
Cerpen Haniah Nurlaili
Sore ini kau disambut gerimis lembut saat baru saja tiba di rumah masa kecilmu. Kemarin kakak tertuamu menelepon, mengabarkan rumah itu akan diambrukkan, sesuai kesepakatan dengan dua kakakmu yang lain. Kau setuju-setuju saja, karena tak ada satupun dari kalian yang mau menempatinya setelah bapak dan ibu tiada.
Kau mengibaskan bajumu yang sedikit basah, sebelum masuk ke dalam rumah. Kakakmu bilang, kau bebas mengambil apa saja yang ada di dalamnya sebelum esok pak tukang datang. Barang pecah belah, kasur, selimut, dipan atau bahkan lemari, bisa kau bawa pulang. Sebenarnya, tak banyak barang yang tertinggal di sana. Semua barang-barang itu hanya barang lawas yang tak begitu berharga.
Luas rumah itu sekitar seratus meter persegi, tak begitu luas jika dibandingkan rumah nenek moyangmu zaman dulu. Rumah yang dulu kau tempati itu hanya berdinding kayu, berlantai pasir dicampur semen yang seperti dituangkan begitu saja. Yang penting saat musim hujan tidak becek dan saat musim kemarau debu-debu tidak beterbangan.
Orangtuamu memang bukan orang berada. Bapakmu hanya seorang petani yang sesekali ikut menemani Pak Lurah berburu kayu jati alas di hutan yang jauh dari kota provinsi. Nanti ia akan mendapatkan uang lelah dari Pak Lurah yang lumayan cukup untuk makan seminggu ke depan. Sedangkan ibumu seorang penjahit alusan yang cukup tenar di kampung. Kemampuan menjahitnya diturunkan dari nenekmu. Namun sayang, kemahiran menjahit yang turun-temurun itu hanya berhenti sampai ibumu saja karena dari kalian—empat bersaudara, tak ada yang mau mengikuti jejaknya. Apa yang diharapkan dari pekerjaan menjahit dengan upah yang tak seberapa? Begitu pikir kalian.
Saat kau memandangi rumah kayu itu, entah mengapa hanya kenangan buruk yang membekas di memorimu. Kenangan tentang hidup yang serba kekurangan. Tak ada canda tawa di meja makan, karena kau selalu berkeluh dalam hati kalau semua makanan itu tidak enak, tidak seperti di rumah temanmu atau tidak seperti makanan-makanan di iklan televisi. Tak ada daging maupun ikan. Hanya sayuran dan lauk dari kedelai yang tiap hari tersaji. Hubunganmu juga tidak terlalu erat dengan orangtuamu, bahkan dengan ketiga kakakmu juga setali tiga uang. Kalian selalu tenggelam dalam dunia masing-masing, hingga waktu berjalan begitu cepat dan memaksa kalian segera mencari uang demi masa depan yang layak.
Kau memutuskan masuk rumah ketika hujan mulai turun deras. Udara di sana cukup pengap, karena pintu dan jendela yang sudah lama tidak dibuka. Saat baru saja melangkah, kau disambut suara mesin jahit tua yang sudah mulai berkarat di ruang tamu milik ibumu.
“Jangan ambil aku!” katanya lantang. Langkahmu terhenti di depannya.
“Sejak kapan benda di rumah ini bisa bicara?” gumammu terkesiap heran.
“Kau tak tahu, aku yang selalu setia menemani ibumu setelah bapakmu wafat. Aku tak akan membiarkanmu mengambilku, karena aku masih ingin di sini!” Senyap untuk sementara waktu. Kau masih berusaha mencerna kata-kata si mesin jahit tua.
“Kenapa kau masih ingin di sini?” dengan suara lirih, kau beranikan diri bertanya.
“Karena ibumu masih sering mengunjungiku, di malam-malam larut yang tak pernah kau tahu. Sudah, kau ambil saja barang lainnya. Aku tak mau mempunyai tuan sepertimu!”
Kau melangkah lagi ke dalam, meninggalkan tanya di akhir kalimat yang diucapkannya. Pelan langkahmu menuju ruangan selanjutnya, padahal di pikiranmu, kenangan-kenangan semasa kecil sedang sibuk berlarian. Saat ibumu selalu menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan di malam takbiran, saat semua orang bersuka cita, ibumu masih saja sibuk dengan mesin jahitnya. Memastikan anak-anaknya memakai baju baru di hari raya, walaupun baju itu terbuat dari kain-kain sisa pelanggan. Mungkin itulah yang membuat si mesin jahit tetap setia pada tuannya.
Saat langkahmu yang terasa panjang akhirnya tiba di dapur, kau disambut deretan barang pecah belah yang sudah memalingkan muka.
“Aku membutuhkan kalian, untuk menjamu tamu-tamuku.” Kali ini, kau beranikan diri mengajak mereka bicara. Memang sedari awal kau hanya ingin mengambil mereka saja, karena akhir-akhir ini usaha jasa pijat keseleo milik suamimu lumayan ramai. Kau tak punya lebihan gelas atau piring di dalam lemari, sehingga agak kewalahan saat menghidangkan kudapan untuk para pelanggan.
“Bagaimana kalau kami tak mau?” jawab si gelas.
“Kami adalah saksi betapa ibumu selalu baik pada tetangga. Tak terhitung betapa banyak makanan dan minuman yang sudah diberikan ibumu pada mereka, melalui kami. Kami tak mau kalau kau ambil, kami hanya akan berdiam saja di lemari!” Belum sempat kau menjawab, si piring sudah menimpali.
“Bukankah semenjak ibu pergi, kalian juga hanya berdiam di lemari?”
“Kau mungkin tak tahu, di sebuah malam yang larut, ibumu masih sering datang menyapa kami,” jawab sang mangkuk, tenang.
Kembali, kenanganmu terlempar pada masa lalu. Saat itu, kau merengek pada ibumu, minta dibelikan lemari pendingin. Kau tak mau tahu, kau lebih iri pada anak-anak tetangga seusiamu. Saat mereka lelah bermain lompat tali atau kasti kemudian mereka pulang mengambil minuman dingin. Entah itu es teh, es lilin atau sekadar air putih dingin, rasanya minuman itu sangat nikmat mengalir di tenggorokan. Namun kau tak berani meminta pada mereka walau hanya seteguk saja. Alhasil, tiap malam rengekanmu terbawa dalam mimpi dan igauanmu.
Kau hanya tak habis pikir, kenapa ibumu tetap bersikukuh tidak mau membelinya. Ibumu beralasan, lemari pendingin hanya akan membuat kalian menjadi orang yang pelit dan tidak mau berbagi. Alasan yang belum pernah kau dengar dimanapun. Mengapa ia tak jujur saja jika tak punya uang? Ya, begitulah watak ibumu. Dan pada kenyataannya, memang tak pernah ada makanan sisa. Para tetanggamu selalu berbahagia menerima makanan yang diberikan ibumu.
Langkahmu semakin berat, ketika kau sampai di kamar ibumu. Kali ini, kasur, dipan, meja dan lemari baju hanya diam. Tak seperti barang-barang lain yang berbicara. Namun rasanya hatimu malah perih tak terkira. Kebisuan mereka seolah-olah menyampaikan segala kesedihan ibumu. Kesepian di setiap malam, hanya berteman bantal dan guling dari kapuk yang sudah tak lagi empuk. Anak-anak yang jarang menelepon apalagi berkunjung. Mereka semua bilang sedang sibuk.
Kau teringat hari-hari ketika ibumu di rumah sakit. Kau dan kakak-kakakmu malah sibuk berdebat, siapa yang malam nanti giliran menjaga ibu. Kau berdalih, kondisi ekonomi yang kurang baik menjadikanmu harus terus sibuk mencari uang, bahkan hingga larut malam. Mana mungkin ada waktu untuk menjaga ibu. Dan kau yakin, kakak-kakakmu juga mempunyai alasan yang sama. Itulah sebabnya perdebatan kalian tak ada habisnya, bahkan hingga akhirnya ibumu tutup usia.
“Ambil saja salah satu dari kami.” Saat kau akan beranjak pergi, terdengar suara kasur memanggil. Tampaknya, ia berbeda dengan mesin jahit tua dan barang pecah belah.
“Walau aku sudah tidak empuk lagi, namun aku yakin, ibumu akan datang memelukmu di malam-malam larut saat kau berbaring di atasku.” Suara hujan di luar yang semakin deras menjadikan samar suara kasur hingga tak begitu terdengar.
Kau duduk di tepinya. Mengusapnya. Bukan mengusap kasur, namun mengusap bayangan ibumu yang pernah berbaring di atasnya. Matahari telah jatuh, dan malam kini menyergap. Kau pandangi seisi rumah. Selepas ibu pergi, semua barang di rumah ini—yang kau anggap tidak begitu berharga, telah menyadarkanmu tentang suatu hal.
Kau mengingat-ingat lagi, ibumu tidak pernah mengeluh walau uang yang diberikan bapakmu kerap tidak cukup. Beliau selalu menyediakan makanan, bahkan menanak nasi dan memasak sayur tiga kali sehari karena bapakmu kurang suka makanan yang sudah dingin. Kadang ibumu mencari daun pepaya atau daun singkong di kebun agar dapur kalian tetap mengepul. Tak lupa, ibumu tetap berbagi pada tetangga, walau keadaannya sendiri sedang kekurangan. Pun ibumu tetap menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya, karena sadar uangnya tak cukup untuk membeli baju baru di pasar. Namun kau malah tidak bersyukur, karena menurutmu baju dari kain sisa tak akan pernah terlihat bagus di hari raya.
Kau hanya ingat kemiskinan kalian, namun lupa akan nilai-nilai luhur yang selalu ibumu contohkan. Benda mati di rumah ini baru saja memberi tahu bagaimana baiknya sikap ibumu. Mesin jahit memang tidak mau kau ambil, karena ia tahu hanya akan berakhir di tukang loak. Barang pecah belah yang tetap bersikukuh ingin di tempatnya, padahal kau sudah meminta. Itu karena mereka menganggap ibumu masih ada. Dan mereka tahu, kau tak akan sepandai ibumu dalam merawat mereka.
Akhirnya, malam itu kau tidak pulang dan memutuskan untuk tidak mengambil apapun dari rumah masa kecilmu. Kau biarkan dirimu terbaring di atas kasur kapuk yang tak lagi empuk. Kau ingin membuktikan ucapan mesin jahit, piring, gelas, mangkuk dan kasur, bahwa di malam-malam larut, ibumu akan datang berkunjung.**

Haniah Nurlaili, lahir di Sragen, 27 Mei. Bertempat tinggal di Gemolong, Sragen. Homedecorlovers dan suka menulis. Beberapa karya pernah dimuat. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Facebook: @hanie_rahmadilla









