Dunia Buku

Situ Waras?

Hadiah itu momen orang suka cita, betul? Kado berkilau, amplop tebal, senyum penerima mengembang. Pokoknya, suasana penuh bahagia dan, tentu saja kejutan menyenangkan. Tapi coba bayangkan, di tengah euforia itu, ada orang yang tiba-tiba nyodorin  buku. Bukan uang, bukan ponsel, bukan barang mewah yang bisa langsung dipakai. Tapi buku. Buku! Situ waras?

Di negeri ini, buku sebagai hadiah masih dianggap nyeleneh. Hadiah itu lambang cinta? Iya. Tapi cinta dalam pemahaman umum, ya berupa sesuatu yang langsung bisa dinikmati. Hadiah kok bacaan? Hati-hati, nanti dibilang sok pinter. Ngasih buku tuh mirip kayak ngajak diet pas lagi pesta all-you-can-eat. Mau niat baik, tetap saja tampak tidak pada tempatnya.

Lebih nyesek lagi kalau penerima hadiahnya anak-anak. Bocah udah ngarep dapet mainan keren dari  om, tante, kakek, nenek. Eh, malah disodori buku. Bukan buku dongeng, bukan komik, tapi buku yang katanya membangun karakter. Seketika ekspresi bocah berubah. Awalnya senyum, lalu mendadak bingung, terus lirik kanan-kiri seakan bertanya, “Prank nih?”

Jangan salahkan mereka. Masyarakat kita terbiasa menyamakan hadiah dengan sesuatu yang instan: uang, makanan, atau barang yang bisa langsung dipakai. Buku? Itu investasi jangka panjang. Dalam budaya yang lebih doyan kepuasan instan, investasi jangka panjang itu terasa tidak seksi.

Padahal, kalau mau tengok sejarah, peradaban maju selalu ditopang kebiasaan baca. Buku fondasi kemajuan, dari zaman manuskrip kuno sampai era digital. Dari membaca, lahir ilmuwan hebat, filsuf cemerlang, pemikir yang namanya abadi hingga kini.

Tapi apa sekarang? Budaya baca kalah telak sama budaya scroll. Buku berdebu di rak, sementara gawai selalu update. Tempat diskusi dan literasi sepi, tapi promo belanja selalu ramai. Begitu pun saat memberi hadiah. Orang berburu barang mahal, makanan, ponsel, fashion. Buku? Nanti dulu.

Coba perhatikan, kapan terakhir kita melihat orang membungkus buku sebagai hadiah dan dengan bangga memberinya? Mungkin ada, tapi jarang. Jauh lebih sering kita lihat antrean di kasir mall untuk beli kado mewah dan itu bukan buku.

Ironis lagi, kita kasih hadiah buku, risikonya besar. Bisa dianggap sok pinter, dianggap menggurui, dan bisa-bisa malah bikin orang tersinggung. “Kamu ngasih aku buku ini maksudnya apa? Nyindir aku?” Padahal kalau dikasih duit, nggak ada yang tersinggung. Heran, kan?

Buku itu nasibnya mirip pemerintah: diagung-agungkan dalam teori, tapi diabaikan dalam praktik. Semua orang tahu membaca itu baik, sama seperti tahu negara harus adil dan sejahtera. Tapi begitu sampai eksekusi? Tidak dulu. Mirip janji kampanye, janji membaca sering tinggal janji. Dibeli, ditumpuk, dilupakan.

Pejabat pun sering curiga dengan buku. Nyatanya kadang ada buku-buku disita. Kenapa? Waduh, bahaya. Kebanyakan baca, rakyat kritis. Bisa-bisa nanti nanya, “Ini pejabat kerja nggak sih?” Makanya, mereka lebih suka ngasih janji. Hahaha

Cinta pun sama. Banyak yang bilang cinta itu soal memberi yang terbaik. Tapi coba kasih buku sebagai tanda cinta? Wah, risikonya besar. Bisa dibilang kurang romantis, dibilang kurang effort. Padahal, buku itu tidak layu kayak bunga, tidak basi kayak cokelat, dan tidak bikin kantong jebol kayak perhiasan.

Tapi tetap saja, ngasih buku ke pasangan, harus siap mental. Ada yang terharu, ada juga yang  tersinggung. “Ini maksudnya aku kurang pintar?” Padahal kalau dikasih skincare, tidak ada yang tersinggung, dan tidak mengatakan, “Ini maksudnya aku nggak cantik?”

Tapi justru karena itulah, memberi buku adalah tindakan revolusioner. Ini bentuk perlawanan terhadap tren konsumtif yang makin menggila. Cara halus untuk mengatakan: “Saya peduli kamu, dan saya ingin kamu mendapat sesuatu yang lebih dari sekadar barang fana.”

Bayangkan kalau tiap keluarga, minimal satu orang, mulai tradisi ini. Misalnya, si paman yang biasanya kasih uang, kali ini ngasih buku. Bisa jadi, tahun pertama dijadikan ganjal meja. Tahun kedua, mungkin dipindah ke rak biar tidak berdebu. Tapi siapa tahu, tahun ketiga, ada tangan yang iseng membuka. Dari situ perjalanan baru dimulai.

Sama seperti amplop atau kado yang selalu ditunggu, bayangkan jika suatu saat ada anak kecil yang excited bukan karena uang atau mainan, tapi karena buku. Karena dia tahu, buku adalah tiket ke dunia yang lebih luas.

Tentu, tidak semua orang bisa langsung menerima. Kita hidup di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi simbol material sebagai bentuk sayang. Tapi bukan berarti kita menyerah. Justru itu tantangan.

Memberi buku sebagai hadiah bukan sekadar memberi barang, tapi memberi kesempatan. Kesempatan untuk berpikir, untuk merenung, untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Kalau kita benar ingin melihat perubahan, mungkin sudah waktunya kita mulai langkah kecil ini.

Jadi, kalau tahun ini kamu ingin memberikan sesuatu yang berarti, cobalah bungkus sebuah buku. Siapa tahu, tahun depan, giliran kamu yang menerima buku. Kalau terjadi, percayalah, itu hadiah terbaik yang bisa kamu dapatkan. [] Redaksi

Dunia Menulis

Nanti

Belum juga nulis? Ada satu kebiasaan, hanya dimiliki mereka yang ngaku ingin jadi penulis: niat menulis, tapi tidak nulis. Ini bukan sekadar mengulur. Ini seni menunda dengan alasan berkesan intelektual. Menulis perlu suasana tepat, kata mereka. Harus ada musik sesuai mood, kopi tidak terlalu pahit, meja rapi, dan inspirasi yang sudah diendapkan di sudut pikiran. Kalau satu tidak ada, nanti.

Kebiasaan ini dimulai dengan ritual sakral: antusias membuka laptop. Klik file, jari siap di keyboard, lalu, berhenti. Mata menatap layar kosong, otak mendadak ikut kosong. Tidak mulai menulis sebelum pemanasan, katanya. Jadi, pemanasan dulu. Buka YouTube, cari musik lofi biar otak fokus. Satu, dua, tiga lagu terputar. Lalu ke video: Tips Ngarang dari Penulis Hebat. Ilmu dulu ah. Lima video ditonton, dokumen masih kosong, dan spontan ingin bersihkan meja. Bagaimana bisa nulis jika tempat tidak estetik?

Meja bersih, muncul masalah baru: suasana hati belum pas. Mau nulis adegan tragis, baru saja nonton komedi di TikTok. Mau nulis jenaka, mendadak ingat cicilan. Mood harus diatur dulu. Jadi, buka medsos, cari inspirasi. Lihat postingan teman merilis buku, lalu termenung, kapan giliranku? Satu jam berlalu. Perut lapar. Ya sudah, makan dulu. Menulis dengan perut kosong tidak sehat.

Selesai makan, otak berat. Perlu kopi. Bikin kopi tidak yang instan, terlalu biasa. Harus seduhan manual, dihitung takaran air dan biji terbaik. Karena penulis sejati tidak bisa nulis tanpa ritual seduh kopi yang khusyuk. Setengah jam berlalu, kopi siap, tapi ingin rebahan sebentar, lima menit. Lantas yang terjadi babak panjang yang selalu berulang, bangun dua jam kemudian dengan rasa bersalah. Nulis sekarang, tapi lihat jam, sudah sore. Nulis butuh tenang, lebih baik malam, karena malam waktu magis untuk kreativitas, katanya.

Malam tiba. Laptop dibuka, dokumen masih kosong. Kali ini dengan tekad kuat. Namun, masalah baru muncul, kalimat pertama harus bagus? Harus menarik, menggetarkan, bikin pembaca langsung jatuh cinta. Kalau tidak, lebih baik jangan mulai. Jadi, cari contoh. Keenakan baca tiga bab novel orang. Ah, jadi tanggung. Baca bagian dari nulis. Beberapa bab terbaca mata mulai berat. Menulis dalam keadaan ngantuk tidak baik. Ya sudah, tidur dulu. Pagi akan lebih segar. Besok pagi siklus berulang.

Menulis, tapi nanti. Selalu ada alasan. Inspirasi tidak kunjung datang. Kau tahu, menulis dengan suasana sempurna itu omong kosong.

Ini bukan hanya soal nulis. Ini refleksi dari banyak hal di negeri ini. Pejabat kita juga suka bilang nanti. Jalan rusak? Nanti perbaiki kalau viral. Korupsi terungkap? Nanti diselesaikan setelah ditekan. Reformasi hukum? Nanti kalau ada demo besar. Semua ditunda, kecuali satu hal: menambah pundi-pundi pribadi. Cepat, tepat, tanpa ragu.

Pemerintah pun sama. Program strategis dibahas bertahun-tahun, hasilnya nihil. Pembangunan molor, lupa janji kampanye, evaluasi jika sudah kacau. Rakyat diminta sabar, padahal perut tak bisa menunggu. Begitulah, menunda adalah tradisi yang diwariskan.

Masyarakat tidak ketinggalan. Protes kebijakan? Nanti, kalau sudah sengsara. Acuh lingkungan? Nanti, setelah banjir sekota. Baca buku? Nanti, masih sibuk berponsel. Selalu ada alasan untuk molor. Yang berjalan cepat hanya ghibah.

Dan cinta, ah, begitu juga. Banyak kisah tragis karena menunda. “Nanti aku bilang suka.” Lantas suatu hari, dia nikah. “Nanti aku minta maaf.” Hingga hubungan tak cuma retak, tapi hancur. “Nanti aku serius.” Hingga ketika sadar semua telah berantakan.

Menunda itu nikmat, sampai tiba waktunya kita sesal. Ironinya, saat sudah terlambat, kita berharap bisa memutar waktu. Menulis itu bukan soal punya waktu, tapi membuat waktu. Kalau menunggu kondisi ideal, tidak akan pernah mulai. Suasana hati tak harus sempurna, kopi tak harus mahal, dan meja tak harus indah. Yang harus dilakukan cuma satu: menulis. Kalimat pertama jelek? Tidak apa-apa. Tulis. Ada waktunya revisi. Yang penting, berhenti menunda. Karena menulis bukan tentang menunggu ilham turun dari langit, tapi tentang duduk dan menulis, meski awalnya berat, tapi paksalah dirimu. Semua akan sembuh. Semua akan baik-baik saja. [] Redaksi

Dunia Buku

BBS

Bukan, Buku Best Seller, melainkan Biarpun Buruk, Sikat. Kita hidup di zaman ketika label “best seller” lebih sakti daripada isi bukunya. Begitu satu buku dilabeli “paling laris,” orang berbondong membeli, seakan takut kehilangan momen emas dalam sejarah dunia. Padahal, kalau ditelisik, banyak buku best seller yang tak lebih dari fast food, cepat saji, nikmat sesaat, tapi minim gizi.

Ambil contoh buku self-help yang bertebaran di rak toko. Isinya penuh motivasi ala trainer seminar: Jangan Menyerah, Jadilah Versi Terbaikmu, atau Kamu Bersyukur, Rezeki Datang. Seperti dengar nasihat ibu di rumah, tapi kali ini harus bayar seratus ribu untuk baca. Lebih konyol, setelah beli, baca 10 halaman pertama lalu merasa tercerahkan, lebih tepatnya cukup tergugah lalu mengunggahnya di Instagram.

Di sisi lain, buku-buku ini menyingkap betapa rakyat sebenarnya sudah tak percaya pada pemerintah. Kalau negara bisa menjamin kehidupan layak, orang tak akan butuh buku yang mengajarkan cara bertahan hidup di tengah keterpurukan. Tapi karena janji politik lebih sering berending seperti drama Korea yang menggantung, rakyat pun cari buku motivasi di minimarket.

Lalu, ada fenomena buku best seller yang isinya curhatan pejabat. Pernah lihat buku biografi politisi yang penuh kalimat seperti: Saya berjuang dari nol, atau Saya hanya ingin mengabdi negeri? Lucunya, buku-buku ini sering terbit menjelang pemilu. Seakan mereka ingin bilang, “Pilih saya, saya orang baik.” Ironisnya, yang menulis buku tidak benar-benar menulis. Itu kerjaan ghostwriter yang gajinya lebih kecil dari anggaran parkir rapat mereka.

Masyarakat, tentu saja, punya peran dalam meramaikan pasar buku ini. Kita suka yang mudah dikunyah. Novel romance best seller, sering datang dengan pola sama: gadis miskin bertemu cowok kaya, konflik dramatis, lalu bahagia. Entah kenapa, skenario ini terus diulang, seolah semua orang diam-diam berharap hidupnya seperti telenovela. Padahal, realitanya, cowok kaya lebih mungkin jatuh cinta pada sesama pewaris tahta, bukan gadis biasa yang tersandung bata.

Dan ada cinta bentuk lain, cinta terhadap tren. Banyak orang beli buku bukan karena ingin baca, tapi karena takut ketinggalan. Ada fenomena Fomo (Takut Ketinggalan), yang begitu buku viral, orang gegas beli, entah dibaca atau tidak. Kalau buku itu difilmkan, cukup nonton filmnya. Buku masih di rak, masih terbungkus.

Jadi, apakah buku best seller sungguh keren isinya? Tidak selalu. Best seller hari ini seringnya bukan hal mutu, tapi momentum. Seperti junk food, kemripik dan lezat, tapi tak kenyang. Layaknya soda, menggelegak dan geter, tapi sendawa. Bak balon gas, menggelembung dan melayang, tapi kosong. Tak ubahnya mi instan, kilat dan sedap, tapi sekejap. Bagai pop corn,  renyah dan gurih, tapi kopong. Namun jangan lantas kalian menangis, karena tetap ada, buku best seller karena isinya memang jos. [] Redaksi

Dunia Buku

Mbahmu Kiper

Ada dua hal yang biasa dianggap sakral tanpa alasan jelas, gelar di belakang nama dan ISBN di sampul belakang. Ini zaman ketika angka lebih dihormati daripada makna. Mau bukti? Lihat saja ISBN. Nomor yang seharusnya hanya kode katalog, jadi stempel suci.

Buku ber-ISBN dianggap lebih mutu, lebih sah, lebih berhak dibaca. Sebaliknya, buku tanpa ISBN? Ah, pasti sampah. Padahal, ISBN tidak menilai isi. Ia hanya memberi nomor urut, seperti antrean beli nasi bungkus di warung padang.

Syarat untuk mendapat ISBN, tidak ada hubungannya dengan mutu isi, tapi lebih ke hal remeh seperti legalitas penerbit atau kelengkapan dokumen. Mau buku setebal ensiklopedia atau sekadar kumpulan curhat perihal mantan, selama syarat admin terpenuhi, ISBN siap cetak.

Pejabat kita, seperti biasa, sangat cinta angka. Kalau bisa dihitung, bisa dilaporkan, bisa dipamerkan, maka dianggap penting. Begitu juga ISBN. Berapa buku yang terbit dengan ISBN setiap tahun? Itu sekadar statistik. Tapi apakah buku-buku itu layak dibaca? Ah, itu soal lain. Yang penting ada angka.

Seorang pejabat budaya membuka acara literasi, “Tahun ini kita telah menerbitkan 10.000 buku ber-ISBN!” Semua tepuk tangan. Tapi tidak ada yang tanya, “Berapa buku yang benar-benar bagus?” Tidak penting. Yang penting ada data untuk laporan tahunan.

Kalau ada buku yang tajam mengkritik kebijakan? Bisa tetap mendapat ISBN. Tapi terkadang, buku seperti itu hilang dari peredaran. Apakah ISBN bisa menjadi semacam gerbang pengawasan?

Sebagian masyarakat kita juga lucu. Mereka menganggap ISBN sebagai simbol serius. Kalau ada buku bagus tanpa ISBN, mereka ragu. “Ini buku beneran atau fotokopian?” Padahal, buku itu bisa saja ditulis dengan riset bertahun-tahun, tapi karena tak punya nomor ajaib, dianggap kurang berharga. Sebaliknya, ada buku yang isinya hanya copas Wikipedia, tapi punya ISBN, ia dipajang di rak toko dengan bangga. Ditambah endors dari selebgram, lengkaplah sudah keagungan.

Dan ada pula orang yang membeli buku hanya untuk pamer. Mereka tak peduli isi, yang penting ada kode di belakang untuk dipindai. “Lihat dong, koleksi bukuku asli semua!” Seolah ISBN tanda kecerdasan. Padahal, buku itu masih segel plastik, belum pernah dibuka sejak dibeli.

Di dunia cinta pun tak mau kalah, ISBN bisa menjadi metafora menarik. Cinta yang murni, tanpa label resmi, sering dianggap abu. Sama seperti buku tanpa ISBN. “Kalian pacaran udah lama, tapi belum nikah, kok mirip buku nggak ada ISBN-nya?”

Padahal, sah atau tidaknya cinta bukan ditentukan oleh kertas. Sama seperti mutu buku bukan ditentukan nomor. Banyak pernikahan hampa, seperti buku ber-ISBN tapi isinya motif basi. Sebaliknya, ada cinta tak terikat admin tapi penuh makna, seperti buku underground yang mengguncang dunia.

Jadi, apakah ISBN penting? Tentu, sebagai alat data dan distribusi. Tapi apakah menjamin mutu? Tentu tidak sama sekali. Jika ingin tahu seperti apa sebuah buku tetap harus dibaca, apakah ia mampu menghapus dahaga atau justru membuat muntah.

Menyamakan ISBN dengan mutu adalah konyol. Sama seperti mengira orang bergelar panjang pasti lebih pintar, atau berpikir restoran mahal pasti lebih enak. Dunia ini tidak sesederhana itu, Ferguso. Jadi, jika lain kali ada orang yang bilang, “bukumu nggak ber-ISBN, pasti nggak serius,” sahutlah, “nggak serius, mbahmu kiper!” [] Redaksi

Dunia Buku

GGS

Bukan, Ganteng-Ganteng Serigala, melainkan Gemerlap, Gelap, dan Semu. Kita hidup di zaman ketika orang memilih buku bukan karena isinya, tapi karena siapa yang menerbitkan. Kalau dari penerbit besar, langsung dikira berkualitas. Kalau dari penerbit kecil, langsung dicurigai abal-abal. Ini mirip seperti melihat orang dari baju yang dipakai, padahal banyak orang berseragam rapi tapi pikirannya kusut.

Di rak-rak toko, buku berjejer dengan sampul gemerlap. Judul menggoda, desain mewah, promosi di mana-mana. Tapi begitu dibuka, isinya tak lebih dari daur ulang gagasan yang dikemas baru. Semu, seperti kue ultah mewah tapi rupanya hanya maket yang tak bisa diiris.

Penerbit besar punya modal besar. Bisa bayar editor, desainer, distributor. Buku-buku mereka mudah ditemukan, menjulang di etalase utama. Tapi di balik itu, ada yang sering lupa, mereka harus cari untung. Maka yang diterbitkan buku-buku aman. Aman bagi pasar, bagi selera, bagi siapa pun yang bisa tersinggung.

Lihatlah rak buku di toko-toko besar. Judul-judulnya mirip iklan motivasi: Jadi Kaya dalam 7 Hari, Rahasia Sukses Tanpa Usaha, atau Bertahan di Kantor dengan Senyum Palsu. Kalau bukan buku motivasi yang isinya pengulangan, ya buku selebriti yang baru terkenal seminggu. Isinya hanya curhat yang dibungkus dengan kata pengantar orang yang lebih terkenal.

Di sisi lain, penerbit kecil lebih bebas. Tidak dibebani target jual yang fantastis. Mereka bisa menerbitkan buku yang lebih tajam, lebih berani, lebih menggigit. Buku yang mungkin tidak mencolok di etalase, tapi menyala di pikiran. Tapi kebebasan ini kadang juga bumerang. Banyak yang berpikir, asal bisa cetak dan jual, itu cukup. Maka lahirlah buku tak disentuh editor, dengan tata bahasa berantakan, dan isi yang lebih mirip pesan panjang di grup WhatsApp keluarga.

Sialnya, masyarakat lebih sering tertarik gemerlap tampilan ketimbang isi. Buku dari penerbit besar, meski isinya cetek, tetap dipuja. Buku dari penerbit kecil, meski isinya luar biasa, tetap dicurigai. Begitulah cara kita memperlakukan sesuatu, lebih menghargai kemasan semu daripada esensinya.

Dan ini bukan cuma soal penerbit. Ini soal bagaimana kita memperlakukan buku.

Pejabat kita? Mereka lebih suka buku pujian. Kalau ada buku yang mengkritik kebijakan, mereka tidak baca, tapi berusaha menariknya. Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja daftar buku yang dilarang negeri ini, kebanyakan buku yang terlalu banyak bertanya.

Pembaca kita? Banyak yang beli buku bukan untuk dibaca, tapi untuk dipajang. Lebih tepatnya, untuk difoto. Buku bukan lagi jendela, tapi properti. Mau buku berat atau ringan, yang penting bisa diletakkan di sebelah secangkir kopi dengan filter estetik. Pencitraan semu.

Dan yang lebih menggelikan: cinta pun ikut-ikut. Dulu, membaca buku tanda orang punya wawasan luas. Sekarang, baca buku jadi kriteria eksotis dalam mencari pasangan. “Kamu suka baca buku? Wah, langka banget!” Seakan-akan baca buku itu selevel dengan memelihara dinosaurus.

Jadi, apa yang sebenarnya membuat buku bagus? Bukan siapa yang menerbitkan. Tapi apakah buku itu bisa mengubah cara kita melihat dunia. Apakah ia bisa mengguncang, menggedor, atau setidaknya membuat kita berpikir ulang tentang sesuatu yang selama ini kita anggap biasa saja.

Karena gemerlap tampilan tak selalu sejalan dengan terang isi. Yang besar belum tentu bernilai, dan yang kecil belum tentu remeh. Yang beredar luas belum tentu sarat makna, yang sulit dicari belum tentu tak berharga. Tapi jika kita terus menilai buku hanya dari kemasannya, maka kita tak lebih dari sekadar pembaca kilau, bukan pencari cahaya. [] Redaksi

Dunia Buku

Sememangnya

Di dunia buku ada dua jenis manusia, mereka yang berburu buku untuk dibaca dan mereka yang berburu buku bertanda tangan penulisnya. Yang pertama membeli karena haus isi, yang kedua membeli karena lapar prestise. Dua-duanya sah, tapi yang kedua lebih ribet.

Tanda tangan penulis di buku katanya seperti jimat. Seketika menaikkan kasta buku dari biasa menjadi yang limited edition. Harga melonjak, gengsi terangkat. Pemiliknya pun merasa istimewa. “Eh, bukuku ada tanda tangan penulisnya, loh!” katanya, dengan nada tak sekadar memberitahu, tapi menuntut dikagumi.

Dulu, tanda tangan punya magis. Ada ritualnya. Pembaca datang ke acara peluncuran, berdiri antre, tangan gemetar saat salaman dengan penulis, lalu menerima coretan itu dengan hati berbunga. Ada interaksi, ada momen yang bisa diceritakan. Tapi sekarang? Tinggal buka e-commerce, cari yang ada label signed copy, bayar lebih mahal, beres. Tidak ada interaksi, tidak ada cerita. Magisnya hilang, dan sekadar transaksi.

Lebih ironis, banyak yang membeli buku bertanda tangan bukan untuk dibaca, tapi dipajang. Mereka memperlakukannya seperti artefak museum, disimpan rapi di rak kaca, diberi penerangan khusus, dijaga dari debu dan tangan jahil. Mungkin nanti kalau butuh dana, bisa dijual. Kalau ditanya apa isi bukunya, mereka jawab, “Belum baca, sih. Tapi ini edisi spesial!”

Dan paling lucu di Indonesia, buku bertanda tangan dan tidak, sama saja. Di luar negeri, tanda tangan bisa melipatgandakan harga, meningkatnya aset koleksi seiring waktu. Di sini? Tetap bisa ditemukan di rak obral, bertumpuk dengan buku lain yang tidak laku. Kenapa? Karena di sini, buku bukan barang berharga. Literasi bukan investasi. Buku dianggap hobi mahal yang tidak memberi keuntungan.

Kita ini bangsa yang lebih menghargai tanda tangan di dokumen proyek ketimbang di halaman buku. Pejabat bisa menandatangani kontrak pengadaan fiktif, langsung cair miliaran. Tapi tanda tangan penulis di buku, tidak ada yang peduli. Mana yang lebih bernilai? Jelas yang bisa menghasilkan duit cepat.

Bicara soal tanda tangan pejabat, mereka adalah spesies yang paling gemar menandatangani sesuatu tanpa membaca. RUU? Teken. Anggaran? Teken. Surat keputusan? Teken. Tidak perlu repot memahami isinya. Yang penting ada tanda tangan, urusan selesai. Lalu rakyat disuruh rajin membaca, katanya demi meningkatkan kecerdasan bangsa. Ironi yang terlalu nyaring.

Lihatlah, buku yang serius, yang isinya membongkar kebusukan sistem, yang penuh dengan pemikiran kritis, justru sering tidak laku. Yang laris justru buku motivasi instan, buku self-help yang menjanjikan kesuksesan dengan cara cepat, atau buku yang viral di medsos karena sampulnya estetik. Tak heran, pejabat pun lebih gemar membaca laporan keuangan yang sudah dimanipulasi daripada membaca kebijakan yang disahkan sendiri.

Tapi mungkin memang begitulah dunia. Termasuk hal cinta. Ada yang benar mendalami dan memahami, ada yang hanya tertarik pada kemasan. Nikah tanpa cinta, sebatas tanda tangan di kertas. Sah hukum, tapi kosong rasa. Begitu juga buku, ada tanda tangan penulis, tapi tidak dibaca.

Dan lebih menggelikan, fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan pembaca biasa. Bahkan di dunia akademik pun, buku sekadar simbol status. Pernah melihat rak buku pejabat atau akademisi yang penuh dengan buku tebal dan serius? Terlihat mengesankan, sampai kamu sadar bahwa sebagian besar dari buku masih tersegel plastik. Tidak pernah dibuka, apalagi dibaca.

Jadi, mari kita buat lebih jujur. Apa yang sebenarnya kita cari dari buku bertanda tangan? Apa benar karena kita ingin menyimpan sesuatu yang berharga, atau hanya ingin menunjukkan bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih dibanding orang lain?

Buku bertanda tangan tetaplah sebuah buku. Jika isinya tidak dibaca, tanda tangan itu tidak lebih dari sekadar coretan tak berarti. Sama seperti tanda tangan pejabat di proyek-proyek bodong, sah secara admin, tapi kosong makna.

Mungkin sudah waktunya kita kembali ke akar. Tidak perlu mengagungkan tanda tangan, tidak menjadikan buku sebagai aksesoris. Buatlah sememangnya, memberi makna bukan siapa yang menandatangani, tapi siapa yang membaca dan memahami. [] Redaksi

Dunia Buku

Gengsi, Kuasa, dan Ilusi

Ada kepercayaan aneh di dunia buku, ukuran buku menentukan nasibnya. Katanya, buku terlalu besar jadi malas dibawa, yang terlalu kecil diremehkan. Kalau tebal dianggap berisi, kalau tipis dibilang kurang dalam. Sebuah logika yang entah datang dari mana, tapi dipercaya banyak orang, termasuk mereka yang sok intelek. Padahal, ukuran buku itu cuma perkara teknis. Harusnya tidak perlu jadi bahan perdebatan. Tapi, begitulah, hal sepele bisa jadi ajang unjuk kepintaran.

Kamu pernah ketemu orang beli buku cuma karena tebalnya? Mereka pikir semakin tebal, semakin cerdasnya terlihat. Maka mereka beli buku setebal bantal, difoto, diunggah ke medsos, lalu ditinggal berdebu di rak. Toh, tujuannya hanya pamer.

Sebaliknya, buku tipis sering dianggap ecek-ecek. “Ah, cuma 50 halaman? Pasti tidak berbobot.” Lucu, seakan jumlah halaman otomatis menentukan kedalaman isi. Manifesto revolusi bisa cuma 30 halaman, tapi isinya cukup mengguncang pemerintah. Sementara, ada biografi pejabat setebal kitab suci yang isinya cuma gombalan dan kisah hidup yang sengaja dibagus-bagusin.

Ukuran buku bukan cuma soal gengsi, tapi juga bisa jadi alat penguasa untuk mengontrol cara orang berpikir. Diktator tahu betul bahwa buku itu bahaya kalau ringkas dan mudah dibawa. Makanya, mereka takut sama buku kecil yang bisa masuk saku, gampang diselundupkan, dan lebih cepat menyebar. Buku-buku semacam ini sering jadi sasaran sensor karena berpotensi menyebarkan gagasan liar.

Di sisi lain, penguasa suka membuat buku biografi setebal batu bata tentang dirinya. Kenapa? Biar kelihatan monumental, seolah pemimpin itu manusia raksasa yang pantas dikagumi. Isinya? Ya, itu tadi, puja-puji membosankan yang hanya dibaca pegawai negeri yang terpaksa.

Ada juga buku yang sengaja dibuat raksasa biar tidak bisa dibaca sambil tiduran atau diangkut ke kafe. Harus dibaca serius di meja kerja. Seolah membaca itu harus jadi kegiatan berat, bukan sesuatu yang santai. Sebaliknya, ada buku yang dibuat sekecil mungkin, font mungil membuat mata perih. Mungkin biar orang kapok baca dan berhenti cari ilmu. Sebuah penghinaan halus, “Kalau kau benar mau belajar, ya tahan siksaan.”

Ukuran buku juga menciptakan kesenjangan sosial. Buku besar, hardcover, mahal, konsumsi kaum elite. Buku saku, kertas buram, murah, untuk rakyat jelata. Bahkan di dunia penerbitan, ukuran buku jadi semacam alat seleksi sosial, penulis pemula disuruh membuat buku tipis dulu, sementara penulis terkenal bisa mencetak buku setebal novel klasik Rusia.

Ironisnya, justru buku kecil yang sering membuat perubahan besar. Pamflet revolusi, manifesto bawah tanah, selebaran perlawanan, semuanya kecil, ringan, gampang dibawa, tapi dampaknya luar biasa. Revolusi sering kali lahir bukan dari buku megah yang dipajang di perpustakaan mewah, tapi dari secarik kertas yang bisa diselipkan di bawah pintu.

Ukuran buku, yang kelihatannya remeh, ternyata mencerminkan cara kita memperlakukan ilmu. Kalau kita masih percaya buku besar lebih penting dari buku kecil, berarti kita masih terjebak dalam mentalitas besar berwibawa.

Seorang pejabat yang membaca buku tebal belum tentu lebih cerdas dari seorang buruh yang membaca pamflet politik. Profesor dengan koleksi ensiklopedia belum tentu lebih tercerahkan dari seorang mahasiswa yang membaca selembar puisi kebebasan.

Dan bagaimana dengan kisah cinta terkait hal ini? Ah, juga tak lepas dari gengsi dan ilusi. Orang sering berpikir bahwa kisah cinta megah, penuh tragedi, dan berlembar-lembar seperti novel klasik adalah yang paling berharga. Seperti Romeo dan Juliet, roman yang tebal dengan kematian tragis di akhir. Tapi benarkah begitu?

Cinta tak selalu cerita panjang. Kadang, ia cukup jadi catatan kecil di buku harian, selembar puisi yang terselip di dompet, atau tulisan singkat di belakang tiket bioskop, pendek, padat, tapi menghujam dalam.

Tapi seperti biasa, ada yang suka terjebak gengsi. Mereka pikir kisah cinta panjang adalah paling berarti. Mereka ingin surat cinta yang berhalaman-halaman, bukan pesan singkat tapi penuh makna. Mereka ingin cerita yang bisa difilmkan, bukan momen sederhana di halte bus. Ironisnya, kisah cinta yang terlalu panjang sering membosankan. Seperti buku tebal yang isinya bertele-tele.

Jadi, ukuran buku dan cinta ternyata tak jauh beda. Yang besar belum tentu hebat, yang kecil belum tentu remeh. Pada akhirnya, yang penting bukan seberapa panjang, tapi seberapa dalam menetap di hati. Karena pada akhirnya, buku diukur bukan dari seberapa besar fisik, tapi seberapa besar dampaknya. Ada buku kecil yang bisa mengguncang dunia. Ada buku besar yang isinya cuma formalitas belaka. Jadi, kalau ada yang bilang ukuran buku menentukan nasibnya, tanya balik,  Apa yang sebenarnya menentukan, ukuran atau isi? [] Redaksi

Dunia Menulis

Bukan Mimbar Khotbah

Mari kita bahas sesuatu yang memalukan. Ya, memalukan. Memalukan seperti orang yang mengaku sastrawan tapi tak lebih dari tukang ceramah. Mereka menulis cerpen bukan untuk membiarkan pembaca berpikir, tetapi untuk menggiringnya seperti anak TK yang dicekoki dongeng moral. Cerita-cerita mereka bukan lagi seni, melainkan pamflet berkedok sastra, seonggok khotbah berbungkus fiksi.

Bayangkan ini: seorang pembaca yang cerdas membuka cerpen, mengharapkan pengalaman batin yang kaya, tapi yang ia temukan adalah ocehan pengarang yang menuntunnya ke satu titik mutlak, seakan-akan pembaca adalah idiot yang tak bisa menyimpulkan sendiri. Jangan begini, jadilah begitu. Yang baik itu seperti ini, yang buruk itu seperti itu. Begitu isinya. Ah, menjengkelkan! Sastra macam apa yang tak memberi ruang bagi pembaca untuk berpikir?

Sastra sejati tidak begitu. Ia hanya menunjukkan. Ia menyajikan manusia dengan segala lumur lumpurnya, lalu membiarkan pembaca menilai sendiri. Inilah yang membedakan karya hebat dengan propaganda moral. Coba tengok Crime and Punishment karya Dostoevsky. Ia tidak koar-koar Membunuh itu dosa, wahai saudara-saudara! Tidak. Yang ia lakukan menyorot kegelisahan Raskolnikov, membiarkan kita melihat bagaimana rasa bersalah menggerogoti seseorang tanpa perlu disuapi pesan murahan. Atau The Metamorphosis, Kafka, yang tidak repot-repot menceramahi soal perasaan terasing, tapi cukup mengubah seorang Gregor Samsa menjadi kecoa untuk membuat kita merasakan kengerian hidup sebagai makhluk yang dibuang dari peradaban.

Sementara di negeri ini? Banyak penulis cerpen justru berlagak nabi kecil. Seolah mereka punya mandat ilahi untuk mendidik moral umat manusia lewat tulisan. Cerpen mereka tak lebih dari doa bertele-tele dalam bentuk prosa. Kita baca satu paragraf, sudah bisa menebak bagaimana akhirnya: si protagonis akan bertobat, si antagonis akan menderita, dan kebajikan akan menang dengan cara yang picisan. Memuakkan.

Padahal, keindahan sastra justru ada pada kebebasan tafsir. Seorang pembaca yang sama bisa mengartikan satu cerita dengan cara yang berbeda di waktu yang berbeda. Ia bisa berempati pada tokoh jahat, bisa menemukan kebaikan dalam karakter yang rusak, bisa memahami kompleksitas dunia yang tidak hitam putih. Itulah kekuatan sastra. Tetapi cerpen-cerpen berkhotbah ini? Ah, tidak. Mereka menuliskan dunia seperti buku pelajaran agama SD. Serba jelas, serba pasti. Tidak ada ruang untuk kegelisahan, tidak ada ruang untuk berpikir.

Coba lihat cerita yang benar-benar menggugah. Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer, misalnya. Ia tidak menuliskan Hiduplah dengan berbakti kepada orang tua secara gamblang, tetapi ia membuat kita merasakan kehancuran batin seorang anak yang melihat ayahnya perlahan mati. Itulah yang membuat cerita mengendap di kepala pembaca. Atau Robohnya Surau Kami, A.A. Navis, yang justru menampar kesalehan kosong dengan ironi pedih, bukan dengan petuah murahan.

Sastra tidak bertugas mendidik. Sastra bertugas mengguncang, menggelisahkan, membuat kita menatap dunia tanpa filter dogma yang dipaksakan. Tentu, boleh saja berharap cerpen membawa pembaca ke pencerahan. Tetapi itu harus datang dari dalam, bukan dari paksaan narasi. Pembaca harus dibiarkan mengalami perjalanan emosional dan intelektualnya sendiri. Jika seseorang berubah setelah membaca sebuah cerpen, itu karena ia mengalami efek dari cerita tersebut, bukan karena si penulis menjejalkan kebenaran ke tenggorokannya.

Jadi, bagi para penulis yang masih sibuk menulis cerpen seperti mimbar ceramah, berhentilah! Dunia tidak butuh lebih banyak kotbah moral dalam bentuk fiksi. Biarkan sastra menjadi sastra, bukan selebaran rohani, bukan propaganda ideologi, bukan buku panduan hidup. Cukup sajikan kehidupan dalam segala kerumitannya, lalu biarkan pembaca memilih sendiri apa yang ingin ia petik. Itu jauh lebih elegan, lebih manusiawi, dan lebih berharga.

Dan jika masih ada yang ngeyel ingin terus berkhotbah lewat cerpen? Wah, sebaiknya saja langsung daftar jadi pendakwah atau motivator. Jangan mencemari sastra dengan petuah picisan yang memanjakan pembaca malas berpikir. [] Redaksi

Dunia Menulis

Ketidakberdayaan Penulis

Ada satu penyakit akut dalam dunia kepenulisan, yaitu pasrah. Sebuah virus yang menjangkiti penulis malas berpikir, mereka yang membiarkan absurditas merajalela tanpa usaha sedikit pun untuk menalarkan. Mereka berdalih, “Ah, di dunia nyata memang ada hal-hal yang tidak masuk akal.” Ya, betul. Tapi kau menulis, bukan sekadar mencatat kenyataan seperti juru tulis kelurahan. Tugasmu adalah menciptakan kelogikaan, bukan mengangkat tangan menyerah.

Mari kita perjelas. Kelogikaan dalam cerita bukan berarti semua harus seperti rumus matematika, tapi setiap peristiwa yang terjadi dalam fiksimu harus punya alasan. Sesuatu boleh aneh, ajaib, di luar nalar manusia normal, tapi tetap harus terasa masuk akal dalam konteks cerita. Jika tidak, maka kau bukan menulis cerita, kau hanya mengarang omong kosong.

Logika adalah konstruksi, bukan warisan. Penulis yang baik adalah arsitek logika. Dunia yang ia bangun mungkin berbeda dengan kenyataan, tapi harus bisa berdiri tegak di atas pondasi yang ia buat sendiri. Jika ada yang berkata, “Di dunia nyata, manusia bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak,” lalu ia menulis cerpen tentang seseorang yang lenyap begitu saja tanpa sebab, maka ia penulis pemalas. Penulis yang baik akan berpikir apa penyebabnya? Apakah ia masuk ke dimensi lain? Diculik? Diserap oleh lubang hitam yang tiba-tiba muncul di kamarnya?

Contoh lain, katakanlah ada cerita tentang seorang pria yang selalu bisa menebak angka lotere. Apakah ini masuk akal? Tentu tidak. Tetapi jika penulis memberi latar belakang bahwa ia mantan ilmuwan statistik yang menemukan pola rahasia dalam algoritma lotere, atau ia memiliki semacam kemampuan supranatural yang diperoleh setelah tersambar petir lima kali, maka cerita itu akan punya kaki untuk berdiri. Pembaca tidak akan membanting buku dan mencemooh, “Ah, omong kosong!”

Sebuah cerita harus memiliki sistem internal yang bisa dipahami dan dipercaya pembaca. Realitas bukan Tuhan yang tak bisa digugat. Banyak penulis menjadikan realitas sebagai dewa yang tidak boleh disentuh. Jika di dunia nyata air panas membakar, maka dalam cerita air panas juga harus membakar. Padahal, dalam fiksi, air panas bisa saja menyembuhkan, asal ada alasan yang kuat. Mungkin air itu berasal dari mata air khusus yang mengandung unsur misterius. Mungkin seorang ilmuwan gila telah memanipulasi hukum termodinamika. Atau mungkin kita sedang berada dalam dunia di mana hukum fisika tidak berlaku seperti yang kita kenal.

Contoh konkret dalam kenyataan, tidak ada manusia yang bisa berlari dengan kecepatan cahaya. Tapi dalam fiksi, The Flash bisa melakukannya. Kenapa? Karena penulisnya membangun sistem logika sendiri, yaitu Speed Force, ada hukum-hukum fisika fiksi yang dijelaskan secara internal dalam semesta itu. Kita percaya bukan karena kita bodoh, tapi karena ada usaha menciptakan alasan.

Sebaliknya, jika seseorang menulis cerita tentang manusia yang bisa terbang hanya karena “ya, pokoknya bisa,” tanpa alasan, tanpa aturan, maka cerita itu akan hancur lebur. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada membaca fiksi yang menganggap pembacanya idiot.

Ironisnya, ada banyak penulis yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang menulis sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka menulis adegan di mana seorang detektif menemukan pembunuh hanya dengan melihat bayangan di cermin, tanpa penjelasan bagaimana itu bisa terjadi. Mereka menulis kisah cinta di mana tokoh utama langsung jatuh cinta hanya karena tatapan lima detik, seolah manusia kehilangan akal sehat mereka begitu saja. Dan yang lebih parah, mereka tidak merasa perlu untuk menjelaskan. “Pokoknya begini, suka atau tidak suka, terima saja.” Begitulah cara seorang penulis membunuh dirinya sendiri. Karena ketika pembaca merasa cerita itu tidak punya dasar, mereka akan kehilangan minat.

Sebaliknya, jika penulis memiliki kecerdasan untuk menyulam logika dalam narasi, ia bisa membuat pembaca percaya pada hal-hal paling gila sekalipun. Penulis fiksi ilmiah bisa membuat kita percaya bahwa ada dunia lain di ujung galaksi. Penulis horor bisa meyakinkan kita bahwa ada makhluk tak terlihat yang mengintai di balik jendela. Penulis fantasi bisa membuat kita percaya bahwa seorang bocah dengan tongkat bisa mengalahkan penyihir paling kuat. Karena mereka tidak hanya menulis, mereka membangun dunia dengan alasan-alasan yang kuat.

Jika ada satu pesan yang harus diambil dari ini semua, maka pesannya sederhana, jangan malas. Jangan menulis hanya berdasarkan kepercayaan bahwa pembaca akan menerima segala omong kosong yang kau berikan. Pembaca tidak bodoh. Mereka bisa membedakan mana cerita yang dipikirkan dengan matang dan mana yang hanya sekadar karangan asal jadi.

Jadi, jika di cerita buatanmu ada ikan yang tiba-tiba muncul di pantai saat bulan purnama, jangan hanya berkata, “Ya, pokoknya ada.” Berilah alasan. Mungkin air laut tercemar zat kimia yang mengubah perilaku ikan. Mungkin ada badai besar yang menggiring mereka ke tepi pantai. Mungkin ini spesies baru hasil mutasi. Apapun itu, selama ada usaha membangun narasi yang masuk akal, pembaca akan percaya. Karena menjadi penulis bukan sekadar menulis. Menjadi penulis berarti berpikir. [] Redaksi

Dunia Buku

Buku Tak Selamanya Dibaca

Ada berbagai macam cara untuk menikmati buku. Bagi orang dewasa, tentu cara menikmati buku ya dengan membaca. Tidak melulu harus paham isinya. Seperti halnya minum kopi, tidak wajib tahu jenis kopi dan bagaimana cara pengolahannya, siapa pun bisa menyesap kopi. Dengan atau tanpa gula. Disajikan panas atau dingin. Semua kembali pada kesukaan, kebiasaan dan tingkat pengetahuan si penikmat kopi atau buku itu sendiri.

Tapi pernahkah kamu melihat bagaimana dunia anak-anak bekerja? Murni, bebas dan tanpa aturan. Pada dasarnya mereka tidak suka dibatasi. Ada haus akan penasaran yang selalu ingin dituntaskan. Maka tak heran jika buku bagi anak-anak haruslah menarik secara penampilan. Fullcolour dan penuh dengan gambar.

Ada contoh seorang anak balita yang belum bisa membaca, ketika ada buku yang menurutnya menarik, maka dia akan meminta dibacakan oleh ibunya. Entah itu dongeng, atau cerita anak lainnya. Selama belum bosan, bisa jadi anak itu akan meminta ibunya untuk terus menerus membacakannya. Meski ada banyak buku lain yang juga bisa dibaca. Hal itu bukan karena si anak suka dengan ceritanya, tapi mungkin tertarik dengan cara ibunya membaca: suara, intonasi, dan ekspresi saat membacakan cerita. Itulah kenapa buku bisa menjadi jembatan untuk mendekatkan hubungan antara orangtua dengan anaknya. Anggaplah dunia dongeng berada di level 1 cara anak menikmati buku.

Berikutnya, masuk ke level 2. Anak itu bosenan. Biasanya, semakin besar, maka anak sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan dongeng sebelum tidur. Rasa penasarannya sudah mulai ingin di-explore sendiri. Buku-buku cerita anak yang biasanya tertata dan tersimpan rapi, mendadak tersebar memenuhi lantai. Ada yang dicorat-coret, digambar, diwarnai, bahkan ada juga yang menggunting-gunting tokoh dan hewan yang ada di buku, lalu ditempel di tembok, kulkas, dan perabot-perabot lain yang ada di rumah. Di sinilah biasanya istilah Rumah Bak Kapal Pecah akhirnya muncul. Buku sudah bukan lagi dibaca atau dibacakan. Mereka ingin sesuatu yang lebih. Termasuk merobek-robek dan menciptakan ulang bentuk baru dari kertas. Misal: menjadi kapal, pesawat, atau yang lainnya.

Begitulah cara anak menikmati buku. Kesenangan mereka tidak hanya didapat dari sekadar membaca dan mendengar. Mereka belum mengenal istilah rapi, bersih, dan tertata. Dan memang seperti itulah dunia mereka. Justru para orangtua yang membuat anak menjadi tidak tertarik dengan buku. Kalimat: Jangan sampai kotor! Jangan dicorat-coret! Jangan sampai rusak! Dan berbagai jangan jangan lainnya yang sebenarnya menjadi mantra sihir yang membuat anak malas berdekatan dengan buku.

Karena itu, menikmati bacaan adalah hal yang sangat relatif. Tidak sepantasnya diatur, dihujat dan dibanding-bandingkan. Apakah membaca novel terjemahan jauh lebih terpelajar dari membaca novel lokal. Membaca komik lebih terkesan malas dibanding membaca biografi tokoh sejarah. Semua tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Karena setiap buku, memiliki pembaca dan cara menikmatinya sendiri-sendiri. [] Redaksi