Judul Buku : Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit
Penulis : Y. Agusta Akhir
Penerbit : Penerbit Lakeisha
Cetakan : Agustus 2022
Ukuran/Halaman : 14,8 cm x 21 cm, 232 Hal
ISBN : 978-623-420-295-3
Novel Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit karya Y. Agusta Akhir bukan novel berkisah secara lurus, tidak pula sibuk menjelaskan mana benar dan mana salah. Novel ini bergerak pelan di wilayah rumit, tentang bagaimana manusia menghadapi masa lalunya, bagaimana kesalahan membentuk kehidupan, dan bagaimana pengampunan sering kali jauh lebih sulit daripada hukuman.
Novel ini dibangun melalui delapan belas bab di mana judul-judulnya memakai kutipan kalimat dari bab terkait. Pilihan tersebut membuat setiap bab terasa seperti penegasan gagasan. Judul-judul itu tidak sekadar penanda peristiwa, melainkan pintu masuk menuju persoalan batin tokohnya.
Dua tokoh utama, Syalala dan Khadafi, bergerak dalam jalur cerita terpisah. Namun seiring perkembangan novel, pembaca akan melihat bahwa keduanya sedang menempuh perjalanan serupa, perjalanan menuju pengenalan diri. Mereka sama-sama dikejar sesuatu dari masa lalu. Bedanya, Syalala berlari secara harfiah, sedangkan Khadafi berlari melalui perubahan hidup yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Salah satu kekuatan novel ini, keberanian penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak mudah disukai, tetapi juga tidak mudah dibenci. Syalala adalah perempuan yang hidup dalam lingkungan keras. Ia menyandang identitas yang bisa membuat banyak orang mudah menghakiminya. Namun novel ini tidak pernah meminta pembaca merasa kasihan kepadanya. Pembaca diajak melihat bagaimana seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat tetap memiliki kemampuan memilih, menolak, menyesal, marah, dan mencintai.
Khadafi pun demikian. Ia bukan sosok suci yang membawa solusi. Masa lalunya penuh tindakan buruk. Namun novel ini memperlihatkan bahwa perubahan manusia tidak pernah berlangsung mulus. Seseorang dapat berubah tanpa sepenuhnya memahami mengapa dirinya berubah. Dalam kehidupan nyata, keadaan seperti ini sering terjadi. Tidak semua pertobatan lahir dari kesadaran utuh. Ada yang datang melalui kebingungan, kehilangan arah, bahkan melalui serangkaian peristiwa yang sulit dijelaskan secara logis.
Di tengah kisah tersebut hadir sosok yang mungkin paling menarik, yaitu kehadiran Kitmir. Anjing yang dapat bicara. Ia bukan sekadar fantasi. Kehadirannya justru menjadi pusat pemikiran novel. Kitmir tidak tampil sebagai makhluk penyelesai masalah. Ia lebih menyerupai suara kebijaksanaan dari tempat tidak terduga.
Pilihan menjadikan seekor anjing sebagai pembawa banyak gagasan moral terasa penting. Dalam banyak pandangan sosial dan keagamaan, anjing sering ditempatkan pada posisi problematis. Namun novel ini membalikkan keadaan. Melalui Kitmir, dipertanyakan kembali mengenai ukuran kemuliaan. Apakah kemuliaan ditentukan oleh status, masa lalu, profesi, atau kemampuan seseorang memperlakukan sesama makhluk dengan baik?
Pertanyaan semacam itu muncul berulang kali sepanjang novel. Bahkan salah satu gagasan paling kuat adalah bahwa manusia sering kali mudah menilai dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Padahal, dalam kenyataan, banyak tindakan manusia justru lebih buruk daripada yang dilakukan binatang.
Novel ini juga menggabungkan unsur-unsur dari berbagai sumber cerita dan tradisi. Kisah tujuh pemuda penghuni gua, tokoh-tokoh religius, mimpi, surat, orang hilang, hingga percakapan tentang Tuhan hadir dalam satu ruang. Namun semuanya tidak digunakan sebagai hiasan. Unsur-unsur tersebut dipakai untuk membangun perenungan mengenai hubungan manusia dengan takdir.
Di sini takdir tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengikat. Tokoh-tokohnya tetap memiliki pilihan. Mereka tetap dapat memutuskan untuk membenci atau memaafkan, membunuh atau mengurungkan niat, lari atau menghadapi kenyataan. Karena itu, novel ini sesungguhnya lebih banyak berbicara tentang tanggung jawab daripada nasib.
Hal lain yang cukup menonjol adalah cara novel memandang kejahatan. Banyak karya fiksi membagi dunia menjadi dua kubu yang jelas. Orang baik berada di satu sisi, orang jahat berada di sisi lain. Novel ini menolak pembagian semudah itu. Tokoh-tokohnya menyimpan luka, dendam, kesalahan, dan penyesalan dalam kadar berbeda-beda.
Dari situ lahir gagasan cukup tajam, bahwa kejahatan sering kali tidak hadir dalam bentuk monster. Ia bisa muncul dari manusia biasa. Seseorang dapat melakukan tindakan buruk sambil tetap meyakini dirinya benar. Sebaliknya, seseorang yang dianggap buruk oleh masyarakat belum tentu kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya.
Karena itu tema pengampunan menjadi sangat penting dalam novel ini. Namun pengampunan itu bukan pengampunan sentimental. Novel ini tidak menganggap semua kesalahan dapat dihapus begitu saja. Yang ditawarkan adalah kesadaran bahwa dendam tidak selalu mampu menyelesaikan derita.
Menarik pula melihat bagaimana api digunakan sebagai simbol dalam judul novel. Api biasanya identik dengan hukuman, kemarahan, atau penghancuran. Namun dalam novel ini, api menjadi lambang pergulatan batin. Api tidak hanya membakar sesuatu di luar diri manusia, tetapi juga membakar pikiran, kenangan, rasa bersalah, dan keinginan untuk membalas.
Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit bukan novel tentang pelarian, pembunuhan, atau misteri identitas. Semua itu hanya permukaan. Di bawahnya terdapat pertanyaan besar, apakah manusia dapat benar-benar berubah, dan jika bisa, apa yang harus dilakukan terhadap dosa-dosa yang telah terlanjur terjadi?
Novel ini tidak memberikan jawaban tunggal. Ia memilih membiarkan pertanyaan itu tetap hidup sampai halaman terakhir, dan itu menjadi kekuatannya. Pembaca tidak selesai hanya dengan mengetahui apa yang terjadi kepada para tokohnya. Pembaca didorong untuk memikirkan kembali bagaimana dirinya sendiri memandang kesalahan, hukuman, belas kasih, dan kesempatan kedua. Dalam dunia yang semakin gemar menghakimi dengan cepat, barangkali itulah nyala api yang paling lama bertahan dari novel ini.***
____________________
Yuditeha. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.
Pemain Utama : Michael Johnston (sebagai Bear) dan Inde Navarrette (sebagai Nikki)
Genre: Horor psikologis, romansa, dan fantasi gelap
Durasi Waktu: 110 menit
Tahun Rilis: 2026
Obsession merupakan film horor psikologis besutan sutradara muda Curry Barker yang menghadirkan premis sederhana tetapi dieksekusi dengan cara yang mengganggu sekaligus relevan dengan realitas hubungan modern. Dibintangi oleh Michael Johnston dan Inde Navarrette, film ini memadukan unsur romansa, fantasi gelap, dan horor psikologis menjadi sebuah kisah tentang cinta yang berubah menjadi obsesi mematikan.
Ceritanya berpusat pada Bear, seorang pegawai toko musik yang pendiam dan telah lama memendam perasaan kepada sahabat masa kecilnya, Nikki. Karena tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, Bear memilih jalan pintas ketika menemukan sebuah benda mistis bernama “One Wish Willow”. Dengan memanfaatkan benda tersebut, ia berharap Nikki akan mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.
Keinginannya memang terkabul, tetapi tidak dengan cara yang ia bayangkan. Nikki berubah menjadi sosok yang sangat posesif, obsesif, dan perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dari titik inilah mimpi Bear berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Kekuatan terbesar Obsession terletak pada premisnya yang mengangkat pertanyaan moral yang menarik: apakah cinta masih bisa disebut cinta jika lahir dari paksaan?
Film ini tidak sekadar menghadirkan teror melalui adegan-adegan menyeramkan, tetapi juga melalui kegelisahan psikologis yang terus berkembang sepanjang cerita. Penonton diajak menyaksikan bagaimana keinginan yang tampaknya romantis sebenarnya menyimpan egoisme yang besar. Bear tidak pernah benar-benar berusaha memahami perasaan Nikki. Ia hanya ingin mendapatkan balasan atas cintanya, dan ketika kesempatan instan muncul, ia memilih mengabaikan konsekuensinya.
Dalam konteks ini, film menjadi sebuah kritik terhadap fantasi romantis yang sering kali mengabaikan kebebasan dan pilihan individu lain. Penampilan Michael Johnston sebagai Bear menjadi salah satu faktor yang membuat konflik dalam film terasa meyakinkan. Johnston tidak memainkan karakter utama sebagai sosok jahat sejak awal. Sebaliknya, ia menampilkan Bear sebagai pria biasa yang kesepian, canggung, dan mudah mendapatkan simpati.
Seiring perkembangan cerita, lapisan demi lapisan karakter Bear mulai terbuka. Penonton perlahan menyadari bahwa rasa kasihan yang muncul pada awal film berubah menjadi ketidaknyamanan ketika melihat keputusan-keputusan egois yang diambilnya. Johnston berhasil menggambarkan transformasi emosional ini dengan cukup halus sehingga karakter Bear terasa manusiawi sekaligus menyebalkan pada saat yang sama.
Jika Johnston menjadi pusat konflik moral cerita, maka Inde Navarrette adalah jiwa dari film ini. Performa Navarrette sebagai Nikki merupakan aspek yang paling menonjol sepanjang durasi film. Ia harus memainkan karakter yang mengalami perubahan drastis dari sosok perempuan normal menjadi individu yang terjebak dalam obsesi yang tidak dapat dikendalikan. Tantangan tersebut dijawab dengan sangat baik melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intensitas emosional yang konsisten.
Dalam satu adegan ia dapat terlihat rapuh dan menyedihkan, sementara pada adegan berikutnya ia berubah menjadi sosok yang benar-benar mengintimidasi. Penampilannya memberikan dimensi tragis pada karakter Nikki sehingga penonton tidak hanya takut kepadanya, tetapi juga merasa iba terhadap penderitaan yang dialaminya. Banyak ulasan bahkan menyebut karakter Nikki sebagai pusat emosional film karena di balik semua tindakan mengerikannya terdapat seseorang yang kehilangan kebebasan atas dirinya sendiri.
Dari sisi penyutradaraan, Curry Barker menunjukkan kemampuan yang mengesankan dalam membangun suasana tidak nyaman. Alih-alih mengandalkan jumpscare secara berlebihan, Barker lebih memilih menciptakan ketegangan melalui momen-momen sunyi, tatapan yang terlalu lama, dan perubahan perilaku karakter yang perlahan menjadi semakin tidak wajar. Pendekatan ini membuat horor dalam Obsession terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penonton tidak selalu dibuat terkejut, tetapi lebih sering dibuat gelisah. Ada perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, meskipun film tidak segera menunjukkannya. Strategi tersebut membuat ketegangan terus terjaga hingga menjelang klimaks. Secara visual, film ini juga tampil cukup menarik meskipun berasal dari produksi beranggaran relatif kecil. Penggunaan pencahayaan redup, komposisi gambar yang terkadang terasa sempit, serta dominasi warna-warna dingin membantu memperkuat kesan kesepian dan keterasingan yang dialami para karakternya.
Rumah, toko musik, dan lokasi-lokasi lain dalam film sering kali terasa seperti ruang yang menekan psikologis penghuninya. Kamera tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menjadi alat untuk memperlihatkan bagaimana obsesi perlahan menggerogoti kehidupan Bear dan Nikki. Naskah film juga layak mendapatkan apresiasi karena berani menggabungkan elemen romansa dan horor tanpa kehilangan fokus.
Pada awalnya, cerita bahkan terasa seperti kisah cinta remaja yang canggung. Namun, perlahan nuansa tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kelam. Perubahan tonal ini dilakukan dengan cukup mulus sehingga penonton dapat mengikuti perjalanan cerita tanpa merasa dipaksa berpindah genre. Film ini memahami bahwa horor terbaik sering kali lahir dari sesuatu yang awalnya terasa akrab dan menyenangkan sebelum akhirnya berubah menjadi ancaman.
Meski demikian, Obsession bukanlah film yang sempurna. Beberapa bagian di pertengahan cerita terasa sedikit berulang karena film terus mengeksplorasi perilaku obsesif Nikki dengan pola yang mirip. Akibatnya, ritme narasi sempat melambat sebelum kembali menemukan momentumnya menjelang akhir. Selain itu, beberapa penonton mungkin akan merasa bahwa pesan moral film disampaikan terlalu gamblang.
Kritik terhadap fantasi cinta yang egois memang menjadi tema utama, tetapi terkadang penyampaiannya terasa kurang subtil. Namun kelemahan tersebut tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton karena konflik emosional yang dibangun tetap cukup kuat untuk mempertahankan perhatian penonton. Yang membuat Obsession berbeda dari banyak film horor romantis lainnya adalah keberhasilannya menghadirkan horor yang bersumber dari keinginan manusia yang sangat sederhana.
Semua orang pernah menginginkan cinta dari seseorang yang tidak membalas perasaannya. Film ini mengambil fantasi tersebut dan mempertanyakan apa yang akan terjadi jika keinginan itu benar-benar terwujud tanpa mempertimbangkan kehendak orang lain. Jawaban yang diberikan ternyata jauh lebih menyeramkan daripada monster atau hantu mana pun. Obsession adalah film yang berhasil memadukan ketegangan psikologis, drama emosional, dan kritik sosial ke dalam satu paket yang menghibur sekaligus mengganggu.
Dengan penampilan memikat dari Michael Johnston dan terutama Inde Navarrette, film ini menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya membuat penonton takut, tetapi juga mengajak mereka merenungkan makna cinta, kebebasan, dan batas antara kasih sayang dengan obsesi. Bagi pencinta horor yang mencari sesuatu lebih dari sekadar kejutan sesaat, Obsession merupakan tontonan yang layak mendapat perhatian karena meninggalkan kesan yang bertahan lama bahkan setelah layar menjadi gelap.
____________________
T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Leba. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”
Awan lari tergopoh-gopoh menyusuri labirin stasiun di antara orang-orang yang saling berlomba-lomba mengejar keberangkatan KRL. Elevator tidak cukup cepat untuk mengantarnya ke depan pintu gerbong. Naik turun tangga menjadi pilihan, meski keringat akan bercucuran. Awan terus mengumpat, sembari sesekali melihat jam tangan. “Anjing! Terlambat!” Pagi ini jadwal presentasi desain proyek rumah sakit di kantornya.
Meski roda gerbong sudah bergulir menjauhi stasiun, namun pikiran Awan masih tertinggal di peron. Beberapa menit sebelumnya, ketika pintu gerbong akan segera ditutup, dia menyerobot mendahului perempuan berbaju ungu dan berbadan dua. Perasaan berdosa terus menghantuinya. Persoalan desakan waktu mematikan hati nuraninya. Tempat duduk mereka tidak jauh, bahkan Awan sempat mendengar perempuan itu bicara dengan seseorang perihal kampungnya yang terancam digusur dampak proyek besar yang segera dibangun. Hal itu semakin membuatnya cemas. Sejenak di benak Awan sempat terlintas bayangan rumah kecil warisan bapaknya di kampung, rumah tempat dia dan istrinya akan membesarkan anak yang kini sedang berada di kandungan.
Seiring laju kereta, ingatan Awan pada kejadian di depan pintu gerbong mulai menjauh. Pandangan kosong seperti lahan permukiman yang telah diratakan sebelum didirikan bangunan. Jajaran gedung di belakang kaca-kaca gerbong menjelma tampilan desain di layar laptopnya. Penumpang lain mengimpit berjarak lima belas sentimeter dari batang hidungnya, berubah menjadi wajah dingin klien yang akan dihadapinya nanti. Embusan bau napas dan keringat menambah penat pikirannya. Tangannya masih kuat menggenggampegangan di bawah langit-langit gerbong. Namun matanya hampir menyerah. Sesekali kepalanya terbentur bahu penumpang lain. Tujuh stasiun sudah terlewati. Tersisa tiga stasiun lagi untuk sampai tujuan. Isi gerbong mulai surut. Awan melangkah ke kursi kosong di samping pintu gerbong. Sisa perjalanan cukup untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Tengah bulan lalu, Awan menyerahkan surat kepada pimpinan kantor. Keputusannya untuk berhenti bekerja sebenarnya sudah bulat, namun pimpinan menahannya dan berjanji memberikan bonus besar jika dia mampu menyelesaikan proyek desain rumah sakit. Isi dalam kandungan istri, membuatnya sedikit melunakkan rencana itu. Siang malam, Awan mengerjakan desain yang ditugaskan pimpinan. Tidak hanya di kantor, di rumah pun dia melanjutkan pekerjaan itu. Dia berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin. Janji pimpinan terngiang-ngiang membakar semangatnya.
Semalam, ketika Awan masih bergelut dengan pekerjaan. Istrinya terbangun dan menunjukkan foto USG anaknya.
“Bayinya terbelit tali pusar. Kata dokter kemungkinan operasi sesar,” kata istrinya penuh risau dengan besarnya biaya persalinan.
“Tenang saja, Dik,” kata Awan. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia akan mendapat bonus dari kantor. Dengan uang itu, permasalahan biaya kelahiran anaknya sudah ada solusi. Mereka saling berbalas pandang dengan senyum yang tersungging. Kelegaan terlihat dari mata istrinya yang berkaca-kaca. Sementara jemarinya menari di laptop, dia membayangkan anaknya tertidur cantik di ranjang bayi bagus dengan pakaian ungu. Kemudian, dia menoleh ke arah istrinya yang sudah berbaring di kasur.
Kelelahan dan kejenuhan sudah menumpuk di pundaknya. Pengerjaan desain rumah sakit telah menyita banyak waktunya. Dia mengerjakannya sendiri, karena teman-teman di kantor juga sudah memiliki beban proyek masing-masing. Ketika hal itu mendera, ingatan bonus yang akan diterima menjadi obat penawar rasa lelahnya. Namun sedikit kegundahan bercokol di hatinya, pimpinannya tidak memberitahu di mana lokasi proyek itu akan dibangun.
Kakinya yang menjulur tersaruk penumpang lain. Awan tersentak memaksa matanya terbuka. Nama stasiun tujuan terdengar dari pengeras suara. Laptop dimatikan dan dimasukkan kembali ke tas. Pintu gerbong segera terbuka. Dia berdiri gontai melangkah ke pintu keluar stasiun. Sejenak di peron, tangannya mengeluarkan ponsel memesan ojek dari aplikasi daring. Dia kembali berlari ke luar stasiun menuju pengemudi ojek yang sudah menunggunya di jalan depan stasiun.
Awan sampai di kantor dengan muka lusuh. Kelopak matanya menggantung. Rambutnya berantakan. Masih ada waktu sepuluh menit untuk presentasi. Setelah membasuh muka di kamar mandi. Dia melangkah pelan menuju ke ruang rapat. Di dalam ruangan sudah duduk beberapa orang termasuk pimpinannya. Ketika tangannya membuka pintu, secara tak sengaja terdengar pembicaraan pimpinan dengan seseorang yang diduganya pemilik proyek. Sebuah nama kampung disebut sebagai lokasi proyek. Pintu ruang rapat terasa berat untuk dibuka. Dinding kantor mulai mengimpitnya. Dadanya mulai sesak, membuat napasnya menjadi pendek. Ruangan kantor yang sebelumnya ramai suara papan ketik komputer tiba-tiba membisu. Dia kembali teringat dengan perempuan berbaju ungu dan berbadan dua yang antreannya diserobot saat di stasiun.
Tangannya menarik pelan pegangan menutup pintu ruang rapat. Dia berbalik arah menjauhi ruangan rapat. Ponsel kembali diambilnya. Dia termangu duduk di tangga depan pintu kantor, memandang foto USG kandungan istrinya di layar ponsel. Lalu, dia menulis beberapa kata. Awan menghela napas panjang. Jarinya menekan tanda kirim. Sebuah kalimat kepada pimpinannya: Pak, saya berhenti sekarang saja. Bonusnya tidak saya ambil.
____________________
KesitH. Setyadji, tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio.
Siang itu matahari berdiri tepat di atas kepala, Panas menggantung di udara desa, menyelinap ke sela-sela dinding bambu, ke punggung-punggung ibu yang membungkuk di dapur rumah Bu Sarkiyem. Hajatan akan dimulai selepas zuhur. Dandang besar mengepulkan uap, pisau beradu dengan talenan, dan tawa kecil bercampur gosip mengalir seperti kuah santan yang belum mendidih sempurna.
Tak ada yang menyangka siang itu akan mengunci desa ke dalam ingatan paling kelam.
Sulastri—bunga desa itu—seharusnya sedang bersolek. Ia dikenal cantik, kulitnya kuning matang seperti padi yang siap dipanen, tubuhnya berisi, senyumnya sering membuat pemuda lupa jalan pulang. Ia anak baik-baik, kata orang. Rajin membantu ibunya, jarang keluar malam, dan bila berjalan selalu menunduk seperti menyembunyikan cahaya. Tapi siang itu, ia tak ada di antara ibu-ibu yang mondar-mandir. Tak ada pula di beranda yang ramai. Seolah ia sudah lebih dulu pergi, menjemput takdirnya sendiri.
Jeritan pertama pecah seperti piring terjatuh.
“Ya Allah!”
Ibu-ibu berhenti. Wajan tergantung di udara. Di atas lincak bambu, tergeletak sesuatu yang tak seharusnya ada: sepotong lengan manusia, basah oleh darah, jari-jarinya bergerak seperti masih mencari tubuhnya. Detik berikutnya, sepotong kaki mencelat, terhempas, bergerak sebentar lalu diam. Dapur berubah menjadi kubangan ngeri. Di teras, kepala seorang gadis dengan mata melotot menghadap langit—mulutnya terbuka seolah hendak berteriak lagi—membuat Bu Sarkiyem menjerit panjang lalu roboh pingsan.
***
Waktu berhenti. Lalu berlari liar.
Bapak-bapak yang semula memotong daging di halaman depan berhamburan. Ada yang muntah, ada yang gemetar, ada yang terdiam seperti patung tanah liat. Barulah mereka sadar: rel kereta api itu dekat. Terlalu dekat. Di sanalah, beberapa menit lalu, Sulastri berjalan di tengah rel seperti orang linglung, meniti besi panas tanpa tujuan.
Klakson kereta dari arah selatan melengking panjang, suara yang biasanya hanya membuat anak-anak menutup telinga kini berubah jadi terompet kematian. Orang-orang berteriak memanggil namanya. “Lastri! Minggir, Lastri!” Tapi gadis itu tak menoleh.
Tatapannya kosong, seperti telah ditinggal penghuninya. Dan ketika ular besi itu melaju tanpa ampun, tubuh Sulastri disambar, dihempas, dipatahkan menjadi potongan-potongan, disebar ke dapur, teras, halaman—ke kehidupan orang-orang yang tak siap menerima kenyataan.
Warga berhamburan mengumpulkan puing-puing itu dengan tangan gemetar dan doa yang patah-patah.
Kompol Sukma datang sore itu.
Seragamnya rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kehati-hatian seorang yang tahu: kematian selalu menyisakan teka-teki. Ia meminta warga berkumpul, satu per satu memberi keterangan. Pak Muklis, lelaki setengah baya yang dikenal dekat dengan Sulastri, maju lebih dulu.
“Gadis itu baik, Bu Kompol,” katanya lirih. “Tak pernah bikin malu keluarga. Pemuda kampung banyak yang naksir.”
“Apakah ada yang mendekatinya secara khusus?” tanya Kompol Sukma.
Pak Muklis ragu sejenak. “Ada… Joni.”
Nama itu seperti batu jatuh ke kolam. Joni dikenal berandalan, anak orang kaya. Sudah beristri dua. Meski begitu, kabarnya ia masih sering bersikap gatal, menggoda Sulastri dengan kata-kata yang tak pantas.
Pernah mengajak melakukan perbuatan mesum, kata orang. Sulastri menolak.
Kompol Sukma mencatat. Ia menemui Mel dan Dila, dua istri Joni. Keduanya berkata serempak: Joni sedang bekerja di Surabaya. Alibi yang rapi, terlalu rapi. Kompol Sukma mencium sesuatu yang ganjil, tetapi polisi lain mengingatkan: kecurigaan bukan bukti.
***
Pemakaman berlangsung sunyi. Tanah merah menutup potongan tubuh yang disatukan seadanya. Di sela doa, Pak Muklis bertanya kepada Kiai Komar, tokoh agama yang disegani desa.
“Apakah orang yang bunuh diri bisa masuk surga, Kiai?”
Kiai Komar terdiam. Ia yang biasanya lantang di mimbar, tiba-tiba kehabisan kata. “Selama ini,” ujarnya pelan, “saya hanya membaca apa yang ditulis di buku.”
Jawaban itu bergaung lebih keras dari takbir. Sejak hari itu, warga mulai memandang Kiai Komar dengan mata berbeda. Pidato-pidato yang dulu menggetarkan kini terasa kosong. Ilmu yang dibaca tanpa bukti hidup.
Kompol Sukma tak berhenti. Ia memerintahkan pencarian Joni. Dugaan sementara: Sulastri dirudapaksa, trauma membuatnya linglung. Joni akhirnya tertangkap. Di ruang pemeriksaan, ia duduk dengan tangan terborgol, wajahnya pucat namun matanya tajam.
“Saya tidak merudapaksa Sulastri,” katanya. “Sejahat-jahatnya saya, Bu Kompol, saya masih punya nurani dan akal. Allah menganugerahi akal untuk berpikir. Saya tahu akibatnya. Penjara menanti. Dan saya tidak mau.”
Kalimat itu menancap. Kompol Sukma merasakan sesuatu yang jarang ia akui: tersentuh. Ia melihat banyak penjahat, tetapi jarang mendengar pengakuan yang dibungkus kesadaran diri. Jika bukan Joni, lalu siapa?
***
Hari-hari berikutnya, Kompol Sukma seperti berjalan di lorong gelap. Hingga suatu sore, di warung kopi, ia mendengar obrolan dua pemuda.
“Menurutmu, surga dan neraka itu ada?” tanya yang satu.
“Entahlah,” jawab lainnya. “Kiai Komar sering bilang begitu. Tapi… lihatlah.”
Nama itu lagi. Kiai Komar. Kompol Sukma menyimak. Obrolan bergeser ke cerita lama: Kiai Komar bukan hanya penceramah. Ia dikenal sebagai ahli spiritual, penyembuh penyakit gaib. Salah satu keluarga Sulastri bercerita—dengan suara ditahan—bahwa Sulastri pernah kena guna-guna. Dibawalah ia ke Kiai Komar. Ia masuk kamar untuk “pengobatan”. Keluar dari sana, Sulastri berubah. Linglung. Menangis tanpa sebab. Membenturkan kepala ke tembok. Bicara sendiri. Hingga akhirnya meniti rel, menjemput kematian.
Potongan-potongan itu menyatu.
Kompol Sukma meminta autopsi. Keluarga menolak. Jenazah sudah dimakamkan. Tapi demi kebenaran, mereka setuju. Hasil forensik dingin dan kejam: ditemukan cairan sperma. Kesimpulan klinis tanpa emosi, namun memekakkan telinga.
Kecurigaan berubah menjadi keyakinan.
Kiai Komar dipanggil. Di hadapan Kompol Sukma, ia tak lagi tampak seperti singa mimbar. Suaranya bergetar. Ia bicara tentang niat baik, tentang doa, tentang ujian iman. Tapi fakta berdiri seperti dinding. Tak bisa ditembus retorika.
Desa berguncang. Orang-orang teringat diamnya Kiai Komar di pemakaman. Terngiang kalimat: membaca tanpa bukti. Mereka merasa dikhianati—bukan hanya oleh seorang manusia, tapi oleh kepercayaan yang mereka bangun bertahun-tahun.
***
Gerbong kematian itu bukan hanya kereta yang menabrak Sulastri. Ia adalah rangkaian peristiwa yang membawa rahasia, dosa, dan kemunafikan, melaju tanpa rem, menghantam siapa saja yang berdiri di jalurnya.
Kompol Sukma menatap rel yang kini sunyi. Besi itu dingin, tak bersalah. Manusia-lah yang sering memilih berjalan di atasnya, memejamkan mata, berharap takdir akan menyingkir. Tapi takdir, seperti kereta, hanya tahu satu arah.
Di ujung senja, desa kembali beraktivitas. Ibu-ibu memasak. Bapak-bapak bekerja. Hidup berjalan, seperti biasa. Namun sejak Sulastri, tak ada lagi bunga yang mekar tanpa bayangan. Dan setiap klakson kereta, selalu mengingatkan: kebenaran mungkin terlambat, tetapi ia akan tiba—dengan atau tanpa kita siap.[]
____________________
Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.
Siasat Perempuan Menjelang Malam karya Titi Setiyoningsih yang diterbitkan Sirus Media ini adalah buku berisi sekumpulan bisikan yang mengganggu ketenangan. Selain itu, jika siang identik kepastian, maka menjelang malam dalam buku ini seperti waktu di mana keputusan-keputusan paling jujur diambil, tapi dengan cara paling tidak jujur. Di sinilah perempuan-perempuan hidup di wilayah abu-abu antara bertahan dan menyerang.
Dalam cerpen “Raksasa Timun Mas dari Eropa”. Ini bukan sekadar cerita cinta antar saudara. Ini tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima logika yang tak masuk akal, bahwa wajah sama bisa mengganti cinta yang sama. Ironisnya, yang paling waras dalam cerita itu justru keputusan paling gila untuk menjadi raksasa. Kadang, menjadi jahat adalah cara untuk tetap punya kendali.
Bukankah ini sangat Indonesia? Kita sering diajari ikhlas, tapi dipaksa menelan pengkhianatan yang bahkan tak diberi ruang untuk sedih. Kita diajari menerima, tapi lupa bahwa menerima tanpa marah adalah bentuk lain dari kalah.
Lalu “Percakapan Ibu Menteri”. Jika cerpen ini dibaca santai terasa seperti obrolan biasa. Tapi kalau dipikir lebih lama, menjadi pengganggu. Perempuan di sini memang bukan korban, melainkan pengatur. Dalang yang bekerja dari balik layar. Kalimat seperti “kami para istri” bukan sekadar dialog tapi pengakuan terlalu jujur. Titi seolah sedang bilang bahwa kekuasaan tidak selalu duduk di kursi, kadang ia berdiri di belakangnya, tersenyum, sambil main tunjuk. Dan yang paling menyebalkan, ini terasa realistis. Sangat dekat dengan kabar dan kejadian di sekitar kita. bahkan mungkin kita sendiri juga melakukannya.
Kita hidup di masyarakat yang suka pura-pura kaget pada skandal, padahal diam-diam menikmati drama. Kita mencibir politisi, tapi tetap klik beritanya. Kita mengutuk permainan kuasa, tapi tidak menolak sistem yang membuatnya terus hidup. Cerita ini tidak menghakimi, hanya membuka tirai. Dan rupanya yang kita lihat di belakang tidak jauh beda dari yang kita duga, hanya lebih halus dan dingin.
Berbeda lagi dengan “Pengukuhan Profesor Muda”. Cerita ini tampak intelektual di permukaan, tapi sesungguhnya sangat intern dan intim. Tentang pidato besar soal feminisme ternyata tidak mampu menyentuh hal paling sederhana, yaitu membagi kerja di rumah. Ada sinisme di sini. Seakan Titi ingin berkata, “Teori murah. Praktiklah yang mahal.” Dan memang di negeri ini, bicara soal kesetaraan sering kali lebih mudah daripada mencuci piring.
Konfliknya tidak meledak tapi justru terasa lebih menonjok. Kita tidak diberi kisah besar, hanya diberi gangguan tetapi tidak bisa diabaikan. Bahwa sering kali, ketidakadilan tidak hanya hadir sebagai kekerasan.
Lalu “Lelaki dan Mainan Favoritnya”. Secara sekilas dan harfiah cerpen ini membuat kita marah. Tapi jika direnungkan lebih khusyuk, justru membuat kita diam. Kenapa orang bertahan dalam hubungan yang jelas menyakitkan? Jawaban klise: cinta. Jawaban lebih jujur: karena luka lama lebih menakutkan daripada luka baru.
Cerpen ini seperti cubitan. Tidak menyalahkan korban, tapi tidak juga memanjakan. Ia menunjukkan bahwa kadang manusia tidak mencari bahagia, tapi mencari sesuatu yang sudah akrab, meski menyakitkan. Kita sering setia pada derita yang kita kenal, daripada bahagia yang kita belum paham.
Di sisi lain, “Pelangi Tak Berwarna” menghadirkan luka dengan cara sunyi. Ceritanya tidak berisik, tapi menusuk. Tentang pengorbanan yang tidak pernah diceritakan, tentang cinta yang baru dipahami ketika sudah terlambat. Seperti pengingat, di balik narasi kerja keras demi keluarga, ada cerita yang sengaja disembunyikan. Kita suka cerita sukses, tapi jarang mau dengar harganya. Dan ketika harga itu terungkap, kita hanya membisu karena tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.
Kumpulan cerpen ini seperti mosaik, tiap kisahnya seperti berdiri sendiri, tapi membentuk pola jelas. Perempuan-perempuan di sini bukan sekadar karakter. Mereka representasi dari berbagai cara bertahan dalam dunia yang tidak selalu adil. Ada yang melawan, menyesuaikan, pura-pura tidak tahu, memilih luka daripada kehilangan, dan yang menarik tidak ada hero.
Judul Siasat Perempuan Menjelang Malam terasa tepat karena tidak merujuk pada satu cerita. Ia seperti payung yang menaungi. Siasat di sini bukan licik, tapi lebih ke strategi bertahan. Cara-cara kecil, kadang absurd, kadang menyakitkan, yang dilakukan untuk tetap hidup secara emosi maupun sosial. Ini semacam gambaran bagaimana siasat bekerja.
Sementara, Menjelang Malam, memberi kesan semua itu terjadi di momen genting. Di titik di mana pilihan harus dibuat. Yang membuat buku ini menarik bukan hanya ceritanya, tapi keberaniannya untuk menyerahkan jawabannya kepada pembaca. Namun sesungguhnya hidup ini memang bukan tentang menemukan jawaban. Tapi tentang bagaimana kita berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan. Buku ini mungkin tidak membuat kita merasa lebih baik, tapi ia membuat kita lebih sadar. Buku ini seperti cermin yang tidak bisa pecah, dengan agak licik memaksa kita berkaca. Kita bisa menolak melihat, tapi bayangan tetap ada. Jika semakin lama kita menatap, semakin sulit menyangkal bahwa wajah kita tidak jauh beda dari tokoh-tokohnya.***
Yuditeha
Penulis tinggal di Karanganyar. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.
Tidak semua telinga mau mendengar, tidak semua rasa kasih mengasihani kesedihan. Maka tulisan mampu membicarakannya, tulisan mampu mengobati sakit, membuka trauma dan menerima luka.
Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman
Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif
Penerbit: IRCiSoD
Tahun: 2019
Isi: 432 hlm.
Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:
Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.
Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.
Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.
Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.
Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?
Belajar dari Sejarah
Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.
Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.
Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).
Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).
Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?
Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.
Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!
Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.
Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?
Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.
Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?
Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.
Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.
Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!
Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.
Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]
____________________
Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju
Dewis Pramanas. Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati. Instagram: @dewispramanas
sebab di sana, kita akhirnya menemukan diri sendiri.
mencari diri
menemukan yang hilang dan membangunnya kembali.
lalu kita kembali lagi bertanya
sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?
(Sukoharjo, 2025)
____________________
HAWIAH
berdosakah aku
jika aku sejenak melupakan-Mu?
dalam ragu, kadang,
kepalaku melahirkan tanda tanya
mungkin juga memikirkan dosa.
di sana muncul pertanyaan
yang sejauh ini tak mampu mendapat jawaban.
sungguhkah neraka itu ada?
aku mencari jalan dan jawaban
tapi tersesat dan terjerembab
kian dalam dan kelam.
aku di antara percaya dan melupakan
percaya apa yang diimani
tapi amnesia mengamini
lupa bahwa seharusnya
aku sepenuhnya milik-Mu
bukankah begitu?
aku ragu.
sebab sejauh ini
belum lagi kudengar jawaban dari-Mu.
(Surakarta, 2025)
____________________
ALEGORI IBRAHIM
dalam mimpi yang dingin, dalam lelap tidurnya
Ibrahim mendapatkan kunjungan, entah siapa.
ia gugu dan ragu. dalam mimpi itu,
ia menerima bisik semu.
: sesuatu perlu dikorbankan.
sebab sejak dulu,
garis takdir telah ditentukan.
kita membayangkan, kala itu,
barangkali Ibrahim dipenuhi gelisah dan resah.
ia tercenung dan merenung.
dirinya di antara kalah dan pasrah.
bahkan mungkin juga heran dan penasaran
: sesungguhnya aku ini Ibrahim, Abraham, atau Brahma?
lalu dunia berputar kian cepat.
serupa bianglala, ia di antara
ketinggian dan kegamangan.
tapi Tuhan telah memutuskan.
sejak itu, ditahbiskanlah sebuah firman
dan barangkali, ia menjelma iman.
pada dalamnya keraguan,
ia masih saja mempertanyakan:
: sesungguhnya, leher inikupersembahkan untuk siapa?
sunyi menghinggapi.
di antara ragu dan pilu.
Ibrahim mantapkan laku
: dalam tubuhku mengalirkan-Mu.
dalam aku, sepenuhnya milik-Mu.
ia tahu, seorang ayah, harus bertanggung jawab.
meski tak semua orang tahu
matanya sembab.
(Surakarta, 2025)
____________________
ALKISAH
kau melipat puisi
menjadi subuh.
di langit,
cahaya tiba dibalut suara.
rumah kami porak-poranda.
seseorang, atau beberapa,
mengirim bencana di halaman kami.
kami memungut air mata yang tumpah.
kau memungut tanah.
mereka menjanjikan sumpah serapah.
di langit kami,
cahaya bisa saja jadi neraka.
malaikat tiba begitu terlambat.
rumah kami kadung musnah.
di halaman rumah kami,
Tuhan sedang menyusun teka-teki.
(Sukoharjo, 2025)
____________________
Eko Setyawan. Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Guru SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Buku puisi yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Mengunjungi Janabijana (2020), Manten (2022), & Suatu Ketika Kita akan Dewasa (2023). Buku Mengunjungi Janabijana meraih penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021 Kategori Buku Puisi Terbaik. Meraih penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta tahun 2018, serta memenangkan berbagai lomba penulisan puisi dan cerpen.
Di kota ini, cahaya adalah tuhan yang bengis dan lampu-lampu merkuri adalah nabi yang tidak pernah tidur. Mereka melarang bayangan karena dianggap sebagai lubang hitam dalam kesetiaan, sebuah ruang gelap di mana pengkhianatan bisa tumbuh subur tanpa terdeteksi radar keamanan. Setiap orang dipaksa berdiri di bawah pijar dua puluh empat jam, hingga mereka menjadi makhluk-makhluk transparan yang kehilangan kedalaman. Namun, di sebuah sudut gang yang luput dari sorot lampu patroli, aku melihat lelaki bisu itu—si penjahit ingatan—sedang menekuni pekerjaannya dengan khusyuk. Jemarinya yang kasar memegang jarum perak, menusuk kulit-kulit pucat para korban yang telah kehilangan nama, menyatukannya dengan robekan senja yang ia curi dari ufuk terjauh, sebuah perlawanan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh aroma melati dan anyir darah yang mulai menguap ke langit.
Metropolis ini bernama Lux-Aeterna. Sebuah nama yang terdengar seperti janji surga, namun bagi mereka yang merindukan kantuk, ia adalah neraka yang benderang. Di bawah rezim yang memuja kejernihan mutlak, kegelapan adalah musuh negara nomor satu. Undang-Undang Anti-Kegelapan telah menghapus malam dari kalender. Matahari memang terbenam, tetapi ribuan megawatt lampu sorot segera menggantikannya, memastikan tidak ada satu senti pun tanah yang tidak terjamah sinar. Akibatnya, manusia-manusia di Lux-Aeterna kehilangan bayangan mereka sendiri. Mereka berjalan seperti hantu-hantu yang dipaksa eksis, rata dan tanpa dimensi, seolah-olah mereka hanyalah gambar di atas kertas yang disorot lampu dari segala arah.
Saksia adalah bagian dari mesin besar ini, setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia bekerja di gudang tekstil negara, melipat kain-kain putih seragam yang akan dikenakan oleh seluruh penduduk agar pantulan cahaya semakin maksimal. Saksia adalah seorang saksi mata yang bisu—bukan karena ia lahir tanpa suara, melainkan karena ia telah memutuskan bahwa di dunia yang bising oleh dengung trafo listrik, kata-kata hanyalah sampah yang mengotori kesunyian. Namun, di balik bisunya, ia memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih berbahaya ia adalah seorang Penyelundup Senja.
Semuanya bermula ketika suatu malam, saat ia baru saja menutup bengkel rahasianya di ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca, ia menemukan sesosok tubuh. Tubuh itu tergeletak tepat di depan pintu, seperti sebuah paket kiriman maut. Itu adalah tubuh seorang aktivis, seseorang yang pernah berteriak tentang hak-hak atas kegelapan di alun-alun kota sebelum akhirnya dihilangkan oleh Brigade Cahaya.
Tubuh itu mengenaskan. Ia kosong. Bukan hanya nyawanya yang hilang, tapi identitasnya telah dikuras habis. Kulitnya sepucat kertas kalkir, tanpa bekas luka, tanpa tahi lalat, dan yang paling mengerikan tanpa bayangan. Rezim telah menggunakan teknologi radiasi untuk menghapus jejak eksistensialnya. Ia hanyalah seonggok daging tanpa narasi, menunggu untuk dilupakan oleh sejarah yang ditulis dengan tinta cahaya. Saksia menatap mata mayat itu yang terbuka lebar, memantulkan pijar lampu merkuri dari langit-langit gang. Di sana, Saksia tidak melihat kematian, ia melihat sebuah penghinaan terhadap martabat manusia.
Saksia memutuskan untuk pergi. Ia harus melakukan perjalanan ke perbatasan terjauh kota, sebuah wilayah yang disebut Zona Hitam, satu-satunya tempat di mana geografi masih mengizinkan matahari untuk terbenam secara alami tanpa intervensi lampu-lampu raksasa. Wilayah itu adalah tanah terlarang, dipagari kawat berduri dan dijaga oleh menara-menara pengawas yang siap memuntahkan peluru cahaya pada siapa pun yang mendekat.
Dengan mengendap-endap seperti seekor kucing yang mencari lubang tikus, Saksia menembus perimeter. Di sana, ia menyaksikan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh penduduk Lux-Aeterna Senja. Ia melihat bagaimana langit berdarah oleh warna jingga, bagaimana ungu tua perlahan menelan cakrawala, dan bagaimana emas tembaga menyelinap di antara awan-awan.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan gunting karatannya. Ini bukan gunting biasa; ini adalah alat yang ia temukan di reruntuhan museum sejarah, sebuah benda yang konon pernah digunakan untuk memotong tali pusar pahlawan-pahlawan masa lalu. Saksia mulai bekerja. Ia menggunting potongan-potongan warna dari langit yang sedang sekarat itu. Ia menggunting warna jingga yang hangat, ungu yang melankolis, dan merah tembaga yang penuh amarah. Ia memasukkan potongan-potongan langit itu ke dalam sebuah kantong kulit kedap cahaya.
Tiba-tiba, suara sirene membelah kesunyian. Sorot lampu dari menara pengawas menyapu padang ilalang. Brigade Cahaya telah mendeteksi anomali pada spektrum warna di wilayah itu. Saksia segera merangkak, membenamkan dirinya ke dalam gorong-gorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam sana, di tempat yang tidak pernah mengenal matahari, ia merasakan ketakutan yang murni. Beton itu berbau lumut dan kencing, tapi baginya, itu adalah tempat yang paling jujur di seluruh kota. Ia mendekap kantong berisi potongan senja itu di dadanya, merasakan kehangatan yang sisa-sisa dari matahari yang asli.
Kembali ke ruang bawah tanahnya, ritual itu pun dimulai.
Saksia meletakkan tubuh aktivis itu di atas meja kayu. Ia menyalakan sebatang lilin kecil—satu-satunya sumber cahaya yang ilegal namun jujur. Ia mengambil jarum peraknya. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, ia mulai menjahit potongan-potongan senja yang ia curi ke dalam pori-pori kulit sang korban.
Tusukan pertama jarum itu membawa kembali sebuah memori suara tawa seorang anak kecil yang sedang mengejar layang-layang di sore hari. Saksia merasakannya merayap di ujung jarinya. Tusukan kedua membangkitkan aroma kopi yang diseduh di dapur pada hari Minggu yang malas. Tusukan ketiga, sebuah kecupan perpisahan di stasiun kereta yang basah. Setiap jahitan adalah upaya memulihkan identitas yang telah dirampas. Kulit yang tadinya pucat dan transparan mulai terisi oleh warna-warna senja yang dalam.
Ini adalah proses yang menyakitkan. Tubuh mayat itu tampak bergetar, seolah-olah sel-selnya menolak untuk kembali menjadi nyata setelah sekian lama dianggap tiada. Namun Saksia tidak berhenti. Ia menjahit nama yang hilang ke dalam nadi, ia menyulam kenangan ke dalam otot.
Keajaiban pun terjadi. Saat jahitan terakhir selesai, tubuh itu tidak lagi menjadi mayat yang kaku. Alih-alih membusuk, tubuh itu perlahan-lahan mulai berpendar dengan warna ungu yang lembut, lalu menguap. Ya, menguap menjadi rintik-rintik hujan.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Lux-Aeterna diguyur hujan. Tapi itu bukan hujan air biasa. Itu adalah hujan lokal yang hanya jatuh di sekitar gang-gang sempit, dan aromanya bukan aroma tanah kering, melainkan aroma melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun puitis.
Orang-orang di kota mulai terbangun. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka yang benderang, menatap langit dengan bingung. Mereka menyentuh rintik hujan itu, dan mereka yang tersentuh tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Sebuah harapan, yang selama ini terkubur di bawah tumpukan propaganda, mulai tumbuh seperti kecambah di antara retakan aspal. Bisik-bisik mulai menjalar Ada seseorang yang sedang mengembalikan ingatan kita.
Namun, penguasa tidak tinggal diam. Bagi rezim, hujan beraroma melati adalah bentuk pembangkangan sipil yang paling berbahaya. Hujan itu tidak logis. Hujan itu subversif. Mereka segera memperketat pengawasan. Brigade Cahaya dikerahkan dengan kekuatan penuh, membawa lampu-lampu sorot portabel yang mampu membakar kulit.
Saksia tahu waktunya hampir habis. Ia kembali ke mejanya, dan kali ini, ia menemukan tubuh yang berbeda. Tubuh itu masih hangat. Saat ia membersihkan wajah tubuh itu dari debu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajahnya sendiri—atau mungkin bukan dirinya, melainkan bayangan dirinya di masa lalu, atau mungkin kekasih yang telah lama ia lupakan namanya. Di dunia ini, perbedaan antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur saat semua orang dipaksa menjadi sama.
Tiba-tiba, pintu gudangnya didobrak.
Jangan bergerak! Matikan kegelapan itu! teriak seorang komandan Brigade Cahaya.
Lampu-lampu sorot raksasa diarahkan ke arah Saksia. Cahaya putih yang steril dan membutakan menerjang setiap sudut ruangan, menghancurkan sisa-sisa warna senja yang ia simpan dalam botol-botol kaca. Saksia terpojok. Ia merasakan matanya perih, seolah-olah cahaya itu ingin mencongkel keluar bola matanya. Ia tidak bisa lagi melihat warna jingga atau ungu. Semuanya menjadi putih—putih yang hampa, putih yang mematikan.
Namun, Saksia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang masih memegang jarum dan sisa-sisa benang jingga terakhir, ia melakukan sesuatu yang melampaui logika maut. Ia tidak menjahit mayat itu. Ia mulai menjahit sisa-sisa senja terakhir itu ke kulitnya sendiri.
Ia menusuk lengannya, menjahit warna merah tembaga ke ototnya. Ia menusuk dadanya, menyatukan sisa ungu dengan jantungnya. Ia memeluk tubuh korban yang ada di depannya, menyatukan eksistensi mereka dalam satu jahitan yang besar dan semrawut.
Hentikan! teriak sang komandan, tapi suaranya tenggelam oleh dengung energi dari lampu-lampu sorot yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.
Terjadi sebuah ledakan metafisik. Tubuh Saksia tidak hancur karena peluru atau panasnya lampu. Tubuhnya pecah karena ia sudah terlalu penuh dengan langit. Ia meledak menjadi badai hujan darah dan melati yang luar biasa hebat. Hujan itu bukan lagi rintik-rintik kecil, melainkan air bah yang mengguyur seluruh penjuru Lux-Aeterna.
Lampu-lampu merkuri di jalanan mulai korsleting dan meledak satu per satu saat air hujan itu menyentuh kabel-kabelnya. Kota itu sejenak jatuh ke dalam kegelapan yang sudah lama dirindukan.
Pemerintah segera mengeluarkan dekrit baru payung dilarang dan hujan dianggap sebagai infiltrasi asing. Mereka mengklaim bahwa air yang jatuh dari langit adalah limbah kimia yang sengaja disebarkan oleh teroris untuk merusak mental rakyat. Namun, bagaimana kau bisa memenjarakan bau darah yang telah menyatu dengan udara Bagaimana kau bisa melarang hidung untuk bernapas
Beberapa hari kemudian, di alun-alun kota, gubernur berpidato di bawah lampu-lampu cadangan yang baru dipasang, lebih menyilaukan dari sebelumnya. Ia berusaha meyakinkan rakyat bahwa bayangan adalah ilusi, sebuah cacat penglihatan yang harus disembuhkan. Ia bicara tentang kemajuan, tentang masa depan yang tanpa noda.
Tapi ia tidak sadar, saat ia bicara dengan semangat yang meluap-luap, setetes air hujan yang tersisa di atap podium jatuh tepat di lidahnya yang sedang menjilat bibir. Air itu membawa rasa amis sejarah yang berusaha ia hapus—rasa besi, rasa duka, rasa melati. Sang gubernur tersedak sejenak. Dan di bawah podium, di tengah terik lampu yang paling terang sekalipun, sebuah keajaiban terjadi.
Bayangannya sendiri mulai muncul. Bayangan itu tidak patuh; ia tidak mengikuti gerakan sang gubernur. Bayangan itu mulai menari, meliuk-liuk di atas lantai beton, menjahit dirinya sendiri ke tanah dengan benang-benang jingga yang tak bisa diputus oleh gunting mana pun. Dan di seluruh alun-alun, rakyat yang berdiri diam mulai melihat ke bawah kaki mereka. Di sana, di bawah pijar lampu yang angkuh, bayangan-bayangan mereka telah kembali, hitam dan pekat, membawa kembali kedalaman yang telah lama hilang.
Saksia telah hilang, memang. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki suara bisu. Namun ia ada di sana, di setiap aroma melati yang tertinggal di baju penduduk kota, dan di setiap bayangan yang kini berani menentang cahaya. Di negeri itu, ingatan telah menemukan jalan pulangnya, dijahit oleh benang-benang senja yang abadi.
____________________
Rasyid Yudhistira. Penulis yang membawa perspektif unik dari disiplin keteknikan. Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Rasyid dikenal memiliki gaya penulisan khas yang ia sebut “Sexy Simplicity,” mengedepankan diksi ringkas namun menghadirkan kedalaman makna, memadukan sensualitas dengan religius. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Pencapaian terbesarnya adalah ketika karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).