Cerpen

Rekayasa Akar

 Cerpen Danang Febriansyah

Mereka berdua terlihat serius membincangkan sebuah pohon. Pohon yang bagi mereka mampu meneduhi dan menyejahterakan banyak orang. Pohon yang mereka sebut Hariara. Mereka berusaha saling mempengaruhi agar mau mengikuti ambisi yang membuncah pada jiwa tua mereka. Sebab mereka mengklaim, bahwa akar-akar di bawah pohon itu ada di pihaknya.

***

“Jangan pernah mencabut akar yang telah tertancap lama di semesta ini. Bahkan hingga tiga abad mendatang.”

Sabar Manjung menatap tajam pada Agus Karsono, seperti akar yang menghujam masuk ke dalam tanah. Pesan itu bagi Agus Karsono serupa kutukan, harus diwujudkan.

Lelaki tua dan tambun bernama Sabar Manjung itu sudah paham bagaimana menanam pohon. Tapi untuk pohon yang satu ini, dia jauh lebih berhati-hati. Agus Karsono yang juga sudah tua harus mematuhi pesan itu. Karena untuk urusan pohon besar, rindang yang bernama pohon Hariara ini, dia masih kalah pengalaman dari Sabar Manjung. Meski gejolak jiwanya yang memberontak juga harus ditaati.

Dua cangkir kopi tersaji di depan mereka. Asap harum kopi menguap mengetuk hidung Agus Karsono yang menganggap itu tidak sehat. Bagi Sabar Manjung lain, semua dilahap. Bagaimanapun rasanya, dan bagaimanapun mendapatkannya. Apalagi hanya secangkir kopi. Meski itu tak menguruskan badannya. Lelaki berhidung besar itu menyeruput kopi panas itu, langsung masuk ke dalam lambungnya. Kopi panas yang menghangatkan badannya saat subuh yang dingin ini.

“Akar ini akan menjadi api jika dicabut. Namun yang menghajarmu adalah air!” lanjut Sabar Manjung berapi-api seakan pesannya mampu ditangkap orang macam Agus Karsono.

Bagaimanapun pesan itu telah menusuk sendi-sendi Agus Karsono, serupa dihajar peluru yang tajam. Tak memahami maksudnya.

“Tapi, pernah kau cabut akar ini dan kau menikmatinya!” bantah Agus Karsono, jiwa muda dalam tubuh tuanya mulai memprotes. “Dan tak terjadi apa-apa.”

“Kau kira aku mencabutnya? Kau lihat, orang-orang itu yang coba merobohkan pohonnya. Tapi aku menopangnya dan membuat akarnya tetap kuat. Meski saat itu harus ada darah yang tertumpah!”

“Kau seperti keset, Sabar!” kata Agus Karsono lantang. “Kau palingkan muka dariku ketika kutarik tanganmu agar kakinya, kaki seorang yang biasa kau panggil Ikal dan kau puja itu tak menapak di wajahmu.”

“Itulah, Agus. Itulah kenapa subuh-subuh begini aku menemuimu. Aku ingin kau tahu bahwa pohon yang meneduhi saat terik selama bertahun-tahun ini jangan kau tebang. Akarnya jangan kau cabut.” Sabar Manjung melemah, pengemis dengan wajah mengibanya sampai kalah kusut. Namun panggilan Agus Karsono pada namanya tanpa disertai gelarnya itu cukup mengganggunya. Padahal dia pernah menguasai pohon Hariara ini untuk beberapa tahun yang lampau saat Hariara ini diguncang banyak orang. Dan itu sebuah jabatan terhormat.

Sesaat setalahnya, sebutir buah dari pohon di depan mereka itu jatuh tepat di hidung Agus Karsono. Meninggalkan jejak basah di ujung hidungnya. Buah kecil berwarna merah yang tak enak dimakan itu kemudian menggelinding dan berhenti di dekat kakinya. Dia itu menginjaknya hingga hancur.

Agus Karsono mengumpat.

“Pernah kucabut akarnya sedikit. Beberapa tahun setelahnya air gelap berupa semburan lumpur bercampur kemunafikan, kekikiran dan kerakusan menyembur menenggelamkan beberapa desa di timur sana. Banyak yang menghubungkannya dengan Hariara ini. Padahal kata banyak orang juga, perusahaan Ikal di belakang semuanya.”

“Nah … Kenapa tak boleh kucabut semuanya hingga akar-akarnya sekalian? Biar tak ada kemunafikan, kekikiran dan kerakusan seperti air itu?”

“Ingatlah, Agus. Pohon ini tempat berteduh banyak orang, selama bertahun-tahun, bahkan mungkin sebelum kau paham tentang Hariara ini.”

“Hanya karena itu?”

“Apa kau harus merobohkan pohon ketika buah kecilnya jatuh tepat di hidungmu?” Sabar Manjung memberi ibarat. “Apa kata alam semesta ini?”

Agus Karsono melirik kopi di dekatnya, sedikit ada rasa tertarik demi melenyapkan dingin ini. Apalagi cara minum Sabar Manjung seakan provokasi agar dia mencicipinya juga.

“Ikal punya tangan kanan berlapis. Dia tak tersentuh. Pohon ini dikuasainya. Kau tak mungkin menjangkaunya.”

“Kau perlu diselamatkan, Sabar! Biar kau punya jalan sendiri, biar kau tak lagi menjadi alas kakinya. Biar pohon ini tumbuh semakin kuat, tak lagi menjadi kambing hitam atas membanjirnya air yang kau bilang lumpur itu.”

“Jangan, Agus! Kau tak mau ditertawakan hingga tiga generasi ‘kan? Kita satu leluhur, bergabunglah dengan Ikal.” Sabar Manjung gemetar dalam kalimatnya. Ada sebuah ketakutan di sana. Ketakutannya bercampur dengan kemarahan sebab Agus Karsono mengucapkan namanya lagi seperti tanpa rasa hormat sedikitpun.

Namun saat mengingat Ikal yang dipujanya, membayangkan senyum Ikal yang berwibawa, mengenakan jas berwarna terang dengan rambut kelimis disisir ke belakang, seakan kekuatan itu tumbuh kembali. Masih banyak yang mau mempertahankan pohon ini jika sewaktu-waktu rubuh. Masih banyak akar yang mencengkeram tanah. Jelas kuasa Ikal masih besar. Apalagi dia menguasai beberapa media juga. Sabar Manjung tersenyum kecut melihat ambisi Agus Karsono yang baginya juga memiliki ambisi untuk menguasai pohon itu.

“Pesanmu tadi ambigu, Kawan. Bermakna ganda. Juga tidak konsisten. Kau tadi bilang aku tak boleh mencabut akar ini. Tapi kau membela Ikal yang sejatinya dia pelan-pelan mencabut akarnya, dia akan ditinggalkan pemujanya. Jelas ada yang salah dengan caranya memelihara pohon ini,” kata Agus Karsono tegas. Tak takut dengan larangan Sabar Manjung.

Akhirnya Agus Karsono menyesap kopi meski sedikit. Kopi memasuki kerongkongannya dan berlabuh di lambungnya. Rasa hangat menjalar. Kopi hitam itu dinikmatinya juga. Tak peduli kafein yang sebelumnya dianggap racun itu.

Tiba-tiba Sabar Manjung seperti kehilangan kesabaran. Dia membanting gelas kopi. Suaranya nyaring meski masih kalah dengan suara pistol yang memuntahkan peluru. Dia menggertakkan giginya.

“Ingat, Agus! Aku tetap akan mengangkat Ikal lagi untuk memelihara pohon ini!” Sabar Manjung berdiri. “Dan aku. Aku akan menguatkan akar-akarnya. Aku akan di belakangnya!”

“Kau tak lihat, Sabar? Selama pohon ini dalam kuasanya, akar-akarnya semakin keropos. Apalagi banyak yang menganggap Ikal berdosa atas air yang bercampur kemunafikan itu membanjiri sebuah wilayah. Kau tak ingin ikut denganku demi menyelamatkan pohon ini?” Agus Karsono masih duduk dan makin menikmati kopinya.

“Kita lihat, Agus. Kita lihat bahwa Ikal akan berkuasa lagi dan diakui oleh semesta ini,” janji Sabar Manjung begitu yakin.

“Semestalah yang akan mengakuiku untuk menyelamatkan pohon ini beserta akar-akarnya.” Agus Karsono tak kalah yakin.

Sabar Manjung menerka, akan ada penguasa tandingan. Dia lalu pergi meninggalkan Agus Karsono yang sedang menikmati kopi. Orang tua itu menyelimuti dirinya dengan kain berwarna terang. Agar dingin yang menyelimuti subuh ini segera sirna. Dia berbelok di tikungan dan memastikan tak terlihat lagi oleh Agus Karsono.

Sabar Manjung menyobek wajahnya yang ternyata hanya topeng. Di baliknya timbul wajah lain. Wajah penuh senyum Ikal yang tampak.

Agus Karsono tersenyum saat Sabar Manjung sudah berbelok di tikungan. Dia segera membuka wajahnya. Sebuah wajah lain terlihat setelah wajah Agus Karsono dibuka. Wajah Ikal terukir di sana.

Tepat saat itu, akar-akar pohon tersebut mulai tercerabut. Akar-akar tersebut mengumpat dan menyumpahi para penguasa pohon yang disangganya.

“Ini ulah siapa?” Sebuah akar biacara dalam bahasa mereka sendiri. “Jangan-jangan perseteruan mereka karena kita, rekayasa kita. Rekayasa akar.”

Akar-akar yang lain, yang masih di bawah tanah berusaha naik ke permukaan.

***

Dari tempat lain, Ikal duduk sambil ongkang kaki memainkan mainannya yang lain, yang berupa suatu hal yang bisa dilihat, didengar dan dirasakan oleh publik.

Sementara air gelap yang mereka sebut akibat ulah Ikal, tetap muncrat, melebar dan menenggelamkan beberapa desa. Tak dipedulikan.***

____________________

Danang Febriansyah. Mengenal lebih banyak karya sastra dan belajar menulis dari Komunitas Sastra Alit, Solo. Beberapa karyanya telah dimuat di media dan dibukukan. Novel “Arundaya: di Masjid Kuserahkan Cintaku” terbit 2019 dan diterbitkan dalam Bahasa Jawa tahun 2021 oleh Penerbit Diomedia. Kumpulan Cerpen “Ia yang Menjelma Bunga Matahari”, terbit 2025 di lini Penerbit Andi Jogja. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri sambal mengelola Taman Baca Fatiha.

Puisi

Puisi Supali Kasim

Homesick

apa yang paling dirindukan

seorang tua

di perantauan

perjalanan senja dan temaram

mungkin kampung halaman

hijau pohonan, sawah membentang

ahai, panen padi

memetiknya dengan ani-ani

dengan hati-hati

serupa menyunting seorang gadis

seikat-seikat tumpukan

menggunung di halaman rumah-rumah

sekampung

di sela-sela malamnya

anak-anak dan remaja bermain

petak umpet

“kamu kena!” teriaknya

dan gadis itu tersunting

tapi ani-ani

tak lagi hati-hati

traktor telah membolak-balik

dendam seorang tua di perantauan

            jadi pelupa

dimabukkan zat kimia

dan pranatamangsa

hanya kisah suatu masa

ahai, ada yang makin lupa

sawah tergadai telah lama

“kamu kena!” teriaknya

sejak bunga bank itu mengikat gadis

yang dulu tersunting itu

mesin combine harvester pun tiba

memangsa semua

lalu apa yang paling dirindukan

seorang tua

di perantauan

hanya perjalanan senja lalu temaram

2026

___________________

Cemas

masa depan adalah angka-angka

entah penjumlahan atau kelipatan

deret panjang itu tanpa nyata

tiba-tiba jadi pengurangan

lalu terbagi-bagi, juga tanpa nyata

aku pun limbung, terhuyung

            angka yang entah

dan masa depan adalah warna-warna

terbayang pelangi indah

mungkin pula jadi putih semata

matahari telah memainkannya

yang terbentang kelam, pekat

mataku pun kabur

            warna yang entah

tetapi masa depan adalah rupa-rupa

loyang tampak emas

kucing tampak macan

raksasa tampak bidadari

bagaimana kelak anak-anakku

aku yang kini mampu

            memilah tanpa entah

2026 

____________________

Megalomania

kini, seorang tua itu,

tapi tak mau disebut tua

kesukaannya sederhana saja

sangat sederhana

erat-erat pegang pelantang

            bicara lantang

burung-burung dari atas langit

kupu-kupu dan capung dari taman bunga

cacing dan orong-orong dari dalam buni

seketika meriung, tepuk tangan

memekik, tertawa, berjoget

di pelantangnya, jaringan kabel-kabel

bersumbu urat syaraf otaknya

diri yang penting, kuat, hebat

            sebab hanya dia

            mampu selesaikan apapun masalah

di mimbarnya, papan bercampur logam

terlindungi apapun yang terjadi

kekar, menolak rapuh, menolak kritik

            seisi kebun binatang terlontar

            siap-siap kambing hitam

di panggungnya, beratap sanjungan

terpusat perhatian

hias-rias pujian

            tepuk tangan lagi

            joget-joget lagi

lalu, seorang tua itu,

tapi tak mau disebut tua

kesukaannya sederhana saja

sangat sederhana

erat-erat pegang pelantang

            kata-kata berujung cemas

rangkaian frasa, kalimat, dan wacana

singgasana, pengaruh, dan kuasa

seperti tersudut

rasa takut

2026

____________________

Resistensi

maka kusembunyikan ke balik langit

gelap dan muram

bulan yang perawan

tak akan lagi kaumainkan

dan angin yang selalu menyalami semesta

lalu kaususupi cerita dusta

            kini kukandangkan

            dengan tenang

apalagi kaulakukan pada matahari

energi untuk kelompok sendiri?

tak bisa lagi kautunggangi

kini matahari

bangun tidur akan lebih pagi

tak bisa lagi hasratmu

memetik bintang satu-satu

            semua berpendar melawan

jika kaupagari juga pesisir dan laut

tanpa rasa takut

akan terhempas segalanya oleh laut

            juga pikiran kotormu

tapi, ketika mulutmu masih sampah

            otakmu masih berjejal

            sampah

air akan menenggelamkanmu

atau bumi akan menguburmu

atau api akan membakarmu

2026

____________________

Narsistik

baik, baiklah,

apapun dan bagaimanapun

sambil menghadap matahari

bunga-bunga merekah

bukankah cahaya

            warna-warni

iringi langkahku kemana

            puji-puji

kagum dan takjub

hanya milikku bercahaya

tak ada, tak ada siapa

bungaku selalu merekah

meski engkau meludah

aku melangkah

2026

____________________

Supali Kasim. Tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim, email [email protected]

Cerpen

Tato Jamur

Cerpen Septi Rusdiyana

Sepulang dari minimarket, tanpa sengaja aku mendengar percakapan budhe dan pakdhe di ruang tengah. Mereka merencanakan sebuah pertemuan antara aku dan seorang lelaki bernama Arham. Sekilas saat mendengar nama itu, terlintas di benakku jika lelaki itu terlalu dewasa dan brewokan.

“Setidaknya mereka berdua ketemu dulu,” kata pakdhe. Budhe hanya mengangguk sembari menikmati secangkir teh di tangan. Aku menyapa mereka sebelum akhirnya masuk ke kamar.

Aku duduk menghadap meja belajarku. Memandang dua foto yang kuletakkan di samping laptop secara bergantian. Foto pertama memperlihatkan aku yang sedang duduk diapit mama dan papa saat wisuda SMA. Mereka meninggal saat gempa memporandakan Bantul tahun dua ribu enam lalu. Sejak saat itu, aku diasuh pakdhe dan budhe yang memang tidak memiliki anak. Berkat kebaikan mereka, aku sudah terbiasa menjadi penurut, menjadi anak manis yang selalu berusaha tidak merepotkan. Hanya kepada bapak, ayah angkatku saja, aku berani mengungkapkan apa yang menjadi keinginanku.

Foto kedua ada enam orang, empat laki-laki dalam posisi berdiri dan dua perempuan sedang duduk. Keempat laki-laki itu secara berurutan dari kiri ke kanan adalah bapak, Mas Iwan si sulung, Mas Inu si bungsu, dan Mas Ito si anak tengah. Sedangkan dua perempuan yang lain adalah ibu dan aku sendiri. Di dalam foto itu bapak mengenakan topi berwarna hitam yang baru saja kubeli.

Dulu, bapak memintaku menjadi anak angkatnya setelah tahu aku yatim piatu. Bukan karena kasihan, tapi keinginan mendalam untuk memiliki seorang anak perempuan. Sejak bapak membawaku masuk ke keluarganya, aku menjadi lebih bahagia. Perlakuan mereka padaku teramat manis. Aku ingat, ketika sedang menjalankan ibadah puasa, biasanya bapak akan menunda makan siangnya untuk menemaniku saat berbuka. Ibu bahkan sudah mahir membuat kolak pisang. Ada satu hal lagi, yaitu saat Mas Iwan menikah di gereja. Aku mengenakan gaun berwarna merah jambu senada dengan milik ibu. Aku turut menyaksikan ikrar janji pernikahan Mas Iwan dan calon istrinya di baris paling depan bersama bapak, ibu, Mas Inu dan Mas Ito. Saat itu aku menangis sampai bulu mata palsu sebelah kananku copot. Mas Ito terkikik geli menertawakanku. Untung Mas Inu segera menggandengku keluar untuk memperbaiki riasan.

Bunyi ketukan pintu dan panggilan budhe menyadarkanku dari lamunan. Aku diminta menemui Arham yang sudah menunggu di ruang tamu.

Saat akun bertemu Arham, kutebak usia kami hanya terpaut dua atau tiga tahun saja. Wajahnya pun bersih tanpa brewok. Rupanya aku telah salah menebak wujudnya.

“Kita bisa mencoba saling mengenal dulu. Aku tidak akan memaksa atau menekanmu,” ucap Arham membuka obrolan yang tampak canggung.

Aku mengangguk. Cukup lama kami terjebak diam. Sampai akhirnya mataku tertuju pada tato jamur yang terukir di tangan kanan Arham. Pertemuanku dengannya membuat aku mengingat kembali akan mimpiku semalam. Dalam mimpi itu aku sedang tidur, tiba-tiba dibangunkan oleh seseorang.

***

“Hey, bangun.” Seseorang menggoyang-goyangkan bahuku.

Perlahan aku membuka mata dan menggeliat. Rupanya aku tertidur di meja belajar. Terlihat seorang laki-laki membungkuk menyejajarkan kepalanya dengan wajahku. Sangat dekat. Aku hampir melompat karena terkejut.

“Bukannya kamu yang memanggilku?”

Aku mengernyit tidak mengerti. Ia kemudian menunjuk pada layar laptop di depanku. Aku mengikuti arah telunjuknya, lalu terdiam cukup lama setelah melihat halaman judul pencarian yang terpampang: Bagaimana cara memanggil dan berkomunikasi dengan arwah.

Aku berhasil?

“Iya. Kamu berhasil,” kata laki-laki itu.

Aku bingung. Seolah ia bisa mendengar apa yang aku katakan dalam hati. Sebenarnya siapa laki-laki ini. Aku mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia bertubuh tinggi, rambutnya cepak dan berkulit bersih. Kaus polo putih dan celana panjang jeans sobek yang ia kenakan cukup menambah kesan bad boy.

Ia menarik kursi dan mendekat ke arahku. Kini kami duduk berhadapan.

“Aku sudah datang,” katanya lagi.

“Aku memanggil arwah bapak. Tapi kenapa malah kamu yang datang? Aku bahkan tidak mengenalmu,” tanyaku penasaran.

“Aku sudah menjadi arwah, jadi aku boleh memakai avatar apapun yang aku mau untuk bertemu denganmu. Aku rasa dengan berpenampilan seperti ini, kamu akan terpesona.”

Aku tidak begitu saja mempercayai ucapannya. Aku billang padanya jika aku akan menanyakan beberapa hal terkaait bapak. Laki-laki itu mengangguk.

“Jika kamu memang bapak, di mana tempat pertama kali kita bertemu?”

“Perpustakaan,” jawab laki-laki itu cepat. Seperti tanpa harus berpikir.

Jawabannya tepat. Saat itu aku sedang kesulitan menemukan buku antologi puisi hingga seorang pria paruh baya menghampiri dan bertanya padaku  buku apa yang kucari.

Aku menyebut beberapa judul buku. Dia mengangguk dan berjalan menuju rak bagian sastra, memilih-milih buku yang kemudian disodorkan padaku. Tanpa sengaja jarinya menyentuh tanganku. Meski sekilas, aku dapat merasakan debaran jantungku yang berubah menjadi tak beraturan. Kami banyak mengobrol. Dia bercerita kalau kegemarannya dengan puisi mengantarkan pada pernikahannya dengan ibu. Saat itu aku hanya tersenyum, ternyata benar ada perempuan yang mau dilamar dengan puisi.

Aku memejamkan mata dan menggeleng kuat. Tak ingin langsung percaya. Mungkin laki-laki itu menjawab asal dan kebetulan benar. Jadi aku meraih foto, memperlihatkan padanya untuk bertanya lagi. “Kapan foto ini diambil?”

“Sesaat setelah kamu mencukur habis rambutku.”

Tepat lagi. Masa iya hanya kebetulan. Maka aku mengajukan pertanyaan lagi, “Kapan dan bagaimana bapak meninggal?”

“Serangan jantung. Dua puluh tiga Oktober tahun dua ribu dua puluh tiga. Ayolah, ini tidak lucu. Kamu memanggilku hanya untuk bermain-main? Aku pikir kamu merindukanku.”

Aku terbawa suasana dan tanpa sadar bergumam, “Ya, aku sangat merindukanmu.”

Laki-laki yang mengaku arwah bapak itu tersenyum. “Aku senang kamu memanggilku. Aku juga ingin mengakui sesuatu yang selama hidup tidak pernah berani aku ungkapkan.”

Aku menatap wajahnya. Mungkinkah saat muda memang seperti itu wujud bapak? Laki-laki itu tiba-tiba mencubit pipiku. Memintaku tak melamun dan memperhatikannya. Ia memulai cerita.

“Saat kamu mau buka puasa, aku pernah mengajakmu makan nasi goreng pinggir jalan yang setelahnya kamu selalu bilang kalau itu adalah nasi goreng terenak yang pernah kamu makan.” Ia menjeda ceritanya. “Sebenarnya penjual nasi goreng itu tidak menggunakan daging kambing atau daging sapi.”

“Ya, aku tahu,” potongku.

“Kamu tahu?”

Aku mengangguk.

“Kok bisa?”

“Setelah malam itu, kita tidak pernah lagi makan di sana. Jadi aku mengajak temanku, ternyata dia bilang kalau sebaiknya kami jangan pernah makan di tempat itu.”

“Maafkan aku.”

It’s oke. Aku ingat sehari sebelum kamu mengajakku, kamu bertanya apakah bila aku tidak tahu, artinya Tuhanku tidak akan marah. Jadi aku pikir, itu hanya caramu mengabulkan keinginanku.”

“Aku sangat menyesal. Makanya aku memohon izin kepada Tuhan untuk menemuimu saat kamu memanggilku. Aku lega kamu tidak marah.”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

Wajah laki-laki itu berubah muram. “Aku juga minta maaf karena masih ada satu keinginanmu yang tak bisa aku penuhi.”

“Apa itu?” tanyaku.

“Tato jamur. Kamu sangat ingin memiliki tato bergambar jamur di punggung tanganmu. Aku bahkan sempat menanyakan kepada Ito di mana biasanya ia membuat tato. Sayangnya kamu bilang tidak mau. Lalu aku membelikanmu stiker temporer bergambar jamur. Tapi itu justru memicu reaksi alergi hingga kulitmu memerah dan gatal-gatal.”

Mendengar pengakuannya, aku semakin tidak menemukan kalimat yang tepat untuk membalas. Betapa ia berusaha mewujudkan apa mauku. Walaupun keinginanku itu terdengar konyol dan kekanakan.

“Bagaimana kalau kita menikah saja?” usulnya tiba-tiba. Aku terkejut. Laki-laki di depanku ini benar-benar ajaib.

“Sebelum hari ke empat puluh kepergianku, arwahku bisa tetap tinggal kalau aku menikah dengan seseorang di dunia. Kita bisa bertemu dan berkomunikasi seperti ini. Kita juga bisa melanjutkannya pada kehidupan kekal apabila kamu sudah mati nanti.”

Aku diam. Ketampanan dan ucapan laki-laki di depanku ini serasa menghipnotis. Tanpa sadar aku meraih wajahnya, mengecup bibir itu. Selama beberapa saat kami seperti hilang kendali. Seolah saling menikmati kehangatan ganjil yang mungkin sebelumnya terkubur sangat dalam. Namun, sesuatu yang aneh menjalar di hatiku. Perlahan aku menjauh dari wajahnya.

“Aku akan membiarkanmu pergi. Karena aku ingin mencintaimu lebih dari siapa pun. Dan caraku membuktikannya adalah dengan melepasmu.”

***

“Kamu kelihatannya sangat tertarik dengan tatoku?” tebak Arham membuatku gelagapan.

“Kenapa kamu memilih jamur?” tanyaku sekadar menutupi rasa malu karena telah tertangkap basah. Arham tersenyum dan menjawab sambil melihat tato di tangannya.

“Menurutku jamur adalah makhluk  paling bahagia. Ia bisa tumbuh di mana pun, menyesuaikan lingkungannya.”

“Berarti mereka tidak memiliki pendirian dong? Selalu mengikuti lingkungan sekitarnya.”

Arham tersenyum makin lebar. Lesung pipit di pipi kirinya tersembul. “Terkadang menjadi penurut itu baik. Menekan ego untuk melihat kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan kita sendiri. Menarik, bukan?”

Mata kecokelatan milik Arham menatapku dengan sangat teduh. Selama sepersekian detik aku seperti pernah melihat. Sekuat tenaga aku berusaha untuk mengingatnya, namun gagal saat senyum dan tatapan Arham padaku semakin membuatku tak nyaman. Aku segera memalingkan pandangan ke segala arah. Jantungku tiba-tiba berdebar begitu kencang. Aku hanya berharap, Arham bukanlah arwah yang bisa mendengar isi hatiku.***

____________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen.

Cerpen

Surat-Surat Tak Berbalas

Cerpen Khairul Azzam El Maliky

DI LERENG Bukit Serindit, tempat angin selalu membawa pesan dari rimbun hutan pinus dan kabut pagi sering berjalan beriringan dengan cahaya matahari yang enggan segera turun, berdiri bangunan Sekolah Guru Bantu yang sederhana. Di sana, sekitar tahun 1910, masa muda Tan Wijaya berputar. Di antara puluhan siswa laki-laki yang duduk berjejer di ruang kelas berlantai kayu, hanya ada satu wajah perempuan yang bersinar: Sariati. Ia putri dari Pak Abdul Karim, satu-satunya guru pribumi yang paling dihormati di lingkungan sekolah itu—tempat yang masih sangat kental dengan aturan kaku dan budaya tatanan kolonial. Ia bukan sekadar murid biasa; ia cerdas melebihi rata-rata teman seangkatannya, bicaranya halus namun tajam, dan pandangannya jernih.

Bagi Tan, kehadiran Sariati bagaikan munculnya matahari di tengah hari yang mendung. Di lingkungan pendidikan yang penuh aturan kaku dan pelajaran yang sering kali terasa asing, jauh dari napas tanah kelahirannya, dialah jendela yang membuka pandangan lebih luas dan segar. Bersamanya, Tan berdiskusi hingga larut tentang rahasia bahasa, tentang sejarah bangsa, tentang adat warisan nenek moyang. Di matanya yang berwarna cokelat gelap dan teduh, Tan melihat berkilat semangat yang sama persis dengan yang bergejolak hebat di dalam dadanya sendiri. Semakin lama berkenalan dan bertukar pikiran, semakin dalam akar rasa itu menancap kuat ke dalam sanubari. Ia sadar, hatinya telah memilih satu tempat berlabuh, dan tak ada kekuatan apa pun yang sanggup mencabutnya kembali.

Saat tahun kelulusan tiba, keluarga besar Tan memberikan penghormatan tertinggi sesuai tradisi setempat: gelar kehormatan warisan leluhur, sekaligus usulan pertunangan dengan gadis pilihan kaum kerabat yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Dengan tegas namun tetap menjaga kesopanan, Tan menolak pasangan yang ditawarkan itu. Ia menerima gelar tersebut sebagai amanah besar bagi kaum dan kampung halamannya, namun hatinya telah menetapkan tujuan lain yang jauh lebih berharga. Di dalam diamnya, ia mengukir janji: suatu hari nanti, setelah ia memiliki bekal ilmu yang cukup dan kedudukan yang pantas, ia akan datang meminang Sariati dengan cara yang paling mulia dan terhormat.

Kesempatan besar datang, ia terpilih mewakili daerah untuk melanjutkan pengajaran dan ilmu keguruan ke negeri Belanda. Berangkatlah Tan menyeberangi samudra, meninggalkan tanah kelahiran yang dicintainya , namun membawa satu harta paling berharga yang tak bisa dicuri siapa pun dan tak akan lapuk dimakan waktu: kenangan tentang Sariati.

Di kota Haarlem, di utara Belanda yang sering diselimuti kabut dingin, Tan khusyuk bersama buku-buku tebal, banyak catatan, serta diskusi malam panjang dengan teman-teman pelajar dari berbagai penjuru dunia. Namun setiap kali malam tiba, kesunyian menyelimuti kamar sewaannya, ingatannya selalu terbayang ke lereng Bukit Serindit. Di saat itulah, pena dan lembaran kertas menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan jarak itu.

Setiap surat yang dikirimkan bukan sekadar berisi kabar perjalanan atau catatan ringkas pelajaran. Ia berisi tentang harapan agar ia tetap menunggu setia, serta gambaran jelas tentang cita-cita besar yang ingin ia bangun kelak di tanah air, di antaranya:  Di sini, di negeri yang dingin tanpa hangat mentari tropis, satu-satunya kehangatan yang mampu kurasakan hanyalah bayangan wajahmu. Ilmu yang kucari dan pelajari bukan semata untuk kebesaran diri, melainkan agar kelak aku pantas berdiri tegak di hadapanmu, dan di hadapan seluruh bangsa kita yang sedang terperangkap.

Surat pertama dikirim. Ia menunggu berhari-hari, berminggu-minggu. Tidak ada jawaban.

Surat kedua dikirim dengan lebih banyak kata dan pengakuan tulus. Tetap saja senyap.

Surat ketiga, keempat, hingga berpuluh kali surat terkirim, namun semuanya jatuh dalam keheningan yang sama. Tan mulai gelisah. Apakah surat itu tersesat di pos perbatasan? Apakah tidak sampai tujuan? Atau ada sesuatu yang tak bisa ia bayangkan?

***

Di tengah kegelisahan itu, datang kabar paling tajam dan pahit menghantam dadanya. Sariati telah melangsungkan pernikahan. Bukan dengan seorang pemuda yang memiliki cita-cita serupa, bukan pula dengan sahabat masa sekolahnya, melainkan dengan seorang Bupati di daerah pesisir barat.

Berita itu bukan sekadar mematahkan harapannya, bagaikan seluruh dunia yang ia kenal terbalik. Ia yang berjuang siang malam agar rakyat terbebas dari belenggu kekuasaan yang kaku dan semena-mena, kini mendengar wanita yang dicintai justru bersedia menjadi bagian dari struktur kekuasaan itu sendiri. Di kamar sempitnya di Haarlem, Tan duduk diam berjam-jam. Angin dingin menusuk dari celah jendela, namun ia tak lagi merasa kedinginan, karena hatinya telah jauh lebih dingin. Meski demikian, ia tidak pernah menyimpan sedikit pun rasa benci atau dendam. Ia mencoba belajar satu hal: takdir kadang menulis garisnya sendiri. tinggi.

Tan kembali menginjakkan kaki di tanah air tercinta, namun tidak lagi sebagai pemuda yang tenang dan manis, melainkan sebagai pejuang yang terus bergerak, sering diburu pasukan penjaga keamanan kolonial, sering ditangkap dan dipenjara namun tak pernah mau menunduk atau menyerah. Ia berkelana dari satu pulau ke pulau lain, menyebarkan benih-benih pemikiran baru tentang kebebasan, kemandirian, dan martabat manusia yang setara. Di setiap langkah kakinya, jejak kenangan masa lalu itu tetap ada menyertai, namun kini dalam bentuk nyeri. Pada titik itu ia memutuskan seluruh sisa hidupnya akan dipersembahkan sepenuhnya demi bangsanya yang masih tertindas.

***

Tahun 1924. Kabar beredar, Sariati berpisah dari suaminya. Ia kini hidup mandiri, kembali menetap di lingkungan asalnnya. Cahaya samar dan jauh, secercah harapan yang sempat mati mencoba menyala kembali di sudut terdalam hatinya. Namun saat itu dirinya adalah orang yang paling diburu oleh penguasa kolonial. Tan tetap berusaha mengirim pesan lagi, dan kali ini jauh lebih hati-hati, namun isinya tetap sama persis seperti surat-surat lama.

Namun jawaban yang datang justru mematikan sisa-sisa nyala harapan itu untuk selamanya. Penolakan yang disampaikan dengan halus namun tegas dan tak terbantahkan. Bagi Sariati, masa sekolah yang indah dan surat-surat lama yang sampai itu hanya kenangan masa muda yang telah berlalu. Bertahun-tahun kemudian, dalam percakapan pribadi, ia sendiri mengakui: surat-surat itu sampai utuh ke tangannya, ia membaca satu per satu dengan penuh perhatian dan haru, namun ia sadar memilih untuk tidak menjawab satu pun. Bagi gadis yang tumbuh besar dan dibesarkan di tengah aturan adat yang kuat serta struktur kekuasaan masyarakat yang kaku dan teratur, jalan hidup Tan yang penuh bahaya, pergerakan tanpa henti, serta sikap berani menentang sistem, adalah jalan yang terlalu jauh berbeda, terlalu asing, dan berisiko dalam hidupnya.

Penolakan kedua ini menjadi luka terbesar. Tapi Tan akhirnya paham dan menerima takdir. Ia menutup ruang khusus di dalam hatinya itu. Ia berhenti menulis surat-surat yang tak sampai. Ia beralih menulis surat yang jauh lebih luas dan lebih besar. Surat yang ditujukan kepada setiap jiwa yang mendambakan kebebasan dan kemerdekaan.

Di sisa perjalanan hidupnya yang penuh badai dan rintangan itu, setiap kali ia melewati pegunungan yang rimbun serupa dengan Bukit Serindit, atau mencium aroma tanah basah mengingatkannya pada kampung halaman, bayangan lembut wajah Sariati masih sesekali hadir menyapa. Namun tidak lagi membawa rasa sakit. Ia telah berubah menjadi kenangan yang menguatkan jiwa dan pendiriannya. Surat-surat yang tak pernah berbalas itu ternyata  mengajarkannya tentang ketabahan hati, tentang keikhlasan, dan tentang cara mengubah luka menjadi kekuatan yang lebih berguna. Tan terus berjalan, terus berjuang tanpa lelah, memilih membujang hingga akhir hayatnya.[]

_________________

Khairul A. El Maliky. Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.

Film, Resensi

Menolak Heroik

Oleh : T.H. Hari Sucahyo

Judul: The Death of Robin Hood
Tahun Rilis: 2026
Sutradara dan Penulis Naskah: Michael Sarnoski

Pemeran Utama: Hugh Jackman sebagai Robin Hood, Jodie Comer, Bill Skarsgård, Murray Bartlett, Noah Jupe

Produser: Aaron Ryder, Andrew Swett, Alexander Black
Durasi: ± 120 menit

Di antara sekian banyak tokoh legenda yang terus mengalami penafsiran ulang dari generasi ke generasi, Robin Hood mungkin menjadi salah satu karakter yang paling sulit dilepaskan dari citra kepahlawanan klasik. Sosok pemanah ulung yang mencuri dari kaum kaya untuk diberikan kepada kaum miskin telah hidup dalam berbagai medium, mulai dari cerita rakyat, novel, serial televisi, hingga film layar lebar.

Hampir setiap adaptasi selalu menonjolkan aksi heroik, petualangan di Hutan Sherwood, serta semangat perlawanan terhadap ketidakadilan. Namun, The Death of Robin Hood (2026) memilih jalan yang jauh berbeda. Alih-alih merayakan masa kejayaan sang legenda, film ini justru mengajak penonton menyaksikan babak terakhir kehidupan seorang pahlawan yang telah menua, terluka secara fisik maupun batin, dan mulai mempertanyakan makna dari seluruh perjalanan hidupnya.

Disutradarai oleh Michael Sarnoski, yang sebelumnya dikenal melalui pendekatan intim dalam menggarap karakter-karakter yang rapuh, film ini tidak berusaha menjadi tontonan aksi spektakuler. Sebaliknya, ia lebih menyerupai drama eksistensial yang dibungkus dalam latar abad pertengahan. Pilihan tersebut mungkin mengejutkan bagi penonton yang mengharapkan duel memanah, pengejaran di hutan, atau pemberontakan besar.

Justru melalui keberanian meninggalkan formula lama itulah film ini menemukan identitasnya sendiri. Hugh Jackman memerankan Robin Hood dengan kualitas akting yang penuh kedewasaan. Ia tidak tampil sebagai pria perkasa yang mampu mengalahkan puluhan musuh sekaligus, melainkan sebagai manusia biasa yang tubuhnya mulai melemah.

Kerutan di wajahnya, langkah yang semakin berat, serta tatapan mata yang dipenuhi penyesalan menjadi bahasa visual yang jauh lebih kuat dibandingkan dialog panjang. Karakter Robin dalam film ini adalah seseorang yang telah hidup cukup lama untuk menyadari bahwa kemenangan-kemenangan masa lalu tidak selalu mampu menghapus luka yang ditinggalkan perang.

Pendekatan seperti ini membuat film terasa sangat personal. Robin bukan lagi simbol perjuangan rakyat semata, tetapi juga representasi setiap orang yang memasuki fase kehidupan ketika masa lalu mulai menghantui lebih sering dibandingkan harapan akan masa depan. Ia mengingat orang-orang yang telah gugur, cinta yang hilang, persahabatan yang retak, serta keputusan-keputusan yang ternyata memiliki konsekuensi jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Film secara perlahan membangun atmosfer kesunyian. Tidak banyak adegan yang bergerak cepat. Kamera kerap membiarkan karakter berjalan sendirian melewati hutan berkabut, duduk di dekat api unggun tanpa berkata apa pun, atau menatap langit sore yang perlahan berubah gelap. Ritme yang lambat tersebut bukan kelemahan, melainkan bagian dari cara film mengajak penonton merasakan beratnya perjalanan batin sang tokoh utama.

Penonton diberi ruang untuk merenungkan setiap keputusan, setiap tatapan, bahkan setiap keheningan yang muncul di antara dialog. Sinematografi menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Lanskap hutan tidak lagi digambarkan sebagai arena petualangan penuh semangat, tetapi sebagai ruang yang menyimpan kenangan. Pepohonan tua tampak seperti saksi bisu atas berbagai peristiwa yang telah berlalu.

Kabut yang menyelimuti jalan setapak menghadirkan nuansa melankolis yang konstan. Warna-warna yang digunakan cenderung kusam dengan dominasi hijau gelap, cokelat tanah, serta abu-abu langit mendung. Keseluruhan visual berhasil membangun kesan bahwa dunia Robin Hood perlahan ikut menua bersama dirinya.

Musik latar juga bekerja secara efektif tanpa terasa berlebihan. Instrumen gesek dan melodi sederhana lebih sering muncul sebagai pendamping emosi daripada alat untuk memanipulasi perasaan penonton. Pada beberapa adegan, film bahkan memilih membiarkan suara angin, langkah kaki, atau gemerisik dedaunan mengambil alih fungsi musik. Keputusan tersebut membuat suasana menjadi lebih intim sekaligus realistis.

Salah satu hal paling menarik dari The Death of Robin Hood adalah keberaniannya mempertanyakan konsep kepahlawanan. Selama ini legenda Robin Hood sering diposisikan sebagai kisah tentang kemenangan moral atas tirani. Namun film ini mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apakah seorang pahlawan benar-benar dapat hidup damai setelah puluhan tahun dipenuhi kekerasan? Apakah tindakan yang dianggap benar oleh sejarah selalu terasa benar bagi pelakunya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi fondasi emosional film.

Robin digambarkan sebagai seseorang yang mulai meragukan mitos tentang dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa masyarakat membutuhkan simbol kepahlawanan, tetapi simbol tersebut sering kali menghapus sisi manusiawi seseorang. Orang-orang mengenalnya sebagai legenda, sementara ia sendiri merasa hanya seorang pria tua yang lelah. Kontras antara citra publik dan kenyataan pribadi inilah yang menjadi salah satu konflik paling menyentuh sepanjang film.

Hubungan Robin dengan karakter-karakter lain juga ditulis dengan nuansa yang dewasa. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik ataupun sepenuhnya jahat. Hampir semua karakter memiliki alasan yang masuk akal atas pilihan hidup mereka. Dialog-dialog yang terjalin lebih banyak berisi refleksi dibandingkan pertentangan dramatis. Bahkan ketika terjadi konflik, penyelesaiannya tidak selalu melalui pertarungan fisik, melainkan melalui percakapan yang mengungkap luka lama dan penyesalan yang selama ini dipendam.

Penulisan naskah memperlihatkan kepercayaan diri untuk membiarkan penonton menafsirkan berbagai simbol yang muncul. Beberapa adegan sengaja tidak dijelaskan secara gamblang. Hal tersebut mungkin terasa menantang bagi sebagian penonton, tetapi justru memberi ruang interpretasi yang luas. Film tidak memaksa satu jawaban mengenai siapa Robin Hood sebenarnya pada akhir hidupnya. Sebaliknya, ia membuka kemungkinan bahwa setiap orang akan menemukan makna berbeda berdasarkan pengalaman hidup masing-masing.

Dari sisi produksi, desain kostum dan properti tampil meyakinkan tanpa harus terlihat terlalu megah. Pakaian para karakter tampak usang, penuh bekas perjalanan panjang, dan sesuai dengan kondisi sosial dunia yang mereka tempati. Senjata-senjata yang digunakan juga tidak diperlakukan sebagai simbol kemewahan, melainkan alat bertahan hidup yang sudah lama menemani para pemiliknya. Detail-detail kecil semacam ini memperkuat kesan autentik.

Film ini juga tidak terjebak pada romantisasi abad pertengahan. Dunia yang diperlihatkan terasa keras, dingin, dan penuh keterbatasan. Orang-orang hidup dengan ancaman penyakit, perang, kelaparan, serta ketidakpastian. Dalam konteks seperti itu, legenda Robin Hood justru memperoleh makna baru. Ia bukan penyelamat yang mampu mengubah dunia secara permanen, melainkan seseorang yang pernah berusaha melakukan hal benar di tengah zaman yang penuh kekacauan.

Hugh Jackman berhasil menghidupkan kompleksitas tersebut melalui penampilan yang sangat terkendali. Tidak banyak ledakan emosi besar. Sebaliknya, kekuatan aktingnya muncul melalui ekspresi kecil, perubahan intonasi suara, dan bahasa tubuh yang menunjukkan kelelahan seorang pria yang telah memikul beban terlalu lama. Penampilannya mengingatkan bahwa kualitas akting tidak selalu bergantung pada dialog panjang atau adegan dramatis, melainkan pada kemampuan menghadirkan kehidupan batin karakter secara meyakinkan.

Michael Sarnoski tampaknya lebih tertarik mengeksplorasi tema kehilangan dibandingkan membangun ketegangan aksi. Hampir setiap adegan mengandung rasa duka yang samar. Bahkan ketika karakter tertawa atau mengenang masa lalu, selalu ada kesadaran bahwa semua itu tidak mungkin kembali. Perasaan tersebut terus mengikuti penonton hingga film mencapai klimaksnya.

Judul The Death of Robin Hood memang terdengar sangat lugas, bahkan seolah telah membocorkan akhir cerita. Namun kematian yang dimaksud tidak semata-mata dipahami sebagai berhentinya kehidupan fisik. Film ini juga berbicara mengenai kematian sebuah mitos, kematian masa muda, kematian idealisme, dan kematian identitas yang selama bertahun-tahun melekat pada seseorang. Robin perlahan melepaskan semua label yang pernah membentuk dirinya, hingga yang tersisa hanyalah seorang manusia biasa yang ingin menemukan kedamaian.

Pilihan naratif seperti ini mungkin tidak akan memuaskan semua penonton. Mereka yang datang dengan harapan menyaksikan film aksi penuh pertarungan kemungkinan akan merasa ritmenya terlalu lambat. Namun bagi penonton yang menikmati drama karakter dan eksplorasi psikologis, film ini menawarkan pengalaman yang jauh lebih mendalam daripada sekadar kisah kepahlawanan konvensional.

Salah satu kekuatan terbesar film adalah kemampuannya menghubungkan legenda klasik dengan persoalan manusia modern. Meski berlatar abad pertengahan, tema-tema yang diangkat terasa relevan dengan kehidupan saat ini. Banyak orang pada akhirnya harus menghadapi pertanyaan tentang warisan yang akan mereka tinggalkan, kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, hubungan yang telah rusak, dan penerimaan terhadap usia yang terus bertambah. Film menggunakan Robin Hood sebagai medium untuk membicarakan persoalan universal tersebut.

Dari sisi penyutradaraan, Sarnoski memperlihatkan keberanian dalam menahan diri. Ia tidak tergoda mempercepat tempo hanya demi memenuhi ekspektasi pasar. Sebaliknya, ia membiarkan cerita berkembang secara organik. Pendekatan tersebut membutuhkan kesabaran penonton, tetapi hasilnya adalah pengalaman sinematik yang terasa lebih jujur dan emosional.

Dialog-dialog film juga memiliki kualitas sastra yang kuat tanpa terdengar dibuat-buat. Banyak kalimat yang sederhana tetapi mengandung makna mendalam mengenai waktu, penyesalan, cinta, dan pengampunan. Penulis naskah memahami bahwa karakter yang telah menjalani hidup panjang tidak perlu berbicara berlebihan untuk menyampaikan kebijaksanaan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat percakapan terasa menyentuh.

Meski demikian, film bukan tanpa kekurangan. Durasi yang cukup panjang kadang membuat beberapa bagian terasa berulang. Ada beberapa adegan kontemplatif yang sebenarnya dapat dipadatkan tanpa mengurangi dampak emosional. Selain itu, penonton yang tidak familiar dengan legenda Robin Hood mungkin akan kehilangan sebagian konteks historis yang menjadi latar konflik batin karakter utama. Walaupun demikian, kekurangan tersebut tidak sampai mengurangi kualitas keseluruhan film.

Secara teknis, penyuntingan dilakukan dengan ritme yang konsisten. Perpindahan antaradegan terasa halus dan mendukung nuansa reflektif yang ingin dibangun. Tata suara pun memberikan pengalaman yang kaya, terutama dalam memanfaatkan elemen alam sebagai bagian dari narasi emosional. Gemerisik dedaunan, kicau burung yang semakin jarang terdengar, serta hembusan angin menjadi simbol berlalunya waktu yang terus mengiringi perjalanan Robin.

Film ini bukanlah kisah tentang bagaimana seorang pahlawan memenangkan peperangan terakhirnya. Sebaliknya, ia adalah cerita mengenai keberanian menerima kenyataan bahwa tidak semua luka dapat disembuhkan dan tidak semua kesalahan dapat dihapus. Yang masih mungkin dilakukan adalah berdamai dengan masa lalu dan menjalani sisa kehidupan dengan kejujuran terhadap diri sendiri.

Dalam lanskap perfilman modern yang sering mengutamakan efek visual dan aksi tanpa henti, The Death of Robin Hood hadir sebagai pengingat bahwa kisah paling menyentuh sering kali lahir dari kesederhanaan. Ia tidak berusaha menjadi adaptasi Robin Hood yang paling megah, melainkan yang paling manusiawi.

Dengan menghapus sebagian besar atribut kepahlawanan tradisional, film justru menemukan inti dari legenda tersebut: bahwa di balik setiap pahlawan selalu ada manusia yang pernah takut, pernah gagal, pernah menyesal, dan pada akhirnya harus menghadapi kematian seperti siapa pun.

Sebagai sebuah reinterpretasi, film ini berhasil membuktikan bahwa legenda klasik masih memiliki ruang untuk berkembang tanpa kehilangan esensi moralnya. Alih-alih mengulang kisah lama, The Death of Robin Hood menawarkan perspektif baru mengenai arti kepahlawanan, pengorbanan, dan penerimaan terhadap akhir kehidupan.

Film ini mungkin bukan tontonan yang mudah, tetapi justru karena keberaniannya menghindari jalur aman, ia meninggalkan kesan mendalam setelah layar menjadi gelap. Penonton tidak hanya diajak mengenang Robin Hood sebagai sosok legendaris, melainkan memahami dirinya sebagai manusia yang, pada penghujung perjalanan, hanya menginginkan satu hal yang sederhana: kedamaian.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat film layar kaca dan layar lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Cerpen

Yang Berganti Nama di Buku Sejarah

Cerpen Erna Surya

Terakhir kali kulihat wajah itu bukan ketika kami masih bersembunyi di kolong jembatan dekat Kali Code, menunggu iring-iringan truk tentara berlalu. Bukan juga saat kami menggenggam erat tangan masing-masing di tengah gelap, berharap fajar tak datang membawa peluru. Wajah terakhir itu kulihat di ruang interogasi, bertahun-tahun kemudian, di antara bau darah yang belum kering dan suara logam memukul tembok. Ia tersenyum, entah kepada siapa. Dan aku tahu, di detik itu, seseorang sedang mencatat dosa terakhirku di buku yang tak bisa kubaca.

“Tuhan tidak akan menaruh belas kasihan pada bajingan sepertimu,” katanya pelan.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari popor senapan.

Ya, memang.

Bukankah terlalu banyak wajah yang sudah kulenyapkan atas nama sesuatu yang kusebut ideologi? Bukankah terlalu banyak tubuh yang kubenamkan di lubang-lubang tak bernama yang bahkan tikus pun enggan singgah di sana? Aku tak pernah menghitung berapa nyawa yang kutarik keluar dari jasadnya. Kalau ada yang mau membangun monumen dari tulang belulang itu, mungkin satu bukit di pinggir Bantul akan penuh sesak dengan kepala manusia.

Kau tahu, dulu kami tak menyebutnya pembunuhan. Kami menamai itu “pembersihan.” Kata yang manis, rapi, dan terdengar seperti tugas mulia. Tapi malam-malam di kepalaku masih meneteskan darah hingga hari ini.

***

Aku dijuluki Gatot, bukan karena aku gagah, tapi karena aku yang paling cepat menusukkan bayonet tanpa perlu perintah dua kali. Tahun-tahun itu, udara Jogja penuh dengan bisik-bisik tentang pengkhianat, dan aku seorang pemuda yang baru lepas dari barisan rakyat dan dipilih jadi tangan kirinya negara.

Setiap malam, aku dan dua orang lainnya, Gendon dan Wiryo, menjemput orang-orang yang dituduh simpatisan. Kami membawa mereka dengan truk ke tepi sungai atau sawah yang sudah kering, lalu suara tembakan menjadi tanda berakhirnya urusan. Kadang tak perlu tembakan; cukup sebuah cangkul yang menghantam tengkuk.

Kami tidak diberi nama, hanya nomor. Nomorku 23. Aku tak tahu siapa 1 sampai 22, tapi aku tahu nomor 24 adalah Sulastri, perempuan yang kemudian mengubah segalanya.

Dia bukan tawanan. Dia juru ketik di pos komando, sering membawa termos kopi dan senyum kecil. Di antara bau keringat tentara dan lumpur, senyumnya seperti air yang menetes di batu panas. Aku mencintainya dalam diam yang bodoh. Mungkin itu satu-satunya hal manusiawi yang masih tersisa di dalam diriku saat itu.

***

Suatu malam, setelah menuntaskan “pembersihan” terakhir di daerah Klaten, aku kembali ke barak. Sulastri duduk di meja ketik, menggigit bibirnya, menyalin laporan tentang berapa kepala yang hilang hari itu. Aku membaca sekilas: 23 orang.
Angka yang kebetulan sama dengan nomorku.

“Kau tidak lelah, Las?” tanyaku.

“Kalau lelah, untuk siapa aku bekerja, Gatot?” jawabnya, tanpa menatapku.
Suaranya serak tapi lembut, seperti serat daun pisang yang digesek angin.

Malam itu kami bicara banyak hal, tentang rumahnya di Kulon Progo yang terbakar, tentang adik laki-lakinya yang ditangkap di Surakarta, tentang keyakinan bahwa Tuhan pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang berdosa. Aku ingin mengatakan padanya bahwa Tuhan mungkin sudah mati di lubang tempat kami mengubur para lelaki itu, tapi bibirku kelu.

Sejak malam itu, aku berhenti menghitung berapa mayat yang kuurus. Aku mulai menghitung berapa kali Sulastri tersenyum padaku.

***

Lalu, sebuah laporan datang: Sulastri dicurigai membocorkan nama-nama ke pihak seberang.

Aku menertawakan kabar itu. Tapi tawa itu berhenti ketika Letnan memanggilku dan memerintahkan aku sendiri yang menginterogasinya.

“Kau yang paling dekat dengannya. Kau tahu bagaimana memancingnya bicara,” katanya.

Aku menolak. Tapi perintah adalah perintah. Malam itu aku duduk di seberang Sulastri, di ruang sempit berlampu pijar. Meja di antara kami basah oleh keringat dan kopi tumpah. Ia menatapku seperti menatap seseorang yang sudah ia siapkan di dalam doa: bukan untuk keselamatan, tapi untuk pengampunan.

“Kau harus bicara, Las. Mereka akan datang jika aku tak mendapatkan pengakuan.”

“Apa yang harus kuakui, Gatot?”

“Apa pun yang mereka mau dengar.”

“Kalau begitu aku akan mengaku semuanya, termasuk dosamu sendiri.”

Dan di situlah, aku untuk pertama kalinya merasakan takut. Bukan takut pada peluru, tapi pada kebenaran yang bisa menghancurkan diriku sendiri.

“Aku tidak pernah membocorkan rahasia. Tapi aku mencintaimu,” katanya kemudian. “Dan itu sudah cukup untuk membuatku mati di sini, bukan?”

Suaranya pecah. Aku menunduk. Tanganku gemetar di atas meja.
Di luar, suara jangkrik bersahutan seperti nyanyian pengantar ke liang kubur.

Keesokan harinya, Sulastri “dihilangkan.” Aku tidak hadir dalam eksekusi itu, tapi aku tahu siapa yang memegang pistol. Dan entah kenapa, sejak saat itu, aku berhenti bermimpi.

***

Lima belas tahun kemudian, ketika orde yang dulu kami bela runtuh oleh orde yang baru, aku masih hidup. Rambutku memutih, tanganku gemetar, tapi bayangan Sulastri tetap jernih di kepalaku.

Aku tinggal di rumah tua di pinggir Kali Gajah Wong. Setiap kali hujan datang, air sungai naik dan menyeret sisa-sisa lumpur yang seperti masih menyimpan suara jeritan malam. Orang-orang bilang aku gila karena sering berbicara sendiri di tepi air. Mereka tak tahu, aku sedang berbicara dengan masa laluku.

Suatu sore, seorang lelaki muda datang mengetuk pintuku.
Namanya Rama, wartawan dari Jakarta. Katanya, ia menulis buku tentang mereka yang hilang di masa lalu. Di tangannya ada map cokelat, dan di dalamnya ada foto Sulastri muda, tersenyum.

“Kami menemukan kuburan massal di Bantul,” katanya pelan.

“Ada sepotong tulang dengan gelang perak bertuliskan Las.”

Aku hampir roboh. Gelang itu pernah kuberikan padanya, malam sebelum ia lenyap.

“Apakah Anda mengenalnya, Pak Gatot?”

Aku tidak menjawab.  Aku menatap foto itu lama, seolah wajah di sana bisa berbicara.

Rama lalu menyalakan perekam dan berkata, “Boleh saya dengarkan cerita Anda?”

Dan sejak itu, percakapan ini dimulai. Entah ia sadar atau tidak, aku bicara bukan hanya padanya. Mungkin juga pada Sulastri, pada Tuhan yang dulu diam, pada setiap arwah yang masih gentayangan menuntut nama mereka disebut.

***

“Jadi, Bapak membenarkan semua tuduhan itu?” suara Rama bergetar.

“Tidak perlu dibenarkan. Itu sudah terjadi.”

“Berapa orang yang Bapak habisi?”

“Cukup untuk membuat sejarah tak bisa tidur.”

Aku tersenyum getir. Kadang-kadang dosa memang terdengar seperti humor yang gagal.

Rama mencatat dengan cepat. “Mengapa Bapak mau bicara sekarang?”

“Karena aku ingin mati dengan wajah Sulastri menatapku, bukan punggungnya yang menjauh.”

Ia diam. Di luar, hujan mulai turun deras. Butir-butir air menimpa genting seperti langkah kaki ribuan orang yang kembali dari liang.

“Tapi, apakah Anda menyesal?”

Aku tertawa pendek. “Penyesalan itu cuma hiburan bagi mereka yang tidak sempat menebus apa pun.”

“Lalu apa yang Anda harapkan?”

“Pertemuan.”

“Dengan siapa?”

“Dengan dia yang terakhir tersenyum padaku.”

Rama menatapku lama. Mungkin ia pikir aku sudah pikun. Tapi aku tahu, di matanya ada rasa takut yang sama seperti dulu kulihat di mata para tawanan sebelum peluru menembus kepala mereka.

***

Malam itu, setelah Rama pergi, aku duduk di depan jendela. Lampu minyak menyala redup. Di meja, foto Sulastri tergeletak, separuh basah oleh air hujan yang menetes dari atap bocor. Aku menatapnya lama, wajah yang tak berubah meski waktu sudah berkarat.

Kau tahu, kadang Tuhan memilih cara yang aneh untuk menghukum manusia. Ia memberiku umur panjang agar aku sempat menonton ulang semua perbuatanku tanpa bisa menghapus satu pun adegan.

Di luar, kali meluap. Airnya hitam, berbau lumpur dan besi.
Aku berdiri, melangkah ke halaman, membiarkan air menyentuh mata kakiku. Hujan masih turun seperti tirai yang menutup panggung dosa.

Di tepi air, aku mendengar suara perempuan memanggil namaku. Lembut, jauh, tapi jelas.

“Gatot…”

Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan wajahku sendiri di permukaan air dan di belakangnya, samar, seolah ada bayangan perempuan berkebaya, tersenyum.
Senyum yang sama, yang terakhir kulihat di ruang interogasi.

***

“Jadi, apa yang akan kau lakukan jika Tuhan datang malam ini?” suara itu bergema di kepalaku.

“Mungkin aku akan minta Ia menukarkanku dengan satu tulang Sulastri.”

“Kau pikir Tuhan peduli pada transaksi seperti itu?”

“Kalau Ia tak peduli, kenapa Ia biarkan aku tetap hidup sampai sekarang?”

Suara itu tertawa. Tawa yang getir, seperti ranting patah di musim kering.
Aku tak tahu apakah itu suara nuraniku, atau Sulastri, atau bahkan Tuhan sendiri yang sedang menyamar dalam pikiranku.

Malam semakin pekat. Aku melangkah ke tengah halaman, air kini setinggi lutut. Di kejauhan, petir menyambar, menyingkap sejenak siluet pepohonan seperti bayangan orang-orang yang pernah kukubur. Mereka berdiri berbaris, menatapku.
Aku memejamkan mata.

“Las,” bisikku, “Kalau kau di sana, maafkan aku.”

Angin menjawab dengan desir lembut, seolah jari-jari halus menyentuh wajahku. Lalu sunyi. Aku kembali ke rumah, menyalakan rokok terakhir, duduk di kursi bambu. Di meja, foto itu masih menatapku.

***

Pagi belum datang ketika pintu rumahku diketuk. Rama berdiri di luar, wajahnya pucat. Di belakangnya, dua polisi berpakaian sipil.

“Mereka ingin bicara dengan Bapak,” katanya lirih.

Aku tahu apa artinya. Mungkin mereka baru menemukan lagi lubang lain, mungkin namaku tercantum di catatan lama yang baru dibuka.

Aku tersenyum. “Akhirnya giliran saya.”

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, aku mengambil langkah ke dalam, membuka laci meja, dan mengeluarkan sepucuk pistol tua. Mereka berteriak, tapi aku tidak menodongkan senjata itu ke arah mereka. Aku menatapnya sebentar. Itu besi dingin yang dulu menjadi perpanjangan tanganku untuk mencabut nyawa orang lain.

Tiba-tiba, aku mendengar lagi suara itu. “Tidak perlu buru-buru, Gatot. Kematian akan menemukanmu tanpa bantuanmu sendiri.”

Aku menurunkan pistol. Menyerahkannya ke polisi yang mendekat.
“Ambil saja. Aku sudah terlalu tua untuk menembak siapa pun.”

Mereka menggiringku ke mobil. Rama menatapku dengan mata yang tak bisa kutafsirkan, antara kasihan dan jijik.

Sebelum mobil beranjak, aku berkata pelan, “Kalau nanti kau menulis buku itu, jangan lupakan Sulastri. Katakan padanya, aku masih menunggu di seberang.”

Rama tidak menjawab.

***

Kini aku duduk di ruangan sempit ini, temboknya lembap, atapnya bocor. Aku menulis di selembar kertas yang mungkin tidak akan pernah sampai ke mana pun.
Sulastri, kalau kau masih ada di udara, datanglah malam ini. Bawa kembali senyummu, meski aku tahu itu akan membakar mataku sendiri.

Aku tidak tahu apakah besok aku masih hidup. Aku tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan pengakuan seorang algojo yang menyesal setengah hati.

Yang kutahu hanya satu: di luar sana, hujan belum berhenti. Dan di antara suara air yang jatuh di genting, aku masih bisa mendengar bisikanmu. Pelan, nyaris hilang. Ia mengulang kalimat yang sama:

“Tidak ada yang benar-benar mati, Gatot. Kita hanya berganti nama di buku sejarah.”

Aku tersenyum. Dan malam pun menutup wajahnya perlahan, menyembunyikan segalanya di balik tirai air.

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Buku, Resensi

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Judul Buku: Lampu April – Musik dan Persimpangan

Penulis: Rudi Agus Hartanto

Penerbit: Leluasa Book

Cetakan: 1, Juni 2026

Halaman: xv+69 hlm, 15×20.5 cm

QRCBN: 62-9681-9330-980

Satu kesalahan yang sering muncul ketika membicarakan skena musik, terutama musik bawah tanah. Orang menganggap hanya urusan distorsi gitar, teriakan vokalis, jaket penuh emblem, atau keramaian mosh pit. Akibatnya, yang terlihat hanya permukaan. Padahal, di balik itu, ada kerja budaya panjang, membaca zaman, menyimpan arsip, membangun solidaritas, mengkritik kekuasaan, dan mempertahankan ruang hidup yang semakin sempit.

Melalui Lampu April, Musik dan Persimpangan, Rudi Agus Hartanto menunjukkan, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah cara berpikir, bahkan lebih jauh lagi, ia cara masyarakat kecil merawat ingatan ketika banyak orang sengaja lupa.

Empat belas esai dalam buku ini bukan tulisan akademis. Ia lahir dari pengalaman hadir di ruang-ruang kecil, menyaksikan pertunjukan, berbincang dengan pelaku skena, membaca zine, hingga mengamati komunitas yang bekerja jauh dari sorotan. Itulah kekuatan paling menonjol buku ini, penulis bicara dari dalam ekosistem, bukan pengamat yang datang sesaat lalu pulang.

Rudi tidak sedang membela musik metal, hardcore, punk, atau komunitas independen secara norak. Ia memperlihatkan, setiap karya lahir dari konteks sosial. Lagu tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa pengalaman hidup penciptanya, keresahan zamannya, sekaligus harapan bagi pendengarnya.

Salah satu keberanian buku ini menolak dikotomi lama antara musik serius dan musik keras. Di publik Indonesia, musik dengan distorsi sering kali lebih dulu dicurigai daripada dipahami. Padahal, dari ruang-ruang itu lahir diskusi lingkungan, kesetaraan, kebebasan berekspresi, kekerasan negara, hingga diskriminasi. Penulis memperlihatkan bahwa volume keras tidak selalu berarti pikiran dangkal.

Buku ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu harus cepat dan mudah dikonsumsi. Kritik sering dipadatkan menjadi potongan video beberapa detik. Kemarahan hanya bertahan sepanjang linimasa. Buku ini mengingatkan bahwa perubahan tidak dibangun dari ledakan, melainkan kerja kolektif yang terus diulang, meski kecil.

Esai-esai tentang Down For Life, Rock in Solo, Keliling Kabupaten, The Suse, Malinoa, hingga komunitas-komunitas pinggiran sebenarnya sedang menyampaikan satu gagasan besar, kebudayaan tidak selalu lahir dari pusat. Kadang tumbuh di warung kopi, ruang kecil, gudang latihan, kios kaset, atau panggung sederhana yang bahkan tidak diliput media.

Pernyataan itu terasa penting ketika Indonesia masih sering terjebak pada logika pusat. Seolah sesuatu baru dianggap bermutu jika datang dari Jakarta atau kota-kota besar. Padahal, kreativitas tidak mengenal alamat. Buku ini berkali-kali menunjukkan daerah bukan tempat menunggu. Daerah adalah tempat melahirkan gagasan.

Esai tentang zine menjadi salah satu bagian menarik. Penulis tidak sekadar membahas zine sebagai media murah, tetapi bentuk keberanian mendokumentasikan zaman. Ketika banyak orang sibuk mengejar algoritma, zine memilih jalan pelan. Tidak mengejar trend. Tidak mencari pengakuan. Ia hanya memastikan agar gagasan tidak hilang begitu saja. Arsip adalah bentuk perlawanan.

Buku ini juga memberi penghargaan besar kepada orang-orang yang sering luput dari sejarah. Mereka bukan selebritas, bukan pemegang jabatan. Mereka hanya penyelenggara gigs, pembuat zine, penjaga komunitas, pengarsip kaset, atau anak-anak yang menghabiskan malam untuk menyusun acara. Mereka memang tidak masuk berita nasional, tetapi tanpa mereka ekosistem kebudayaan tidak akan pernah bertahan.

Yang menarik, Rudi tidak meromantisme skena. Ia memperlihatkan semua ruang punya persoalannya sendiri. Namun ia melihatnya sebagai proses belajar. Itu sebabnya kata bertahan terasa berulang dalam buku ini. Bertahan bukan diam. Bertahan berarti terus bergerak meski tidak ideal.

Kalimat pembuka buku, “Bertahanlah selagi mampu,” bukan sekadar ajakan. Ia tesis seluruh isi. Bertahan membuat musik tetap hidup. Bertahan membuat komunitas tetap lahir. Bertahan membuat pengetahuan terus berpindah. Bertahan membuat ingatan tidak mudah dihapus.

Keberanian yang patut diapresiasi, buku ini memperlakukan musik sebagai bahan bacaan, bukan sekadar bahan dengar. Sebuah lagu dibaca sebagaimana orang membaca puisi atau esai. Lirik diperlakukan sebagai teks kebudayaan. Konser dipahami sebagai ruang dialog. Bahkan panggung arena produksi pengetahuan. Cara pandang ini masih jarang ditemukan dalam penulisan musik di Indonesia yang sering berhenti pada ulasan teknis atau nostalgia.

Buku ini tidak ditujukan hanya bagi penikmat musik keras. Pembaca biasa, yang tidak mengenal hardcore, punk, atau metal tetap dapat menemukan sesuatu yang penting, tentang bagaimana komunitas membangun solidaritas tanpa menunggu pengakuan. Bagaimana ruang-ruang kecil tetap memilih hidup meski fasilitas terbatas. Bagaimana anak-anak muda menciptakan jalannya sendiri ketika pintu-pintu resmi terasa terlalu sempit.

Ada kesan yang tertinggal setelah halaman terakhir ditutup. Buku ini mengingatkan, sastra tidak tinggal di rak perpustakaan saja. Ia bisa hadir dalam lirik lagu, obrolan selepas konser, zine fotokopian, mural tembok, kaset rilisan mandiri, hingga percakapan sederhana di warung kopi. Bahasa boleh beda, tetapi kegelisahan yang dibawanya sama, bagaimana manusia tetap memiliki martabat di tengah dunia yang terus berubah.

Bila harus dirangkum dalam satu kalimat, Lampu April, Musik dan Persimpangan adalah buku tentang orang-orang yang memilih tetap bersuara. Dan mungkin, itulah definisi paling jujur tentang skena. Mereka tidak mengejar keren. Mereka menjaga agar suara tidak padam.

Di tengah zaman yang sibuk menghitung jumlah penonton, pengikut, dan angka penjualan, buku ini mengajak kita menghitung sesuatu yang sering dilupakan, berapa banyak ruang kecil yang masih bertahan karena ada orang-orang yang bekerja tanpa tepuk tangan.

Pesan yang terus berdengung dari keseluruhan isi buku, sederhana, seperti obrolan anak-anak skena setelah panggung selesai dibongkar: Kalau ruangmu belum ada, bikin sendiri. Kalau suaramu belum didengar, tetap bersuara. Kalau belum bisa mengubah dunia, setidaknya jangan ikut membuatnya semakin sunyi.

Oya, buku ini diterbitkan Leluasa Book, lini Leluasa (Media kolektif seni, budaya, dan musik independen), dengan tanpa ISBN. Saya membatin, syukurlah. Seandainya harus menunggu ISBN, boleh jadi buku ini baru sampai ke pembaca ketika persoalan-persoalan keburu dikubur penguasa.***

____________________

Yuditeha Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Cerpen

Menikah

Cerpen Septi Rusdiyana

“Bagaimana? Berhasil?” tanyaku pada Rena, sembari menyerahkan sekaleng minuman dingin dan sebungkus keripik kentang. Ia meraih keduanya tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu. Desis bunyi soda saat kaleng dibuka mengiringi pandangan Rena, pada Sirih Gading yang bertengger rimbun di tepi kolam ikan milikku.

“Lebih sulit dari urusan perceraian kemarin, Dis,” jawab Rena usai meneguk minuman.

Aku duduk di sebelah Rena. Mengikuti arah pandang mata itu, sekadar mengisi jeda waktu antara senyap suasana sore, dan riuhnya pikiranku sendiri. Sampai detik ini, aku masih saja tidak berhasil menemukan alasan mengapa Rena bersikeras untuk menikah lagi.

“Gadis, apa kau punya asuransi?” tanya Rena tiba-tiba.

Otakku nge-lag. Selama ini asuransi yang pernah kumiliki hanya BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Itu pun kini sudah tak berguna sejak aku resmi menjadi pengangguran tiga bulan lalu. Dana simpanan sudah dicairkan, sepertinya hampir habis untuk bayar kontrakan dan hidup sehari-hari. Setelah kupikir-pikir, aku baru sadar jika selama ini aku tak pernah menabung.

“Aku mau jadi kodok.”

Belum sempat aku menanggapi bab asuransi, pernyataan Rena membuat otakku kembali waspada.

Rena mengawali cerita dengan membuka keripik kentang. Suapan demi suapannya tampak kaku, seolah gerakan itu mengisyaratkan kejengkelan.

“Aku ingin melompat bebas. Bersama diriku. Aku tak butuh siapa dan apa pun lagi. Pria baik hati hanya tercipta di dongeng. Kalaupun lahir di dunia, mereka tak disisakan untukku.”

Rena memalingkan pandangan dari kolam ke wajahku. Ia berhenti menjejalkan keripik kentang ke mulutnya, “Bagaimana kalau kita berdua menikah? Aku bisa menghidupi dirimu yang penuh kemalangan ini. Kau tak perlu berubah, jadilah seperti biasa: Gadis yang menyayangi, menemani dan mendengar bualanku. Kita bahkan tak butuh sex karena kita sama-sama membencinya, bukan?” ungkap Rena serius. Aku hampir percaya. Tapi sebelum aku bereaksi, Rena kembali bicara.

“Berjanjilah padaku, Dis. Tetaplah melajang. Aku tidak mau kau merasakan apa yang kualami,” ralat Rena seperti ia baru saja tersadar akan sesuatu.

Perubahan tiba-tiba itu tidak membuatku terkejut. Aku sangat mengenal Rena. Meski di luar ia tampak serampangan dan ceplas-ceplos, aku tahu ucapannya bukan omong kosong. Ia kecewa. Mungkin perasaan dan jiwanya sudah terlanjur terluka sangat dalam.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman. Rena mulai menyalakan rokok di bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya ia tak ingin lagi diganggu. Aku cukup duduk menemani. Kadang, diam bukan berarti tak peduli. Bagi kami, diam justru menjadi titik tertinggi untuk memahami bahwa tidak selamanya penderitaan butuh validasi.

Ingatanku melayang saat aku menjadi bridesmaid di hari pernikahan Rena. Wajahnya kala itu begitu cerah. Seolah yakin bahwa bersama suaminya, sisa usia Rena akan habis dengan penuh kebahagiaan. Setidaknya itulah yang kupercaya karena selepas menikah, Rena ikut suaminya ke Jakarta. Kami tak pernah lagi berkabar. Hingga dua tahun kemudian, Rena mendatangi kontrakanku.

“Apa malam ini aku boleh tidur di rumahmu?” tanya Rena saat itu. Tubuhnya lusuh. Wajahnya sekusut rambutku. Tentu aku menyambutnya tanpa banyak bertanya. Aku ingat hanya bisa memasakkannya mi instan usai membiarkan Rena mandi dan berganti pakaian.

“Besok, tolong temani aku,” pinta Rena terdengar seperti titah yang tak berani aku bantah, apalagi kupertanyakan.

Sejak hari itu, aku selalu ada untuk Rena. Aku menemaninya ke rumah sakit. Rena menjalani pemeriksaan sekaligus visum yang pada akhirnya berhasil membuatnya cerai dari suami. Keluarga besar Rena mengutuknya. Aku menjadi saksi betapa kisah Rena semacam drama Cina yang kutonton hampir setiap malam. Rena tak mengeluh. Ia tak pernah takut pada keputusan yang sudah diambil. Rena juga tak berniat agar bisa reinkarnasi dan hidup kembali ke masa lalu, untuk balas dendam pada mantan suami serta keluarganya.

“Aku lapar, apa kau masih punya mi instan?” Pertanyaan Rena membuyarkan lamunanku.

“Sepiring nasi dan semangkok sop brokoli pun ada. Aku tak semiskin itu, sampai hanya ada makanan instan saja di rumah.”

Rena terkekeh. Tapi aku tahu ia tidak sedang mengejekku. Rena tampak tidak baik-baik saja. Bagiku, Rena seperti sebuah lukisan picisan yang gagal dipamerkan. Rena mungkin berhasil keluar dari pernikahan yang ia anggap neraka. Tapi ia masih terpenjara pada penyesalan dan ketidakpuasan akan dirinya sendiri.

Apa yang ia coba lakukan sekarang hanya caranya menghibur diri. Kadang, lelah bisa memacu adrenalin yang lain. Termasuk hal absurd yang baru saja dilakukan Rena hari ini. Ia pergi ke kantor catatan sipil untuk bertanya syarat-syarat mendaftar pernikahan bagi dirinya, dengan dirinya sendiri.

“Mereka semua tolol. Tidak punya pikiran terbuka,” kata Rena di antara denting suara sendok garpu di atas piring. Kami melanjutkan obrolan di meja makan.

“Atau bisa jadi kamulah yang dianggap tolol oleh mereka,” sahutku.

“Aku hanya ingin menyelamatkan asetku. Bagaimanapun aku masih punya saham dan harta yang harus kulindungi.”

“Begitu ya?”

“Kau tahu, Gadis, pria yang dulu kucintai dengan membabi buta, rupanya punya utang segunung sebelum menikah denganku. Atas nama cinta dan penerimaan tulus, pada akhirnya akulah yang menutup utang itu.” Rena mengambil kerupuk dan menggigitnya.

“Dasar brengsek! Dia pintar mencuci otakku. Aku terperdaya. Lagi-lagi, atas nama cinta dan pengabdian, aku harus melayani hasratnya yang tak biasa. Kekuatannya seperti tak habis-habis. Aku terus dipaksa hingga nyeri tak terperi itu akhirnya melantakkan kepercayaanku padanya. Aku melawan dengan sisa harapan. Lalu keberanian dan kekuatan besarku muncul, justru di saat dia tuntas menghajarku.”

Hatiku ngilu mendengar Rena bercerita. Aku tak berani menanggapi.

“Tapi sudahlah. Semua telah berlalu. Bagiku hal itu hanya luka kecil seperti kena sundutan rokok,” lanjut Rena lagi.

“Oh ya, Dis…..,” Rena menjeda bicara. Seperti tiba-tiba ingat sesuatu.

Aku menatapnya.

“Di kantor catatan sipil tadi, ada seorang lelaki yang terus melihatku. Dia tidak ikut-ikutan menertawai atau menasihatiku. Dia hanya menyaksikan pertikaian kami. Entahlah, Dis, rasanya hatiku hangat waktu itu. Seperti pelukanmu. Ya, benar. Rasanya sama seperti pelukanmu. Dan kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tidak terlalu sial hari ini.”

Rena menyunggingkan senyum yang mungkin, baru kali ini kulihat kembali, sejak ia mengetuk pintu kontrakanku malam itu.

“Apa kau jatuh cinta?” tanyaku usai jeda sunyi terlalu lama.

Rena gelagapan. Wajahnya memerah. “Sinting!” umpatnya padaku.

Aku menatap punggung Rena yang kian menjauh. “Obatmu, jangan lupa diminum sebelum tidur,” teriakku sebelum tubuh Rena hilang di balik kamar. Mungkin, malam ini Rena sudah tidak butuh lagi obat itu.

Sekarang, akulah yang cemas. Apa benar aku harus melajang seumur hidupku? Atau sebaiknya mengikuti jejak Rena dan menjadi kodok. Ah, mungkin benar ucapan Rena. Aku harus mulai berpikir tentang asuransi. Setidaknya aku masih punya sesuatu yang pantas dilindungi. Meski bukan untuk siapa-siapa.***

____________________

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen

Cerpen

Amplop Cokelat

Cerpen Khairul Azzam EM

Sore itu, sinar matahari mulai meredup, menimpa dinding rumah susun yang sudah tua dan berkarat di pinggiran kota. Di salah satu ruangan sempit lantai tiga, Hamid duduk di tepi tempat tidur, menatap lembaran kertas catatan pengeluaran yang ia susun rapi di meja kayu yang permukaannya sudah halus. Di ruangan itu, udara terasa lembab, bercampur bau debu yang tak pernah hilang meskipun lantai dan perabot sudah disapu dan dibersihkan setiap hari. Suara langkah kaki orang yang berlalu-lalang di lorong terdengar jelas, begitu juga suara percakapan, tangisan anak-anak, atau teriakan orang yang marah, semuanya menyatu menjadi bunyi khas yang tak terpisahkan dari kehidupan di tempat itu.

Hamid adalah guru di sekolah dasar yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Gajinya tidak besar, hanya cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan, dan sisanya harus diatur sedemikian rupa agar bisa memenuhi segala hal yang harus dibayar setiap bulan. Setiap kali tanggal pembayaran tiba, ia selalu merasa seperti berjalan di atas tali yang tipis, satu langkah salah semuanya akan runtuh. Ada uang sewa tempat tinggal yang harus diserahkan tepat waktu, tagihan air yang nilainya kadang naik tanpa alasan yang jelas, tagihan listrik yang sering membuat ia terkejut melihat angkanya, biaya pendidikan kedua anaknya yang tidak pernah turun, dan juga cicilan sepeda motor yang ia beli dua tahun lalu untuk memudahkan perjalanan ke tempat kerja. Di luar itu, ibunya yang tinggal di desa juga sering membutuhkan biaya pengobatan, karena tubuhnya semakin lemah dan penyakit tuanya makin sering menyerang.

“Kamu tidak pernah memikirkan nasib kita, Hamid. Setiap hari hanya pulang dengan wajah tenang, seolah-olah tidak ada beban yang menekan bahumu, padahal di sini tagihan menumpuk seperti gunung,” kata Siti, istrinya, sambil meletakkan piring kotor di meja dengan suara yang agak keras. Matanya tampak lelah, garis halus di wajahnya makin terlihat jelas, bukti dari hari-hari yang dijalani dengan kekhawatiran yang tak berhenti datang. Ia tidak benar-benar marah pada suaminya, hanya rasa cemas yang menumpuk lama membuatnya tidak bisa menahan perkataan yang tajam.

Hamid hanya tersenyum tipis, mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali melihat catatan di tangannya. “Aku tahu, Siti. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi apa yang bisa kita lakukan selain berusaha sekuat tenaga dan tetap sabar? Segala hal akan berlalu, percayalah padaku,” jawabnya dengan suara lembut, seolah-olah ia sedang menenangkan diri sendiri sekaligus menenangkan hati istrinya. Selama sepuluh tahun pernikahan, ia sudah terbiasa mendengar keluhan, omelan, atau kata-kata yang menyakitkan dari mulut orang yang dicintainya. Ia tidak pernah membalas dengan kemarahan, karena ia sadar, tekanan hidup membuat semua orang mudah tersentuh dan kehilangan kesabaran. Ia memahami bahwa di balik setiap kata yang tajam, tersembunyi rasa sayang dan keinginan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.

***

Setiap pagi, Hamid bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan diri, mencium kening anak-anaknya yang masih tidur nyenyak, lalu berangkat menuju sekolah dengan sepeda motor tuanya yang kadang-kadang bermasalah di tengah jalan. Di sekolah, ia mengajar dengan penuh semangat, berusaha memberikan ilmu sebaik-baiknya, seolah-olah tidak ada beban berat yang menunggunya di rumah. Murid-muridnya menyukainya karena ia sabar, pandai berbicara, dan selalu memberikan dorongan semangat kepada siapa saja yang merasa sulit untuk belajar. Bagi Hamid, mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang, melainkan tugas yang harus dijalankan dengan hati, dan di sana ia menemukan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan nilai mata uang.

Pulang dari sekolah, ia tidak langsung beristirahat. Ia masih harus mengurus pekerjaan rumah tangga yang belum selesai, pergi ke kantor pembayaran untuk melunasi segala tagihan, atau berjalan menuju kediaman ibunya untuk memeriksa keadaan dan memberikan sedikit uang yang tersisa dari penghasilannya. Ketika malam tiba dan semua orang di rumahnya sudah tidur lelap, Hamid masih duduk di meja kerjanya, menulis. Di saat yang sepi dan sunyi itu, pikirannya mengalir bebas, dan segala kesusahan yang dirasakan berubah menjadi kata-kata yang disusun menjadi cerita. Ia menulis tentang kehidupan orang biasa, tentang harapan di tengah kesulitan, tentang kebaikan hati yang tetap terjaga meskipun sering diuji oleh keadaan. Ia melakukan hal ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk menumpahkan isi hati dan menyampaikan pesan yang dirasakannya penting bagi orang lain.

Suatu sore, ketika Hamid baru saja pulang dari mengantar obat ke rumah ibunya, Kusnanto, tetangga yang tinggal di ruangan seberang, memanggilnya sambil berdiri di depan pintu. Kusnanto adalah orang yang suka berbicara lantang, selalu tampak santai dan tidak pernah tampak kesulitan meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun, orang-orang di lingkungan itu sering menduga bahwa ia melakukan hal-hal yang tidak sah untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak.

“Hamid, aku punya tawaran yang bagus untukmu. Jika kamu bersedia membantu melakukan satu hal saja, kamu bisa mendapatkan uang yang cukup besar dalam waktu singkat. Masalah uang yang selalu menyusahkanmu akan selesai seketika,” kata Kusnanto dengan nada rendah, sambil melihat ke kiri dan kanan seolah-olah takut didengar orang lain. Ia lalu menjelaskan maksudnya, bahwa pekerjaan itu sebenarnya adalah bagian dari tindakan yang melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, meskipun ia mencoba menyembunyikan sifat buruknya dengan kata-kata yang manis.

Hamid mendengarkan dengan tenang sampai Kusnanto selesai berbicara, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Terima kasih atas kebaikanmu untuk memikirkan nasibku, Pak Kusnanto. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Uang memang dibutuhkan, tapi aku tidak mau mendapatkan sesuatu yang membuat hati tidak tenang dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Selama aku masih mampu bekerja dengan cara yang benar dan jujur, aku akan terus melakukannya, meskipun hasilnya tidak banyak dan butuh waktu lama,” jawabnya dengan sopan namun tegas.

***

Wajah Kusnanto berubah menjadi marah. Ia mulai berbicara kasar, menyebut Hamid orang yang bodoh, keras kepala, dan tidak mengerti keadaan. Ia mengatakan bahwa Hamid akan terus hidup dalam kesulitan seumur hidupnya karena terlalu memikirkan aturan dan kebaikan, sementara orang lain bisa menikmati kemewahan dengan jalan yang lebih mudah. Hamid hanya diam, mendengarkan semua perkataan kasar itu tanpa membantah atau meninggikan suara. Ketika Kusnanto pergi dengan perasaan marah, Hamid masuk ke dalam ruangannya, melihat wajah istrinya yang tampak cemas karena mendengar segalanya, lalu tersenyum dan berkata, “Semua akan baik-baik saja, Siti. Kita tetap bisa bertahan.”

Sejak hari itu, Kusnanto sering menyebarkan berita buruk tentang Hamid kepada tetangga lain. Ia mengatakan bahwa Hamid orang yang sombong, tidak mau menolong orang lain, dan merasa lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya. Banyak orang mulai mengubah sikapnya, menjadi dingin atau berbicara buruk di belakang punggung Hamid. Namun, Hamid tidak mempedulikannya. Ia tetap bersikap ramah, menyapa siapa saja yang ditemuinya, dan melakukan tugasnya dengan penuh kesungguhan seperti biasa. Baginya, penilaian orang lain tidak sepenting keyakinan yang dipegangnya selama ini, bahwa kebenaran dan kejujuran akan membawa hasil yang baik pada waktunya sendiri.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pada suatu siang yang cerah, ketika Hamid sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, dua orang lelaki berpakaian rapi datang dan mencari namanya. Seluruh tetangga di lorong rumah susun itu memperhatikan dengan rasa penasaran, bertanya-tanya siapa mereka dan apa maksud kedatangannya. Kedua tamu itu menyerahkan sebuah amplop cokelat yang besar dan tebal kepada Hamid, sambil menjelaskan bahwa mereka adalah utusan dari penerbit buku terkenal di ibu kota. Amplop itu berisi uang hasil penjualan buku yang telah ditulis Hamid dan diterbitkan setahun yang lalu, yang ternyata disukai banyak pembaca dan dicetak ulang berkali-kali di seluruh negeri.

“Bapak Hamid, karya tulis Bapak sangat menginspirasi banyak orang. Buku ini telah dibaca oleh ribuan orang, dan permintaan untuk mencetak lebih banyak salinan terus berdatangan. Inilah bagian hasil yang menjadi hak Bapak,” kata salah satu tamu itu dengan nada hormat.

Ketika kedua orang itu pergi, berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh bagian bangunan tempat tinggal itu. Orang-orang mulai mengingat bahwa selama ini buku yang dibaca oleh anak-anak mereka di rumah atau di sekolah, yang berisi cerita tentang kesederhanaan, ketabahan, dan kebaikan hati, sebenarnya dibuat oleh orang yang selama ini dianggap miskin dan tidak berharga oleh sebagian besar dari mereka. Kusnanto terdiam tanpa kata-kata ketika mendengar kabar itu, merasa malu dan sadar bahwa semua ucapannya selama ini ternyata salah dan tidak berdasar.

***

Di dalam ruangannya, Hamid memegang amplop cokelat itu dengan tangan yang tenang. Ia melihat istrinya yang matanya basah oleh air mata bahagia, melihat anak-anaknya yang tersenyum lebar karena tahu kesulitan mereka akan segera berakhir. Hamid tersenyum, sama seperti senyum yang selalu ditunjukkannya saat menghadapi hari-hari yang berat.[]

Probolinggo, Mei 2026

____________________

Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.

Katalog

Bambu Menari di Bola Mata Mala

Meski ditulis untuk anak-anak, cerita-cerita Kak Aliya memiliki kekuatan istimewa. Melalui bahasa yang indah dan kaya kosakata, pembaca diajak mengenal sastra dengan cara menyenangkan.

Penulis: Aliya

Cetakan: Pertama, Tahun 2026

Penerbit Nomina Ide Karya

89 halaman; 14 x 21 cm

ISBN:

Harga: Rp 55.000,-

Info Pemesanan:081287822761