Cerpen

Pelajaran dari Kegelapan

Cerpen Era Ari Astanto

Dalam sunyi yang pekat, aku berdiri di hadapan kegelapan, bertanya pada diri sendiri apa makna dari hidup ini. Selama ini, aku percaya bahwa segala sesuatu memiliki dualitas: terang dan gelap, baik dan jahat, benar dan salah. Namun, di tengah kekacauan dunia yang terus menerus berderu, aku mulai ragu. Mungkinkah dunia tidak se-hitam-putih yang selama ini kupercaya? Mungkinkah ada kebenaran dalam kebohongan, atau kebaikan dalam keburukan?

Pemikiran ini muncul tiba-tiba, saat aku lelah mencari jawaban pada segala hal umum yang dipuja manusia. Terlebih, semua yang kuketahui tentang Iblis—entitas yang selalu digambarkan sebagai sumber segala kejahatan—seolah terbentang di hadapanku sebagai jalan yang harus kujelajahi. Bukankah untuk memahami cahaya, kita juga harus memahami kegelapan? Bukankah untuk mengantisipasi maling, kita harus tahu cara maling? Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju perjalanan yang tak seorang pun sebelumnya berani tempuh.

Di sebuah bukit terpencil, tersembunyi di pedalaman, di antara pohon-pohon kurus yang tak nyaris berdaun, aku mendirikan altar sederhana. Ala kadarnya, karena aku tak pernah tahu cara memanggil Iblis. Aku hanya fokus pada keinginanku: merasakan kehadiran kegelapan. Dengan kehangatan api unggun yang mengelilingiku, aku mencoba memanggil makhluk yang dalam cerita-cerita selalu digambarkan dengan tanduk, ekor, dan tatapan penuh kebencian. Aku tak tahu ritual apa yang tepat; hanya mengikuti apa yang intuisi bisikkan. Malam itu, bulan tersembunyi di balik awan, dan hanya suara angin yang berbisik pelan. Alam seakan mendukung kesunyian, suasana menjadi lebih dingin, seolah kehadiranku di tempat itu memang direstui.

Tidak ada mantra atau jampi-jampi. Aku hanya mengulurkan tanganku ke arah api unggun yang kubuat sambil berkata: wahai makhluk kegelapan, datanglah. Dan tiba-tiba angin kencang datang, menyapu api itu dan mengirimkan kepulan asap ke arahku. Aku terbatuk-batuk dan hampir ngglimpang, sementara di kejauhan, aku melihat sesuatu bergerak dalam kegelapan. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang buruk? Apakah Iblis akan memakanku atau mencabik-cabikku?

Dalam keheningan itulah dia muncul. Tidak seperti yang kucoba bayangkan. Sosok yang berdiri di hadapanku tidak bertanduk, tidak juga berwajah menakutkan. Ia hanya serupa seorang pria dengan mata tajam dan senyum tipis, seakan tahu lebih banyak dari yang siap ia katakan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi aura yang terpancar darinya membuatku sadar bahwa ia bukanlah makhluk biasa.

“Apa yang kau cari?” suaranya dalam, tetapi terdengar seperti bisikan yang langsung menembus pikiranku.

“Aku mencari kebenaran,” jawabku, mencoba menahan getaran dalam suaraku. “Aku ingin mengetahui sisi lain dari yang selama ini disebut sebagai kegelapan.”

Ia mengamati wajahku dengan saksama, seolah menimbang-nimbang apakah aku layak mendapatkan apa yang kucari. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku beranjak, melangkah di belakangnya, mengikuti ke mana pun ia akan membawaku. Meski aku sedikit ragu.

Perjalanan kami berlangsung dalam keheningan, tetapi tiba-tiba, suasana berubah menjadi menegangkan. Kami melewati sebuah jembatan yang goyang-goyang, tampaknya hampir ambruk. Aku hampir terpeleset ketika satu papan jembatan patah di bawah kakiku, dan Iblis dengan tenang menangkapku dengan satu tangan, seakan kejadian itu sudah diprediksi. Ketika kami menyeberangi jembatan, perasaanku campur aduk—antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang mendesak-desak.

Di sebuah tempat, dia memggeser sebuah batu, lalu tampak lorong kegelapan yang benar-benar gelap. Kami memasukinya. Sangat gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Aku terus berpegangan pada jubahnya. Hingga perlahan kulihat samar cahaya.

Kami tiba di sebuah tempat yang menyerupai desa kecil, dengan rumah-rumah tampak kosong, seperti telah lama ditinggalkan. Namun, tidak ada kesan suram di sana, hanya keheningan yang sedikit mencekam. Ia menuju ke sebuah bangunan sederhana, lalu masuk ke dalam. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan besar, dengan pelita kecil yang menyala di tengah, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Ia duduk di hadapan pelita itu, dan mengisyaratkan agar aku duduk di seberangnya.

“Kenapa kau ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku lelah dengan semua kebohongan yang ada di dunia ini,” jawabku, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba muncul. “Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sisi yang selama ini dianggap jahat.”

Ia tersenyum, kali ini lebih jelas, dan untuk pertama kalinya aku melihat kilatan humor dalam matanya. “Manusia selalu takut pada kegelapan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada banyak hal yang tersembunyi. Aku bukan sekadar wujud kejahatan, seperti yang kalian yakini. Aku adalah cerminan dari keinginan terdalam kalian, sisi yang kalian tolak tetapi tidak mungkin bisa dimusnahkan.”

Mendengar perkataannya, aku merasa seolah terperangkap dalam labirin pemikiran yang rumit. Semua hal yang kukira benar mulai goyah. “Tapi, tidakkah itu berbahaya?” tanyaku. “Menghadapi sisi kelam bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang yang dalam.”

Iblis tersenyum sinis, seolah tahu jawaban yang ingin ia berikan. “Kehidupan itu sendiri adalah risiko. Kegelapan tidak selalu berarti kejahatan; ia bisa jadi cermin bagi kebenaran yang kau cari. Yang kau anggap sebagai dosa sering kali adalah cara untuk mencari kebebasan, untuk mencari arti dalam hidup yang terperangkap dalam rutinitas yang membosankan.”

Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan bergetar dan sebuah balok besar jatuh dari langit-langit, hampir menimpa kami. Kami melompat ke samping, dan aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Iblis berusaha dengan canggung mengangkat puing-puing itu. Dalam kekacauan kecil itu, Iblis tersenyum, tampaknya merasakan absurditas situasi ini. Dalam sekejap, suasana yang mencekam berubah menjadi komedi hitam yang menggugah.

“Lihatlah,” katanya sambil mengangkat puing-puing dengan susah payah, “bahkan dalam kegelapan, kita bisa menemukan momen-momen lucu yang mengingatkan kita akan kemakhlukan kita.”

Aku terdiam, terpesona oleh cara pandangnya. Iblis itu menyadarkanku bahwa meskipun kehidupan bisa menyakitkan dan tidak terduga, ada keindahan dalam kesedihan itu.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana ia dahulu adalah malaikat yang jatuh, bukan karena kejahatan, tetapi karena ia mempertanyakan aturan yang menurutnya tidak adil. “Kebebasan adalah anugerah yang paling berharga,” katanya. “Namun, untuk memiliki kebebasan, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Aku memilih kebebasan, dan karenanya aku menjadi apa yang kalian sebut Iblis.”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang diucapkannya menggugah sesuatu dalam diriku yang selama ini terpendam. “Manusia,” ia melanjutkan, “sering kali menganggap keburukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi tidak pernah belajar darinya. Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari hal-hal yang kalian sebut sebagai dosa.”

“Apa yang bisa manusia pelajari dari dosa?” tanyaku, merasa semakin tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Kemandirian,” jawabnya tanpa ragu. “Aku mewakili keinginan untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada apa pun kecuali pada diri sendiri. Dalam setiap dosa, ada keinginan untuk bebas dari aturan, dari batasan, dari segala yang membatasi manusia menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi tentu saja, seperti yang kau tahu, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran.”

Seolah terhipnotis, aku membayangkan bagaimana dunia ini jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Seberapa sering kita menjauhi kegelapan, apalagi memikirkannya, padahal sebenarnya ia menyimpan pelajaran berharga. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sendiri penuh dengan batasan yang diciptakan oleh ekspektasi sosial. Aku merasa terjebak dalam persepsi yang dibentuk oleh orang lain, hingga kehilangan jejak diri.

Saat fajar tiba, dan aku harus kembali ke dunia nyata, Iblis itu memberiku pesan terakhir. “Jangan pernah takut untuk melihat ke dalam kegelapan,” katanya. “Mendekati bukan berarti melakukan, kau tentu tahu itu. Karena dalam kegelapan, kau akan menemukan bagian dirimu yang selama ini kau abaikan, kau kutuk-kutuk sebagai musuh yang menyesatkan. Tapi ingat, jangan pernah membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Mempelajari dosa tidak berarti harus melakukannya. Melakukan kebebasan bukan berarti menindas karena orang lain juga memiliki hak untuk bebas.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang penuh, tetapi juga dengan hati yang lebih ringan. Perjalananku untuk mencari kebenaran mungkin belum selesai, tetapi aku merasa telah menemukan arah baru. Iblis bukanlah musuh—yang menjadi musuh nyata adalah godaannya—, melainkan guru yang membimbingku melalui lorong gelap yang selama ini kutakuti. Cara mengalahkan godaannya adalah mempelajarinya. Aku belajar bahwa kebaikan dan keburukan tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa untuk memahami dunia ini dan diri sendiri, haruslah berani menghadapi setiap sisi gelap-terang dari diri kita sendiri.

Kembali ke kehidupan sehari-hari, aku membawa pelajaran dari Iblis itu. Aku mencoba untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan yang paling penting, aku berusaha untuk tidak takut pada kegelapan dalam diriku. Karena di sana, tersembunyi kekuatan yang bisa membantuku menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Tapi perjalanan ini tidaklah tanpa rintangan. Setiap kali aku berhadapan dengan kegelapan, bayangan Iblis itu terlintas dalam pikiranku. Ia adalah pengingat bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima dan dikelola. Di dalam setiap pengalaman pahit, ada pelajaran berharga.

Dengan pemahaman yang baru, aku mulai berani mempertanyakan norma-norma yang selama ini membatasi diriku. Aku bertanya pada diriku sendiri—apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan ketika aku menjawab, suara Iblis kembali terbayang, menegaskan bahwa kebebasan dan segala perbuatan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Di setiap langkahku, aku mulai merasakan kekuatan dari sisi gelap yang selama ini kutakuti. Dalam ketidakpastian, aku menemukan ketegasan. Dalam kegelapan, aku menemukan cahaya. Dalam setiap langkahku, aku selalu ingat: bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan mungkin, itulah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Dalam pengembaraanku untuk memahami diri sendiri, aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar jahat, dan bahwa di balik setiap kegelapan, terdapat kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.

Dan aku tak akan melupakan pengakuan iblis: Aku dibuang bukan karena ingin kekebasan, tapi kebodohanku yang kucoba tutupi dengan berlagak sok paling unggul dengan mengatakan “aku dari api, sedangkan dia hanya dari tanah”, sehingga tak sudi jika harus membungkuk apalagi menyungkur di hadapan moyangmu dan seluruh keturunannya.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Cerpen

Kau adalah Anakku Sekarang

Cerpen Era Ari Astanto

Lelaki berotot besar berambut cepak dan berkumis melintang itu berhenti mencengkeramku ketika tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana yang sudah dipenuhi orang-orang, dan semuanya tidak ada yang kukenal. Dia mengempaskanku dengan kasar di halaman dan berkata dengan gusar, “Temanmu sudah mati.”

Aku tak berkomentar. Aku merasa di antara senang dan sedih. Senang karena kematian orang itu berarti kebebasanku lagi, sedih karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggal mati orang tercinta. Sebelum aku merasakan lebih jauh, aku mendengar riuh tangis dari dalam rumah. Lelaki besar berotot itu menarikku masuk ke dalam rumah, lantas mendorongku hingga mendesak orang-orang yang berkerumun.

Semua orang menjeda tangisnya sebentar dan memberi jalan. Lalu, menutup jalan lagi dan mengelilingiku sambil melanjutkan tangisnya. “Jangan menangis di luar kewajaran, ya,” kata beberapa di antara mereka kepadaku dengan penuh perhatian.

Aku sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sekarang tidak ada gunanya mengatakan hal-hal itu. Yang mampu kulakukan akhirnya hanyalah mengangguk dan memperlihatkan raut sedih.

Lalu, kerumunan menyibak sehingga tampak seorang wanita renta terhuyung ke arahku dan meraih tanganku. Air matanya mengalir di pipinya. “Anakku sudah mati,” isaknya.

“Aku tahu,” kataku. “Aku sangat sedih, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”

Kata-kataku yang sesederhana itu ternyata justru membuat air matanya mengalir lebih deras. Bahkan, ratapannya sekarang begitu menyayat, membuat bulu kudukku berdiri.

“Tolong jangan terlalu bersedih seperti ini, Bibi,” kataku.

Dia mendengar kata-kataku. Tangisnya sedikit mereda. Tanganku yang masih digenggamnya ditarik ke wajahnya, dan dengan punggung tanganku dia mengelap air matanya. Dia kemudian menatapku dengan masih terisak, dan berkata, “Kamu juga harus menerimanya dengan tabah.”

Aku mengangguk mantap. “Pasti, Bi. Tapi, jangan biarkan kesedihan menyakiti Bibi.”

Dia mengangguk, “Kamu pun harus menjaga kesehatan.” Katanya sambil mengelap air matanya dengan tanganku lagi. Jika tidak dipegang dengan erat, pasti aku sudah menariknya.

“Tentu, Bi—semua yang ada di sini pun harus melakukannya,” kataku. “Kesedihan ini harus kita ubah menjadi kekuatan.”

Dia mengangguk. “Kuharap kamu tidak menyalahkan putraku karena dia telah mengembuskan napas terakhir sebelum kamu sempat menemuinya.”

“Tidak, Bibi. Aku tidak akan pernah menyalahkannya,” kataku.

“Kuminta kamu tidak terlalu bersedih,” katanya dengan masih terisak.

“Aku hanya khawatir tidak dapat menahan air mataku, Bi.”

Dia tersedu lagi dan sekali lagi mengelap air matanya dengan punggung tanganku. “Dia satu-satunya orang yang kumiliki, tetapi kini dia pergi. Kau adalah anakku sekarang.”

Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Kini aku merasa air mataku menggenang. Kutarik tanganku dengan sedikit memaksa dan putus asa. Aku berhasil mendapatkan tanganku kembali setelah mengatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku sendiri. Lalu tanyaku, “Benarkah itu, Bibi?” Aku tak punya kata-kata lain, kecuali itu.

Entah apa yang dipikirkannya, tetapi setelah aku bertanya seperti itu, tangisnya kembali meledak beberapa lama. Setelah reda, dia menarik tanganku dan membawaku ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu dia berkata, “Temanilah saudaramu sebentar.” Lalu, dia keluar.

Kukitarkan pandangan. Tidak ada siapa pun, kecuali sosok yang terbaring di atas dipan dan ditutupi dengan kain kafan putih. Ada sebuah kursi di sebelah dipan. Aku menggesernya sedikit, lalu duduk di sana.

Aku duduk diam di sana hingga beberapa lama dan hanya memandangi jasad tertutup kafan, jasad orang yang tidak pernah aku kenal. Sampai akhirnya aku merasa penasaran untuk melihat seperti apa wajah orang itu. Kuangkat kafan yang menutupinya. Sekilas kulihat wajah pucat, usianya masih muda. Aku benar-benar merasa tidak mengenalnya. Kututupkan kembali kafan itu dan berguman, “Jadi, inikah temanku?”

Pikiranku gelisah, menerka-nerka apa yang akan terjadi terhadapku setelah pemakaman orang ini. Lalu, kucoba mengingat dan merenungkan rentetan kejadian yang menyeretku hingga di sini.

Semuanya bermula pada pagi tadi, terjadi begitu saja dan sangat cepat.

Aku terbangun dan mendapati hujan yang turun sejak tengah malam tadi masih juga bertahan. Hawa dingin yang dibawanya membuatku malas bangkit dari kasur. Kuraih ponsel di meja kecil yang berimpitan dengan tempat tidur ini. Pukul 6.41. Jika bukan karena hujan itu, sinar matahari sudah menyusup melalui celah jendela dan membuatku tak betah tiduran seperti ini. Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil, lalu kutuntun telunjuk kanan ke sudut mata kananku, menggosok gumpalan kotoran di sudutnya. Itu pasti terkumpul saat aku tidur, dan membiarkannya tetap di sana adalah tidak pantas. Aku tidak terburu-buru bangun, dan karena itu aku mencongkelnya dengan santai. Tiba-tiba sisi pahaku merasa dingin. Mungkin karena angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Dan tangan kiriku yang menganggur menjadi berguna dengan merapatkan selimut. Aku baru menyadari bahwa kemarin sebelum tidur aku melepas baju dan celana panjangku. Udara begitu panas kemarin. Kipas angin kecil yang kubawa tidak memberi pengaruh apa-apa sehingga tidak memberiku pilihan lain kecuali melepas pakaian luar. Aku cari-cari di mana baju dan celanaku dengan memanfaatkan mata kiriku yang menganggur. Kulihat mereka ada di sebelah meja kecil, teronggok dan tampak kusut.

Terdengar suara pintu diketuk.

Aku mengabaikannya karena kukira itu ketukan di pintu rumah sebelah. Itu wajar, karena pintunya bersebelahan. Dinding pembatas rumah yang kusewa untuk beberapa bulan  ke depan ini memang serupa sekat antarkamar, satu dinding tembok dipakai untuk dua rumah. Rumah ini kecil: hanya memiliki satu kamar tidur, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi sempit. Terletak di pinggiran kota, dekat dengan lingkungan kumuh. Aku sengaja menyewanya semata-mata agar dekat dengan masyarakat di lingkungan kumuh yang harus aku teliti sebagai prasyarat kelulusan kuliahku.

“Hei … temanmu sekarat, dan kau masih sempat tidur?” sebuah suara di sela-sela ketukan.

Aku mengernyit. Aku merasa tidak punya teman satu pun di sini. Aku di sini sendiri, tidak ada siapa pun yang aku kenal sebelumnya. Aku di sini baru tiga hari dan baru tiga orang yang aku kenal: Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu petugas hansip. Aku berpikir semua data diri sudah aku berikan kepada mereka secara lengkap dan uang sewa sudah aku lunasi di awal. Jadi, rasanya janggal jika di antara mereka bertiga datang sepagi ini menemuiku untuk urusan itu. Namun, ketukan itu memang untukku. Apakah kata-katanya hanya pancingan agar aku membuka pintu?

Aku berpikir, seseorang pasti telah salah mengetuk pintu. Jadi, aku tetap mengabaikannya dan melanjutkan membersihkan gumpalan di mataku. Namun, ketukan itu terus berlanjut. Ketukannya kini terdengar memaksa dan kasar. Siapa dia? Aku ingat tentang bagaimana kebiasaanku di rumah: setiap kali aku kembali setelah pergi, aku akan selalu mengetuk pintu dengan baik, dan menggunakan kunciku hanya ketika yakin tidak ada orang yang akan membukanya. Sekarang, ketukan itu menjelma gedoran. Orang di luar pasti melakukannya bukan dengan buku jari, tetapi dengan tinju tangannya atau kakinya. Gedoran itu terdengar semakin kasar dan keras. Aku ingin tetap mengabaikannya, tetapi aku berpikir, jika sampai pintu itu jebol maka aku yang harus bertanggung jawab karena memang begitu perjanjiannya dengan pemilik rumah. Sayang rasanya jika harus kugunakan uang untuk hal yang sebenarnya bisa kuhindari.

Aku segera bangkit, mengenakan celanaku dengan terburu-buru dan segera menuju pintu depan tanpa sempat mengenakan baju. Namun, sebelum aku mencapai pintu, terdengar benturan yang sangat keras. Pintu itu jebol, satu engselnya mencelat, dan terbanting sedemikian keras membentur dinding.

Aku terhenti, terkesima dengan pemandangan itu.

Kini tampak di depan pintu seorang pria besar berambut cepak dengan tubuh penuh otot besar menggelembung di sana-sini. “Kau ini keterlaluan. Temanmu sekarat dan kau malah santai-santai seperti ini?” Saat bicara, matanya melotot, kumis yang melintang membuatnya tampak makin garang.

Aku tidak paham apa yang dia katakan. Aku berpikir dia pasti salah orang. Kutenang-tenangkan diriku dan mencoba bicara. “Mungkin Anda datang ke alamat yang salah, Paman.”

“Temanmu yang sekarat kini membutuhkanmu dan kaupikir aku sedang buang-buang waktu dengan bermain-main alamat palsu?” Dia berkata keras, nyaris berteriak.

Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya atau nada suaranya. Keyakinannya yang membara mampu membuatku ragu terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan kemarin aku yang terlalu lelah sehingga salah masuk rumah. Aku melompat ke luar, memeriksa nomor rumah di atas bingkai pintu. Ini memang rumah yang kusewa. Tapi, aku tak mengenal lelaki besar dengan kumis melintang ini. Aku yakin dia salah alamat.

“Ini rumah yang kusewa tiga hari lalu. Paman mungkin salah orang.” Kataku dengan sikap sangat percaya diri.

Melihat sikap percaya diriku, dia tampak bingung. “Kamu Wage, bukan?”

“Ya. Memang. Tapi, aku tak pernah mengenal Paman.”

Mendengar jawabanku dia mendengus, amarahnya menyala. “Hei dengar! Temanmu sekarat!”

“Tapi, aku tidak punya teman di sini. Hanya Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu hansip yang aku kenal di sini.”

“Omong kosong, dasar pencundang kecil!” Dia memelototiku.

“Aku mahasiswa yang melakukan riset lingkungan di dekat sini,” kataku. “Paman bisa melihat bukti-buktinya. Jika Paman mencoba untuk melepaskan orang itu padaku, aku benar-benar menolak, karena aku memang tidak pernah memiliki seorang teman pun di sini. Namun …,” Aku melembutkan nada bicaraku. “Namun, Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa menyumbangkannya ke salah satu tetangga di sini. Mereka pastinya punya banyak teman dan menurutku salah satu dari mereka tidak akan keberatan, dan bahkan mungkin Paman bisa mengajak yang lain.”

“Tapi dia temanmu, berhentilah menyangkal!” Dia perlahan mendekatiku. Matanya tampak menyala, mulutnya sedikit menganga seolah bersiap melahapku.

“Sebenarnya, siapa orang yang Paman bicarakan ini?”

Dia menyebutkan sebuah nama yang terasa asing ditelingaku.

“Aku tak kenal nama itu!” Aku berteriak.

“Dasar pecundang! Masih berani menyangkal?!” Dia mengulurkan tangan sebesar betisku dan mencoba meraih leherku.

Refleks aku mundur hingga sampai di sudut tempat tidur. Aku tahu aku akan kalah jika berkelahi dengan orang ini. Tapi, aku mencoba menggertak dengan putus asa, “Aku mahasiswa yang sedang meriset lingkungan di sini. Aku punya bukti-buktinya. Jika kamu masih memaksaku, aku terpaksa harus mengusirmu dari sini.”

Dia menanggapi dengan mengulurkan tangannya yang kuat dan menjambak rambutku hingga aku kesakitan. Aku beberapa kali mencoba memukulnya, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa pun baginya. Dia terus menyeretku dari sudut kasur dan mencampakkanku ke lantai seperti sampah. “Jangan banyak tingkah! Pakai bajumu! Cepat!” bentaknya. “Atau aku harus menyeretmu seperti tadi, hah?!”

Aku sadar, tidak ada gunanya berdebat atau berkelahi dengan orang ini. Dia setidaknya tiga kali lebih kuat dariku. Jika aku nekat, dia bisa melemparku ke pembuangan sampah yang tak jauh dari sini dengan sedikit usaha seperti dia akan membuang sekarung sampah ke selokan. Lalu, kataku, “Jika kehadiranku menyenangkan hati orang yang sedang sekarat, aku akan pergi melakukannya.” Aku bangkit perlahan dan meraih baju di samping meja kecil.

Begitu melihatku selesai mengenakan baju, dia segera menarikku dan mendorongku keluar. Di luar, hujan semalam masih menyisakan gerimis. Aku ragu melangkah. Namun, dia terus mendorongku dari belakang, membiarkan gerimis membasahiku. Dia sendiri membawa payung. Ketika aku minta sedikit ruang di bawah payungnya, dia mencengkeram lenganku dan melemparkanku ke depan. Sungguh pagi yang buruk, berbasah-basah dalam gerimis hanya untuk mengunjungi teman yang tidak pernah aku kenal.

Begitulah yang terjadi padaku.

Aku masih duduk di sini, di kursi di samping jasad itu, hingga beberapa lama sambil memandangi jasad yang sudah aku lupa wajahnya meski baru saja aku lihat. Aku ke sini bukan atas kemauanku, tapi agar terbebas dari teman yang tak kukenal ini. Namun, kematiannya ternyata tidak membebaskanku, karena seorang janda renta telah menggantikannya, memasukkan dirinya di dalam tanggung jawabku. Aku bisa saja pergi diam-diam. Tapi, kemanusiaanku mencegah. Tak tega rasanya membiarkan janda renta dan miskin tanpa penjagaan dan perawatan. Memercayakannya kepada yang berwenang sama saja membiarkannya hidup terlunta-lunta. Biarlah nanti aku yang merawatnya, memberikan tanganku sebagai sapu tangan, dan membersihkan kubur anaknya. Setidaknya sampai dia tutup usia.

Sekarang, yang terpenting menurutku, aku harus menemukan tukang kayu untuk memperbaiki pintu yang telah ditendang oleh lelaki besar itu. Itu tanggung jawabku atas kesepakatanku dengan pemilik rumah sewaan itu, selain juga untuk keamanan barang-barangku.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Monolog Guru Rahwana

Cerpen Era Ari Astanto

Jika di luar sana kau mendengar kabar tentang Shinta yang tidak terbakar api suci, itu atas peranku meski tidak ada yang tahu tentang ini. Aku tidak berminat orang mengetahuinya, itu semata-mata untuk menyelamatkan Rahwana dari syak wasangka yang terlalu buruk dari orang-orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Dan tentu saja karena tidak bisa menyelamatkan hidupnya dan kerajaannya dari amukan Rama dan bala tentaranya.

Rahwana itu satu-satunya muridku. Dan aku tahu, aku bukanlah gurunya satu-satunya. Jadi, wajar jika dia memiliki kemampuan kanuragan dan kadigdayaan yang luar biasa. Pengetahuannya tentang tata negara pun luar biasa. Meskipun dia bengal dan kejam, perjuangannya untuk menyejahterakan rakyat Praja Alengka tak terbantahkan. Rakyat Alengka mengelu-elukannya sebagai raja yang agung dan sangat peduli dengan rakyat. Bukankah dulu kau pernah menjelajah seluruh wilayah Alengka, apakah kau melihat ada jalan-jalan kecil di desa-desa pelosok yang berlubang atau bergelombang yang jika dilalui kereta akan membuat gujlak-gujlak? Apakah kau melihat ada rakyat yang memulung sampah untuk bertahan hidup? Apakah kau mendengar ada rakyat yang mengeluh soal harga sembako atau kesulitan soal biaya sehari-hari? Bukankah setiap kali kau mampir di warung yang kau dengar dari pengunjung adalah kebanggaan mereka terhadap Rahwana? Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan.

Sekali lagi, Rahwana itu memang kejam dan bengal, tapi bukan kepada rakyatnya. Dia hanya akan kejam terhadap orang yang melanggar perintah dan peraturan kerajaan. Atau terhadap kerajaan lain yang menjadi rekan bisnisnya: jika terendus melanggar perjanjian atau berusaha mengusik ekonomi rakyatnya maka dia tidak akan segan mencaplok kerajaan itu menjadi wilayahnya atau menjadi ladang permainannya.

Tetapi, Rahwana itu manusia biasa dan lelaki yang memiliki hasrat yang tinggi terhadap perempuan. Meski begitu, dia selalu menikahi perempuan-perempuan itu dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Dari sekian banyak wanita yang dijadikannya sebagai istri, tidak ada satupun dari mereka yang telantar. Karena itulah aku membiarkannya mencari wanita sebanyak apa pun yang dia mau. Namun aku tahu, hanya ada satu wanita di hatinya: Dewi Mandodari.

Sayangnya Dewi Mandodari telah mati, sejak itulah dia berburu perempuan untuk menggantikan Dewi Mandodari di hatinya. Perempuan mana pun yang memiliki kemiripan dengan istri tercintanya itu akan dia dekati dan nikahi dengan cara apa pun. Jika perempuan itu adalah rakyatnya sendiri dan sudah bersuami, dia akan memintanya dari suaminya. Sejauh ini tidak ada suami yang menolak permintaan Rahwana, pun perempuan tersebut. Karena memang Rahwana memberinya ganti yang layak: kepada suami tersebut akan dibiarkan memilih salah satu istri Rahwana dan masih diberi harta, kepada keluarga wanita akan diberi harta. Namun, jika perempuan itu dari kerajaan lain, dia tidak segan merampasnya–inilah sifat Rahwana yang aku sedihkan karena menjadi malapetaka baginya dan Alengka.

Ya, seperti yang telah kalian dengar, Rahwana memang menculik Dewi Shinta ketika Rama dan Laksmana pergi mengejar kijang jelmaan Marica, anak buah Rahwana. Bukan takut menghadapi Rama dan Laksamana, tapi inilah kecerdikan Rahwana. Bahkan dia tidak mau atau tidak bisa menjebol pagar gaib yang dibuat Laksamana ketika hendak menyusul Rama atas permintaan Shinta. Ini pun bentuk kecerdikannya lagi. Dan dengan kecerdikannya memanfaatkan sifat dasar perempuan, dia berhasil membawa Shinta ke Alengka setelah sempat bertarung dan mengalahkan Jatayu.

Biar bagaimana pun, perampasan tetaplah perampasan dan aku tidak menyukai yang telah dilakukan Rahwana terhadap Shinta. Namun, aku masih menaruh bangga terhadapnya. Meskipun dia bisa melakukan apa pun kepada Shinta, tapi dia tidak berbuat terlalu jauh terhadapanya. Kurasa wajar jika Rahwana sampai menyentuh sebagian tubuh Shinta yang memang mirip dengan Dewi Mandodari. Wajar pula jika dia tergila-gila sehingga mengaku dan meyakini bahwa Shinta merupakan titisan mendiang istrinya itu. Namun, aku tidak mau merestuinya menikahi Shinta karena aku melihat badai akan menghancurkan Alengka jika sampai dia menikahi Shinta atau membiarkannya tinggal di Alengka.

Aku mengenal Rama dan Laksamana, meskipun dia hanyalah pangeran yang terusir, tapi cepat atau lambat dia pasti bisa menggalang kekuatan yang mampu menghancurkan Alengka. Sederhana, terusirnya Rama dari Ayodya adalah hinaan baginya dan dia tidak ingin terhina lebih jauh lagi dengan membiarkan istrinya diculik. Pun dia akan sangat malu kepada mertuanya, Prabu Janaka, karena tidak bisa menjaga seorang wanita yang bahkan sudah diseretnya ke dalam penderitaan di hutan belantara. Rama itu memiliki kemampuan sebagai koordinator dan orator yang teramat baik. Jadi bukan tidak mungkin dia mampu meyakinkan banyak pihak untuk mendukungnya merebut kembali Shinta.

“Itu tidak akan terjadi, Bapa Guru. Alengka tak terkalahkan. Sepuluh Ayodya pun tak akan mampu menandingi Alengka.”

“Ya. Aku percaya itu. Tapi, Ngger, Rahwana, meski kau keturunan resi sakti keturunan dewa kau masih manusia yang dilekati rasa sakit, lupa, dan nasib apes. Kecerdasanmu ada kalanya lenyap begitu saja karena sifat lupa yang datang tiba-tiba. Kesaktianmu akan ada kalanya tak berguna karena nasib apes yang sudah waktunya menghampirimu.”

“Tapi, tak ada yang tahu kelemahanku, Guru. Aku tak akan tersentuh kematian. Hanya manusia berwujud binatang yang bisa mengalahkanku. Kurasa tidak ada makhluk seperti itu di jagad wayang ini.”

Aku hanya mengangguk-angguk. Bukan sependapat dengan Rahwana, tapi berpantang mengatakan hal yang lebih jauh, yang bukan wilayah manusia. Aku berpikir keras menemukan cara agar dia tidak lupa daratan.

“Kau mungkin tidak akan mati, Ngger. Tapi berapa banyak pasukanmu yang akan kau korbankan? Berapa banyak rakyatmu yang akan ikut menanggung kejamnya perang? Biar bagaimanapun perang mempertahankan seorang wanita itu bukan perang suci.”

“Itu akan menjadi perang suci jika Guru berkenan merestuiku menikahi Shinta. Seperti yang Guru katakan bahwa istri adalah kesucian suami, adalah harga diri suami. Jika dia seorang istri raja maka dia adalah harga diri dan kesucian kerajaan.”

“Ya. Aku masih ingat perkataanku itu. Tapi, Ngger, Shinta itu tidak sepantasnya kamu nikahi. Dia adalah darah dagingmu sendiri dengan selirmu yang telah kau tukar dengan istri seorang pemuda desa. Saat itu dia telah mengandung anakmu. Tidakkah kau mengetahuinya?”

Rahwana menatapku tajam. Aku tahu itu bukan tatapan benci. Dia hanya meminta ketegasan. Karena itu aku mengangguk mantap.

“Tapi, dia adalah anak Prabu Janaka?”

“Lelaki yang tidak bisa berpikir itu tidak ingin memelihara anak orang lain, meski anak itu adalah anak raja, kemudian membuangnya di ladang. Prabu Janaka yang sedang berkeliling menemukan bayi itu. Karena tidak punya anak, dia mengambil anak itu sebagai anaknya. Begitu cerita singkatnya, Ngger.”

“Akan aku bunuh lelaki kurang ajar itu.” Rahwana berkata sambil memukulkan tangannya yang terkepal.

“Tidak perlu, Ngger. Kau semestinya senang karena anakmu tumbuh dan besar di tangan seorang raja, meski raja kecil.”

Rahwana mengangguk, “Tapi, aku sangat sulit menerima kenyataan ini, Guru. Aku sangat mencintainya dan ingin menikahinya.”

Aku menangkap gurat sedih di wajah angker Rahwana yang kemudian menunduk. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa melakukannya demi menyelamatkan dia dan Alengka. Aku bisa saja menyarankan kepadanya untuk membunuh Rama dan Laksamana saat itu juga. Namun, itu akan mencoreng keperkasaan dan harga diri muridku satu-satunya ini. “Sebaiknya, kau kembalikan Shinta ke hutan itu lagi, Ngger. Atau kepada Prabu Janaka. Itu akan lebih baik bagimu dan Alengka.”

“Maafkan aku, Guru. Dia anakku, dan akan kupelihara dia di Alengka. Tak akan kubiarkan dia hidup di hutan rimba itu. Aku bersumpah tak akan menjamahnya lagi, Guru.”

“Aku percaya kepadaku, Ngger. Tapi, bagaimana dengan Rama dan Laksamana?”

“Aku akan mengundangnya. Dan akan kuresmikan dia sebagai menantuku.”

Aku senang dengan keputusan Rahwana. Dia mengutus prajuritnya untuk memberikan surat undangan itu kepada Rama. Namun, bertahun-tahun Rama tak pernah datang. Malahan dia mengutus monyet untuk menjemput Shinta secara diam-diam, seperti maling. Hingga timbul keributan dan sebagian kecil istana terbakar oleh ulah monyet itu.

Tentu saja Rahwana menganggap itu sebagai tantangan perang. Apa yang menjadi kehendak langit tak bisa dihindari. Perang tak terelakkan. Seluruh saudara Rahwana gugur. Alengka porak-poranda. Nyaris habis seluruh prajurit Alengka. Seluruh rakyat kotaraja pun menjadi korban.

Aku hanya bisa mematung dengan dada sesak, berlinang menatap kobaran api dan kemegahan kotaraja Alengka berubah menjadi reruntuhan yang rata dengan tanah.

Aku masih bisa berpikir, aku tidak bisa terima jika kelak Rahwana akan dianggap sebagai maling istri orang. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan namanya dari kehinaan total. Satu-satunya cara hanyalah dengan menyelamatkan Shinta dari kematian di api suci. Biar bagaimanapun Rahwana mengaku kepadaku sudah terlanjur menjamah sebagian tubuh Shinta meskipun tidak sampai menyentuh pagar kehormatan Shinta.

Ya. Dengan kesaktianku diam-diam aku bisa menyelamatkan Shinta.***


Era Ari Astanto, penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).