Buku, Resensi

Cinta Melulu

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seperti moral dan agama, cinta juga dapat dikatakan sebagai realitas abstrak. Bukannya tidak mungkin ditelaah dengan metode ilmiah yang memadahi, tapi sebagaimana dua hal yang tersebut di atas, seberapa pun ilmiah metode yang digunakan untuk menyingkap segala perkara soal cinta, ia tetap membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mudah diterima logika berpikir manusia modern, tapi sekaligus juga tidak bisa lepas dari diri manusia itu sendiri.

Pola pikir manusia yang mengandalkan akal-rasio selama berabad-abad lamanya, serta peradaban manusia yang diwarnai oleh perilaku praktis-pragmatis, membuat sebagian manusia hanya mau tunduk pada hal-hal yang memiliki nilai guna dan tampak oleh mata (hlm. 3). Manusia modern berlomba-lomba menjadi manusia logis dalam menyikapi segala hal di kehidupan. Pergulatannya dengan logika membuat manusia perlu mengalami perubahan-perubahan sikap memandang-mengkritisi-mendobrak keyakinannya.

Cinta termasuk juga moral dan agama yang sejatinya terbenam di relung keyakinan acap kali menjadi objek yang dikritisi dan didobrak manusia. Manusia modern sangat mudah mematahkan tatanan moral dengan argumen-argumen logisnya. Ia juga berhak dan bahkan cenderung bebas menentukan sendiri pandangannya soal agama. Misalnya seorang theis yang rajin beribadah bisa saja di kemudian hari meninggalkan ibadah-ibadah wajib karena pelbagai alasan. Barangkali karena hal semacam itu tak logis menurut akal-rasionya atau karena alasan lainnya. Termasuk juga cinta, perkara ini kiranya mudah dipandang terbelakang di dunia modern saat ini.

Kendati demikian, seberapa pun manusia mencoba kabur dari hakikat cinta, moral, dan agama, ia tak akan bisa benar-benar berhasil melakukannya. Apakah manusia bisa hidup tanpa memercayai sesuatu, tidak mengikuti nilai tertentu, bebas dari perasaan suka dan tidak suka. Padahal semua itu sejatinya lebih dekat dengan apa yang dianggap terbelakang menurut akal-rasio manusia modern.

Mendefinisikan Cinta

Hari-hari kita tak absen dari seruan kata-kata yang terdengar sangar: humanisme, perubahan iklim, keberagamaan, feminisme, keberagaman, perdamaian, perang dagang, puritanisme, radikalisme, liberalisme, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu penanda kehidupan yang sedang berlangsung. Dunia global mengalami masalah-masalah bertaut kemanusiaan misalnya kemelut perang saudara di Suriah, kamp muslim Uighur di Tiongkok yang diduga sebagai kamp pencucian otak, sekian penggusuran yang terjadi di Indonesia, ketidakadilan hukum, sikap represif pemerintah, dan lain-lain sebagainya.

Masalah-masalah pelik itu memang membutuhkan solusi rasional. Ratusan WNI terduga simpatisan ISIS di Suriah menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia karena situasi di medan perang makin mencekam, media-media internasional gencar menyoroti kamp muslim Uighur untuk membuka mata publik internasional akan tipu daya Tiongkok, aktivis-akademisi mendampingi masyarakat terdampak penggusuran untuk memperoleh hak-haknya. Hal-hal yang demikian tampak sangat rasional, namun apakah upaya baik manusia untuk membantu manusia lain yang sedang dalam masalah semata-mata digerakkan oleh akal-rasio? Mudah bagi kita dengan menjawabannya tidak.

Manusia yang berani melawan ketidakadilan, bersikap jujur antar sesama, hormat terhadap alam semesta, tidak bisa dikatakan sebatas sebagai manusia yang rasional, tetapi juga penuh cinta. Pendapat ini rasanya perlu meminjam konsep cinta Erich Fromm. Menurutnya, cinta terdiri dari unsur care, responsibility, respect, dan knowledge (hlm, 20). Manusia-manusia yang demikian selain memiliki rasionalitas yang sehat, juga memiliki ketajaman perasaan sehingga mampu menangkap realitas secara jernih dan tepat dalam merefleksikannya.

Gibran melalui bukunya The Prophet mendefinisikan cinta dengan indah sekaligus rasional. Akal pertimbangan dan perasaan hati laksana kemudi dan layar dalam mengarungi bahtera jiwa. Jika satu layar atau kemudi itu patah, kau hanya bisa mengambang, terombang-ambing gelombang. Atau lumpuh tanpa daya, di tengah samudera. Sebab akal yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri. Sedang perasaan yang tidak terkendali, bagai api yang menghanguskan diri (1926, hlm. 59). Rasionalitas dan cinta itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup kita baik sebagai personal, makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan, penghuni dan penjaga bumi, warga negara dan dunia, dan peran-peran lainnya.

Karakter Cinta

Dalam buku yang bermuasal dari kekagumannya akan sosok dan karya-karya Kahlil Gibran, Fahruddin Faiz menyebut empat karakter utama cinta: kebebasan, keindahan, ketulusan, dan penyucian. Cinta tidak mungkin dikendalikan. Faiz bahkan menelaah karya-karya Gibran sangat anti terhadap segala hal yang membatasi atau malah mengendalikan cinta, entah itu budaya, aturan atau bahkan ajaran agama. Kita cerap sajak Gibran berikut ini. Saling bercintalah, namun jangan membuat belenggu dari cinta. Biarkan cinta seperti air yang lincah menjelajah di antara pantai dua jiwa.

Pribadi-pribadi yang saling mencintai bebas untuk mengekspresikan diri sebagaimana adanya, tanpa harus dituntut untuk merombak individualitas maupun eksistensi kediriannya. Cinta tidak menganjurkan pribadi-pribadi saling melebur, tetapi lebih kepada saling memahami dan mendukung. Perbedaan dalam menjalani laku cinta merupa kesempatan untuk saling memperkaya diri, saling mengisi, dan saling menghormati. Dari situ akan bisa dibuktikan, apakah seseorang sedang mencintai, memengaruhi, mendominasi, atau menggantungkan diri (hlm. 69-70).

Adalah juga sifat dasar alamiah manusia yang menyukai keindahan. Saat berjalan-jalan di taman, mata kita mudah tersirap oleh bunga-bunga bermekaran, tapi misalnya juga terganggu dengan sampah yang berceceran di taman itu. Di deretan toilet umum, ada kerelaan yang muncul begitu saja untuk menyisir toilet mana yang paling bersih di antara yang lain. Manusia tampak wajar ketika mendambakan segala sesuatu yang baik. Kalau kata Jonn Kets,  a thing of beauty is a joy forever. Keindahan dalam cinta agak berlainan. Betapa juga pahit dan sakit yang dialami seseorang dalam mencinta, cinta tetap meninggalkan keindahan kenangan bagi dirinya.

Di antara empat karakter cinta menurut Faiz, kiranya ketulusan yang agak berat bersinggungan dengan akal-rasio kita. Ketulusan dalam mencinta didefinisikan sebagai wujud cinta yang sempurna, yang memberi tetapi tidak mengharap imbalan sama sekali. Ketulusan dalam cinta dibuktikan dengan keteguhan sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima atau diberikannya ditemui kesulitan, kepahitan, dan lain sejenisnya (hlm, 77).


Rizka Nur Laily Muallifa, Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Cerpen

Ia Tak Ingin Dicintai

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia tidak ingin dicintai, katanya. Bukan sekadar tidak ingin, tapi lebih daripada itu, ia tidak segan-segan membunuh setiap lelaki yang nekat mengutarakan cinta kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dirinya tidak pernah tinggal berlama-lama di suatu kota. Bahkan lebih gilanya lagi, pernah dalam satu tahun ia pindah tiga kali. Ti-ga ka-li. Bisa kaubayangkan? Berapa laki-laki yang mati konyol karena mencintainya pada setahun itu? Kau pasti terkejut apabila mendengarnya. Empat orang. Ya, bukan tiga, tetapi empat. Karena sebelum kepindahannya kali ketiga, ada dua pemuda yang berlomba-lomba mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.

Alona, nama perempuan tersebut, berusia hampir tiga puluh. Namun, bila dilihat dari wajah dan penampilannya, maka siapa pun akan setuju dengan apa yang saya katakan, bahwa perempuan itu tampak lebih muda tujuh tahun dari usia yang sebenarnya. Kecantikannya memang tidak terlalu mencolok, tetapi, lelaki mana saja yang melihatnya pastilah merasa betah. Belum lagi jika lelaki itu sudah berinteraksi dan tahu bagaimana Alona bersikap, tentu laki-laki itu tidak akan pernah merasa bosan. Dan itu yang saya rasakan. Enggan beranjak darinya. “Sebaiknya engkau pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen mungilnya.

“Apa masalahnya bila dicintai?” tanya saya kesal.

“Masalahnya,” ia menggiring saya ke pintu keluar, “saya benci dicintai.” Alona sedikit mendorong–memastikan pintu itu tidak mengenai saya ketika ditutup.

“Kau terlalu takut, Alona!”

Usai meneriaki dan menudingnya sebagai makhluk aneh yang jelas-jelas menolak dicintai oleh siapa pun, seperti biasanya, saya melangkah dengan pikiran yang lumayan membingungkan. Begitu pula ketika berkendara menuju Danau Hefner, sepanjang perjalanan, saya memikirkannya–tentu dengan pikiran yang sedikit kacau. Baru kali ini, ada orang yang justru mengancam akan membunuh orang yang sampai nekat mengutarakan cinta kepadanya. “Sakit!” hardik saya–sembari melemparkan sebuah kerikil sekencang-kencangnya ke tengah-tengah danau.

Di sebuah bar yang cukup populer, di kawasan barat laut Oklahoma City, di sanalah saya pertama kali melihatnya–yang kemudian, beberapa hari berikutnya, saya berkenalan dengannya. Ia pelayan baru di bar tersebut. Saya tahu karena saya rutin berkunjung ke sana, hampir setiap petang. Jadi, saya hafal betul wajah-wajah mereka. Dan, yang menarik perhatian saya adalah senyuman Alona. Ia memiliki senyum yang sederhana, tapi tulus dan dalam–entahlah, agak sulit menjelaskannya, tetapi saya yakin, tidak banyak yang mempunyai senyum seperti itu, setidaknya di kota ini. Juga caranya melayani pelanggan; seperlunya, namun tetap ramah.

“Apa pekerjaanmu?”

“Saya penjual lukisan.”

“Penjual? Bukan pelukis?”

“Saya punya banyak kawan yang pintar melukis,” jawab saya sambil menyusuri jalan mengantarkannya pulang, “semoga itu cukup menjelaskan.”

Ia kembali tersenyum–bahkan tertawa kecil.

“Engkau sama sekali tidak bisa melukis?”

“Sebaiknya saya mengatakan tidak,” saya menoleh kepadanya, “daripada kritikus-kritikus itu membenci profesinya gara-gara melihat lukisan saya,” kali ini kami sama-sama tertawa.

“Jadi, dari negara bagian mana kau berasal? Utara? Selatan?”

“Bisa dari mana saja.”

“Biasanya tidak sesulit ini bagi saya untuk menebak seseorang,” saya menoleh lagi, “sepertinya kau telah menghilangkan aksenmu.”

“Mungkin karena sudah terlalu sering berpindah tempat,” ia menghentikan langkahnya sejenak, “sejak saya masih berusia delapan belas,” kemudian kembali meneruskan.

“Tenggara, benar?”

“Kau hampir saja benar,” jawabnya tanpa menoleh.

Lantas kami lanjut berjalan disertai obrolan-obrolan ringan–memperbincangkan hal-hal umum yang biasa diperbincangkan oleh orang-orang yang baru saja saling kenal. Hingga kami berada persis di depan apartemen mungilnya–ia menyewa sebuah kamar yang tidak jauh dari pintu darurat.

“Sepertinya saya akan sering menemanimu pulang,” seru saya sebelum ia masuk ke apartemennya.

“Asalkan kita berjalan kaki,” sahutnya singkat lalu tersenyum.

Kemudian saya bergegas kembali ke bar guna mengambil kendaraan yang tadi saya parkirkan di sana. Alona menolak menggunakan mobil. Ia lebih suka berjalan. Lagi pula, hanya memerlukan waktu dua puluh menit, tidak terlalu jauh, katanya.

Semenjak itu, saya mengubah jadwal berkunjung saya ke tempat tersebut. Tidak lagi petang hari, melainkan pada malam hari menjelang Alona bersiap-siap pulang. Dan, terkadang, saya datang ke apartemennya kala ia sedang tidak bekerja. “Saya berharap kau hanya bertujuan ingin berteman dengan saya,” ucapnya ketika tengah menyiapkan makan malam di dapur mininya.

“Apakah akan ada masalah jika saya menginginkan hal lain?”

Alona mengangguk, lalu tersenyum dan memandangi saya untuk beberapa saat sebelum melanjutkan meletakkan hidangan ke meja makan. “Masalah yang seperti apa?” tanya saya penasaran.

“Apa sebenarnya kau telah bersuami?”

Ia menyodorkan piring yang telah tersaji hot dog dan irisan kentang goreng di pinggirnya.

“Sebaiknya kita makan dulu.”

Saya mengambil makanan yang ia suguhkan. Dan, selama kami menikmati makan malam, saya semakin bertanya-tanya dalam hati–sementara Alona seolah-olah tidak memedulikan rasa penasaran yang kian menyelimuti saya.

“Jadi, ada apa sebenarnya? Masalah apa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang sangat serius yang saya lewatkan?” saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu kami menyelesaikan makan malam.

“Jangan pernah mengatakan bahwa kau mencintai saya.”

“Kenapa?”

“Karena saya akan membunuhmu.”

“Kenapa?”

“Karena mencintai hanya akan memberikan penderitaan bagi orang-orang yang ada di sekitar seseorang yang dicintainya.”

Saya diam cukup lama. Melihat saya yang kebingungan, Alona kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya pernah terjadi. Ia menceritakan tentang masa lalunya. Tentang bagaimana ia dan kakaknya diabaikan oleh ibu mereka setelah dicintai seseorang. Pria itu sudah sejak lama menaruh perhatian kepada ibunya; semenjak ayah mereka meninggal dunia. Ia adalah pria yang sangat baik pada awalnya–sebelum akhirnya menjadi lelaki yang amat serakah. Lelaki itu lalu menguasai ibu mereka sepenuhnya. Mengajak ibu mereka pergi meninggalkan mereka setelah menikahinya. Padahal, Alona baru berusia sebelas tahun, dan kakaknya berusia tujuh belas.

“Meninggalkan kalian? Pergi begitu saja?”

“Ya, begitu saja. Dia dan laki-laki itu pergi ke Eropa.”

Hanya secarik kertas yang tergeletak di meja ruang tamu. Hanya itu–dengan satu kalimat yang teramat singkat: jaga diri kalian baik-baik, aku dan Mike akan tinggal di Eropa. “Dia pergi sebulan setelah pernikahan. Dan tak pernah kembali,” jelas Alona.

“Kau pernah mencari mereka?”

“Untuk apa? Mereka bisa berada di mana saja, Eropa terlalu luas. Dan, saya tidak punya waktu untuk itu,” jawabnya dingin.

Kemudian saya menatap ke arah lain. Kesedihan yang terpancar dari wajahnya terlampau dalam. Saya dapat merasakannya. Sebenarnya, saya pun mengalami hal serupa, kendati tidak setragis yang dialami Alona. Dulu, ketika seorang perempuan yang mencintai ayah saya berhasil masuk ke dalam kehidupan kami, saya juga merasakannya. Diabaikan. Ayah saya jadi lebih sering memerhatikan kekasihnya. Lebih peduli terhadap perempuan itu ketimbang saya. Dan, hal itu berlangsung cukup lama, hingga saya beranjak dewasa dan menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut, sampai pada akhirnya sayalah yang meninggalkan mereka.

“Lima tahun kemudian, giliran kakak saya melakukan hal itu,” air mata Alona menetes, “dia dan suaminya pergi meninggalkan saya.”

“Meninggalkanmu sendirian?”

Alona tersenyum–getir.

“Hanya saja kota yang mereka tinggali masih bersebelahan.”

Lalu, ia mengusap air matanya dan berusaha tenang. Kemudian menyuruh saya untuk pulang. Sebelum pulang saya katakan kepadanya bahwa saya turut merasa prihatin. “Tidak perlu. Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin memastikan kau tidak akan mencintai saya, terlebih mengutarakannya,” tegasnya. Saya mengiyakan–mengingat ketika itu ia mengatakannya dengan serius.

Malam-malam berikutnya Alona menjadi lebih terbuka kepada saya. Ia banyak bercerita ihwal para lelaki yang coba mendekatinya. Mencoba membuatnya jatuh cinta, namun percuma. “Sebab, pada akhirnya, kau membunuh mereka semua, iya, kan?” timpal saya.

Ia tertawa–seakan-akan hal itu menyenangkan.

“Sudah saya peringatkan sebelumnya,” ia teguk anggurnya, “jangan salahkan saya,” lalu meletakkan cawan tersebut dan meraih kotak rokok yang ada di sampingnya.

“Lantas, bagaimana caramu membunuh mereka semua?”

“Engkau sungguh ingin tahu?”

Saya mengangguk penuh semangat. “Bagaimana?”

“Setiap kali usai mengutarakan cintanya,” Alona berhenti sejenak, “saya akan membisiki mereka sesuatu.”

“Apa yang kaubisikkan?”

“Ma-ti-lah.”

“Lalu mereka mati?”

“Ya, tentu saja, mereka akan mati.”

Sulit rasanya memercayai apa yang ia katakan, tetapi Alona mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak berbohong. Kemarin malam, ia melontarkan kata itu kepada saya. “Matilah!” Ia tidak berbisik; justru meneriaki saya–yang saya heran, mengapa ia melontarkan kata itu kepada saya sementara saya belum mengutarakan apa-apa kepadanya.

Dan, sore tadi, saya tidak melihat Alona di bar. Ia tidak masuk kerja. Saya mendatangi apartemennya, namun ia telah pergi. Menghilang begitu saja. Lantas saya kembali ke bar dan menghabiskan banyak minuman. Sekarang ini, yang ingin saya lakukan hanyalah menceburkan diri ke dasar danau ini–dan, seharusnya kau tak berada di sekitar sini, harusnya kau di sana, di dekat mercusuar sialan itu. ***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Kisah Cinta Abalawa dan Pohon-Pohon

Cerpen Sulung Pamanggih

“Sebenarnya ini sebuah rahasia dan cukup sensitif, tapi aku perlu menceritakannya padamu,” bisik Jafar dari balik punggungku, saat kami berboncengan naik sepeda menuju sekolah. “Jadi, aku lihat sendiri bagaimana Abalawa menggumuli pohon mangga di depan rumahnya.”

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Tentu aku mengenal siapa Abalawa, bahkan sering menghabiskan waktu di rumahnya. Sekalipun aku berusaha tak memercayai ocehan kawanku, darah remajaku waktu itu teramat penasaran, bagaimana mungkin seseorang bercinta dengan sebatang pohon?

Abalawa memang menyukai tanaman, dan kupikir itu bukan sesuatu yang aneh apalagi patut dicurigai. Setiap hari, dengan postur tubuhnya yang kekar, ia berjalan mengelilingi tanaman sambil membawa ember, kadang bila hari sedang terik, ia menyemprotnya pakai selang air untuk sekaligus mengangkat debu-debu. Ia juga tak segan menceraikan akar benalu yang merambati tanamannya, dan tak pernah terlambat memberi mereka pupuk. Begitulah hari-hari Abalawa lalui. Meski sudah 55 tahun, ia kelihatan lebih muda dan selalu tampak ceria saat mengerjakan semua itu. 

“Kau jangan mengada-ada,” aku menegur kawanku sambil tetap memandang jalan dan terus memancal pedal sepedaku. “Ia memang mencintai tanaman, sama seperti orang pelihara sapi, mereka bakal habiskan banyak waktu dengan binatang itu.”

“Dengar ya, saat itu awalnya aku berniat tidur di rumah kakek, tapi larut malam tiba-tiba aku kepingin sekali pulang,” Jafar terus menjejalkan ceritanya. “Malam berangin dan dingin, tapi aku tak peduli dan terus berjalan kaki sambil menutupi kepalaku dengan sweater. Sampai di pelataran rumah Abalawa, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari balik pohon, aku sempat mengira monyet, tapi mataku belum pikun untuk memastikan bahwa sosok tersebut ternyata Abalawa. Kau tahu apa yang dilakukannya? Dia memeluk sebatang pohon sambil menggoyang-goyangkan pantatnya seolah sedang mendekap tubuh wanita. Hei, kau masih mendengar aku?” Jafar menepuk pundakku.

“Siapa tahu dia sedang pipis.”

“Kau pikir aku tak bisa bedakan antara kencing dan kentu?” sembur Jafar di dekat telingaku, membuat sepedaku sempat oleng. 

Kuakui, saat kedua orangtua Jafar sedang pergi haji, kami pernah menonton film porno bersama-sama dari kaset vcd koleksi ayahnya. Banyak sekali kaset porno milik ayahnya, rata-rata terbitan Amerika, dan itu pertama kalinya jantungku berdebar tak keruan sampai-sampai susah bernapas. Dari pengalaman itu, kukira ia punya banyak bekal melihat adegan persetubuhan.

Sambil membonceng, kadang Jafar pura-pura membantu aku mengayuh sepeda dengan menempelkan kakinya di pedal bersebelahan dengan kakiku. Sekilas kami seperti kompak mengayunkan sepeda bersama-sama, tapi aku tahu dia tidak mengeluarkan tenaga, kakinya cuma menempel saja. Sialnya aku tak mungkin memintanya bergantian duduk di depan, sebab ia tak becus mengendalikan sepeda.

“Kau tetap tidak percaya?” Ia terus meraba-raba pikiranku. Aku diam saja, memandangi jalan yang membentang di hadapanku.

*

Kalau saja yang Jafar ceritakan adalah penjaga sekolah, atau petinju bernama Burhan yang membuka toko matrial di perempatan jalan, mungkin aku tidak akan begitu peduli. Tapi dia tahu, aku kerap bermain di rumah Abalawa karena kebetulan rumah kami bersebelahan. Saat suntuk, aku biasa memboyong buku-buku dan tiduran di bawah pohon mangganya untuk mencari udara segar sambil menggarap soal matematika.

Abalawa tinggal di rumah induk keluarganya seorang diri, sebab ia tak pernah punya istri apalagi anak. Sementara tujuh saudaranya yang lain sudah membangun keluarga dan hidup terpisah-pisah. Rumahnya tidak begitu besar, hanya saja memiliki halaman yang luas dan dikerumuni banyak pohon.

Dulu pelataran rumahnya pernah dijadikan lapangan bulu tangkis, dibangun dengan bambu sebagai garisnya. Satu-satunya lapangan yang pertama kali dimiliki kampung kami, begitu Abawala sering membanggakan masa lalunya. Sampai kemudian muncul lapangan lain yang lebih menawan, dilengkapi lampu penerangan dan bangunan gedung yang mampu menepis angin. Sejak itu orang jarang bermain bulu tangkis di sana, dan Abalawa kian menumbuhkan minatnya berkebun dengan menanam banyak pohon.

Ia akan menyetorkan mangga, jambu air, delima, sirsak, kelengkeng atau apa pun yang tengah berbuah kepada juragan yang setiap musim panen sering kujumpai berkeliling kampung sambil membawa keranjang besar. Sebagai ganti mereka memberinya uang yang akan Abalawa pakai untuk menopang keperluannya. Jadi wajarlah bila ia teramat mencintai tanamannya, dan tak rela tangan-tangan jahil mengusiknya.

Pernah sepulang sekolah Jafar diam-diam memanjat pohon mangganya. Lalu Abalawa yang mengendus tingkahnya dari dalam rumah langsung keluar sambil meraup kerikil dan menyambarnya. Bunyi kerikil yang menghantam daun mirip hujan deras. Itu membuat kawanku tersungkur dan langsung terbirit-birit.

Seorang pengamen yang tak tahu apa-apa juga pernah kena sial. Ia sedang berteduh di bawah pohon jambu sambil menghitung uang. Mendapati banyak jambu air bergelayutan siap santap, dia tergoda memetiknya. Tak lama setelah itu, lonjoran kayu balok mendarat persis di mukanya. Ia melejit sekencang-kencangnya sampai-sampai melupakan beberapa uang receh yang sedang disortirnya. Beruntung, satu-satunya gitar yang ia miliki masih menempel di pundak.

Meski begitu, aku tahu Abalawa menyayangiku. Saat berusaha menggapai buah di dahan yang tinggi, ia kerap membantu mengambilkan galah. Sering pula ia menyisakan panen mangganya untuk sengaja diberikan kepadaku, bahkan mau mengupas kulitnya untuk aku. Mungkin karena hampir setiap hari aku berada di sana untuk menemaninya. Aku tak pernah menolak saat ia memintaku membelikan rokok, atau memijat badannya saat ia mengeluh pegal-pegal dengan cara menginjak-injak punggungnya. 

“Kau sering makan buah, tapi berat badanmu tak bertambah juga,” ia sering berkata begitu. 

Ketika aku pulang, ia tidak jarang membawakan aku sekantong jambu, atau pepaya yang hari itu kebetulan sedang berbuah. Karena kebaikannya, kadang ibuku memintaku membawakan lauk untuk Abalawa. Kami pun menjadi seperti keluarga. Aku curiga jangan-jangan Jafar cuma iri kepadaku, dan mulai mengarang cerita yang bukan-bukan. Aku tahu, banyak kawanku mendambakan mangga Abalawa yang terkenal manis dan tak pernah cukup bila hanya melahapnya satu butir.

Tapi ucapan Jafar benar-benar sudah mengotori kepalaku. Membayangkan bagaimana Abalawa menempelkan kemaluannya pada pohon mangga membuat aku tiba-tiba merinding. Itukah yang membuat rasa mangganya teramat enak? Brengsek betul Si Jafar. Tak lama aku pun menghentikan sepeda, menoleh ke belakang, dan berkata, “Kalau kau menyebar cerita yang bukan-bukan, silakan turun sajalah.”

Namun si mulut jahanam kawanku itu tetap membatu, tak beringsut sejengkal pun dari sepedaku.

“Lebih baik kita buktikan sendiri nanti malam,” katanya, tak bosan meyakinkan aku. “Buruan, nanti kita terlambat.”

*

Aku tidak pernah memungkiri, apapun yang ditanam Abalawa selalu subur, berbuah lebat, dan rasanya juga lebih memikat bila dibandingkan dengan buah yang tumbuh di tempat lain. Misalnya saja dengan pohon mangga yang berdiri di belakang kelas kami, meski satu jenis rasanya tak ada apa-apanya. Demi tujuan itukah Abalawa akhirnya tidak menikahi manusia?

Suatu hari ibuku pernah bercerita, Abalawa sempat berpacaran dengan anak seorang pegawai pabrik gula. Namun satu hari setelah ia melamarnya, perempuan itu ketahuan main serong dengan pria lain. Sejak itu Abalawa memutuskan menjadi kader sebuah partai politik, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan. Namun begitu pemilu tiba, partainya selalu kurang peminat dan ia tak pernah dapat jatah duduk di kursi dewan. Untuk menjaring banyak suara, kata ibuku, dia sempat membangun lapangan badminton di halaman rumahnya. 

Bisa jadi karena patah hati, Abalawa akhirnya lebih memilih menggumuli pohon. Pohon-pohon memang tak pernah berbohong. Tapi memikirkan itu membuat perutku mual, kepalaku mendadak pusing. Gara-gara Jafar, rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Mestinya aku tidak usah peduli dengan ucapannya. Tapi apa yang ia katakan sungguh-sungguh meyakinkan. Bahkan ia berani bersumpah tertabrak mobil bila berbohong. 

Saat itu, akhirnya aku memboyong rasa penasaranku kepada Pak Yosi, guru yang kerap berdiri di depan kelas untuk mendongengi kami betapa bahayanya seks bebas. Ketika bel istirahat menggiring anak-anak ke kantin, aku buru-buru mencegat Pak Yosi yang tengah berjalan di depan ruang kelas, dan memberanikan diri bertanya.

“Mungkinkah manusia menikahi pohon?”

Mendengar pertanyaanku, dia malah meringis. “Kau kesurupan apa tiba-tiba ngelantur begitu?” 

“Tetanggaku begituan dengan pohon,” aku menjelaskan. 

“Begituan, maksudmu berhubungan badan dengan pohon?”

“Semua orang bilang begitu.”

“Omongan orang kau percayai,” ia melangkah menuju ruang guru sambil menenteng bukunya, tapi aku terus membarenginya.

“Mereka bersumpah sudah melihatnya, jadi sebenarnya aku cuma ingin tahu, apa mungkin manusia menjalin asmara dengan pohon selayaknya hubungan suami istri?”

Entah bagaimana dia kemudian berhenti dan menatapku selama beberapa saat. Aku balas memandangi matanya dengan tatapan berharap. Sambil memegang pundakku, dia mengajak duduk di kursi panjang di depan ruang guru. Setelah itu ia memberiku penjelasan, yang menurutnya untuk sekadar pengetahuan. 

“Begini, kau juga mesti tahu, ada juga seseorang yang hasrat seksnya bisa langsung melonjak saat melihat sebuah mobil tabrakan.”

“Mana mungkin?”

“Itulah yang dinamakan kehidupan. Ia begitu luas.”

“Jadi, seseorang juga bisa berhasrat dengan pohon?” aku mendesak.

 “Istilahnya Dendrophilia,” katanya. “Tapi kasusnya cukup jarang, sebagian besar dari mereka hanya suka memeluk pohon untuk kesenangan, tidak sampai dorongan ke arah hubungan badan, meski tetap saja hal seperti itu benar-benar ada.”

Tak lama setelah itu, aku cepat ke toilet, mengunci pintu, dan muntah.

*

Terus terang itu rahasia besar kehidupan yang pernah kudapatkan di usia remajaku. Memang sulit kucerna, tapi paling tidak aku sedikit memahaminya. Aku tak mengira akan mengenang semua itu setelah dua puluh tahun kemudian, saat aku berada di dalam kereta untuk menghadiri pemakaman Jafar. Aku mendapat kabar dari grup WA alumni sekolah, bahwa kawanku meninggal akibat tersedak saat makan salak. 

Ada banyak peristiwa yang sudah kulewati, namun semuanya tak benar-benar bisa hilang. Sekalipun aku bersikeras melupakannya, saat-saat tertentu kenangan itu terangkat lagi, lalu menyalak-nyalak seperti anjing kelaparan. Meski tak sampai menggigit, ia membuat gaduh. Aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam dengan meninggalkan kota itu, tapi kenangan ternyata memang tidak pernah kemana-mana. 

Malam itu, ketika Jafar mengajakku mengintip Abalawa untuk membuktikan perkataannya, aku menolak dan bahkan mengusirnya dengan beralasan sedang tak enak badan. Tapi aku terus diserang gelisah dan rasa penasaran sampai sulit memejamkan mata. Pukul 02.00, akhirnya aku nekat sendirian keluar kamar dengan hati-hati agar tidak sampai menimbulkan suara, lalu mengendap menuju rumah Abalawa. 

Aku terkejut mendapati Abalawa sudah berdiri di sisi pohon. Dari balik semak, sambil menahan gigitan nyamuk di kakiku, aku terus menyembunyikan diri. Dalam keremangan, tiba-tiba aku seperti melihat sosok perempuan yang kukenal, ia mirip ibuku, menyembul dari balik pohon. Dengan kaki bergetar, aku memaksa diri untuk terus diam dan menahan napas. 

Di hadapanku kini terbaring kuburan Jafar. Aku terlambat mengikuti prosesi pemakamannya, lalu menyusul ke kuburan. Gundukan tanah masih terlihat basah. Sampai sekarang, aku tak pernah menjelaskan pada kawanku apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Pemalang, 2020


Sulung Pamanggih, tinggal di Pemalang, Jawa Tengah. Menyelesaikan kuliah di Universitas PGRI Semarang 2014, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kini Wartawan di Radar Tegal. Cerita pendeknya pernah dimuat Basabasi.co, Harian Kompas, Suara Merdeka, serta terhimpun di beberapa antologi cerpen.

Cerpen

Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan

Cerpen Tjak S. Parlan

Ketika hendak menghunjamkan pisau untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya beres. Kecuali kamu mau mampus!’

Fahmi Idris telanjur mengangkat tangannya—dan pisau ituteracung gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api yang terbakar di langit. Dalam amarah yang nyaris tidak tertanggungkan, dia masih sempat mengingat apa yang pernah disampaikan oleh kawan lamanya itu.

Namun ada ingatan lain—dan ini jenis ingatan yang begitu kuat— yang membuatnya berubah pikiran. Pada sebuah dini hari, dia pernah dipaksa bertekuk lutut di rumah kontrakannya. Seorang laki-laki berotot yang hanya mengenakan cawat dan menutupi wajahnya dengan topeng, menodongkan linggis tepat di ujung lehernya. Sementara, dua orang lainnya—yang juga bertopeng, hanya mengenakan cawat, dan masing-masing bersenjatakan parang—menguras habis barang-barang miliknya. Tidak banyak yang dia miliki: sebuah TV LED, DVD player, dan dua buah gawai. Darahnya terasa mendidih mengingat foto-foto anaknya yang baru berusia satu tahun tersimpan dalam memory card yang melekat pada kedua gawai itu. Dia menyesal karena belum mengikuti saran istrinya untuk mencetak sejumlah foto keluarga. Dia berusaha melawan dan hampir tidak terkendali. Namun dia harus memilih ketika laki-laki berotot yang keringatnya menguarkan bau amis itu mengancamnya agar tetap diam jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya. Istrinya berada di kamar dengan tubuh gemetar, berusaha menyusui anaknya yang menangis. Selepas para garong itu pergi, dia berharap bisa membeli senjata api dan bersumpah akan menembak siapa saja yang menyatroni tempat tinggalnya. Namun, rupanya itu mimpi sial belaka. Sudah dua tahun sejak kejadian itu—dan dia harus pindah ke rumah petak yang semrawut dan sempit— dia bahkan belum bisa membeli sebuah televisi.

Pisau itu menghunjam sekali lagi, tapi kali ini tidak tepat sasaran. Fahmi Idris bisa merasakan ujung pisaunya hanya membentur tulang lengan yang keras. Sebuah erangan pendek terdengar dari sosok lawan. Tanpa dinyana sedikit pun, tiba-tiba sosok lawan itu bersujud di bawah lututnya dan meminta belas kasih.

“Tolong lepaskan! Ini saya. Maafkan saya. Tolong, saya hanya ikut-ikutan!” suara itu terdengar lirih dan tertahan.

Fahmi Idris segera menjambak kepala sosok yang sedang berlutut di depannya. Setelah menjambret masker yang menutupi sebagian wajahnya, Fahmi Idris terhenyak. Dalam remang cahaya lampu dia menemukan wajah yang dikenalinya.

“Bangsat kamu, Jen! Anjing sialan kamu! Bangsat sekali kamu!” Fahmi Idris memaki-maki.  

Jen alias Zaenal Arifin kembali menekuk tubuhnya, bersujud seraya memegangi kaki Fahmi Idris. Fahmi Idris menjadi tidak enak hati. Sekelebatan bayangan wajah Ahmad Saleh mampir dalam benaknya. Bagaimana mungkin sosok yang nyaris ingin dihabisinya itu adalah anak dari kawannya sendiri. Dia memang jarang bertemu dengan Jen. Tapi dia mengenalnya cukup baik. Bagaimanapun untuk urusan-urusan tertentu Fahmi Idris kerap berkunjung ke rumah Ahmad Saleh yang hanya dipisahkan sejumlah gang di permukiman yang padat itu. Dalam sejumlah kunjungannya, Fahmi Idris bertemu juga dengan Jen yang pendiam.

“Kamu butuh uang?” Fahmi Idris geram, berusaha menahan amarah. “Kamu baru nenggak apa, sampai-sampai mau mengambil barang seperti ini? Di tempat saya lagi. Kamu taruh di mana otakmu?”

Jen membisu. Sesekali saja, gerak tubuhnya seperti sedang menahan kesakitan. Tidak ingin amarahnya meledak, Fahmi Idris menghardik remaja belasan tahun itu agar cepat pergi dari hadapannya. Tanpa menunggu lebih lama, Jen pun bangkit. Sesekali langkahnya tersuruk, lalu menghilang di ujung gang.  

Selepas Jen pergi, Fahmi Idris menyalakan sebatang rokok. Dia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Hari itu, gerimis turun sejak sore dan dia terjebak di rumah seorang kawan. Dia tenang-tenang saja. Tidak sedang diburu waktu, tidak sedang ada yang menunggu. Istri dan anaknya pulang ke kampung halaman. Mereka telah sepakat, sementara Fahmi Idris berusaha mencari tempat tinggal baru yang lebih layak, anak-istrinya pulang ke rumah orang tuanya dulu. Secepatnya—mungkin awal tahun seperti janjinya—Fahmi Idris akan menjemput anak dan istrinya. Rencana sepertinya berjalan lancar. Fahmi Idris mendapatkan sebuah rumah kontrakan di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota. Bisa dicicil tiga kali dalam setahun. Setidaknya itu menurut informasi Ahmad Saleh. Untuk hal-hal semacam itu, reputasi Ahmad Saleh tidak perlu diragukan. Dia adalah jenis makelar yang bisa mencarikan apa saja bagi orang-orang yang membutuhkan, mulai dari rumah kontrakan hingga sepeda anak bekas. Seminggu yang lalu Fahmi Idris mendapatkan upah yang layak untuk pekerjaannya. Dia menyisihkan sejumlah uangnya untuk membeli sebuah sepeda anak beroda tiga. Bekas, tapi masih mulus. Masih layak untuk membuat anaknya bergembira ketika kembali ke tempat yang baru nanti. Dia mendapatkan harga khusus dari Ahmad Saleh. Meskipun begitu, sebagai seorang yang ahli membongkar-pasang segala sesuatu, Fahmi Idris tidak tinggal diam. Menjelang sore, sebelum pergi ke rumah seorang kawan, dia memeriksa kembali sepeda itu. Mencucinya dengan bersih, mengencangkan sejumlah baut yang kendor, memastikan semua baik-baik saja. Dia dihinggapi kehahagiaan yang meluap-luap hingga lupa memasukkan kembali sepeda itu ke dalam kamar kontrakan. Menjelang pukul dua belas malam dia tiba kembali di mulut gang menuju kamar kontrakannya. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya pun terjadi.

Dia begitu tenang berjalan memasuki gang buntu yang lengang itu. Gerimis sudah reda. Bau anyir-busuk dari got di sisi gang, membuat semua orang ingin bergegas ketika melewati gang itu. Tapi aroma uap anggur merahyang menguar dari mulutnya sedikit mengurangi efek bau tidak sedap. Orang-orang yang tinggal di ujung gang buntu itu lebih suka kongkow-kongkow di tempat lain. Kecuali mereka, satu-dua bandar kere yang bertransaksi sepoket dua poket ganja dengan para pemakai pemula. Dua hari sebelum malam tahun baru, tempat itu dibersihkan oleh aparat. Ada tiga bandar terciduk: ganja dua orang, sabu satu orang. Barangkali karena itulah, malam tahun baru tidak memberikan kemeriahan apapun, selain kilatan cahaya kembang api dan bunyi ledakannya yang sesekali dikirim dari tempat lain ke langit di atas gang buntu itu.

Menjelang ujung gang, dia berpapasan dengan dua orang. Ada yang terasa ganjil ketika dua orang itu menunduk berlagak sopan—hal yang tidak biasa terjadi di tempat itu. Apalagi setelah disadarinya bahwa salah satu di antaranya sedang memanggul sebuah sepeda anak beroda tiga. Spontan saja Fahmi Idris melayangkan tendangan sekeras-kerasnya. Sosok yang memanggul sepeda pun terjerambab, sementara yang satunya lari terbirit-birit. Fahmi Idris segera melolos sebilah pisau dari balik jaket jeans lusuhnya. Sejak peristiwa naas yang menimpanya dua tahun silam, kemana-mana dia selalu membawa pisau itu. Pisau dapur belaka, tidak begitu tajam, tapi cukup bisa diandalkan untuk melukai siapapun yang mengancam harga dirinya.

“Anak ingusan sialan!” dengus Fahmi Idris seraya menjinjing sepeda kecil itu dan membawanya kembali ke kamar kontrakannya.

***

Ketika Fahmi Idris akan memulai pekerjaannya, tuan rumah yang ramah itu—melalui seorang asisten rumah tangga—menyuguhkan segelas kopi. Tuan rumah itu seorang laki-laki tua berkacamata tebal. Dia duduk di sebuah kursi kayu di teras rumah dan menceritakan sejumlah gangguan yang terjadi pada AC di rumahnya. Pagi itu dia telah menelepon Fahmi Idris untuk menggantikan tukang AC langganannya yang sedang libur. Dia berbicara seraya membuka halaman demi halaman sebuah surat kabar. Sesekali dia juga mengomentari berita yang sedang dibacanya.

“Kota ini sudah tidak nyaman lagi untuk tempat tinggal,” ujarnya. “Asli orang sini?”

“Saya datang dari pulau seberang,” jawab Fahmi Idris.

“Oh,” tanggap tuan rumah. “Bayangkan, sepagi ini sudah ada tiga berita mengenaskan.”

Fahmi Idris mendengarkan dengan saksama komentar-komentar tuan rumah. Dia mulai menebak, mungkin yang dimaksud adalah berita seputar kecelakaan. Biasanya memang seperti itu. Malam pergantian tahun selalu menyumbangkan angka kematian di jalanan.

“Seorang remaja ditemukan tewas di TPA Lingkar Selatan,” lanjut tuan rumah. “Luka tusuk di perut dan …”

Kalimat itu tidak bersambung. Tuan rumah berdiri seraya mengangkat gawainya yang bergetar di atas meja. Dia melangkah melewati pintu samping rumah, berbicara sebentar, lalu kembali untuk memberikan sejumlah instruksi kepada Fahmi Idris. “Oke, dimulai saja. Saya ada urusan sebentar,” ujarnya kemudian.

Fahmi Idris menyesap kopinya sekali lagi. Dia berpikir untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ketika memindahkan gelas kopinya ke atas meja, matanya tertuju pada sebuah halaman surat kabar yang terbuka. Dia membaca dalam hati sebuah judul berita: Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan. Berita itu menempati seperempat bagian halaman surat kabar. Sebuah foto hitam putih memperlihatkan dua orang petugas sedang mengusung kantong mayat di dekat sebuah mobil ambulance. Di sebelah kanan atas foto itu disisipkan sebuah inset fotoyang menampilkan wajah korban semasa hidup. Fahmi Idris gemetar menatap foto itu. Dia membaca keterangan foto dan menemukan sebuah nama yang sangat dikenalnya. Tidak percaya, Fahmi Idris mencoba menekuni foto itu sekali lagi. Dia bisa mengingat dengan jelas, wajah remaja itu pernah dilihatnya terpampang di dinding rumah Ahmad Saleh. Fahmi Idris menelusuri berita itu, kata demi kata hingga tuntas. Dia mengulang-ulang bagian yang menjelaskan luka di tubuh korban: Luka tusuk di perut bawah sebelah kiri.

“Mari, Pak. AC-nya di sebelah sini.”

Fahmi Idris bangkit dari kursi, mengekor asisten rumah tangga itu. Bulu kuduknya terasa merinding. Dia teringat kembali setiap rincian kejadian malam itu.

***

Ahmad Saleh kembali menuangkan anggur ke dalam gelas. Fahmi Idris berusaha mengimbangi, seraya mencari-cari waktu yang tepat untuk berpamitan. Sudah hampir Subuh, hawa kantuk pelan-pelan mengalahkan pengaruh anggur bikinan cap orang tua itu. Namun selepas menenggak bagiannya, Fahmi Idris tidak yakin dirinya benar-benar ingin pulang dan bisa memejamkan mata dengan tenang di kamarnya. Itu sudah lepas hari ketujuh sejak kematian Jen. Sejak itu pula Fahmi Idris jarang bisa tidur. Tubuhnya bisa saja rebah di kasur, tapi pikirannya keluyuran ke mana-mana.

“Saya tidak akan pernah membiarkan pembunuh anak saya hidup tenang,” ujar Ahmad Saleh selepas menenggak anggur berwarna kemerahan. “Coba bayangkan, ada dua luka tusuk di perutnya. Bagaimana rasanya sewaktu ujung pisau itu masuk ke sana? Bangsat benar!”

Fahmi Idris mengempaskan napasnya. Dia tidak tahu mesti bicara apa. Itu malam ke sekian Ahmad Saleh mengutuki sekaligus menyesali kematian anaknya. Fahmi Idris selalu menemaninya. Dia tidak bisa menghindar meski kehadirannya di dekat Ahmad Saleh selalu dirasakannya sebagai teror bagi dirinya sendiri. Namun malam itu tidak separah biasanya. Ahmad Saleh tidak lagi berteriak-teriak dan membuat geger seisi kampung. Dia tampak mulai bisa mengendalikan dirinya.

“Bukan hanya dua. Kalau kamu mau percaya, ada luka tusuk lainnya di bahu dan di dekat leher. Bangsat benar!” Ahmad Saleh terus mengoceh.

Fahmi Idris merasa tidak berdaya. Dia mengangkat botol yang masih terisi seperempat itu dan menuangkan penuh ke dalam gelasnya. Lalu tanpa berpikir panjang ia meneguknya seperti seseorang yang sedang minum air putih.

“Saya paham kamu pasti sangat kehilangan,” tanggap Fahmi Idris. “Tidak ada cara lain, pembunuhnya harus diadili.” 

“Sudah delapan hari,” sergah Ahmad Saleh, “dan polisi belum bisa menemukan apa-apa. Padahal, seorang kawan dekat anak itu pernah memberi keterangan kepada polisi, juga kepada saya, bahwa pada malam tahun baru, anak itu sempat terlihat keluar dari gang di sekitar tempat tinggalmu sana.”

Fakta bahwa Ahmad Saleh mengatakan hal semacam itu, membuat tubuh Fahmi Idris terasa meriang. Dia sudah sering teringat peristiwa pada malam tahun baru itu. Dia mencoba mengingat perinciannya sekali lagi, adegan demi adegan: dia menendang anak muda itu—anak muda itu terjerembab—dia merogoh pisau lalu menikamnya—sekali tikam, dua kali tikam—dia sempat ragu lalu menikamkan pisaunya sekali lagi—anak muda itu menangkisnya—anak muda itu menyerah, meminta dilepaskan—dia pun melepaskan Jen. Fahmi Idris tidak sempat memeriksa apakah ada bercak darah atau bau amis di ujung pisaunya. Seingatnya, Jen berjalan sedikit sempoyongan setelah itu. Apakah dua luka tusuk itu karena saya—Fahmi Idris membatin.

“Tidak mungkin,” gumamnya tiba-tiba.

“Apanya yang tidak mungkin? Apa maksudmu yang tidak mungkin itu? Anak saya ditemukan di tempat penampungan sampah!

Fahmi Idris terkaget, menyesali mulutnya yang tidak terkontrol. Nada bicara Ahmad Saleh meninggi. Fahmi Idris gelagapan menanggapinya.

“Tidak mungkin pembunuh Jen tidak tertangkap. Itu maksud saya.”

Ahmad Saleh kembali tenang. Fahmi Idris berusaha tenang. Dia menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya. Sebelum menenggaknya, dia memberikan isyarat kepada Ahmad Saleh. Ahmad Saleh mengangkat gelasnya, lalu dua kawan dekat itu menenggak bagian masing-masing dalam waktu yang bersamaan.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau bajingan itu menyerahkan diri kepada polisi?”

Ahmad Saleh menyeringai. Lalu dengan gerakan yang tidak terduga oleh siapapun, dia menyambar botol anggur itu dan meghantamkannya keras-keras ke lantai ubin.

“Sebelum dipenjara, saya akan menghancurkan kepalanya seperti ini!”

Botol anggur itu pecah berkeping-keping. Sebagian yang terpenggal masih dalam genggaman Ahmad Saleh. Fahmi Idris tidak berkedip menatap ujung penggalan botol yang runcing itu. Dalam sekejap, jantungnya terasa seperti akan berhenti berdetak.***

Ampenan, 5 Januari 2020


Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017), feature perjalanan Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

Buku, Resensi

Soewardi Soerjaningrat: Nasionalis Jawa Awal

Oleh Syahuri Arsyi

Dalam dunia pendidikan nama Soewardi Soerjaningrat sepertinya begitu asing di telinga kita. Padahal, nama Soewardi Soerjaningrat sendiri merupakan nama bangasawannya dari Ki Hadjar Dewantara sebelum mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Telinga kita lebih akrab dengan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional Indonesia dan pencetus “Tut Wuri Handayani”. Terbukti, setiap tanggal 02 Mei, diadakan perayaan hari pendidikan nasional yang melambangkan bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki peran penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

“Studi ilmiah terhadap tokoh-tokoh sejarah nasional kita masih sedikit dilakukan orang,” adalah kalimat pembuka dalam kata pengantar buku berjudul Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan (2019) karya Irna H.N Hadi Soewito. Ditulis oleh seorang sarjana perempuan Indonesia dalam bidang sejarah, kalimat tersebut jelas menunjukkan pada kita akan kelangkaan terhadap kajian tokoh-tokoh sejarah nasional Indonesia.

Tersirat pula rendahnya minat kita tentang pengetahuan nama asli tokoh-tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah modern Indonesia. Nama asli tokoh sejarah seolah-olah tidak memiliki ruang dan sudah tergantikan dengan nama panggilan, sehingga kita tak memiliki pengetahuan yang utuh tentang nama tokoh tersebut.

Dalam buku Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan menginformasikan pada kita tentang perjalanan kisah hidup, perjuangan, dan rekam jejak Ki Hadjar Dewantara ketika masih muda, atau sebelum mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta di tahun 1922, mulai dari aktivitasnya di comite boemipoetra hingga pengasingannya ke negeri Kincir Angin, Belanda, yang dianggap sebagai momentum kebangkitan bersama pers dan mahasiswa yang memiliki haluan kebangsaan, kerakyatan, dan kemerdekaan dengan semboyan Indie los van Holland atau Hindia lepas dari Belanda.

Salah satu catatan yang cukup menarik dalam buku ini, adalah sikap dan kemantapan hati Soewardi menempuh jalan berbeda dalam berjuang yaitu di bidang jurnalisme. Bagi Soewardi, jurnalisme adalah suara hati nurani bangsa tertindas yang dapat dikumandangkan. Oleh karena itu, bagi Soewardi, perjuangan tidak hanya semata-mata dapat dilakukan dengan mengangkat senjata, bisa juga dilakukan dengan tulisan.

Selain itu, bagi Soewardi, jurnalisme atau pers bukan hanya semata-mata pekerjaan untuk menambah isi kantong, akan tetapi lebih dari itu semua. Jurnalisme atau pers digunakan oleh Soewardi untuk mencurahkan isi hatinya dan sebagai satu-satunya senjata yang paling ampuh untuk membungkam ketidakadilan bangsa Belanda.

Dari sini kita bisa membaca bahwa salah satu alasan Soewardi terjun ke dunia jurnalisme atau pers daripada angkat senjata karena kala itu, masyarakat Indonesia sedikit sekali yang melek huruf. Dan, keadaan masyarakat Indonesia, oleh Soewardi ini benar-benar disadari bahwa masih banyak masyarakat yang terbelakang, masih banyak yang belum melek huruf, hingga membutuhkan banyak pengajaran dan menerangkan apa itu perjuangan dan apa itu bangsa pada masyarakat Indonesia.

Irna, bahkan menyebutkan dalam tulisan-tulisan Soewardi banyak guratan kebebasan dan menggambarkan kondisi kemerdekaan. Ia mengambil contoh tulisan Soewardi yang dimuat De Expres, berjudul “Kemerdekaan Indonesia” yang isinya dianggap sebagai nyala semangat politik menuju Indonesia merdeka. Kita simak lintasan Soewardi, “…setiap pergerakan politik bebas, harus dimulai dengan memutuskan perhubungan-perhubungan kolonial dan harus menuju ke penghidupan rakyat yang bebas (hlm. 08)”.

Soewardi menjadikan majalah De Express sebagai alat propaganda untuk menekan pihak-pihak Belanda. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker, seorang Indo yang sangat memiliki nasional Indonesia, Soewardi membangun gagasan serta pergerakan dalam politik, di mana pada 6 Sepetember 1912 menjadi gerakan politik Indische Partij yang menerima suku bangsa Hindia menjadi anggotanya.

Kita simak pengakuan Soewardi, dalam buku ini “Baginya majalah ini merupakan alat propaganda, yang mana kemudian, bersama De Expres, menjadi pelopor kelahiran partai politik yang disebut Indische Partij. Partai yang bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan tanah air, serta mempersiapkan bangsa Hindia agar dapat berdiri sendiri. Indie voor Indiers atau “Hindia untuk bangsa Hindia” (hlm. 08).

Tulisan Soewardi oleh pihak kolonial dianggap memiliki narasi menghasut hingga akhirnya ia  ditangkap, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Di pengasingan ini, Soewardi bersama istrinya berada dalam kehidupan serba kekurangan dan begitu menghimpit. Walaupun demikian, ia menyadari bahwa jalan satu-satunya mencari tambahan nafkah melalui menulis di surat kabar.

Salah satu tulisan Soewardi yang membuat pihak Belanda kebakaran jenggot dan tak mungkin dilupakan berjudul “Als ek eens Nederlander was” atau “seandainya aku orang Belanda” tulisan satir ini dianggap sebagai suatu tamparan bagi pemerintahan Belanda.

Bagi pembacanya, tulisan Soewardi ini dianggap memiliki gaya bahasa yang sangat menarik, menyakinkan pembaca, berisikan kata-kata yang dipilih secara tepat, dan kalimatnya tersusun rapi, menusuk, tidak kasar dan tidak pula memaki, tidak berbelit-belit serta mudah dimengerti. Di setiap guratannya memberikan renungan untuk pembaca sebagai bagian dari cerminan jiwa dan budinya yang jujur serta sederhana (hlm. 56).

Di Belanda, selain menulis, Soewardi aktif di pelbagai forum, seperti Indische Vereening dan memberikan pengaruh yang sangat kuat di kalangan mahasiswa Hindia. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah kantor berita bernama Indonesisch Persbureau (Biro Pers Indonesia) bertujuan untuk mempererat hubungan mahasiswa tanah air (hlm.72).

Satu hal lagi yang cukup menarik selama Seowardi berada di pengasingan, bahwa ia tak menjadikan hal itu sebagai beban berat hingga membutakan pikirannya. Kontribusinya selama berada di pengasingan terkait persoalan politik tidak di ragukan lagi. Warisan gagasan dan gerakannya sebagai salah satu pelopor anti-kolonial Indonesia tak kalah pengaruhnya bagi formulasi gagasan radikal dan visionir atas terbentuknya Indonesia modern.

Maka tak salah jika dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (2006) garapan Benedict Anderson menyebutnya sebagai patron para aktivis “Nasionalis-Jawa-Indonesia awal”. Dalam artikel “Soewardi di Pengasingan: Nasionalisme versus Sosialisme” (2014) di Lembaran Sejarah, Joss Wibisono menyatakan bahwa selama di pengasingan Soewardi memiliki kecondongan haluan dan pemikiran politik kepada “nasionalisme kanan”.

Setelah lima tahun berada di pengasingan, Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia pada 15 September 1919, setelah 51 hari terapung di Samudra Atlantik. Kembalinya ke tanah air ini, dimaknai sebagai medan perjuangan yang sebenarnya bersama Taman Siswa pada tahun 1922.


Syahuri Arsyi, penulis lepas, saat ini aktif di Komunitas Diskusi buku dan diskusi Malam Sabtu (dulu: Limited group). Bisa disapa di Facebook: syah arsyie, Instagram: syah.arsyi1717, dan Twitter: sya.arsyie1717.

Puisi

Puisi-Puisi Ebi Langkung

Membaca Burung Hantu

setajam matamu, kasih

kurawat gelap ini

sampai wajahku kusut dan

nyanyian burukku terdengar

di tengah orang-orang putih menggelar

sebab lewat gelap

kau dapat kusentuh lebih dekat

lebih lesat dari zikir, takbir dan mekar

bunga-bunga mawar, atau kuntum yang hambar melafal

dengan jari-jari layu dan bulu lembut

kujaga dirimu, kasih

dari segenggam siasat pencuri

yang kerap dingin melukai

kutemani kau mencari cahaya

dalam gelap menebus segala

hitam dan jantung muram

ke waham jurang dan batang-batang terpejam

hingga segala jadi baru

biar semua kefanaan ini tahu

kita begitu setia

karena juga rindu bermalam di surga

2020


Segelas Teh Pagi

tak ada doa, tak ada sebaris kata cinta

kecuali murung dicecapnya

pohon-pohon dingin di luar jendela

burung-burung berkicau mengekalkan

warna hijau kelamnya

matahari timbul sederhana

di tengah uap tak ada mekar menangkap kabar

kecuali, cuaca mencelupkan luka

yang samar-samar terperam di pucuk sarinya

2020


Pelukan

akulah dahan dalam imanmu

cinta yang bersulur melilitmu

lantas kita seperti mata burung

dalam sarang menangkap gelap rindu penyatuan

di antara kehangatan dan ketakutan

adalah perpisahan

lantaran sepasang lengan tak mampu mengabadikan

getar sebatang sungai

maka sebuah jembatan membentang

di atasnya kita terpejam

seratus tahun kesunyian tiba menyeberang

selepas pelukan

hanya selepas pelukan

buah abadi terkenang

2020


Yang Tersisa

yang tersisa adalah cuaca

dirangkum renung bayanganmu tumbuh

dari jendela kamar

matamu sebatang sungai mengalir

ke pembaringanku

dan matahari mekar di situ

burung-burung pun terbang menempuh khayalku

tidak, kau tidak tumbuh, melainkan hanya

menyentuh halus yang pernah tersuluh

di waktu kudus

di atas bantal sisa keringatmu

bau rumput muda yang luput dari doa

namun, selalu menyala setiapkali menjelma

2020


Menyapa Kenangan

inilah jalan kita

masa lalu telah menanam hujan

di antara pohon-pohon rindang

seharusnya kita masih di sini

membayangkan di antara bukit-bukit terjal

memelukku ketakutan

melihat kabut yang melepas, dan ilalang yang tumbuh bertunas

namun, doa telah kita padam, sayang

sebelum liuk lubang pertama

lalu yang tersisa sekadar rimbun bayang,

bising suara orang asing

yang keluar dari dalam gelap

menjelama kau, menyentuhku sebagai angin lalu

di antara barisan gedung dan warung

yang menyimpan hangat dan bau tubuhmu

masa depan kulalui dan kupejamkan sendiri

tak ada keabadian, ucapmu.

dan jalur-jalur pun memintas, aku pun mempercepat

kelam, sebagai mata daun-daun kering

yang memilih tidur di bawah selimut pagi

2020


Mata Ijah

berpasang malam

burung hantu yang suntuk berdiam

di antara lantun tarkhim kelam

dalam nyalamu

lalu sebiji dua biji benih bangkit

dari gelapku menyusuri

kedalaman matamu

ke putih sisi, sinar korona bulan

melintasi rintik alismu

yang sunyi membentangkan jalan

adalah ke barat jalan imanku

ke haribaanmu

yang mencairkan segala beku waktu

di hatiku

2020


Biji

wujudku sepi

di tengah rimbun

yang mendalam tiada tepi

pada tanah sunyi

kutengahkan salat ini

supaya menciummu lebih dekat lagi

hingga aku dapat berakar dan berdiri

ajari kami menyerap yang murni

juga mata mereka yang bimbang menatap

kedalaman sujud ini

kami yang kerap hidup

dari dekapan angkamu

dan asuhan susu heningmu

kelak, mungkin tiba buah dudukku

bersama sekerat roti

dan janji yang meragi

sampai tiba matahari yang bahagia

anak-anak burung berkicau di atas rimbun

batang luhur kami

2020


Pengantin Barzanji

aku bersaksi tiada ketenangan kecuali padamu

aku bersaksi tiada kekecewaanku

melainkan jauh darimu

langit dan bumi berdiri dari sinarmu

dan segala jadi debu dari diriku

kecuali bersamamu

tanah timur dan barat yang berseri

menghadapmu, meraih wujud sejati

dari emas dan intanmu yang murni

kuncup bunga kini telah mewangi

semerbak baunya menguar ke langit tinggi

kutanam cahayamu di lubuk sunyi

hingga tersentuhlah jiwaku dan

menyalalah aku atas cintamu

2020


Pacar dari Tuhan

akulah ladang bagi biji-biji air matamu.

tumpahkan seluruh biarkan angin gemuruh

yang kita tuju hanyalah satu

sebab kita tak menanam apa-apa

juga tidak menumbuhkan apa-apa

segalanya cahaya yang bekerja menciptakan sari tegaknya

kau mekar mawar

yang kurawat dari mataharinya

dari duri dan keseimbangan langitnya

tesebab embun tergelincir

di bumi kita ciptakan harumNya

akulah ladang bagi akar pertemuan sang pecinta

rebahkan keringmu

kunyalakan mekarmu

2020


Hantu Imsomnia

kau datang lewat lubang malam

berkelebat memekarkan

kuping dan mataku

meski langit memejam

dan tak sepenuhnya kutahu

apa yang kau genggam pernah jadi milikku? tidak

tawamu buruk serupa burung pungguk

tak ada yang merindukanmu

termasuk diriku

selepas tarkhim kau masih di situ

diam membeku dengan tangan layu

di atas meja segelas kopi dingin

kucecap ragu-ragu

barangkali kau telah menyesap jantungku

dan melafalkan kata murung

yang asing kudengar

setelah terjerembab ke masa lalu

yang pernah menjadi bagianku

2020


Ebi Langkung, lahir di Pasongsongan Sumenep Madura. Alumni Komunitas Tikar Merah Surabaya. Buku puisinya berjudul Siul Sapi Betina 2015.

Cerpen

Rindu yang Membuatku Mati

Cerpen Ni’matus Sholihah

Dua tahun sudah aku sengaja mengisap batang rindu yang kamu tinggalkan. Aku berharap racun rindunya bersarang di tubuhku, dan aku ingin segera mati karenanya. Iya, aku ingin racun rindu itu segera membunuhku. Aku sudah tidak sabar pergi ke dunia keabadian. Menjumpaimu dan bersatu denganmu di sana.

Kini aku merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku telah menjadi kanker ganas yang siap melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu. Baiklah, akan kupejamkan mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku telah berada di tempat yang sama denganmu.

***

Dugaanku, pada saat aku membuka mata akan berada di tempat yang indah bersamamu. Paling tidak di sebuah taman yang penuh bunga-bunga harum, dan mungkin ada juga kupu-kupu bersayap perak dan emas. Di sana aku mengenakan baju berwarna putih dengan rambut tergerai hitam mengkilat, dan pastinya kamu juga mengenakan baju serba putih, dengan wajah bersinar. Lalu, kita akan menjelma raja dan ratu di istana keabadian.

Rupanya apa yang aku bayangkan tidak terjadi, karena pada saat terbangun, aku tidak berada di tempat yang indah. Aku justru berada di tempat yang menyeramkan. Tak ada penerangan sedikitpun. Seluruhnya hanya gelap, bahkan sepertinya aku hanya seorang diri. Aku tak tahu ini tempat apa, semuanya hitam.

Aku berteriak, tapi tak ada suara. Entah, telah hilang ke mana suaraku. Apakah karena racun rindu atau apa, aku tak tahu, dan juga tak peduli. Aku terus berteriak dan berharap kamu mendengar, lantas menolongku keluar dari tempat terkutuk ini.

“Sudah kubilang jangan pernah memaksa agar dapat bertemu denganku sebelum Tuhan menghendaki. Tapi dasar kau keras kepala. Kau ingin mendahului takdir dengan mengisap racun rindu yang kutinggalkan. Dan sekarang kau telah mati, tapi ketahuilah, keinginanmu tidak akan pernah kesampaian.”

Aku tersentak. Itu suaramu. Iya, itu suaramu yang aku rindukan selama ini. Tapi, di mana kamu? Gelap ini membuatku tak bisa melihatmu. Aku ingin bersamamu. Meski tak ada suara, aku tetap ingin bicara. Aku yakin kamu mendengar. Aku yakin ikatan batin kita masih ada. “Aku tidak kuat menjalani hidup tanpamu. Kuputuskan menyusulmu ke tempat ini agar kita dapat bersatu lagi. Sungguh aku tidak kuat lagi menahan rindu.”

“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Seharusnya kau bisa hidup tanpaku. Jika kau merasa tidak kuat, kau bisa minta tolong Tuhan untuk membantu. Tapi, justru apa yang kau lakukan seolah tidak butuh Tuhan.”

Aku kembali tersentak, terlebih setelah kamu bentak. Aku sungguh tak mengerti denganmu saat ini. Mengapa kamu membodoh-bodohkan aku? Seharusnya kamu bangga memiliki kekasih yang rela mati untukmu.

“Tindakanmu justru membuat jarak kita tak bisa lagi ditebas. Kita tak mungkin bisa bersatu lagi. Meski, tempat kita ini abadi.”

“Maksudmu?”

“Kita beda. Aku mati karena memang sudah saatnya mati. Tapi kau mati karena memaksa diri ingin mati. Karena itu tempat kita berbeda, dan tak mungkin bisa kembali menyulam cinta.”

Dadaku seketika terasa sesak. Dan tiba-tiba sebuah godam menghantam tubuhku hingga terpental jauh lalu menabrak dinding tak kasat mata. Sangat keras.***


Ni’matus Sholihah, lahir di Madiun pada 1 Maret 2001. Hobi membaca dan menulis sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah). Alumnus Man I Madiun (Man Kembangsawit) tahun 2019. Pengagum  senja, yang menyukai aroma buku dan hujan. Ide tulisannya suka muncul di saat-saat tertentu, semisal saat mencuci, atau bersih-bersih.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Secangkir yang Luput

Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput

Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga

Virus-virus baru, makin ngeri kau dengar

Di rumah, kau tak lagi minum dari cangkir bekas anakmu

Kau cuci semua alat makan sisa mereka

Kau tak mau disentuh siapa-siapa

Secangkir lagi, luput dari bibirmu yang basah

Mulai membiru

Kau takutkan maut menjemputmu lebih dulu

Maka kau asing, dari anak istrimu

Mendekam seorang diri

Dalam teralis, ruang tiga kali empat meter persegi

Mulai membiru, sekujur kaku

Tinggal secangkir lagi

Tak mau luput dari bibirmu yang kering

Sudah pecah-pecah, berdarah.


Yang Koyak dalam Ruangmu

Pasca panen kacang ijo bapak remuk

Ruas-ruas jari kaki

Herpes menyerang seluruh tubuh

Merembet ke ketiak, leher, selangkangan

Tak apa, tak apa. Panen kita banyak, Le.

Tapi pasca panen padi bapak hilang, remuk

Diabetes menyerang ruas-ruas jari kaki

Tak bisa jalan beberapa bentar

Diamputasi sudah, kedua jari kakinya

Tak apa, tak apa. Yang penting panen kita banyak, Le.

Tapi bapak hilang, tak seimbang

Tak bisa jalan sepersekian bulan

Peduli apa pada tubuh yang koyak, tinggal remah-remah

Luka-luka nganga

Tak apa, tak apa. Kau bisa gantikan bapak, Le?

Lalu kau tangisi sendiri komplikasi di tubuhmu

Tak bisa lagi mendaratkan cangkul

Hasil panenmu berkurang

Sebab lanangmu tak cakap bertani

Kau koyak dalam ruang imajimu

Mengutuki cita-cita keturunan sudi mengundi nasib jadi petani

Tapi lanangmu pilih sewa orang

Bayar dua kali lipat

Sedang panen makin berkurang, tak seberapa

Kau koyak lagi dalam ruang harap semu, abu-abu

Mengutuk kepincangan

Mengutuki nasib.


Kretek si Mbok

Kubacakan Perempuan dan Kretek

Sedang si Mbok asik mengunyah suruh

Aku menyulut kretek

Dimatikan bapak

Sedang si Mbok menyalakan ulang

Buat apa melarang si genduk ngretek? Kau demikian sama

Sebab kau perempuan, kata bapak

Tapi si Mbok juga perempuan, sanggahku

Lalu si Mbok nyalakan ulang, menghisap dalam-dalam

Memberikannya padaku, sehisapan

Kubacakan lagi Perempuan dan Kretek

Bapak manggut-manggut

Lalu mengunyah suruh, menyalakan kretek buat si Mbok

Kretek si Mbok diberikan padaku, lalu ia mengunyah suruh bersama bapak.


Lintingan Terakhir

Sebelum perang harga, tembakau bapak

dibantai habis

Petani-petani merugi, kalang kabut

Investor bersulang anggur merah di samping istana

Bapak sedia badan

Demo saja, pak…

Berkelit

Petani-petani desa Wates meriang

Pilih menjual ke tengkulak, tapi harga

masih tak manusiawi

Tak dijual, tetap merugi

Dua kali masa panen tak dapati laba pasti

Panen lagi, meriang lagi, rugi

Bapak bisu, menyepi

Ia nglinting dari tembakau hasil panen

Terakhir sampai napas di ujung penghabisan

Lintingan terakhir jadi tempat bapak

Mengukut

Meninggalkan anak istri, dijemput Izrail.


Balkon Kesangsian

Di balkon lantai tiga

Yang luput dari percakapan kita

Disaksikan dua sulur Nephentes, mulai kering

Tapi tak lebih kering dari luka-luka yang kau sembunyikan

Di balkon lantai tiga

Kita sempat menghendaki cerita keutuhan dua manusia

Meski saling sangsi

Pada rasa masing-masing

Bukankah kita, dua organisme yang penuh ketidakpastian?

Lantas memintal harap

Memaksa penuh.


Menimang Ibu

Seperti balita, empat tahun minta ditimang

Ibu baru genap 80

Bungkuk seperti pungguk

Manja seperti gadisku

Tak mau kalah seperti jagoanku

Ibu minta ditimang-timang bapak dan aku

Nenek anak-anak berubah kekanak selepas menua

Sedang kami dipaksa dewasa

Harus mendewasa diri

Sebelum habis masa ibu jadi bayi, lagi.


Kau yang Hilang dari Pelupuk Mata

Koes,

Lelaki yang memaksa pergi dari buaian

Mendaku diri sejati

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan

Koes,

Anak sulung tulang punggung

Memangku beban empat saudara kandung

Tiap-tiap waktu kirim uang bulanan

Hampir lupa jalan pulang

Koes,

Jatah sekolah direnggut nasib

Kurang beruntung

Kau hilang di tengah semester

Pilih merantau menyambung hidup

Buat mengisi perut ibu, perut bapak, saudara-saudara sepersusuan

Koes, hilang dari pelupuk mata orang-orang

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan, banyak uang

Lelaki malang, rela pergi dari buaian.


Mendoakan Orang-orang yang Kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau kenal baik-baik detail cara membunuh jasad

Wajah-wajah pelayat

Yang pura-pura bersedih

Atau bersusah menghibur mereka yang kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau sekali datang memberi ceramah, khotbah

mendoakan mereka yang terbungkus kafan

mendoakan mereka yang kehilangan

meminta semesta lapang menerima

tubuh-tubuh yang telah dijemput mautnya.


Misi yang Sia-Sia

Dokter Rieux mengamini kesia-siaan

Pergolakan melawan kematian demi kematian

sampai nyawa tak ada sisa

Seperti kisah Maria Zaitun, karya Rendra

Tak ada bekas melawan nasib

Sudah beruntung ajal menjemput daripada hidup dirundung derita

Camus mengotak-atik tokoh utama

Sang dokter tak peduli pada misi yang sia-sia

Jalan terjal kemanusiaan

Memberi tubuh-tubuh yang sakit kesembuhan

Rendra tak memberi Maria berkah kesembuhan

Maria Zaitun mendapat Firdaus bersama lelaki berwajah remuk

Jalan terjal mencecap bahagia

Di akhir misi hidup yang sia-sia


Perempuan di Antara Dua Dewi

Dua sales masih menjajakan Dua Dewi

Meski surup sudah habis mengikis sinar matahari

Tak ada senja-senja atau mega merah muda

Dua sales masih berjalan menembus gang-gang gelap

Menjajakan Dua Dewi di tangan

Perempuan-perempuan dengan rok mini

Berhak sepuluh senti

Lipstik merah darah, bedak tebal

Menghias bibir dan pipi

Tapi  rias tak bisa menghapus payah

Dua Dewi di tangan belum laku terjual

Dua perempuan tak bisa balik ke peraduan

Tapi rias tak bisa menutup duka dari dua bola mata

Dua Dewi terbungkus rapi belum tergadai

Dua perempuan tak bisa balik ke bilik asal

Terus jalan, terus menjual.


Rizka Umami, pengasong di Komunitas Sastra Sadha Tulungagung. Sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di facebook Tacin atau Instagram dan twitter @morfo_biru

Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

Cerpen Mashdar Zainal

Lelaki itu menatap gunung-gunung yang menggunduk di kejauhan dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap dedaunan yang melayang-layang terlepas dari tangkainya dan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap bebatuan yang teronggok di sembarang tempat dan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap sebuah pohon besar dengan akar berpilin-pilin dan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap segala sesuatu yang tak pernah bisa kau duga dan selalu, kau akan mendengarnya, Rusdiana, Rusdiana.

Lelaki itu punya ingatan yang baik tentang seseorang dan sebuah kejadian, maka setiap kali ia menatap sesuatu yang menggeliatkan ingatannya, atau ketika bayangan-bayangan adegan itu melintas di kepalanya, ia akan selalu bergumam: Rusdiana, Rusdiana.

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Sebenarnya ia tak benar-benar gila. Ia tak suka keluyuran sambil melempari kaca rumah orang dengan kerikil atau semacamnya. Ia tak memakai pakaian compang-camping. Pakaiannya selalu terkancing rapi. Rambutnya tersisir tampan, dan ia selalu berbau wangi. Tapi orang-orang menyebutnya gila hanya karena selalu menyebut, “Rusdiana, Rusdiana.”

Menurut riwayat yang ada, pada suatu hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan—hari pernikahannya, calon istri beserta para pengiringnya tak kunjung datang. Semuanya begitu terlambat, mengundang banyak kecemasan. Hingga seorang laki-laki tak dikenal menelusup dalam keramaian pesta dan berbisik pada seseorang. Hal itu seakan sambung-menyambung seperti permainan rahasia, hingga sampai ke telinganya. Hanya beberapa kalimat, tapi lumayan menyengat, “Bus yang mengangkut mempelai putri beserta rombongannya terperosok ke jurang.”

Ia terpaku, seperti mendengar serangga mendengung. Beberapa penumpang selamat. Beberapa penumpang terluka ringan. Beberapa penumpang mengalami patah tulang, juga beberapa penumpang tidak selamat, termasuk seorang wanita yang telah didandani sangat sempurna, bak seorang putri. Barangkali ia wanita paling cantik dalam bus itu. Dan begitulah, beberapa kalimat itu telah membuat pesta penuh bunga itu berubah menjadi penuh jeritan. Sebuah kiamat bagi lelaki itu.

Setelahnya, lelaki itu berakhir dalam kemurungan, berhari-hari. Sisa-sisa pesta yang tak jadi itu menjelma tangan-tangan berkuku hitam yang mencubiti kulitnya, mencakar-cakar wajahnya. Beberapa hari kemudian, lelaki itu menghilang begitu saja. Ia menghilang dalam kamarnya sendiri, dalam kemurungannya. Keluarganya sudah mencari ke mana-mana, tapi hasilnya tak ke mana-mana. Sebagian orang mengira lelaki itu kabur secara diam-diam untuk bunuh diri di suatu tempat, sementara lainnya berpendapat lelaki itu diculik sesuatu yang tak tampak. Namun semua pendapat-pendapat itu lenyap, begitu lelaki itu muncul pada suatu pagi, di bawah pohon trembesi di ladang belakang rumah, hanya mengenakan celana pendek. Semenjak itulah, setiap kali ia menatap sesuatu yang tak dapat diduga siapapun, ia akan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Satu hal yang sedikit ganjil, jika ia gila karena calon mempelainya, tentu ia tak akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Karena calon mempelainya bernama Dewi, nama lengkapnya Dewi Suciwati, bukan Rusdiana. Entahlah, siapa yang bisa menebak isi kepala lelaki itu?

“Siapa Rusdiana?” ibu lelaki itu pernah bertanya demikian.

Dan ia, dengan gerak bibir penuh dan pasti, membalas, “Rusdiana, Rusdiana.”

“Rusdiana siapa?” bapaknya yang kali ini bertanya.

Dan kau bisa menebaknya, yang didapat sang bapak hanyalah jawaban yang sama.

“Barangkali, Rusdiana adalah nama jin perempuan yang menculiknya sewaktu ia menghilang selama beberapa hari itu.” Si ibu menyimpulkan.

“Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan bocah ini, isi kepalanya sudah kacau,” timpal sang bapak, penuh keputusasaan.

Si ibu menangis memandangi bujangnya yang menatap kosong. Sang bapak membatu menatap putra semata wayangnya yang pandai sekali bergumam, “Rusdiana, Rusdiana.”

Beberapa kali mereka mendatangkan orang pintar untuk memeriksa keadaan lelaki itu, tapi orang-orang pintar itu berhenti pintar ketika pada akhirnya, mereka hanya berkata, “Rusdiana, kami tak bisa menyentuhnya sama sekali.” Atau, “Rusdiana, ia bersembunyi di balik kabut.” Atau, “Rusdiana, hanya bocah ini yang tahu siapa Rusdiana.” Atau, perkataan telak yang semacam itu, yang sama sekali tidak membantu.

Pada akhirnya, orang tua lelaki itu menyerah. Ia membiarkan Rusdiana terus hidup dan mengendap dalam kepala anaknya. Mereka cukup bersyukur karena bocah itu masih tampak waras, ia tidak melempari kaca rumah orang, ia masih sudi mandi tiga kali sehari, makan seperti biasa, menyisir rambut, dan berpakaian rapi layaknya orang waras. Hanya ada satu letak ketidakwarasannya, ia tak banyak berkata-kata kecuali, Rusdiana, Rusdiana.

Seandainya orang tua lelaki itu pandai menyisir masa lalu, seharusnya mereka tak perlu mencari orang pintar atau apapun. Cukup menyisir masa lalu. Masa lalu anak lelakinya. Mereka benar-benar lupa. Sewaktu SMA, lelaki itu pernah memiliki seorang kekasih bernama Dian. Gadis itu dinyatakan hilang saat melakukan sebuah pendakian usai merayakan kelulusan. Tak ada yang tahu kalau gadis itu tidak hilang begitu saja. Gadis itu hanya menerbangkan dirinya ke ceruk jurang, lantas tubuhnya yang remuk tersangkut di sebuah batu di antara akar pepohonan yang menjulang di punggung jurang. Sampai detik ini, jasad gadis itu—yang barangkali telah menjadi tulang belulang, belum ditemukan.

Hanya lelaki itu yang tahu. Tapi ia memilih bungkam. Lelaki itu pernah mengingkari sebuah janji untuk mati. Ketika gadis itu menerbangkan dirinya, seharusnya ia menyusul terbang. Demi cinta yang sehidup semati. Tapi tidak, lelaki itu berubah pikiran dan memutuskan secara sepihak bahwa cinta di usia mereka hanya cinta main-main, dan sungguh tak masalah jika orang tua mereka tidak pernah merestui satu sama lain. Masa depan masih sangat panjang, tapi gadis itu terlalu tergegas-gesa. Seolah nyawanya berlipat ganda seperti kartu remi, bisa dilempar ke sana kemari.

Setelah melihat tubuh ringkih itu melayang ke ceruk jurang, disambut cadas dan  bebatuan, lelaki itu gemetar, hanya gemetar, lalu pergi terhuyung-huyung, dan berjanji akan membungkam mulutnya sepanjang yang ia bias, dan gadis itu tak pernah bisa menerima. Maka ia terus membuntuti lelaki itu. Mengawasi gerak-geriknya dari alam ketiadaan. Ia tak akan pernah membiarkan lelaki itu menjadi milik wanita lain, sebab janji mati itu seharusnya ditunaikan bersama. Sebab itu pula, bus mempelai perempuan itu layak masuk jurang, seperti dirinya di masa lampau.

Dan kini, ketika lelaki itu menatap gunung-gunung, ia akan mengingat tempat itu dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap sehelai daun yang gugur, ia akan mengingat seonggok tubuh yang terbang melayang di udara, dan ia akan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap tanah keras dan bebatuan, ia akan mengingat cadas dan batu-batu yang meremukkan tubuh ringkih itu, dan ia akan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap akar pepohonan yang berpilin, ia akan mengingat tubuh remuk yang terpaut di antara akar, dan ia akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika tiba-tiba bayangan itu muncul di mana saja dan kapan saja, ia akan terus menyeru nama itu: Rusdiana, Rusdiana. ***

Madiun, 2015-2019


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya, “Gelak Tawa di Rumah Duka”, basabasi, 2020. Kini bermukim di Malang.