Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 1)

Anton Chekhov

Salju turun seperti kutukan yang lupa berhenti. Langit mengembuskan napas panjang, dan dunia pun membeku di bawahnya. Seorang lelaki—Yergunov, asisten rumah sakit, pemabuk dan pembual yang disegani hanya oleh kesepiannya sendiri—berusaha menembus badai. Dokter meminjamkan padanya kuda terbaik, kuda yang katanya bisa menembus malam tanpa tersesat. Tapi kuda, sebaik apa pun, tetaplah makhluk yang butuh arah. Dan malam itu, jalan lenyap ditelan putih.

Mula-mula hari tenang. Lalu sekitar pukul delapan, angin datang seperti roh jahat yang menyalak dari segala arah. Salju memutar, menggigit kulit. Yergunov tak tahu ke mana harus pergi—tak tahu cara mengemudi, tak tahu jalan pulang. Ia hanya berharap kuda tahu arah sendiri, seperti manusia berharap hidup bisa berjalan tanpa keputusan. Dua jam berlalu. Kuda kelelahan. Napasnya mengembun seperti jiwa yang putus asa. Sementara Yergunov, beku dari kepala hingga lutut, mulai merasa bahwa ia tak sedang menuju rumah, melainkan kembali ke masa lalunya sendiri.

Tiba-tiba, di sela jeritan badai, terdengar suara anjing. Samar, jauh, seolah datang dari dunia yang lain. Lalu tampak cahaya merah di tengah kabut—sebuah noda hangat di dada malam. Sedikit demi sedikit, bayangan pagar tinggi tampak, di atasnya deretan paku runcing berkilau seperti gigi iblis. Di balik pagar, tampak sumur tua dengan kerekan yang miring. Dan di balik itu, muncul rumah beratap jerami, kecil, miring, dengan tiga jendela. Satu jendela memantulkan cahaya merah dari dalam, seperti mata yang tak mau tidur.

“Tempat macam apa ini?” gumam Yergunov, menggigil.

Ia mengingat: di sisi kanan jalan, kira-kira empat mil dari rumah sakit, ada kedai milik Andrey Tchirikov—lelaki yang mati dibunuh para kusir mabuk. Setelah kematiannya, kedai itu dijaga oleh janda tua dan anak gadisnya, Lyubka. Dulu, dua tahun lalu, gadis itu pernah jadi pasien di rumah sakitnya. Orang-orang bilang kedai itu sarang pencuri dan pembunuh, tapi malam dan salju tidak memberi pilihan lain.

Yergunov mencari pistolnya di tas, menegakkan tubuh, dan mengetuk jendela dengan gagang cambuk. “Hey! Siapa di dalam? Hei, nenek! Bukalah! Aku ingin menghangatkan tubuhku!”

Tiba-tiba, dari bawah kaki kuda, muncul seekor anjing hitam, lalu putih, lalu hitam lagi—belasan ekor, menggonggong gila seperti makhluk neraka yang lapar. Yergunov menebaskan cambuk, memukul satu, dua kali. Seekor anak anjing kurus melolong, nyaring, seperti suara manusia yang diseret ke alam lain.

Ia terus mengetuk jendela. Lama. Lalu akhirnya, salju di dahan pohon di dekat rumah berpendar merah. Dari dalam, muncullah sosok perempuan membawa lentera.

“Biarkan aku masuk, nenek,” kata Yergunov. “Aku tersesat. Tuhan saksi betapa jahat cuaca malam ini. Aku orang baik, jangan takut.”

Suara perempuan itu kaku, dingin: “Semua orang baik sedang di rumah. Tak ada yang memanggil orang asing di sini. Dan pintu pagar itu tak dikunci.”

Yergunov masuk ke halaman. Kuda berhenti di dekat tangga. “Suruh buruhmu urus kudaku, nenek,” katanya.

“Aku bukan nenek,” jawab suara itu, dan lentera menyorot wajah muda: alis hitam, kulit pucat, bibir keras—Lyubka.

“Para buruh mabuk atau sedang ke Ryepino,” katanya sambil berjalan mendahului. “Hari ini libur.”

Yergunov menuntun kudanya ke gudang. Dalam kegelapan, ia mendengar ringkikan kuda lain. Ia meraba pelana: pelana Cossack. Ada orang lain di rumah ini. Ia pun membawa masuk belanjaan dan pelananya sendiri—jaga-jaga.

Ruangan pertama hangat seperti rahim. Lantainya basah—baru dipel. Bau arak dan asap menempel di udara. Di bawah ikon suci, duduk seorang lelaki berwajah keras, berjanggut pirang, mengenakan kemeja biru tua. Ia memandang gambar dalam buku usang dengan mata tajam dan tak percaya. Di dekat tungku, seorang lain terbaring berselimut kulit domba, hanya sepasang sepatu barunya yang tampak, basah oleh salju.

Yergunov mengenali lelaki itu: Kalashnikov, pencuri kuda terkenal dari Bogalyovka, lelaki yang hidup dari dosa seperti petani lain hidup dari tanah. “Heh, cuaca,” sapa Yergunov, menggosok lututnya. “Salju sudah sampai leher. Aku nyaris mati beku, sumpah. Bahkan pistolku ikut membeku.”

Ia mengeluarkan revolver, memeriksanya, lalu mengembalikannya ke tas. Kalashnikov tidak peduli, tetap membaca.

“Kalau bukan karena anjing di sini,” lanjut Yergunov, “mungkin aku sudah jadi mayat es di jalan.”

“Perempuan tua ke Ryepino,” jawab Kalashnikov datar. “Anaknya sedang menyiapkan makan malam.”

Keheningan menebal. Angin menyalak di cerobong. Bau kayu terbakar. Dari luar, lolongan anjing makin panjang, seperti doa yang tak pernah didengar Tuhan.

Yergunov menggigil, pura-pura sibuk meniup tangannya. Ia bertanya pelan, “Kau dari Bogalyovka, kan?”

“Ya.”

Maka dalam diam itu, pikirannya melayang ke desa itu—Bogalyovka yang terletak di lembah gelap, di mana bulan tampak tergantung di ujung dunia. Desa pencuri kuda dan pemetik ceri, tempat perempuan duduk di depan rumah sepanjang siang, mencari kutu di kepala satu sama lain, tertawa tanpa alasan, sementara lelaki mereka berkeliaran seperti bayangan.

Dan kemudian, langkah lembut terdengar. Lyubka masuk dengan kaki telanjang, mengenakan gaun merah. Ia berjalan pelan-pelan, seperti air yang tahu kemana harus jatuh. Kakinya menyentuh lantai dingin yang basah; ia sengaja menanggalkan sepatu, karena suka mendengar bunyi kulitnya sendiri.

Kalashnikov tertawa kecil, memanggilnya dengan jari. Ia menunjukkan gambar Nabi Elia terbang ke langit dengan tiga ekor kuda. Lyubka menunduk di sampingnya, rambutnya—panjang dan cokelat—jatuh ke lantai. Mereka berdua tertawa, seolah dunia di luar tidak sedang tertelan badai.

“Gambar yang indah,” kata Kalashnikov. “Indah,” bisik Lyubka, matanya memantulkan cahaya lilin.

Angin meraung di tungku. Kayu berderak. Dari celah dinding, terdengar suara seperti hewan dicekik.

“Roh jahat berkeliaran,” kata Lyubka sambil menyilangkan tangan di dada.

“Itu cuma angin,” balas Kalashnikov. Lalu menatap Yergunov.

“Kau orang berilmu, Osip Vassilyitch. Menurutmu, ada setan di dunia ini?”

Yergunov mengangkat bahu. “Kalau pakai ilmu, tidak ada. Tapi kalau pakai hidup, tentu ada. Aku pernah melihatnya.”

Mata Kalashnikov menyipit. “Di mana?”

“Di dekat jurang Zmeinoy, tahun lalu,” kata Yergunov. “Ia menghentikan kudaku, menatap mataku, lalu berkata: ‘Vaksinasi aku.’ Aku lakukan. Setelah itu, pisaunya berkarat.”

Dari dekat tungku, lelaki yang tadi berbaring bangkit. Rambutnya hitam, wajahnya gelap seperti jelaga, dan di pipi kanannya ada noda bulat seperti luka lama. Ia tersenyum dingin.

“Ya, aku memang memegang tali kiri kudamu,” katanya. “Tapi soal cacar, kau bohong, tuan.”

Yergunov menatapnya, tercekat. Dunia tiba-tiba mengecil menjadi satu napas dingin.

Nama lelaki berwajah hitam itu Merik. Dan ketika ia duduk di samping Kalashnikov, aroma asap dan logam terasa berubah—seolah udara kehilangan keperawanannya.

Lyubka menata meja: bacon asin, acar mentimun, daging rebus yang sudah dingin, dan wajan berisi kubis tumis bercampur sosis. Dari botol kristal, vodka mengalir ke gelas-gelas kecil, dan seisi ruangan langsung berbau kulit jeruk dan dosa.

Yergunov ingin bicara, ingin disambut sebagai kawan seperjamuan, tapi dua lelaki itu bicara tanpa menoleh padanya. Ia seperti hantu yang tak diundang. Ia ingin bercakap, tapi hanya kesunyian yang menatap balik.

Lyubka mondar-mandir, menaruh piring, menunduk, tersenyum sekilas. Setiap kali lewat dekat Yergunov, bahunya yang telanjang menyentuh pundaknya. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat darah di kepalanya berdegup seperti genderang perang.

Ia minum segelas. Lalu segelas lagi. Tubuhnya menghangat, lidahnya mulai ingin bersuara.

“Kalian orang Bogalyovka memang hebat,” katanya, berusaha ramah. “Ahli kuda, ahli  mencuri.”

Kalashnikov mengangkat alis. “Hebat? Tak ada yang hebat di sana. Cuma maling dan pemabuk.”

Merik menatap api. “Mereka sudah punah,” katanya. “Sekarang cuma ada Filya si buta. Itu pun tinggal satu mata.”

Kalashnikov mengangguk. “Ya. Dulu, polisi kalau lihat dia selalu berteriak, ‘Hei, Shamil!’ Semua orang tahu dia. Tapi sekarang, cuma ‘Filya Si Satu Mata’. Dulu ia pernah mencuri sembilan kuda dari barak tentara dalam satu malam. Kini tak bisa melihat kudanya sendiri. Dunia berubah jadi lelucon yang pahit.”

Lyubka tersenyum, menggigit bibir. “Tapi Merik tak kalah dari mereka,” katanya, nakal.

“Merik bukan orang kami,” ujar Kalashnikov. “Dia dari Mizhiritch, dekat Harkov. Tapi ya, dia lelaki berani. Setidaknya belum takut mati.”

Lyubka memandang Merik lama, matanya seperti bara yang tahu ke mana akan jatuh.
“Tidak sia-sia mereka dulu mencelupmu ke air es, Merik,” katanya menggoda.

Yergunov menatap, ingin tahu. “Air es?”

Merik tertawa pendek. “Begini ceritanya,” katanya, menyulut pipa. “Filya mencuri tiga kuda dari penyewa tanah di Samoylenka. Tapi mereka pikir aku pelakunya. Tiga puluh orang Molokan menjerat tanganku di pasar. Mereka bilang, ‘Kami tunjukkan padamu kuda baru kami.’ Aku dibawa ke sungai. Di sana mereka potong dua lubang di es, tujuh langkah jaraknya. Mereka masukkan tongkat panjang di bawah es, dengan tali di ujungnya. Mereka ikat tali itu di bawah ketiakku. Lalu—dor!—aku dicemplungkan di lubang pertama, diseret di bawah es, dan diseret keluar di lubang kedua.”

Lyubka menutup mulutnya, ngeri. “Beku, rasanya seperti surga yang membalas,” lanjut Merik. “Tubuhku kaku. Tapi mereka belum puas. Mereka memukuli lutut dan sikuku dengan tongkat sampai aku tak bisa berdiri. Lalu pergi, meninggalkanku di salju. Untung ada perempuan lewat, menjemputku. Kalau tidak, mungkin aku tak sempat menyesal.”

Yergunov menelan ludah. Vodka terasa getir. Ia ingin mengatakan sesuatu yang membuat mereka kagum, agar tak lagi dianggap beku di pojok ruangan. Maka ia mulai bercerita, dengan mulut yang mulai berat karena alkohol.

“Kalau kalian tahu apa yang pernah kualami di Penza—” katanya. Tapi suaranya tenggelam. Kalashnikov dan Merik tak mendengar, atau pura-pura tak peduli.

Mereka bicara lagi, tapi kali ini tak hati-hati. Mereka bicara tentang pencurian, tentang pelarian, tentang malam yang menelan kuda dan manusia seperti lumpur. Yergunov mengerti: ia sedang makan malam bersama dua pencuri, mungkin pembunuh. Tapi anehnya, ia tak takut. Ia hanya merasa iri.

Lalu Lyubka datang lagi, membawa dua botol anggur manis, sepinggan kacang dan biji labu. Ia duduk, menyalakan lilin baru. Cahaya lilin bergetar di pipinya. Kalashnikov mengangkat gelas, bersulang.

“Untuk Andrey Grigoritch, ayah Lyuba,” katanya. “Semoga arwahnya tenang. Dulu, kalau dia masih hidup, kita berkumpul di sini, dengan Filya, Martin, Fyodor. Malam-malam kita penuh tawa. Sekarang, hanya bayangannya yang tersisa.”

Lyubka keluar sebentar. Ketika kembali, ia mengenakan kerudung hijau dan kalung manik-manik berkilau. “Lihat, Merik,” katanya sambil menatap cermin kecil di dinding, “ini pemberian Kalashnikov hari ini.”

Ia menggeleng-gelengkan kepala agar manik-maniknya berderak, lalu membuka peti, mengeluarkan gaun bermotif bunga, syal biru tua berkilau benang emas. Setiap benda ia tunjukkan seperti anak kecil memamerkan mainan.

Kalashnikov memetik balalaika. Senarnya mengaduk udara dengan nada yang tak jelas: setengah gembira, setengah duka. Lalu Merik berdiri. Ia mulai menari. Tumitnya mengetuk lantai, cepat dan keras. Ia melompat, memutar, menekuk lututnya hingga tampak seperti setan kecil yang siap terbang.

Lyubka berseru kecil, ikut menari. Gaunnya yang merah berputar, seperti api yang lupa padam. Rambutnya terurai, memantulkan cahaya lilin. Mereka menari seperti dua nyala lilin yang saling menjilat.

Yergunov, yang setengah mabuk, menatap dari pojok ruangan. “Perempuan itu seperti api,” pikirnya. “Untuknya, seluruh dunia pun bisa terbakar.”

Ia ingin ikut berdiri, ingin ikut menari, tapi tubuhnya tak berani. Ia hanya duduk di atas peti, menatap Lyubka yang menari seperti roh dari legenda lama—seolah tubuhnya bukan daging, melainkan nyanyian. BERSAMBUNG

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.

Cerpen

Kembang Api di Atas Kota Kosong Menyedihkan

Cerpen Titi Setiyoningsih

Perempuan itu menelepon tepat satu minggu setelah foto pertunanganku terunggah di Instagram. Setelah lima tahun kami menjaga jarak dengan cara yang sopan, kini dia ingin bertemu denganku.  Aku sebetulnya enggan tapi penasaran setengah mati. Pasti hal luar biasa telah terjadi. Layaknya setiap pertemuan yang dipaksakan terjadi, kami canggung berbasa-basi. Dia menanyakan bisnis toko buku yang kukelola, mengucapkan selamat atas buku terbaruku yang sebetulnya sudah setengah tahun lalu release.

“Tiga hari yang lalu aku datang kemari,” katanya kikuk. “Tapi kulihat kamu sangat sibuk dengan para pelangganmu.”

Aku berusaha terlihat kaget. “Oh ya? Seharusnya kamu menyapaku saja.” Ini baru permulaan dan aku mulai kelelahan. Jelas-jelas dia sering mampir ke toko ini. Para karyawan yang mengatakannya. Perempuan ini selalu datang dengan raut gelisah, kebingungan, dan tak pernah membeli apa pun. Seolah dia tersesat, terkejut mendapati dirinya di toko buku dan bukan di butik baju.

Dia berusaha membuka obrolan lagi, kali ini tentang kekagumannya pada tulisanku. Aku sudah tak tahan. “Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?”

Wajahnya yang ramah kini berubah tegang dan putus asa. “Tidak, aku sangat kacau. Seharusnya aku tidak kemari,” dia hendak berdiri dan spontan ku tarik tangannya. Aku mengajaknya ke atap lantai tiga.

“Cuma ada kita berdua,” kataku mencoba menenangkan. Dia memunggungiku menatap lalu lintas di bawah sana. Kunyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya perlahan. “Masih merokok?” tanyaku menawarkan sebatang padanya.

“Kent masih mencintaimu,” ujarnya spontan.

Kuisap lagi rokokku dalam-dalam. “Tidak, dia tidak pernah mencintaiku.”

“Dia masih membicarakanmu di belakangku,” perempuan itu berbalik dan menerima tawaran rokokku. Kami menyemburkan asap rokok bergantian. Di trotoar sana seekor kucing rupanya berhasil menggondol ikan dari dapur restoran.

“Kupikir kucing itu sudah mati,” gumamku.  Angin di atap gedung mulai mengibarkan rambut kami berdua. “Ngomong-ngomong aku bukan kucing itu. Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

“Aku tahu. Aku ke sini bukan untuk menuduhmu,” katanya dengan nada yang lebih tenang daripada tadi.

“Kent tidak pernah mencintaiku. Dia hanya berasumsi dia mencintaku,” kataku sungguh-sungguh. Perempuan itu masih diam menunggu penjelasan. “Dia seolah-olah mencintaku, tapi tidak. Dia menciptakan konsep tentang diriku dan dia mencintai konsep itu. Bukan aku. Jadi ketika kami bersama, itu pun kau tahu tidak lama, banyak kekecewaan dalam hubungan kami. Dia belum menerima realita tentang diriku seutuhnya dan aku cukup frustrasi karena merasa diperlakukan tidak layak,” jelasku.

“Aku tidak paham, dia selalu memujimu,” ujarnya terdengar malu.

“Nah itu maksudku. Dia berpikir aku seperti ini dan itu. Dia mendekatiku karena berpikir aku begini dan begitu. Lalu saat kutunjukkan lapisan terdalamku, dia mundur. Dia tidak ingin menerimanya, dia hanya ingin aku yang ada dalam imajinasinya. Yah begitulah, kamu tahu sendiri kelanjutannya,” jelasku lagi.

Jika aku boleh jujur. Hubunganku dengan Kent adalah hubungan paling melelahkan yang pernah kujalani. Rasanya seperti tercekik berbulan-bulan. Dia selalu punya cara untuk melambungkanku ke angkasa sebelum akhirnya menjatuhkanku kembali ke bumi. Berkali-kali. Menarik dan mengulurku serupa karet gelang yang sengaja dimainkan. Terlalu sering dia melukiskanku langit biru, lalu mendadak mengubahnya menjadi hujan. Aku hidup dalam permainan caturnya yang dia ganti aturannya setiap hari. Aku terlalu optimis kala itu untuk membuat hubungan kami berhasil.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya lagi.

Ingin kujawab, kabur dan larilah sekencang-kencangnya! Tapi percuma jika perempuan ini masih dibutakan oleh kilau kembang api Kent. Ya, Kent seperti kembang api yang bersinar di atas kota kosong menyedihkan setiap perempuan yang kesepian. Kent hanya ingin perhatian, bukan cinta. Dia tidak pernah menginginkan cinta. Aku beruntung berhasil melarikan diri sebelum laki-laki itu lebih menyakitiku.

“Kau tahu jawabannya,” ujarku enggan. Aku selalu benci pada perempuan yang dibutakan perasannya, segala petuah akan terlihat seperti comberan saat kau sedang jatuh cinta.

“Dia menangis saat melihat foto pertunanganmu,” katanya akhirnya.

“Seperti itulah Kent. Suatu hari dia juga akan menangis melihat fotomu bersama laki-laki yang bukan dirinya. Dia selalu menangisi yang bukan miliknya.”

“Begitu ya?” Perempuan itu tersenyum kecil menatapku. Dari wajahnya aku tahu Kent telah memaksanya meminum air dari lautan, yang justru membuatnya makin kehausan, hingga berakhir meminta Kent memberinya lagi dan lagi. “Selamat ya atas pertunanganmu!” katanya.

“Hadirlah ke pernikahanku,” kataku meyakinkannya.

Perempuan itu menggeleng, “Kau pasti tahu jawabanku.”

Dalam diam kami berdua telah bersepakat, setelah malam ini kami akan kembali menjaga jarak seperti sebelumnya. Aku juga berharap dia mulai berhenti memikirkan cara untuk menyingkirkanku. Sudah lama aku memutuskan keluar dari arena permainan Kent, bahkan jauh sebelum mereka berdua saling mencumbu.

____________________

Titi Setiyoningsih. Dosen di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Cerpen

Legawa Berpikir untuk Bunuh Diri

Cerpen Danang Febriansyah

Akhirnya setelah minta transfer uang dari ibunya, Legawa pulang naik bis. Ia kecewa sebab koordinator unjuk rasa membiarkannya kelaparan. Pun uang lelah tak juga dibayarkan. Keringat yang bercucuran di siang yang panas dan berteriak menolak penutupan rumah ibadah besar di ibukota seakan menjadi antiklimaks karena makan siang tak ada, bayaran juga sirna. Bahkan koordinator unjuk rasa tak nampak setelah polisi membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi kerusuhan. Legawa bahkan sempat tersulut emosi mudanya karena terkena gebuk dari polisi. Ia sempat membalas dan memukul salah satu petugas keamanan.

Sebenarnya Legawa adalah seorang pemuda penakut. Tapi karena jiwa mudanya sudah dibakar sedemikian rupa, dibakar bahwa menolak penutupan rumah ibadah adalah bentuk ajaran agamanya dan akan mendapat pahala, emosinya meledak. Pemerintah yang akan menutup bahkan menghancurkan tempat ibadah di ibukota adalah pemerintah yang ateis. Maka sepenakut apapun Legawa, jika banyak pemuda lain yang telah mendapatkan semangat serupa dirinya, Legawa akan nekat.

Pada akhirnya unjuk rasa bubar. Dan ia telah ditandai oleh petugas keamanan. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan ibu yang sakit sesak napas. Ketika ingin diajak ke rumah sakit beberapa waktu lalu, ibu menolak. Sebab takut sakitnya yang menahun itu didiagnosa terkena pandemi.

Sampai di rumah, ia melihat ibunya masih tertidur ditemani dua adiknya. Ia masuk kamarnya dan merebahkan badan di lantai. Legawa mengambil beberapa buku dan digunakan untuk bantal.

Matanya menerawang, ia sangat kecewa dengan unjuk rasa yang diikutinya. Apa yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Sehari kemudian kabar unjuk rasa itu sudah beredar di koran dan televisi. Dan yang paling mengecewakan adalah bara yang dibawa koordinator unjuk rasa bahwa pemerintah akan menutup rumah ibadah itu ternyata hanya berita bohong. Hanya untuk membakar semangat mudanya yang menggelegak, agar segera bergerak melawan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan oleh orang yang tak bertanggungjawab.

Adiknya masuk kamar dan memintanya untuk membelikan obat untuk ibu. Ia bangkit, ia akan mengambil sisa uang yang ditransfer tadi untuk obat ibunya. Di teras rumah, ia sekilas melihat gerobak bapaknya dulu untuk jualan sayur. Dengan motor tua milik almarhum bapaknya, ia berangkat ke apotek.

Legawa berpikiran untuk melamar kerja beberapa hari kemudian. Ibu butuh banyak obat demi kesembuhan. Tapi ternyata banyak perusahaan menolak lamarannya meski ijazahnya sarjana dari univeritas yang baik. Tapi karena ia terlibat unjuk rasa, Legawa tidak mendapatkan surat keterangan berkelakuan baik. Ia merasa kuliahnya menjadi sia-sia gara-gara berteriak di siang yang terik dalam unjuk rasa.

Ia embuskan asap rokok saat duduk di teras rumahnya sambil memandangi gerobak milik bapaknya. Terbersit harap memanfaatkan kembali gerobak yang mulai rapuh itu seteleh ditinggal bapaknya meninggal dunia setahun yang lalu.

Legawa membersihkan kembali gerobak itu serta memperbaiki dan mengganti bagian-bagian yang rapuh. Besok ia berencana menjual sayur. Meneruskan usaha bapak.

Jam tiga pagi dia bangun tidur. Dengan mengendarai sepeda motor tua, ia mengikat gerobak sayur di belakang motor. Legawa menuju pasar untuk kulak berbagai macam sayur. Menggunakan gerobak yang di atasnya telah ditata berbagai macam sayur, Legawa mencari tempat yang sesuai di dalam pasar. Namun setiap tempat dan los di dalam pasar tak ada lagi ruang untuknya. Ia berusaha meminta sedikit tempat pada pedagang yang telah menempati los pasar, namun tak ada satupun yang mengizinkan. Akhirnya ia menggelar dagangan di tengah persimpangan di dalam pasar. Satu dua pembeli menjadi pembelinya. Tapi kemudian petugas pasar datang dan memintanya pergi, sebab ia mengganggu pejalan dan pengunjung pasar jika ia berdagang di tengah jalan.

Legawa pun pergi, keluar dari pasar. Ia menarik gerobaknya dengan motor tua. Sayurannya tak terlihat berkurang. Ia coba masuk kampung untuk menjual dagangannya. Tapi ternyata setiap kampung yang ia masuki telah ada penjual sayur yang lain yang memintanya tak masuk kampung tempat mereka berjualan.

Ia pulang dengan sedikit hasil. Sayuran dagangannya masih menumpuk. Ibu menyarankan untuk dibagikan pada tetangga.

“Setiap doa dari orang yang kau beri adalah pupuk hidupmu.” Begitu kata ibu.

Setelah semua dagangan ia bagikan ke tetangga, ia kembali duduk di teras dan menyalakan rokok. Ia bosan di teras, lalu masuk ke dalam rumah, sebentar melihat ibunya di kamar, kemudian masuk kamarnya sendiri. Mengambil beberapa buku untuk bantal dari tumpukan buku di samping tempat tidurnya.

Legawa berpikir untuk menjual buku-bukunya saja. Sebab jika tak terjual hari ini, maka buku tak layu seperti sayuran.

Pagi berikutnya ia menarik gerobak menggunakan motor seperti kemarin, tapi isi gerobak bukan sayur, tapi buku-buku. Ia juga tak lagi masuk ke dalam pasar, sebab ia pasti akan terusir karena berjualan di tengah jalan. Legawa memilih menjual buku-bukunya di luar pasar. Ia menata buku-buku di gerobak.

Satu dua orang datang membaca buku lalu berlalu. Belum ada yang datang untuk membeli. Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan. Yang menginterogasinya.

“Sejak kapan jualan buku?” tanya petugas.

“Baru hari ini,” jawab Legawa agak gemetar.

“Kenapa kau jual buku-buku kiri?” tanya petugas lagi sambil mengambil buku Aksi Massa Tan Malaka.

“Maksudnya apa?”

“Ini kamu juga jual buku-buku teroris?” Petugas mengambil buku-buku agama.

“Tolong lah, Pak. Baca dulu. Jangan mudah menuduh.” Legawa mulai kesal.

“Apa! Kamu melawan petugas!”

Seketika dua petugas itu menghajar Legawa hingga terjungkal. Orang-orang di pasar memusatkan perhatian pada kejadian itu.

“Kamu itu nggak bisa lari dari kami. Kamu itu dalam pantauan kami! Mau main-main, hah!” Sebuah tendangan telak mengenai perutnya. Seketika napasnya menjadi sesak.

Ia ingat ibunya yang menderita sesak napas di rumah. Legawa di area pasar ini juga sesak napas karena tendangan petugas.

Seorang petugas mengobrak-abrik dagangannya, hingga gerobaknya terguling. Kemudian buku-buku yang mereka anggap terlarang diambilnya. Gerobak diangkut ke dalam truk dan membiarkan buku-buku lain berserakan. Legawa merasa kalah. Apalagi setelah unjuk rasa beberapa waktu lalu, hari-harinya terasa ada yang terus mengawasi kesehariannya. Ia takut. Sifat penakutnya telah kembali dalam kesendirian. Ia hanya berani jika bersama dengan orang yang bersikap sama dengannya. Ia mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya.

Beberapa orang mencoba menolongnya untuk bangkit dan menghibur dirinya. Ia benci pada petugas keamanan. Ia ingin kembali berunjuk rasa seperti dulu. Tapi ia telah kecewa karena janji koordinator unjuk rasa dan si pembakar semangat. Upah unjuk rasa tidak diberikan. Makan siang pun tak ada. Ia membenci itu.

Karenanya, ia ingin berunjuk rasa sendirian. Tanpa koordinator. Ia hanya ingin memperjuangkan nasibnya saja. Maka masih disertai rasa takutnya, Legawa berangkat ke kantor petugas keamanan.

“Aku ingin mengambil gerobakku, Pak,” ucap Legawa gemetar di bagian depan kantor petugas keamanan.

Di sudut lain, ia melihat gerobaknya. Gerobak peninggalan bapak.

“Kamu yang jual buku-buku terlarang?” tanya petugas.

“Itu hanya buku-buku sejarah dan agama, Pak. Demi ibuku aku jual buku.” Legawa mencoba menerangkan.

“Alasan saja. Kamu itu yang ikut unjuk rasa. Jadi alasan apapun, kamu pasti punya niat menggulingkan pemerintah!” tegas petugas.

“Tidak, Pak. Aku hanya ….”

“Sudah! Pergi sana! Sebelum kami tangkap karena menyerang petugas!”

Legawa surut. Ia kembali. Pulang. Sekilas ia melihat gerobaknya. Ingin saja ia ambil. Langkahnya berbelok ke arah gerobak. Tapi petugas meneriakinya. Legawa kembali menuju jalan keluar. Dadanya bergemuruh.

Sampai rumah, adik-adiknya diminta untuk tidak memberitahu ibunya kalau ia pulang tanpa gerobak. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk kamar, menyalakan rokok dan merebahkan badannya.

Ia ingat kejadian di sebuah negara, seorang pemuda miskin yang mampu mengobarkan semangat revolusi meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Kejadian yang nyaris seperti yang dialaminya. Ia ingin negara ini tidak semena-mena pada rakyat miskin seperti dirinya. Ia merasa tidak salah, tapi petugas keamanan selalu memata-matai dirinya.

Unjuk rasa waktu itu terjadi karena ia terprovokasi seseorang. Ia hanya ikut-ikutan. Karena hal itu, ia tak bisa melamar pekerjaan. Ia coba meneruskan usaha bapak yang telah lama ditinggalkan, tapi semua keadaan sudah berubah. Ia mencoba menjual buku-buku koleksinya, petugas keamanan malah menganggapnya memberontak. Dunia menjadi sempit. Jika sudah begini, melakukan hal yang sama dengan pemuda di negara lain itu, mungkin juga akan membakar seluruh negeri ini untuk menuntut keadilan.

Ia yakin dengan hal itu.

Malam hari ia melihat ibunya tertidur dengan napas yang tampak berat. Dua adiknya menemani ibu. Ia mengambil botol air mineral bekas, lalu mengutak atik selang aliran bahan bakar motornya, sehingga bahan bakar motornya keluar dan ditampung di botol air mineral yang dibawanya.

Setelah selesai, ia mengeluarkan motornya dan pergi mewujudkan tujuannya. Masih terlalu dini, ia sampai di kantor petugas keamanan. Di bagian depan, ia melihat petugas yang kemarin mengusirnya. Matanya tampak menahan kantuk. Ia mendekatinya.

“Pak, aku mau ambil gerobakku. Itu gerobak peninggalan bapak. Aku mau jualan dengan gerobak itu,” kata Legawa pelan. Ia terlalu takut untuk bicara keras.

            “Kamu yang kemarin? Pemberontak itu?” tanya petugas merasa terganggu.

“Pak, aku hanya ingin gerobakku kembali. Aku bukan pemberontak.”

“Pergi sana! Sikapmu pada pemerintah sudah buruk. Itulah akibatnya jika melawan petugas!”

“Tapi, Pak ….”

Dan sebuah pukulan dengan tongkat mengenai lengan Legawa. Ia gemetar, takut. Tak berani jika ia sendirian. Ia hanya berani jika banyak teman seperti dalam unjuk rasa waktu itu. Karenanya, Legawa berencana melakukan rencana keduanya. Ia mengambil sebotol bahan bakar di tasnya. Ia ingin seluruh rakyat melakukan revolusi menuntut keadilan bagi rakyat kecil seperti di negara lain. Ia akan membakar tubuhnya yang akan memicu aksi besar-besaran seluruh negeri karena membaca latar belakang aksi bakar dirinya.

Di sebelah gerbang kantor keamanan, ia mengguyurkan bahan bakar dari kepalanya. Ia ambil korek api dari sakunya. Ia ingat sebuah novel yang pernah dibacanya, ‘Dalam Kobaran Api’, seorang pemuda di sebuah negeri menjadi obor api sekejap setelah korek api menyala. Lalu tubuhnya gosong dan beberapa waktu kemudian tewas.

Membayangkan itu, rasa takut Legawa membesar. Ia begidik ngeri membayangkan rasa panas dan perih di sekujur badan. Sekejap kemudian, Legawa ingat, setelah pemuda mati, aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri. Betapa pemuda itu menjadi pahlawan. Sungguh heroik. Ia ingin seperti itu.

Namun, rasa takut makin memeluknya. Korek api dilihatnya. Dan kenekatannya padam.

___________________

Danang Febriansyah. Mengenal lebih banyak karya sastra dan belajar menulis dari Komunitas Sastra Alit, Solo. Beberapa karyanya telah dimuat di media dan dibukukan. Novel “Arundaya: di Masjid Kuserahkan Cintaku” terbit 2019 dan diterbitkan dalam Bahasa Jawa tahun 2021 oleh Penerbit Diomedia. Kumpulan Cerpen “Ia yang Menjelma Bunga Matahari”, terbit 2025 di lini Penerbit Andi Jogja. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri sambal mengelola Taman Baca Fatiha

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (3. Terakhir)

Charles Dickens

Aku belum sempat menatap miniatur itu, yang masih terkurung di dalam loket perak, ketika sosok itu beringsut di antara kami. Ia membelah ruang dan daging manusia, mengambil tempat di antara aku dan juri di sebelahku. Ia meneruskan benda itu, dan dari tangan ke tangan miniatur itu berpindah, berputar melewati dua belas orang kami, lalu entah bagaimana kembali lagi ke tanganku.

Dan anehnya, tak seorang pun dari mereka menyadarinya. Mereka memandang ke depan dengan wajah letih dan mata beku, seolah tidak ada hantu yang barusan menyentuh mereka.

Di meja makan, dan hampir setiap kali kami terkurung bersama di bawah penjagaan Tuan Harker, kami, dua belas orang juri, selalu saja membicarakan jalannya persidangan hari itu. Sejak hari pertama, percakapan kami berputar-putar di sekitar bukti, saksi, dan dugaan, seperti roda gerobak tua di jalan berlumpur.

Namun pada hari kelima, ketika pihak penuntut menutup kasusnya dan segala perkara terbuka jelas di hadapan kami, suasana pembicaraan menjadi lebih berat, lebih serius, dan lebih panas.

Di antara kami ada seorang anggota dewan gereja, makhluk paling dungu yang pernah dibiarkan berkeliaran di muka bumi. Ia menentang bukti yang paling jelas dengan keberatan yang paling tolol. Ia didukung pula oleh dua parasit paroki yang lembek dan berminyak wajahnya, seperti roti yang tengik. Ketiganya berasal dari sebuah distrik yang begitu akrab dengan Demam dan Kematian, hingga semestinya merekalah yang diadili atas lima ratus pembunuhan yang tak kasatmata.

Malam itu, menjelang tengah malam, ketika beberapa dari kami sudah menyiapkan diri untuk tidur dan ketiga orang itu berdebat seperti tiga lonceng rusak yang bersahut-sahutan, aku melihatnya lagi. Ya, lelaki yang dibunuh itu berdiri di belakang mereka, diam dan kelam, memanggilku dengan isyarat jarinya yang dingin.

Aku berdiri, mendekat, pura-pura ikut dalam perdebatan mereka, dan seketika itu juga sosok itu menghilang, seperti asap yang disapu oleh napas Tuhan.

Sejak saat itulah muncul serangkaian penampakan baru, yang hanya terjadi di ruangan panjang tempat kami dikurung itu. Setiap kali sekelompok juri menundukkan kepala, berbisik-bisik menyusun penilaian, kepala si terbunuh muncul di antara mereka.

Setiap kali mereka bersepakat bahwa si terdakwa bersalah, ia—sang arwah—menatapku dalam-dalam, dan dengan gerak tangannya yang berat, memanggilku lagi, seperti seseorang yang memohon agar kebenaran tak dikubur bersama tubuhnya.

Perlu diingat, hingga munculnya miniatur pada hari kelima persidangan itu, aku tak pernah melihat sosok itu di ruang sidang. Tapi ketika sidang beralih ke pihak pembela, tiga perubahan terjadi. Dua di antaranya akan segera kuceritakan.

Pertama, sosok itu kini selalu hadir di pengadilan. Ia tak lagi muncul sesekali seperti kabut yang datang dan pergi; ia menetap di ruang itu, mendengarkan, menatap, menyelidik, seolah turut menimbang perkara di dalam pikirannya yang tak lagi dimiliki dunia.

Kedua, ia tak lagi menoleh padaku seperti sebelumnya, tapi mengarah sepenuhnya pada orang yang berbicara. Ketika seorang pengacara pembela berdiri dan menyatakan bahwa si terbunuh mungkin telah menggorok lehernya sendiri, sosok itu muncul di sampingnya. Lehernya terbelah lurus, menganga seperti celah pada bumi setelah gempa.

Dengan tangan kanan, lalu kiri, ia menyayat udara berulang-ulang di lehernya sendiri, memberi isyarat getir yang berarti bahwa tidak mungkin manusia hidup menggores dirinya sedalam ini. Darah tak lagi menetes dari luka itu, tapi udara di sekitarnya terasa seolah berbau besi dan takut.

Lalu ketika seorang saksi perempuan berdiri—seorang yang menyatakan bahwa terdakwa adalah “manusia paling lembut dan penuh kasih di dunia”—sosok itu melangkah ke depannya.

Ia berdiri tepat di bawah cahaya gas yang berkedip redup, menatap wajah perempuan itu dalam-dalam, dan dengan tangan panjangnya yang pucat seperti malam di bawah bulan, menuding wajah si terdakwa. Seolah ingin berkata tanpa suara, “Lihatlah baik-baik. Wajah kebaikan itu telah menenggelamkanku dalam darah.”

Perubahan ketiga inilah—yang paling dalam, paling menggetarkan di antara semuanya. Aku tidak hendak menafsirkan, apalagi menenun teori dari kabut. Aku hanya akan menyampaikan sebagaimana adanya, dan biarlah misterinya berdiri sendiri, seperti batu nisan tanpa nama di tengah kabut London.

Meski sosok itu tak pernah tampak bagi orang-orang yang disapanya, kehadirannya selalu meninggalkan getar, sebuah kegelisahan samar yang menyeret bayangan ke wajah siapa pun yang disentuhnya. Seolah ada hukum alam yang menghalangi dirinya menampakkan diri secara penuh, namun tak sanggup mencegahnya menyelimuti jiwa manusia dengan kehadiran yang sunyi dan gelap.

Ketika pengacara pembela mengajukan gagasan bahwa korban mungkin bunuh diri, Sosok itu berdiri di sampingnya. Lehernya masih terbuka, mengiris udara seperti gergaji yang kesakitan. Pengacara itu tiba-tiba terhenti. Ucapannya patah. Tangan gemetarnya mengusap peluh di dahi, dan wajahnya memucat seperti kertas pengadilan yang belum ditulisi kesaksian.

Begitu pula dengan saksi perempuan—ia yang menyebut si terdakwa sebagai lelaki paling suci. Ketika Sosok itu menatapnya dan mengarahkan jarinya ke wajah si terdakwa, mata perempuan itu mengikuti isyarat itu dengan ragu dan ngeri yang tak bisa disembunyikan.

Ada dua kejadian lain yang menegaskan semua itu. Pada hari kedelapan persidangan, setelah jeda makan siang, aku dan sebelas juri lainnya kembali ke ruang sidang lebih awal. Aku berdiri, memandang ke sekeliling, dan sempat mengira Sosok itu tidak hadir hari itu—sampai mataku terangkat ke arah galeri. Di sana ia berdiri, membungkuk di atas bahu seorang perempuan sederhana, seolah ingin memastikan apakah para hakim sudah kembali ke kursinya atau belum.

Perempuan itu menjerit keras, lalu pingsan, digotong keluar seperti boneka kain yang kehilangan jiwanya.

Dan ketika akhirnya Hakim Tua—yang bijak dan sabar itu—mulai membacakan simpulan persidangan, Sosok itu muncul dari pintu khusus para hakim. Ia mendekati meja tinggi itu, menunduk, menatap penuh dahaga pada catatan-catatan yang tengah dibalik satu per satu.

Wajah sang hakim berubah. Tangannya berhenti menulis. Getaran dingin—yang sudah kukenal dengan ngeri—menyusuri tubuhnya. Ia tergagap, suaranya parau seperti keluar dari kabut: “Maafkan saya, Tuan-tuan… udara di sini terasa menyesakkan.”

Setelah meneguk segelas air, warna pipinya kembali. Tapi aku tahu, bukan udara yang mencekiknya, melainkan tatapan kematian yang berdiri di belakang bahunya.

Selama enam dari sepuluh hari yang seolah tak berujung itu, segala sesuatu membeku dalam kebiasaan yang menjemukan. Para hakim yang sama duduk di bangku tinggi mereka; si pembunuh yang sama berdiri di kandang terdakwa; para pengacara yang sama mengatur berkas dan memelintir kalimat; suara tanya dan jawab yang sama bergema di langit-langit ruang sidang, mengulang diri seperti gema yang kehilangan arah.

Tiap hari pena hakim mencakar kertas dengan suara serupa gerit tulang; para juru sidang datang dan pergi dengan langkah yang sama; lampu-lampu dinyalakan di jam yang sama saat sinar matahari menyerah pada kabut yang menempel di jendela-jendela besar; hujan menetes dengan ritme yang sama; kunci berputar dalam lubang yang sama; pintu berat itu terbuka dan tertutup dengan keluhan besi yang sama.

Semua itu—keseragaman yang beku dan menekan—membuatku merasa seakan telah menjadi Ketua Juri sejak zaman Babilonia berdiri di tepi Piccadilly. Waktu terasa lumpuh; setiap napas hanyalah pengulangan dari napas kemarin.

Namun di tengah kebosanan yang menjemukan itu, sosok si terbunuh tak pernah memudar. Ia tetap sejelas cahaya lilin di ruang penuh kabut, sama nyatanya dengan siapa pun di hadapanku. Ia tidak pernah menghilang, tidak pernah menjadi bayang samar di pinggir kesadaranku.

Dan ada satu hal yang selalu kucatat dengan gentar: tak sekalipun aku melihat sosok itu menatap ke arah si pembunuh. Berkali-kali aku bertanya dalam hati, “Mengapa tidak? Mengapa matanya tak menusuk wajah orang yang telah mengakhiri hidupnya?”
Namun ia tak pernah melakukannya.

Seolah dalam diamnya, tersimpan rahasia yang bahkan maut sendiri tak sanggup mengucapkannya. Ia pun tak pernah lagi menatapku—sejak miniatur itu dihadirkan—hingga saat-saat terakhir dari pengadilan panjang dan melelahkan itu tiba.

Kami, dua belas orang juri yang nyaris kehilangan rasa waktu, diperintahkan untuk berunding pada pukul sembilan lewat tiga menit malam. Namun si penjaga gereja yang dungu itu—beserta dua parasit parokinya—membuat kami tersiksa seperti roh-roh yang tersesat di lingkaran api. Dua kali kami harus kembali ke ruang sidang, memohon agar catatan hakim dibacakan ulang.

Sembilan di antara kami tak sedikit pun meragukan makna catatan-catatan itu—bahkan kurasa tak seorang pun di pengadilan meragukannya—namun tiga orang tolol itu, yang hanya mengenal keonaran, terus bersikeras menentang karena mereka tak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan.

Akhirnya kami menang. Pada pukul dua belas lewat sepuluh malam, kami kembali memasuki ruang sidang. Dan di sanalah ia—si terbunuh itu—berdiri tepat di seberang kotak juri, memandang lurus ke arah kami. Ketika aku duduk, mata itu menancap padaku dengan kesungguhan yang menggetarkan, seolah menakar segala yang telah terjadi.

Ia tampak puas—atau mungkin lega—lalu dengan gerakan perlahan ia mengangkat sebuah tirai kelabu besar yang menggantung di lengannya. Dengan lirih dan khidmat, ia menyelubungi dirinya dari kepala hingga kaki.

Dan ketika aku menyerahkan putusan kami—“Bersalah.” Tirai itu runtuh. Ia lenyap tanpa jejak. Ruang tempatnya berdiri menjadi hampa.

Hakim, dengan suara resmi yang menua di udara malam, bertanya kepada terdakwa apakah ia ingin mengatakan sesuatu sebelum hukuman mati dijatuhkan. Lelaki itu bergumam tak jelas—kata-katanya terputus, separuh tergelincir dari akal sehatnya.

Keesokan harinya, surat kabar besar menulis bahwa ia mengeluh karena merasa tidak diadili secara adil; katanya, ketua juri telah memusuhinya sejak awal.

Namun apa yang sesungguhnya diucapkannya malam itu—kata-kata yang menembus tulang dan membuatku menggigil—adalah ini:

“Yang Mulia, aku tahu aku sudah ditakdirkan mati, sejak ketua juri itu melangkah masuk ke kotak tempatnya duduk. Yang Mulia, aku tahu ia tak akan pernah melepaskanku, karena sebelum aku ditangkap, entah bagaimana, ia telah datang ke sisi ranjangku di tengah malam, membangunkanku, dan menjeratkan tali ke leherku.”

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

_____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Belakang

MERAH DAN SUMPAH

Malam-malam yang sering hujan. Oktober yang basah. Oktober yang membuat tubuh kedinginan dan malas. Padahal ada mata yang merindukan bulan mesem di langit. Bulan yang tidak akan selalu purnama. Mata kadang melihat sabit, yang mengingatkan hidup dalam sisa atau cuilan. Purnama yang indah malah kadang disumpah oleh orang-orang yang kasmaran dan meratap atas hidup yang dihinakan.

Dingin yang dirasakan dan malam yang nelangsa akan sempurna dengan dangdut. Duduk atau berbaring, telinga diberikan kepada lagu yang berjudul “Tujuh Purnama”. Bergantian yang didengar adalah lagu yang dibawakan Nur Halimah dan Rita Sugiarto. Dangdut yang menyiksa ketimbang seribu puisi.

Yang mendengar dengan mata terpejam: Genaplah tujuh purnama/ diriku engkau tinggalkan/ sendiri sekeping hati/ di dalam kehampaan// Mana janji dan sumpahmu/ yang kau tulis di kalbumu/ di saat benih yang engkau taburkan/ di tanah yang rawan/ yang masih rawan. Lagu yang tidak memberi keselamatan atau kebahagiaan saat malam bertambah malam. Malam pun jahanam.

Beberapa purnama setelah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang terbit adalah merah. Yang melewati purnama-purnama pada masa lalu tidak disiksa asmara tapi nasionalisme. Mereka ingin purnam-purnama menjadi saksi adanya Indonesia. Pada saat menatap purnama, yang terbayang adalah Indonesia yang mulia dan terang.

Setelah beberapa purnama, mereka yang ikut Kongres Pemuda II memang memutuskan hidup bersama. Dulu, mereka pernah membuat siasat untuk menjadi Indonesia. Siasat itu perkawinan yang mempertemukan suku-suku berbeda. Konon, siasat perkawinan itu mengesahkan persatuan atau bhinneka tunggal ika. Perkawinan yang tidak masuk dalam laril-larik Sumpah Pemuda atau diberitakan di surat kabar.

Namun, ada yang menemukan merah setelah beberapa purnama dari peristiwa yang bersejarah. Merah itu buku. Merah bukan warna bulan purnama. Pada 1929, terbit Kitab Arti Logat Melajoe susunan D Iken dan E Harahap. Buku berwarna merah diterbitkan oleh Boekhandel Visser & Co, Weltevreden-Bandoeng. Buku itu mungkin terbaca oleh kaum muda yang telanjur bersumpah demi Indonesia.

Mengapa kaum muda memilih sumpah? Yang dicantumkan dalam buku merah halaman 289 adalah “soempah”. Kita membaca arti yang berdekatan dengan peristiwa 28 Oktober 1928. Apakah sebelum mengumumkan, kaum muda sibuk buka kamus-kamus untuk akhirnya keputusan atau resolusi itu dinamakan Sumpah Pemuda?

D Ikeh dan E haraha mengartikan “soempah” adalah “koetoek, teloeh, bila melangkah djanji, kena koetoek oleh salah pengakoean.” Arti-arti yang bikin gemetar. Apakah kaum muda tidak salah pilih kata dalam sejarah? “Bersoempah” adalah “mengangkat perdjandjian dan pengakoean akan benar dan setia, akan membenarkan diri, demi Allah.” Dulu, sumpah ada dalam sejarah. Selanjutnya, sumpah diumbar dalam lagu-lagu asmara picisan. Sumpah dala lagu-lagu dangdut dan pop itu membuat kita tidak terbebani sejarah tapi dihabisi perasan-perasaan.

Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) menghasilkan keputusan yang mengandung kata-kata butuh ditilik pengertiannya setelah beberapa purnama. Di buku merah, kita membaca lema “bangsa” yang berarti “soekoe, djenis berasal moelia, sedjati, jang sebahasa seadat dan seagama.” Kita diingatkan tentang seruan bangsa Indonesia, yang membesar, dari masa ke masa.

Yang bikin pensaran adalah penyebutan “kami”. Di teks Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi (1945), “kami” dicantumkan dalam deru sejarah yang penuh gairah. Siapa yang mengusulkan agar dicantumkan “kami” pada 1928? Apakah itu usulan M Yamin, yang gandrung sastra dan berhasrat memajukan bahasa? Apakah yang mengusulkan malah WR Soepratman? Namun, kita yang akrab dengan lagu berjudul “Indonesia Raya” cuma menemukan “aku” dan “kita”. Yang teringat: “Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Penggubah dan pengarang novel itu tidak memberi lirik: “Marilah kami berseru Indonesia bersatu.”

Di buku susunan D Iken dan E Harahap, “kami” diartikan “diri kesa lebih seorang; jang berkata dengan temannja ketjoeali pendengar, lagi dipakai ganti akoe.” Jadi, kita mengingat 1928 dengan “kami” dan “kita”. Lagu gubahan WR Soepratman itu berkaitan Sumpah Pemuda.

Yang cukup membingungkan lagi adalah sebutan pemuda, dan putra, putri. Kita yang membaca buku merah terbitan 1929 berimajinasi kata-kata digunakan dalam peristiwa 1928. Kita pilih melacak “pemuda”. Yang ditemuukan adalah “moeda” di halaman 206. Artinya: “ketjil oesia, sedikit oemoer, mentah, belia, lawan toea.” Buku lawas itu bikin kita tambah pikiran saat mengingat sejarah menyebut adanya kaum muda dan kaum tua.

Buku merah usianya akan selalu mengikuti peringatan Sumpah Pemuda. Ia bisa saja berusia melewati seratus tahun jika pemiliknya merawat secara tulus dan penuh kasih. Buku dalam kondisi agak rusak, Punggung buku hilang. Jahitan masih agak kuat. Tampilan sampul tebal pun tampak tidak mulus. Sampul itu pernah menderita oleh binatang. Bekas-bekas kerusakan terlihat.

Yang membaca pengantar sehalaman bakal mengetahui buku merah itu cetakan yang kelima. Jadi, buku itu mula-mula terbit? Yang terbaca di pengantar: 26 November 1914. Berarti buku cetakan pertama mendahului Sumpah Pemuda. Kita mulai menebak ada beberapa orang yang membaca dan menggunakannya sebelum turut Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Pada masa lalu, Kitab Arti Logat Melajoe mungkin buku yang penting bagi orang-orang yang belajar di sekolah, bekerja di birokrasi, sibuk di pergerakan politik kebangsaan, dan pengabdian sastra di tanah jajahan. Buku yang ikut berpengaruh dalam perkembangan bahasa “Melajoe”. Pada masa yang berbeda, kita belum mendapat kabar adanya cetak ulang yang berjudul “Kitab Arti Logat Indonesia”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 2)

Charles Dickens

Kepada diriku sendiri, aku memastikan satu hal: wajah itu belum pernah kulihat sebelumnya, selain di jalan Piccadilly, di antara pusaran daun musim gugur. Ketika aku membandingkan ekspresinya malam itu, ketika ia memanggilku dari pintu, dengan tatapan yang dulu dilemparkannya ke jendelaku, aku sadar satu hal. Pada pertemuan pertama, ia mencoba menanamkan dirinya di ingatanku. Pada pertemuan kedua, ia datang hanya untuk memastikan bahwa aku tak mungkin melupakannya lagi.

Malam itu aku berbaring, tak nyaman. Namun anehnya, di dalam kegelisahan itu, tumbuh keyakinan samar bahwa sosok itu takkan kembali. Mungkin karena ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya: tempat tinggal di dalam ingatan manusia.

Menjelang fajar, aku akhirnya terlelap dalam tidur berat. Cahaya pagi menetes lewat tirai ketika aku dibangunkan oleh suara langkah pelan. John Derrick berdiri di tepi ranjang, wajahnya masih pucat, tangannya menggenggam selembar kertas koran. Di atasnya, aku tahu, dunia baru saja menuliskan bab berikut dari mimpi burukku.

Ternyata kertas di tangan Derrick itulah sumber keributan kecil di depan pintu, antara dirinya dan pengantarnya. Kertas itu bukan sembarang surat. Itu adalah panggilan resmi agar aku hadir sebagai anggota juri pada sidang berikutnya di Central Criminal Court, Old Bailey.

Selama hidupku, aku belum pernah dipanggil untuk tugas semacam itu. Derrick, yang mengenal tiap kebiasaanku seperti mengenal lipatan wajahku sendiri, tahu benar hal itu. Ia percaya, entah dengan alasan masuk akal atau tidak, bahwa para juri biasanya diambil dari lapisan masyarakat dengan kualifikasi yang lebih rendah dariku. Karena itu, ketika petugas datang menyerahkan surat, Derrick menolaknya mentah-mentah, yakin bahwa panggilan itu pasti salah alamat.

Namun petugas itu tenang saja, nyaris dingin. “Hadir atau tidak, bukan urusanku,” katanya. “Surat ini sudah di tanganmu; risiko selebihnya milikmu sendiri.”

Ia pun pergi, meninggalkan keheningan yang terasa seperti gema dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kewajiban hukum.

Sehari-dua hari aku bimbang. Antara patuh atau mengabaikan. Tak ada dorongan misterius, tak ada tarikan gaib yang menuntunku ke satu arah. Aku sepenuhnya sadar dan waras ketika memutuskan. Dan akhirnya, setelah berpikir panjang, aku memilih untuk pergi.

Mungkin karena ingin menuruti kebosanan hidupku yang membatu. Mungkin karena di dasar jiwaku ada sesuatu—sesuatu yang belum bernama—yang sudah menunggu di ruang sidang itu. Sesuatu yang ingin menatapku balik dari kursi terdakwa dan berkata tanpa suara:
“Kau sudah kupilih sejak pertama kali aku menoleh di Piccadilly.”

Pagi yang ditentukan itu datang dalam keadaan mentah dan menggigil, sebuah pagi bulan November yang seolah tak selesai dilahirkan. Kabut tebal berwarna coklat menggantung di atas Piccadilly, menyelimuti dunia seperti paru-paru yang kehabisan udara. Semakin jauh ke arah timur, melewati Temple Bar, kabut itu menebal menjadi hitam, berat, dan menekan dada seperti tangan dingin yang tak mau lepas.

Gedung pengadilan tampak menyala oleh gas yang berdesis di pipa-pipa logamnya. Lorong-lorong dan tangganya berpendar seperti napas api di dalam tenggorokan batu. Bahkan ruang sidang sendiri, tempat segala nasib dijatuhkan, bercahaya dengan cara yang tak wajar, seperti teater neraka yang berlatih sunyi.

Aku tak tahu sebelumnya—demi Tuhan, aku sungguh tak tahu—bahwa hari itu adalah hari sidang pembunuh itu. Aku bahkan tak pasti ruang mana dari dua ruang sidang yang sedang berjalan akan menjadi tempat tugasku. Para petugas membimbingku dengan susah payah melewati kerumunan hingga aku duduk di tempat yang diperuntukkan bagi para juri yang menunggu giliran.

Kabut merayap masuk melalui celah-celah jendela besar, berpadu dengan uap napas manusia yang menumpuk. Aku melihat gumpalan hitam menggantung di luar jendela, seperti tirai yang menolak disingkap. Dari luar terdengar suara roda kereta yang teredam jerami, dan dari kejauhan terdengar dengung orang banyak yang kadang teriris oleh siulan tajam atau teriakan yang terlalu bersemangat.

Kemudian dua orang hakim masuk. Gemuruh suara tiba-tiba padam, seperti lilin yang disiram. Setelah beberapa aba-aba yang kaku, terdengar perintah: “Hadirkan si pembunuh di bar.”

Ia muncul, dan saat mataku jatuh padanya, seolah seluruh kabut menyingkir hanya untuk memperjelas wajah itu. Darahku berhenti mengalir. Di sana, berdiri di bawah cahaya gas yang kekuningan, adalah lelaki pertama dari dua sosok yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly. Yang menoleh ke belakang. Yang diikuti oleh wajah sewarna lilin.

Seandainya namaku dipanggil pada saat itu juga, aku ragu aku masih sanggup menjawab dengan suara yang terdengar. Jantungku berdentam seperti hendak menerobos tulang rusuk. Namun kebetulan namaku baru disebut keenam, atau mungkin kedelapan, dalam daftar. Dalam waktu sesingkat itu, aku berhasil memulihkan sedikit keberanian dan menjawab, “Hadir!”

Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika aku melangkah masuk ke kotak juri, si terdakwa, yang sedari tadi tampak tenang dan matanya mengamati ruang sidang dengan dingin yang nyaris sopan, tiba-tiba terguncang hebat. Ia menegang, wajahnya memucat, lalu memberi isyarat gelisah kepada pengacaranya.

Keinginannya untuk menolak kehadiranku di juri begitu jelas hingga ruang sidang sempat terdiam. Sang pengacara mencondongkan tubuh, meletakkan tangan di pinggiran dock, dan berbisik dengan kliennya. Ia sempat menggeleng, pelan namun tegas. Belakangan aku tahu dari pengacara itu sendiri bahwa kata-kata pertama yang bergetar dari bibir si pembunuh adalah: “Apa pun risikonya, tantang orang itu!”

Namun ketika ditanya alasannya, ia tak memberi satu pun jawaban. Ia mengaku bahkan tak tahu siapa aku, tak pernah mendengar namaku sebelum petugas memanggilnya, sebelum aku berdiri di hadapannya. Sang pengacara tak mengindahkannya, dan aku tetap di sana, di kursi yang akan menjadi saksi antara hidup dan mati.

Sekarang biarlah aku katakan: aku tak berniat menghidupkan lagi kenangan busuk tentang si pembunuh itu. Cerita tentang sidangnya panjang, penuh detail yang menghitamkan ingatan. Tak semuanya perlu kalian tahu. Yang ingin kusampaikan hanyalah sepuluh hari dan sepuluh malam itu, waktu ketika kami, para juri, dikurung bersama, dan sesuatu yang jauh lebih ganjil dari kejahatan manusia mulai menyusup di antara kami.

Karena bukan pada si pembunuh letak misteri ini, melainkan pada apa yang terjadi padaku. Dan yang kumohon dari kalian bukan simpati untuk seorang terdakwa, melainkan perhatian untuk bayangan yang, sejak hari itu, tak pernah benar-benar meninggalkan ruang di dalam kepalaku.

Aku terpilih menjadi ketua juri. Pada pagi kedua persidangan, setelah dua jam mendengarkan saksi-saksi yang berbicara seperti gema yang jauh dan berdebu, aku mendengar lonceng-lonceng gereja berdentang dari kejauhan. Suara itu mengiris udara lembap seperti pengingat waktu yang sudah mati.

Tanpa sengaja, mataku menyapu barisan rekan-rekan juri di sekelilingku. Di sanalah keganjilan itu bermula. Aku mendapati kesulitan yang tak bisa kujelaskan untuk menghitung kami semua. Sekali kuhitung, tiga belas. Kuulangi, tetap tiga belas.

Kupejamkan mata, kubuka lagi, kutelusuri wajah demi wajah dengan hati-hati, dan tetap saja, ada satu kepala terlalu banyak. Aku menyentuh bahu rekan di sebelahku dan berbisik pelan, “Boleh tolong hitung kita semua?”

Ia menatapku dengan alis berkerut, seolah tak mengerti mengapa aku menanyakan hal yang sepele. Tapi kemudian ia berpaling dan menghitung satu per satu. Lalu, tiba-tiba ia berhenti. Ekspresinya berubah. “Kenapa… kita tiga be—” katanya, lalu mendadak menelan ucapannya dan menatap ke meja di hadapan.

“Tidak mungkin. Tidak. Kita dua belas.”

Namun aku tahu, dari getar kecil di suaranya, dari tatapan kosong yang tak berani menatapku lagi, bahwa ia juga sempat melihatnya. Bahwa untuk sekejap yang mengerikan itu, kami berdua telah menghitung tiga belas juri.

Menurut hitunganku hari itu, kami selalu benar dalam rincian, tetapi selalu berlebih satu dalam keseluruhan. Tak ada wujud apa pun, tak ada bayangan, tak ada sosok yang bisa menjelaskan kejanggalan itu. Namun di dalam diriku, perlahan tumbuh bayangan samar akan sosok yang pasti akan datang.

Para juri ditempatkan di London Tavern. Kami tidur bersama di satu ruangan besar, masing-masing di atas meja panjang yang disulap menjadi tempat tidur darurat. Kami selalu berada di bawah pengawasan seorang petugas yang disumpah untuk menjaga kami agar tidak berhubungan dengan dunia luar.

Aku tidak melihat alasan untuk menyembunyikan nama petugas itu. Ia seorang yang cerdas, sopan, dan menyenangkan, dan begitu kudengar, dihormati banyak orang di kota. Wajahnya enak dipandang, matanya jernih dan tajam, cambangnya hitam dan tebal seperti garis pena yang percaya diri. Suaranya dalam dan berat seperti gonggongan lembut di lorong batu.

Namanya Tuan Harker.

Malam itu, ketika kami bersiap menempati dua belas ranjang sejajar, ranjang Tuan Harker ditarik menutup pintu, seolah ia, tubuh manusia itu sendiri, adalah gembok yang hidup.

Pada malam kedua, aku tidak ingin segera berbaring. Melihat Tuan Harker duduk di tepi ranjangnya, aku berjalan menghampirinya dan menawarkan sekepal tembakau dari kotakku. Ketika tangannya menyentuh tanganku, sebuah getaran aneh melintas di tubuhnya, seolah hawa dingin dari kubur menyelinap melalui pori-porinya.

Ia bertanya pelan, suaranya mengandung keheranan, “Siapa itu?”

Mengikuti arah pandang matanya, aku menatap ke seberang ruangan, dan di sana berdiri sosok yang telah lama kutunggu, sosok kedua dari dua lelaki yang dulu melintas di Piccadilly.

Aku berdiri, melangkah beberapa tapak, lalu berhenti. Menoleh ke arah Harker. Tapi ia justru tertawa ringan, seolah tidak melihat apa pun, dan berkata ramah, “Untuk sesaat aku kira kita punya juri ketiga belas—tanpa ranjang. Tapi rupanya cuma cahaya bulan.”

Aku tidak mengatakan apa pun padanya, hanya mengajaknya berjalan pelan ke ujung ruangan. Kami berdiri di sana, mengintai gerak sosok itu. Ia berjalan perlahan di antara ranjang-ranjang yang berbaris seperti peti mati menunggu giliran.

Di setiap ranjang, di sebelas ranjang saudaraku sesama juri, ia berhenti. Berdiri di sisi kanan tiap kepala, membungkuk sedikit, menatap wajah mereka yang terlelap dengan tatapan murung, seolah mengenang dosa-dosa mereka sendiri. Setelah itu, ia menyeberangi kaki ranjang dan melanjutkan langkahnya ke ranjang berikutnya.

Ia tidak menoleh padaku. Tidak pula pada ranjangku, yang paling dekat dengan Harker. Dan akhirnya, ia lenyap ke arah cahaya bulan yang menetes masuk dari jendela tinggi, seakan menapaki tangga tak terlihat menuju udara, menuju tempat di mana roh-roh tidak lagi butuh pijakan.

Keesokan paginya, saat kami duduk di meja sarapan, di antara aroma teh yang hangat dan bunyi sendok yang menyentuh piring, terungkap sesuatu yang ganjil. Semua orang di ruangan itu mengaku bermimpi tentang lelaki yang telah dibunuh semalam, kecuali aku dan Tuan Harker.

Dan saat itulah, sebuah keyakinan menyusup ke dalam kepalaku—sunyi, tapi mutlak—bahwa sosok kedua yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly adalah jiwa dari lelaki yang dibunuh itu sendiri. Seakan ia sendiri telah membisikkan pengakuan itu ke telingaku dari celah antara hidup dan mati.

Namun cara kebenaran itu datang padaku—Tuhan tahu—tak pernah kusangka.

Hari kelima sidang. Kasus penuntutan hampir usai. Suara hakim, jaksa, dan penasihat hukum berkelindan di udara pengap. Lalu dibawalah sebuah benda kecil—miniatur wajah sang korban. Miniatur itu sebelumnya hilang dari kamar tidurnya, lalu ditemukan terkubur di tempat di mana si pembunuh pernah terlihat menggali.

Miniatur itu diperlihatkan kepada saksi, lalu diserahkan ke bangku hakim, dan dari sana diteruskan kepada kami, para juri. Seorang petugas berseragam hitam membawa benda mungil itu melintasi ruang pengadilan menuju tempatku duduk.

Dan tiba-tiba—ia muncul lagi. Dari tengah kerumunan, sosok itu menerjang ke depan: lelaki berwajah lilin, yang dulu memanggilku lewat pintu kamar, yang berdiri di sisi ranjang-ranjang malam itu. Ia merebut miniatur dari tangan petugas, menyerahkannya langsung kepadaku, dan dengan suara serak, seperti dari kedalaman sumur, ia berbisik, “Aku masih muda waktu itu… wajahku belum dikeringkan dari darah.” BERSAMBUNG

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

____________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Belakang

BAHASA: 1926, 1928, 1930

Yang pernah belajar bahasa dam sastra di universitas berkenalan nama-nama dari masa silam. Ada yang bisa mengingat tiga atau sebelas nama. Yang diajarkan atau tercatat dalam buku perkuliahan adalah nama-nama besar, yang memberi warisan terpenting dalam perkembangan bahasa dan sastra. Namun, tulisan-tulisan mereka membingungkan bagi orang-orang yang belajar dalam kesadaran (beda) negara.

Satu nama yang mungkin mudah teringat: Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Yang belajar masalah bahasa, sastra, atau sejarah mengetahui namanya, belum dijamin pernah memegang bukunya. Yakinlah hanya sedikit orang yang berani khatam tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sejak masa 1950-an, buku-bukunya diusahakan terbit di Indonesia tapi pembacanya sedikit saat godaan sastra modern memberi pikat-pikat yang berbeda. Situasinya berbeda dengan buku yang terbit di Malaysia atau Singapura.

Pada suatu masa, tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji disajikan lagi kepada para pembaca di Indonesia, yang dibuat oleh KPG dan EFEO. Nama peneliti yang memungkinkan munculnya lagi tulisan-tulisn itu minta terbaca dengan pelbagai tambahan keterangan: Amin Sweeney. Buku tiga jilid, yang besar dan tebal. Siapa betah membaca dan sanggup khatam? 

Amin Sweeney mengatakan mengenai buku-buku Abdullah bin Abdul Kadir Munsji: “… merupakan warisan kepada seantero alam Melayu, bahkan kepada seluruh bangsa Indonesia. Orang Indonesia memilih bahasa Melayu untuk dikembangkan sebagai bahasa nasional karena bahasa itu telah berabad-abad berfungsi bukan hanya sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai khasanah dan penyebar ilmu pengetahuan serba jenis. Bahasa Melayu yang dipilih itu bukan suatu tabula rasa atau medium yang netral dan pasif seperti dibayangkan oleh beberapa sarjana Belanda. Bahasa itu membawa sertas segala pandangan hidup, sistem pengolahan ilmu, dan warisan sesuatu budaya.”

Kita memerlukan kutipan itu membekali saat membaca buku tipis. Yang kita baca adalah buku berjudul Melajoe Oemoem, terbitan Boekhandel Visser & Co, Weltevreden, 1930. Perhatikan tahun terbit! Bayangkan buku itu masih dipelajari setelah ada peristiwa bersejarah: 28 Oktober 1928. Tahun itu terjadi persumpahan bahasa, yang dinamakan bahasa Indonesia. Namun, bahasa Melayu masih ada: diajarkan di sekolah dan mendapat pengakusan secara sosial-politik-kultural. Maka, kita menduga belum ada pengajaran bahasa Indonesia atau pembuatan buku pelajaran bahasa Indonesia setelah 1928 dan masa 1930-an. Jadi, pengajaran bahasa Melayu tetap terselenggara di sekolah-sekolah.

Buku itu sebenarnya selesai disusun pada 1926. Artinya, buku ada duluan sebelum Kongres Pemuda II (1928). Buku disusun oleh tim, yang kita tidak dapat mengetahui nama-namanya. Pada 1930, buku cetak ulang kedua, yang memuat keterangan: “Lain dari pada itoe banjak peribahasa dana pepatah jang koerang oemoem, ditinggalkan, tidak dimasoekkan lagi kedalam tjetakan jang kedoea ini. Setengahnja ada jang diganti dengan jang lebih oemoem.” Apa arti “oemoem” yang tercantum dalam kamus-kamus masa 1920-an dan 1930-an?

Buku pelajaran itu memang ramai dengan petikan-petikan dari sastra lama. Para murid yang belajar bahasa Melayu juga mendapat contoh dari  buku-buku terbitan Balai Poestaka masa 1920-an. Yang “modern” mungkin mulai diperlukan dalam pengajaran bahasa Melayu, yang belum dinamakan bahasa Indonesia.

Yang dikutip dari novel (saduran) berjudul Si Djohan dan Djamin agak mudah terbaca oleh kita yang hidup dalam abad XXI: “Pada soeatoe hari, ketika matahari hendak masoek keperadoeannja, hawa jang panaspoen bertoekarlah mendjadi agak sedjoek dan angin jang lemah lemboet bertioep sepoi-sepoi dari arah tenggara, pokok kenari jang besar-besar dengan tingginja, pada kiri kanan djalan besar menggerakkan ranting dan daoen-daoennja ditioep angin itoe gemoelai-gemoelai seolah-olah bersoeka hati karena matahari jang memantjarkan tjahajanja jang panas itoe, soedah hendak terbenam kebalik laoet Djawa jang lebar, dan hawa oedara pada waktoe petang hari itoe sedap dan njaman rasanja.” Yang belajar bahasa memang merasa asyik bila bersumber teks-teks sastra. Kita yang membaca petikan itu dibikin senewen. Peristiwa yang biasa terjadi dibahasakan secara panjang dan indah.

Setelah pemuatan bacaan, para murid diminta mengganti kata-kata. Artinya, ada ajakan belajar sinonim. Bacaan yang indah sengaja diajukan agar murid-murid berani memberi jawaban-jawaban. Yang dicantumkan dalam buku: “Kata peradoean itoe perkataan sehari-harikah? Tahoekan engkau lagi kata-kata jang seperti itoe?” Pada masa sekarang. “peradoean” atau “peraduan” masih hidup dalam bahasa Indonesia. Kita kadang tanpa sadar menggunakannya mirip dengan apa yang ada dalam bacaan di buku berjudul Melajoe Oemoem. Selanjutnya, ada pertanyaan: “Perkataan istirahat itoe perkataan apakah itoe? Tahoekah poela engkau beberapa perkataan Arab jang lain jang terpakai dalam bahasa Melajoe?”

Kita sekarang membaca kutipan yang diambil dari Hikajat Abdoellah. Bacaan lama yang memerlukan kecermatan: “Sejogianja bahwa mengabil ibarat kiranja, hai saudarakoe jang berboedi, akan segala perkara jang amat dahsjat jang terseboet itoe. Akan mendjadi soeatoe peringatanlah bagi segala orang jang hendak mentjari orang kepertjajaan dan jang boleh tempat diharap lagi amanat. Maka adalah perkara jang demikian itoe mahal dibeli soekar ditjari pada zaman ini.” Belajar bahasa, belajar “jang sama atau bersamaan” artinja. Bahasa Melajoe pada masa lalu menampilkan kata-kata yang berasal atau dipengaruhi dari bahasa Arab.

Yang kita baca adalah buku yang terbit pada 1930. Bahasa Indonesia sudah ada tapi yang dipelajri murid-murid adalah bahasa Melayu. Artinya, bahasa Indonesia adalah penamaan bagi yang berkesadaran politik dan kebudayaan “baroe”. Kaum muda itu masih menantikan waktu yang lama agar terjadi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Situasi masa 1920-an dan 1930-an mungkin mengandung kebingungan dan perselihan bagi yang menyebut bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada akhirnya, sebutan bahasa Indonesia makin dipentingkan dan kuat saat masa pendudukan balatentara Jepang: 1942.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 1)

Charles Dickens

Aku selalu merasa bahwa di dalam diri manusia, bahkan yang paling cerdas dan terpelajar sekalipun tersembunyi ketakutan purba. Ketakutan itu muncul ketika mereka harus menyingkap pengalaman batinnya sendiri, terutama pengalaman yang ganjil dan melampaui logika. Hampir semua orang gentar membayangkan pengakuannya terapung di samudra batin pendengar tanpa pantulan. Mereka takut kisah itu dicurigai, atau lebih menyakitkan lagi, bila ditertawakan.

Seorang pengelana yang jujur, yang pernah menyaksikan makhluk luar biasa menyerupai naga laut, mungkin tidak segan menceritakan temuannya. Namun, jika pengelana itu pernah diganggu firasat aneh, desakan batin yang tak masuk akal, kilasan penglihatan, atau mimpi yang menorehkan cahaya asing di kepalanya, ia akan ragu. Ia mungkin bahkan tercekat sebelum berani mengakuinya.

Aku percaya bahwa dari keengganan semacam itu, lahir kabut yang menyelimuti pengalaman-pengalaman batin. Kita jarang menuturkan pengalaman batin sebagaimana kita menuturkan pengalaman jasmani. Tidak heran jika pengetahuan kita tentang kerajaan jiwa menjadi terpecah dan cacat. Seperti peta yang dilukis dengan tangan gemetar: ada laut di sana, namun kita hanya mengetahui namanya, tanpa memahami arusnya.

Apa yang hendak kuceritakan ini bukanlah pernyataan teori. Bukan pula sanggahan atau pembelaan atas teori mana pun. Aku hanya ingin menuturkan sesuatu sebagaimana adanya, tanpa menegakkan menara kebenaran di atasnya.

Aku tahu kisah tentang Si Penjual Buku dari Berlin. Aku juga telah mempelajari peristiwa yang menimpa istri mendiang Ahli Astronomi Kerajaan sebagaimana ditulis Sir David Brewster. Bahkan, aku pernah mengikuti dengan teliti sebuah perkara yang jauh lebih aneh: sebuah ilusi spektral yang menimpa seorang perempuan dalam lingkar pertemanan pribadiku.

Perlu kutegaskan, perempuan itu sama sekali bukan kerabatku. Ia tidak dekat denganku, bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali. Jika ada yang mengira demikian, sangkaan itu bisa saja mengaburkan bagian dari kisahku sendiri. Hanya sebagian kecil, tentu saja, dan itu pun akan menjadi penjelasan yang sepenuhnya keliru. Tidak ada pewarisan sifat aneh di tubuhku. Tidak ada penyakit jiwa yang menyelinap dari leluhur. Sebelum peristiwa itu, aku belum pernah mengalami apa pun yang serupa. Sesudahnya pun, tak pernah lagi.

Entah sudah berapa tahun lalu, di Inggris pernah terjadi satu pembunuhan yang menggemparkan negeri. Tak perlu kusebut kapan tepatnya, karena di dunia ini nama-nama para pembunuh selalu muncul seperti gelembung busuk dari dasar rawa. Satu mengapung, satu tenggelam, dan dunia selalu menyebut mereka dengan gairah yang tak pantas. Kalau bisa, aku ingin mengubur kenangan tentang makhluk bejat itu sedalam jasadnya yang kini ditanam di Penjara Newgate.

Jangan berharap aku memberi isyarat sekecil apa pun tentang siapa dirinya. Biarlah ia tetap tanpa nama, karena yang ingin kukisahkan bukanlah si pembunuh. Yang ingin kuceritakan adalah apa yang tertinggal setelah pembunuhan itu mengendap di ruang batin seseorang.

Ketika pembunuhan itu pertama kali terungkap, tak ada kecurigaan. Lebih tepatnya, tak pernah ada bisikan pun di ruang publik yang menunjuk pada lelaki yang kemudian diadili sebagai pelakunya. Surat kabar kala itu tak menyebut namanya. Mereka tidak melukis wajahnya, bahkan tidak menyinggungnya sekilas pun. Maka sudah semestinya diingat: tak mungkin ada deskripsi tentang dirinya di benak siapa pun ketika peristiwa itu baru terbongkar.

Pagi itu, saat sarapan, aku membuka lembar koran yang memuat laporan tentang penemuan mengerikan itu. Beritanya menggigit, seperti tangan dingin yang menelusup ke dada pembacanya. Kubaca sekali, dua kali, lalu tiga kali—entah karena penasaran, atau karena sesuatu yang tak kukenal mulai menuntun mataku.

Di sana tertulis bahwa pembunuhan itu ditemukan di sebuah kamar tidur. Ketika koran itu kulipat, seolah ada sesuatu menyambar dari dalam kata-kata. Sebuah kilat, atau arus, atau semburan—aku tak tahu nama yang tepat baginya, sebab bahasa terasa terlalu miskin untuk menyebut apa yang kuhadapi. Dalam sekejap itu, aku melihat kamar tidur itu melintas di ruangku sendiri. Bukan sekadar terbayang, tapi benar-benar melintas, seperti lukisan yang dipaksa mengalir di atas sungai yang bergerak.

Bayangan itu hanya sekejap, nyaris tak mungkin diukur oleh waktu. Tapi kejernihannya mutlak. Aku melihat ranjangnya, jendelanya, lantai yang memantulkan cahaya abu-abu. Yang paling jelas, mungkin karena aku mengharapkan kelegaan darinya, adalah ketiadaan mayat di atas ranjang itu. Yang ganjil justru: dalam ketiadaan itu, seolah sesuatu baru saja dimulai.

Bukan di tempat romantis aku mengalami keganjilan itu, melainkan di kamarku di Piccadilly, dekat tikungan St. James’s Street. Tempat biasa, dunia nyata, tanpa kabut misteri. Tapi di sanalah sesuatu yang asing menubuh di benakku. Aku duduk di kursi malas ketika getaran itu datang, getaran halus yang membuat kursi bergeser sendiri, seolah lantai ikut menggigil. (Meski harus kuakui, kursi itu memang bertumpu pada roda kecil yang mudah meluncur.)

Kepalaku berdenyut. Aku bangkit dan melangkah ke jendela. Ada dua jendela di kamar itu, dan kamar itu terletak di lantai dua. Aku ingin menyegarkan pandangan dengan melihat kehidupan yang bergerak di jalan Piccadilly. Pagi itu, musim gugur tengah bersinar paling terang. Udara menggigit namun cerah. Angin dari taman berhembus deras dan menurunkan hujan daun yang kemudian berputar dalam pusaran angin, seperti menara rapuh dari emas kering.

Ketika pusaran itu runtuh, mataku menangkap dua sosok lelaki di seberang jalan. Mereka berjalan dari barat ke timur. Satu di depan, satu di belakang. Lelaki yang di depan beberapa kali menoleh dengan gelisah ke arah bahunya, sementara lelaki di belakang mengikutinya dari jarak tiga puluh langkah. Tangan kanannya terangkat tinggi, menuding atau mengancam—aku tak tahu.

Ada sesuatu yang menggetarkan dalam pemandangan itu: sikap ancam yang begitu mantap di tengah jalan umum yang ramai. Lebih aneh lagi, tak seorang pun memperhatikannya. Orang-orang berlalu di antara mereka dengan mulus, seolah dua sosok itu tidak benar-benar ada. Tak ada yang menyingkir, menyentuh, atau sekadar menoleh.

Ketika mereka melintas tepat di bawah jendelaku, keduanya mendongak serempak dan menatapku. Tatapan mereka tajam, dan wajah-wajah itu terukir jelas di ingatanku, seolah dilukis dengan tangan dingin malaikat maut. Aku tahu, andai bertemu mereka di dunia mana pun, aku akan mengenali keduanya. Meski kalau kupikir-pikir, tak ada yang sungguh istimewa pada wajah itu. Kecuali, lelaki di depan tampak suram seperti awan badai yang menahan hujan. Sedangkan lelaki di belakang memiliki wajah sewarna lilin kotor—pucat, lembap, dan tak berjiwa.

Aku seorang lajang. Seluruh isi rumahku hanya dua orang: pelayanku dan istrinya, pasangan yang setia menjaga ritme sunyi hari-hariku. Aku bekerja di sebuah cabang bank. Jabatan resmiku adalah kepala sebuah departemen. Gelarnya terdengar ringan, nyaris terhormat, tapi beban di baliknya, percayalah, lebih berat dari yang dibayangkan orang-orang yang tak pernah menimbang hidup dengan angka dan tanda tangan.

Musim gugur tahun itu menahanku di kota. Padahal tubuhku merindukan perubahan, bukan karena aku sakit, tapi karena aku tidak benar-benar sehat. Ada kelelahan yang tak bisa diukur dengan suhu tubuh, semacam jemu yang menempel di urat nadi. Perasaan bahwa hidupku adalah garis datar yang terlalu panjang, tanpa kejutan, tanpa luka baru.

Kau boleh menyebutnya kejenuhan, atau seperti yang pernah dibilang dokterku—seorang tabib ternama yang gemar menulis laporan panjang tentang kesehatan manusia yang kehilangan makna—“dispepsia ringan.” Begitulah istilahnya: sopan, nyaris tak berbahaya. Aku masih menyimpan surat jawabannya, tertulis dengan tangan rapi, dingin, dan terlalu masuk akal. Di situ ia menegaskan bahwa keadaan kesehatanku saat itu “tak cukup buruk untuk diberi nama lain.”

Tapi aku tahu, yang terasa sakit bukan perutku, melainkan hidupku sendiri, yang mulai kehilangan rasa.

Ketika kisah tentang pembunuhan itu perlahan-lahan tersingkap, menyusup ke setiap koran dan percakapan di kedai-kedai kopi, aku justru berusaha menjauh darinya. Dunia seakan haus darah, dan aku menutup telingaku agar tak ikut mabuk dalam riuhnya. Aku menolak tahu lebih dari yang perlu. Namun kabar-kabar pokok tetap tak bisa dihindari: sang tersangka telah resmi dituduh melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan ia telah dikirim ke Penjara Newgate untuk menunggu persidangan.

Aku juga tahu bahwa sidangnya ditunda satu kali oleh Pengadilan Kriminal Pusat. Alasannya tampak masuk akal: prasangka publik yang terlalu pekat dan waktu pembelaan yang belum siap. Aku mungkin tahu, atau mungkin tidak, kapan sidang yang tertunda itu akhirnya akan digelar. Ingatanku samar, seperti kalender yang direndam air dan kehilangan tinta tanggal-tanggalnya.

Kamar dudukku, kamar tidurku, dan ruang ganti pakaianku berada di lantai yang sama. Ruang terakhir itu hanya bisa dicapai lewat kamar tidur. Ada satu pintu lain di sana, dulu menghubungkan ruang ganti itu dengan tangga, tetapi sejak beberapa tahun sebelumnya pintu itu telah dimatikan. Pintu itu ditutup papan, dipakukan, lalu ditutup kanvas. Sebagian perlengkapan bak mandiku bahkan dipasang melintang di sana, seolah sengaja menutup jalan bagi apa pun yang ingin masuk atau keluar.

Semuanya tampak biasa saja—rapi, teratur, masuk akal. Tapi kini, ketika aku mengingatnya, aku merasa seolah papan, paku, dan kanvas itu bukan sekadar penyekat ruang. Mereka seperti penyegel nasib, penutup yang disiapkan untuk sesuatu yang kelak akan berusaha masuk dari sisi lain, dari dunia yang tak punya tangga, tapi punya jalan sendiri menuju kamar manusia.

Malam itu larut. Aku berdiri di kamar tidur dan memberi beberapa petunjuk kepada pelayanku sebelum ia pergi beristirahat. Wajahku menghadap ke satu-satunya pintu yang menghubungkan kamar itu dengan ruang ganti, pintu yang tertutup rapat. Punggung pelayanku membelakanginya.

Aku masih berbicara ketika pintu itu perlahan terbuka. Engselnya tak berderit, tapi udara di ruangan tiba-tiba seperti menahan napas. Di celah pintu yang terbuka itu, seorang lelaki menatapku. Tatapannya begitu menyengat, menembus kulit dan waktu. Lalu ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar aku mendekat. Isyarat itu sunyi, tapi keras, seperti panggilan di dalam kepala.

Aku mengenalnya. Itu wajah yang sama—lelaki kedua yang dulu kulihat di Piccadilly, yang mukanya sewarna lilin kotor.

Begitu ia memberi isyarat, ia mundur. Pintu menutup kembali, lembut namun pasti, seolah tak pernah terbuka sama sekali. Tanpa berpikir panjang, aku menyeberangi kamar dan membuka pintu ruang ganti, lilin menyala di tanganku. Aku tidak merasa takut, dan tidak pula berharap menemukan sosok itu di dalam. Dan benar, di sana kosong, hanya udara dingin dan bau sabun dari bak mandi yang lama tak dipakai.

Aku berbalik dan sadar bahwa pelayanku masih terpaku, matanya membesar. Aku berusaha menertawakan situasi itu, mencoba menjinakkan ketakutan dengan kata-kata:
“Derrick, kau akan mengira aku gila kalau kubilang barusan aku merasa melihat—”

Belum sempat kusempurnakan kalimat itu, tanganku menyentuh dadanya. Tubuhnya gemetar hebat, seperti tersengat listrik yang tak berasal dari dunia ini. Ia menatapku dengan wajah pias, dan suaranya keluar terbata, diseret dari kedalaman yang dingin:
“Oh, Tuhan… iya, Tuan! Aku juga melihatnya—seorang mayat yang memanggil Tuan!”

Aku tak percaya bahwa John Derrick, pelayanku yang setia lebih dari dua puluh tahun, benar-benar melihat sosok itu sebelum aku menyentuhnya. Perubahannya begitu mendadak, begitu mengerikan. Seolah sesuatu telah berpindah dariku kepadanya lewat sentuhan itu. Aku yakin, dengan cara yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu mana pun, bayangan itu menular ke dalam dirinya melalui diriku sendiri—seperti api yang menyambar tanpa cahaya.

Aku menyuruh Derrick mengambil sedikit brendi. Kuminum segelas, lalu kuberikan pula satu teguk untuknya. Kami duduk lama tanpa kata. Udara kamar terasa lebih berat dari sebelumnya. Malam itu, aku tak menceritakan sedikit pun tentang apa yang terjadi sebelumnya—tak tentang Piccadilly, tak tentang tatapan mata sewarna lilin itu. Aku hanya diam, mencoba menata logika dari sesuatu yang tak masuk akal. BERSAMBUNG

___________________

Judul asli: The Trial for Murder

___________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Tiang Rumah

Cerpen Erna Surya

Ibu selalu berbicara hal-hal yang acak. Kadang ia menggumam seperti tukang ramal yang baru bangun tidur, kadang suaranya lirih seperti doa orang lapar, kadang ledakannya membuat kami semua menoleh dengan ngeri. Dari mulutnya, suatu kali keluar kalimat yang tak pernah bisa hilang dari telingaku:

“Suatu saat, tiang di rumah ini akan ambruk. Bukan karena kayunya rapuh. Tapi karena pertengkaran kalian.”

Kami semua terdiam waktu itu. Bapak mendengus, kakak perempuanku pura-pura sibuk mengaduk teh, adikku malah cekikikan seolah ibu sedang melucu. Aku sendiri hanya menatap tiang kayu jati di ruang tengah. Tinggi, kokoh, sudah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Tiang itu dulu dibeli bapak dari hasil menabung setahun. Konon, kayu jatinya diambil dari hutan yang dikeramatkan. Kata tetua desa, kalau tiang itu roboh, bukan hanya rumah yang hancur, tapi juga keluarga.

Sejak ibu mengucapkan kalimat itu, aku selalu membayangkan tiang tersebut tumbang pelan-pelan, menghantam meja makan, menimpa tubuh salah satu dari kami. Siapa? Aku tidak tahu. Tapi aku percaya, ibu tidak sedang bercanda.

Di keluarga kami, ibu memang seperti radio rusak yang sesekali memutarkan lagu jernih. Kebanyakan kata-katanya membingungkan. Kadang ia mengoceh tentang kucing tetangga yang bisa bicara bahasa Belanda, kadang ia menyuruh kami menyiapkan piring tambahan di meja makan karena katanya “ada tamu tak kasat mata.” Tapi di antara semua keanehan itu, selalu ada satu-dua kalimat yang terasa seperti nubuat.

Contohnya, tiga tahun lalu ia berkata: “Jangan simpan uang di bawah kasur, nanti tikus datang.” Bapak menertawakan. Seminggu kemudian, benar saja, uang tabungan yang disembunyikan di bawah kasur digerogoti tikus sampai sobek tak karuan.

Atau ketika ibu berkata: “Hati-hati sama air sumur, ada yang menunggu di sana.” Besoknya, seorang tetangga ditemukan meninggal setelah tercebur ke sumur.

Kami mulai belajar, di antara ribuan kata acak yang ia keluarkan, selalu ada yang jadi kenyataan. Itu sebabnya kalimat tentang tiang rumah yang akan ambruk membuatku resah.

Keresahan itu makin jadi ketika bapak mulai sakit-sakitan. Jantungnya lemah, tensinya naik-turun. Di rumah, kami sudah mulai membicarakan warisan: sawah yang tinggal secuil, rumah dengan tiang jati itu, dan perhiasan emas ibu yang katanya dulu hadiah dari kakek.

Warisan memang seperti gula untuk semut-semut lapar. Baru disebut saja, semua sudah saling menatap penuh curiga.

Kakakku, Sari, dengan terang-terangan bilang rumah ini harus jadi miliknya karena ia anak sulung. Adikku, Jono, bilang sawah itu haknya karena dia yang mau bertani, sementara aku—yang kebetulan kerja sebagai guru di kota—dituduh sudah punya penghasilan sendiri sehingga tak boleh kebagian apa-apa.

Aku tersenyum getir. Bukankah rumah ini juga tempat aku lahir? Bukankah tiang jati itu juga saksi bagaimana aku belajar merangkak, jatuh, berdiri lagi?

Tapi aku tidak berkata apa-apa.

Ibu hanya duduk di kursi rotan, rambutnya berantakan, sambil bergumam: Tiang itu. tiang itu.”

Malam itu, aku bermimpi buruk. Aku melihat tiang rumah kami benar-benar roboh. Bukan karena rayap, bukan karena angin, tapi karena tangan-tangan kami sendiri yang mendorongnya sambil berteriak soal warisan.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Dari ruang tengah, terdengar suara ibu masih bergumam. Suaranya pelan, tapi jelas:

Tiang itu akan memilih, siapa yang harus dikorbankan.”

Pagi berikutnya, bapak jatuh pingsan saat hendak berangkat ke mushola. Rumah jadi riuh. Kami berlari ke sana kemari mencari bantuan. Ambulans datang terlambat, seperti biasa. Di rumah sakit, dokter berkata kondisi bapak kritis. “Jantungnya sudah lemah. Siapkan mental,” katanya dingin.

Berita itu seperti bel berbunyi: saatnya warisan dibicarakan serius.

“Kalau bapak nggak ada, rumah ini jelas jadi hakku,” kata Sari dengan suara bergetar, tapi matanya penuh bara. “Enak saja! Rumah bisa dijual, uangnya dibagi tiga. Aku butuh modal buat buka toko pupuk,” bantah Jono. Aku hanya duduk di ruang tunggu, memijit pelipis. Di antara isak tangis dan doa, aroma rebutan harta tercium lebih pekat dari bau obat-obatan rumah sakit.

Ibu tiba-tiba berteriak. “Tiang itu akan roboh! Kalian dengar? Tiang itu!”

Orang-orang di ruang tunggu menoleh. Sari buru-buru memeluk ibu, seolah ingin menutup mulutnya. Tapi aku tahu, kata-kata itu menggema di kepala kami semua.

Bapak meninggal tiga hari kemudian. Jenazahnya disemayamkan di ruang tengah, tepat di bawah tiang jati itu. Aku memandang tiang itu lama sekali. Seperti ada sesuatu yang berdenyut dari dalam kayunya.

Di sela doa, aku mendengar bisik-bisik Sari dan Jono. Tentang sertifikat rumah, tentang surat tanah, tentang emas ibu.

Ibu duduk di samping jenazah bapak, sesekali tertawa kecil, lalu tiba-tiba menangis. “Tiang itu akan roboh. Satu demi satu akan tertimpa. Tidak ada yang selamat,” katanya lirih.

Orang-orang menyebut ibu sudah tidak waras karena ditinggal bapak. Tapi aku merasa justru ia sedang paling waras di antara kami semua.

Setelah tujuh hari bapak dikuburkan, pertengkaran pecah. Di ruang tengah, di bawah tiang itu, kami bertiga saling berteriak.

Sari menuntut rumah. Jono menuntut sawah. Aku menuntut keadilan. Suara kami saling tindih seperti ayam jantan adu tarung.

Ibu menatap dari kursi rotan. Wajahnya pucat, matanya kosong.

“Kalau kalian rebutan, biar aku saja yang robohkan tiang itu,” katanya tiba-tiba.

Kami menoleh bersamaan. Ibu bangkit, berjalan gontai, lalu memeluk tiang jati itu. Tangannya meraba permukaan kayu seperti meraba tubuh orang yang sangat ia cintai. “Tiang ini sudah mendengar semua rahasia kita. Ia lebih tahu siapa yang berhak atas rumah ini daripada kalian.”

Jono menertawakan. “Bu, tiang itu cuma kayu. Bukan hakim.”
Sari menggeleng. “Sudah, jangan layani omong kosongnya.”

Aku tetap diam. Tapi entah kenapa, kata-kata ibu membuat punggungku merinding.

Hari-hari berikutnya, pertengkaran makin panas. Sari diam-diam mengurus akta tanah. Jono mulai menjual padi hasil panen tanpa sepengetahuan kami. Aku hanya menatap mereka dengan getir, lalu pulang ke kota dengan kepala pening.

Suatu malam, telepon berdering. Sari histeris di seberang. “Ibu jatuh! Dari kursi rotan! Kepalanya berdarah!”

Aku buru-buru pulang. Rumah ramai oleh tetangga. Di ruang tengah, kulihat ibu terbaring di lantai, tepat di bawah tiang jati.

“Dia tadi bicara sendiri, lalu tiba-tiba roboh,” kata salah satu tetangga.

Aku melihat wajah ibu pucat, bibirnya bergerak-gerak. Aku mendekat. Dengan napas tersengal, ia berbisik: Tiang itu sudah memilih. Tinggal menunggu waktu.”

Ibu selamat. Luka di kepalanya dijahit. Tapi sejak itu ia hanya bisa berbaring di kamar. Suaranya makin acak, tapi selalu kembali ke satu hal: tiang yang akan roboh.

Sementara itu, pertengkaran warisan berubah jadi peperangan. Sari menggembok lemari yang berisi emas ibu. Jono mengancam akan melaporkan Sari ke polisi karena memalsukan tanda tangan bapak. Aku, yang tadinya berusaha netral, akhirnya terseret juga. Aku menuduh mereka serakah, mereka menuduhku munafik.

Rumah itu tidak lagi rumah. Ia seperti gelanggang sabung ayam.

Dan di tengah gelanggang itu, tiang jati berdiri tegak, seolah menunggu saatnya tumbang.

Puncaknya terjadi malam itu.

Aku baru saja tiba dari kota ketika kudengar teriakan. Di ruang tengah, Sari dan Jono berkelahi. Mereka saling tarik rambut, saling dorong. Di meja makan, emas ibu berserakan.

“Aku yang berhak!” teriak Sari. “Emas ini hasil sawah, sawah itu hakku!” balas Jono.

Aku mencoba melerai. Tapi tiba-tiba tubuhku ikut terseret. Kami bertiga bergulat, saling dorong, saling teriak.

Dan entah bagaimana, tubuh kami menghantam tiang jati itu.

Suara retak terdengar. Pelan. Seperti tulang yang patah.

Kami semua terdiam. Tiang itu bergoyang.

“Ibu benar,” bisikku.

Tiang itu benar-benar roboh.

Aku tak pernah bisa melupakan suara kayu jati berderak, lalu tumbang menghantam lantai. Debunya mengepul, lampu gantung berayun, dan suara jeritan bercampur jadi satu.

Sari terjepit. Jono terlempar. Aku sendiri tertatih dengan bahu memar.

Tetangga berdatangan. Mereka menolong, mengangkat tiang, menarik tubuh Sari yang pingsan. Jono berteriak histeris. Aku terduduk, menatap reruntuhan.

Dari kamar, suara ibu terdengar jelas untuk pertama kalinya tanpa acak:
Aku sudah bilang. Tiang itu bukan roboh karena rapuh. Tapi karena kalian.”

Sejak malam itu, rumah benar-benar hancur. Bukan hanya karena tiang roboh, tapi karena keluarga kami pecah. Sari menuntut Jono di pengadilan. Jono menuduh aku yang merobohkan tiang. Aku menuduh mereka berdua penyebab semua ini.

Ibu akhirnya meninggal dua bulan kemudian. Di pemakamannya, hanya ada sedikit pelayat. Orang-orang sudah muak dengan pertengkaran kami.

Dan aku, setiap kali menatap tanah kubur ibu, selalu mendengar bisikannya: Tiang itu sudah memilih.

Kini rumah itu tinggal puing. Sawah sudah dijual. Emas entah di mana. Kami bertiga tak pernah lagi bertemu.

Tapi aku masih sering memimpikan tiang jati itu. Berdiri tegak. Menatapku. Menunggu aku mengaku siapa sebenarnya yang paling serakah di antara kami.

Dan aku selalu terbangun dengan perasaan ngeri: mungkin tiang itu belum benar-benar roboh. Mungkin ia hanya pindah ke dalam tubuh kami masing-masing. Menunggu saatnya kembali ambruk, sekali lagi, untuk menelan habis sisa-sisa keluarga.

___________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Ragam

AKHIRNYA, BUKU TIDAK SIA-SIA

Oleh Ferdi

Jarum jam belum setengah jalan menuju angka 9 ketika dia datang. Pemuda itu adalah pemustaka pertama pagi ini, Selasa, 21 Oktober 2025. Setelah memberi salam, ia mengutarakan maksud kedatangannya: ingin mengembalikan buku, lalu meminjam buku lainnya.

“Apa maksudnya ‘darah lebih kental daripada air?’,” ia bertanya setelah meletakkan buku berjudul The Orange Girl garapan Jostein Gaarder di mejaku.

Dalam kenyataannya, darah memang lebih kental daripada air. Juga kelihatan perbedaannya kalau kita menonton film-film yang ada darah-darahnya. Begitu tanggapanku. Spontan saja.

Setelah diam sejenak dan memberi paraf di buku daftar peminjaman, aku balik bertanya. “Kalau ditilik secara harfiah memang begitu. Namun, mungkin saja penulis memakai kalimat itu sebagai kiasan. Apa konteksnya?” Siapa tahu, dengan mengetahui sedikit penggalan cerita, bicaraku bisa lebih banyak.

Ia lalu bercerita tentang seorang tokoh lelaki berumur tua. Sosok yang baik hati. Seseorang dalam cerita berujar bahwa “darah lebih kental daripada air”, merujuk pada si lelaki tua.

Entah, apa maksudnya, kataku menyerah. Payah.

Buku yang diterbitkan Mizan itu memang belum kubaca meski sudah termiliki sejak pengujung Desember 2018. Buku yang telah lama tidur nyenyak berselimut debu.

Buku yang sempat kuabaikan. Pernah mendekam di sebuah kamar asrama di Solo. Lalu di sebuah rumah dekat alun-alun Sukoharjo selama 3 bulan. Berlayar lewati ikan-ikan dan batu karang ke pelabuhan di Makassar. Berlanjut menghuni rumah tak jauh dari kantor Bupati Mamuju, hingga mendekam di salah satu rumah dengan cicilan 20 tahun di atas gunung. Perjalanan panjang sebelum bertemu pembacanya, seorang murid di sekolah tempatku mengajar.

Seandainya buku itu tidak menghuni lemari (bukan rak) buku di perpustakaan sekolah, maka ia akan tersia-siakan.

Tapi, tidak. Syukurlah.

Setelah percakapan singkat itu, dia lekas mencari buku lain. Tak lama, seperti dugaanku, dia datang dengan menenteng buku karangan Jostein Gaarder yang lain. Judulnya The Puppeteer. “Buku yang bagus,” kataku dengan yakin. Selain buku itu, belum ada karangan lain dari penulis bestseller Dunia Sophie  itu yang pernah kubaca.

Aku semakin tidak yakin manakah yang lebih benar: pembaca yang menemukan buku atau buku yang menemukan pembacanya. Yang aku tahu, si pemuda dan si gadis jeruk akhirnya bertemu di perpustakaan sekolah.

___________________

Ferdi. Pemuja buku, tinggal di Mamuju