Cerpen

Kenangan Pohon Srikaya

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Pohon srikaya itu tumbuh miring. Batang kecil ramping menjulang, dahan bercabang-cabang, ranting lentur bergelayut, daun-daunnya jarang, lembing membujur. Buah-buahnya tak pernah surut bergelantungan, dengan kulit benjol dan bersisik. Buah srikaya masak yang terlambat dipetik digerogoti codot, tinggal separuh. Berkali-kali, menjelang senja, Dewanti menerima kedatangan seorang nenek yang menghampirinya di pelataran, meminta buah srikaya yang ranum, kulit bermata banyak, hampir rekah. Nenek itu tak diketahui tempat tinggalnya, seperti datang dari tempat yang terselubung kabut, ramah, penuh perhatian, dan berlimpah kasih sayang. Selalu kembali terulang, bila nenek memetik buah srikaya, menyempatkan bercerita: dulu keluarganya memiliki kebun srikaya, yang kemudian  dijual suami. Ia masgul, semua  pohon srikaya ditebang pembeli lahan.  

Bila nenek tak datang, Dewanti memetik buah-buah srikaya dan meletakkannya di piring buah besar, bersisian dengan pisang, jeruk, dan jambu air. Dua atau tiga hari buah srikaya itu masak, harum, manis, dan lembut di mulut. Dia memakan srikaya dengan menyisihkan biji-bijinya, menikmati daging-daging yang tipis, putih dan harum. Ia  teringat akan Ibu yang  menanam pohon srikaya di pelataran, berhimpit dengan  garasi mobil.   

Seminggu setelah menikah, Dewanti menempati rumah baru. Pada mulanya Dewanti tak suka pelataran rumahnya yang sempit ditanami pohon srikaya. Begitu pohon srikaya tumbuh dan berbuah, mengundang seorang nenek dan tetangga untuk memetiknya. Dewanti mulai paham, buah-buah srikaya yang bergelantungan sepanjang tahun ini disukai banyak orang.

***

KisahIbu  semasa gadis dulu tak pernah dilupakan Dewanti. Ibu memetiki buah-buah srikaya di kebun usai subuh dan menjualnya ke pasar, sebelum berangkat sekolah. Buah-buah srikaya itu ditanam Nenek, yang kata Ibu, meninggal dunia ketika Ibu berumur sepuluh tahun. Semasa hidup Nenek, mengajarkan pada Ibu agar merawat pohon-pohon srikaya, memetiki buah-buahnya yang ranum, dan menjualnya ke pasar. Dengan menjual buah-buah srikaya, Ibu tak perlu mengutuki Kakek, yang tak pernah memberi uang untuk keperluan sekolah.

Sesekali Ibu mengisahkan lelaki muda tampan bernama Parto, dengan sepeda motor baru, menggodanya di jalan. Hampir tiap hari Parto mengganggu Ibu, yang berjalan kaki ke sekolah. Ibu tak pernah tertarik pada Parto, yang tidak hanya menggodanya, tetapi juga merayu gadis lain. “Jadilah kekasihku! Kau tak perlu jualan buah srikaya!”

Tak sekali pun Ibu memberi hati pada Parto. Sepertinya Ibu menyimpan kepedihan tentang kebun srikaya, yang kemudian dijual Kakek  pada orang tua Parto. Kebun srikaya itu ditebang  habis, dijadikan lahan pembuatan genting dan batu bata. Menahan rasa sedih, Ibu bercerita tentang penjualan kebun srikaya itu, karena Kakek kalah judi. Dewanti merasakan Ibu menyembunyikan kegetiran perasaannya, dan kehilangan mata pencahariannya. Ibu mencari daun-daun pisang klutuk di sepanjang lereng tanggul sungai, yang tumbuh liar, dan tak pernah dijamah siapa pun, untuk dijual ke pasar.

**

Duduk di teras rumah, semasa gadis, Dewanti memandangi pohon-pohon srikaya dengan buah-buah yang bergelantungan. Ia masih saja bimbang, apakah ia akan menerima lamaran Anto, putra Pak Parto. Bukan hanya karena orangtua Pak Parto membeli kebun srikaya keluarga Kakek, dan Ibu kehilangan mata pencariannya untuk biaya sekolah. Tapi Pak Parto pernah  menjadi atasan Bapak di kantor, dan Ibu mengeluh pada Dewanti, “Pak Parto itulah yang selalu menggeser posisi ayahmu. Kedudukan ayahmu selalu buruk. Lihat, kita tinggal di rumah yang sederhana, hidup dengan getir. Bagaimana mungkin kini kau menerima lamaran anak lelakinya?”

“Apa kejahatan itu menurun dari orangtua pada anaknya?”

Ibu terdiam. Lama. Memandangi Dewanti dengan merenung. “Aku tak ingin kau hidup menderita.”

“Doakan saya bahagia.”

“Kalau ayahmu masih hidup, mungkin akan berpendirian sama denganku,” kata Ibu. “Coba, kenalkan dia pada Ibu.”

***

Takada hal yang menyebabkan Ibu menolak Anto. Ibu merestui Dewanti menikah dengan Anto, seorang dokter muda. Dalam pandangan Dewanti, yang diam-diam selalu mengamati Ibu, tampak bahwa Ibu berkenan menerima Anto. Dewanti tinggal di rumah baru Anto, dan pertama kali yang dilakukan Ibu adalah membeli pohon srikaya, menanamnya di pelataran rumah.  

 “Pohon ini akan berbuah sepanjang tahun,” kata Ibu, ketika melepas Dewanti tinggal di rumah baru. “Sirami dia dengan sepenuh cinta. Biar dia berbuah. Syukur suamimu suka pada buah srikaya yang kutanam ini.”

Menempati  rumah baru yang cukup luas, Dewanti merasakan halamannya sempit. Ia mencoba memahami Anto, suaminya, seorang dokter muda, yang sibuk dan selalu pulang malam. Tiap sore ia selalu menyiram bunga-bunga di pelataran. Tak lupa menyiram pohon srikaya yang kini buahnya mulai bergelantungan.

Sesekali Dewanti melukis, mengisi waktu senggang. Selalu ada gagasan yang memikat. Sepulang memberi kuliah, ia tak mau kesepian seorang diri, memasuki ruang studio, dan melukis—sebuah kebiasaan yang dilakukannya semenjak kecil. Ia memiliki kanvas linen, easel aluminum, palette, pisau palette, kuas, cat minyak dan turpentine yang selalu memberinya kesuntukan melukis. Ingin sekali dia melukis pohon srikaya saat nenek memetik buah-buah yang bergelantungan rekah, masak, dan beberapa di antaranya ranum.

Ia lebih suka melukis bunga-bunga anggreknya: aneka warna, selalu bermekaran, berhari-hari masih mekar dan segar. Nenek yang memetik buah srikaya itu belum menggugah hasrat melukisnya.

***    

Sepulangdari kampus sore itu Dewanti tercengang. Pohon srikaya sudah ditebang empat orang tukang batu, yang bekerja memperluas garasi, agar bisa dimasuki dua mobil.  Anto pulang dengan mobil baru berkilau.

“Ini untukmu. Hadiah ulang tahun,” kata Anto penuh kebanggaan. Diserahkan kunci sedan sport merah seperti yang selalu diceritakannya.

Tubuh Dewanti bergetar. Ia tak bisa mengungkapkan rasa marahnya pada suami. Pohon srikaya yang ditanam Ibu, yang selalu bergelantungan buah-buahnya, ditebang begitu saja. Ia merasa bersalah pada Ibu, yang memiliki kenangan masa silam dengan pohon-pohon srikaya. Ia juga merasa berdosa pada seorang nenek yang senantiasa datang menjelang senja untuk meminta buah-buah srikaya matang dengan wajah berbinar-binar.  

Ketika tebangan pohon srikaya itu dibawa pick-up dengan batang pohon lain dan gundukan tanah yang harus dibuang, Dewanti ingin mengambilnya dan menanam kembali. Pohon srikaya itu layu, dengan buah-buah yang masih menyatu dengan tangkainya, sebagian sudah waktunya dipetik. Tentu nenek yang selalu datang menjelang senja, berjingkat memetik buah srikaya, akan sangat kecewa, bila tahu, pohon itu sudah ditebang.

Dewanti memasuki studio lukis. Ia mengembangkan ilusi tentang wajah nenek pemetik buah srikaya. Wajah yang keriput, menampakkan mata yang bening, berbinar-binar, dan menjelang pulang, mengucapkan terima kasih dengan santun. Nenek berjalan pulang dengan langkah tenang, melintasi gang dalam remang senja. Dewanti tak pernah mengerti tempat tinggal nenek pemetik buah srikaya.  

Dewanti mulai melukis. Sosok nenek dengan buah-buah srikaya bergelantungan begitu jelas pada benaknya. Dilukisnya pohon srikaya, dua belas buah di ujung-ujung ranting, kemudian nenek dengan wajah berkerut dan mata jernih, berjingkat, bertumpu pada ujung-ujung jari kaki, memetik buah srikaya masak. Ia melukis nenek dan pohon srikaya justru ketika pohon itu ditebang dan sebagian pelatarannya  berkurang untuk memperluas garasi dengan mobil sedan sport merah di dalamnya.

***

Gerimistipis menjelang senja, nenek yang biasa datang memetik buah srikaya mengetuk pintu. Ia tak berpayung. Dewanti membukakan pintu ruang tamu dan tercengang melihat nenek itu datang membawa pohon srikaya kecil di tangannya.

“Tanamlah! Kusemaikan biji srikaya, dan kupilih yang tumbuh paling subur.”

“Di mana mesti kutanam?”

“Carilah celah kecil di pelataran. Pohon ini akan cepat tumbuh dan berbuah.”

Masih tercengang Dewanti ketika nenek meninggalkan teras rumahnya. Tanpa payung nenek itu menembus gerimis tipis menjelang senja. Dewanti mengamati lantai teras yang dipijak nenek. Mestinya lantai itu basah tergenang air gerimis yang menetes dari tubuhnya. Tapi lantai teras tempat berpijak nenek tampak kering. Tak setitik pun air menetes di lantai teras. Dewanti memandang ke arah tubuh nenek yang meninggalkan rumahnya. Tubuh nenek sudah tak kelihatan sosoknya.

***

Ibuberkunjung kerumah Dewanti. Melihat  garasi baru, mobil sedan sport merah berkilau, dan pohon srikaya kecil pemberian nenek yang ditanam Dewanti di pelataran yang sempit. Tak sepatah kata pun Ibu mempertanyakan pohon srikaya yang sudah ditebang. Ketika Ibu melihat Dewanti menyelesaikan lukisan nenek memetik buah srikaya, tercengang. Mendekat. Mengamat-amati lukisan itu tanpa berkedip, meraba pelan, dan bertanya lirih, “Bagaimana mungkin kau bisa melukis nenekmu memetik srikaya? Kau belum pernah bertemu dengannya.”

“Nenek selalu hadir dalam pikiranku,” balas Dewanti, menyembunyikan keterkejutan. Masih memainkan kuas dan cat minyak, ia menyempurnakan lukisan dengan menahan goncangan dada yang berdegup kencang.***

                                                              Pandana Merdeka, Agustus 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Kepiting Merah

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Puisi

Puisi Candrika Adhiyasa

KULTUS

biara-biara selalu terbuka

untuk doa-doa

layangkan pada langit, kata-kata

siapa beranjak dari pusara

tuhan, meski tak bertelinga

ia mendengar semua

bahkan sampai ke palung hati paling

bisu sekalipun

dan kita menerka-nerka, akankah

bahagia

datang sesubuh cahaya

di pagi buta, layaknya fajar pertama

tuhan, meski tak bermata

ia melihat semua

Tasikmalaya, 2019


ANTESEDEN

kusimak sayatan pelan gin dan heineken

kuhela sesak udara andantino dan misty

kukecap sembir seloki eternity dan poison

ada hutan beku di balik bola matamu;

sebuah semesta taiga terhampar

menjadi partitur sejarah yang dingin dan terkucil

Kuningan, 2019


MUSIM ANGIN

sejak kecil, aku terusir

diasingkan dari permainan

sering kutatap permukaan kolam

: akukah si wajah buruk rupa?

kupungut berbagai topeng

memakainya, silih ganti

sesuai musim—

menyembunyikan wajahku

semata-mata, agar aku diterima

dalam kepalsuan itu,

aku tertekan, seraya bertanya-tanya

bolehkah kita; menjadi bukan siapa-siapa saja

tanpa harus merasa kesepian?

Tasikmalaya, 2019


KACA DI BOLA MATAMU RETAK

meluruh di sepanjang kabin

tanpa penjaga. ombak dibuai

langit, awan dimanja cakrawala,

tiang piatu digembala badai

matahari menyinari air mata

berderai menjadi api

rembulan memberi mimpi

pada dendam abadi

laut dalam pigura

kaca di bola matamu retak

Tasikmalaya, 2019


INSTRUMENTAL: NYANYI SUNYI BEETHOVEN

Sonata No. 14 “Moonlight”

in C-Sharp Minor Op. 27 No. 2

ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya

            dan bayang-bayang muncul

            dari permukaan laut yang keruh

sebuah tempat indah terbentang

            nun jauh di kekosongan matanya

            kemudian menundukkan wajah

sekali lagi, ia berharap tak pernah dilahirkan

            ke dunia yang memilukan ini

Tasikmalaya, 2019


REFFRAIN: NYANYI SUNYI JOEP BEVING

                        Le souvenir des temps gracieux

                        in “Prehension”

angin meredupkan sisa bara

            bekas perbincangan semalam. botol berserak

            dan langit masih saja tak berperasaan.

suatu hari kamu akan membaca ulang

mimpi-mimpi yang membuatmu menangis

di antara jengkalan gemerlap laut malam.

Tasikmalaya, 2019


OUTRO: NYANYI SUNYI MILES

“jika aku mati,” ucapmu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

            bermukim di sebuah pondok

            yang tersembunyi di dalam kabut.

“jika aku mati,” ucapmu lagi.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menyimak kaset-kaset piano lama

            sambil meneguk minuman keras.

“jika aku mati,” ucapmu selalu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menatap langit yang menyala

sambil menghela udara pagi.

“jika aku mati,” ucapmu.

Tasikmalaya, 2019


JAZZ UNTUK GILIMANUK

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari pijakan-pijakan—Keftiu?

serupa kapal layar

bersungut-sungut mencari kabar

sekarang, gelombang tiada kentara

redup diliput pekat teramat

telingaku dipenuhi napas Miles

terbaring kaku di geladak

mengikuti laju konstelasi

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari kejelasan-kejelasan—lewat

Timaeus dan Critias?

serupa kapal karam

berkaku-kosong menyusur kelam

Bali, 2019


PERTEMUAN

di balik bukit itu bersembunyi ragam

warna jua bentuk

dalam terkaan yatim piatu

dan gersangnya peluk

lalu rinai bunyi-bunyi mekarkan

ilalang bayang-bayang

di langit mimpi yang jauh

dari anak tangga penerimaan

daku bertanya:

apakah sebenarnya yang ada di sana;

gelapkah terangkah

maniskah pahitkah

lama kita tak mengadu nasib rindu

Tasikmalaya, 2019


PERPUSTAKAAN TUA

tak kupetik kata-kata dari langit

yang tangkai-tangkainya begitu

rapuh dan semu seperti bayi-bayi

yang hendak dilahirkan ke bumi

kata-kata dalam puisiku kupetik

dari belantara perasaan rumit

serupa isi kepala para dewasa

di rimba raya dunia tipu daya

sebagai sebab, kamu tetap

semayam pada alam yang tak

terekam, pada ruang yang tak

tertangkap kesadaran seperti

halnya dongengan dalam buku-buku

kusam di pojok perpustakaan tua

Tasikmalaya, 2019


Candrika Adhiyasa, menulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Instagram @candrimen

Cerpen

Kepadanyalah Peluru Ini akan Bersarang

Cerpen Yosef Astono Widhi

Sejenak, pemuda itu mengambil napas dalam-dalam. Ditahannya beberapa detik sampai membentuk seperti bola energi dalam perutnya, sebelum akhirnya ia embuskan perlahan. Dilakukannya beberapa kali dengan harapan bisa menenangkan pikiran dan mengurangi ketegangannya.

Si pemuda masih bersembunyi di sana. Tanpa suara, ia memperhatikan melalui celah sempit keadaan di luar lemari pakaian yang kini dijadikannya tempat persembunyian. Perempuan di luar sana, dilihatnya tengah menggelepar sambil telanjang tak lagi bertenaga. Sementara laki-laki itu, sama tak berpakaiannya, duduk bersandar pada tepi ranjang sambil memegang rokok yang hanya dihisapnya sesekali.

Sejenak lalu, dilihat dengan matanya sendiri mereka di atas ranjang, saling himpit, dan bergoyang beringas. Sekiranya itu terjadi sepuluh menit sebelum akhirnya si perempuan melolong panjang. Namun si laki-laki masih sempat menaiki tubuh si perempuan yang tidak begitu lama, akhirnya ikut tumbang dan mengisut.

Diintipnya lagi kini oleh si pemuda, keadaan di luar masih tak jauh berbeda. Lelaki itu masih dengan rokok yang tak habis-habisnya dihisap, sedang si perempuan sudah mulai nyenyak dalam tidurnya. Pemuda itu kini menatap tajam pada si laki-laki. Ia berharap lelaki itu turut berbaring dan tidur, namun mata lelaki itu nampak tak ada kantuk-kantuknya. Ditambah, ia juga merokok.

Ayolah tidur, bangsat.

Sejujurnya si pemuda masih ngeri betul membayangkan apa yang akan terjadi jika ia memang benar-benar melakukannya. Lelaki itu, adalah alasan mengapa ia harus rela-rela besembunyi di balik pintu lemari reot ini. Mengintip lewat sudut sempit bertemankan pistol di tangannya. Pistol yang sedari tadi digenggamnya itu sebenarnya sudah siap untuk ditembakkan kapan dan pada siapa saja. Namun kini, rasanya ia sendiri yang gemetar untuk menarik pelatuknya.

Rencananya ini sebenarnya sudah ia perhitungkan matang-matang. Ia akan mengendap masuk ke kamar si perempuan dan menyelinap ke dalam lemari pakaian. Sesuai info yang didengarnya, si perempuan itu akan datang pukul empat sore dengan si lelaki besertanya. Kemudian mereka akan menuju kamar setelah lima belas menit basa-basi di ruang depan. Waktu itu, ia sudah harus menyembunyikan dirinya di antara gantungan pakaian dan mencari posisi yang pas untuk membuat lubang guna mengintip.

Semua berjalan sesuai rencana sampai mereka memasuki ruangan. Sebenarnya mudah saja, setelah ini tinggal menunggu si lelaki sedikit lengah, dan ia bisa menarik pelatuknya. Si lelaki bakal mati dan pekerjaannya selesai. Namun, ia tidak bisa melakukannya tergesa karena ia harus benar-benar bisa menembak dan membunuh si lelaki dalam sekali tembakan. Ada dua alasan, yang pertama adalah pistolnya hanya terisi satu peluru dan alasan kedua adalah ia tidak ingin membunuh bahkan melukai si perempuan.

Si laki-laki kini merupakan orang yang paling dibencinya. Lelaki itu harus mati dengan tangannya. Tak peduli apa yang kiranya bakal terjadi kemudian, tapi ia benar-benar ingin lelaki itu mati. Sebenarnya ia tak begitu kenal dengan lelaki itu. Jangankan mengetahui nama, bahkan ia tidak pernah bertemu dengannya secara langsung sebelumnya. Satu-satunya info yang ia tahu adalah bahwa si laki-laki ini merupakan selingkuhan si perempuan.

Sedang si perempuan, ia masih terlihat begitu lelah dengan napas satu-satu. Tubuh telanjangnya ia biarkan terbuka, memperlihatkan sisa-sisa pertarungannya tadi. Perempuan ini cukup manis, terlebih di mata si pemuda. Perempuan ini adalah orang yang tidak akan dibiarkannya terluka sesenti pun. Perempuan ini, adalah yang kelak akan menjadi jalannya menuju surga. Tak lain dan tak bukan, perempuan ini adalah ibu dari si pemuda, dan ia tidak mau keluarganya dirusak oleh si laki-laki bajingan itu.

***

Si laki-laki kini sudah mengambil batang rokoknya yang ketiga. Di sampingnya, si perempuan terlihat meringkuk menekuk badan. Mungkin ia kedinginan, pikir si laki-laki. Maka ia mengambil selimut dan membentangkannya sampai sebagian tubuh si perempuan tenggelam di baliknya. Dilihatnya lekat-lekat wajah perempuan itu. Ah, mengapa berakhir seperti ini lagi?

Seharusnya si laki-laki tidak perlu repot-repot mengiyakan ajakan si perempuan untuk bertemu hari ini, mengingat ia sebenarnya sudah pula mengiyakan ajakan istrinya untuk pergi makan malam. Hari ini adalah hari jadi mereka yang kedua. Namun rasanya, tidak akan ada hari jadi yang kesepuluh apalagi dua puluh. Pilihannya untuk main serong dan pergi berkencan dengan perempuan kaya raya kurang sentuhan telah menjadi racun bagi pernikahannya itu. Bahkan untuk menyentuh tahun kelima saja sudah sangat mustahil. Racun itu kini berasal dari pilihannya untuk menemani tidur perempuan yang kini tengah terbaring di sampingnnya. Tentu saja ia tidak mencintainya, ia jauh lebih mencintai istrinya. Namun ia juga mencintai pekerjaannya, karena hal itu cukup mudah dilakukan dengan imbalan uang cukup banyak.

Si perempuan ini dikenalnya belum cukup lama. Waktu itu, ia datang dalam keadaan kesepian setelah berkata suaminya pergi bekerja cukup lama. Katanya, ia mendapatkan info dari sebuah lapak digital usang yang memang pernah dipasang oleh si laki-laki beberapa tahun yang lalu. Mulanya si laki-laki enggan untuk kembali terjun ke dunia gelap. Namun karena uang yang ditawarkan tidak main-main, ditambah juga perawakan si perempuan yang memang menarik, ia pun menyetujuinya.

Pertemuan pertama terjadi di awal bulan lalu. Dengan mengenakan pakaiannya yang cukup bagus, ia berangkat menuju hotel tempat perjanjian menggunakan taksi. Tentu saja ini terjadi setelah ia berbohong pada istrinya. Setelah mengecup bibir istri dan mengusap rambut putranya yang masih belum lancar bicara selain “papa-papa”, si laki-laki pergi dengan perasaan kalut. Tak tega ia untuk sekadar berbalik melihat dua orang yang begitu menyayanginya telah tega ia bohongi. Langkahnya gontai menembus jalanan gang sempit sampai akhirnya ia tiba di tepi jalan. Ia sempat-sempatkan melihat ke belakang meski ia yakin rumahnya sudah jauh tertinggal di sana. Masih ada kesempatan untuk membatalkan rencananya, pikirnya. Namun ia benar-benar butuh uang. Pikirannya begitu bimbang sampai akhirnya taksi yang dipesannya datang. Ah, kali ini sajalah.

Tentu saja tidak ada manusia yang bisa lepas dari jeratan dosa. Sekali terkena, manusia akan melakukan dosa yang itu-itu saja. Pun dengannya. Setelah pertemuan pertama, dan semua kebohongannya tidak terbongkar oleh istrinya, ia senang bukan main. Ia berencana untuk tetap menjaga pekerjaannya ini sebagai kerjaan sampingan. Namun kali ini ia tidak memasang lapak lagi. Ia hanya ingin mengencani si perempuan itu karena menjaga rahasia ini saja baginya sudah cukup berat. Maka, ketika si perempuan menawarinya kencan untuk kedua kali, ia langsung dengan cepat mengiyakannya.

Akhirnya terjadi lagi. Hari ini, di hari ulang tahun pernikahannya. Ia belum pamit hari ini karena ia tidak tega melihat kesedihan istrinya secara langsung. Ia berencana untuk mengabari istrinya mendadak karena pekerjaan yang tergesa ingin diselesaikan. Ia tahu itu tidak begitu jauh berbeda, namun setidaknya tidak ada air mata yang harus diseka sang istri di hadapannya.

Ia menoleh lagi pada si perempuan. Bagi si laki-laki, perempuan ini tentu saja memiliki segalanya jauh ketimbang apa yang dimiliki istrinya. Kekayaan melimpah dan fisik yang menawan. Tentu saja semua jenis laki-laki akan tergoda imannya jika diperbolehkan untuk menyentuhnya. Sedang si lelaki, ia tidak hanya diperbolehkan. Bahkan ia dibayar untuk itu. Namun membayangkan jika suatu saat menemui istrinya tengah membayar pria lain untuk menemani tidurnya, ia langsung bersyukur telah memiliki istri yang biasa-biasa saja.

“Bodoh!” umpatnya sambil membanting bungkus rokoknya yang telah kosong.

Seharusnya ia tidak pernah mengiyakan ajakan si perempuan itu. Bagaimana mungkin ia bisa begitu jijik membayangkan istrinya tengah tidur bersama pria lain, sedangkan ia kini baru saja menerima uang untuk menemani tidur seorang perempuan? Diambilnya sebuah cincin kawin yang sengaja ia selipkan di dalam dompet. Ia tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahannya. Ia hanya merasa tidak pantas saja benda itu melingkari jari manisnya sedangkan ia tengah tidur bersama perempuan yang bukan istrinya. Dipandanginya benda yang telah menjadi tanda pengikat perkawinannya itu. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku melepaskanmu dari jariku?

Ia benar-benar merasa dirinya hina. Maka diambilnya telepon genggam, dengan niatan untuk menghubungi istrinya di rumah. Ia tidak tahu apakah ia akan mengaku, berbohong lagi, atau bagaimana. Apa yang terjadi kelak biarlah, terpenting baginya kini adalah meminta maaf. Maka berjalanlah ia ke sudut kamar dekat lemari karena tidak ingin membangunkan si perempuan.

“Sa-sayang?” ucapnya sesaat setelah teleponnya diangkat.

“Halo, Sayang. Ada apa? Ditungguin di rumah loh.”

Si laki-laki kini benar-benar merasa berdosa. Suara istrinya terdengar begitu menenteramkan di telinganya. Ia tidak habis pikir mengapa ia betul-betul tega sampai harus mengkhianatinya.

“Ma-maaf,” ujar si laki-laki sambil menahan tangis.

“Kenapa minta maaf, Sayang?”

“Aku tidak bisa pulang tepat waktu. Pekerjaanku baru saja selesai.”

“Sayang, sekarang kan memang jam usai kerja. Bahkan ini belum gelap, kamu tidak akan terlambat.”

“Ta-tapi… Aku bakal terlambat.”

“Sayang, kamu terlambat pulang? Nggak papa. Tapi kamu nggak akan terlambat untuk pergi makan malam. Pulanglah segera setelah selesai berberes. Aku akan buatkanmu kopi dan memanaskan air untuk mandimu.”

“Ba-baik, Sayang.”

“Iya, ditunggu ya Sa…”

Oeek-oeeek papa-papa

“Aduh Yang, si kecil nangis nih dengar suaramu. Kangen kali dia, hahaha. Aku tutup dulu ya, nanti malah kamu nggak jadi pulang. Daagh.”

Tangis si laki-laki tak bisa lagi terbendung demi mendengarkan tangisan anaknya. Ia jatuh terduduk bersandar pada lemari.

“Sayang, kenapa nangis?”

“Aku sayang kamu…”

“Udah, ayo cepat pulang,” tutup istrinya sebelum menutup sambungan telepon.

“Maaf…. Maaf… Maaf…” Tangisannya semakin menjadi, dengan air mata yang telah membasahi sebagian dadanya. Ia melihat lagi cincin kawinnya dan memakainya. DUGG. Tiba-tiba dipukulnya kencang lemari di belakangnya, menimbulkan suara berdebum cukup keras.

“Honey, suara apa tadi? Kenapa kamu di situ?”

***

Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia awalnya berpikir nyawanya telah usai setelah si laki-laki datang perlahan menghampiri lemari tempat ia bersembunyi. Namun beruntunglah karena si laki-laki hanya bersandar pada lemari dan menelepon seseorang. Ternyata nyawa si laki-laki itulah yang akan selesai, pikirnya. Ia bersiap untuk menarik pelatuknya ketika tiba-tiba terdengar suara di ujung telepon adalah suara perempuan. Entah mengapa, tiba-tiba ia hanya terdiam dan mendengarkan segala percakapan di telepon, termasuk dengan tangisan bayi dan tangisan si laki-laki.

Apa yang didengarnya barusan hanya membuat keyakinannya semakin goyah. Sebenarnya mudah saja, tinggal tarik pelatuk dan mati. Bahkan jarak sangat dekat sehingga kemungkinan target selamat pun sangat kecil. Namun, percakapan tadi hanya menyisakan si pemuda termangu tanpa kata-kata dan kebingungan yang menyesaki kepalanya.

Sebelumnya, ia melihat si laki-laki mengeluarkan benda berkilau menyerupai cincin. Dipikirnya, lelaki itu akan mengajak kawin ibunya. Bodoh, pikirnya. Kemudian terjadilah kejadian-kejadian yang membingungkan itu. Tak disangkanya ternyata laki-laki itu telah beristri dan mempunyai seorang bayi. Si pemuda mengambil kesimpulan bahwa cincin tadi itu adalah cincin kawin si laki-laki yang sengaja disembunyikan agar si perempuan tidak tahu.

Berbagai macam spekulasi berkelindan dalam benak si pemuda. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada si laki-laki. Yang diketahuinya kini, ia sudah beristri dan ia meminta maaf berkali-kali pada istrinya. Si laki-laki nampak begitu menyesali perbuatannya bahkan sampai terlihat air mata berjatuhan di pipi. Ia tidak tahu mana yang harusnya ia percaya. Pikirannya, kah? Penglihatannya? Atau pendengarannya? Semua tampak sama-sama menyesatkan.

DUG. Tiba-tiba pintu lemari di depannya dipukul keras. Si pemuda kaget, dipikirnya si laki-laki betul-betul telah mengetahui keberadaannya. Namun tidak ada pintu lemari yang dibuka. Hanya suara tangis si laki-laki yang semakin menjadi dan suara si perempuan terdengar sayup-sayup.

“Honey, suara apa tadi? Kenapa kamu di situ?”

“Bukan apa-apa.” Si laki-laki bangkit, menuju barang-barangnya. Ia memakai kembali pakaiannya dan berkemas.

“Kamu kenapa buru-buru? Dan kenapa matamu merah? Sini loh tidur dulu.”

Ia tidak menggubris omongan si perempuan. Ia malah mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, menghitungnya cepat, dan memberikannya pada si perempuan.

“Apa ini, Honey?”

“Ambillah. Itu uang yang awal bulan lalu kamu berikan padaku, aku nggak membutuhkannya lagi. Dan untuk hari ini, aku harap adalah pertemuan terakhir kita. Sehingga kamu tidak perlu menghubungiku lagi. Oh ya, dan kamu tidak perlu membayar untuk yang tadi.”

Si perempuan terdiam membisu. Ia nampak tidak percaya apa yang di hadapannya sekarang. Sedang si pemuda, ia mendengarkan semua percakapan tersebut dari dalam lemari sambil tercengang dengan semua yang didengarnya. Ia tidak percaya bahwa ibunyalah yang menginginkan perselingkuhan ini, bukan sebaliknya. Padahal, ia tahu betul bahwa ibunya sangat mencintainya dan bapaknya. Oleh sebab itulah ia berada di sini hendak membunuh si penghancur rumah tangga itu.

“Kembalilah. Kembalilah pada suamimu. Sambutlah kelak ketika ia pulang. Pun aku, aku akan pulang. Ada yang telah menantikan kepulanganku di rumah. Mereka adalah orang yang mencintai sekaligus kucintai. Istri dan anakku.”

Si perempuan kembali terdiam. Ia tidak menyangka bahwa lelaki di depannya itu telah beristri dan beranak. Namun ia tetap berusaha menguasai keadaan dengan tidak menunjukkan kekagetannya.

“Honey, kamu ngomong apa sih? Aku tidak mencintainya. Jika bukan karena kekayaannya, jelas aku sudah pergi jauh-jauh. Juga anakku, sama saja. Bukan karena aku selalu memberi apa yang dia mau berarti aku menyayanginya. Aku nggak butuh mereka. Tingggalkanlah istri dan anakmu. Ayo kita meni…”

DOORR.

“Su-suara apa itu, Honey?”

“A-aku juga tidak tahu. Dari arah lemari.”

Ah, ternyata si pemuda telah menentukan kepada siapa peluru itu disarangkan.**

Di tengah pandemi, 2020


Yosef Astono Widhi, seorang anak muda yang gemar membaca dan berteater. Dapat dihubungi di Twitter: @ivecriedmybest dan Instagram: @yosefastono

Cerpen

Gadis Kecil dan Dendam yang Menunggu

Cerpen Adam Yudhistira

Satu minggu yang lalu, tepat pukul 6 pagi, Maria menemukan jasad Paul tergeletak di depan pintu kamar mandi. Jerit histeris perawat muda itu sontak mengagetkan seluruh penghuni panti. Tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya. Satu-satunya petunjuk hanya sebatang pipa besi yang menurut keterangan polisi telah menjadi penyebab lelaki tua itu mati.

Sepengetahuanku, Paul bukanlah orang jahat. Aku masih ingat saat dia pertama kali datang ke tempat ini. Sebatang tongkat membantu mengurangi lengkung pada punggungnya yang menyerupai bulan sabit. Senyum ramahnya tak pernah pudar. Tutur katanya hangat dan bersahabat. Penampilannya pun rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya putih berkilau, seperti diguyur cairan perak. Rasanya sulit dipercaya jika ada orang menginginkan kematiannya.

Perihal kematian Paul telah memunculkan berbagai dugaan. Sebagian penghuni panti bersepakat, seseorang telah datang dari masa lalunya dan membawa dendam lama. Dugaan ini diambil bukannya tanpa alasan. Berdasarkan cerita yang sering disampaikan Paul kepada kami, lelaki tua itu mengaku jika dirinya adalah pensiunan polisi yang sempat bertugas di distrik Tujuana—sebuah kota kecil di Meksiko.

Selama menjadi polisi, Paul mengaku telah menghabisi banyak penjahat. Dari sekian banyak penjahat, ada satu orang yang sepertinya paling sulit dilupakan. Penjahat itu bernama Arturo Cruz, seorang bandit yang cukup ditakuti di Tujuana. Pada saat penangkapannya, lelaki itu menyerang Paul dengan pisau dapur yang sebelumnya digunakan untuk menusuk istrinya sendiri. Paul menembak dada Arturo dua kali. Satu di kepala. Satu di dada.

“Bukan kenangan menyenangkan,” ucap Paul sambil mengusap lengannya yang berkulit kisut. “Arturo memiliki seorang anak berusia tujuh tahun. Kematian Arturo dan istrinya telah membuat gadis kecil itu menjadi yatim piatu. Tapi, aku harus melakukannya. Persetan dengan mereka yang menjulukiku hewan berdarah dingin. Penjahat itu ingin membunuhku.”

Selain cerita tentang Arturo dan istrinya, Paul mengaku telah menjebloskan banyak penjahat; psikopat, pedofil, pemimpin gangster, dan pembunuh bayaran. Dia bahkan  pernah melakukan operasi penyamaran tiga bulan dalam sindikat perdagangan heroin besar dan berhasil meringkus bos kartel narkoba kelas berat. Saat bos kartel itu tertangkap, dia bersumpah akan memenggal kepala Paul jika berani bersaksi di pengadilan. Tetapi, alih-alih meminta perlindungan, Paul malah pergi ke pengadilan dan tertawa di depan wajah bos kartel itu.

Awalnya cerita-cerita itu membuat kami tak nyaman, karena terkesan mengada-ada. Kami menganggap cerita-cerita itu omong kosong belaka, hiburan para lansia. Petualangan menegangkan yang diceritakannya memang lebih mirip alur film-film Holywood ketimbang cerita nyata. Sergio bahkan pernah berseloroh, katanya lelaki tua itu adalah pembual paling ulung. Dia hanya aktor, namun faktor usia dan pelupa membuat dirinya tak lagi berguna. Jalan hidup yang buruk membuatnya terbuang dan berakhir di tempat ini.

Sergio menjadi satu-satunya penghuni panti yang tak menyukai Paul. Lelaki itu paling pendiam dan paling jarang bergabung bersama kami—terlebih saat kami tengah menyimak cerita-cerita Paul. Setiap bersitatap dengan Paul, Sergio selalu bermuka masam. Hingga saat jasad Paul ditemukan, Sergio-lah yang dicurigai pembunuhnya. Namun untuk menuduhnya, polisi tak punya bukti-bukti apa-apa.

Sebenarnya, satu hari sebelum peristiwa mengerikan itu, pada tengah malam, aku sempat mendengar teriakan dari kamar Paul. Entah dia marah pada siapa. Caci maki itu berlangsung beberapa menit, lalu hening. Keesokan paginya, Paul berkunjung ke kamarku dan menceritakan pengalamannya.

“Seseorang ingin membunuhku,” katanya gemetar. “Tadi malam dia masuk ke kamarku dan mencoba mencekik leherku. Aku tak mengenalnya sebab kamarku gelap.”

“Tenanglah.” Kutarik sebuah kursi untuknya. “Duduklah dulu.”

Lelaki tua itu membeku seperti patung. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang akut. Kepalanya terus menoleh ke kiri dan kanan, seolah mengkhawatirkan sesuatu yang tak kasat mata sedang bersiap menyerangnya. Saat itu, ceritanya tak berhasil membuatku percaya. Bagaimanapun juga, aku setuju pendapat Sergio. Paul pandai membual.

Gedung panti ini dipenuhi lelaki dan wanita tua. Di taman dekat Ruang Kesehatan, sekelompok nenek-nenek asyik memintal benang rajut. Di bagian lain sekelompok kakek-kakek berbincang santai di pelataran bangsal. Sungguh tak ada alasan untuk mencemaskan orang-orang seperti itu.

“Orang itu tampaknya betul-betul ingin membunuhku,” ujarnya terus bersikeras.

Aku mengubah posisi duduk agar bisa menatap langsung ke matanya. Aku ingin melihat yang tersisa dari lelaki yang mengaku bekas polisi berpengalaman itu. Tak ada gerakan pupil halus penuh waspada. Tak ada ketenangan sikap yang biasa ditunjukkan polisi kawakan. Wajahnya cuma menunjukkan ketakutan yang sempurna.

“Apakah Sergio pelakunya?”

Paul menggeleng, “Dia memang membenciku, tapi tak sampai ingin membunuhku.”

Saat kami sedang berbincang, di ambang pintu, Sergio tiba-tiba muncul. Dia menenteng secarik surat kabar yang digulung. “Apa lagi bualanmu hari ini? Kudengar dari luar, kau menyebut-nyebut namaku,” tanyanya sambil memukul-mukulkan gulungan koran ke telapak tangan.

“Jangan salah sangka dulu,” kataku mencoba menengahi. “Paul mendatangiku karena dia butuh pertolongan.”

“Pertolongan?” Sergio menyeringai. Lelaki tua bertubuh jangkung itu menudingkan telunjuknya ke wajah Paul. “Aku tak akan heran jika ada seseorang yang ingin menghajarnya.”

“Setidaknya kau bisa menunjukkan rasa pedulimu.” Aku memandang bolak-balik antara Paul dan Sergio, sedikit cemas akan terjadi perkelahian.

Sergio memajukan badan, jemarinya meremas gulungan koran. “Sudah kubilang, dia cuma pembual. Ingatannya sudah hilang. Kau tahu? Hilang ingatan di usia tua adalah keniscayaan. Apa pun yang dikatakannya, jangan percaya. Itu cuma bualan.”

“Sudahlah,” ucap Paul seraya berdiri. Bunyi desah agak keras keluar lewat celah giginya yang renggang. “Mungkin aku cuma bermimpi.”

Lelaki tua itu melirik Sergio dan memberinya senyum persahabatan. Sergio tidak membalas senyuman itu. Dia mendengus dan tak lama Paul pun pergi. Itulah saat terakhir aku berjumpa dan berbicara dengannya.

***

Satu minggu usai pemakaman Paul, aku melihat Maria duduk seorang diri di taman panti. Dia duduk menghadap ke kolam kecil di bawah pohon mapel. Seharusnya perempuan muda itu menggiring kami senam seperti biasa, tetapi pagi itu dia tampak murung. Aku menduga kematian Paul meninggalkan jejak trauma di kepalanya.

Kemarin kami sempat berbicara. Aku berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia harus menguatkan diri. Namun perempuan itu hanya diam dan mengerut di kamarnya. Duduk di atas selimut perca dengan lampu rendah sambil menonton televisi, dikelilingi artikel koran yang menjadikan berita kematian Paul sebagai tajuk utama.

“Apakah aku mengganggu?”

Maria menggeleng. Matanya menerawang, melihat ke langit yang tampak mendung. Ranting mapel bergoyang dan dedaunannya berjatuhan ke permukaan kolam.

“Kejadian itu sama sekali bukan kesalahanmu,” ucapku menghiburnya.

Mata biru itu menatapku sejenak, lalu beralih ke para lansia yang duduk-duduk di sepanjang lajur bangsal. Maria mendekatkan kepala dan berbisik ke telingaku. Napasnya berbau agak asam bercampur basi—bau alkohol yang mungkin diminumnya sepanjang malam.

“Wali kota berniat menutup tempat ini,” ucapnya terdengar seperti penyesalan. Dia menunjukkan sikap bersalah; telapak tangan bertumpu di atas lutut. “Jika itu terjadi, aku harus meminta maaf kepada kalian.”

“Aku tak mengerti.”

“Begini, aku akan memberitahumu sesuatu.”

Maria memajukan badan sambil mempermainkan sebatang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya dengan terampil. Entah mengapa, keterampilan itu terasa asing di mataku. Aku memperhatikannya dari samping, heran dengan perubahan itu. Entah sejak kapan dia punya kebiasaan merokok.

“Akulah yang membunuh Paul.”

Kalimat itu membuatku terhenyak dan terpaku. Asap putih bergumpal-gumpal di sekitar wajahnya, persis seperti gumpalan pikiran yang menyesakkan kepalaku. Aku berusaha menyangkal apa yang baru saja kudengar, tapi kesungguhan di matanya membuatku bergidik.

Dia menoleh padaku dan berkata dengan tenang. “Kedatangannya adalah jawaban dari doaku.”

“Maksudmu?”

“Bajingan tua itu membunuh orangtuaku tiga puluh tahun yang lalu,” ucapnya gemetar. “Ayahku memergokinya tidur bersama ibuku. Sekarang aku membalasnya. Dua hantaman pipa besi ke kepala. Bukankah itu harga yang setara?”

“Siapa yang kau maksud?”

“Arturo Cruz.”

Aku mengempaskan tubuh ke belakang, bersandar pada bangku kayu, berusaha keras mengendalikan keterkejutan yang membuat kepalaku sedikit pusing.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyaku lunglai. “Kau ingin aku merasa kasihan, atau bagaimana?”

“Sama sekali tidak,” ujarnya tersenyum. “Aku hanya ingin berusaha menunjukkan padamu orang macam apa dia sebenarnya. Dan aku juga ingin bilang, bahwa setiap orang pasti akan mendapat bayaran dari perbuatannya.”

Aku menarik napas dalam-dalam, tapi paru-paruku seakan mengerut sebesar aprikot kering. Air liur pahit mengumpul di belakang mulut, menciptakan dorongan untuk menyemburkannya ke wajah Maria. Dia layak mendapatkannya. Itu harga yang pantas untuk perbuatannya pada Paul. Tetapi pandangan mataku malah jatuh ke permukaan kolam. Di sana aku melihat bayangan gadis kecil yang menderita lantaran kematian orangtuanya dan entah mengapa, ludah pahit itu menjadi sangat menyakitkan ketika ditelan.****


Adam Yudhistira, saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).