Curhat

Lorong Kesadaran

Curhat M.A. Edpe

Jika aku mengaku sebagai seorang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), apakah kalian percaya? Mungkin sebagian orang tidak akan percaya bahwa aku adalah bagian dari mereka. Dilihat dari ciri fisikku yang terlihat seperti orang pada umumnya, bisa berkomunikasi dengan cukup baik, serta pakaian yang tidak compang-camping seperti ODGJ yang sering berkeliaran di jalanan. Sebelum aku bercerita tentang pengalaman sebagai ODGJ, aku ingin menjelaskan sedikit tentang disabilitas mental.

Menurut undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disabilitas mental merupakan gangguan fungsi pengendalian emosi dan atau perilaku. Dikutip dari Halodoc, gangguan kesehatan mental merupakan gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi pola pikir, emosi, dan perilaku seseorang. Menurut WHO (2022), gangguan kesehatan mental dicirikan dengan kondisi kombinasi abnormal pada pikiran, emosi, perilaku dan hubungan dengan orang lain. Contohnya adalah gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan stress pascatrauma, skizofrenia, gangguan makan, perilaku mengganggu dan gangguan disosialisasi, serta gangguan perkembangan saraf.

Akhir bulan Februari tahun 2022, beberapa hari menjelang ulang tahun ke 27, aku menunjukkan gejala yang tidak normal. Hampir satu hari penuh tidak tidur, emosi yang tidak terkontrol, bicara yang tidak runut dan terstruktur, serta mengalami delusi. Saat itu aku di basecamp, tempat tinggal yang disediakan oleh tempat kerjaku di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Surakarta. Hari itu seakan melambat bagi teman-teman yang datang ke sana, sebab harus menghadapi kelakuan tak wajarku. Dariyanto, Wachid, dan Maulana adalah saksi hidup yang melihat serta menceritakan padaku setelah beberapa bulan.

Bagong dan Ronggo datang malam hari ke basecamp untuk melihat kondisiku, mereka datang setelah ditelepon oleh Daryanto. Setelah ajakan yang cukup alot, akhirnya malam dini hari di awal Maret, aku mau dibawa ke Solo, alasannya jalan-jalan.  Aku baru tahu saat tiba di lokasi bahwa aku dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta. Spontan aku mengucap, “Jancok, aku dibawa ke RSJ, dikira aku gendeng!”

Menurut penuturan Ronggo, Aku tidak bisa masuk menjadi pasien saat itu karena bukan keluarga yang membawa ke sana. Peraturan mewajibkan untuk mendapatkan rekomendasi dari salah satu keluarga agar aku bisa dirawat inap. Akhirnya aku hanya diberi obat penenang dan dibawa ke kantor yang letaknya di Karanganyar.

Sempat dapat beristirahat sejenak, gejala yang aku alami di Klaten kembali lagi, meracau tidak jelas, membuat keributan di kantor. Ada beberapa bagian cerita yang tidak aku ingat, semuanya blank. Menurut cerita bosku, seorang praktisi kesehatan mental kenalan dari bosku didatangkan. Ia mengajak berbicara dan menemani apapun kegiatan yang aku lakukan. Dari hasil pengamatannya dan persetujuan keluargaku, akhirnya aku dirujuk ke RSJD Surakarta. Hari-hari berat harus kulalui di sana, tiga kali sehari harus minum obat dan tidak boleh dijenguk karena masih waspada dengan pandemi Covid. Bahkan aku merasa seperti robot, badan kaku semua.

Setelah melewati proses pengobatan selama kurang lebih tiga minggu, dokter mendiagnosaku sebagai orang dengan skizofrenia. Kau tahu apa pertama kali yang muncul dipikiran aku? “Betapa keren nama penyakitku ini.” Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendapat obat untuk 10 hari dan kembali lagi untuk kontrol. Setelah kontrol selesai, satu hari sebelum puasa, aku diantarkan pulang ke Mojokerto oleh Bagong, Daryanto, dan Ronggo. Orang tua sangat terkejut melihat kondisiku, ibuku berkata bahwa aku tidak seperti diriku sebelumnya, pandangan mata sayu dan fisik yang tidak normal-bergerak seperti robot.

Selama bulan puasa aku minum obat sebelum sahur dan saat berbuka, secara rutin tanpa putus. Setiap jam 9 pagi, ditemani ibuku, aku keluar rumah untuk bergerak, menghirup udara pagi dan yang paling penting adalah terkena sinar matahari. Orang tuaku meyakini bahwa dengan terpapar sinar matahari bisa membantu proses penyembuhan lebih cepat.

Setelah hari raya, Ibuku bercerita bahwa dulu setelah melahirkan kakakku yang pertama sekitar tahun 90-an, pernah mengalami gangguan mental. Mungkin orang sekarang menyebutnya sebagai baby blues syndrome. Di lain kesempatan, Bapak bercerita bahwa saat itu belum ada psikiater di kota kecil kami, adanya dokter umum. Ibuku diberi obat untuk meredakan gejala gangguan kesehatan mentalnya, tetapi ia memutuskan untuk tidak lagi minum obat. Dengan tetap hidup bersosial, bertemu dengan teman-temannya, berangsur-angsur keadaannya membaik. Sampai saat ini penyakit Ibu tidak pernah kambuh. Bapak dan Ibu memintaku untuk tidak meminum obatnya, diganti dengan minum degan ijo atau kelapa wulung saja.

Suatu ketika kawanku KKN menjenguk di rumah, Cahyo beserta istrinya dan Puput memberiku motivasi. Selain itu ada tukang pijit yang memberi saran untuk mandi wuwung-mandi jam 5 pagi sisa air bak semalam. Setelah beberapa hari tidak minum obat dan memilih untuk minum degan ijo, keajaiban Tuhan datang padaku. Aku tidak tahu mana yang menjadi lantaran aku sembuh. Tiba-tiba aku kembali seperti semula, bisa bergerak normal tidak seperti robot, dan wajah yang memancarkan kecerahan. Di situlah aku memutuskan tidak minum obat lagi. Aku takut ketergantungan terhadap obat, dan masih denial bahwa kejadian kemarin adalah faktor obat (Ibuprofen) dan kopi yang aku minum sehari sebelum kejadian.

Setelah kembali ke kantor, aku belum dilibatkan dalam pekerjaan berat seperti pendampingan di lapangan. Orang-orang masih takut untuk melepaskanku kembali bekerja seperti dulu. Singkat cerita, Februari-Juni 2023 aku mulai turut dalam kegiatan pemetaan di Klaten. Kepercayaan diriku muncul kembali, aku bisa melakukan tanggung jawab yang diberikan. Mulai cukup nyaman aku di sana. Rentang bulan tersebut, aku berkonsultasi dengan seorang hipnoterapi untuk mengatasi masalahku. Selang beberapa waktu itu juga aku meminta tolong kepada teman untuk menjadi Caregiver-orang yang merawat orang lain yang memiliki keterbatasan untuk merawat diri sendiri, baik sebagian atau keseluruhan, karena keterbatasan fisik atau mental. Hal ini aku lakukan karena melihat informasi di internet bahwa Skizofrenia bisa kambuh sewaktu-waktu.

Sekitar awal Juli 2023 aku dipindahkan ke Wonosobo, aku sangat ingin ke sana membantu kegiatan teman-teman di kantor cabang tempatku bekerja. Ada salah satu senior yang aku rasa cukup dekat dan itu menjadi alasanku mau dipindahkan ke sana. Aku merasa sudah baik-baik saja saat itu. Namun, akhirnya nasib berkata lain, hampir masuk akhir Agustus, seniorku diterima di Bawaslu Pekalongan. Aku mendapatkan limpahan pekerjaan yang ditinggalkannya. Aku juga merasa seperti ditinggalkan begitu banyak masalah. Awalnya aku menerima dengan lapang dada, namun entah kenapa ada perasaan yang begitu mengganjal dan terpendam.

Singkat cerita, seperti menyimpan bom waktu, kemarahanku meledak saat aku berada di kantor pusat pada 24 November 2023. Dengan sangat sadar, semua orang yang mendekat kumaki-maki, aku seperti menjadi orang lain, atau ini memang diriku yang lain. Saat itu, ada dua temanku namanya Imam Fathori alias Bejo dan Hanung. Mereka menjadi saksi dari beberapa hari sebelum kejadianku kambuh, hingga aku dibawa ke RSJD Surakarta untuk kedua kalinya,

Sebelum kambuh, aku seperti sudah memprediksi akan kembali ke RSJD lagi. Walaupun digiring secara paksa, dengan tangan diborgol, aku masuk ke dalam mobil. Jika Bejo tidak meredam amarahku dengan ikut masuk ke mobil, aku mungkin akan melakukan perlawanan yang brutal.

Aku masuk kembali ke RSJD dengan kesadaran penuh, dalam arti menerima bahwa memang kondisiku tidak baik-baik saja. Sangat berbeda dengan kejadian yang pertama. Di bangsal perawatan hampir setiap hari aku berkaraoke, menghibur pasien lain dan juga mantri jiwa-perawat. Aku minum obat dengan teratur, berkomunikasi dengan mahasiswa magang, membantu pasien lain yang kondisinya lebih parah dariku, dan konsultasi dengan dokter.

Setelah dirawat selama 3 minggu, diagnosa dokter adalah Bipolar, berbeda dengan dokter yang kejadian pertama. Implikasinya obat yang aku minum berbeda dengan obat yang dulu tahun 2022 diberikan. Sampai detik ini aku berusaha untuk minum obat dengan rutin, kontrol setiap bulan ke RSJD, dan menjaga diri untuk tidak kambuh lagi. Kambuh ternyata merepotkan banyak orang, dan aku membenci itu.

Isu kesehatan mental mungkin masih menjadi hal yang dianggap tidak penting dan belum dipahami oleh banyak orang.  Keterbatasan pengetahuan dan stigma soal orang dengan gangguan jiwa sama dengan ‘gila’ masih mengakar kuat yang menjadi penyebabnya. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “mengapa aku mengalami ini?” Ternyata, setiap orang, siapapun itu bisa mengalaminya. Setidaknya, semoga tulisan ini bisa menggerakkan orang lain untuk tertarik dengan isu kesehatan mental. Sehat secara fisik belum tentu dibarengi dengan sehat jiwa, maka mari bersama-sama untuk aware dengan masalah ini. Salam sehat jiwa.

Palur, 2024

M.A. Edpe

Leleki sederhana penikmat gerimis dan suka bernyanyi.

Curhat

Bermain Korek Api

Curhat Dhatu Jenar

Hari ini, setelah lebih dari 14 hari usai membaca satu tulisan di kolom Curhat media sastra Nomina, aku memutuskan menulis juga. Bagiku, iming-iming dari redaktur: apresiasi karya hanyalah “pemuatan”, sangat keren. Bagaimana tidak, aku bisa bercerita tentang apa pun: yang kulihat, kurasa, kupikir, bahkan kulakukan, tanpa harus terselip beban bahwa tulisanku haruslah “nyastra”. Jadi, meski karyaku belum tentu lolos kurasi, rasanya bukan hal berlebihan jika aku tetap ingin menyampaikan terima kasih kepada redaktur. Bilik khusus yang sengaja diciptakan ini, sangat berarti bagi orang berkebutuhan khusus sepertiku, perempuan pendiam yang tak mudah percaya orang lain, tapi ingin tetap waras.

Sebelum mulai, aku akan membuat sebuah pengakuan: nama yang kucantumkan hanyalah nama samaran. Jika hal itu tidak dianggap penting, tidak apa-apa. Menurutku, ini adalah cara menghargai diriku, juga menghargai siapa saja yang kelak membaca ceritaku. Kuharap, hal itu bisa dimaklumi. Aku akan mudah bercerita setelahnya, seperti merasa tidak berdosa karena itu.

Lima hari lagi, aku akan bertunangan. Lalu, sebulan setelahnya, aku akan menikah. Menurut teman-teman dan keluarga, aku termasuk perempuan beruntung. Di usiaku yang ke-25, aku sudah menyandang gelar magister dan langsung diminta bekerja sebagai dosen di kampusku dulu. Pria yang akan menikah denganku juga pacar yang telah membersamaiku sejak 5 tahun lalu. Bisa dibilang, kami berdua telah mapan dan dianggap siap untuk berumah tangga. Terlihat cukup menyenangkan, bukan? Sepertinya begitu, jika saja tadi sore aku tidak bertemu dengan R, lelaki yang dulu pernah sangat kusayangi, jauh sebelum aku mengenal pacarku.

Kata orang, sebelum menikah, orang-orang di masa lalu akan hadir kembali untuk menguji seberapa tangguh dirimu. Mungkin memang tidak bermaksud merusak sebuah hubungan, tapi bagi jiwa yang lemah sepertiku, hal itu bisa sangat mengganggu, bahkan berhasil membuatku sempat berpikir ulang. Apakah keputusanku untuk segera menikah sudah tepat? Ah, sepertinya aku memang sedang benar-benar diuji. Aku selemah itu. Sampai-sampai cinta pertamaku saat SMA, berhasil membuat perasaanku berantakan.

Sore tadi, sepulang mengajar, aku menyempatkan mampir ke kafe tidak jauh dari kampus. Sembari menunggu pesanan kopi dan croissant-ku diantar, aku menekuri ponsel di tangan. Seseorang mendekat dan memanggil namaku. Aku ingat suara itu, bahkan selama beberapa detik aku belum berani mengangkat wajah untuk memastikan siapa pemilik suara itu.

“Ya, aku tidak salah. Tentu saja itu kamu,” katanya lagi.

Meski jantungku barusaja berhenti, dan kini mulai memompa jauh lebih cepat dari sebelumnya, aku memantapkan hati menatap wajahnya. Benar, dia R, lelaki yang pernah meninggalkanku pergi begitu saja. Jarak. Sesuatu yang sejak diperkenalkan R padaku, sejak itu pula aku menjadi sangat membencinya.

“Apa kabar?” tanya R basa-basi. Atau memang bukan sekadar basa-basi. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, tentu saja pertanyaan itu sangat wajar terlontar. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

R bercerita panjang tentang kegiatannya saat ini. Ia memutuskan pulang dari luar negeri, dan menggunakan tabungannya untuk membangun perusahaan miliknya sendiri. Rupanya ia sudah hampir setahun di kota ini, tapi Tuhan baru mempertemukan kami sekarang. Betapa ajaibnya. Termasuk reaksi tubuhku terhadap R. Suaranya membuatku seolah kembali ke masa itu. Masa-masa di mana aku menghabiskan tiga tahun belajar di SMA dengan penuh warna.

Seorang waitress mendekat, meletakkan pesananku di atas meja. Membuyarkan lamunan yang sempat membawaku seperti jet, kembali dari masa lalu. Aku menawarkan R untuk memesan sesuatu, tapi ia tolak. R menjelaskan kalau barusaja ia selesai meeting bersama klien.

“Lama sekali ya kita nggak ketemu? Kamu masih tetap sama seperti dulu. Irit bicara.” R berkomentar sembari mengeluarkan tumbler hijau tua dari dalam tasnya.

Ya Tuhan, tumbler itu pemberianku. Apa yang ada di pikiran lelaki itu dengan masih menyimpannya, bahkan tetap menggunakannya. Aku merutuki diriku sendiri karena menganggapnya istimewa. Bisa saja tumbler itu hanya mirip. Lagipula barang itu bukan sesuatu yang eksklusif, hingga hanya aku saja yang pernah memilikinya untuk kuberikan pada R.

“Awet ya, ini tumbler pemberianmu,” kata R usai meneguk sedikit air dari tumbler.

“Kenapa kamu masih menyimpannya?” tanyaku yang sesaat kemudian kusesali. Seharusnya aku tidak perlu membahas sesuatu yang sangat sentimentil begini.

“Tidak hanya tumbler, hampir semua barang pemberian darimu masih kusimpan. Termasuk kenangan-kenangan bersamamu.”

Nah, kan. Mampuslah aku yang tidak bisa menutupi rasa canggung. Lelaki itu memang benar-benar membuatku tidak nyaman. Beruntung ponselnya tiba-tiba berdering, jadi aku bisa sedikit leluasa untuk menguasai perasaan dan diriku kembali. Setelah R mengakhiri telepon, buru-buru dia pamit karena harus segera kembali ke kantornya. Ia juga mengatakan kalau akan menghubungiku lagi nanti.

Sesampainya di rumah, grup WhatsApp alumni SMA yang sebelumnya kuarsipkan, kini kembali kubuka. Aku tidak berminat untuk menyimak ribuan percakapan yang selama ini terlewat kuikuti. Entah, aku hanya tiba-tiba ingin mencari nomor kontak R. Berhasil. Aku menemukannya. Cukup lama aku hanya memandangi jendela chat kosong tanpa percakapan itu. Hingga tiba-tiba terlihat keterangan “mengetik”, membuatku terkejut dan buru-buru keluar dari beranda chat kontaknya.

Hai, sudah sampai rumah?

Kuharap kita bisa bertemu lagi besok sore di kafe.

R

Aku tidak langsung membuka pesannya. Hanya membaca lewat notifikasi yang sempat terbaca. Ini benar-benar konyol. Aku salah tingkah. Perasaanku tidak keruan. Ada rasa senang, sekaligus bimbang. Merasa ada sesuatu di masa lalu yang belum benar-benar tuntas. Ada hal yang ingin kupastikan, dan rasa penasaran itu tidak bisa kukendalikan.

Foto pacarku muncul di layar. Setelah dering ke-3, aku menjawab panggilannya. Dia mengingatkanku untuk menemaninya ke rumah eyang sepulang kerja. Sejenak aku berpikir.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya pacarku.

“Ah iya, aku lupa. Apakah bisa lusa saja? Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku agar bisa tenang menjalani cuti,” jawabku berbohong. Ini adalah kali pertama aku membohonginya. Bodohnya, hanya karena terngiang pesan R yang sempat kubaca tadi. Aku cemas menunggu respons pacarku. Ketika dia tidak mempermasalahkan, aku menjadi sangat lega. Lalu dia pun mengakhiri telepon sesaat setelah mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku membalasnya dengan kalimat yang sama.

Setelah itu, aku kembali membuka pesan WhatsApp. Tanpa ragu aku membuka pesan R, lalu mengetik sebuah balasan, Oke. Sampai jumpa besok sore. Usai menekan tombol kirim, aku meletakkan ponsel di atas nakas. Apakah aku jahat? Apakah ini termasuk sebuah pengkhianatan? Jika benar begitu, bolehkah aku khilaf sekali saja? Aku benar-benar merasa perlu untuk menyelesaikan masa laluku. Hanya itu. Aku yakin hanya akan seperti itu. Tidak lebih.

Aku meraih kembali ponselku. Mencari kontak pacarku dan mengetik sebuah pesan untuknya, Sayang, izinkan aku selingkuh sekali saja, ya? Ada sesal di hatiku. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Setelah membaca berulang kali pesan itu, aku memutuskan untuk menghapusnya. Meletakkan ponselku di atas nakas, lalu menuju kamar mandi. Berharap guyuran air dingin akan mengembalikan kesadaranku.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.

Ragam

JANJI DAN SELERA

Sabtu, bukan hari yang istimewa bagi orang yang tidak bekerja. Aku tidak bakal menerima gaji. Aku tak mengalami “liburan” setelah setiap hari libur. Hari-hari yang bernama tapi sering biasa-biasa saja. Sabtu, 26 Oktober 2024, aku masih di rumah: membuka buku-buku lawas dan mengetik tulisan yang ditakdirkan tidak bermutu, yang hanya dijanjikan mendapat sebelas pembaca sepanjang masa. Namun, aku belum ingkar janji untuk menulis hal-hal yang tidak bermutu, yang tidak dikehendaki langit dan bumi.

Mengetik itu membutuhkan kekuatan tapi tidak seperti penanam padi, pemasang bata, atau penyapu jalanan. Aku pun berkeringat, yang dijawab dengan minum air putih beberapa gelas. Pernah terpikirkan: makanan dan minuman menentukan mutu tulisan yang sedang diketik. Pagi, aku sarapan berisi nasi, sayur sop, dan tempe. Makanan yang cukup memberi kekuatan. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Maka, aku mengetik dan mengutip kalimat-kalimat dari buku lama, buku-buku yang makin kehilangan pembaca.

Pagi, jadilah satu tulisan yang berjudul “Irama (Sejarah) 1928”. Hari agak siang, aku tidak ingin menghabiskan kekuatan sarapan cuma dengan mengetik. Di atas Supra, aku menyerahkan diri kepada matahari. Di jalan, aku menyerap asap. Perjalanan, dari rumah menuju Gladag (Solo), memberi sedikit hiburan. Peruntungan tidak bisa ditebak bagi orang yang masih mau mendatangi buku-buku atau majalah-majalah lama. Perjalanan ke bacaan.

Pedagang-pedagang yang masih menata buku dan majalah. Ada yang sudah rampung, mengelap keringat. Ada yang duduk merasakan lelah, yang datangnya terlalu cepat saat hari belum siang sempurna. Aku berbincang dengan pedagang, yang baru saja terbangun dari tidur. Wajah yang lelah. Namun, ia mudah bergairah membagikan cerita-ceritanya pada masa lalu. Yang disampaikan padaku: peristiwanya mendapat sekarung dagangan yang menggemparkan. Ia mendapat buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan majalah-majalah masa pendudukan Jepang. Dagangan yang dibeli dengan harga murah. Yang dijual dengan harga berjuta-juta. Ia terlalu beruntung. Aku mendengarnya sambil melihat matanya yang berduit. Pembayangan saja gara-gara masa sekarang sulit mendapatkan dagangan yang “sakti” atau “bergizi”. Menjual buku atau majalah pun susah. Gladag yang makin sepi. Tempat itu murung seperti diriku yang sering murung.

Semula, aku berjanji hanya ingin melihat pemandangan buku dan majalah. Ikhtiar agar tidak mengikuti nafsu: insaf kondisi duit di kantong celana. Tiga kios berhasil didatangi dan ditinggalkan, tidak membeli apa-apa. Mataku sudah senang memandang. Tanganku telah bergirang dengan sentuhan-sentuhan.

Di kios berikutnya, aku menyerah. Nafsu itu membara ketimbang sinar matahari yang menerobos kios-kios. Pedagang yang terlalu bersemangat menawarkan dagangan. Ia mengabarkan ada majalah-majalah Concept. Aku mengetahui itu majalah unik. Perayaan desain! Gagal membeli empat majalah Concept. Yang tiba-tiba terjadi adalah tumpukan tiga bundel majalah. Bundel masih menyisakan tanah-tanah mengering.

Aku membukanya sejenak. Mata lekas sadar. Wah, majalah berselera! Maksudku, yang ada di hadapanku adalah beberapa edisi majalah Selera masa 1980-an. Aku harus memilikinya. Aku ingin membawanya pulang. Beberapa hari sebelumnya, aku sudah menumpuk puluhan buku lawas bertema pangan (makanan). Niatku membuat ratusan tulisan bertema pangan mengikuti arus kekuasaan Prabowo-Gibran. Penguasa yang memerintahkan pemberian makanan bergizi gratis untuk jutaan orang di Indonesia, yang bakal membuat pengeluaran besar: triliunan.

Selera, majalah yang wajib dibaca dan digunakan dalam menghasilkan tulisan-tulisan. Dulu, majalah itu diterbitkan di naungan Gramedia. Aku sudah memiliki puluhan edisi, sejak beberapa tahun lalu. Majalah yang apik pada masanya, yang tidak dapat berumur panjang. Yang diulas dalam majalah adalah upaboga. Aku senang dengan pengisahan para tokoh dan makanan. Ada rubrik kebahasaan. Yang tidak boleh dilewatkan kehadiran cerita pendek bertema pangan, yang sering tampil adalah gubahan SNG. Sosok yang menjadi pemimpin redaksi Selera, yang rajin menulis cerita.

Aku pun memiliki buku-buku SNG, yang mendokumentasi resep-resep makanan warisan keluarga besar RA Kartini. Ada juga buku besar mengenai upaboga, yang bersifat ensiklopedia. Buku kumpulan cerita pendek juga sudah aku khatamkan. SNG, sosok yang membuatku penasaran: ingin mengetahui biografinya. Yang ingin aku tulis tentu predikatnya sebagai pengarang “kuliner” yang tekun dan istikomah di Indonesia. Nama yang belum sering diulas atau digosipkan dalam sastra Indonesia.

Aku membatin perkiraan harga tiga bundel majalah Selera. Suami-istri yang menunggu kios itu malah ribut. Mereka rapat dulu dalam penentuan harga. Wajahku menunduk merasa takut harga bakal mahal. Rapat itu berbahaya! Sekian detik berlalu. Harga sudah ditentukan dengan mufakat tak boleh ada bantahan atau interupsi. Rapat yang sederhana dibandingkan rapat di gedung parlemen atau istana kepresidenan. Yang diucapkan: 20 ribu tiap bundel. Tuhan, telingaku tak salah dengar. Aku bersumpah tidak menawar.

Selembar merah diberikan dengan tangan yang agak gemetaran. Pedagang yang wajahnya semringah. Menanti uang pengembalian. Pedagang itu menawarkan untuk membersihkan tanah-tanah yang menempel di bundel majalah. Aku bilang tidak usah. Namun, ia tetap membersihkan: tanda syukur mendapatkan rezeki. Aku malah kalah dalam bersyukur. Seharusnya, aku yang lebih bersykur. Ia berkata: tiga bundel itu diperoleh pagi. Hari agak siang sudah terbeli olehku. Pedagang yang merasa senang, tidak perlu menunggu waktu seribu hari untuk mendapatkan untung. Pasti harganya murah saat ia membeli di penampungan rongsok atau bakul bronjongan. Namun, aku yang sesumbar bahwa harga yang diberikan itu (terlalu) murah untuk aku bisa membaca dan memenuhi janji membuat ratusan tulisan.

Siang itu aku berkeringat dan kecut. Hariku berselera! Aku tak bakal malu dengan kemproh dan kecut. Di kresek besar, tiga bundel Selera menjanjikan hari-hariku berpikiran mengikuti lakon besar makanan bergizi gratis di Indonesia. Aku tidak lekas pulang, mampir dulu bertemu dan belajar bareng murid-murid SMP. Di situ, aku sedikit berkelakar tentang makanan, yang memberi hukuman-hukuman besar dalam kehidupan. Makanan yang dianggap menghidupkan justru mematikan. Kelakar yang keji tapi para remaja itu segera paham tentang dampak-dampak industri makanan mutakhir.

Di rumah, aku bergairah membaca pengalaman makan Sutan Takdir Alisjahbana, JS Badudu, dan Umar Kayam. Aku membaca lomba mengenai padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk kata-kata asing dalam pangan atau gastronomi. Di situ, ada juri yang dikenal sebagai pakar bahasa Indonesia: Anton M Moeliono.

Yang membuatku sedih: pengalaman makan terbatas. Aku jarang mengetahui warung atau restoran. Sejak lama, aku takut jajan atau ngiras. Padahal, halaman-halaman Selera mengajak pengembaraan upaboga di pelbagai pulau di Nusantara. Godaan mengetahui upaboga di dunia.

Majalah yang wajib dipelajari dan dikoleksi. Aku yakin banyak orang yang akan tercengang atau geleng-geleng kepala membaca pengetahuan upaboga-gastronomi-kuliner-pangan yang termuat dalam Selera. Bacaan yang benar-benar berselera, berbeda dengan jengkelku mengetahui acara-acara kuliner di televisi dan persaingan orang makan di media sosial. Berjumpa dan membaca Selera membuat murung mungkin berkurang tiga derajat.I Kabut

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Seblak Sublimasi

pada tepian jalan dekat toko swalayan
kerumunan adalah antidot kesepian urban

teramat dingin diabaikan oleh kenyataan
percakapan sengit dilakukan dalam genggaman

lalu dicarilah sekelumit letup kehangatan
alibi lepas dari kejaran segepok persoalan

bertemulah pada sebuah warung seblak
barangkali jadi awalan bekal buat tergelak

dalam panas minyak goreng curah
segala yang keras akan luluh pasrah

bawang merah bawang putih pun akur
berjumpa dan sepakat untuk melebur

kemiri daun bawang dan cabai rawit
aduk pelan pelan melupakan rasa sakit

ditambah gelegak didih air meletuk
kerupuk pun lunglai kehilangan keriuk

sawi mi makaroni baso dan sosis
tipis celoteh kadang sanggup mengiris

bisa juga tambahkan sepasang ceker
mesti cermat agar cinta tak mudah tercecer

paduan aroma kencur dan kenyal telur
jadi bagian dari resep memanjangkan umur

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024


Apologia Jelaga

saat terjaga dari himpitan malam
ingin  dia tulis sajak tentang tuhan
tetapi kata-kata berjalan pada hampar
basah dan telanjang

lalu pertanyaan tentang cinta
menjelma antologi nonsens
yang sasar pada geletar

entah di mana kalam
yang ada kenyal kelam di semak liar
pengakuannya hari ini seonggok hambar

Bekasi, 30 Maret 2024 


Sajak Dinding Kamar

ia begitu keras dan dingin
dengan ketebalan disepuh waktu
dan tafsir yang kirimkan lembap
menampung nyanyian mimpi

ia pun rajin merekam kejadian
pertempuran di atas ranjang
geliat pemikiran dan ideologi
pergulatan tindih dan silang
pertukaran rintih dan riang
kata kata berpilin dalam kepalan
setiap pergerakan disulut saat remang

lalu ia membaca percikan memanjang
menderetkan kumpulan teriakan
suara suara yang kemarin tertahan
di pedalaman dinding kamar
menjelma ledakan ledakan di halaman koran

Bekasi, 30 Maret 2024 


Laki Laki dan Perempuan

seorang laki laki terburu buru
nyalakan cinta dari matanya yang gelap
untuk dunia yang tak dipahaminya

seorang perempuan diam diam
sembunyi di balik mulutnya yang amat sepi
telah siapkan liang jebakan begitu rapi

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024 


Alarm Jam 3 Dini Hari

kau matikan bunyi alarm itu
yang sebenarnya tadi kau tunggu
kau pun menggerutu: ah itu lagu
mengganggu komposisi mimpiku

kau ingin sembahyang dan berdoa
tapi kau urungkan karena belum mandi besar
sehabis berjam jam bersenggama
dengan sajak sajak yang sintal dan liar

kau pijat sendiri kepalamu di atas telinga
masih ada sisa cenut cenut dari lenguh kata
lah, buat apa aku bengong terjaga jam segini
kalau hanya bisa mengencani sepi

Tangsel, 21 Mei 2024 


Budhi Setyawan, atau Buset, seorang dosen yang menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi. Buku puisi terbarunya Elegi Elegi Yogya (2024). Instagram: busetpurworejo

Ragam

SRIWEDARI: BUKU DAN MATAHARI

Ibu-ibu termangu bersama buku-buku. Teater perbukuan tersaji Senin, 21 Oktober 2024, saat siang makin garang. Aku di situ pukul 1 siang. Berjalan dengan tubuh berkeringat dan kecut. Tatapan mata yang lekas menimbulkan prihatin.

Aku tak ingin sendu tapi buku-buku itu membisu, tak berucap nasib atau memberi marah-marah mumpung Indonesia memiliki presiden baru. Para ibu di puluhan kios pun mustahil berharap pembentukan “menteri perbukuan” di Indonesia. Mereka yang sebentar lagi menyerang, yang akan meninggalkan kios dan bercerai dari buku-buku tak pernah terjanjikan menemukan pembaca.

Jika bisa berbahasa Inggris, siang itu aku ingin berjalan dan menyapa mereka diselingi lagu Sting yang berjudul The Book of My Life. Lagu yang mengandung masalah biografi, bukan perdagangan buku atau orang yang meratap setelah dikutuk buku selama belasan tahun. Telingaku kadang menikmati lagu Bernadya, yang mengungkapkan diri, asmara, dan buku.

Aku yang masih bernapas dengan ribuan buku sadar bakal sekarat dan sia-sia. Aku tidak pernah mampu berkisah seperti Sting atau mengandaikan nasib tokoh dalam lagu Bernadya. Nasibku mungkin buruk ketimbang para pedagang buku di kios-kios belakang Stadion Sriwedari, Solo. Siang yang memiliki 12 matahari tidak memberi kabar baik untuk para pedagang buku, yang berada di seberang semringah tokoh-tokoh diangkat menjadi menteri, yang mengumbar mimpi di Jakarta.

Hari itu aku sekadar ingin memberi sapaan, sebelum berita duka dan kecewa beralamat di Sriwedari. Beberapa tahun lagi, nostalgia dan doa terucap merujuk Sriwedari. Pada suatu hari, aku mungkin enggan menjadi pendoa. Biografi ada di situ. Aku pernah menjadi pendoa sepanjang jalan saat meninggalkan rumah menuju Sriwedari. Yang teringat: aku mendapat Jejak Langkah, Bacaan Mulia, Max Havelaar, dan lain-lain di Sriwedari. Dulu, aku datang sebagai remaja berusia 17 tahun. Kini, usiaku 43 tahun yang terengah-engah untuk bernapas dengan buku-buku dan biasa bermimpi buruk setelah khatam buku-buku.

Di kios memamerkan buku-buku sedikit dan berdebu, aku menemukan buku merah. Yang terbaca di sampul: Tentang Bermain Drama. Buku disusun Rendra, yang diterbitkan Pustaka Jaya. Seingatku, aku membaca buku itu saat masih murid SMA. Lelaki bercelana abu-abu mulai suka menonton pementasan teater di TBJT (Solo) dan beberapa kampus. Buku persembahan Rendra itu sempat membuatnya ingin sibuk dalam teater. Maka, ia memang telanjur dalam teater sebagai aktor, penulis naskah, dan sutradara. Pada saat ngambek dan capek, ia memilih membuat resensi atau tulisan mengenai teater. Buku merah, buku yang membentuk si remaja perlahan mengerti teater atau seni.

Di kios berbeda, aku menyapa bapak yang pendiam. Wajah kalem dan cara duduk yang membuatku kagum. Pastilah ia tabah sebagai penunggu buku-buku yang sulit laku. Keringat mengalir di wajahku. Tanganku memegang buku kuning. Tampak gambar lelaki memegang dua wayang. Yang ingin terbeli adalah buku garapan Harun Hadiwijono berjudul Konsepsi tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa. Buku yang aku santap saat masih remaja. Pada awalnya, aku membaca buku-buku Niels Mulder yang membahas (kebatinan) Jawa dan Paul Stange. Dua buku Harun Hadiwijono aku baca agak serius meski aku tak menempuhi jalan kebatinan. Buku yang satu lagi mengaitkan Injil dan kebatinan (Jawa).

Pada saat mau membayar buku yang murah, mataku melihat punggung buku yang lusuh. Aku mudah membacanya dari jarak dua meter: Kumpulan Dongeng Binatang 1. Aku sudah memilikinya sejak lama, bersama buku-buku besar bergambar terbitan Gramedia masa lalu. Buku yang apik dan memikat. Aku meminta diambilkan gara-gara buku itu berada di tumpukan. Dua buku mendapat harga mufakat. Aku mengeluarkan selembar uang. Pada saat pedagang mencari uang kecil untuk kembalian, aku masih menggerakkan tangan membongkar tumpukan buku. Pembayaran selesai.

Berjalan mau pergi, aku iseng menanyakan buku merah berjudul Aporisma Kahlil Gibran. Buku kecil, yang bisa masuk saku dan enak di pegangan tangan. Sebenarnya, aku sudah mengoleksinya, sejak remaja. Masa silam yang membuatku menjadi pembaca buku-buku Kahlil Gibran edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan Bentang, Fajar Pustaka, Pustaka Pelajar, Pustaka Jaya, dan lain-lain. Indonesia masa 1990-an dan 2000-an dimanja Kahlil Gibran. Aku yang cukup lama terbuai Kahlil Gibran. Siang itu buku merah yang kecil boleh aku bawa setelah memberi uang lima ribu rupiah. Panasnya sinar matahari ingin aku redakan dengan iseng-iseng membuka halaman-halaman memuat kalimat-kalimat puitis buatan Kahlil Gibran. Aku agak malu membaca tapi masa lalu itu memanggil.

Di ujung barat, aku berhenti di kios yang sesak buku. Aku mengetahui buku-buku itu sulit laku, menunggu pembeli yang beriman atau pembeli yang sesat. Ratusan novel ditata, yang sudah aku lihat sejak beberapa bulan yang lalu. Dugaanku: Indonesia masih memiliki warga yang gemar membaca novel. Namun, dagangan novel di kios itu tabah. Yang aku ambil berjudul Norwegian Wood gubahan Haruki Murakami terbitan KPG. Aku sulit mengaku sebagai penggemar novel-novel Haruki Murakami. Aku membacanya, tidak memiliki kesan-kesan yang kuat atau berpengaruh besar dalam hidup. Pada hari-hari agak “istimewa”, aku kadang mengenakan kaos yang bertuliskan Haruki Murakami. Namun, percayalah bahwa aku bukan pemuja Haruki Murakami meski terkenal di dunia. Sekali lagi, buku itu murah. Pedagangnya tersenyum mengalahkan senyum matahari yang berada di atas kios dan pohon-pohon.

Duit di saku celana berkurang, buku-buku dalam kresek bertambah: jumlah dan berat. Aku ingin segera meninggalkan kios-kios di Sriwedari, berpindah tempat ke sekolah untuk menunggu anak-anak pulang. Menunggu bersama adegan membuka halaman-halaman buku. Berjalan lungkrah menuju parkiran sepeda motor, aku malah melihat buku digantung di depan kios. Buku yang aku sangat ingat sampulnya. Buku itu berjudul Pustaka Nada, buku memuat ratusan lagu yang digubah AT Mahmud. Selama bertahun-tahun, aku biasa bercerita dan menjelaskan kepada orang-orang mengenai lagu untuk anak yang digubah Ibu Sud, Pak Kasur, AT Mahmud, dan lain-lain. Di rumah, aku mengoleksi ratusan buku memuat lagu anak-anak di Indonesia, dari masa ke masa. Pustaka Nada, buku tebal terbitan Grasindo, yang dianggap memuat lengkap lagu-lagu AT Mahmud.

Apa aku bakal bersenandung di jalan? Usaha mengingat dan menghormati AT Mahmud. Pamit dari Sriwedari, tujuh buku berhasil dibeli dengan harga terjangkau. Para pedagang cukup senang mengetahui buku-buku laku. Uang di tangan atau masuk dompet. Mereka bisa jajan es teh atau membeli makanan untuk menumpas lapar saat siang masih memberi 12 matahari.

Aku berada di jalan menikmati panas, tak ada keinginan membeli es teh atau mampir di “es kapal”. Alamat paling jelas: sekolah. Aku ingin segera duduk di dekat tempat orang-orang biasa berwudhu. Tempat yang biasa aku gunakan untuk membaca buku-buku atau melamun sambil menunggu anak-anak pulang sekolah. Di situ, aku kadang ikut berwudhu, sebelum  masuk ke masjid mau berumur seratus tahun. Pengalaman membuatku iseng berkata di hadapan teman-teman: “Berwudhu sebelum membaca buku.” I Kabut

Cerpen

Seorang Laki-laki dan Mainan Favoritnya

Cerpen Titi Setiyoningsih

“Laki-laki hanya akan merusak mainan favoritnya,” katamu sekian kalinya di depan cermin. Tampak tanda kebiruan di bawah matamu, merah muda di sudut bibir, dan sayatan kecil di kening atas.

Pelan sambil meringis kesakitan kamu tepuk-tepuk concealer dengan beauty blender untuk menyamarkan warna tanda luka itu. Perih. Sakit. Tapi tak sesakit yang dirasakan hatimu. Lalu agar lebih sempurna, kamu tambahkan foundation, bedak tebal, lengkap dengan blush on dan gincu nude merah jambu.

Terdengar ketukan pintu apartemen. Wajahmu yang semula muram otomatis kau tarik seceria mungkin. “Halo, ayo masuk,” ujarmu berusaha menutupi kegelisahan. Dua perempuan itu serta merta memelukmu. Erat sekali. Sampai pundakmu yang masih lebam kembali terasa sakit. Tapi kamu tak boleh mengaduh, kamu harus meyakinkan mereka bahwa kamu baik-baik saja.

“Gimana keadaanmu?” tanya mereka. “Gila ya laki-laki itu! Sudah berapa kali dia melakukan ini sama kamu? Berita kalian sudah viral di mana-mana! Untung ada yang ambil videonya!”

Kamu persilakan mereka duduk di sofa paling nyaman di pojok ruangan. “Bisa-bisanya lima tahun kamu bertahan dengan laki-laki sekasar itu? Kamu sudah putusin dia, kan?”

Kamu menggeleng pelan. Kedua sahabatmu yang sekarang merangkap tim pengacaramu menampilkan raut tak percaya.

“Kenapa belum?”

Bendungan di matamu tak bisa lagi kau tahan. Jebol disusul tangis sesenggukan. Sahabatmu kembali memelukmu. “Please, bantu aku cabut laporanku, aku berubah pikiran,” bisikmu. “Kalau kalian sayang aku, tolong bantu cabut laporanku kemarin,” rintihmu.

“Dia mukulin kamu di depan umum lho, semua orang sudah tahu sekarang. Kamu diancam dia?” tanya salah satu dari mereka.

Kamu hanya diam dan menggeleng. Bagaimana cara menjelaskan kepada kedua perempuan ini? Mereka tidak akan percaya dengan ceritamu. Selama ini ada suara di kepala laki-laki itu. Suara-suara itu memanggil hujan lebat disertai petir yang membuat laki-laki itu mengakhiri hari-hari indah penuh kesenangan mereka.  Kamu terlalu tahu banyak tentang laki-laki itu yang mereka tidak tahu. Apalagi setiap kali dirimu teringat tatapan laki-laki itu saat pertama kali mendapatkanmu. Mereka berdua mesti melihat bagaimana tatapan mata itu berbinar kala itu.

“Dia begitu karena cinta sama aku. Kasihan dia,” katamu akhirnya.

“Kamu nggak kasihan sama Mama Papamu? Kami semua nggak mau kamu disakiti!” nada mereka kini mulai meninggi.

Kamu mulai gelisah dan menggigiti kuku. Kamu mendadak tak lagi mengenal kedua perempuan di depanmu. Mereka tak lagi memahamimu sama seperti kedua orangtuamu. Mereka masih terperangkap dalam kardus plastik di toko mainan. Sedangkan laki-laki itu telah mengeluarkanmu dari kotak kardus di pajangan. Membawamu ke dunia luar, mengambil semua rasa sakit, dan membuat hidupmu jauh lebih nyata. Dirimu dan laki-laki itu sama-sama memiliki luka di masa yang lampau. Luka yang hanya bisa dipahami kalian berdua, tidak dengan lainnya.

Sebelum kamu bertemu dengannya, hidupmu jauh lebih merana. Beberapa kali kau coba sayat tanganmu dengan pisau dapur. Tak ada yang betul-betul mengerti kamu. Juga dunia yang ditawarkan kedua orangtuamu terkesan kosong. Kaku. Seperti mesin. Juga sekeras batu. Lalu datang laki-laki itu menarikmu ke dunia baru. Dunia sesungguhnya, real, bukan imitasi. Dunia yang terasa gila sekaligus memabukkan. Dia memperlakukanmu dengan hati pun pengertian. Sejak itu tak lagi terlintas pisau dapur yang menggorok tanganmu. Dia memberimu warna. Kadang merah muda ketika kalian kasmaran. Biru saat kamu rindu. Abu-abu saat hujan, kelabu seperi sekarang. Tapi tak pernah hitam seperti yang dulu keluargamu lukiskan padamu.

“Kalau dia cinta kamu, dia nggak mungkin nyakitin kamu. Dia nggak mungkin mukul kamu sampai pingsan,” ujar sahabatmu kembali melembut.

“Kalian tak mengerti. Akulah favoritnya. Laki-laki hanya akan merusak sesuatu yang menjadi favoritnya,” katamu mulai melamun. Bukankah demikian? Bocah laki-laki hanya akan menyentuh dan seringkali tak sengaja merusak mainan favorit yang kerap dimainkannya.

Air matamu kembali mengalir. Disusul buliran keringat di kening. Kali ini membuat bedakmu luntur. Kedua temanmu terperangah dengan wajahmu yang tampak mengerikan. Kebiruan di bawah mata dan merah muda di sudut bibir. Kamu menyadari arti tatapan mereka.

“Aku akan memperbaiki diriku. Setelah aku memperbaiki diriku, dia akan merindukanku,” ujarmu setengah berbisik.

“Laki-laki itu sudah membuangmu!” kata sahabatmu jengkel.

“Setelah aku memperbaiki diriku lagi, dia akan merindukanku,” katamu ke sekian kali. “Sekarang kalian pulanglah!” ***


Titi Setiyoningsih, dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS). E-mail: [email protected]

Ragam

SASTRA (BERAPI) DI GUNUNG DAN JAHANAM

Siang, Jumat, 18 Oktober 2024, bertakdir panas tanpa harus membandingkan dengan kopi yang tersaji di meja saat pagi masih malu-malu. Tak usah minum kopi saat siang, mengelak dari pesta es teh sepanjang jalan. Matahari tidak untuk dikutuk.

Bila ingat gambar matahari di sela dua gunung, Bandung Mawardi menunduk dengan lesu. Ia belum pernah melihat matahari terbit di (puncak) gunung. Lelaki yang ringkih untuk membawa kaki-kakinya menuju puncak gunung. Ia mudah menyerah dan kalah, memilih menjadi penghuni rumah sampai kiamat tiba. Lelaki yang memalukan!

Ia berhasil melewati siang di jalan tanpa makian. Diri yang merasa terlalu dimanjakan matahari, yang sinarnya melebihi api, yang memberi sumuk tidak keruan. Bandung Mawardi ingin insaf, berani menanggungkan hukuman-hukuman di bawah terik matahari. Ia memang harus terbakar sinar matahari agar mengerti siksa.

Panas itu masih terasakan saat sore. Ia mau minggat dari rumah menuju Gunung Lawu. Teman sudah berada di pekarangan, membawa sepeda motor yang bakal membawa tubuhnya berjarak jauh dari rumah. Sebelum bergerak mengukur jalan, dua gelas teh dinikmati dua lelaki keparat yang berlagak mengumbar omongan sastra dan intelektual.

Sore yang ditunggangi mendung. Dua lelaki sempat mandi air hujan di jalanan, setelah malu dan tak berdaya mengurusi sepeda motor yang macet. Cilaka! Ilmu menggenjot dan mengatur gas saja tidak mengerti. Dua lelaki yang mendapat kebaikan lelaki tua di bengkel. Ia yang menggenjot, mengembalikan nyawa sepeda motor agar mampu bergerak ke arah Gunung Lawu.

Di jalan penuh kemesraan pepohonan, mereka memberi mata kepada senja. Hidung yang mendapat udara berbeda, yang memicu mulut menebar kata-kata agak berteriak. Kata-kata yang berceceran di jalan naik-turun dan berbelok-belok. Omongan yang mudah sesat.

Sejam berlalu dan menit-menit yang harus dimiliki bersama roda berputar, tibalah dua lelaki di rumah yang dingin. Di situ, orang-orang berjanji mau merayakan sastra. Mereka memberi nama mentereng: “Sastra di Gunung”. Bandung Mawardi hanya mengikuti ajakan tanpa ingin menyodorkan tandingan ajakan: “Sastra di Langit”, “Sastra di Neraka”, atau “Sastra di Matahari”.

Yang tersiksa adalah bokong. Bertahun-tahun, Bandung Mawardi dikutuk ambeien. Maghrib, ia berhasil turun dari sepeda motor dengan kesengsaraan bokong. Terlalu lama, bokong itu menanggung beban raga yang aib.

Lega, dua lelaki merasakan suasana gunung, tak harus sampai ke puncak Gunung Lawu. Dingin yang tidak usah dipesan lewat lokapasar atau dihasilkan dengan listrik. Bandung Mawardi merinding dan kelelahan. Dingin yang mungkin menyelamatkan ketimbang panas saat siang masih berada di Solo dan rumah. Mustahil mengelak dari dingin. Ia berharap bertemu kopi. Kasihan. Rumah itu tidak dihuni kopi, hanya ada orang-orang yang omong-omong dan merokok. Sabar. Kopi belum punah dari dunia. Kopi belum perlu dipesan di neraka. Kopi, kopi, kopi. Tidak ada pesulap atau pemberi keajaiban. Kopi di pikiran saja. Malam pun bimbang sebelum jahanam.

Duduk bersama teman-teman, mengucap apa saja yang bisa dimengerti atau sekadar membuat tertawa. Konon, cara itu mengurangi dingin. Yang terlihat, tikar-tikar yang  dimaksudkan menjadi saksi perjumpaan dan perayaan kata.

Yuditeha tampak memelas. Sosok yang menua tapi keranjingan bersastra. Malam itu tubuhnya lemah dan sakit. Kasihan. Lelaki yang agak sulit diajak tertawa. Sakit itu perlu agar hidup tidak sembarangan. Bos besar Kamar Kata yang mengadakan “Sastra di Gunung” itu tetap tangguh, membawa sakit ke gunung, meninggalkan perlindungan rumah.

Puluhan orang makan malam. Di atas tikar, sajian itu menggoda: nasi, oseng-oseng, tahu, telur, dan bakwan. Bandung Mawardi lekas makan, tak mengambil sambal. Ia takut perut bermasalah. Di televisi tertempel di dinding, Egha bersenandung sedih: “Sumpah dan Cinta Matiku”. Dulunya, lagu itu milik Nidji. Malam yang lara. Bandung Mawardi dihajar sentimental sambil menyembunyikan tangisan: “Selama nafasku berhembus, hanya kamu di doaku.” Ia masih ingin memberi diri untuk yang tercinta saat dunia membencinya. Ia mau bersumpah untuk sisa-sisa napas yang mungkin dapat menembus segala kehancuran selama di dunia. Lagu asmara picisan. Bandung Mawardi sedang makan nasib setelah mengetahui piring sudah kosong. Kopi tetap absen. Derita yang bertambah panjang. Ia enggan bersumpah kopi. 

Tuhan, kopi sedang dolan atau minggat ke Planet Yupiter? Teman-teman sengaja membiarkan dingin tanpa lawan (kopi). Terkutuklah mereka yang menjanjikan kopi tapi malam itu tiada meski lagu-lagu Egha sudah rampung. Teman-teman bergantian membaca puisi dengan mikrofon. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan kopi. Lumrah, Bandung Mawardi merana. Kopi masih kemustahilan.

Pengganti kopi yang panas adalah pidato Yuditeha. Seumur hidup, Bandung Mawardi telat menyadari “kemarahan” Yuditeha. Lembaran-lembaran kertas ramai kata itu dibacakan sambil berdiri. Tubuh yang sakit terlupakan oleh getaran omongannya dan wajah yang garang. Ia memberi kutukan-kutukan dalam sastra. Akibatnya, Bandung Mawardi sejenak lupa kopi dan membuka mata sulit berkedip. Malam itu malam jahanam.

Yuditeha memberi tuduhan-tuduhan dan sangkalan-sangkalan. Ia sengaja marah dan menuntut jawaban. Mulut yang memasalahkan desentralisasi sastra. Mikrofon di depan mulutnya bisa pecah jika ia membiarkan kata-kata terus membara. Di hadapanku, lelaki itu tidak sakit. Ia ingin mengusir dingin dari gunung. Tangguh! Bandung Mawardi lekas ikut berpusing tapi memaksa tabah mengetahui sastra di Indonesia. Sebenarnya, ia sudah takut dan malu di hadapan sastra Indonesia. Ia telah terpencil dan ingin meratap di sungai mengering saja.

Di hadapannya, Yuditeha justru membawa api-api sastra. Di Indonesia, sastra masih memudahkan sengketa dan omelan-omelan sejuta kata. Malam tanpa kopi tapi kata-kata diucapkan di muka mikrofon sedikit memberi pemanas Jumat malam.

Tibalah lelaki membawa termos dan gelas plastik. Pengganti yang harus dinikmati. Teh. Lelaki itu mempersembahkan teh panas. Bandung Mawardi lekas mengambil, memandangi, dan minum teh. Yang membuatnya masih mampu memberi kata-kata mengenai fiksi di Indonesia, dari masa ke masa. Ia memberi cuilan-cuilan, sejak awal abad XX sampai sekarang. Novel-novel yang dibacanya dijadikan bekal membicarakan pengarang, tema, masa, penerbit, birokrasi, dan lain-lain. Ia tidak cukup fasih, kalah pamor dari pidato Yuditeha. Bandung Mawardi terbukti lembek dan membodohkan diri dalam sastra.

Menit-menit berlalu, di hadapannya tetap tidak ada suguhan kopi. Teh mau habis.  Ia masih meladeni ocehan Panji S dan Andri S. Omongan malah kebablasan ke sastra (dan) anak. Berlanjut lagi ke politik-penerbitan dan (industri) sastra dibayangi keraguan. Malam yang malah kembali dingin tapi berbeda dengan senandung Egha: “Dinginya angin malam ini… “ Bandung Mawardi jadi insaf bahwa tak mungkin “mengubah buih menjadi sastra”. Yang terjadi adalah sastra yang kedinginan. Lelaki yang mustahil menggapai bintang-bintang di langit sastra atau menyapa di puncak gunung sastra.

Malam itu Bandung Mawardi merasa bakal ambruk. Ia tidak bisa memberikan tubuhnya kepada gunung yang dingin. Pulang. Ia ingin pulang setelah menyadari jebakan masuk angin.

Ia meninggalkan gunung. Ia pamit dari sastra. Sampai di rumah, hari telah berganti. Tidur di kasur, ia merasa masuk (dalam) angin, bukan masuk (dalam) sastra. Lelaki yang terkapar: menyerah dan kalah. Malam itu tanpa kopi. Malam yang jahanam. Malam yang memberinya mimpi buruk agar segera terjaga sebelum terdengar azan subuh. I Kabut

Puisi

Puisi Aris Rahman Yusuf

Rumah Bambu

Saat membersihkan rumah

terlintas olehku

tentang sebuah ingatan

rumah bambu

berdinding kata mutiara

Di kamar tengah

aku pernah tenggelam

oleh banjir air mata

sebab sebuah kepulangan

Setelah kepulangan

bayangan lesap

kata-kata tergenggam erat

dan, ketika lepas

ia beraroma mawar

Mojokerto, 9 Agustus 2024


Meditasi

pejamkan mata

dari serpih duka

terserak

tutup telinga

dari bising lisan

menekan iman

biarkan napas turun-naik

mengempas segala selidik

menarik tali cahaya

mengikat legam prasangka

Mojokerto, 3 September 2024


Filosofi Pelukan

Pada mulanya, cinta adalah gaib.

Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.

Pada mulanya, kita hanya sendirian.

Hingga akhirnya, tercipta pasangan.

Dari sebuah sepi,

tercipta rindu yang mengisi.

Sebuah peluk,

hadir dari lamun yang ramai

mengusik damai.

Sebab pelukan,

adalah obat manjur

menutup luka bakar.

Mojokerto, 14 September 2024


Masih Bisakah Aku Menulis

aku masih ingin menulis

namun kata-kata terasa habis

sajak-sajak terasa kikis

membuat hati seakan teriris

sajak-sajakku mungkin terbang

berkelana mencari sarang

hinggap pada sebuah kepala

yang merindukan nyala

sajak-sajakku mungkin kritis

sehingga sulit untuk ditulis

masih bisakah aku menulis?

ataukah menunggu hati kalis

Mojokerto, 14 September 2024


Hadiah Puisi

akhirnya kita memilih

untuk saling berpegangan

setelah badai mengguncang

tubuh kapal dengan kenestapaan

kita pernah memilih

untuk saling menjauh

hingga jerih mulai berlabuh

kita saling mempersembahkan puisi

untuk kembali saling mengisi

meski masih ada mulut latah memprovokasi

mulut yang bilang itu basi

Mojokerto, 15 September 2024


Saat Makan Nasi

Ia makan nasi dengan wajah pasi

lidahnya pelan menelan duka

pikirannya hanya berperang

tanpa berani keluar dari sarang

Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil

hanya jerit mengisi ruang dada

ia tetap menghitung almanak

hingga jerit lepas satu-satu

Ia makan nasi dengan perlahan

Sambil menyembunyikan duka tertahan

Mojokerto, 30 September 2024


Sebuah Wajah

Sebuah wajah tergeletak di meja

wajah itu tertutup rahasia

mengajak mata menyelam

memetik tabir yang karam

Wajah itu bisa berubah warna

mencairkan suasana

menyalakan cinta

melenyapkan duka

bahkan menanam petaka

Wajah itu memancarkan cahaya

di alam baka

Mojokerto, 1 Oktober 2024


Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.

Katalog

Tamu dari Belakang

Keresahan memang tidak sepantasnya mengendap dalam bentuk yang sama. Dia harus pergi dalam bentuk hikmah dan pemikiran baru. Berisi cerpen-cerpen kejiwaan.

Penulis: Yesi MH

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

83 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 75.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Curhat

Ketika Jiwa Melankolis Belanja di Pasar

Curhat Zoe Lora

Minggu pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Kupikir mulai sekarang aku akan mengisi pagiku dengan olahraga. Ada sepeda statis di teras yang entah baru berapa kali kupakai sejak awal dibeli. Baru sekitar lima belas menit berlalu, bahkan keringatku juga belum sempat keluar, mama muncul dengan kantong belanja terlipat di tangan kanan, serta dompet di sebelah tangannya yang lain.

“Ke pasar ya, Mah? Aku ikut ya.” Tanpa menunggu jawaban, aku turun dari sepeda statis dan mengintilnya. Jarak rumah dengan pasar tradisional terdekat sekitar setengah kilometer. Jadi lumayanlah, aku bisa berjalan kaki sejauh satu kilometer pagi ini. Awal yang cukup baik untukku. Lain halnya dengan mama, setidaknya 3-4 kali seminggu pasti belanja ke pasar.

Saat itu kami berjalan mengambil rute ke selatan, melewati SD-ku dulu. Karena belum terlalu jauh dari lingkungan rumah, tentu saja sesekali kami berjumpa dengan tetangga. Ada yang sedang duduk di teras, sengaja berjemur matahari pagi. Ada yang sedang menyapu halaman. Ada juga yang berpapasan di jalan karena hendak pergi ke suatu tempat. Pemandangan normal yang memang akan sering dijumpai saat tinggal di kampung. Aku sering mengistilahkannya dengan basa-basi. Eits, bukan dalam hal buruk. Bukankah memang begitu kodrat hidup bermasyarakat? Menjadi manusia sosial yang peka terhadap sesama sebagai bentuk kepedulian.

Sepanjang perjalanan, mama sudah seperti kaset yang memperdengarkan kisah hidup anak si A yang barusaja lulus S2 Psikologi di UGM. Atau suami si B yang pulang kerja dari kapal pesiar dengan membawa mobil baru. Termasuk tentu saja perihal si C, janda tak beranak yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini, ia memutuskan pindah agama karena diduga sedang dekat dengan pria kaya. Tanpa terasa, bangunan pasar sudah mulai terlihat. Obrolan kami akhirnya terputus. Sepertinya aku bisa cukup terhibur juga dengan cerita hidup orang lain. Beruntung, mama tidak mempertanyakan soal perkembangan skripsiku yang sampai saat ini masih bertahan pada Bab III.

“Kerapunya berapa sekilo?” tanya mama pada pria penjual ikan laut. Keduanya terlibat dalam prosesi tawar menawar. Aku tidak begitu memperhatikan karena mataku tertuju pada simbah penjual jenang tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mendekatinya setelah sebelumnya pamit pada mama dengan mengatakan kalau aku akan menunggu saja di dekat penjual jenang hingga mama menyelesaikan belanjanya.

Kulihat dagangan simbah masih cukup banyak dan lengkap. Aku mengatakan padanya kalau aku ingin seporsi lengkap yang kurang lebih berisi: biji salak, jenang sumsum, jenang mutiara, ketan hitam, dan jenang gempol. Simbah mengangguk tersenyum sembari menyiapkan pincuk daun pisang sebagai wadah. Aku menerima ulurannya, lalu menikmati dengan sendok yang juga terbuat dari daun pisang, atau biasa orang sebut suru. Tidak lama, banyak pelanggan datang mengerubung. Aku sampai tidak enak dan bermaksud duduk menjauh, namun simbah mengatakan bahwa aku tidak perlu ke mana-mana. Jadi aku memutuskan menurut, menyantap jenang lezat di hadapanku sembari sesekali melihat interaksi antar manusia di pasar.

“Berapa, Mbah?” tanyaku setelah ibu-ibu pembeli terakhir pergi.

“Limaribu,” jawabnya singkat.

Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan dan mengatakan tiga porsi lainnya dibungkus saja. Simbah mengangguk.

Perhatianku berpindah pada seorang pria paruh baya penjual pepaya dan pisang yang berada tepat di samping kiriku. Ia sedang bernegosiasi dengan seorang calon pembeli yang berniat memborong. Namun karena harga yang diminta masih terlampau rendah, penjual sepertinya belum rela melepas dagangannya. Hingga pada satu titik, telah terjadi kesepakatan harga meski kulihat wajah penjual tidak terlalu senang dengan keputusannya sendiri. Hal itu tampak nyata sesaat setelah pembeli berlalu dengan membawa puluhan papaya dan lima tandan pisang raja di mobilnya, lalu penjual bergumam, “Lebih baik tidak untung daripada merugi.”

Tidak lama, simbah memanggil dan menyerahkan bungkusan pesananku. Usai mengucapkan terima kasih dan pamit, aku memutuskan menyusul mama ke dalam pasar. Aku berjalan cukup pelan. Selain karena penuh sesak dengan manusia, semalam juga hujan, jadi masih ada sisa-sisa genangan air yang memungkinkan lantai menjadi licin. Sepanjang pencarianku akan keberadaan mama, sesekali aku memusatkan perhatian pada interaksi antar penjual dan pembeli. Tentu saja prosesi tawar menawar tidak terhindarkan. Hanya saja, seringkali aku merasa tidak nyaman ketika pembeli menawar seenaknya pada penjual yang sebagian besar telah lanjut usia. Bukan ingin sok-sokan, hanya saja aku kesal. Aku merasa penampilan ibu-ibu pembeli itu tidak sepantasnya dipakai saat ke pasar, maksudku, aku melihat mereka mengenakan perhiasan yang sangat mencolok. Selain itu, kalimat yang terlontar juga seperti tanpa filter. Tidak lagi memandang sedang bicara dengan orang tua yang sepatutnya bisa lebih sopan, bukan dengan berteriak-teriak atau memaksa begitu. Aku curiga, mungkin saja sebenarnya mereka sedang memiliki masalah di rumah, lalu melampiaskan kekesalan dengan menindas orang-orang tak berdaya berkedok alasan belanja ke pasar. Bisa juga, sebenarnya emas-emas yang melingkari tubuh mereka bukanlah emas asli. Mereka hanya ingin mencari perhatian. Bukan mencari perhatian pencopet tentunya, karena menurutku, pencopet sekarang sudah lebih pintar memilih target mana yang memang benar-benar berdompet tebal dan beremas asli.

“Loh, katanya nunggu di luar,” tegur mama yang seketika mengalihkan perhatianku. Aku hanya nyengir. Kulihat tentengan di kedua tangannya sudah cukup banyak. Aku mengambil salah satu kantong belanjaan terbesar. Mama berjalan menuju lapak penjual tahu tempe. Kebetulan, penjualnya simbah-simbah. Aku memperhatikan mama dengan perasaan cukup was-was. Aku tidak ingat kapan terakhir ikut mama belanja ke pasar. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin waktu masih kecil.

“Satunya berapa, Mbah?” tanya mama.

“Delapan ribu, Den,” jawab penjual.

Aku melihat mama mengambil lima papan tempe dan menyerahkan ke penjual untuk dibungkus. Perutku mulai mulas menantikan apa yang akan terjadi setelahnya. Mama mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dalam dompet, lalu memberikannya ke penjual.

“Tidak usah kembali ya, Den? Saya kasih tujuh saja bagaimana?” tawar penjual.

Mama mengangguk dan meraih bungkusan berisi tujuh papan tempe, lalu memasukkannya ke kantong belanjaan yang kupegang. Seketika aku berpikir, ternyata ada juga cara menawar yang cukup elegan. Setelahnya kami berlalu pergi. Mama memutuskan memanggil tukang becak untuk kembali pulang mengingat belanjaan kami yang banyak. Aku menurut saja. Sepertinya, untuk beberapa waktu ke depan, aku akan olahraga dengan memanfaatkan sepeda statis di teras rumah saja. Tidak akan ikut mama belanja ke pasar lagi sampai aku benar-benar mengerti dan telah siap.***

Zoe Lora

Seorang mahasiswi semester akhir yang hobi traveling dan mengamati hal-hal di sekitar. Penikmat roti tawar yang dicelup cokelat panas.