Anton Chekhov

Salju turun seperti kutukan yang lupa berhenti. Langit mengembuskan napas panjang, dan dunia pun membeku di bawahnya. Seorang lelaki—Yergunov, asisten rumah sakit, pemabuk dan pembual yang disegani hanya oleh kesepiannya sendiri—berusaha menembus badai. Dokter meminjamkan padanya kuda terbaik, kuda yang katanya bisa menembus malam tanpa tersesat. Tapi kuda, sebaik apa pun, tetaplah makhluk yang butuh arah. Dan malam itu, jalan lenyap ditelan putih.
Mula-mula hari tenang. Lalu sekitar pukul delapan, angin datang seperti roh jahat yang menyalak dari segala arah. Salju memutar, menggigit kulit. Yergunov tak tahu ke mana harus pergi—tak tahu cara mengemudi, tak tahu jalan pulang. Ia hanya berharap kuda tahu arah sendiri, seperti manusia berharap hidup bisa berjalan tanpa keputusan. Dua jam berlalu. Kuda kelelahan. Napasnya mengembun seperti jiwa yang putus asa. Sementara Yergunov, beku dari kepala hingga lutut, mulai merasa bahwa ia tak sedang menuju rumah, melainkan kembali ke masa lalunya sendiri.
Tiba-tiba, di sela jeritan badai, terdengar suara anjing. Samar, jauh, seolah datang dari dunia yang lain. Lalu tampak cahaya merah di tengah kabut—sebuah noda hangat di dada malam. Sedikit demi sedikit, bayangan pagar tinggi tampak, di atasnya deretan paku runcing berkilau seperti gigi iblis. Di balik pagar, tampak sumur tua dengan kerekan yang miring. Dan di balik itu, muncul rumah beratap jerami, kecil, miring, dengan tiga jendela. Satu jendela memantulkan cahaya merah dari dalam, seperti mata yang tak mau tidur.
“Tempat macam apa ini?” gumam Yergunov, menggigil.
Ia mengingat: di sisi kanan jalan, kira-kira empat mil dari rumah sakit, ada kedai milik Andrey Tchirikov—lelaki yang mati dibunuh para kusir mabuk. Setelah kematiannya, kedai itu dijaga oleh janda tua dan anak gadisnya, Lyubka. Dulu, dua tahun lalu, gadis itu pernah jadi pasien di rumah sakitnya. Orang-orang bilang kedai itu sarang pencuri dan pembunuh, tapi malam dan salju tidak memberi pilihan lain.
Yergunov mencari pistolnya di tas, menegakkan tubuh, dan mengetuk jendela dengan gagang cambuk. “Hey! Siapa di dalam? Hei, nenek! Bukalah! Aku ingin menghangatkan tubuhku!”
Tiba-tiba, dari bawah kaki kuda, muncul seekor anjing hitam, lalu putih, lalu hitam lagi—belasan ekor, menggonggong gila seperti makhluk neraka yang lapar. Yergunov menebaskan cambuk, memukul satu, dua kali. Seekor anak anjing kurus melolong, nyaring, seperti suara manusia yang diseret ke alam lain.
Ia terus mengetuk jendela. Lama. Lalu akhirnya, salju di dahan pohon di dekat rumah berpendar merah. Dari dalam, muncullah sosok perempuan membawa lentera.
“Biarkan aku masuk, nenek,” kata Yergunov. “Aku tersesat. Tuhan saksi betapa jahat cuaca malam ini. Aku orang baik, jangan takut.”
Suara perempuan itu kaku, dingin: “Semua orang baik sedang di rumah. Tak ada yang memanggil orang asing di sini. Dan pintu pagar itu tak dikunci.”
Yergunov masuk ke halaman. Kuda berhenti di dekat tangga. “Suruh buruhmu urus kudaku, nenek,” katanya.
“Aku bukan nenek,” jawab suara itu, dan lentera menyorot wajah muda: alis hitam, kulit pucat, bibir keras—Lyubka.
“Para buruh mabuk atau sedang ke Ryepino,” katanya sambil berjalan mendahului. “Hari ini libur.”
Yergunov menuntun kudanya ke gudang. Dalam kegelapan, ia mendengar ringkikan kuda lain. Ia meraba pelana: pelana Cossack. Ada orang lain di rumah ini. Ia pun membawa masuk belanjaan dan pelananya sendiri—jaga-jaga.
Ruangan pertama hangat seperti rahim. Lantainya basah—baru dipel. Bau arak dan asap menempel di udara. Di bawah ikon suci, duduk seorang lelaki berwajah keras, berjanggut pirang, mengenakan kemeja biru tua. Ia memandang gambar dalam buku usang dengan mata tajam dan tak percaya. Di dekat tungku, seorang lain terbaring berselimut kulit domba, hanya sepasang sepatu barunya yang tampak, basah oleh salju.
Yergunov mengenali lelaki itu: Kalashnikov, pencuri kuda terkenal dari Bogalyovka, lelaki yang hidup dari dosa seperti petani lain hidup dari tanah. “Heh, cuaca,” sapa Yergunov, menggosok lututnya. “Salju sudah sampai leher. Aku nyaris mati beku, sumpah. Bahkan pistolku ikut membeku.”
Ia mengeluarkan revolver, memeriksanya, lalu mengembalikannya ke tas. Kalashnikov tidak peduli, tetap membaca.
“Kalau bukan karena anjing di sini,” lanjut Yergunov, “mungkin aku sudah jadi mayat es di jalan.”
“Perempuan tua ke Ryepino,” jawab Kalashnikov datar. “Anaknya sedang menyiapkan makan malam.”
Keheningan menebal. Angin menyalak di cerobong. Bau kayu terbakar. Dari luar, lolongan anjing makin panjang, seperti doa yang tak pernah didengar Tuhan.
Yergunov menggigil, pura-pura sibuk meniup tangannya. Ia bertanya pelan, “Kau dari Bogalyovka, kan?”
“Ya.”
Maka dalam diam itu, pikirannya melayang ke desa itu—Bogalyovka yang terletak di lembah gelap, di mana bulan tampak tergantung di ujung dunia. Desa pencuri kuda dan pemetik ceri, tempat perempuan duduk di depan rumah sepanjang siang, mencari kutu di kepala satu sama lain, tertawa tanpa alasan, sementara lelaki mereka berkeliaran seperti bayangan.
Dan kemudian, langkah lembut terdengar. Lyubka masuk dengan kaki telanjang, mengenakan gaun merah. Ia berjalan pelan-pelan, seperti air yang tahu kemana harus jatuh. Kakinya menyentuh lantai dingin yang basah; ia sengaja menanggalkan sepatu, karena suka mendengar bunyi kulitnya sendiri.
Kalashnikov tertawa kecil, memanggilnya dengan jari. Ia menunjukkan gambar Nabi Elia terbang ke langit dengan tiga ekor kuda. Lyubka menunduk di sampingnya, rambutnya—panjang dan cokelat—jatuh ke lantai. Mereka berdua tertawa, seolah dunia di luar tidak sedang tertelan badai.
“Gambar yang indah,” kata Kalashnikov. “Indah,” bisik Lyubka, matanya memantulkan cahaya lilin.
Angin meraung di tungku. Kayu berderak. Dari celah dinding, terdengar suara seperti hewan dicekik.
“Roh jahat berkeliaran,” kata Lyubka sambil menyilangkan tangan di dada.
“Itu cuma angin,” balas Kalashnikov. Lalu menatap Yergunov.
“Kau orang berilmu, Osip Vassilyitch. Menurutmu, ada setan di dunia ini?”
Yergunov mengangkat bahu. “Kalau pakai ilmu, tidak ada. Tapi kalau pakai hidup, tentu ada. Aku pernah melihatnya.”
Mata Kalashnikov menyipit. “Di mana?”
“Di dekat jurang Zmeinoy, tahun lalu,” kata Yergunov. “Ia menghentikan kudaku, menatap mataku, lalu berkata: ‘Vaksinasi aku.’ Aku lakukan. Setelah itu, pisaunya berkarat.”
Dari dekat tungku, lelaki yang tadi berbaring bangkit. Rambutnya hitam, wajahnya gelap seperti jelaga, dan di pipi kanannya ada noda bulat seperti luka lama. Ia tersenyum dingin.
“Ya, aku memang memegang tali kiri kudamu,” katanya. “Tapi soal cacar, kau bohong, tuan.”
Yergunov menatapnya, tercekat. Dunia tiba-tiba mengecil menjadi satu napas dingin.
Nama lelaki berwajah hitam itu Merik. Dan ketika ia duduk di samping Kalashnikov, aroma asap dan logam terasa berubah—seolah udara kehilangan keperawanannya.
Lyubka menata meja: bacon asin, acar mentimun, daging rebus yang sudah dingin, dan wajan berisi kubis tumis bercampur sosis. Dari botol kristal, vodka mengalir ke gelas-gelas kecil, dan seisi ruangan langsung berbau kulit jeruk dan dosa.
Yergunov ingin bicara, ingin disambut sebagai kawan seperjamuan, tapi dua lelaki itu bicara tanpa menoleh padanya. Ia seperti hantu yang tak diundang. Ia ingin bercakap, tapi hanya kesunyian yang menatap balik.
Lyubka mondar-mandir, menaruh piring, menunduk, tersenyum sekilas. Setiap kali lewat dekat Yergunov, bahunya yang telanjang menyentuh pundaknya. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat darah di kepalanya berdegup seperti genderang perang.
Ia minum segelas. Lalu segelas lagi. Tubuhnya menghangat, lidahnya mulai ingin bersuara.
“Kalian orang Bogalyovka memang hebat,” katanya, berusaha ramah. “Ahli kuda, ahli mencuri.”
Kalashnikov mengangkat alis. “Hebat? Tak ada yang hebat di sana. Cuma maling dan pemabuk.”
Merik menatap api. “Mereka sudah punah,” katanya. “Sekarang cuma ada Filya si buta. Itu pun tinggal satu mata.”
Kalashnikov mengangguk. “Ya. Dulu, polisi kalau lihat dia selalu berteriak, ‘Hei, Shamil!’ Semua orang tahu dia. Tapi sekarang, cuma ‘Filya Si Satu Mata’. Dulu ia pernah mencuri sembilan kuda dari barak tentara dalam satu malam. Kini tak bisa melihat kudanya sendiri. Dunia berubah jadi lelucon yang pahit.”
Lyubka tersenyum, menggigit bibir. “Tapi Merik tak kalah dari mereka,” katanya, nakal.
“Merik bukan orang kami,” ujar Kalashnikov. “Dia dari Mizhiritch, dekat Harkov. Tapi ya, dia lelaki berani. Setidaknya belum takut mati.”
Lyubka memandang Merik lama, matanya seperti bara yang tahu ke mana akan jatuh.
“Tidak sia-sia mereka dulu mencelupmu ke air es, Merik,” katanya menggoda.
Yergunov menatap, ingin tahu. “Air es?”
Merik tertawa pendek. “Begini ceritanya,” katanya, menyulut pipa. “Filya mencuri tiga kuda dari penyewa tanah di Samoylenka. Tapi mereka pikir aku pelakunya. Tiga puluh orang Molokan menjerat tanganku di pasar. Mereka bilang, ‘Kami tunjukkan padamu kuda baru kami.’ Aku dibawa ke sungai. Di sana mereka potong dua lubang di es, tujuh langkah jaraknya. Mereka masukkan tongkat panjang di bawah es, dengan tali di ujungnya. Mereka ikat tali itu di bawah ketiakku. Lalu—dor!—aku dicemplungkan di lubang pertama, diseret di bawah es, dan diseret keluar di lubang kedua.”
Lyubka menutup mulutnya, ngeri. “Beku, rasanya seperti surga yang membalas,” lanjut Merik. “Tubuhku kaku. Tapi mereka belum puas. Mereka memukuli lutut dan sikuku dengan tongkat sampai aku tak bisa berdiri. Lalu pergi, meninggalkanku di salju. Untung ada perempuan lewat, menjemputku. Kalau tidak, mungkin aku tak sempat menyesal.”
Yergunov menelan ludah. Vodka terasa getir. Ia ingin mengatakan sesuatu yang membuat mereka kagum, agar tak lagi dianggap beku di pojok ruangan. Maka ia mulai bercerita, dengan mulut yang mulai berat karena alkohol.
“Kalau kalian tahu apa yang pernah kualami di Penza—” katanya. Tapi suaranya tenggelam. Kalashnikov dan Merik tak mendengar, atau pura-pura tak peduli.
Mereka bicara lagi, tapi kali ini tak hati-hati. Mereka bicara tentang pencurian, tentang pelarian, tentang malam yang menelan kuda dan manusia seperti lumpur. Yergunov mengerti: ia sedang makan malam bersama dua pencuri, mungkin pembunuh. Tapi anehnya, ia tak takut. Ia hanya merasa iri.
Lalu Lyubka datang lagi, membawa dua botol anggur manis, sepinggan kacang dan biji labu. Ia duduk, menyalakan lilin baru. Cahaya lilin bergetar di pipinya. Kalashnikov mengangkat gelas, bersulang.
“Untuk Andrey Grigoritch, ayah Lyuba,” katanya. “Semoga arwahnya tenang. Dulu, kalau dia masih hidup, kita berkumpul di sini, dengan Filya, Martin, Fyodor. Malam-malam kita penuh tawa. Sekarang, hanya bayangannya yang tersisa.”
Lyubka keluar sebentar. Ketika kembali, ia mengenakan kerudung hijau dan kalung manik-manik berkilau. “Lihat, Merik,” katanya sambil menatap cermin kecil di dinding, “ini pemberian Kalashnikov hari ini.”
Ia menggeleng-gelengkan kepala agar manik-maniknya berderak, lalu membuka peti, mengeluarkan gaun bermotif bunga, syal biru tua berkilau benang emas. Setiap benda ia tunjukkan seperti anak kecil memamerkan mainan.
Kalashnikov memetik balalaika. Senarnya mengaduk udara dengan nada yang tak jelas: setengah gembira, setengah duka. Lalu Merik berdiri. Ia mulai menari. Tumitnya mengetuk lantai, cepat dan keras. Ia melompat, memutar, menekuk lututnya hingga tampak seperti setan kecil yang siap terbang.
Lyubka berseru kecil, ikut menari. Gaunnya yang merah berputar, seperti api yang lupa padam. Rambutnya terurai, memantulkan cahaya lilin. Mereka menari seperti dua nyala lilin yang saling menjilat.
Yergunov, yang setengah mabuk, menatap dari pojok ruangan. “Perempuan itu seperti api,” pikirnya. “Untuknya, seluruh dunia pun bisa terbakar.”
Ia ingin ikut berdiri, ingin ikut menari, tapi tubuhnya tak berani. Ia hanya duduk di atas peti, menatap Lyubka yang menari seperti roh dari legenda lama—seolah tubuhnya bukan daging, melainkan nyanyian. BERSAMBUNG
____________________
Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.
____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi Linguistik Penerjemahan di UNS.





















