Film, Resensi

Elegi di Balik Jendela: Saat Kehilangan Menjadi Bahasa Cinta yang Baru

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Hamnet

Tahun Rilis: 2025

Sutradara: Chloé Zhao

Penulis Skenario: Chloé Zhao (adaptasi dari novel Hamnet karya Maggie O’Farrell)

Produser: Sam Mendes, Pippa Harris, Steven Spielberg, Liza Marshall, Nicolas Gonda  

Pemeran Utama: Paul Mescal sebagai William Shakespeare, Jessie Buckley sebagai Agnes Hathaway

Durasi: ± 130 menit

Rumah Produksi: Amblin Partners

Film Hamnet (2025) hadir sebagai pengalaman sinematik yang lebih dekat dengan perenungan daripada tontonan konvensional. Ia tidak bergerak cepat, tidak mengejar klimaks demi klimaks, dan tidak menawarkan jawaban yang gamblang. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang batin yang dipenuhi cinta, kehilangan, dan pencarian makna melalui seni. Terinspirasi dari novel Maggie O’Farrell, Hamnet tidak sekadar mengisahkan tragedi kematian seorang anak, tetapi menjadikannya poros emosional yang menggerakkan refleksi tentang bagaimana manusia bertahan setelah kehilangan yang paling sunyi dan paling menyayat.

Sejak awal, film ini menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rapuh namun mengakar kuat. Cinta dalam Hamnet bukanlah cinta yang meledak-ledak atau romantis dalam pengertian populer, melainkan cinta domestik yang tumbuh dari keseharian: tatapan yang saling memahami, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampak sepele, dan kehadiran yang sering baru terasa ketika ia lenyap. Hubungan antara suami dan istri digambarkan sebagai dua jiwa yang saling terikat namun juga terpisah oleh dunia batin masing-masing. Ada kedekatan, tetapi juga jarak; ada kehangatan, tetapi juga kesunyian yang tak terucap. Film ini dengan lembut menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berarti kebersamaan yang utuh, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan dan keterpisahan.

Kematian hadir sebagai bayang-bayang yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tidak datang dengan teriakan dramatis atau visual yang mengejutkan, melainkan merayap perlahan, hampir tak disadari, hingga akhirnya menetap sebagai kekosongan yang permanen. Ketika kehilangan itu terjadi, film ini tidak tergesa-gesa menggambarkan ledakan emosi. Tidak ada ratapan berlebihan atau musik yang memaksa penonton untuk menangis. Yang ada justru keheningan panjang, jeda-jeda yang terasa canggung, dan ruang kosong yang membuat penonton ikut merasakan kebisuan batin para tokohnya. Dalam keheningan itulah, kematian menjadi sangat nyata: bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kondisi yang terus hidup bersama mereka yang ditinggalkan.

Yang membuat Hamnet terasa istimewa adalah caranya memperlakukan duka sebagai pengalaman yang personal dan tak terstandarkan. Setiap tokoh memikul kehilangan dengan cara yang berbeda. Ada yang menutup diri, ada yang mencari pelarian, ada pula yang mencoba menamai rasa sakitnya melalui bahasa dan imajinasi. Film ini tidak menghakimi cara-cara tersebut, tidak pula memaksakan satu bentuk penyembuhan yang dianggap benar. Duka digambarkan sebagai proses yang berlapis, kadang bergerak maju, kadang kembali mundur, dan sering kali terjebak di tempat yang sama. Penonton diajak memahami bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk.

Di titik inilah seni masuk sebagai jembatan antara cinta dan kematian. Hamnet memandang seni bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai kebutuhan eksistensial. Seni hadir sebagai cara manusia memberi makna pada penderitaan yang tak terjelaskan. Dalam film ini, proses kreatif digambarkan sebagai pergulatan batin yang panjang dan melelahkan, bukan sebagai ledakan inspirasi yang romantis. Kata-kata lahir dari kesunyian, dari rasa bersalah, dari kerinduan yang tak menemukan alamat. Seni menjadi ruang di mana kehilangan diolah, diputar ulang, dan diberi bentuk, agar dapat ditanggung.

Film ini juga jujur menunjukkan ambiguitas seni. Di satu sisi, seni menawarkan pelipur lara dan kemungkinan keabadian. Di sisi lain, ia menuntut pengorbanan: waktu, perhatian, bahkan hubungan dengan orang-orang terdekat. Ada ketegangan halus antara dorongan untuk mencipta dan kebutuhan untuk hadir bagi keluarga yang terluka. Hamnet tidak memihak secara sederhana. Ia tidak mengagungkan seniman sebagai pahlawan, tetapi juga tidak menuduh seni sebagai bentuk pelarian egois. Ketegangan itu dibiarkan menggantung, seperti pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal.

Secara visual, film ini memilih pendekatan yang kontemplatif. Kamera sering bertahan lebih lama dari yang diharapkan, seolah memberi ruang bagi penonton untuk bernapas dan merasakan. Lanskap alam, cahaya yang masuk melalui jendela, dan detail-detail kecil kehidupan sehari-hari ditampilkan dengan perhatian yang hampir meditatif. Semua itu membangun suasana yang intim, sekaligus menegaskan hubungan antara manusia dan dunia di sekitarnya. Alam tidak digambarkan sebagai latar pasif, melainkan sebagai saksi bisu atas cinta dan kehilangan yang terjadi di dalam rumah-rumah manusia.

Ritme film yang lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Hamnet menuntut kesabaran dan keterlibatan emosional yang aktif. Ia tidak memberi pegangan naratif yang kuat dalam bentuk konflik eksternal yang jelas. Sebaliknya, konflik utama berlangsung di dalam diri para tokohnya. Namun, justru di situlah kekuatan film ini. Dengan menolak kemudahan dramatik, Hamnet memberi ruang bagi pengalaman menonton yang lebih reflektif, di mana penonton diajak untuk berdiam, merenung, dan mungkin mengaitkan kisah di layar dengan kehilangan mereka sendiri.

Narasi film ini terasa seperti aliran ingatan, tidak selalu linear, kadang meloncat dari satu momen ke momen lain dengan logika emosional, bukan kronologis. Pilihan ini memperkuat kesan bahwa duka dan cinta bekerja dengan cara yang tidak teratur. Masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih, kenangan hadir tiba-tiba, dan waktu kehilangan batas yang jelas. Film ini seolah berkata bahwa setelah kehilangan besar, hidup tidak lagi berjalan lurus; ia berputar, berkelok, dan sering kembali ke titik-titik yang sama.

Yang menarik, Hamnet juga memberi ruang besar pada perspektif perempuan dan pengalaman domestik yang sering terpinggirkan dalam narasi besar tentang seni dan kejeniusan. Kehidupan rumah tangga, kerja-kerja perawatan, dan pengetahuan intuitif tentang alam dan tubuh tidak diposisikan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai pusat pengalaman manusia. Film ini dengan halus menantang anggapan bahwa seni besar lahir dari ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa justru dari dapur, kebun, dan kamar tidur, lahir pemahaman paling mendalam tentang cinta dan kehilangan.

Emosi dalam Hamnet tidak pernah dipaksakan. Banyak momen penting disampaikan melalui gestur kecil: tangan yang ragu-ragu, tatapan yang menghindar, napas yang tertahan. Dialog digunakan dengan hemat, memberi kesempatan bagi bahasa tubuh dan suasana untuk berbicara. Pendekatan ini membuat emosi terasa lebih jujur dan dekat. Penonton tidak diberi tahu apa yang harus dirasakan; mereka diajak untuk merasakannya sendiri.

Sebagai resensi, sulit untuk menilai Hamnet hanya dari aspek teknis atau alur cerita. Kekuatan film ini terletak pada resonansi emosionalnya, pada kemampuannya untuk tinggal bersama penonton bahkan setelah layar menjadi gelap. Ia mungkin tidak akan diingat karena plotnya yang rumit atau twist yang mengejutkan, tetapi karena suasana dan pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya. Pertanyaan tentang bagaimana kita mencintai, bagaimana kita menghadapi kematian, dan bagaimana kita menggunakan seni untuk bertahan hidup.

Hamnet adalah film tentang ketidakhadiran: tentang anak yang hilang, tentang kata-kata yang tak terucap, tentang jarak yang tumbuh di antara orang-orang yang saling mencintai. Namun, dari ketidakhadiran itu, film ini justru menemukan bentuk kehadiran yang lain. Kehadiran ingatan, kehadiran rasa sakit, dan kehadiran seni sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada apa yang tak dapat diubah. Ia mengingatkan kita bahwa cinta tidak berhenti ketika kematian datang, dan bahwa seni, meskipun lahir dari luka, dapat menjadi cara untuk terus berbicara dengan mereka yang telah pergi.

Dengan pendekatan yang lembut, puitis, dan penuh empati, Hamnet (2025) menempatkan dirinya sebagai film yang tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan. Ia bukan film yang akan memuaskan semua orang, terutama mereka yang mencari hiburan cepat dan jawaban tegas. Namun bagi penonton yang bersedia meluangkan waktu dan hati, Hamnet menawarkan pengalaman sinematik yang jarang: sebuah perenungan mendalam tentang cinta, kematian, dan seni, yang terjalin dalam keheningan, dan justru karena itu, terasa begitu manusiawi.

_______________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Cerpen

Nasib

Cerpen Drew Andre A. Martin

“Perhatikan mereka,” bisik Maria ke telingaku dengan bola matanya melihat seseorang yang dibicarakan. Mendengarnya, aku terkekeh seraya menelangkupkan telapak tangan ke bibirku. “Benar, kan?!” Kembali Maria berucap dengan cukup lantang dan percaya diri, sembari kami melanjutkan perjalanan.

Kalina, namaku. Sedangkan Maria, temanku sejak kami balita. Usia kami tak terpaut tahun. Aku, lahir di bulan Mei, sedangkan Maria di bulan Desember. Berbeda dengan usia kami yang terpaut jauh oleh bulan, nasib kami amat sama. Aku bekerja sebagai penyemir sepatu dan pelukis jalanan. Sedangkan Maria, pengamen. Rute jalan menuju kantor—salah satu cara kami mencintai nasib—berlawanan arah saat sampai di perempatan jalan. Maria, ke arah barat. Sedangkan aku ke timur.

Menjadi penyemir sepatu bukanlah perkara mudah di akhir-akhir ini. Orang-orang beralih dari sepatu kulit ke sepatu canvas. Kadang juga, satu per satu langgananku, mulai menyemir sepatunya sendiri di rumah, apalagi harga semir tak begitu mahal akibat turunnya peminat. Karenanya, aku mencoba menjadi pelukis jalanan. Biasanya aku pergi ke kantor hanya membawa sikat sepatu dan semir, sekarang aku juga membawa peralatan lukis di dalam tasku. Sempat terpikir olehku, untuk melukis gambar di sepatu-sepatu canvas, mungkin nanti.

Sesampainya di kantorku—tempat biasa aku berhenti untuk menawarkan jasa semir sepatu dan melukis—seorang laki-laki yang kutaksir usianya empat puluhan, menghampiriku. Bertanya dia. “Mbaknya sudah nggak nyemir lagi?”

“Masih, Pak.”

“Tolong semirkan sepatu saya.”

“Silakan duduk di sini, Pak.”

Bapak itu duduk. Bersandar dia di tempat duduknya. Sepatu yang dikenakannya bertumpu ke kursi kecil. Sengaja kupersiapkan agar sepatu tak perlu dilepas.

“Kamu melukis juga?” tanya bapak itu dengan matanya yang terfokus di layar ponselnya.

“Iya, Pak,” jawabku sembari tetap fokus menyemir. “Kalau Bapak mau, saya bisa melukis sesuai keinginan Bapak.” Berharap, si bapak tersebut mengiyakan.

“Boleh, tapi …” Sebentar dia, melihat arloji di lengan kirinya. “Ah, tidak masalah. Untuk harga, murah, ‘kan?”

“Bagi Bapak, tentulah murah,” jawabku setelah menyelesaikan pekerjaan menyemir sepatunya, sembari mendongakkan kepala dan tersenyum.

“Berapa?”

Kedua matanya nyaris keluar saat melihat daftar harga melukisku. Seolah ada yang salah soal harga. Kujawab, tentulah tidak, Pak. Itu sudah benar.

“Terlalu mahal kurasa dengan harga lima belas ribu, nyaris sepadan dengan harga jasa semir sepatumu.”

“Itu sangat murah bagi Bapak.” Tak lupa aku memuji penampilannya dengan sangat baik di hari ini. Kata Maria, aku harus melakukan pujian, karena orang-orang yang berada tak seperti kami, amatlah suka bila diberi pujian, apalagi dibesarkan segala kebaikannya, meski sebenarnya tak baik.

Menurut Maria, hanya itu yang bisa membuat mereka membeli apa yang sebenarnya tak ingin mereka beli. Ibarat kata, mereka membayar pujian yang sudah kadung, ketimbang membeli produk barang atau jasa. Imbuh Maria, orang-orang rendahan, orang-orang miskin di mata mereka, kepalang tanggung kalau tidak memerankan nasib yang sudah jadi nasibnya.

“Kau gila! Apa kau tak ingin memiliki nasib seperti mereka?” Aku menghardik Maria.

“Kau sama saja seperti mereka.” Maria melirik dengan tawa menyebalkan. “Kau mengataiku gila, sedangkan kau pun gila. Mana mungkin, aku tidak mau jadi seperti mereka? Tentulah aku mau.”

“Ucapan adalah doa. Kau sendiri, ‘kan yang mengajarkan itu kepadaku? Termasuk idemu menyebut kantor untuk tempat kita bekerja.” Aku kesal, Maria menjadi munafik.

Maria tertawa dengan jeda, lalu membuang muka, lanjut meludah. “Cara untuk bahagia, ya …, dengan cara itu. Mencintai nasib. Dan saat kau sudah mencintai nasib dengan baik, maka amatlah kepalang tanggung, jika kau tidak totalitas memerankannya.”

“Memerankan nasib atau memanfaatkan keadaan?” tanyaku dengan merendahkan intonasi.

“Memerankan nasib.”

Berulang kali aku mencoba memerankan nasibku.

Sejujurnya memerankan nasib, nyatanya membuahkan hasil di tiap harinya. Namun, tidak dengan hari ini. Entah aku kurang totalitaskah? Atau, bukan hariku? Atau, justru bapak itulah yang lebih totalitas memerankan nasibnya?

“Kalau sepuluh ribu, mungkin aku mau. Itu pun kalau kamu mengiyakan,” ujar bapak tersebut.

“Boleh, Pak. Setidaknya bisa membuat Bapak senang.”

“Tidak-tidak, akulah yang justru membutamu senang. Selain aku membeli jasa semir, aku juga membeli produk lukisanmu.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menahan emosi.

Sejak hari itu, aku menjadi tahu apa yang pernah dibicarakan Maria kepadaku. Jika ingin tidak kena masalah, jangan sekali-kali adu nasib dengan orang-orang yang beruntung, Harga dirimu bisa dibelinya.

Soal harga diri yang dibelinya itu, menurut dia tidaklah sama dengan merendahkan diri untuk mendapatkan keuntungan. Aku menyipitkan mata, kemudian disusul dengan melipat kedua lengan, jari telunjuk kanan, mengetuk lengan kiri. Kau akan tahu sendiri. Kau tak akan mengerti yang kumaksud Kalina, kalau kau tak mengalaminya sendiri nanti. Penjelasanku yang berupa ucap kata ini, tak akan mampu dicerna dengan baik oleh lambung di kepalamu. Maria tertawa puas. Aku, mencoba ikut tertawa juga, setidaknya aku mencoba tak cukup keras dengan diri dan nasib yang perlahan-lahan sedang kucoba nikmati dan kucintai sepenuhnya.

Diulurkan oleh si bapak sekerat foto yang sedikit usang. “Lukislah ini. Nanti pukul lima sore, aku ambil.”

“Kalau besok pagi diambilnya bagaimana?”

“Aku bisanya sore ini. Kalau kamu tidak bisa, ya, tidak apa-apa. Aku urungkan.”

“Baik, akan selesai hari ini.”

Bapak itu tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kantorku.

Mendengkus lalu aku. Ditolak tidaklah mungkin, karena butuh uang. Tak ditolak pun, harga bayar jasa tak sepadan dengan usaha melukis foto dengan kondisi gambar yang tidak memungkinkan. Kalau sudah begini, kata terakhir yang sekaligus meredakan sesal, kesal, amarah, ialah kata-kata Maria yang kemudian kulontarkan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kedua telingaku. “Mari kita memerankan peran kita dengan totalitas!”

Datang lalu seorang ibu. Membawa tas keresek besar, berisi lima pasang sepatu milik anak laki-lakinya.

“Tak jadi masalah jika tidak bisa selesai hari ini. Aku hanya minta kau selesaikan sepasang saja, bisa, ‘kan?” pinta ibu yang baru datang ke kantorku, setelah kukatakan alasanku tidak bisa menyelesaikan menyemir hari itu.

“Boleh, Bu. Tapi untuk empat pasang, benar-benar boleh saya selesaikan besok?”

“Iya, tidak apa-apa.”

Selesai kusemir, ibu tersebut pergi. Dia membayarnya lunas. Bahkan memberikan tips yang lumayan banyak. “Terimalah semua.”

Kudongakkan kepalaku melihat hamparan langit biru di atas dengan senyum yang terkembang, sembari ucap, “barangkali ini adalah usaha memerankan dan mencintai nasib dengan benar.”

Sejenak sebentar, aku merasa geli. Lama-lama bahasaku, agaklah seperti Maria. Tapi, tak salah juga. Dengan cara itu, aku tak terlalu keras dengan nasib. Tak pula marah menyalak kepada ibu dan bapak, yang tak memberikan kewajibanku sebagai seorang anak, sepertinya, yang kini berhasil menjadi seorang manusia yang benar-benar mencintai dengan ikhlas pada nasib sendiri.

***

“Hei! Kau juga belum pulang? Untung saja di perempatan jalan tadi, aku tak langsung menuju rumah. Ke sini, mampir beli es teh langgananku.” Maria melihat wajahku dengan wajah simpan tanda tanya.

“Lembur.”

“Aduh, duh, rezeki besar nih!” Maria menepuk bahuku.

“Syukurlah. Kau tidak ingin bertanya, berapa ongkos lukisan ini?”

“Berapa memangnya?”

“Sepuluh ribu.” Aku tertawa.

Bukannya ikut tertawa, Maria tercengang. Untungnya dia tak marah seperti bisanya. “Kau serius? Sedetail ini? Melukis gambar dua orang, ditambah lagi dengan pepohonan rindang dan rerumputan, sepuluh ribu?” Maria masih tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang berbohong?”

Maria menggeleng.

“Kau gila!”

“Kau pun juga gila!”

Kami tertawa bersama-sama.

“Bukankah begini harusnya memerankan nasib? Sedikit banyak harus kita iyain, selain nikmatin?”

“Kau terlalu gila, Kalina! Kau banting harga dirimu di bawah rata-rata kerendahan status sosialmu.” Maria tertawa, lantas terdiam sejenak. “Maksudku, rata-rata kerendahan status sosial kita. Ya, kerendahan status sosial kita, Kalina!” Maria tersenyum garis dan memelukku.

“Sekali, dua atau tiga kali, tak masalah, ‘kan?” tanyaku sembari merapikan alat-alat semir dan lukis.

“Lima, enam atau berkali-kali juga tidak masalah. Asal jangan terlalu sering juga, laaah! Itung-itung sebagai, jeda lelah.”

“Jeda lelah? Kurasa tidak.” Aku menyangkal.

“Lalu?”

“Membuat bahagia orang-orang yang ngakunya berduit, kaya raya, tapi aslinya kere!”

“Udah pinter nih, Kalina!”

Kami tertawa lagi dan lagi. Tak peduli banyak orang melihat ke arah kami.

“Tunggu-tunggu.”

“Kenapa, Maria?”

“Bukan aslinya, kere sih.”

“Terus?”

“Yaaa, emang kere!” Maria tertawa paling keras.

“Garing!”

“Enggak … Enggak. Ini serius, Kalina.”

“Awas kalau garing!”

“Ya, emang …” Maria menggantungkan ucapannya.

“Kere, lagi!”

“Bukan-bukan.” Ada jeda sebentar saat dia selesaikan tawa gelinya. “Ya, karena dia tidak siap aja jadi kere. Kebutuhan pamer ke orang-orang aja, harganya tinggi, tak sebanding dengan  kemampuan daya beli barang yang benar-benar miliki kualitas! Dia takut, uangnya habis sedikit demi sedikit karena gengsinya, sih yah.”

“Terus yang kere siapa dong?” tanyaku.

“Nggak perlu dijawab, udah taulah kau.”

Lima menit setelah aku selesai membereskan alat-alat kerjaku, bapak pemesan lukisan datang.

“Cukup bagus juga, sebagai pelukis jalanan,” ujar si bapak sembari memperhatikan lukisanku dengan foto miliknya yang kukembalikan padanya. “Bisa kusarankan nanti, ke teman-teman kantorku. Kalau perlu kita bisa kerja sama. Bisa, ‘kan?” tanya si bapak sembari memberikan dua lembar uang kertas yang bernilai sepuluh ribu.

Kuanggukkan kepala, meski tak begitu yakin bisa bekerja sama dengannya.

“Paaak!” Maria memanggil si bapak.

Kembali lagi dia ke arah kami.

“Kau, kenapa panggil dia lagi!” aku lumayan gusar.

“Diam, kau. Diam!” pinta dengan memejamkan kedua matanya, dan menaruh telunjuknya ke bibirnya yang mengatup.

“Ini, Pak.” Maria memberi dua lembar yang bernilai sepuluh ribu, ke bapak tersebut. “Lukisan itu gratis untuk Bapak. Kalina, yang melukis foto Bapak tadi, hari ini sedang berbahagia.”

“Wah, sering-sering bahagia, yah.  Biar aku dapat gratis lagi!” pekik bapak dengan mata berbinar-binar.

Kuanggukkan kepala.

“Kau gila?” Aku memarahi Maria, setelahnya si bapak pergi. “Aku tidak mau gratisin dia!”

“Membahagiakan orang kok setengah-setengah. Sekalianlah.” Nada bicara Maria terdengar selengekan.

Kubayar sepuluh ribu ke Maria, sebagai gantinya.

“Kau, ‘kan tadi sudah membuatnya bahagia. Nah, sekarang aku ingin membuatnya bahagia.” Maria tak mau menerimanya.

“Kurasa kita tidak membuatnya bahagia, Mar. Melainkan mempermalukannya!” geramku.

“Malu? Kau yakin dia malu?” tanya Maria dengan wajah merah padam, menahan tawanya. “Tidak ada malu yang tampak di wajahnya itu, justru yang tampak urat malunya sudah putus, seperti urat malu milik kita.” Maria kemudian lepaskan pingkal tawanya amat keras. kalau sudah terpingkal seperti itu, air matanya pasti keluar. Sampai aku tak bisa membedakan, apakah dia benar-benar terpingkal, atau justru, dia sedang menertawai lelahnya.

________________________

Drew Andre A. Martin. Lahir di Jawa. Karya tunggal pertamanya; Virama Dvasasa, yang berisi dua belas judul cerita pendek. Selain sebagai penulis dan pengarang, Drew juga sebagai, cartomancer dan numerologist.

Sosial media miliknya:

Facebook dan Instagram: @drewandreamartin

X: @drwandreamartin.

Cerpen

Alisa

Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.

Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.

Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?

Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh  curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.

Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.

“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.

“Kenapa kau tertawa?”

Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.

Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.

Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”

 “Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

“Terus,” kata Alisa.

“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Iya,” jawab Sakib.

“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai bosan.”        

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.                                               

* * *

Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”

Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.

“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..

“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.

“Bagaimana kalau cerita itu benar?”

Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.

Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.

______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.