
Kata riset kerap bikin kening berkerut. Tiba-tiba ingat skripsi, metodologi ilmiah, daftar pustaka, dan dosen pembimbing yang hobi hilang saat dibutuhkan. Padahal, dalam dunia nulis, riset itu bukan soal teori tebal, bukan pula semata urusan turun ke lapangan pakai rompi bertuliskan observer. Riset bagi penulis, kadang justru sesederhana duduk di warung kopi dan mendengarkan obrolan dua ibu-ibu debat soal harga cabe. Nah, itu riset versi santai, tapi tetap tajam.
Banyak penulis kalau dibilang “naskahmu kurang riset,” langsung merasa tertampar, seolah disuruh jadi ilmuwan. Padahal, maksudnya bukan harus menyelam sampai dasar samudra demi nulis cerpen tentang paus biru. Maksudnya apakah kamu tahu apa sih soal yang kamu tulis? Kalau jawabannya cuma, “kayaknya seru aja,” ya wajar kalau ceritanya kerasa ngambang, ngawang, dan ngenes.
Riset itu ya soal modal. Modal tahu. Modal paham. Modal nggak sok tahu. Misalnya, kamu mau nulis cerita orang kena PHK. Tapi kamu sendiri kerja aja belum, apalagi kena PHK. Nah, risetlah. Tanya teman yang pernah dipecat. Atau baca curhat orang di utas. Buka kolom komentar berita. Lihat bagaimana mereka merasa kehilangan bukan cuma gaji, tapi juga harga diri. Baru deh kamu bisa nulis dengan napas yang lebih nyata, bukan cuma narasi ala sinetron siang.
Kadang yang bikin geli, nulis cerita nelayan, tapi waktu ditanya “perahu itu pakai motor tempel atau layar?” jawabnya: “yang penting bisa ke laut.” Lah? Itu bukan cerita, itu teleportasi! Coba kau bayangkan nelayan yang pergi melaut pakai perahu karet dan dayung dari galon bekas, lalu pulangnya bawa hiu. Fantastis. Tapi pembaca malah ngakak, bukan terharu. Di sinilah riset menyelamatkan martabat naskah.
Dan riset itu bukan melulu ke perpustakaan. Jangan keburu pakai baju flanel dan laptop penuh stiker kutipan Latin. Kadang riset itu ya sekadar manggut-manggut di angkot, pura-pura main HP tapi telinga nyolong obrolan sopir yang lagi curhat soal istri keduanya. Bisa jadi itu bahan mentah buat cerita yang lebih jujur dari drama Korea.
Ada juga riset dilakukan lewat kesedihan. Ini agak haru. Misal, kamu nulis tentang orang tua kehilangan anaknya. Tapi kamu belum pernah mengalami. Maka kamu bisa tanya, dengan empati dan hormat pada mereka yang pernah. Atau baca memoar, tulisan blog, puisi-puisi mereka yang berduka. Riset jenis itu bukan cuma nambah data, tapi nambah rasa. Nambah empati. Penulis yang paham, bukan cuma tahu.
Tapi memang, kadang yang bikin satire adalah, banyak tulisan justru tampil gagah dari segi diksi, tapi absurd dari segi isi. Nulis soal buruh tani, tapi tak tahu bedanya cangkul dan pacul. Nulis tentang perempuan korban kekerasan, tapi narasinya malah menyalahkan korban. Nah, ini bukan cuma kurang riset, tapi juga kurang akal sehat.
Dan lucunya lagi, ada yang risetnya lebay. Untuk nulis cerpen tiga halaman tentang maling ayam, dia wawancara dua RT, baca 17 jurnal kriminal, dan ikut webinar peternakan. Akhirnya cerpennya terasa seperti laporan BPS. Bagus sih datanya, tapi mana ceritanya? Riset itu bukan buat pamer, tapi buat menguatkan. Jangan sampai pembaca merasa sedang baca materi seminar.
Riset itu proses menundukkan kepala, aku belum tahu, tapi mau tahu. Bukan soal gelar, tapi kerendahan hati. Penulis yang merasa tahu segala justru paling berbahaya. Karena dari sana muncul kalimat-kalimat kaku, tokoh-tokoh palsu, dan konflik dibuat-buat. Semua itu bisa dideteksi pembaca yang cerdas hanya dalam dua paragraf pertama.
Ada ironi kecil, sebagian penulis menganggap riset mengganggu kreativitas. Padahal justru dengan riset, imajinasi bisa punya landasan. Riset bukan belenggu, tapi fondasi. Kau mau bikin cerita fiksi ilmiah tentang dunia setelah kiamat? Ya setidaknya tahu sedikit tentang cara kerja ekosistem, biar nggak asal munculkan kodok bersayap atau matahari yang pindah ke kutub. Aneh boleh, tapi harus logis dalam keanehannya. Pembaca bukan zombie. Mereka bisa mikir.
Kadang, riset terbaik justru datang dari hal-hal sepele, mengamati gerak tangan nenek saat meracik jamu, memperhatikan cara anak kecil menolak tidur, mencatat bahasa tubuh orang yang sedang jatuh cinta tapi pura-pura nggak peduli. Riset yang tak terdengar ilmiah, tapi sangat manusiawi.
Mari kita akui, riset adalah bagian dari napas menulis. Ia tak selalu butuh perpustakaan, tapi selalu butuh kepekaan. Ia bisa muncul dari Google, dari buku, dari dialog, dari luka, dari cinta, bahkan dari kegagalanmu sendiri.
Jadi, lain kali saat kau duduk melamun dan melihat kucing menatap angin sore, jangan remehkan itu. Siapa tahu itu bagian dari riset. Asal jangan lupa, jangan cuma diam dan merasa sudah paham dunia, padahal belum juga melakukannya.
Lihat. Dengar. Rasa. Pikir. Tanya. Baru menulis. Dan ulang lagi, ulang lagi. Karena riset sejatinya bukan soal tahu banyak, tapi tahu apa yang perlu ditulis. [] Redaksi









