Cerpen

Ngaji Bareng Simbah

Cerpen Septi Rusdiyana

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.

Tin tin

Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.

***

“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.

Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.

“Nadia, Mbah.”

Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.

Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.

“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”

“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.

Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.

Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.

Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”

Aku tidak membalas pesannya.

***

Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.

“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.

“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.

“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”

“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”

“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”

“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.

“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”

Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”

Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.

Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.

“Ya, Mas,” jawabku malas.

“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.

“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”

“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”

Hening.

“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.

“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.

Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.

***

Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.

Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.

“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.

Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.

“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

***

“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.

Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tidak?” tanyaku menirukannya.

“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.

“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”

“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”

“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”

Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.

“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.

“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.

Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.

“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.

***

Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.

“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.

“Kok sudah pulang?”

“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”

Mbah Diro tersenyum mengizinkan.

Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.

Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.

“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***


Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala

Puisi

Puisi Imam Khoironi

Fragmen Subuh

Ada dua gelap yang berdiri

di dekat tempat tidurmu

Mereka menunggumu bangun

Untuk mengentaskan rindu

Yang ditabur di sekeliling rumahmu

Sebongkah gelap melaju ke arah yang riuh

Meninggalkan rindu yang rapuh

Sebelum gemericik embun menetes

Di tanah basah tempat dibangkitkannya subuh

Kau akan membaca fragmen,

menguliti doa

dari sajak-sajak yang memanggilmu pulang

tak bisa kau temui ia

dalam buku-buku

tentang hari rindu diutus

Ada dua gelap, yang tidur

di dekat tempatmu berdiri

Mereka sedang menyiapkan

Fragmen-fragmen

Untuk kau baca dengan lirih

Sehingga rindu pulang

Ke pangkal petang

Bandar Lampung, November 2022


Kembara Malam

Aku seorang musafir

Pergi ke sudut malam yang layu

Dengan tubuh lunglai menghardik sunyi

Merapihkan kegelapan

Di ruang-ruang antara kau dan aku

Aku seorang musafir

Kembali menebar benih-benih

Di bawah pijakan kakimu

Menjelang pagi yang terhunjam gerimis

Mengosongkan suara-suara gaduh

di belakang mataku

Aku seorang musafir

Mengitari rindu di lekuk-lekuk waktu

Mengirim surat rahasia

Pada jam terakhir sebelum cahaya

Ke arah laut, ke tepi langit

Aku seorang musafir

Gelap aku tempuh menuju rumahmu

Adakah pulang paling rindu

bagi ruh dan jasad

Selain pada nuraniku

Bandar Lampung, November 2022


Antara Rindu dan Pulang Tidak Mengenal Batas

Aku memeram pagi

Hingga ia beranak pinak

Menjadi tumpukan jerami

Di bawah denting jam yang lirih

Dan memutar ke arah yang dianggap baik

Bagaimana dengan nasib cinta

Yang tertinggal di meja makan malam

Pada perbincangan lusuh itu

Kutebar pilu di bola mataku

Sepahit apa rindu, setelah lepas landas

Dari tubuhmu, kucium wangi dari ribuan

Mawar, sebelum ia mekar

Di kerut keningmu itu, kudaratkan api

Sebelum semuanya padam dan hangus

Hanya saja, subuh akan datang

Menjemputmu ke dalam luka yang sulit

Untuk diurai, sebab di batas itu

Kutaruh namamu, Safira

Tak ada sesiapa dapat menjamahnya

Kecuali jalan yang telah dibuat

Oleh doa-doaku

Bandar Lampung, November 2022


Tidak Ada Maya Hari Ini

Subuh tiba terlalu cepat

Alarm di ponsel masih pulas

Sketsa di mimpi liarmu

Masih berusaha membubarkan diri

Kalender membacakan agenda

Pukul 5 di timur cakrawala

Pagi membuka notifikasi di beranda

Tugas-tugas yang sudah tertunda

Saatnya berangkat kerja

Tidak ada maya hari ini

bayang-bayangmu telah melebur

di belakang hantu resesi

kita terlalu sering sarapan

dengan fyp tiktok

atau instastory

hingga lupa, ada realita yang harus kita hidupi

Tidak ada maya hari ini

kita akan menahan lapar dan haus

dari hidangan lezat di sosial media

kita akan mencoba merindukan

ributnya suasana di lorong “comment”

kita akan menyelami arus

yang lengang dan sunyi

sambil terus memandangi worksheet

atau menyeruput latte

Tidak ada maya hari ini

kita akan menyusuri diskusi

demi menjaga progresi

Bandar Lampung, 29 Oktober 2022


Seorang Milenial kepada Ibunya

Sore pergi begitu saja

sebelum aku sempat menyeruput senja

yang hilang memasuki lorong tanpa cahaya

di beranda rumah,

ada distorsi yang menyerang

dalam bilik-bilik kosong tanpa penjaga

di kepalaku

setelah lilin membakar diri sendiri

aku berbincang dengan Ibu

tentang pendar desa yang padam

dan jalanan bersuluh temaram

tak ada temerang selain cahya api

tak ada listrik selain bau minyak

peradaban kian maju bagi kami

semakin tak beradab bagi bumi

waktu menuju hilang

dan hidup ini semakin ricuh

apakah hanya kita

yang menyingkir dari semarak hari bumi?

kita yang selalu menidurkan daun-daun

dan mengemasi botol-botol

tidakkah pantas bagimu hadiah nobel?

Ibu, konon orang-orang kota

selalu mematikan lampu

satu jam dalam siklus kalender

untuk menghemat bumi

Bagaimana dengan kita,

yang tak bisa mengurai cahaya,

apakah ada pilar setrum di luar sana?

Bandar Lampung, 30 Oktober 2022


Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Cerpen

Kau adalah Anakku Sekarang

Cerpen Era Ari Astanto

Lelaki berotot besar berambut cepak dan berkumis melintang itu berhenti mencengkeramku ketika tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana yang sudah dipenuhi orang-orang, dan semuanya tidak ada yang kukenal. Dia mengempaskanku dengan kasar di halaman dan berkata dengan gusar, “Temanmu sudah mati.”

Aku tak berkomentar. Aku merasa di antara senang dan sedih. Senang karena kematian orang itu berarti kebebasanku lagi, sedih karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggal mati orang tercinta. Sebelum aku merasakan lebih jauh, aku mendengar riuh tangis dari dalam rumah. Lelaki besar berotot itu menarikku masuk ke dalam rumah, lantas mendorongku hingga mendesak orang-orang yang berkerumun.

Semua orang menjeda tangisnya sebentar dan memberi jalan. Lalu, menutup jalan lagi dan mengelilingiku sambil melanjutkan tangisnya. “Jangan menangis di luar kewajaran, ya,” kata beberapa di antara mereka kepadaku dengan penuh perhatian.

Aku sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sekarang tidak ada gunanya mengatakan hal-hal itu. Yang mampu kulakukan akhirnya hanyalah mengangguk dan memperlihatkan raut sedih.

Lalu, kerumunan menyibak sehingga tampak seorang wanita renta terhuyung ke arahku dan meraih tanganku. Air matanya mengalir di pipinya. “Anakku sudah mati,” isaknya.

“Aku tahu,” kataku. “Aku sangat sedih, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”

Kata-kataku yang sesederhana itu ternyata justru membuat air matanya mengalir lebih deras. Bahkan, ratapannya sekarang begitu menyayat, membuat bulu kudukku berdiri.

“Tolong jangan terlalu bersedih seperti ini, Bibi,” kataku.

Dia mendengar kata-kataku. Tangisnya sedikit mereda. Tanganku yang masih digenggamnya ditarik ke wajahnya, dan dengan punggung tanganku dia mengelap air matanya. Dia kemudian menatapku dengan masih terisak, dan berkata, “Kamu juga harus menerimanya dengan tabah.”

Aku mengangguk mantap. “Pasti, Bi. Tapi, jangan biarkan kesedihan menyakiti Bibi.”

Dia mengangguk, “Kamu pun harus menjaga kesehatan.” Katanya sambil mengelap air matanya dengan tanganku lagi. Jika tidak dipegang dengan erat, pasti aku sudah menariknya.

“Tentu, Bi—semua yang ada di sini pun harus melakukannya,” kataku. “Kesedihan ini harus kita ubah menjadi kekuatan.”

Dia mengangguk. “Kuharap kamu tidak menyalahkan putraku karena dia telah mengembuskan napas terakhir sebelum kamu sempat menemuinya.”

“Tidak, Bibi. Aku tidak akan pernah menyalahkannya,” kataku.

“Kuminta kamu tidak terlalu bersedih,” katanya dengan masih terisak.

“Aku hanya khawatir tidak dapat menahan air mataku, Bi.”

Dia tersedu lagi dan sekali lagi mengelap air matanya dengan punggung tanganku. “Dia satu-satunya orang yang kumiliki, tetapi kini dia pergi. Kau adalah anakku sekarang.”

Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Kini aku merasa air mataku menggenang. Kutarik tanganku dengan sedikit memaksa dan putus asa. Aku berhasil mendapatkan tanganku kembali setelah mengatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku sendiri. Lalu tanyaku, “Benarkah itu, Bibi?” Aku tak punya kata-kata lain, kecuali itu.

Entah apa yang dipikirkannya, tetapi setelah aku bertanya seperti itu, tangisnya kembali meledak beberapa lama. Setelah reda, dia menarik tanganku dan membawaku ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu dia berkata, “Temanilah saudaramu sebentar.” Lalu, dia keluar.

Kukitarkan pandangan. Tidak ada siapa pun, kecuali sosok yang terbaring di atas dipan dan ditutupi dengan kain kafan putih. Ada sebuah kursi di sebelah dipan. Aku menggesernya sedikit, lalu duduk di sana.

Aku duduk diam di sana hingga beberapa lama dan hanya memandangi jasad tertutup kafan, jasad orang yang tidak pernah aku kenal. Sampai akhirnya aku merasa penasaran untuk melihat seperti apa wajah orang itu. Kuangkat kafan yang menutupinya. Sekilas kulihat wajah pucat, usianya masih muda. Aku benar-benar merasa tidak mengenalnya. Kututupkan kembali kafan itu dan berguman, “Jadi, inikah temanku?”

Pikiranku gelisah, menerka-nerka apa yang akan terjadi terhadapku setelah pemakaman orang ini. Lalu, kucoba mengingat dan merenungkan rentetan kejadian yang menyeretku hingga di sini.

Semuanya bermula pada pagi tadi, terjadi begitu saja dan sangat cepat.

Aku terbangun dan mendapati hujan yang turun sejak tengah malam tadi masih juga bertahan. Hawa dingin yang dibawanya membuatku malas bangkit dari kasur. Kuraih ponsel di meja kecil yang berimpitan dengan tempat tidur ini. Pukul 6.41. Jika bukan karena hujan itu, sinar matahari sudah menyusup melalui celah jendela dan membuatku tak betah tiduran seperti ini. Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil, lalu kutuntun telunjuk kanan ke sudut mata kananku, menggosok gumpalan kotoran di sudutnya. Itu pasti terkumpul saat aku tidur, dan membiarkannya tetap di sana adalah tidak pantas. Aku tidak terburu-buru bangun, dan karena itu aku mencongkelnya dengan santai. Tiba-tiba sisi pahaku merasa dingin. Mungkin karena angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Dan tangan kiriku yang menganggur menjadi berguna dengan merapatkan selimut. Aku baru menyadari bahwa kemarin sebelum tidur aku melepas baju dan celana panjangku. Udara begitu panas kemarin. Kipas angin kecil yang kubawa tidak memberi pengaruh apa-apa sehingga tidak memberiku pilihan lain kecuali melepas pakaian luar. Aku cari-cari di mana baju dan celanaku dengan memanfaatkan mata kiriku yang menganggur. Kulihat mereka ada di sebelah meja kecil, teronggok dan tampak kusut.

Terdengar suara pintu diketuk.

Aku mengabaikannya karena kukira itu ketukan di pintu rumah sebelah. Itu wajar, karena pintunya bersebelahan. Dinding pembatas rumah yang kusewa untuk beberapa bulan  ke depan ini memang serupa sekat antarkamar, satu dinding tembok dipakai untuk dua rumah. Rumah ini kecil: hanya memiliki satu kamar tidur, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi sempit. Terletak di pinggiran kota, dekat dengan lingkungan kumuh. Aku sengaja menyewanya semata-mata agar dekat dengan masyarakat di lingkungan kumuh yang harus aku teliti sebagai prasyarat kelulusan kuliahku.

“Hei … temanmu sekarat, dan kau masih sempat tidur?” sebuah suara di sela-sela ketukan.

Aku mengernyit. Aku merasa tidak punya teman satu pun di sini. Aku di sini sendiri, tidak ada siapa pun yang aku kenal sebelumnya. Aku di sini baru tiga hari dan baru tiga orang yang aku kenal: Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu petugas hansip. Aku berpikir semua data diri sudah aku berikan kepada mereka secara lengkap dan uang sewa sudah aku lunasi di awal. Jadi, rasanya janggal jika di antara mereka bertiga datang sepagi ini menemuiku untuk urusan itu. Namun, ketukan itu memang untukku. Apakah kata-katanya hanya pancingan agar aku membuka pintu?

Aku berpikir, seseorang pasti telah salah mengetuk pintu. Jadi, aku tetap mengabaikannya dan melanjutkan membersihkan gumpalan di mataku. Namun, ketukan itu terus berlanjut. Ketukannya kini terdengar memaksa dan kasar. Siapa dia? Aku ingat tentang bagaimana kebiasaanku di rumah: setiap kali aku kembali setelah pergi, aku akan selalu mengetuk pintu dengan baik, dan menggunakan kunciku hanya ketika yakin tidak ada orang yang akan membukanya. Sekarang, ketukan itu menjelma gedoran. Orang di luar pasti melakukannya bukan dengan buku jari, tetapi dengan tinju tangannya atau kakinya. Gedoran itu terdengar semakin kasar dan keras. Aku ingin tetap mengabaikannya, tetapi aku berpikir, jika sampai pintu itu jebol maka aku yang harus bertanggung jawab karena memang begitu perjanjiannya dengan pemilik rumah. Sayang rasanya jika harus kugunakan uang untuk hal yang sebenarnya bisa kuhindari.

Aku segera bangkit, mengenakan celanaku dengan terburu-buru dan segera menuju pintu depan tanpa sempat mengenakan baju. Namun, sebelum aku mencapai pintu, terdengar benturan yang sangat keras. Pintu itu jebol, satu engselnya mencelat, dan terbanting sedemikian keras membentur dinding.

Aku terhenti, terkesima dengan pemandangan itu.

Kini tampak di depan pintu seorang pria besar berambut cepak dengan tubuh penuh otot besar menggelembung di sana-sini. “Kau ini keterlaluan. Temanmu sekarat dan kau malah santai-santai seperti ini?” Saat bicara, matanya melotot, kumis yang melintang membuatnya tampak makin garang.

Aku tidak paham apa yang dia katakan. Aku berpikir dia pasti salah orang. Kutenang-tenangkan diriku dan mencoba bicara. “Mungkin Anda datang ke alamat yang salah, Paman.”

“Temanmu yang sekarat kini membutuhkanmu dan kaupikir aku sedang buang-buang waktu dengan bermain-main alamat palsu?” Dia berkata keras, nyaris berteriak.

Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya atau nada suaranya. Keyakinannya yang membara mampu membuatku ragu terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan kemarin aku yang terlalu lelah sehingga salah masuk rumah. Aku melompat ke luar, memeriksa nomor rumah di atas bingkai pintu. Ini memang rumah yang kusewa. Tapi, aku tak mengenal lelaki besar dengan kumis melintang ini. Aku yakin dia salah alamat.

“Ini rumah yang kusewa tiga hari lalu. Paman mungkin salah orang.” Kataku dengan sikap sangat percaya diri.

Melihat sikap percaya diriku, dia tampak bingung. “Kamu Wage, bukan?”

“Ya. Memang. Tapi, aku tak pernah mengenal Paman.”

Mendengar jawabanku dia mendengus, amarahnya menyala. “Hei dengar! Temanmu sekarat!”

“Tapi, aku tidak punya teman di sini. Hanya Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu hansip yang aku kenal di sini.”

“Omong kosong, dasar pencundang kecil!” Dia memelototiku.

“Aku mahasiswa yang melakukan riset lingkungan di dekat sini,” kataku. “Paman bisa melihat bukti-buktinya. Jika Paman mencoba untuk melepaskan orang itu padaku, aku benar-benar menolak, karena aku memang tidak pernah memiliki seorang teman pun di sini. Namun …,” Aku melembutkan nada bicaraku. “Namun, Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa menyumbangkannya ke salah satu tetangga di sini. Mereka pastinya punya banyak teman dan menurutku salah satu dari mereka tidak akan keberatan, dan bahkan mungkin Paman bisa mengajak yang lain.”

“Tapi dia temanmu, berhentilah menyangkal!” Dia perlahan mendekatiku. Matanya tampak menyala, mulutnya sedikit menganga seolah bersiap melahapku.

“Sebenarnya, siapa orang yang Paman bicarakan ini?”

Dia menyebutkan sebuah nama yang terasa asing ditelingaku.

“Aku tak kenal nama itu!” Aku berteriak.

“Dasar pecundang! Masih berani menyangkal?!” Dia mengulurkan tangan sebesar betisku dan mencoba meraih leherku.

Refleks aku mundur hingga sampai di sudut tempat tidur. Aku tahu aku akan kalah jika berkelahi dengan orang ini. Tapi, aku mencoba menggertak dengan putus asa, “Aku mahasiswa yang sedang meriset lingkungan di sini. Aku punya bukti-buktinya. Jika kamu masih memaksaku, aku terpaksa harus mengusirmu dari sini.”

Dia menanggapi dengan mengulurkan tangannya yang kuat dan menjambak rambutku hingga aku kesakitan. Aku beberapa kali mencoba memukulnya, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa pun baginya. Dia terus menyeretku dari sudut kasur dan mencampakkanku ke lantai seperti sampah. “Jangan banyak tingkah! Pakai bajumu! Cepat!” bentaknya. “Atau aku harus menyeretmu seperti tadi, hah?!”

Aku sadar, tidak ada gunanya berdebat atau berkelahi dengan orang ini. Dia setidaknya tiga kali lebih kuat dariku. Jika aku nekat, dia bisa melemparku ke pembuangan sampah yang tak jauh dari sini dengan sedikit usaha seperti dia akan membuang sekarung sampah ke selokan. Lalu, kataku, “Jika kehadiranku menyenangkan hati orang yang sedang sekarat, aku akan pergi melakukannya.” Aku bangkit perlahan dan meraih baju di samping meja kecil.

Begitu melihatku selesai mengenakan baju, dia segera menarikku dan mendorongku keluar. Di luar, hujan semalam masih menyisakan gerimis. Aku ragu melangkah. Namun, dia terus mendorongku dari belakang, membiarkan gerimis membasahiku. Dia sendiri membawa payung. Ketika aku minta sedikit ruang di bawah payungnya, dia mencengkeram lenganku dan melemparkanku ke depan. Sungguh pagi yang buruk, berbasah-basah dalam gerimis hanya untuk mengunjungi teman yang tidak pernah aku kenal.

Begitulah yang terjadi padaku.

Aku masih duduk di sini, di kursi di samping jasad itu, hingga beberapa lama sambil memandangi jasad yang sudah aku lupa wajahnya meski baru saja aku lihat. Aku ke sini bukan atas kemauanku, tapi agar terbebas dari teman yang tak kukenal ini. Namun, kematiannya ternyata tidak membebaskanku, karena seorang janda renta telah menggantikannya, memasukkan dirinya di dalam tanggung jawabku. Aku bisa saja pergi diam-diam. Tapi, kemanusiaanku mencegah. Tak tega rasanya membiarkan janda renta dan miskin tanpa penjagaan dan perawatan. Memercayakannya kepada yang berwenang sama saja membiarkannya hidup terlunta-lunta. Biarlah nanti aku yang merawatnya, memberikan tanganku sebagai sapu tangan, dan membersihkan kubur anaknya. Setidaknya sampai dia tutup usia.

Sekarang, yang terpenting menurutku, aku harus menemukan tukang kayu untuk memperbaiki pintu yang telah ditendang oleh lelaki besar itu. Itu tanggung jawabku atas kesepakatanku dengan pemilik rumah sewaan itu, selain juga untuk keamanan barang-barangku.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Puisi

Puisi Ahmad Radhitya Alam

Bianglala

Benar saja,

sekumpulan warna

pulang kampung

di selasela derai cemara

Di batas cakrawala, bias menjelma

            lingkaran roulette di mata penjudi

dan target operasi di mata polisi

Bianglala hilang

dalam hitungan menit

tanpa sempat mengatakan

pesan terakhirnya

Yogyakarta, 2022


Tubuh Waktu di Kota Maya

Di tubuh waktu aku memuai bersama udara kota

menyelisik masa tanpa tanda akan bersua

serupa rumah yang tak kunjung dihuni

kosong dan tak pernah terisi

Dengan seluruh perhitungan waktumu

kembalilah ke punggung masa

sebelum semua benar-benar maya

Di waktu yang makin batu

hidup hanya memupur bahasa

memendam isi hati dalam mulut teknologi

membungkus akal budi dalam wajah Instagram tivi

Dengan segenap wirid  yang dirapal ibu tanpa jeda

jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,

meski maktu memaksamu terus berpura-pura

maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,

lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,

keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan

angan yang mengambang dalam perenungan

dari lautan taksa kita bermula

lalu hempas di ombak masa

tanpa sempat melepas kata-kata

lalu hilang dalam hitungan angka

Yogyakarta, 2023


Kasih Tak Santai

Dalam syair masa lalu

yang terkubur dalam madah sembilu

ayat peraduan telah mencipta

ritus khayali tentang requiem

yang dinyanyikan tanpa kata

Nada-nada dilantunkan

koda-koda didendangkan

doa nyaris hilang dari persembahan

cinta seakan menunggu ajal ditetapkan

Kuingat engkau, serupa kuingat syair

yang menyisakan titik nadir dalam

seonggok pasir, pongah, lalu mangkir

saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa

mata berair, dan kenang yang terus

melekat hingga akhir

Di ujung hari

geram gusarmu mulai

keluar masuk kepala

tanpa kalimat sapa

Mencintaimu bukan soal

bagaimana cara bertahan

mencintaimu adalah seberapa

kuat merawat kehilangan

Yogyakarta, 2021-2023


Malam Tahun Baru

jika ada yang mencariku

aku tidak kemana-mana

aku di rumah

menumpahkan resah yang ruah

maaf.

sebab aku tak bisa menemanimu

merayakan pergantian tahun

ada yang lebih butuh ditemani

dalam riuh ramai kembang api

            tubuh sunyi

            diri sendiri

/2/

setelah sehari penuh

tubuh penuh peluh.

isi tenagamu dengan tidur

            sebab nanti malam perayaan syukur

sorak ramai retak-retak

nyanyi sunyi larik sajak

terdengar sampai ruang-ruang

kamar belakang

seperti biasanya

aku setia mendengar letus kembang api

            hanya dalam kamar

            sunyi geletar

Yogyakarta, 2022-2023


Merakit Cuaca

langit kota masih basah

oleh hujan air mata

yang dirakit dari luka-luka

menganga dan terbuka

lebih dari seharusnya

ikatan adalah musim dendam

yang kupendam dalam sekam

Yogyakarta, 2022


Lintasan Manusia Indonesia

dari ingatan yang pecah berserak

kaususun getas dasar yang retak:

cermin negara

dengan kota dan kata

dengan revolusi yang ledak berkali-kali

serak suara menebal dalam sejarah:

hari kita berserah

biar kita sokong di atas meja

kemana tubuh bangsa menuju berada

menginci tanah, merawat air

membeli percaya:

sila yang lima

Yogyakarta, 2023


Pancaroba Pekerja

di kering keringat menjelang jam istirahat

geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru

menebal di kubang lara

bersanding dengan jajaran

gagasan berbalas culas

setiap lintasan waktu adalah

musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh

“larilah ke kamar gelap”

melipat waktu yang lengang

macam harap yang kami tanggung

pada utopia menggunung

Yogyakarta, 2023



Ode Amuk Malam

sebelum ksatria mengasah dendam

biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam

sedang lengking nyanyimu sendu melulu

meniup gebalau ringkik parau

di televisi kata-kata berubah menjadi senjata

saling menerkam tanpa aba-aba

menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima

dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima

Yogyakarta, 2023


‘65 Setelah Jakarta

Kami dibariskan di tengah jalan

Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan

aroma anyir menguar dari darah yang memancar

dari dada yang terkoyak lebar

setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh

mengalir sepanjang Sungai Brantas

tanpa identitas

Blitar, 2022


Fatamorgana

Kita membenci dosa khalayak

Tapi berbuat dosa

lebih banyak

Yogyakarta, 2022


Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.