Jam 20.30. Saya duduk sendirian di dalam bioskop. Benar-benar sendirian. Pemutaran film terakhir di hari itu. Sempat ragu apakah harus tetap menonton film, atau pulang saja. Tapi karena melihat trailer filmnya kok rasanya menarik, ya sudah. Saya lanjut nonton meskipun 1 studio cuma saya sendiri yang nonton.
Awalnya saya kira menonton film sendirian akan terasa agak menyedihkan. Ternyata tidak. Malah menyenangkan. Saya jadi fokus dengan setiap adegan dan dialog-nya. Bahkan bisa merasa seolah-olah saya yang ada di situasi dalam film itu. Dan itu asyik sekali.
Oke, sekarang kita lanjut ke filmnya ya. Judulnya Above & Below. Singkatnya, film ini bercerita tentang 5 orang yang sedang berwisata ke Meksiko. Mereka memutuskan untuk ikut tour penyelaman ke tengah laut demi bisa melihat langsung ikan hiu. Edan sih menurut saya. Orang waras mana yang menantang malaikat maut seperti itu?
Spoiler sedikit ya. Lalu dalam penyelaman itu, akhirnya mereka terjebak dalam dua situasi bahaya. Di atas, ada bos mafia narkoba yang siap membunuh mereka. Di bawah, ada sekelompok hiu yang siap menerkam, ditambah lagi tabung oksigen yang semakin menipis. Film ini membuat saya berpikir satu hal: bagaimana kalau saya sendiri yang berada dalam situasi seperti itu? Ketika semua pilihan yang tersedia sama-sama buruk. No way out.
Ternyata, itulah salah satu hal paling ‘enggak banget’ dalam hidup. Saya sering mengira bahwa masalah itu muncul karena saya yang memang salah memilih dari awal. Padahal kalau dicermati lebih dalam, tidak sesederhana itu. Kadang masalahnya justru karena tidak ada pilihan yang benar-benar baik.
Mau memilih A, ada risikonya, dan sepertinya berat. Memilih B, risikonya juga ada, sama-sama berat juga. Tidak memilih pun juga masalah. Dan menurut saya, di sinilah film ini menjadi lebih menarik, tentang membuat pilihan yang sama-sama buruk dan salah.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari pun saya beberapa kali menghadapi versi kecil dari situasi seperti itu. Bukan tentang mafia narkoba dan hiu laut seperti dalam film ya pastinya. Tetapi ada keputusan yang kadang membuat saya harus memilih di antara beberapa kemungkinan yang semuanya memiliki risiko. Ini berlaku dalam banyak konteks ya.
Saya, atau mungkin kita semuanya, ingin pilihan yang aman-aman saja. Sayangnya, hidup tidak selalu menyediakan pilihan seperti itu. Dan ketika keadaan sudah darurat, manusia ternyata bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dalam psikologi dikenal istilah fight, flight, or freeze. Ketika menghadapi ancaman, manusia bisa melawan, melarikan diri, atau justru diam membeku. Respons ini berlangsung sangat cepat. Tubuh seolah mengambil alih sebelum kita sempat berpikir panjang. Ada hormon stres seperti adrenalin yang membuat tubuh lebih siaga. Detak jantung meningkat, perhatian tertuju pada ancaman, dan energi tubuh diarahkan untuk menghadapi keadaan tersebut. Menariknya, orang yang biasanya terlihat paling lemah pun bisa melakukan sesuatu yang luar biasa ketika keadaan memaksanya. Bukan karena tiba-tiba menjadi pemberani. Sebenarnya dia tetap takut, tetapi ada sesuatu yang pada saat itu lebih kuat daripada rasa takutnya. Yaitu keinginan untuk bertahan hidup.
Itulah yang saya lihat dari para tokoh dalam Above & Below. Mereka bukan sekumpulan manusia super yang sejak awal sudah siap menghadapi bahaya. Tetapi orang biasa yang mendadak berada dalam situasi luar biasa. Dan justru karena itulah saya bisa ikut merasakan ketegangannya. Saya tidak pernah benar-benar tahu seperti apa diri saya ketika berada dalam keadaan paling burut.
Ini rumusan anomalinya: Orang yang selama ini mudah panik mungkin saja menjadi orang pertama yang mengambil keputusan. Orang yang terlihat paling lemah mungkin justru menjadi orang yang paling keras berusaha bertahan. Sebaliknya, orang yang awalnya terlihat paling berani juga bisa kehilangan kendali ketika tekanan semakin besar. Keadaan darurat memang punya cara aneh untuk memperlihatkan manusia yang sebenarnya. Ia bisa membuat seseorang menjadi lebih buruk. Tetapi bisa juga membuat seseorang menemukan kekuatan yang selama ini tidak pernah ia tahu ada. Dan mungkin itu pula yang membuat saya menikmati film itu. Bukan semata-mata karena ada hiu dan adegan menegangkan. Saya justru tertarik pada manusia-manusia yang harus mengambil keputusan ketika waktu mereka sedikit dan pilihan mereka terbatas. Sebab dalam keadaan seperti itu, manusia tidak selalu bisa memilih yang terbaik. Kadang hanya bisa memilih yang menurut mereka masih memberi kesempatan untuk selamat.
Menonton film itu selama 90 menit ternyata terasa seperti pengalaman yang pas. Saya datang sendirian, duduk sendirian, dan pulang membawa satu pertanyaan: Kalau semua pilihan sama-sama buruk, apa yang akan saya pilih? Saya tidak tahu jawabannya. Dan mungkin memang tidak perlu tahu sebelum benar-benar berada di sana.
Rustam Efendi datang ke angkringanku di malam gerah. Dia memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, duduk di kursi panjang, tepat bersisihan gerobak, depan ceret, seperti biasanya. Dia adalah pelanggan pertamaku hari ini. Tiga hari belakangan sepi pengunjung, yang datang ke sini tak lebih dari jumlah jari di kedua tangan. Kutanyakan pada Rustam Efendi sekadar basa-basi semata tentang dari mana dia tadi, hanya jawaban pendek yang kudapat. Wajahnya tampak kusut, persis telur puyuh sundukan lupa direbus lagi.
Jari Rustam Efendi sibuk mengetik di ponsel yang setengah layarnya retak. Kusajikan pesanannya, dia mengucap terima kasih begitu lirih—lebih lirih dari suara rebusan air yang matang. Kutaruh pantatku di sampingnya dan mencomot kretek yang ada di toples bekas biskuit lebaran.
“Tumben kau sendiri. Biasanya bersama Herman Gentong.”
Rustam Efendi hanya menatapku, mulutnya masih saja terkunci. Wajahnya tampak tak senang ketika aku menyebut nama lelaki bertubuh gendut mirip Big Show dalam acara Smack Down. Aku coba mengerti karena bagi siapa saja yang mengenal Herman Gentong tentu akan merasa sebal. Dia sering mengatakan hal yang sedikit tentang kenyataan, selebihnya hanya bualan saja. Herman Gentong juga kerap melayangkan ejekan yang memerahkan telinga padaku, terlebih pada Rustam Efendi. Ada satu ejekannya pada Rustam Efendi yang membayang di kepalaku dan membuatku marah. Itu terjadi empat bulan lalu, saat kuburan ayah Rustam Efendi belum kering dan dengan gampangnya Herman Gentong mengucap bahwa kami bisa bekerja sama mendirikan Yatim Park. Tawa berhambur dari mulut Herman Gentong, sementara Rustam Efendi hanya diam sama denganku, seperti sebelum-sebelumnya. Jika saja Rustam Efendi menghitung ejekan Herman Gentong, maka dia seperti menghitung jumlah rambut di kepalanya sendiri.
Pikiranku melayang pada bualan-bualan Herman Gentong, meski aku dan Rustam Efendi masih sama-sama menyimpan suara masing-masing, hanya ada bunyi reretak arang, sekali-dua deru motor kencang, dan berisik serangga malam di pohon mangga samping gerobak.
“Berapa utang Herman padamu?”
Aku tercekat karena Rustam Efendi tiba-tiba bertanya itu. Kujawab dua jutaan dan itu sebenarnya modal untuk memperbaiki gerobakku.
“Kau membencinya?”
Aku hanya diam. Mengisap kretekku dalam tarikan napas panjang, mengembuskannya teramat perlahan. Dia menyenggol tanganku.
“Apakah ada orang yang tak benci pembual itu?” Aku sudah menagih berkali-kali dengan alasan apapun. Kebohongan tentang biaya obat untuk anakku dan semacamnya, namun yang kudapat hanya janji-janji yang menjadi bualan sempurna milik Herman Gentong.
“Sempurna. Aku tahu di sini sepi.”
“Memang. Seperti menunggu angin,” jawabku.
“Kau orang yang sabar.”
“Hanya itu yang bisa kulakukan. Bagaimana bisnismu?”
Kami kembali diam.
“Aku sudah punya rencana,” ucap Rustam Efendi menjeda keheningan yang ada di antara kami.
Aku semringah mendengar itu. Akhirnya dia akan mengatakan pilihan rencana bisnisnya. Itu adalah celetukan yang akan menjadi kenyataan. Tiga bulan lalu, Rustam Efendi mengantongi uang tiga belas juta hasil jual dua motor dan beberapa perabot warisan bapaknya. Dia bertanya padaku tentang usaha apa yang cocok dijalankan olehnya. Kukatakan dia harus memulai bisnis kecil-kecilan dan peluang terjualnya besar, yaitu berdagang beras. Kuanjurkan untuk melayani pembelian online dengan model pesan-antar. Malam itu juga, di angkringanku, dia meng-instal WhatsApp Business. Siap memulai pertaruhannya bersama putihnya beras. Namun, Herman Gentong yang mendengar ideku justru mengatakan bisnis itu terlalu berat. Dia mengajak Rustam Efendi berjualan ikan hias saja. Bagi Herman Gentong yang memang hobi mancing, itu adalah ide yang gilang gemilang dalam memulai usaha.
Sedikit bujukan dan selebihnya bualan, membuat hati Rustam Efendi goyah akan pilihannya. Herman Gentong begitu getol merayu si pemilik modal agar memulai usaha dengannya. Begitulah yang tiap kali kudengar ketika mereka di angkringanku. Waktu-waktu lalu tiap kutanya tentang bisnisnya, Rustam Efendi hanya mengangkat kedua bahunya. Sempat kuucapkan percuma WhatsApp Business yang dia miliki, sementara dia tak memiliki bisnis. Herman Gentong yang menjawab kelakarku bahwa bisnis ikan hias akan berjalan dalam waktu dekat. Dua bulan berlalu, dan bualan tentang bisnis memang hanya bualan semata.
Bunyi dasar cangkir menyentuh alas lepek membuyarkan lamunanku.
“Kau sudah tentukan kepastian rencana bisnis apa?” tanyaku.
“Ini bukan tentang bisnis.”
“Lantas?”
Rustam Efendi menggeser pantatnya beberapa jengkal, kepalanya mendekat. Dia bisikkan tentang keinginan membunuh.
“Kau sudah gila!” ucapku.
“Ini tidak gila! Pembual itu harus dibunuh!” katanya, lantas menceritakan rencananya.
Pertama, dia akan membunuh dengan cara membokong. Di kebun pisang belakang rumah, Rustam Efendi akan menjerat leher Herman Gentong menggunakan kawat baru hingga mati. Mayatnya akan dibuang di antara selokan setengah kali di dekat kebun pisang itu atau memutilasinya langsung, lalu membuang potongan tubuh dengan cara ecer, di beberapa tempat, utamanya di TPA Mrican.
Aku mengatakan kalau rencana itu terlalu berisiko dan makan waktu, terlebih jika diketahui Herman Gentong kalau Rustam Efendi membokongnya. Pun, jika tak diketahui, aku yakin kalau tenaga Rustam Efendi kalah jauh dibanding Herman Gentong, dia tidak akan berhasil menjerat hingga mati apalagi memutilasnya, yang ada, justru Rustam Efendi yang mati dibunuh Herman Gentong, atau minimal dia akan babak belur disikat Herman Gentong.
Rustam Efendi kembali menyesap kopinya.
“Bagaimana kalau rencana kedua?”
Aku diam, sementara Rustam Efendi melanjutkan cerita tentang rencananya. Dia akan mengajak Herman Gentong ke Magetan dengan mobil. Rustam Efendi akan berada di belakang setir, sementara Herman Gentong di sampingnya. Dengan suatu alasan yang belum terpikirkannya, Rustam Efendi akan membawa mobil itu meluncur ke jurang sementara dia melompat lebih dulu. Menurutnya, dengan begitu, bisa dianggap sebagai kecelakaan semata.
Aku tertawa mendengar rencana itu karena terbayang film-film yang dibintangi Beri Prima atau Jackie Chan.
“Apa yang lucu?!” bentak Rustam Efendi.
“Kau bisa menyetir?”
Dia mengangguk pelan.
“Mobil siapa yang akan kau bawa?”
Rustam Efendi diam saja. Tawaku meledak lebih keras, persis penjudi yang menang banyak.
“Bagaimana kalau rencana ketiga?” tanyanya lantas berpanjang lebar menjelaskan rencanaya sebelum aku mengiyakan.
Rustam Efendi akan mengajak Herman Gentong memancing ke tebing laut Pacitan. Di tengah malam dia akan mendorong Herman Gentong dan membayangkan kepala lelaki itu menubruk karang tebing laut, lantas Rustam Efendi akan membuang mayatnya supaya tidak diketahui siapapun dan dianggap hilang begitu saja.
Aku tertawa lebih kencang karena kelewat sederhana dan paham rencana itu tak akan berhasil. Jelas, kalau perkara tempat memancing yang bagus, tentu Herman Gentong lebih tahu dibanding Rustam Efendi.
“Kau tahu hari ini Herman ke mana?” tanyaku.
Rustam Efendi menggeleng.
“Barangkali dia sedang mancing. Meski tak mati dan besok akan berbual lagi.”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
“Bagaimana kalau dia kuracun?” tanya Rustam Efendi.
Dia jelaskan kalau akan membeli racun di toko bahan kimia dekat Toko Murni 2 lalu memasukkan racunnya di arak jawa yang sengaja dia hadiahkan pada Herman Gentong agar diminumnya di rumah.
Aku beringsut dari dudukku, hendak ke belakang gerobak.
“Aku serius,” ucapnya.
Aku masih saja tertawa.
Dia setengah teriak memanggilku yang masih tertawa.
“Mana rencana yang kau pilih?” tanyaku.
Rustam Efendi hanya terdiam. Tawaku berhamburan.
Pandangan Rustam Efendi mengilatkan kesumat yang dalam, untukku.***
____________________
Ruly R, penjaga kandang Rusamenjana Books Store yang suka nonton sepak bola.
Bersandar pada tiang teras rumah yang belum diplester, Marianus sudah menghabiskan delapan batang rokok murah sedari pukul setengah delapan pagi tadi. Sekarang sudah pukul setengah sembilan. Tek Saijah yang ia suruh membeli bahan instalasi listrik belum juga datang. Marianus menyuruh perempuan berumur 60 tahun itu membeli bahan instalasi listrik di Toko Anggrek Elektronik. Membeli bahan ke mana dia. Kok lama benar, batin Marianus.
Sambil men-scroll tayangan di tik-tok, Marianus tiba-tiba merasa geli. Ia ingat kemarin dapat job juga. Ia beli bahan di Toko Bagas Elektrik. Apa kata Bagas, yang punya toko Bagas Elektrik, kepadanya–ketika Marianus meminta fee dalam membeli bahan–membuat hati Marianus benar-benar emoh sekarang.
“Kau yang belanja masa meminta uang ke aku,” kata Bagas ketika bahan-bahan instalasi listrik sudah masuk ke dalam kresek besar.
“Aku ini anak biro (tukang listrik). Ini bukan kerja borongan. Orang punya rumah yang membeli hahan. Aku hanya membelikan saja. Seharusnya aku dapat uang karena sudah membawa orang belanja ke tempat kau,” kata Marianus, sembari mengambil kresek yang sudah berisi bahan-bahan instalasi listrik. Siap menjinjingnya ke atas sepeda motor. Juga, pipa 5/8 terikat yang tergeletak di lantai teras toko ia akan bawa.
“Untung bahan-bahan instalasi itu tidak sampai 15 persen. Kalau aku beri uang kau tentu saja untungku jadi tak sampai 10 persen.”
“Kan bisa kau naikkan harganya tadi,” kata Marianus mulai geram.
“Itu namanya mark-up. Tak mau lagi nanti orang belanja ke tokoku,” kata Bagas.
Mark-up, apa pula itu? batin Marianus. “Terserah, mau mark-up. Mau untung jualanmu yang kau berikan ke aku. Biasanya orang toko bila berurusan dengan anak biro sama-sama mengertilah,” kata Marianus sambil mencampakkan rokoknya yang tinggal puntung. “Ah, kau ini. Toko baru. Sok kau,” lanjut Marianus sambil meletakkan kresek yang berisi bahan-bahan instalasi listrik di lantai sepeda matic-nya. Sementara tangan kanannya menstater sepeda motor, tangan kirinya menjinjing pipa 5/8.
***
Hari sudah jam sembilan. Marianus melayangkan pandang ke depan, ke pagar bambu rumah. Ia sedikit mengulum liur, belum juga datang Tek Saijah. Sekarang sudah masuk batang rokok kesepuluh yang ia isap pagi ini. Ah, mana kopi tak dibuatkan pula. Pahit rasanya lidahku, batin Marianus.
Sambil terus men-scroll tayangan-tayangan di tik-tok, Marinus ingat pesan gurunya dalam memasang instalasi listrik dulu. Setahun lebih ia ikut Biro Malus pasang instalasi listrik dulu. Kata Biro Malus, kalau anak biro membeli bahan di sebuah toko, jangan lupa minta fee. Kalau tidak dikasih fee, jangan mau lagi belanja ke toko itu lagi. Dan, kalau bisa ketika pemilik toko menulis belanja kita di nota, tambahkan satu atau dua rol kabel. Katakan saja ada satu atau dua rol kabel menganggur di rumah.
Pesan Biro Malus lagi pada Marianus, kalau kerja bukan borongan, yang punya rumah membeli bahan instalasi listrik, lebihkan beli kabelnya. Biar nanti, sisa kabel itu buat kita. Kabel sisa memasang instalasi itu nanti bisa dipakai buat kerja borongan. Atau, bisa dijual ke toko listrik yang lain.
Juga, kalau yang punya rumah beli bahan suruh dia beli kabel yang bagus. Minimal merk Praba, kalau bisa Supreme. Saklar-saklar dan stop kontak suruh dia beli yang merk bagus. Minimal Broco, kalau bisa Schneider. Dengan begitu, kata Biro Malus, orang yang punya rumah akan merasakan mahalnya harga alat-alat instalasi listrik. Tentu saja imbasnya, tujuan sebenarnya, tidak akan mau orang yang punya rumah memberi upah murah ke anak biro. Di benaknya kita beri bayangan, lanjut Biro Malus, betapa tingginya harga bahan-bahan instalasi, tentu saja upahnya harus sebanding pula dengan harga bahan.
Marianus ingat betul pesan gurunya itu. Dan, sedikit pun Marianus tak merasa digurui; apalagi merasa diajari perilaku yang buruk.
Dalam men-scroll tayangan di tik-tok Marinus kadang tertawa, kadang pilu, menyaksikan tayangan-tayangan dari konten kreator di sana. Namun, sekarang jam sudah menunjukkan setengah sepuluh, Tek Saijah belum juga ada tanda-tanda kedatangannya. Marianus pun mulai dilanda bosan. Dan, ia tak berminat menyambung rokoknya.
Mulut Marianus menguap. Ia segera ingat, jam tiga dini hari tadi matanya baru bisa pejam. Sebab pikiran yang menerawang ke mana-mana. Ia pun mengantuk.
***
Tek Saijah merasa bersyukur sekali. Karena adiknya yang tinggal di Muara Gadang sudi meminjamkan uang padanya. Tadi ia sudah datang ke Toko Anggrek Elektronik. Catatan yang dibuat Marianus, berisi jumlah alat-alat instalasi listrik yang harus dibeli, sudah ia berikan. Ternyata total belanja hampir mencapai Rp 2 juta. Sedangkan Tek Saijah hanya bawa uang Rp 1 juta, plus Rp 500 ribu buat gaji Marianus. Bukan rahasia lagi kalau di Toko Anggrek Elektronik tidak boleh mengutang.
Sebelum ke tempat adiknya di Muara Gadang, sudah ke mana-mana Tek Saijah meminjam uang di Koto Marapak, kampungnya–ia berusaha meminjam pada tetangga-tetangga. Rumah baru Tek Saijah itu tak begitu luas. Lebar 7 meter, panjang 10 meter. Kalau dilihat-lihat, hampir menyerupai toko. Itulah hasil jerih payah Tek Saijah selama tiga puluh tahun menabung dari hasil ia berjualan lontong sayur di dekat smp.
Saat kasir Toko Anggrek Elektronik menyebutkan total belanja Tek Saijah sejumlah Rp 1.956.000, hati Tek Saijah seketika merasa ciut dan kecut. Ada anaknya yang bekerja sebagai TU di sma yang punya pengetahuan juga soal listrik. Anaknya itu mengatakan kalau rumah sebesar rumahnya itu belanja bahan instalasinya paling banyak Rp 1 juta. Kenyataan, sungguh jauh meleset dari perhitungan kasar anaknya itu.
Tentu saja Tek Saijah tidak menyalahkan anaknya, karena ia hanya membawa uang–memang itulah yang ia punya–Rp 1 juta plus Rp 500 ribu buat gaji Marianus. Dan, Tek Saijah juga tidak sedikit pun berprasangka yang bukan-bukan kepada Marianus. Lagi pula, Marianus sekampung (sedusun) dengannya.
Kalau dilihat-lihat orang yang mengerti listrik, catatan yang dibuat Marianus sungguh mencengangkan: Pipa 5/8, 8 batang; kabel NYA 1,5, 2 rol (50m), kabel NYA 2,5 2 rol (50m), dan bahan-bahan lain yang kesemuanya jumlahnya dilebihkan Marinus. Belum lagi kabel, kabel mahal pula, Supreme. Saklarnya Schneider.
Baru jam sepuluh Tek Saijah sampai di depan rumah barunya. Ia dengan sepeda motor matic-nya membawa pipa dan bahan-bahan instalasi listrik dalam kantong kresek hitam yang padat, segera menurunkan bawaannya.
Tiba-tiba Tek Saijah merasa bersalah setelah melihat Marinus tertidur sambil bersandar di tiang teras rumahnya yang belum diplester. Ia menyalahkan diri karena begitu lama membeli bahan instalasi.
“Marianus!” kata Tek Saijah, seteleh melangkah lunglai ke tempat Marianus tidur.
Marianus tersentak. Ia segera mengucek-ucek matanya. Dalam pikiran Marinus segera terbayang: ia dapat kabel 2 rol (50m). Sudah masak benar di otak Marinus kalau rumah baru Tek Saijah tak akan menghabis kabel 2 rol. Belum inbowdus yang ia lebihkan. Belum lagi fitting gantung yang ia lebihkan, belum lagi klem pipa yang ia lebihkan, dan lain-lain yang membuat perasaan Marianus gembira bercampur pusing–pusing karena akhir-akhir ini ia kurang tidur malam.
Marianus tersenyum simpul. Ia panjar bungkus rokoknya. Setelah mengambil korek gas, ia segera menyalakan rokoknya.
“Kok lama benar Tek,” kata Marianus, bertambah simpul senyum Marinus setelah melihat bahan-bahan instalasi dalam kantong kresek yang padat isinya terletak di depan ia duduk.
“Uang tak cukup. Habis waktu mencari pinjaman uang. Untung adik etek yang suaminya kerja ke laut di Muara Gadang itu sedang punya uang. Hampir Rp 2 juta kena membeli bahan Marianus. Mahal ya alat-alat instalasi sekarang,” kata Tek Saijah.
“Mahal Tek. Tapi kopi sejak tadi belum Etek buatkan aku,” kata Marinus sembari menghisap dalam rokoknya.
“Mengopi pula dulu. Ndak langsung dikerjakan,” kata Tek Saijah yang langsung berpaling, melangkah ke rumahnya–sebuah rumah papan yang tak jauh dari rumah baru yang belum diplester itu.
Mengopi pula aku tak boleh. Tentu belum akan aku kerjakan memasang instalasi ini, batin Marianus.
Tak lama Tek Saijah datang dengan segelas kopi lengkap dengan piring penadahnya. Menghidangkan di depan tempat Marianus duduk bersandar.
Setelah kopi terhidang, Marinus menyesap kopi itu sedikit. Terasa panas sekali. Lidah terasa melepuh. Tapi ia telan juga. Ia pun lantas berdiri.
“O ya, Tek. Aku lupa. Paluku tertinggal di rumah. Ini rokok juga hampir habis. Tidak tahu aku bekerja kalau tidak ada rokok. Aku pergi dulu sebentar, Tek,” kata Marianus sambil melangkah menuju sepeda motor matic-nya.
***
Tiba di Toko Anggrek Elektronik perasaan Marianus membumbung-bumbung.
“Kabel bagus dan saklar bagus dikasih tadi kan,” kata Marianus kepada Agus, pemilik Toko Anggrek Elektronik.
“Sesuai dengan catatan Marianus saja semuanya,” kata Agus sembari menyerahkan amplop berisi uang yang jumlahnya sekitar 6-7 persen dari jumlah belanja Tek Saijah tadi ke tangan Marianus yang menadah.
“Ingin mengucap kata kotor aku sebenarnya melihat Bagas, yang punya Bagas Elektrik, kemarin. Masa’ aku belanja di sana tidak dikasih fee. Di sini kan enak, sebagai basa-basilah kepada anak biro,” kata Marianus sembari duduk di kursi tak jauh dari meja kasir.
Dan, hari sudah menunjukkan pukul sebelas. Pikiran Marianus mulai bercabang. Apakah sebaiknya sore saja ia mengerjakan pasang instalasi listrik rumah Tek Saijah. Sambil tergelak dalam hati, Marianus membakar sebatang rokok. Dan, memasukkan amplop ke saku celana jinsnya.***
____________________
Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
Saya sedang rindu berdebat dengan orang yang sudah meninggal. Namanya Agusta Akhir. Dia salah satu teman yang punya kontribusi besar dalam proses saya belajar menulis. Kami dulu duduk bersama, membicarakan karya, berbagi ilmu tentang tulis menulis di Sastra Alit. Dan saya masih ingat betul bagaimana cara dia tertawa. Waktu itu rambutnya gondrong, khas seniman sejati.
Aneh rasanya menulis kalimat itu. Sebab biasanya, kalau rindu kepada seorang teman, kita bisa mencarinya. Mengirim pesan. Mengajaknya bertemu. Atau sekadar bertanya, “Kamu di mana?” atau mungkin “Apa kabar? Lagi sibuk nulis apa?” Dari satu titik itu, nanti akan berkembang jadi diskusi sastra yang panjang.
Tetapi kepada orang yang sudah berpulang, rindu tidak punya alamat. Rindu padanya datang tiba-tiba saat saya membuka buku novelnya Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit.Waktu itu dengan santainya saya berkomentar, “Ini dapat ide judul dari mana, Mas?” dan dia tertawa. Dia tahu kalau saya sebenarnya sedang berpikir bahwa ini judul yang aneh.
Lalu pagi ini, saya teringat pada sebuah perdebatan kecil tentang ikan di laut. Waktu itu saya sedang membaca novelnya. Ada bagian yang menyebutkan bahwa pada malam bulan purnama, ikan di laut ada banyak. Saya langsung protes.
“Justru kalau bulan purnama, bukannya ikan malah tidak ada?”
Kami berdebat. Saya tidak ingat siapa yang akhirnya dianggap benar. Mungkin memang tidak ada yang benar-benar menang. Sebab perdebatan itu kemudian membawa kami kepada pembicaraan yang lebih menarik: tentang sastra. Kami akhirnya sepakat bahwa sastra punya dunianya sendiri. Saya hampir melupakan perdebatan itu. Tapi ternyata dia tidak. Di pertemuannya dengannya suatu hari, dia bilang kalau masih ingat perdebatan itu. Saya bilang, “Kamu ngeyel”. Dan dia tertawa.
Satu pelajaran yang saya ingat betul: sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan bukan berarti otomatis salah di dalam sebuah karya. Pengarang boleh menciptakan hukum sendiri untuk dunianya. Ikan boleh saja banyak pada malam bulan purnama, selama ada catatan atau penjelasan khusus yang membuat hal itu masuk akal dalam dunia cerita. Saya masih pelajaran mahal kesimpulan itu.
Dulu saya menganggapnya hanya bagian dari percakapan dengan seorang teman. Sekarang, setelah Agusta tidak ada, percakapan itu seperti potongan kecil dari sebuah masa yang tidak bisa saya datangi lagi. Entah mengapa, justru sekarang terasa begitu penting. Begitulah rupanya kenangan. Memang tidak selalu menyimpan peristiwa besar. Kadang hanya sebuah potongan kecil, tentang ikan itu misalnya.
Saya juga sering teringat pada masa bersama Sastra Alit. Kami sering diskusi di Taman Balai Kambang, Solo. Sudah lama sekali. Hampir 10 tahun yang lalu. Ada masa ketika kami bisa menghabiskan waktu di sana untuk menulis bersama. Saya, Agusta, Yuditeha, Gatot Prakoso, Key Nurhidayanto, Maia Gwendon, dan teman-teman yang lain.
Kami datang membawa tulisan masing-masing. Lalu kami menyebutnya sebagai ‘Pembantaian Karya’. Lucu juga sebenarnya. Satu cerpen yang menurut saya sudah bagus, dan dengan PD-nya saya bawa ke Sastra Alit, di sana bisa dibantai habis-habisan oleh teman-teman. Kalau ingat semua itu, saya jadi tertawa sendiri.
Pembicaraan yang awalnya hanya membahas satu cerpen bisa melebar ke persoalan macam-macam. Di luar sastra, di luar tema menulis. Tapi semuanya asyik. Kami bisa terus ngobrol sampai sore, padahal hanya duduk di atas tikar sederhana, sambil minum teh hangat seduhan Mas Gatot. Benar-benar kesederhanaan yang mahal.
Sekarang kalau saya mengingatnya, rasanya indah sekali. Bukan karena waktu itu kami sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Justru karena semuanya adalah hal-hal yang biasa dan konsisten dilakukan dalam jangka waku yang lama. Duduk bersama teman-teman yang mempunyai kesenangan yang sama. Membicarakan tulisan, sastra, karya. Kadang serius, kadang bercanda.
Sore datang tanpa terasa. Lalu kami pulang. Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti saya akan merindukan semua itu. Saya kira pertemuan semacam itu akan selalu ada: duduk bersama, bahas karya, ngobrol ke sana ke sini.
Saya kira masih ada kesempatan untuk membaca tulisan baru Agusta Akhir dan masih ada kesempatan untuk berdebat dengannya. Ternyata tidak. Agusta sudah berpulang. Dan sejak itu, beberapa kenangan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Tempat yang dulu biasa saja tiba-tiba punya arti. Percakapan yang dulu terasa sepele tiba-tiba menjadi sesuatu yang ingin saya ulang. Nama seseorang yang dulu bisa saya temui, sekarang hanya bisa saya temukan dalam tulisan, ingatan, dan cerita dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Mungkin beginilah kehilangan bekerja. Kehilangan tidak hanya mengambil seseorang tapi juga membawa pergi kemungkinan-kemungkinan: kemungkinan untuk bertemu lagi, kemungkinan untuk berbicara lagi, kemungkinan untuk berdebat lagi tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
Saya kadang membayangkan, kalau Agusta masih ada, mungkin kami masih akan berdebat tentang sastra. Mungkin tentang tulisan terbaru saya. Mungkin tentang tulisannya. Mungkin tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting. Saya mungkin akan kembali mengatakan bahwa ikan tidak banyak ketika bulan purnama. Dan mungkin ia akan membantah lagi. Lalu kami akan kembali sampai pada kesimpulan yang sama: sastra punya dunianya sendiri.
Betapa saya ingin mengalami percakapan itu sekali lagi. Bukan untuk membicarakan sesuatu yang besar. Cukup recehan yang tidak penting saja. Ada masa ketika kita merasa bahwa orang-orang di sekitar kita akan selalu ada. Kita tidak menghafalkan percakapan dengan mereka karena kita mengira akan ada percakapan berikutnya. Kita tidak menyimpan setiap sore dengan sungguh-sungguh karena kita mengira akan ada sore-sore lain. Kita tidak memandang sebuah pertemuan sebagai sesuatu yang terakhir karena kita tidak pernah tahu bahwa itu ternyata pertemuan terakhir.
Sekarang saya tahu, beberapa hal baru terasa berharga setelah tidak bisa diulang. Sastra Alit di Balekambang bukan sekadar tempat kami pernah menulis bersama. Ia adalah salah satu tempat di mana sebuah persahabatan pernah tumbuh. Dan Agusta adalah bagian dari masa itu.
Karena itu, ketika saya merindukannya, yang saya rindukan bukan hanya seseorang. Tetapi saya merindukan sebuah masa. Masa ketika kami masih bisa duduk bersama sampai sore. Ketika tulisan masih menjadi alasan untuk berkumpul. Ketika perdebatan tentang ikan di malam bulan purnama bisa menjadi pembicaraan panjang tentang sastra. Saya merindukan semuanya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika saya membaca lagi tulisan Agusta, saya akan kembali teringat pada perdebatan kecil itu. Saya akan tersenyum. Lalu mungkin berkata dalam hati: “Mas Agusta, ternyata saya masih ingat.” Saya masih ingat ikan yang banyak di malam bulan purnama, juga masih ingat perdebatan kita. Saya cinta Sastra Alit. Saya masih ingat sore-sore bersama teman-teman. Dan saya masih ingat bahwa pernah ada seorang teman bernama Agusta Akhir yang membuat perjalanan menulis saya menjadi lebih ramai.
Hanya satu yang sekarang tidak bisa saya lakukan. Saya tidak bisa lagi mengajaknya berdebat. Dan mungkin, itulah yang paling saya rindukan. Saya rindu punya kesempatan untuk berkata kepadanya sekali lagi: “Mas Agusta, ayo kita berdebat.”
____________________
Erna Surya. Penulis dan seorang guru yang tinggal di Klaten.
Mang Kus, ketua RT bingung tujuh keliling. Surat edaran dari kelurahan yang diteruskan melalui ketua RW telah melumpuhkan urat-urat saraf di seputaran kepalanya. Sekilas, isi surat edaran itu terbaca sederhana. Isinya perintah dari lurah agar di mulut gang setiap RT didirikan sebuah gapura dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi Mang Kus tidak masalah harus mendirikan seribu gapura, asal setiap kepala keluarga di wilayahnya termasuk golongan masyarakat berkantong tebal. Akhir-akhir ini angka penduduk miskin di wilayahnya justru perlahan-lahan naik.
Sabtu malam, Mang Kus mengumpulkan pemuda di wilayahnya. Siapa tahu dari isi kepala mereka keluar ide-ide cemerlang dalam menghadapi surat edaran dari kelurahan itu.
“Harusnya dari kelurahan jangan hanya mengeluarkan surat edaran saja! Sekalian dengan dananya,” kata Omen salah seorang pemuda yang mengikuti musyawarah.
“Setuju! Jangan kita saja yang mesti mengeluarkan dana. Iuran bulanan saja tidak cukup menutupi pengeluaran RT.” Bendahara RT menambahkan.
“Begini saja! Kita akan tetap meminta sumbangan kepada warga khususnya yang berkantong tebal. Kita bikin gapura sesuai dengan dana yang terkumpul. Bagaimana?” Mang Kus memberi jalan keluar.
Semua yang hadir menyetujui usul Mang Kus.
Dana sumbangan dari warga telah terkumpul. Mang Kus kembali mengumpulkan para pemuda. Dengan dana yang terkumpul, kira-kira gapura seperti apa yang hendak didirikan? Baru seperempat jam acara dibuka. Seorang lelaki setengah tua menghambur ke depan Mang Kus.
“Pak RT! Pak RT! Abah Sutarya barusan meninggal dunia!”
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun…” seru hadirin yang hadir.
Pertemuan bubar. Semua pergi menuju rumah Abah Sutarya di ujung gang sempit. Abah Sutarya mantan pejuang. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Dia pernah ikut operasi pagar betis pada saat DI/TII memberontak di Jawa Barat. Istrinya telah lama meninggal. Dia tinggal bersama anaknya yang pekerjaannya serabutan. Semua anggota keluarga Abah Sutarya terdaftar di kelurahan sebagai penerima dana BLT dari pemerintah.
Sebelum upacara penguburan, Omen sebagai ketua panitia pengumpulan dana sumbangan untuk gapura mendekati Mang Kus.
“Mang! Daripada dana ini dibikin gapura mending dikasihkan saja ke keluarga Bah Sutarya.”
“Terus dana buat gapura dari mana?”
“Nanti kita pikirkan lagi.”
“Baiklah! Nanti biar Mamang yang tanggung jawab kepada warga.”
Mang Kus menyetujui usulan Omen.
Dana sumbangan gapura pun berpindah tangan kepada anaknya Abah Sutarya.
Bulan Agustus tinggal dua hari lagi. Di setiap gang berdiri berbagai macam gapura dengan berbagai hiasan. Hanya di gang Mang Kus yang belum terlihat. Setelah meninggalnya Abah Sutarya warga RT disibukkan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Mereka sering berkumpul di sekitaran rumah Abah Sutarya. Mereka mengenang cerita-cerita perjuangan yang dahulu didongengkan almarhum.
Tepat sehari sebelum memasuki bulan Agustus, di depan gang RT Mang Kus tetap tidak ada gapura seperti di gang lainnya. Di sisi kanan mulut gang hanya berkibar sebuah bendera merah putih pada tiang bambu. Sedangkan di sisi kirinya sebuah lukisan foto Abah Sutarya di atas karton putih membentang di antara dua bilah bambu. Di bawahnya terdapat tulisan dengan huruf besar: DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. Dari pejuang yang terlupakan.***
____________________
Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan media daring.
Aku pertama kali bertemu Rendra Kusumah di sebuah galeri di Jakarta. Saat itu aku bekerja sebagai staf kuratorial. Pekerjaanku sederhana: mengurus lukisan, menyusun pameran, menjawab pertanyaan pengunjung. Sesekali mendengarkan seniman menjelaskan karya mereka dengan kata-kata yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak mengerti.
Rendra berbeda. Ia datang memakai sepatu lusuh. Celananya sedikit kepanjangan. Rambutnya tidak disisir dengan baik. Ia membawa satu gulungan kanvas di bawah ketiak. Tidak ada yang mengenalnya. Ia juga tidak berusaha membuat dirinya dikenal. Lukisannya dipasang di sudut ruangan. Tidak besar. Tidak berwarna mencolok. Hanya sebuah pohon. Tetapi pohon itu tidak tumbuh dari tanah. Akarnya menggantung di udara. Di bawahnya terdapat lubang hitam.
Aku berdiri cukup lama di depan lukisan itu.
“Bagus?” tanya Rendra dari belakangku.
“Orang-orang bilang begitu.”
“Orang-orang biasanya tidak tahu apa yang mereka bilang.”
Aku menoleh. Wajahnya pucat. Matanya seperti orang yang kurang tidur.
“Itu pohon apa?” tanyaku.
“Bukan pohon.”
“Lalu?”
“Rumah.”
Aku kembali melihat lukisan itu.
“Rumahmu?”
Rendra tersenyum. “Rumah semua orang.”
Malam itu kami mulai berbicara.
***
Rendra tinggal di sebuah rumah petak di belakang pasar lama Cikini. Aku baru tahu ketika ia mengajakku ke sana beberapa minggu kemudian. Rumahnya sempit. Cat dinding mengelupas. Lantainya lembap. Bau minyak tanah bercampur dengan bau cat. Tetapi ada satu benda yang menarik perhatianku. Sebuah akuarium besar. Ukurannya hampir setinggi tubuhku. Di dalamnya tidak ada ikan. Hanya air kehijauan dan bunga-bunga plastik.
“Kenapa bunga plastik?” tanyaku.
“Tidak mati.”
“Tidak hidup juga.”
Rendra tertawa.
“Justru itu.”
Aku mendekati akuarium. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, dan putih. Sebagian sudah kusam. Ada yang terendam seluruhnya. Ada yang mengapung di permukaan.
“Bunga ini tidak pernah layu,” katanya.
Aku tidak menjawab. Rendra kemudian mengambil dua gelas. Kami minum kopi di ruang tamunya. Di dinding terdapat banyak lukisan. Sebagian berupa wajah. Sebagian berupa mata. Ada satu wajah perempuan yang membuatku berhenti.
“Siapa?”
Rendra tidak langsung menjawab.
“Istriku.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kau menikah?”
“Dulu.”
“Sekarang?”
“Sekarang dia tinggal di sini.”
Aku mengira ia sedang bercanda. Tetapi wajahnya tetap serius.
Di samping lukisan itu ada sebuah kursi. Di atasnya terlipat pakaian perempuan. Blus. Rok. Selendang. Semuanya rapi. Seperti baru saja dilepas.
***
Aku datang lagi seminggu kemudian. Wajah perempuan di dinding itu berubah. Aku yakin. Matanya lebih terbuka. Bibirnya lebih pucat. Aku bertanya kepada Rendra.
“Kenapa lukisan ini berubah?”
Ia sedang mencuci kuas.
“Tidak berubah.”
“Berubah.”
“Barangkali kau yang berubah.”
Aku tidak menjawab. Sejak saat itu aku mulai memperhatikan lukisan itu setiap kali datang. Kadang matanya seperti melihat ke arah pintu. Kadang seperti melihat kepadaku.
Suatu malam, aku menemukan Rendra sedang menghapus wajah perempuan itu. Kuas basah bergerak perlahan di atas cat.
“Kenapa dihapus?”
“Dia marah.”
“Siapa?”
Rendra menunjuk lukisan itu.
“Dia.”
Aku tertawa kecil. Rendra tidak.
***
Beberapa minggu kemudian Rendra mengatakan sedang membuat karya terakhir.
“Apa?”
“Belum tahu.”
“Lukisan?”
“Bukan.”
“Patung?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Ia menatap akuarium.
“Aku ingin membuat kehidupan.”
Aku mengira ia sedang mabuk. Tetapi Rendra tidak minum malam itu.
Seminggu kemudian ia meneleponku. “Datang malam ini.”
Aku datang sekitar pukul sebelas. Rumahnya gelap. Hanya lampu kecil di dekat akuarium yang menyala. Air di dalamnya sudah berubah. Tidak lagi hijau. Hampir hitam. Aku melihat sesuatu di dalam air. Benda itu panjang. Putih. Aku tidak tahu apakah itu kain. Atau sesuatu yang lain.
“Jangan takut,” kata Rendra.
Aku mundur.
“Ini apa?”
“Warna baru.”
Tangannya berlumur merah tua.
“Cat?”
Ia melihat tangannya.
“Darah.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau pergi. Rendra mendekati akuarium.
“Cat tidak bisa membuat orang hidup.”
Ia menatap bunga-bunga plastik. “Tapi darah bisa mengingat tubuh.”
Aku pergi malam itu. Aku tidak mengucapkan selamat tinggal.
***
Setelah itu aku tidak melihat Rendra selama dua minggu. Aku mencoba menelepon. Tidak diangkat. Aku datang ke rumahnya. Pintu terkunci. Tetangganya mengatakan Rendra jarang keluar.
“Kadang malam-malam terdengar suara perempuan.”
“Perempuan?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Menyanyi.”
Aku memandang pintu rumah Rendra.
“Bagus?”
Tetangga itu menggeleng.
“Bagus sekali.” Lalu ia menambahkan, “Itu yang membuat takut.”
Aku mengetuk pintu. “Rendra.”
Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Dari dalam terdengar suara air. Tetes demi tetes. Kemudian suara kaca bergetar. Aku memanggil namanya sekali lagi. Kali ini terdengar suara Rendra.
“Jangan datang dulu.”
“Kenapa?”
“Aku hampir selesai.”
***
Dua minggu kemudian, aku membaca berita tentang kematiannya. Rendra ditemukan meninggal di rumahnya. Tubuhnya berada di dalam akuarium. Bunga-bunga plastik masih ada di sana. Airnya berwarna kehijauan.
Polisi menyebutnya bunuh diri. Aku membaca berita itu berulang kali. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa masuk ke dalam akuarium sebesar itu. Aku lebih tidak mengerti mengapa ia melakukannya.
Di meja kerjanya ditemukan selembar kertas. Hanya satu kalimat. Warna baru sudah jadi. Tapi dunia ini buta.
Aku menyimpan salinan berita itu. Entah untuk apa.
***
Tiga bulan kemudian, galeri mengadakan pameran Rendra. Orang-orang datang. Banyak sekali. Orang-orang yang dulu tidak mengenalnya sekarang berbicara tentangnya seperti sahabat lama. Mereka membicarakan kematian, tubuh, air, kehidupan, kematian.
Beberapa bahkan menyebut Rendra jenius. Aku hanya diam. Salah satu lukisan yang dipamerkan berjudul Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu.
Aku mengenalnya. Akuarium. Air hijau. Bunga plastik. Dan sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang samar. Aku menaruh keterangan pendek di bawah lukisan. Rendra Kusumah, 1989–2024. Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu.
Aku tidak menulis tentang darah. Aku tidak menulis tentang istrinya. Aku tidak menulis tentang suara perempuan yang menyanyi. Tidak ada gunanya. Tidak seorang pun akan percaya.
***
Pada malam ketiga pameran, aku melihat sesuatu. Air di dalam lukisan bergerak. Aku berdiri cukup dekat. Kanvas itu kering. Tetapi airnya bergerak. Pelan. Seperti ada sesuatu di dalamnya yang sedang bernapas.
Aku mundur. Gerakan itu berhenti. Aku mendekat lagi. Bergerak. Aku memejamkan mata. Ketika membukanya, aku melihat wajah perempuan. Bukan wajah istri Rendra. Wajahku sendiri.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding. Di lantai, sebuah bunga plastik tergeletak. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku mengambilnya. Bunga itu basah.
***
Sejak malam itu aku sering mencium bau cat. Di kantor. Di rumah. Di kamar mandi. Bahkan ketika sedang tidur. Aku juga mulai bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di depan akuarium. Rendra berada di dalamnya. Ia tidak berbicara. Ia hanya menunjuk bunga-bunga plastik. Kemudian dari dalam air muncul tangan. Tangan perempuan. Tangannya pucat. Kukunya panjang.
Aku selalu terbangun sebelum tangan itu menyentuhku. Setiap pagi aku menemukan sesuatu di telapak tanganku. Kadang serpihan cat. Kadang noda merah. Pernah juga sehelai benang putih. Aku membuang semuanya.
Tetapi setiap pagi selalu ada lagi.
***
Orang-orang terus memuji Rendra. Namanya mulai masuk majalah. Lukisannya dibeli kolektor. Orang-orang menyebutnya seniman yang melampaui zamannya. Aku pernah mendengar seorang kritikus berkata, “Kematian membuat karya Rendra menjadi lebih hidup.”
Aku ingin tertawa. Tetapi tidak jadi. Sebab saat itu aku melihat air di dalam lukisan bergerak lagi. Kali ini lebih kuat. Seperti seseorang sedang mengetuk dari dalam.
Tok. Tok. Tok.
Aku berdiri di depan lukisan. Tidak ada orang lain. Aku ingin pergi. Tetapi kakiku tidak bergerak. Kemudian aku mendengar suara perempuan. Sangat pelan.
“Bunga tidak pernah layu.”
Aku menutup telinga. Suara itu tetap terdengar.
“Karena tidak pernah hidup.”
Aku melihat ke dalam lukisan. Wajah perempuan itu muncul lagi. Wajahku. Tetapi kali ini ia tersenyum.
***
Malam ini galeri sudah kosong. Aku masih di sini. Di depan lukisan Rendra. Lampu dimatikan. Hanya satu lampu kecil menyala di atasnya. Aku tidak tahu mengapa aku belum pulang. Mungkin karena aku sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang.
Air di dalam lukisan mulai bergerak. Bunga-bunga plastik bergoyang.
Satu. Dua. Tiga.
Kemudian aku melihat tubuh seseorang di bawah air. Rambutnya panjang. Tangannya menempel pada kaca. Ia mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Aku mendekat. Perempuan itu mengangkat wajah. Aku mengenalnya. Ia adalah perempuan dalam lukisan Rendra. Istrinya. Ia membuka mulut. Tidak ada suara.Tetapi aku tahu apa yang dikatakannya. Masuk.
Aku mundur. Terlambat. Sesuatu yang dingin menyentuh tenggorokanku. Aku mencoba berteriak. Tidak ada suara. Aku mencium bau air. Bau cat. Bau tanah basah. Lalu semuanya menjadi gelap.
Pagi nanti, mungkin petugas kebersihan akan menemukan galeri tetap terkunci. Mereka akan melihat lukisan itu. Mereka akan melihat bunga-bunga plastik. Mereka akan melihat air yang tetap tenang. Mereka mungkin juga akan melihat sesuatu yang baru. Seorang perempuan berdiri di dalam akuarium. Tidak ada yang tahu siapa dia. Tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa masuk ke sana. Dan bunga-bunga itu tetap tidak layu.***
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.
[i]Henri MacLaine Pont, Arsitek Hindia Belanda berdarah Indonesia di era tahun 1910-1971.
Jumat pertama pertengahan tahun 1919, ketika matahari mulai beringsut, empat bibit beringin telah tertanam di tengah lahan seluas 30 hektar, bekas area persawahan yang telah ditimbun ratusan kubik tanah padas. Lahan itu berbatasan dengan Sungai Cikapundung dan Dagoweg[1]. Penanaman pohon itu sebagai penanda dimulainya pembangunan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng[2]. Berturut-turut Tuan Bertus Coops sebagai Burgemeester[3] Bandung dan Tuan J.W. IJzerman sebagai perwakilan dari KIHTONI[4], memberikan sambutan pada acara tersebut. Puncak acara itu ditandai dengan penguburan selembar piagam yang telah dimasukkan ke dalam looden[5] oleh Prof. Kloper, pimpinan sekolah sebagai salah satu tokoh yang namanya tertulis dalam piagam itu. Pont membungkukkan badannya ketika diperkenalkan sebagai arsitek bangunan itu dan juga pimpinan proyek.
Orang-orang telah beranjak. Langit senja oranye keunguan menghampar di cakrawala dan semilir angin dingin semakin membuat Pont enggan segera meninggalkan tempat itu. Noor, istrinya masih berdiri di samping Pont, menemani dan menunggu sampai suaminya itu mengajaknya pulang. Tangan mereka saling menggenggam erat. Sementara itu, anak-anak mereka berlarian menikmati suasana syahdu petang itu.
“Pandanglah langit di sana, Lieverd[6]. Indah sekali bukan? Negeri ini selalu membuatku rindu ketika kembali ke Belanda. Cintaku kepada negeri ini mungkin melebihi kepadamu,” kata Pont sembari memandang wajah Noor yang rambutnya berkibar disapu angin.
“Aku tidak cemburu, Pont,” jawab Noor.
“Kamu kedinginan?” Pont memanggil anak-anaknya setelah sebuah kecupan lembut di punggung telapak tangan Noor.
***
Pont sudah menjejakkan kakinya di lokasi pembangunan proyek Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng, ditemani mentari yang mulai mengintip di ufuk timur. Hawa dingin menembus jaket, menyusup ke pori-pori kulit, dan berakhir menusuk tulang-tulangnya. Ia tidak menghiraukan hal itu. Sudah tidak sabar memulai pekerjaan. Sembari menunggu para pekerja datang, ia mengambil buku dari tas kulit. Sketsa ilustrasi gedung yang akan dibangun, tergores di kertas itu dengan bentuk atap seperti rumah Minangkabau menjulang begitu megah. Matanya tajam mengamati detail-detail bangunan, ketika tangannya membuka lembaran-lembaran satu demi satu. Ia mengingat kritikan-kritikan dari sesama arsitek ketika Pont mempresentasi gambar rancangannya. Menurut temannya itu, penggunaan bentuk atap itu cenderung membuat masalah. Kebocoran yang mengakibatkan rangka atap cepat menjadi rapuh. Tapi, ia tidak menganggap hal itu sebagai permasalahan besar. Hanya sekadar perkara teknis biasa yang dapat dengan mudah dicari cara penyelesaiannya. Ia tetap mempertahankan desain rancangannya agar tetap bisa terwujud. Kecintaan dan kekaguman pada budaya lokal membuatnya ingin mendobrak gaya arsitektur kolonial yang lebih dulu hadir di Hindia-Belanda.
Pont mengalihkan pandangan dari sketsa bangunan kepada lahan pembangunan sekolah. Ia mulai membayangkan bangunan itu akan hadir dengan keramaian mahasiswa dari segala penjuru Hindia-Belanda. Kemudian ia melihat empat beringin yang telah tertanam di tengah-tengah lahan. Pohon itu akan tumbuh begitu rindang, membuat kawasan itu begitu asri, burung-burung beterbangan dengan berselimut hawa dingin Kota Bandoeng.
Beberapa jam kemudian, para pekerja proyek berdatangan. Material-material bangunan satu-persatu juga mulai tertata bertumpuk, batu kali, pasir, bata merah, dan besi-besi struktur. Gulungan-gulungan kertas kalkir berisi gambar bestek dibukanya. Ia berdiri gagah. Jas rapi, kaca mata hitam, dan topi laken menambah kewibawaan. Ia mulai mengarahkan kepala tukang untuk memulai tahapan persiapan pembangunan. Tukang mulai menarik meteran mengukur rencana bangunan, memaku papan bouwplank, dan menarik benang sebagai acuan as fondasi bangunan.
“Dicek sekali lagi! Jangan sampai meleset barang satu senti pun,” tegas Pont mengingatkan kepala tukang.
Detail lokalitas menjadi kekuatan desain rancangan Pont. Ia sangat berhati-hati dalam pengawasan proses pembangunan. Pekerjaan yang tak sesuai ukuran dan pedoman kerja, pasti dimintanya dibongkar. Ia juga tidak segan memecat pekerja yang tidak disiplin dan hasil pekerjaan yang berantakan. Cara kerjanya menjadi bumerang karena mengakibatkan progres berjalan lambat. Meskipun penuh ketegasan, dia juga murah hati membagikan ilmu-ilmu yang dimiliki. Keahliannya dalam teknik pertukangan selalu diajarkan kepada para tukang.
Oktober 1919
Hari telah berganti. Begitu pula bulan berjalan terasa cepat. Pont tidak menyadari waktu pelaksaan pembangunan sekolah telah sampai di penghujung tahun. Sedangkan progres konstruksi masih jauh dari harapan. Masih ada beberapa bangunan yang belum tersentuh. Barakgebouw A[7], Barakgebouw B[8], dan bangunan penghubung di sekitar gerbang utama belum terlihat bentuknya.
Profesor Klopper, salah satu petinggi Technische Hoogeschool te Bandoeng, risau jika pembangunan gedung tidak selesai tepat pada jadwal yang telah ditentukan. Ia memutuskan secara sepihak tanpa meminta pertimbangan dari Pont sebagai pimpinan proyek. Ia meminta insinyur zeni untuk membangun Hulpgebouwen[9] di sebelah timur Barakgebouw B. Pont tidak terima dengan tindakan yang dilakukan Profesor Kloper.
“Prof Klopper. Apa yang engkau lakukan itu merupakan sebuah pemerkosaan karya arsitektur. Engkau sudah melangkahiku sebagai pimpinan proyek.”
“Bukan begitu, Tuan Pont. Bangunan ini harus sudah siap tahun depan. Aku tak ingin jadwal pembukaan sekolah ini akan gagal di hari yang telah ditentukan. Hulpgebouwen itu segera akan dibongkar jika semua bangunan utama sudah selesai.”
Keputusan Prof. Klopper tetap saja berjalan tanpa mengindahkan pendapat Pont. Ia merasa tugasnya sebagai arsitek dan pimpinan proyek sudah tidak dihargai. Sejak saat itu semangatnya mulai mengendur dalam membidani gedung yang ia rancang.
Tepat setahun pembangunan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng, berlangsung acara pembukaan di gedung utama Barakgebouw B. Bangunan itu belum sepenuhnya selesai. Baru terpasang rangka-rangka konstruksi kuda-kuda atap. Rangkaian daun beringin hijau tergantung menghiasi lengkung parabola rangka struktur kayu. Panggung sudah tertata rapi dengan tanaman-tanaman hias sebagai dekorasi. Tulisan nama acara warna-warni sudah terpasang pada kain latar hitam.
Para pimpinan Technische Hoogeschool te Bandoeng dan pimpinan tokoh Hindia-Belanda hadir dalam acara itu.Anggota Raad van Indië[11], para direktur departemen, Direktur Javasche Bank[12], anggota Volksraad[13], Resident der Preanger Regentschappen[14], Dewan Kota Bandung, dan berbagai pejabat pemerintah. Tokoh-tokoh keraton dari Yogyakarta dan Solo juga turut diundang. Kemeriahan dan pesta pora merayakan mulai diresmikan penggunaan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng untuk proses belajar-mengajar. Konser musik dengan artis-artis yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda, semakin menambah semaraknya acara itu.
Namun Pont, sang Arsitek, tidak menampakkan batang hidungnya. Ia tidak setuju dengan pergelaran acara itu. Baginya, sebuah karya arsitektur ibarat janin bayi yang dikandung. Pipinya basah mengingat malam-malam jauh sebelum dimulainya pembangunan. Di antara malam-malam dingin dan perlawanan tubuhnya terhadap penyakit yang malaria yang menyerangnya, ia harus menyelesaikan rancangan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng. Seperti halnya saat ini, ia tergeletak di ranjang jauh dari hingar bingar peresmian bangunan itu. “Och, wat jammer voor je, M’n kind” ucapnya dalam hati.
____________________
KesitH. Setyadji. Tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio. Aktif menulis di Yeka (Ruang Kecil untuk Berkarya).
[1] Sekarang namanya menjadi Jl. Dago dan terakhir menjadi Jl. Ir. H. Juanda.
[2] Kelak akan berubah menjadi Intitut Teknik Bandung (ITB).
[4]Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië – KIHTONI (Institut kerajaan bagi pendidikan teknik tinggi di Hindia Belanda) selaku pemilik Technische Hoogeschool te Bandoeng.
Judul Film:Practical Magic: The Book of Magic(2026)
Practical Magic: The Book of Magic, sebenarnya saya tak pernah merencanakan nonton film ini. Saya waktu itu hanya sedang mencari film dengan jam tayang paling dekat. Dari beberapa pilihan yang ada di bioskop, film inilah yang waktunya paling memungkinkan. Maka asal saja beli tiket dan nonton lebih dari 2 jam lebih. Nyaris tak ada ekspektasi. Ya selayaknya film remaja tentang sihir dan percintaan standar ‘cinta monyet’ saja. Tapi akhirnya, saya menemukan satu nilai yang bagi saya sangat istimewa: IBU.
Kebetulan, belum lama ini saya baru saja menulis tentang Insidious, juga dari sudut pandang seorang ibu. Dan hari itu, tanpa saya rencanakan, saya kembali duduk di dalam bioskop menyaksikan cerita yang pada akhirnya membawa saya kepada tema yang sama.
Hanya saja, kedua film ini berbicara tentang ibu dengan cara yang berbeda. Dalam Insidious, seorang ibu berhadapan dengan bahaya yang sudah berada di depan mata. Ia harus berjuang untuk menyelamatkan anaknya. Cinta seorang ibu bergerak ke arah tindakan: mencari, melawan, bertahan. Sementara dalam Practical Magic: The Book of Magic, ketakutan seorang ibu justru bekerja jauh sebelum bahaya datang.
Sally Owens tahu bagaimana rasanya kehilangan. Ia tahu keluarganya memiliki sejarah yang tidak sederhana. Ada sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya dan bisa membawa penderitaan kepada orang-orang yang dicintai. Karena itu, ketika menjadi ibu, keinginannya sederhana: anak-anaknya jangan sampai mengalami apa yang pernah dialaminya.
Bukankah itu salah satu bentuk cinta yang paling mudah dipahami?
Kita ingin anak kita tidak mengalami kegagalan yang pernah kita alami: bertemu orang yang salah, membuat keputusan yang salah, merasakan sakit yang pernah kita rasakan. Sebagai orangtua, pastinya kita ingin memindahkan pengalaman kita ke dalam hidup mereka sebagai semacam peta. Jadi mereka bisa menggunakan peta tersebut agar tidak tersesat seperti yang pernah kita alami.
Tetapi masalahnya, hidup bukan peta. Dan anak-anak bukan perpanjangan dari pengalaman orang tuanya. Nah, di sinilah saya merasa film ini menjadi lebih menarik daripada sekadar film fantasi tentang keluarga penyihir. Sally ingin melindungi anak-anaknya. Tetapi perlindungan seorang ibu kadang memiliki sisi lain: ketakutan.
Ketika seorang ibu terlalu takut anaknya terluka, ia bisa mulai menentukan apa yang boleh diketahui anaknya. Lalu berkembang menjadi apa yang boleh dilakukan. Lebih parah lagi seorang ibu merasa berhak menentukan siapa yang boleh dicintai anaknya. Bahkan jalan hidup mana yang dianggap aman. Semua hal itu dilakukan atas nama cinta.
Tetapi apakah segala hal yang dilakukan atas nama cinta selalu benar? Film ini tidak memberikan jawaban yang terlalu sederhana. Justru hubungan antara Sally dan anak-anaknya membuat pertanyaan itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada saat ketika seorang anak merasa ibunya terlalu banyak melarang. Ada saat ketika ia menganggap ibunya tidak percaya kepadanya. Lalu bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi dewasa, ia mungkin baru mengerti bahwa sebagian larangan itu sebenarnya lahir dari ketakutan. Hanya saja, memahami ketakutan seorang ibu tidak otomatis membuat semua keputusan ibu menjadi benar.
Saya teringat kembali pada Insidious. Kedua film ini sama-sama menempatkan ibu sebagai sosok yang bersedia melakukan apa saja demi anaknya. Tetapi keduanya menunjukkan dua sisi cinta yang berbeda.
Dalam Insidious, cinta seorang ibu diuji ketika ia harus masuk ke dalam bahaya untuk menyelamatkan anaknya. Dalam Practical Magic, cinta seorang ibu diuji ketika ia harus belajar bahwa melindungi anak bukan berarti menghilangkan seluruh kemungkinan bahaya dari hidupnya.
Yang satu mengajarkan keberanian untuk menghadapi sesuatu. Dan yang lain mengajarkan keberanian untuk melepaskan sesuatu. Bisa jadi yang kedua justru terasa lebih sulit. Sebab seorang ibu bisa saja rela menghadapi monster, kutukan, bahkan kematian demi anaknya. Tetapi melepaskan anak untuk membuat keputusan sendiri membutuhkan bentuk keberanian yang berbeda. Ada rasa takut yang harus ditahan. Lalu muncul keinginan untuk berkata, “Jangan.” Semua itu hasil dari dorongan untuk menyelamatkan sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Padahal anak mungkin memang harus jatuh agar tahu bagaimana caranya bangun.
Bagi saya, itulah yang membuat tema ibu dalam Practical Magic: The Book of Magic terasa lebih personal. Sihir di film ini memang menjadi bagian penting dari cerita. Tetapi semakin lama saya menontonnya, saya justru merasa bahwa “sihir” yang sesungguhnya adalah sesuatu yang jauh lebih biasa: cinta seorang ibu yang begitu besar sampai kadang sulit membedakan antara melindungi dan mengendalikan. Mungkin setiap ibu pernah berada di batas tipis itu. Ia ingin menggenggam karena takut kehilangan dan juga melarang karena takut anak terluka. Seorang ibu selalu ingin menyelamatkan karena merasa sudah tahu seperti apa rasa sakit itu. Tetapi anak tetap harus memiliki hidupnya sendiri.
Mungkin karena itulah dua film yang sebenarnya sangat berbeda, Insidious dan Practical Magic: The Book of Magic, akhirnya membawa saya kepada kesimpulan yang hampir sama: seorang ibu memang akan selalu ingin menyelamatkan anaknya. Namun ada masa ketika bentuk cinta yang paling besar bukan lagi menyelamatkan, melainkan percaya. Ia harus percaya bahwa anaknya mampu menghadapi dunia.
Dan ketika anak menemukan satu kenyataan bahwa dunia ternyata terlalu keras, ia harus sadar bahwa rumah tetap menjadi tempat untuk pulang.
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.
Saya tidak langsung menutup buku itu setelah selesai membaca halaman terakhirnya. Saya diam sebentar. Bukan karena ceritanya membuat saya takut. Justru sebaliknya. Setelah membaca Iblis karya Yuditeha, saya malah merasa perlu memeriksa sesuatu yang lebih dekat: manusia. Mungkin diri sendiri.
Sebab sepanjang membaca kumpulan cerpen yang diterbitkan Langgam Pustaka ini, saya seperti sedang diajak melihat iblis dari jarak yang berbeda. Bukan sebagai makhluk bertanduk yang muncul dari tempat gelap, melainkan sebagai sesuatu yang bisa tumbuh dari hal-hal yang sangat biasa: prasangka, keserakahan, nafsu, kekuasaan, fanatisme, dan keyakinan bahwa diri kita selalu berada di pihak yang benar.
Ada empat belas cerpen di dalam buku ini. Masing-masing memiliki persoalannya sendiri. Namun, saya merasakan satu benang merah yang terus mengganggu: manusia ternyata punya kemampuan luar biasa untuk melakukan sesuatu yang buruk sambil meyakini bahwa dirinya sedang melakukan kebaikan. Dan bukankah itu yang paling menakutkan?
Dalam “Babi”, misalnya, persoalan yang tampaknya sederhana berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Ada kabar, kecurigaan, dan sekelompok manusia yang kemudian merasa tahu siapa yang patut dicurigai. Saya tidak akan menceritakan bagaimana ceritanya berakhir. Tetapi bagi saya, bagian yang paling mengusik bukanlah persoalan babinya, melainkan kerumunan. Saya selalu curiga kepada kerumunan yang terlalu cepat menemukan orang untuk disalahkan.
Kita hidup di zaman ketika satu pesan WhatsApp bisa lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi. Sebuah potongan video dapat mengubah penilaian kita terhadap seseorang. Satu kalimat yang keluar dari mulut orang lain bisa membuat kita membenci seseorang yang bahkan belum pernah kita temui.
Yuditeha membawa kegelisahan semacam itu ke dalam cerita. Ia tidak perlu berteriak kepada pembaca bahwa prasangka itu berbahaya. Ia cukup memperlihatkan bagaimana prasangka bekerja. Perlahan. Dari satu orang ke orang lain. Dari bisik-bisik menjadi keyakinan. Dari keyakinan menjadi tindakan. Di situlah saya merasa cerpen-cerpen dalam Iblis dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan terlalu dekat.
Cerpen Iblis sendiri menjadi salah satu cerita yang membuat saya kembali memikirkan judul buku ini. Tokoh yang tampak religius dan memiliki pengaruh justru memperlihatkan bahwa kesalehan yang terlihat dari luar belum tentu berbanding lurus dengan apa yang disimpan seseorang di dalam dirinya.
Saya menyukai keberanian Yuditeha memasuki wilayah seperti ini. Agama, moralitas, kekuasaan, tubuh, uang, dan hasrat bukan perkara sederhana. Tetapi Yuditeha tidak mengubahnya menjadi ceramah. Ia membiarkan tokoh-tokohnya bergerak, mengambil keputusan, berbuat salah, menyembunyikan sesuatu, lalu membiarkan pembaca membuat penilaiannya sendiri.
Bahasanya pun tidak berusaha menjadi rumit. Ini salah satu hal yang saya sukai dari buku ini. Yuditeha seperti tahu bahwa cerita yang kuat tidak selalu membutuhkan kalimat yang ingin terlihat pintar. Ia menggunakan bahasa yang relatif sederhana, tetapi membiarkan persoalan di dalam ceritanya menjadi rumit. Akibatnya, kita tidak sibuk mengagumi kalimat. Kita justru sibuk memikirkan manusia yang ada di dalamnya.
Dan manusia-manusia itu tidak selalu menyenangkan. Ada yang mudah percaya. Ada yang suka menghakimi. Ada yang menggunakan agama untuk kepentingan sendiri. Ada yang tergoda oleh kekuasaan. Ada yang menyimpan kejahatan di balik wajah yang dipercaya banyak orang. Tetapi yang membuat buku ini terasa lebih jujur bagi saya adalah: tidak ada jarak yang benar-benar aman antara mereka dan kita.
Saya bisa saja membaca cerita tentang seseorang yang suka menghakimi dan merasa, “Untung saya tidak seperti dia.” Padahal, mungkin saya pernah melakukan hal yang sama. Hanya bentuknya berbeda. Atau bahkan lebih buruk dari itu.
Saya pernah mempercayai sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya. Pernah menilai seseorang hanya dari cerita orang lain. Pernah merasa paling tahu tentang kehidupan seseorang hanya karena melihat sedikit bagian dari hidupnya. Mungkin di situlah iblis bekerja paling baik. Ia tidak selalu membuat kita menjadi orang jahat. Kadang ia hanya membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwa mungkin iblis tidak selalu membutuhkan manusia yang kejam. Ia hanya membutuhkan manusia yang merasa dirinya benar. Sebab ketika seseorang sudah yakin dirinya benar, ia bisa melakukan banyak hal tanpa merasa sedang melakukan kesalahan. Itulah yang membuat Iblis bagi saya bukan sekadar kumpulan cerita tentang keburukan manusia. Buku ini seperti cermin yang diletakkan diam-diam di hadapan pembacanya. Dan cermin tidak pernah memilih siapa yang akan terlihat buruk. Ia hanya memantulkan.
Saya menutup buku itu akhirnya. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tertutup bersamanya, kecurigaan kecil kepada manusia. Termasuk kepada diri saya sendiri. Barangkali itulah keberhasilan sebuah buku: bukan ketika kita selesai membacanya, melainkan ketika beberapa halaman masih terus hidup di kepala setelah buku itu dikembalikan ke rak.
Dan Iblis membuat saya bertanya sekali lagi: Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk mencari iblis di luar sana, sementara diam-diam kita sedang memberinya tempat di dalam diri sendiri.
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.
Suara gemericik air yang menetes di kaleng terdengar dengan jelas, membangunkanku. Rupanya aku telah tertidur, namun aku tidak dapat melihat apa-apa. Sekelilingku gelap. Apakah aku buta? Ataukah aku berada di ruang gelap? Sementara di kakiku, seperti ada yang mengalir, terasa perih. Apakah itu darah? Lantai ruang ini becek. Aku tidak tahu, aku berada di ruang apa?
“Tolong, tolong!” teriakku kencang. Aku mendengar suaraku menggema.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku disekap di ruang ini. Aku juga tidak ingat, peristiwa apa yang kualami, sehingga tangan dan kakiku harus diikat. Apa kesalahanku, hingga aku diperlakukan seperti ini? Tiba-tiba ada bunyi langkah kaki mendekat. Tampaknya lebih dari satu orang. Aku ketakutan dan badanku gemetar. Apakah mereka orang jahat ataukah orang yang akan menolongku?
Saat orang itu tiba, menyalakan lampu dan terbelalaklah mataku dan jeritanku mengagetkan mereka. “Tenang, tenang.” Seorang pemuda berpakaian polisi menghampiriku dan melepaskan ikatan tangan dan kakiku.
“Pak, kenapa saya berada di sini?”
“Sudah, kamu tidak ada waktu lagi. Kamu cepat pulang ke rumah orang tuamu.”
“Lantas, Bu Nani bagaimana?” tanyaku
“Kamu cepat pulang, jangan banyak tanya. Nyawa kamu terancam,” jelas pemuda itu.
Aku cepat-cepat berjalan meski terseok-seok. Kendati kepalaku masih terasa sakit, kakiku perih dan memar, tapi aku paksakan diri untuk berjalan.
“Kau coba telepon ambulan.” Pemuda itu memberi instruksi pada salah seorang polisi.
“Siap inspektur,” kata salah seorang Bharatu.
Ketika mereka sedang sibuk mengurus jenazah Bu Nani, aku mengemas beberapa pakaian. Tanganku gemetaran, aku menangis melihat ibu terbujur kaku. Hatiku berkecamuk dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
“Istri Jenderal meninggal. Tolong jemput aku sekarang, Pak.” Aku menelpon bapakku.
“Maksudmu, Bu Nani?”
“Iya, Pak.”
“Innalillahiwainnailaihirojiun. Nak, bukankah kamu harus tetap di sana.”
“Inspektur menyuruhku segera pulang malam ini, Pak. Bapak jemput aku ya. Aku ketakutan,” rengekku.
“Baiklah, kamu kemasi pakaian dulu. Setengah jam, bapak sampai di sana.”
“Kelamaan, Pak. Aku takut.” Aku menangis.
“Kalau begitu, pesan grab saja.”
“Baik, Pak. Bapak tunggu aku ya.”
“Baik, Nduk.”
***
“Ini bukan pertama kali. Kau sudah berulang kali bertemu suamiku. Kau tidak tahu malu. Berani-beraninya merebut suami orang.” Nani langsung memborbardil kata-kata ketika bertemu Maya, selingkuhan suaminya.
“Heh, kau yang harusnya introspeksi. Aku tidak pernah mencari suamimu, dan tidak pernah mau merebut suami orang, justru suamimulah yang terus menerus mencariku,” kata Maya.
Aku mulai ingat samar-samar pertengkaran Bu Nani dengan Maya, sosialita yang lagi naik daun.
“Saya beri kau kesempatan untuk tinggalkan suami saya. Kalau tidak, tahu rasa,” ancam Bu Nani.
“Siapa yang mau dengan suamimu. Saya sudah menolak kedatangannya berulang kali, tapi dialah yang terus datang ke rumah saya.”
“Aduhh, kau sungguh keras kepala.” Tangan Bu Nani mencengkeram kerah baju Maya dan mencekik leher yang memakai kalung Mutiara berliontin berlian.
“Kau lihat, ini kalung pemberian Jenderal. Kau tidak punya, kan?” Tawa Maya mengejek.
“Persetan dengan semua itu.” Bu Nani langsung menarik kalung Maya dengan kencang, dan butiran mutiara itu berceceran di tanah.
“Apa ini? Kok ada serbuk putih di mutiara?” tanya Bu Nani heran sambil menjambak rambut Maya.
Maya tertawa. Didoronglah tubuh Maya hingga jatuh ke belakang. Ketika aku mencoba melerai pertengkaran mereka, masuklah Jenderal Trisna, kepalaku dihantam benda berat, sehingga membuat aku pingsan. Aku menceritakan semua kejadian itu kepada bapakku, ketika kepalaku sudah berangsur pulih dan mengingat kejadiannya.
“Wah, kalau begitu kau harus bersaksi di pengadilan, Nduk,” kata bapakku.
“Tapi aku tidak ingat kejadian detailnya, Pak.”
“Ceritakanlah apa saja yang kau ingat.”
“Baik, Pak.”
***
Airbus A380 yang kunaiki memang salah satu jet pribadi termahal di dunia. Di dalam jet pribadi ini, selain memiliki ruang makan yang elegan, juga terdapat ruang konser, bar, ruang gimnastik dan ruang kantor cukup besar yang dilengkapi dengan perabotan mewah.
“Permisi, Bu Jenderal, ini juice kiwi dan timun pesanan, Ibu.” Seorang pramugari meletakkan minuman di atas meja.
“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum.
Sudah tiga tahun ini, aku menemani Jenderal Trisna bertugas. Orang memanggilku Bu Jenderal, tapi sebetulnya kami masih menikah siri. Itupun hanya ajudan dan orang terdekat yang tahu. Jenderal masih memakai surat nikah istri pertama, sehingga hanya orang-orang terdekat saja yang tahu bahwa aku hanyalah pengganti Bu Nani. Jika ada yang sampai membocorkan rahasia ini, maka nyawanya melayang.
Jenderal Trisna tidak mau nikah sirinya terbongkar, hal yang bisa membuatnya menerima sanksi pemecatan, karena dianggap menurunkan kehormatan dan martabat Polri.
Sepintas terlihat kehidupanku tampak diimpikan banyak gadis-gadis muda. Orang hanya melihat hidupku bak putri kerajaan, serba mewah, bergelimang harta, dihormati orang-orang, apalagi hidup bersama petinggi yang mempunyai kekuasaan. Apa yang kurang? Status sebagai istri Jenderal memiliki banyak keuntungan. Hidup di kalangan orang-orang tajir, yang memiliki uang tak berseri.
Kenikmatan hidup yang diidamkan banyak orang terlihat terasa bahagia. Namun sesuatu yang terlihat, belum tentu sesuai dengan kenyataan. Setiap hari, hidupku dalam bahaya. Semua perintah Jenderal harus kuturuti, tidak boleh ada satu pun celah yang membuat Jenderal mencurigaiku. Itulah sebabnya, kemewahan yang kudapatkan itu senilai dengan nyawaku.
Entah bagaimana, saat ini degupan jantungku terasa kencang sekali. Meski aku berusaha duduk tenang di dalam pesawat, disertai juice Kiwi Mentimun, namun aku tidak dapat merasakan kenyamanan. Untuk meredakan dag dig dugku, aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ke kamar. Sewaktu aku melewati ruang rapat, di mana terlihat ada beberapa petinggi korps Bhayangkara, aku menjadi heran. Aku mendapat peringatan. “Maaf, Bu, tempat ini tidak boleh dilewati.” Salah seorang ajudan Jenderal menghalangi langkahku.
“Kenapa tidak boleh?” tanyaku memperpanjang waktu, berusaha untuk mendengar apa yang dirapatkan.
“Ini perintah Jenderal,” jawabnya singkat.
Aku diam saja, samar-samar aku menjadi terkejut, ketika mendengar nama Bu Nani disebutkan. Karena rasa penasaran, aku langsung melempar microdot tiny audio recorder ke karpet rapat. Microdot itu ukurannya hanya 12 mm saja. Warnanya hitam. Jadi nyaris tak terlihat oleh mata saat berada di atas karpet bulu cokelat gelap itu.
“Ok, baiklah.” Aku meninggalkan tempat itu dan langsung masuk ke kamarku. Di dalam kamar diam-diam kudengar semua pembicaraan di ruang rapat rahasia. Saat sedang asyik mendengarkan, tiba-tiba Jenderal Trisna memasuki kamarku dan mencabut ear phone yang kudengar.
“Apa ini? Kau tadi menguping ya!” Hardik Jenderal Trisna dengan suara kerasnya. “Kau tidak tahu diri. Berani-beraninya mematai-mataiku. Aku sudah memberi kehidupan serba mewah kepadamu, tapi kau tidak menghargaiku. Kau malah mencurigaiku.”
Aku menjadi gemetaran. Tidak kusangka tini recorder sekecil itu dapat diketahui Jenderal. Tanpa ampun lagi, Jenderal Trisna menghajarku.
“Ampun, Pak. Ampunnn.” Aku berusaha menutupi kepalaku agar tidak dipukul bertubi-tubi.
“Berhubung kau sudah mendengar pembicaraan rapat tadi, kau harus ikut ambil bagian.” Hardik Jenderal Trisna keras, membuat jantungku kembali berdegup lebih kencang.
“Mulai besok kau harus dieksekusi.”
“Ampun Jenderal. Jangan eksekusi saya.” Tangisku sambil memegang kakinya.
“Jika kau tidak mau dieksekusi, kau harus ikut mengeksekusi. Paham!”
Aku hanya bisa menangis. Malam itu malam yang mencekam. Aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang, Aku tidak tahu, apa yang menjadi rencana Jenderal? Tapi sekilas tadi aku mendengar ada gudang yang dijadikan tempat penyimpanan narkotika jenis sabu-sabu.
***
Selama perjalanan bersama supir, ajudan dan petinggi di dalam mobil, kami semua lebih banyak diam. Aku terlihat gugup dan terus meremas tanganku. Aku diberi sebuah pistol untuk mengeksekusi seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa yang akan dieksekusi.
Sejam yang lalu, aku ingin menelepon bapak, tapi aku dijaga ketat oleh salah seorang polisi. Ketika aku akan menelpon, polisi itu melarangku. Ketika aku melihat HP, tidak diperbolehkan. Aku tidak bisa apa-apa. Tapi aku tidak kekurangan akal, aku ketik nama bapakku, kemudian aku masukkan HP ke dalam saku celanaku dan jariku menelepon bapak diam-diam. Dari seberang sana, bapak bisa tahu, kalau aku tidak berbicara, itu artinya bapak tahu bahwa situasinya gawat.
Jadi saat ini pun, meski aku terlihat cemas, tapi aku merasa bapakku ada di sampingku. Beliau dapat mendengar semua pembicaraan yang ada di dalam mobil dan dapat mengetahui perjalananku menuju ke arah mana. Ketika sampai di tempat, aku di suruh Jenderal masuk duluan. “Kamu masuk ke rumah itu?”
“Rumah siapa pak?” tanyaku heran.
“Kamu akan tahu, setelah kamu berjumpa orangnya.”
Aku melangkah perlahan-lahan dan mengetuk pintu rumah itu. “Assalamualaikum.” Tampak tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi. “Spada.”
“Sebentar.” Suara dari dalam terdengar dan langkah kaki.
“Ibu.” Aku terkejut menyaksikan Bu Nani yang membuka pintu.
Belum sempat Bu Nani menjawab, Jenderal Trisna langsung muncul di belakangku dan menodongkan pistol ke pinggangnya.
“Pak, apa yang kau lakukan? Aku tidak mengganggu kehidupanmu. Aku juga tidak melapor kau telah menikah berapa kali.” Bu Nani terlihat cemas. Suaranya gemetaran.
“Benarkah?” Jenderal Trisna mendekatkan wajahnya ke Bu Nani.
“Iya pak. Jangan bunuh aku, Pak,” pinta Bu Nani.
“Siapa yang akan membunuhmu? Saya tidak akan membunuhmu.” Suara Jenderal tertawa terkekeh. “Sinda,” panggil Jenderal dengan suara keras.
“Siap, Pak,” sahutku.
“Kau tembak dia,” perintah Jenderal.
“Sekarang, Pak?”
“Iya, tembak dia.”
Tanganku gemetaran, tapi karena Jenderal terus menyuruhku, sehingga tanpa sadar aku menembak ke bagian pinggir dada Bu Nani.
Door….
“Maafkan aku, Bu.” Seraya menembak, aku langsung meminta maaf. Aku menangis tidak tega. Tanganku gemetaran, aku hanya menembak sekali saja.
“Tembak lagi. Tembak. Tembak!” teriak Jenderal semakin keras.
Terpaksa aku menembak lagi, tapi kutembak kakinya saja. Aku tidak berani menembak ke jantungnya, meski sudah pernah berlatih. Tidak berapa lama, beberapa anggota polisi datang. Jenderal Trisna melaporkan bahwa aku telah menembak Bu Nani, sehingga mereka memborgol tanganku. Mereka lantas membawaku ke mobil polisi dan memenjarakanku.
***
“Nduk.” Bapakku menjengukku di kepolisian. “Bapak sudah mendengar semua peristiwa. Dan bapak sudah menyerahkan rekaman suara itu ke kepolisian. Kamu tenang saja. Kamu pasti bebas, Nak,” hibur bapak sambil mengelus kepalaku.
“Pak, mereka mengintaiku terus.”
“Bapak juga mengintaimu terus.” Bapak tersenyum.
Aku tersenyum mendengar lelucon bapak, yang tampak sungguh-sungguh melindungiku.
“Nduk, bapak tahu, ketika kau dipersunting Jenderal. Bapak sudah melobi beberapa petinggi Polri. Bapak sudah merasa, pasti ada yang tidak beres dengan Jenderal, tapi bapak takut jika menolak permintaan Jenderal menikah denganmu, maka nyawa bapak terancam. Maafkan bapak, Nduk.”
“Bukan salah Bapak.”
“Tapi kau hebat, Nduk. Kau akan menjadi saksi kejahatan yang dilakukan oleh Jenderal Trisna.”
“Bapak yang hebat. Bapak sudah mempersiapkan rekaman semuanya. Aku yang harusnya berterima kasih kepada Bapak.”
“Nduk, persidangan ini perlu waktu agak lama, karena harus mempersiapkan saksi-saksi.”
“Gak apa-apa, Pak. Oiya, Pak, aku sempat ditawarin Jenderal uang 10 M, asalkan aku mau menembak mati Bu Nani, tapi aku gak mau. Aku hanya menembak pinggiran dada dan kaki saja pak.”
“Iya, Bapak tahu. Kamu gak mungkin tega membunuh Bu Nani.”
“Oiya, Bapak kok bisa kenal Bu Nani? Kenal dari mana?” tanyaku penasaran.
Bapak hanya tersenyum, tidak menjelaskan, tapi aku memakluminya. Mungkin bapak merasa bersalah saat Jenderal meminta aku untuk bekerja di tempat Jenderal, sebagai gantinya bapakku.
“Bapak yang menolong Bu Nani waktu sekarat itu. Dan bapak mencari rumah kost untuk ditempati Bu Nani.”
“Ow pantas. Tapi kenapa Bapak tidak beritahu saya?”
“Kalau bapak beritahumu, nanti Jenderal bisa tahu. Kan teleponmu disadap.”
Kamipun tertawa bersama-sama.
***
Barang bukti yang dibawa bapakku sudah diamankan oleh tim pengacara untuk dibawa ke persidangan. Hasil persidangan tidak semudah yang dibayangkan, meski ada barang bukti, Jenderal Trisna bisa berdalih. Ketika Bu Nani muncul di persidangan, beberapa petinggi menjadi ketakutan.
Selama ini Bu Nani yang dikenal lembut, selalu melindungi kebusukan suaminya dengan mengatakan hal yang baik-baiknya saja. Jika ada yang mencurigai Jenderal Trisna mempunyai selingkuhan, atau menikah diam-diam, maka Bu Nani menutupi dengan cara menghajar selingkuhan suaminya. Bu Nani ingin menjaga harkat dan martabat suaminya.
Tapi melihat sifat suaminya semakin brutal dan ancamannya membuat Bu Nani gentar, maka dia melaporkan ke pimpinannya. Berharap Kepala Divisi Polri dapat menindaklanjuti pengaduan dirinya itu. Tapi malah dirinya terkena ancaman pembunuhan. Bu Nani berharap Institusi yang seharusnya punya peranan menegur dan memberi sanksi kepada anggota polri yang menyimpang, malah laporan itu berbalik menjadi senjata yang menghantam dirinya.
“Demi menikahi wanita itu, Jenderal tega membunuhku, Yang Mulia,” jawab Bu Nani.
“Lantas siapa yang menolong Bu Nani?” cecar Hakim Adi, sambil menatapnya tajam.
“Brigadir Lukas, Yang Mulia.”
“Siapa dia?”
“Beliau dulu ajudan saya.”
“Mengapa dia sudah tidak menjadi ajudan Anda?”
“Dia takut di bunuh Jenderal, Yang Mulia.”
“Mengapa dia takut dibunuh?”
“Karena beliau tahu permainan bisnis haram yang dijalankan suami saya. Juga mengetahui wanita-wanita selingkuhannya adalah salah satu pion bandar narkoba.”
Brigadir Lukas membocorkan rahasia pada Bu Nani tentang bisnis apa saja yang dijalani Jenderal, rencana jahat apa yang sedang direncanakan, serta dunia gangster yang dipimpinnya. Selain itu Jenderal Trisna menggunakan kekerasan di dalam menyelesaikan masalah yang mengganjal dirinya.
Meski Bu Nani tahu rahasia yang dibuka di persidangan akan membahayakan posisi suaminya seorang Jenderal, yang akan terkena sanksi pemecatan terkait kasus pembunuhan dirinya sebagai istri pertamanya, tapi Bu Nani tidak khawatir. Baginya jabatan adalah amanah, yang tidak berarti jika dilumuri dengan darah orang-orang tak bersalah.
Bu Nani juga bersaksi selama disiksa dan disekap di dalam gudang, Brigadir Lukas, yaitu bapakku, telah menolongnya. Awalnya Bu Nani dikiranya meninggal, karena kepalanya dihantam benda keras, tapi nyawanya terselamatkan. Berkat kesaksian Bu Nani dan bukti-bukti yang memberatkan, Jenderal Trisna dicopot jabatannya. Meski aku pernah menjadi istri Jenderal, tapi Bu Nani-lah istri Jenderal yang sejati. Beliaulah yang layak disebut Istri Jenderal. Kewibawaan dan keberanian Bu Nani mengungkap fakta kebusukan suaminya, mengantarkan dia sebagai wanita yang dikagumi orang-orang.
“Yang Mulia, saya tahu, suami saya melakukan kejahatan terencana itu sebenarnya memiliki kerapuhan jiwanya. Saya tidak ingin menyakitinya tapi saya tidak bisa membiarkan kesalahan yang terus dilakukan. Mohon yang Mulia mengeksekusi dengan adil,” jelas Bu Nani.***
Curug, 7 Nopember 2022
____________________
Moony Tan. Seniman sejati, penuh semangat dan kreativitas. Ia mengekspresikan dirinya melalui tulisan, lukisan, fotografi, hingga desain. Pernah pula ia menorehkan jejak di panggung fashion show, mempersembahkan beberapa rancangan busana karyanya sendiri. Pernah juga menyutradarai opera & teater comedi. Penyuka udara sejuk ini tengah menempuh studi sambil menyalurkan hobinya: traveling, fotografi, serta menjelajahi museum dan galeri seni. Bagi Moony, seni bukan sekadar hobi, melainkan napas yang menghidupkan kreativitasnya.