Cerpen

Menikah

Cerpen Septi Rusdiyana

“Bagaimana? Berhasil?” tanyaku pada Rena, sembari menyerahkan sekaleng minuman dingin dan sebungkus keripik kentang. Ia meraih keduanya tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu. Desis bunyi soda saat kaleng dibuka mengiringi pandangan Rena, pada Sirih Gading yang bertengger rimbun di tepi kolam ikan milikku.

“Lebih sulit dari urusan perceraian kemarin, Dis,” jawab Rena usai meneguk minuman.

Aku duduk di sebelah Rena. Mengikuti arah pandang mata itu, sekadar mengisi jeda waktu antara senyap suasana sore, dan riuhnya pikiranku sendiri. Sampai detik ini, aku masih saja tidak berhasil menemukan alasan mengapa Rena bersikeras untuk menikah lagi.

“Gadis, apa kau punya asuransi?” tanya Rena tiba-tiba.

Otakku nge-lag. Selama ini asuransi yang pernah kumiliki hanya BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Itu pun kini sudah tak berguna sejak aku resmi menjadi pengangguran tiga bulan lalu. Dana simpanan sudah dicairkan, sepertinya hampir habis untuk bayar kontrakan dan hidup sehari-hari. Setelah kupikir-pikir, aku baru sadar jika selama ini aku tak pernah menabung.

“Aku mau jadi kodok.”

Belum sempat aku menanggapi bab asuransi, pernyataan Rena membuat otakku kembali waspada.

Rena mengawali cerita dengan membuka keripik kentang. Suapan demi suapannya tampak kaku, seolah gerakan itu mengisyaratkan kejengkelan.

“Aku ingin melompat bebas. Bersama diriku. Aku tak butuh siapa dan apa pun lagi. Pria baik hati hanya tercipta di dongeng. Kalaupun lahir di dunia, mereka tak disisakan untukku.”

Rena memalingkan pandangan dari kolam ke wajahku. Ia berhenti menjejalkan keripik kentang ke mulutnya, “Bagaimana kalau kita berdua menikah? Aku bisa menghidupi dirimu yang penuh kemalangan ini. Kau tak perlu berubah, jadilah seperti biasa: Gadis yang menyayangi, menemani dan mendengar bualanku. Kita bahkan tak butuh sex karena kita sama-sama membencinya, bukan?” ungkap Rena serius. Aku hampir percaya. Tapi sebelum aku bereaksi, Rena kembali bicara.

“Berjanjilah padaku, Dis. Tetaplah melajang. Aku tidak mau kau merasakan apa yang kualami,” ralat Rena seperti ia baru saja tersadar akan sesuatu.

Perubahan tiba-tiba itu tidak membuatku terkejut. Aku sangat mengenal Rena. Meski di luar ia tampak serampangan dan ceplas-ceplos, aku tahu ucapannya bukan omong kosong. Ia kecewa. Mungkin perasaan dan jiwanya sudah terlanjur terluka sangat dalam.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman. Rena mulai menyalakan rokok di bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya ia tak ingin lagi diganggu. Aku cukup duduk menemani. Kadang, diam bukan berarti tak peduli. Bagi kami, diam justru menjadi titik tertinggi untuk memahami bahwa tidak selamanya penderitaan butuh validasi.

Ingatanku melayang saat aku menjadi bridesmaid di hari pernikahan Rena. Wajahnya kala itu begitu cerah. Seolah yakin bahwa bersama suaminya, sisa usia Rena akan habis dengan penuh kebahagiaan. Setidaknya itulah yang kupercaya karena selepas menikah, Rena ikut suaminya ke Jakarta. Kami tak pernah lagi berkabar. Hingga dua tahun kemudian, Rena mendatangi kontrakanku.

“Apa malam ini aku boleh tidur di rumahmu?” tanya Rena saat itu. Tubuhnya lusuh. Wajahnya sekusut rambutku. Tentu aku menyambutnya tanpa banyak bertanya. Aku ingat hanya bisa memasakkannya mi instan usai membiarkan Rena mandi dan berganti pakaian.

“Besok, tolong temani aku,” pinta Rena terdengar seperti titah yang tak berani aku bantah, apalagi kupertanyakan.

Sejak hari itu, aku selalu ada untuk Rena. Aku menemaninya ke rumah sakit. Rena menjalani pemeriksaan sekaligus visum yang pada akhirnya berhasil membuatnya cerai dari suami. Keluarga besar Rena mengutuknya. Aku menjadi saksi betapa kisah Rena semacam drama Cina yang kutonton hampir setiap malam. Rena tak mengeluh. Ia tak pernah takut pada keputusan yang sudah diambil. Rena juga tak berniat agar bisa reinkarnasi dan hidup kembali ke masa lalu, untuk balas dendam pada mantan suami serta keluarganya.

“Aku lapar, apa kau masih punya mi instan?” Pertanyaan Rena membuyarkan lamunanku.

“Sepiring nasi dan semangkok sop brokoli pun ada. Aku tak semiskin itu, sampai hanya ada makanan instan saja di rumah.”

Rena terkekeh. Tapi aku tahu ia tidak sedang mengejekku. Rena tampak tidak baik-baik saja. Bagiku, Rena seperti sebuah lukisan picisan yang gagal dipamerkan. Rena mungkin berhasil keluar dari pernikahan yang ia anggap neraka. Tapi ia masih terpenjara pada penyesalan dan ketidakpuasan akan dirinya sendiri.

Apa yang ia coba lakukan sekarang hanya caranya menghibur diri. Kadang, lelah bisa memacu adrenalin yang lain. Termasuk hal absurd yang baru saja dilakukan Rena hari ini. Ia pergi ke kantor catatan sipil untuk bertanya syarat-syarat mendaftar pernikahan bagi dirinya, dengan dirinya sendiri.

“Mereka semua tolol. Tidak punya pikiran terbuka,” kata Rena di antara denting suara sendok garpu di atas piring. Kami melanjutkan obrolan di meja makan.

“Atau bisa jadi kamulah yang dianggap tolol oleh mereka,” sahutku.

“Aku hanya ingin menyelamatkan asetku. Bagaimanapun aku masih punya saham dan harta yang harus kulindungi.”

“Begitu ya?”

“Kau tahu, Gadis, pria yang dulu kucintai dengan membabi buta, rupanya punya utang segunung sebelum menikah denganku. Atas nama cinta dan penerimaan tulus, pada akhirnya akulah yang menutup utang itu.” Rena mengambil kerupuk dan menggigitnya.

“Dasar brengsek! Dia pintar mencuci otakku. Aku terperdaya. Lagi-lagi, atas nama cinta dan pengabdian, aku harus melayani hasratnya yang tak biasa. Kekuatannya seperti tak habis-habis. Aku terus dipaksa hingga nyeri tak terperi itu akhirnya melantakkan kepercayaanku padanya. Aku melawan dengan sisa harapan. Lalu keberanian dan kekuatan besarku muncul, justru di saat dia tuntas menghajarku.”

Hatiku ngilu mendengar Rena bercerita. Aku tak berani menanggapi.

“Tapi sudahlah. Semua telah berlalu. Bagiku hal itu hanya luka kecil seperti kena sundutan rokok,” lanjut Rena lagi.

“Oh ya, Dis…..,” Rena menjeda bicara. Seperti tiba-tiba ingat sesuatu.

Aku menatapnya.

“Di kantor catatan sipil tadi, ada seorang lelaki yang terus melihatku. Dia tidak ikut-ikutan menertawai atau menasihatiku. Dia hanya menyaksikan pertikaian kami. Entahlah, Dis, rasanya hatiku hangat waktu itu. Seperti pelukanmu. Ya, benar. Rasanya sama seperti pelukanmu. Dan kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tidak terlalu sial hari ini.”

Rena menyunggingkan senyum yang mungkin, baru kali ini kulihat kembali, sejak ia mengetuk pintu kontrakanku malam itu.

“Apa kau jatuh cinta?” tanyaku usai jeda sunyi terlalu lama.

Rena gelagapan. Wajahnya memerah. “Sinting!” umpatnya padaku.

Aku menatap punggung Rena yang kian menjauh. “Obatmu, jangan lupa diminum sebelum tidur,” teriakku sebelum tubuh Rena hilang di balik kamar. Mungkin, malam ini Rena sudah tidak butuh lagi obat itu.

Sekarang, akulah yang cemas. Apa benar aku harus melajang seumur hidupku? Atau sebaiknya mengikuti jejak Rena dan menjadi kodok. Ah, mungkin benar ucapan Rena. Aku harus mulai berpikir tentang asuransi. Setidaknya aku masih punya sesuatu yang pantas dilindungi. Meski bukan untuk siapa-siapa.***

____________________

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen

Cerpen

Delapan

Cerpen Septi Rusdiyana

Sora membolak-balik dua lembar bacon dan dua sosis ayam berukuran besar. Satu telur mata sapi setengah matang sudah lebih dulu mengisi piring. Sora suka telur mata sapi. Sebenarnya ia selalu ingin membuat dua. Tapi dua telur mata sapi jika disejajarkan akan membentuk angka delapan. Sora benci angka delapan. Dari dulu. Sejak kecil. Sejak malam saat ia melihat jam dinding panti asuhan menunjuk angka delapan. Di kamar sempit berisi delapan anak lain, pada delapan belas Agustus dua belas tahun lalu, saat usia Sora hampir delapan tahun. Betapa mudah Tuhan mengatur semesta beserta isinya hingga saling berkaitan. Sebuah kebetulan yang menakjubkan, bukan?

Sayangnya, bagi Sora, delapan bukan sekadar angka, melainkan kode. Kode yang tak terpecahkan. Bukan, bukan. Bukan tak terpecahkan, tapi memang tak mau dipecahkan. Di satu sisi Sora ingin menyerah. Lalu di sisi hatinya yang lain, Sora merasa familier dengan keadaan itu. Seperti teman lama tiba-tiba hadir membawa cerita yang tak selesai. Sora lelah. Ia sempat ingin malaikat maut menjemputnya. Tapi saat Sora mimpi seseorang mencekiknya hingga ia hampir kehabisan napas, ia justru bersyukur saat delapan detik berikutnya ia berhasil terbangun. Sejak itu, Sora tidak mau mencampuri hak prerogatif Tuhan perihal hidupnya.

Kembali pada Sora yang sedang membuat sarapan. Di rumah kontrakan Sora tidak ada kalender. Tapi ia tahu hari ini Jumat, tanggal delapan belas. Sora beruntung perusahaan tempatnya kerja mau berkompromi dengannya—mendapat hak libur pada tanggal yang mengandung angka delapan. Tentu saja ada konsekuensi—jika tidak jatuh di tanggal merah, maka Sora wajib masuk kerja di hari Minggu. Hal itu bukan masalah bagi Sora. Setiap tanggal delapan, delapan belas dan dua puluh delapan, Sora hanya akan di rumah saja. Tidak menonton televisi, apalagi bermain gadget. Sora menggambar, atau melukis, atau sekadar membaca buku dengan halaman-halaman yang tidak lagi utuh. Entah apa yang bisa Sora nikmati dari cerita yang banyak memiliki bagian hilang itu.

Sarapannya telah siap. Sora mengambil segelas jus jeruk dari kulkas. Meja makannya menghadap jendela. Dari tempat Sora duduk, ia bisa melihat barisan driver ojek online di depan ruko yang masih tutup, juga anjing kampung liar warna cokelat yang sering banyak orang panggil Odol, entah atas dasar alasan apa. Sora menikmati semua pemandangan itu. Ia bisa sangat lama menghabiskan sarapannya.

Sora suka warna merah. Meski begitu, ia tidak pernah menghitung jumlah mobil atau sepeda motor warna merah yang melintas di depannya. Tentu saja karena Sora tak suka angka delapan. Menurutnya, hitungan haruslah urut. Tak boleh meleset, apalagi melompat tak berurutan. Karena itu pula, menghitung adalah tabu baginya.

Sora menyantap sarapan sembari  menatap kosong ke arah jalanan. Sesekali mungkin tersenyum. Seperti kali itu, ada seorang anak kecil tertawa tanpa henti saat dipanggul ayahnya. Di sebelahnya, seorang wanita gemuk kesulitan mengambil uang receh yang mungkin tidak sengaja terjatuh. Pemandangan itu membuat Sora ingat dengan ayah dan ibunya. Kalau saja waktu boleh diputar, ia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana Sora memaksa kedua orang tuanya untuk mengantar latihan silat di hari yang hujan.

Tiba-tiba suara klakson panjang melengking sesaat sebelum terdengar benturan. Kecelakaan tak terhindarkan. Dua orang terkapar di jalan. Orang-orang mulai berkerumun. Jantung Sora berpacu kencang. Ia tidak bernafsu menghabiskan sarapannya. Sora lari ke kamar. Meraih guling dan memeluknya. Erat sekali. Sama eratnya saat dulu Sora juga berada di pinggir jalan, memeluk tubuh ayahnya yang sudah kaku berlumur darah. Ibunya terpental agak jauh. Tidak ada darah, tapi ibunya meringkuk tak bergerak.

Sora ingat, saat itu kakinya mati rasa. Seseorang meraih dan menggendongnya menuju rumah penduduk. Banyak perempuan-perempuan iba. Mereka bilang Sora bocah malang. Saat itu Sora tahu jika kedua orangtuanya tidak sedang baik-baik saja. Saat Sora turut masuk di ambulans menuju rumah sakit, ia menyaksikan saat petugas medis berusaha menangkap detak jantung yang mencolot dari tubuh ayah ibunya. Perempuan-perempuan di rumah penduduk yang mengerubungi Sora sebelumnya sepertinya salah memahami. Sora tidak menangis. Bahkan saat pemakaman kedua orangtuanya. Bahkan saat tantenya membawanya ke panti asuhan. Bahkan saat teman satu kamar di panti mengatai Sora gadis buruk rupa—bekas luka akibat kecelakaan meninggalkan luka parut di pipinya.

Di bagian itu Sora ingin menarik mundur waktu. Sora harap ia mati bersama ayah ibunya saja. Kematian bukan hal buruk, meski juga bukan menjadi sebuah pilihan. Kalau saja Sora mati saat kecelakaan itu, ia tak perlu menjadi yatim piatu yang dibawa tantenya ke panti asuhan, lalu menyebabkan kepala teman sekamarnya bocor akibat Sora pukul dengan tumbler miliknya. Ketua panti marah, dan menyeretnya ke gudang bawah tanah untuk menerima hukuman. Hukuman yang menurut Sora lebih biadab dari penjara. Di dalam ruangan sempit dan pengap, Sora dipaksa melayani hasrat menyimpang sang ketua panti. Sora mungkin ketakutan, tapi lagi-lagi, ia tak menangis.

Sora kini tertidur. Mungkin ingatan-ingatan itu membuatnya lelah. Dalam lelap, ia bermimpi. Seorang lelaki bermata biru menghampiri Sora saat ia sedang melukis. Ada sepotong keju di tangan kiri, lalu sebilah pisau di sebelah tangannya yang lain.

“Siapa yang akan menghabisi siapa itu tidak penting. Tapi kamu akan menyesal karena kematianmu datang bukan di masa depan,” kata lelaki bermata biru itu.

Sora terkejut. Dipandangnya punggung lelaki bermata biru yang berjalan menjauh. Dadanya sakit. Peluh mulai membasahi tengkuk. Sora terisak saat melihat air pantai di lukisannya mengeluarkan darah. Sora bangun dari tidur dengan terbatuk-batuk. Ponselnya berdering. Sora bangkit dari tempat tidurnya. Menuju kulkas dan meneguk air dingin. Hari sudah gelap. Sora mengambil ponsel di atas meja. Noe. Panggilan dari teman kantornya. Sora kembali pusing. Tubuhnya lemas. Sehari sebelumnya Sora mengetahui satu kenyataan—saat ia sedang mengambil dokumen pegawai di ruang HRD—tanpa sengaja Sora melihat data Noe, lelaki yang sedang mendekatinya itu, rupanya lahir di tanggal dua puluh delapan.

Sora menatap layar ponsel yang terus saja berdering. Ia ingat lelaki bermata biru di mimpinya. Sora kini mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan lelaki itu. Sora melihat jam di ponselnya. Pukul delapan lewat delapan belas malam. Mendadak matanya penuh siluet angka delapan. Merembet di kepalanya. Di pikirannya. Bahkan, kini hampir semua ruang di rumah kontrakannya penuh dengan angka delapan. Angka-angka itu tertawa. Mereka juga menangis. Sora sesekali tertawa, lalu menangis. Begitu seterusnya. Berulang-ulang, hingga dini hari.

Sora mengingat dalam tawa, lalu melupa dalam tangis. Ia benci angka delapan. Tapi mendadak ia ingin sekali menghitung domba yang lewat di atas kepalanya. Sora benar-benar menghitung. Tepat di angka tujuh, Sora tertidur. Dan  paginya, Sora kembali berangkat kerja tanpa menyisakan luka. Mungkin karena lupa, atau sebenarnya hanya pura-pura lupa.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Cerpen

Ngaji Bareng Simbah

Cerpen Septi Rusdiyana

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.

Tin tin

Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.

***

“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.

Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.

“Nadia, Mbah.”

Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.

Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.

“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”

“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.

Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.

Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.

Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”

Aku tidak membalas pesannya.

***

Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.

“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.

“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.

“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”

“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”

“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”

“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.

“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”

Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”

Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.

Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.

“Ya, Mas,” jawabku malas.

“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.

“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”

“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”

Hening.

“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.

“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.

Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.

***

Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.

Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.

“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.

Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.

“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

***

“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.

Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tidak?” tanyaku menirukannya.

“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.

“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”

“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”

“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”

Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.

“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.

“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.

Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.

“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.

***

Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.

“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.

“Kok sudah pulang?”

“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”

Mbah Diro tersenyum mengizinkan.

Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.

Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.

“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***


Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala