Cerpen

Selepas Ibu Pergi

Cerpen Haniah Nurlaili

Sore ini kau disambut gerimis lembut saat baru saja tiba di rumah masa kecilmu. Kemarin kakak tertuamu menelepon, mengabarkan rumah itu akan diambrukkan, sesuai kesepakatan dengan dua kakakmu yang lain. Kau setuju-setuju saja, karena tak ada satupun dari kalian yang mau menempatinya setelah bapak dan ibu tiada.

Kau mengibaskan bajumu yang sedikit basah, sebelum masuk ke dalam rumah. Kakakmu bilang, kau bebas mengambil apa saja yang ada di dalamnya sebelum esok pak tukang datang. Barang pecah belah, kasur, selimut, dipan atau bahkan lemari, bisa kau bawa pulang. Sebenarnya, tak banyak barang yang tertinggal di sana. Semua barang-barang itu hanya barang lawas yang tak begitu berharga.

Luas rumah itu sekitar seratus meter persegi, tak begitu luas jika dibandingkan rumah nenek moyangmu zaman dulu. Rumah yang dulu kau tempati itu hanya berdinding kayu, berlantai pasir dicampur semen yang seperti dituangkan begitu saja. Yang penting saat musim hujan tidak becek dan saat musim kemarau debu-debu tidak beterbangan.   

Orangtuamu memang bukan orang berada. Bapakmu hanya seorang petani yang sesekali ikut menemani Pak Lurah berburu kayu jati alas di hutan yang jauh dari kota provinsi. Nanti ia akan mendapatkan uang lelah dari Pak Lurah yang lumayan cukup untuk makan seminggu ke depan. Sedangkan ibumu seorang penjahit alusan yang cukup tenar di kampung. Kemampuan menjahitnya diturunkan dari nenekmu. Namun sayang, kemahiran menjahit yang turun-temurun itu hanya berhenti sampai ibumu saja karena dari kalian—empat bersaudara, tak ada yang mau mengikuti jejaknya. Apa yang diharapkan dari pekerjaan menjahit dengan upah yang tak seberapa? Begitu pikir kalian.

Saat kau memandangi rumah kayu itu, entah mengapa hanya kenangan buruk yang membekas di memorimu. Kenangan tentang hidup yang serba kekurangan. Tak ada canda tawa di meja makan, karena kau selalu berkeluh dalam hati kalau semua makanan itu tidak enak, tidak seperti di rumah temanmu atau tidak seperti makanan-makanan di iklan televisi. Tak ada daging maupun ikan. Hanya sayuran dan lauk dari kedelai yang tiap hari tersaji. Hubunganmu juga tidak terlalu erat dengan orangtuamu, bahkan dengan ketiga kakakmu juga setali tiga uang. Kalian selalu tenggelam dalam dunia masing-masing, hingga waktu berjalan begitu cepat dan memaksa kalian segera mencari uang demi masa depan yang layak.

Kau memutuskan masuk rumah ketika hujan mulai turun deras. Udara di sana cukup pengap, karena pintu dan jendela yang sudah lama tidak dibuka. Saat baru saja melangkah, kau disambut suara mesin jahit tua yang sudah mulai berkarat di ruang tamu milik ibumu.

“Jangan ambil aku!” katanya lantang. Langkahmu terhenti di depannya.

“Sejak kapan benda di rumah ini bisa bicara?” gumammu terkesiap heran.

“Kau tak tahu, aku yang selalu setia menemani ibumu setelah bapakmu wafat. Aku tak akan membiarkanmu mengambilku, karena aku masih ingin di sini!” Senyap untuk sementara waktu. Kau masih berusaha mencerna kata-kata si mesin jahit tua.

“Kenapa kau masih ingin di sini?” dengan suara lirih, kau beranikan diri bertanya.

“Karena ibumu masih sering mengunjungiku, di malam-malam larut yang tak pernah kau tahu. Sudah, kau ambil saja barang lainnya. Aku tak mau mempunyai tuan sepertimu!”

Kau melangkah lagi ke dalam, meninggalkan tanya di akhir kalimat yang diucapkannya. Pelan langkahmu menuju ruangan selanjutnya, padahal di pikiranmu, kenangan-kenangan semasa kecil sedang sibuk berlarian. Saat ibumu selalu menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan di malam takbiran, saat semua orang bersuka cita, ibumu masih saja sibuk dengan mesin jahitnya. Memastikan anak-anaknya memakai baju baru di hari raya, walaupun baju itu terbuat dari kain-kain sisa pelanggan. Mungkin itulah yang membuat si mesin jahit tetap setia pada tuannya.

Saat langkahmu yang terasa panjang akhirnya tiba di dapur, kau disambut deretan barang pecah belah yang sudah memalingkan muka.

“Aku membutuhkan kalian, untuk menjamu tamu-tamuku.” Kali ini, kau beranikan diri mengajak mereka bicara. Memang sedari awal kau hanya ingin mengambil mereka saja, karena akhir-akhir ini usaha jasa pijat keseleo milik suamimu lumayan ramai. Kau tak punya lebihan gelas atau piring di dalam lemari, sehingga agak kewalahan saat menghidangkan kudapan untuk para pelanggan.

“Bagaimana kalau kami tak mau?” jawab si gelas.

“Kami adalah saksi betapa ibumu selalu baik pada tetangga. Tak terhitung betapa banyak makanan dan minuman yang sudah diberikan ibumu pada mereka, melalui kami. Kami tak mau kalau kau ambil, kami hanya akan berdiam saja di lemari!” Belum sempat kau menjawab, si piring sudah menimpali.

“Bukankah semenjak ibu pergi, kalian juga hanya berdiam di lemari?”

“Kau mungkin tak tahu, di sebuah malam yang larut, ibumu masih sering datang menyapa kami,” jawab sang mangkuk, tenang.

Kembali, kenanganmu terlempar pada masa lalu. Saat itu, kau merengek pada ibumu, minta dibelikan lemari pendingin. Kau tak mau tahu, kau lebih iri pada anak-anak tetangga seusiamu. Saat mereka lelah bermain lompat tali atau kasti kemudian mereka pulang mengambil minuman dingin. Entah itu es teh, es lilin atau sekadar air putih dingin, rasanya minuman itu sangat nikmat mengalir di tenggorokan. Namun kau tak berani meminta pada mereka walau hanya seteguk saja. Alhasil, tiap malam rengekanmu terbawa dalam mimpi dan igauanmu.

Kau hanya tak habis pikir, kenapa ibumu tetap bersikukuh tidak mau membelinya. Ibumu beralasan, lemari pendingin hanya akan membuat kalian menjadi orang yang pelit dan tidak mau berbagi. Alasan yang belum pernah kau dengar dimanapun. Mengapa ia tak jujur saja jika tak punya uang? Ya, begitulah watak ibumu. Dan pada kenyataannya, memang tak pernah ada makanan sisa. Para tetanggamu selalu berbahagia menerima makanan yang diberikan ibumu.

Langkahmu semakin berat, ketika kau sampai di kamar ibumu. Kali ini, kasur, dipan, meja dan lemari baju hanya diam. Tak seperti barang-barang lain yang berbicara. Namun rasanya hatimu malah perih tak terkira. Kebisuan mereka seolah-olah menyampaikan segala kesedihan ibumu. Kesepian di setiap malam, hanya berteman bantal dan guling dari kapuk yang sudah tak lagi empuk. Anak-anak yang jarang menelepon apalagi berkunjung. Mereka semua bilang sedang sibuk.

Kau teringat hari-hari ketika ibumu di rumah sakit. Kau dan kakak-kakakmu malah sibuk berdebat, siapa yang malam nanti giliran menjaga ibu. Kau berdalih, kondisi ekonomi yang kurang baik menjadikanmu harus terus sibuk mencari uang, bahkan hingga larut malam. Mana mungkin ada waktu untuk menjaga ibu. Dan kau yakin, kakak-kakakmu juga mempunyai alasan yang sama. Itulah sebabnya perdebatan kalian tak ada habisnya, bahkan hingga akhirnya ibumu tutup usia.

“Ambil saja salah satu dari kami.” Saat kau akan beranjak pergi, terdengar suara kasur memanggil. Tampaknya, ia berbeda dengan mesin jahit tua dan barang pecah belah.

“Walau aku sudah tidak empuk lagi, namun aku yakin, ibumu akan datang memelukmu di malam-malam larut saat kau berbaring di atasku.” Suara hujan di luar yang semakin deras menjadikan samar suara kasur hingga tak begitu terdengar.

Kau duduk di tepinya. Mengusapnya. Bukan mengusap kasur, namun mengusap bayangan ibumu yang pernah berbaring di atasnya. Matahari telah jatuh, dan malam kini menyergap. Kau pandangi seisi rumah. Selepas ibu pergi, semua barang di rumah ini—yang kau anggap tidak begitu berharga, telah menyadarkanmu tentang suatu hal.

Kau mengingat-ingat lagi, ibumu tidak pernah mengeluh walau uang yang diberikan bapakmu kerap tidak cukup. Beliau selalu menyediakan makanan, bahkan menanak nasi dan memasak sayur tiga kali sehari karena bapakmu kurang suka makanan yang sudah dingin. Kadang ibumu mencari daun pepaya atau daun singkong di kebun agar dapur kalian tetap mengepul. Tak lupa, ibumu tetap berbagi pada tetangga, walau keadaannya sendiri sedang kekurangan. Pun ibumu tetap menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya, karena sadar uangnya tak cukup untuk membeli baju baru di pasar. Namun kau malah tidak bersyukur, karena menurutmu baju dari kain sisa tak akan pernah terlihat bagus di hari raya.

Kau hanya ingat kemiskinan kalian, namun lupa akan nilai-nilai luhur yang selalu ibumu contohkan. Benda mati di rumah ini baru saja memberi tahu bagaimana baiknya sikap ibumu. Mesin jahit memang tidak mau kau ambil, karena ia tahu hanya akan berakhir di tukang loak. Barang pecah belah yang tetap bersikukuh ingin di tempatnya, padahal kau sudah meminta. Itu karena mereka menganggap ibumu masih ada. Dan mereka tahu, kau tak akan sepandai ibumu dalam merawat mereka.

Akhirnya, malam itu kau tidak pulang dan memutuskan untuk tidak mengambil apapun dari rumah masa kecilmu. Kau biarkan dirimu terbaring di atas kasur kapuk yang tak lagi empuk. Kau ingin membuktikan ucapan mesin jahit, piring, gelas, mangkuk dan kasur, bahwa di malam-malam larut, ibumu akan datang berkunjung.**


Haniah Nurlaili, lahir di Sragen, 27 Mei. Bertempat tinggal di Gemolong, Sragen. Homedecorlovers dan suka menulis. Beberapa karya pernah dimuat. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Facebook: @hanie_rahmadilla

Cerpen

Pohon Hayat dan Pelacur Suci

Cerpen Panji Sukma

Malam ketika Pohon Hayat tumbang, sekujur desa diempas badai laut yang menyasak genting rumah-rumah, menerbangkan tumpukan kayu bakar, membikin gidik orang-orang di bawah selimut, dan semua itu baru berakhir saat semburat matahari merangkak di langit timur. Pagi terasa tak biasa sebab wajah bulan masih tampak tegas meski terang telah sempurna. Suhu stabil di bawah rata-rata dan menguarkan aroma lembap seperti wajarnya dasar lembah.

Warga berkumpul di tengah desa, beberapa di antaranya masih dengan sarung lusuh di bahu, juga anak-anak di gendongan. Dugaan saling mereka lempar satu sama lain, tapi tatapan serempak mengarah ke bukit di mana Pohon Hayat kemarin sore masih berdiri kokoh. Jelas ketakutan ada di setiap mata mereka, menerka-nerka petaka apa yang bakal terjadi usai tumbangnya pohon keramat itu. Mereka percaya Pohon Hayat adalah tempat singgah dewa saat turun ke bumi, sehingga mustahil ada petaka terjadi di tempat dewa berada. Dan terbukti, semenjak desa itu berdiri dan dihuni kakek buyut mereka, tak pernah sekali pun ada wabah, pagebluk, bahkan kekeringan walau musim kemarau di titik puncak.

Menurut salah seorang warga yang semalam sempat ke lereng bukit—sesaat sebelum badai datang—untuk memasang jebakan babi, Pohon Hayat tumbang karena badai. “Sumpah, badai di bukit jauh lebih ganas ketimbang di desa!” Dia menggambarkan dengan saksama dan meyakinkan. “Iya, begitu!” tutupnya.

Umar Lewu, sesepuh desa sekaligus orang yang dianggap paling bijak itu, meragukannya. Pohon Hayat terlalu kokoh untuk roboh jika hanya diempas badai. Sebab jika pun dapat roboh oleh badai, pastilah Pohon Hayat sudah roboh sejak lama karena pohon itu telah berumur ratusan tahun. Dan nyatanya, hingga tadi malam, Pohon Hayat baik-baik saja, bahkan akarnya semakin kekar dan terus menjulur—memayungi puncak bukit—pertanda pohon itu masih tumbuh dan ingin terus hidup.

“Pasti semua ini berhubungan dengan kematian Puan Labiri,” celetuk yang keluar dari kerumunan.

“Celaka, ini sungguh celaka,” ucap Umar Lewu. Mimiknya tak bisa menyembunyikan resah. Jenggot peraknya bergerak-gerak disapu angin jinak. Ia menoleh ke arah Lajang Prema.

“Tidak ada hubungannya dengan perempuan itu. Pohon Hayat roboh karena badai. Akarnya tidak lagi kuat. Tadi pagi aku sudah memeriksanya,” tukas Lajang Prema. Tidak ada yang berani membantah maupun menimpali perkataan kepala desa muda dan tampan itu, sebab selain ia bilang telah memeriksanya, warga desalah yang merajam dan mengubur hidup-hidup Puan Labiri di puncak bukit.

Tak satu pun orang yang tahu asal-usul Puan Labiri. “Aku turun dari langit,” jawabnya setiap ada orang bertanya. Ia memang seperti itu, misterius sekaligus tak bisa dipahami. Ia datang pada suatu purnama, menuruni bukit sambil menggembol emas dalam karung, lalu mendirikan gubuk di sisi tenggara desa, menerima tamu lelaki hidung belang dari desa-desa tetangga, dan selalu bilang masih perawan. Pernah suatu kali Lajang Prema yang risi dengan desas-desus di antara warga, mendatanginya. Namun, Puan Labiri tak mengakui bahwa dirinya pelacur.

“Seorang pelacur pasti tidak perawan. Sedangkan aku masih perawan.” Puan Labirin melempar senyum manja. Senyum ajakan yang pasti bisa dipahami semua lelaki normal. Ia juga sedikit menggigit bibir bawah tapi tak sampai mengoyak gincu merahnya.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Puan Labiri tertawa lirih sembari tangan kirinya memilin rambut yang menjuntai di depan telinga. Tawa yang tampak tak kalah manja dari senyumnya.

“Selalu ada cara untuk memuaskan lelaki tanpa harus melakukan apa yang kamu kira. Ya, mereka lemah, sangat lemah dan mudah ditangani. Bukankah begitu, Tampan?”

Lajang Prema tak benar-benar mengerti dengan maksud Puan Labiri, tapi jawaban yang ia terima itu terasa menyinggungnya. Ia berdiri, dan sebelum melenggang pergi berpesan agar Puan Labiri tak lagi menerima tamu hidung belang. Jika Puan Labiri abai, Lajang Prema tak bertanggungjawab kalau-kalau warga yang geram melakukan hal-hal nekat.

Sejak hari itu, Puan Labiri mengunci diri, membiarkan para hidung belang keleleran di depan gubuk tanpa kepastian. Beberapa di antaranya memuntahkan isi peler ke pintu gubuk saking jengkelnya, lalu pergi dengan umpatan tak keruan. Terus seperti itu adanya sampai beberapa pekan, hingga akhirnya tak ada lagi hidung belang yang datang. Seperti ada yang hilang dari diri mereka, semacam kehilangan setengah semangat hidup.

Tak ada lagi kasak-kusuk di desa. Semua kembali seperti sediakala—para suami menggarap sawah dan istri mengurus anak dengan tenang. Desa tak lagi jadi tempat wara-wiri orang asing. Sampai akhirnya pada suatu sore, saat Lajang Prema khusyuk memuntir beberapa butir kelapa muda di atas pohon, salah seorang warga datang dan sembari tergopoh mengatakan bahwa Puan Labiri mengamuk di desa. Gegas Lajang Prema turun, melorot dari batang kelapa seperti tak hirau kalau-kalau tangan dan kaki dapat lecet karenanya.

Puan Labiri yang tanpa sehelai pun kain, dikepung warga, tubuh mulusnya menjadi tontonan yang menjanjikan bagi para lelaki, tapi tak begitu bagi istri mereka. Dalam teriakan histeris dan tangis yang pecah, Puan Labiri mengatakan ada yang merampas kesuciannya dan itu dilakukan oleh salah seorang lelaki di desa ini. Namun belum sempat ia mengucapkan nama si pelaku, sebuah batu dari arah kerumunan menyasar kepalanya. Seperti yang sudah-sudah, ketika sesuatu dimulai maka selalu ada yang meneruskan. Batu-batu seperti latah beterbangan, menghantam sekujur tubuh Puan Labiri hingga membuatnya tersungkur. Para bini tampak bersemangat sebab dalam benak mereka, apabila yang dikatakan Puan Labiri bukan fitnah, berarti bisa saja laki mereka pelakunya, dan itu akan membikin aib. Maka salah satu dari mereka berteriak kencang, “Kubur hidup-hidup perempuan itu di bukit! Biar dewa menghukumnya!”

Saat Lajang Prema sampai di tengah desa, tak didapatinya satu pun orang. Ia mengedar pandang. Di sekian jarak, ia melihat arak-arakan warga menuju puncak bukit. Ia memicingkan mata, menghalau sinar matahari yang semakin datar untuk menajamkan pandang, memastikan dugaan. Seorang perempuan telanjang diikat pada pergelangan tangan dan kaki, ditandu dengan sebatang kayu. Tanpa pikir panjang, Lajang Prema berlari menyusul mereka sebab mengerti hal buruk bakal terjadi.

Terlambat. Lajang Prema harus melintasi pematang lima petak sawah dan menyeberangi tiga anak sungai, sehingga tak sempat ia menyusul. Sesampainya di puncak bukit, ia mendapati gundukan tanah yang masih basah, sekitar dua puluh depa dari Pohon Hayat. Ia tertunduk, mundur beberapa langkah hingga tersandar pada sebuah batu. Pikirannya terlempar pada kemarin malam, ketika pulang dari desa tetangga dan hujan turun lebat, hingga ia harus berteduh di depan gubuk Puan Labiri. Ia mendengar suara lenguhan lelaki. Pikirnya, pastilah Puan Labiri tengah melayani hidung belang dan itu berarti ia tak mengindahkan peringatan Lajang Prema. Maka dengan sedikit ragu, Lajang Prema mengintip dari celah dinding kayu. Suasana di dalam gubuk cukup remang karena hanya diterangi api teplok. Betapa terkejutnya ia saat melihat Umar Lewu yang setengah telanjang tengah merangkak di atas Puan Labiri, membikin suara decit ranjang. Tatapan dingin dari Puan Labiri kepada Umar Lewu amat sulit diartikan Lajang Prema.

“Jangan kamu lakukan itu. Aku harus terus perawan,” ucap Puan Labiri dengan intonasi datar sembari membuang muka ke samping.

“Kenapa begitu? Bagaimana jika aku meminta lebih?” timpal Umar Lewu.

“Akan terjadi petaka di desa ini.”

“Tidak. Tidak akan ada petaka terjadi di tempat ini selama masih ada Pohon Hayat.”

Umar Lewu menindih, menancap, seperti katak hijau yang menempel di batang pohon, menikmati setiap jengkal tubuh Puan Labiri. Lajang Prema mengikuti pemandangan yang berlangsung tak cukup lama itu. Detik terasa berjalan amat lama, dan dadanya berdesir hebat, hujan pun turun menderas.

Selesai dengan hajatnya, Umar Lewu segera melompat dari ranjang, lalu membuka pintu gubuk. Ia terkejut saat mendapati Lajang Prema berdiri dalam sikap sempurna. Keduanya tak saling berucap, diam, hanya saling tatap dan seolah dapat saling mengerti, seperti dua maling yang bertemu di rumah korban yang sama. Tak lama kemudian, Umar Lewu berlari menuju hujan, lantas perlahan hilang di antara pekatnya malam. Sedangkan dari pintu yang terbuka, Lajang Prema melihat Puan Labiri tengah terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup, tapi jelas air mata terus mengalir di pipinya. Lajang Prema melangkah masuk, menutup pintu gubuk dengan sangat perlahan, lalu meniup api di teplok hingga padam.***


Panji Sukma, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Menulis beberapa buku dan lagu. Buku terbarunya berjudul Kuda diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Katalog

Antologi Puisi Goresan Pena

Antologi puisi ini ditulis oleh mereka yang masih kelas 5 sebagai bukti kecintaannya akan puisi, juga kehidupan. Puisi sebagai jalan di mana belajar adalah bermula dari rasa lkhlas yang selalu dirawat. Celotehan dalam bentuk puisi yang lucu, lugu, original, inspiratif, dan riil.

Penulis: Adaby Sakha Winnatama, dkk (Murid kelas 5 MI Muhammadiyah Karanganyar)

Cetakan: Pertama, Tahun 2023

Penerbit Nomina Ide Karya

115 halaman; 13 x 19 cm

QRCBN: 62-1724-4583-255

Harga: Pp 55.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Cerpen

Pengakuan Dosa

Cerpen Aliurridha

Aku mengenalnya sebagai sosok pendiam yang menyimpan kelam dalam luka peristiwa. Tak banyak yang aku tahu tentangnya, meski sedari kecil aku tinggal bersamanya dalam sebuah rumah dingin yang tak pernah dihangatkan percakapan keluarga. Tiada satu pun yang kuketahui tentang masa lalunya, selain dia adalah seorang prajurit, seorang pria gagah berseragam yang membuat setiap mata yang memandangnya silau oleh pukau. Dia adalah alasanku memilih jalan hidup sebagai prajurit dan mengabdikan diriku untuk negara karena aku ingin menjadi seperti dirinya. Namun, begitu aku memutuskan masuk militer, dia adalah orang yang paling keras menentangnya.

“Untuk apa kamu masuk militer? Kita tidak sedang berperang. Carilah kerja lain seperti kakak-kakakmu,” kata ayah.

Aku tidak membantah. Tapi, tetap saja, aku tidak punya keinginan menjadi seperti kedua kakakku. Aku tidak ingin menjadi pengusaha seperti kakak laki-lakiku dan tidak ingin menjadi guru seperti kakak perempuanku. Keputusanku sudah bulat, aku ingin menjadi tentara. Sejak saat itu, hubunganku dengan ayah yang tak pernah akrab itu, menjadi semakin renggang, hingga akhirnya aku memutuskan meninggalkan rumah. Aku berani melakukannya setelah seorang sahabat ayah berjanji akan membantu mencarikanku jalan, membantuku agar bisa masuk militer.

Ayahku memang aneh, dia tidak seperti kebanyakan orang tua dengan latar belakang militer, yang selalu menginginkan anaknya mengikuti jejak mereka; ayahku tak pernah sedikit pun mengarahkan aku maupun kedua kakakku untuk mengikuti jejaknya. Ketiga anaknya dibebaskan memilih mau menjadi apa pun—asal tidak masuk militer. Aku bahkan merasa ada upaya darinya untuk membuat kami, anak-anaknya ini, menjauh dari dunia militer. Setiap temannya dari angkatan darat berkunjung ke rumah, ayah tak memperbolehkanku dan kakak-kakakku berada di dekatnya. Kadang, dia  sampai perlu menyuruh ibu membawa kami pergi ke rumah kakek ketika teman-temannya berkunjung ke rumah.

Ketika masih kecil, aku tak benar-benar menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah agar aku jauh dari teman-temannya, agar aku tidak mengikuti jejaknya. Namun, aku yang sejak kecil telah mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan ayah ketika di Timor Leste dulu, selalu memendam cita-cita untuk bisa seperti dirinya. Kemudian ketika aku memberanikan diri untuk menceritakan cita-citaku kepadanya, ayah malah menunjukkan ketidaksukaannya atas ide itu. Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, dia sama sekali tidak pernah mengungkapkan alasannya. Baru ketika nyawa telah berada di pangkal lidah, dia mengungkapkan alasannya kepadaku bersama sebuah pengakuan dosa atas apa yang dilakukannya di masa lalu…

Lima tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan rumah. Ibu menghubungiku—mengabarkan bahwa ayah sakit keras dan ingin sekali bertemu denganku. Dia mulai sering mengigau, memanggil-manggil namaku. Aku sebenarnya tak ingin bertemu dengannya, rasa kesal di hatiku belum hilang sejak dia menentang keinginanku dulu. Namun, aku tak mampu menolak permintaan Ibu. Jika ada satu orang saja yang tidak ingin kusakiti di dunia, mungkin hanya ibu orangnya.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, aku tidak melihat adanya perubahan berarti pada rumah itu. Rumah itu masih seperti dulu, dingin sedingin angin musim kemarau, dan orang yang bertanggung jawab membuatnya seperti itu, kini terbaring lemah tak berdaya dalam sebuah kasur dengan tubuh separuh lumpuh oleh stroke. Kini, dia hanya seonggok daging tak berdaya yang tenggelam dalam rutinitas menunggu ajal.

“Kaukah itu Anton?” suaranya serak seperti ada pecahan kaca tersangkut di pita suaranya. Ibu menyentuh punggungku ketika aku terpaku menatap kondisi ayah. Ibu memintaku mendekat, dia menjelaskan kedua mata ayah hampir buta oleh katarak dan nyaris tidak bisa melihat.

“Kenapa tidak dioperasi Bu? Memangnya kita semiskin itu?”

Ibu menjelaskan ayah tidak ingin dioperasi. “Buat apa memperbaiki sesuatu yang hampir mati,” kata ayah kepada ibu. Tidak bisa kupungkiri ada getir dalam hatiku melihat sosok yang dulu terlihat begitu tangguh, terbaring lemah tak berdaya dimakan usia.

Aku berjalan mendekat ke arah ranjang tempatnya berbaring. “Ini aku Ayah. Anton. Anakmu,” kataku pelan. Semburat senyum memancar dari wajahnya yang terlihat lemah tak berdaya. Tangannya yang renta berusaha menggapaiku, meraba-raba wajahku, berhenti pada kumis tipis di atas bibirku. “Kau benar-benar sudah dewasa,” katanya. Aku menggenggam tangannya yang tiada henti bergetar. Kuperhatikan kulitnya yang kaku itu dipenuhi urat-urat kecil menonjol.

“Ada yang perlu ayah ceritakan kepadamu,” katanya lirih. Begitu ayah mengatakan kalimat itu, ibu keluar kemudian menutup pintu. Tampaknya ayah benar-benar tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan ceritanya; ia sepertinya telah merencanakan ini.

“Ayah mau menceritakan kepadamu mengapa selama ini ayah tak pernah setuju kamu masuk militer.” Kata-kata ayah terdengar sangat lancar. Dia tidak lagi seperti pria yang tadi kulihat terbaring lemah di kasur. Kemudian dia menceritakannya sesuatu yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi beban hidupnya.

Ayah bercerita kepadaku pengalamannya lebih dua puluh tahun lalu ketika direkrut dalam suatu badan intelijen yang dibentuk untuk memadamkan gerakkan yang berupaya menggulingkan pemerintahan. Ketika itu adalah masa-masa paling kacau sejak rezim berkuasa. Sesuatu yang bergerak di akar rumput sedang membangun basis-basis kekuatannya. Ayahku ditugaskan untuk mencari tahu, memantau, dan menangkap mereka yang dianggap mengganggu ketenteraman negeri.

Satu per satu orang yang dianggap berbahaya berhasil ditangkap berkat kerja kerasnya. Beberapa di antara mereka tidak memberi informasi apa pun, terpaksa dihilangkan karena dianggap menyimpan ancaman, beberapa lainnya menemui ajal di ruang introgasi karena tak mampu menahan siksa, beberapa lainnya beruntung hanya menjadi tahanan politik untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku tentu saja pernah berkali-kali mendengar berbagai cerita ini sebagai cerita liar yang beredar untuk menyudutkan pihak militer. Tapi aku tak menyangka akan mendengar cerita ini langsung dari mulut pelaku—ayahku sendiri. Aku bergidik ngeri mendengar detail cerita ayah, bagaimana dia melakukan upaya paksa, mengorek informasi dari mereka yang tertangkap.

“Jika kamu berpikir penderitaan hanya dirasakan oleh pihak yang duduk di kursi menahan siksa dan tidak di pihak yang memberi siksa, mungkin kamu benar-benar telah kehilangan kemanusiaan. Awalnya aku ikut merasa sakit ketika pertama kali aku melakukannya pada mereka. Namun, semakin lama, semakin sering aku melakukannya, aku nyaris tidak merasakan apa-apa lagi. Hal itu membuatku ngeri pada diriku sendiri. Dan yang paling mengerikan dari semua itu, aku melihat begitu banyak rekan-rekanku yang mulai menikmati apa yang mereka lakukan kepada orang-orang malang itu.”

“Aku tidak mau kamu menjadi seperti mereka,” kata ayah menatapku dengan mata keruhnya. Seketika itu leherku terasa kaku dan tenggorokanku kering. Padahal aku hanya mendengarkannya bercerita, namun entah mengapa aku yang merasa lelah dan kehilangan kata-kata.

“Sekarang situasi tidak lagi seperti dulu, Ayah. Rezim telah berganti dan kita telah mengalami reformasi. Hal-hal seperti itu tak terjadi lagi.” Aku menyentuh bahunya ketika mengatakan itu.

“Tidak ada yang berubah, Nak. Rezim boleh berganti, penguasa di mana pun sama saja. Satu-satunya tujuan mereka adalah mempertahankan kekuasaan, dan mereka akan melakukannya, bagaimanapun caranya,” kata ayah tegas.

Setelah itu dia diam sejenak, mengambil napas panjang dan bertanya, “Kamu sekarang bekerja di intelijen bukan? Memangnya apa pekerjaanmu jika tidak menyerang mereka yang mencoba menggoyangkan kaki penguasa?”

“Tapi kami tidak melakukannya dengan menangkapi mereka.”

Ayah bangkit dari pembaringannya dengan susah payah dan aku membantunya duduk. “Lalu dengan apa? Berita palsu?” tanyanya sedikit membentak. “Aku mendengar berita enam orang terbunuh dalam sebuah upaya penangkapan, memangnya itu berbeda? Ya, mungkin berbeda karena sekarang mereka bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi menghilangkan nyawa manusia.”

“Itu berbeda. Mereka membahayakan negara, mereka melawan aparat, mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Semua selalu dimulai seperti itu, Nak. Segalanya bermula sebagai upaya mempertahankan dan menjaga stabilitas negara.” Suara Ayah melembut. “Tapi, cepat atau lambat kegentingan akan datang dan kamu akan dipaksa bertindak, kamu akan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan dan akan kamu sesali seumur hidup. Dan yang terburuk dari itu, kamu tidak diperbolehkan menceritakannya kepada siapa pun.”

Ketika aku pikir dia sudah selesai bicara, ayah menambahkan. “Kamu tahu, seandainya aku bisa meminta maaf kepada korban-korbanku, kepada keluarga-keluarga mereka, aku akan melakukannya. Tapi itu tidak mungkin.”

Sampai di sini apakah kamu mempercayai cerita ayahku? Mungkin kamu berpikir cerita seperti ini tidak akan terjadi di dunia nyata. Bahkan, kamu mungkin telah menyadari bahwa ada lubang pada cerita ini. Kamu mungkin akan berkata bahwa tentara tidak mungkin seperti itu, dan aku bukanlah tentara, dan cerita ini hanyalah karangan belaka. Kamu benar dan aku tidak akan menghindar. Aku mengakui bahwa aku bukanlah tentara, dan ayahku pun bukan seorang tentara, jadi dia tidak perlu melakukan pengakuan dosa. Aku hanyalah seorang anak yang kehilangan sosok ayah dua puluh tiga tahun silam, ketika tangan dingin razim dengan tak berperasaan membuang tubuh tak bernyawanya entah di mana. Jika kamu berpikir bahwa cerita ini hanyalah imajinasiku semata, kamu sekali lagi benar; tentu saja ini hanyalah imajinasiku semata.  Lagi pula, mana mungkin orang yang tidak merasa salah, melakukan pengakuan dosa, apalagi sampai meminta maaf.****

*Untuk Wiji Thukul dan para aktivis lainnya yang sampai saat ini belum diketahui kabarnya

Gang Metro, 5 Oktober 2022  


Aliurridha, penerjemah dan pengajar penerjemahan di suatu perguruan tinggi. Ia menulis esai, opini, puisi dan cerpen. Karyanya tersebar di berbagai media. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Ia tinggal di Lombok dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Tameng

Cerpen Puspa Seruni

Setelah pertengkarannya dengan Mae, di antara suara isak tangis juga angin yang menerpa wajahnya, Hasbi akhirnya mensyukuri keberadaan benda di tangannya. Benda yang terlihat bergaris dua itu menjadi penyelamatnya. Hasbi tersenyum samar menatap benda yang sedikit berbau pesing itu, meski sebelumnya benda itu pula yang memantik amarahnya seolah Mae sedang mengencingi wajahnya.

Lima belas menit yang lalu, Hasbi menerima benda yang disodorkan Mae dengan tangan bergetar. Mae membangunkan Hasbi yang masih bergelung dengan sarung dan gulingnya di atas kasur tipis di lantai yang terletak di sebelah ranjang. Hasbi bergeming menatap benda yang disodorkan Mae. Hasbi pernah melihat benda serupa saat dia memergoki teman sekolahnya menangis di toilet perempuan. Benda kecil yang membuat temannya harus dikeluarkan dari sekolah. Dengan mata yang masih mengantuk, Hasbi mengalihkan pandangan dari benda di tangannya kepada Mae dengan wajah penuh tanya.

“Aku hamil,” ucap Mae singkat dengan wajah yang datar tanpa rasa bersalah.

Perempuan itu kemudian beranjak lagi ke atas ranjang sambil memijat-mijat dahinya, seolah ucapannya hanya angin lalu yang tak perlu ditanggapi oleh Hasbi. Mae memang tidak membutuhkan tanggapan Hasbi, dia hanya merasa perlu memberitahukan informasi itu karena Hasbi adalah suaminya. Mae tak peduli pada raut wajah Hasbi yang berkerut. Alih-alih merasa bahagia karena istri yang dinikahinya satu tahun lalu itu mengandung, Hasbi justru bingung dan merasa seolah Mae sedang mempermalukannya. Hasbi membeku di tempatnya.

Kedua mata Hasbi terus menatap benda di tangannya. Akan tetapi pandangannya tidak pada benda itu, melainkan tembus pada kejadian satu tahun lalu. Hasbi baru lulus SMA saat itu. Dia melihat Pi’i, Bapak Mae, duduk di ruang tamunya. Jantungnya kebat kebit apalagi setelah mendengar penuturan ibunya.

“Kang Pi’i datang kesini untuk melamar kamu, Le.”

Jangan … jangan … emak …. Batin Hasbi berkecamuk. Jantungnya semakin berdegup kencang.

“Maksudnya, Mak?” tanya Hasbi tak mengerti.

Seolah memahami kebingungan anaknya, Zubaidah memberi penjelasan. Sontak saja Hasbi terperangah. Hasbi semakin bingung karena melihat wajah ibunya yang semringah. Terdengar suara berdehem dari Pi’i. Suara berat itu membuat nyali Hasbi ciut. Lelaki bertato itu selalu berhasil memaksakan kehendaknya kepada Hasbi.

“Aku mau kamu menikah dengan Mae. Kudengar kamu teman dekat Mae, dia sering menyebut-nyebut namamu.”

Hasbi semakin terkejut. Sejak kapan Mae menjadi teman dekatnya? Hasbi bergumam dengan dahi berkernyit. Siapa yang tidak mengenal Mae di sekolah, perlakuannya kepada Hasbi tentu tak bisa diartikan mereka berteman.

Menikah dengan Mae? Itu artinya …. Hati Hasbi merintih.

“Akan ada imbalannya, tenang saja. Aku sudah bicarakan dengan Zubaidah, biaya sekolah adik-adikmu aku yang tanggung. Selama kamu menjadi suami Mae dan bersikap baik, kamu dan adik-adikmu aman. Bagaimana?”

Hasbi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Dia menoleh pada ibunya yang sedang menoleh ke arahnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan menikah dengan orang yang selalu mengganggunya di sekolah. Mae tentu tak akan diam saja jika mengetahui bapaknya akan menikahkannya dengan Hasbi.

Dan kenyataannya Mae memang menolak dengan keras rencana perjodohan itu. Dia tidak mau menjadi ejekan teman-temannya. Mae bergidik jijik membayangkan harus satu ranjang dengan lelaki kurus, dekil yang rambutnya selalu diminyaki itu. Dia tahu dirinya bersalah. Bapaknya teramat marah saat memergoki Mae berduaan dengan Arifin tanpa pakaian di sebuah gerbong kereta tua. Kejadian itu membuat Pi’i mengurung Mae selama satu bulan di kamarnya.

Pernikahan Mae dan Hasbi dianggap sebagai jalan keluar terbaik menurut Pi’i. Satu bulan setelah lamaran itu, pernikahan akhirnya di gelar. Pi’i tidak peduli penolakan Mae serta kebingungan Hasbi. Hasbi tidak punya pilihan karena dia harus membantu ibunya membiayai sekolah adik-adiknya. Lagipula, Hasbi selalu tidak kuasa menolak permintaan Pi’i.

“Ingat, ya. Kita hanya menikah pura-pura. Jangan coba menyentuhku,” ucap Mae di malam pertama pernikahan mereka.

Ijab Kabul sudah dilaksanakan pagi tadi. Acara selamatan dan resepsi sudah digelar dengan sederhana di halaman rumah Mae. Di malam pertama mereka menikah, Mae sangat menolak berdekatan dengan Hasbi. Mae tidak pernah mengijinkan Hasbi mendekat ke ranjang. Selama satu tahun mereka tidur terpisah. Hasbi menggelar kasur tipis di lantai sementara Mae menguasai dipan. Sampai pagi ini, saat Mae mengatakan dirinya hamil, Hasbi sama sekali belum pernah menyentuhnya.

“Anak siapa ini, Mae?”

Hasbi terbangun dari lamunannya. Dia menoleh pada Mae yang sudah berselimut di atas kasur. Mae tidak menjawab, dia hanya mengusap wajahnya yang berkeringat sambil menahan mual yang mulai mengganggunya.

“Bagaimana kamu bisa hamil?” desak Hasbi, menghampiri Mae.

“Tidak perlu marah begitu. Sejak awal bukannya kamu tahu bahwa pernikahan ini memang hanya tameng?” Mae menatap tajam kepada Hasbi.

“Bukankah kehamilanku memang diperlukan supaya kamu bisa terus hidup dengan duniamu? Supaya orang-orang tak lagi berkasak-kusuk membicarakanmu yang dianggap aneh oleh mereka?” Mae mencerca Hasbi dengan pertanyaan yang membuat Hasbi gemetar.

“Terima saja kehamilanku. Aku juga tidak tahu siapa bapaknya. Anggap saja anak ini penyelamatmu, maka balaslah dengan menjadi bapak yang baik juga untuknya. Sama-sama diuntungkan, bukan? Kita berdua butuh tameng untuk menutupi kebusukan kita masing-masing.”

Mae tersenyum sinis menatap Hasbi yang terlihat terkejut dan pucat pasi. Mae berbalik, memunggungi Hasbi dan sibuk dengan rasa mual di perutnya. Sementara Hasbi membeku. Bulir hangat mengalir di pipinya.

Perkataan Mae membuatnya teringat pada kejadian tujuh tahun lalu, saat usianya masih dua belas tahun. Siang itu Pi’i datang mengetuk pintu rumahnya. Hasbi bergegas membuka.

“Ibu masih di pasar,” ucap Hasbi.

Pi’i hanya tersenyum kemudian masuk. Lelaki itu memang kerap datang. Hasbi mengenalnya karena Pi’i sering membantu ibunya mengangkut barang dagangan di pasar. Pi’i petugas parkir sekaligus preman pasar. Dia lelaki yang baik dan sering membantu keluarga Hasbi. Bahkan Hasbi sempat berpikir bahwa Pi’i tertarik pada ibunya yang sudah menjadi janda sejak usía Hasbi tiga tahun.

Penilaian Hasbi kemudian berubah 180 derajat saat Pi’i mendekat dan menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Hasbi berusaha memalingkan wajah. Pi’i terus mendekat, mendesak dan dengan tangannya yang kekar menarik Hasbi. Hasbi nyaris berteriak sebelum tangan kiri Pi’i membekap mulutnya.

Sejak kejadian siang itu, Pi’i kerap datang. Dia terus mengulangi perbuatannya kepada Hasbi. Parahnya, setelah usía Hasbi beranjak remaja, ada satu hal yang disadarinya. Dia seringkali merindukan sentuhan lelaki dewasa, seperti Pi’i menyentuhnya. Hasbi sangat tahu itu salah, tetapi hasratnya kerap tak bisa dibendung. Dia mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan keberadaan Pi’i.

“Kamu tinggal saja di rumahku. Mae membutuhkanmu, begitu juga aku,” bujuk Pi’i sebelum día datang melamar Hasbi kepada Zubaidah.

Ingatan itu membuat Hasbi menggigil ketakutan. Dia beranjak keluar kamar meninggalkan Mae yang masih berselimut di atas ranjang. Hasbi mengayuh sepedanya, menjauh dari rumah. Dia memang butuh tameng untuk menutupi masa lalunya.

Tapi bayi itu tidak bersalah, Hasbi menggumam sambil menyeka sudut matanya.***

Jembrana, 27 Desember 2022


Puspa Seruni, penulis kelahiran Situbondo-Jawa Timur yang saat ini menjadi pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Penulis terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.

Cerpen

1.001 Kura-Kura

Cerpen Beri Hanna

Aku mendengar Selin bercerita tentang lompat tali. Ceritanya hampir selesai. Setelah dia adalah giliranku. Aku semakin gerogi. Seharusnya aku memilih cerita yang serupa seperti teman-teman sebelumnya. Tapi aku sudah tidak punya waktu.

Teman-teman bertepuk tangan, tanda selesainya cerita lompat tali itu. Ibu guru berdiri, mengangkat buku absensi lalu menyebut namaku.

***

Di sudut bumi tempat mama bekerja, tak terlihat seekor kura-kura seperti yang pernah diceritakan papa. Aku kecewa sekaligus sedih saat mendapati suasana di sini tak seperti yang aku bayangkan.

“Sungguh membosankan sekali,” kataku ketus, tak sadar begitu gampang aku katakan.

“Hei! Apa katamu?” mama bertanya tetapi aku tak menjawabnya bahkan tidak melihat ke arahnya.

Aku masih melihat sekeliling, mencari sesuatu yang dapat menghibur. Tetapi tak ada apa-apa selain kelengangan panjang bagai tiada habisnya. Seluruh tempat ini berwarna putih pucat. Hal ini menambah suasana jenuh yang sepertinya mampu membuat orang sepertiku menjadi gila dalam hitungan menit.

Baru sebentar berada di sini, aku langsung merindukan rumah. Rasanya perjalanan dengan mesin waktu ini sia-sia. Aku ingin kabur tetapi sama sekali tak tahu ke mana jalan yang harus aku lalui. Menggunakan mesin waktu seperti tadi aku dan mama tiba di sini, sepertinya akan membuatku mati lebih cepat sebelum sampai tujuan, atau paling tidak aku akan tersesat di tempat antah berantah. Mesin itu terdiri dari banyak tombol dan lain-lainnya yang tidak aku mengerti. Seolah didesain khusus untuk perorangan yang berkepentingan.

Ini satu kesalahan terbesar dan sepertinya memang aku harus berada di sini, terkutuk untuk waktu yang tidak akan aku ketahui. Lagi pula mama sudah mulai bekerja dan tentu saja dia akan melupakan aku.

“Kenapa ya, aku bisa ikut ke sini,” kataku kemudian.

Aku tahu mama mendengar tetapi pura-pura sibuk dengan pekerjaan memasukkan angka-angka di permukaan pokok pohon. Waktu kecil aku sering diceritakan papa tentang pekerjaan mama yang mengharuskannya tidak pulang selama bertahun-tahun.

“Aneh,” kataku kepada papa suatu hari. Papa berkata itu tidak aneh dan aku langsung mendebatnya bahwa tidak ada satu pun orangtua temanku yang bekerja seperti mama. Lagi pula, tak ada seorang anak yang mengatakan tentang pekerjaan mama ketika ditanyai guru tentang cita-cita mereka.

“Mama, apakah kita tidak salah tempat?” tanyaku dan mama menjawab tidak, dengan suara yang hampir tak kudengar. Aku mendekat dan menanyakan lagi pada mama.

“Tidak mungkin salah,” jawabnya, masih sibuk memasukkan angka-angka ke pokok pohon.

“Lalu mana kura-kura seperti yang diceritakan papa itu?”

“Tunggu saja,” kata mama. “Kura-kura itu akan datang. Jumlahnya seribu satu dan tidak pernah kurang atau lebih.”

“Berapa lama lagi, Mama?”

“Tidak lama, kok. Pasti sebentar lagi.”

Begitulah mama. Aku tahu sejak dulu ia mudah menjawab setiap hal yang aku tanyakan meskipun tak pernah tepat dan akurat. Mama memang tidak pernah memuaskan—mungkin juga termasuk memuaskan papa.

Seharusnya sejak dulu papa merencanakan sesuatu yang besar. Seperti Tua Gundul (aku lupa namanya, tetapi Gundul ini teman papa) yang berbakat mengingat nomor telepon serta alamat rumah setiap perempuan. Rumor tentang Gundul yang suka menghubungi perempuan untuk diajak berkencan ke bioskop benar adanya. Papa, aku dan semua temanku tahu Tua Gundul telah menikah sebanyak dua belas kali. Tetapi papa, masih setia kepada mama yang hampir tidak pernah pulang.

“Apa, sih, yang Papa harapkan dari Mama?” tanyaku suatu hari kepada papa. Kalau tidak salah saat itu aku masih berusia sepuluh tahun. Papa dengan mantap menjawab ia hanya mengharapkan mama pulang. Itu membuatku tak ingin lagi menanyakan perihal hubungan papa dan mama. Aku tidak peduli meski sebenarnya aku ingin papa mencari perempuan lain karena mama, bagiku, seperti yang tadi aku katakan: Tidak pernah memuaskan.

Suatu hari ketika mama pulang dengan mesin waktunya secara tiba-tiba, aku sama sekali tidak takjub karena bagiku itu bukanlah sesuatu yang hebat. Teman-temanku tidak pernah membicarakan mesin waktu, keajaiban semacam itu. Begitu pintu mesin waktu terbuka, mama melengos berjalan ke arah kamar tanpa menyapaku. Saat itu aku kesal dan mengejarnya. “Jangan masuk kamar, dulu,” kataku, menahannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Jawaban.”

“Kalau begitu siapkan pertanyaanya.”

Aku langsung bertanya, mengapa anjing menggonggong sedangkan kucing mengeong? Dan mama menjawab karena anjing tidak mungkin mengeong dan kucing tidak mungkin menggonggong.

“Sederhana sekali jawaban, Mama,” kataku dan mama mengatakan: “itu, kan menurutmu.” Ia juga menambahkannya dengan balik bertanya kepadaku, apa jawaban yang aku harapkan. Aku ingin memperpanjang obrolan ini seperti apa arti kata tidak mungkin, yang dimaksud mama? Inilah yang tidak pernah mama jelaskan kepadaku! Tetapi, andaikata aku benar-benar menanyakannya tentu saja mama akan menjawab itu sesuatu yang tidak terjadi. Selagi aku berpikir, mama telah melengos lagi. Membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Aku tak dapat menahannya. Aku hanya bergumam geram, “licik sekali.”

Jawaban-jawaban mama selalu mengambang penuh misteri atau bisa aku katakan tidak pernah pasti. Mama tak pernah memikirkan apa yang ingin aku ketahui. Seperti saat ini, ia membiarkan aku menunggu sementara ia sibuk dengan pokok pohon dan angka-angka. Bagaimana bila aku menunggu hingga warna putih pucat di seluruh tempat ini menjadi hitam gelap? Sementara seribu satu kura-kura itu tidak datang. Apakah mama akan menjeda kerjanya lalu medekat kepadaku sambil membisikkan kata; sabar. Aku rasa itu tidak akan terjadi. Paling pasti, mama tidak akan mendekat dan malah menyarankan aku untuk terus menunggu.

“Apakah papa pernah menipu Mama?” tanyaku setelah bosan mengingat-ingat yang telah berlalu. Lagi pula, kini aku dan mama telah jauh dari rumah.

“Mama lupa.”

“Pasti papa pernah menipu Mama,” simpulku.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena mama tak ingin mengingatnya. Oh tidak. Mama lupa karena memang tidak pernah ada di rumah.” Mama diam tidak menjawabku, dan kembali bekerja.

Pada satu kesempatan papa banyak bercerita tentang seribu satu kura-kura. Aku takjub karena cerita papa seperti legenda penuh keajaiban. Sejak mulai kura-kura terjun ke dalam laut, menuduh raja ikan sebagai dalang perpecahan kaum tawar dan asin, memberantas penjahat yang memperbudak musang, lalu menunggangi kuda emas hingga terbang bergentayangan di malam hari. Kura-kura bersenjata pedang berkilau. Dan masih banyak lagi.

Satu hal yang dilupakan oleh papa dan baru pada saat mendapati kenyataan kelengangan di sinilah, aku menyadarinya. Aku jadi berpikir, kira-kira apa ya, yang dilakukan seribu satu kura-kura sebelum datang ke sudut bumi, tempat di mana mereka akan muncul dan aku dapat melihatnya seperti kata papa itu. Aku bisa saja menduga-duga, tetapi dugaanku tak lebih hebat dari cerita-cerita papa.

Bertanya kepada mama adalah jalan terburuk. Mama akan merusak apa yang aku bayangkan. Demikian nanti dia berkata, “Seribu satu kura-kura sedang dalam perjalanan. Mereka capai dan berhenti lalu melanjutkan perjalanan.” Lebih baik aku tidak menanyakannya. Lebih baik pula jika aku mencari tahu sendiri. Ya. Sepertinya itu lebih baik. Sembari menunggu—karena menunggu teramat membosankan—aku akan berjalan untuk melihat-lihat apa yang dapat aku temukan.

Beberapa langkah dari tempat mama bekerja aku merasakan kesunyian seperti memang telah mengutuk tempat ini. Oh, sungguh menyedihkan mamaku yang bekerja di sini. Aku rasa mama pernah bosan dan bahkan mungkin melewati fase gila. Setelah jauh melangkah, kesunyian ini benar-benar nyata. Semakin lama semakin lengang. Aku pernah membaca beberapa cerita yang menggambarkan kesunyian, semuanya menceritakan si tokoh dapat mendengar detak jantungnya sendiri, nafas, langkah kaki, atau suara serangga hingga tetesan air. Tetapi aku, semakin berjalan menjauh semakin tak mendengar apa-apa. Benar-benar hening bahkan aku semakin sulit menangkap suara hatiku sendiri.

Ketika melewati hal-hal aneh yang tidak pernah aku lihat bahkan aku tak punya pengandaian untuk menarasikan semua ini, aku semakin merasa kosong. Oh, apa ya semua ini. Aku benar-benar bingung. Aku dapat melihat semuanya. Aneh. Sesuatu yang begitu rusak. Yang begitu membusuk dan mencair, berserakan di mana-mana, bertumpuk dan meninggi. Aku dapat mencium bau yang menyengat.

Aku berjalan lagi. Kira-kira sudah sangat jauh dari tempat mama tadi bekerja. Aku menyadari sesuatu, apa yang aku pikirkan benar adanya. Mama tidak pernah memanggilku. Dia membiarkan aku bergerak, tersesat dalam kelengangan aneh seperti ini. Benar-benar licik.

***

Dua menit lagi bel sekolah berbunyi. Teman-teman yang mendengar ceritaku sudah menguap sejak tadi. Ibu guru juga begitu. Sesekali saat bercerita, aku melihat ibu guru termenung memandang kekosongan dengan segudang pikirannya sendiri yang berkeliaran di dalam kepalanya. Hanya dia yang tahu apa isinya.

Aku berteriak, ceritaku telah selesai. Teman-teman mengangkat kepala. Bertepuk tangan. Ibu guru berdiri dan menyilakan aku duduk. “Jadi, kesimpulannya, hari ini kita punya cerita aneh,” kata ibu guru.

Bel berbunyi. Semua teman berhamburan keluar kelas. Aku menyusun buku ke dalam tas. Aku dengar saura Selin berbisik kepadaku, “Lalu bagaimana dengan seribu satu kura-kura itu?” Aku melihatnya. Tersenyum.****


Beri Hanna, lahir di Bangko. Bergiat di Teater Tilik Sarira dan Kamar Kata Karanganyar.