Cerpen

Laut Terbelah

Cerpen Ken Hanggara

Di hari ketika Musa dan pengikutnya berbondong-bondong meninggalkan Mesir, kumpulan mega berarak persis menuju laut dan seketika permukaan air jadi gelap, tetapi ikan-ikan tetap berenang seperti biasa seakan-akan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dan seakan-akan segalanya masih dan akan terus berjalan normal, meski sebenarnya telah muncul beberapa potong pertanda sepele yang barangkali tidak terlihat oleh mata makhluk biasa, tentang lahirnya sesuatu yang agung dan tercatat di sebuah kitab suci dan terkenang hingga berabad lamanya dan bahkan hingga kiamat: perahu nelayan putus asa, beberapa kuda yang berbincang dengan burung-burung, dan diri saya yang tak terlibat apa-apa, kecuali sebagai penonton, tetapi tentang diri saya itu tidaklah penting, karena ada ataupun tidak diri saya ini, toh Musa dan para pengikutnya tetap menuju tanah yang dijanjikan, di seberang yang jauh dan tak terjangkau oleh imajinasi ikan-ikan, sehingga saat kabar dari masa lalu tentang raja yang mengaku sebagai tuhan itu sampai ke telinga saya, saya tidak akan menduga ada peristiwa sehebat ini; ribuan orang berjalan setengah berlari ke arah laut dalam formasi yang terlihat tanpa direncana dan terburu-buru dengan jumlah yang dapat membuat tanah di dekat pantai bergetar-getar seiring dekatnya jarak mereka dari kemerdekaan, dan itu sambung-menyambung tanpa henti sampai ikan-ikan sadar bahwa jumlah manusia yang lari dari raja zalim itu tidaklah tanggung-tanggung, oleh karena getaran dahsyat yang diakibatkan derap langkah mereka memang mencapai titik yang memungkinkan dalam membuat air di laut turut bergetar, dan tentu perahu sang nelayan yang putus asa juga turut bergetar, tapi yang ada di kepala orang udik itu hanya bahwa dirinya sedang tak waras dan kegelapan di langit, juga gempa serupa tabuhan perkusi dari bawah air di balik lantai perahu, seakan bukan kenyataan dan cuma terbit dari pikiran sendiri, dan semua ini menjadi bahan lelucon burung-burung yang sejak dulu kerap membawa kabar dari Mesir untuk ikan-ikan, dan siapa pula yang tidak paham jikalau burung-burung ini mendapat kabar dari beberapa kuda dan terkadang bangsa belalang atau bahkan katak dan unta, dan tidak jarang juga arwah orang-orang yang tidak lama meninggal di kawasan proyek ambisius sang raja yang ingin disembah sebagai tuhan dan ingin menang sendiri, yang berupa piramid dan patung dan segala bangunan yang entah bagaimana lagi saya menyebutkannya, tetapi mereka, burung-burung itu, tidak mungkin bicara dengan manusia yang putus asa dan bingung demi mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga mereka hanya tertawa sekaligus menangis karena tidak bisa berbuat lebih, dan karena inilah ikan-ikan lalu menghibur setiap ekor burung yang terlibat dalam perkara aneh ini dengan bilang bahwa segala kematian itu urusan Tuhan yang Mahaesa, termasuk kematian seseorang yang secara konyol terjadi di waktu bersamaan dengan hikayat agung yang bakal tercatat dalam lembar sejarah dan kitab suci, dan lagi pula mereka juga sadar pada akhirnya nanti si nelayan itu juga kaget lantaran Musa dan seluruh pengikutnya berjalan ke arah yang sama, dan barangkali di saat yang sama dia akan melihat betapa malu dia jika harus mati dengan ditonton oleh ribuan orang, tapi siapa pun tak bisa membaca masa depan, dan nasib sang nelayan tidak ada yang tahu sampai seluruh manusia, yang ribuan jumlahnya tadi, yang dipimpin Musa, benar-benar tiba di tepian pantai, sehingga seluruh semesta pun, pada detik saat mega pekat berarak ke sini, memutuskan menunggu; burung-burung, ikan-ikan, beberapa kuda yang telah kabur dari tuan mereka, beberapa belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain; tak ada satu pun yang sanggup melewatkan apa yang akan terjadi, dan semua bakal terus bertanya-tanya: dengan mukjizat macam apa Musa bisa membawa para pengikutnya lolos dari raja dan pasukannya, sementara di sini, tidak lama lagi, mereka menjumpai titik akhir berupa air yang hanya sanggup dilalui oleh ikan-ikan, perenang andal, dan perahu dan bukannya orang-orang tua renta, bayi-bayi, para wanita lemah, lelaki loyo, orang-orang pemalas, dan siapa pun yang tidak sanggup berenang dan tidak kuasa melawan ganasnya Laut Merah, dan saya sendiri yakin tak ada yang selamat kalau harus memaksa terjun ke air, kecuali tidak ada pilihan lain selain mati ketimbang menjadi budak raja yang mengaku sebagai tuhan, dan itu sungguh akan menjadi kisah paling menyedihkan yang akan saya saksikan, tapi saya berharap di detik-detik genting ini agar mukjizat Musa—yang tak kalah hebat ketimbang mengubah tongkat menjadi ular atau mengeluarkan cahaya dari telapak tangan—benar-benar lahir atas izin Tuhan yang Mahaesa, dan ini membuat saya terus saja berdoa, bahkan meski getaran di bumi akibat derap langkah ribuan pengikut Musa mulai bikin kacau tempat bernaung saya, dan bahkan meski suatu ketika saya harus berhenti oleh karena menyadari betapa perahu nelayan itu kini berada tidak jauh dari sekumpulan ikan-ikan yang terlihat cemas (yang mungkin membuat sang nelayan semakin terbenam dalam emosi yang tidak terkendali sehingga tanpa berpikir panjang membunuhi ikan-ikan itu untuk pelampiasan, karena sejatinya dirinya tak bisa benar-benar menghabisi dirinya sendiri dengan terjun ke laut dan pasrah didekap air hingga tewas—entah karena mulai memikirkan tentang neraka yang kelak menelannya bulat-bulat dalam keabadian atau entah karena mulai terpikir tentang solusi yang lebih baik ketimbang lari dari masalah dengan mencabut nyawanya sendiri), saya tetap berdoa, dan memang terkabullah doa itu setelah beberapa saat Musa berdiri di tepi suatu tebing di salah satu bagian pantai ini, dan dia terlihat bersujud dengan khusyuk, lalu bangkit dan berjalan ke dekat batas air dan tanah, dan di sanalah dia jamah permukaan air laut dengan ujung tongkat sebelum laut yang telah bergejolak karena angin dan pergerakan tidak wajar dari seisi semesta, terbelah menjadi dua, dan tentu saja ini membuat saya dan burung-burung dan ikan-ikan dan beberapa kuda yang telah kabur dari tuan masing-masing dan para belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain, dan juga seluruh pengikut Musa, serta tak ketinggalan: si nelayan yang bermaksud bunuh diri di laut, melongo berjamaah, seakan-akan barusan kami disuguhi sihir paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi, tetapi tentu saya tahu itu bukan sihir, karena sihir sangat dibenci oleh Tuhan dan siapa pun hamba yang terlibat dengan ilmu sihir, apa pun alasannya, diharamkan menyentuh wanginya surga, sehingga ini tentunya tidak lain hanyalah suatu mukjizat, dan jujur saja, inilah pertama kali saya menonton Musa memperagakan mukjizat atas seizin Tuhan yang Mahaesa, karena dari setiap mukjizat lama yang telah dia tampilkan di luar sana, yang hikayatnya disampaikan kuda dan belalang dan burung-burung dan entah makhluk hidup jenis apa lagi kepada saya dan beberapa makhluk lain di sekitar sini, tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan pada titik ini saya benar-benar merasa dada saya mulai penuh dan boleh jadi bakal meledak, sehingga saya juga yakin si nelayan yang kini perahunya oleng tak keruan dan malah terseret ke tepi atau batas pembelahan laut yang serupa air terjun di tengah laut, juga merasakan sensasi yang sama atau lebih gila di dadanya, dan ini membuat lelaki itu terlihat bersujud di atas perahu lalu bangkit dan menangis dan seluruh makhluk, yang melihat keberadaan perahu kecil itu sebagai titik kecil yang nyaris mencapai batas pembelahan air laut, tampak berteriak dan mulai khawatir orang tolol itu bakal mati karena jatuh ke dasar laut yang berupa jalanan pasir berbatu yang basah, tetapi ternyata nelayan itu dapat melompat dari perahu lalu berenang menuju batas pembelahan dan membiarkan tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah selagi ribuan pengikut Musa mempercepat laju mereka agar tak terkejar oleh rombongan Fir’aun yang ternyata mencapai titik yang tidak jauh dari laut, dan karena rombongan raja itu mampu menghabisi mereka sewaktu-waktu, Tuhan memberi hukuman yang setimpal, dan hukuman ini tidak sampai berimbas pada nelayan tolol yang keburu bergabung bersama Bani Israil yang masih memenuhi jalan dadakan di dasar laut yang kanan-kirinya ditemboki air setinggi bangunan-bangunan yang dulu mereka dirikan dengan darah dan air mata demi raja yang kini mengejar mereka, dan tentu beberapa orang bertanya-tanya terkait apa yang dilakukan nelayan tolol itu sehingga dia seakan terjun dari atas, dari langit yang mendung, tapi nelayan itu hanya bilang, dia nyaris tersesat dan kini bertekad meluruskan hidupnya, dan para pengikut Musa membiarkan orang itu berlari bersama mereka, lalu seiring lenyapnya detik demi detik hukuman Tuhan yang tak lagi ditunda, karena persis setelah Musa dan ribuan orang yang bersamanya mencapai seberang, saya melihat Fir’aun dan pasukannya dilumat habis oleh laut karena kini tembok air raksasa itu roboh dan bergejolak, kembali ke asal, kembali ke takdir dirinya sebagai laut, sebagai kumpulan air dalam jumlah besar yang akan dan selalu setia memenuhi setiap lubang atau celah yang tersisa karena memang begitulah hukum alam bekerja untuk air, dan tentu saja situasi ini merugikan siapa pun yang masih tertinggal di jalan yang terbentuk akibat mukjizat Musa yang terhebat, kecuali saya dan ikan-ikan lain yang memang dilahirkan untuk bernapas dalam air.

Gempol, 2018-2024


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV sejak 2012. Karyanya tersebar di pelbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ atau IG kenhanggara.

Cerpen

Pelajaran dari Kegelapan

Cerpen Era Ari Astanto

Dalam sunyi yang pekat, aku berdiri di hadapan kegelapan, bertanya pada diri sendiri apa makna dari hidup ini. Selama ini, aku percaya bahwa segala sesuatu memiliki dualitas: terang dan gelap, baik dan jahat, benar dan salah. Namun, di tengah kekacauan dunia yang terus menerus berderu, aku mulai ragu. Mungkinkah dunia tidak se-hitam-putih yang selama ini kupercaya? Mungkinkah ada kebenaran dalam kebohongan, atau kebaikan dalam keburukan?

Pemikiran ini muncul tiba-tiba, saat aku lelah mencari jawaban pada segala hal umum yang dipuja manusia. Terlebih, semua yang kuketahui tentang Iblis—entitas yang selalu digambarkan sebagai sumber segala kejahatan—seolah terbentang di hadapanku sebagai jalan yang harus kujelajahi. Bukankah untuk memahami cahaya, kita juga harus memahami kegelapan? Bukankah untuk mengantisipasi maling, kita harus tahu cara maling? Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju perjalanan yang tak seorang pun sebelumnya berani tempuh.

Di sebuah bukit terpencil, tersembunyi di pedalaman, di antara pohon-pohon kurus yang tak nyaris berdaun, aku mendirikan altar sederhana. Ala kadarnya, karena aku tak pernah tahu cara memanggil Iblis. Aku hanya fokus pada keinginanku: merasakan kehadiran kegelapan. Dengan kehangatan api unggun yang mengelilingiku, aku mencoba memanggil makhluk yang dalam cerita-cerita selalu digambarkan dengan tanduk, ekor, dan tatapan penuh kebencian. Aku tak tahu ritual apa yang tepat; hanya mengikuti apa yang intuisi bisikkan. Malam itu, bulan tersembunyi di balik awan, dan hanya suara angin yang berbisik pelan. Alam seakan mendukung kesunyian, suasana menjadi lebih dingin, seolah kehadiranku di tempat itu memang direstui.

Tidak ada mantra atau jampi-jampi. Aku hanya mengulurkan tanganku ke arah api unggun yang kubuat sambil berkata: wahai makhluk kegelapan, datanglah. Dan tiba-tiba angin kencang datang, menyapu api itu dan mengirimkan kepulan asap ke arahku. Aku terbatuk-batuk dan hampir ngglimpang, sementara di kejauhan, aku melihat sesuatu bergerak dalam kegelapan. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang buruk? Apakah Iblis akan memakanku atau mencabik-cabikku?

Dalam keheningan itulah dia muncul. Tidak seperti yang kucoba bayangkan. Sosok yang berdiri di hadapanku tidak bertanduk, tidak juga berwajah menakutkan. Ia hanya serupa seorang pria dengan mata tajam dan senyum tipis, seakan tahu lebih banyak dari yang siap ia katakan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi aura yang terpancar darinya membuatku sadar bahwa ia bukanlah makhluk biasa.

“Apa yang kau cari?” suaranya dalam, tetapi terdengar seperti bisikan yang langsung menembus pikiranku.

“Aku mencari kebenaran,” jawabku, mencoba menahan getaran dalam suaraku. “Aku ingin mengetahui sisi lain dari yang selama ini disebut sebagai kegelapan.”

Ia mengamati wajahku dengan saksama, seolah menimbang-nimbang apakah aku layak mendapatkan apa yang kucari. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku beranjak, melangkah di belakangnya, mengikuti ke mana pun ia akan membawaku. Meski aku sedikit ragu.

Perjalanan kami berlangsung dalam keheningan, tetapi tiba-tiba, suasana berubah menjadi menegangkan. Kami melewati sebuah jembatan yang goyang-goyang, tampaknya hampir ambruk. Aku hampir terpeleset ketika satu papan jembatan patah di bawah kakiku, dan Iblis dengan tenang menangkapku dengan satu tangan, seakan kejadian itu sudah diprediksi. Ketika kami menyeberangi jembatan, perasaanku campur aduk—antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang mendesak-desak.

Di sebuah tempat, dia memggeser sebuah batu, lalu tampak lorong kegelapan yang benar-benar gelap. Kami memasukinya. Sangat gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Aku terus berpegangan pada jubahnya. Hingga perlahan kulihat samar cahaya.

Kami tiba di sebuah tempat yang menyerupai desa kecil, dengan rumah-rumah tampak kosong, seperti telah lama ditinggalkan. Namun, tidak ada kesan suram di sana, hanya keheningan yang sedikit mencekam. Ia menuju ke sebuah bangunan sederhana, lalu masuk ke dalam. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan besar, dengan pelita kecil yang menyala di tengah, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Ia duduk di hadapan pelita itu, dan mengisyaratkan agar aku duduk di seberangnya.

“Kenapa kau ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku lelah dengan semua kebohongan yang ada di dunia ini,” jawabku, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba muncul. “Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sisi yang selama ini dianggap jahat.”

Ia tersenyum, kali ini lebih jelas, dan untuk pertama kalinya aku melihat kilatan humor dalam matanya. “Manusia selalu takut pada kegelapan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada banyak hal yang tersembunyi. Aku bukan sekadar wujud kejahatan, seperti yang kalian yakini. Aku adalah cerminan dari keinginan terdalam kalian, sisi yang kalian tolak tetapi tidak mungkin bisa dimusnahkan.”

Mendengar perkataannya, aku merasa seolah terperangkap dalam labirin pemikiran yang rumit. Semua hal yang kukira benar mulai goyah. “Tapi, tidakkah itu berbahaya?” tanyaku. “Menghadapi sisi kelam bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang yang dalam.”

Iblis tersenyum sinis, seolah tahu jawaban yang ingin ia berikan. “Kehidupan itu sendiri adalah risiko. Kegelapan tidak selalu berarti kejahatan; ia bisa jadi cermin bagi kebenaran yang kau cari. Yang kau anggap sebagai dosa sering kali adalah cara untuk mencari kebebasan, untuk mencari arti dalam hidup yang terperangkap dalam rutinitas yang membosankan.”

Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan bergetar dan sebuah balok besar jatuh dari langit-langit, hampir menimpa kami. Kami melompat ke samping, dan aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Iblis berusaha dengan canggung mengangkat puing-puing itu. Dalam kekacauan kecil itu, Iblis tersenyum, tampaknya merasakan absurditas situasi ini. Dalam sekejap, suasana yang mencekam berubah menjadi komedi hitam yang menggugah.

“Lihatlah,” katanya sambil mengangkat puing-puing dengan susah payah, “bahkan dalam kegelapan, kita bisa menemukan momen-momen lucu yang mengingatkan kita akan kemakhlukan kita.”

Aku terdiam, terpesona oleh cara pandangnya. Iblis itu menyadarkanku bahwa meskipun kehidupan bisa menyakitkan dan tidak terduga, ada keindahan dalam kesedihan itu.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana ia dahulu adalah malaikat yang jatuh, bukan karena kejahatan, tetapi karena ia mempertanyakan aturan yang menurutnya tidak adil. “Kebebasan adalah anugerah yang paling berharga,” katanya. “Namun, untuk memiliki kebebasan, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Aku memilih kebebasan, dan karenanya aku menjadi apa yang kalian sebut Iblis.”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang diucapkannya menggugah sesuatu dalam diriku yang selama ini terpendam. “Manusia,” ia melanjutkan, “sering kali menganggap keburukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi tidak pernah belajar darinya. Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari hal-hal yang kalian sebut sebagai dosa.”

“Apa yang bisa manusia pelajari dari dosa?” tanyaku, merasa semakin tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Kemandirian,” jawabnya tanpa ragu. “Aku mewakili keinginan untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada apa pun kecuali pada diri sendiri. Dalam setiap dosa, ada keinginan untuk bebas dari aturan, dari batasan, dari segala yang membatasi manusia menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi tentu saja, seperti yang kau tahu, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran.”

Seolah terhipnotis, aku membayangkan bagaimana dunia ini jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Seberapa sering kita menjauhi kegelapan, apalagi memikirkannya, padahal sebenarnya ia menyimpan pelajaran berharga. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sendiri penuh dengan batasan yang diciptakan oleh ekspektasi sosial. Aku merasa terjebak dalam persepsi yang dibentuk oleh orang lain, hingga kehilangan jejak diri.

Saat fajar tiba, dan aku harus kembali ke dunia nyata, Iblis itu memberiku pesan terakhir. “Jangan pernah takut untuk melihat ke dalam kegelapan,” katanya. “Mendekati bukan berarti melakukan, kau tentu tahu itu. Karena dalam kegelapan, kau akan menemukan bagian dirimu yang selama ini kau abaikan, kau kutuk-kutuk sebagai musuh yang menyesatkan. Tapi ingat, jangan pernah membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Mempelajari dosa tidak berarti harus melakukannya. Melakukan kebebasan bukan berarti menindas karena orang lain juga memiliki hak untuk bebas.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang penuh, tetapi juga dengan hati yang lebih ringan. Perjalananku untuk mencari kebenaran mungkin belum selesai, tetapi aku merasa telah menemukan arah baru. Iblis bukanlah musuh—yang menjadi musuh nyata adalah godaannya—, melainkan guru yang membimbingku melalui lorong gelap yang selama ini kutakuti. Cara mengalahkan godaannya adalah mempelajarinya. Aku belajar bahwa kebaikan dan keburukan tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa untuk memahami dunia ini dan diri sendiri, haruslah berani menghadapi setiap sisi gelap-terang dari diri kita sendiri.

Kembali ke kehidupan sehari-hari, aku membawa pelajaran dari Iblis itu. Aku mencoba untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan yang paling penting, aku berusaha untuk tidak takut pada kegelapan dalam diriku. Karena di sana, tersembunyi kekuatan yang bisa membantuku menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Tapi perjalanan ini tidaklah tanpa rintangan. Setiap kali aku berhadapan dengan kegelapan, bayangan Iblis itu terlintas dalam pikiranku. Ia adalah pengingat bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima dan dikelola. Di dalam setiap pengalaman pahit, ada pelajaran berharga.

Dengan pemahaman yang baru, aku mulai berani mempertanyakan norma-norma yang selama ini membatasi diriku. Aku bertanya pada diriku sendiri—apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan ketika aku menjawab, suara Iblis kembali terbayang, menegaskan bahwa kebebasan dan segala perbuatan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Di setiap langkahku, aku mulai merasakan kekuatan dari sisi gelap yang selama ini kutakuti. Dalam ketidakpastian, aku menemukan ketegasan. Dalam kegelapan, aku menemukan cahaya. Dalam setiap langkahku, aku selalu ingat: bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan mungkin, itulah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Dalam pengembaraanku untuk memahami diri sendiri, aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar jahat, dan bahwa di balik setiap kegelapan, terdapat kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.

Dan aku tak akan melupakan pengakuan iblis: Aku dibuang bukan karena ingin kekebasan, tapi kebodohanku yang kucoba tutupi dengan berlagak sok paling unggul dengan mengatakan “aku dari api, sedangkan dia hanya dari tanah”, sehingga tak sudi jika harus membungkuk apalagi menyungkur di hadapan moyangmu dan seluruh keturunannya.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Cerpen

Kekalahan yang Dimenangkan

Cerpen Septi Rusdiyana

Cerita ini bukan tentang aku, melainkan kisah kakakku, Nun. Perempuan yang mengaku telah jatuh cinta berulang kali pada suaminya. Terdengar sangat romantis, ya? Tapi percayalah, hanya dengan hati kamu baru akan benar-benar mengerti mengapa Nun bisa begitu.

Wonogiri, 28 Desember 2023. Aku turut dalam rombongan bus yang mengantar Nun dan suaminya, Satya, ke acara unduh mantu. Selesai acara, aku dan kedua orangtuaku memutuskan tinggal di rumah Satya, meski hanya semalam. Sebelum pulang, aku sempat ngobrol dengan Nun di kamarnya.

“Apa kau bahagia?” tanyaku.

Nun tersipu. Wajahnya nampak berseri-seri. Nun mengangguk semangat. Saking semangatnya, aku merasa hampir tidak lagi bisa mengenalinya. Benarkah seorang lelaki sanggup membuat wanita berubah begitu cepat? Nun memelukku. Mataku basah. Kali pertama, Nun meminta maaf dan berjanji akan menjadi kakak terbaik untukku.

Sejenak pikiranku melambung ke masa lalu. Di rumah, hubunganku dengan Nun tidak baik. Sejak kecil aku membencinya karena bapak ibu selalu membandingkanku dengannya. Nun beruntung, selain cantik, otaknya juga encer. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah gagal. Saking pintarnya, belum juga lulus kuliah, Nun sudah menjadi asisten dosen. Satu hal yang menurutku Nun tidak lebih unggul dariku: aku memiliki jauh lebih banyak teman, baik perempuan atau laki-laki. Tapi bagi Nun, sepertinya itu bukan masalah. Karena hampir seluruh waktunya memang tersita hanya untuk belajar dan bekerja.

Aku tidak banyak berinteraksi dengan Nun. Sejak SMA aku memilih sekolah di luar kota, sekadar ingin terlepas dari beban mental di rumah. Hingga suatu malam yang gerimis, tiba-tiba Nun datang ke kost-ku. Tentu saja aku terkejut. Tidak hanya itu, aku ngomel-ngomel saat ia menerobos masuk lalu berbaring di kasurku. Matanya terpejam. Ia tidak memedulikan ocehanku. Saat aku hampir saja menarik tangannya, tubuh Nun terguncang, disusul isakan yang semakin lama semakin keras. Aku bingung harus melakukan apa, karena selama ini kami tidak dekat. Aku memilih duduk di sampingnya, membiarkannya menangis hingga selesai. Setelah Nun bisa bercerita, aku akhirnya tahu, ia menjadi seperti tadi karena rekan dosen yang ia kira menyukainya, akan menikah dengan perempuan lain. Celakanya, perempuan itu merupakan rekan sesama dosen di kampus tempat Nun bekerja.

Sejak itu, Nun memutuskan resign dan memilih menjadi relawan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Sejak itu pula, aku tinggal di rumah. Kebetulan kuliahku sudah selesai dan tinggal mengerjakan skripsi.

Hampir setiap hari Nun menghubungiku. Aku juga mulai membuka diri. Bahkan, aku menjadi orang pertama yang tahu kalau Nun akhirnya menjatuhkan hati pada seorang lelaki bernama Satya. Sayang, saat Nun pulang dan menceritakan perihal rencananya, bapak ibu tidak setuju. Menurut mereka, Satya tidak akan sanggup menghidupi Nun, karena lelaki itu hanya seorang buruh tani. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah Nun. Meski tidak menangis, bibirnya terus bergetar. Seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.

Hari-hari terlewat dengan biasa saja. Suatu pagi, saat aku masuk ke kamar Nun, kudapati tubuhnya bersandar di dekat lemari. Saat kudekati, tubuhnya tak bergerak. Wajah Nun pucat dan terdapat luka sayat di pergelangan tangannya.

“Aku sangat bahagia. Satya menjadi milikku.” Suara Nun menyadarkanku kembali.

“Terus kabari aku, ya?” sahutku. Nun mengangguk.

Sebelum aku dan kedua orangtuaku pamit, aku sempat berjabat tangan dengan Satya. Entah, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kurang baik, tapi aku memutuskan mengenyahkan rasa itu.

Dua bulan setelahnya, Nun menelepon saat tengah malam. Ia bercerita kalau Satya belum pulang. Ia sangat cemas. Saat aku menanyakan ke mana suaminya, aku merasa Nun sedang menutupi sesuatu. Apa yang ia tuturkan seperti tidak menjawab apa yang kutanyakan. Namun saat ia mengakhiri panggilan karena Satya sudah pulang, aku kembali mengabaikan rasa itu.

4 April 2024. Setelah mengambil data tambahan di Solo, aku menghubungi Nun. Memberi kabar padanya kalau aku ingin mampir ke Wonogiri. Nun dan Satya menyambutku dengan senang. Aku diminta tinggal selama beberapa hari di sana. Meski rumah dan kehidupan yang mereka jalani sangat sederhana, keduanya terlihat bahagia. Apalagi saat Nun memberitahuku kalau ia sedang hamil. Aku ikut senang mendengarnya.

Pada malam ke-4, aku sulit tidur dan memutuskan duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel. Tidak lama, pintu terbuka. Satya masuk ke rumah. Aku menyapanya, lalu sengaja berbasa-basi agar dia mau menemaniku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku memulai obrolan.

“Habis ronda. Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Satya balik.

“Nggak bisa tidur.”

“Mbakyumu nggak bangun, kan?”

Aku menggeleng.

“Dia itu paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah. Padahal aku juga nggak ke mana-mana, paling di gardu ronda depan.” Satya mulai menyalakan rokok di mulutnya.

Merasa mendapat angin, aku mulai banyak bertanya untuk memuaskan hasrat keingintahuanku. Maklum, sejak awal aku belum mengenal Satya dengan baik. Entah karena terlalu polos atau bagaimana, dia merespons semua pertanyaanku apa adanya. Aku tidak berhasil menangkap sebuah kebohongan di wajah dan suaranya. Salah satu pertanyaan yang kuajukan adalah alasan mereka memutuskan menikah. Satya kemudian bercerita panjang kalau pertemuan awalnya dengan Nun adalah ketika Nun mengajar anak-anak usia dini di balai desa.

“Saat itu aku datang untuk memperbaiki pintu kamar mandi. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget. Buru-buru aku melepas pelukan itu. Takut dilihat orang lain yang nantinya bisa muncul fitnah.”

Aku mendengar ceritanya dengan khusyuk. Singkat cerita, aku akhirnya tahu, rupanya Nun yang selama ini mengejar-ngejar Satya agar mau menikahinya. Bahkan, Nun sempat beberapa kali mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Satya terus menolak.

“Itu yang pada akhirnya membuat Mas luluh?” tanyaku.

Satya menggeleng. Dia mengatakan kalau hanya soal ancaman, dia bisa mencari cara untuk membebaskan diri.

“Dia bilang wajahku mirip sama lelaki yang disukainya, tapi lelaki itu memilih menikahi perempuan lain,” Satya menjeda bicaranya. “Biar orang miskin, aku tetap laki-laki yang punya harga diri. Itu sudah menjelaskan kalau mbakyumu mencintai orang lain. Bukan aku,” lanjutnya lagi.

“Lalu apa alasannya dong?” tanyaku semakin penasaran.

“Simbok,” jawab Satya. “Beberapa hari setelah kejadian itu, malamnya almarhumah simbok datang lewat mimpi. Di situ simbok bilang: Sing sabar yo, Le. Uripmu yen iso manfaat, iso nylametke uriping liyan, berkah uripmu (Yang sabar ya, Nak. Hidupmu jika bisa bermanfaat, bisa menyelamatkan hidup orang lain, maka berkahlah hidupmu),” lanjut Satya menirukan ucapan ibunya.

Aku tercekat. Dadaku berdesir. Orang yang selama ini kupikir menyimpan maksud buruk pada Nun, ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

“Sudah dulu ya, ngobrolnya dilanjut besok lagi.” Satya berlalu menuju kamar tanpa menunggu responsku.

Aku terpaku di bangku kayu dengan banyak sekali pertanyaan lanjutan. Apakah Nun mencintai Satya? Apakah Satya mencintai Nun? Apakah mereka sedang saling menyakiti? Kehidupan macam apa yang saat ini mereka jalani? Apakah mereka bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan sepertinya, aku tidak ingin mengerti.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu dari dua putri cantik bernama Negar dan Nala. Anggota komunitas menulis Kamar Kata.

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Seblak Sublimasi

pada tepian jalan dekat toko swalayan
kerumunan adalah antidot kesepian urban

teramat dingin diabaikan oleh kenyataan
percakapan sengit dilakukan dalam genggaman

lalu dicarilah sekelumit letup kehangatan
alibi lepas dari kejaran segepok persoalan

bertemulah pada sebuah warung seblak
barangkali jadi awalan bekal buat tergelak

dalam panas minyak goreng curah
segala yang keras akan luluh pasrah

bawang merah bawang putih pun akur
berjumpa dan sepakat untuk melebur

kemiri daun bawang dan cabai rawit
aduk pelan pelan melupakan rasa sakit

ditambah gelegak didih air meletuk
kerupuk pun lunglai kehilangan keriuk

sawi mi makaroni baso dan sosis
tipis celoteh kadang sanggup mengiris

bisa juga tambahkan sepasang ceker
mesti cermat agar cinta tak mudah tercecer

paduan aroma kencur dan kenyal telur
jadi bagian dari resep memanjangkan umur

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024


Apologia Jelaga

saat terjaga dari himpitan malam
ingin  dia tulis sajak tentang tuhan
tetapi kata-kata berjalan pada hampar
basah dan telanjang

lalu pertanyaan tentang cinta
menjelma antologi nonsens
yang sasar pada geletar

entah di mana kalam
yang ada kenyal kelam di semak liar
pengakuannya hari ini seonggok hambar

Bekasi, 30 Maret 2024 


Sajak Dinding Kamar

ia begitu keras dan dingin
dengan ketebalan disepuh waktu
dan tafsir yang kirimkan lembap
menampung nyanyian mimpi

ia pun rajin merekam kejadian
pertempuran di atas ranjang
geliat pemikiran dan ideologi
pergulatan tindih dan silang
pertukaran rintih dan riang
kata kata berpilin dalam kepalan
setiap pergerakan disulut saat remang

lalu ia membaca percikan memanjang
menderetkan kumpulan teriakan
suara suara yang kemarin tertahan
di pedalaman dinding kamar
menjelma ledakan ledakan di halaman koran

Bekasi, 30 Maret 2024 


Laki Laki dan Perempuan

seorang laki laki terburu buru
nyalakan cinta dari matanya yang gelap
untuk dunia yang tak dipahaminya

seorang perempuan diam diam
sembunyi di balik mulutnya yang amat sepi
telah siapkan liang jebakan begitu rapi

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024 


Alarm Jam 3 Dini Hari

kau matikan bunyi alarm itu
yang sebenarnya tadi kau tunggu
kau pun menggerutu: ah itu lagu
mengganggu komposisi mimpiku

kau ingin sembahyang dan berdoa
tapi kau urungkan karena belum mandi besar
sehabis berjam jam bersenggama
dengan sajak sajak yang sintal dan liar

kau pijat sendiri kepalamu di atas telinga
masih ada sisa cenut cenut dari lenguh kata
lah, buat apa aku bengong terjaga jam segini
kalau hanya bisa mengencani sepi

Tangsel, 21 Mei 2024 


Budhi Setyawan, atau Buset, seorang dosen yang menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi. Buku puisi terbarunya Elegi Elegi Yogya (2024). Instagram: busetpurworejo

Cerpen

Seorang Laki-laki dan Mainan Favoritnya

Cerpen Titi Setiyoningsih

“Laki-laki hanya akan merusak mainan favoritnya,” katamu sekian kalinya di depan cermin. Tampak tanda kebiruan di bawah matamu, merah muda di sudut bibir, dan sayatan kecil di kening atas.

Pelan sambil meringis kesakitan kamu tepuk-tepuk concealer dengan beauty blender untuk menyamarkan warna tanda luka itu. Perih. Sakit. Tapi tak sesakit yang dirasakan hatimu. Lalu agar lebih sempurna, kamu tambahkan foundation, bedak tebal, lengkap dengan blush on dan gincu nude merah jambu.

Terdengar ketukan pintu apartemen. Wajahmu yang semula muram otomatis kau tarik seceria mungkin. “Halo, ayo masuk,” ujarmu berusaha menutupi kegelisahan. Dua perempuan itu serta merta memelukmu. Erat sekali. Sampai pundakmu yang masih lebam kembali terasa sakit. Tapi kamu tak boleh mengaduh, kamu harus meyakinkan mereka bahwa kamu baik-baik saja.

“Gimana keadaanmu?” tanya mereka. “Gila ya laki-laki itu! Sudah berapa kali dia melakukan ini sama kamu? Berita kalian sudah viral di mana-mana! Untung ada yang ambil videonya!”

Kamu persilakan mereka duduk di sofa paling nyaman di pojok ruangan. “Bisa-bisanya lima tahun kamu bertahan dengan laki-laki sekasar itu? Kamu sudah putusin dia, kan?”

Kamu menggeleng pelan. Kedua sahabatmu yang sekarang merangkap tim pengacaramu menampilkan raut tak percaya.

“Kenapa belum?”

Bendungan di matamu tak bisa lagi kau tahan. Jebol disusul tangis sesenggukan. Sahabatmu kembali memelukmu. “Please, bantu aku cabut laporanku, aku berubah pikiran,” bisikmu. “Kalau kalian sayang aku, tolong bantu cabut laporanku kemarin,” rintihmu.

“Dia mukulin kamu di depan umum lho, semua orang sudah tahu sekarang. Kamu diancam dia?” tanya salah satu dari mereka.

Kamu hanya diam dan menggeleng. Bagaimana cara menjelaskan kepada kedua perempuan ini? Mereka tidak akan percaya dengan ceritamu. Selama ini ada suara di kepala laki-laki itu. Suara-suara itu memanggil hujan lebat disertai petir yang membuat laki-laki itu mengakhiri hari-hari indah penuh kesenangan mereka.  Kamu terlalu tahu banyak tentang laki-laki itu yang mereka tidak tahu. Apalagi setiap kali dirimu teringat tatapan laki-laki itu saat pertama kali mendapatkanmu. Mereka berdua mesti melihat bagaimana tatapan mata itu berbinar kala itu.

“Dia begitu karena cinta sama aku. Kasihan dia,” katamu akhirnya.

“Kamu nggak kasihan sama Mama Papamu? Kami semua nggak mau kamu disakiti!” nada mereka kini mulai meninggi.

Kamu mulai gelisah dan menggigiti kuku. Kamu mendadak tak lagi mengenal kedua perempuan di depanmu. Mereka tak lagi memahamimu sama seperti kedua orangtuamu. Mereka masih terperangkap dalam kardus plastik di toko mainan. Sedangkan laki-laki itu telah mengeluarkanmu dari kotak kardus di pajangan. Membawamu ke dunia luar, mengambil semua rasa sakit, dan membuat hidupmu jauh lebih nyata. Dirimu dan laki-laki itu sama-sama memiliki luka di masa yang lampau. Luka yang hanya bisa dipahami kalian berdua, tidak dengan lainnya.

Sebelum kamu bertemu dengannya, hidupmu jauh lebih merana. Beberapa kali kau coba sayat tanganmu dengan pisau dapur. Tak ada yang betul-betul mengerti kamu. Juga dunia yang ditawarkan kedua orangtuamu terkesan kosong. Kaku. Seperti mesin. Juga sekeras batu. Lalu datang laki-laki itu menarikmu ke dunia baru. Dunia sesungguhnya, real, bukan imitasi. Dunia yang terasa gila sekaligus memabukkan. Dia memperlakukanmu dengan hati pun pengertian. Sejak itu tak lagi terlintas pisau dapur yang menggorok tanganmu. Dia memberimu warna. Kadang merah muda ketika kalian kasmaran. Biru saat kamu rindu. Abu-abu saat hujan, kelabu seperi sekarang. Tapi tak pernah hitam seperti yang dulu keluargamu lukiskan padamu.

“Kalau dia cinta kamu, dia nggak mungkin nyakitin kamu. Dia nggak mungkin mukul kamu sampai pingsan,” ujar sahabatmu kembali melembut.

“Kalian tak mengerti. Akulah favoritnya. Laki-laki hanya akan merusak sesuatu yang menjadi favoritnya,” katamu mulai melamun. Bukankah demikian? Bocah laki-laki hanya akan menyentuh dan seringkali tak sengaja merusak mainan favorit yang kerap dimainkannya.

Air matamu kembali mengalir. Disusul buliran keringat di kening. Kali ini membuat bedakmu luntur. Kedua temanmu terperangah dengan wajahmu yang tampak mengerikan. Kebiruan di bawah mata dan merah muda di sudut bibir. Kamu menyadari arti tatapan mereka.

“Aku akan memperbaiki diriku. Setelah aku memperbaiki diriku, dia akan merindukanku,” ujarmu setengah berbisik.

“Laki-laki itu sudah membuangmu!” kata sahabatmu jengkel.

“Setelah aku memperbaiki diriku lagi, dia akan merindukanku,” katamu ke sekian kali. “Sekarang kalian pulanglah!” ***


Titi Setiyoningsih, dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS). E-mail: [email protected]

Puisi

Puisi Aris Rahman Yusuf

Rumah Bambu

Saat membersihkan rumah

terlintas olehku

tentang sebuah ingatan

rumah bambu

berdinding kata mutiara

Di kamar tengah

aku pernah tenggelam

oleh banjir air mata

sebab sebuah kepulangan

Setelah kepulangan

bayangan lesap

kata-kata tergenggam erat

dan, ketika lepas

ia beraroma mawar

Mojokerto, 9 Agustus 2024


Meditasi

pejamkan mata

dari serpih duka

terserak

tutup telinga

dari bising lisan

menekan iman

biarkan napas turun-naik

mengempas segala selidik

menarik tali cahaya

mengikat legam prasangka

Mojokerto, 3 September 2024


Filosofi Pelukan

Pada mulanya, cinta adalah gaib.

Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.

Pada mulanya, kita hanya sendirian.

Hingga akhirnya, tercipta pasangan.

Dari sebuah sepi,

tercipta rindu yang mengisi.

Sebuah peluk,

hadir dari lamun yang ramai

mengusik damai.

Sebab pelukan,

adalah obat manjur

menutup luka bakar.

Mojokerto, 14 September 2024


Masih Bisakah Aku Menulis

aku masih ingin menulis

namun kata-kata terasa habis

sajak-sajak terasa kikis

membuat hati seakan teriris

sajak-sajakku mungkin terbang

berkelana mencari sarang

hinggap pada sebuah kepala

yang merindukan nyala

sajak-sajakku mungkin kritis

sehingga sulit untuk ditulis

masih bisakah aku menulis?

ataukah menunggu hati kalis

Mojokerto, 14 September 2024


Hadiah Puisi

akhirnya kita memilih

untuk saling berpegangan

setelah badai mengguncang

tubuh kapal dengan kenestapaan

kita pernah memilih

untuk saling menjauh

hingga jerih mulai berlabuh

kita saling mempersembahkan puisi

untuk kembali saling mengisi

meski masih ada mulut latah memprovokasi

mulut yang bilang itu basi

Mojokerto, 15 September 2024


Saat Makan Nasi

Ia makan nasi dengan wajah pasi

lidahnya pelan menelan duka

pikirannya hanya berperang

tanpa berani keluar dari sarang

Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil

hanya jerit mengisi ruang dada

ia tetap menghitung almanak

hingga jerit lepas satu-satu

Ia makan nasi dengan perlahan

Sambil menyembunyikan duka tertahan

Mojokerto, 30 September 2024


Sebuah Wajah

Sebuah wajah tergeletak di meja

wajah itu tertutup rahasia

mengajak mata menyelam

memetik tabir yang karam

Wajah itu bisa berubah warna

mencairkan suasana

menyalakan cinta

melenyapkan duka

bahkan menanam petaka

Wajah itu memancarkan cahaya

di alam baka

Mojokerto, 1 Oktober 2024


Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.

Cerpen

Sumbangan Awal Tahun

Cerpen Puput Sekar

“Baik, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, berarti Bapak dan Ibu di sini menyepakati keputusan barusan, ya. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk sumbangan awal tahun ini,” pungkas Murtado, Kepala Sekolah SD Negeri Kabutsari yang menjadi pimpinan rapat awal tahun di sekolah itu.

Murtado mesam-mesem semringah. Rapat kali itu tidak terkendala apa pun. Seperti biasa uang sumbangan akan mengalir lagi untuk pembangunan sekolah itu yang rencananya akan dipakai untuk pengadaan CCTV, perbaikan pagar, pembangunan aula, perbaikan lapangan basket. Dalam waktu tiga tahun menjabat di sekolah itu, ia telah banyak melakukan pembangunan yang berhasil dilaksanakan. Tentu saja ini akan menjadi hal baik bagi sekolah, juga bagi kelangsungan kariernya.

Sejak dulu kemampuannya dalam bernegosiasi dengan wali murid selalu berdampak positif. Jarang ada sanggahan atau keberatan mengenai program sekolah yang telah ia tetapkan. Semua berjalan lancar.

Sementara di bangku wali, Ali mendengar kasak-kusuk wali murid lainnya yang membuatnya ingin bergerak.

“Aku aja belum bayar LKS, uang kas kelas, eh ini udah diminta uang sumbangan,” bisik perempuan yang duduk di depannya kepada teman duduknya.

“Iya. Sekarang apa-apa mahal. Ditambah uang sumbangan. Katanya sumbangan, tapi kok dipatok nominal dan ada tenggat waktu maksimal pembayaran,” bisik yang lainnya.

“Gaji suamiku hanya dua juta rupiah. Dibagi-bagi buat macam-macam. Kalau awal tahun begini, ruwet urusan.”

Dan bisikan-bisikan itu semakin lama semakin berdengung seperti sekumpulan tawon. Bukan hanya mengganggu gendang telinga Ali, tetapi juga mengusik hati nuraninya. Sayangnya suara-suara dengung itu terdengar berbeda di depan kelas. Terlebih bagi pendengaran Murtado. Ia sama sekali tidak mempedulikan dengungan. Ia hanya mempedulikan fakta yang sampai pada penglihatannya bahwa sampai ia selesai memberikan penjelasan tidak ada satu pun dari mereka yang berdengung tidak setuju dengan keputusannya.

Dengung keberatan itu tidak pernah sampai ke telinga Pak Murtado. Justru sikap taat dan patuh pada keputusan pria paruh baya itu. Sejurus kemudian Ali tunjuk tangan. Ia merasa perlu menjadi jembatan kasak-kusuk yang ia dengar.

Wajah semringah Murtado seketika berubah mengernyit ketika seorang lelaki yang duduk di bangku belakang tunjuk tangan. Lelaki itu lalu berdiri. Tubuhnya kurus dan ringkih. Murtado menyambutnya dengan tersenyum, meski kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.

“Nama saya Ali, wali murid dari Adiba.” Dengan suara serak lelaki itu memperkenalkan diri.

Ternyata bukan saja tubuh ringkihnya yang kurang sedap dipandang mata, suaranya juga mengganggu pendengaran. Di tenggorokannya seperti penuh dengan dahak yang mengumpul, dan itu terdengar menjijikan bagi peserta rapat lainnya.

Murtado mulai mengerti situasi. Ya, setiap tahun pasti ada saja wali murid yang keberatan dengan uang sumbangan yang menurutnya sangat kecil, dan memang kecil jika dibandingkan sekolah sekolah negeri lainnya. Murtado merasa telah berhitung dengan cermat mengenai rencana anggaran biaya yang telah ia keluarkan. Ia mengerti dengan kondisi perekonomian mereka yang empot-empotan. Maka ia menetapkan nominal yang kecil. Barangkali jika ada orang tua seperti Ali yang mengajukan keberatan, ia cukup maklum. “Silakan, Pak Ali,” ujar Murtado ramah.

“Saya keberatan. Terus terang saya menyekolahkan anak saya di sekolah negeri karena yang saya tahu tidak ada pungutan apa pun. Sebab memang sekolah negeri dibuat minim biaya agar orang tidak mampu seperti kami tetap bisa merasakan pendidikan. Bukan begitu, Pak?”

“Benar, Pak Ali.”

“Nah jika begitu, mengapa Bapak menetapkan patokan biaya kepada kami siswa kelas satu? Bahkan Bapak mengatakan mematok hal serupa kepada setiap kelas setiap tahunnya. Berarti sama saja dengan daftar ulang. Maaf, ini sumbangan atau iuran wajib, Pak?”

“Sumbangan, Pak. Sumbangan biaya pembangunan.”

“Kok jadi rancu kedengarannya, ya, Pak. Sumbangan tetapi diwajibkan. Kenapa Bapak tidak menetapkan saja sebagai iuran wajib? Jika iuran wajib seperti itu kan enak, Pak. Saya bisa melaporkan kepada dinas terkait bahwa ada pungutan liar di sekolah ini.”

Wajah Pak Murtado memerah. Ia tidak menyangka kalimat menusuk itu keluar dari lelaki kerempeng seperti Ali. Tetapi ia harus tetap tersenyum. Senyum itu sudah puluhan tahun ia latih, terutama pada situasi genting dan memuakkan seperti ini.

“Saya bisa jelaskan, Pak Ali?”

Ali mengangguk, meski wajahnya mengeras. Sebenarnya sudah sedari tadi ia tahan pernyataan keberatannya. Sebenarnya jika dikatakan keberatan, tidak juga. Ia masih mampu membayar besaran uang lima ratus ribu rupiah itu.

“Begini, Pak,” lanjut Murtado, “Uang limaratus ribu rupiah itu barangkali berat bagi bapak, tetapi itu bukan buat saya. Itu untuk kepentingan sekolah, sebab pemerintah saat itu sudah tidak lagi menurunkan uang untuk pengembangan sekolah. Maka kami berinisiatiaf untuk melakukan swadaya antara pihak sekolah dan wali murid. Hal ini dibolehkan, Pak, selama ada kesepakatan dengan wali murid.”

“Kalau saya tidak sepakat, Pak?”

Murtado masih menjaga senyumnya, juga berusaha mengelola emosinya dengan baik, meski ia akui bahwa perasaannya teracak-acak oleh Ali.

“Silakan, Pak. Jika tidak sepakat, Bapak bisa ke ruangan saya. Kita bicarakan secara personal. Semua bisa dikomunikasikan. Nanti saya akan berikan keringanan untuk Bapak.”

“Tapi saya tidak mau ke ruangan, Bapak. Ini bukan masalah keringanan. Saya tidak mau mengemis untuk itu. Saya ingin hak saya sebagai wali murid.”

‘Asyem!’ Murtado mengumpat dalam hati. Ia mulai jengkel. “Maaf, hak yang seperti apa maksud, Pak Ali?”

“Tadi Bapak bilang pemerintah membolehkan menarik pungutan, asal berdasarkan kesepakatan dengan wali murid. Nah, saya kan bagian dari wali murid, Pak. Saya tidak sepakat!”

“Sekali lagi, Pak, Anda bisa mengajukan keringanan di ruangan saya.”

“Tapi saya tegaskan lagi, saya tidak mau mengemis seperti itu.”

Murtado menarik napas. Seketika ruangan mulai riuh. Dengungan itu terdengar lagi seperti tawon. Wali murid yang lain diberikan suguhan tontonan drama yang tidak kalah menariknya dari drama politik pemilihan kepala daerah belakangan ini.

“Pak Ali, sekali lagi saya jelaskan; uang itu bukan untuk saya, tetapi untuk pengembangan sekolah. Bapak bisa cek di beberapa sekolah negeri di dekat sini. Semua telah menjadi hal lumrah, Pak. Apa Bapak tidak ingin sekolah anak kita ini menjadi sekolah yang maju. Saya hanya berperan sebagai fasilitator.”

“Berarti ini sama saja dengan pungutan liar kan, Pak?”

“Lho kok pungutan liar? Kalau pungutan liar, Bapak dan Ibu wali murid tidak saya kumpulkan di sini. Kita berkumpul di sini untuk musyawarah.”

“Musyawarah atau mendengarkan keputusan Bapak? Musyawarah atau terpaksa menuruti keinginan pihak sekolah?”

Darah Murtado sudah sampai di ubun-ubun. Tetapi ia berusaha sekuat tenaga menjaga sikapnya. Ia sadar, zaman ini adalah zaman viral. Ponsel di mana-mana, mana tahu ada yang diam-diam merekam perselisihannya dengan wali murid.

“Sekarang begini saja, Pak. Saya kembalikan kepada Bapak Ibu wali murid di sini.” Murtado lalu beralih kepada wali murid yang lain. Wali murid yang tengah terkesima dengan peristiwa menakjubkan barusan.

“Bapak dan Ibu, mohon maaf, sekarang yang mengajukan keberatan seperti Pak Ali, silakan tunjuk tangan,” ucap Murtado dengan suara penuh penekanan.

Murtado memandangi wali murid satu per satu. Mereka semua diam. Tidak ada yang menunjuk tangan kecuali Ali. Hal itu telah cukup bagi Murtado untuk memberikan jawaban pamungkas kepada Ali.

“Pak Ali, mohon maaf. Sudah lihat, kan? Semuanya diam. Artinya Bapak dan Ibu semua setuju, ya?”

“Setuju!” jawab mereka serempak. Seperti sebuah alunan koor yang bersatu padu. Menciptakan nada harmonis pada pendengaran Murtado. Sebaliknya, bagi Ali, suara itu terdengar seperti suara para pasukan pengkhianat. Rahang Ali mengeras. Ia tahu, ia sedang dilucuti oleh orang yang sedang ia bela.

“Nah, Pak Ali. Jelas, ya. Semuanya sudah setuju. Jadi kalau Bapak tidak setuju, silakan ke ruangan saya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Saya tidak pernah ada maksud memberikan pungutan liar. Pungutan ini murni atas kesepakatan wali murid lainnya,” terang Murtado dengan tenang. Senyumnya mengembang, senyum kemenangan.

‘Jancuk!’umpat Ali dalam hati. Matanya memandang seluruh ruangan kelas.

Lagi-lagi terdengar suara berdengung tertuju kepada Ali. Dengan gusar Ali meninggalkan ruangan. Meninggalkan sorot mata menyala kepada Murtado dan semua wali murid di ruangan itu.

Murtado masih berusaha tersenyum, meski keringat sudah membasahi punggungnya. Ia lalu menutup rapat kali itu dengan mengucapkan syukur.

“Tenang, Pak, saya punya video lengkapnya. Kalau sampai orang itu nekat membuat keributan di luar, kita bisa counter  dengan video ini. Apalagi tadi Bapak tetap tenang menghadapinya,” bisik Pak Bandri-wakilnya.

Murtado mengangguk-angguk lega. Lalu melempar senyum kepada semua peserta rapat.

Sementara dari bangku siswa, suara-suara itu terdengar lagi. Suara dari orang yang didengar Ali. Orang-orang yang itu-itu lagi.

“Hidup lagi susah, malah cari masalah. Padahal solusinya jelas, kalau keberatan tinggal minta keringanan di ruang kepala sekolah. Gitu aja kok repot!”

“Udah miskin, sok enggak mau ngemis!”

“Yah, namanya juga menuntut ilmu. Pungutan uang untuk fasilitas itu wajar. Kalau sekolah bagus, yang untung kan anak dia juga. Kok malah marah-marah enggak jelas.”

“Setiap liburan bisa jalan-jalan, kulineran, ngajak anak berenang. Giliran disuruh sumbangan alot! Pakai muter-muter omongannya!”


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Puisi

Puisi M.Z. Billal

BELAJAR MEMASAK

 

ia melihatmu tersenyum lagi. usai perdebatan panjang dan kau

menangis. malam itu. rasanya seperti matahari terbit dari dadanya

sendiri dan ia ingin sedikit memperlambat gerak waktu. agar malam

tidak lekas datang seperti mata dan bisik orang-orang yang tidak

berhenti mengintai dan mencecar, bagaimana perasaanmu dan ia bekerja

ketika memutuskan untuk saling memasuki tubuh dan kehidupan,

sementara kau tahu betul bahwa kau, baru saja diminta untuk mencintai

orang lain yang bukan ia; kedua orang tuamu berkata demikian.

kau lantas mengatakan lagi padanya meski ia sudah tahu.

aku ikan yang lupa cara naik ke permukaan dan kau sulur cahaya

yang jatuh lurus di palung gelap dada

 

dan ia menemukanmu sedang sibuk belajar memasak pagi-pagi sekali.

meneliti bahan-bahan di buku resep berulang kali seolah

kau ingin menerjemahkan sendiri Yale Cullinary Tablets dari Mesopotamia.

jamuan lezat untuk orang terkasih, katamu. semur sepasang merpati

ditemani dua gelas anggur putih barangkali hidangan yang indah untuk mengisahkan

bagaimana sebenarnya cinta bisa saling melahap satu sama lain. setidaknya

menyantap kesedihan dan kekecewaan yang kerap ia dan kau terima belakangan ini.

 

ini menakjubkan! aku seperti dicumbu tapi tidak oleh bibir dan dengus napasmu.

ia tidak tahan untuk tidak memujimu. barangkali ia pun ingin segera memainkan

lakon; pengunjung rumah makan yang jatuh hati pada juru masak Babilonia kuno.

kemungkinan besar ia akan bercinta denganmu di dapur rahasia itu.

pasti kau akan sangat bahagia bukankah? tentu saja. bahagia yang tidak terucap oleh suara

dan tak mampu tertulis dalam kata. sebab kau tahu bahwa selepas makan malam ini

kisah kalian berdua akan menjadi cerita yang paling banyak

diperbincangkan dan ditulis berulang kali. terutama kedua

orang tuamu, yang terus memaksa kapan kau melamar orang pilihannya

tapi bukan ia. bukan orang yang kau ajak untuk mati bersama usai menyantap

hidangan penutup mata dari panduan

memasak menu khusus untuk memisahkan raga sepasang pecinta; tapi tidak jiwanya.

 

terakhir ia membisikimu;

aku baru tahu rasa rosary pea dicampur benzodiazepine seperti ini.

 

dan kalian tiada. atas nama cinta.

 

2023


RANTAI MAKANAN

#1

adalah rantai makanan di hutan hujan tropis. Cinta itu.

diburu dan memburu. sebagian berlari kencang, yang lain bersembunyi.

Hidup karena cinta. Mati pun karenanya pula. antara rela dan terpaksa mengikhlaskan.

seperti rusa sambar kehilangan tanah kelahiran. berkali-kali takut, berseru-seru.

bahkan menyamar jadi kerbau peliharaan lelaki tua patah hati. bertahun-tahun

lamanya tidak makan. selepas kekasihnya memilih lelaki lain yang wajahnya lebih tampan.

hanya karena tampan. bukan karena perangai rupawan.

 

#2

dan ia ular jantan yang memangsamu sebab cinta adalah garis takdir.

demikian alasannya. datang kepadamu pada hari rabu kelabu. mengasihimu

sebagai anak babi jantan tersesat; ia coba meredakan

ketakutanmu dari perburuan beruang cokelat. selepas hujan

dan memberimu apel merah hutan. kau bilang, ibu tak akan pernah datang,

sudah tertulis di lauhul jenggala. lalu kau mati. menyerahkan diri atas nama cinta

yang mati rasa. dan ketika ular jantan itu baru saja melahap bagian terakhir tubuhmu.

ia juga mati. ditembak. peluru panas pemburu yang tergila-gila pada daging

ular sawah jantan.

 

#3

di meja makan malam. pukul tujuh lebih sepuluh. di hadapan sup kentang

dan mujair goreng. sebagai manusia yang ingin bebas. kau mengakui

kepada ayah-ibumu yang penuh cinta. bahwa kau sangat menyukai menu

makan malam kali ini. tapi kau juga menyukai lelaki berambut ikal

yang pekan lalu kau ajak singgah di beranda. kau mencintai ia.

demikian katamu. ibumu nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

sementara ayahmu bersikap tenang. ia berkaca-kaca. barangkali dadanya yang lebur.

bagaimana mungkin putra kesayangannya mencintai pria lain? juga. sebab ia

sudah berusaha melepas masa lalu. ketika memutuskan perempuan di hadapanmu

menjadi ibu. menjadi pendamping hidupnya.

 

2023


SUSU

 

ia meletakkan segelas susu hangat di meja dan meraih gagang telepon untuk berbicara kepadamu. pemuda itu ingin bebas tanpa harus ketakutan memeluk dirinya sendiri. namun ia tidak pula ingin membenci susu hangat lezat buatan ibunya. kadang ia ingin menjelma jadi botol-botol wiski yang keparat tapi bebas di malam tahun baru.

 

kau menelepon dari mana? ia menjawab dengan suara rapuh. Minnesota, aku membacamu di koran dan kurasa aku ingin bunuh diri.

 

kau membakar penindasan itu. dari Eureka Valley. suaramu bergemuruh tapi syahdu. menyusup dengan berani hingga ke gang-gang sempit di luar San Francisco. aku tahu kalian marah, aku juga marah. dan kita tak akan lagi duduk bersembunyi di kloset.

 

dan Hillsborough dari Mission Disctrict yang ditikam lima belas kali itu adalah bukti seruan licik dan brutal penuh kebencian, kefanatikan, ketidaktahuan, intimidasi, dan prasangka yang sialan. jangan pernah dilupakan! demikian katamu berorasi.

 

lagi dan lagi dan lagi, kau melemparkan kembang api harapan ke udara. memasuki kantor pemerintahan sebagai pemenang dan berseru-seru tanpa lelah. menekankan kebenaran akan keberadaan dan persamaan hak yang sejak lama ditindas. orang berhak punya cinta, orang tak bisa dipaksa memilih, orang tak bisa terus bersembunyi!

 

tapi pada akhirnya inilah bagian yang paling ia tak suka. ia menghubungimu lagi dengan perasaan lebih baik. pemuda rapuh dari Minnesota itu. ia masih suka susu. dan mengagumimu seperti segelas susu. namun ia sangat berduka, betul-betul berduka. bahkan jelas bukan hanya ia yang berduka. tatkala mendapati kabar orang-orang akan mengantar tidurmu yang malang dalam keheningan nyala lilin di sepanjang jalan Castro menuju City Hall. orang-orang yang sebetulnya menggulung badai kemarahan di dada mereka yang berdarah. seperti tubuh dan rasa sakitmu.

 

“if a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door”

namaku Harvey Milk. aku di sini untuk merekrutmu!


RUMPUT YANG BERNYANYI

 

O beloved moon, fear not the dawn that separates us.

For we will meet again, when the world goes to sleep

_Ramchandra Siras_

 

 

puisi yang pedih adalah cinta yang dihakimi

seperti rumput yang memang layak mati ketika pikiranmu dipenuhi sugesti: itu harus mati.

 

dan rumput-rumput di Aligarh selalu bernyanyi:

cinta tak pernah keji. cinta adalah puisi yang jernih. cinta adalah aku;

kata-kata yang merangkul kaki Ramchandra ketika

Paya Khalci Hirawal*) menjejak seolah cinta benar-benar memiliki sepasang kaki.

berlari ke lembah, menyaksikan bunga-bunga mekar dan bersyukur pada hari-hari perayaan.

 

ia tak pernah mati, meski ia sudah tiada.

tapi pernahkah kau merasakan lubang kesepian ini semakin menganga?

mengisap seperti mesin penyedot debu yang besar sekali

bahkan juga bisa membunuhmu, memadamkan seluruh siaran kebencian

televisi dan koran lokal, dan meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan Uttar Pradesh.

 

In the light of day, I am unseen.

It is in your light, my hearts awakens

 

cinta melahap kesedihannya. cinta menyembuhkan luka

batinnya. cinta merobek lembar 377**) . cinta menjelma angin

yang memasuki jendela kamarnya. cinta menidurkannya

meski kematiannya tak pernah seadil cinta itu sendiri.

dan cinta membiarkan rumput-rumput di Aligarh terus bernyanyi:

Ramchandra sudah pergi, tapi aku masih tumbuh di sini. puisi-puisi selalu bersemi.

jangan pernah takut terpisahkan, karena kita akan bertemu lagi.

2023


HIDUP SEBAGAI PUISI

 

ketika kau memutuskan untuk jadi pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang

menghabiskan waktunya untuk bertikai dengan ragam dan kelas kata. kau sepenuhnya

 

akan hidup sebagai puisi. metafora adalah pakaianmu. dan kau akan benar-benar

ahli dalam berbohong tapi juga jujur untuk mengatakan kebohongan. bahkan hingga

 

berjilid-jilid manuskripmu, kau akan seperti cacing tanah, yang mengurai potongan-

potongan cerita di dalam tanah. hanya untuk menyuburkan pohon kenangan milik

 

orang lain. ya, menjadi pesyair juga umpama kau adalah pejabat pemerintah yang suka

sekali mengurai kata-kata indah agar orang-orang terbuai dan kembali masuk jerat

 

hasratmu sementara kau terus hidup sebagai puisi. puisi-puisi yang memabukkan.

puisi-puisi yang bertabur cinta. sebab menjadi pesyair sendiri juga merupakan

 

jebakan. kau akan terperangkap oleh perasaanmu sendiri. kesepianmu, kesedihanmu,

amarahmu, bahkan rasa rindumu adalah jenis-jenis makanan yang hanya bisa membuatmu

 

kuat untuk bertahan sebagai pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang merelakan

sendiri dirinya untuk terluka, melukai, mencintai, dicintai, membunuh, atau terbunuh.

 

2022


NE M’OUBLIE MIE

 

ia mulai gelisah dari tempat yang sembunyi lagi sangat rendah, tapi Dia tahu ia berada di sana. meskipun tak terlihat. semua sedang gembira, ia belum. mereka saling berkenalan dan memuji, ia masih menanti. kebun yang semula sunyi dan kelam kini sudah indah. berbagai warna memancar sampai ke langit. sementara ia masih setia menunggu-Nya memanggil. apakah Dia lupa? tentu tidak. tolong jangan lupakan aku, tolong jangan lupakan aku. ia berseru-seru di antara bising kebahagiaan yang lain.

tidak. tidak mungkin Aku melupakanmu. Aku mengatur dan mengingat segalanya. nama itu untukmu. “Jangan Lupakan Aku”. Dia tersenyum kepadanya. agar semua ingat kepadanya. meskipun Dia tahu ia berbeda, Dia juga tahu ia beriman.

 

2023


SELAMAT PAGI AKU

 

selamat pagi aku

bagaimana kabarmu hari ini?

 

di gerbang yang ke sekian ribu

pagi. kulihat diriku yang lalu

di mana-mana. menjadi ruh apa saja.

menjadi cinta yang ditunggu-tunggu

seolah aku selalu hidup sebagai

bulan kasih sayang. juga menjadi

akar pohon rasa lelah

yang membelit liar seluruh

dada yang dewasa

meski kerindanganku selalu tampak

baik-baik saja. aku menyaksikan

segala yang terpotret dan tersimpan

di kepala. sementara sisa yang lain

menjadi abu tanda

tanya sebelum aku

menggapai daun jendela

 

dan hari ini aku masih terlahir

lagi sebagai orang baru dengan tubuh

dan luka dan harapan yang sama.

aku melangkah memasuki hari ini.

waktu yang pendek untuk rasa ingin

yang panjang. sementara di tanganku

memegang jaring nelayan. entah apa

yang harus kulakukan

dengan ini. ikan tidak berenang

di permukiman warga, di ruang kerja

atau di jalan yang sibuk,

bukankah? ya. aku terus saja melangkah.

berusaha dan bertanya-tanya.

 

halo aku. ternyata sudah sore saja

bagaimana kabarmu hari ini?

pulanglah. kembali lagi esok.

akan kutulis lagi sepucuk

surat pendek seperti biasanya.

bacalah sebelum mengunjungi

gerbang ke sekian ribu pagi itu.

2023


KEPADA SESUATU DI SURAKARTA

 

kehampaan ini membentang sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

 

aku menghabiskan waktu

di balik layar komputer, menikam

huruf-huruf dan angka-angka seperti

perburuan bintang jatuh di langit selatan.

sementara kau masih menjadi kopi

dan dinding hijau alpukat yang selalu

kuiimpikan sebagai portal

memasuki duniamu.

 

kau adalah ganymede yang membuat

zeus tak ingin jauh-jauh darimu.

hingga aku pun menjadi ia yang betul-betul

tak  mampu lagi menahan diri untuk

tidak memasuki  tubuhmu

menanam pohon  jambu mawar  dan anggur

di sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

yang hampa dan tidak ada

siapa-siapa kecuali

cintaku dan aku.

 

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.

Cerpen

Anomali

Cerpen Indarka P.P.

Suatu masa pasca-425 hari kelahiran, di sebuah kamar yang dindingnya tertempel poster dunia binatang—yang langit-langitnya terhias bola-bola berputaran; di atas pintunya terpasang seikat padi dan selembar daun dringu; lantainya terbalut karpet busa tipis; mejanya bergeletak empeng dan lipatan jarik; di stopkontaknya tertancap seutas kabel kipas angin; dan ranjangnya berseprai motif bunga tulip—terlentang seorang bayi berkupluk dan berkaus kaki yang dilindungi kelambu mangkuk raksasa.

Bayi tersebut tidaklah diam. Telapak tangannya bergerak mengepal-ngepal, lalu terbuka, lalu mengepal kembali, dan terus seperti itu sepanjang kipas angin memusing-musingkan kepala. Kedua bola mata bayi yang seukuran kelereng mini, berpendar tersorot cahaya lampu di atasnya. Ia anteng ditinggal Ibu yang dua belas menit lalu merasa sukses meninabobokannya, yang kemudian keluar kamar menuju toilet untuk menuntaskan bilas terakhir cucian terjeda.

Pembaca yang Budiman, sesungguhnya bukan karena kepiawaian Ibu tersebut si bayi bisa seanteng itu. Adapun yang membikin si bayi tidak rewel tiada lain tiada bukan adalah ragam hiburan yang berasal dari poster dinding kamar. Kalian lihat, bayi itu acap berseringai mungil lantaran ulah mahkluk-mahkluk poster dunia binatang. Dua biji gigi susunya pun kentara bagai biji mentimun tiap kali mengulum senyum.

***

Ayam mewanti-wanti Bebek supaya menahan diri menertawakan Macan Tutul. Ia khawatir kalau-kalau di waktu mendatang Bebek akan beroleh karma. Tapi Bebek tetap tak hirau dengan peringatan itu. Tawanya terus saja menguar ketika melihat air liur Macan Tutul menderas bercucuran meratapi bayang-bayang memangsa Rusa.

“Lihatlah,” kata Bebek, “menjilat duri-duri Landak di sebelahnya saja dia tak mampu. Wkwkwk!” Bebek tambah meledek.

“Kematian memang pasti, Bek. Tapi diterkam Macan Tutul tentu bukan kematian yang baik bagimu,” ucap Ayam sambil membentangkan kedua sayapnya.

Macan Tutul tidak sepenuhnya bergeming. Ejekan-ejekan Bebek kerap ia balas dengan beberapa ancaman tak main-main. Kali ini, sambil berputar-putar di tempat dan mengasah-asah cakarnya, ia mengucap sumpah: kelak jika ia terbebas, maka paha Bebek-lah yang akan pertama kali dijamah oleh taring-taringnya.

Lain Macan Tutul, nasib mujur justru baru-baru dialami Kucing. Binatang rumahan itu sekarang tengah khusyuk mendengkur usai menyantap Tikus yang kebetulan sekali bertempat persis di sebelahnya—entah pertimbangan apa posisi mereka didekatkan. Penantian yang tidak sia-sia, gumam Kucing dalam mimpi indahnya.

Sudah berbulan-bulan ia menanti Tikus bertambah usia, yang berarti bertambah pulalah ukuran tubuh Tikus itu. Pagi tadi, sesaat Tikus lengah terlelap, dengan gesit Kucing mengigit separuh dari total panjang ekor Tikus, lantas menarik-narik dan mencabiknya secara paksa, tentu saja. Sungguh beringas aksi Kucing dalam memenuhi rasa naluriahnya dengan melibas segala daya upaya perlawanan Tikus. Tenaga Kucing itu kelewat kuat karena ditopang lapar. Dalam kasus ini, jelas sekali bahwa Kucing lebih bernas daripada Macan Tutul.

***

Di seberang kota, mata Ayah merona merah saga. Jalannya gontai, langkahnya ditopang tangan; merambati tembok sepanjang lorong sempit. Tiada yang tahu apakah Ayah masih mengingat baik alamat rumah yang sudah ia tinggal sejak tujuh bulan lalu.

Dahulu, ketika pertama kali mengutarakan niatnya ingin pergi ke kota, ia yakin kalau bekerja di perantauan adalah satu-satunya jalan supaya terlepas dari runyam ekonomi yang selama ini melilit keluarganya. Namun kota tak selalu menepati janji seperti yang diyakini banyak orang. Jangankan bertabur rampai-rampai uang, keperluan biaya persalinan istrinya saja tak sanggup Ayah penuhi. Antara malu, kecewa, ataupun bebal, apa yang terjadi sekarang adalah seperti yang Pembaca Budiman lihat: Ayah telah kehilangan akal pikir yang sehat.

Entah Ayah sadari atau tidak, titimangsa pun berangsur melaju. Di suatu tempat di mana Ayah meninggalkan permata paling berharga, buah kandungnya sudah bertumbuh. Sudah berkembang. Hari demi hari.

***

“Ini bukan yang pertama lho Bu. Dua hari lalu mata Pak Doni nyaris ditusuk pensil saat mencoba mengajari anak itu menulis latin.”

“Kata Pak Umam dan Pak Ragil kok baik-baik saja, ya?”

“Maaf seribu maaf, Bu Kepala. Terus terang, menurut saya Pak Umam itu orangnya memang kurang peka. Makanya beliau mungkin menganggap Yusuf masih baik-baik saja. Nah, kalau Pak Ragil, ehm, ya, Bu Kepala tahu sendiri gimana dia…”

Kepala Sekolah menghela napas, lalu menanggalkan kaca matanya. “Ya sudah, buatkan undangan untuk orangtuanya. Besok biar saya yang bicara,” pintanya.

Esoknya, Ibu Yusuf datang memenuhi panggilan. Kepala Sekolah lantas membicarakan terkait keganjilan perilaku Yusuf yang meresahkan itu. Kepala Sekolah bertanya apa yang terjadi pada diri Yusuf. Ibu Yusuf pun lugas menjawab kalau ia tidak pernah melihat hal aneh pada diri anaknya selama ini.

“Pak Hamid hampir tidak mau lagi mengajar kelas satu gara-gara Nak Yusuf pernah beberapa kali menjilati tangannya,” terang Kepala Sekolah. “Pak Natsir juga kehabisan akal menghadapi Nak Yusuf. Ia satu-satunya murid yang menolak menghafal Pancasila. Dan baru-baru ini, anak Ibu hampir meruncingi mata Pak Doni menggunakan mata pensil miliknya.”

“Nak Yusuf sering bertingkah aneh setiap kali diajar para guru, Bu,” kata Kepala Sekolah lagi. “Sebagai pimpinan, sejujurnya saya sudah sangat pusing mendengar keluhan-keluhan mereka.”

“Mohon maaf, Bu, tapi…”

“Oh, saya ingat, kecuali dua guru,” Kepala Sekolah memotong. “Pak Umam dan Pak Ragil justru bilang kalau Nak Yusuf ini cukup santun dan tidak pernah sekalipun bikin masalah. Tapi apa boleh buat, Bu, yang merasa terganggu jumlahnya lebih banyak daripada mereka berdua.”

Obrolan berlangsung cukup lama. Entah bagaimana persisnya Ibu Yusuf sampai menceritakan keadaan keluarganya. Kepala Sekolah bertanya di mana Ayah Yusuf sekarang. Ibu Yusuf menjawab apa adanya. Suaminya tak pernah pulang sejak usia kandungannya menginjak bulan ke tujuh. Tentang bagaimana nasib ataupun keberadaannya saat ini, ia juga tidak tahu-menahu.

“Apa Nak Yusuf tidak pernah bertanya tentang ayahnya?” telisik Kepala Sekolah, terdengar klise tapi ia sangat penasaran.

“Pernah. Namun sayangnya pertanyaan itu dilontarkan bukan pada saya, Bu, melainkan pada neneknya. Dan neneknya enteng saja menjawab kalau ayahnya mati dimakan kucing kota.”

Kepala Sekolah manggut-manggut belaka. Ia bingung menangkap apa yang disayangkan Ibu Yusuf perihal pertanyaan anaknya kepada sang nenek. Bagi Kepala Sekolah, penjelasan tersebut tak menggambarkan secara terang benderang tentang perilaku Yusuf. Satu hal yang memang sejak kemarin terbayang di pikiran Kepala Sekolah itu adalah memindahkan Yusuf ke sekolah luar biasa.

Ehm… Begini, Bu,” Kepala Sekolah mengambil ancang-ancang, “kata Pak Umam, Nak Yusuf ini cerdas sekali berhitung. Kemampuan matematiknya di atas rata-rata murid lain. Oya, ngomong-ngomong soal kucing. Ternyata anak Ibu juga pandai menggambar, lho. Pak Ragil, guru seni budaya kami, sampai-sampai menunjukkan gambar seekor kucing hasil karya Nak Yusuf kepada saya. Bahkan beliau menyarankan supaya Nak Yusuf-lah yang maju mewakili sekolah apabila suatu saat ada lomba menggambar. Pokoknya, untuk ukuran anak seusianya, saya berani ngasih dua jempol untuk Nak Yusuf!”

Bagai gayung yang tiada bersambut, serangkaian cerita hiperbolis Kepala Sekolah tak berbanding lurus dengan tanggapan positif Ibu Yusuf. Malah sekarang pandangannya terlihat kosong, entah takjub, entah bingung.

Sadar tidak memperoleh respons apa pun, Kepala Sekolah lantas melanjutkan perkataannya. “Jadi, Bu…” tangan Kepala Sekolah perlahan memegangi tangan Ibu Yusuf di atas meja—barangkali semacam siasat untuk mengelabuhi emosional. “Keistimewaan anak Ibu yang saya ceritakan barusan adalah modal besar baginya untuk bisa belajar di tempat lain, tentu saja tempat yang lebih bersahabat bagi diri Nak Yusuf. Jadi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Di tempat lain? Maksud Ibu sekolah lain?” tanya Ibu Yusuf, ia mengernyit dalam sepersekian detik.

“Betul. Tenang. Tenang saja, Bu. Kami berjanji akan memfasilitasi dengan baik proses perpindahan Nak Yusuf.”

Dan bisu sama-sama merasuki kedua perempuan itu. Kepala Sekolah dibuat pongah saat menangkap pandangan lawan bicaranya. Di saat bersamaan, sesungguhnya Ibu Yusuf juga tak kalah pongah ketika mendengar keputusan Kepala Sekolah itu.

Detik-detik pada jam dinding ruangan itu mengambil peran utama untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tergilas kembali oleh situasi yang lebih mengejutkan. Seorang guru tiba-tiba masuk ruangan dengan napas tersengal-sengal. Ibu Yusuf terperanjat, Kepala Sekolah terperangah, lalu ia lekas bertanya, “Ada apa?”.

“Pak Ragil, Bu!” seru guru itu.

Mereka buru-buru menuju pusat kegaduhan. Di ruang kelas satu, murid-murid bersorak-sorai melihat Pak Ragil menggendong Yusuf di balik punggungnya, dengan posisi mengunci kedua kaki Yusuf di kolong lengannya. Guru dan murid itu seakan jatuh tenggelam ke sebuah alunan semarai yang tercipta dari mulut murid-murid lain. Pak Ragil berlagak bagai pendaki gunung dengan beban di punggung, mencapai puncak fantasi yang kian tinggi. Sedang Yusuf, bocah yang digendong Pak Ragil itu, memamerkan selembar kertas bergambar binatang rupa-rupa. Seringai senyum dari guru dan murid itu maujud lengkung terbalik sebuah pelangi. Indah, barangkali.

Sementara di ambang pintu kelas, Kepala Sekolah dan Ibu Yusuf hanyalah patung yang tak berarti. Para guru yang geli saling mererak-rerak, berebut intip lewat kaca jendela. Besar kemungkinan dalam hitungan hari, sekolah tersebut akan mengalami penurunan jumlah guru, atau jumlah murid, atau malah jumlah keduanya.***


Indarka P.P., lahir di Wonogiri. Anggota Komunitas Kamar Kata.

Puisi

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Satu Warna

 

/Nona/

 

Pada tungku yang menyayang yin dan yang

aku duduk di sudut sambil mengaduk warna hitam saja.

Aku memangku kisah cinta kita seperti

dua telapak tangan melindungi lilin perawan.

 

Aku menatap diriku pada rumah ibadah

dan membiarkannya terbakar sepenuhnya.

Aku bilang, kita tak mungkin bercinta di sana.

Di sana keluargaku bercampur pada tungku yin dan yang.

 

Langkah gontai di tengah buruan kecewa dan malu

membawaku kembali pada lembut suara dan harum rambutmu.

Lidah kelu yang tadi tak bisa bertingkah dan menyangkal kini

cekatan mengkaji setiap bagian tubuhmu dengan napas memburu

dengan bantuan jari jemari karena itu saja yang aku punya.

 

Mengaduk rasa yang sama: saliva kita

membuka kelopak bunga yang sama—tak kautemukan

muntahan busuk itu, kita hanya menangis.

 

/Dara/

 

Tak perlu kautanggalkan mahkotamu itu

sebab kau harus tetap menjadi ratu.

Jangan kau pergi meninggalkan ibu kota dan

menjelajah dunia untuk menjadi bapak-bapak pendiri.

 

Lalu akan melanglang buana diriku dalam lika-liku indramu:

akan kusamarkan cita rasa kaki Adam

yang selama ini menjejaki Puncak Sri Pada hatimu;

akan lekat hatimu bermandikan pasir rusuh

dalam kecemburuan Hawa di daratan Arab.

 

Bersatu padu dalam jalinan kasih yang samar,

selama bulan masih bersinar, kita harus

sembunyi dengan benar, dan jangan sampai

matahari mengolok kita penuh sinar.

 

Rambut kita berkelindan dengan kerlingan bara api

dan dari tangis serta elegi kita akan kembali

kepada tungku yang memanggang yin dan yang

dan mencelupkan jiwa kita ke sana: jurang hitam legam.

 

Sampai lilin kita yang perawan padam,

janganlah engkau berhenti mengaduk, Sayang.

 


Diskursus Emosi

 

Sangkakala berbunyi di ujung malam

mengguncang orang-orang yang beriman.

Mereka yang teguh kembali runtuh

meski telah matang dalam persiapan.

 

Di tengah dimensi emosi yang gagap

mimpi buruk hinggap di antarmasa gelap.

Dan pagi tiba. Ia membuka mata.

Mimpi indahnya lenyap begitu saja.

 

Ia tak ingin kembali pada hari lalu yang gelap,

tetapi pagi memaksanya melanjutkan pemaknaan.

Ia menjawab pertanyaan dengan asal-asalan

lalu pulang dengan tegap menawan.

 

Ia melihat kanan dan kiri,

ladang bunga berwarna-warni.

Sementara dirinya adalah gurun pasir,

tersesat mencari sumber mata air.

 

Di matanya ia temukan oasis,

ia mandi di sana sepuasnya.

 


Menyetubuhi Kata

 

Aku memetik helai rambutmu,

merajutnya menjadi metafora.

 

Aku memangkas mimpi-mimpimu,

lelap mereka bermakna ganda.

 

Aku menambang lubang hidungmu,

konjungsi melenggang bebas

bersama tanda baca mewujud kalimat.

 

Aku memoles bola matamu,

memastikan setiap pembaca berkaca-kaca.

 

Aku menjadikan pangkuanmu perpustakaanku,

pahamu tempatku mengeja rindu.

 

Aku menggigit daun telingamu,

mengimitasi suara agar lidahku serbaguna.

 

Aku meludah di telapak tanganmu,

mencongkel air yang berkerak di garis-garis idenya.

 

Aku mencabik buah dadamu,

merasakan haru merasuk, lalu nafsu

memburu pena agar berdansa leluasa.

 

Aku melamun di tepi pipimu,

mengunyah diksi sambil disapu ombak.

 

Aku menusuk punggungmu,

menanam cinta pada setiap ruas

yang bermekar lindu konsonannya.

 

Aku mengecup bibirmu dengan syahdu,

mengalirkan rima di tiap merahnya.

 

Kini puisi telah lahir.

Ia telanjang bulat.

Mari tanggalkan baju kita

agar puisi ini punya busana.

Kita lanjut lagi bercinta

agar puisi-puisi lain bisa terbaca.

 


Telanjang

 

Mari kita bergandeng tangan

dan berjalan bersama-sama

dengan kondisi telanjang

menuju toko pakaian di sudut jalan

lalu membeli dosa sampai banyak sekali

untuk mengenyahkan malu di wajah kita.

 


Telanjur Tenggelam

 

Pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam

adalah menangis di hadapan mereka karena mereka tenggelam

kemudian pergi dan membiarkan mereka mati karena tenggelam.

 

Belasungkawa pertama untuk orang yang mati karena tenggelam

adalah menangis di hadapan jasad mereka karena mereka tenggelam

dan menyesali kenapa tidak menarik mereka ketika mereka tenggelam.

 


Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.