
Curhat M.A. Edpe
Jika aku mengaku sebagai seorang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), apakah kalian percaya? Mungkin sebagian orang tidak akan percaya bahwa aku adalah bagian dari mereka. Dilihat dari ciri fisikku yang terlihat seperti orang pada umumnya, bisa berkomunikasi dengan cukup baik, serta pakaian yang tidak compang-camping seperti ODGJ yang sering berkeliaran di jalanan. Sebelum aku bercerita tentang pengalaman sebagai ODGJ, aku ingin menjelaskan sedikit tentang disabilitas mental.
Menurut undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disabilitas mental merupakan gangguan fungsi pengendalian emosi dan atau perilaku. Dikutip dari Halodoc, gangguan kesehatan mental merupakan gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi pola pikir, emosi, dan perilaku seseorang. Menurut WHO (2022), gangguan kesehatan mental dicirikan dengan kondisi kombinasi abnormal pada pikiran, emosi, perilaku dan hubungan dengan orang lain. Contohnya adalah gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan stress pascatrauma, skizofrenia, gangguan makan, perilaku mengganggu dan gangguan disosialisasi, serta gangguan perkembangan saraf.
Akhir bulan Februari tahun 2022, beberapa hari menjelang ulang tahun ke 27, aku menunjukkan gejala yang tidak normal. Hampir satu hari penuh tidak tidur, emosi yang tidak terkontrol, bicara yang tidak runut dan terstruktur, serta mengalami delusi. Saat itu aku di basecamp, tempat tinggal yang disediakan oleh tempat kerjaku di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Surakarta. Hari itu seakan melambat bagi teman-teman yang datang ke sana, sebab harus menghadapi kelakuan tak wajarku. Dariyanto, Wachid, dan Maulana adalah saksi hidup yang melihat serta menceritakan padaku setelah beberapa bulan.
Bagong dan Ronggo datang malam hari ke basecamp untuk melihat kondisiku, mereka datang setelah ditelepon oleh Daryanto. Setelah ajakan yang cukup alot, akhirnya malam dini hari di awal Maret, aku mau dibawa ke Solo, alasannya jalan-jalan. Aku baru tahu saat tiba di lokasi bahwa aku dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta. Spontan aku mengucap, “Jancok, aku dibawa ke RSJ, dikira aku gendeng!”
Menurut penuturan Ronggo, Aku tidak bisa masuk menjadi pasien saat itu karena bukan keluarga yang membawa ke sana. Peraturan mewajibkan untuk mendapatkan rekomendasi dari salah satu keluarga agar aku bisa dirawat inap. Akhirnya aku hanya diberi obat penenang dan dibawa ke kantor yang letaknya di Karanganyar.
Sempat dapat beristirahat sejenak, gejala yang aku alami di Klaten kembali lagi, meracau tidak jelas, membuat keributan di kantor. Ada beberapa bagian cerita yang tidak aku ingat, semuanya blank. Menurut cerita bosku, seorang praktisi kesehatan mental kenalan dari bosku didatangkan. Ia mengajak berbicara dan menemani apapun kegiatan yang aku lakukan. Dari hasil pengamatannya dan persetujuan keluargaku, akhirnya aku dirujuk ke RSJD Surakarta. Hari-hari berat harus kulalui di sana, tiga kali sehari harus minum obat dan tidak boleh dijenguk karena masih waspada dengan pandemi Covid. Bahkan aku merasa seperti robot, badan kaku semua.
Setelah melewati proses pengobatan selama kurang lebih tiga minggu, dokter mendiagnosaku sebagai orang dengan skizofrenia. Kau tahu apa pertama kali yang muncul dipikiran aku? “Betapa keren nama penyakitku ini.” Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendapat obat untuk 10 hari dan kembali lagi untuk kontrol. Setelah kontrol selesai, satu hari sebelum puasa, aku diantarkan pulang ke Mojokerto oleh Bagong, Daryanto, dan Ronggo. Orang tua sangat terkejut melihat kondisiku, ibuku berkata bahwa aku tidak seperti diriku sebelumnya, pandangan mata sayu dan fisik yang tidak normal-bergerak seperti robot.
Selama bulan puasa aku minum obat sebelum sahur dan saat berbuka, secara rutin tanpa putus. Setiap jam 9 pagi, ditemani ibuku, aku keluar rumah untuk bergerak, menghirup udara pagi dan yang paling penting adalah terkena sinar matahari. Orang tuaku meyakini bahwa dengan terpapar sinar matahari bisa membantu proses penyembuhan lebih cepat.
Setelah hari raya, Ibuku bercerita bahwa dulu setelah melahirkan kakakku yang pertama sekitar tahun 90-an, pernah mengalami gangguan mental. Mungkin orang sekarang menyebutnya sebagai baby blues syndrome. Di lain kesempatan, Bapak bercerita bahwa saat itu belum ada psikiater di kota kecil kami, adanya dokter umum. Ibuku diberi obat untuk meredakan gejala gangguan kesehatan mentalnya, tetapi ia memutuskan untuk tidak lagi minum obat. Dengan tetap hidup bersosial, bertemu dengan teman-temannya, berangsur-angsur keadaannya membaik. Sampai saat ini penyakit Ibu tidak pernah kambuh. Bapak dan Ibu memintaku untuk tidak meminum obatnya, diganti dengan minum degan ijo atau kelapa wulung saja.
Suatu ketika kawanku KKN menjenguk di rumah, Cahyo beserta istrinya dan Puput memberiku motivasi. Selain itu ada tukang pijit yang memberi saran untuk mandi wuwung-mandi jam 5 pagi sisa air bak semalam. Setelah beberapa hari tidak minum obat dan memilih untuk minum degan ijo, keajaiban Tuhan datang padaku. Aku tidak tahu mana yang menjadi lantaran aku sembuh. Tiba-tiba aku kembali seperti semula, bisa bergerak normal tidak seperti robot, dan wajah yang memancarkan kecerahan. Di situlah aku memutuskan tidak minum obat lagi. Aku takut ketergantungan terhadap obat, dan masih denial bahwa kejadian kemarin adalah faktor obat (Ibuprofen) dan kopi yang aku minum sehari sebelum kejadian.
Setelah kembali ke kantor, aku belum dilibatkan dalam pekerjaan berat seperti pendampingan di lapangan. Orang-orang masih takut untuk melepaskanku kembali bekerja seperti dulu. Singkat cerita, Februari-Juni 2023 aku mulai turut dalam kegiatan pemetaan di Klaten. Kepercayaan diriku muncul kembali, aku bisa melakukan tanggung jawab yang diberikan. Mulai cukup nyaman aku di sana. Rentang bulan tersebut, aku berkonsultasi dengan seorang hipnoterapi untuk mengatasi masalahku. Selang beberapa waktu itu juga aku meminta tolong kepada teman untuk menjadi Caregiver-orang yang merawat orang lain yang memiliki keterbatasan untuk merawat diri sendiri, baik sebagian atau keseluruhan, karena keterbatasan fisik atau mental. Hal ini aku lakukan karena melihat informasi di internet bahwa Skizofrenia bisa kambuh sewaktu-waktu.
Sekitar awal Juli 2023 aku dipindahkan ke Wonosobo, aku sangat ingin ke sana membantu kegiatan teman-teman di kantor cabang tempatku bekerja. Ada salah satu senior yang aku rasa cukup dekat dan itu menjadi alasanku mau dipindahkan ke sana. Aku merasa sudah baik-baik saja saat itu. Namun, akhirnya nasib berkata lain, hampir masuk akhir Agustus, seniorku diterima di Bawaslu Pekalongan. Aku mendapatkan limpahan pekerjaan yang ditinggalkannya. Aku juga merasa seperti ditinggalkan begitu banyak masalah. Awalnya aku menerima dengan lapang dada, namun entah kenapa ada perasaan yang begitu mengganjal dan terpendam.
Singkat cerita, seperti menyimpan bom waktu, kemarahanku meledak saat aku berada di kantor pusat pada 24 November 2023. Dengan sangat sadar, semua orang yang mendekat kumaki-maki, aku seperti menjadi orang lain, atau ini memang diriku yang lain. Saat itu, ada dua temanku namanya Imam Fathori alias Bejo dan Hanung. Mereka menjadi saksi dari beberapa hari sebelum kejadianku kambuh, hingga aku dibawa ke RSJD Surakarta untuk kedua kalinya,
Sebelum kambuh, aku seperti sudah memprediksi akan kembali ke RSJD lagi. Walaupun digiring secara paksa, dengan tangan diborgol, aku masuk ke dalam mobil. Jika Bejo tidak meredam amarahku dengan ikut masuk ke mobil, aku mungkin akan melakukan perlawanan yang brutal.
Aku masuk kembali ke RSJD dengan kesadaran penuh, dalam arti menerima bahwa memang kondisiku tidak baik-baik saja. Sangat berbeda dengan kejadian yang pertama. Di bangsal perawatan hampir setiap hari aku berkaraoke, menghibur pasien lain dan juga mantri jiwa-perawat. Aku minum obat dengan teratur, berkomunikasi dengan mahasiswa magang, membantu pasien lain yang kondisinya lebih parah dariku, dan konsultasi dengan dokter.
Setelah dirawat selama 3 minggu, diagnosa dokter adalah Bipolar, berbeda dengan dokter yang kejadian pertama. Implikasinya obat yang aku minum berbeda dengan obat yang dulu tahun 2022 diberikan. Sampai detik ini aku berusaha untuk minum obat dengan rutin, kontrol setiap bulan ke RSJD, dan menjaga diri untuk tidak kambuh lagi. Kambuh ternyata merepotkan banyak orang, dan aku membenci itu.
Isu kesehatan mental mungkin masih menjadi hal yang dianggap tidak penting dan belum dipahami oleh banyak orang. Keterbatasan pengetahuan dan stigma soal orang dengan gangguan jiwa sama dengan ‘gila’ masih mengakar kuat yang menjadi penyebabnya. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “mengapa aku mengalami ini?” Ternyata, setiap orang, siapapun itu bisa mengalaminya. Setidaknya, semoga tulisan ini bisa menggerakkan orang lain untuk tertarik dengan isu kesehatan mental. Sehat secara fisik belum tentu dibarengi dengan sehat jiwa, maka mari bersama-sama untuk aware dengan masalah ini. Salam sehat jiwa.
Palur, 2024
M.A. Edpe
Leleki sederhana penikmat gerimis dan suka bernyanyi.
























