Cerpen

Akan Kepulangan

Cerpen Ruly R

Anwar Saleh merebahkan badan di kasur lantai tipis warna hijau lumut yang apaknya tiada tanding. Tangannya sibuk membuka tutup aplikasi percakapan di ponsel murah merk tak jelas yang dibelinya di Glodok. Masih membuka-tutup aplikasi percakapan, tidak ada satu juga pesan yang masuk. Ponsel diletakkan. Mata Anwar Saleh menerawang ke langit-langit petak kontrakan. Tidak ada secuil masa depan atau angan apa pun yang dia pikirkan, hanya masa lalu dan beberapa hal yang baru saja dia lewati, utamanya tentang Eti Ncus.

Usai mengantar si biduan pentas di daerah Depok, pikiran Anwar Saleh tak bisa tenang. Kekhawatiran yang mula-mula seakan hentakan ketipung satu-dua patah-patah, kini semakin menjadi, membentuk keserasian dalam iringan musik dangdut sedih dengan lirik yang menyayat-pilu. Anwar Saleh sadar diri, tugasnya hanya menjemput-antar Eti Ncus yang sebentar lagi tambah tersohor, yang semula main dari panggung ke panggung, beralih dari satu stasiun tv ke stasiun tv lain. Begitu yang dipikirkan Anwar Saleh tentang perempuan yang dia cintai, namun tak pernah tahu. Dia merasa tak pantas diri lagi mencintai terlebih memiliki Eti Ncus. Sudah pupus segala tanda yang dia berikan agar Eti Ncus tahu perasaan lelaki berbadan ceking dan berambut setengah gondrong itu.

Pernah Anwar Saleh bayangkan Eti Ncus menyambut cintanya sepenuh hati. Membangun segala keindahan rumah tangga bahagia, melakukan aktivitas ringan dan obrolan yang menyenangkan bersama Eti Ncus. Tapi angan-angan ditabrak kenyataan, jauh meninggalkan Anwar Saleh seorang diri. Sepi, muram, dan jelas tak mengenakan hati.

Saat segala kecamuk berkelindan dalam benak, Anwar Saleh merindukan rumah. Dia ingin namun tak ingin. Baginya, pulang sama saja mengakui kesalahan yang sepenuhnya tak pernah dia lakukan. Pikiran tentang keinginannya pulang kali ini bersebab dari segala yang dia temui beberapa hari lalu, juga beberapa waktu saat Eti Ncus ada di panggung.

Saat matahari seakan meremukan batok kepala orang-orang yang menjemput rezeki di sekitaran stasiun Pasar Senen, saat itulah Anwar Saleh bertemu tetangga sekaligus kawan lama. Pertama-tama disapa, Anwar Saleh setengah kaget, sementara kawannya mengatakan pangling dan berkali-kali menatap Anwar Saleh coba meyakinkan bahwa yang ditemuinya itu memang kawan lamanya.

“Anwar? Iya kan Anwar? Waduh, War. Lama kita ndak ketemu. Sehat, to?” tanya kawan Anwar Saleh sambil menepuk pelan dan berkali-kali pundak yang ditanya.

Anwar Saleh menanggapi sekenanya. Dia paham hal itu hanya basa-basi di awal pertemuan setelah waktu merentangkan jarak begitu lama. Dia selalu tak nyaman ketika bertemu kawan lama dari kampungnya. Hal itu yang coba dihindarinya meski tanpa maksud tidak memudarkan pertemuan yang tak sengaja.

Anwar Saleh mengajak kawannya duduk di bangku plastik biru milik pedagang minuman dingin. Gerobak besi bercat biru tua pudar milik penjual minuman menyaksi segala yang telah lampau.

“Dua teh botol dulu ya, Mang.”

“Asal jangan lupa bayar dah, War.”

Anwar Saleh menanggapi sahutan mamang warung dengan anggukan dan mengatakan tak perlu khawatir.

“Eh garpit sebatang boleh dah,” ucap Anwar Saleh lantas terkekeh.

“Ngelunjak lu, War.”

“Buru lempar aja!”

Mamang warung dengan wajah tak enaknya melempar rokok yang diminta. Anwar Saleh kembali terkekeh sementara kawannya hanya diam. Obrolan akan pertemuan kembali seakan tangan yang menggali masa lalu yang ada. Dari mulai kenakalan yang mereka lakukan, keadaan di kampung sekarang, tentang teman yang telah menikah dan punya anak, tentang mereka yang telah meninggal, dan hal lain tentang kesuksesan dan kegagalan siapa pun yang masing-masing mereka kenal.

“Lama bener lho, War. Kamu betah di Jakarta?”

Anwar Saleh melempar pandangan pada padatnya kendaraan di depan stasiun Pasar Senen. Beberapa mikrolet membunyikan klakson begitu kencang, motor-motor padat memenuhi jalan, dan mobil merayapi tempat dan jalan yang ada. Cukup lama hingga akhirnya Anwar Saleh mengucapkan jawabannya untuk pertanyaan itu, jawaban yang beriring dengan suara laju kereta di sekitaran stasiun Pasar Senen.

“Aku cuma mau main, War. Ibuku sekarang kan ikut adikku di Jakarta sini,” ucap kawan itu saat ditanya Anwar Saleh akan ada kepentingan apa di Ibu kota.

Mendengar itu Anwar Saleh kembali diam. Pikirannya tertumbuk pada bayangan tentang rumah, tentang ibu, dan bila sudah berbicara tentang perempuan yang melahirkannya, Anwar Saleh juga akan otomatis teringat pada lelaki yang begitu dibencinya, bapaknya.

“Kenapa kamu ndak pernah pulang? Apa ndak kangen ibumu?” tanya kawan itu usai bercerita bagaimana hubungan pertemanannya dengan Anwar Saleh dan seakan memahami segala masalah di masa lalunya. Pertanyaan itu tak dijawab. Kawan itu juga menceritakan kesehatan ibu Anwar Saleh. Yang ditanya dan diajak bicara hanya diam, justru mengalihkan obrolan pada kesibukan kawannya itu sehari-hari. Obrolan itu terus berlanjut, ditingkahi azan asar.

Sore menjelang matang sempurna. Jalanan masih padat lalu-lalang kendaraan. Orang-orang berjalan tergesa untuk berangkat atau pulang. Kawan itu pamit pada Anwar Saleh dan meminta nomor ponselnya. Mereka berjanji akan saling berkabar dan bertemu kembali.

“Kagak manggung lu, War?” tanya mamang minuman dingin saat Anwar Saleh akan membayar minumannya dan beberapa batang rokok yang dia minta tadi lagi dan lagi.

“Perkutut kali manggung.”

“Maksudnya kagak gawe gitu? Daripada lu ngajedok terus di situ.”

Anwar Saleh katakan dua hari lagi akan ada pentas di daerah Depok. Dia jelaskan juga kalau segalanya pasti beres karena dia sudah tahu dan terlampau hafal akan tugasnya.

Suara kaleng milik tukang pijat bergelontang, membuyarkan lamunan Anwar Saleh tentang pertemuan dengan kawan lamanya. Dibukanya kembali aplikasi percakapan di ponsel, tak ada apa-apa dan digeletaknya begitu saja ponsel itu.

Terang pucat bohlam menyaksi benak Anwar Saleh dalam rebahnya. Dia menunggu dengan murung dan cemas kenapa Eti Ncus tidak memberi kabar usai pentas, padahal biasanya pesan ringan akan lempar-tangkap ketika Eti Ncus telah diantarnya ke rumah. Angan Anwar Saleh melayang seakan menembus petak kontrakan, menembus malam yang baginya terlampau panjang. Anwar Saleh masih menyesali dan meratapi kenapa belum juga mengatakan cinta pada Eti Ncus, namun merasa ditolak. Anwar Saleh mahfum kenyataan memang pahit untuknya. Nasib baik tak pernah berpihak padanya.

Di hadapan Eti Ncus lidah Anwar Saleh seakan kelu, tiang-tiang penyangga jembatan layang seakan menimpa kepalanya, sangat berat membebani pikirannya. Anwar Saleh ingat pentas tadi. Dalam benaknya masih tersimpan bagaimana suara Eti Ncus samar menyanyikan lagu Muara Kasih Bunda didengarnya dari belakang panggung saat dia sedang menyiapkan es cekek untuk tukang ketipung.

Bunda

Tak pernah kau berharap budi balasan

Atas apa yang kau lakukan

Untuk diriku yang kau sayang[1]

Bekas kardus yang bakal Anwar Saleh gunakan untuk mengipasi tukang ketipung terlepas dari genggamannya. Perasaan yang aneh dan penuh kegamangan merambat di hati Anwar Saleh. Dia tak ingin gubris semua itu dan melanjutkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya setiap pentas.

Sebuah suara notifikasi masuk ke ponsel Anwar Saleh. Hal yang begitu dinantikannya. Namun sekali lagi nasib tak pernah berpihak padanya, bukan pesan dari Eti Ncus yang datang, melainkan pesan dari kawan lama, yang memberi padanya sebuah alasan akan kepulangan.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]


[1] Nukilan lirik lagu Muara Kasih Bunda yang dipopulerkan Erie Suzan.

Cerpen

Lelaki yang Melambaikan Tangan Pada Kereta Api

Cerpen Dedy Tri Riyadi

Sebuah pertanyaan tertulis pada kertas berukuran folio; Apakah manfaat dari memelihara sapi? Faiyaz mengamatinya dengan tak sengaja karena kertas itu tiba-tiba berada di dekat kakinya, tergeletak di lantai peron. Ia hendak melakukan perjalanan ke Vijayawada, mengikuti anjuran dari Vaibhav agar sekali-kali meliburkan diri daripada bekerja terus-menerus 24 jam sehari selama 5 hari kerja tapi tak pernah bisa menjadi orang kaya raya.

“Berlibur itu seperti mengisi daya baterai bagi hati dan pikiran,” begitu bujuk Vaibhav  padanya. Namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengambil cuti dan berlibur. “Paling-paling berjalan dari satu ke lain tempat di daerah tujuan pariwisata, nongkrong sana-sini, makan-minum, menghamburkan uang saja,” keluhnya. Kali ini, Vaibhav, pemusik dan petualang yang kerap dijumpainya di kedai minum Crab Legs, memberi jalan keluar untuk berlibur murah dan benar-benar berbeda dari kebiasaan.

“Apa dan bagaimana itu?” selidiknya, penasaran.

Vaibhav mengatakan padanya, pada bulan September, di Vijayawada, ada festival keagamaan di sebuah ashram. “Kau tinggal datang ke ashram, berbaur dalam acara dan kegiatan yang ada, tidur berbagi dengan para peserta lain di tenda-tenda yang disediakan, makan bersama. Semuanya gratis!”

“Tapi, itu kan festival keagamaan? Dan aku bukan pemeluk teguh dari satu agama atau kepercayaan tertentu. Aku ragu.” Faiyaz mendadak seperti kehilangan minat pada pembicaraan terlebih anjuran Vaibhav. Dan bukanlah Vaibhav jika ia tidak bisa memberi jawaban atau alasan yang menyenangkan. Pergaulannya yang luas membuatnya selalu punya cara untuk membujuk orang bergembira. Lagi pula ia seorang penghibur yang siap mengajak orang menikmati musik yang ia persembahkan.

“Kau tahu apa manfaat dari orang memelihara ternak? Orang yang bersikap fragmatis tentu akan menjawab untuk diambil daging, susu, telur, atau lainnya yang bermanfaat. Namun, kau tahu hal spiritual apakah yang bisa didapat dari memelihara ternak? Ia menjalankan perintah Tuhannya selain mengambil manfaat dari beternak, juga menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Jadi, berdoa itu bisa dengan beragam bahasa, dan menyebut Tuhan bisa dengan beragam namaNya. Kau paham?”

Perkataan Vaibhav itu seperti dikuatkan kembali kepadanya saat Faiyaz melihat kertas dengan pertanyaan di dekat kakinya. Yang terutama saat ini adalah ia bisa berlibur dan melupakan pekerjaan sehari-harinya sebagai akuntan swasta yang selalu dirumitkan dengan angka-angka dalam tabel rugi-laba. Lamunan Faiyaz terhenti karena ia mendengar pengumuman dari pelantang yang menyebutkan kereta api dengan tujuan Vijayawada segera tiba. Sofma menggenggam erat tali-tali tas ranselnya, sebelum akhirnya melangkah ke anjungan peron sesaat kereta yang hendak dinaikinya benar-benar sudah berhenti di hadapannya.

Melangkah sambil memerhatikan nomor kursi untuk mencari tempat di mana ia harus duduk sesuai dengan yang tertera di karcis, membuat Faiyaz berjalan seperti tergesa dan terhenti. Para penumpang lain yang berusaha mencari tempat duduk atau meletakkan barang bawaan mereka ke rak di atasnya membuat semacam kemacetan kecil berkali-kali bagi langkahnya. Faiyaz baru merasa sedikit lega setelah ia melihat nomor yang diperhatikan dengan saksama sedari tadi pada karcisnya.

20 B! Kursi dekat lorong. Tempat duduk yang sebenarnya ingin ia hindari. Maklum, duduk dekat lorong akan selalu mendapatkan gangguan dari para penumpang yang lewat. Demikian juga dari penumpang yang duduk di dekat jendela kalau mereka ingin buang air ke toilet di ujung gerbong. Namun kali ini ia tidak merasa begitu menyesal, yang penting sudah dari jauh hari ia bisa mendapatkan konfirmasi tempat duduk dan keberangkatan, mengingat festival keagamaan di Luca Turka itu membuat kereta api ke sana di awal bulan September ini melonjak jumlah calon penumpangnya.

Selesai meletakkan tas ransel di rak di atas kursi, Faiyaz mendengar ada yang mengucapkan “Permisi” dengan nada lembut namun jelas. Seorang perempuan berambut panjang hitam legam dengan wangi seperti dupa sudah berdiri begitu dekat dengan dirinya.

“Nomor kursi saya 20 A.” Perempuan itu kembali bersuara.

“Oh, maaf saya menghalangi Anda masuk. Sebentar. Sebentar.” Faiyaz bergegas duduk agar perempuan itu bisa masuk ke dalam ruang yang dibatasi oleh dua deret kursi itu. Perempuan itu menyeret tas besar yang kemudian dia letakkan begitu saja di hadapannya segera setelah ia duduk pada kursinya di dekat jendela. Tas berukuran besar itu memadati ruang dan membuat Faiyaz harus menyesuaikan duduknya. Faiyaz adalah pria bertubuh lumayan tinggi dengan tungkai kaki yang panjang.

Demi keleluasaan duduknya, Faiyaz memberanikan diri untuk bertanya pada perempuan itu apakah boleh tas besarnya ia letakkan di rak saja. Perempuan itu merasa keberatan, katanya, “Aku hanya sampai dua stasiun dari sini. Paling lama satu setengah jam perjalanan. Semoga kau tidak keberatan.” Sofma mengangguk dengan kikuk, dengan senyum yang dipaksakan.

Perempuan itu berkata lagi, “Aku hanya sampai Simhachalam! Bukan sampai Vijayawada, tujuan terakhir kereta ini. Kau bisa mengerti?” Ucapannya kali ini terdengar seperti orang yang kecewa. Ini membuat Faiyaz tak ingin memperpanjang persoalan sepele ini. Biarlah, pikirnya, ia tahan-tahan duduk demikian. Toh, hanya selama satu setengah jam jika benar ucapan perempuan itu. Faiyaz mengangguk kembali. Kali ini sedikit lebih santai.

“Syukurlah kalau kau bisa mengerti. Aku ingin kereta ini segera berangkat.” Lagi, perempuan itu bicara padanya. Entah dengan maksud apa. Sofma sebenarnya ingin menahan diri agar tidak membuat perempuan di sampingnya makin bertambah emosi. Meski ia tahu bukan ia penyebabnya. Namun perkataan perempuan itu menggelitik rasa penasarannya.

“Saya kira kau ingin ke Vijayawada untuk mengikuti festival keagamaan seperti saya,” pancing Faiyaz .

“Kenapa kau mengira demikian?” Kali ini Faiyaz bisa melihat jelas mata perempuan berambut legam itu. Mata yang bulat besar dengan riasan maskara yang membuat mata itu terlihat semakin bulat dan besar. Mata yang bisa membuat degup jantung semakin kencang jika menatapnya lama-lama.

“Maaf, ada bau dupa yang begitu kuat ketika kau datang dan lewat di depanku.”

“Oh.” Hanya itu yang terucap sebagai responnya.

Perempuan itu membelalakkan kelopak matanya dan dengan tisu di tangannya ia menyeka sudut matanya sebelum melanjutkan bicara, “Tidak. Aku tidak pergi ke festival itu. Aku akan turun di Simhachalam. Urusan keluarga.”

“Oh.” Kali ini Faiyaz yang mengatakannya.

“Mau berdoa pada dewa apa kau di sana?”

“Maaf? Dewa? Saya belum tahu. Ini kali pertama saya pergi ke festival itu. Kau pernah ya?”

Perempuan itu kemudian menyebutkan beberapa nama dewa yang kepada mereka setiap acara dalam festival itu dihelat. Masing-masing akan punya waktu dan tempat sendiri dalam festival itu. Dan setelah ia menjelaskan cukup rinci, perempuan itu bertanya pada Faiyaz , “Apa pekerjaanmu? Kalau kau ingin rejekimu lancar dan karirmu baik, kau bisa berdoa sesuai dewa yang menaungi pekerjaanmu.”

“Saya seorang akuntan swasta. Kira-kira saya harus berdoa pada dewa atau dewi apa?”

“Akuntan itu berhubungan dengan keuangan dan ketelitian. Kau bisa berdoa pada Dewa Ganesha juga pada Lakshmi Dewi. Pada Dewa Ganesha, kau bisa berdoa dengan mantra – Om Gam Ganpataye Namaha selama 108 kali setiap hari, dan kepada Lakshmi Dewi kau bisa membaca mantra Maha Lakshmi supaya kau diberkati.”

Faiyaz merasa takjub pada perempuan itu. Betapa ia hafal ritual agama dan dewa-dewi yang disembah. Namun ia masih heran dengan sikap perempuan itu yang sedikit ketus dari tadi. Kurang mencerminkan seorang yang saleh.

Sebelum Faiyaz menanggapi perkataan perempuan itu, sayup terdengar peluit tanda kereta api siap diberangkatkan. Dan benar saja, perlahan-lahan kereta itu bergerak menarik gerbong-gerbongnya menjauhi stasiun.

Pemandangan di luar kereta yang memerlihatkan sebagian dari kota dan selebihnya areal persawahan entah mengapa membuat Faiyaz merasa ada beban dalam dadanya yang pelan-pelan menyusut beratnya. Ia mulai percaya ucapan Vaibhav bahwa dengan berlibur ada hati dan pikiran yang diisi daya kembali.

Tiba-tiba ia melihat ada serombongan orang berdiri di tengah areal persawahan seperti sengaja menunggu kereta api itu lewat. Dari rombongan tersebut ada seorang lelaki berdiri paling depan dan paling dekat dengan sisi rel kereta api dan melambaikan tangannya, entah kepada siapa, tapi pastinya yang dituju adalah salah seorang dari penumpang kereta api ini.

Faiyaz tidak menyadari perempuan di sebelahnya menarik semacam kerudung untuk menutupi wajahnya. Ia baru menyadari setelah perempuan itu bertanya kepadanya, “Sudah tidak terlihat?”

“Apa yang sudah tidak terlihat?”

“Lelaki yang melambai pada kereta api ini di sawah tadi.”

“Oh. sudah jauh. Memangnya siapa dia? Kau kenal?”

“Bukan kenal lagi. Dia bernama Hridaan, suamiku tadi siang. Aku memutuskan untuk tidak meneruskan upacara pernikahan karena ia seorang pecandu gutka[1]. Tak ada yang memberitahukan tentang hal ini sebelumnya kepada keluarga kami.”

“Dia masih berharap pernikahan kalian berlanjut?”

“Sepertinya begitu tapi aku tidak bisa. Pecandu gutka itu menjijikan bau mulutnya. Belum lagi ludah merahnya selalu sembarangan dibuang ke lantai. Aku tak akan tahan hidup begitu! Dia sempat bersikeras untuk mengantarku ke stasiun tapi aku lebih dulu pergi.”

“Kau tidak mengenal dia sebelumnya?”

“Bukankah tradisi kita untuk menikah tidak perlu saling mengenal pasangan masing-masing? Yang penting keluarga kita sudah sama-sama tahu siapa akan dinikahkan dengan siapa. Bukankah begitu? Apa kau lupa?”

Faiyaz terpekur. Ia sudah lama melupakan tradisi pernikahan semacam itu. Faiyaz melarikan diri dari rumah dan keluarganya karena dipaksa menikahi Adweta, anak perempuan kolega ayahnya. Keputusan bulat itu diambil karena ia lebih mencintai Binita, teman kuliahnya. Namun cinta itu juga kandas karena Binita harus menerima pinangan keluarga Saksham.

“Hei, mengapa kau melamun?”

Faiyaz mendengar ucapan perempuan berambut legam beraroma dupa di sampingnya dengan jelas tapi ia malas untuk menanggapinya. Faiyaz lebih tertarik untuk menikmati luka dalam dadanya seperti lelaki yang melambaikan tangan pada kereta api tadi. Ia yang tahu sebenarnya ada yang bisa ditentang dan diperjuangkan dalam hidup ini, tapi memang ada kalanya, pada akhirnya,  kita hanya bisa berkata, “Selamat jalan. Semoga bisa bertemu kembali.”****

Jakarta, September 2021


Dedy Tri Riyadi, pekerja iklan dan redaktur majalah sastra digital Mata Puisi. Buku Puisi Berlatih Solmisasi sempat masuk long-list Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.


[1] kombinasi pinang, jeruk nipis, parafin dan gambir bersama dengan tembakau, yang sebenarnya beracun, tapi kerap digunakan sebagai penyegar bau mulut dengan cara dikunyah dan disesap-sesap, dan diletakkan pada bagian dalam pipi.

Cerpen

Wak Banun

Cerpen Widjaya Harahap

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di atas peti

Hutang emas dapat dibayar

Hutang budi dibawa mati[1]

Aku berhutang keduanya: uang dan budi kepada seseorang yang selama puluhan tahun bahkan sebersit pun tidak pernah terpikirkan olehku. Keinginanku saat ini adalah segera bertemu dengannya senyampang waktu masih ada.

Aku tak tahu persis sejak kapan mulainya. Dan dari mana asal muasalnya. Kesadaran itu terbit begitu saja. Sekonyong-konyong aku merasa berutang kepada banyak orang. Sebagiannya orang-orang yang kukenal, sisanya tidak. Sebagian dalam bentuk utang uang, sebagian lagi berupa utang kebaikan. Aku tidak tahu cara membayar utang kebaikan. Yang sudah pasti, utang uang harus segera kubayar.

Yang tidak henti-hentinya menguntitku adalah ingatan kepada Wak Banun. Letak rumahnya bersebelahan dengan rumah orangtuaku, walaupun dipisahkan hamparan tanah yang cukup luas, ditumbuhi pohon-pohon rambutan dan sawo, tidak menghalanginya mengetahui keadaan kami. Pada saat umak tidak memasak karena tidak ada beras yang bisa ditanak, dia datang dengan rantang berisi nasi, sayur daun singkong tumbuk, sambal dan ikan limbat goreng. Melihat mata umakku yang berkaca-kaca dia mengelus pundak umak. “Besok pagi ke ladang kita ya,” ajaknya. “Padi sudah masak, waktunya diketam. Burung pipit pun sudah makan duluan. Ikutlah kau mengetam ya, biar kelen kebagian merasakan beras baru. Enak nasinya, padi Arias itu.”

Dari tiga hari membantu panen di huma Wak Banun, umak mendapat lima goni padi. Aku mengiriknya malam-malam. Miangnya membuat gatal sekujur kaki, tapi bayangan kami akan punya beras setidaknya sepekan ke depan membuatku tak memedulikannya. Setelah kering dijemur, aku membantu umak menumbuk padi itu di lesung. Melepuh telapak tanganku yang kerempeng karena jarang-jarang memegang alu, juga tak kuhiraukan. Bukan cuma enak rasa nasinya beras Arias itu, selagi ditanak pun aroma wanginya sudah menggelimangi sepenuh rumah.

Di musim berladang dan musim buah-buahan (Wak Banun punya berhektar-hektar kebun durian, manggis, langsat dan rambutan) umak selalu dikasih pekerjaan. Aku ikut membantu jika libur sekolah. Upahnya lumayanlah untuk kami menyambung hidup.

Waktu itu aku dan umak dipanggil Wak Banun membantunya memetik buah rambutan dari kebun di halaman belakang rumahnya. Aku yang memanjat, umak yang mengumpulkannya ke dalam keranjang dan karung goni. Ada juga Bang Ril, anak sulung Wak Banun, yang memanjat batang rambutan yang lain. Umur Bang Ril terpaut enam tahun denganku. Aku baru tamat SD ketika dia lulus SMA. Dari atas pohon, secara tidak sengaja, kudengar Wak Banun berujar kepada umak, “Untuk apa kau bela laki-laki malas begitu. Kalian kelaparan pun dia tenang-tenang saja. Kau yang pontang-panting cari makan, dia malah enak-enak saja tidur siang.” Dia tengah menggunjingkan ayah dan menghasut umak. “Bawa anakmu. Tinggalkan saja lakimu. Tak usah sama dia pun, kelen bisa hidup.” Pastilah Bang Ril juga mendengar perkataan emaknya. Dari atas pohon kudengar suaranya setengah berteriak, “Mak!” Wak Banun langsung terdiam. Menggelegak perasaanku. Dipikirnya dia siapa, seenaknya meracuni pikiran umak agar bercerai dari ayah? Jangan mentang-mentang dia membantu waktu kami susah terus dia merasa boleh tidak semena-mena mencemooh ayahku. Bukan menghilangkan kebaikannya, tapi memang tidak semuanya pemberian. Kebanyakan adalah upah untuk tenaga kami. Tidak dari dia pun kami bisa jual tenaga kepada orang lain. Walaupun boleh dibilang banyak jasanya, tapi aku tak senang pada kelakuannya.

Di rumah, waktu ayah tak ada, kutumpahkan unek-unekku, “Tak usah lagi kita mau kalau Wak Banun menyuruh kita, ya Mak.”

“Kenapa?” tanya umak heran.

Nggak betul Uwak ‘tu, masa tadi dia ngomong begitu soal ayah.”

“Yang dicakapkannya tadi itu ada pula betulnya.”

Betul kan? Umak sudah termakan racun Uwak ‘tu.

“Tak bakal mau lagi aku disuruh-suruhnya, Lebih baik sama orang lain saja,” sambungku, sambil kuselidiki air muka umak. Tenang seperti biasa. Tak nampak ada yang merisaukannya.

“Allah yang menentukan dari mana jalan rezeki kita, Amang[2]. Tidak selalu melalui tangan orang yang menurut kita baik. Soal kebaikan itu pun hanya Allah yang tahu isi hati manusia.” Aku kehabisan kata-kata. Tapi perasaan mendongkol masih tersisa.

Setelah itu kalau ditanya macam mana suasana perasaanku terhadap Wak Banun, kubilang macam kena malaria: kadang panas, kadang dingin, kadang menggigil. Aku tetap mengerjakan suruhannya. Biarpun aku berkeras hati tak mau lagi disuruhnya, toh nyatanya tidak ada pekerjaan di tempat lain. Lagipula ini kan hanya senyampang liburan sekolah. Kalau libur sudah berakhir aku tidak akan bekerja lagi, kecuali di sore hari.

Sejauh aku bisa mengingat masa kecilku, aku anak kurus yang selalu lapar. Di rumah aku hanya bisa makan sebanyak yang dibagikan umak di pingganku. Tidak ada nasi tambuh. Kalau aku punya uang, aku jajan di sekolah. Uangku hanya cukup untuk dua buah kue, tapi itu tak bisa meredakan laparku. Makanya aku makan lima tapi mengaku makan dua.

Lantas dari mana aku mendapatkan uang untuk jajan? Sepulang dari sekolah, atau sejak pagi di hari Ahad, aku mencari kayu api. Sebagian untuk umak memasak, sebagian lagi kusimpan untuk kujual ke kedai-kedai nasi. Uang hasil jualan kayu separuh kukasihkan kepada umak yang separuh lagi untukku jajan dan beli perangko. Selain kesempatan mengambil kayu rambung waktu onderneming menumbang pohon rambung tua untuk peremajaan tanaman, aku mencari kayu api ke hutan. Di musim penumbangan, onderneming membolehkan orang kampung mengambil kayu yang mereka sisakan di lapangan. Bagian batang pohon yang berukuran besar mereka ambil untuk bahan bakar rumah asap tempat mengeringkan getah sheet[3], dan dijual kepada DSM[4] untuk memanaskan turbin mesin uap lokomotif kereta api.

Pada hari-hari sekolah, Wak Banun adalah satu-satunya yang berjualan makanan di SMP-ku. Aku selalu menunggu waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, kontan si Uwak dirubungi anak-anak yang mau jajan. Kerumunan yang demikian ribut dan makan sambil berebut sehingga si Uwak sering luput mengawasi. Membuka peluang untuk curang membayar. Setiap kali aku mengaku hanya makan dua dan membayar dua. Padahal lima kue yang sudah kumasukkan ke dalam kantong nasiku. Kecuali opak singkong yang kasat mata karena besar ukurannya, kue yang kecil-kecil itu mudah disembunyikan dalam genggaman tangan. Dan menyusupkannya ke dalam mulut tanpa ketahuan. Bertahun-tahun urusan ini tersimpan rapi sebagai sebuah rahasia yang memalukan.

Hari-hari belakangan ini, tiga puluh lima tahun setelah tamat SMP dan pergi merantau—dan tidak pernah bertemu Wak Banun lagi—aku pulang ke negeri kelahiranku, sebuah kampung kecil di pesisir Timur Sumatra Utara. Life begins at forty[5], begitu kata peribahasa. Sepuluh tahun yang lalu tatkala umurku mencecah empat puluh tahun, aku jadi lebih mengerti memaknai kebaikan dan kejelekan. Perasaan tidak suka terhadap Wak Banun berangsur berubah. Aku hanya tahu sebagian saja dari apa yang kudengar, selebihnya hanya Allah yang mengetahui. Bagaimana aku bisa membuat penghakiman tentang laku baik dan buruk? Seperti kata umak, hanya Allah yang tahu isi hati manusia. Yang kuketahui, dulu dia sering menolong keluarga kami pada saat kami susah. Tidak jarang dia memedulikanku seperti dia memperhatikan anaknya sendiri. Biarlah di hatiku hanya ada kebaikannya. Selebihnya, biarlah itu jadi urusan Allah saja. Sejak berada di Medan, ingatan tentang Wak Banun terus-menerus mengusik. Aku harus pulang ke kampung. Menjumpainya. Membuka rahasia masa kecil dan membayar utang-utangku. Selagi dia masih ada.

Di beranda rumahnya, kucium khidmat tangannya yang kurus dan renta. Tangan yang dulu menumbuk beras pulut menjadi tepung, memarut kelapa, menyiapkan adonan dan entah apa lagi. Bersabung dengan sengat panas api agar kue-kue dan jajanan untuk kami tersedia sebelum jam istirahat. Menyiapkan makanan yang telah jadi darah dan daging kami, diriku dan kawan-kawanku. Dia mengatakannya dalam bahasa yang bersahaja: supaya kami tidak lapar waktu belajar. Sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan untuk kusyukuri. Sesuatu yang aku tidak pernah berterima kasih. Kupegangi terus tangannya. Perlahan-lahan kurasakan hatiku mulai meleleh.

Kuulurkan bingkisan berisi kain songket Talawi ke pangkuannya.

“Semoga jadi sigolom tondi[6] untuk Uwak,” kataku. Dibukanya bungkusan dengan tangan gemetar. Bibirnya yang terkatup bergerak-gerak, seperti menggelatuk. Memerah matanya menahan genangan yang menunggu tumpah.

“Aku mau minta Uwak mengikhlaskan. Jangan sampai tidak.” ujarku terbata-bata.

“Apalah rupanya yang mesti uwak ikhlaskan?”

“Dulu Uwak tak tahu, banyak jajanan yang tidak kubayar. Kumakan lima, yang kubayar dua. Sekarang aku mau membayarnya tapi tak lagi ingat berapa jumlah pastinya. Lebih kurangnya tolong Uwak mengikhlaskan. Sudah jadi daging, sudah jadi darahku. Kalau Uwak tak ikhlas, macam mana nanti aku ditanya di Yaumil Hisab. Tak bakal bisa aku menjawabnya,” kudengar suaraku serak bercampur getar.

“Dari dulu nya sudah Uwak ikhlaskan. Tau nya Uwak kau makan lebih, tapi biarlah. Tak ada nya pulak duitmu. Lagi pula bukan kau saja. Yang lain juga begitu.”

Lamunanku mengembara ke masa-masa itu. Saat-saat aku tak punya duit dan cuma menengok saja tak berani mendekat, Uwak Banun memanggilku. Mengetahui aku tak punya uang, disuruhnya mengambil jajanan yang kumaui. Berapa pun yang kuinginkan.

“Uwak doakan besarlah hendaknya tuahmu yo Amang.” Diciuminya kain songket yang kuberikan.

Kupeluk dia. Tubuhnya terguncang-guncang. Seketika berderailah tangisnya. Aku tak kuasa menahan diri. Kami pun bertangis-tangisan. Lembut dia mengusap-usap rambutku.

Iléé bayaaa ééé …. Tak sempatlah pulak nampak umakmu, anaknya kini sudah jadi orang.” Mendengar Uwak menyebut nama almarhumah umakku, menjadi-jadilah tangisanku.

Pagi ini—hari kedua semenjak aku tiba di kampung halaman—di beranda rumah Wak Banun aku duduk berhadapan dengan Bang Ril. Lembut dielusnya bungkusan songket Talawi yang kugenggamkan kepadanya. Dari penuturannya aku baru mendapat kabar Wak Banun sudah berpulang menghadap Allah. Hari ini persis empat puluh hari kepulangannya. Aku merasakan sebuah palu besar menghantam dadaku bertalu-talu menyisakan sesak yang tiada terhingga.

Mimpiku tadi malam itu begitu nyata.***


Widjaya Harahap, penulis tinggal di Ciamis. Bergiat menulis cerpen dan puisi. Cerpennya diterbitkan pada beberapa antologi bersama.


[1] Sebait pantun klasik Melayu. Penulisnya awanama (anonim).

[2] Amang = Ayah (Bahasa Batak, Mandailing), lazim dipakai sebagai panggilan sayang kepada anak laki-laki.

[3] sheet = Jenis hasil produksi lateks yang dicetak berupa lembaran pipih lalu dikeringkan dengan cara mengasapi di dalam rumah pengasapan (gudang asap, istilah lokal).

[4] DSM = Deli Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api Deli diwarisi dari Belanda. Nama DSM masih dipakai meskipun setelah diambil alih sudah mempunyai nama baru: Djawatan Kereta Api (DKA), yang kemudian berganti nama lagi jadi PJKA.

[5] Life begins at forty = Hidup dimulai ketika berusia empat puluh (peribahasa).

[6] sigolom tondi = Idiom Batak, penggenggam semangat.

Cerpen

Selubung Sihir Mantra

Cerpen S. Prasetyo Utomo 

Tak banyak hal diketahui Kodrat mengenai Ki Broto dan pedepokannya. Masih terselubung  rahasia. Terselubung misteri. Di mata Kodrat, penampilan Ki Broto – yang senantiasa mengenakan lurik dan  blangkon – tampak setenang kabut Gunung Merapi. Kodrat merasa harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami lelaki setengah baya itu. Ia, yang baru sekali bersua Ki Broto, mengikis  rasa canggung berhadapan dengannya.

Kodrat menghirup udara yang jernih di sekitar pedepokan, teduh pepohonan, dengan burung-burung branjangan lincah berkicauan di ranting-ranting. Ia meneliti tarian kuda lumping di pedepokan Ki Broto yang tiap hari senantiasa berlatih, menciptakan gerakan-gerakan tari baru, yang berbeda dengan kelompok kuda lumping Lurah Sukro.

Ki Broto mendekati Kodrat. Duduk di sisinya.  Memandangi latihan tari kuda lumping dengan iringan gamelan, hentakan kendang, dan lecutan cambuk yang menghentak bumi bertubi-tubi. Ki Broto tahu, jauh  di hutan menjelang puncak Bukit Turgo, di pelataran  makam Syeh Jumadil Kubro, terdapat seorang lelaki muda yang menyimak irama gamelan itu dengan jernih.

Ki Broto, dengan wajah yang tenang, tanpa pergolakan, merupakan pawang tari kuda lumping pdepokannya. Ia memiliki sepasang mata yang jernih, yang bisa menembus pikiran orang.

“Kenapa kau tidak meneliti pawang tari kuda lumping di Bukit Turgo?”

Kodrat memandangi Ki Broto yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa mesti pergi ke sana?”

“Temuilah Seto, seseorang yang selalu menari kuda lumping di sana! Ia pawang sanggar tari kuda lumping yang dipimpin Lurah Sukro!”

Termangu-mangu, masih bertanya-tanya, Kodrat tergagap, ketika ia berpikir: apa bedanya dengan kuda lumping pedepokan ini? Ia masih memandangi  tarian kuda lumping, dengan suara gamelan dan kendang yang menghentak-hentak, serta lecutan cambuk mengepulkan debu. 

Permintaan Ki Broto menjadi sihir yang tak terbantah, yang tak bisa dielakkan Kodrat. Ia bangkit, meninggalkan pedepokan, melangkah ke arah Bukit Turgo yang belum pernah dicapainya. Ia melangkah, dan tak merasakan lelah. Ia juga tak merasakan perjalanan yang asing, menempuh jalan setapak seorang diri, mencapai desa terakhir, memasuki jalan terjal ke arah hutan. Ia menempuh jalan setapak di antara pepohonan yang dihuni monyet-monyet yang bertengger di dahan.

Tak sekalipun Kodrat bertanya pada seseorang untuk mencapai  Bukit Turgo. Langkah kakinya seperti sudah memahami setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Mendaki lereng Bukit Turgo, suara gamelan kuda lumping dari pedepokan Ki Broto terdengar bening. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Seto, lelaki yang mesti ditemuinya, seperti disarankan Ki Broto. Ia tak pernah menduga bila mencapai pelataran makam yang dikeramatkan, dengan taburan bunga melati dan dupa leleh kehitaman, beku di anglo-anglo kecil. Di nisan itu tertulis nama: Syeh Jumadil Kubro. Dalam hati Kodrat menduga: seorang lelaki kurus, muda, dengan rambut lurus memanjang yang menari kuda lumping itu tentu Seto, lelaki yang disebut-sebut Ki Broto.

Duduk di atas sebuah batu, Kodrat menanti Seto selesai menari kuda lumping. Dipandanginya Seto menari kuda lumping dengan iringan gamelan yang berkumandang dari pedepokan Ki Broto. Sekilas ia tahu bila Seto bisa menari kuda lumping dengan memikat, menjiwai gerakan-gerakan raksasa, penuh getaran rasa.

***

Gamelan dari pedepokan Ki Broto tak terdengar lagi. Seto berhenti menari. Duduk di sisi Kodrat. Dari arah jalan setapak Bukit Turgo terlihat berjalan Lurah Sukro yang berwajah masam. Ia memasuki pelataran makam Syeh Jumadil Kubro. Lurah Sukro menebar bunga mawar, kantil, dan kenanga ke atas makam. Menyalakan arang di atas anglo. Mengipasinya. Harum dupa leleh terbakar tersebar di sekitar makam Syeh Jumadil Kubro. 

Kedatangan Lurah Sukro ke makam Syeh Jumadil Kubro, semakin tak dipahami Kodrat. Kedatangannya serupa selembar daun jatuh, mencipta suasana hening. Tetapi sepasang matanya memancarkan permusuhan. Wajah Lurah Sukro yang masam, angkuh, dan dengki, sungguh menebar keresahan. Ia mendekati Seto. Memandanginya tajam.

“Kau mesti bisa menaklukkan Ki Broto, agar dia membubarkan kelompok tari kuda kumping!” kata Lurah Sukro. “Kau sudah bisa mengalahkan mantra-mantra Ki Broto?”

“Semoga saya bisa lebih unggul darinya,” tukas Seto.  Tapi Kodrat menyaksikan, tiap kali pedepokan Ki Broto mempergelarkan kuda lumping, Seto  turut menari. Mantra Ki Broto seperti mengendalikan tubuh Seto. Kodrat memilih bungkam.

Terdiam, Seto menunduk, mengerling ke arah Kodrat. Dengan kerlingan mata itu, Seto memberitahu pada Kodrat, betapa dahsyat kekuatan mantra Ki Broto: yang bisa menyusupi raga seseorang dalam jarak jauh. Kodrat mengerti kini, mengapa Ki Broto memintanya menemui Seto dengan melakukan perjalanan kaki yang melelahkan mendaki Bukit Turgo, mencapai makam Syeh Jumadil Kubro. Permainan kuda lumping di pedepokan Ki Broto tak sekadar latihan pergelaran. Tetapi tari kuda lumping itu telah tersusupi mantra untuk menjaga kehormatan Ki Broto. 

Lurah Sukro dengan wajah yang masam tampak berambisi menekan Seto. Lurah Sukro dengan tatapan sinis, seperti ingin menguasai Seto, dan menaklukkannya.

“Kau sanggup menaklukkan Ki Broto dengan mantra-mantramu? Kini aku menagih janji. Kau  sudah menyepi di makam ini!” Lurah Sukro menyingkap ambisinya.

“Saya menemukan kekuatan mantra di makam ini agar dapat menaklukkan Ki Broto. Tiba waktunya saya memiliki kekuatan mantra yang lebih dahsyat darinya.”

Mata Lurah Sukro menyipit, menajam, menampakkan kelicikannya. Kumisnya yang tipis memutih seperti menguncup. Ia menyalakan lagi rokoknya. Menghisap  rokok itu, menghembuskan asap dengan gusar, seperti melampiaskan kejengkelannya.

“Aku akan menantang Ki Broto untuk menyelenggarakan pergelaran kuda lumping bersama di tanah lapang,” kata Lurah Sukro. “Tebarkan mantra yang membuat penari kuda lumpingnya tak dapat disadarkan saat kesurupan. Biar ia takluk padamu!”

***

Duapergelaran tari kuda lumping bersamaan dipentaskan di tanah lapang desa. Tarian kuda lumping Lurah Sukro – Seto sebagai pawang – diperagakan para pemain dengan dandanan raksasa, diiringi rancak gamelan, irama kendang menghentak-hentak, sesekali diikuti lecutan cambuk. Tarian kuda lumping Ki Broto dengan anyaman kuda putih bersurai keemasan. Penarinya para ksatria gagah berkumis dengan pakaian perang serba berkilau gemerlapan.  

Gamelan  yang mengiringi tarian kuda lumping terus bertalu-talu. Kendang  yang mengatur irama tarian kuda lumping menghentak-hentak. Para  penari yang berdandan raksasa menyelaraskan gerak tubuh dengan irama gamelan  yang mulai liar. Beberapa penari kuda lumping Lurah Sukro kerasukan roh. Menari dengan gerakan-gerakan tubuh mengejang, mata terbrlalak, dan melepas anyaman kuda yang mereka tunggangi. Tiba giliran mengusir roh yang menyusupi beberapa penari, Seto kesurupan. Ia menari, terus menari, dan tak mau berhenti.

Lurah Sukro segera berlari menghampiri Ki Broto yang berdiri tenang di bawah pohon trembesi, memohon dengan rendah hati, “Sadarkan para penariku. Aku tak akan pernah lagi memusuhi pedepokanmu!”

Tenang, merapal mantra dengan mata terpejam, Ki Broto menyadarkan para penari kuda lumping yang kesurupan. Terakhir, ia mengusir roh yang menyusupi tubuh Seto.

Kini Kodrat memahami kekuatan mantra Ki Broto dalam selubung senyap kabut lereng gunung yang menaungi pedepokan.***           

                                                                              Pandana Merdeka, Maret 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Jabik dan Hewan Kesayangannya

Cerpen karya Erwin Setia

Kau tidak bisa mencegah seseorang menyukai hewan tertentu, sekalipun hewan itu dianggap najis dan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Demikianlah tidak ada yang kuasa mencegah Jabik untuk tidak menyukai tikus got melebihi kucing atau kelinci atau hewan apa pun yang lebih layak dicintai. “Apa hakmu melarangku mencintai sesama makhluk?” Lelaki ceking itu selalu berkilah seperti itu tiap kali teman atau keluarganya mencecar soal preferensinya yang ganjil. “Tapi hewan busuk itu bisa membawa penyakit, Bik.” Jabik membantah, “Siapa bilang, buktinya aku yang setiap saat bersamanya tidak terkena penyakit apa-apa.”

Perdebatan tidak pernah berakhir. Kini Jabik sudah genap dua bulan memelihara Andre—tikus got hitam pekat—dan tikus itu terus bertambah gemuk. Keresahan juga menyubur di benak orang-orang terdekat Jabik. Bagaimanapun mereka masih terus khawatir. Mereka khawatir suatu saat tikus itu bakal menyebarkan wabah penyakit dan mereka khawatir Jabik sudah tidak waras.

Jabik selalu menyangkal itu. Ia menekankan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak suka mengamuk, tidak melakukan hal-hal aneh. Singkatnya ia sewaras lelaki berumur dua puluh empat tahun pada umumnya. Perihal kesukaannya terhadap tikus, ia bisa membawakan sejumlah argumen. Ada orang yang suka mengoleksi benda tajam, menonjok wajah orang lain atas nama olahraga, membeli hewan-hewan buas dan langka, mempunyai lebih dari satu istri, dan kelakuan tak lazim lain, lalu kenapa kalian mempertanyakan kewarasanku hanya karena aku memelihara seekor tikus, begitu Jabik kerap memberi jawaban kepada orang-orang yang melulu mempertanyakannya.

Dua bulan lalu ketika Jabik memungut Andre kecil yang baru saja keluar dari gorong-gorong, hatinya sedang kacau. Ia ingin menendang dan memukul benda-benda yang dilihatnya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai penduduk langit dan bumi mendengar suaranya. Ia ingin melakukan semua hal yang dapat membuat dadanya lega. Sore itu ia berjalan sendirian di jalan yang lengang dan sepi. Ia berjalan tergesa. Ia baru pulang dari suatu rumah yang tak akan lagi ia kunjungi. Hujan belum lama berhenti ketika Jabik mencapai jalan itu, suatu jalan di mana sekitar dua meter dari tempatnya berdiri ia melihat seekor tikus merambat pelan dengan bulu-bulu kaku. Memandangi makhluk itu, suatu perasaan sentimentil mengguncang Jabik. Ia menghampirinya, memungut si tikus, membawanya pulang ke rumah seperti seorang perempuan yang tak bisa hamil memungut seorang bayi yang dibuang, dan menamainya malam itu juga dengan nama yang belakangan melulu terlintas di kepalanya, Andre.

Ia merawat Andre dengan telaten. Ia memberinya makan, mengajaknya bermain, dan rutin membersihkan tubuhnya. Jabik tak peduli kendati ayah, ibu, serta para tetangga mencibirnya. Ia bilang ia bukan memelihara tuyul atau boneka santet, jadi tak seharusnya mereka mencurigainya terus-menerus seolah-olah tikus piaraannya dapat membobol berangkas atau mengirimkan jarum api ke rumah mereka.

Makin hari hubungannya dengan Andre kian karib. Jabik senang melihat polah lucu Andre. Ia suka mendengar cericit Andre yang terdengar semerdu kicau burung piaraan ayahnya. Seiring dengan itu, perasaan Jabik yang sebelumnya semrawut perlahan kembali tertata. Ia merasa udara yang dihirupnya lebih segar dan batu-batu yang menyesaki dadanya lenyap. Ia sudah bisa tertawa lebar dan tak lagi berhasrat untuk menghancurkan benda-benda atau menusukkan sebilah pisau ke leher seseorang.

Ayah dan ibu Jabik sesungguhnya tahu apa yang melatari keanehan anak mereka itu. Pagi sebelum Jabik memungut Andre, Jabik izin pergi ke suatu tempat. Tempat itu cukup jauh dari rumahnya. Jabik memohon doa kepada ayah-ibunya. Ia pergi ke tempat itu dengan niat baik dan setumpuk harapan indah tentang hari depan. Ia menumpangi bus antarkota dengan berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan, pandangannya mengarah ke luar jendela dan ia kerap tersenyum-senyum. Ia membayangkan wajah seorang perempuan. Seorang perempuan jelita yang sangat dicintainya. Ia membayangkan hari pernikahan, suatu hari ketika dirinya menjadi seorang ayah, suatu masa ketika dirinya menjadi kakek, dan sebingkai foto berisi potret keluarga besarnya di masa depan.

“Apa ini tidak kelihatan terburu-buru, Bik?” tanya ayahnya sebelum Jabik berangkat.

“Tidak, Yah. Jabik sudah yakin dengan Maya.”

“Tapi kamu baru mengenalnya beberapa minggu, loh,” timpal ibunya.

“Jabik bahkan pernah mendengar ada sepasang suami-istri yang menikah padahal mereka baru saling kenal tiga hari. Dan pernikahan mereka masih langgeng. Sekarang mereka sudah dikaruniai tiga orang anak.”

“Tapi kan itu beda, Bik.”

“Jabik dengan Maya juga beda, Yah.”

“Bik.”

“Tenang saja, Bu, Yah. Jabik tahu apa yang harus Jabik lakukan. Ayah dan ibu tunggu saja di rumah. Jabik pasti akan pulang dengan membawa kabar gembira.”

Sorenya Jabik pulang dan ia tidak membawa apa-apa, selain seekor tikus got yang muram dan sangat kotor. Selama berhari-hari ayah dan ibu Jabik tidak bertanya apa-apa kepadanya dan Jabik juga tidak menceritakan soal apa pun kepada kedua orang tuanya. Hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu perlahan memahami apa yang sebetulnya terjadi. Mereka hidup bersama Jabik sejak pemuda itu masih bayi merah. Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika mereka bisa mengetahui nasib buruk yang menimpa Jabik meskipun Jabik tidak pernah membicarakannya sekata pun.

Awalnya mereka risih dengan mainan baru sang anak. Bukan hanya karena tikus dikenal sebagai hewan menjijikkan, tapi juga omongan tetangga yang terasa pedas dan tiada habisnya. Namun, manakala mereka melihat keberadaan tikus itu menimbulkan perkembangan positif pada diri Jabik, pelan-pelan mereka dapat menerima kenyataan itu. Pada hari-hari awal keberadaan si tikus, Jabik menjelma pendiam yang murung dan suka mengurung diri. Ia hanya menengok si tikus yang diletakkannya di suatu kandang kayu kecil saat pagi dan sore. Ketika Jabik mulai aktif bercengkerama dan beraktivitas bersama tikusnya, barulah kemurungan dan kebisuan Jabik menghilang. Ia kembali menjadi Jabik seperti yang dikenal ayah-ibunya. Bahkan kali ini Jabik terlihat lebih ceria. Ia tetap ceria walaupun para tetangga tak pernah berhenti menegur dan menggunjingkannya. Ia seperti tak peduli lagi dengan tanggapan orang-orang. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana ia bisa merawat Andre dengan sebaik-baiknya. Saban melihat Jabik dan Andre bergaul akrab, ayah dan ibu Jabik selalu terharu. Jabik adalah anak mereka satu-satunya, yang baru lahir selepas ulang tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mereka ingin Jabik bahagia. Mereka ingin Jabik mendapatkan yang terbaik. Apabila seekor tikus got dapat membuat Jabik bahagia dan merasa mendapatkan yang terbaik, mereka tidak bisa melarangnya. Mereka tidak mau merusak kebahagiaan Jabik.

Suatu hari ketika Jabik sedang menonton televisi di ruang tamu dengan Andre di pangkuannya, seseorang mengetuk pintu. Jabik tidak menghiraukan suara ketukan itu. Ia terlalu fokus menonton sinetron yang tersaji di layar televisi bersama Andre. Ia mengajak bicara Andre seolah-olah tikus itu dapat mengerti perkataannya. Ia menertawakan kekonyolan aktor di depan Andre seolah-olah tikus itu memedulikannya. Pintu itu terketuk untuk ketiga kalinya ketika layar televisi menayangkan iklan dan Andre mencericit. Ibu Jabik muncul dari dalam kamar sambil menggeleng-geleng. Ia membuka pintu, sementara Jabik mengelus-elus tubuh Andre penuh kelembutan. Seseorang di ambang pintu menyerahkan sesuatu kepada ibu Jabik, lalu beranjak pergi.

“Bik.”

“Iya, Bu,” sahut Jabik.

“Ini,” kata Ibu Jabik seraya mengangsurkan selembar kertas undangan berplastik kepada Jabik.

Jabik meraihnya.

“Jadi, Maya menikah dengan sepupumu, Andre anaknya Pak Dirman?”

Jabik tak menanggapi ucapan ibunya. Ia sedang memandangi undangan di tangannya dengan geram. Dadanya berdentam-dentam. Ia memelototi undangan itu. Di sampingnya, Andre si tikus bergelung tenang menyandarkan tubuhnya yang tambun ke paha Jabik.

Beberapa detik kemudian, ketika televisi kembali menayangkan sinetron dan ayah Jabik keluar dari dalam kamar, Jabik merobek-robek undangan tersebut. Ia pergi ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tamu menggenggam sebilah pisau. Ia menghampiri Andre si tikus. Ia mencengkeram tikus gempal itu. Dengan mata berkilat-kilat Jabik mengiris leher Andre si tikus. Ibunya pingsan. Ayah Jabik menahan tubuh ibunya. Saat tangan ayah Jabik mendekap punggung ibunya, Jabik menyunggingkan senyum tipis sambil mendengarkan cericit terakhir Andre si tikus yang terdengar sangat memilukan. **

Tambun Selatan-Bekasi, 28 November 2019


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Haiku Beby Halki

I

melukis punggung

empat penjuru angin

tepi Mahakam

II

melingkar sinar

matahari berpendar

cantik memancar

III

kebaya putih

angin dalam kemarau

peluh bercucur

IV

daun berayun

berbisik angin malam

pulangkan cinta

V

tertutup embun

pagi menusuk tulang

dipeluk dingin

VI

tergerai rambut

menantang biru laut

anak gadisku

VII

terucap mantra

langit terdiam kelu

memuja Kresna

VIII

hujan menderu

malam mengejar waktu

tubuh membiru

IX

penyair gundah

tongkat menyeret langkah

angin mendesah

X

terkatup bibir

awan tersapu angin

hilanglah kata

XI

langit berpijar

suka duka menanti

tahun berganti

XII

api menyala

pinta semesta raya

damai doaku


Beby Halki, dokter yang menyukai musik keras.

Puisi

Puisi Fatah Anshori

Moynihan, 1912

Pemangkas daging itu bekerja di antara cemas nyawa yang terkupas, was-was. Ahli bedah menggunting ruang lain di Berlin dalam lekuk-lekuk bahasa di keningmu. Orang-orang di jalan menggambar jurang dalam dirinya masing-masing seperti kelamin-kelamin yang berceceran di dinding kota dan beranda media. Ketakutan menganyam ulang sarangnya di kepala dan diri yang resah. Ah… hati seekor singa harus menyaru dalam lelaku, tangan seorang wanita, yang kau pelihara dalam tiap-tiap diam: mekar dalam sepuluh sangkar yang mengurung rupa wajah kota. Potret murung suatu gedung: mall, bioskop, taman kota, stadiun bola terangkum dalam larik-larik kata di beranda harian seorang remaja. Sebuah keluarga mati dalam ruang isolasi, ruhnya menguap di antara pengap baju hazmat. Kau masih bekerja memangkas ulang daging-daging di kening ingatan yang tumbuh tak keruan, menutupi pandangan: hanya gambar-gambar buram kehilangan. Masa depan hanya dongengan yang tertinggal di buritan sebuah kapal yang telah karam.

Lamongan, 2021


Phenobarbital

Awalnya nyeri, yang kerap kau jumpai dalam hubungan gelap di setiap derap kaki-kaki yang basah akan gelisah. Ada suara tembakan yang coba diredam dalam pesan-pesan yang tenggelam di rahim zaman. Notif penting dan tak penting berlalu seperti kerlip traffic light. Di perempatan jalan mereka mengusung upacara perayaan masing-masing tubuh, budaya yang merangkak seperti kura-kura digital dalam jaring laba-laba. Lalu orang-orang menguap seperti mulut ikan koi yang melahap tai di empang-empang seberang mereka menanam kakus-kakus sederhana. Dan orang-orang mencicil nyeri tiap pagi. Tapi laki-laki itu masih berlari dalam angan-angannya sendiri, ketika pagi merobek lagi mimpi-mimpi mudanya menggantinya dengan kenyataan yang tak enak dipandang. Realitas menggunting-gunting ideologi di sepanjang kepala hingga lambung mahasiswa-mahasiswi jadi kolam-kolam ikan lele, kandang-kandang itik, sawah-sawah yang minta diolah. Menjadi rupiah dan barang-barang mewah. Tapi di matanya segalanya akan pecah belah seperti hidup Haji Dullah, rumahnya mewah, tanahnya, istrinya, hartanya, sapinya, melimpah, tapi akhirnya pecah belah. Lalu di tanggal merah segalanya jadi merah. Haji Dullah berlumuran darah dan segalanya berserakan di tanah. Tapi segala yang pecah belah tak ia bawa ke tanah. Dan segalanya hanya jadi kisah yang kerap diasah oleh lidah-lidah keluh kesah. Tapi hidupmu adalah rasa nyeri di hati yang gagal disiasati atau diobati. Dan kau juga tak mungkin bunuh diri di hadapan sunyi tangis bayi dan istri yang dilumat api.

Lamongan, 2021


Catgut 900 M

Pada seluruh luka kita akan mengeja, berapa pendek dan panjang kesakitan yang musti dihubungkan, dibungkam, disembuhkan. Sebelum siksa di tubuh manusia menganga, kita hanya pipa-pipa mukosa di perut domba, setiap hari kita pamah rerumput yang jatuh dari lubang hitam dinding-dinding kelam. Tak ada jerit sakit, pendek atau panjang hanya nyanyian gudang penampung sebelum kran terakhir mengintip muara akhir. Dunia luar tanpa mercusuar, atau kita yang terbiasa menyala dalam legam. Percakapan-percakapan bungkam. Bahasa terabaikan dalam gerak peristaltik, dinding-dinding merah muda, berlendir, mahir mengeja rasa dalam asam basa. Mengaduk keduanya di lapang nihil. Tak ada kebencian makhluk lain, hanya benih-benih rerumput yang kita ramut dan pilah sesuai desah. Bising usus terdengar halus di sela-sela kita yang rakus: dinding yang tak pernah aus atau haus. Dan kita tak juga terputus, bekerja dan bekerja, meski nyawa tuan hilang sementara, kita budak sepanjang masa, sebelum luka manusia membutuhkan kita.

Lamongan, 2021


Hikayat Oximetry

:jenazah-jenazah dari rumah

Garis putus-putus warna biru yang lugu

mengapit buku jarimu yang layu

keriput di wajahmu seperti memetakan

masa lalu bersama angka-angka yang

mencuat di layar kaca sebagai neraca

kadar nyawa di dalam tubuh yang

kian rapuh:

-99%: kau berlari dalam kilometer

           -kilometer mimpi yang enggan

           menepi [dunia ini abadi] dan

           kau enggan menepi

           pada pucuk-pucuk sepi, tak ada

           aroma kenanga dalam raga.

-95%: kau saksikan jerit orang-orang

           terhimpit, tercekik, dalam

           ribuan derap kesusahan, yang

           samar-samar serupa memar

           tamparan perempuan yang

           pernah kau tinggalkan sebab

           perigi tak lagi suci

-90%: mulai ada yang terbakar dan

           tenggelam di dada, angan-

           angan berumah tangga, sambil

           menanam bunga-bunga gugur

           dalam grafik-grafik yang

           jatuh menukik ke dalam ambang

           kelam kecemasan yang terbit

           dari wajah-wajah iba di depan

           kepala: orang-orang tercinta

           bisa apa? ruang-ruang isolasi

           telah terkunci dan terisi.

-85%: kemudian hanya bayang-bayang

           awan di pertigaan mengambang

           di antara perjumpaan dan

           perpisahan. lolongan panjang

           menggantung nyaring di

           orofaring seperti jerit anak kucing

           yang menelan kail pemancing.

           hidup ini kian nyaring kian kering

           dering telepon dalam igauan

           tenggelam dan terabaikan, tak ada

           pertolongan pertama, kedua,

           atau ketiga, hanya ada sesak

           yang kian merusak di rusuk.

-70%: entah apa yang kian menipis,

           seiring hari-hari yang terkupas di

           ambang pelipis seperti ada puas

           yang teriris. tentu saja bukan jeruk

           nipis yang kau peras dalam gelas

           untuk meredakan batuk atau kutuk

           yang mengeras. tapi yang nihil

           seperti meremas nyawamu

           agar tandas dan lunas. segalanya

           terkuras dalam deras cemas

           apa-apa yang amblas.

-65%: lalu yang kau kenakan dan

           banggakan menjelma bayang-bayang

           samar di retina. pluit kereta atau

           derap langkah ribuan kuda

           menggenangi bangsal isolasi.

           tapi kau tak mengerti paru-paru

           yang tenggelam bersama jalan

           pulang. suatu malam di pekuburan

           dengan nyanyian berlumur tangisan.

           lembab, hijau, sembab dan

           berkeringat melekat hingga belikat.

-50%: kau berhadap-hadapan dengan

           jalan lain penuh dirimu dan gigil

           yang membiru di balik baju. sianosis

           merangkak dari jari ke jari. dyspnea

           mengambang dalam batang-batang

           igauan yang mengental bersama

           darah. …

-35%: aroma peziarah merekah

           dalam desah …

-0%  : dan gelisah

           luruh jatuh

           ke tanah …

Lamongan, 2021


Diathermy

Pada gelombang yang tembus pandang

Kau karang peta nyeri dalam tiap-tiap

Diri melewati lekuk lembah

Bukit daging dan segala

Daki yang menyelip di hati

Asam urat yang kerap buat hidup

Terhambat, membuat kakimu seperti

Terikat hutang negara

Dan terjerat pasal-pasal

Yang dibuat asal tanpa akal

Cahaya mengental tertimbun lemak

Di lipatan perut yang jarang

Diurut, minyak tawon atau

Balsem Lang dengan

Koin seribuan

Di antara orang-orang yang hilang

Kau selipkan igauan malam-malam

Dengan suara tembakan

Tapi kau mengerti

Mereka tak pernah mati

Hanya tidak bisa berdiri dalam gelombang

Tembus pandang tak ada

Yang musti dimaklumi

Dalam diri-diri ini kecuali

Nyeri yang tak terobati

Lamongan, 2021


Ether

Senyawa kimia yang kau

Racik di nganga luka

Membuat kita terjaga

Dalam jeda

Nyeri yang tak teraba

Tak terbaca meski dengan

Neraca surga yang

Pernah menaksir dosa-

Dosa umat manusia.

Luka ke mana-mana

Menjalar sepanjang arteri

dan vena, tapi tak ada

Kata siksa menari-

Nari serupa

Biduan orkes kampungan,

Yang disawer seribuan.

Tapi di sejengkal daging

yang belum kering, mereka

Mencari amsal jerit

Ketika malam melumat

Seluruh tubuh yang pernah

Berlabuh pada riuh

Kota yang sementara,

Selebihnya duka

Tapi tak terasa

Apa-apa.

Lamongan, 2021


Chloroform

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam aus atau apkir

hidup yang kian

ke pinggir mencicip

lagi wangi orang-orang mati.

Kenanga, angsoka,

pandan, dan mawar

-mawar yang gugur

di gundukan.

Ambang luar dan dalam

pada retina, melayang ke

hitungan tanggal-tanggal

merah di balik kerah baju hanya

ada kau yang malu-malu

dalam tidur panjang kerap ada

yang hilang dalam dada mimpi

sesunyi hari sebelum

pagi mengetuk amsal sesal,

lubang-lubang yang

bercabang

memakan

igauan.

Lembar-lembar asing

di kening karyawan, tagihan

harian, cicilan bulanan, pajak

tahunan, negara menjahit

luka di punggung warganya

dengan bara yang menyala

seperti lampu jalan

di tengah malam.

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam kelam yang

benderang di ujung jalan

hanya persimpangan dan

potongan-potongan

tangan yang pernah hilang

di ambang lengang.

Lamongan, 2021


Cranioplasty

Penjahit daging terasing dalam sketsa tubuh

Tanpa jendela, pintu dan langit-langit yang

Menghadap tilas di balik batu,

Aroma kaldu manusia, belulang-

Belulang dari penggalian ulang

Makam-makam yang mengambang

Sejajar igauan biduan kondang

Yang ditiduri ratusan mata

Meruah di hadapan lusa.

Tiap hari kepala-kepala plastik berisik penuh

Kerlip sisik tembakan-tembakan di perbatasan

Palang pintu yang dipasang

Melintang di ambang mimpi.

Orang-orang meludahi sepi,

Dalam diri sendiri, tapi apa

Yang musti dicari ketika

Hari-hari hanya dentuman

Innalilahi, Yang kian kemari?

Lamongan, 2021


Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Bukunya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, Majalah Suluk (DK Jatim),danpernahterpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra, Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.Dapat disapa di Instagram: @fatahanshori dan Facebook: Fatah Anshori.

Puisi

Puisi Adnan Guntur

AKU MENJELMA KABUT DI SEPANJANG WAKTU

di sepanjang waktu, aku menjelma kabut yang menyarang dan hinggap di tubuh taringmu yang lancip, mencari mimpi atau pohon tumbang menyesali dirinya sendiri tumbuh

kumasuki tubuhmu, seanak adam dan hawa ditelurkan dengan suara yang payau, kadang angin tumbuh, lalu hujan, dan badai membentuk lelangit yang tak bisa dijangkau

“akankah kita kenali dari mana asal kakiku yang menapaki tanah dan tetumbuhan yang setiap hari runtuh”

“ataukah kita kenali, sebuah bahasa dan penciptaan kerap kali gagal melahirkan makna yang seutuhnya?”

lalu sepasang cakar dan moncong tanah muncul menjadi nyawamu, yang menumbuh-hancurkan segalanya asalkan mau

Ciamis, 2022


BAYANGAN TUHAN TERWUJUD DARI MATAKU

di ketinggian ini, hanya bau napas dan bayangan tuhan terwujud dari mataku, kuhancurkan kesedihan dari angin yang memotong batu menjadi burung

nama-nama terukir, melahirkan sajak dan kitab dari orang-orang yang telanjang

“deritilah nyawaku di sepanjang waktu hingga akhir yang disebut tahun”

di cekung gerbang bintang, sepasang lontar dan sekelumit bahasa, menghunuskan peratapan yang berloncatan ke dalam nyala api biru, menaungi tubuhku lalu menjadi abu

Ciamis, 2022


AKU TERKUBUR DI KEDALAMAN BERSAMA PUISI YANG TERKUNCI

kautemukan hujan dan musim berwarna cahaya, kapal-kapal menghentikan langkahnya, aku terkubur di kedalaman bersama puisi yang terkunci di balik peti

“mengertilah emas dan perak, membawa kecelakaan yang tidak pernah ada hentinya, sedang mimpimu harus ditimang dan disirami”

lalu sederet tokok, beberapa musim kemudian, mendendangkan lagu yang pernah kau kenali sebagai tubuhku, sebongkah batu, kunci terlipat, dan gugusan daun kering melayang tenggelam lalu terlipat seperti buku yang dibaca setelah anak cucumu menumpas para negeri penjajah dengan tubuhmu terbaring di atas awan

Ciamis, 2022


NYANYIAN BURUNG-BURUNG

angin menyelinap dari derap redup lumpur rindu, kesunyian dan keharibaan menampilkan dirinya dengan kedua kakinya yang terpotong, kau susuri tubuhku, di mana seanak ayat bernyanyi dengan lolong anjing menguar ke arah jendela

ada setitik gelap sajadah menggumpal mawar hitam, langit-langit, melukiskan berabad-abad yang bisu, menampiki telingamu di punggungku

“di sini, aku menunggu jawabanmu terbang melampaui sorga dari dasar neraka yang sabar!”

lalu namaku dilupakan oleh burung-burung yang terbang dan melempari bumi dengan meteor dan batu-batu merah melalui selangkangan langit biru

Ciamis, 2022


HATIKU KABUT

hatiku kabut yang menelan permukaan bulan, asap membeku di antara cahaya lampu, kau menebak ke mana lagi arah hujan dan lembah dari daun yang terombang-ambingkan senyumku yang sayu

kau kuasai lempeng gunung di antara celah-celah jendela rumah, pintu kaki dan kursi menata dirinya sendiri di balik sini, rumah kaca dan lemari menemani tubuhku dari kemalangan

“entah dari doa yang menyelinap kubasuh zikirmu di antara lelagu penghancur nyenyak, kutaburi tubuhmu dengan mimpi yang balaga”

namun bersigera langkah-langkah para penghuni sorga dari sebalik kuburan yang tertimpa pepohonan dan angin topan kakimu yang kuasa

Ciamis, 2022


PERJANJIAN MATAHARI

bau anyir dan daun salam, mengucur di tengah meja ke jendela ke pohon mangga, mengupasi tubuhmu dari lenganku yang uzur dari sepisau runcing lembab hujan subuh hari

kau menangis tika hujan jatuh menempeli tubuhmu dari ceruk tembok dan dahan yang patah, akar-akar dan bulan darah, mengucap lukamu di sebatas rupaku

“kau mungkin kan mengenali hujan dan bau tanah, tapi tidak dengan diriku!”

sepasang tangan menampa hujan dari matamu yang berjatuhan, mengikuti bayangan hanya dari depan, namun, matahari patah dengan bulan yang menusuk mataku

Ciamis, 2022


Adnan Guntur, kelahiran Pandeglang tahun 1999. Menyelesaikan studinya di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Wara-Wara Project, dan Sanggar Arek. Karyanya tergabung dalam beberapa antologi bersama, media online, dan media cetak. Kumpulan Puisi tunggalnya Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri, Skriptorium-Pagan Press, 2022

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

Aliran Ostinato

Tujuh hari

ikan-ikan sungai

dalam tubuh hari putus asa; mereka melongo ke langit

menantikan sesuatu jatuh dari sana.

Tiada yang memasuki mulut mereka

selain kekosongan

Detak melemah

waktu konstan;

menunggu dalam geming,

dalam hening,

meragu takdir azali

Seorang pemancing menyangka

kesabaran telah cukup membayar

ketenangan palsu

yang justru menghanyutkannya

dalam aliran ostinato

Akankah rahasia menyambar umpanmu kali ini

atau amarah lebih dulu memutus taut:

kemungkinan getas, yang menisbahkan

muasal keberadaanmu

/Oktober 2021


Rih

Kuungkapkan dengan diamku

dengan dinginku

ungkapan yang tersembunyi

di balik kata-kata,

Bahwa yang (tak) kuembuskan

di bawah teduh trembesi

malam itu, bukan lagi hangat:

potret peristiwa

bukan pula sejuk:

kisah rahasia.

Ia sekadar suara rendah

gema lembah hijau jiwamu

yang telah sekian masa

tak kau warnai

/Oktober 2021


Setelah Kepergian Hujan

Sebelum kepergian hujan

cawan-cawan penuh makna,

pohon-pohon bebas luka,

anai-anai riuh mengudara

sungai-sungai tenang memuara

Setelah kepergian hujan, kata awan:

“Dunia terbakar curiga.”

ambisi bergemuruh dalam tubuh manusia

sepanjang (meragukan) umur,

pengetahuan teralihkan

ilusi menjarah segala.

Usaha paksa menangkup kekosongan

hanyalah pintu menyambut kekosongan lain.

“Ke mana hujan pergi?” angin penasaran

Awan membisu:

bergeming lama—sebab satu hari setara seribu tahun

—dan angin pun kalut,

bersikukuh memburu selama itu

sampai suatu masa

awan luluh, lalu berkata:

“Sebenarnya ia telah menyelam ke dalam lautan.”

“Kenapa?” angin makin nanar

“Sebab di sana ia menemukan

arti keberadaan.”

Memang apa arti keberadaannya?

“Tak ada.”

angin gundah dengan jawaban awan

ia angkat kaki: berkesiur ke semua tempat,

sembari bertasbih dan mencuri-curi dengar

melintasi zaman, mengawasi peristiwa-peristiwa

entah sampai kapan

“Padahal kau pun tahu,” katamu, “satu-satunya tempat yang tak bisa hujan susupi

hanyalah tubuh lautan.”

/Oktober 2021


Satu Waktu

: Albert Einstein

Satu waktu,

di antara ruang purba

pernah kita tinggali berdua

Satu waktu

sebelum harapan

menjelma penyakit

sementara sungai dendam

masih jabang gunung es

di kutub-kutub qalbu

Satu waktu

di mana kuntum bunga

dan tangkai kekar pohon

urung rekah

alih-alih saling rengkuh di hari tua

Satu waktu lain,

ritus paradoks urip-

urup tipu daya,

dinding nafsu julang

mencakar mimpi-mimpi langit

Satu waktu lain

di mana pengetahuan;

rumus perihalmu muspra,

relativitas gelap melingkup

ingatan belantara

hangus

O, satu waktu lain,

dilatasimelipatgandakan

pintu-pintu kemungkinan.

Di manakah ruang

kita kembali

satu?

/November 2021


Pulau Atas Awan

Padahal dunia dalam diriku

ruah tanda tanya ketika

tuduhan-tuduhan meledak

di beranda langit

Kau bilang:

“Titik-titik jelaga kerap menjadi saksi

bagaimana setiap kisah,

dan kehidupan berakhir.”

Bukankah dalam kalimat lepas

kita pernah coba menerjemahkan jalan,

menampik logika dan retorika

demi bisa sampai seberang:

berenang ke surga terdekat

Tetapi di ufuk, di pulau yang kambang itu

kita alpa, kita tak punya suara

bahkan pada bahasa sehari-hari

kita hanya menemukan jejak luka

dan bekas yang dibiarkan

Lalu kebenaran menitahkan

pulau itu bersenandung:

“Huruf-huruf menyusun kehidupan

dalam doa, bagaimana sempat

manusia melumat khidmat mereka?”

/November, 2021


Mantol Plastik

: Bruno Mars

Mungkin tubuhku lebih rapuh

dari mantol plastik:

seharga sepiring nasi sayur, tempe goreng,

dan es teh manis Kartasura

Dengan itu kau mendesakku laju:

merobek tirai hujan;

menangkap basah dua merpati

yang kebingungan bagaimana mengakali air bah

Tapi aku berterima kasih

pada pencipta mantol plastik

Ciptaannya menyatukan

kita dalam satu tumpangan

Bulan tak perlu

sok-sokan mendengar lagi

segala keluh malam ini

Pria galau di kusen jendela

telah bahagia

di balik mantol plastiknya

/November 2021


Perekam Sepi

: N

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

seorang pandir mungkir

tanah subur lugu dikorbankan.

Dari buaian kamar

sampai liang lahat

penyesalan menggumpal

di langit: bergemuruh,

matahari undlap-undlup,

 “Pengkhianat!”

rembulan kecewa pada dirinya,

pada cahaya,

pada lelaki

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

tanpa sempat kucing mengeong manja

segumpal tanah hangus

dunia pura-pura legam.

Penyesalan menggauli depresi

melahirkan sebotol anggur putih

(sebab tak ada yang seberani darah) pun

tak ada dosa saat kardiograf ngambek

seorang polisi lantas berkhotbah,

“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

/Desember, 2021


Kabut

: embung Manajar

Ketika sendok berdenting; sepi berdentang

cerek mengeluh pada api

enggan melepas air pergi;

terbang bersama angin.

Separuh tanah hidup

di atas kehilangan

separuh lagi mati

di bawah keangkuhan,

mencari cara meminta maaf

pada langit

agar pohonan kembali tumbuh

agar hati kembali teduh,

dan lelaki sangsi

di meja payung itu

dapat mengaduk;

menyesap puisi lagi

/Desember 2021


Fariga

: untuk M

Sebetulnya angin memusuhi

kebingungannya sendiri

Memang, ke mana lagi sepi

dan waktu akan menarik-ulur hari

Selain mendesirkan nyeri

pada hati hutan yang sangsi

sejak mencintai api

Menghelalah atau dengar saja Rumi

dalam sebatang puisi:

Telingamu tak mampu mendengar irama

yang membuatnya menari

/Januari, 2022


Matras Berkabut

:I

Kali ini bukan angin

melainkan suara-suara

mengombang-ambingkan imanmu

Tapi kau cukup menumbuhkan edelweis

di bibirmu dan bertahan di sana

getaran gaib sabana itu mengenalmu dengan baik

Tak perlu ragu, tombol reset menunggu

di balik tenda hatimu

dan aku selalu menjaga malammu:

yang dingin

Juga mengawasimu menekan tombol itu.

Atau kita bisa coba menerjemahkan bintang

seperti dulu,

sementara sunyi berusaha menyeduh hakikat pagi

Kau boleh bertanya pada waktu sebanyak apa pun—

aku tak hendak mengeluh—

ke arah mana hidup yang fana

atau arah pulang yang baka

/Januari, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten. Sapa aja, siapa tahu jodoh: Instagram @ad_nanj

Puisi

Puisi Tegar Pratama

Atas Nama Ibu

andai permukaan matamu adalah samudra,

izinkan aku sebagai satu-satunya perahu

yang karam di sana.

andai lembut mulutmu adalah jalan lain

kata-kata menuju langit, izinkan aku sebagai salah

satu kata yang luput kau baca untuk

menemanimu menanti maut tiba.

andai hitam rambutmu adalah jembatan

pengantar ke sebuah tempat yang kau rindukan,

izinkan aku sebagai seluruh rontok putih rambutmu

menjadi perahu yang akan mengantarmu

jika kau jatuh sewaktu-waktu.  

Sukoharjo, 2022


Waktu Ibu

andai kita berlayar ke sebuah tempat yang kau impikan dan maut membenamkan kita dari kehidupan ini,

aku ingin menjadi henti detak arlojimu yang detiknya dirampas karam. aku ingin menebus waktumu, andai saat itu waktu dapat terhenti, yang terenggut tersebab merawatku. walau sedetik pun, andai bisa, akan kuserahkan seluruh detakku kepadamu, agar kau bisa menanti waktu kepulanganmu, barang sedetik pun.

Sukoharjo, 2022


Ibu Guru

siapakah yang mengajarimu menjahit? sehingga lubang-lubang pada diri ini sanggup tertambal tanpa sakit.

siapakah yang mengajarimu berhitung? sehingga ganjil dalam pikiran ini mampu tergenapkan tanpa bingung.

siapakah yang mengajarimu sandiwara? sehingga tangkap di mata ini dapat mengerti lewat tubuhmu tanpa bicara.

siapakah yang mengajarimu tertawa? sehingga dengar

di dalam liang telinga ini enggan lupa tanpa tapi.

Sukoharjo, 2022.


Cinta Ibu  

ibu, bila cinta adalah aksara yang luput kueja, maka engkau akan tiada bosan mengajariku membacanya. atau bila cinta berwujud sungai, maka engkau akan tiada lelah melatihku berenang atau menyusun kayu untuk menjadikannya perahu. namun sayang, ibu, ternyata cinta ialah pecah tangisku pertama kali di dunia dan engkau tersenyum bahagia.

Sukoharjo, 2022


Tubuh Ibu

kelak aku takut menghadapi hari-hari tanpa

masakanmu, bukan karena kurangnya bumbu

atau terlewat masak. melainkan pada sesuatu

yang kau masukkan sebelum tersaji di meja

makan. sesuatu yang membuat aku selalu

kelaparan. aku takut kelak tak dapat lagi

mendengar suara berisikmu bukan karena

tak ada alat-alat untuk kau gunakan

atau masalah kecil yang akan kau bicarakan.

tetapi pada sesuatu yang kau lakukan, sesuatu

yang membuat aku merasa tenang. kelak aku takut

menatap terbit matahari tanpa hangat

secangkir teh buatanmu. bukan karena tak ada

cangkir atau teh atau gula. bukan, bukan itu.

Sukoharjo, 2022


Hari Ibu

suatu hari aku pernah bermimpi

memiliki segala yang tak kupunya

dan aku lega ketika kau tak ada

di sana. aku bermain dengan masa

kecilku pada mimpi itu.

di sana kami bermain-main bersama pagi,

siang, sore, dan malam dengan berlari,

semua saling mengejar. sesekali kami berhenti

untuk mengaso dari kejaran matahari.

kami bertukar cerita tentang apa-apa yang telah

kau berikan. masa kecilku itu bercerita

tentang nama pemberianmu yang akan dibawanya

selama-lamanya. aku tertegun,

sebab hanya bisa kuhadiahkan

kepadamu kecemasan-kecemasan

pada hari depan.

Sukoharjo, 2022


Surat Ibu

kini aku mengerti, mengapa kau selalu berpesan agar aku tak pulang larut malam. sebab malam adalah pelukmu dan kau ingin aku terlelap dalam dekapmu. kini aku pun tahu,

mengapa kau tiada bosan mengingatkanku untuk lekas lebur bersama malam dengan memejamkan mata. sebab terjaga adalah doa-doamu dan kau berharap aku selamat melewati gelap berbekal nyala kata-katamu. dan kini aku semakin percaya, mengapa kau tiada henti menasihatiku agar bangun lebih awal, lebih dari yang seharusnya. sebab

cahaya adalah senyummu dan kau mau aku menyaksikan cantik selain langit ungu.

Sukoharjo, 2022


Tegar Pratama, lahir di Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Jawa Tengah. Dapat disapa di Instagram @tegarpratamabp