong-lorong supermarket. Ia mengambil barang-barang di rak dengan kasar dan mencampakkannya ke keranjang belanjaan. Beberapa orang di sekitar memandangi  kami. Saya merasa risih. Saya paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi di kota kecil seperti ini. Sudah saya katakan, hal-hal kecil bisa  membakar halaman-halaman gosip koran lokal.

Sifat paranoidnya semakin menjadi. Ia banyak menuduh saya ini dan itu. Saya pikir, ini berasal dari pikirannya sendiri. Ia merasa tidak aman hanya karena ketakutan-ketakutannya sendiri, bukan karena sesuatu yang nyata.

Puncaknya saat ia menuduh saya berselingkuh dengan rekan kerja saya di perpustakaan kota. Ayolah, saya ini hanya bayangan, tak menarik perhatian. Hanya pria paruh baya yang hampir botak dan membosankan. Tak ada yang melihat saya. Sheila, rekan kerja saya yang berdada rata dan berkaca mata itu paling hanya menanyakan katalog-katalog buku tersimpan di mana. Wajahnya juga biasa saja. Keunggulannya hanyalah ia benar-benar wanita. Namun, hal sederhana ini cukup menyulut kemarahan Shanti.

Saat marah, ia seperti beruang. Ia akan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya. Matanya melotot dan wajahnya berubah merah padam. Ia  banyak memaki dan menggeram.

Seperti pagi ini, ia kalap saat menemukan pesan dari Sheila yang mengharapkan kedatangan saya di pesta ulang tahunnya. Shanti mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya. Termasuk sebuah asbak dari kayu, oleh-oleh teman saya saat ia pulang berlibur dari Bali. Asbak itu cukup berat, dan sukses menghantam sisi kanan kepala saya.

Saya marah! Sudah banyak yang saya korbankan untuknya. Uang yang cukup banyak untuk menutup semua utang-utangnya, juga perlindungan dari jerat deportasi. Saya juga mendengarkan semua keluh kesahnya yang tak penting. Seharusnya ia berterima kasih atau bahkan menyembah saya sebagai dewa penyelamat. Tapi, rupanya ia hanya memandang saya sebagai alat. Atau lebih tepatnya saya diperalat olehnya.

Makanya, hari ini saya harus memasak kari. Harum rempahnya akan menutupi proses pembusukan. Baru kaki dan tangannya yang saya masak. Kepala dan organ dalamnya masih di kotak pendingin. Atau mungkin saya harus coba memasak rendang?


Sasti Gotama, seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi. Beberapa cerpennya telah tersiar di media massa cetak maupun online.

Cerpen

Lelaki yang Memilih Jalan Memutar

Cerpen Iin Farliani

Lelaki itu datang lagi. Ia berjalan seperti biasanya. Ia memakai kacamata. Wajahnya selalu tampak pucat dan tak bertenaga. Aku memandangnya dari konter kedai milikku. Ia sudah memutari jalan sebanyak tiga kali. Artinya, ia juga sudah tiga kali memutari kedaiku. Trotoar ini cukup lebar, berada di depan gedung kesenian. Ada halaman bercoran semen juga yang bersambungan dengan trotoar. Di pinggirnya, pedagang kaki lima menggelar dagangannya. Aku pernah beberapa kali masuk ke dalam gedung kesenian, mengantar pesanan mi ayam dan bakso untuk seniman-seniman yang mengadakan pertemuan di sana. Mereka sangat senang berkumpul, berbicara yang tidak-tidak dan merencanakan hal besar yang tak pernah diwujudkan. Sedikit banyak aku mengetahui apa yang terjadi di gedung kesenian itu. Tapi, laki-laki ini, baru pertama aku melihatnya ketika tak sengaja aku memperhatikan penampilannya yang mencolok.

Beberapa hari terakhir ini, ia suka mengitari gedung kesenian. Ia berjalan sendirian di sepanjang trotoar. Ia akan menempuh jalan memutar untuk kembali lagi ke titik yang sama. Wajahnya selalu tampak serius seakan begitu banyak beban ditimpakan begitu saja di pundaknya dan ia tak punya kuasa untuk menolak. Lelaki itu berjalan, menatap lurus ke depan. Tubuhnya yang jangkung dengan kedua pundak yang berayun-ayun secara perlahan menghilang kemudian di belokan yang menghubungkan jalan lain menuju arah trotoar di belakang gedung.

Kali lain karena terlalu sering memperhatikannya lewat, aku menghitung sudah berapa putaran yang diselesaikannya. Aku yakin sembilan putaran. Kadang aku mendapati ia menggenapinya menjadi sepuluh. Tapi, pada hari itu ketika putarannya baru mencapai angka lima, ia berhenti di depan kedaiku. Ia duduk, terengah-engah membetulkan posisi kakinya yang diluruskan. Ia melepas kacamatanya. Kacamata yang menampakkan lelaki itu sebagai seorang kutu buku. Terlihat bintik-bintik keringat berkumpul di bawah hidungnya.

“Mi ayam atau bakso?” tanyaku. Pertanyaanku rupanya cukup mengejutkannya. Ia baru sadar ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang konter.

“Pesan minum saja. Jus kalau ada,” katanya sambil melirik ke arah gedung kesenian.

Aku mengangguk. “Alpukat, jeruk, atau leci?”

“Alpukat? Ada alpukat, ya? Berikan alpukat kalau begitu,” pintanya masih dalam tekanan suara yang sedang mengatur irama napas agar dapat bercakap dengan tenang.

Ketika aku datang ke mejanya dan meletakkan gelas jus alpukatnya, lelaki itu tiba-tiba berkata, “Istri saya hilang.” Suaranya begitu datar hingga terdengar tidak nyata. Seolah ia sedang memberitahu peristiwa biasa di hari yang sangat biasa. Ia mengaduk jus alpukatnya, memiringkan gelasnya sedikit, memicingkan mata sebentar lalu menyereputnya perlahan, memiringkan gelas lagi seakan tengah memastikan apakah jus yang telah diseruputnya benar-benar jus alpukat.

“Hilang. Menghilang begitu saja. Malam terakhir ketika ia tampil di gedung kesenian ini,” lelaki itu berhenti sebentar lalu menunjuk gedung kesenian dengan sedotan limunnya. “Ia menyanyi tiga lagu. Menyanyi sambil bermain musik. Lalu dia menghilang. Sampai sekarang belum kembali. Teman-teman satu grup musiknya tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya. ‘Kami tidak tahu. Bagaimana mungkin?’ begitu kata mereka. Dia terlihat baik-baik saja malam itu. Tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Menyanyikan tiga lagu, berjingkrak di atas panggung, berpeluh bersama anggota grup yang lain. Lalu mengapa ia menghilang? Sampai kini tidak ada yang tahu. Tidak ada yang berhasil menghubunginya.”

Aku terdiam. Ia masih muda. Meskipun ketika mengenakan kacamata tebal, umur di wajahnya terlihat bertambah sedikit. Tetapi, tetap saja roman muka yang memancar darinya akan membuat orang-orang tidak menyangka ia sudah menikah. Aku menunggu kata-kata berikutnya. Aku ingin bertanya apakah ia sudah melapor  polisi. Tapi, rasanya pertanyaan itu kurang pantas. Benar-benar tak pantas diucapkan. Bila mengingat lagi hari-harinya yang dihabiskan untuk berjalan memutari gedung kesenian ini setiap sore, mengingat upayanya yang tampak betul-betul gigih, meminta bantuan polisi bukanlah suatu hal yang mesti dilakukan. Bahkan mungkin terdengar tidak penting.

“Lalu Bung memutari jalan ini setiap hari agar suatu saat bisa bertemu dengan istri Bung?”

Lelaki itu mengenakan kacamatanya kembali. Ia terdiam sebentar sambil mencecap sisa-sisa jus yang tertinggal di sudut bibirnya. “Tidak juga,” katanya.

“Saya setiap hari berjalan memutari gedung kesenian ini karena jalan memutari gedung ini memberikan kepada saya semacam ketenangan. Perasaan tenang yang sukar dijelaskan. Pokoknya, setelah mengelilingi gedung ini berkali-kali, pikiran yang semula kusut mendadak dapat diurai lagi. Setelah itu, saya dapat tertidur dengan nyenyak di malam hari. Saya kira hanya dengan pikiran yang tenang saya dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk tentang alasan kepergian istri saya.” Ia menyerahkan gelas jusnya yang sudah kosong lalu meletakkan uang pembayaran di atas konter. Ia sangat senang dengan jus buatanku. Benar-benar enak, katanya.

Sejak hari itu, lelaki berkacamata setiap kali lelah berjalan atau sesudah menyelesaikan putarannya akan datang ke kedaiku memesan jus alpukat. Kadang-kadang ia mengaku ia tak sempat makan dulu di rumah. Maka, ia memesan juga mi ayam. Menyantap mi dengan mulut penuh. Menyudahinya dengan meneguk jus alpukat. Orang-orang memandang heran. Melihatnya tiap sore berjalan memutari gedung tanpa terlihat bosan. Ada saja yang menasihatinya, kalau mau berolahraga pergilah ke taman kota. Di sana disediakan banyak jalur untuk mereka yang suka lari-lari kecil. Jangan di trotoar ini. Trotoar ini milik pedagang kaki lima. Di sini orang duduk-duduk, kongko-kongko sambil makan dan minum. Tiap kali diberitahu seperti itu, lelaki itu menggeleng. “Istri saya hilang,” jawabnya ringan. Lalu meninggalkan wajah-wajah yang terbengong- bengong kebingungan.

Kalau mengingat lagi cerita lelaki itu, aku mengingat seorang perempuan bernama Win. Aku juga baru sadar, akhir-akhir ini ia tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Dari balik jeruji gerbang pendek, aku tidak melihatnya lagi berlari-lari memutari lapangan rumput hijau di sana bersama aktor-aktor yang berlatih olah tubuh. Di gazebo yang dinamakan “kuil rembulan” tempat anak-anak belajar mengarang cerita, Win juga tidak ada. Dulu aku sering melihatnya bergurau bersama anak-anak kelas sastra di sana. Aku cukup mengenalnya sekilas. Ia pernah beberapa kali memesan mi ayam kala jam latihan telah rampung. Aku pernah menyaksikan pertunjukannya, dua atau tiga kali barangkali. Ia aktris teater yang cukup bagus menurutku. Ia perempuan muda yang menarik.

Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada lelaki berkacamata itu siapakah nama istrinya. Ia terdiam menatapku seakan aku telah mengajukan pertanyaan yang terlarang.

“Win. Namanya Win,” katanya pelan.

Aku benar-benar terkejut. Jadi, perempuan muda yang kukagumi selama ini ternyata adalah istri dari lelaki berkacamata? Dan kini ia telah hilang?

“Win? Win aktris teater itu?” tanyaku gugup.

Lelaki itu memandangku bingung. Ia menaikkan sedikit alisnya. “Bukankah sudah pernah saya ceritakan pada Bung kalau istri saya menghilang sesudah ia menyanyi dan bermain musik bersama kawan-kawannya di gedung kesenian ini?”

“Saya ingat, Bung! Saya ingat betul. Tapi, nama Win itu, saya kenal juga seorang bernama Win. Tidak kenal dekat. Hanya tahu ia cukup menonjol di lingkaran seniman. Pernah juga saya menonton pertunjukan teaternya. Jadi, selama ini selain menjadi aktris teater, Win juga punya grup musik?”

Lelaki itu bertambah bingung. Ia terdiam lalu lagi-lagi melihatku dengan pandang tajam. “Win siapakah yang Bung maksud? Win istri saya adalah penyanyi grup musik. Grup musiknya sedang naik daun dan sering diundang mengisi acara di gedung kesenian ini.”

“Nah! Apakah memang ada dua perempuan bernama sama? Dua perempuan bernama Win yang juga sering berkegiatan di gedung kesenian ini? Karena itulah saya bertanya, Bung. Win aktris teater itu juga akhir-akhir ini tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Saya kira, istri Bung adalah Win aktris teater itu. Tapi, sejauh pengamatan saya, saya tidak pernah melihatnya menyanyi dan bermain musik.”

Lelaki itu terdiam lagi. Ia menundukkan wajahnya dan menatap hampa pada buku menu yang ada di meja. Cukup lama ia terdiam. Lipatan di keningnya semakin berkerut. Ujung jari-jarinya mengetuk meja. Lalu ia mengangkat wajahnya, masih dalam roman muka seorang yang tengah berpikir keras.

“Sejujurnya…” Ia berhenti sebentar seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

“Sejujurnya, Bung. Saya tidak tahu apa-apa tentang istri saya. Tidak tahu perihal dunianya. Apakah ia memang hanya bernyanyi bersama grup musiknya? Apakah ia bermain teater? Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.”

Bagaimana mungkin? pikirku. Kau suaminya. Mustahil kau tidak tahu kehidupan istrimu di luar rumah? Tapi, aku tidak berkata apa pun. Aku diam seturut dengan diamnya yang sedang bersiap mengeluarkan kata-kata.

“Bagaimana bisa aku suaminya tidak tahu apa-apa? Barangkali Bung berpikir begitu. Tidak. Tidak. Pastinya berpikir seperti itu. Aku beritahu, hidupku memang terpisah dengan dunianya. Ia berkembang di kota ini. Terus berkembang. Sementara aku bekerja di daerah terpencil, pantai teluk yang jauh perjalanannya lima jam dari kota. Sebut saja aku ilmuwan. Aku mengurus segala macam tentang kerang di balai kelautan milik pemerintah di sana. Aku bekerja setiap hari di laboratorium dan sangat jarang punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Tidak juga punya kesempatan untuk berbicara tentang kesenian. Tentu saja kami tetap berkomunikasi. Tetapi, tahun-tahun yang panjang itu ternyata lebih banyak diisi oleh cangkang kosong.”

“Bung tahu mengapa saya sebut cangkang kosong? Di laboratorium balai juga ada bertoples-toples cangkang kosong. Cangkang dari kerang-kerang yang sudah pernah dipanen. Tiap kali melihat cangkang kosong itu, aku teringat hubunganku dengan Win. Aku tahu ia berkesenian. Tapi, bagaimana hasratnya terhadap seni yang digelutinya itu, kendala apa yang ia hadapi, apa yang tidak ia suka atau apa yang betul-betul ia sukai, pandangannya terhadap sesuatu yang disebut seni, sungguh semuanya hanya dapat diraba. Ibaratnya, aku ini hanya penonton yang mencoba mengamati dari seberang tembok. Apa yang ada di sebalik tembok itu hanya kudapatkan sedikit, sangat sedikit. Tak sampai seujung jari.”

Karena itulah, ketika aku berkesempatan menonton pertunjukan musiknya, aku benar-benar dibuat terkagum-kagum. Ia menyanyi dan bermain musik dengan amat memukau. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Win benar-benar hebat. Dan aku baru bisa melihat kenyataan itu di malam pertama aku menyaksikan pertunjukan musiknya. Melihatnya di panggung sudah membuatku tergila-gila. Usai pertunjukan, aku menemuinya di belakang panggung. Aku berkata dengan sungguh-sungguh aku akan meninggalkan duniaku dan ikut terjun ke dunianya. Tentu maksudku adalah aku akan pindah kerja dari pantai teluk yang sunyi itu agar kami terus saling berdekatan. Mari anggap saja kita memulainya dari awal lagi. Win tampak bahagia dan tak percaya. Aku menunggunya di luar gedung. Tapi malam itu ia tidak juga keluar. Ia menghilang. Menghilang begitu saja. Aku tahu pada akhirnya ia memang memutuskan untuk pergi.”

Lelaki itu menghela napasnya seakan beban berat telah ditimpakan lagi padanya. Ia seperti menyesal telah menceritakannya padaku. Ia lalu menatap tajam padaku dan berkata, “Jadi, bila Bung berpikir suami istri pasti saling mengetahui satu sama lain, pasti saling mengenal, Bung keliru! Kalau Bung berpikir seperti itu, Bung betul-betul keliru!”

Hari-hari berikutnya aku masih sering melihat lelaki berkacamata itu menempuh jalan memutar seperti biasanya. Namun, ia tidak lagi singgah di kedaiku. Ia bahkan tidak memberi sapaan hangat seperti dulu ketika secara tak sengaja pandangan kami bertubrukan. Hari-hari berlalu, aku tidak lagi terlalu memedulikan perubahan sikapnya itu.

Suatu hari tibalah hari yang tidak biasa ketika secara mendadak seniman teater menggelar pertunjukan di depan gedung kesenian, di halaman bercoran semen dekat lapak para pedagang kaki lima. Laki-laki dan perempuannya mengenakan pakaian serba hitam. Mereka menghias wajah dengan celak yang amat tebal, menyisakan bentuk lingkaran di bawah mata yang tak sepenuhnya selesai. Mereka berjalan beriringan mengikuti seorang pemuda berambut gimbal yang memegang lonceng. Mereka menggumamkan sesuatu bersama-sama, terdengar seperti sebuah mantra dalam ritual pemanggil setan. Orang-orang yang kebetulan lewat, mendadak berhenti lalu menepikan kendaraan mereka. Orang-orang mengeluarkan tustel dari saku dan memotret para aktor itu.

Hening sesaat. Para aktor membentuk lingkaran. Si pemegang lonceng menghampiri satu-satu aktor yang berdiri. Ia mengelilingi sambil membunyikan lonceng di dekat telinga mereka. Lalu tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan muda mengenakan pakaian serba hitam dan penutup mata berlari ke arah lingkaran, memasukinya dengan paksa. Gerakannya melompat indah. Ia melakukan gerakan meroda dan mendaratkan tubuhnya yang ramping. Orang-orang memotret, bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan meski tak tahu maksud dari pertunjukan itu. Barangkali itulah yang disebut teater kontemporer. Serba baru, serba mengundang banyak tafsir.

Pertunjukan selesai. Orang-orang bertepuk tangan lagi. Perempuan yang masih mengenakan penutup mata itu menghadap ke penonton. Aku terkejut. Itu Win! Tidak salah lagi, itu Win! Aku bisa menandai bentuk wajahnya meski ia mengenakan penutup mata. Aku segera ingin menghampirinya. Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki berkacamata. Langkahku terhenti. Aku berdiri di tempatku. Siapa yang peduli apakah ia memang Win? Apakah ia adalah Win yang kukenal atau Win, istri lelaki berkacamata itu? Ataukah Win kedua-duanya?       Aku mengedarkan pandang. Barangkali di antara penonton ada lelaki berkacamata itu. Tapi, tidak. Trotoar dipenuhi orang-orang yang masih mengira pertunjukan akan berlanjut. Aku tidak dapat meneliti dengan cermat. Barangkali di hari berikutnya aku akan tahu istrinya itu telah kembali atau tidak dengan melihat sendiri, apakah di hari esok lelaki itu masih tetap memilih jalan memutar?

Pejarakan, Juli 2020


Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Buku, Resensi

Pengelana Berbunga dan Tamat

Oleh Bandung Mawardi

Herman Hesse, pengarang Jerman mengingatkan cerita perjalanan: penemuan dan kehilangan. Tokoh-tokoh buatan Herman Hesse terbaca sebagai pencari, pengelana, atau peziarah. Novel paling mengesankan berjudul Siddhartha. Novel sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia diterbitkan oleh Grafiti, Bentang, dan Gramedia Pustaka Utama. Tokoh bernama Siddhartha menempuh perjalanan jauh, meladeni godaan duniawi dan menuruti takjub religiositas. Penulisan novel itu membuat pembaca di Eropa perlahan mengerti Timur itu kiblat pengetahuan dan pengalaman religius. Herman Hesse mengisahkan dengan lembut dan memikat.

Di perjalanan-perjalanan, ragu dan pengharapan bergantian mendera. Pada suatu hari, Siddhartha berjalan dan merenung: “Tetapi, apakah gerangan ini, yang ingin kaupelajari dari ajaran-ajaran dan para guru, dan yang sudah begitu banyak mereka ajarkan padamu? Ia memberi jawab sendiri: “Itu adalah diri, tujuan dan intisari dari apa yang ingin kupelajari. Itu adalah diri, dari mana aku ingin bebas, yang kucoba kuasai. Tetapi, aku tak mampu menguasainya hanya bisa menipunya, hanya bisa melarikan diri darinya, hanya bersembunyi darinya. Sesungguhntya, tak ada hal di dunia ini yang sedemikian menyibukkan pikiranku, karena ini adalah diriku sendiri, misteri kehidupanku, bahwa aku adalah satu dan terpisah dari semua yang lain, bahwa aku adalah Siddhartha!” Di Barat, novel itu menguak kemolekan India, bertaburan renungan mengilhami bagi kesusastraan dunia.

Kita telanjur mengenali Herman Hesse dengan Siddharta. Pada 1915, ia sudah menggubah novela berjudul Knulp, mendahului kemunculan Sidhhartha (1922). Novela menampilkan pengelana, membuktikan pengarang memilih menggerakkan makna dengan tokoh-tokoh berjalan kaki ke segala arah. Berjalan kaki menjadi penentu bagi peristiwa, percakapan, dan perhitungan hakikat kemanusiaan. Knulp, pengelana selalu bergerak dan singgah sejenak ke rumah-rumah para sahabat. Ia tak mau menetap, memilih menggerakkan kaki untuk mengunjungi pelbagai tempat: mengunjungi kebaruan dan nostalgia. Di pelbagai tempat, Knulp mengenali pohon, rumah, jalan, aroma, dan lain-lain. Ia bisa membedakan dan mengalami keragaman di perjalanan selama puluhan tahun. Knulp menjadi manusia-berpeta.

Kehadiran Knulp di rumah teman-teman untuk singgah sehari atau sekian hari sering memberi kegairahan hidup, sodorkan hal-hal menghidupkan setelah orang-orang di kelesuan, sibuk, dan rutin. “Jika ia butuh tumpangan maka si pemilik rumah akan senang dan merasa terhormat,” pengakuan sahabat merasa girang mendapat kunjungan Knulp. Sesaat tapi memberi percik dan kobaran bahwa hidup masih bergelimang makna. Knulp teranggap mendatangkan kesantaian dan keriangan. Menumpang itu memicu kerepotan dan pemberian dari tuan rumah. Knulp memang berhak menerima kebaikan-kebaikan berdalih bukan orang bekerja dan mengantongi gaji. Tata cara itu timbal balik terikat persahabatan.

Pengelanaan memang menawan bagi orang ingin merengkuh dunia. Ia mustahil memiliki dunia tapi berjalan kaki setiap hari seperti mencicil di pengalaman terbesar ketimbang menghuni rumah. Pengelana adalah si penglihat segala, diceritakan dengan kata-kata selalu membikin para pendengar tersihir. Pengelanaan pun berisiko menghancurkan raga akibat hujan, angin, panas, dan bau. Knulp berjalan dan berjalan, berhenti sejenak: meresapkan dan mengisahkan.

Di Indonesia, kesusastraan lama juga sering bercerita perjalanan atau pengelanaan. Kesusastraan Jawa kuno malah memberi penguatan di kisah perjalanan untuk mencari kebenaran, kedamaian, keadilan, dan keluhuran. Orang-orang berjalan kaki dengan doa dan pembacaan atas diri selama bersua dengan sesama, alam, binatang, air, batu, dan lain-lain. Pengelanaan itu mencari, tak pernah mudah dan cepat. Orang berjalan jauh, lama, tersesat, dan terjebak. Herman Hesse bukan pembaca sastra Jawa kuno. Ia memiliki bacaan-bacaan mungkin bersumber dari mitologi Yunani, folklor, dan sastra klasik bertumbuh di Eropa. Ia tekun di pengisahan pengelanaan saat Eropa abad XX bergerak cepat beride modernitas: mengubah manusia dan dunia secara fantastis.

Pada suatu masa, Knulp berjalan dan mampir di pekuburan. Peristiwa terlalu mengesankan bagi pengelana mengingat hidup-mati. Herman Hesse mengisahkan melalui sahabat Knulp: “Pekuburan itu, sebagian besar ditandai dengan salib kayu warna putih, berjajar lurus dan melingkar, dan di atas masing-masing tumbuh bebungaan dan aneka tanaman.” Tempat itu teduh, asri, dan hening. Pilihan bagi pengelana merenung dan mengistirahatkan raga bersama orang-orang pernah hidup. Knulp mengandaikan menghuni kuburan. Ia berujar: “Andai aku sudah mati, akan kutunggu hari minggu dimana gadis-gadis datang ke sini untuk melihat-lihat dan memetik bunga dari kuburan, lalu aku akan mulai bernyanyi, tapi sangat pelan.” Si romantis, keberakhiran pengelanaan pun masih ingin tebar pesona.

Sekian tahun berkelana, menggerakkan kaki dan pandangan mata, Knulp menerima ganjaran: sakit paru-paru. Sakit akibat ia adalah manusia luar rumah, manusia diterpa angin malam dan menanggungkan cuaca buruk. Ia sadar pengelanaan masih membahagiakan tapi raga perlahan hancur. Pada kaki, ia mengerti misi belum selesai. Frederic Gros dalam buku berjudul A Philosophy of Walking (2020) memunculkan pengalaman berjalan kaki para pengarang dunia. Sejarah penggubahan sastra, sejarah berjalan kaki. Pengarang di pertimbangan pengalaman dan menghidupi tokoh-tokoh berkelana, berziarah, dan mencari. Frederic Gros menjelaskan: “Saat berjalan kaki, seseorang sering mengalami sesuatu yang disebut kebahagiaan. Itu sering diuraikan oleh penulis dan penyair ketimbang pemikir besar.” Kebahagiaan teralihkan di gubahan puisi dan novel.

Knulp sudah berjalan jauh. Ia mau berakhir. Keinginan terbesar adalah pulang, berjalan kembali ke tanah asal. Berjalan pulang dalam sakit dan keberlimpahan nostalgia, Knulp menulis puisi pendek, dimaksudkan bakal dibaca para sahabat bila ia sudah menghuni kuburan: Bunga-bunga pasti layu/ Saat kabut datang/ Dan manusia pasti binasa/ Dan masuk kubur/ Manusia adalah bunga-bunga/ Mereka pun akan kembali/ Di musim semi/ Dan mereka takkan pernah sakit lagi/ Dan akan ia maafkan semuanya. Pengelanaan sampai akhir. Ia telah berjumpa dan merengkuh semua, telah menceritakan ke para sahabat. Kebahagiaan itu tamat. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.