Cerpen

Perihal Naskah Cerpen yang Dibaca Inspektur Konadi

Cerpen Nanda Winar Sagita

“Ah, kita memang selalu bisa mengandalkan seorang pembunuh untuk menulis prosa yang indah,” gumam Inspektur Konadi di hadapan kawan-kawannya sesaat setelah membaca tiga naskah cerpen yang dicomotnya dari kamar kos Parmin.

Inspektur Konadi tentu mengutip kalimat Vladimir Nabokov dalam Lolita. Hanya saja dia mengubah subjek jamak ‘kalian’ menjadi ‘kita’. Meskipun seorang polisi, dia suka membaca buku yang berkisah tentang, atau setidaknya menyinggung, pembunuhan. Secara mengesankan, kebiasaan itu pula yang membuatnya berhasil mengungkap kasus kematian Johan Gurdi, seorang bos redaktur koran lokal, yang tewas di dapur rumahnya sendiri karena lehernya tertikam garpu. Parmin, itu nama pembunuhnya. Dia adalah seorang penulis gagal yang berkali-kali mengirim naskah cerpen ke koran tersebut; sebanyak apa dia mengirim, sebanyak itu pula naskahnya ditolak.

Suatu hari, Parmin menghubungi Johan Gurdi yang sudah almarhum itu lewat surel. Dia ingin bertemu langsung, dan mengetahui alasan pasti ihwal kenapa naskahnya selalu ditolak. Dengan rendah hati, Johan Gurdi memenuhi dan menyuruh Parmin untuk datang ke rumahnya. Setiba di sana, Johan Gurdi mengajak Parmin untuk makan siang; dan menjelaskan penilaian subjektifnya atas naskah cerpen yang dikirim Parmin. Sebenarnya dia tidak menghina, hanya saja Parmin tidak terima dengan penjelasan itu. Mereka sempat bersawala sebelum pada akhirnya Parmin murka dan menikam leher Johan Gurdi dengan garpu.

Parmin kabur, dan keesokan harinya berita tentang kematian Johan Gurdi tersebar. Inspektur Konadi ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu. Sebenarnya tidak sulit untuk menemukan pelakunya, karena dia hanya melihat surel masuk di ponsel Johan Gurdi. Setelah itu, dia mencari tahu informasi tentang Parmin dan berhasil menangkapnya saat Parmin sedang menulis di kamar kosnya. Pada saat itulah, Inspektur Konadi sempat melihat bejibun kertas di meja kamar itu. Setelah memilah, dia melihat tergeletak tiga naskah cerpen dan mencomotnya begitu saja. Setibanya di kantor, ia baca satu per satu. Inspektur Gurdi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada ide narasi yang ditulis oleh Parmin. Pada saat itulah dia bergumam di hadapan teman-temannya, “Ah, kita memang selalu bisa mengandalkan seorang pembunuh untuk menulis prosa yang indah.”

Bagaimana pun juga, bukan kelanjutan kisah itu yang akan kita bahas. Naskah cerpen Parmin, sebagaimana pun jeleknya menurut penilaian Johan Gurdi, perlu untuk kita tahu. Inspektur Konadi memang bukan ahli sastra, tapi kebanyakan dari kita memang orang awam sastra seperti dia; dan siapa tahu selera kita sama seperti seleranya. Oleh karena itu saya akan membeberkan ringkasan dari tiga naskah cerpen karya Parmin itu, sebagaimana berikut ini:

Memburu Tuan X

Cerpen ini dimulai dengan pengenalan karakter utama. Protagonis itu tanpa nama, tapi disebut sebagai seorang psikopat yang tinggal di Aceh. Dia punya obsesi aneh untuk membunuh korban dengan nama yang berurutan sesuai abjad. Saat cerita dimulai, sudah ada 23 korban yang mati (itu artinya, dia telah membunuh korban dengan nama diawali huruf A sampai W). Meskipun begitu, dia tersendat di korban dengan nama dari huruf X. Lantaran nyaris tidak ada nama orang Indonesia yang bermula dari X, sejauh yang dia tahu hanya almarhum Xarim MS, maka dia menyusun rencana garib. Untuk menemukan korban selanjutnya, dia mengumpulkan uang dengan berbagai cara: mulai dari memungut sedekah di tepi jalan sampai meminjam dari rentenir dengan agunan surat tanah rumahnya sendiri. Niatnya hanya satu, yakni pergi ke Timor Leste. Dia sudah punya target di sana, dan siapa lagi kalau bukan Xanana Gusmao. Singkat cerita, dia berhasil tiba di Dili dan bertemu langsung dengan mantan Perdana Menteri yang populer itu. Namun ketika sedang berbincang, dia baru tahu kalau nama asli Xanana Gusmao diawali dengan huruf K. Dia sudah telanjur tiba di Timor Leste, dan sudah berhadapan langsung dengan targetnya. Sialnya, dia terjebak dilema antara membunuh Xanana Gusmao atau tidak. Sudah, hanya sampai di situ saja akhirnya.

Pertemuan dengan Salman Rushdie

Cerpen ini punya tokoh utama, lagi-lagi tanpa nama, seorang ekstremis Islam yang terobsesi untuk membunuh Salman Rushdie. Meskipun harga kepala si penulis mahsyur itu cukup untuk membuatnya kaya seumur hidup, tapi dia tidak tergoda oleh uang. Niatnya tulus untuk membunuh si penista agama itu, demi mendapatkan pahala syahid. Dengan posisinya yang sekarang, dia tahu mustahil untuk bertemu dengan Salman Rushdie. Jadi dia berjuang dari nol untuk menjadi seorang penulis terkenal: membaca buku-buku sastra dan mengarang novel dengan mutu adiluhung. Beruntung, dia benar-benar menjadi seorang penulis terkenal yang karyanya diterjemahkan ke berbagai macam bahasa dan laris di seantero dunia. Atas prestasi itu, dia diundang untuk hadir ke acara festival sastra di London. Kebetulan target pembunuhannya juga ada di sana. Nah, pada saat itulah dia terjebak dilema antara membunuh Salman Rushdie atau tidak. Dia bimbang menimbang antara mendapatkan pahala syahid seperti yang diimpikannya atau melanjutkan popularitasnya sebagai seorang penulis. Sudah, hanya sampai di situ saja akhirnya.

Kronik Kematian Seorang Redaktur Koran

Cerpen ini tak perlu dijelaskan lebih lanjut lagi, karena kisahnya sama persis seperti alur kematian Johan Gurdi di tangan Parmin. Selain itu, nama tokohnya juga tidak disamarkan. Hanya saja bagian akhirnya sengaja dibuat berbeda. Setelah selesai bersawala dengan Johan Gurdi, Parmin memang murka dan siap menikam dengan garpu yang sudah berada di genggamannya. Namun dia bimbang memilih antara membunuh Johan Gurdi atau memaksanya untuk memuat salah satu cerpennya yang baru selesai ditulis di koran lokal itu. Tentu saja cerpen yang dimaksud adalah Membunuh Tuan X dan Pertemuan dengan Salman Rushdie.***


Nanda Winar Sagita, seorang penulis lepas dan guru sejarah. Karyanya berupa esai dan cerpen telah dimuat di berbagai media.

Cerpen

Sang Juru Kunci

Cerpen Ian Hasan

Sebab terlalu sering mengaitkan kejadian kematian beruntun warga dusun dengan kemarahan leluhur penunggu makam Sindang, nyaris tak ada warga Dusun Ngenthak yang menyukai Mbah Ngiso.

“Orang tidak waras,” kata Pak Bayan sembari bersungut-sungut, “tidak usah didengarkan!”

Tentu saja warga dusun yang sebagian besar kaum beriman dan terpelajar, menerima sepenuhnya pernyataan itu. Mereka lebih percaya, garis maut sudah ditentukan dan tidak ada siapa pun makhluk yang bisa memainkan goresannya, termasuk pandemi virus laknat sekalipun.

“Ya, maklumlah orang tidak pernah sekolah,” celetuk istri Ketua RW, terkesan bijak dari tutur kata dan penampilannya.

“Pssttt, awas ada orangnya, Bu!” Sambil berkata lirih, seorang ibu muda menyenggol lengan Bu RW.

Lelaki tua berkaki pincang sebelah itu tak begitu menggubris obrolan ibu-ibu yang sedang berkerumun mengelilingi tukang sayur di perempatan jalan menuju makam. Ia cukup mengerti perihal suasana dusun akan terus mencekam dalam beberapa hari ke depan. Termasuk gunjingan atas dirinya bakal kian meruncing, ia tak ambil peduli. Sekalipun tiap malam—dan sudah berjalan selama sepekan ini—masjid-masjid di Dusun Ngenthak, serentak menggelar acara doa tolak bala. Ia telah melihat sendiri, hujan yang turun hampir saban petang mengguyurkan kecemasan bagi warga dusun. Mereka yang memaksa diri hadir di masjid, tak bosan ndremimil, memanjatkan harap keselamatan atas kampung mereka dari pagebluk yang tak kunjung surut. Seolah tak putus sirene ambulans meraung dari kejauhan dan kabar lelayu kerap menggema lewat pengeras suara, membuat mereka yang bertahan mendekam di rumah pun tak lebih sama, mendaras pertolongan Yang Maha Kuasa agar keluarga mereka terhindar dari malapetaka.

Mbok ya sudah. Manut saja apa kata orang-orang, Kung.” Masih terngiang teguran istrinya semalam.

Mbah Ngiso—yang tak pernah lulus SD itu—tahu, sepintar apapun orang bersekolah, nyatanya sama saja tak berkutik tatkala wabah datang. Orang-orang pusat yang katanya terpilih dan hebat, menurutnya tak ada guna manakala sudah setahun lebih, gawatnya pandemi belum juga sanggup diatasi. Terlebih sekarang korban berjatuhan di antara tetangga sekitar. Ia lebih percaya dengan nasihat yang turun temurun ia terima dari leluhur, bahwa kejadian seperti ini merupakan akibat dari ulah tingkah sendiri. Mana mungkin Gusti Allah menimpakan tulah ke alamat yang salah? Demikian sederhana alasan yang melekat di benaknya.

Gegas lelaki itu mulai menugal tanah, menghunjamkan segenap kepatuhannya atas titah. Sesungguhnya dia pun tak rela sejak beberapa bulan belakangan, banyak warga yang tak menghiraukan lagi kata-katanya. Hal itu terlepas dari kenyataan, sepekan ini ia sudah menggalikan makam belasan mayat warga, tanpa sedikitpun berniat mengelak. Mata cangkul ia ayunkan, disambut sigap tiga orang warga lain membantunya, lalu sebentar saja tanah galian telah menumpuk di sekeliling lubang berukuran satu kali dua meter itu. Apa daya—pikirnya, Juru Kunci Makam Sindang hanyalah sebutan halus untuk tidak mengatakannya sebagai gedibal. Dan kata-kata yang keluar dari seorang gedibal, ibarat gemerisik rumput yang mengaduh terinjak kaki, kalaupun benar hanya terdengar tak lebih sebagai ratap belas kasihan.

Wis ta, Mbah. Aku jamin sampeyan dan keluarga nggak bakal kelaparan. Jadi nggak usah macam-macam!” tegas Pak Bayan tempo hari.

Sementara Mbah Ngiso tengah berkejaran dengan waktu menyiapkan lubang pemakaman, Pak Bayan justru terlihat sibuk menerima kedatangan para wartawan di balai desa. Terasa makin aneh kehadiran kuli tinta itu, tapi demikianlah kejadiannya. Mungkin sekali para remaja atau muda-mudi Dusun Ngenthak sudah tak sabar dusun mereka menjadi viral, meski kabar petaka yang harus mereka unggah ke media sosial, mengundang wartawan untuk meliput kejadian sebenarnya.

“Sebagai kepala lingkungan, kira-kira bagaimana tindakan Bapak untuk mengatasinya?” Seorang wartawan dari media lokal melontarkan pertanyaan yang terasa sedikit tergesa-gesa.

Pak Bayan terdiam sebentar sebelum kemudian memberikan tanggapan. Dia katakan di tengah kepanikan yang terus-terusan seperti sekarang, hanya ada satu cara paling baik, yakni meminta pertolongan Tuhan. Dia menambahkan, “Seluruh dunia sedang menderita akibat pandemi. Jadi mohon tidak menyebar berita yang tidak-tidak tentang dusun kami.”

Dan kedatangan wartawan itu sudah pasti tak membuat kepanikan mereda. Justru di hari berikutnya, berita tentang kematian beruntun di Dusun Ngenthak sukses terpampang di halaman pertama, bersebelahan dengan foto lambaian tangan bupati yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Berita mengenai Dusun Ngenthak memang bukan baru kali ini, terlebih di dusun inilah rumah tinggal bupati berdiri, semenjak belum menjabat pertama kali. Tiga bulan sebelumnya, kabar penolakan pembangunan menara telekomunikasi yang tidak melibatkan persetujuan warga, juga sempat terpampang di koran yang sama. Sejatinya persoalan itu lumrah saja terjadi di mana tempat. Biasanya, warga setempat menolak karena tidak menyepakati uang kompensasi yang diberikan oleh pengembang menara. Sedikit berbeda yang terjadi di Dusun Ngenthak. Pertama, warga merasa tidak pernah diberitahu, apalagi dimintai persetujuan, terkait rencana pembangunan menara. Kedua, karena rencana pembangunan menara itu harus menghilangkan satu-satunya pohon tua yang ada di tanah kas desa, persisnya di sisi timur Makam Sindang. Yang terakhir, ada bukti dan saksi mata yang mengetahui perihal uang sewa, telanjur jadi bancakan tokoh-tokoh masyarakat dan perangkat desa. Ketiga alasan itu semakin meruncing ketika pada pertemuan di balai desa, Pak Bayan membawa-bawa nama bupati, “Kalau Bupati saja sudah merestui, kalian mau apa?” seolah dengan begitu penolakan warga bisa segera teratasi.

Sayangnya sebagian besar warga mengamini pernyataan Pak Bayan dan sebagian kecil sisanya ikut-ikutan bungkam ketika dana kompensasi dibagikan merata. Media pun tak kurang melempem setelah melakukan mediasi yang entah, menampilkan judul ‘Terganjal Mitos, Pembangunan Menara BTS Sempat Ditolak Warga,’ di salah satu kolom beritanya. Terkecuali Mbah Ngiso, meski dalam posisi terkunci, tetap saja menolak tanpa kecuali. Tetapi sikap itu tak mengubah itikad baiknya melaksanakan tugas sebagai juru kunci, sebagaimana yang dilakukannya hari ini.

Setelah kedatangan ambulans yang mengangkut jenazah, beserta mobil SAR yang membawa petugas berpakaian APD lengkap, Mbah Ngiso bergegas pulang. Sampai di rumah, lelaki tua itu disambut istrinya dengan wajah gelisah.

“Perasaanku kok nggak enak ya, Kung.”

“Lha ngapa? Ndak usah ikut-ikutan bingung.”

“Sampeyan ini, dieman-eman kok malah kayak gitu.”

“Apa kamu ikut-ikutan mengira Gusti Allah gegabah?”

“Ya bukan begitu. Tapi sampeyan kan juga harus hati-hati.”

“Kalau kamu ikut-ikutan menyalahkan pandemi, lantas kapan kita akan belajar perihal takdir yang sudah pasti?”

“Ah, ya sudah. Memang angel tenan bicara sama sampeyan,” tandas perempuan tua itu.

Matahari sedikit condong ke barat, dan Mbah Ngiso tetap bersikeras tak mau menyepelekan perihal kepastian takdir sebagai buah tindakan sendiri. Ia bahkan sempat menyebut—dan itupun sudah teramat sering dikatakannya—alasan kakinya pincang sebelah, sebab terpatuk ular saat berniat membawa pulang kayu bekas keranda dari Makam Sindang, berpuluh tahun silam. Lelaki tua itu berharap, cukup sekali itu saja dirinya tertimpa kemalangan akibat kemarahan leluhur penunggu makam.

Mbah Ngiso dan istrinya belum tahu, di saat mereka meributkan keselamatan atas pagebluk yang terjadi, sebuah pesan berantai menyebar dengan cepat selayaknya wabah menular. Siang terasa lebih panas di balai desa, ketika Pak Bayan yang baru saja mengisi absensi kehadiran, sampai terpental dari kursi, setelah membaca kabar lelayu kemangkatan bupati.***


Ian Hasan, kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Penulis dapat dihubungi lewat surel: [email protected] dan akun Instagram: @ian_hasan.

Cerpen

Pedagang Surga Keliling

Cerpen Indarka P.P

Kali ini aku akan bercerita tentang temanku yang gigih menjalani hidup sebagai pedagang surga keliling. Terus terang, kesungguhannya sangat membuatku kagum, terlebih ketika kutahu ia telah mencapai titik yang menggemberikan soal pekerjaannya itu. Sayang, sampai di suatu waktu, ia harus berhenti—tepatnya diberhentikan—sebagai pedagang surga keliling. Padahal saat itu aku belum sempat berhasil menjadi seperti dirinya.

***

Marno namanya. Lelaki tambun berkulit sawo—yang terlalu—matang. Seorang yang sudah bekerja selama sembilan tahun sebagai petugas TU di kantor kecamatan. Yang mana setiap harinya selalu cemas menanti kapan diangkat jadi pegawai negeri. Sebab pegawai honorer tak memiliki masa depan menjanjikan. Begitu kiranya saat ia mengeluh padaku.

“Gaji honorer itu pahit, Mul, pahit!” terangnya sambil melotot.

Aku tak berkomentar, kali itu aku bertindak sebagai pendengar, itupun Marno sudah senang. Setelah lega mencairkan unek-uneknya, Marno mengucap terima kasih, “Jangan pernah bosan mendengar sambatan-ku ya, Mul.” Ia lantas pulang.

Belum hilang keluhan Marno dari otakku, hari ini kabar tentang dirinya sudah sampai di telinga lagi. Aku lumayan terkejut. Malamnya aku langsung bertandang ke rumah Marno, menyelidiki kebenaran kabar itu. Setibanya di sana aku mendapat sambutan paling menyedihkan dari Marno sepanjang kami berteman. Wajahnya tampak kacau. Matanya—yang setiap hari sudah meredup—kini serupa lilin yang akan padam hanya dengan satu jentikkan jari. Kemalangan Marno itu diperparah ketika aku lihat tiga kancing paling atas di bajunya terlepas. Pemandangan yang sungguh tak baik bagi kesehatan mata.

Lalu aku bertanya mengapaia diberhentikan dari pekerjaanya. Ia menerangkan Pak Camat sedang melakukan reformasi birokrasi besar-besaran. Sebagai camat baru, Pak Camat ingin meremajakan pegawai. Bukan hanya remaja secara usia, melainkan juga soal kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, berintegritas tinggi, cinta Pancasila dan NKRI. Karenanya, Pak Camat membentuk panitia yang bertugas mengadakan seleksi ulang guna pemberian SK jabatan. Seluruh pegawai wajib mengikuti, tak terkecuali Marno.

“Aku sudah ikut seluruh tahapan seleksi,” ucap Marno dengan suara lemas.

Marno melanjutkan ceritanya. Ia menduga telah mendapatkan skor buruk pada tahap Tes Wawasan Kecamatan. Ketika kutanya mengapa, Marno berkata kalau di tahap itu ia ditanya macam-macam yang tak mampu dijawabnya secara lugas dan cepat.

“Mul, kamu pilih kopiah atau caping?” tiba-tiba Marno melempar tanya padaku. Dan sedetik berselang ia menyebut angka-angka. “Waktu habis!!!” tandasnya setelah ia mengucap angka lima.

Ternyata Marno mencontohkan apa yang ia alami dalam Tes Wawasan Kecamatan. “Aku hanya diberi waktu lima detik.” Saat itu ia sangat bimbang. Jika memilih kopiah, ia sangsi kalau dianggap tidak pro rakyat kecil. Itu berarti ia tidak memiliki etos pelayanan yang baik. Sementara jika menjawab caping, ia takut kalau dicap sebagai orang yang tak peduli agama. Lebih-lebih kalau dituding sebagai penista.

Mendengar kesaksian itu, aku terheran-heran.

“Ada lagi yang lebih gila.”

Aku menajamkan mata dan pendengaran.

“Aku disuruh berpendapat, lebih mendahulukan Darma Bakti Kecamatan atau rukun iman.”

Aku melongo. “Terus kamu jawab apa, Mar?”

Ia menggelengkan kepala. Menurutnya lima detik hanya sesingkat satu kali tepuk tangan. Begitulah. Pada akhirnya di hari pengumuman ia harus menelan ludah karena tak masuk dalam daftar pegawai yang lolos seleksi. Lantaran tersulut amarah, dengan berani Marno merobek kertas pengumuman di papan informasi itu. Cara Marno bercerita berubah jadi heroik kali ini.

Atas tindakannya, Marno diusir satpam, dan pulang lebih awal di hari terakhir ia bekerja. Akhirnya, takdir meresmikan dirinya sebagai pengangguran. Marno yang merasa terzalimi lantas bersumpah, takkan pernah menginjakkan kaki di lantai kecamatan. Yang kemudian di lain hari sumpah itu ia revisi, “Jangankan lantainya, Mul, masuk gerbangnya pun aku tak sudi!”

Setelah nganggur berbulan-bulan, entah dapat referensi dari mana Marno menyatakan ingin berwirausaha. Sebagai teman yang baik, jelas aku dukung rencana itu. Namun, setelah mendengar jawaban Marno ketika kutanya usaha apa, aku berubah pesimis.

“Pedagang surga keliling, Mul.”

Marno meminta waktuku sebentar saat aku hendak pergi dari hadapannya. Ia menyebutkan nama pedagang sayur keliling, pedagang buah keliling, dan pedagang-pedagang keliling lainnya yang sukses. “Itu saingannya banyak. Nah, kalau surga, kurasa masih jarang penjualnya, Mul. Betul tidak?”

Karena tak ingin terlampau lama memandang wajah Marno yang kini jadi brewok itu, aku berlalu begitu saja. Aku yakin yang dikatakan Marno tadi hanya sebuah candaan—meski aku sama sekali tak tertawa. Sialnya, keyakinanku itu patah ketika esoknya aku melihat Marno berjalan kaki menggendong tas melintasi sebuah kampung sambil berteriak, “Surga, surga, surga… Surganya, monggo.

Aku tertegun. Aku menganggap Marno berlebihan dalam hal berinovasi. Karena penasaran, suatu kali kusempatkan bertanya pada Marno apa gerangan yang membuat ia terpikir menjadi pedagang surga keliling. Sayangnya Marno tak memberi jawaban tegas. Malah ia mengeluh padaku perihal surganya yang sepi pembeli.

“Apa namaku kurang hoki ya, Mul?” tanya Marno.

“Bisa jadi,” sambil tertawa kecil aku menjawabnya.

Nasib memang rahasia Tuhan yang tiada seorang pun tahu. Begitulah gumamku setelah mendengar usaha Marno sekarang berjalan sangat maju. Konon, surga yang ia jual laku keras. Di musala-musala kampung, pasar-pasar, terminal, bahkan di sekolah, banyak orang tertarik dengan dagangannya. Marno juga selalu memberi diskon serta berani menggaransi surga jualannya.

Hal tersebut kuketahui ketika suatu siang tanpa sengaja aku melihat Marno berbincang dengan tetanggaku yang baru lulus SMA di depan musala. Tetanggaku itu manggut-manggut mendengar Marno menjelaskan keunggulan surganya.

“Khusus buatmu aku beri garansi lama. Dua dua kali bulan puasa. Gimana?

Tetanggaku akhirnya sepakat. Ia lantas membayar surga pada Marno. Setelah itu ia bergegas masuk musala melaksanakan salat dalam waktu yang sangat lama. Sementara Marno melanjutkan perjalanan. Berkeliling sembari mendengungkan besaran diskon juga garansi. Aku yang menyaksikan kegigihan Marno dengan mata kepala sendiri, benar-benar salut.

Alhamdulillah. Ini semua buah ikhtiar dan kesabaranku, Mul,” ucap Marno suatu kali. Ia tersenyum sambil mengelus-elus jenggot yang telah memenuhi dagunya.

“Pokoknya aku bangga padamu, Mar.”

“Ssttt…” tiba-tiba Marno tempelkan telunjuknya di bibirku. “Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Mul. Tidak membawa hoki.” Ia menegaskan padaku telah mengubah nama menjadi Salman Ar-Rasyid. Dan saat itu pula ia minta aku selalu memanggilnya dengan nama itu.

“Siap, Mar. Eh, maksudku siap, Salman.” Kami pun terkekeh.

Melihat Salman meraup pundi-pundi sebagai pedagang surga keliling, lama-lama membuatku tertarik juga. Aku menyampaikan hal itu pada Salman, dan memang sudah sepatutnya ia menanggapi ketertarikanku dengan hangat. Tanpa perlu kujelaskan lebih gamblang, ia sudah mengerti maksudku. Ia pun janji akan mengajari cara menjadi seperti dirinya.

“Tetapi kamu harus tahu, Mul, sebelum terjun ke lapangan, kamu harus mondok di yayasan dulu.”

“Berapa lama kira-kira?”

“Tergantung. Semakin cepat kamu menguasai materi penjualan surga, semakin cepat pula kamu bisa mulai bekerja. Begitu sebaliknya.”

Aku mengiyakan apa yang ia utarakan. Setelah itu aku disuruh menunggu kabar darinya. Namun, sepekan dua pekan, Salman tiada menghubungiku. Berkali aku meneleponnya juga tak bisa.Ia seperti lenyap dalam kegemilangan. Aku yang sugguh-sungguh kepengin seperti dirinya merasa kecewa.

Suatu hari di siang yang terasa suntuk, ketika harapanku menjadi pegadang surga keliling mulai surut, tanpa terduga masuk panggilan dari nomor Salman. Aku antusias. Barangkali ini kabar bahwa aku sudah bisa memulai rencana yang sempat tertunda. Namun, setelah telepon itu kuangkat, bukan suara Salman yang terdengar, melainkan seorang yang mengaku dari kepolisian. Saat kutanya apa yang terjadi pada Salman, ia tak bisa menjelaskan. Ia memintaku menyusul Salman di kantor polisi kecamatan. Tanpa pikir panjang, segera aku berangkat ke sana.

Saat tiba di kantor polisi, aku menghadapi seorang petugas yang menanyaiku sebelum bertemu dengan Salman. Pada proses itu petugas memberitahuku terkait apa yang Salman alami.

“Teman Anda kena OTT,” katanya, “Surga yang ia jual ilegal, karena tidak ada izin dari Majelis Ulama Kecamatan,” lanjut petugas itu dengan wajah garang dan menjengkelkan.

Aku tercenung sekian waktu karena hampir tak percaya Salman berani melawan undang-undang. Meski begitu, Salman tetaplah temanku yang baik. Aku akan menemaninya melewati seluruh proses hukum ini. Ya, selain membuktikan bahwa aku teman yang setia, itung-itung dari proses ini aku juga bisa belajar bagaimana menjadi pedagang surga keliling yang baik dan benar.

“Nama Anda siapa?” pertanyaan petugas itu membuatku terkejut. Sudah kubilang, dari awal ia memang menjengkelkan.

“Husain. Ehm… Husain bin Muzaki,” jawabku sambil berdehem satu kali.***


Indarka P.P, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah. Alumni Fakultas Syariah, IAIN Surakarta. Saat ini bermukim di telatah Kartasura dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Surga di Matamu

:Alena

Apakah engkau pernah mendengar perihal surga, Alena?

sungai-sungai yang mengalirkan susu,

telaga madu yang manis tak pernah habis,

dan buah-buah matang di pohon, tak satupun membusuk.

Kedengarannya menakjubkan, bukan?

Kini, engkau sudah menikmati surga itu, di bumi,

di matamu sendiri. Setiap yang engkau bayangkan,

ketika matamu terpejam, surga itu menghampirimu:

engkau menaiki perahu, memetik buah, 

menyesap madu, dan meneguk susu.

Kaupun lekas tersenyum sendiri,

dan berbagi tahu, 

bahwa sebenarnya tuhan sudah menciptakan surga, 

di matamu, di mata kita, 

di mata mereka yang mendapati surganya.

Jombang, 2021


Di Sebuah Teras Cafe

hujan menahan kita di sebuah teras café

meja bulat dengan dua kursi saling berhadapan

serta miniatur biola kayu dan bunga kaktus di atasnya

dan engkau lekas memesan seporsi kopi

yang gula dan susunya dipisah: di wadah sendiri

kemudian engkau meraciknya: ala barista italia

sesekali matamu melirik ke arahku,

dan tipis senyum di bibirmu

aku menikmatimu: setiap gerak, lirik, dan senyummu

yang lebur pada aroma kopi, gula, dan susu

dalam hatiku berdoa

agar tuhan tidak menghentikan hujan di sore itu

agar tuhan menaburkan segala perasaan pada kopi itu

dan agar tuhan mengizinkan kita menyatu

seperti kopi, gula, dan susu.

Jombang,  2021


Kau Ingin Aku

Menulis Puisi yang Seperti Apalagi?

Setelah matahari beringsut, 

dan menenggelamkan separuh tubuhnya ke laut

lekas kau berkata,

“Tuliskan puisi untukku, aku sedang rindu.”

Dan kau genggam kedua tanganku

semakin erat. semakin hangat.

Memandangi langit lazuardi

membayangkan kuda bersayap

lengkap dengan tanduk spiral di kepalanya.

Tanpa angin, tanpa hujan.

Namun pelangi pun datang menjemput,

mengikhlaskan tubuhnya sebagai anak tangga, 

dan kita melangit bersama.

Sementara, tubuh kita masih dikoyak

kecemburuan, di bumi, tempat singgah dosa-dosa

yang kita kumpulkan sendiri.

“Kau ingin aku menulis puisi yang seperti apa lagi?”

tanyaku, sembari membalas erat genggamanmu.

Dan kau berbisik,

“Seperti air yang tak sempat menenggelamkan,

seperti api yang tak sempat menghanguskan, 

dan seperti angin yang tak sempat memorakporandakan.

Jombang, 2021


Membaca Pesan di Suatu Pagi

pagi-pagi sekali, sudah berdering tiga kali

padahal matahari masih bersembunyi

di balik bukit, menunggu kidzib berlari

baiklah, kali ini aku mendahulukanmu

bersandar di kamar, dan membaca tiga pesanmu

pesan pertama,

            “jika engkau ingin bertemu,

  temui aku dalam doamu”

pesan kedua,

            “ingat, kita wajib bertemu

  lima kali dalam sehari semalam”

pesan ketiga,

            “berbahagialah, jika besok atau lusa,

  masih ada pesan dariku”

lekas aku beranjak dari kamar tidur

meninggalkan mimpi yang belum rampung

            Subuh, 04.45


Di Sebuah Alam Mimpi

            :Din

mendadak aku dihisap lubang hitam

dan mendarat tepat di halaman mimpimu

skenario yang masih tertumpuk malam

satu per satu kubaca, dan kutemukan sosokku

tayang dalam mimpimu.

betapa bahagianya aku,

sebab, dalam mimpimu kau menginginkan kita beradu.

ah, kali ini aku akan tinggal bersamamu

:dalam alam mimpimu

sebelum matahari beringas, memangkas tidurmu.

                        Jombang, 2021


Dongeng

Konon, Ibu rajin mendongeng

di antara anak-anak, di altar rumah

Lampunya terang cahaya rembulan

musiknya tembang-tembang dolanan

Ketika dongeng sudah menyebut bidadari

dan rembulan rekah bak matahari pagi

Anak-anak berhenti bernyanyi

semua memandangi langit: menyaksikan bidadari

Angan-angannya mulai menari-nari

mengumpamakan bulan, kucing, dan bidadari

“Apakah tahun ini bidadari masih kerasan tinggal di bulan?

ataukah sudah tergantikan?”

Ah, mungkin bidadari sudah turun ke bumi

sibuk merias diri, menjelma smart phone dan televisi

Jombang, 2020


Keringat Dingin

telapak tanganmu selalu menderas keringat dingin,

ketika mataku menyumat pandangan rindu

dan engkau menjelma rumpun putri malu

meski engkau tak berbalas pandangan padaku.

Jombang, Juni 2021


Tanganmu Teramat Dingin

tanganmu teramat dingin untuk kugenggam

sementara aku semakin gigil untuk mengingat-ingat

kapan terakhir kali kau memelukku

dan berucap, “aku akan kembali padamu, 

lengkap dengan sepaket doa tanpa khianat.”

apakah engkau juga masih ingat?

sebab, aku membutuhkan hangat yang amat

mencairkan beku rindu yang nikmat.

Jombang, 2021


Usai Subuh

subuh sudah berlalu

pendar mentari menyusup jendela kayu

kami pulang ditegur waktu

perjumpaan dengan-Mu masih dirindu

sebab jalan-jalan belum kutemu

seperti belukar, menyamarkan mataku

kami pulang digiring mentari

ia berbisik: duha sedang menanti

Jombang, 2020


Terompa

kita sepasang terompa

dari kayu waru berdaun jantung

berserampat karet, tahan karat

bersanding, berpasangan

aku kiri dan engkau kanan

kita sepasang terompa kenangan

berjalan saling bergantian

mengikis jalan-jalan

membunyikan nyanyian-nyanyian

Jombang, 2021


Bunga Bersalawat

sebab, bunga-bunga yang kita tanam

adalah doa-doa yang bersalawatan

dari pucuknya air mata keteduhan

yang saban pagi ia teteskan

Jombang, 2020


Miftachur Rozak, penulis puisi yang aktif di KPB (Kelas Puisi Bekasi). Ia lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Tahun 2011 ia menyelesaikan study S1 PBSI STKIP PGRI di Jombang, dan  kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Sedikit karyanya tersiar diberbagai media cetak dan daring. Salah satu puisinya masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook Miftachur Rozak atau Instagram @arrozak_88.

Cerpen

Perubahan Sudut Pandang

Cerpen karya Erwin Setia

Kadang perlu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Beberapa hari ini situasi lingkunganku memburuk dan aku merasa tidak lagi sekadar perlu—tapi sangat perlu—untuk sepenuhnya mengubah sudut pandang. Ketika kusaksikan mayat demi mayat lelaki-lelaki muda tak henti-hentinya digotong oleh warga setiap harinya, aku berpikir itulah yang terbaik buat mereka. Setidaknya, anak-anak muda itu tidak akan menemui lagi kesialan-kesialan hidup di hari depan dan tidak akan menjumpai suasana apokaliptik ketika pada akhirnya hari kiamat tiba—itu kalau mereka percaya soal hari kiamat. Selain soal mayat-mayat lelaki muda, aku juga melihat hal-hal lain sebangsanya dengan kacamata baru: korupsi, nepotisme, kuasa oligarki, hutan terbakar, penjeblosan seseorang ke dalam penjara secara semena-mena, perburuan hewan-hewan langka, pencemaran laut, konflik sektarian, pertengkaran rumah tangga, kemiskinan, dan seterusnya—terlalu banyak jika kusebutkan semuanya. Aku tidak lagi berpikir semua itu adalah serentetan masalah yang harus segera dicari solusinya. Kini aku menganggap semua itu sebagai kerikil atau daun-daun kotor di atas hamparan kehidupan yang hijau dan luas yang tak harus buru-buru disingkirkan. Biarlah angin membawa mereka, biarlah kaki-kaki bocah melempar mereka, biarlah mereka pergi dengan sendirinya.

Malam itu istriku marah-marah ketika aku mengatakan soal perubahan sudut pandang.

“Kau sudah menyerah, Kak? Selemah itukah dirimu?”

“Bukan seperti itu maksudku, Dik. Kau harus mengerti.”

“Mengerti apa? Mengerti bahwa setelah segala usaha yang kita lakukan, kita harus menyerah dengan mudah. Begitu maksudmu, Kak?”

“Aku hanya ingin hidup kita menjadi sedikit lebih baik.”

“Semua orang juga maunya begitu, Kak. Tapi bukan dengan menyerah.”

“Aku tidak menyerah.”

“Lalu apa namanya, Kak? Putus asa?”

“Ayolah, dengar dulu penjelasanku.”

Suara letusan terdengar di luar rumah. Berkali-kali.

“Aku tidak butuh penjelasan Kakak. Cukuplah Kakak dengar suara-suara di luar itu. Apa itu kurang jelas?”

Ia meninggalkanku sebelum aku mengatakan semuanya. Ia buru-buru menuju kamarnya. Kudengar secara samar ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Cara bicaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan suatu hal genting. Dan memang begitulah yang sedang terjadi. Sebuah ledakan—oh, bukan hanya satu ledakan, tapi banyak ledakan—pada tengah malam. Apa lagi kalau bukan suatu pertanda hal genting sedang terjadi?

Aku mengenakan jaket dan keluar rumah. Di seberang rumahku, di suatu warung kopi yang temaram empat orang berkumpul. Mereka berdiri tegak dan memandangi satu arah yang sama, di mana langit malam tampak menyala dan berasap.

“Sudah keberapa kalinya ini?” tanya Agea.

“Aku bahkan tidak sempat menghitungnya,” ujar Fai.

“Sudah tidak penting lagi menghitung-hitung ledakan yang terjadi. Sama tidak pentingnya dengan menghitung berapa orang yang sudah mati,” timpal Andro dengan wajah geram.

Seorang lagi, Ikal, tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengurut-urut hidungnya seolah dengan begitu keadaan bisa membaik.

Saat aku bergabung, mereka bergeming. Mereka hanya melihatku sekilas lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah langit yang bersinar terang. Ledakan terdengar sekali lagi ketika istriku keluar dari rumah dan berteriak memanggilku.

Aku kembali menuju rumah. Sama seperti saat aku datang, ketika aku pergi pun orang-orang di warung kopi tidak menghiraukanku.

“Bahim mati, Kak.”

Istriku menutup mukanya selepas mengatakan itu. Ia tidak bicara apa-apa lagi. Ia menelusupkan wajahnya ke bahuku. Dan menangis. Ketika itu kami masih berada di halaman. Orang-orang di warung kopi tampak memperhatikan kami. Barangkali jika tadi aku datang sambil menangis, mereka juga bakal memperhatikanku. Pada zaman ini, kau memang harus berlagak berbeda untuk dapat perhatian—menangis terisak-isak atau jungkir balik atau menjanjikan keselamatan, misalnya.

Kuusap-usap punggung dan leher istriku. Kubisikkan padanya semacam petuah. Kubilang bahwa kematian Bahim mungkin adalah yang terbaik untuknya. Seorang pahlawan atau orang baik biasanya memang tak berumur panjang. Kuberi ia perumpamaan perihal taman penuh bunga yang didatangi oleh seorang perempuan. Apabila perempuan itu diberi keleluasaan untuk memetik bunga mana saja, menurutmu bunga macam apa yang akan ia petik terlebih dahulu? Istriku tidak menjawab. “Tentu bunga-bunga yang paling indah,” kataku kemudian. Ia tetap tidak bereaksi, tampak larut dalam kesedihannya. Kupikir aku salah mengatakan itu pada saat begini, tapi bukan berarti apa yang kuucapkan salah. Kenyataannya memang begitu, bunga-bunga indah dan orang-orang baik kebanyakan berumur pendek.

Istriku tidak menginterupsi atau memprotes satu pun kata-kataku. Biasanya ia selalu punya amunisi untuk mempertanyakan atau menyerang balik apa-apa yang kuucapkan. Barangkali ia terlalu sedih untuk melakukan itu. Bahim, adik satu-satunya, seorang lelaki muda yang belum genap dua puluh tahun, baru saja meninggal dunia. Tentu saja itu kabar paling buruk yang menimpanya dan juga menimpaku beberapa hari ini. Sudah puluhan atau bahkan ratusan orang yang mati, tapi ketika yang mati itu adalah anggota keluargamu sendiri, tentu kau akan merasakan kesedihan sekaligus kemarahan yang berbeda. Yang lebih meluap-luap dan membuat gumpalan dendam di dadamu semakin membesar.

Aku menuntun istriku ke dalam rumah. Setibanya di kamar, ia berkata, “Besok kita harus ke pusat, Kak.” Pusat yang ia maksud adalah pusat kericuhan terjadi. Sebuah ruas jalan lebar dekat kantor pemerintahan yang belakangan tak lagi dilintasi para pengendara. Tempat di mana massa demonstran dan polisi bentrok selama berhari-hari. Massa demonstran tak mau mundur sebelum mereka bisa menemui presiden dan mengungkapkan aspirasi mereka secara terang-terangan. Mereka menuntut bermacam-macam, mulai dari penegakan hukum, revisi atas undang-undang bermasalah, hingga menuntut agar kawan-kawan mereka yang tak bersalah dibebaskan dan dikeluarkan dari tahanan. Namun, bukannya memenuhi tuntutan itu, suatu hari polisi malah melemparkan sebuah karung ke kerumunan massa. Sebuah karung berisi mayat seorang kawan mereka yang penuh luka lebam dan sudah berbau busuk. Sejak itulah bentrokan dan kericuhan semakin menjadi-jadi dan tiada habisnya.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa, Dik,” kataku dengan cemas. Pergi ke tempat sekumpulan hewan buas tentu bukan keputusan yang bijak.

“Kakak punya pistol?”

“Kondisi belum kondusif, Dik. Kita tidak boleh ke mana-mana dulu.”

“Aku tanya, Kakak punya pistol atau tidak?”

Aku tidak menjawab. Istriku yang sebelumnya tampak lemah dan berduka, kini bergerak cepat dan mengacak-acak lemariku. Ia membuka laci-laci. Pada suatu laci, ia menemukan pistol yang belum kugunakan sejak aku membelinya seminggu lalu.

“Buat apa pistol ini kalau tidak digunakan, Kak?”

“Tapi, Dik.”

“Apa Kakak takut, hah? Apa Kakak sudah lupa dengan teman-teman Kakak yang tewas dibunuh para aparat biadab itu?”

Aku tak mampu berkata-kata. Ia berjalan cepat menuju pintu.

“Aku ingin membunuh semua polisi itu, Kak.”

Ia melangkah gesit. Diriku masih linglung dan dipenuhi rasa bersalah. Andro masuk rumahku. “Hei, Gustam, istrimu pergi menuju pusat, kenapa kau diam saja?”

Aku tersadar dari kebodohanku dan segera berlari ke luar rumah. Aku dan Andro mengejar-ngejar istriku. Tiga orang yang sebelumnya ada di warung kopi juga sudah berlari di depan, mengejar istriku. Istriku berlari sangat cepat. Pada saat itu aku baru ingat bahwa istriku pernah menjadi atlet taekwondo semasa mudanya dan ia biasa latihan lari jauh. Larinya sangat cepat. Letak pusat tidak begitu jauh dari permukiman. Hanya perlu waktu sepuluh menit jika berkendara dengan kecepatan rata-rata. Dan mungkin selama itu jugalah waktu yang diperlukan jika pergi ke sana dengan cara berlari.

Aku dan Andro masih terus berlari. Namun istriku memanjat tembok pembatas yang cukup tinggi dengan sigap, ia meloncat dari pembatas yang sekaligus berguna sebagai jalan pintas. Agea, Fai, dan Ikal tidak bisa memanjat tembok pembatas itu. Begitu juga Andro. Mereka menyerah dan menyalah-nyalahiku. Aku berusaha memanjat tembok itu. Dan setelah berusaha keras seolah sedang memanjat tebing paling terjal sedunia, aku akhirnya bisa melalui tembok itu. Istriku sudah tidak terjangkau mataku. Ketika akhirnya aku tiba di pusat, kudengar suara tembakan meletus tak habis-habis. Orang-orang baku tembak seperti sedang terjadi perang saja. Dan mungkin ini memang perang. Perang saudara yang sama sekali tak diperlukan. Dari suatu tempat yang kupikir cukup aman untuk berlindung, aku melihat seorang perempuan menembak-nembak dengan lihai. Perempuan itu berdiri di garda depan. Perempuan itu adalah istriku. Beberapa polisi ambruk terkena tembakannya.

Istriku terlihat seperti jagoan dalam film-film aksi. Perempuan tanpa rasa takut terhadap maut yang hanya memiliki keinginan untuk menuntaskan dendam. Ia terus menembak dan menjatuhkan satu demi satu polisi yang tak bertameng. Aku tak menyangka selama ini aku menikahi seorang perempuan jagoan. Namun kemulusan aksi istriku tak bertahan lama. Satu tembakan dari seorang polisi mengenai tubuhnya. Ia terjatuh dan pistol di genggamannya terlepas. Melihat itu, api di dadaku menyala. Aku langsung lari dari tempat persembunyian. Tanpa sedikitpun gentar, aku menuju tempat jasad istriku berada. Kupeluk dia sesaat. Kuperiksa detak jantungnya. Sudah berhenti. Lalu kuambil pistol yang tergeletak dan kutembak orang-orang berseragam di hadapanku. Aku tidak tahu pada tembakan keberapa ketika kusadari peluru pistolku sudah tandas. Aku tetap mengacung-acungkan dan menarik pemacu pistol kendati tak ada yang keluar dari moncong pistol selain udara hampa dan lenguh sepucuk pistol yang tak berdaya.

Ketika akhirnya kulemparkan pistol itu jauh-jauh dan berlari menerabas ke kerumunan polisi, aku sama sekali tak lagi memikirkan soal perubahan sudut pandang. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah keinginan untuk mengirim semua aparat bersenjata ke neraka. Aku tidak lagi memikirkan dunia ideal atau hikmah suatu kejadian atau omong-kosong semacamnya. Bahkan, saat sebuah peluru mencelos melewati dada kiriku, merambatkan panas yang aneh dan mengilukan, aku membayangkan berada di suatu tempat di mana aku menjadi seorang raja yang tengah menghukum para pembunuh berseragam resmi dengan tusukan pedang, sula, jerat, berondongan tembakan, dan segala macam alat yang pernah ditemukan manusia untuk membunuh manusia lainnya.**

Tambun Selatan, 21 Oktober 2019


Erwin Setia, lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].