Cerpen

Seperti Menggunting, Namun Ini Daging

Cerpen Yosef Astono Widhi

 “Tragedi itu terjadi sekitar setahun lalu. Desa ini diteror seorang pembunuh berdarah dingin. Puluhan nyawa hilang dalam waktu kurang dari semalam. Dia melakukannya dengan gesit dan meninggalkan bagian-bagian tubuh korbannya begitu saja. Ada yang ditinggalkan dengan tanpa kepala, ada yang satu daun telinganya hilang, bahkan ada yang hanya diambil buah zakarnya. Anehnya hanya orang dewasa yang jadi korban, menyisakan bocah-bocah yang belum punya pengalaman apa-apa. Mungkin itu cara ia menghancurkan desa ini secara perlahan,” terang Yasmin.

Alif menaksir umurnya sekitar setengah darinya. Wajahnya manis, setidaknya bukan buruk. Tubuhnya terawat. Sebenarnya Yasmin cukup menarik. namun Alif datang untuk Martha.

“Nyonya salah satu korbannya, sehingga kini aku harus hidup sendiri.”

Alif tercenung mendengarnya, dan ia berpikir Yasmin anak Martha.

“Aku ikut nyonya sejak kecil. Kata beliau, aku jadi alat pembayaran orang dari Negeri Timur yang datang dan menggunakan jasanya. Mungkin ia bapakku, aku tidak tahu juga. Tapi kata nyonya, orang itu mengaku menemukanku di sesemakan. Mungkin aku buah dari perempuan yang kerap melenggang di antara lelaki kesepian.”

“Jadi kamu pemilik rumah ini sekarang?”

“Iya. Aku juga yang melanjutkan pekerjaan nyonya.”

“Kamu juga menjajakan tubuhmu?”

“Awalnya tidak berniat karena masih ada uang peninggalan nyonya. Namun banyak orang seperti Anda datang mencari nyonya. Satu dua kali kutolak, namun lama-lama kasian melihat mereka yang sudah rela datang dari jauh, namun hasratnya tertahan karena tidak menemui yang mereka cari.”

Meski sudah pernah berkunjung, rumah ini tampak berbeda bagi Alif. Lebih tertata dan rapi, dengan banyak hiasan interior. Tapi Alif sedikit terganggu dengan interior yang tidak selazimnya ada di sebuah rumah. Kaki menggantung di sudut ruang, potongan telinga dalam stoples berisi air, potongan tempurung kepala. Hal yang paling menyita perhatiannya, jantung ditaruh di atas kain bludru merah dalam kotak kaca bulat, membuat jantung itu seakan berdetak ketika dilihat dari sisi yang lain.

“Banyak orang datang berniat menggunakan jasaku, namun tidak membawa apa-apa selain berahinya. Demi tidak dianggap sundal gampangan, aku menerimanya tetap dengan bayaran, tapi dengan apa saja. Bahkan dengan potongan tubuh manusia pun kuterima.”

“Lalu untuk apa kamu menyimpannya?”

“Hidup sendiri adalah musibah bagi perempuan sepertiku. Dengan menyimpannya, aku seperti memiliki teman karena bisa merasakan kehadiran orang-orang di rumah ini. Mungkin pemilik potongan tubuh itu datang untuk melepas rindu, atau mereka tidak bisa masuk surga karena bagian tubuhnya tidak utuh, entahlah.”

Yasmin mengambil stoples berisi potongan jari manis dengan cincin kawin yang masih terpasang. Ia mengocoknya beberapa saat sampai jari itu berputar-putar. Setelah itu ia menaruhnya di meja, jari itu menggeliat seperti masih hidup.

“Ia bergerak,” seru Alif.

“Mengasyikkan, bukan? Banyak orang bilang jari manis yang dilingkari cincin kawin adalah bagian tubuh paling cepat membusuk. Tapi ini tidak, mungkin karena pemilik jari dan pasangannya kembali bertemu di alam sana hingga mereka bisa melanjutkan perjalanan cintanya. Hahaha entahlah.”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?”­­

“Hahhh. Aku memang terlahir kesepian. Aku selalu membayangkan nikmat hidup bersama orangtua, atau pasangan sehidup semati. Namun memikirkan diri sendiri saja rumit, belum lagi jika harus mendengar keluh tentang kehidupan mereka yang berkunjung kemari. Mungkin bagi mereka, melacur satu-satunya surga yang bisa mereka tapaki. Itu pun kadang masih terselip umpatan dan kekesalan di tengah desahan mereka.”

“Gila.”

“Ini memang gila. Ada pemuda yang sering datang kemari. Pada awalnya ia membayar dengan potongan tubuh entah milik siapa. Lama kelamaan ia datang dengan tangan kosong, katanya ia sudah kehabisan persediaan. Lalu ia menawarkan tubuhnya sendiri. Ambillah apa saja asal bukan kejantananku, katanya.”

“Kamu terima?”

“Sudah kukatakan aku bukan sundal gampangan. Namun aku juga masih punya belas kasihan. Maka aku memilih memotong jarinya satu persatu agar ia tidak merasa begitu kehilangan. Namun selayaknya manusia lain, jarinya hanya dua puluh. Setelah semua hilang, ia menukar bagian tubuhnya yang lain seperti lengan, kaki, telinga. Yang tersisa kemudian hanya kepala dan kejantanannya yang menempel pada badan. Setelah itu ia tidak lagi datang.”

Yasmin tiba-tiba membuka kain atasnya, menyisakan kemban berwarna serupa kulit. Ia mengikat rambutnya sebahu dan membuat gerakan eksotis. Seketika Alif bergidik. Ia memang datang untuk menggunakan jasa seorang sundal. Namun yang ia bayangkan adalah Martha, seorang paruh baya dengan mata yang indah, mengobrol dengan secangkir teh menemani Alif di kelelahannya. Bahkan Alif rela menunggu sampai esok hari jika Martha enggan melayaninya malam itu. Atau setidaknya Alif hanya ingin menatap mata indah itu sekali lagi. Namun di hadapannya kini duduk seorang yang tidak kalah menggairahkannya.

“Jadi, Anda bermalam di sini, kan?”

Alif jelas paham, yang Yasmin maksud bermalam bersamanya di atas ranjang. Namun ini benar-benar di luar perkiraan Alif. Seorang gadis muda bertubuh indah terang-terangan mengajaknya tidur.

“Aku ke sini untuk Martha.”

“Bagaimana lagi, nyonya sudah berpulang.”

Hal ini cukup berat bagi Alif. Akal sehat dan nafsunya sedang berperang hebat. Akhirnya ia memilih untuk berkemas dan berencana meninggalkan rumah itu secepatnya.

“Aku kelelahan. Aku cuma mau menatap mata indah Martha. Kalau nggak dapat, lebih baik aku pulang. Selamat tinggal.”

Alif berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Yasmin turut berdiri, menarik dagu Alif dan mencumbuinya. Gerakan itu begitu cepat sampai-sampai Alif tidak menyadarinya. Ciuman yang begitu erat itu membuat Alif susah bernapas. Tapi ia mengakui, bibir itu terlembut yang pernah ia cicip. Ciuman itu terlepas setelah Alif mendorong Yasmin sekuat tenaga karena napasnya mulai tersengal.

“Bibir Tuan manis dan hangat. Sempurna. Setidaknya bibir yang Anda hisap barusan tidak kalah menarik ketimbang mata Nyonya Martha, bukankah begitu, Tuan?”

Tidak menunggu jawaban, Yasmin menarik tangan Alif menuju kamarnya. Seperti terhipnotis, Alif menurut saja menuju ruangan gelap dengan harum narwastu.

“Tahan sebentar Tuan, aku akan membuat permainan kita lebih menggairahkan.”

Yasmin menyalakan lilin di tiap sudut kamarnya, menyisakan suasana remang dalam kamar. Yasmin berbalik menatap Alif, ia memegang bahu Alif dan membaringkannya di ranjang. Yasmin mencium Alif singkat. Kemudian tangannya menyusuri badannya sendiri sembari berputar dan seketika kembannya sudah lolos dari badan. Yasmin berkedip sekali sebagai isyarat bahwa Alif boleh bergerak. Tanpa menunggu, Alif langsung meraih tubuh Yasmin dan menariknya ke ranjang. Mereka berguling dua kali sambil mulut saling terpaut. Dalam hitungan detik, mereka sudah sama-sama telanjang.

“Lakukanlah pelan-pelan, Tuan. Kita punya waktu sepanjang Tuan mau.”

Alif segera akan memulai permainan berikutnya. Ia menindih tubuh Yasmin, terdengar lenguhan lirih dari keduanya. Pada saat itu Alif merasa ada yang mengamati pergumulan mereka. Alif memutarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia benar-benar merasa ada orang selain mereka.

“Kita tidak sendiri?”

“Sudah kubilang Tuan, kehadiran mereka itu nyata.”

“Tidak-tidak. Baru saja kurasakan, siapa dia?”

“Tidak ada, Tuan. Sudahlah.”

Yasmin kembali merengkuh tubuh Alif hingga melupakan perasaan waspadanya. Sebelum Alif meraih puncak, ia tak sengaja melirik ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang menyala. Sepasang bola mata yang tersimpan di dalam stoples berisi air. Alif betul-betul ingat mata itu. Ia kini mengerti siapa yang mengamatinya tadi.

“Ma-Martha..”

Jrraasssh. Belum selesai kalimat itu terucap, kepala Alif sudah menggelinding turun dari ranjang. Terlihat di atasnya, Yasmin menyeringai sambil memegang pisau.

“Terima kasih Tuan, tidak kusangka aku bisa menemukan bibir yang pas untuk bapakku.”

***

Di suatu malam menjelang pagi, seorang gadis dengan karung di punggungnya berjalan mengendap di antara rumah-rumah yang berhimpit. Ia bergerak dengan tenang sambil menengok ke setiap rumah. Setelah menentukan pilihan, ia melompat melalui jendela. Di hadapannya sepasang kekasih sedang tidur. Gadis itu mengeluarkan badik kecil yang sejak tadi menggantung di pinggangnya. Ia menunjuk muka perempuan kemudian berganti pada yang laki-laki. Ia melakukan itu beberapa kali seolah sedang memilih. Akhirnya ujung badik itu berhenti di antara wajah keduanya, lalu ia mengayunkannya ke kanan, lalu ke kiri secara cepat. Darah muncrat ke mana-mana. Nyawa mereka melayang. Gadis itu menurunkan tubuh keduanya, dan memperhatikannya lekat. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bahagianya kelak bila bisa bertemu orangtuanya. Lalu ia berpaling ke arah yang perempuan.

“Aku suka telingamu. Cocok dengan gambaran ibuku. Nah, kalau hidungmu, cocok untuk bapak.”

Gadis itu memotong telinga si perempuan dan hidung si laki-laki. Ia membuka karung yang di dalamnya sudah berisi potongan-potongan tubuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gunting taman.

“Tak kusangka ini sangat mudah, seperti menggunting, namun ini daging.”

Ia menggunting tubuh perempuan sampai seluruh organ terpisah. Bagian yang ia suka dimasukkan ke karung dan meninggalkan yang lain menumpuk begitu saja.

“Sebentar lagi aku punya orangtua yang menyayangiku, tidak seperti si tua Martha sialan. Aku bosan diperlakukan selayaknya anjing!.”

Yogyakarta, Oktober 2019


Yosef Astono Widhi, gemar membaca dan berteater. Sedang berusaha menamatkan studinya di Sastra Indonesia UGM. Twitter: @yosefaw, Instagram: @yosefastono, Email: [email protected]

Buku, Resensi

Celeng dan Cairnya Kedirian Manusia

Oleh Muthia Sayekti

Tokoh Sirius Black pernah menasihati keponakan baptisnya, Harry Potter, bahwa dalam setiap diri manusia sejatinya terdapat kebaikan dan keburukan. Keduanya saling bergandengan dan tidak terpisah. Ingin menjadi seperti apa manusia itu sendiri tergantung pada pilihan dari masing-masing manusianya. Nasihat itu muncul dalam sebuah adegan di serial film Harry Potter yang ke-5 berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007). Black menyampaikan petuah tersebut ketika Harry merasa gelisah karena dirinya memiliki ikatan jiwa dengan Voldemort, penyihir jahat kelas kakap yang menjadi tokoh utama antagonis dalam serial film ini. Harry khawatir ia bisa menjadi sama jahatnya dengan Voldemort. Oleh sebab itu, sebagai orangtua, Sirius Black mencoba untuk menenangkan keponakannya bahwa ia sangat bisa menjadi penyihir yang baik meskipun jiwanya terikat dengan Voldemort.

Dari kutipan adegan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa menjadi baik atau buruk sebagai manusia, merupakan otoritas diri masing-masing individu. Manusia digambarkan sebagai subjek yang otonom untuk bisa memutuskan karakter mana yang ingin ia tonjolkan sebagai manusia.

Berbeda dengan narasi tersebut, tokoh Joker ternyata tak bisa sama otonomnya seperti tokoh Harry Potter. Dalam film Joker (2019) nampak bahwa menjadi jahat tidak murni atas keputusannya sendiri. Pada adegan-adegan tertentu, Joker justru bisa dikatakan sebagai anak lelaki yang berbakti pada ibunya, pekerja keras, dan penyayang. Ia dikisahkan menjadi psikopat sebagai bentuk respon atas ketidakadilan hidup yang bertubi-tubi menimpanya.

Dengan demikian, kita bisa membandingkan bahwa karakter seseorang tidak serta merta muncul atas otoritas diri. Ada faktor di luar tubuh manusia yang turut mengintervensi bagaimana karakter seseorang itu terbentuk.

Gambar1: Cover Buku Menyusu Celeng. Sumber: ebooks.gramedia.com  

Dalam buku Menyusu Celeng (2019) karya Sindhunata, karakter manusia dikisahkan secara metafor serupa hewan celeng. Di sini, Sindhunata mencoba untuk menceritakan kisah pelukis Djokopekik yang dikenal dengan lukisannya berjudul Berburu Celeng. Secara stereotip, celeng sering merujuk pada hewan yang rakus, beringas, dan penuh hasrat akan kuasa. Pun sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa celeng merupakan hewan yang sering digunakan dalam praktik pesugihan; babi ngepet. Di sini, Sindhunata ingin membalik persepsi bahwa pesugihan celeng ini justru menjadi penyelamat masyarakat miskin yang tak mampu memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan demikian, celeng tidak hanya binatang yang buruk tetapi juga memiliki sifat penolong, sifat kemuliaan.

Dengan gaya seperti sedang bercermin dalam konsep psikoanalisis Jacques Lacan, Sindhunata menceritakan pelukis sedang melakukan proses (mis)rekognisi ketika berbincang dengan wayang celengnya (hlm. 85). Semakin si pelukis menghina dan mengumpat pada wayang celengnya, kata hinaan dan umpatan itu justru membuat si pelukis melakukan proses refleksi diri. Pelukis merasa bahwa dirinya juga tak lebih baik, bahkan sama buruknya dengan sifat-sifat yang dimiliki celeng. Hingga akhirnya ia sampai pada titik perenungan bahwa yang memiliki sifat seperti celeng tidak hanya ia (pelukis) seorang, tetapi sebagian besar manusia zaman ini. Zaman yang mana ia sebut sebagai Zaman Kalabendu.

Titik puncak perenungan si pelukis ditandai pada situasi adegan di mana si pelukis melepaskan segala dendamnya pada si celeng dengan mandi di Tuk Celeng, tempat yang dipercaya sebagai Mata Air Celeng yang bisa memurnikan jiwa, menghapus kesedihan, dan menyembuhkan segala penyakit (hlm. 114). Pelukis merasa lelah ketika lukisannya tentang celeng justru membuat banyak keonaran baru. Ia merasa bahwa lukisan itu dilahirkan dari rasa dendamnya pada penguasa yang dianggapnya seperti celeng, bukan untuk misi kebaikan membasmi sifat-sifat buruk dari celeng itu sendiri. Kekuatan dendam itulah yang dianggapnya melahirkan banyak ketidakbaikan. Toh pada dasarnya ia sendiri sadar bahwa ia juga tak lebih baik dari celeng yang ia dendami.

Siapa yang menyembunyikan celengnya dalam kebaikan-kebaikan dan kepahlawan-pahlawanannya akhirnya akan ketahuan juga, bahwa dirinya adalah celeng, seperti yang kini terjadi pada diri saya (hlm. 139).

Sindhunata di sini terlihat mengajak para pembacanya untuk ikut merenung bahwa diri setiap individu juga memiliki sifat keburukan. Tak satu juga manusia pantas untuk merasa (paling) suci, baik, heroik. Namun dalam buku ini, Sindhunata mencoba untuk meleburkan sekat bahwa karakter seseorang tidak murni dibentuk secara otonom oleh manusia itu sendiri, seperti nasihat Sirius Black. Tidak pula manusia hanya bisa menjadi pecundang terhadap ketidakadilan hidup. Setiap manusia tidak senantiasa kalah dengan keadaan yang tidak baik lalu tidak bisa melawan, seperti yang dialami Joker.

Kisah sang pelukis dalam buku Menyusu Celeng ini dinarasikan seimbang. Bahwa kebaikan dan keburukan dalam diri manusia bisa muncul secara otonom dari dalam diri mereka, sekaligus bentuk reaksi terhadap keadaan yang ada di luar diri mereka. Dalam membentuk kedirian itu sendiri, tidak ada yang bersifat absolut dan mutlak. Karakter manusia selalu cair dan dinamis. Si pelukis sendiri dulunya dikenal sebagai seniman yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosialis. Namun ketika lukisannya semakin laris, ia pun tidak menafiki dirinya untuk berlagak seperti para borjuis.

Hanya celeng yang bisa hidup secara “kanan”, sambil terus melirik “ke kiri”. Artinya, siapa yang tidak ingin hidup enak dan menikmati hidup seperti seorang borjuis? Namun supaya kelihatan sexy – istilah zaman sekarang – apalagi sebagai seniman, apa salahnya orang berpandangan kekiri-kirian seperti orang sosialis? (hlm. 152).

Manusia memang akan selalu hidup dalam proses untuk menjadi (process of becoming). Tidak ada yang terus-terusan bisa menjadi pahlawan, pun tidak ada yang bisa senantiasa menjadi pecundang.


Muthia Sayekti, penulis lepas, Alumni Kajian Budaya dan Media UGM. Bisa disapa di Muthia Sayekti (Facebook), @mutiasayekti (Instagram), @MuthiaSayekti (Twitter)

Puisi

Puisi Naning Scheid

Bunga-Bunga Kepalsuan

1/

Senyum. Senyum menggoda

Seribu like – love; komentar

Sunyi. Hambar – ambyar,

dari balik layar

2/

Silikon – dada ranum

Parfum parisien – harum

Tag harga di panggal paha

Surga plastik; gimik

3/

Ketika layar dimatikan,

realita menjadi bayangan

Fantasi lebih sejuk dari udara

– fatamorgana

Brussel, 2020


Raksasa

Untuk sarapan, aku makan

Satu macan Sumatra

Dua orang hutan

Siang, hidangan pokok

Sup penyu tiga mangkok

Empat paha komodo

Lima burung maleo

Untuk cemilan,

Enam keripik cendrawasih

Tujuh ekor corak merak

Untuk makan malam,

Delapan badak bercula

Sembilan anoa

Sepuluh primata

Aku raksasa

Perutku besar, selalu lapar

Bila semua tiada, nanti

Akan ku makan temanku sendiri

Brussel, 2020


Pembaca Buku

Pembaca buku budiman

Mengeja diksi seperti firman

Manggut-manggut mengamini

Menghela napas, sesekali

Pembaca serampangan

Memakan mentah kata serapan

Terdecak pada yang wah-wah

Tak mengerti makna – arah

Pembaca buku rakus

Menguliti bacaan haram

Mencari surga di lubang tikus

Remah ilmu, gula dan garam

Bukan pembaca apa-apa

Makan, tidur, kerja, berdoa

Hidup, bergelut, tua, dan mati

Terkubur dalam kenaifan hakiki

Brussel, 2020


Generasi

Kakek buyutku seorang pejuang

Merebut kemerdekaan dengan berperang

Badannya kecil jiwanya garang

Melawan Belanda mengusir Jepang

Kakekku, tentara nusantara

Menyatukan Aceh hingga Papua

Badannya sedang jiwanya berceruk

Agung dalam remang masa kemaruk

Ayahku, punggawa negeri

Penegak reformasi dan demokrasi

Badannya lebar jiwanya rentan

Jatuh bangun memilah teman dan setan

Aku seorang pemimpi – tech savvy

Atau, pecundang di era desrupsi

Badan datar jiwa hambar, pemakan kuota

Entah kemana kubawa Indonesia?

Brussel, 2020


Pemberontakan Samudera

Poseidon mulai murka

Kau racuni anak-anaknya:

Sungai, Danau, Rawa, Parit,

megap-megap meregang sakit

Parit makan sampah

Rawa minum limbah

Danau tercemar merkuri

Sungai teracuni

Banjir, tsunami, gempa bumi

Kisah klasik anak-anak negeri

Brussel, 2020


Negeri Pelaut

Ini cerita negeri pelaut

Nenek moyangnya bukan penakut

Cucu cicitnya sejati pandir

Merusak alam, tak takut banjir

Analisa demi analisa,

Omong kosong penguasa

Mimpi generasi melambung tinggi

Rumah – pundak basah, tergenangi

Ini cerita negeri pelaut

Negeri besar bukan negeri pengecut

Pandai mengadu benar, adu umpat

Piawai memelintir, lihai melaknat

“Ini keputusan Tuhan!”

– penduduk berhati batu menjelaskan.

Para bijak bungkam dan kecut

Menumpang hidup di negeri pelaut

Brussel, 2020


Patahan Hati

1/

Kenangan tersapu

voilà. Serpihan pilu

2/

Datang pertanda seperti mata-mata

Berkabar tentang cerita baru

– siksaan subtil; cemburu

Harapan mati. Dimana karma?

3/

Adili cintaku –

jangan adili Tuhanku

4/

Parit di bawah lidahnya

Pernah membawa kapalku pecah

– karam dalam percumbuan

Tinggal kenangan

Brussel, 2020


Menuju Negeria

Para kanibal gentayangan

Menebar seribu satu ketakutan

Bangga! Tertawa menjadi jahanam

Bapak-bapak terkencing

Ibu-ibu dipaksa – bersenggama

dengan mesin pencuci otak

Berakhir bunting; beranak martir

Anyir darah, tubuh berserak

: pemandangan alam

Burung hering berpesta, di atas

Nyawa-nyawa terkoyak

– di Nigeria


Selepas Kepergianmu

Gelisah ini susah payah kubiar

Membiasa bak laku kita

Hening ini kuselami dalamnya

Terhirup indah, nantinya

Segera kusiapkan topeng topeng tawa

Kupamerkan kapanpun kubutuhkan

Bukankah khayalan lebih sempurna

Dari kebenaran dan kenyataan

Pada dingin pembungkus kelam

Selaksa pesan akhir suratan

Perjuangan terlalu rumit untuk diurai

Kita pulang pada keseharian

Meski ada yang tersayat seketika

Pedih, bagai luka diberi cuka

Lalu, sembunyi aku bagai pengecut

Tak sanggup bertemu

Sekedar menatap wajahmu

Takut aku,

Mengulang kebodohanku

Kembali jatuh hati padamu.

Brussel, 2020


Mea Culpa

Sejak samar jejakmu di telan ombak

Hanya punggung samudera yang tampak

Berisik dedaun kelapa melambai getir

Berdansa melankoli di peluk angin pesisir

Merpati telah pergi, meninggal janji

Tak paripurna; langit tak lagi berpelangi

Perjalanan sentimentil membekas di pasir

Hitam legam terbakar mentari takdir

Meski pada titik awal, merujuk padaku

Penyebab tunggal sayatan pilu

Tragedi patahan sayap merpati

Penitik prahara menderai dua hati

Aku, mimpi buruk

– bergaun bunga-bunga

berenda pelangi merona

ribuan lamunan mata terbuka

pemintal desir candu berbenang luka

Mea culpa, mea culpa maxima

Brussel, 2020


Naning Scheid, lahir di Semarang, 5 Juni 1980. Penulis dan Pemain Teater. Penyuka kerupuk gendar dan wisata budaya. Pengajar di Fakultas Bahasa Inggris UPGRIS sebelum meninggalkan Indonesia. Aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan di Belgia. Sarjana Pendidikan Universitas PGRI Semarang dan Sarjana Manajemen Sumber Daya Manusia CEFORA Belgia. Berkebangsaan Indonesia. Tinggal di Brussel sejak 2006. Menulis opini, puisi, dan cerpen diScheid.be, Medium.com, Wattpad.com, Kliksolo.com, Basabasi.co, Pos Bali, Buletin Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas PGRI Semarang.

Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan

Vin yang terkasih,

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kali menghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yang tak kunjung lenyap dari lorong-lorong kenanganku.

Masih jelas dalam ingatanku, kau yang selalu menempati kursi di sebelah rak buku sastra itu setiap hari Sabtu dan Minggu. Kau terlihat begitu khusyuk ketika sudah mulai membaca, seolah sedang melakukan semacam ritual suci. Kadang, aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang kau rasakan ketika membaca cerita-cerita fiksi? Apakah itu bisa membuat kesadaranmu pergi sementara dari realitas yang seringkali keparat ini?

Dalam keheningan, selepas mengunjungi perpustakaan dan mengenangmu, aku tiba-tiba jadi ingin mencurahkan segenap perasaanku melalui surat, Vin. Dan mungkin ini adalah surat cinta pertama sekaligus yang terakhir dariku.

Sebentar lagi aku akan menyematkan cincin ke jari manis seorang perempuan yang telah memberiku segala-galanya. Aku mengenalnya ketika nasib yang gelap menikamku dengan cara menyakitkan selepas kau pergi. Ah, andai saja kau tahu, bagaimana aku menderita dan bahkan nyaris mati kalau saja ia tak meniupkan harapan serta daya hidup ke dalam jiwaku, berkali-kali.

Selama beberapa waktu terakhir, aku mencoba memantapkan diri. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya dengan segenap kesungguhan yang ada pada jiwa-ragaku. Meski sampai sekarang, setiap kali menatap sepasang matanya, aku justru seperti menatapmu dan setiap membelai wajahnya, aku malah selalu teringat pada wajahmu yang senantiasa merona itu.

Genap dua tahun sudah kau pergi dan rasanya aku masih sering melihatmu berkelebat di mana-mana. Kau membayang di jalan-jalan, di baliho-baliho, di pertokoan, di pohon, di rerumputan, tiang listrik, papan jalan, dan bahkan gang-gang yang kulalui setiap saat. Haruskah aku bersyukur atau mengutuknya? Haruskah aku sekarang berlari menyongsong keberadaanmu yang seolah lenyap di persimpangan waktu?

Rasanya baru kemarin, aku bahagia karena bisa mendeskripsikan rambutmu dengan detail. Warna merah tua yang seperti warna langit ketika cahaya matahari mulai terbenam. Dan wajahmu khas pemain opera sabun di televisi dengan lesung pipit yang muncul tiap kali kau tersenyum bila menemukan hal-hal menyenangkan dalam bacaanmu dan kening yang sesekali mengerut saat menemukan hal-hal menyedihkan. Sementara kedua matamu, tajam dan menakjubkan bagai mata seekor elang. Meski mata itu tak pernah menatapku sekalipun aku sering curi-curi pandang ke arahmu.

Vin yang manis, apakah sekarang kau berbahagia dengan kehidupanmu?Aku harap demikian. Sebab akhir-akhir ini, entah mengapa, aku merasa hidup semakin rumpil dan membosankan. Setiap hari kulihat orang berlomba-lomba menyampaikan kebenaran menurut mereka lewat televisi, media sosial, koran, dan mimbar-mimbar di tempat ibadah. Klaim siapa benar, siapa salah, memekakkan telinga dan memedihkan pandanganku, hingga susah membedakan mana kebenaran sejati dan yang bukan. Telinga dan mataku, seperti tak mampu lagi mengenali siapa musuh dan siapa kawan.

Dalam kekacauan tak berkesudahan ini, aku merindukan sosokmu yang selalu bisa memberi ketenangan, hanya dengan obrolan-obrolan sederhana. Aku ingin suatu saat, kau kembali hadir dalam keadaan utuh sebagaimana di hari-hari ketika aku memandangimu dari kursi di sebelah utara diam-diam. Ajari aku melewati gerbang kata-kata untuk kemudian menjalani kehidupan alternatif dalam novel atau cerita-cerita pendek. Dalam karya sastra, suatu nasib, yang paling buruk dan menyedihkan sekalipun, selalu memiliki nilai keindahannya sendiri. Aku ingat persis kalimatmu itu, yang kau katakan pada suatu sore ketika aku bertanya banyak tentang sastra dengamu.

Dan rasanya sampai hari ini aku tidak bisa berpikir sepertimu, Vin. Bagiku, nasib buruk adalah nasib buruk. Kekacauan adalah kekacauan. Badai adalah badai. Mampukah kau menunjukkan keindahan yang betul-betul bisa kita panen dari ke semuanya itu? Atau pernyataanmu yang dulu meluncur hanya untuk menutupi kerapuhanmu sendiri?

Ah, andai saja waktu itu aku betul-betul memberanikan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Setidaknya, dengan demikian, aku tahu di mana bisa mencarimu pada saat-saat kacau seperti sekarang ini. Tidak masalah kalaupun kau memang betul-betul telah kawin dan bahkan beranak-pinak. Aku akan tetap mengunjungimu. Melihat kau yang sehat dan tersenyum, lalu berdiskusi sebentar mengenai sastra serta realitas, itu saja sudah lebih dari cukup.

Aku tidak tahu nama lengkapmu, meski sejujurnya aku sangat ingin mengetahuinya.Vin, panggil aku Vin saja, begitu katamu. Sungguh, aku ingin memiliki kesempatan untuk mengetahui nama panjangmu. Sebab dengan begitu, rasanya aku sudah sejengkal lebih baik dalam menciptakan peluang kedetakan di antara kita. Namun aku kemudian berpikir, haruskah kita dekat? Sementara aku selalu merasa seratus persen utuh tiap kali bertemu dengamu tanpa perlu mengenalmu lebih dekat dan lebih mendalam. Sehingga waktu itu aku lebih memilih sebatas menjadi semacam teman kenalanmu saja sembari diam-diam terus memeram seluruh isi perasaanku.

Kukira, aku akan selamanya bersikap demikian.Namun cinta adalah kekuatan irasional yang sukar dibendung. Aku sempat mengalami semacam paradoks menjelang kepergianmu. Saat itu aku sangat ingin memilikimu, tapi sekaligus ingin membiarkanmu tetap tak terjangkau saja. Kau adalah keindahan dan aku berpikir, ada kalanya suatu keindahan justru menjadi rusak begitu ia dimiliki. Di sisi lain, kadang aku juga merasa bahwa harus ada sosok yang memuja serta menerjemahkan keindahan rupamu. Dan orang itu haruslah aku.

Pada titik itulah, aku lalu memutuskan untuk mencoba mengajakmu jalan. Aku rasa tidak ada salahnya mencoba mendekatimu. Soal apakah nantinya kita akan berakhir sebagai sepasang kekasih yang menjalin percintaan atau sama sekali tidak, itu urusan lain.

Namun keesokan harinya, setelah aku memantapkan keyakinan, kau tak datang ke perpustakaan. Aku masih berpikir kau mungkin sakit atau ada urusan penting barang satu-dua hari. Tapi setelah dua akhir pekan terlewati, kau tak juga muncul dan aku mulai cemas.

Lalu datanglah, Sabtu yang gelap itu…

Hari itu, kau akhirnya datang. Dengan wajah yang semakin merona, dengan kecantikan yang kian memesona. Aku sudah menyiapkan diri dengan pura-pura mencari novel di rak buku-buku sastra. Rencananya, begitu kau duduk di kursi favoritmu itu, aku akan membuka obrolan dengan mengajakmu ke sebuah pameran buku-buku sastra yang kebetulan sedang dihelat di toko buku langgananku.

Engkau perlahan membuka pintu perpustakaan dan menuju ke meja petugas untuk mengembalikan dua buah buku pinjaman. Petugas itu bertanya kenapa kau beberapa waktu terakhir tidak menyambangi perpustakaan. Dan kau tersenyum, sambil menunjukkan sebuah cincin yang telah tersemat di jari manismu. Lalu kudengar ucapan selamat dari si petugas perpustakaan. Kau mengucap terima kasih dan berkata pada si petugas, bahwa hari itu adalah kali terakhir kau menghabiskan waktu di perpustakaan dan kota ini.

Dadaku sesak, napasku tersengal. Ada kesedihan yang berusaha kuperam hari itu. Kesedihan yang mendesak keluar hingga membuat pandanganku mengabur. Masih dalam keadaan serba kacau, kau mendekat. Hendak duduk di kursi favoritmu. Dan sebelum kau duduk, kita sempat bersitatap untuk kesekian kalinya. Saat itu, kau tersenyum ke arahku dan seolah ingin mengajak bicara.

Apakah waktu itu aku membalas senyum pertama sekaligus terakhirmu, Vin? Aku lupa. Tapi jika aku tak sempat membalas lantaran jengkel bercampur sedih, sudilah kiranya engkau memaafkan.

Setelah Sabtu gelap itu, kau tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan di akhir pekan. Aku mungkin masih bisa berdamai dengan diriku apabila kau tetap datang ke perpustakaan—sekalipun harapan untuk menggapaimu pupus sudah. Namun pada kenyataannya, kau memang telah pergi dan sejak hari itu, aku menjadi laki-laki pemurung yang barangkali tidak akan pernah lagi bisa jatuh cinta dengan perasaan yang sama seperti padamu.

Kadang, aku masih suka membayangkan bagaimana seandainya aku tak bersikap naif dan menunda-nunda waktu untuk mendekatimu. Aku tentu tak akan berakhir hanya sebagai teman kenalan di perpustakaan. Setidaknya, kita bisa bertukar nomor telepon atau akun media sosial. Lalu kita akan menjadi akrab seiring berlalunya hari sebagaimana sepasang kekasih dalam film-film Holywood.

Kalau pun aku tetap tidak menjadi sosok yang akan melingkarkan cincin itu ke jari manismu. Setidaknya, aku pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Begitu saja sudah cukup untukku.

Namun semua itu kini tinggal angan saja. Seseorang yang lebih berani telah datang dan mengajakmu membangun bahtera hidup bersama untuk berlayar mengarungi lautan nasib yang serba tak menentu. Aku cuma bisa berharap, semoga saja ia memang bukan sosok laki-laki bebal yang cuma ingin menguasai setiap jengkal lekuk tubuhmu. 

Vin, yang kucintai…

Sembari mengingat segala tentang engkaulah, surat ini kutulis. Sayang sekali aku tidak tahu kau hidup di mana dan bagaimana kondisimu sekarang. Oleh karena itu, agar sampai kepadamu, surat ini akan kulipat menjadi perahu kertas dan kularung ke sungai. Aku hanya bisa berharap, kelak, kata-kata dalam surat ini akan lebur bersama air dan merasuki ruang kesadaranmu melalui semilir angin dan derai-derai hujan.

Yogyakarta, 2020


Khumaid Akhyat Sulkhan, pemuda kelahiran Batang ini menulis esai dan cerita pendek demi mengatasi perasaan galau. Beberapa tulisannya bisa dibaca di Republika, detik.com, magdalene.co, thecolumnist.id, Mojok.co, dan lain sebagainya. Penulis bisa dihubungi di Twitter @kasulkhan atau Instagram akhyat_sulkhan.

Puisi

Puisi Beri Hanna

cinta dan peluit

cintaku ditiuptiup peluit panjang

yang melengking

menggurui buntut kendaraan

terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya.

munculnya pun ketika aku hendak hengkang.


mengantar doa

dalam perjalanan yang menakutkan

kubuka sebuah kitab dan mulai membaca,

perintahnya aku disuruh terus berdoa

maka kututup kitab itu dan mulai berdoa

terusmenerus.

semakin lamanya aku berdoa,

semakin aku merasa tenang

bahkan tak terasa lagi apaapa,

segala ketakutan luntur dalam

kepalan tangan dan segala komatkamit

yang aku panjatkan dalam mata terpejam.

saat kubuka mata perjalanan sudah berakhir,

tidak terasa saja

kini aku sudah ada di surga.


bus gunung batu memuat rindu

nama bus itu gunung batu.

tujuannya mengantar penumpang ke arah yang tak tentu

sopirnya seorang ibuibu,

melajunya seperti peluru—cepat sekali

menembus hati yang penuh dengan pilu.

para penumpang tersedu-sedu

juga sekalikali terasa ngilu di setiap tikungan.

satu saja harapan para penumpang

yang naik bus gunung batu,

agar rindu yang dibawa

untuk menuju suatu tempat

selamat sampai tujuan

dan tidak lekas menjadi hantu.

dengan iringan doa dan nyanyian merdu

terpujilah seluruh rindu

yang melaju bersama bus gunung batu.


untuk perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu

aku naik bus gunung batu

melewati jalan berliku

menuju pulau rindu.

menghabiskan waktu untuk

melatih diriku sendiri

untuk belajar mengungkapkan sebuah rasa

agar kelak, aku tak malu-malu

menyatakan rindu yang selama ini meninju-ninju

sunyi setiap malamku, pada perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu itu.


sopir bus itu

dan cuaca tidak dapat didugaduga

hujan badai jatuh di setiap tikungan.

rindu mulai terancam,

akankah benar sampai, akankah benar tidak.

para penumpang sibuk sendiri

menunduk, mengingat tak menghiraukan

laju bus gunung batu yang mulai oleng menghalau badai.

petir meletusletus, jantung hampir putus

penumpang berseru saat bus ingin jungkir balik

akibat tikungan yang melengkung, yang ditambah hujan badai,

yang ditempuh pula dengan kecepatan penuh.

nyawa di ambang ngilu

sopir bus meyakinkan;

aku juga sedang membawa rindu.

jadi, jangan kau rasa ngilu milikmu lebih haru

sekali rindu tetap rindu,

meski badainya mengutukmu

rindu wajib bertamu!


pengamen itu

aku purapura tidur

saat pengamen itu memetik gitar

dan menarik suaranya dengan lantang

satu dua tiga lagu ia nyanyikan

orang-orang mulai risih

dan melemparnya dengan kulit kacang

satu lagu terakhir, katanya

mulai orang menutup telinga,

ada yang membuang muka

membuang badan, menghempas pantat,

memakai headset, dan purapura tidur sepertiku

seolah pengamen yang bernyanyi seperti radio

butut yang tak didengar.

aku hampir larut

sempat sejenak tak sadarkan diri.

aku tersentak.

aku mengintip,

pengamen itu sudah tidak ada

orang-orang juga sudah tidak ada

sopir bus tidak ada

tidak ada seorang pun di sini.

kesempatan. kubuka satu per satu

barangbarang yang tertinggal,

tas hitam, tas merah, tas kuning,

yang ditinggal pemiliknya

tapi semua tak ada isinya.

kubuka tasku sendiri, kampret!

kosong juga tak ada isinya, kampret! pengamen itu.


penjual tahu

dua ribu saja, teriak penjual tahu itu.

kulihat dengan pasti

isi dompet tinggal empat ribu.

penjual tahu tibatiba di sebelahku,

itu cukup untuk dua bungkus, mau?

kututup dompet dan membuang muka darinya.

ia duduk di sebelahku;

beli satu juga tidak masalah,

aku geram.

bagaimana, katanya pula sambil

disodorkan sebungkus tahu.

rahangku jadi keras

kepalan tangan sudah siap menghampas pukulan

lidahku tak goyang ingin mengutuknya,

berat sekali saat melihat matanya yang berbinar.

andai saja dia tahu

bahwa dulu aku juga menjual tahu,

matanya yang berbinar ini

adalah mataku yang dulu menjual tahu.

seklias aku melihat tubuhnya adalah tubuhku yang dulu.

sampeyan tahu, dulu aku juga dagang tahu, kataku.

lepas uang empat ribu

lepas juga laparku.

penjual tahu berterima kasih,

karena membeli tahunya

dia jadi tahu sekarang, bahwa aku

masih merindukan tahu.


tak ada bus yang berangkat

penumpang yang menunggu di halte lumpuh,

jalan bersih

bising kendaraan menghilang.

tukang tahu kesiangan

pengamen tak lagi bisa makan.

gitarnya kesepian. lambungnya kesakitan

tak lagi dimandikan tuak.

calo tiket bunuh diri.

spbu meledak

terminal jadi kuburan bus.

sopir mati di warung kopi

melihat uang bulanan tak cukup penuhi

perut anak istri.

telolet dimusnahkan

neneknenek berdansa di jalan raya

kakekkakek berjemur di aspal panas

hari itu

tak ada bus yang berangkat.


kenapa kita bertemu

malam jumat kita bertemu.

itupun tak disengaja.

kaustop bus yang menuju jogja

dan kustop bus menuju solo.

di klaten bus kita bertemu.

ban kanan bus yang kautumpangi meledak.

ban kiri bus yang kutumpangi meledak.

kita bertatap muka selagi sopir dan kernet itu

mengganti ban baru.

kautersenyum padaku, dan aku pun tersenyum padamu.

kuberanikan mendekati kamu. dan kamu beranikan pula

mendekati aku.

kausebut namamu, trisno, kusebut pula namaku, meli.

selesai sopir dan kernet mengganti ban baru.

kita samasama sepakat untuk tetap tinggal di sini.

kaubegitu lucu, begitupun aku.

rela meninggalkan tujuan untuk bertahan padamu

yang baru saja kenal.

malam itu kaupesan sebuah hotel.

menginaplah kita berdua sampai hari menjadi esok.

sampai esok menjadi lusa. sampai lusa menjadi pekan.

sampai pula kita dinikahkan.

saat ijab kabul, kau tersedak

dan merasa sangat malu.

kenapa, tanyaku.

maaf, katamu. aku tak bisa melanjutkan ini

aku tidak mencintaimu.

keputusanmu membuat aku gila.

di depan penghulu dan para saksi

kauberani mengungkapkan hal itu.

kau berlari keluar. kukejar kau seperti

film india.

aku tahu kau menyimpan air mata.

tapi kau sembunyikan dengan berbagai cara.

kauterus berlari menghindari aku.

hingga berhenti di klaten.

tempat dulu kita bertemu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu lagi.

aku tidak mengerti kenapa kauberubah seperti ini.

dan aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba perutmu meledak.

persis ketika ban sebelah kiri bus yang kutumpangi dulu meledak.

satu bulan setelah kaumati

sopir dan kernet datang ke rumahku

maafkan kami. semua ini pesanan, kata mereka.

ban kiri dan kanan bus yang meledak adalah pesanan, lanjutnya.

aku tidak paham karena sudah jadi gila.

meski sopir dan kernet menjelaskan,

trisno ingin menyetubuhimu. tapi cinta tumbuh

di sana, ia lupa tujuan awal. ia jatuh cinta padamu.

kau ajak dia menikah. maafkan.

aku tidak paham. benarbenar tidak paham.


mataku dan hatimu

bunga melati tumbuh di mataku

ia akan mati jika tak memandangmu.

maka silih berganti musim

pelangipelangi tercipta dan kaukurung

dalam hatimu.

indahnya melatiku yang terjebak saat

memandang pelangimu.


siapa yang tahu

sebuah perahu lepas dari matamu.

cepat berlayar dan bawa aku pergi.

kaukemudikan perahu membelah ombakombak

biar terombangambing di tengah laut

tak ada lagi peduli menyoal itu.

cintaku terlanjur kautipu

benciku terlanjur kaubunuh.

tak ada lagi jalan menuju rumah

selain membelah lautan.

akan sampai di rumah kita, atau tuhan

siapa yang tahu.


Beri Hanna lahir di Bangko, Jambi. Belajar di Kamar Kata Karanganyar. Saat ini tinggal di Surakarta. Berteater bersama Kelompokseseme & Tiliksarira. Karya teaternya antara lain: menulis & berperan – “Angur di Tangan Bapak Tercinta” (Forest Art Camp, Magelang), menulis & menyutradarai – “Pramesthi” (Arutala Fisikom UKSW, Hotel Laras Asri Salatiga), bermain teater by riset dengan judul “Dear Diary” (Festival Multatuli, Lebak Banten) Tiliksarira, “Puzzle Game” (Indonesia Corruption Watch, Jakarta.) Tiliksarira. Bermain monolog “Jangan Pergi Judi dan Pulang Dini Hari, Kalau Hasilnya Kalah Lagi!” (Tegal) Kelompokseseme, dan judul-judul lainnya. E-mail : [email protected]. Instagram : @berihanna_

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Cerpen Y Agusta Akhir

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana, yang sampai detik ini masih jadi misteri.   

Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini. 

Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan napasku.

Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.

Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila itu, tempat dimana kita sedang bercakap.

Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.

“Hujan itulah yang membuatnya bertambah kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.    

Beberapa kali aku terbatuk sebelum kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”

“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda. Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”

Kau memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira kau setuju itu.

“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu lagi.

Aku hanya bergeming. Kau mencium tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih, jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa, terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun pepohonan hutan itu.

 “Lihatlah, hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.

Hutan kelabu. Dalam hujan…

Kau bersenandung lirih. Aku masih mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.

Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti; ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira. Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan sebagai sikap persetujuan.

“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”

“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.

Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi nyatanya, harapanku tak terkabul.

Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca. Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau pernah kaubaca entah di buku apa.

Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara, di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang  Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.

Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?

 “Menulislah cerita tentang hutan, Sayang!”  

  Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.

Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.

Itu hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan rasa terimakasihku padamu.

Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!

Itukah yang sedang kaulakukan?

Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan bertahun-tahun lalu.

***

Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?

Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang terbakar.  

Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri bergetar: menyebut namamu.*** 


Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo), buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan oleh UNSA Press tahun 2017.