Cahaya Daffa Fuadzen. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025. Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.
Sebuah lemari tua berdiri kokoh di hadapanku. Tanganku mengambil salah satu buku dari deretan buku yang memenuhi lemari itu. Buku itu terlihat baru dan tidak berdebu. Sampulnya tebal berwarna merah terang.
Kubawa buku itu ke sofa yang ada di pojok ruangan. Lembar demi lembar kubuka, gambar anak-anak seperti di sebuah negeri dongeng menghiasi tiap halaman, anehnya tak ada tulisan satu pun dalam tiap halamannya. Tetapi gambar itu sangat menarik perhatianku.
Sejurus kemudian, pundakku ditepuk seseorang. Seorang anak perempuan seusiaku sekitar 10 tahun, berwajah manis dengan rambut dikepang dua. Ia tersenyum menatapku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Shelly.
Tak lama kami berkenalan, Shelly mengajakku ke luar perpustakaan tua ini. Seketika sekelilingku tampak berbeda. Sebuah tempar yang begitu mirip dengan yang kulihat di sebuah buku cerita tadi.
Matahari terasa hangat menerpa wajahku, udara begitu segar, bunga beraneka warna bermekaran, dan pohon-pohon dipenuhi buah buahan segar dan ranum.
Di halaman penuh anak-anak tertawa riang berkejaran, bermain lompat tali, ayunan, trampolin, dan seluncuran. Ada juga yang sedang melukis, bernyanyi dan menari. Beberapa anak bermain sepatu roda sambil berpegangan tangan satu dengan lainnya, bermain bola, skate board, sepeda, dan banyak lagi. Tak satu pun orang dewasa terlihat. Tempat tersebut seperti hanya diperuntukkan bagi anak-anak.
“Kayla-Kayla.” Shelly mengguncang pelan tubuhku yang masih terpaku penuh ketakjuban.
“Di sini anak-anak boleh bermain dan makan dengan bebas, namun kita tetap belajar dan sekolah.”
“Wow, enak sekali,” pekikku riang. “Tapi apakah kita sekolah dengan tugas PR yang banyak?” tanyaku dengan wajah sedikit khawatir. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam benakku ketika mendengar kata belajar.
Shelly tertawa, “Yang pasti di sini tidak ada tugas dan PR yang membuatmu tidak bisa menikmati dunia anak-anak. Bahkan kamu bebas mengekspresikan hobi dan bakatmu, tanpa ada yang menilaimu jelek. Setiap usaha yang baik diapresiasi oleh kawan-kawanmu di sini. Mereka juga akan saling membantu.”
“Nah di sana, di ujung jalan ada anak-anak yang antri mengambil es krim. Dan ada beberapa tempat lainnya, mereka bisa mengambil makanan, minuman, atau kebutuhan anak-anak. Namun semuanya itu ada aturan,” lanjut Shelly.
“Oh, hanya itu saja?”
“Tentu tidak, anak-anak harus berkata dan bersikap jujur!” jawab Shelly dengan nada tegas.
“Kalau kita berbohong, apa yang akan terjadi?”
“Semua anak akan dipulangkan ke rumahnya,” jawabnya sambil membelalakkan mata dan berkata pelan namun cukup terdengar tegas di telingaku. Aku hanya tersenyum tipis dan kecut. Terdengar seperti sebuah ancaman serius.
Setelah itu aku menebar pandangan, seketika mataku tertuju pada sebuah stoples penuh permen yang terletak di meja-meja taman. Permen-permen itu nampak indah bermacam-macam dengan warna dan bentuk menarik. Aku melangkah mendekati stoples permen di meja itu. Tiba-tiba Shelly menarik tanganku.
“Jangan kamu memakan permen itu, Kayla!” sentak Shelly.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kalau ada yang memakan satu permen saja dari stoples itu, maka dunia ini akan lenyap dan semua anak yang berada di sini akan dipulangkan ke rumah mereka,” Shelly melanjutkan.
“Kamu harus cobain es krim di sini saja, beda banget sama di dunia kita,” ujar Shelly mencairkan suasana.
Tetapi aku masih memikirkan permen dan juga ancamannya yang cukup serius itu.
***
Kujilat es krim rasa stroberi yang ada di tanganku. Rasanya sangat berbeda. Lezat sekali, belum pernah kurasakan sebelumnya.
Shelly berkata, “Es krim ini dari buah stroberi asli. Di sini anak-anak tidak ada yang sakit, jadi kamu bebas makan apa saja. Oh iya, aku main dulu ya di taman. Mau ikut?”
Kepalaku menggeleng. Aku sedang tidak ingin bermain.
“Oke tidak apa-apa. Dadah,” kata Shelly sambil melambaikan tangannya.
Mataku kembali tertuju pada stoples permen. Aku tergoda oleh kilauan permen-permen yang di dalam stoples itu. Ah, kalau kumakan satu permen saja mungkin tak ada satu pun yang menyadarinya. Akan tetapi semua anak akan dikembalikan ke rumahnya. Padahal dunia ini adalah dunia impianku dan anak-anak lainnya.
Sekeras mungkin kutepiskan keinginan untuk memakan permen itu. Tetapi pikiranku belum beralih dari stoples permen itu. Ingin aku mencicipinya. Perlahan-lahan kudekati stoples itu. Aku melihat sekeliling rasanya tidak ada yang melihatku. Tanganku menggapainya. Segera kubuka tutupnya dan cepat-cepat kuambil satu, kumasukan ke mulut. Ternyata rasanya lezat. Seperti belum merasa puas, aku ingin mengambil permen lain yang ukurannya lebih besar. Namun suara seseorang menghentikanku.
“Hei, siapa kamu? Beraninya memakan permen itu!” teriak seorang anak.
Karena panik, stoples itu terjatuh dari tanganku. Seketika langit gelap. Wajahku berubah pucat, tubuhku gemetar, aku lari menjauhi meja taman itu, bersembunyi di balik pohon. Kulihat sekarang, semua anak menatap langit gelap dengan muka cemas.
Sejurus kemudian Shelly menghampiriku.
“Kamu yang mengambil permen itu?” tanya Shelly lembut.
“Aku tidak mengambil permen itu,” kataku dengan nada parau.
Burung gagak berterbangan di atas kepalaku. Suaranya beradu dengan kegalauan di dadaku.
“Kamu tidak jujur, dunia ini sebentar lagi akan lenyap dan semua kembali ke dunia asal!” Shelly berteriak.
“Maafkan atas kebodohanku, aku berjanji akan selalu jujur dan dapat mengendalikan diri.” kataku dalam rasa sesal.
“Semua sudah terlambat,” kata salah satu anak dengan nada sedih.
Seketika muncul lubang putih. Lubang itu adalah jalan menuju dunia asal kami. Semua anak langsung melompat ke lubang putih itu. Aku pun menyusul. Lubang itu seperti spiral berputar dengan cahaya yang menyilaukan mata.
“Hei Nak, bangunlah” kata seorang ibu penjaga perpustakaan sambil tersenyum ramah.
“Perpustakaan ini mau tutup, nampaknya kamu tidur lelap sekali,” lanjutnya.
Kepalaku sedikit pusing dan mataku terasa berat sambil mencoba memperhatikan sekelilingku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Mungkin tadi hanya mimpi. Nyatanya aku masih duduk di sofa di dalam perpustakaan tua ini.
Pikiranku mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Tetapi rasa menyesal terus menghantuiku. Aku telah menghancurkan dunia impian anak-anak. Andai tadi aku bisa menahan diri tidak mencuri permen itu. Aku ingin kembali ke dunia impian anak-anak yang penuh kegembiraan dan kasih sayang dimana kejujuran dijunjung tinggi. Perlahan kututup buku tanpa tulisan ini. Namun setelah beberapa langkah aku hendak keluar dari perpustakaan ini, terdengar suara dari ibu penjaga perpustakaan.
“Hei, Nak. Ini untukmu!”
Aku mendekati ibu penjaga yang menyodorkan stoples permen untukku. Mataku terbelalak. Stoples permen yang sama dalam mimpiku barusan.
“Te .. te … rimakasih, Bu,” jawabku gemetar sambil menerima stoples itu.
Ibu itu tesrsenyum lalu menggeleng. “Jangan panggil aku Ibu, panggil saja Shelly.”
Kali ini aku tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutanku. Mulutku terkunci rapat.
“Berbuat jujur itu sulit, tetapi akan ada hadiah besar di dalamnya,” ucap Shelly setelah sesaat kemudian pergi meninggalkan aku yang masih berdiri tegak dan membeku. []
____________________
Aliya. Siswa kelas 5 SD Jakarta Islamic School, berusia 10 tahun. Suka menulis, membaca, dan membuat prakarya.
Pada mulanya, ia getol menghasilkan cerita dan berita. Di kancah sastra, ia tercatat memberi novel pada masa 1920-an. Namanya tak setenar Abdoel Moeis, Noer Soetan Iskandar, atau Soetan Takdir Alisjahbana. Ia memang bergairah dalam sastra, mewujudkan cerita-cerita. Pada situasi politik dan sosial-kultural masa 1920-an, tokoh yang bernama Adinegoro makin meyakini pesona dan kekuatan kata. Maka, ia berada di jalan kata, melampaui pikat sastra dan pers.
Silam masih bisa teringat melalui tulisan-tulisan, yang dihasilkan pengarang-pengarang turut membentuk dan memajukan bahasa Indonesia, sejak awal abad XX. Di situ, ada Adinegoro yang memerlukan nama samaran untuk turut menggerakkan tulisan pada masa kolonial. Ia percaya nama itu memberi “pengenalan” dan “keberuntungan:, yang nantinya tercatat dalam lembaran sejarah Indonesia.
Siapa masih membaca tulisan-tulisan Adinegoro, setelah abad XX berlalu tergantikan abad yang “memalaskan” orang berhadapan dengan tulisan-tulisan tercetak? Ia bukan pengarang pujaan jutaan orang. Namun, buku-buku yang ditulisnya menjadi bukti keberanian orang Indonesia melakukan perlawatan jauh dan panjang ke pelbagai negeri.
Yang pernah di hadapan rak-rak memiliki buku-buku lama, Adinegoro adalah penulis yang menghasilkan novel, ensiklopedia, kisah perjalanan, kamus, dan lain-lain. Ia tidak kesulitan menulis tentang politik, geografi, atau kebudayaan. Pada masa kolonial sampai masa revolusi, ia membuktikan ketekunan yang elok.
Tulisan mengesankan yang dihasilkannya adalah Melawat ke Barat. Buku itu memikat para pembaca sejak masa kolonial. Yang membaca ikut merasakan perjalanan yang mendebarkan, menyenangkan, membingungkan, dan mengharukan. Ia naik kapal, turun ke pelbagai negeri. Sosok yang merasakan perjalanan darat di kota-kota yang sering memukau. Adinegoro menceritakannya kepada para pembaca yang ada di Indonesia.
Buku terbitan Balai Pustaka masa 1930-an, beberapa kali cetak ulang. Pada suatu hari, buku itu berada di pasar buku Gladag (Solo). Buku berada di tumpukan yang tak keruan. Di bagian bawah, buku ditemukan saat tangan makin kotor oleh debu-debu yang menempel. Buku yang hampir berusia seratus tahun. Melawat ke Barat menjadi bacaan memikat sejak 1930.
Penemuan yang menggirangkan. Kondisi buku masih bungkus. Halaman-halaman awal hilang. Artinya, data buku tidak diperoleh. Buku berhasil dibeli dengan harga murah, sangat jauh dari harga dipasang di pasar.
Setelah sampul, tangan yang membukanya langsung menemukan halaman 4, yang dijuduli “Sampai di Nederland”. Adinegoro yang naik kapal sudah sampai ke Belanda. Perjalanan dilakukan pada masa 1920-an. Kita membayangkan orang Indonesia yang berkelana di Eropa sambil mengikuti perkembangan-perkembangan politik di Tanah Air. Ia menjadi saksi sejarah tapi berada jauh dari Indonesia.
Yang dirasakan Adinegoro selama mengunjungi kota-kota di Belanda: “Barang siapa jang datang ke Eropah dan tinggal disini beberapa lamanja, tjepat ia terlepas dari ketimurannja. Adat istiadat dan kebiasaan jang lazim kita pakai tiada lagi akan terbajang keluar, sesudah beberapa bulan disini. Perasaan lain datanglah kepada kita. Perasaan itu disebabkan oleh karena peraturan kita disini berlainan sekali dari dinegeri kita sendiri. Terutama sekali perasaan serba rendah dan serba pitjik sudah hilang semendjak dari Marseile, jaitu semendjak kita mendjedjak tanah benua ini. Pendek kata, pengertian kita tentang keduniaan lahir dan batin sudah bertambah luas dan pribadi bertambah kuat.”
Penjelasan itu mengingatkan kita dengan tokoh Hidjo saat belajar dan tinggal di Belanda. Pemuda asal Jawa itu mengalami beragam pengalaman saat berada di negeri penjajah. Di novel berjudul Student Hidjo gubahan Marco Kartodikromo, kita mengetahui kaum muda Jawa di Eropa mendapat guncangan dan dilema. Pengalaman seru mungkin milik Sosrokartono dan Soewardi Soerjaningrat.
Di Belanda dan pelbagai negeri, Adinegoro tak boleh lama-lama. Ia seperti dalam tergesa. Yang dinantikan di tanah jajahan adalah tulisan-tulisannya. Melawat mengandung arti pemenuhan tugas sebagai pemberi berita dan pencerita.
Pengamatan sejenak oleh Adinegoro selama di Utrecht: “Didjalan tiada pula banjak kelihatan nona-nona jang berpakaian bagus-bagus sebagai tampak di Parijs atau Den Haag. Jang lalu lintas didepan kita hanja perempuan-perempuan biasa sadja, jang pergi ketoko-toko akan membeli-beli. Jang banjak kelihatan disini ialah studenten karena dalam kota Utrecht ini adalah lebih kurang tiga ribu peladjar jang menuntut ilmu diuniversiteit. Mereka itu memodekan (mengadakan mode atau tjara) memakai topi jang lemah tepinja serta petjak diatasnja. Dasinja seboleh-bolehnja jang berwarna merah tua atau kuning langsat karena dalam masa ini warna jang seperti warna kulit anak Indonesia digemari sekali. Dan achirnja dimodekan mereka pula memakai tongkat dari rotan, besarnja sebesar ampu kaki.” Yang dilihat itu masa 1920-an, yang mungkin lekas berubah pada masa 1930-an dan 1940-an. Kita kaget mengetahui Indonesia dijadikan “sumber” bagi orang-orang sedang memodekan di Utrecht. Di situ, ada imajinasi dan politisasi warna.
Keterangan penting bertema pers pun diberikan oleh Adinegoro. Ia mendapatkan data-data yang mencengangkan. “Pers itu boleh didjadikan mata air uang,” ungkap Adinegoro. Kalimat yang cocok untuk industri pers di Eropa dan Amerika Serikat. Yang disampaikan Adinegoro: “Banjaknja surat kabar harian jang terbit dinegeri Belanda dalam bahasa Belanda adalah kira-kira serratus. Boleh dikatakan bahwa tiap-tiap koran itu rata-rata ada langganannja sepuluh ribu. Di Amsterdam sadja jang berpenduduk lebih kurang tiga perempat miliun, terbit dua belas surat kabar harian.” Kita menduga selama di sana Adinegoro sekalian belajar tentang (industri) pers, yang bisa dicontoh bila kembali ke Indonesia.
Adinegoro melanjutkan lawatannya ke Jerman. Ingat, ia tidak sekadar melakukan perjalanan. Yang sebenarnya terjadi adalah perjalanan kata-kata. Adinegoro selalu menuliskan babak-babak selama di Eropa. Yang disampaikan mirip nasihat: “Barang siapa jang pergi ke Djerman dengan maksud hendak mempeladjari kultuurnja, haruslah pandai berbahasa Djerman, sebagai kalau kita hendak pergi ke negeri Belanda. Kalau hanja mengetahui sapatah dua sadja, takkan berhasillah apa jang dimaksud, berusaha menjelami kebudajaan Djerman jang sedalam-dalamnja.” Adinegoro ke Jerman, sebelum ada lakon terbesar oleh Hitler mengguncang dunia.
Ia sampai di Berlin. Kota besar yang membawa sejarah dan mengalami petaka-petaka pada abad XX. Bagaimana orang Indonesia menilai Berlin? Adinegoro menulis: “Tetapi di Berlin boleh dikatakan tak ada anak Indonesia; djika ada anak Indonesia jang datang kesana, mereka disangka anak Korea atau Japan. Didalam kota ini ada sekolah untuk beladjar politik dan djournalistiek, tjukup dengan profesor-profesornja. Memang djournalistiek dan politik itu mesti sedjalan, supaja djangan si penulis itu djadi kuli tinta sadja, melainkan supaja dapat pula ia memandang keadaan pergaulan hidup dan pemerintah, serta segala golongan penghidupan dinegerinja dan diluar negerinja dengan pemandangan jang lebar.” Jerman memili kekuatan dalam sastra. Selama di sana, Adinegoro pun membuktikan kekuatan Jerman dalam pers.
Buku berjudul Melawat ke Barat sekadar bacaan meski memuat beberapa foto. Kini, kita yang membaca dan membayangkan akan kelelahan saat dunia bisa mudah dilihat melalui gawai. Perlawatan tak lagi harus membawa raga ke tempat-tempat jauh. Konon, perlawatan masa sekarang bisa menemukan banyak hal dengan ongkos yang murah.
Dulu, yang dilakukan Adinegoro adalah melawat yang bergelimang kata ketimbang foto. Yang ditulis adalah pengalaman dan kesaksian ikut memberi pengetahuan kepada ribuan pembaca di Indonesia, dari masa ke masa. Namun, buku itu perlahan susah terbaca oleh kaum yang bergawai. Mereka tidak lagi memerlukan halaman-halaman kertas yang sesak ribuan kalimat. Mereka tinggal menghidupkan gawai untuk melawat ke pelbagai negara.
Pada suatu malam, ketika langit jernih tak bernoda, para malaikat turun ke bumi. Mereka mendarat di sebuah asrama di tengah kota, tempat bermukim para penghafal kitab suci. Dengan catatan amal perbuatan di tangan kiri, mereka membacakan dakwaan:
“Kalian telah melakukan dosa-dosa yang amat besar. Hingga membuat Tuhan, atas singgasananya, duduk diam. Ia memang terlihat bergeming. Tapi kami tahu. Kami para pelayan-Nya sangat tahu apa yang sedang menyusahkan-Nya.
“Ya, Tuhan murka. Kalian membuat para penghafal lalai dalam ibadahnya. Dan tipu daya kalian menjadikan mereka semakin jauh dari wahyu Tuhan. Oleh karena itu, tak bisa ditunda-tunda, dosa kalian harus dibersihkan. Saat ini, di sini.”
Saking kagetnya, para terdakwa diam sejuta bahasa. Meski mereka menguasai satu bahasa, yakni bahasa ke sejuta satu, tak satu pun kata yang mampu terucap sebagai pembelaan. Mereka tahu bahwa siksa neraka datang lebih awal.
“Sialan, kita kan masih di dunia,” keluh salah satu pendosa. “Aku ingat Tuhan pernah berkata kalau Ia hanya akan mendengarkan kesaksian dari seluruh anggota badan di hari yang telah ditentukan. Dan hari itu pasti bukan hari ini.”
Selagi para malaikat menyiapkan tungku pembakaran beralaskan seng yang bergelombang, para pendosa tetap bisu. Tak ada yang berani menyela kesibukan para malaikat. Terutama yang paling besar dengan mata nyalang di sana itu. Tatapannya adalah tiket masuk neraka jalur tol.
Api sudah membara. Mereka dibakar satu per satu. Sudah itu dilempar ke atas seng yang bergelombang. Malaikat melakukannya dengan cepat, sebab tak sudi berlama-lama memegang makhluk berlumuran dosa.
Beberapa tingkat kemalangannya melebihi yang lain. Terutama yang dibakar belakangan. Sebelum dibakar, para malaikat merobek-robek tubuh mereka, lalu membantingnya ke tanah. Ini tidak tercantum dalam susunan acara yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi, siapa suruh membuat para malaikat marah. Dan kemarahan malaikat adalah kemarahan Tuhan juga.
Ketika api yang kelaparan makin lahap menggigit dan mengoyak daging-daging yang kecokelatan, para pendosa masih tak bersuara. Padahal sakit yang mereka rasakan tak ada duanya. Tak ada bandingannya. Inilah sakit yang paling menyakitkan bagi mereka.
Selama ini, yang mereka tahu hanyalah menjalankan perintah Tuhan sebagaimana dititahkan pada awal penciptaan. Hanya satu itu. Mereka telah bersusah payah melakukannya selama ini. Dan ketika momen itu datang, momen ketika tugas itu mulai bisa mereka cicil, datanglah para pesuruh Tuhan menjatuhkan hukuman.
Padahal para manusia akhirnya sudi memegang mereka. Membuka halaman pertama dan membaca sampai halaman terakhir, di sela-sela rutinitas menghafal kitab suci, mereka, para pendosa, tak sempat bersyukur dan melafalkan puji-pujian kepada Tuhan.
Tak ada gunanya mengajukan gugatan. Sedang bertanya saja tidak sanggup. Mau bicara saja tidak mampu.
Tak ada yang sempat meneteskan air mata. Mereka terbakar di hadapan para penghafal ayat-ayat Tuhan.
***
Kisah yang memilukan. Kengerian yang menjadi nyata. Amat sangat nyata bagi mereka, para saksi pembakaran, yang menceritakannya kepadaku, pagi itu, di perpustakaan sekolah.
ANGIN pagi turun dari langit seperti ayat yang jatuh perlahan ke halaman keraton. Ia berdesir melewati tiang-tiang kuno, menyusup ke sela pintu Regol Brojonolo, dan akhirnya berbaring di atas batu-batu lantai yang dingin. Batu-batu itu, yang telah memikul langkah ratusan tahun manusia, menggumamkan sesuatu yang lirih—gumam yang hanya bisa didengar oleh hati-hati yang tak terhijab oleh ambisi.
Di bawah cahaya yang lembut itu berdirilah Raden Mas Jagaswara, seorang abdi dalem muda dengan wajah tenang yang penuh kesunyian—kesunyian yang tak disadarinya sebagai hadiah dari langit. Setiap langkahnya selalu terasa seperti zikir pendek yang tidak pernah selesai. Ia bekerja, ia merapikan tombak, ia menunduk hormat pada yang lebih tua, dan semuanya selalu dilakukan dengan hati yang seperti sumur jernih: tidak ramai, tapi dalam.
Di sisi lain keraton, di barat yang lebih ramai, terdapat Raden Mas Suryengpati—pemuda dengan mata yang menyala dan dada penuh bara. Ia lebih mudah gelisah, lebih mudah bicara, dan lebih mudah marah. Ia mencari kebenaran seperti orang mencari pintu yang terus berubah tempat. Kadang ia menemukannya, kadang ia tersesat di lorong-lorong pikirannya sendiri.
Mereka berdua seperti dua ayat yang ditulis dalam satu lembar kitab kehidupan, namun dibacakan oleh dua suara yang berbeda. Jagaswara seperti ayat yang dibaca dalam bisikan malam, sedang Suryengpati seperti ayat yang dilantunkan lantang dalam majelis yang penuh semangat. Keduanya menuju Tuhan, tetapi lewat jalan yang tak sama.
***
Pagi itu, ketika kabar penobatan tiba-tiba menyeruak seperti gelegar petir di atas langit cerah, kedua pemuda itu seperti dilempar ke dalam pusaran yang bukan pilihan mereka. Keraton mendadak ribut. Pintu-pintu bergetar, langkah-langkah manusia berubah menjadi dentang, dan udara menjadi berat oleh kata-kata yang dibisikkan dengan nada seperti angin panas dari bukit batu.
Jagaswara menunduk mendengar kabar itu. Ia merasakan ada getaran aneh, seperti tanah yang bernafas terlalu cepat. Ia tidak tahu apakah yang terasa di dadanya itu kecemasan atau tanda dari Yang Maha Halus. Sementara Suryengpati, yang mendengar kabar serupa di bangsal barat, mengepalkan tangan seperti ingin menangkap angin yang lari dari genggamannya.
“Ini bukan jalan yang benar,” gumamnya, separuh kepada dirinya sendiri, separuh kepada keraton yang seakan mendengarkan dari balik dinding.
Keraton, tempat segala kisah putih dan hitam lahir, tiba-tiba tampak seperti tubuh tua yang dipaksa berdiri oleh dua tangan yang saling menarik. Jagaswara merasakan kesakitan keraton itu seperti kesakitan dirinya sendiri. Suryengpati merasakan luka itu seperti luka yang ditato di dadanya. Tetapi keduanya tidak tahu bagaimana mengobatinya.
Ketika pintu Sasana Handrawina didobrak oleh kelompok penolak penobatan sepihak, dunia keraton seperti pecah menjadi dua: suara keras dan doa lirih, teriakan dan zikir yang saling mendesak, pisau kata-kata dan kelembutan yang tersingkir. Jagaswara berdiri di tengah ruangan, dan dalam kekacauan itu ia melihat wajah Suryengpati dari celah kerumunan. Keduanya saling menatap—tatapan yang dulu ramah berisi tawa dan harapan—kini menjadi tatapan dua manusia yang sedang mencari jalan pulang dalam badai.
Dalam tatapan itu ada tanda yang tidak sempat mereka baca: bahwa yang sedang mereka hadapi bukan hanya perebutan takhta, melainkan perebutan makna, perebutan cahaya, perebutan siapa di antara manusia yang lebih dulu mampu mendengar suara sunyi Tuhan.
Ketika keraton kembali tenang pada malamnya, Jagaswara duduk sendirian di bawah pohon sawo kecik. Pohon itu telah tumbuh lebih lama dari usia siapa pun di keraton. Daunnya jatuh satu demi satu, seperti kalimat yang ditulis oleh tangan ghaib.
“Dalam setiap perebutan, siapa yang sebenarnya ingin menang?” tanya Jagaswara dalam hati.
Angin menjawab tanpa suara.
Kadang jawabannya adalah: ego.
Kadang: takut.
Kadang: ingin dihormati.
Kadang: semua itu bercampur menjadi satu kabut yang menutupi wajah jati diri.
Di tempat lain, Suryengpati menulis doa yang ia sebut sebagai surat. Ia menuliskannya bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan yang dalam pikirannya selalu hadir seperti cahaya samar di balik tabir tipis.
“Ya Allah,” tulisnya,
“beri aku mata yang bisa melihat benar tanpa membenci, beri aku telinga yang bisa mendengar tanpa mencurigai, dan beri aku hati yang bisa mencintai meski dunia di sekelilingku berubah menjadi medan perang.”
Surat itu tidak pernah dikirimkan kepada siapa pun. Tapi ketika ia meletakkannya di bawah bantal, ia merasa seolah cahaya kecil menyelinap ke dadanya. Cahaya yang sangat lembut, hampir tidak terasa, namun cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian.
***
Hari-hari berikutnya keraton terbelah seperti tubuh yang dipotong dua. Dua panji berbeda berkibar di dua halaman. Dua nama pangeran disebut dalam dua ritual berbeda. Dua doa dipanjatkan menuju langit yang sama, namun dari hati yang tak lagi sejalan.
Jagaswara melangkah dalam tugasnya, tetapi langkah-langkah itu terasa seperti menapaki duri. Suryengpati mengatur berkas-berkas pusaka, tetapi setiap kali menyentuh sebilah keris, ia merasa seperti menyentuh sejarah panjang manusia yang pernah saling menyakiti.
Ketika keduanya bertemu diam-diam di taman Sumber Bening, taman itu seperti berubah menjadi ruang semadi yang diciptakan untuk dua jiwa yang sedang mencari Tuhan dalam gelapnya konflik.
“Aku ingin damai, Jagaswara,” kata Suryengpati lirih, suaranya seperti air yang jatuh ke tanah kering.
“Aku juga,” jawab Jagaswara. “Tapi kita hidup di zaman ketika damai adalah barang yang disimpan terlalu tinggi untuk dijangkau.”
Suryengpati menatap air kolam. Permukaannya memantulkan langit yang kusut.
“Kita ini siapa, Jagaswara? Apa kita bagian dari kebisingan atau bagian dari doa?”
Jagaswara memejam.
“Kita hanya dua hamba yang sedang belajar mengenali bayangan di dalam diri.”
Bayangan—itulah kata yang paling tepat. Karena pada akhirnya, perang apa pun yang terjadi di dunia ini selalu bermula dari perang yang lebih kecil: perang dalam dada manusia.
Perang antara cahaya dan gelap.
Antara kerendahan hati dan keangkuhan.
Antara ingin benar dan merasa benar.
Pada suatu pagi yang berbeda, dua kubu bertemu di Regol Tengah. Ketegangan seperti ombak besar yang hendak pecah di pantai. Jagaswara dan Suryengpati berada di dua sisi yang berseberangan. Keduanya saling memanggil nama, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai sesama manusia yang takut melihat keraton berubah menjadi ladang luka.
“Kembalilah, Suryengpati,” kata Jagaswara. Suaranya seperti doa yang tercecer.
“Kau yang kembali,” balas Suryengpati. “Keraton ini bukan milik satu suara.”
“Karena itu aku berdiri di sini,” jawab Jagaswara dengan mata berkaca.
“Agar keraton tidak jatuh ke tangan siapa pun yang memaksakan kehendak.”
Namun kata-kata manusia sering tidak cukup kuat melawan arus yang diciptakan oleh orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka.
Ketika suara lonceng keraton menggetarkan udara, semua orang terhenti seperti patung. Kabar datang bahwa suksesi harus dihentikan sementara. Seperti tangan Tuhan turun dari langit, meredakan gelombang yang hampir membelah bumi.
Keributan mereda.
Keraton menarik napas panjang.
Orang-orang pulang dengan hati yang belum utuh, tapi sedikit lebih tenang.
***
Pada malam itu, Jagaswara dan Suryengpati duduk berdua di bangsal tua. Di hadapan mereka, pohon sawo kecik berdiri seperti guru sufi yang tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, namun mengajarkan ribuan makna.
Jagaswara berkata pelan,
“Kita hampir kehilangan sesuatu yang lebih besar dari takhta.”
“Apa itu?” tanya Suryengpati.
“Kemampuan untuk melihat wajah Allah dalam wajah saudara kita sendiri.”
Suryengpati menunduk, dan air mata jatuh tanpa suara.
“Aku takut, Jagaswara,” bisiknya. “Aku takut menjadi manusia yang kehilangan Tuhan karena terlalu sibuk membela apa yang menurutku benar.”
Jagaswara menepuk pundaknya.
“Selama kau takut kehilangan Tuhan, kau tidak akan kehilangan-Nya.”
Dalam keheningan malam yang panjang itu, mereka akhirnya mengerti:
bahwa keraton bukan pusat segala kemuliaan.
Yang mulia adalah hati manusia yang mampu menunduk meski sedang diseret oleh badai.
Mereka pulang ke rumah masing-masing sebagai dua pemuda yang membawa cahaya kecil di dada. Cahaya yang tidak berasal dari kemenangan politik, bukan dari siapa naik takhta, tapi dari kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk menang—manusia diciptakan untuk pulang.
Dan ketika angin kembali bertiup melewati Regol Brojonolo, ia membawa pesan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang hatinya jernih:
Bahwa setiap perang di dunia ini hanyalah cermin dari perang yang lebih tua—perang antara ego dan ketundukan.
Dan siapa yang menang bukanlah yang menguasai takhta, tetapi yang berhasil menundukkan dirinya kepada Tuhan.[]
Probolinggo, November 2025
____________________
Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.
Selama sebulan penuh, matahari yang garang memanggang ladang-ladang. Alam merekah di bawah sinarnya; hamparan hijau membentang sejauh pandang. Kubah langit—biru jernih tanpa segumpal awan—menutup bumi seperti naungan agung. Rumah-rumah tani di Normandia, tersebar di dataran luas dan dilingkari deretan pohon beech yang menjulang, tampak dari kejauhan bagai rimbun hutan-hutan kecil. Namun ketika mendekat, setelah menurunkan palang kayu yang telah dimakan usia, kau serasa melangkah memasuki taman raksasa. Pohon-pohon apel tua—kusut dan liat seperti para petani yang merawatnya—sedang meledakkan bunga. Harum manis kelopaknya bercampur dengan bau tanah yang berat dan sengitnya aroma kandang.
Siang mencapai puncaknya. Keluarga itu makan di bawah naungan pohon pir yang tumbuh di depan pintu—ayah, ibu, empat anak, dan para pembantu—dua perempuan dan tiga laki-laki. Semua duduk bersama. Semua diam. Sup telah disantap, lalu sepiring kentang goreng dengan daging asap dihidangkan.
Sesekali salah satu perempuan bangkit, mengambil kendi, dan turun ke ruang bawah tanah untuk mengambil sari apel.
Si lelaki—bertubuh besar, berusia sekitar empat puluh—menatap sulur anggur yang masih telanjang, merambat dan melilit sisi rumah seperti ular mencari pijakan.
Akhirnya ia berkata, “Pohon anggur Ayah mulai bertunas lebih awal tahun ini. Mungkin kita akan panen sedikit.”
Perempuan itu menoleh, menatapnya, tanpa sepatah kata.
Di tempat sulur itu ditanam—di situlah ayah mereka ditembak mati.
Itu terjadi pada Perang 1870. Pasukan Prusia menduduki seluruh wilayah. Jenderal Faidherbe, dengan Divisi Utara, berusaha menahan mereka. Prusia menjadikan rumah tani ini sebagai markas besar. Petani tua pemiliknya, Pierre Milon, menerima mereka sebaik yang ia mampu.
Sudah sebulan pasukan pendahulu Jerman berada di desa itu. Sementara pasukan Prancis berhenti tak bergerak, sepuluh lega dari sana. Namun setiap malam, ada saja Uhlan yang hilang.
Para pengintai yang dikirim berjauhan, dalam kelompok tak lebih dari tiga orang—tak satu pun kembali. Mereka ditemukan keesokan paginya di ladang atau di parit. Bahkan kuda-kuda mereka ditemukan sepanjang jalan, dengan leher tersayat.
Pembunuhan-pembunuhan ini tampak dilakukan tangan yang sama—tangan yang tak pernah tertangkap.
Desa dicekam teror. Petani ditembak hanya karena dicurigai; perempuan dipenjarakan; anak-anak ditakut-takuti demi memaksa pengakuan. Namun tak satu pun jawaban ditemukan.
Sampai suatu pagi, Ayah Milon ditemukan tergeletak di lumbung, wajahnya terbelah sabetan pedang. Dua Uhlan ditemukan tewas sejauh satu setengah mil dari rumah tani. Salah satunya masih menggenggam pedang berlumur darah—ia sempat melawan, sempat mencoba bertahan. Sidang kilat digelar saat itu juga, di udara terbuka, tepat di depan rumah.
Dan lelaki tua itu dibawa menghadap.
Ia berusia enam puluh delapan tahun—tubuh kecil, kurus, membungkuk—dengan dua tangan besar yang mirip capit kepiting. Rambutnya yang nyaris tanpa warna tumbuh jarang dan tipis, seperti bulu halus anak bebek, membiarkan kulit kepalanya tampak di sela-selanya. Kulit lehernya yang cokelat dan berkerut memperlihatkan urat-urat besar yang menghilang di balik rahang lalu muncul kembali di pelipis. Ia dikenal sebagai lelaki kikir dan susah diajak berurusan.
Mereka menegakkan tubuhnya di antara empat serdadu, tepat di depan meja dapur yang telah diseret keluar rumah. Lima perwira dan sang kolonel duduk berhadapan dengannya.
Kolonel itu berbicara dengan bahasa Prancis:
“Ayah Milon, sejak kami berada di sini, kami hanya mendengar pujian tentang dirimu. Kau selalu membantu, bahkan memperhatikan kebutuhan kami. Tapi hari ini, tuduhan mengerikan menggantung di atas kepalamu, dan kau harus menjelaskannya. Bagaimana kau mendapat luka di wajah itu?”
Si petani tidak menjawab.
Kolonel melanjutkan:
“Diam berarti menuduh dirimu sendiri, Ayah Milon. Tapi aku ingin kau menjawab! Kau mengerti? Apakah kau tahu siapa yang membunuh dua Uhlan yang ditemukan pagi ini dekat Calvaire?”
Dengan suara jernih, lelaki tua itu menjawab:
“Aku.”
Kolonel tertegun. Ia terdiam sejenak, menatap lurus pada tahanan itu. Ayah Milon tetap tak bergerak, menampilkan tatapan beku khas petani, matanya menunduk seakan sedang berbicara kepada pastor. Hanya satu hal yang mengkhianati kegelisahan batinnya: ia terus menelan ludah, dengan usaha yang tampak jelas, seolah tenggorokannya tersumbat oleh ketegangan yang menjerat.
Keluarga lelaki tua itu—putranya, Jean; menantunya; dan kedua cucunya—berdiri beberapa langkah di belakangnya, tercengang dan ketakutan.
Kolonel kembali bertanya:
“Apakah kau juga tahu siapa yang telah membunuh semua pengintai yang ditemukan mati selama sebulan terakhir ini, di seluruh daerah, setiap pagi?”
Dengan ekspresi bebal yang sama, si tua menjawab:
“Aku.”
“Kau membunuh mereka semua?”
“Ya. Aku.”
“Kau sendiri? Seorang diri?”
“Ya.”
“Ceritakan bagaimana kau melakukannya.”
Kali ini lelaki tua itu tampak tergerak; keharusan untuk bicara panjang lebar jelas membuatnya gusar. Ia gagap:
“Aku… entah! Aku cuma melakukannya.”
Kolonel melanjutkan:
“Aku peringatkan kau harus menceritakan semuanya. Sebaiknya kau siapkan dirimu sejak sekarang. Bagaimana kau memulainya?”
Si lelaki memandang gelisah ke arah keluarganya yang berdiri tepat di belakangnya. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya memutuskan untuk patuh.
“Malam itu aku pulang sekitar jam sepuluh—malam setelah kalian tiba. Kau dan para prajuritmu telah mengambil lebih dari lima puluh écus rumput makananku, juga seekor sapi dan dua domba. Aku berkata pada diri sendiri: ‘Sebanyak yang mereka rampas darimu, sebanyak itu pula yang akan kau buat mereka bayar kembali.’ Dan ada hal lain di kepalaku—akan kuceritakan nanti. Saat itu juga aku melihat salah satu prajuritmu sedang merokok di dekat parit belakang lumbung. Aku pergi mengambil sabitku dan merayap perlahan dari belakangnya, agar ia tak mendengar. Lalu aku tebas kepalanya dengan sekali ayun—seperti menebas sehelai rumput—sebelum ia sempat berseru ‘Booh!’ Kalau kalian lihat ke dasar kolam, akan kalian temukan dia terikat dalam karung kentang, dengan batu yang menenggelamkannya.”
“Aku dapat akal. Aku ambil semua pakaian orang itu, dari sepatu sampai topinya, dan kusembunyikan di hutan kecil di belakang halaman.”
Lelaki tua itu berhenti. Para perwira terdiam, saling bertukar pandang. Pemeriksaan berlanjut, dan inilah yang mereka ketahui.
Setelah pembunuhan pertama itu, lelaki itu hidup hanya dengan satu pikiran: “Bunuh orang Prusia!” Ia membenci mereka dengan kebencian buta, bengis, milik petani serakah namun tetap mencintai tanah kelahirannya. Ia memiliki rencana, begitu katanya. Ia menunggu beberapa hari.
Para penjajah mengizinkannya keluar-masuk sesuka hati, karena ia selalu tampak rendah hati, patuh, dan bermuka manis. Setiap malam ia melihat para penjaga depan berangkat. Suatu malam ia mengikuti mereka, setelah mendengar nama desa tujuan para prajurit itu, dan setelah mempelajari sedikit kata-kata Jerman yang dibutuhkannya melalui pergaulannya dengan para serdadu.
Ia keluar melalui halaman belakang, menyelinap ke hutan, menemukan kembali pakaian si mayat, dan mengenakannya. Lalu ia mulai merangkak menyeberangi ladang, mengikuti pagar semak agar tak terlihat, mendengarkan bunyi sekecil apa pun—sewaspada pemburu gelap.
Ketika ia merasa saatnya tiba, ia mendekati jalan dan bersembunyi di balik semak. Ia menunggu.
Akhirnya, menjelang tengah malam, terdengar derap kuda berlari. Lelaki itu menempelkan telinganya ke tanah untuk memastikan hanya satu penunggang yang datang. Setelah itu, ia bersiap.
Seorang Uhlan datang melaju kencang, membawa kiriman penting. Sepanjang jalan ia waspada—mata dan telinga tegang menangkap tanda bahaya. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, Ayah Milon merangkak menyeberangi jalan sambil mengerang, “Hilfe! Hilfe!” (Tolong! Tolong!)
Prajurit berkuda itu berhenti. Melihat seorang “Jerman” tergeletak, ia menyangka orang itu terluka. Ia turun dari kuda, mendekat tanpa curiga. Dan ketika tubuhnya membungkuk hendak menolong, ia menerima tusukan berat tepat di ulu hati—hunusan lengkung panjang dari pedang kavaleri. Ia jatuh tanpa sempat merasakan sakit, hanya menggigil sebentar dalam detik-detik terakhir.
Petani tua itu bangkit—bercahaya oleh kegirangan sunyi yang hanya dimengerti para lelaki desa tua—dan demi memuaskan dirinya, ia pun menyayat leher si mayat. Setelah itu, ia menyeret tubuh prajurit itu ke parit dan melemparkannya ke dalam.
Kuda itu menunggu tuannya dengan tenang. Ayah Milon menaikinya, lalu memacu langkahnya melintasi dataran.
Sekitar sejam kemudian, ia melihat dua Uhlan lain pulang berdampingan. Ia menunggang lurus ke arah mereka, sekali lagi berteriak, “Hilfe! Hilfe!”
Kedua Prusia itu, mengenali seragam yang ia kenakan, membiarkannya mendekat tanpa sedikit pun curiga. Lelaki tua itu melintas di antara mereka seperti peluru meriam—menjatuhkan keduanya sekaligus: satu ditebas pedang, satu ditembak pistol.
Lalu ia membunuh kuda-kuda itu—kuda Prusia! Setelah itu ia bergegas kembali ke hutan, menyembunyikan salah satu kuda, menanggalkan seragamnya, dan mengenakan pakaian lamanya. Ia kembali ke rumah, naik ke tempat tidur, dan tidur sampai pagi.
Empat hari lamanya ia tak keluar, menunggu pemeriksaan selesai. Namun pada hari kelima ia kembali keluar, dan membunuh dua prajurit lain dengan siasat yang sama. Sejak itu ia tak lagi berhenti. Setiap malam ia berkeliaran mencari petualangan—membunuh orang Prusia, kadang di sini, kadang di sana—berkuda melintasi ladang-ladang sunyi, di bawah cahaya bulan, sebagai Uhlan tersesat, sebagai pemburu manusia.
Dan setelah tugasnya tuntas—setelah meninggalkan mayat-mayat di sepanjang jalan—lelaki tua itu kembali ke rumah, menyembunyikan kuda dan seragamnya.
Menjelang tengah hari, ia pergi memberi gandum dan air kepada kudanya, diam-diam seperti biasa. Ia merawat kuda itu dengan baik, sebab ia menuntut darinya pekerjaan yang berat.
Namun salah satu prajurit yang ia serang malam sebelumnya, ketika mencoba melawan, telah menebas wajah si petani tua dengan pedangnya.
Meski begitu, keduanya berhasil ia bunuh. Ia pulang, menyembunyikan kuda itu, lalu mengenakan pakaian lamanya kembali. Tetapi sesampainya di rumah, tubuhnya mulai lemas; ia hanya mampu menyeret diri sampai kandang, tak kuat mencapai pintu rumah. Di sanalah ia ditemukan—bersimbah darah di atas jerami.
Ketika kisahnya selesai, ia tiba-tiba mengangkat kepala dan memandang para perwira Prusia dengan bangga.
Kolonel itu, yang sedang menggigiti kumisnya, bertanya:
“Tak ada lagi yang ingin kau katakan?”
“Tak ada. Tugasku selesai. Aku membunuh enam belas. Tidak lebih, tidak kurang.”
“Kau mengerti bahwa kau akan mati?”
“Aku tak meminta ampun.”
“Apakah kau pernah menjadi tentara?”
“Ya. Aku menjalani masaku. Dan kalian telah membunuh ayahku—seorang prajurit Kaisar pertama. Dan bulan lalu kalian membunuh putra bungsuku, François, dekat Evreux. Utang itu harus kubayar. Kini lunas. Kita impas.”
Para perwira saling berpandangan.
Laki-laki tua itu melanjutkan:
“Delapan untuk ayahku, delapan untuk anakku—kita impas. Aku tak pernah mencari gara-gara dengan kalian. Aku tak kenal kalian. Bahkan aku tak tahu dari mana kalian datang. Tapi kalian datang dan memerintah di rumahku, seolah ini milik kalian. Aku menuntut balas pada mereka yang lain. Aku tak menyesal.”
Dan sambil meluruskan punggungnya yang bungkuk, lelaki tua itu menyilangkan tangan—seperti pahlawan sederhana yang tak membutuhkan sorak-sorai.
Prusia berbicara pelan, lama. Salah satu dari mereka, seorang kapten yang juga kehilangan putranya bulan lalu, berusaha membela si tua itu. Kemudian sang kolonel berdiri, mendekati Ayah Milon, dan dengan suara rendah berkata:
“Dengarkan, orang tua… mungkin ada cara menyelamatkan hidupmu. Kau hanya perlu—”
Tapi lelaki tua itu tak mendengarkan. Tatapannya terpaku pada perwira yang dibencinya. Angin memainkan rambut tipis di kepalanya. Ia memelintir wajahnya yang terbelah sabetan pedang hingga tampak benar-benar mengerikan, lalu menggembungkan dadanya dan meludah—sekeras yang ia mampu—tepat ke wajah sang Prusia.
Kolonel itu, murka, mengangkat tangan; dan untuk kedua kalinya, lelaki tua itu meludah di wajahnya.
Semua perwira bangkit sekaligus, berteriak mengeluarkan perintah.
Dalam waktu kurang dari semenit, lelaki tua itu—masih tenang, tanpa gentar—didorong ke dinding dan ditembak. Ia tersenyum kecil ke arah Jean, putra sulungnya; menantunya; dan kedua cucunya yang menyaksikan semuanya dalam ketakutan bisu.
_____________________
Penulis: Guy de Maupassant (1850–1893)
Guy de Maupassant adalah sastrawan Prancis yang dikenal sebagai salah satu master cerpen paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia. Lahir di Normandia, ia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang kelak menjadi latar kuat dalam banyak karyanya. Maupassant belajar langsung dari dua raksasa sastra, Gustave Flaubert dan Émile Zola, yang membentuk gaya realisnya yang tajam, ironis, dan penuh pengamatan psikologis.
Dalam rentang karier yang singkat—hanya sekitar satu dekade—ia menulis lebih dari 300 cerpen, enam novel, beberapa naskah perjalanan, dan artikel-artikel kritis. Karya terkenalnya meliputi Boule de Suif, Bel-Ami, Pierre et Jean, dan puluhan cerita pendek yang kini menjadi klasik.
______________________
Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi Linguistik Penerjemahan di UNS.
Perpustakaan sekolah masih ramai. Nasib baik. Para murid sekolahan atau santri pondok pesantren masih betah bersama buku di waktu senggang.
Buku-buku dibaca dan dipinjam. Buku-buku dibaca dan dibincang. Buku-buku yang terbaca jadi bahan tulisan-tulisan. Buku-buku digenggam sebelum berganti gawai makin pintar.
Yang mengejutkan, pada suatu pagi, tak lama setelah perpustakaan buka, dua orang datang meminjam buku. Mereka adalah pemilik 300 dan 301 di buku daftar peminjaman buku milik perpustakaan.
300 menjadi 301, dan terus bertambah. Mungkin tak lama lagi jadi 1000. Lalu 1001 sebelum jadi 3760. Angka yang semakin besar, menandakan minat terhadap buku yang terus bertumbuh, dari hari ke hari.
Aku semakin sadar betapa besar impianku agar perpustakaan bukan sekadar pelengkap bagi sesuatu yang disebut sekolah. Juga bukan imbuhan untuk pendidikan. Perpustakaan bisa jadi tokoh utama dalam hidup manusia-manusia disebut murid di sekolah. Kemungkinan yang bukan kemustahilan.
Siasat demi siasat dilakukan demi murid mengakrabi buku-buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku yang tersedia diupayakan menggugah selera pembaca. Ajakan-ajakan disampaikan di dalam dan di luar kelas. Buku sengaja menggantung di tangan di hadapan murid-murid.
Bukankah itu namanya pamer? Memang! Semoga Tuhan mengampuni dosa para penggenggam buku.
Satu lagi dosa yang kuharap diampuni, yakni dosa membanding-bandingkan nasib perpustakaan sekolah-sekolah.
Yang mengalami perpustakaan sekolah masih sering ramai tergoda memikirkan nasib perpustakaan sekolah lain. Perpustakaan di banyak sekolah masih sering bernasib buruk. Bukan cuma sepi, melainkan tidak ada sama sekali.
Kawanku yang senang berkelana, bercerita mengenai sulitnya menemukan perpustakaan di sekolah-sekolah jauh dari kota. Kalaupun ada, ruangan itu bukan diisi rak dan buku, tetapi meja dan alat-alat olahraga.
Bagaimana bisa ada pembaca pertama bila perpustakaan saja tak ada?
Mochtar Lubis, nama yang selalu teringat dengan novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung dan Senja di Jakarta. Ia menulis beberapa novel, yang mendapat pujian dan kritik, sejak masa 1950-an. Dulu, novel-novel itu tersaji oleh beberapa penerbit. Pada suatu masa, ada terbitan yang istimewa oleh Pustaka Jaya. Para kolektor mengingat novel-novel Mochtar Lubis dalam cetakan bersampul keras dan tebal. Konon, edisi itu sengaja untuk koleksi.
Novel-novelnya cetak ulang. Pemicunya mungkin kebijakan menjadi koleksi di ribuan perpustakaan. Ada pula yang menganggap memang novel-novelnya pantas cetak ulang, mendapat ribuan pembaca. Mochtar Lubis, nama yang diakrabi oleh murid dan mahasiswa dalam pengajaran sastra.
Namanya makin menguat saat mendirikan YOI. Orang-orang mengenalinya Yayasan Obor Indonesia. Banyak buku yang diterbitkan oleh YOI. Buku-buku bertema lingkungan hidup, birokrasi, ekonomi, demokrasi, sastra, dan lain-lain. Bagi yang masih ingin membaca dan mengoleksi buku-buku Mochtar Lubis bisa membeli edisi YOI, yang mudah diperoleh ketimbang edisi Pustaka Jaya atau penerbit-penerbit masa 1950-an.
Mochtar Lubis itu nama yang disebut dalam perdebatan sengit setelah pidato dan terbitnya buku berjudul Manusia Indonesia. Buku yang akhirnya berpengaruh di Indonesia. Pada masa sekarang, buku itu tetap menantang bila dibaca sambil menandai perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Mochtar Lubis telanjur dianggap jurnalis dan pengarang tangguh. Manusia Indonesia menjadi buktinya. Masa lalunya memang ganas dengan kerja di jurnalistik. Ia menggerakkan Indonesia Raya yang dihabisi penguasa. Pada situasi rumit, ia dan teman-teman mendirikan majalah Horison.
Para pembaca novel-novel Mochtar Lubis memberi pujian, tak lupa menyodorkan kritik-kritik. Yang mengamati sikap dan pemikiran Mochtar Lubis mulai menguak hal-hal yang mudah menjadi polemik. Pengamat menemukan kaitan Mochtar Lubis dengan Amerika Serikat dalam urusan politik-kebudayaan. Kita diajak memikirkan masalah otoritas, dana, misi, dan lain-lain.
Ia memang memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat. Dulu, ia tidak melulu pengarang. Mochtar Lubis pun menjadi penerjemah. Teks-teks sastra dari Amerika Serikat pernah diterjemahkan oleh Mochtar Lubis, terbit sebagai buku-buku kecil dan tipis pada masa 1950-an.
Bukti kemesraan yang dapat dibaca adalah buku berjudul Perlawatan ke Amerika Serikat. Buku diterbitkan oleh Gapura, Jakarta, 1952. Siapa masih mengoleksi dan mau membahas untuk mengenang Mochtar Lubis? Selalu saja yang terbaca adalah novel-novel dan Manusia Indonesia. Buku lawas itu sebenarnya mengajak kita melek pesona atau kuasa Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Mochtar Lubis menerangkan: “Nama Amerika menimbulkan bermatjam-matjam bajangan dan gambaran. Bagi mereka yang anti Amerika, maka dibajangkan Amerika sebagai negeri berkuasa besar, hendak mendjadjah dan berkuasa didunia dan orang Amerika semata-mata materialistis, pikirnja tjuma bagaimana harus mentjari uang sebanjak-banjaknja. Bagi setengah orang lain, Amerika adalah sebagai dunia mimpi. Semuanja indah, bagus dan bertjahaja.”
Pada suatu hari, Mochtar Lubis berhasil tiba di New York. Manusia asal Indonesia yang mendatangi negara besar dengan kota-kota yang menawan. Yang ditulis Mochtar Lubis: “Inilah New York di Amerika Serikat. Negeri jang kita amat tjurigai di Indonesia dan ditjurigai oleh banjak bangsa-bangsa Asia jang lain. Negeri jang dituduh membantu neo-imperialisme.” Amerika Serikat memang tema yang terlalu besar bagi dunia pada masa 1950-an. Yang mau mengetahui sikap Indonesia terhadap Amerika Serikat bisa membaca tulisan dan menyimak pidato Soekarno. Yang pasti pendapat Mochtar Lubis dan Soekarno tentang Amerika Serikat (sangat) berbeda.
Selama berada di Amerika Serikat, Mochtar Lubis menemukan bukti-bukti sekaligus membuat renungan. Ia biasa meragu tapi berani membuat kepastian asal ada bukti. Yang terpenting lagi adalah argumentasi. Campuran jurnalis dan pengarang menghasilkan renungan: “Melihat kota jang terhampar dengan kilau-kilau lampunja jang redup-redup ditutup embun, maka timbul dalam hati saja pertanjaan. Saja telah djalani lebih dari separoh negeri besar ini. Telah bertemu dengan segala matjam orang, dari kalangan pers, dagang, industri, buruh, dan berbagai-bagai orang lain. Kenalkah saja sudah pada negeri dan bangsa ini? Apakah bangsa ini imperialistis sebagai dituduh oleh Sebagian bangs akita di Indonesia? Ataukah ia sungguh-sungguh demokratis dan tidak ada berkepentingan sesuatu apa diluar negerinja ketjuali untuk memelihara perdamaian dan kemerdekaan sebagai jang disebut orang-orang Amerika?”
Pada saat merenung, Mochtar Lubis bukan penguasa atau pejabat di Indonesia. Ia memiliki bukti dan arah pemikiran yang berbeda dengan elite di Indonesia yang kepikiran beragam hal besar. Mochtar Lubis mulai bingung mengamati hubungan Indonesia dan Amerika Serikat.
Selama tiga bulan, Mochtar Lubis berada di Amerika Serikat. Ia mengunjungi beberapa kota dan menghadiri acara-acara penting. Kita menyimak pendapatnya tentang manusia Amerika, sebelum ia bikin geger dengan buku berjudul Manusia Indonesia.
Yang dijelaskan Mochtar Lubis: “… orang-orang Amerika Serikat umumnja amat peramah, suka menolong dan mempunjai perasaan sportivitiet jang besar. Dan untuk mendapat tingkat penghidupan jang tinggi seperti sekarang ini, maka mereka djuga bekerdja keras.”
Buku kecil itu condong memuat kagum dan pujian. Perlawatan singkat ke Amerika Serikat menghasilkan ribuan kalimat, yang membenarkan hubungan “mesra” antara Mochtar Lubis dan Amerika Serikat. Konon, para pengamat yang menguak jalinan akrab itu berlanjut dalam babak malapetaka 1965. Mochtar Lubis tampil dengan pendapat-pendapat sesuai dengan kepentingan-kepentingan besar Amerika Serikat di Indonesia.
Aristoteles memang kurang ajar. Namanya hampir tidak pernah absen dari segala bidang keilmuan, dari dulu sampai sekarang. Ilmu bumi-langit, jiwa-raga, tumbuhan-hewan, selalu memunculkan namanya.
Ada lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana Aristoteles hidup? Katanya: ia lahir, berpikir, kemudian mati. Di kalangan yang lebih tergila-gila olehnya, lelucon itu bertambah hebat pula: “Setelah Aristoteles, semua filsafat hanyalah catatan kaki.” Kalau benar begitu, berarti ribuan tahun filsuf hanya jadi tukang catat rapi-rapi di pinggiran kertas. Padahal, tidak demikian. Kita menonton perdebatan filsafat malah semakin ramai bak sinetron yang tak kenal episode akhir.
Nusantara merindukan sosok demikian, manusia dengan isi kepala paket lengkap. Tak terbayang, bagaimana kesehariannya. Apakah dia tidur dengan tumpukan buku? Dia mungkin berjalan sambil berkomat-kamit menghafal semua pelajaran. Alih-alih mengira-ngira dia dengan mantra atau ramuan apa yang dikonsumsi untuk mengencerkan peredaran darah naik ke otak. Lebih mudah kita menebak derajat isi perutnya. Sebab, mustahil perut keroncongan bermain logika. Biasanya, lambung yang berbunyi menghasilkan pikiran yang serampangan.
Kita masih beruntung bisa mengenal nama yang hidup ribuan tahun silam lengkap dengan keadaan situasi saat itu. Mungkin tidak terlalu akurat. Setidaknya, ada bukti tertulis: tahun dan lokasi jelas. Kita tidak merasa itu sebagai dongeng yang dimulai dengan kata: “Dahulu kala…”
Aristoteles, lahir di Macedonia, sangat jauh dari Nusantara. Tanahnya ditumbuhi pohon zaitun, langitnya sesak oleh cerita dan para dewa. Ia benar-benar manusia dan pernah hidup, tidak dilahirkan oleh dewi kepintaran atau terlahir langsung bisa membaca. Ayahnya adalah pegawai istana, seorang tabib kerajaan. Jika kita coba iseng mencocokkan jabatatannya, kira-kira sepangkat dokter kepresidenan saat ini. Kita juga berasumsi ia tidak termasuk anak yang tumbuh dengan menyandang status malnutrisi. Bayangkan saja: anak seorang dokter, bertugas di dalam istana kerajaan.
Ia tidak berdiri sendirian. Tentu saja, setiap orang kesohor selalu ada sosok yang menakjubkan sebagai pijakannya. Selain seorang ayah yang menjamin perutnya tidak berbunyi kodok, di belakangnya, ada bayang-bayang besar Plato, “sang guru”. Sebuah perpaduan yang serasi antara nafsu perut dan akal budi.
Kita, yang biasa terserang kantuk setelah makan merasa sedikit kebingungan menyambungkan dua frasa di atas. Mungkin rahasianya yang masuk ke mulut bukan sembarang makanan asal kenyang tapi yang berprotein tinggi dan mengandung bermacam-macan vitamin. Perut yang kenyang hanya sebuah perahu dayung, kita perlu mengayuh untuk berlabuh. Cukup banyak anak yang perutnya terisi penuh tapi nalarnya kosong. Peran Plato memang bukan main-main!
Ia bukan sekadar guru yang memindahkan ilmu, tapi perangsang untuk berpikir lebih. Aristoteles tidak diajar untuk patuh, tetapi untuk meragukan, mempertanyakan kembali, membantah, bahkan mengkritik gurunya sendiri.
Indonesia sedang bermimpi mencetak anak-anak menjadi generasi emas pada 2045. Meski kita belum paham sepenuhnya emas semacam apa yang diinginkan. Pelbagai program dimunculkan., dari yang membingungkan sampai menggelikan. Pada halaman awal pemerintahan Prabowo-Gibran, cita-cita itu naik tangga dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sekolah, anak-anak mendapat jatah makan. Entah, mengapa dari sekian banyak pilihan menuju emas, urusan perut jadi agenda pertama yang dipilih. Kita belum tahu apakah Prabowo dan Gibran pernah membaca Aristoteles. Jika pernah, kita tinggal menunggu gebrakan selanjutnya, yakni urusan isi kepala.
Di tengah ceria anak-anak sambil menyantap daun salada yang jauh lebih banyak dari ayam gorengnya, sebagian orang merasa khawatir. Khawatir akan mimpi generasi emas kerap terjebak dalam rumus proyek. Di balik nampan yang berjudul gratis, tampak pula sebuah siklus administratif yang berputar pada laporan, dokumentasi, dan serapan anggaran. Proyek ini sangat gampang untuk diakui sebagai sebuah pencapaian rezim. Orang-orang di barisan Istana sibuk menghitung dan berbangga akan kalori dan protein dalam nampan. Kita berharap mereka tidak lupa menimbang masa pikiran yang seharusnya tumbuh setelah perut terisi. Apakah emas yang kita ukur nanti itu adalah kualitas nalar, atau sekadar angka anak yang tidak lagi kelaparan?
Di berita-berita, riuh soal keracunan MBG, di meja diskusi ramai kerisauan-kerisauan. Saat guru berkata tentang minimnya fasilitas, jawabannya MBG. Ketika orang tua berkeluh tentang biaya, dijawab dengan MBG. Yang dirisaukan: MBG berisiko menjadi tembok besar yang menutupi lubang-lubang masalah lain yang sulit diperbaiki.
Di manakah “Plato-Plato-nya” Indonesia bersembunyi? Apakah mereka masih sibuk memilih foto mana yang akan diunggah atau terjebak dalam birokrasi pendidikan yang kaku? Lebih mendahulukan nilai ujian daripada pikiran yang mendalam? Generasi emas tidak bisa dibangun hanya dengan menyuapi perut dan menyodori soal pilihan ganda. Mereka membutuhkan guru yang tidak takut dikritik, yang mengajak muridnya berjalan-jalan di taman pikiran, merangkai kata menjadi pertanyaan, dan membongkar pasang status qou. Aristoteles, jika tanpa guru yang hebat, mungkin hanya Arjuna berkepala Dursasana. Bertubuh sehat dan angkuh. Lebih menyeramkan: jika yang tercapai hanyalah generasi jamur, tumbuh subur semalam lalu sirna seketika.
Setelah makanan itu dibagikan, pertanyaan sesungguhnya baru dimulai: sudah siapkah kita menyambut kelaparan yang berikutnya, yakni kelaparan akan ilmu dan pengetahuan.
Namun, dilema lain selalu menyertai. Anggaran kita tidak cukup untuk belanja hamburger sekaligus mencetak “Plato-Plato” di Indonesia, mana yang lebih didahulukan? Keduanya sama indah sama menawan.
Di belakang halaman 365 hari kepeminpinan Prabowo-Gibran, riak suara tak pernah surut. Ada yang diam-diam kenyang oleh proyek sambil tetap berkeluh kesah, ada pula yang mendadak menjadi ahli gizi. Yang mengkritik banyak, tentu itu tanda cinta. Yang bersikap acuh pun sama banyak. Mereka apatis, yang tidak berharap pada sekotak nasi.
Bagi mereka yang percaya akan kebaikan negara boleh-boleh saja, asal tidak menggadaikan urusan perut dan otak seutuhnya. Sebab, negara tidak pernah berhenti mengidap dilema-dilema.
Begitu perdah itu kusibak, cahaya matahari masuk ke kamar. Aku berdiri di depan cermin, merapikan kemeja putih yang kupilih dengan cermat, berharap bisa terlihat pantas dan meyakinkan. Kuhela napas panjang sambil meraba saku celana. Di sana tersimpan sebuah kotak kecil yang akan menentukan bagaimana nasibku esok. Tak henti-henti kuucap sebuah ayat yang meneguhkanku pada keputusan hari ini
Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau. Yesaya 41:10
Ya, aku sudah mendengar banyak penolakan yang dialami laki-laki sepertiku. Tetapi biarlah, aku percaya selalu ada pengecualian dari segala hal. Yesus pun sebelum diterima sebagai penyelamat, pernah mengalami penolakan meski yang dibawa pesan cinta kasih.
“Iya,” kujawab ketukan pintu. Ibu mendekat, disusul Ayah. Matanya memandangku seperti saat pertama kali melepasku sekolah. Dahi Ibu berkerut, memperjelas tumpukan garis di wajah. Ia tampak tidak marah, tapi seperti menyimpan beban yang menekan pikirannya.
“Biarkan kami ikut bersamamu, ya,” ujarnya memegang tanganku. Ayah berjalan lebih dekat menyentuh pundakku sembari melempar senyum, seolah mengerti yang aku pikirkan. Matanya meyakinkanku untuk mengiyakan permintaan Ibu. Sebenarnya tidak masalah jika mereka ikut menemani, tapi aku khawatir keadaan tidak seperti yang diharapkan.
“Jika di sana nanti Ayah dan Ibu dibuat kesal, berjanjilah untuk tidak menanggapinya,” jawabku, menatap ke arah mereka.
Kami berangkat ke tempat tujuan. Meski hanya menempuh waktu satu jam, aku merasa mengendarai mobil selama seminggu. Tak bisa kusembunyikan rasa gugup yang menyelimutiku. Untunglah, semua sirna ketika Fatimah tampak duduk di depan rumahnya. Kami disambut dengan senyum, lalu dipersilahkan untuk masuk.
Lampu hias tergantung kokoh di tengah ruangan. Ada potret kaligrafi cukup besar ditemani tiga lukisan wajah laki-laki berpenutup kepala. Ayah Fatimah membuka keheningan dengan beberapa pertanyaan. Ayah menjawabnya dengan santun. Untuk sementara semua terasa baik-baik saja, sebelum akhirnya berubah menjadi ketegangan.
“Sebelum Mas Don dan sekeluarga datang, Fatimah baru mengatakan kalau ini menyangkut perbedaan keyakinan,” ucap ayah Fatimah mencondongkan tubuhnya. Aku bisa menangkap dadanya naik turun dengan cepat, menunjukkan ia sedang berusaha menahan amarah yang hampir meledak.
“Saya pikir, ini bisa kita bicarakan, Pak Ibrahim. Mungkin Tuhan memang menitipkan cinta pada anak kita, jadi tidak ada yang salah dan benar.”
“Pak, saya tidak bisa main-main soal agama. Ini menyangkut hidup dan mati. Fatimah tidak bisa menikah dengan laki-laki yang tidak seiman.”
Setelah sejak tadi hanya diam melihat apa yang terjadi di hadapannya, Fatimah bersuara. Wajahnya menyimpan ketenangan . Matanya masih setegas dulu, seperti kali pertama demo di depan kampus. “Kami saling mencintai, Pak. Don laki-laki yang bertanggung jawab.”
“Fatimah, ridho Allah ada di tangan orang tua.” Ibu Fatimah menatapku. “Eling Fatimah, kamu tidak takut dilaknat Allah. Masuk neraka nanti kamu, Ya Allah!”
Apa kamu pikir Tuhan sebrengsek itu. Mengkotak-kotakan manusia lalu bermain-main membuat neraka dan surga! Aku memaki dalam hati.
Kupandangi wajah ayah ibuku yang mulai geram menahan amarah. Aku tahu mereka ingin membalas kalimat itu, tapi urung dilakukan karena janji yang telah kami buat sebelum pergi.
“Saya mencintai putri Bapak. Ini soal hati, Pak, bukan keyakinan,” kataku. “Dan, saya tidak akan membuat Fatimah keluar dari agamanya.”
Dua jam telah berlalu, percakapan tidak menemukan jalan keluar. Hanya kalimat tajam yang makin melukai hati masing-masing. Akhirnya aku putuskan untuk pamit. Mataku dan Fatimah saling beradu. Aku tahu, ia mengirimkan sebuah kata maaf dan semangat untukku. Meski tak terucap, perasaan itu terasa jelas bisa kuterima.
“Apa kamu benar-benar mencintai Fatimah? Tak bisa diganti dengan perempuan lain?” tanya ibu, memandangku dengan penuh kesungguhan. Kutangkap sorot matanya dari kaca spion di atas kepalaku.
“Hanya Fatimah atau tidak sama sekali.”
“Dalam hal apa pun, jika persoalan agama sudah dijadikan alasan, temboknya akan tebal” ujar Ayah.
Aku mengerti yang Ayah maksudkan. Ini sama seperti yang pernah terjadi pada banyak orang yang diusir dari tempat tinggalnya karena berbeda agama atau dilarang beribadah dengan cara persekusi. Agama memang menjauhkan manusia berbuat jahat, tapi juga banyak kejahatan yang dilakukan atas nama agama. Sekilas, muncul kegelisahan dalam pikiranku, mengapa aku dilahirkan berbeda dengan Fatimah. Siapa yang membuat perbedaan dan untuk apa.
“Ayah tak pernah menyangka jalan hidup kita akan sama.”
“Maksud Ayah?”
“Kamu bukan anak bodoh. Pasti kamu sempat punya pertanyaan yang tidak pernah kamu tanyakan pada kami.” Ayah berpaling ke wajah ibu, “Bu, kamu saja yang cerita ke Don,” lanjutnya.
Dari kaca spion aku lihat ibu menengok ke jendela kaca di sampingnya. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya- bukan senyum bahagia, tapi semacam tawa yang tertahan, seperti seseorang yang baru saja mengingat betapa konyol dirinya dulu. Ia melirik ke ayah sebelum akhirnya berucap, “Ayahmu sangat nekat dan gila.”
“Tidak semua orang mau ikhlas melakukannya. Waktu itu, Ayah dan Ibu seperti tak ada rasa takut.” Ayah kembali menimpali.
**
“Apa ini akan berhasil?”
Don tak lekas menjawab pertanyaan Fatimah. Pikirannnya malah terbang mengingat kembali percakapan bersama ayah dan ibunya ketika di mobil malam itu. Orangtuanya tak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, hatinya tiba-tiba merasa yakin, mereka juga melakukan ini. Ia ingat, ibunya pernah bercerita menikah pada pertengahan tahun 1998. Sementara kini, ia menginjak usia dua puluh tujuh tahun. Don semakin yakin dengan dugaannya. Tak mungkin ada hal lain.
“Kupikir, iya… Sudah ada yang pernah mencobanya,” ucap Don, menarik selimut ke arah tubuhnya. Sejenak timbul keheningan. Hanya suara dari televisi yang dibiarkan berceloteh memenuhi ruangan dengan cahaya redup.
“Sayang, kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?” ujar Fatimah mendekat lebih erat ke tubuh Don yang terlentang di sampingnya.
___________________
Yulita Putri. Kontributor di Arina.id. Bergiat di Savara_org, Pusat Kajian Perempuan Solo dan Gusdurian Solo. Aktif di Surai Sastra Surakarta. Menulis buku bertajuk Menafsir Sastra Anak (2024), beberapa esai dan cerpen tersebar di media online. Instagram: @yulitaaaputri Facebook: Yulita Putri