Cerpen

Makan Pagi Paling Indah

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan  selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia  seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu  hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan  itu menjaga kesopanan.   

“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.

Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.

Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak  gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.  

“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.

“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai  Sekar,  yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.   

“Ia pandai memuji masakan istri,”  kata Ratih, tenang.

“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”

“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”

“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi  goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”

Berceritalah Pak Jo  pada Ratih mengenai kelezatan  nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal.  Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.  

***

Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak  suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.

“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”

Tercium  bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete.  Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya.  Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”

Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.

Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih.  Sebuah  taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya,  datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya  ikut suami untuk jalan-jalan.  Alya  membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol. 

Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.  

“Bagaimana kalau Alya  memasak nasi goreng besok pagi?”

“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”

Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan.  Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.   

***         

Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak  berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.

Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia  sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.

Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”

Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi  goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.

Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”

Mereka makan bersama. Selalu  Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada  senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”

Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia  mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai  lembut, Ratih  menyambutnya,  menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.   

Pandana Merdeka, Januari 2024


          S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Cerpen

Tafsir Peziarah Sunyi

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Langitmendung dan angin berpusar ketika Dewi Uma meniti  jalan ke makam ayah. Ini hari kedua ayah dimakamkan. Gadis 17 tahun itu merasakan angin menggetarkan dahan-dahan kemboja. Tanah makam masih cokelat basah. Bunga di atas makam dihamburkan angin. Sore ini ia seperti ingin menyingkap rahasia dirinya. Ia kehilangan separuh jiwanya sejak pemakaman jasad ayah. Tapi kali ini ia terperanjat. Ia termangu beberapa langkah sebelum makam ayah. Ia melihat seorang perempuan setengah baya yang tak dikenalnya berjongkok, menahan tangis di sisi makam ayah. Yang membuatnya takjub dan bergetar, ia melihat seorang gadis yang serupa dengannya. Bahkan ia melihat dirinya sendiri pada gadis itu.

Gerimis tajam menerpa wajah ketika Dewi Uma masih termangu. Menahan diri, ia tak sanggup melangkah. Berganti-ganti ia memandangi perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya. Ia merasakan kedekatan hati yang terselubung tabir rahasia. Ia merasa perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya itu merupakan kerabat. Ia mendekat ke arah makam ayah.

Hujan deras dengan angin berpusar tercurah dari langit. Dewi Uma berlari mencari perlindungan di bawah pohon beringin tua. Mengeringkan wajah dan rambutnya dengan sapu tangan. Ia menatap ke arah makam ayah. Senyap. Tak seorang pun berada di makam itu. Perempuan setengah baya itu dan anak gadisnya tak terlihat lagi. Mereka berlari menghindari hujan yang tercurah dari langit bersama pusaran angin. Dewi Uma kehilangan lacak, tak dapat menemukan sosok mereka.

Mendekati makam ayah saat hujan reda, Dewi Uma masih merasakan getar tubuhnya. Bukan getar tubuh karena hujan yang mendadak tercurah dari langit. Getar tubuh bertemu dengan dua orang–yang dalam pikiran Dewi Uma, sangat berkaitan dengan rahasia hidupnya. Meninggalkan makam ayah pada saat senja, hati gadis itu diliputi tanda tanya.

 ***

Langit cerah ketika Dewi Uma kembali ziarah ke makam ayah. Ini hari ketiga ayah dimakamkan. Menjelang sore, tak seorang pun datang ke makam, kecuali Dewi Uma dan Fajar, teman sepermainannya. Mereka begitu akrab semenjak kanak-kanak. Fajar terbiasa mengajak Dewi Uma ke mana pun, termasuk saat mendaki gunung. Fajar yang memiliki tubuh kekar dan tangguh, selalu membuat Dewi Uma terlindungi.  

“Aku melihat seorang perempuan setengah baya dan anak gadisnya, yang sangat mirip denganku kemarin di makam ini,” kata Dewi Uma, saat mencapai makam ayah. “Hujan turun, dan mereka menghilang ketika aku berteduh di bawah pohon beringin.”

“Kesedihan telah membawamu untuk melihat gadis yang serupa denganmu. Kau sedang melihat wujud kesedihanmu. Gadis itu pasti kau sendiri.”

“Lalu, perempuan setengah baya itu?”

Sejenak Fajar berpikir, sebelum menjawab sekenanya, “Ia wujud dirimu di masa yang akan datang.”

“Aku tak akan menjadi seorang ibu yang memendam kesedihan serupa itu. Aku mau jadi seorang ibu yang bahagia dengan segala pilihanku.”

“Nah, itu gambaran dirimu di saat sedih, di antara kehidupan yang bahagia,” goda Fajar, tak mau menyerah. Dewi Uma merasa diledek Fajar. Ia  masih memikirkan seorang ibu yang wajahnya memendam duka dan anak gadisnya itu. Ia yakin bila benar-benar bertemu dengan seorang ibu yang berparas sedih dan anak gadisnya yang mirip dengannya: serupa saudara kembar. Ia sangat ingin bisa bertemu mereka.

***

Masih berkabung, di hari keempat ayah dikubur, Dewi Uma berziarah ke makam, menjelang sore. Ia ditemani Joko Bandung, kekasihnya, seorang militer. Lelaki muda kekar itu baru bisa datang dan mengajaknya ziarah ke makam. Mendaki jalan setapak ke bukit makam, di bawah dahan-dahan kemboja, Joko Bandung menggenggam tangan Dewi Uma, memberinya rasa tenteram.

Dewi Uma kembali teringat seorang ibu setengah baya yang berziarah pada hari kedua ayah dimakamkan. Terutama gadis yang mirip dengan dirinya, menggelisahkan perasaannya. Ia penasaran ingin bertemu gadis itu: barangkali dia memiliki hubungan darah dengan ayah. Kalau memang benar Dewi Uma terlahir kembar dengan gadis itu, kenapa ayah dan ibu tak pernah bercerita?

“Aku bertemu gadis yang serupa denganku di makam ini,” kata Dewi Uma. “Ia bersama ibunya, perempuan setengah baya, yang ziarah di makam ayah.”

Serius Joko Bandung memandangi Dewi Uma. “Kita mesti mencari mereka. Coba tanyakan pada ibu, siapa perempuan setengah baya itu. Begitu juga gadis yang serupa denganmu, siapa tahu kalian memang dilahirkan kembar. Kalian dipisahkan, sehingga kalian tidak saling kenal.”

“Kenapa hidupku jadi sebuah misteri begini?”

“Kau mesti bertanya pada ibu. Tentu ibu bisa menjawab misteri ini.”

Tak ada badai, tak ada pusaran angin, tetapi tubuh Dewi Uma tergetar. Di depan makam ayah, ia menjadi gadis yang semakin tak memahami hidupnya. Ia lebih banyak berdiam diri. Ia tak bisa menyangkal pendapat kekasihnya. Mesti  bertanya pada ibu: apakah ia memiliki saudara kembar.

Turun dari makam, saat menjelang senja, Dewi Uma ingin mendengar percakapan ibu dan anak gadisnya saat berziarah. Kalau saja ia mendengar percakapan itu, tentu bisa menduga-duga siapa sesungguhnya mereka.

***

Saathari kelima Dewi Uma ziarah ke makam ayah, ia sendirian. Begitu  mencapai pintu gerbang ke makam, ia bertemu Sadewa, seorang santri Kiai Maksum, yang hendak ziarah ke makam Syekh Ali. Dewi Uma mengenali lelaki itu sebagai santri kesayangan Kiai Maksum. Ketika Kiai Maksum salat jenazah ayah dan mengiringi pemakaman, santri itu selalu berada di sampingnya.

Sadewa sempat berhenti di sisi gundukan makam ayah Dewi Uma. “Kau seperti sedang mencari jawab atas peristiwa yang pernah menimpa dirimu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sepasang matamu mengisahkan semua kegelisahan,” kata Sadewa,  merasa pasti.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang gadis yang mirip denganku di sini,” kata Dewi Uma. “Aku merasa sebagai gadis kembar dengannya. Tapi sebelum kami sempat bertegur sapa, hujan turun dan gadis itu meninggalkan makam ayah.”

Terdiam, memendam senyum, sebelum meninggalkan Dewi Uma, santri itu sempat berkata, “Kau mesti yakin dengan suara hatimu yang terdalam.”

Dewi Uma terdiam. Termenung. Ia tak pernah berani mengajukan pertanyaan pada ibunya: apakah ia memiliki saudara kembar? Dalam temaram senja di makam, ia seperti kehilangan kesadarannya, dan kini menjadi manusia yang tak memahami dirinya.

***

LangkahDewi Uma mengikuti Kiai Maksum mendaki bukit makam. Kiai Maksum berziarah ke makam Syekh Ali, leluhurnya. Ini hari keenam ayah Dewi Uma meninggal dunia. Dewi Uma masih terus merenungkan gadis yang berziarah pada hari kedua kematian ayah. Ia tak bisa mengatakan gadis itu orang lain. Ia juga tak bisa menyebutnya sebagai ilusi dirinya yang sedang berduka.  

Menjelang senja Dewi Uma menuruni makam. Berada di kaki bukit makam, ia berhenti melangkah, dan Kiai Maksum berhenti tepat di sisinya. Memperhatikannya. Dewi Uma seperti tak ingin bergerak dari tempatnya berdiri. Ia berpikir, tentu telah terjadi percakapan dalam hujan antara ibu setengah baya dengan anak gadisnya sebelum mereka naik taksi dan meninggalkan makam.

“Apa yang ingin kauketahui di tempat ini?” tanya Kiai Maksum.

Menunduk, malu, Dewi Uma menukas, “Kalau saja saya bisa mendengar  percakapan antara seorang ibu dan anak gadis yang ziarah ke makam ayah, tentu akan terbuka asal-usul saya.”

“Kau bisa mendengar percakapan mereka,” kata Kiai Maksum. “Pejamkan matamu, dan kosongkan pikiranmu. Ingat kembali peristiwa yang ingin kauketahui. Semoga kau  mendengar suara percakapan mereka.”

Dewi Uma memejamkan mata, mengosongkan pikiran. Ia memusatkan perhatiannya hanya pada percakapan antara ibu setengah baya dan anak gadisnya. Ia dengar percakapan mereka dalam suara bening.

“Kenapa ibu tak mau menemui Dewi Uma?” tanya gadis itu.

“Dia sudah dibawa ayahmu dengan istri pertamanya. Aku cuma istri kedua, dan terpaksa merelakan Dewi Uma dibawanya meninggalkan kita. Hari ini aku sudah cukup bahagia bisa melihat dia tumbuh dewasa dan cantik. Suatu saat semoga kita bisa berkumpul kembali.”

Membuka kelopak mata, Dewi Uma menahan diri dari guncangan perasaan. Ia tak pernah menduga, bila perempuan setengah baya itu adalah ibu kandungnya, dan gadis yang mirip dengannya itu saudara kembarnya.  

“Mari kita pulang,” ajak Kiai Maksum. “Semoga hatimu menjadi tenteram sekarang.”

Langit senja meredup ketika Dewi Uma meninggalkan makam. Ia  merasakan angin menggetarkan perasaannya serupa dahan-dahan kemboja. Tampak samar dan menghitam makam yang ditinggalkannya. Tapi wajah ibu kandung dan saudara kembarnya kian jelas dalam benaknya.****

Pandana Merdeka, Juli 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Selubung Sihir Mantra

Cerpen S. Prasetyo Utomo 

Tak banyak hal diketahui Kodrat mengenai Ki Broto dan pedepokannya. Masih terselubung  rahasia. Terselubung misteri. Di mata Kodrat, penampilan Ki Broto – yang senantiasa mengenakan lurik dan  blangkon – tampak setenang kabut Gunung Merapi. Kodrat merasa harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami lelaki setengah baya itu. Ia, yang baru sekali bersua Ki Broto, mengikis  rasa canggung berhadapan dengannya.

Kodrat menghirup udara yang jernih di sekitar pedepokan, teduh pepohonan, dengan burung-burung branjangan lincah berkicauan di ranting-ranting. Ia meneliti tarian kuda lumping di pedepokan Ki Broto yang tiap hari senantiasa berlatih, menciptakan gerakan-gerakan tari baru, yang berbeda dengan kelompok kuda lumping Lurah Sukro.

Ki Broto mendekati Kodrat. Duduk di sisinya.  Memandangi latihan tari kuda lumping dengan iringan gamelan, hentakan kendang, dan lecutan cambuk yang menghentak bumi bertubi-tubi. Ki Broto tahu, jauh  di hutan menjelang puncak Bukit Turgo, di pelataran  makam Syeh Jumadil Kubro, terdapat seorang lelaki muda yang menyimak irama gamelan itu dengan jernih.

Ki Broto, dengan wajah yang tenang, tanpa pergolakan, merupakan pawang tari kuda lumping pdepokannya. Ia memiliki sepasang mata yang jernih, yang bisa menembus pikiran orang.

“Kenapa kau tidak meneliti pawang tari kuda lumping di Bukit Turgo?”

Kodrat memandangi Ki Broto yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa mesti pergi ke sana?”

“Temuilah Seto, seseorang yang selalu menari kuda lumping di sana! Ia pawang sanggar tari kuda lumping yang dipimpin Lurah Sukro!”

Termangu-mangu, masih bertanya-tanya, Kodrat tergagap, ketika ia berpikir: apa bedanya dengan kuda lumping pedepokan ini? Ia masih memandangi  tarian kuda lumping, dengan suara gamelan dan kendang yang menghentak-hentak, serta lecutan cambuk mengepulkan debu. 

Permintaan Ki Broto menjadi sihir yang tak terbantah, yang tak bisa dielakkan Kodrat. Ia bangkit, meninggalkan pedepokan, melangkah ke arah Bukit Turgo yang belum pernah dicapainya. Ia melangkah, dan tak merasakan lelah. Ia juga tak merasakan perjalanan yang asing, menempuh jalan setapak seorang diri, mencapai desa terakhir, memasuki jalan terjal ke arah hutan. Ia menempuh jalan setapak di antara pepohonan yang dihuni monyet-monyet yang bertengger di dahan.

Tak sekalipun Kodrat bertanya pada seseorang untuk mencapai  Bukit Turgo. Langkah kakinya seperti sudah memahami setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Mendaki lereng Bukit Turgo, suara gamelan kuda lumping dari pedepokan Ki Broto terdengar bening. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Seto, lelaki yang mesti ditemuinya, seperti disarankan Ki Broto. Ia tak pernah menduga bila mencapai pelataran makam yang dikeramatkan, dengan taburan bunga melati dan dupa leleh kehitaman, beku di anglo-anglo kecil. Di nisan itu tertulis nama: Syeh Jumadil Kubro. Dalam hati Kodrat menduga: seorang lelaki kurus, muda, dengan rambut lurus memanjang yang menari kuda lumping itu tentu Seto, lelaki yang disebut-sebut Ki Broto.

Duduk di atas sebuah batu, Kodrat menanti Seto selesai menari kuda lumping. Dipandanginya Seto menari kuda lumping dengan iringan gamelan yang berkumandang dari pedepokan Ki Broto. Sekilas ia tahu bila Seto bisa menari kuda lumping dengan memikat, menjiwai gerakan-gerakan raksasa, penuh getaran rasa.

***

Gamelan dari pedepokan Ki Broto tak terdengar lagi. Seto berhenti menari. Duduk di sisi Kodrat. Dari arah jalan setapak Bukit Turgo terlihat berjalan Lurah Sukro yang berwajah masam. Ia memasuki pelataran makam Syeh Jumadil Kubro. Lurah Sukro menebar bunga mawar, kantil, dan kenanga ke atas makam. Menyalakan arang di atas anglo. Mengipasinya. Harum dupa leleh terbakar tersebar di sekitar makam Syeh Jumadil Kubro. 

Kedatangan Lurah Sukro ke makam Syeh Jumadil Kubro, semakin tak dipahami Kodrat. Kedatangannya serupa selembar daun jatuh, mencipta suasana hening. Tetapi sepasang matanya memancarkan permusuhan. Wajah Lurah Sukro yang masam, angkuh, dan dengki, sungguh menebar keresahan. Ia mendekati Seto. Memandanginya tajam.

“Kau mesti bisa menaklukkan Ki Broto, agar dia membubarkan kelompok tari kuda kumping!” kata Lurah Sukro. “Kau sudah bisa mengalahkan mantra-mantra Ki Broto?”

“Semoga saya bisa lebih unggul darinya,” tukas Seto.  Tapi Kodrat menyaksikan, tiap kali pedepokan Ki Broto mempergelarkan kuda lumping, Seto  turut menari. Mantra Ki Broto seperti mengendalikan tubuh Seto. Kodrat memilih bungkam.

Terdiam, Seto menunduk, mengerling ke arah Kodrat. Dengan kerlingan mata itu, Seto memberitahu pada Kodrat, betapa dahsyat kekuatan mantra Ki Broto: yang bisa menyusupi raga seseorang dalam jarak jauh. Kodrat mengerti kini, mengapa Ki Broto memintanya menemui Seto dengan melakukan perjalanan kaki yang melelahkan mendaki Bukit Turgo, mencapai makam Syeh Jumadil Kubro. Permainan kuda lumping di pedepokan Ki Broto tak sekadar latihan pergelaran. Tetapi tari kuda lumping itu telah tersusupi mantra untuk menjaga kehormatan Ki Broto. 

Lurah Sukro dengan wajah yang masam tampak berambisi menekan Seto. Lurah Sukro dengan tatapan sinis, seperti ingin menguasai Seto, dan menaklukkannya.

“Kau sanggup menaklukkan Ki Broto dengan mantra-mantramu? Kini aku menagih janji. Kau  sudah menyepi di makam ini!” Lurah Sukro menyingkap ambisinya.

“Saya menemukan kekuatan mantra di makam ini agar dapat menaklukkan Ki Broto. Tiba waktunya saya memiliki kekuatan mantra yang lebih dahsyat darinya.”

Mata Lurah Sukro menyipit, menajam, menampakkan kelicikannya. Kumisnya yang tipis memutih seperti menguncup. Ia menyalakan lagi rokoknya. Menghisap  rokok itu, menghembuskan asap dengan gusar, seperti melampiaskan kejengkelannya.

“Aku akan menantang Ki Broto untuk menyelenggarakan pergelaran kuda lumping bersama di tanah lapang,” kata Lurah Sukro. “Tebarkan mantra yang membuat penari kuda lumpingnya tak dapat disadarkan saat kesurupan. Biar ia takluk padamu!”

***

Duapergelaran tari kuda lumping bersamaan dipentaskan di tanah lapang desa. Tarian kuda lumping Lurah Sukro – Seto sebagai pawang – diperagakan para pemain dengan dandanan raksasa, diiringi rancak gamelan, irama kendang menghentak-hentak, sesekali diikuti lecutan cambuk. Tarian kuda lumping Ki Broto dengan anyaman kuda putih bersurai keemasan. Penarinya para ksatria gagah berkumis dengan pakaian perang serba berkilau gemerlapan.  

Gamelan  yang mengiringi tarian kuda lumping terus bertalu-talu. Kendang  yang mengatur irama tarian kuda lumping menghentak-hentak. Para  penari yang berdandan raksasa menyelaraskan gerak tubuh dengan irama gamelan  yang mulai liar. Beberapa penari kuda lumping Lurah Sukro kerasukan roh. Menari dengan gerakan-gerakan tubuh mengejang, mata terbrlalak, dan melepas anyaman kuda yang mereka tunggangi. Tiba giliran mengusir roh yang menyusupi beberapa penari, Seto kesurupan. Ia menari, terus menari, dan tak mau berhenti.

Lurah Sukro segera berlari menghampiri Ki Broto yang berdiri tenang di bawah pohon trembesi, memohon dengan rendah hati, “Sadarkan para penariku. Aku tak akan pernah lagi memusuhi pedepokanmu!”

Tenang, merapal mantra dengan mata terpejam, Ki Broto menyadarkan para penari kuda lumping yang kesurupan. Terakhir, ia mengusir roh yang menyusupi tubuh Seto.

Kini Kodrat memahami kekuatan mantra Ki Broto dalam selubung senyap kabut lereng gunung yang menaungi pedepokan.***           

                                                                              Pandana Merdeka, Maret 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Sihir Kucing

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Siapapun tak tahu kalau Ayah sudah meninggal, kecuali Muezza, kucing candramawa kesayangannya. Tak bergerak, Muezza—kucing jantan berbulu hitam dan putih, pusar di kepala—menunggui di ambang pintu kamar, dari semenjak subuh. Dewanti memasuki kamar Ayah, dan mendapati tubuh itu terbujur kaku, masih bersarung, berpeci, setelah salat subuh. Muezza terdiam. Sepasang matanya tajam berkilau. Memandangi tubuh Ayah.

Ayah yang terbaring sakit semenjak semalam, memang tidak salat subuh ke masjid. Muezza memasuki rumah ketika pintu depan dibuka Dewanti. Ia menerobos ruang tamu, dan berhenti di ambang pintu  kamar Ayah. Tak ngiau. Biasanya sepagi ini Ayah pulang dari masjid, Muezza berlompatan menyambutnya. Ayah memberi makan Muezza di teras rumah.

Dewanti lama memandangi tubuh Ayah yang terbujur kaku. Bersedekap, beralas sajadah di lantai. Dewanti mendekat. Merabai detak nadi tangan Ayah. Tak terasa aliran darahnya. Dewanti keluar kamar, mencari Ibu di dapur, dan mengajaknya ke kamar. Ibu tak pernah menduga, selepas salat subuh, Ayah  meninggal. Ayah hanya sakit biasa, demam semalaman. Ketika Ibu meninggalkannya tadi, Ayah masih terbaring dengan napas yang tenang. Tidak menandakan kesakitan. Ayah masih mengambil air wudu. Salat subuh. Ibu menyeduh kopi kental dan memasak. Membiarkan Muezza mendekam di ambang pintu kamar. Ketika melihat Ayah meninggal, Ibu tak bisa memekik, tak bisa bicara, tak bisa menangis. Ibu terdiam. Dadanya sesak. Berdiri di sisi jasad suaminya.  

***

Meloncat-loncatkecil, Muezza mengikuti pemakaman Ayah, berlari-lari di belakang iring-iringan jenazah mendaki bukit kuburan. Dewanti tak memedulikan Muezza yang mendekam tak jauh dari liang lahat. Ia baru sadar akan kehadiran Muezza ketika berjongkok di hadapan gundukan makam, menaburkan kembang dan berdoa. Para pelayat sudah meninggalkan makam, dan Muezza mendekati Dewanti.  

Ketika Dewanti meninggalkan kubur Ayah, dengan langkah pelan-pelan, Muezza masih mendekam di sisi makam. Seorang gadis yang tak dikenal Dewanti masih berdoa di sisi makam Ayah. Dewanti sempat mengundang Muezza, mengajak pulang. Tapi kucing itu tetap mendekam. Tak beranjak. Begitu juga gadis cantik yang tak dikenal Dewanti, masih bertahan di sisi gundukan makam Ayah. Wajahnya berduka.

Dewanti termangu-mangu. Ia ingin mengajak pulang Muezza. Kucing candramawa itu dipelihara Ayah sejak kecil. Ditemukan  di pelataran, terpisah dari induknya, dirawat Ayah. Tiap subuh dini hari ia berlari melompat-lompat menjemput Ayah bila pulang dari masjid. Tiap kali Ayah pulang kantor, ia meloncat-loncat kegirangan menjemput. Ayah memberi makan dan minum Muezza sebelum membaca koran. Kucing candramawa itu selalu mengikuti ke mana pun Ayah berada. Bila malam ia berada di luar rumah, dan menjelang pagi mendekam di sudut teras, ngiau nyaring saat mendengar azan subuh, dan menanti Ayah pulang dari masjid. Ia lahap  menghabiskan makan dan minum. Kadang ia menjelajahi sudut-sudut rumah, terutama gudang, dengan sepasang mata tajam menjatuhkan tikus saat merambati dinding, dan menerkamnya, untuk dimakan di bawah pohon srikaya di pelataran. Tak pernah ia mengoyak-ngoyak tikus tangkapannya di dalam rumah. Sesekali ia mencari Ayah di ambang pintu kamar, dan kadang mereka bercanda. 

***

Kucing candramawa itu tak pulang. Dewanti mendaki jalan setapak ke makam Ayah, ingin menemukan Muezza. Ia memang bertemu Muezza yang masih mendekam di sisi makam. Tidak sendirian. Dewanti bertemu pula gadis tak dikenal yang menampakkan wajah murung, dan sepasang mata kehilangan. Gadis itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Dewanti. Lebih berduka, wajahnya menampakkan rasa getir kehilangan.

“Saya belum lama bekerja sekantor dengan ayahmu. Saya dianggap sebagai anak, dan merasakan kasih sayang Ayah. Kini betapa saya merasa sangat kehilangan. Tak pernah saya duga, Ayah akan meninggal secepat ini,” kata gadis itu, yang memperkenalkan diri bernama Dyah. Tempat tinggalnya tak jauh dari kaki bukit makam.  

Dewanti menyembunyikan perasaan tak senang pada Dyah. Gadis itu  menyebut “ayah”, sama seperti Dewanti memanggil lelaki yang telah mengalirkan darah pada tubuhnya.

Tertegun, menyingkirkan kecurigaan, Dewanti tak pernah menduga bila Ayah pernah dekat dengan Dyah, bahkan menjalin pertalian batin sebagaimana ayah-anak gadis. Dewanti diam-diam menyembunyikan rasa cemburu pada Dyah, gadis lembut yang digenangi rasa duka begitu keruh.

“Saya mengenal sosok Ayah, ketenangan dan kasih sayangnya. Sosok yang tak pernah kukenal dalam hidup adalah ayah kandung,” kata Dyah, yang terus saja bercerita tentang kehidupannya yang tak mengenal ayah sejak lahir. Ayahnya meninggal, ketika ia masih dalam kandungan ibu. Ia merasa bahagia di kantor, bertemu dengan lelaki seteguh Ayah, yang memberikan perlindungan padanya.

“Saya tak menduga, bila Ayah secepat ini meninggalkan kita,” kata Dyah, dalam kegundahan.     

Dyah memberi makan Muezza yang tak pernah mau meninggalkan makam. Muezza seperti menunggu Ayah bakal bangkit dari kubur, dan mereka kembali bercengkerama bersama. Dewanti sampai pada pikiran: mungkin Muezza ingin mati, agar ia bisa bertemu Ayah. Anehnya, Muezza baru mau makan setelah Dyah memberinya ikan yang diletakkan di atas daun kemboja. Mula-mula ia enggan mengendus-endus ikan. Tapi kemudian ia lahap makan. Muezza jinak pada Dyah—dan melupakan Dewanti.

***

Harikelima kematian Ayah. Kembali Dewanti mendaki bukit makam menjelang senja, ingin mengajak pulang Muezza. Ia ingin kucing candramawa itu menerkam tikus-tikus yang mulai bergentayangan di ruang-ruang tersembunyi, merayap ke meja makan mencuri ayam goreng tanpa rasa takut, dan bersarang di gudang. Tapi ia tak menemukan Muezza di sekitar makam. Alangkah senyap gundukan makam Ayah, dengan taburan bunga yang mengering dan terserak-serak. Dewanti memanggil-manggil Muezza. Senyap. Ia tak menemukan binatang itu. Ia mencari Muezza hingga ke sudut-sudut kuburan yang rimbun semak belukar. Tak ditemukan. Mati? Bila kucing candramawa itu mati, tentu tercium bau bangkainya. Dewanti curiga bila Muezza dibawa pulang Dyah dan dipelihara. Mungkin gadis itu ingin mengenang Ayah dengan cara memelihara Muezza.

Gerimis senja mulai bergemeretap di atas daun-daun kemboja. Dewanti masih mencari-cari Muezza. Ia lacak ke sudut-sudut makam. Gerimis kian deras. Ia tak berpayung, membiarkan dirinya diguyur hujan yang kian menajam, mencari kucing candramawa. Beberapa kali ia tergelincir, terpeleset di jalan setapak licin, terbanting. Tidak segera bangkit. Terdiam. Terpikir padanya nasib Muezza dan tikus-tikus mengganas di rumah. Ia tak ingin Muezza mati terlunta-lunta. Terpikir juga ia pada Dyah, gadis yang tanpa sepengetahuannya sudah merebut perhatian Ayah. Sama sekali Ayah tak pernah bercerita tentang Dyah, meski hanya sepenggal kisah yang samar. Gadis itu menjadi rahasia kehidupan Ayah yang merapuhkan perasaan Dewanti.

Tubuh Dewanti kuyup ketika berketetapan hati untuk membawa pulang Muezza. Ia mengikuti nalurinya mencari rumah Dyah, dan menemukannya. Dyah tinggal di sebuah rumah tua bersama ibunya yang renta. Dilihatnya Muezza berada di sudut ruang tamu.

“Saya datang untuk mengambil Muezza,” kata Dewanti, tenang, dan menuntut.

“Kucing itu mengikutiku pulang. Kalau ia memang mau mengikuti perintahmu, bawalah!”

Seperti terkena sihir, Muezza tak lagi mengenali Dewanti. Bulu-bulunya tegak, sepasang matanya garang, ketika Dewanti mendekat ingin membawanya pulang. Tangan Dewanti terjulur ingin merengkuh dan menggendong Muezza. Ia mencakar tangan Dewanti hingga berdarah.  

***

Malamitu Dewanti tidur gelisah, dengan tubuh menggigil, meski sudah berselimut tebal. Ia terus menahan diri dengan tubuh demam, dalam tidur yang sesekali terbangun. Ia tertidur lagi dalam kegelisahan mimpi-mimpi seram. Ia bermimpi bertemu Ayah dan Muezza. Kucing candramawa itu meloncat dalam pelukan Ayah.  

Tubuh Dewanti tenang. Bernapas teratur. Tertidur. Lelap. Ia tak lagi menggigil demam.  Azan subuh membangunkannya. Terdengar ngiau kucing di teras. Kuku  kucing mencakar-cakar pintu ruang tamu. Dewanti buru-buru membuka pintu. Dilihatnya Muezza di hadapannya. Dewanti meraih Muezza. Memeluknya. Sepasang mata kucing candramawa itu cemerlang berkilau. Bergerak memandangi sekitarnya tanpa berkedip. Ia melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangan manusia. Sesaat kemudian barulah sepasang matanya meredup. Ia terbebas dari pengaruh sihir.***

Pandana Merdeka, Desember 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.