Cerpen

Kekalahan yang Dimenangkan

Cerpen Septi Rusdiyana

Cerita ini bukan tentang aku, melainkan kisah kakakku, Nun. Perempuan yang mengaku telah jatuh cinta berulang kali pada suaminya. Terdengar sangat romantis, ya? Tapi percayalah, hanya dengan hati kamu baru akan benar-benar mengerti mengapa Nun bisa begitu.

Wonogiri, 28 Desember 2023. Aku turut dalam rombongan bus yang mengantar Nun dan suaminya, Satya, ke acara unduh mantu. Selesai acara, aku dan kedua orangtuaku memutuskan tinggal di rumah Satya, meski hanya semalam. Sebelum pulang, aku sempat ngobrol dengan Nun di kamarnya.

“Apa kau bahagia?” tanyaku.

Nun tersipu. Wajahnya nampak berseri-seri. Nun mengangguk semangat. Saking semangatnya, aku merasa hampir tidak lagi bisa mengenalinya. Benarkah seorang lelaki sanggup membuat wanita berubah begitu cepat? Nun memelukku. Mataku basah. Kali pertama, Nun meminta maaf dan berjanji akan menjadi kakak terbaik untukku.

Sejenak pikiranku melambung ke masa lalu. Di rumah, hubunganku dengan Nun tidak baik. Sejak kecil aku membencinya karena bapak ibu selalu membandingkanku dengannya. Nun beruntung, selain cantik, otaknya juga encer. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah gagal. Saking pintarnya, belum juga lulus kuliah, Nun sudah menjadi asisten dosen. Satu hal yang menurutku Nun tidak lebih unggul dariku: aku memiliki jauh lebih banyak teman, baik perempuan atau laki-laki. Tapi bagi Nun, sepertinya itu bukan masalah. Karena hampir seluruh waktunya memang tersita hanya untuk belajar dan bekerja.

Aku tidak banyak berinteraksi dengan Nun. Sejak SMA aku memilih sekolah di luar kota, sekadar ingin terlepas dari beban mental di rumah. Hingga suatu malam yang gerimis, tiba-tiba Nun datang ke kost-ku. Tentu saja aku terkejut. Tidak hanya itu, aku ngomel-ngomel saat ia menerobos masuk lalu berbaring di kasurku. Matanya terpejam. Ia tidak memedulikan ocehanku. Saat aku hampir saja menarik tangannya, tubuh Nun terguncang, disusul isakan yang semakin lama semakin keras. Aku bingung harus melakukan apa, karena selama ini kami tidak dekat. Aku memilih duduk di sampingnya, membiarkannya menangis hingga selesai. Setelah Nun bisa bercerita, aku akhirnya tahu, ia menjadi seperti tadi karena rekan dosen yang ia kira menyukainya, akan menikah dengan perempuan lain. Celakanya, perempuan itu merupakan rekan sesama dosen di kampus tempat Nun bekerja.

Sejak itu, Nun memutuskan resign dan memilih menjadi relawan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Sejak itu pula, aku tinggal di rumah. Kebetulan kuliahku sudah selesai dan tinggal mengerjakan skripsi.

Hampir setiap hari Nun menghubungiku. Aku juga mulai membuka diri. Bahkan, aku menjadi orang pertama yang tahu kalau Nun akhirnya menjatuhkan hati pada seorang lelaki bernama Satya. Sayang, saat Nun pulang dan menceritakan perihal rencananya, bapak ibu tidak setuju. Menurut mereka, Satya tidak akan sanggup menghidupi Nun, karena lelaki itu hanya seorang buruh tani. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah Nun. Meski tidak menangis, bibirnya terus bergetar. Seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.

Hari-hari terlewat dengan biasa saja. Suatu pagi, saat aku masuk ke kamar Nun, kudapati tubuhnya bersandar di dekat lemari. Saat kudekati, tubuhnya tak bergerak. Wajah Nun pucat dan terdapat luka sayat di pergelangan tangannya.

“Aku sangat bahagia. Satya menjadi milikku.” Suara Nun menyadarkanku kembali.

“Terus kabari aku, ya?” sahutku. Nun mengangguk.

Sebelum aku dan kedua orangtuaku pamit, aku sempat berjabat tangan dengan Satya. Entah, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kurang baik, tapi aku memutuskan mengenyahkan rasa itu.

Dua bulan setelahnya, Nun menelepon saat tengah malam. Ia bercerita kalau Satya belum pulang. Ia sangat cemas. Saat aku menanyakan ke mana suaminya, aku merasa Nun sedang menutupi sesuatu. Apa yang ia tuturkan seperti tidak menjawab apa yang kutanyakan. Namun saat ia mengakhiri panggilan karena Satya sudah pulang, aku kembali mengabaikan rasa itu.

4 April 2024. Setelah mengambil data tambahan di Solo, aku menghubungi Nun. Memberi kabar padanya kalau aku ingin mampir ke Wonogiri. Nun dan Satya menyambutku dengan senang. Aku diminta tinggal selama beberapa hari di sana. Meski rumah dan kehidupan yang mereka jalani sangat sederhana, keduanya terlihat bahagia. Apalagi saat Nun memberitahuku kalau ia sedang hamil. Aku ikut senang mendengarnya.

Pada malam ke-4, aku sulit tidur dan memutuskan duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel. Tidak lama, pintu terbuka. Satya masuk ke rumah. Aku menyapanya, lalu sengaja berbasa-basi agar dia mau menemaniku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku memulai obrolan.

“Habis ronda. Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Satya balik.

“Nggak bisa tidur.”

“Mbakyumu nggak bangun, kan?”

Aku menggeleng.

“Dia itu paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah. Padahal aku juga nggak ke mana-mana, paling di gardu ronda depan.” Satya mulai menyalakan rokok di mulutnya.

Merasa mendapat angin, aku mulai banyak bertanya untuk memuaskan hasrat keingintahuanku. Maklum, sejak awal aku belum mengenal Satya dengan baik. Entah karena terlalu polos atau bagaimana, dia merespons semua pertanyaanku apa adanya. Aku tidak berhasil menangkap sebuah kebohongan di wajah dan suaranya. Salah satu pertanyaan yang kuajukan adalah alasan mereka memutuskan menikah. Satya kemudian bercerita panjang kalau pertemuan awalnya dengan Nun adalah ketika Nun mengajar anak-anak usia dini di balai desa.

“Saat itu aku datang untuk memperbaiki pintu kamar mandi. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget. Buru-buru aku melepas pelukan itu. Takut dilihat orang lain yang nantinya bisa muncul fitnah.”

Aku mendengar ceritanya dengan khusyuk. Singkat cerita, aku akhirnya tahu, rupanya Nun yang selama ini mengejar-ngejar Satya agar mau menikahinya. Bahkan, Nun sempat beberapa kali mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Satya terus menolak.

“Itu yang pada akhirnya membuat Mas luluh?” tanyaku.

Satya menggeleng. Dia mengatakan kalau hanya soal ancaman, dia bisa mencari cara untuk membebaskan diri.

“Dia bilang wajahku mirip sama lelaki yang disukainya, tapi lelaki itu memilih menikahi perempuan lain,” Satya menjeda bicaranya. “Biar orang miskin, aku tetap laki-laki yang punya harga diri. Itu sudah menjelaskan kalau mbakyumu mencintai orang lain. Bukan aku,” lanjutnya lagi.

“Lalu apa alasannya dong?” tanyaku semakin penasaran.

“Simbok,” jawab Satya. “Beberapa hari setelah kejadian itu, malamnya almarhumah simbok datang lewat mimpi. Di situ simbok bilang: Sing sabar yo, Le. Uripmu yen iso manfaat, iso nylametke uriping liyan, berkah uripmu (Yang sabar ya, Nak. Hidupmu jika bisa bermanfaat, bisa menyelamatkan hidup orang lain, maka berkahlah hidupmu),” lanjut Satya menirukan ucapan ibunya.

Aku tercekat. Dadaku berdesir. Orang yang selama ini kupikir menyimpan maksud buruk pada Nun, ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

“Sudah dulu ya, ngobrolnya dilanjut besok lagi.” Satya berlalu menuju kamar tanpa menunggu responsku.

Aku terpaku di bangku kayu dengan banyak sekali pertanyaan lanjutan. Apakah Nun mencintai Satya? Apakah Satya mencintai Nun? Apakah mereka sedang saling menyakiti? Kehidupan macam apa yang saat ini mereka jalani? Apakah mereka bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan sepertinya, aku tidak ingin mengerti.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu dari dua putri cantik bernama Negar dan Nala. Anggota komunitas menulis Kamar Kata.

Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.

Cerpen

Ngaji Bareng Simbah

Cerpen Septi Rusdiyana

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.

Tin tin

Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.

***

“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.

Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.

“Nadia, Mbah.”

Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.

Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.

“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”

“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.

Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.

Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.

Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”

Aku tidak membalas pesannya.

***

Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.

“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.

“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.

“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”

“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”

“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”

“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.

“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”

Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”

Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.

Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.

“Ya, Mas,” jawabku malas.

“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.

“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”

“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”

Hening.

“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.

“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.

Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.

***

Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.

Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.

“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.

Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.

“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

***

“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.

Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tidak?” tanyaku menirukannya.

“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.

“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”

“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”

“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”

Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.

“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.

“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.

Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.

“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.

***

Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.

“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.

“Kok sudah pulang?”

“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”

Mbah Diro tersenyum mengizinkan.

Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.

Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.

“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***


Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala