Cerpen

Dewi Sri

Cerpen Rizka Umami

Malam itu aku membantu ibumu lahiran. Saat semua orang memaksa bapakmu membawa Dewi Sri ke bidan desa atau rumah sakit, ibumu justru ngotot lebih percaya padaku, dukun bayi yang selama ini hanya punya bekal titen.

Jika semua selamat, seharusnya kamu anak kelima yang lahir dari rahim Dewi. Meski dalam hitungan orang-orang, kini kalian lebih familier dengan sebutan empat serangkai. Orang-orang pastinya tidak tahu apa yang akan aku katakan ini.

Sekarang aku ingin membayar utang cerita yang sempat tersendat tempo hari. Yang harusnya jadi anak keempat bukan kamu, karena sebelum kamu lahir sebenarnya ibumu sempat hamil. Sayangnya di usia dua bulan janin itu mati di perut ibumu. Jadilah kamu anak keempat.

Ketika kamu akan lahir, sore itu bapakmu menggedor-gedor pagar rumahku. Ia minta aku segera bersiap-siap. Aku hanya diberi waktu kurang dari 10 menit untuk mengambil beberapa jarik dan perlengkapan seperlunya. Setelah aku keluar dan mengunci pintu rumah, buru-buru bapakmu menarik lenganku, lalu kami melesat.

Jam lima sore, ibumu sudah buka tiga. Ada yang aneh, selain ibumu mengeluarkan banyak darah seperti orang haid, darah itu bergumpal-gumpal merah-hitam. Pekat.

Waktu magrib yang kala itu tiba pukul enam lebih sedikit, aku membantumu keluar dari perut Dewi. Memang tidak sulit, tapi yang membuat orang-orang di sekeliling bapakmu takut, karena kamu keluar bersama darah pekat itu, baunya anyir segar.

“Apa yang bapak lakukan waktu sadar banyak darah yang dikeluarkan ibu, Mbok?”

Aku tidak sempat memperhatikan ekspresi bapakmu. Tapi aku yakin dia orang yang paling tidak siap dengan semua itu. Tidak siap dengan kelahiranmu dan tidak siap menerima rasa sakit yang dialami ibumu.

“Sebentar, Mbok. Bagaimana orang-orang juga tahu kalau aku lahir bersama darah yang tak lazim itu?”

Aku yang waktu itu membantu ibumu berbaring di lantai ubin kamar tengah, tanpa alas apapun. Lantai ubin yang dingin itu rupanya letaknya lebih tinggi dan hal itu mendorong darah yang keluar dari liang ibumu mengalir ke segala arah, ke tempat paling rendah, bahkan sampai ke luar dari pintu kamar tengah.

Oh iya, kamu sengaja dilahirkan di senthong tengah sesuai permintaan ibumu. Sebab baginya senthong itu jadi tempat ibumu menghabiskan waktu sembahyang dan bertemu dengan Sang Hyang Asri, Dewi yang dihormatinya sepanjang hayat.

Aku salut saat pertama kali mendapat cerita dari mbah putrimu, soal ibumu yang di zaman modern seperti ini masih menaruh setia pada inangnya kesuburan, Dewi Sri, yang dianggap sebagai pengendali kehidupan, mengatur rezeki agar selalu cukup.

Jadi wajar jika kemudian seluruh isi rumahmu menaruh hormat pada ibumu, Dewi Sri. Sebab berkat kesetiannya itu, keluarga besarmu tidak pernah satu kali pun mengalami gagal panen, apalagi sampai kelaparan.

“Apa itu juga sebabnya namaku sama seperti nama ibu?”

Begitulah. Ibumu dan kelahiranmu adalah dua simbol yang tidak bisa kami maknai secara utuh. Jauh sebelum ibumu mengandung anak pertama, mbah putrimu sempat mendatangiku, bahkan beberapa kali hanya untuk menceritakan perihal mimpinya yang sama. Tahu kamu apa yang dimimpikan mbah putrimu? Dia memimpikan kelahiranmu.

Benar, Nduk. Jadi apa yang kulakukan saat menolong kelahiranmu, semacam sudah diramalkan mbah putrimu sendiri. Dan selang sepersekian menit setelah aku membersihkan bekas darah di tubuhmu, semilir angin berkesiur, seperti memberi bisikan, bahwa Dewi Sri telah melahirkan Dewi Sri. Ibumu telah melahirkanmu, Dewi Sri yang baru.

“Tapi kenapa beberapa orang menyebutku telah melenyapkan ibu?”

Orang-orang yang melihat aliran darah pekat keluar dari kamarmu pastinya ketakutan. Aku saja ngeri jika tidak melihat sorot mata ibumu yang menandakan semuanya baik-baik saja. Kukira wajar jika perkara darah yang membersamaimu dianggap sebagai pertanda buruk.

Tapi percayalah, Nduk. Anggapan itu akan berangsur lepas pesat sampai nantinya kamu tidak akan mendengarnya lagi. Seperti yang kukatakan berulang kali, kamu bukan penyebab dari apa-apa yang tidak kamu lakukan. Termasuk perkara hidup mati ibumu. Bukankah tiap-tiap kita memang sudah semestinya berawal dan berakhir? Begitu juga ibumu, dan aku atau kamu juga akan berakhir nanti, suatu hari.

Dewi Sri itu, selain dimaknai sebagai penguasa kelahiran dan kesuburan, ia juga mengendalikan kemiskinan dan bencana, memengaruhi kematian. Semua tergantung pemaknaan. Jadi  kuingatkan lagi. Kelahiranmu mesti bisa kamu maknai sendiri. Titenono! Kabeh perkoro mesti biso dititeni. Ada pola yang suatu saat bisa kamu baca dan pahami. Karena itu, Nduk… berhentilah menyalahkan kehadiranmu di bumi Tuhan ini. Semua akan baik-baik saja. Kecuali jika kamu tidak mau menghilangkan anggapanmu itu, bisa jadi kamu telah membiarkan petaka akan benar-benar hadir dalam kehidupanmu.***


Rizka Hidayatul Umami. Kelahiran Tulungagung, 28 Juni. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan dan anak. Bisa disapa via IG: @morfo_biru, Twitter: @morfo_biru, Fb: Tacin

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Di Sebuah Angkringan Kita Hanya

Berusaha untuk Saling Mengenang

sambil kutatap matamu, dari sana

kepedihan yang tidak bisa

diungkapkan lewat kata-kata

berhamburan, berebutan masuk dadaku

kita hanya punya satu cara

;mengenang sebaik mungkin

yang sudah-sudah

kau balas menerobos sepasang mataku

katamu, keteduhan dapat ditemukan

di mana saja, termasuk di mataku.

selanjutnya percakapan kita

lebih sering ditelan bising kendaraan

sementara kau lebih suka pada diam

di angkringan ini, kita sepakat

cara paling baik mencintai

adalah mengakhiri

lalu menjalani hari sendiri-sendiri

selebihnya kita hanya diperbolehkan

untuk saling mengenang

atau berciuman meski hanya

bayang-bayang

Jogjakarta, 2020


Sebelum Kau Pulang

berhari-hari kita meruncingkan percakapan

meramal nasib masing-masing

sesekali membayangkan rumah kita

yang luas untuk menampung kesedihan

tiba-tiba waktu lekas berlalu, aku

seperti tawanan yang kalah di pelukanmu

selanjutnya kita akan mengatur jarak

mengukur batas-batas kepedihan

kalah di hadapanmu jauh lebih mulia

daripada aku harus berjalan sendirian

menelusuri bukit kata-kata

lereng-lereng bahasa

setelah kubuka pintu

setelah jendela tersibak seluas masa lalu

aku tidak menemukan siapa-siapa.

kau gegas pulang, seumpama tanah

ditumbuhi bibit-bibit jelatang

aku sendirian dihunus sepi logam

kita akan bertemu dalam doa

yang hanya kita sebagai isinya

Jogjakarta, 2020


Cinta Kita Tua dan Hanya Mengenal Kata Setia

sama dengan jarak, umur sekadar perhitungan

ketepatan demi ketepatan dan kecepatan

berasal dari ketiadaan.

cintamu yang tua, setua jendela rumah

dan sengaja membiarkan angin jelita

mengusik tidur kepedihan

seumpama kau menengok jendela itu

dan membayangkan betapa menakutkan

seluruh isi rumah, tidak lebih

dari kenangan rapuh kitab-kitab masa lalu

sebetulnya kau hanya menerka yang tiada

setelah benar masuk, kemudian rasakan

keteduhan lain berpilin di dinding.

cintaku yang tua dan hanya mengenal

setia, kata yang menderas dari jiwa.

sambil mempertanyakan, mengapa

kesepian tidak pernah bisa dilawan

meski kita tidak sepenuhnya tunduk

dengan tenang.

Jogjakarta, 2020


Sebuah Kopi, Sepi, Puisi

di pojok timur, dekat pintu masuk

kita berhadapan. kau seperti menghitung

berapa banyak kesedihan yang masuk

dan keceriaan yang dibawa pulang.

meski terlebih harus kita cuci tangan

agar tak ada ketakutan-ketakutan

masuk ke dalam

berikutnya kau akan menyeduh kopi

dan pahit yang kental di sulbi cangkir

seperti hidup kita, pahit terus ada

kau berucap dan hanya pantas

didengar berdua.

aku mulai sibuk dengan puisi-puisi

atau tidak sengaja meninggalkanmu

dihunus sepi yang belati.

di matamu, kesedihan mulai dibangun

di dadaku, sesak perlahan turun.

Jogjakarta, 2020


Mereka Merawat Jarak

orang-orang berkumpul, lari dari kerumunan sepi

di kesengitan hari-hari.

belajar cara paling baik merawat jarak

mengusir dada-dada yang sesak

mereka mencintai kampung halaman

yang separuh terbuat dari masa lalu

separuhnya lagi, dari kenangan

yang menyusup diam-diam

hari ini orang-orang rajin berkumpul

dunia terlalu buruk bagi penyendiri

dunia yang hanya sibuk mengganti

nama hari-hari

mereka sama-sama merawat jarak

hidup hanya bergantung

pada cara perayaan

pada cara mengurai

satu-satu kesakitan

Jogjakarta, 2020


Menunggu

kami akan menunggu, malam lekang

menuju arah-arah subuh

dan pagi kembali terbit dari matamu

sebaris doa, kami racik

mengalir di penjuru aorta

sebetulnya, malam lebih paham

bagaimana mendengarkan

kepedihan, dengan sunyi mencekam

semisal amuk api dalam sekam

sampai matahari terbit dari jalan biasa

dan bumi sudah tidak dibayang

bayangi wajah sepi

kami terus menunggu, sampai jarak

tidak lagi diberhalakan

sampai keramaian bukan sesuatu

yang asing di padang pikiran

Jogjakarta, 2020


Aku Mencintaimu Lagi dan Lagi

sebuah puisi kutulis dan kuyakini

bahwa ia lahir dan kesakitan

kesepian yang menggunung

sementara dadaku sendiri

tidak begitu betah pada sesak

yang lama beranak diam-diam

maka satu-satunya jalan,

puisi ditulis untuk melawan

kepedihan. dan sakit yang terus

kita kutuk sepanjang perjalanan

namun begitu, aku

aku mencintaimu lagi dan lagi

dan kerap membayangkan setiap

puisi yang kutulis sendirian

mendapatkan engkau di dalam

dengan begitu, macam kesakitan

hanya nama lain dari kesepian

dan mencintaimu adalah tugas lain

yang tidak perlu selesai dengan cara

terburu-buru

Jogjakarta, 2020


Usaha Melihat Diri

puisi ini ditulis untuk mewakili kerumitan

yang kutunjukkan, macam-macam kotoran

melekat di dadaku yang temaram

maka, bacalah puisi ini perlahan

selanjutnya kau boleh menerka

;barangkali manusia diciptakan

dari tanah yang berwarna hitam

kau masuki dadaku, sebuah rimba

dengan salak anjing dan igau serigala

kau temukan belukar terbakar

meski menjuntai juga, sebaris kembang

srigading dengan kelopak menyembah

langit kita yang hening, langit bening

puisi-puisi yang kutulis dengan tulus

sebelumnya juga lahir dari dada berkabung

dari kesalahan-kesalahan

yang darinya seolah aku berlindung

Jogjakarta, 2020


Puisi Ini Engkau Baca Diam-diam

setelah puisi ini ditulis dan seluruh isi

adalah engkau. kuserahkan semua

agar dibaca diam-diam

meski tubuh dalam  keadaan demam

diserang macam-macam kesepian

setelah aku meninggalkanmu

puisi ini lebih berarti dari seluruh

yang tercipta di semesta

dari yang terus mengalir

dari jantung kata-kata

kau membaca sambil terpejam

membayangkan bagaimana

kesepian tidak selalu menakutkan

di dalamnya ada doa kita

yang melantun, menerobos

rumpang dada.

setelah puisi ini dibacakan

tiada yang lebih menyedihkan

dari kepulangan yang pelan-pelan

Jogjakarta, 2020


Hari Raya Kesepian

berhari-hari tanpa engkau, tubuhku

dililit batang-batang kesepian

setelah kepulangan, nama hari

berganti pada kesedihan

kau tidak pernah menatap mataku

dan aku merasa lebih tenang

di cinta yang tidak pernah tenteram

sekali-kali belajar bagaimana lelaki

yang hanya menangis untuk

merayakan kepahitan

barangkali matanya lebih teduh

dari mataku dan seluruh

bagian-bagian tubuh

berhari-hari tanpa engkau, dunia

enggan disibukan selain dari ingatan

apa-apa yang menjamur di pikiran

Jogjakarta, 2020


Moh. Rofqil Bazikh, lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi dan tersiar di pelbagai media cetak dan online.

Buku, Resensi

Musik dan Kegilaan

Oleh Gregorius TH Manurung

Dalam penggunaannya, kata gila (selayaknya kata sifat lain) memiliki beragam makna. Pernyataan “Gila ni orang!” bisa berarti orang itu adalah orang dengan sudut pandang, pemikiran, atau praktik hidup yang keluar dari keumuman, atau memang tidak waras.

“Gila” juga bisa menjadi pemakluman. Pemakluman atas tindakan absurd yang dilakukan seseorang karena dia adalah “orang gila”. Namun, seringkali gila mendahului maklum. Kita dibuat merinding terlebih dahulu saat melihat tindakan meminum air seni sendiri atau membakar patung raksasa di tengah galeri seni mewah, sebelum menyatakan “Gila ni orang”.

Kegilaan seperti itulah yang dihadirkan dalam buku Madness Belong to All: Catatan Ganjil Musik Abad 20 karya Aliyuna Pratisti.

Ketika mahasiswa, Aliyuna keranjingan musik dan sering merasa mengetahui lebih dari teman sebaya. Namun, semua berubah ketika ia mengunjungi Perpustakaan Batoe Api di Jatinangor.

Adalah album Raw Power milik band punk pionir The Stooges yang mengubah Aliyuna. Dari mendengar album itu di Perpustakaan Batoe Api, Aliyuna menyadari bahwa ia jauh dari “mengetahui lebih” soal musik. Perjalanan selanjutnya adalah keranjingan musik era 1960-1970 dengan dosis berlebih. Ia jadi lebih menyeriusi musik: mendengar, menyimak, lalu menuliskan catatan atas musik, yang nantinya menjadi buku ini.

Keseriusan Aliyuna terlihat sejak tulisan pertama dalam buku ini, “Legiun Blues Inggris: Dari Idealis hingga Post-Impresionist” (hlm.3-6). Aliyuna menulis interpretasinya atas British Blues,gerakan para musisi blues kulit putih Inggris, utamanya musisi dan penyiar radio BBC, Alexis Korner.

Korner sebenarnya memainkan blues standar. Namun, ia menjadi penting bagi British Blues melalui karya musik, gig di kelab-kelab di London, juga program wawancara para musisi British Blues di radionya. Usaha Korner ini melahirkan banyak musisi yang dari mendengar beberapa nama mereka saja, kita bisa menyadari kehebatan mereka, seperti Eric Clapton, Keith Richard (Rolling Stone), dan Jimmy Page (Led Zeppelin). Yang menarik, Aliyuna membubuhkan aliran Post-Impresionist dari seni rupa untuk menjelaskan interpretasinya atas praktik bunyi Led Zeppelin yang “menggabungkan tradisi blues dengan distrorsi emosional,” – praktik bunyi yang melahirkan heavy metal.

Musik, selayaknya karya seni lain, memang selalu ditafsirkan beragam oleh publik. Interpretasi subjektif atas karya seni adalah keniscayaan. Lalu, muncul pertanyaan: untuk apa ada ulasan musik? Jika memang semua orang memiliki interpretasi, mengapa harus ada seseorang yang ditasbihkan menjadi “jurnalis musik” dan memiliki hak khusus untuk menyampaikan selera dan interpretasinya pada publik?

Aliyuna secara tidak langsung menjawab pertanyaan ini lewat bukunya. Yang dinikmati dari karya jurnalisme musik adalah pendekatan yang digunakan oleh sang jurnalis. Musik, disadari atau tidak, memiliki banyak lapisan yang bisa dikupas dengan beragam pendekatan. Dengan melihat dua unsur musik paling jamak (lirik dan bunyi), kita bisa mengetahui bahwa musik bisa dibahas dari beragam sisi, dan jurnalis musik bekerja untuk mengupas lapisan yang dihadirkan dalam musik yang mereka ulas.

Dari buku ini, kita dapat melihat beragam pendekatan yang dilakukan Aliyuna dalam mengulas musik. Salah satunya dalam esai berjudul “Professor Fripp dan Jukstaposisi Pemikiran (Musik) King Crimson” (hlm.39-47). Di esai ini Aliyuna membahas band mega bintang progressive rock, King Crimson, melalui eksistensi dan kontribusi sang gitaris, Robert Fripp.

King Crimson selama tiga dekade durasi napasnya terus mengalami bongkar-pasang muatan. Keluar-masuk para personel ini terjadi karena perbedaan visi musikal dari masing-masing yang ada di King Crimson. Namun, Robert Fripp, adalah sosok yang selalu hadir di King Crimson. Aliyuna sadar bahwa Fripp adalah arsitek dari band progresif ini.

Robert Fripp adalah sebuah anomali dari stereotipe rock-star yang kita pahami. Ia tidak diberikan anugerah bakat musik (perlu tujuh tahun agar guru gitarnya menyatakan kemampuan Fripp “berkembang”, yang membuatnya menekuni teori musik dari hulu ke hilir). Fripp tidak ketagihan alkohol, narkoba, ataupun seks bebas. Pernyataan Fripp, yang dikutip Aliyuna, bahkan terdengar seperti kutu buku gila: “I have a very modest lifestyle, I don’t have a string of fast cars or fast women, and I don’t take any drugs at all, not even aspirin. My party is: me and books. Me and books and a cup of coffee is an orgy.” (hlm.42). Bagi Fripp, kesadaran yang utuh dapat menghasilkan karya yang sama hebatnya dengan pikiran yang dipengaruhi efek “kapal terbang” zat-zat halusinogen. Dari kesadaran utuh itu, Fripp mengubah perbedaan visi para personel King Crimson menjadi kehebatan band ini. Hasilnya adalah karya yang mengubah lanskap musik rock sejak album debut mereka, In the Court of the Crimson King (1969).

Dalam “Georgia in My Mind: Alih Warna/Alih Media” (hal.119-123). Aliyuna mencatat dan membahas gubahan-gubahan atas lagu “Georgia on My Mind”, musik buatan komponis Hoagy Charmichael dan lirikus Stuartt Gorell, oleh para musisi seperti Spencer Davis, Ray Charles, dan Billie Holiday. Bahkan, diinterpretasikan lebih jauh oleh Rendra dalam puisi Blues untuk Bonnie. Aliyuna menulis bahwa niat awal Charmichael dan Gorell adalah membuat musik manis soal adik Charmichael yang bernama Georgia. Lagu ini lalu diinterpretasikan lebih jauh dan berbeda oleh banyak musisi, juga Rendra yang mengubahnya menjadi puisi lirih soal rasisme atas orang kulit hitam. “Dengan demikian,” tulis Aliyuna, “pengakuan terhadap kehebatan sebuah karya dapat hadir melalui pandangan lain, yaitu ketika ia dapat muncul secara berulang-ulang dalam berbagai bentuk dan ruang-waktu.” (hal.122)

Kegilaan King Crimson, British Blues, juga musisi lain seperti Nick Drake, NEU!, Nirvana, dan The Stooges dicatat oleh Aliyuna dalam 53 esai di buku ini: sebuah kumpulan catatan pendek (kebanyakan tidak lebih dari 6 halaman) atas eksperimentasi gagasan musik selama abad ke-20. Mereka adalah para musisi yang memiliki pengaruh pada perkembangan musik, dan beberapa kurang diterima pada zamannya—bahkan beberapa sampai saat ini kurang terdengar namanya. Mereka adalah orang-orang yang bisa kita kategorikan sebagai “orang gila”.

Dalam lagu All the Madman milik David Bowie (nampaknya lagu ini adalah sumber judul buku), tertulis lirik “They’re all as sane as me” dan “It’s organic minds”. Dalam interpretasi Aliyuna atas lirik lagu ini, kegilaan adalah pemikiran organik yang sebenarnya ada di kepala setiap orang. Yang membedakan adalah seberapa mampu kita menerima dan menikmatinya sebagai anugerah.

Kegilaan itu juga muncul dari Aliyuna. Ia mau dan mampu untuk mendengarkan musik-musik lawas secara serius sambil menggali setiap cerita dan lapisan yang ada di dalamnya – banyak esai di buku ini disertai rujukan pada buku, esai, dan penelitian. Hal yang disayangkan adalah adanya salah ketik pada beberapa esai di buku ini. Ini agak mengganggu pembaca.

Selain itu, mungkin kita akan bertanya: apa pentingnya menuliskan musik atau musisi yang sudah diakui kehebatannya? Saya juga sempat mempertanyakan. Jawaban atas pertanyaan itu terdapat pada sajian tulisan-tulisan di buku ini, yang dengan sangat ambisius mengupas kegilaan dari setiap musik dan musisi yang ada. Sungguh, Aliyuna, kegilaan milik semua orang, terkhusus Anda!


Gregorius TH Manurung, sedang belajar di Sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Sehari-hari bergiat di Kelompok Coba-Coba dan menulis musik untuk Highvoltamedia.com.

Buku, Resensi

Catatan, Kisah, dan Pengakuan

Oleh Oscar Maulana

Pada tahun 1994, terbit sebuah buku berjudul Tempat-tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) garapan Michael Pearson. Michael melakukan perlawatan ke dataran Amerika. Menjelajahi bentangan alam Amerika dengan tujuan menelisik, hal-hal apa saja yang memengaruhi sastrawan Amerika terhadap segala yang ditulis dan dikarangnya.

 Beberapa tokoh sastrawan Amerika fenomenal dan mendunia yang diteliti Michael, semacam William Chuthbert Faulkner (1897) bersama Mississippinya, Georgianya Mary Flannery O’connor (1925), Floridanya Ernest Miller Hemingway (1899), Californianya John Ernst Steinbeck (1920), sampai Missourinya Mark Twain (1835).

Dari beberapa yang ditulis dan dikaji Michael itu, kita patut menduga, para sastrawan moncer tidak bisa lepas dari imaji tempat mukim di sekelilingnya.Baik itu menyoal kota, sejarah, rasialisme, uang, rumah, dan sosial-masyarakat yang lekas dilihatnya. Perkara itu menjadi semacam ramuan yang patut diceritakan dalam sebuah karya, seperti cerita pendek dan novel.

Hal itulah, termaktub dalam novelnya John Steinbeck bertema asal Tortilla Flat (1935), dan diterjemahkan Djokolelono menjadi Dataran Tortilla (2009). Menarasikan rumah dan persahabatan sebagai pergumulan imajinasinya, Steinbeck dalam novel ini berbicara rumah Danny sebagai satu kesatuan manusia-manusia dengan pelbagai macam watak dan tingkah lakunya, kesatuan yang memancarkan kemanisan dan keriaan hidup, kedermawanan. Dan pada akhirnya—kesedihan penuh mistik.

Semacam itulah yang ada pada diri Mahfud Ikhwan. Ketika menulis, Mahfud tidak bisa lepas dari hal-hal yang melekat pada sekelilingnya. Membicarakan sosial masyarakat, desa, perkotaan (urbanisme) dan lingkunganya. Jejak perjalanan kepenulisan, pengakuan dan cerita-cerita yang dialaminya bisa kita tengok lewat buku bertajuk Cerita, Bualan, Kebenaran: Mahfud Ikhwan dan Cerita-cerita yang Ditulisnya.

Dan memang riwayat panjang perjalanan seseorang bisa berujung baik dan nestapa. Berliku, terjal, dan bergelombang. Pelbagai persoalan yang menyergapi diri manusia yang ringkih. Dari perkara bising semacam itu, manusia perlu segera mencari titik ketetapan jati diri (jalan hidup) yang akan ditempuh. Pelbagai macam profesi dewasa ini begitu bejibun banyaknya baik itu berkecimpung di dunia kesenian, menjadi intelektual, politisi, bahkan sastrawan itu sendiri.

Diteror oleh bisingnya deru kota, Mahfud memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang penulis. Kaya akan intrik dan penuh konflik, merajut benang-benang yang kusut dalam pikirannya. Dorongan menjadi seorang penulis, Mahfud mengakui karena rasa kegelisahan. Manakala ditanya kenapa Mahfud menjadi penulis, jawabanya selalu sama: karena saya gelisah. (halaman 7).

Faktor kegelisahan rupanya menjadi penanada awal perjalanan kepenulisannya. Gelisah menghadapi masa depan, gelisah tidak punya uang jajan kala kuliah di perantauan, dan kegelisahan lainya yang menyergap di benak. Dalam proses kegelisahan-kegelisahan yang tak berujung menentu itu, Mahfud berhasil menjadi seorang sastrawan yang cukup moncer dalam jajaran novelis dan cerpenis di Indonesia.

Karya novelnya berjudul kambing dan Hujan (2015) berhasil menyabet penghargaan prestisius sebagai Pemenang Sayembaya Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 lalu. Dan dalam buku terbarunya ini, Mahfud menceritakan proses kreatifnya ketika menulis novel tersebut.

Sama, seperti apa yang diteliti Michael Pearson dalam bukunya, bahwa seorang sastrawan tidak mungkin bisa lepas dari pengaruh lingkungan dalam proses kreatifnya. Pun apa yang dibawa pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini, selain terpengaruh keadaan sosial-kultural di kampung halamannya, juga tersihir oleh pengaruh sastrawan dan sejarawan Indonesia yaitu Kuntowijoyo.

Dalam proses pengerjaan novel Kambing dan Hujan, Mahfud mengakui karya Pak Kunto juga memberi kontribusi secara langsung, misalnya dalam cerpen Rumah yang Terbakar yang menarasikan persinggungan konflik horizontal dua komunitas santri dan kaum abangan, dan pula novel “Pasar” yang bercerita pertentangan halus namun subtil antara nilai-nilai Jawa lama lagi luhur yang diwakili sosok Pak Mantri dengan Kasan Ngali (halaman 68).

Tidak hanya sosok Kunto yang memengaruhi gaya cerita dari Mahfud ini, juga beberapa sastrawan lainya turut serta dalam pergumulan kreativitasnya. Seperti karya terjemahan sosok Koeslah Soebagyo Toer lebih dikagumi Mahfud daripada Pramoedya Ananta Toer (halaman 13), karya Bibhutibhushan Banerji berjudul Pater Pancali turut memengaruhi juga (halaman 14).

Tidak Hanya Kampung

Sitok Srengenge pernah menulis perihal kota. Tulisan itu bertajuk Kota Kata, perkara kata yang diserap menjadi kota. Bagi Sitok, kota-kota itu sebuah nama dipilih lantaran terkait dengan kenangan, tapi tak jarang juga sebagai harapan. Kota-kota semacam Yogyakarta berasal dari kata Ngajogjakarta yang berarti mematut kota atau membangun kota (Tempo, 21 Maret 2010).

Kenangan dan harapan menjadi kata yang pas bagi tercerminnya laku manusia kota. Tidak berbeda jauh dari kenangan-kenangan Mahfud Ikhwan. Dari kota, yang kemudian membesarkan namanya, dan bahkan menggebleng paradigma berfikir. Mahfud mengakui kepengarangannya berasal dari kota ketika membahas desa, bukan sebaliknya (halaman 30).

Kota acap kali mengejawantah lelaku manusianya menjadi urban. Hal itulah yang tercermin dari novelnya berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia, (2009). Di Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud menggambarkan dan menarasikan tokoh utama novel itu, walaupun berlatar desa lantas tidak bisa lepas dari pengaruh kota. Kita lihat fragmen tokohnya begitu menggemari terhadap film kartun dan telenova di televisi (halaman 35).

Lahir dari desa pesisir utara Jawa Timur, Mahfud menyelami pelbagai persoalan yang hinggap pada dirinya. Menceritakan kegelisahan yang timbul manakala hidup di kota, melakoni hidup di kota Yogyakarta selama 20 tahun lebih. Pengalaman di kota turut membekalinya menceritakan kampung halaman, yang sarat akan makna dan peristiwa. Mungkin Mahfud Ikhwan mengikhtirakan semacam para sastrawan dunia dulu lakukan, mengisahkan desa, lingkungan, rumah dan perkara lainnya.


Oscar Maulana, mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Cerpen

Di Kedai Nori

Cerpen Jeli Manalu

Tampak awan sedang turun. Tak lama setelahnya, gerimis seukuran biji sawi yang berlapis-lapis, jatuh dan melayang membasahi ujung meja. Tuan Am, begitu Nori menyebutnya, menggeser duduk ke bagian dalam kedai. Ia paham gerimis seperti itu. Meski tidak selalu menjadi hujan deras, namun durasi yang panjang sering membuat jalan tanah bercampur batu menuju stasi di pedalaman desa licin.

Tujuh bulan lalu ketika baru dipindahtugaskan ke paroki yang sekarang, dalam situasi seperti itu, pernah suatu kali ia memaksakan berangkat. Masih setengah perjalanan, motor trail-nya tergelincir sewaktu mengelakkan cekungan tanah. Selanjutnya terhempas ke tepian, menyusul terguling ke rawa. Motor trail-nya menginap di antara lumpur dan eceng gondok, sedangkan dirinya berjalan kaki sejauh empat kilo. Ah, tidak. Tidak lagi. Saya tidak mau lagi itu terjadi, batin Tuan Am, yang saat peristiwa itu, ia ingat bagaimana kondisinya berhari-hari. Dengkul nyeri bercampur panas akibat tertusuk duri pandan hutan. Siku lecet. Dahi hingga pelipis memar. Ia kemudian demam, dan dengan perasaan sedih membatalkan misa hari Minggu sebanyak dua kali.

Gerimis seukuran biji sawi namun tebal serta bercampur angin menuntun Tuan Am memesan minuman. “Sudah ada kopi?” tanyanya lebih dahulu, sembari melepas jaket lalu meletakannya di sandaran kursi.

Nori, si pemilik kedai menjawab, “Belum.”

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Apa beberapa orang memang tercipta senang mencari kenyamanan dari satu hati ke hati lainnya? pikir Tuan Am. Gerimis yang menerobos jendela seolah menampar di pipinya. Kiri, juga kanan. Penuh semua wajahnya. Ia meninju dada dan buru-buru mengucap doa tobat: ia mengaku telah berdosa dalam pikiran. Saya sungguh berdosa, katanya. Setelah mengatakan amin paling pelan yang tak terdengar bahkan oleh gerimis, dengan ujung jari ia menarik rokok sebatang. Ia isap rokok itu sambil meluruskan pikiran. Ia menyadari, tak boleh berkesimpulan terhadap permasalahan orang: sebab yang berada di luar hanya tahu luarnya saja, tidak akan pernah mengerti kejadian utuhnya. Dan apabila ada konflik, baik ringan maupun besar, sejatinya, ia hanya perlu mengunci pintu, menyalakan lilin, lalu membicarakannya pada Tuhan.

“Ya sudah kalau begitu, cokelat panas lagi. Tambahkan gula sedikit ya, Nori.”

Kata, “ya” sayup-sayup di telinga Tuan Am.

No-ri. N-O-R-I. Tuan Am mengeja. Sempat ia ragu, apa tadi sungguhan menyebut nama si pemilik kedai? No-ri, ucapnya, sekali lagi. Sebentar senyumnya rekah. Ia juga menggigit ujung kunci motor trail, kemudian merasakan dirinya aneh.  

Dari arah dapur terdengar denting sendok. Lalu aroma cokelat menghampiri meja Tuan Am yang di sananya ia mulai khidmat mengetuk-ngetuk meja.

Ada mobil hijau berhenti di depan kedai. Dari dalamnya muncul suara yang Tuan Am tebak itu suara Ariel Noah duet dengan, apakah itu vokal BCL—Bunga Citra Lestari? Tanya hati Tuan Am. Ia merasa suara serak-serak merdu itu milik BCL, perempuan yang lima bulan lalu kehilangan suami tercintanya: …. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia—Tuan Am menyanyikannya lagi, dan saat itu pula wajahnya berubah murung.

Pada bola matanya tampak semacam jala kemerahan. Bibirnya bergetar. Rokok yang diletakkan di atas asbak menyerupai sayap kupu-kupu padam dan dingin. Kesedihan tumpah di meja beraroma cokelat, beraroma kenangan.

Sepuluh tahun lalu saat bertugas di Paroki A dan usia Tuan Am waktu itu baru 34, hati serta pikirannya pernah diwarnai Lumi Ceri. Lumi Ceri seorang seniman: ia mendapat proyek membuat mural di sepanjang bangunan gereja bagian dalam—sebelumya, Lumi Ceri dikenalkan juru masak pastoran kepada Tuan Am. Tuan Am takjub bagaimana tangan serta jiwa Lumi Ceri lebur dalam dinding yang tadinya hanya putih kosong berubah jadi potongan-potongan kisah dalam kitab suci. Tuan Am merasa, belum pernah dirinya bertemu orang seistimewa Lumi Ceri. Ia juga ingat sudah berjanji menolak perempuan berkunjung ke hatinya. Ini bukan perasaan suka, cuma kagum, katanya pada diri sendiri menyangkal sesuatu yang bergejolak kuat.

Dalam piring, cangkir, asbak, dan pada sebatang rokok Lumi Ceri justru selalu muncul. Kadang kedatangannya dengan wajah sehangat cokelat. Kadang dengan sepasang mata sendu yang di dalamnya adalah hutan, dan dalam hutan itu Tuan Am melihat sebatang pohon berbuah lebat dan hampir saja ia memetiknya.

Suatu hari ia pergi retret. Ia merenungkan kembali pilihan hidup di mana dirinya tidak boleh menikah, meski jauh sebelum itu, orangtuanya memang pernah kurang merestui. Ia kemudian tekun berdoa novena[1]—ia katakan: bukankah hanya kau, hai Maria, ibu Yesus, dan ia, ibu yang telah melahirkan saya, perempuan yang boleh mengisi hati ini? Lalu mengapa sekarang ada yang hadir? Dalam doa tak sungkan Tuan Am mengaku berdebar tiap memikirkan Lumi Ceri. Rok kembang sepanjang betis yang bergoyang saat Lumi Ceri bergerak. Kemeja yang lengannya digulung sehingga Tuan Am bisa menyaksikan langsung kulit tangan Lumi Ceri. Atau syal hijau tua yang ketika akan melukis Lumi Ceri melepasnya dari leher dan meletakkannya di sandaran kursi—suatu hari, Tuan Am menyentuh syal itu, memegangnya dengan hati gelisah, namun saat itulah ia tahu aroma parfum Lumi Ceri perpaduan melati, jeruk, dan mungkin itu cokelat?

Sebotol cokelat selalu ada dalam tas Lumi Ceri. Pernah Lumi Ceri membagi Tuan Am. Ambil saja untuk Anda Pastor, katanya. Lumi Ceri bilang bibir Tuan Am tampak kering, dan napasnya saat bicara menandakan Tuan Am butuh minum. Tuan Am ingat dirinya menolak: ia bilang tidak sedang haus, menutupi hati yang mengatakan: nanti kekasihmu marah. Tapi Lumi Ceri malah bilang tidak ada yang akan marah.

Sejak itu Tuan Am semacam menantikan kapan Lumi Ceri menawarinya lagi sebotol cokelat. Apa ia membawanya dalam tas, atau adakah ia telah menyiapkan dari rumah untuk saya pribadi—Tuan Am tertawa, malu memikirkan dirinya yang mulai ke-geer-an. Untuk meredam perasaan itu, dirinya yang bijaksana berkata kepada dirinya yang kurang bijaksana: dasar Am tidak tahu diri, kau ini seorang pastor. Dilarang jatuh cinta, ingat itu! Sesudahnya ia mengucap doa tobat: Saya mengaku …. Saya berdosa dengan pikiran, dan perbuatan (?) Ah tidak kan, Tuhan. Saya tidak sedang berbuat dosa—ia meralat pada kata ‘perbuatan’. Namun di akhir doa, ia selalu bermohon agar jangan dimasukkan ke dalam pencobaan: agar hatinya jangan sampai menginginkan Lumi Ceri.

Tapi situasi memperindah bangunan gereja membuat kesempatan bertemu Lumi Ceri tak terhindarkan. Di lain sisi Lumi Ceri merasa terharu diperlakukan amat sopan oleh seorang imam, seorang pastor, yang kadang ia menemukan gelas bekas minumnya sudah menggantung bersih di rak—Tuan Am mencucinya selagi Lumi Ceri sibuk. Selain itu peralatan lukis Lumi Ceri juga sering dirapikan. Lumi Ceri merasa dicintai karenanya. Siapa saya, dalam hati ia berkata: hanya seorang hamba. Kebahagiaan pun melingkupinya.

Selesai membuat mural, yang salah satunya tentang Perkawinan di Kana, melalui juru masak pastoran Tuan Am mendengar kabar Lumi Ceri membatalkan pertunangan dengan sang kekasih. Malam harinya tunangan Lumi Ceri datang ke mimpi Tuan Am. Awan turun, gerimis jatuh. Tunangannya itu antara sedih dan murka. Dengan kuda hitam ia menuju Tuan Am, dan tampaklah sebilah pedang berkilat-kilat di tangannya.

Meski kedatangan itu hanya mimpi, Tuan Am tetap membicarakannya dengan Lumi Ceri. Lumi Ceri mengaku jatuh hati padanya. Tuan Am meyakinkan Lumi Ceri itu tidak benar. Itu tidak benar. Kamu hanya mencintai tunanganmu, katanya berkali-kali. Tapi Anda juga menyukai saya bukan, Lumi Ceri mendesak. Tuan Am gundah namun ia membohongi dirinya dan Lumi Ceri. Lumi Ceri bilang tidak mencintai tunangannya, itu hanya perjanjian antara orangtua kedua belah pihak saat mereka masih kecil. Tuan Am tetap meyakinkan Lumi Ceri bila perasaannya yang sekarang tidak benar. Setelahnya Tuan Am meninggalkan Lumi Ceri. Lumi Ceri berlari memeluk Tuan Am dari belakang. Seseorang dari kisi jendela ruang masak melihat peristiwa itu sebagai sebuah kebenaran. 

“Cokelatnya sudah sangat dingin, Tuan Am. Mari diminum dulu,” ujar Nori, membuyarkan Tuan Am dari ingatan.

“Ini tisu. Mata Tuan basah dan merah.”

Tuan Am kikuk, merasa malu ketahuan.

“Gerimis juga sudah reda,” tambah Nori.

Di luar sana Tuan Am melihat hari sudah mulai gelap. Tampak kunang-kunang terbang ke kebun sawi di samping kedai. Meski perjalanan hampir dua jam dan harus pelan-pelan menuju stasi di pedalaman desa, Tuan Am mengerti tidak mungkin menumpang tidur di kedai Nori.  

Tuan Am menyalakan motor trail-nya. Ia bunyikan “pip” saat roda mulai bergerak. Pada kaca spion yang masih diterangi lampu, ia melihat Nori berdiri sambil memegang sesuatu dalam botol dan itu mengingatkannya akan cokelat sepuluh tahun lalu. Dan seketika itu pula, dalam pikiran Tuan Am menyanyi Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari: aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. ***

Riau, Juli 2020


Jeli Manalu, saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018. Buku keduanya “Semangkuk Sup Bayam untuk Tuhan” sedang proses terbit.


[1] Doa sembilan hari berturut-turut untuk memohon suatu wujud kepada Tuhan.

Buku, Resensi

Kopi: Sengsara dan Nikmat

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2020, kita ke toko buku bisa membeli novel berjudul Babad Kopi Parahyangan. Novel bergelimang tangisan. Tawa dan girang ada tapi ditaruh di halaman-halaman terbatas. Kita “minum” sejarah “pahit”. Kita memikirkan nasib orang-orang di masa lalu menanggungkan sengsara gara-gara kopi. Kita membeli dan membaca novel itu tak salah pilih. Urusan asmara terbaca meski pembaca diarahkan ke bentangan sejarah. Novel seperti meledek kita mulai tergoda melakukan pelesiran demi menikmati kopi: meraih sensasi dan mengumumkan ke media sosial tanpa berpikiran sejarah terlalu “pahit”.

Kita bisa membaca novel tanpa ada kopi di meja. Pembaca mendingan menaruh sekian buku bertema kopi atau sejarah: “menemani” pengembaraan imajinasi ke abad XIX. Kita mulai mengutip percakapan si Pelaut dan Karim. Pengalaman dan pengetahuan si Pelaut merangsang Karim merantau ke Parahyangan. Sesumbar si Pelaut: “Parahyangan itu sarangnya mutiara hitam.” Sebutan untuk kopi. Di novel, si Pelaut bertugas sebagai juru penerangan tentang kopi di pelbagai negeri. Ia “terpelajar” dan mahir bercerita. Karim mengingat dan mencatat ocehan-ocehan si Pelaut, bekal meninggalkan kampung halaman menuju Parahyangan. Pembaca maklum saja dengan siasat pengarang menaruh juru penerangan. Evi Sri Rezeki ingin pembaca mengerti khazanah sejarah Nusantara dan dunia, sebelum memberi perhatian melulu ke Parahyangan.

Pembaca sudah menumpuk buku-buku di samping novel bisa membuka buku berjudul The Road to Java Coffe (2013) susunan Prawoto Indarto. Buku mewah sajikan foto-foto “tempo doeloe” dan keterangan-keterangan dari pelbagai referensi. Episode pedih dimulai pada 1711 saat kiriman kopi dari Jawa memecahkan harga lelang tertinggi di Amsterdam. Sejarah mulai bernafsu laba. Pada 1726, kopi asal Jawa menguasai pasar kopi di Eropa. Segala capaian itu mengesahkan penciptaan sengsara di Parahyangan melalui perjanjian VOC dengan bupati dalam misi penanaman kopi. Di halaman sejarah, orang bisa mengingat itu Koffie-stetsel atau Preanger-stetsel. Ribuan ton kopi berhasil dikirimkan ke Eropa, merangsang selera para peminum di Eropa untuk memuja kopi asal Jawa. Sejarah memanjang dengan kehadiran Daendels dan Van den Bosch. Kopi “memahitkan” nasib bumiputra dan mengingatkan Cultuur-Stetsel (1830-1870).

Si Pelaut, tokoh pengantar sejarah dalam novel menjelaskan di balik Cultuur-stetsel pada Karim. Kita mengutip pendapat si Pelaut atas kebijakan Van den Bosch: “Barangkali ia terilhami sistem yang mengungkung Parahyangan sejak tanahnya mengecap wajib tanam kopi: Preanger-stetsel. Gagasan adopsi ini bernama Cultuur-stetsel. Sistem ini diberlakukan di seluruh Nusantara. Dan lebih berat lagi bagi Parahyangan sebab beberapa tanaman baru hendak di-kopi-kan. Tubuh Parahyangan tersayat-sayat nila dan kina.” Pembaca mendingan mengikuti petunjuk-petunjuk si Pelaut untuk mengerti sejarah kopi, sebelum serius memikirkan keberanian Karim dan Euis melakukan perlawanan di perkebunan kopi.

Pada abad XIX, kopi menjadi dalih bagi orang-orang serakah berakibat memberi sengsara untuk bumiputra selalu di bawah perintah Belanda dan pejabat lokal. Karim berhasil sampai Parahyangan, bekerja di perkebunan kopi. Di situ, ia marah dan menggugat. Impian dari kampung halaman menjadi marah tanpa ujung. Pertemuan dengan Euis dan para petani membuktikan lakon penindasan. Kopi memberi duka, setiap hari. Nasib bumiputra jatuh di kemiskinan dan menerima hukuman. Mereka seperti mendapat kutukan. Di tanah-tanah menghasilkan kopi, mereka kelaparan, berdarah, dan mati. Di negeri-negeri sana, kopi itu perdagangan dan minuman nikmat. 

Karim mengajak Euis dan Asep menggerakkan perlawanan bersama para petani memiliki keberanian mengubah nasib. Ikhtiar sampai ke perlawanan mendapat bekal berpengaruh. Karim itu bisa membaca-menulis. Pada suatu hari, ia melihat, memegang, dan membaca Max Havelaar gubahan Multatuli. Ia semakin tersadarkan bahwa kopi menjadikan orang-orang di Parahyangan mendapat “neraka”. Para pejabat dan pengusaha berlaku kejam justru mendapat “surga” alias duit berlimpahan dari kopi. Pembaca mungkin kaget mengamati  tokoh dalam novel mengalami perjumpaan dengan novel “menghancurkan” Cultuur-Steesel dan merangsang perubahan di tanah jajahan pada awal abad XX.

Renungan Karim setelah bekerja di perkebunan kopi dan mendapatkan kesengsaraan: “Sarang mutiara yang semula adalah impian berubah mimpi buruk. Ia dapat paham kebencian para petani pada emas hitam. Ia pun mafhum kecintaan para pengreh praja dan Kompeni pada buah kopi. Kopi adalah batu-batu penyusun istana, kain gemerlap yang membalut tubuh, makan lezat terhidang di meja…” Semua itu mengakibatkan petani lapar, miskin, dan mati. Karim semakin marah dan membesarkan keberanian melawan tumpukan sengsara ditanggung para petani kopi. Di akhir novel, perlawanan itu (secuil) berhasil.

Sengsara belum usai. Evi Sri Rezeki menjelaskan ke pembaca tentang nasib Karim dan para petani di Parahyangan setelah pemberlakuan undang-undang baru, 1870: “Undang-undang yang semula digadang-gadang sebagai pembawa takdir baik bagi hanyalah ilusi sebab kebebasan itu tak pernah sampai ke Parahyangan. Pejabat-pejabat kulit putih tak rela melepas sarang mutiara hitam.” Pembaca mungkin tergoda membuka halaman-halaman buku berjudul Sistem Tanam Paksa (2003) susunan Robert van Niel. “Akhirnya, masalah kopi yang menimbulkan persoalan khusus karena jenis tanaman ini sudah masuk ke dalam penanaman paksa sebelum tahun 1832,” tulis Robert van Niel mengenai Parahyangan berkaitan Cultuur-stetsel. Novel rampung terbaca, sejarah pun teringat. Kita boleh minum kopi dengan pilihan pahit atau manis asal tak melupa Parahyangan. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.