Cerpen

Tulang Pinggul Reneng

Cerpen Erna Surya

Reneng tahu tubuh perempuan bisa menjadi penjara. Ia mengetahuinya sejak pertama kali masuk puri. Puri itu besar. Tiangnya tinggi. Pintunya berat. Dindingnya dipenuhi ukiran naga dan bunga. Di malam hari, lampu minyak menyala di sepanjang pendapa. Dari luar, tempat itu terlihat seperti rumah para dewa. Tetapi Reneng tahu, rumah para dewa tidak selalu menjadi tempat yang baik bagi manusia. Terutama bagi perempuan.

Ia sering melihat mereka berjalan di lorong-lorong puri. Para selir. Mereka memakai kain bagus. Gelang mereka berbunyi setiap kali tangan bergerak. Rambut mereka disanggul dan diberi bunga. Semuanya tampak indah. Hanya mata mereka yang tidak. Mata para perempuan itu seperti pintu yang sudah lama dikunci.

Reneng sering memperhatikan mereka dari balik tirai. Ia tahu jam mereka mandi. Ia tahu kapan mereka dipanggil. Ia tahu kapan mereka menangis. Ia bahkan tahu kapan mereka berhenti menangis. Sebab ada tangisan yang akhirnya tidak mengeluarkan suara.

Reneng belum menjadi selir. Tetapi semua orang sudah tahu ia akan menjadi salah satunya. Suatu pagi, permaisuri memanggilnya. Reneng duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Permaisuri mengunyah sirih. Bibirnya merah. Tangannya penuh gelang.

“Kau akan menjadi selir ke tiga puluh empat.”

Reneng diam.

“Angka yang bagus.”

Reneng mengangkat wajah.

“Mengapa saya?”

Permaisuri tertawa kecil.

“Karena kau cantik.”

Hanya itu.

Reneng kemudian mengerti bahwa kecantikan bisa menjadi hukuman. Sejak hari itu, ia semakin sering melihat tubuhnya sendiri di cermin. Wajah. Rambut. Tangan. Pinggang. Pinggul. Orang-orang membicarakan tubuhnya seperti membicarakan seekor kuda yang akan dibeli. Pinggangnya dianggap bagus. Rambutnya dianggap bagus. Kulitnya dianggap bagus. Tidak ada yang bertanya apakah Reneng bahagia. Tidak ada yang bertanya apa yang ia inginkan.

Malam sebelum ia dijadikan selir, Reneng menari di kamarnya. Tanpa gamelan. Tanpa penonton. Ia hanya menggerakkan tubuhnya sendiri. Tangannya bergerak ke kiri. Kakinya bergeser. Pinggulnya berputar. Ia berhenti. Kemudian bergerak lagi. Saat itu Reneng merasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam tubuhnya. Bukan keberanian. Belum. Mungkin hanya rasa muak. Tetapi dari rasa muak itulah keberanian sering dimulai.

***

Pekak Cenong adalah penjaga burung di puri. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil di belakang kandang. Orang-orang tidak banyak menyukainya. Ia terlalu tua, terlalu diam, dan kadang-kadang berbicara kepada burung seperti berbicara kepada manusia. Reneng sering datang ke sana.

Suatu sore ia melihat Pekak sedang memberi makan seekor jalak.

Pekak.

Lelaki tua itu tidak menoleh.

“Hm?”

“Ada jalan keluar dari puri?”

Tangannya tetap menaburkan jagung.

“Ada.”

“Di mana?”

“Banyak.”

Reneng mendekat.

“Kalau begitu kenapa tidak ada yang keluar?”

Pekak akhirnya menoleh.

“Karena kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka boleh pergi.”

Reneng terdiam. Pekak mengambil seekor burung dari sangkar. Burung itu berusaha mengepakkan sayap.

“Lihat!”

“Mengapa?”

“Sayapnya tidak pernah bertanya apakah ia boleh terbang.”

Reneng memandang burung itu.

“Manusia berbeda.”

“Tidak.”

Pekak membuka jendela sangkar. Burung itu terbang. Reneng mengikuti arah terbangnya dengan mata.

“Manusia terlalu banyak berpikir,” kata Pekak.

***

Malam itu Reneng tidak tidur. Ia memasukkan sepotong kain ke dalam tas kecil. Tidak banyak. Hanya pakaian. Sedikit uang dan gelang pemberian ibunya. Ia menunggu sampai puri sepi, kemudian keluar.

Lorong pertama berhasil dilewati.

Lorong kedua juga.

Di dekat dapur, ia mendengar suara penjaga. Ia menunggu di balik dinding sampai suara itu menghilang. Ia terus berjalan. Puri yang selama ini terasa begitu besar ternyata memiliki banyak jalan kecil. Ada pintu yang tidak pernah digunakan. Ada tangga sempit. Ada halaman belakang yang ditumbuhi rumput. Ada tembok yang retak. Selama ini semua orang sibuk menjaga pintu utama. Tidak ada yang menjaga celah.

Pekak menunggunya di dekat kandang burung.

“Cepat,” katanya. Mereka berjalan tanpa bicara. Sampai akhirnya tiba di sebuah pintu batu yang ditutupi lumut. Pekak berhenti.

“Setelah ini kau sendiri.”

Reneng menatapnya.

Pekak ikut!”

Pekak menggeleng. “Aku sudah terlalu lama di sini.”

“Takut?”

Pekak tersenyum. “Tidak semua orang bisa pergi.”

Reneng memegang tangan lelaki tua itu. “Terima kasih.”

Pekak menepuk tangannya. “Jangan kembali.”

Reneng membuka pintu. Di luar, malam terasa luas. Tidak ada dinding. Tidak ada penjaga. Tidak ada permaisuri. Tidak ada raja. Hanya jalan tanah yang gelap.

Reneng melangkah. Satu langkah. Kemudian satu lagi. Ia terus berjalan. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus ke mana. Anehnya, ia tidak takut.

***

Ibunya membuka pintu ketika malam hampir habis. Perempuan tua itu sempat mengira yang berdiri di depan rumahnya adalah hantu.

“Reneng?”

“Ibu.”

Ibunya langsung memeluknya. Tubuh mereka bertabrakan. Ibunya menangis.

“Mengapa kau pulang?”

Reneng tidak menjawab.

“Orang puri akan mencarimu.”

“Aku tahu.”

“Kita bisa dihukum.”

“Aku tahu.”

“Kau tidak bisa lari selamanya.”

Reneng melepaskan pelukan.

“Aku tidak ingin lari selamanya.”

“Lalu?”

“Aku ingin hidup.”

Ibunya diam. Untuk beberapa saat hanya terdengar suara jangkrik dari halaman. Kemudian ibunya mengambil gelang dari tangan Reneng. Gelang itu dulu diberikan kepadanya ketika masih kecil.

“Mengapa kau membawanya?”

“Karena ini milikku.”

Ibunya mengangguk.

“Sekarang kau juga milikmu sendiri.”

Reneng menangis. Itulah pertama kalinya ibunya mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dengar dari siapa pun.

***

Tahun-tahun berlalu. Puri berubah menjadi cerita. Raja mati. Permaisuri mati. Para selir berpencar. Sebagian pulang kepada keluarganya. Sebagian menikah lagi. Sebagian tidak pernah diketahui kabarnya. Puri itu akhirnya runtuh.

Anak-anak bermain di halaman yang dulu hanya boleh dilewati para bangsawan. Tetapi Reneng tidak melupakan apa yang pernah terjadi di sana. Ia membuka sanggar kecil di desanya. Atapnya dari ijuk. Dindingnya dari bambu. Tidak ada kursi besar. Tidak ada patung dewa. Tidak ada orang yang duduk di atas perempuan lain.

Reneng mengajari anak-anak menari. Sebagian besar muridnya perempuan. Mereka datang setelah membantu ibunya di rumah. Ada yang datang setelah bekerja di sawah. Ada yang datang karena tidak suka berada di rumah.

Reneng tidak banyak bertanya. Ia hanya mengajari mereka berdiri. Mengajari mereka menggerakkan tangan. Mengajari mereka menggerakkan pinggul.

Suatu hari seorang murid bertanya, “Untuk apa kita menari?”

Reneng menjawab, “Supaya kau tahu tubuhmu milik siapa.”

Anak itu berpikir sebentar. “Punyaku?”

“Ya.”

“Bukan suamiku nanti?”

Reneng tersenyum.

“Bukan.”

“Bukan bapakku?”

“Bukan.”

“Bukan raja?”

Reneng tertawa. “Raja juga bukan.”

Sejak itu ia menamai tarian mereka Tari Pulang. Pulang kepada tubuh sendiri.

***

Pada usia tujuh puluh lima tahun, Reneng masih menari. Rambutnya putih. Kulitnya keriput. Kakinya tidak sekuat dulu. Tetapi ia masih bisa berdiri tegak. Ia diundang menari di sebuah panggung besar di kota. Sebelum tampil, seorang panitia memujinya.

“Ibu masih cantik.”

Reneng tersenyum. Dulu ia mungkin akan senang mendengar kalimat itu. Sekarang tidak. Ia hanya berkata, “Saya datang untuk menari.”

Musik dimulai. Reneng bergerak. Tangannya naik. Kakinya melangkah. Pinggulnya berputar. Penonton diam. Kemudian tepuk tangan terdengar. Mereka melihat seorang perempuan tua yang masih mampu menari. Mereka melihat keindahan. Mereka tidak melihat ketakutan yang pernah dibawanya keluar dari puri. Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu pernah menjadi jalan pulang.

Setelah pertunjukan selesai, seorang perempuan muda menghampirinya.

“Nenek saya pernah tinggal di puri. Bukan nenek kandung. Tepatnya, kakak bapak saya.”

Reneng menatapnya.

“Namanya?”

Perempuan itu menyebut sebuah nama. Reneng terdiam. Ia mengenalnya. Perempuan itu adalah salah satu selir yang dulu terjun ke sumur.

“Orang-orang bilang nenek saya mati karena gila,” kata perempuan muda itu.

Reneng memegang tangannya.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Dia terlalu lama hidup di tempat yang membuatnya ingin mati.”

Perempuan muda itu menangis. Reneng memeluknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa cerita perempuan-perempuan di puri itu tidak benar-benar hilang. Mereka masih ada. Dalam ingatan. Dalam tubuh. Dalam anak-anak perempuan yang berani mengatakan tidak.

Malam itu Reneng pulang ke sanggarnya. Ia berdiri di tengah ruangan. Tidak ada musik. Tidak ada penonton. Ia mulai menari. Pelan. Sangat pelan. Pinggulnya bergerak. Kakinya melangkah. Tangannya terangkat. Ia sudah tua. Tetapi tubuh itu masih miliknya.

Dulu ia mengira tulang pinggulnya adalah bagian tubuh yang membuatnya dipilih. Bertahun-tahun kemudian ia tahu, justru tulang itulah yang membawanya keluar. Dan mungkin itulah sebabnya Reneng tidak pernah benar-benar membenci tubuhnya. Tubuh itu pernah dipandang sebagai barang. Tetapi tubuh itu juga yang membawanya pulang. Reneng terus menari sampai lampu padam.

Di luar, malam berjalan seperti biasa. Tidak ada raja. Tidak ada permaisuri. Tidak ada pintu yang dikunci. Hanya seorang perempuan tua yang menari di dalam rumahnya sendiri. Dan kali ini, tidak seorang pun berhak menghentikannya.***

Note:

Cerpen ini terinspirasi dari kisah Ni Ketut Reneng, perempuan Bali yang hidup pada awal abad ke-20 dan pernah tinggal di lingkungan puri. Di sana ia belajar menari, menenun, serta mengenal dan mempelajari lontar. Dalam sejumlah catatan tentang kehidupannya, Reneng disebut melarikan diri dari puri setelah mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan selir ke-34. Ia dibantu oleh pamannya, Pekak Cenong, yang bekerja sebagai penjaga burung di puri. Setelah kembali kepada ibunya, Reneng kemudian menekuni dunia tari dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni tari Bali. Cerpen ini mengembangkan kembali kisah tersebut dengan unsur fiksi untuk membangun narasi dan suasana sejarah.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Suran

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Gedung kebudayaan perlahan mulai kosong. Kawan-kawan yang sedari sore menyiapkan acara pengesahan calon pendekar tinggal beberapa. Kami yang tersisa bertugas menjaga tempat ini. Besok malam hari bersejarah akan datang. Perhitungan pimpinan antar perguruan silat di kota kami memutuskan bahwa tradisi suran akan dilaksanakan serentak.

Di media sosial orang-orang ramai menyangsikan kesakralan gelaran esok—biasanya masing-masing perguruan membuat acara secara terpisah. Bertahun-tahun pelbagai upaya telah dilakukan: pernyataan perdamaian antar pimpinan, mediasi ketika terdapat pertikaian, maupun kerja bakti membersihkan kota. Namun upaya semacam itu tetap saja tidak mengubah keadaan. Tak terhitung lagi nyawa yang melayang akibat permusuhan yang dirawat bertahun-tahun itu.

Korban terakhir adalah kakakku dua suran lalu. Tubuhnya ditebas arit saat berkendara pulang seusai mengesahkan para siswanya menjadi pendekar—maaf, aku tak kuasa menceritakan hal ini sepenuhnya. Intinya, ia meninggal di tempat tak lama kemudian.

Desas-desus beredar perlahan, dan tiga hari kemudian sudah menjadi perbincangan khalayak. Meski polisi belum menemukan siapa pelakunya, dugaan para pendekar seperguruan kakakku mengarah kepada perguruan pencak silat terbesar kedua di kota kami. Malam itu juga, di tengah lantunan tahlil di rumah, kawan-kawan kakakku menggeruduk padepokan perguruan itu. Tentu saja, mereka ingin membalaskan dendam saudaranya.

Dari bisikkan kawannya, Bapak, yang juga pimpinan perguruan silat yang diikuti kakak, langsung berpamit tak lama setelah tahlilan selesai. Aku saat itu merangsek ke dalam mobil tanpa sepengetahuan Bapak. Diriku membara persis seperti perasaan kawan-kawan kakak. Di depan padepokan itu, mungkin ratusan sampai ribuan orang berjejalan meneriaki dan melempari kerikil pintu padepokan yang tertutup.

Mengetahui kehadiran Bapak, mereka perlahan dapat mengendalikan diri. Polisi yang sebelumnya terlihat kewalahan mengendurkan pertahanan. Bapak masuk ke dalam padepokan itu didampingi beberapa orang. Aku tetap berada di mobil. Kudengar obrolan kawan-kawan kakakku, mereka berharap semua harus diselesaikan.

Begitu Bapak keluar dari padepokan, beliau langsung naik kap mobil komando. Semua orang berdiri, menunggu arahan keluar dari pengeras suara. Bapak meminta kepada semua pihak untuk menahan diri, menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian. Aku kecewa mendengar pesan itu. Mungkin mereka yang sejak tadi menunggu juga sepertiku. “Nyawa dibayar nyawa. Sampai kapan? Saudaraku, apakah sampai saat ini menyelesaikan masalah?” tutup Bapak berapi-api. Tak sedikit pun ada orang yang membantah Bapak, mereka membubarkan diri meski menyisakkan perasaan mengganjal.

“Aku tahu dari tadi kau bersembunyi di situ,” ucap Bapak datar.

Aku tak menjawab apa-apa selain menunduk. Mobil yang kami tumpangi menjadi kendaraan terakhir yang meninggalkan padepokan itu. Dalam hati, aku ingin bertanya kepada beliau, kenapa pesan seperti itu bisa muncul. Padahal nyawa yang hilang adalah darah dagingnya sendiri. Namun, aku menghormati bapak lebih dari apa pun. Terlebih, situasi duka juga masih membayangi keluarga kami. Dan, hari ini, sebelum nanti malam aku sah menjadi pendekar, bapak harus menjawab pertanyaanku,

Terdengar panggilan sembahyang subuh dari Masjid Agung. Selesai sudah aku memasang bendera perguruan silat yang nanti malam merayakan suran. Kecuali bendera padepokanku yang sengaja masih kusimpan di dalam tas. Kubilang kepada mereka yang masih terjaga, bahwa bendera ini akan kuruwat terlebih dahulu. Aku meninggalkan mereka.

***

Tuntas sudah aku membersihkan pusara kakakku. Matahari tak menyisakan tempat bagi bayangan tubuhku. Kusiram nisan yang terlapisi bendera perguruan dengan air degan gading. Tiga genggam bunga mawar merah-putih menutupi pusara. “Kuselesaikan hari ini, Kang Mas,” bisikku perlahan sembari meninggalkan kompleks perkuburan itu.

Bapak menungguku di ruang tamu. Ayam jago persembahanku malam nanti juga berada di pelukannya. Bapak mematikan suara dalang yang terputar dari gawainya. Selesai kucium punggung tangannya, aku diminta duduk.

“Sebelum kau bergelar pendekar, katakan apa yang kau pendam, Le.”

“Kang Mas, Bapak.”

Dengan telunjuk, Bapak mengangkat daguku. Kudengar suara berat muncul darinya. Memang, sejak malam di mana kami menyusul para pendekar di padepokan itu, Bapak dan aku jarang bertukar obrolan. Bahkan aku sama sekali tak pernah diajar olehnya ketika latihan: dari sabuk hitam, sampai kudapatkan kain mori nanti malam.

“Aku melakukan itu, biar tidak ada rasa iba kepadamu, Le.”

“Termasuk, Kang Mas, Bapak?”

Bapak menatapku begitu dalam. Ayam jago yang berada di pangkuannya diserahkan kepadaku. Beliau memintaku untuk meminum air yang sedari tadi terdiam di meja. Kusesap sedikit air itu. Namun, Bapak menghabiskan segelas air dalam satu kali teguk. “Apa rasanya, Le?” tanyanya sembari meletakkan kembali gelas itu.

Aku tak tahu maksud pertanyaan Bapak. Apa pentingnya rasa air dalam menjawab pertanyaanku perihal kakak. Sekenanya kukatakan bahwa air itu tak ada rasanya. Memang begitu kenyataannya, apa boleh buat.

“Bebas, Le. Lebih tepatnya membebaskan,” jawabnya dengan suara yang belum pernah kudengar. “Sampai kapan dendam itu kau bawa? Itukah keinginan Kang Masmu?”

Mendengar hal itu, tubuhku menjadi kaku. Kedua lengan Bapak mengalung di antara pundakku. “Pelaku yang menyebabkan Kang Masmu mati mungkin tak ditemukan. Bada Isya nanti perubahan besar akan terjadi.”

Kotak yang kubuka berisi mori diberikan Bapak kepadaku. Itulah mori milik kakak. Bapak berpesan bahwa mori itu mesti aku ikatkan bertumpuk dengan milikku sesuai pengesahan nanti.

Mobil polisi berjejeran di sekitar gedung kebudayaan. Pengamanan benar-benar ketat. Aku yang baru sampai lekas mengibarkan bendera yang belum sepenuhnya kering. Kudengar dari obrolan mereka yang sudah hadir, beberapa orang telah tersulut api yang muncul di media sosial. Satu hal yang segera menghardikku, apakah mungkin kematikan kakak akan terulang. Sebab pendekar dari semua perguruan tumpah ruah menjadi satu malam ini.

Semua prosesi telah kuikuti. Kusaksikan ayam jago persembahanku berdiam ketika disembelih. Kupasangkan kain moriku bertumpuk dengan kepunyaan kakakku di pinggangku. Bapak entah datang dari mana mendekatiku, sembari mengatakan bahwa sebentar lagi semua akan selesai.

Di atas panggung yang berisi pimpinan perguruan silat itu, Bapak diberi kesempatan berbicara. Beliau mengutarakan sesuatu yang sama persis dengan dua suran lalu. Aku melihat hal lain kala Bapak mengajak hadirin melantunkan tahlil bagi para pendekar setiap perguruan yang telah berpulang. Bapak mengenakan setelan seragam sakral Kang Mas.

Seorang pendekar di sampingku menatapku lekat. Ia mengetahui bahwa pipiku sudah membasah. Aku tak tahu, apakah hal ini membatalkan statusku sebagai pendekar. Kupegangi  mori di pinggangku erat-erat. Aku merasa terbebaskan.***

____________________

Rudi Agus Hartanto. Bagian dari Sanggar Bima Suci Mojogedang, Ngglituk Podcast, dan Leluasa Project.

Cerpen

Seta dan Sang Khodam

Cerpen Septi Rusdiyana

Di sebuah desa bernama Goragaru, hampir seluruh penduduk wanitanya kerja di luar negeri sebagai TKI. Biasanya, bagi yang masih perawan akan memilih menetap di negeri rantau, lalu menikah dengan lelaki warga negara bersangkutan. Sedangkan untuk yang sudah menikah, tidak akan pulang sebelum tujuan duniawi yang dikejar tercapai. Rata-rata mereka akan bertahan selama tiga sampai lima belas tahun. Tentu saja, hal ini berpengaruh pada kehidupan para lelaki di desa itu.

Bagi perjaka, mereka cenderung memilih bekerja di luar kampung. Selain lapangan pekerjaan yang beragam, jumlah gadisnya pun jauh lebih banyak. Meski, pada akhirnya hal itu hanyalah sebuah siasat belaka. Setelah gadis itu berhasil dinikahi, maka roda akan berputar lagi sesuai dengan tradisi Goragaru. Anak pertama lahir, istri berangkat ke luar negeri, dan suami menjadi bapak rumah tangga. Banyak bocah yang tidak mendapat perhatian dari ibunya, hingga muncul kabar kasus penculikan oleh Wewe Gombel di desa itu. Namun sejak menimpa Seta, bocah delapan tahun yang juga pernah menjadi korban, sudah tidak lagi terdengar berita anak hilang di Goragaru.

***

Seta masih bermain gundu di pekarangan rumah temannya, Bayu. Seakan terlalu asyik, tanpa disadari matahari sudah hampir tenggelam.

“Bocah tidak tahu waktu, hampir magrib masih saja di luar rumah,” seru ibu Bayu memperingatkan. Seketika keduanya menengok ke arah sumber suara dan segera memungut gundu yang berceceran di tanah.

“Aku pulang dulu ya,” pamit Seta.

Bayu mengangguk.

“Awas, jangan sampai ketemu Wewe Gombel,” pesan Bayu. Ia bergegas masuk ke rumah menyusul ibunya.

Sementara, Seta berlari kecil sambil menggembol beberapa gundu dengan kausnya. Rumahnya tidak terlalu jauh, cukup melewati kebun rambutan dan jembatan kayu di atas sungai kecil. Sial, kaki telanjangnya tanpa sengaja menginjak ranting yang membuatnya terluka. Terpaksa ia melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan pincang.

Hari mulai gelap, suasana menjadi cukup mencekam karena tidak ada satu pun lampu penerangan di sepanjang jalan. Perasaan Seta mulai tidak enak. Ia merasa seperti diikuti. Ada suara-suara aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. Sebenarnya ia sudah sangat takut, tapi karena penasaran, ia malah mencari-cari sumber suara itu dan tatapannya terpaku pada sosok perempuan berambut panjang dengan payudara yang menggantung sampai ke lutut. Wajahnya penuh bopeng dan luka basah. Seta terkejut, lalu berlari sekencang yang ia bisa, tanpa memedulikan telapak kakinya yang sakit. Begitu hampir mencapai jembatan kayu, sosok itu tiba-tiba berada tepat di depannya. Ia sempat berteriak minta tolong sebelum akhirnya pingsan.

***

Seta terbangun dan sadar kalau tempat ini bukanlah kamarnya. Ia bangkit lalu memandang sekeliling. Rumah kecil ini tanpa sekat. Selain dipan yang sedang ia duduki, ia hanya menemukan satu bangku panjang dan lemari.

“Kamu sudah bangun rupanya.” Seorang wanita dewasa tiba-tiba muncul dari pintu. Rambutnya tergelung ke atas memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kebaya dan jarik yang dikenakan membuat setiap lekuk tubuhnya tercetak jelas. Pipi tembam dan kulitnya yang putih membuat Seta kagum.

“Ayo makan dulu, ibu sudah membuatkanmu masakan yang enak,” lanjut wanita itu, sembari duduk di sebelah Seta. Ia memegang sepiring makanan, lalu dengan telaten menyuapi Seta sampai habis.

Seta ingin bicara namun lidahnya kelu. Ia kaget ketika mendadak wanita itu menarik tubuh untuk bersandar di dadanya, sesaat setelah meletakkan piring kosong di lantai. Jemari yang lentik membelai-belai rambutnya. Selama beberapa saat, Seta terbuai dengan perlakuan itu. Sejak berusia lima belas bulan ia sudah ditinggal ibunya ke luar negeri. Meski hidup bersama seorang ayah, tidak lantas membuat hidupnya senang. Ia tetap kesepian karena ayahnya memiliki kebiasaan memancing dan bersenang-senang di kampung sebelah. Situasi itu memaksanya untuk lebih mandiri. Mungkin seperti ini rasanya memiliki seorang ibu, batin Seta.

“Oh iya, gundumu.” Wanita itu melepas tubuh Seta dan bangkit menjauh untuk mengambil gundu di bangku. Seta sedikit kecewa, merasa belum puas menikmati pelukannya. “Ayo bermain di luar, ibu akan menemanimu,” ajak wanita itu.

Seta berjalan mendekat. Wanita itu meraih tangan dan menggandengnya keluar rumah. Seta bermain gundu sendirian. Tidak ada satu rumah pun selain rumah yang kini ia tempati. Sesekali ia menatap wanita yang saat ini sedang duduk di bangku kayu sambil tersenyum ke arahnya. Hati Seta menghangat. Kali pertama ia bertemu dengan wanita yang begitu menyayanginya. Rasanya ia tidak ingin kembali pulang. Ia rela selamanya hidup bersama wanita itu.

Malam tiba. Wanita itu kembali menyuapi Seta seperti sebelumnya. Setelah selesai, bocah itu dipeluk dan dibelai lagi selama beberapa saat, lalu diminta untuk bersiap tidur. Wanita itu berjalan ke arah lemari, membuka, lalu mengambil selembar pakaian. Ia sengaja tidak menutup kembali pintunya karena akan digunakan sebagai sekat. Sayang, pintu lemari tidak sepenuhnya bisa melindungi tubuh. Tanpa sengaja Seta melihat pemandangan saat wanita itu telanjang ketika berganti pakaian. Tidak lama, wanita itu menyusul Seta, dan memeluknya seperti bayi. Ia bahkan melantunkan tembang jawa sambil menepuk-nepuk paha Seta.

“Sayang, besok aku akan mengantarmu pulang. Ayahmu janji padaku kalau akan mengurusmu dengan baik nanti,” gumam wanita itu, sesaat setelah Seta terlelap.

***

“Makanan sudah siap, Le. Ayo makan dulu,” ajak ibu Seta membuyarkan lamunannya.

Ibu Seta memutuskan kembali ke rumah saat usia Seta tujuh belas tahun. Kini usia Seta sudah tiga puluh lima. Sebagian teman-temannya sudah menikah, termasuk Bayu. Bahkan, Bayu sudah memiliki tiga orang anak. Seta merasa kurang beruntung dalam urusan asmara. Secara fisik, ketampanannya di atas rata-rata. Tubuhnya yang tinggi tegap seharusnya mudah memikat gadis mana pun. Sayang, setiap kali ingin menjalin hubungan dengan gadis yang disukai, selalu saja berakhir sia-sia. Ada-ada saja penghalangnya.

Pernah, Seta hampir melamar seorang gadis yang juga mencintainya, namun secara misterius gadis itu berubah sikap. Gadis itu marah-marah tak jelas, bahkan menolak berada di dekat Seta seolah Seta memiliki penyakit menulatr.

Pernah juga saat hendak dijodohkan dengan putri seorang kepala desa, tiba-tiba gadis itu menjerit-jerit saat melihat wajah Seta. Padahal, sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menerima perjodohan tersebut. Kini, Seta sudah pasrah, seandainya Tuhan memang menakdirkannya menjadi bujang lapuk.

Seta sudah lama tinggal di perantauan. Sekarang ia memutuskan untuk tinggal di Goragaru saja. Turut membantu ayahnya mengurus sawah.

Di suatu sore, Seta duduk di teras, pandangannya lurus jauh ke atas pohon randu. Ia menarik napas tiga kali sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, ada sesosok makhluk di atas pohon randu, pohon yang sama dengan yang Seta tatap sebelumnya, sedang tersenyum bahagia. Sudah bertahun-tahun ia bertapa di pohon itu, tidak pernah lagi mau menculik bocah. Pertemuannya dengan Seta dua puluh tujuh tahun silam membuatnya jatuh cinta. Tujuannya saat ini hanya satu, menyingkirkan semua wanita yang hendak merebut kekasihnya. Seta hanya miliknya, dan sekarang jalannya akan jauh lebih mudah karena ia sudah kembali ke desa itu.***

____________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen.

Cerpen

Riwayat Sebuah Aroma

Cerpen Era Ari Astanto

Di dalam ruangan kecil ini, di atas meja di samping lemari, terdapat sebuah botol parfum. Parfum ini bukan sekadar pewangi. Ia menyimpan keinginan, mimpi, dan, mungkin, sebuah pengkhianatan. Setidaknya, demikian bagiku. Setiap kali aku menyemprotkannya, aromanya seakan menyusup ke dalam pori-pori kulitku, menyusup ke dalam otakku melalui hidungku, yang kemudian membangkitkan sesuatu yang terpendam.

Aku memandang cermin. Bayangku di sana bukan hanya wajah yang tampak, tetapi juga bayangan dari hasrat yang kuinginkan. Keinginan untuk melanggar batasan yang telah kubangun sendiri. Dengan parfum ini, aku merasa berani, seolah aroma tersebut membawaku ke dunia yang berbeda, sebuah dunia yang meluruhkan janji-janji tanpa rasa bersalah.

Teringat saat pertama kali aku mencium aroma ini. Malam itu, di sebuah pesta yang terasa asing, seseorang mendekat. Ia mengenakan jas-blazer hitam yang rapi, dan saat ia melintas, aroma itu seolah menyapa inderaku. Sejak saat itu, aroma itu terikat pada ingatanku, seumpama sebuah magnet yang menarikku ke dalamnya. Ia adalah seseorang yang tak terduga, sosok misterius yang hadir dengan senyum dan ketulusan, tetapi juga dengan daya tarik yang terlalu sulit kuabaikan.

Ada kalanya aku merasa bersalah, tetapi saat aroma ini menyentuh hidungku, rasa itu menguap seperti embun pagi. Aroma yang membuatku menginginkan lebih dari sekadar cinta yang aku miliki. Di saat-saat sunyi, pikiranku melayang kepada dia, sosok yang seharusnya tidak ada dalam kisahku. Bayangannya menghantui malam-malamku, dan aku terjebak dalam jaring kerinduan yang tak terucapkan.

Aku berdiri di ambang pintu, menimbang-nimbang. Keputusan ini bukan sekadar tentang memilih antara dua orang, tetapi juga tentang memilih antara dua dunia. Satu yang familiar, penuh dengan rasa aman, dan satu lagi yang dipenuhi dengan kemungkinan yang tidak pasti. Parfum ini seperti jembatan menuju sisi lain, ke arah tempat yang di sana aku bisa mengungkapkan semua yang terpendam.

Setiap kali aku melihat pasanganku, senyum manisnya dan mata yang penuh kasih selalu membangkitkan rasa bersalah dalam diriku. Ia adalah bintang di malam kelamku, sosok yang mampu menenangkan jiwaku yang gelisah. Tetapi, bagaimana bisa aku menjelaskan bahwa hatiku mendambakan sesuatu yang lain?

Aku ingat. Dengan alasan aku menyukai aromanya, aku memberikan parfum itu kepada pasanganku. Aku cukup berkata, “Pakailah untukku, dan aku juga akan memakainya agar aku selalu merasa dekat denganmu meski kita tidak sedang bersama.” Dan dia memakainya, meski yang kubayangkan adalah orang lain dengan aroma parfum yang sama.

Satu semprotan lagi. Kali ini, aroma itu lebih tajam, mengalir melalui diriku dengan energi yang tak terduga. Bayangan sosoknya muncul kembali, semakin jelas. Dia yang memiliki rahasia dalam senyumnya, yang juga mencuri pandanganku setiap kali kita bertemu. Dalam pikiranku, aku mulai membayangkan skenario yang lebih berani, di mana kita berdua melangkah ke dalam dunia yang tak ada di peta, penuh risiko dan pelanggaran.

Namun, di tengah semangat itu, suara hati yang kecil mulai bersuara. Suara yang mengingatkanku akan cinta yang sebenarnya, cinta yang telah dibangun dengan ketulusan. Betapa menyedihkannya jika semua ini hanya akan menghancurkan kebahagiaan yang sudah ada. Aroma parfum ini membangkitkan bukan hanya hasrat, tetapi juga pertanyaan, apakah semua ini sepadan?

Tiap malam, aroma itu mengendon dalam pikiranku. Sebuah ritual yang berulang, aku menyemprotkan parfum ini sebelum tidur, membiarkannya menyelimutiku saat aku berbaring. Dalam pelukan bantal, aroma itu seakan mengalir ke dalam mimpi, membawaku ke tempat di mana semua batasan lenyap. Di sana, hanya ada kita berdua, terjebak dalam percakapan tak berujung dan tawa yang mengalir seperti air. Aku terbangun, mendapati diri terengah-engah, terjaga oleh bayangan yang tak dapat kujelaskan.

Pagi harinya, aku berdiri di ambang jendela, melihat embun menempel di daun. Kenyataan menggigitku. Di luar sana, dunia terus berputar. Seseorang menunggu di rumah. Seseorang yang penuh kasih, yang tak pernah tahu betapa terdesaknya aku terhadap sesuatu yang lebih. Aku merasakan kerinduan yang mendalam, kerinduan akan sebuah kebebasan yang tak pernah kumiliki. Kebebasan untuk menjelajahi rasa, untuk mencintai tanpa batas, untuk merasakan hidup yang tak terikat ini dan itu.

Aku mulai melacak setiap detil pertemuan kami, menggali setiap momen, seolah mencari kepastian di tengah keraguan. Suatu sore, saat kami bertemu di sebuah kafe kecil, aroma itu serasa mengurung jiwaku. Ia duduk di seberang meja, wajahnya bersinar di bawah cahaya lembut. Kami berbincang tentang hal-hal sepele, tetapi pikiranku melayang jauh. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku mencium aroma tubuhnya, bagaimana rasanya jika kami berdansa di bawah bintang-bintang, terpisah dari dunia yang kami kenal.

“Apakah kamu pernah merasa terjebak?” tanyaku, mendadak serius.

Ia mengangkat alis, tampak bingung. “Terjebak? Dalam hal apa?”

“Dalam hidup, dalam cinta,” jawabku, berusaha menyembunyikan keraguanku.

“Kadang, mungkin. Tapi, aku percaya bahwa cinta seharusnya memberi kita kebebasan,” katanya, dan kata-katanya seperti membangkitkan suara di dalam diriku, membuatku bertanya-tanya apakah ia tahu tentang keinginanku.

Kembali ke rumah, rasa bersalah menyelimutiku. Senyumnya, kehadirannya, semua itu terasa menyesakkan. Aku ingin berteriak, tetapi suara itu terperangkap di tenggorokan. Mungkin, semua ini hanyalah fase, rasa yang hanya sementara, tetapi aroma  itu selalu hadir, seolah terus mengingatkanku atas keinginan yang terpendam.

Malam itu, saat aku menyemprotkan parfum, aku teringat pada momen ketika aku pertama kali melihatnya. Senyumnya yang hangat, pandangan matanya yang dalam. Tak bisa dipungkiri, ada sesuatu yang mengikat kami. Kami berdua, terjebak dalam permainan yang penuh risiko, menari di batasan yang samar. Setiap semprotan parfum seakan menambah ketegangan, menguatkan keinginanku untuk melangkah lebih jauh.

Suatu malam, aku memutuskan untuk menghubunginya. Dengan jari gemetar, aku menekan nomor itu, suara detakan jantungku mengisi kesunyian. “Hai,” sapaku saat ia mengangkat telepon. Suara lembutnya mengalir ke telingaku, dan seolah waktu berhenti sejenak.

“Hai! Apa kabar?” tanyanya ceria, seolah tidak ada yang berbeda.

“Baik, aku… hanya ingin berbicara,” jawabku, merasakan ketegangan di antara kami.

Percakapan kami mengalir, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Setiap tawa, setiap kata, seolah mengisi celah yang ada. Semakin dalam kami berbicara, semakin kuat rasa itu menjalar dalam diriku. Akhirnya, aku tidak bisa menahan diri. “Kau tahu, kadang aku merasa ingin melanggar semua aturan,” kataku, merasakan beban di bahu.

Dia terdiam sejenak, dan aku bisa merasakan pikirannya. “Apa yang kau maksud dengan melanggar aturan?” tanyanya lembut, tetapi ada ketegangan dalam suaranya.

“Aku tidak tahu. Hanya saja, ada sesuatu yang menggerakkan diriku. Mungkin… kau?” jawabku, berani mengambil risiko.

Aku diam. Dia juga demikian. Seolah waktu terhenti, mengisi ruang dengan ketegangan yang menyakitkan.

“Ini sulit,” ujarnya akhirnya, “Aku juga merasakannya, tetapi kita harus berhati-hati.”

Ketakutan menggelayuti pikiranku. Apa yang kami lakukan ini bisa menghancurkan segalanya. Namun, aroma itu terus memanggilku, terus menggoda jiwaku.

Kami mengakhiri percakapan dengan rasa ingin tahu yang mendalam, seolah kami berdua tahu bahwa ini bukan akhir. Ini merupakan awal dari sesuatu yang baru, sebuah perjalanan penuh risiko.

Hari-hari berlalu, dan setiap kali aku menyemprotkan parfum, aku merasakan tarikan yang lebih kuat. Suatu sore, aku memutuskan untuk mengunjunginya. Keberanian berkumpul dalam diriku, mendorongku untuk melangkah lebih jauh. Ketika aku tiba, ia menyambutku dengan senyum yang hangat, tetapi juga dengan sesuatu yang lebih dalam seperti sebuah kerinduan yang tak terucapkan.

Kami menghabiskan waktu bersama, berbincang dan tertawa. Setiap detik yang berlalu terasa lebih berharga. Saat senja tiba, kami duduk di balkon, menikmati langit yang menjingga. Dalam keheningan, aroma itu hadir kembali, menambah keintiman di antara kami.

“Apa yang kau inginkan, sebenarnya?” tanyanya, memandangku dengan serius.

Hatiku berdegup kencang. “Aku… ingin merasakan hidup, tanpa batasan,” jawabku, dan detik itu terasa seperti pengakuan.

“Apakah kau siap untuk menghadapi konsekuensinya?” ia bertanya, dan aku bisa merasakan ketegangan di udara.

“Aku tidak tahu,” kataku jujur. “Tapi aku ingin mencobanya.”

Ia mengangguk, seolah memahami pergolakan di dalam diriku. Dalam diam, kami saling memandang. Saat itu juga, aku tahu bahwa kami telah melangkah melwati batas yang lebih dalam. Aroma yang mengelilingi kami seolah mengikat janji di antara kami.

Malam itu, saat aku kembali ke rumah, pikiran akan cintaku yang sebenarnya semakin membingungkan. Senyumnya, ketulusan yang ia berikan, semua itu terasa begitu dekat, tetapi aku juga merindukan sesuatu yang lebih liar. Parfum yang ada di tanganku terasa lebih berat. Ini seperti sebuah simbol dari semua pilihan yang harus kuhadapi.

Selama beberapa hari ke depan, aku merasakan tarikan yang semakin kuat. Setiap kali aroma itu menyentuhku, aku merasakan dorongan untuk mengambil langkah lebih jauh. Suatu hari, aku memutuskan untuk bertemu dengannya lagi. Dalam benakku, kami bisa membicarakan apa yang telah terjadi, merespons kerinduan yang terus bertambah dalam.

Ketika aku sampai di tempat yang telah disepakati, aku terkejut melihatnya menunggu dengan ekspresi tegang. “Kita perlu bicara,” katanya tanpa basa-basi.

Aku mengangguk, dan kami menuju ke sebuah sudut tenang di taman. Di bawah pohon rindang, aroma parfum ini berbaur dengan aroma tanah basah. “Aku merasa kita harus memutuskan, apa sebenarnya yang kita inginkan,” ujarnya, tatapannya tajam.

“Aku ingin kamu,” jawabku tanpa ragu, meski kata-kataku terasa berat. “Tapi aku juga tidak ingin menyakiti orang lain.”

Dia menghela napas dalam-dalam. “Kita harus jujur. Kita tidak bisa terus seperti ini. Jika kita ingin bersama, kita harus siap menghadapi semua konsekuensi.”

Percakapan itu membawa kami ke tepi jurang. Kami berdua sadar bahwa langkah berikutnya akan menjadi titik balik dalam hidup kami. Dengan ketegangan yang memenuhi udara, kami akhirnya sepakat mengambil risiko untuk mengeksplorasi rasa yang terpendam meski dengan segala konsekuensi yang mungkin harus dihadapi.

Malam itu, saat aku menyemprotkan parfum, aku merasa berbeda. Rasa itu bukan hanya tentang keinginan, tetapi juga tentang keberanian untuk melangkah ke arah yang belum pernah kuambil. Aku berdiri di ambang jendela, menatap langit malam yang gelap, dan merasakan ketidakpastian serta harapan yang bertabrakan di dalam diriku.

Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan momen-momen manis dan penuh bahaya. Setiap kali aku bersama dia, aroma itu membangkitkan perasaan yang tak terlukiskan. Kebebasan, cinta, dan rasa bersalah yang bercampur aduk. Kami bersembunyi di balik kegelapan malam, menciptakan kenangan yang penuh dengan keintiman dan misteri.

Namun, setiap aku pulang ke rumah, senyum pasanganku mengingatkanku pada semua yang bisa hancur. Dengan parfum ini, aku merasa bersalah, tetapi juga terpesona oleh dunia baru yang kumasuki. Aroma itu menuntunku dalam perjalanan ini, menjadikannya sebagai jembatan antara dua dunia yang berbeda.

Sampai pada suatu titik, aku menyadari bahwa keinginan ini bukan sekadar tentang cinta yang lain atau mencari kebebasan. Aku berusaha keras meyakinkan diriku bahwa ini adalah jalan mencari jati diri, mengatasi ketakutan, dan menerima bahwa kadang-kadang, cinta itu rumit dan menyakitkan. Di balik setiap aroma, ada kisah yang belum diceritakan, sebuah perjalanan yang penuh liku. Namun, keraguan samar terus menghantui jiwaku.

Malam-malam berlalu, dan di tengah kerumunan pikiran, aku luangkan waktu menyimak suara hatiku. Mungkin, cinta yang sebenarnya bukan hanya tentang memilih antara dua orang, tetapi tentang memahami diriku sendiri. Aroma itu mengingatkanku bahwa aku bisa mencintai dan dicintai tanpa harus kehilangan siapa diriku yang sebenarnya.

Di ambang kesadaran itu, aku memutuskan menyimpan parfum itu ke sebuah tempat tak terjangkau. Aku tidak tahu apakah aku akan menggunakannya lagi suatu hari nanti atau tidak. Namun untuk saat ini, aku memilih untuk menghargai apa yang sudah kumiliki. Dengan satu keputusan sederhana, aku membiarkan keinginan itu mengalir, tidak lagi sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari langkah hidupku yang harus terus berlanjut, penuh dengan aroma yang terpendam. Aku ingin aroma asli kesukaan pasanganku yang selalu tercium di hidungku, di jiwaku.***

____________________

Era Ari Astanto. Lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali. Telah menerbitkan beberapa novel. Novel terbarunya Sesepuh dan Sebuah Dukuh (Diomedia).

Cerpen

Cincin Perkawinan

Cerpen Yeni Kartikasari

Laki-laki adalah makhluk yang sulit dipahami. Lala mengenang kalimat itu dalam pikirannya. Ia kemudian mengatakannya pada Quin, “Lelaki itu sialan. Tinggal bicara apa susahnya?”

Quin yang hendak menikah sebulan lagi menekan tubuhnya ke belakang. Ayunan kembali bergoyang ke kanan ke kiri. Angin semilir mengenai tengkuknya. “Laki-laki cuma bicara kalau lagi mau.”

“Kalau tidak?” kata Lala.

“Seperti yang terjadi padamu. Tidak lagi mengabari kalau kakinya digigit semut.”

Lala menghentakkan salah satu kakinya. Kedua tangannya saling memeluk. Pandangan Lala yang dibuang menuju pohon mangga membuat Quin menyodorkan bolu pisang.

“Cinta membuatmu jadi kurus. Makanlah!”

“Apa kelak aku bisa menikah dengan orang yang benar-benar kucintai…” Lalu, Lala menatap wajah Quin. “Dan, orang itu bisa benar-benar mencintaiku?”

“Aku tidak tahu jawabannya.”

“Kamu harus jawab!”

Quin turun dari ayunan. Ia merasa cinta bisa dirasakan. Jika digambarkan sebagai bunga, cinta adalah kebun mawar, anyelir, dan warna-warni krisan yang di samping-sampingnya di kelilingi melati putih.

Quin berjalan cepat dan Lala mengejarnya sambil menenteng sekotak bolu pisang dan dua minuman mereka.

“Mau ke mana? Aku punya cerita terbaru.”

“Pria bersarung itu lagi?”

Mereka menghentikan langkah. Quin hendak mengambil sekotak bolu pisang dan dua minuman mereka itu, tetapi Lala menolak memberikannya. Mereka berjalan kembali.

“Aku sangat mencintainya dan aku tahu dia mencintaiku. Hanya terkadang dia terlihat tidak mencintaiku.”

Quin mengingat cara lelaki itu mengetik pesan kepada Lala teramat singkat—isinya antara iya, tidak, dan kalimat-kalimat kesibukan, seperti akan mengaji, membantu ibu, dan paling sering akan tidur. Pesan yang baginya tidak seimbang dengan ketikan Lala yang panjang dan dikirim bertubi-tubi. Quin membayangkan kembali isi obrolan mereka di WhatsApp lebih sering rata kanan.

Menuju gazebo, Quin naik terlebih dahulu. Ia menyandar sambil berselonjor, sedangkan Lala bersila membuka ponsel. Berkatalah Quin, “Tidak perlu. Kamu sudah menunjukkannya setiap kita bertemu. Sekarang dengarkan aku. Aku punya cerita tentang seekor semut. Dulu pria itu sudah mengeluh kalau digigit semutkan?” Quin berbicara cepat, nada suaranya setinggi semak belukar di sekitar mereka.

Cerita ini dari calon suamiku sebelum dia menjadikanku calon istrinya. Kamu tidak boleh memotong semacam yang sudah-sudah. Ini mungkin terakhir kita bertemu dan setelah aku menikah waktuku untukmu tak akan sama lagi.

“Cerita saja, bagaimana?” sahut Lala.

Jadi begini, saat itu kami sedang sarapan di pinggir pujasera. Ada beberapa semut melintas di pavingan depanku. Calon suamiku melemparkan suiran ayam yang diambil dari mangkuk sotonya. Semut itu meloncat menghindar. Calon suamiku pelan-pelan memberikan cuilan tempe goreng dan kamu tahu? Hanya ada satu semut yang mendekat, tetapi langsung pergi tanpa mencicipi.

“Salak busuk! Ya jelas, itu bukan makanan semut!” ucap Lala.

Apa kamu tidak pernah lihat gorengan dirubung semut? Jangan potongan ceritaku. Aku lanjutkan, lalu calon suamiku tersenyum. Ia mengambil taoge, kubis, dan seledri yang sudah tercampur sambal, lalu menaruhnya ke pavingan. “Mereka akan kembali jika mau,” kata calon suamiku.

Dia kemudian menyendok gula yang belum larut dalam segelas teh panasnya. Gula itu ia teteskan berjarak di hadapan kami. Ada sekitar enam kali, sedikit-sedikit. Dan, kamu tahu apa yang dikatakan dia berikutnya? Dia bicara seperti ini, “Jika mereka menginginkan gula itu, mereka pasti datang, pasti lebih banyak.”

Dan, benar. Beberapa menit berlalu, semut-semut itu berdatangan. Mereka seolah berlarian. Ada yang langsung menjilatnya. Ada yang membawa gula-gula itu ke entah ke mana. Bahkan, setelah kami selesai makan, semut-semut itu juga menyantap suiran ayam, tempe, taoge, kubis, dan seledri. Aku menunjuk ke arah mereka. Nah, di sinilah calon suamiku mengeluarkan kata-kata mutiaranya.

“Apa?” tanya Lala.

“Kata calon suamiku, Kalau kamu yang aku mau, aku pasti langsung mendatangimu, tentu sebagai semut dan gula, bukan semut dan lain-lainnya tadi.”

Quin memegang tangan Lala, “Di hari itulah dia malamarku, ia memakaikanku cincin ini,” Quin menyodorkan jari manisnya. “Padahal, selama ini kami hanya berteman.”

Lala memegang jemari Quin, mengelus cicin itu pada lingkar emasnya, pada deret permata yang berkilau. “Kamu tidak cerita kepadaku dulu,” ucap Lala lirih.

Quin menarik tangannya. “Tapi kamu percaya juga kalau aku membelinya sendiri. Ya, sekitar 3 gram.”

Lala mengangguk-angguk.

Quin yang merasakan hatinya berdegup memohon kepada Lala untuk menjauhi orang yang dicintainya itu—seorang lelaki lulusan pesantren yang terus mengaku betapa pentingnya mengaji dan berbakti kepada ayah ibu, yang mengatakan selalu berusaha menjaga pandangan untuk menghindari zina, yang tidak bekerja sebab hidupnya difokuskan demi mengejar keabadian akhirat.

“Pernah bertengkar sama calon suamimu?” tanya Lala.

“Jauhi kekasihmu, kamu sanggupkan?”

“Jawab dulu, pernah bertengkar?”

“Beberapa kali. Masalah kecil. Saat beda pendapat.”

“Pernah mengumpatimu?”

“Kadang kali, saat marahnya meledak-ledak dengan orang lain.”

“Kamu pernah mengumpatinya?”

“Sempat ingin karena ia malas berangkat kerja. Tapi, aku tak sanggup. Lagi, lagi, kami hanya berteman dan aku sangat menghormati laki-laki.”

Mata Lala berkaca-kaca. Ia menyekanya dengan punggung tangan. “Apa selama ini karena aku dianggap tidak menghormati laki-laki?

Quin kehilangan rangkaian kata-kata.

“Apa aku ubah dulu cara bicaraku agar halus sepertimu daripada aku harus menjauhinya?”

Quin ingin berkata bahwa upaya Lala akan sia-sia, walaupun ia mengubah penampilannya sekalipun. Pria bersarung itu dalam pengamatannya adalah tipe manusia pecundang yang tak berani memutuskan pilihan hidupnya secara terang-terangan. Quin ingat awal mula pria itu mengajak Lala berkenalan lewat Instagram dan keduanya bertemu di Kedai Lembu Peteng. Pria itu halus cara bicaranya dan terus-terusan mengisahkan masa-masa pemondokannya. Bahkan, Quin mengenang kembali isi pesan rata kiri di kala itu, nyaris setiap waktu. Namun, sekarang ini ketika Quin melihat keadaan sudah berbeda, ia berkata, “Tinggalkan saja, La.”

“Quin! Kamu tidak percaya cinta sejati itu ada?”

“Cinta laki-laki besar di awal dan mengurang seiring waktu. Cinta perempuan saja yang terus bertumbuh. Cintamu mungkin sejati. Kalau cintanya?”

“Aku sudah berkorban banyak hal, nyaris dua puluh juta buat aku membelikannya hadiah. Saat dia kesusahan aku yang pertama meminjaminya uang.”

“Apa yang pertama sudah pasti istimewa?”

Bibir Lala bergetar-getar. Quin mengerti kawannya itu akan menangis.

Lala menaikkan nada suaranya, “Dia pernah bicara padaku jika kita menolong orang apalagi menyenangkan hati orang, pahalanya besar,” Lala meraih tangan Quin, “Dia juga pernah bicara padaku kalau aku akan dinikahi kelak, pernikahan yang bisa membawa kami ke surga.”

“Di awal bertemukan?”

“Tapi dia pernah mengatakannya, Quin. Tidak mungkin laki-laki alumni pondok itu bisa mengingkari ucapannya.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Dosa!” gertak Lala.

“Kalau berbohong itu dosa, kenapa dia menjadikanmu kekasih dan dengan teganya pelan-pelan menjauhimu karena dia tidak menginginkanmu lagi?”

Quin merasa tangannya dingin. Lala benar-benar menangis.***

____________________

Yeni Kartikasari. Tinggal di Ponorogo. Kumpulan cerpen pertama berjudul Siapa yang Memantik Api?

Cerpen

Kalah Galak

Cerpen Denipram

Senja tak lagi ditakuti. Warna cahaya langit kuning kemerah-merahan tak lagi menyeramkan. Bias sinarnya yang mengenai segala benda di permukaan bumi seakan membuat segalanya menjadi rindu. Tak lagi berarti kepudaran rasa. Ketika mata ayam mulai rabun, anak-anak malah asyik berburu senja. Aku tak punya alasan untuk melarang anakku berburu senja. Kata anakku, senja melambangkan kemesraan. Ah, anak-anak sekarang ingin sekali beranjak dewasa dengan instan. Berduaan dengan lawan jenis di suasana lampu remang-remang dan saling bercakap manis manja. Senja tak selalu semerdu itu, sergah benakku.

Pengertian senja masa sekarang ini bertolak belakang dengan senja saat kecilku dulu. Senja yang penuh kewaspadaan, senja menandakan kemurungan dan senja wujud dari kegundahan langit atau biasa simbahku menyebutnya Candik Ala. Tak ada gambaran yang cerah ketika itu. Segala aktivitas harus diberhentikan. Ayam-ayam sesegera mungkin mengurung diri di kandangnya. Anak-anak tak diperkenankan ada di luar rumah.

“Ora ilok!” kata simbah dan semua pintu rumah harus sudah terkatup.

Simbah-simbah yang terdahulu sering mewanti-wanti cucunya, “Surup-surup aja pada dolan, mengko mendhak dicaplok buta.

Sebuah ucapan yang pasti telah tertanam di khayalan anak-anak zamanku dulu. Seakan menjadi nyata ketika dalang kesukaanku, Ki Narto Sabdo menciptakan tembang dolanan Buta-Buta Galak dan dulu sering mendengarkan kisah pewayangannya lewat radio. Tembang itu melegenda di tiap petang anak-anak yang tak kunjung pulang, karena jika ada yang telat pulang maka anak itu akan mendapat wejangan yang selaras syair-syair dari tembang itu. Simbah kakungku pun sering menembangkan tembang itu di malam hari  dengan suara lirih yang menenangkan tapi meneror.

Galo kae galo kae

Mripate plerak-plerok  rok rok rok rok

Kulite ambengkerok  rok rok rok rok

Mung kulite, ambengkerok

Setelah menembangkan lagu itu, simbah kakung mengisahkan bahwa dulu ada seorang dalang yang melihat buta mondar-mandir mengamati anak kecil. Buta itu bertingkah seperti harimau yang sedang kelaparan. Kemudian dalang memikirkan apa yang sedang dilakukan si raksasa bermuka jelek itu. Ternyata mata si raksasa tertuju pada anak kecil yang bermain di halaman rumah dan ketika itu langit berwarna kuning kemerahan dengan matahari mulai sembunyi di ufuk barat. Tak diduga, raksasa langsung menculik anak kecil itu.

Dalang itu mendadak linglung, karena anak kecil yang dilihatnya raib dibawa raksasa. Dia tak tahu harus bertindak seperti apa, kemudian ia tersadar dan berteriak-teriak, “Buta-buta! Ana buta nyulik bocah!” Sekejap di desa itu gempar dan para warga saling memperingatkan dengan suara  yang membuat warga lainnya menjadi waspada. Ada yang membawa kentongan terutama untuk para bapak. Ibu-ibu pun tak mau kalah dengan membawa wajan yang dipukuli dengan sutil. Suara ayam, kambing, sapi dan ternak lainnya bercampur saling bersahutan seakan ikut merasakan kerisauan warga. Meski suara gaduh itu semakin menjadi-jadi, si anak kecil yang diculik raksasa belum juga ditemukan.

Segala tempat telah disatroni warga dengan dibagi menjadi beberapa kelompok pencari. Mencari ke tempat di mana biasanya anak itu main, sendang yang dianggap keramat oleh warga, pohon beringin besar yang ada di tengah desa pun juga menjadi tujuan pencarian dan warga sangat berharap dapat menemukannya di situ. Ada yang mengatakan jika sarang raksasa itu berada di rimbunan pohon bambu tapi hasilnya nihil juga. Menyisiri sepanjang aliran sungai itu pun juga telah dilakukan warga.

Malam seakan tak membuat warga terpejam. Mereka masih sibuk mencari ke sana ke mari sambil membawa obor yang jika dilihat dari kejauhan seperti kunang-kunang yang berbaris rapi di setiap sudut desa. Dalang masih terbayang wajah dari raksasa itu yang matanya besar melotot, hidungnya seperti hidung babi yang bengkak, mulutnya lebar dan lidahnya menjulur panjang seperti dasi merah. Hanya dalang itu yang baru melihat tampang si raksasa dan ia tak bisa tidur karena hal itu.

Hingga fajar mulai merekah kembali, raksasa dan anak kecil yang diculiknya tak kunjung menampakkan diri. Dalang merasa gusar dan anak-anak kecil di desa itu tak berani keluar rumah sendirian. Orang tua dari anak kecil yang diculik itu pun sampai berujar jika anaknya ditemukan maka mereka akan menggelar pertunjukan wayang kulit tiga hari tiga malam. Mendengar ujaran seperti itu, dalang merasa sangat tersentuh hatinya dan ia rela tak  diberi upah asalkan masih diberi jatah makan, bicara dalam hatinya. Tapi dalang belum sepenuhnya tenang hatinya, karena di desa itu bukan hanya dia saja yang menekuni seni pedalangan wayang dan dia bisa dibilang dalang yang masih seumur jagung. Dia tetap ingin dan harus menjadi dalang dalam pentas wayang nantinya.

Dalang menemui orang tua dari anak yang diculik raksasa itu dan dia mengatakan sebuah keinginan jika ia berhasil menemukan anaknya maka dialah yang akan menjadi pedalang di pertunjukan wayang itu. Bahkan ia berjanji apabila itu terjadi, pagelaran wayang tersebut bukanlah sekadar pementasan seni wayang tapi peristiwa itu akan terkenang selamanya. Kemudian ia duduk menyepi di sebuah pematang sawah menunggu warna langit menjadi kuning kemerah-merahan yang membuat rupa wajahnya menjadi pucat bagai makhluk tak bernyawa. Di waktu seperti itulah raksasa telah menculik anak kecil. Sorot matanya tak henti mengintai dan hatinya tetap teguh dengan keyakinan bisa menemukan anak itu.

Suasana desa menjadi sunyi. Tak ada ayam berkokok, tak ada kambing mengembik dan seakan para binatang merasakan kehadiran sosok tak bisa tersentuh. Tak beberapa lama muncul kabut putih di segala sudut desa. Kemudian dalang itu mengucapkan mantra.

Buta-buta galak solahe lunjak-lunjak

Mlaku cikrak-cikrak nyandhak kunca nuli tanjak

Tanpa ada tanda suatu apa pun, langit tepat di atas dalang itu terjadi angin beliung. Tapi angin tersebut tak membuyarkan pekatnya kabut terpapar sinar kuning kemerah-merahan. Dalang masih teguh dalang duduk silanya. Disusul suara kenthongan warga yang semakin menggebu-gebu suara pukulannya. Para warga mendekati tempat semadi dalang dan sedikit demi sedikit kabut itu menghilang. Sampai pada akhirnya, dipangkuan dalang ada seorang anak kecil yang sedari kemarin menjadi golekan di desa itu.

Pagelaran wayang yang diinginkan dalang pun telah terlaksana dan mantra yang dilakukannya menjadi tembang dalam pementasan itu. Tembang yang masyarakat menyebutnya sebagai amalan untuk mendidik anak-anak.

Semasa kecilku, tembang itu tak sebatas nyanyian untuk anak kecil tapi juga untuk mengingatkan para orang tua supaya tidak lupa dengan tanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Aku sedikit ragu jika dalang yang dikisahkan oleh simbah kakungku itu ialah Dalang Ki Narto Sabdo. Aku memang belum pernah bertatap muka langsung dengan Ki Narto, tapi aku sudah mendengar suara pedalangannya yang tak terduakan. Sekarang dengan adanya internet, aku sangat bersyukur sekali karena hanya tinggal menulis Ki Narto Sabdo di google search maka akan muncul banyak sekali tulisan tentangnya. Dalam suatu artikel yang kubaca, dalang Ki Manteb Sudarsono mengakui gurunya itu sebagai terbaik yang pernah ada di Nusantara. Suara Ki Narto seakan dapat menghidupkan tiap tokoh wayang dan aku tercengang dengan idealisme di setiap ceritanya selalu berbeda-beda.

Pernah aku bertanya pada anakku, “Le, siapa pencipta tembang dolanan Buta-Buta Galak?” Dan dia malah menjawab, “Tembang dolanan itu apa to, Pak?”

Ah, sialan, gerutu dalam hatiku. Ketika di sekolah apa tidak diajari apa itu tembang dolanan. Ataukah sudah tak ada lagi pelajaran Seni Suara? tanya pada diriku sendiri. Tembang dolanan saja tak ada yang hafal, memang tak mudah ketika dulu aku belajar gendhing. Apalagi wayang kulit  yang sepi penikmat seperti sekarang ini.

Zaman sudah berubah, dan Ki Narto Sabdo sudah berpulang. Senja telah menjadi potongan hidup anak-anak sekarang dan Bojo Galak lebih dihafal anakku ketimbang Buta-Buta Galak.***

____________________

Denipram. Desainer digital grafis yang lahir di Jatisrono, Wonogiri. Ia juga menggeluti dunia sablon kaos yang nyambi kuliah kelas karyawan pada Prodi Bisnis Digital kampus UMUKA Solo.

Cerpen

Waribashi Ketujuh

Cerpen Diana Rustam

Shigeru memasukkan sebuah waribashi kayu ke dalam kantong jaketnya. Kantong jaket itu terlalu dangkal sehingga ujung waribashi mencuat keluar. Tetapi Shigeru tidak khawatir, ia justru senang jika waribashi itu tidak sepenuhnya tersembunyi. Ketika berjalan, Shigeru menggerakkan bagian pinggangnya lebih kasar, dengan demikian kantong jaketnya juga ikut bergerak, sehingga waribashi seperti hendak melompat dari kantong jaket itu.

Mata Shigeru berkeliling, kepalanya mendongak ke sudut-sudut ruangan. Ia melihat lensa kamera pengawas tepat menghadap kepadanya. Shigeru berdiri lebih lama di tempat itu dan memutar badannya sedemikian rupa.

Seorang perempuan paruh baya melintas, kemudian berdiri di samping Shigeru yang masih sibuk menggerak-gerakkan tubuh tuanya. Tanpa sengaja lengan Shigeru menyenggol perempuan itu, yang sedang bersungguh-sungguh memilih detergen di rak konbini.

Detergen yang sedang dipegang perempuan itu terlepas. Menyadari kesalahannya, Shigeru langsung meminta maaf, memungut detergen itu kemudian menyerahkan kembali kepada perempuan paruh baya. Shigeru membungkuk berkali-kali. Setiap kali kepalanya tegak, ia membungkuk lagi, seperti ayam yang mematuk makanan.

“Sungguh tak apa-apa.” Perempuan paruh baya meyakinkan Shigeru.

Namun Shigeru merasa tidak cukup. Setelah berjalan beberapa langkah, ia membalikkan badan secara tiba-tiba kemudian membungkuk dalam-dalam. Ia baru berhenti ketika perempuan itu memunggunginya.

Sembari berjalan di antara rak-rak konbini, Shigeru memastikan waribashi bersuara. Gesekan waribashi dan kain pelapis kantong jaket semakin terdengar apabila ia menggoyang-goyangkan badannya. Jika diperhatikan, sekilas Shigeru terlihat seperti orang yang sedang berolahraga.

Shigeru melewati meja kasir begitu saja tanpa membayar. Ia berjalan lambat-lambat. Seolah-olah kedua kakinya sedang kesemutan. Shigeru memang sudah tua, tetapi ia tidak pernah bermasalah dengan sepasang kakinya.

Setelah keluar dari konbini, Shigeru tidak langsung menjauh dari tempat itu. Ia berdiri di depan konbini seperti sebuah lampu jalan atau mesin gacha. Matanya memperhatikan pejalan kaki yang lalu lalang di jalur penyeberangan.

Seorang pemuda, pejalan kaki yang lewat, tidak sengaja menjatuhkan telepon genggamnya tepat di depan Shigeru. Shigeru buru-buru menunduk untuk mengambil telepon genggam itu. Saat menunduk, waribashi yang ada di dalam sakunya ikut meluncur jatuh.

Shigeru mengembalikan telepon genggam pemuda itu dan menunjukkan waribashi yang ada dalam genggamannya. Waribashi diangkat tinggi-tinggi melewati kepalanya sendiri, seolah-olah ia sedang mengibarkan bendera, sembari memberi tahu kepada pemuda itu dengan suara yang bergairah, “Yang ini milik saya, ya.”

Senyum pemuda itu melengkung kaku menanggapi semangat Shigeru. Ia membungkuk dangkal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Setelah merasa sudah cukup lama berdiri di depan konbini, Shigeru akhirnya pergi dari tempat itu.

Jarak konbini dan rumah Shigeru tidak terlalu jauh. Melewati sebuah taman yang dipagari bunga ajisai, lalu masuk di sebuah gang sunyi, rumah tua Shigeru terjepit di antara rumah-rumah lain yang sudah terlihat modern. 

Menggeser pintu, lalu melepas sepasang sandal di genkan, Shigeru menyapa, “Aku pulang.” Tetapi tidak ada sahutan dari dalam.  Deru jalanan dan suara serangga musim panas seperti terpotong pedang. Shigeru bisa mendengar detak jam dinding dari arah dapur.

Sebelum melepaskan jaket, Shigeru mengeluarkan waribashi yang diambilnya dari konbini, dan menyimpan benda itu di sebuah kotak kayu. Sekarang sudah ada lima pasang waribashi yang masih terbungkus kertas di dalam kotak.

Shigeru menatap waribashi itu, lantas menggaruk-garuk kepalanya yang beruban dan hampir botak. Kedua alisnya yang panjang terangkat ke atas sehingga matanya tampak luas.

Di balik jendela matahari yang akan tenggelam mengintip Shigeru tua yang duduk sendirian. Dari kacamatanya yang tebal, Shigeru membaca berita koran. Koran itu sudah terbit sejak tiga bulan lalu, tetapi Shigeru masih terus membacanya pada halaman yang sama setiap kali ia merasa perlu. Sebenarnya Shigeru tidak sepenuhnya mengerti, apa perlunya ia membaca berita itu terus menerus. Satu-satunya alasan yang masuk akal untuk Shigeru adalah karena ia mengenal orang yang ada dalam berita.

Hideo, sahabat lamanya, meninggal dunia sebelas bulan yang lalu, tetapi kematian Hideo baru diketahui setelah delapan bulan kematiannya. Shigeru tidak sanggup membayangkan apa yang dirasakan Hideo ketika kematian mendekat dan tidak seorang pun berada di sampingnya.  Ia bertanya-tanya apakah Hideo merasa takut dan kesakitan? Bayangan tubuh Hideo yang membusuk sendirian muncul setiap kali ia membaca berita itu.

***

Sepasang waribashi dari rak konbini yang masih terbungkus kertas sudah berada di dalam kantong jaket Shigeru. Ia juga mengambil satu kotak bento siap santap untuk makan siang. Shigeru memang jarang sekali memasak makan siangnya sejak Mifuyu istrinya wafat tiga tahun lalu. Shigeru tidak bisa menemukan arti makanan, jika ia makan sendirian setelah sibuk memasak.

Di meja kasir, Shigeru mengantre untuk membayar belanjaannya. Ia mengangkat lengan kanan tinggi-tinggi tanpa keperluan apa pun. Karena itu, dasar kantong naik dan ujung waribashi muncul seperti antena serangga. Mata kasir sempat menangkap ujung waribashi itu, lalu kembali pada kesibukannya.

Shigeru meletakkan kotak bento di meja kasir, membayar sesuai harga. Shigeru berbicara banyak, tersenyum sembari memainkan gagang kacamatanya.

“Hari yang cerah, ya,” kata Shigeru.

Kasir itu seorang gadis yang berwajah serius. Ia selalu terlihat seperti sedang mengurusi hal darurat.

“Musim panas yang indah.” Shigeru melanjutkan.

Hanya mengangguk kaku, kasir itu sama sekali tidak mengalihkan mata dari mengemas bento. Ia mengucapkan terima kasih dan menyodorkan struk belanja dengan nada yang naik pada bagian ujung suaranya. Situasi itu berjalan selayaknya, seperti kereta yang berjalan di atas rel.

Shigeru keluar dari konbini. Memasukkan tangan ke dalam kantong jaket untuk menggenggam waribashi yang diambilnya, ia berjalan pulang mengikuti garis kuning di trotoar. Shigeru menjaga langkahnya agar tidak keluar dari garis kuning itu. Berjalan mengikuti garis kuning membuatnya tidak memikirkan apa-apa, termasuk kematian Hideo atau ketidakberadaan Mifuyu.

Suara bel sepeda memecah keasyikan Shigeru. Seorang petugas polisi muda memintanya menepi. Petugas itu menatap Shigeru dengan menyipitkan mata. Tetapi, wajahnya yang bulat, pipinya yang kemerahan, dan alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, tidak memberi kesan mengancam sekalipun ia memandang penuh selidik.

Petugas itu memeriksa kartu identitas Shigeru dengan cepat. Ia membetulkan letak topinya, menarik napas, mengusap hidung, lalu melihat sekeliling sebelum kembali menatap Shigeru.

“Ando-san, apa yang membuat Anda mencuri waribashi?” ia menekan suaranya.

Shigeru melirik kantong jaketnya. Ia tertawa renyah. “Eh? maafkan saya. Saya tidak tahu dia menyelinap di sini.”

“Anda sedang tidak sehat?”

Memegangi jidatnya dengan punggung tangan kanan secara dramatis, Shigeru balik bertanya, “Apakah saya terlihat sakit?”

Petugas melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian berkata, “Lain kali jangan lakukan lagi. Benar-benar jangan diulangi.”

“Omawari-san akan membawa saya ke kantor polisi?” Shigeru mendekatkan wajahnya saat bertanya. Ia tersenyum, sehingga giginya yang renggang terlihat.

Sebelum menjawab, petugas melonggarkan kancing paling atas seragamnya, dan menyandarkan sepeda secara sembarangan, “Sekarang tidak perlu.”

“Tapi saya sudah ketahuan mencuri.”

“Itu hanya waribashi. Tapi, tetap saja jangan ulangi lagi.”

Wajah Shigeru mengerut. “Biar bagaimanapun saya sudah mencuri.”

“Lain kali curilah yang lebih mahal, Ando-san.” Petugas membalas sembari menepuk kantong jaket Shigeru, kemudian tertawa kecil, tetapi tawanya lenyap dengan cepat.

“Kalau begitu, konbini akan rugi besar. Saya tidak tega.”

“Karena itulah Anda akan dibawa ke kantor polisi.”

Shigeru terkekeh.

“Saya harus mengantar Anda pulang.” Petugas muda itu meraih setang sepeda, menuntunnya, dan menjajari langkah Shigeru.

“Karena saya sudah mencuri waribashi?”

Petugas itu menelengkan kepalanya. “Kira-kira begitu, Ando-san.”

Angin musim panas berembus pelan, suara serangga muncul dari balik pepohonan lebat di taman yang mereka lewati. Petugas muda mendengarkan cerita-cerita tua Shigeru sepanjang jalan. Sesekali ia menimpali dengan gaya bicara mirip Shigeru, tetapi belum terbiasa, “Ah, begitu, ya.”

Shigeru tidak langsung membiarkan petugas itu meninggalkannya ketika mereka sampai. Ia segera membuat undangan mendadak siang itu. “Apakah kau suka namazake, Omawari-san?”

Petugas muda itu terkejut, ajakan Shigeru berlebihan. Tetapi Shigeru sedang berdiri di depannya dengan senyum seorang kakek.

Menyajikan sake musim panas, Shigeru menjamu petugas muda itu. Dalam suasana yang masih canggung, di salah satu sudut ruangan, petugas itu menyadari sebuah butsudan. Di punggung altar itu ada guci abu yang terbungkus kain sutera putih, dupa, semangkuk teh hijau, dan foto wanita tua dalam bingkai hitam yang tersenyum di balik kaca. Ia juga mengingat, ketika melewati genkan, hanya ada sepasang sandal dan sepatu milik lelaki dengan selera yang tua.

Petugas muda itu meneguk namazake. Ia melakukannya dengan perlahan agar terasa lebih panjang. Tidak menunggu Shigeru menawari, ia meminta tambahan beberapa cangkir lagi sambil mendengarkan lelucon kuno Shigeru. Dalam sekejap ia menjadi tua untuk bisa menertawakan lelucon-lelucon itu.

Tiba-tiba ia sadar, tidak boleh terlalu lama karena sedang bertugas. Sebelum  meninggalkan Shigeru, petugas itu membungkuk dan kembali mengingatkan, “Ando-san tidak boleh mengambil waribashi di konbini.”

“Kalau saya melakukannya?”

“Saya akan memeriksa Ando-san lagi.”

Shigeru tertawa girang. “Kalau begitu, saya juga akan menyiapkan makanan kecil untuk kita besok.”

Petugas muda itu berlalu, mengayuh sepedanya dengan wajar. Seragam birunya menghilang di balik sebuah bangunan  tinggi.

 Shigeru duduk sendirian, matahari musim panas menatapnya dari balik jendela. Lelaki tua itu meletakkan waribashi keenam dalam kotak kayu. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya kencang-kencang, seperti pohon yang merontokkan daun-daun kering di musim gugur. Dalam hati, Shigeru bertanya tentang besok dan waribashi ketujuh.***

Makassar, 2026.

Glosarium:

Waribashi: sumpit kayu sekali pakai

Konbini: minimarket

Butsudan: altar rumah tangga Jepang untuk menghormati leluhur, biasanya berisi foto, guci abu, dan dupa.

Namazake: jenis sake musim panas

Genkan: area masuk rumah, tempat melepas sepatu.

____________________

Diana Rustam. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerpen dan puisinya telah dimuat  media daring. Ig: dianarustam_

Cerpen

Katak, Kebohongan, dan Perempuan

Cerpen Andri Saptono

Aku mengunjungi perpustakaan kota hampir seminggu berturut-turut. Perjalanan dari rumah aku capai dengan naik ojek online. Kebetulan karena memang sepeda motorku sedang rusak. Dan di musim penghujan ini hal itu kurasa lebih menguntungkan. Aku biasa pulang kalau hujan sudah reda dengan memesan ojek online langgananku.

Hujan sebenarnya membuatku lebih betah di perpustakaan ini. Sambil membaca buku dan sesekali kusempatkan menulis cerita yang harus segera kurampungkan ini. Dengan begitu hujan mengurungku tetapi sekaligus memberikan waktu lebih banyak agar bisa bercengkrama dengan ceritaku. Maksudku, kau tak akan bisa merampungkan cerita jika kau tak selalu berhadapan dengannya. Mimpi fiksi, ya, kukatakan ini adalah mimpi fiksi yang jika terpenggal kau akan kehilangan banyak hal dengannya.

Ah, ya, penulis fiksi macam aku ini harus punya cara untuk mentriger diriku sendiri agar bisa menulis segera. Terkadang penulis lain, dia bisa melakukan cara-cara yang ekstrim agar bisa segera menulis. Menghisap ganja, atau triger lainnya yang kadang bisa sangat ekstrim untuk orang biasa.

Nah, hari ini aku tak mendapatkan triger apa pun di meja perpustakaan ini. Bengong menghadapi jendela perpustakaan. Dan buku yang seakan mengambang di depanku. Sampai tiba-tiba seekor katak pohon melompat tepat berada di buku terbuka di depanku.

Jantungku berhenti karena kaget melihat katak hijau itu. Pun katak itu juga menatapku dengan waspada. Ada selama 10 detik kami berpandangan. Kami saling mengunci dengan tatapan mata. Dan barulah ketika telepon genggamku di meja bergetar –kami juga saling terkejut karena bunyi tiba-tiba itu- katak hijau melompat menuju ranting yang menjulur dekat mejaku.

Kuambil telepon dan sambil kuedarkan pandangan pada katak hijau itu.

“Han, kau di mana?” Suara Esti, pacarku yang menelpon.

“Aku di rumah,” kataku berbohong.

Oh, soal berbohong ini nanti kau pasti tahu maksudku. Tidak setiap hari atau setiap saat aku berbohong. Toh, ini lebih bermanfaat bagiku karena aku membutuhkan banyak waktu agar bisa segera merampungkan ceritaku ini.

“Kamu longgar, kan? Aku ingin ketemu…”

“Entahlah, tapi kayaknya aku harus segera pergi karena ada acara lainnya…”

“Kita ketemu di sana saja…”

“Tidak bisa… acaraku itu tidak memungkinkan kita bicara panjang lebar. Aku ada pengajian…”

“Ha… pengajian.. beneran? Sejak kapan kau ikut pengajian segala…”

“Itu tidak penting.. tapi memang aku tidak bisa…”

“Aku kok merasa kamu ingin menghindariku…?”

“Bukan begitu….”

“Iya, aku merasa begitu kok. Akhir-akhir ini….”

Telepon kututup segera! Tak peduli dengan telepon yang berdering lagi. Ia pasti kesal sekali. Dan kalian jika menganggapku ini brengsek karena kelakuanku itu, aku tak keberatan sama sekali. Ada hal yang prioritas yang harus kukerjakan. Dan kalau begitu itu juga bukan kesalahanku. Toh, aku tidak mungkin bisa menerima segala yang orang lain inginkan padaku.

Ah, sial! Gara-gara telepon sialan itu aku kehilangan fokus dengan ceritaku. Dan kepada siapa kusalahkan hal ini kalau bukan gara-gara telepon sialan tadi.

Sialnya lagi, ada larangan merokok di perpustakaan ini. Jika ada rokok, kurasa akan lebih baik keadaannya.

Sambil bengong ternyata kudapati katak hijau itu masih bertengger di tempatnya. Hanya posisinya sekarang ia berubah. Tidak tampak sedang ingin melarikan diri. Tapi kini berhadapan denganku. Dan bisa saja, ia barusan melihatku dengan telepon sialan itu. Entah ia menertawakanku atau sedang ingin mengejekku.

“Hei, aku tahu yang ada dalam pikiranmu?”

Kudengar katak itu berbicara padaku. Ya, benar-benar berbicara.

“Kau bicara barusan?”

“Iya, kami –katak dan hewan lainnya- punya kekuatan semacam itu. Jika kami menginginkan bicara dengan manusia kami bisa melakukannya. Dan kau kupilih memang. Hanya yang kami pilih yang bisa melakukannya.”

“Benarkah?”

Aku benar-benar tidak tahu soal ini. Bahkan kurasa di kitab suci tidak ada yang membicarakan hal ini, kecuali kisah Sulaiman yang punya kemampuan bicara dengan hewan. Tapi, sulaiman adalah nabi. Itu beda persoalannya.

“Hei, tidak perlu bingung soal aku bicara padamu. Aku bahkan juga tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang?

“Memangnya kau tahu?” Aku mengernyitkan dahi.

“Kau barusan berbohong bukan?”

Aku benar-benar terkejut.

“Benarkah kau tahu itu…”

“Ya, aku bisa melakukannya. Pun aku tak peduli soal apa pun denganmu. Dan kalian orang-orang yang datang silih berganti ke perpustakaan ini.”

“Oh, kau ternyata katak skeptis ya?”

“Itu bukan urusanmu!”

“Siapa bilang bukan urusanmu. Gara-gara kamu datang ke mejaku jadi membuyarkan konsentrasiku menulis. Aku kehilangan momen itu. Jadi, apakah itu bukan karena kesalahanmu?”

Aku berusaha menekannya. Dengan begitu ia akan merasa bersalah.

“Aku tidak lihat kau menulis. Kau pembohong murahan!”

“Hei jangan menyebutku pembohong. Kau juga sok tahu.”

Entah mengapa aku merasa tersindir. Walaupun dalam konteks kejadian yang kualamai, memang benar sih aku berbohong tadi pada pacarku.

“Kalian manusia perlu tahu, sebelum tempat perpusatakaan ini dibangun, nenek moyangku sudah tinggal di sini. Dan kalian manusia menggeser habitat kami untuk bangunan-bangunan semacam ini.”

“Hei, kau harusnya bangga. Ini perpustakaan. Bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa.”

“Ya, kau dengan segala tipu daya kalian soal pembangunan. Tapi merendahkan semua makhluk hidup selain kalian. Termasuk menggusur habitat kami.”

“Soal itu benar! Dan mungkin saja kami lakukan. Tapi kami juga punya pertimbangan hidup dan maslahat. Kau paham maksudku, kan katak?”

Ya, aku sendiri sebagai penulis memang terlihat berjarak dengan persoalan semacam itu. Targetku sekarang adalah menulis novel dan terus menulis novel. Kalau bisa minimal sebulan sekali aku harus merampungkannya. Kalian juga pasti tahu alasanku ini mengapa. Persaingan dalam novel semakin ketat. Banyak penulis bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Sementara dunia perbukuan semakin ditinggalkan peminatnya. Lebih banyak orang memilih membaca buku di wattpad atau platform semacamnya. Senja kala dunia buku, begitu Bre Redana pernah mengatakan.

Toh, persoalan tata kota dan bangunan semacam ini atau persoaalan lingkungan hidup, memang aku tak concern padanya. Aku lebih suka mengulik tentang masalah psikologis dalam tokoh-tokohku. Bagaimana mereka menyelesaikan masalah mereka, affair mereka, dan bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan. Dengan cara beginilah para pembacaku akan terus memuji dan mengikuti novelku. Dengan begitu juga nasib ekonomiku tidak akan memburuk.

 Dengan ini juga aku memutuskan harus berjarak dengan pacarku. Perempuan kau tahu mempunyai tabiat yang terkadang posesif. Mereka suka dengan pemujaan, perhatian, kelembutan, alih-alih menjadikan para lelaki menjadi tidak adil pada dirinya sendiri. Ya, itu pendapatku. Kau bisa keberatan atau berbeda pendapat. Tapi aku harus konsisten dengan sikapku, kan…

“Hei, kalau boleh aku minta tolong padamu?”

“Maksudmu?”

“Aku ingin menyampaikan keberatan dari katak-katak yang berkoloni denganku. Yang jumlahnya sekarang tidak sebanyak dulu lagi. Dan beberapa harus terbunuh karena memutuskan pindah dari tempat ini.”

Aku tahu memang di sekitar tempat ini tidak banyak lahan hijau. Ada taman yang dibangun dengan air mancur yang jaraknya sekitar 100 meter dari tempat ini. Mungkin kalau pindah ke sana, sebenarnya lebih  bagus untuk mereka.

“Ada satu kebun di belakang bangunan perpustakaan ini. Aku dengar kemarin ketika insinyur itu berbicara di balkon ini dengan kepala perpustakaan yang berkepala botak itu. Mereka akan membuat tempat monumen untuk seorang perempuan yang konon sastrawan terkenal di kota ini. Siapa namanya, aku lupa…”

“Benarkah? Aku tidak tahu ada sastrawan perempuan yang terkenal di sini?”

“Aku tidak peduli dengan namanya. Tapi yang penting adalah monumen itu tidak kemudian menggusur lahan kami hidup.”

“Aku tidak terlalu kenal dengan pimpinan perpustakaan ini. Tapi kudengar gosipnya, kepala pimpinan itu baru terjerat skandal dengan seorang perempuan. Maksudku, untuk membuat dia berubah pikiran kau harus punya cara sesuatu. Seperti begini misalnya, kau bisa mencari seorang perempuan yang cantik ada di sini, dan kau bicara dengannya agar bisa membujuk kepala perpustakaan ini. Siapa tahu hal ini bisa berhasil. Seorang yang kalah dengan perempuan, selamanya dia lebih mudah ditundukkan dengan perempuan.”

“Kau bisa membantuku mencari perempuan semacam itu? Pacarmu mungkin…”

“Oh, jangan pacarku… aku baru ingin  menghindarinya…”

“Oh, kau selingkuh ternyata?”

“Bangsat kau menuduhku seperti itu. Aku tidak berselingkuh. Kukatakan aku ingin menghindarinya.”

Lalu kuceritakan kalau aku sedang menulis novel. Novel itu harus selesai akhir tahun ini. Dan aku tak boleh diganggu.

“Perempuan terkadang rempong.. dan mereka harus dihindari itu. Btw, kau punya pacar juga.”

“Pacarku banyak. Kami tidak mengenal pacar dan hubungan biologis semacam itu…”

“Wah, menarik…. Hehe…”

“Ya, dan kau bisa bercinta dengan siapa pun… itu menyenangkan… hahaha…”

Aku ikut tertawa…

“Dan untuk katak, yang perlu kau lakukan adalah pandai melompat setiap malam untuk mendatangi setiap katak betina  yang sudah birahi itu…”

“DRDRDREEEEK…” Teleponku bergetar di meja.

“Sebentar… aku ada panggilan…”

“Ya, silakan. Mungkin itu pacarmu yang sedang birahi juga. Hahaha …”

Tak kudengarkan katak yang mengejekku itu. Tak lama kudengar suara di seberang yang tersambung. Suaranya pelan, tapi penuh tekanan. Ingin meminta perhatianku.

“Ya, bagaimana?”

“Aku membutuhkan pendapatmu. Tapi kita harus bertemu.”

“Tidak bisa ditelepon saja.”

“Brengsek. Aku hanya butuh ketemu. 15 menit saja. Setelah itu aku tidak akan menganggumu.”

Aku menghela napas. Berpikir sebentar. Amat susah jika aku menolaknya kali ini. Mungkin dia akan benar-benar marah. Dan itu sesuatu yang tidak menguntungkan buatku.

“Baiklah, kau bisa temui aku di perpustakaan. Di balkon atas. Aku tunggu…”

Kumatikan telepon agar tidak ada lagi telepon masuk. Aku membutuhkan konsentrasiku sekarang. Setidaknya lima belas menit sebelum Esti datang untuk bisa melihat tulisan dan membubuhkan beberapa hal catatan kelogisan di sana. Itu yang menjadi kekurangan dalam ceritaku yang banyak orang sebut. Mau tak mau aku harus mengakomodir hal itu.

“Apakah pacarmu akan datang?” katak itu bertanya padaku.

“Iya, lima belas menit lagi. Dan kau harus pergi. Karena ia tak suka dengan katak. Maksudku bukan karena jijik, tapi karena geli… kau tahu kan maksudku?”

“Oke, tak masalah. Tapi sebelum pergi. Aku hanya titip pesan tadi, soal rencana pembangunan itu, aku butuh bantuanmu. Setidaknya, hanya manusia kau saja yang pernah kuajak bicara.”

Tak lama kemudian, Esti datang. Kuamati sekilas, matanya agak bengkak. Ia mungkin barusan menangis kurasa.

“Ada apa?” tanyaku setelah ia duduk di depanku.

“Aku memutuskan akan pergi dari rumah. Ayah dan ibu terus bertengkar. Aku takut kau juga akan pergi dariku.”

Esti menunduk. Terisak.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku selalu memikirkanmu.”

“Benarkah?”

“Percayalah.”

Aku merangkulnya sambil memastikan katak itu tidak melihatku. Ia tahu pastilah aku sedang berbohong, katak sialan itu. Tapi, mungkinkah, katak atau hewan apa pun bisa melihat kebohongan pada manusia. Tapi, biarpun begitu, kebohongan ini kulakukan agar Esti tenang menghadapi keadaannya sekarang.

“Apakah aku boleh tinggal denganmu?”

“Apa maksudmu?”

“Setidaknya, setelah persoalan ibu dan ayah selesai. Aku tak mau mendengar mereka terus terusan bertengkar.”

Aku tak bisa segera menjawab. Ya, kau tahu aku membutuhkan waktu untuk segera merampungkan tulisanku.

“Tapi aku tak yakin. Aku sedang dikejar deadline tulisan. Kau tahu pekerjaanku kan?”

“Aku hanya perlu tinggal di rumahmu saja. Boleh kan?”

Aku tak tahu, apakah bisa melakukannya. Dengan demikian dia akan masuk ke dalam hidupku. Sementara novelku tidak akan bisa selesai dengan cara seperti itu.

“Bagaimana? Aku tidak tahu tempat aku tinggal jika pergi…”

Ya, mengapa semua orang kini meminta tolong padaku soal urusan tempat tinggal ini. Yang pertama katak itu, dan sekarang pacarku. Apa yang bisa kulakukan. Apa mungkin katak itu bisa bertukar tempat denganku. Dengan begitu aku bisa menghindar dari Esti, tapi aku tidak akan bisa merampungkan tulisanku. Sementara katak itu mungkin nanti bisa mengatasi masalah penggusuran habitatnya itu jika berubah menjadi manusia. Tapi, apa mungkin itu bisa terjadi.

Aku akhirnya memang tak memberi jawaban seketika itu. Esti tampak tertekan ketika nanti aku akan mengabarinya. Mungkin ia berharap aku akan membolehkannya seketika itu sebagai tanda sayangku. Alih-alih aku membiarkannya pergi dengan keadaan yang sedih seperti itu.

Ketika katak itu muncul lagi, aku ceritakan kisahku dan kisah Esti itu padanya. Ia tampak mendengarkan dengan saksama.

“Hei, aku bisa membantumu. Dan kau juga mendapat keuntungan dengan ini?”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu kita bisa bertukar tempat. Ya, kau jadi aku hidup dengan koloni katakku. Kau bisa bercinta dengan betina mana saja yang kau suka, asalkan kau bisa melompat dengan cepat dan tangkas. Dan aku akan berusaha menyelesaikan permasalahanku jika aku bisa menjadi manusia untuk mendekati kepala perpustakaan itu.”

“Itu gila, dan aku tak ingin bercinta dengan katak. Itu menjijikkan sekali.”

“Haha.. kau belum pernah mencobanya. Kau tahu itu akan membuat moodmu menulis kembali lancar. Bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Sama-sama adil, kan?”

“Lalu, ketika kau jadi aku, kau juga akan bercinta dengan pacarku?”

“Tergantung situasinya… apa kau keberatan?”

Hanya mataku yang meradang. Tapi bibirku terdiam menahan diri untuk tidak menyumpahinya alih-alih orang-orang di perpustakaan ini akan melihatku sebagai orang gila yang tiba-tiba bersumpah serapah sendirian.***

____________________

Andri Saptono. Penulis yang lebih banyak menghabiskan waktunya di antara naskah, buku, dan kata-kata yang menunggu dilahirkan. Selain menulis, ia aktif bergerak di dunia penerbitan dan terus menyertai perjalanan banyak naskah hingga menemukan bentuknya sebagai buku. Baginya, kata-kata bukan sekadar untuk ditulis, tetapi juga untuk dirawat, ditumbuhkan, dan diberi kesempatan menemukan pembacanya. Sesekali ia menulis untuk dirinya sendiri, tetapi lebih sering membantu tulisan orang lain menjelma menjadi buku. Mungkin, begitulah cara ia tetap percaya bahwa dunia masih bisa diselamatkan—satu buku demi satu buku.

Cerpen

Terlambat

Cerpen Angelin K. Tahir

Harum melati dan sedap malam mengambang tipis di rumah duka itu. Bau yang tidak asing bagi Noto, meski ia tak ingat sejak kapan. Orang-orang datang dan pergi, menunduk, berbisik, lalu menghilang.

Noto duduk di pojok ruangan, di kursi yang sejak tadi jarang dipilih orang. Dari sana ia melihat pintu, peti jenazah yang tertutup kain putih, dan wajah-wajah yang sekilas memerhatikannya lalu ragu. Beberapa menyalami, sebagian hanya mengangguk. Tidak ada yang benar-benar bertanya.

Seandainya waktu bisa diputar kembali. Pikirannya berhenti di sana. Tidak sampai ke masa kanak-kanak. Cukup ke satu sore yang selalu muncul kembali setiap kali ia mencium bau bunga melati.

“Mas Noto, kapan tiba?” sapa seorang lelaki setengah baya.

“Tadi jam sepuluh.”

“Lama tak pernah kemari.”

Noto mengangguk, sesungging senyum tipis di bibirnya.

Tiga belas tahun lalu, Noto singgah membawa kain seragam pernikahan Mbak Nana. Almarhumah memintanya berhenti sebentar, tak usah lama. Ia menurut, meski ingin segera pulang.

Almarhumah menyambutnya dengan senyum yang terlalu hangat untuk seorang tamu. “Kapan lagi bisa bertemu denganmu, Noto,” katanya. “Bagaimana kuliahmu? Kata ibumu, kamu dapat beasiswa.”

Noto terdiam sesaat. Ia belum menceritakan itu kepada siapa pun selain kepada Ibunya. Ia mengangguk, menyerahkan kain, lalu berdiri canggung.

“Kamu makin kurus,” lanjutnya sambil merapikan kerah kemeja Noto. Tangannya berhenti sedikit lebih lama. Sentuhan itu ringan, tapi meninggalkan bekas yang sulit dihapus.

Di dinding, foto-foto lama tergantung rapi. Ada satu yang selalu menarik perhatiannya: seorang perempuan muda dengan senyum yang terasa ganjil—bukan asing, tapi juga bukan kenangan. Noto memalingkan wajah.

“Kamu makin mirip…” Almarhumah menggantungkan kalimatnya.

“Mirip siapa?” tanya Noto.

“Tidak apa-apa.”

Mereka tertawa kecil. Namun ada sesuatu di dada Noto yang mengeras, seperti pertanyaan yang menolak disebutkan. Ia pamit lebih cepat dari rencana, menahan diri untuk tidak menoleh saat melangkah pergi.

Sore itu, almarhumah mengantarnya sampai pagar. Matahari rendah, bayangan mereka memanjang di tanah. “Noto,” panggilnya.

Ia berhenti. Ada jeda yang terlalu lama untuk basa-basi. Almarhumah menatapnya, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama ia simpan. “Kalau suatu hari kamu ingin bertanya,” katanya pelan, “jangan menundanya terlalu lama.”

Jantung Noto berdegup lebih cepat. Ia tahu pertanyaan itu sudah lama ada, berputar-putar di kepalanya tanpa pernah menemukan pintu keluar. Apakah engkau ibuku? Namun kalimat itu tertahan. tercekat di kerongkongannya. Yang keluar justru alasan yang paling aman.

“Saya harus segera pulang. Ibu menunggu.”

Almarhumah mengangguk. Senyumnya tipis, seperti seseorang yang telah menyiapkan diri untuk jawaban itu. “Hati-hati di jalan.”

Sejak sore itu, tak pernah ada waktu yang benar-benar terasa tepat. Doa-doa kembali mengalun di rumah duka. Noto memandang peti jenazah lama sekali. Ia tidak maju, tidak pula menunduk terlalu dalam. Bau melati terasa lebih pekat, seperti mengikat ingatan yang selama ini ia biarkan longgar. Ia teringat pagar, sentuhan singkat di kerah kemejanya, kalimat yang hampir terucap—dan pilihannya sendiri untuk menundanya.

Noto menarik napas. Ia menyadari sesuatu yang datang terlambat dan tak bisa diperbaiki: bahkan jika waktu benar-benar bisa diputar kembali, ia mungkin tetap memilih diam. Beberapa pertanyaan tidak mati karena tak terjawab, melainkan karena terlalu lama dibiarkan hidup.

Di luar, para pelayat mulai pulang. Rumah duka lengang. Bau bunga tetap tinggal. Noto berdiri, melangkah keluar tanpa menoleh. Yang tertinggal bukan penyesalan yang gaduh, melainkan kesadaran dingin bahwa yang paling terlambat bukanlah kedatangannya hari ini, melainkan keberaniannya, bertahun-tahun lalu.

Jakarta, 09.26

____________________

Angelin K. Tahir. Kelahiran Makassar. Menyukai traveling dan kuliner. Beberapa buku antologinya berupa puisi, fiksimini dan cerpen telah diterbitkan dan buku solonya, Kumpulan Cerita Gerbang Kedua diterbitkan pada 2025

Cerpen

Mengganti Istri

Cerpen Kesit H. Setyadji

Jika ada kesempatan mengulangi hidup, maka aku akan melakukan satu hal yang barangkali juga dipikirkan para lelaki yang sudah menikah, yaitu mengganti istriku. Ya, telingamu tidak salah dengar. Memang terdengar banal. Namun, jika mengikuti kisahku, kau akan mengerti, lalu memahami, dan akhirnya setuju dengan pilihanku.

Aku sebenarnya ragu untuk menceritakan kepadamu. Ada yang bilang, tidak baik mengumbar borok rumah tangga. Segala permasalahan rumah tangga harus tersimpan rapat dari balik pintu rumah. Pun dinding-dinding rumah tidak boleh mendengar. Bahkan katanya angin juga bisa menyebarkannya. Bisa saja kau menduga ada permasalahan besar di rumah tanggaku. Tidak, justru rumah tanggaku sangat harmonis dan romantis. Kalau riak-riak kecil tentu ada, sewajarnya kehidupan rumah tangga.

Perselisihan kecil akan menjadikan hubungan suami istri terasa semakin intim dan mesra. Itu salah satu isi ceramah Ustaz Mukino di pengajian ibu-ibu, di masjid ujung jalan desaku, setiap Minggu pagi. Ia sering kali menggunakan tema-tema domestik keluarga dalam khotbahnya. Aku memang jarang ke masjid, tetapi suaranya dari pengeras yang dipasang di atap bangunan itu sampai di rumahku, bersanding dengan dangdut koplo yang terasa lebih enak di telingaku. Oh ya, ada sedikit cerita tentang Ustaz Mukino yang menurutku lucu. Barangkali kau butuh sedikit hiburan di sela-sela penatmu menghadapi hidup yang semakin ruwet setelah presiden kita dipegang Pak Anu, yang pidatonya tidak jauh dari antek-antek asing, nye-nye, ndasmu, dan emang gue pikirin. Sebagai warga negara yang baik, seyogyanya kita selalu sabar saja. Terpenting, hari ini kita tetap bisa makan dan kerja lembur di ranjang jalan terus.

Bangsat! Sampai mana tadi? Gara-gara Presiden Anu, ceritaku malah melantur.

Jadi begini. Di suatu pagi yang cerah, waktu itu aku sedang menyapu halaman, ketika Ustaz Mukino datang ke rumahku. Ia mengutarakan maksud dan tujuannya yang berputar-putar hingga setengah jam lebih, berakibat aku dimarahi istriku. Sampai di ujung celotehnya, ia ingin meminjam duit. Asu! umpatku dalam hati. Katanya, jadwal ceramahnya sedang sepi, karena ada ustaz muda dan ganteng yang lebih disukai ibu-ibu pengajian. Wajahnya memang terlihat memelas waktu itu. Katanya juga, semalaman istrinya mengunci di luar rumah, karena belum memberi jatah uang bulanan. Hatiku terketuk mendengar ceritanya. Aku memberikan beberapa lembar merah tanpa sepengetahuan istriku. Setelah menerima uang itu, ia berjanji, paling lambat dua minggu akan mengembalikan utangnya. Senyum kecilku mengiringi punggung Mukino yang mulai menjauh dari rumahku. Seorang ustaz yang sering berdiri gagah di mimbar, tetap bertekuk lutut di hadapan istrinya. Ada-ada saja.

Bagaimana ceritaku tadi, lucu bukan? Tapi, dari raut wajahmu, rasa-rasanya kau tidak begitu suka dengan ceritaku. Maaf, jika aku terkesan seperti melecehkan Ustaz Mukino, tapi itu kenyataan yang kualami. Oke, aku akan fokus kembali ke perihal mengganti istriku.

Pernikahanku sudah berjalan sepuluh tahun. Setiap pagi, istriku selalu membuatkan secangkir kopi. Itu pesan ibunya, seorang istri harus menyajikan minuman kepada suaminya, sebelum melakukan pekerjaan rumah tangga. Dengan begitu, suami akan selalu betah di rumah dan tidak akan menyeleweng dengan perempuan lain. Padahal kau tahu, isi otak laki-laki tidak akan jauh dari leher, dada, bokong, paha, dan selangkangan perempuan. Bisa jadi laki-laki tidak akan selingkuh, tapi aku sangat yakin jika ada kesempatan pasti ia akan melakukannya. Kau pernah selingkuh? Belum pernah? Ah, kau jangan mengingkari batinmu. Aku tahu kau menyembunyikan pesan-pesan nakal yang kau hapus setiap kali selesai percakapan itu. Jujur saja! Aku akan menyimpan erat. Jangan khawatir. Memang sih, mulutku terkadang sedikit ember, seperti menceritakan kisah Ustaz Mukino tadi.

Aku juga pernah melakukan hal itu. Untungnya kesadaranku masih boleh dibilang cukup bagus, sehingga aku tidak berlanjut ke hal-hal yang diinginkan. Maksudku, hal-hal bodoh yang akan merusak rumah tanggaku. Kenapa aku bilang begitu, karena aku pernah mendapati bapakku, orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang penuh kharisma, sabar, pokoknya bapak dan suami yang baik, sedang berduaan dengan teman kerjanya di sebuah warung makan. Bapakku duduk berdempetan dengan perempuan itu. Matanya sungguh genit memandang selingkuhannya. Ia mengira aku masih kecil dan polos melihat gelagat orang dewasa yang sedang dimabuk asmara. Padahal sejak kecil aku sudah mengenal cinta dan hal-hal yang dianggap tabu. Aku jadi ingat, suatu malam, di desaku yang sepi, bersama teman-teman mengintip dari lubang dinding bambu. Tetanggaku, laki-laki paruh baya sedang menindih istri temannya, ketika suami perempuan itu sedang bertugas jaga malam di balai desa. Dan itu menjadi hal biasa di desaku. Jantungku berdegup kencang, melihat adegan dewasa itu. Ketika mereka sedang terengah-engah bergulat dalam gelora berahi, salah satu temanku kentut. Suaranya yang cukup keras membuat laki-laki di balik bilik itu kalang kabut. Segera mengenakan celananya. Tergopoh-gopoh bertelanjang dada, keluar dari pintu belakang rumah itu.

Sekali lagi maaf, aku melantur lagi. Sesungguhnya aku sangat sebal dengan jalan pikiran otakku. Selalu saja tidak fokus. Apakah karena aku pendiam, sehingga ketika berbicara ingin menyampaikan banyak hal. Aku mohon, kau jangan bosan dan tekun mendengarkan ceritaku. Jika ingin menyeruput minumanmu yang sudah mulai dingin atau menyalakan rokok, aku persilakan. Namun, tolong tetap letakkan pantatmu di kursimu. Bolehlah kiranya jika kau ingin melirik sebentar kepada wajah ayu penjual warung ini. Tetapi, perempuan itu masih kalah dibandingkan istriku. Aku tidak akan tergoda dengannya, meskipun dibayar jutaan rupiah. Kau pasti bingung, lalu apa alasan yang menyebabkan aku ingin mengganti istriku. Meskipun kau tidak mengatakan, tapi instingku kuat dalam membaca mimik dan gerak-gerik tubuhmu.

Perkara masakan, tidak perlu ditanyakan lagi. Istriku adalah juaranya. Dan, kau juga mengamini hal itu. Ia menjadi koki dalam setiap acara hajatan di desaku. Jika istriku berhalangan tidak bisa rewang, maka sajian di hajatan itu akan terasa kurang mantap dan sedikit hambar. Makanya, aku jarang makan di warung. Terlebih, istriku pasti akan memberikan penilaian-penilaian tentang masakan itu. Kurang bumbu ini, kurang lama masaknya, kurang anu, kurang itu, dan kurang memakai hati dalam memasak. Meski agak menjengkel di telinga, tapi aku tidak menyangkal perkataannya, karena memang begitulah rasanya. Kemampuan memasaknya diturunkan dari neneknya yang juga koki kondang di desaku. Aku sungguh beruntung mendapatkan istriku. Sampai detik ini, aku belum pernah mengecap makanan seperti masakan istriku. Kalau mendekati sih, memang ada, tapi sayang agak jorok masakannya. Aku pernah mendapati tai kambing dalam tumis kangkung. Coba bayangkan. Ketika mengangkat sendok dan hampir masuk ke mulutmu, sebutir srintil hitam berada di atas nasi putih. Aku tidak peduli. Melahap makanan itu sampai tak bersisa. Sayang uangnya. Jangankan perkara tai kambing, makan di samping orang sedang muntah pun, sudah pernah aku lakukan.

Urusan merawat anak, nah itu yang membuatku bingung. Sejauh pengamatanku, istriku tidak pernah marah kepada anak-anakku, tapi entah jika aku sedang bekerja. Aku akui ia sangat cerdas. Hasil pembelajarannya selalu membuat anak-anakku mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya. Segala mata pelajaran, ia kuasai dengan baik. Dan cara ia mendampingi anak-anakku di meja belajar, sungguh sangat mengagumkan. Mungkin saja, jika orangtuanya kaya, ia dapat menempuh sampai tingkat S3, menjadi dosen bahkan profesor. Namun, untungnya tidak demikian, sehingga aku yang hanya seorang buruh pabrik berani menikahinya. Kau jangan mengira aku pergi ke dukun untuk mengguna-guna istriku agar mau denganku. Hal itu semata-mata karena aku telah membaca banyak bacaan tentang cara mendekati perempuan di majalah-majalah perempuan. Jurus itu telah aku praktikan ke beberapa perempuan, dan tidak pernah ada yang menolakku. Ya, aku memang bajingan. Sungguh kasihan istriku, mau hidup dengan laki-laki sepertiku.

Nah, ini bagian yang kau suka. Aku tahu isi kepalamu. Kau pasti ingin mendengar ceritaku, kalau kami sedang berdua di ranjang. Ah, dasar otak cabul. Tapi tak mengapa. Sudah sepuluh tahun ini, tanpa kuminta, istriku selalu mempersiapkan dirinya sebelum menghabiskan malam syahdu berdua. Ia selalu berdandan cantik, menyemprotkan parfum ke seluruh lekuk tubuhnya, dan memakai baju yang membangkitkan geloraku. Entah dari mana ia membeli baju itu. Aku tidak pernah memberikannya. Boro-boro membeli, untuk merokok saja, aku memilih melinting tembakau. Dua hari sekali istriku merawat tubuhnya dengan lulur dan meratus bagian kewanitaannya. Kau boleh membayangkan bagaimana harum baunya. Dan kupikir memang seharusnya begitu. Setiap wanita harus merawat tubuhnya, bukan untuk suaminya saja, terlebih sebagai cara mencintai dirinya. Cukup sampai di sini, ceritaku melewati malam penuh gairah di ranjang yang sering berderit ketika kami bermandi keringat. Hal-hal lain tentu tidak akan kuceritakan. Tidak baik. Cukup aku, istriku, ranjang, dan bilik kamarku saja yang mengetahui. Nanti istriku malah kau buat sebagai fantasimu.

Aduh, aku hampir lupa, malam ini jadwal bercinta dengan istriku. Maaf, aku harus segera pulang. Kasihan, ia pasti telah menunggu. Tolong bayari dulu kopiku, besok kuganti. Oh ya, perihal rencana yang kuceritakan di awal, sebetulnya ketika tadi aku bercerita panjang lebar tentang istriku, banyak kelindan di kepalaku yang akhirnya membuatku mengubah pemikiran untuk tidak pernah mengganti istriku, jika ada kesempatan mengulangi hidup lagi. Selamat malam.***

____________________

Kesit H. Setyadji. Tinggal di Sukoharjo. Aktif menulis di Yeka, ruang kecil untuk berkarya.