Saya sedang rindu berdebat dengan orang yang sudah meninggal. Namanya Agusta Akhir. Dia salah satu teman yang punya kontribusi besar dalam proses saya belajar menulis. Kami dulu duduk bersama, membicarakan karya, berbagi ilmu tentang tulis menulis di Sastra Alit. Dan saya masih ingat betul bagaimana cara dia tertawa. Waktu itu rambutnya gondrong, khas seniman sejati.
Aneh rasanya menulis kalimat itu. Sebab biasanya, kalau rindu kepada seorang teman, kita bisa mencarinya. Mengirim pesan. Mengajaknya bertemu. Atau sekadar bertanya, “Kamu di mana?” atau mungkin “Apa kabar? Lagi sibuk nulis apa?” Dari satu titik itu, nanti akan berkembang jadi diskusi sastra yang panjang.
Tetapi kepada orang yang sudah berpulang, rindu tidak punya alamat. Rindu padanya datang tiba-tiba saat saya membuka buku novelnya Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit.Waktu itu dengan santainya saya berkomentar, “Ini dapat ide judul dari mana, Mas?” dan dia tertawa. Dia tahu kalau saya sebenarnya sedang berpikir bahwa ini judul yang aneh.
Lalu pagi ini, saya teringat pada sebuah perdebatan kecil tentang ikan di laut. Waktu itu saya sedang membaca novelnya. Ada bagian yang menyebutkan bahwa pada malam bulan purnama, ikan di laut ada banyak. Saya langsung protes.
“Justru kalau bulan purnama, bukannya ikan malah tidak ada?”
Kami berdebat. Saya tidak ingat siapa yang akhirnya dianggap benar. Mungkin memang tidak ada yang benar-benar menang. Sebab perdebatan itu kemudian membawa kami kepada pembicaraan yang lebih menarik: tentang sastra. Kami akhirnya sepakat bahwa sastra punya dunianya sendiri. Saya hampir melupakan perdebatan itu. Tapi ternyata dia tidak. Di pertemuannya dengannya suatu hari, dia bilang kalau masih ingat perdebatan itu. Saya bilang, “Kamu ngeyel”. Dan dia tertawa.
Satu pelajaran yang saya ingat betul: sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan bukan berarti otomatis salah di dalam sebuah karya. Pengarang boleh menciptakan hukum sendiri untuk dunianya. Ikan boleh saja banyak pada malam bulan purnama, selama ada catatan atau penjelasan khusus yang membuat hal itu masuk akal dalam dunia cerita. Saya masih pelajaran mahal kesimpulan itu.
Dulu saya menganggapnya hanya bagian dari percakapan dengan seorang teman. Sekarang, setelah Agusta tidak ada, percakapan itu seperti potongan kecil dari sebuah masa yang tidak bisa saya datangi lagi. Entah mengapa, justru sekarang terasa begitu penting. Begitulah rupanya kenangan. Memang tidak selalu menyimpan peristiwa besar. Kadang hanya sebuah potongan kecil, tentang ikan itu misalnya.
Saya juga sering teringat pada masa bersama Sastra Alit. Kami sering diskusi di Taman Balai Kambang, Solo. Sudah lama sekali. Hampir 10 tahun yang lalu. Ada masa ketika kami bisa menghabiskan waktu di sana untuk menulis bersama. Saya, Agusta, Yuditeha, Gatot Prakoso, Key Nurhidayanto, Maia Gwendon, dan teman-teman yang lain.
Kami datang membawa tulisan masing-masing. Lalu kami menyebutnya sebagai ‘Pembantaian Karya’. Lucu juga sebenarnya. Satu cerpen yang menurut saya sudah bagus, dan dengan PD-nya saya bawa ke Sastra Alit, di sana bisa dibantai habis-habisan oleh teman-teman. Kalau ingat semua itu, saya jadi tertawa sendiri.
Pembicaraan yang awalnya hanya membahas satu cerpen bisa melebar ke persoalan macam-macam. Di luar sastra, di luar tema menulis. Tapi semuanya asyik. Kami bisa terus ngobrol sampai sore, padahal hanya duduk di atas tikar sederhana, sambil minum teh hangat seduhan Mas Gatot. Benar-benar kesederhanaan yang mahal.
Sekarang kalau saya mengingatnya, rasanya indah sekali. Bukan karena waktu itu kami sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Justru karena semuanya adalah hal-hal yang biasa dan konsisten dilakukan dalam jangka waku yang lama. Duduk bersama teman-teman yang mempunyai kesenangan yang sama. Membicarakan tulisan, sastra, karya. Kadang serius, kadang bercanda.
Sore datang tanpa terasa. Lalu kami pulang. Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti saya akan merindukan semua itu. Saya kira pertemuan semacam itu akan selalu ada: duduk bersama, bahas karya, ngobrol ke sana ke sini.
Saya kira masih ada kesempatan untuk membaca tulisan baru Agusta Akhir dan masih ada kesempatan untuk berdebat dengannya. Ternyata tidak. Agusta sudah berpulang. Dan sejak itu, beberapa kenangan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Tempat yang dulu biasa saja tiba-tiba punya arti. Percakapan yang dulu terasa sepele tiba-tiba menjadi sesuatu yang ingin saya ulang. Nama seseorang yang dulu bisa saya temui, sekarang hanya bisa saya temukan dalam tulisan, ingatan, dan cerita dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Mungkin beginilah kehilangan bekerja. Kehilangan tidak hanya mengambil seseorang tapi juga membawa pergi kemungkinan-kemungkinan: kemungkinan untuk bertemu lagi, kemungkinan untuk berbicara lagi, kemungkinan untuk berdebat lagi tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
Saya kadang membayangkan, kalau Agusta masih ada, mungkin kami masih akan berdebat tentang sastra. Mungkin tentang tulisan terbaru saya. Mungkin tentang tulisannya. Mungkin tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting. Saya mungkin akan kembali mengatakan bahwa ikan tidak banyak ketika bulan purnama. Dan mungkin ia akan membantah lagi. Lalu kami akan kembali sampai pada kesimpulan yang sama: sastra punya dunianya sendiri.
Betapa saya ingin mengalami percakapan itu sekali lagi. Bukan untuk membicarakan sesuatu yang besar. Cukup recehan yang tidak penting saja. Ada masa ketika kita merasa bahwa orang-orang di sekitar kita akan selalu ada. Kita tidak menghafalkan percakapan dengan mereka karena kita mengira akan ada percakapan berikutnya. Kita tidak menyimpan setiap sore dengan sungguh-sungguh karena kita mengira akan ada sore-sore lain. Kita tidak memandang sebuah pertemuan sebagai sesuatu yang terakhir karena kita tidak pernah tahu bahwa itu ternyata pertemuan terakhir.
Sekarang saya tahu, beberapa hal baru terasa berharga setelah tidak bisa diulang. Sastra Alit di Balekambang bukan sekadar tempat kami pernah menulis bersama. Ia adalah salah satu tempat di mana sebuah persahabatan pernah tumbuh. Dan Agusta adalah bagian dari masa itu.
Karena itu, ketika saya merindukannya, yang saya rindukan bukan hanya seseorang. Tetapi saya merindukan sebuah masa. Masa ketika kami masih bisa duduk bersama sampai sore. Ketika tulisan masih menjadi alasan untuk berkumpul. Ketika perdebatan tentang ikan di malam bulan purnama bisa menjadi pembicaraan panjang tentang sastra. Saya merindukan semuanya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika saya membaca lagi tulisan Agusta, saya akan kembali teringat pada perdebatan kecil itu. Saya akan tersenyum. Lalu mungkin berkata dalam hati: “Mas Agusta, ternyata saya masih ingat.” Saya masih ingat ikan yang banyak di malam bulan purnama, juga masih ingat perdebatan kita. Saya cinta Sastra Alit. Saya masih ingat sore-sore bersama teman-teman. Dan saya masih ingat bahwa pernah ada seorang teman bernama Agusta Akhir yang membuat perjalanan menulis saya menjadi lebih ramai.
Hanya satu yang sekarang tidak bisa saya lakukan. Saya tidak bisa lagi mengajaknya berdebat. Dan mungkin, itulah yang paling saya rindukan. Saya rindu punya kesempatan untuk berkata kepadanya sekali lagi: “Mas Agusta, ayo kita berdebat.”
____________________
Erna Surya. Penulis dan seorang guru yang tinggal di Klaten.
Pagi hari adalah tone setter. Secara psikologis, emosi pertama yang kita rasakan saat bangun akan menjadi kacamata yang kita gunakan sepanjang hari. Jika kacamatanya sudah merah karena marah, semua kejadian netral pun akan terlihat menyebalkan. Pagi hari ibarat air tenang di gelas. Satu tetes tinta (marah) sudah cukup membuat seluruh air menjadi keruh. Jikapun merasa tidak bisa mengendalikan marah, setidaknya tahanlah sampai jam 10 pagi.
2. Kebaikan Tanpa Beban Ekspektasi
Seringkali kita merasa lelah berbuat baik bukan karena pekerjaannya, tapi karena beban ingin dihargai. Dengan mengubah fokus ke objek (kebersihan lantai, kerapian piring), kita melepaskan ketergantungan pada reaksi orang lain. Ini bisa disebut sebagai Egoisme Positif. Kita melakukan kebaikan untuk ketenangan batin kita sendiri. Jika orang lain senang, itu hanyalah bonus, bukan tujuan utama.
3. Menyikapi Rutinitas
Ini berkaitan dengan konsep decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan). Energi otak kita terbatas. Jika habis digunakan untuk memikirkan: jam berapa harus makan, maka untuk hal-hal kreatif dan esensial, otak kita sudah loyo. Biarkan tubuh bekerja secara mekanis untuk urusan rutin agar pikiran tetap menjadi ruang yang luas untuk imajinasi dan refleksi. Yang benar-benar menggunakan pikiran, terapkanlah pada hal-hal yang memang membutuhkan solusi.
4. Keberanian Meminta Maaf
Maaf bukan tentang siapa yang kalah, tapi tentang siapa yang lebih menghargai kedamaian. Gengsi hanya akan menyumbat aliran energi positif dalam hubungan sosial. Meminta maaf adalah bentuk tertinggi dari rasa percaya diri; hanya orang yang jiwanya kuat yang berani mengakui kesalahan.
5. Seni Berkata, Tidak
Banyak orang menderita karena menjadi people pleaser. Menolak hal yang tidak kita inginkan adalah bentuk pertahanan diri agar kita tidak kehilangan jati diri. Setiap kali kita berkata, Ya pada hal yang tidak kita sukai, sebenarnya kita sedang berkata, Tidak pada kebahagiaan diri sendiri.
6. Tidur Saat Tubuh Memanggil
Memaksa tidur sering kali memicu kecemasan (sleep anxiety). Poin kamu tentang menunggu tubuh benar-benar siap sangat akurat untuk menghindari pikiran yang melantur ke mana-mana, terlebih untuk waktu menjelang tidur. Istilahnya adalah mendengar alarm tubuh. Tidur bukan tugas, tapi upacara peristirahatan. Tidurlah jika kamu memang sudah ingin tidur.
7. Rumus Kesukaan
Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan melakukan hal-hal yang tidak kita sukai hanya demi tuntutan sosial. Kesukaan mendatangkan ketulusan, dan ketulusan mendatangkan kebahagiaan.
8. Mengabaikan Komentar Penonton
Orang lain hanya melihat panggung kita, tapi kita yang menjalani dapur-nya. Komentar mereka sering kali hanya refleksi dari isi kepala mereka sendiri, bukan kebenaran tentang kita. Gunakan prinsip Jarak Pandang. Komentar orang adalah suara latar, bukan musik utama dalam hidup kita.
9. Olahraga sebagai Perawatan, Bukan Siksaan
Banyak orang gagal olahraga karena memasang target terlalu tinggi. Rumus 20 menit kamu sangat realistis (sustainable). Intinya adalah konsistensi, bukan intensitas yang meledak-ledak lalu berhenti. Tubuh adalah rumah bagi jiwa. Peregangan rutin seperti memberi pelumas pada engsel pintu agar tidak berkarat, macet terlebih berisik.
10. Doa sebagai Keheningan (Surrender)
Memaknai doa sebagai momen hening sejenak membuat spiritualitas terasa lebih membumi dan bisa dilakukan kapan saja. Kita bisa menyebutnya sebagai Jeda Spiritual. Di antara dua aktivitas, ada satu titik hening untuk mengembalikan kendali hidup kepada Sang Pencipta.
Mang Kus, ketua RT bingung tujuh keliling. Surat edaran dari kelurahan yang diteruskan melalui ketua RW telah melumpuhkan urat-urat saraf di seputaran kepalanya. Sekilas, isi surat edaran itu terbaca sederhana. Isinya perintah dari lurah agar di mulut gang setiap RT didirikan sebuah gapura dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi Mang Kus tidak masalah harus mendirikan seribu gapura, asal setiap kepala keluarga di wilayahnya termasuk golongan masyarakat berkantong tebal. Akhir-akhir ini angka penduduk miskin di wilayahnya justru perlahan-lahan naik.
Sabtu malam, Mang Kus mengumpulkan pemuda di wilayahnya. Siapa tahu dari isi kepala mereka keluar ide-ide cemerlang dalam menghadapi surat edaran dari kelurahan itu.
“Harusnya dari kelurahan jangan hanya mengeluarkan surat edaran saja! Sekalian dengan dananya,” kata Omen salah seorang pemuda yang mengikuti musyawarah.
“Setuju! Jangan kita saja yang mesti mengeluarkan dana. Iuran bulanan saja tidak cukup menutupi pengeluaran RT.” Bendahara RT menambahkan.
“Begini saja! Kita akan tetap meminta sumbangan kepada warga khususnya yang berkantong tebal. Kita bikin gapura sesuai dengan dana yang terkumpul. Bagaimana?” Mang Kus memberi jalan keluar.
Semua yang hadir menyetujui usul Mang Kus.
Dana sumbangan dari warga telah terkumpul. Mang Kus kembali mengumpulkan para pemuda. Dengan dana yang terkumpul, kira-kira gapura seperti apa yang hendak didirikan? Baru seperempat jam acara dibuka. Seorang lelaki setengah tua menghambur ke depan Mang Kus.
“Pak RT! Pak RT! Abah Sutarya barusan meninggal dunia!”
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun…” seru hadirin yang hadir.
Pertemuan bubar. Semua pergi menuju rumah Abah Sutarya di ujung gang sempit. Abah Sutarya mantan pejuang. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Dia pernah ikut operasi pagar betis pada saat DI/TII memberontak di Jawa Barat. Istrinya telah lama meninggal. Dia tinggal bersama anaknya yang pekerjaannya serabutan. Semua anggota keluarga Abah Sutarya terdaftar di kelurahan sebagai penerima dana BLT dari pemerintah.
Sebelum upacara penguburan, Omen sebagai ketua panitia pengumpulan dana sumbangan untuk gapura mendekati Mang Kus.
“Mang! Daripada dana ini dibikin gapura mending dikasihkan saja ke keluarga Bah Sutarya.”
“Terus dana buat gapura dari mana?”
“Nanti kita pikirkan lagi.”
“Baiklah! Nanti biar Mamang yang tanggung jawab kepada warga.”
Mang Kus menyetujui usulan Omen.
Dana sumbangan gapura pun berpindah tangan kepada anaknya Abah Sutarya.
Bulan Agustus tinggal dua hari lagi. Di setiap gang berdiri berbagai macam gapura dengan berbagai hiasan. Hanya di gang Mang Kus yang belum terlihat. Setelah meninggalnya Abah Sutarya warga RT disibukkan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Mereka sering berkumpul di sekitaran rumah Abah Sutarya. Mereka mengenang cerita-cerita perjuangan yang dahulu didongengkan almarhum.
Tepat sehari sebelum memasuki bulan Agustus, di depan gang RT Mang Kus tetap tidak ada gapura seperti di gang lainnya. Di sisi kanan mulut gang hanya berkibar sebuah bendera merah putih pada tiang bambu. Sedangkan di sisi kirinya sebuah lukisan foto Abah Sutarya di atas karton putih membentang di antara dua bilah bambu. Di bawahnya terdapat tulisan dengan huruf besar: DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. Dari pejuang yang terlupakan.***
____________________
Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan media daring.
Aku pertama kali bertemu Rendra Kusumah di sebuah galeri di Jakarta. Saat itu aku bekerja sebagai staf kuratorial. Pekerjaanku sederhana: mengurus lukisan, menyusun pameran, menjawab pertanyaan pengunjung. Sesekali mendengarkan seniman menjelaskan karya mereka dengan kata-kata yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak mengerti.
Rendra berbeda. Ia datang memakai sepatu lusuh. Celananya sedikit kepanjangan. Rambutnya tidak disisir dengan baik. Ia membawa satu gulungan kanvas di bawah ketiak. Tidak ada yang mengenalnya. Ia juga tidak berusaha membuat dirinya dikenal. Lukisannya dipasang di sudut ruangan. Tidak besar. Tidak berwarna mencolok. Hanya sebuah pohon. Tetapi pohon itu tidak tumbuh dari tanah. Akarnya menggantung di udara. Di bawahnya terdapat lubang hitam.
Aku berdiri cukup lama di depan lukisan itu.
“Bagus?” tanya Rendra dari belakangku.
“Orang-orang bilang begitu.”
“Orang-orang biasanya tidak tahu apa yang mereka bilang.”
Aku menoleh. Wajahnya pucat. Matanya seperti orang yang kurang tidur.
“Itu pohon apa?” tanyaku.
“Bukan pohon.”
“Lalu?”
“Rumah.”
Aku kembali melihat lukisan itu.
“Rumahmu?”
Rendra tersenyum. “Rumah semua orang.”
Malam itu kami mulai berbicara.
***
Rendra tinggal di sebuah rumah petak di belakang pasar lama Cikini. Aku baru tahu ketika ia mengajakku ke sana beberapa minggu kemudian. Rumahnya sempit. Cat dinding mengelupas. Lantainya lembap. Bau minyak tanah bercampur dengan bau cat. Tetapi ada satu benda yang menarik perhatianku. Sebuah akuarium besar. Ukurannya hampir setinggi tubuhku. Di dalamnya tidak ada ikan. Hanya air kehijauan dan bunga-bunga plastik.
“Kenapa bunga plastik?” tanyaku.
“Tidak mati.”
“Tidak hidup juga.”
Rendra tertawa.
“Justru itu.”
Aku mendekati akuarium. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, dan putih. Sebagian sudah kusam. Ada yang terendam seluruhnya. Ada yang mengapung di permukaan.
“Bunga ini tidak pernah layu,” katanya.
Aku tidak menjawab. Rendra kemudian mengambil dua gelas. Kami minum kopi di ruang tamunya. Di dinding terdapat banyak lukisan. Sebagian berupa wajah. Sebagian berupa mata. Ada satu wajah perempuan yang membuatku berhenti.
“Siapa?”
Rendra tidak langsung menjawab.
“Istriku.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kau menikah?”
“Dulu.”
“Sekarang?”
“Sekarang dia tinggal di sini.”
Aku mengira ia sedang bercanda. Tetapi wajahnya tetap serius.
Di samping lukisan itu ada sebuah kursi. Di atasnya terlipat pakaian perempuan. Blus. Rok. Selendang. Semuanya rapi. Seperti baru saja dilepas.
***
Aku datang lagi seminggu kemudian. Wajah perempuan di dinding itu berubah. Aku yakin. Matanya lebih terbuka. Bibirnya lebih pucat. Aku bertanya kepada Rendra.
“Kenapa lukisan ini berubah?”
Ia sedang mencuci kuas.
“Tidak berubah.”
“Berubah.”
“Barangkali kau yang berubah.”
Aku tidak menjawab. Sejak saat itu aku mulai memperhatikan lukisan itu setiap kali datang. Kadang matanya seperti melihat ke arah pintu. Kadang seperti melihat kepadaku.
Suatu malam, aku menemukan Rendra sedang menghapus wajah perempuan itu. Kuas basah bergerak perlahan di atas cat.
“Kenapa dihapus?”
“Dia marah.”
“Siapa?”
Rendra menunjuk lukisan itu.
“Dia.”
Aku tertawa kecil. Rendra tidak.
***
Beberapa minggu kemudian Rendra mengatakan sedang membuat karya terakhir.
“Apa?”
“Belum tahu.”
“Lukisan?”
“Bukan.”
“Patung?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Ia menatap akuarium.
“Aku ingin membuat kehidupan.”
Aku mengira ia sedang mabuk. Tetapi Rendra tidak minum malam itu.
Seminggu kemudian ia meneleponku. “Datang malam ini.”
Aku datang sekitar pukul sebelas. Rumahnya gelap. Hanya lampu kecil di dekat akuarium yang menyala. Air di dalamnya sudah berubah. Tidak lagi hijau. Hampir hitam. Aku melihat sesuatu di dalam air. Benda itu panjang. Putih. Aku tidak tahu apakah itu kain. Atau sesuatu yang lain.
“Jangan takut,” kata Rendra.
Aku mundur.
“Ini apa?”
“Warna baru.”
Tangannya berlumur merah tua.
“Cat?”
Ia melihat tangannya.
“Darah.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau pergi. Rendra mendekati akuarium.
“Cat tidak bisa membuat orang hidup.”
Ia menatap bunga-bunga plastik. “Tapi darah bisa mengingat tubuh.”
Aku pergi malam itu. Aku tidak mengucapkan selamat tinggal.
***
Setelah itu aku tidak melihat Rendra selama dua minggu. Aku mencoba menelepon. Tidak diangkat. Aku datang ke rumahnya. Pintu terkunci. Tetangganya mengatakan Rendra jarang keluar.
“Kadang malam-malam terdengar suara perempuan.”
“Perempuan?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Menyanyi.”
Aku memandang pintu rumah Rendra.
“Bagus?”
Tetangga itu menggeleng.
“Bagus sekali.” Lalu ia menambahkan, “Itu yang membuat takut.”
Aku mengetuk pintu. “Rendra.”
Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Dari dalam terdengar suara air. Tetes demi tetes. Kemudian suara kaca bergetar. Aku memanggil namanya sekali lagi. Kali ini terdengar suara Rendra.
“Jangan datang dulu.”
“Kenapa?”
“Aku hampir selesai.”
***
Dua minggu kemudian, aku membaca berita tentang kematiannya. Rendra ditemukan meninggal di rumahnya. Tubuhnya berada di dalam akuarium. Bunga-bunga plastik masih ada di sana. Airnya berwarna kehijauan.
Polisi menyebutnya bunuh diri. Aku membaca berita itu berulang kali. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa masuk ke dalam akuarium sebesar itu. Aku lebih tidak mengerti mengapa ia melakukannya.
Di meja kerjanya ditemukan selembar kertas. Hanya satu kalimat. Warna baru sudah jadi. Tapi dunia ini buta.
Aku menyimpan salinan berita itu. Entah untuk apa.
***
Tiga bulan kemudian, galeri mengadakan pameran Rendra. Orang-orang datang. Banyak sekali. Orang-orang yang dulu tidak mengenalnya sekarang berbicara tentangnya seperti sahabat lama. Mereka membicarakan kematian, tubuh, air, kehidupan, kematian.
Beberapa bahkan menyebut Rendra jenius. Aku hanya diam. Salah satu lukisan yang dipamerkan berjudul Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu.
Aku mengenalnya. Akuarium. Air hijau. Bunga plastik. Dan sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang samar. Aku menaruh keterangan pendek di bawah lukisan. Rendra Kusumah, 1989–2024. Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu.
Aku tidak menulis tentang darah. Aku tidak menulis tentang istrinya. Aku tidak menulis tentang suara perempuan yang menyanyi. Tidak ada gunanya. Tidak seorang pun akan percaya.
***
Pada malam ketiga pameran, aku melihat sesuatu. Air di dalam lukisan bergerak. Aku berdiri cukup dekat. Kanvas itu kering. Tetapi airnya bergerak. Pelan. Seperti ada sesuatu di dalamnya yang sedang bernapas.
Aku mundur. Gerakan itu berhenti. Aku mendekat lagi. Bergerak. Aku memejamkan mata. Ketika membukanya, aku melihat wajah perempuan. Bukan wajah istri Rendra. Wajahku sendiri.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding. Di lantai, sebuah bunga plastik tergeletak. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku mengambilnya. Bunga itu basah.
***
Sejak malam itu aku sering mencium bau cat. Di kantor. Di rumah. Di kamar mandi. Bahkan ketika sedang tidur. Aku juga mulai bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di depan akuarium. Rendra berada di dalamnya. Ia tidak berbicara. Ia hanya menunjuk bunga-bunga plastik. Kemudian dari dalam air muncul tangan. Tangan perempuan. Tangannya pucat. Kukunya panjang.
Aku selalu terbangun sebelum tangan itu menyentuhku. Setiap pagi aku menemukan sesuatu di telapak tanganku. Kadang serpihan cat. Kadang noda merah. Pernah juga sehelai benang putih. Aku membuang semuanya.
Tetapi setiap pagi selalu ada lagi.
***
Orang-orang terus memuji Rendra. Namanya mulai masuk majalah. Lukisannya dibeli kolektor. Orang-orang menyebutnya seniman yang melampaui zamannya. Aku pernah mendengar seorang kritikus berkata, “Kematian membuat karya Rendra menjadi lebih hidup.”
Aku ingin tertawa. Tetapi tidak jadi. Sebab saat itu aku melihat air di dalam lukisan bergerak lagi. Kali ini lebih kuat. Seperti seseorang sedang mengetuk dari dalam.
Tok. Tok. Tok.
Aku berdiri di depan lukisan. Tidak ada orang lain. Aku ingin pergi. Tetapi kakiku tidak bergerak. Kemudian aku mendengar suara perempuan. Sangat pelan.
“Bunga tidak pernah layu.”
Aku menutup telinga. Suara itu tetap terdengar.
“Karena tidak pernah hidup.”
Aku melihat ke dalam lukisan. Wajah perempuan itu muncul lagi. Wajahku. Tetapi kali ini ia tersenyum.
***
Malam ini galeri sudah kosong. Aku masih di sini. Di depan lukisan Rendra. Lampu dimatikan. Hanya satu lampu kecil menyala di atasnya. Aku tidak tahu mengapa aku belum pulang. Mungkin karena aku sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang.
Air di dalam lukisan mulai bergerak. Bunga-bunga plastik bergoyang.
Satu. Dua. Tiga.
Kemudian aku melihat tubuh seseorang di bawah air. Rambutnya panjang. Tangannya menempel pada kaca. Ia mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Aku mendekat. Perempuan itu mengangkat wajah. Aku mengenalnya. Ia adalah perempuan dalam lukisan Rendra. Istrinya. Ia membuka mulut. Tidak ada suara.Tetapi aku tahu apa yang dikatakannya. Masuk.
Aku mundur. Terlambat. Sesuatu yang dingin menyentuh tenggorokanku. Aku mencoba berteriak. Tidak ada suara. Aku mencium bau air. Bau cat. Bau tanah basah. Lalu semuanya menjadi gelap.
Pagi nanti, mungkin petugas kebersihan akan menemukan galeri tetap terkunci. Mereka akan melihat lukisan itu. Mereka akan melihat bunga-bunga plastik. Mereka akan melihat air yang tetap tenang. Mereka mungkin juga akan melihat sesuatu yang baru. Seorang perempuan berdiri di dalam akuarium. Tidak ada yang tahu siapa dia. Tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa masuk ke sana. Dan bunga-bunga itu tetap tidak layu.***
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.
[i]Henri MacLaine Pont, Arsitek Hindia Belanda berdarah Indonesia di era tahun 1910-1971.
Jumat pertama pertengahan tahun 1919, ketika matahari mulai beringsut, empat bibit beringin telah tertanam di tengah lahan seluas 30 hektar, bekas area persawahan yang telah ditimbun ratusan kubik tanah padas. Lahan itu berbatasan dengan Sungai Cikapundung dan Dagoweg[1]. Penanaman pohon itu sebagai penanda dimulainya pembangunan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng[2]. Berturut-turut Tuan Bertus Coops sebagai Burgemeester[3] Bandung dan Tuan J.W. IJzerman sebagai perwakilan dari KIHTONI[4], memberikan sambutan pada acara tersebut. Puncak acara itu ditandai dengan penguburan selembar piagam yang telah dimasukkan ke dalam looden[5] oleh Prof. Kloper, pimpinan sekolah sebagai salah satu tokoh yang namanya tertulis dalam piagam itu. Pont membungkukkan badannya ketika diperkenalkan sebagai arsitek bangunan itu dan juga pimpinan proyek.
Orang-orang telah beranjak. Langit senja oranye keunguan menghampar di cakrawala dan semilir angin dingin semakin membuat Pont enggan segera meninggalkan tempat itu. Noor, istrinya masih berdiri di samping Pont, menemani dan menunggu sampai suaminya itu mengajaknya pulang. Tangan mereka saling menggenggam erat. Sementara itu, anak-anak mereka berlarian menikmati suasana syahdu petang itu.
“Pandanglah langit di sana, Lieverd[6]. Indah sekali bukan? Negeri ini selalu membuatku rindu ketika kembali ke Belanda. Cintaku kepada negeri ini mungkin melebihi kepadamu,” kata Pont sembari memandang wajah Noor yang rambutnya berkibar disapu angin.
“Aku tidak cemburu, Pont,” jawab Noor.
“Kamu kedinginan?” Pont memanggil anak-anaknya setelah sebuah kecupan lembut di punggung telapak tangan Noor.
***
Pont sudah menjejakkan kakinya di lokasi pembangunan proyek Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng, ditemani mentari yang mulai mengintip di ufuk timur. Hawa dingin menembus jaket, menyusup ke pori-pori kulit, dan berakhir menusuk tulang-tulangnya. Ia tidak menghiraukan hal itu. Sudah tidak sabar memulai pekerjaan. Sembari menunggu para pekerja datang, ia mengambil buku dari tas kulit. Sketsa ilustrasi gedung yang akan dibangun, tergores di kertas itu dengan bentuk atap seperti rumah Minangkabau menjulang begitu megah. Matanya tajam mengamati detail-detail bangunan, ketika tangannya membuka lembaran-lembaran satu demi satu. Ia mengingat kritikan-kritikan dari sesama arsitek ketika Pont mempresentasi gambar rancangannya. Menurut temannya itu, penggunaan bentuk atap itu cenderung membuat masalah. Kebocoran yang mengakibatkan rangka atap cepat menjadi rapuh. Tapi, ia tidak menganggap hal itu sebagai permasalahan besar. Hanya sekadar perkara teknis biasa yang dapat dengan mudah dicari cara penyelesaiannya. Ia tetap mempertahankan desain rancangannya agar tetap bisa terwujud. Kecintaan dan kekaguman pada budaya lokal membuatnya ingin mendobrak gaya arsitektur kolonial yang lebih dulu hadir di Hindia-Belanda.
Pont mengalihkan pandangan dari sketsa bangunan kepada lahan pembangunan sekolah. Ia mulai membayangkan bangunan itu akan hadir dengan keramaian mahasiswa dari segala penjuru Hindia-Belanda. Kemudian ia melihat empat beringin yang telah tertanam di tengah-tengah lahan. Pohon itu akan tumbuh begitu rindang, membuat kawasan itu begitu asri, burung-burung beterbangan dengan berselimut hawa dingin Kota Bandoeng.
Beberapa jam kemudian, para pekerja proyek berdatangan. Material-material bangunan satu-persatu juga mulai tertata bertumpuk, batu kali, pasir, bata merah, dan besi-besi struktur. Gulungan-gulungan kertas kalkir berisi gambar bestek dibukanya. Ia berdiri gagah. Jas rapi, kaca mata hitam, dan topi laken menambah kewibawaan. Ia mulai mengarahkan kepala tukang untuk memulai tahapan persiapan pembangunan. Tukang mulai menarik meteran mengukur rencana bangunan, memaku papan bouwplank, dan menarik benang sebagai acuan as fondasi bangunan.
“Dicek sekali lagi! Jangan sampai meleset barang satu senti pun,” tegas Pont mengingatkan kepala tukang.
Detail lokalitas menjadi kekuatan desain rancangan Pont. Ia sangat berhati-hati dalam pengawasan proses pembangunan. Pekerjaan yang tak sesuai ukuran dan pedoman kerja, pasti dimintanya dibongkar. Ia juga tidak segan memecat pekerja yang tidak disiplin dan hasil pekerjaan yang berantakan. Cara kerjanya menjadi bumerang karena mengakibatkan progres berjalan lambat. Meskipun penuh ketegasan, dia juga murah hati membagikan ilmu-ilmu yang dimiliki. Keahliannya dalam teknik pertukangan selalu diajarkan kepada para tukang.
Oktober 1919
Hari telah berganti. Begitu pula bulan berjalan terasa cepat. Pont tidak menyadari waktu pelaksaan pembangunan sekolah telah sampai di penghujung tahun. Sedangkan progres konstruksi masih jauh dari harapan. Masih ada beberapa bangunan yang belum tersentuh. Barakgebouw A[7], Barakgebouw B[8], dan bangunan penghubung di sekitar gerbang utama belum terlihat bentuknya.
Profesor Klopper, salah satu petinggi Technische Hoogeschool te Bandoeng, risau jika pembangunan gedung tidak selesai tepat pada jadwal yang telah ditentukan. Ia memutuskan secara sepihak tanpa meminta pertimbangan dari Pont sebagai pimpinan proyek. Ia meminta insinyur zeni untuk membangun Hulpgebouwen[9] di sebelah timur Barakgebouw B. Pont tidak terima dengan tindakan yang dilakukan Profesor Kloper.
“Prof Klopper. Apa yang engkau lakukan itu merupakan sebuah pemerkosaan karya arsitektur. Engkau sudah melangkahiku sebagai pimpinan proyek.”
“Bukan begitu, Tuan Pont. Bangunan ini harus sudah siap tahun depan. Aku tak ingin jadwal pembukaan sekolah ini akan gagal di hari yang telah ditentukan. Hulpgebouwen itu segera akan dibongkar jika semua bangunan utama sudah selesai.”
Keputusan Prof. Klopper tetap saja berjalan tanpa mengindahkan pendapat Pont. Ia merasa tugasnya sebagai arsitek dan pimpinan proyek sudah tidak dihargai. Sejak saat itu semangatnya mulai mengendur dalam membidani gedung yang ia rancang.
Tepat setahun pembangunan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng, berlangsung acara pembukaan di gedung utama Barakgebouw B. Bangunan itu belum sepenuhnya selesai. Baru terpasang rangka-rangka konstruksi kuda-kuda atap. Rangkaian daun beringin hijau tergantung menghiasi lengkung parabola rangka struktur kayu. Panggung sudah tertata rapi dengan tanaman-tanaman hias sebagai dekorasi. Tulisan nama acara warna-warni sudah terpasang pada kain latar hitam.
Para pimpinan Technische Hoogeschool te Bandoeng dan pimpinan tokoh Hindia-Belanda hadir dalam acara itu.Anggota Raad van Indië[11], para direktur departemen, Direktur Javasche Bank[12], anggota Volksraad[13], Resident der Preanger Regentschappen[14], Dewan Kota Bandung, dan berbagai pejabat pemerintah. Tokoh-tokoh keraton dari Yogyakarta dan Solo juga turut diundang. Kemeriahan dan pesta pora merayakan mulai diresmikan penggunaan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng untuk proses belajar-mengajar. Konser musik dengan artis-artis yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda, semakin menambah semaraknya acara itu.
Namun Pont, sang Arsitek, tidak menampakkan batang hidungnya. Ia tidak setuju dengan pergelaran acara itu. Baginya, sebuah karya arsitektur ibarat janin bayi yang dikandung. Pipinya basah mengingat malam-malam jauh sebelum dimulainya pembangunan. Di antara malam-malam dingin dan perlawanan tubuhnya terhadap penyakit yang malaria yang menyerangnya, ia harus menyelesaikan rancangan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng. Seperti halnya saat ini, ia tergeletak di ranjang jauh dari hingar bingar peresmian bangunan itu. “Och, wat jammer voor je, M’n kind” ucapnya dalam hati.
____________________
KesitH. Setyadji. Tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio. Aktif menulis di Yeka (Ruang Kecil untuk Berkarya).
[1] Sekarang namanya menjadi Jl. Dago dan terakhir menjadi Jl. Ir. H. Juanda.
[2] Kelak akan berubah menjadi Intitut Teknik Bandung (ITB).
[4]Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië – KIHTONI (Institut kerajaan bagi pendidikan teknik tinggi di Hindia Belanda) selaku pemilik Technische Hoogeschool te Bandoeng.
Judul Film:Practical Magic: The Book of Magic(2026)
Practical Magic: The Book of Magic, sebenarnya saya tak pernah merencanakan nonton film ini. Saya waktu itu hanya sedang mencari film dengan jam tayang paling dekat. Dari beberapa pilihan yang ada di bioskop, film inilah yang waktunya paling memungkinkan. Maka asal saja beli tiket dan nonton lebih dari 2 jam lebih. Nyaris tak ada ekspektasi. Ya selayaknya film remaja tentang sihir dan percintaan standar ‘cinta monyet’ saja. Tapi akhirnya, saya menemukan satu nilai yang bagi saya sangat istimewa: IBU.
Kebetulan, belum lama ini saya baru saja menulis tentang Insidious, juga dari sudut pandang seorang ibu. Dan hari itu, tanpa saya rencanakan, saya kembali duduk di dalam bioskop menyaksikan cerita yang pada akhirnya membawa saya kepada tema yang sama.
Hanya saja, kedua film ini berbicara tentang ibu dengan cara yang berbeda. Dalam Insidious, seorang ibu berhadapan dengan bahaya yang sudah berada di depan mata. Ia harus berjuang untuk menyelamatkan anaknya. Cinta seorang ibu bergerak ke arah tindakan: mencari, melawan, bertahan. Sementara dalam Practical Magic: The Book of Magic, ketakutan seorang ibu justru bekerja jauh sebelum bahaya datang.
Sally Owens tahu bagaimana rasanya kehilangan. Ia tahu keluarganya memiliki sejarah yang tidak sederhana. Ada sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya dan bisa membawa penderitaan kepada orang-orang yang dicintai. Karena itu, ketika menjadi ibu, keinginannya sederhana: anak-anaknya jangan sampai mengalami apa yang pernah dialaminya.
Bukankah itu salah satu bentuk cinta yang paling mudah dipahami?
Kita ingin anak kita tidak mengalami kegagalan yang pernah kita alami: bertemu orang yang salah, membuat keputusan yang salah, merasakan sakit yang pernah kita rasakan. Sebagai orangtua, pastinya kita ingin memindahkan pengalaman kita ke dalam hidup mereka sebagai semacam peta. Jadi mereka bisa menggunakan peta tersebut agar tidak tersesat seperti yang pernah kita alami.
Tetapi masalahnya, hidup bukan peta. Dan anak-anak bukan perpanjangan dari pengalaman orang tuanya. Nah, di sinilah saya merasa film ini menjadi lebih menarik daripada sekadar film fantasi tentang keluarga penyihir. Sally ingin melindungi anak-anaknya. Tetapi perlindungan seorang ibu kadang memiliki sisi lain: ketakutan.
Ketika seorang ibu terlalu takut anaknya terluka, ia bisa mulai menentukan apa yang boleh diketahui anaknya. Lalu berkembang menjadi apa yang boleh dilakukan. Lebih parah lagi seorang ibu merasa berhak menentukan siapa yang boleh dicintai anaknya. Bahkan jalan hidup mana yang dianggap aman. Semua hal itu dilakukan atas nama cinta.
Tetapi apakah segala hal yang dilakukan atas nama cinta selalu benar? Film ini tidak memberikan jawaban yang terlalu sederhana. Justru hubungan antara Sally dan anak-anaknya membuat pertanyaan itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada saat ketika seorang anak merasa ibunya terlalu banyak melarang. Ada saat ketika ia menganggap ibunya tidak percaya kepadanya. Lalu bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi dewasa, ia mungkin baru mengerti bahwa sebagian larangan itu sebenarnya lahir dari ketakutan. Hanya saja, memahami ketakutan seorang ibu tidak otomatis membuat semua keputusan ibu menjadi benar.
Saya teringat kembali pada Insidious. Kedua film ini sama-sama menempatkan ibu sebagai sosok yang bersedia melakukan apa saja demi anaknya. Tetapi keduanya menunjukkan dua sisi cinta yang berbeda.
Dalam Insidious, cinta seorang ibu diuji ketika ia harus masuk ke dalam bahaya untuk menyelamatkan anaknya. Dalam Practical Magic, cinta seorang ibu diuji ketika ia harus belajar bahwa melindungi anak bukan berarti menghilangkan seluruh kemungkinan bahaya dari hidupnya.
Yang satu mengajarkan keberanian untuk menghadapi sesuatu. Dan yang lain mengajarkan keberanian untuk melepaskan sesuatu. Bisa jadi yang kedua justru terasa lebih sulit. Sebab seorang ibu bisa saja rela menghadapi monster, kutukan, bahkan kematian demi anaknya. Tetapi melepaskan anak untuk membuat keputusan sendiri membutuhkan bentuk keberanian yang berbeda. Ada rasa takut yang harus ditahan. Lalu muncul keinginan untuk berkata, “Jangan.” Semua itu hasil dari dorongan untuk menyelamatkan sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Padahal anak mungkin memang harus jatuh agar tahu bagaimana caranya bangun.
Bagi saya, itulah yang membuat tema ibu dalam Practical Magic: The Book of Magic terasa lebih personal. Sihir di film ini memang menjadi bagian penting dari cerita. Tetapi semakin lama saya menontonnya, saya justru merasa bahwa “sihir” yang sesungguhnya adalah sesuatu yang jauh lebih biasa: cinta seorang ibu yang begitu besar sampai kadang sulit membedakan antara melindungi dan mengendalikan. Mungkin setiap ibu pernah berada di batas tipis itu. Ia ingin menggenggam karena takut kehilangan dan juga melarang karena takut anak terluka. Seorang ibu selalu ingin menyelamatkan karena merasa sudah tahu seperti apa rasa sakit itu. Tetapi anak tetap harus memiliki hidupnya sendiri.
Mungkin karena itulah dua film yang sebenarnya sangat berbeda, Insidious dan Practical Magic: The Book of Magic, akhirnya membawa saya kepada kesimpulan yang hampir sama: seorang ibu memang akan selalu ingin menyelamatkan anaknya. Namun ada masa ketika bentuk cinta yang paling besar bukan lagi menyelamatkan, melainkan percaya. Ia harus percaya bahwa anaknya mampu menghadapi dunia.
Dan ketika anak menemukan satu kenyataan bahwa dunia ternyata terlalu keras, ia harus sadar bahwa rumah tetap menjadi tempat untuk pulang.
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.
Saya tidak langsung menutup buku itu setelah selesai membaca halaman terakhirnya. Saya diam sebentar. Bukan karena ceritanya membuat saya takut. Justru sebaliknya. Setelah membaca Iblis karya Yuditeha, saya malah merasa perlu memeriksa sesuatu yang lebih dekat: manusia. Mungkin diri sendiri.
Sebab sepanjang membaca kumpulan cerpen yang diterbitkan Langgam Pustaka ini, saya seperti sedang diajak melihat iblis dari jarak yang berbeda. Bukan sebagai makhluk bertanduk yang muncul dari tempat gelap, melainkan sebagai sesuatu yang bisa tumbuh dari hal-hal yang sangat biasa: prasangka, keserakahan, nafsu, kekuasaan, fanatisme, dan keyakinan bahwa diri kita selalu berada di pihak yang benar.
Ada empat belas cerpen di dalam buku ini. Masing-masing memiliki persoalannya sendiri. Namun, saya merasakan satu benang merah yang terus mengganggu: manusia ternyata punya kemampuan luar biasa untuk melakukan sesuatu yang buruk sambil meyakini bahwa dirinya sedang melakukan kebaikan. Dan bukankah itu yang paling menakutkan?
Dalam “Babi”, misalnya, persoalan yang tampaknya sederhana berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Ada kabar, kecurigaan, dan sekelompok manusia yang kemudian merasa tahu siapa yang patut dicurigai. Saya tidak akan menceritakan bagaimana ceritanya berakhir. Tetapi bagi saya, bagian yang paling mengusik bukanlah persoalan babinya, melainkan kerumunan. Saya selalu curiga kepada kerumunan yang terlalu cepat menemukan orang untuk disalahkan.
Kita hidup di zaman ketika satu pesan WhatsApp bisa lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi. Sebuah potongan video dapat mengubah penilaian kita terhadap seseorang. Satu kalimat yang keluar dari mulut orang lain bisa membuat kita membenci seseorang yang bahkan belum pernah kita temui.
Yuditeha membawa kegelisahan semacam itu ke dalam cerita. Ia tidak perlu berteriak kepada pembaca bahwa prasangka itu berbahaya. Ia cukup memperlihatkan bagaimana prasangka bekerja. Perlahan. Dari satu orang ke orang lain. Dari bisik-bisik menjadi keyakinan. Dari keyakinan menjadi tindakan. Di situlah saya merasa cerpen-cerpen dalam Iblis dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan terlalu dekat.
Cerpen Iblis sendiri menjadi salah satu cerita yang membuat saya kembali memikirkan judul buku ini. Tokoh yang tampak religius dan memiliki pengaruh justru memperlihatkan bahwa kesalehan yang terlihat dari luar belum tentu berbanding lurus dengan apa yang disimpan seseorang di dalam dirinya.
Saya menyukai keberanian Yuditeha memasuki wilayah seperti ini. Agama, moralitas, kekuasaan, tubuh, uang, dan hasrat bukan perkara sederhana. Tetapi Yuditeha tidak mengubahnya menjadi ceramah. Ia membiarkan tokoh-tokohnya bergerak, mengambil keputusan, berbuat salah, menyembunyikan sesuatu, lalu membiarkan pembaca membuat penilaiannya sendiri.
Bahasanya pun tidak berusaha menjadi rumit. Ini salah satu hal yang saya sukai dari buku ini. Yuditeha seperti tahu bahwa cerita yang kuat tidak selalu membutuhkan kalimat yang ingin terlihat pintar. Ia menggunakan bahasa yang relatif sederhana, tetapi membiarkan persoalan di dalam ceritanya menjadi rumit. Akibatnya, kita tidak sibuk mengagumi kalimat. Kita justru sibuk memikirkan manusia yang ada di dalamnya.
Dan manusia-manusia itu tidak selalu menyenangkan. Ada yang mudah percaya. Ada yang suka menghakimi. Ada yang menggunakan agama untuk kepentingan sendiri. Ada yang tergoda oleh kekuasaan. Ada yang menyimpan kejahatan di balik wajah yang dipercaya banyak orang. Tetapi yang membuat buku ini terasa lebih jujur bagi saya adalah: tidak ada jarak yang benar-benar aman antara mereka dan kita.
Saya bisa saja membaca cerita tentang seseorang yang suka menghakimi dan merasa, “Untung saya tidak seperti dia.” Padahal, mungkin saya pernah melakukan hal yang sama. Hanya bentuknya berbeda. Atau bahkan lebih buruk dari itu.
Saya pernah mempercayai sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya. Pernah menilai seseorang hanya dari cerita orang lain. Pernah merasa paling tahu tentang kehidupan seseorang hanya karena melihat sedikit bagian dari hidupnya. Mungkin di situlah iblis bekerja paling baik. Ia tidak selalu membuat kita menjadi orang jahat. Kadang ia hanya membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwa mungkin iblis tidak selalu membutuhkan manusia yang kejam. Ia hanya membutuhkan manusia yang merasa dirinya benar. Sebab ketika seseorang sudah yakin dirinya benar, ia bisa melakukan banyak hal tanpa merasa sedang melakukan kesalahan. Itulah yang membuat Iblis bagi saya bukan sekadar kumpulan cerita tentang keburukan manusia. Buku ini seperti cermin yang diletakkan diam-diam di hadapan pembacanya. Dan cermin tidak pernah memilih siapa yang akan terlihat buruk. Ia hanya memantulkan.
Saya menutup buku itu akhirnya. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tertutup bersamanya, kecurigaan kecil kepada manusia. Termasuk kepada diri saya sendiri. Barangkali itulah keberhasilan sebuah buku: bukan ketika kita selesai membacanya, melainkan ketika beberapa halaman masih terus hidup di kepala setelah buku itu dikembalikan ke rak.
Dan Iblis membuat saya bertanya sekali lagi: Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk mencari iblis di luar sana, sementara diam-diam kita sedang memberinya tempat di dalam diri sendiri.
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.
Suara gemericik air yang menetes di kaleng terdengar dengan jelas, membangunkanku. Rupanya aku telah tertidur, namun aku tidak dapat melihat apa-apa. Sekelilingku gelap. Apakah aku buta? Ataukah aku berada di ruang gelap? Sementara di kakiku, seperti ada yang mengalir, terasa perih. Apakah itu darah? Lantai ruang ini becek. Aku tidak tahu, aku berada di ruang apa?
“Tolong, tolong!” teriakku kencang. Aku mendengar suaraku menggema.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku disekap di ruang ini. Aku juga tidak ingat, peristiwa apa yang kualami, sehingga tangan dan kakiku harus diikat. Apa kesalahanku, hingga aku diperlakukan seperti ini? Tiba-tiba ada bunyi langkah kaki mendekat. Tampaknya lebih dari satu orang. Aku ketakutan dan badanku gemetar. Apakah mereka orang jahat ataukah orang yang akan menolongku?
Saat orang itu tiba, menyalakan lampu dan terbelalaklah mataku dan jeritanku mengagetkan mereka. “Tenang, tenang.” Seorang pemuda berpakaian polisi menghampiriku dan melepaskan ikatan tangan dan kakiku.
“Pak, kenapa saya berada di sini?”
“Sudah, kamu tidak ada waktu lagi. Kamu cepat pulang ke rumah orang tuamu.”
“Lantas, Bu Nani bagaimana?” tanyaku
“Kamu cepat pulang, jangan banyak tanya. Nyawa kamu terancam,” jelas pemuda itu.
Aku cepat-cepat berjalan meski terseok-seok. Kendati kepalaku masih terasa sakit, kakiku perih dan memar, tapi aku paksakan diri untuk berjalan.
“Kau coba telepon ambulan.” Pemuda itu memberi instruksi pada salah seorang polisi.
“Siap inspektur,” kata salah seorang Bharatu.
Ketika mereka sedang sibuk mengurus jenazah Bu Nani, aku mengemas beberapa pakaian. Tanganku gemetaran, aku menangis melihat ibu terbujur kaku. Hatiku berkecamuk dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
“Istri Jenderal meninggal. Tolong jemput aku sekarang, Pak.” Aku menelpon bapakku.
“Maksudmu, Bu Nani?”
“Iya, Pak.”
“Innalillahiwainnailaihirojiun. Nak, bukankah kamu harus tetap di sana.”
“Inspektur menyuruhku segera pulang malam ini, Pak. Bapak jemput aku ya. Aku ketakutan,” rengekku.
“Baiklah, kamu kemasi pakaian dulu. Setengah jam, bapak sampai di sana.”
“Kelamaan, Pak. Aku takut.” Aku menangis.
“Kalau begitu, pesan grab saja.”
“Baik, Pak. Bapak tunggu aku ya.”
“Baik, Nduk.”
***
“Ini bukan pertama kali. Kau sudah berulang kali bertemu suamiku. Kau tidak tahu malu. Berani-beraninya merebut suami orang.” Nani langsung memborbardil kata-kata ketika bertemu Maya, selingkuhan suaminya.
“Heh, kau yang harusnya introspeksi. Aku tidak pernah mencari suamimu, dan tidak pernah mau merebut suami orang, justru suamimulah yang terus menerus mencariku,” kata Maya.
Aku mulai ingat samar-samar pertengkaran Bu Nani dengan Maya, sosialita yang lagi naik daun.
“Saya beri kau kesempatan untuk tinggalkan suami saya. Kalau tidak, tahu rasa,” ancam Bu Nani.
“Siapa yang mau dengan suamimu. Saya sudah menolak kedatangannya berulang kali, tapi dialah yang terus datang ke rumah saya.”
“Aduhh, kau sungguh keras kepala.” Tangan Bu Nani mencengkeram kerah baju Maya dan mencekik leher yang memakai kalung Mutiara berliontin berlian.
“Kau lihat, ini kalung pemberian Jenderal. Kau tidak punya, kan?” Tawa Maya mengejek.
“Persetan dengan semua itu.” Bu Nani langsung menarik kalung Maya dengan kencang, dan butiran mutiara itu berceceran di tanah.
“Apa ini? Kok ada serbuk putih di mutiara?” tanya Bu Nani heran sambil menjambak rambut Maya.
Maya tertawa. Didoronglah tubuh Maya hingga jatuh ke belakang. Ketika aku mencoba melerai pertengkaran mereka, masuklah Jenderal Trisna, kepalaku dihantam benda berat, sehingga membuat aku pingsan. Aku menceritakan semua kejadian itu kepada bapakku, ketika kepalaku sudah berangsur pulih dan mengingat kejadiannya.
“Wah, kalau begitu kau harus bersaksi di pengadilan, Nduk,” kata bapakku.
“Tapi aku tidak ingat kejadian detailnya, Pak.”
“Ceritakanlah apa saja yang kau ingat.”
“Baik, Pak.”
***
Airbus A380 yang kunaiki memang salah satu jet pribadi termahal di dunia. Di dalam jet pribadi ini, selain memiliki ruang makan yang elegan, juga terdapat ruang konser, bar, ruang gimnastik dan ruang kantor cukup besar yang dilengkapi dengan perabotan mewah.
“Permisi, Bu Jenderal, ini juice kiwi dan timun pesanan, Ibu.” Seorang pramugari meletakkan minuman di atas meja.
“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum.
Sudah tiga tahun ini, aku menemani Jenderal Trisna bertugas. Orang memanggilku Bu Jenderal, tapi sebetulnya kami masih menikah siri. Itupun hanya ajudan dan orang terdekat yang tahu. Jenderal masih memakai surat nikah istri pertama, sehingga hanya orang-orang terdekat saja yang tahu bahwa aku hanyalah pengganti Bu Nani. Jika ada yang sampai membocorkan rahasia ini, maka nyawanya melayang.
Jenderal Trisna tidak mau nikah sirinya terbongkar, hal yang bisa membuatnya menerima sanksi pemecatan, karena dianggap menurunkan kehormatan dan martabat Polri.
Sepintas terlihat kehidupanku tampak diimpikan banyak gadis-gadis muda. Orang hanya melihat hidupku bak putri kerajaan, serba mewah, bergelimang harta, dihormati orang-orang, apalagi hidup bersama petinggi yang mempunyai kekuasaan. Apa yang kurang? Status sebagai istri Jenderal memiliki banyak keuntungan. Hidup di kalangan orang-orang tajir, yang memiliki uang tak berseri.
Kenikmatan hidup yang diidamkan banyak orang terlihat terasa bahagia. Namun sesuatu yang terlihat, belum tentu sesuai dengan kenyataan. Setiap hari, hidupku dalam bahaya. Semua perintah Jenderal harus kuturuti, tidak boleh ada satu pun celah yang membuat Jenderal mencurigaiku. Itulah sebabnya, kemewahan yang kudapatkan itu senilai dengan nyawaku.
Entah bagaimana, saat ini degupan jantungku terasa kencang sekali. Meski aku berusaha duduk tenang di dalam pesawat, disertai juice Kiwi Mentimun, namun aku tidak dapat merasakan kenyamanan. Untuk meredakan dag dig dugku, aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ke kamar. Sewaktu aku melewati ruang rapat, di mana terlihat ada beberapa petinggi korps Bhayangkara, aku menjadi heran. Aku mendapat peringatan. “Maaf, Bu, tempat ini tidak boleh dilewati.” Salah seorang ajudan Jenderal menghalangi langkahku.
“Kenapa tidak boleh?” tanyaku memperpanjang waktu, berusaha untuk mendengar apa yang dirapatkan.
“Ini perintah Jenderal,” jawabnya singkat.
Aku diam saja, samar-samar aku menjadi terkejut, ketika mendengar nama Bu Nani disebutkan. Karena rasa penasaran, aku langsung melempar microdot tiny audio recorder ke karpet rapat. Microdot itu ukurannya hanya 12 mm saja. Warnanya hitam. Jadi nyaris tak terlihat oleh mata saat berada di atas karpet bulu cokelat gelap itu.
“Ok, baiklah.” Aku meninggalkan tempat itu dan langsung masuk ke kamarku. Di dalam kamar diam-diam kudengar semua pembicaraan di ruang rapat rahasia. Saat sedang asyik mendengarkan, tiba-tiba Jenderal Trisna memasuki kamarku dan mencabut ear phone yang kudengar.
“Apa ini? Kau tadi menguping ya!” Hardik Jenderal Trisna dengan suara kerasnya. “Kau tidak tahu diri. Berani-beraninya mematai-mataiku. Aku sudah memberi kehidupan serba mewah kepadamu, tapi kau tidak menghargaiku. Kau malah mencurigaiku.”
Aku menjadi gemetaran. Tidak kusangka tini recorder sekecil itu dapat diketahui Jenderal. Tanpa ampun lagi, Jenderal Trisna menghajarku.
“Ampun, Pak. Ampunnn.” Aku berusaha menutupi kepalaku agar tidak dipukul bertubi-tubi.
“Berhubung kau sudah mendengar pembicaraan rapat tadi, kau harus ikut ambil bagian.” Hardik Jenderal Trisna keras, membuat jantungku kembali berdegup lebih kencang.
“Mulai besok kau harus dieksekusi.”
“Ampun Jenderal. Jangan eksekusi saya.” Tangisku sambil memegang kakinya.
“Jika kau tidak mau dieksekusi, kau harus ikut mengeksekusi. Paham!”
Aku hanya bisa menangis. Malam itu malam yang mencekam. Aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang, Aku tidak tahu, apa yang menjadi rencana Jenderal? Tapi sekilas tadi aku mendengar ada gudang yang dijadikan tempat penyimpanan narkotika jenis sabu-sabu.
***
Selama perjalanan bersama supir, ajudan dan petinggi di dalam mobil, kami semua lebih banyak diam. Aku terlihat gugup dan terus meremas tanganku. Aku diberi sebuah pistol untuk mengeksekusi seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa yang akan dieksekusi.
Sejam yang lalu, aku ingin menelepon bapak, tapi aku dijaga ketat oleh salah seorang polisi. Ketika aku akan menelpon, polisi itu melarangku. Ketika aku melihat HP, tidak diperbolehkan. Aku tidak bisa apa-apa. Tapi aku tidak kekurangan akal, aku ketik nama bapakku, kemudian aku masukkan HP ke dalam saku celanaku dan jariku menelepon bapak diam-diam. Dari seberang sana, bapak bisa tahu, kalau aku tidak berbicara, itu artinya bapak tahu bahwa situasinya gawat.
Jadi saat ini pun, meski aku terlihat cemas, tapi aku merasa bapakku ada di sampingku. Beliau dapat mendengar semua pembicaraan yang ada di dalam mobil dan dapat mengetahui perjalananku menuju ke arah mana. Ketika sampai di tempat, aku di suruh Jenderal masuk duluan. “Kamu masuk ke rumah itu?”
“Rumah siapa pak?” tanyaku heran.
“Kamu akan tahu, setelah kamu berjumpa orangnya.”
Aku melangkah perlahan-lahan dan mengetuk pintu rumah itu. “Assalamualaikum.” Tampak tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi. “Spada.”
“Sebentar.” Suara dari dalam terdengar dan langkah kaki.
“Ibu.” Aku terkejut menyaksikan Bu Nani yang membuka pintu.
Belum sempat Bu Nani menjawab, Jenderal Trisna langsung muncul di belakangku dan menodongkan pistol ke pinggangnya.
“Pak, apa yang kau lakukan? Aku tidak mengganggu kehidupanmu. Aku juga tidak melapor kau telah menikah berapa kali.” Bu Nani terlihat cemas. Suaranya gemetaran.
“Benarkah?” Jenderal Trisna mendekatkan wajahnya ke Bu Nani.
“Iya pak. Jangan bunuh aku, Pak,” pinta Bu Nani.
“Siapa yang akan membunuhmu? Saya tidak akan membunuhmu.” Suara Jenderal tertawa terkekeh. “Sinda,” panggil Jenderal dengan suara keras.
“Siap, Pak,” sahutku.
“Kau tembak dia,” perintah Jenderal.
“Sekarang, Pak?”
“Iya, tembak dia.”
Tanganku gemetaran, tapi karena Jenderal terus menyuruhku, sehingga tanpa sadar aku menembak ke bagian pinggir dada Bu Nani.
Door….
“Maafkan aku, Bu.” Seraya menembak, aku langsung meminta maaf. Aku menangis tidak tega. Tanganku gemetaran, aku hanya menembak sekali saja.
“Tembak lagi. Tembak. Tembak!” teriak Jenderal semakin keras.
Terpaksa aku menembak lagi, tapi kutembak kakinya saja. Aku tidak berani menembak ke jantungnya, meski sudah pernah berlatih. Tidak berapa lama, beberapa anggota polisi datang. Jenderal Trisna melaporkan bahwa aku telah menembak Bu Nani, sehingga mereka memborgol tanganku. Mereka lantas membawaku ke mobil polisi dan memenjarakanku.
***
“Nduk.” Bapakku menjengukku di kepolisian. “Bapak sudah mendengar semua peristiwa. Dan bapak sudah menyerahkan rekaman suara itu ke kepolisian. Kamu tenang saja. Kamu pasti bebas, Nak,” hibur bapak sambil mengelus kepalaku.
“Pak, mereka mengintaiku terus.”
“Bapak juga mengintaimu terus.” Bapak tersenyum.
Aku tersenyum mendengar lelucon bapak, yang tampak sungguh-sungguh melindungiku.
“Nduk, bapak tahu, ketika kau dipersunting Jenderal. Bapak sudah melobi beberapa petinggi Polri. Bapak sudah merasa, pasti ada yang tidak beres dengan Jenderal, tapi bapak takut jika menolak permintaan Jenderal menikah denganmu, maka nyawa bapak terancam. Maafkan bapak, Nduk.”
“Bukan salah Bapak.”
“Tapi kau hebat, Nduk. Kau akan menjadi saksi kejahatan yang dilakukan oleh Jenderal Trisna.”
“Bapak yang hebat. Bapak sudah mempersiapkan rekaman semuanya. Aku yang harusnya berterima kasih kepada Bapak.”
“Nduk, persidangan ini perlu waktu agak lama, karena harus mempersiapkan saksi-saksi.”
“Gak apa-apa, Pak. Oiya, Pak, aku sempat ditawarin Jenderal uang 10 M, asalkan aku mau menembak mati Bu Nani, tapi aku gak mau. Aku hanya menembak pinggiran dada dan kaki saja pak.”
“Iya, Bapak tahu. Kamu gak mungkin tega membunuh Bu Nani.”
“Oiya, Bapak kok bisa kenal Bu Nani? Kenal dari mana?” tanyaku penasaran.
Bapak hanya tersenyum, tidak menjelaskan, tapi aku memakluminya. Mungkin bapak merasa bersalah saat Jenderal meminta aku untuk bekerja di tempat Jenderal, sebagai gantinya bapakku.
“Bapak yang menolong Bu Nani waktu sekarat itu. Dan bapak mencari rumah kost untuk ditempati Bu Nani.”
“Ow pantas. Tapi kenapa Bapak tidak beritahu saya?”
“Kalau bapak beritahumu, nanti Jenderal bisa tahu. Kan teleponmu disadap.”
Kamipun tertawa bersama-sama.
***
Barang bukti yang dibawa bapakku sudah diamankan oleh tim pengacara untuk dibawa ke persidangan. Hasil persidangan tidak semudah yang dibayangkan, meski ada barang bukti, Jenderal Trisna bisa berdalih. Ketika Bu Nani muncul di persidangan, beberapa petinggi menjadi ketakutan.
Selama ini Bu Nani yang dikenal lembut, selalu melindungi kebusukan suaminya dengan mengatakan hal yang baik-baiknya saja. Jika ada yang mencurigai Jenderal Trisna mempunyai selingkuhan, atau menikah diam-diam, maka Bu Nani menutupi dengan cara menghajar selingkuhan suaminya. Bu Nani ingin menjaga harkat dan martabat suaminya.
Tapi melihat sifat suaminya semakin brutal dan ancamannya membuat Bu Nani gentar, maka dia melaporkan ke pimpinannya. Berharap Kepala Divisi Polri dapat menindaklanjuti pengaduan dirinya itu. Tapi malah dirinya terkena ancaman pembunuhan. Bu Nani berharap Institusi yang seharusnya punya peranan menegur dan memberi sanksi kepada anggota polri yang menyimpang, malah laporan itu berbalik menjadi senjata yang menghantam dirinya.
“Demi menikahi wanita itu, Jenderal tega membunuhku, Yang Mulia,” jawab Bu Nani.
“Lantas siapa yang menolong Bu Nani?” cecar Hakim Adi, sambil menatapnya tajam.
“Brigadir Lukas, Yang Mulia.”
“Siapa dia?”
“Beliau dulu ajudan saya.”
“Mengapa dia sudah tidak menjadi ajudan Anda?”
“Dia takut di bunuh Jenderal, Yang Mulia.”
“Mengapa dia takut dibunuh?”
“Karena beliau tahu permainan bisnis haram yang dijalankan suami saya. Juga mengetahui wanita-wanita selingkuhannya adalah salah satu pion bandar narkoba.”
Brigadir Lukas membocorkan rahasia pada Bu Nani tentang bisnis apa saja yang dijalani Jenderal, rencana jahat apa yang sedang direncanakan, serta dunia gangster yang dipimpinnya. Selain itu Jenderal Trisna menggunakan kekerasan di dalam menyelesaikan masalah yang mengganjal dirinya.
Meski Bu Nani tahu rahasia yang dibuka di persidangan akan membahayakan posisi suaminya seorang Jenderal, yang akan terkena sanksi pemecatan terkait kasus pembunuhan dirinya sebagai istri pertamanya, tapi Bu Nani tidak khawatir. Baginya jabatan adalah amanah, yang tidak berarti jika dilumuri dengan darah orang-orang tak bersalah.
Bu Nani juga bersaksi selama disiksa dan disekap di dalam gudang, Brigadir Lukas, yaitu bapakku, telah menolongnya. Awalnya Bu Nani dikiranya meninggal, karena kepalanya dihantam benda keras, tapi nyawanya terselamatkan. Berkat kesaksian Bu Nani dan bukti-bukti yang memberatkan, Jenderal Trisna dicopot jabatannya. Meski aku pernah menjadi istri Jenderal, tapi Bu Nani-lah istri Jenderal yang sejati. Beliaulah yang layak disebut Istri Jenderal. Kewibawaan dan keberanian Bu Nani mengungkap fakta kebusukan suaminya, mengantarkan dia sebagai wanita yang dikagumi orang-orang.
“Yang Mulia, saya tahu, suami saya melakukan kejahatan terencana itu sebenarnya memiliki kerapuhan jiwanya. Saya tidak ingin menyakitinya tapi saya tidak bisa membiarkan kesalahan yang terus dilakukan. Mohon yang Mulia mengeksekusi dengan adil,” jelas Bu Nani.***
Curug, 7 Nopember 2022
____________________
Moony Tan. Seniman sejati, penuh semangat dan kreativitas. Ia mengekspresikan dirinya melalui tulisan, lukisan, fotografi, hingga desain. Pernah pula ia menorehkan jejak di panggung fashion show, mempersembahkan beberapa rancangan busana karyanya sendiri. Pernah juga menyutradarai opera & teater comedi. Penyuka udara sejuk ini tengah menempuh studi sambil menyalurkan hobinya: traveling, fotografi, serta menjelajahi museum dan galeri seni. Bagi Moony, seni bukan sekadar hobi, melainkan napas yang menghidupkan kreativitasnya.
Mata Udin tersentak. Bibir keringnya yang baru bangun dari tidur tidak jadi diolesi air putih menurut kebiasaannya. Sebelum menempelkan permukaan gelas ke bibirnya, matanya terlebih dulu menelanjangi badan gelas. Tampak seekor cecak sebesar jari kelingking anak taman kanak-kanak mengapung di atas air gelas. Dugaan Udin, cicak itu terjun dari langit-langit kamar ketika dirinya terlelap dalam mimpinya.
Tidak seperti biasa, malam tadi Udin tidak menutup permukaan gelas sebelum tidur. Mahasiswa tingkat tiga itu terlalu sibuk mengerjakan tugas yang seperti tidak kelar-kelar sehingga lupa menutup gelas. Tutup gelas warna biru satu-satunya miliknya tergeletak dengan tutup menghadap ke atas beberapa senti di samping gelasnya. Udin benar-benar lelah tadi malam, tubuhnya langsung merapat dengan tempat tidur setelah membolak balikkan tugasnya.
Dada Udin berguncang hebat. Tiba-tiba dia berasa telah melakukan perbuatan dosa besar atas kematian cicak di dalam gelasnya. Bagaimana pun, dia adalah pemilik gelas. Apa yang terjadi di dalam gelas adalah tanggung jawabnya. Cicak, makhluk kecil tidak berdaya itu tewas di tangannya. Dia yang menuangkan air ke dalam gelas dan menyimpannya di atas meja. Seandainya gelas itu tidak disimpan di sana, peluang reptil kecil itu hidup sangat besar. Terlintas kisah Nabi Sulaiman yang meminta pasukannya berhenti supaya tidak menginjak semut. Nabi Sulaiman sangat memperhatikan makhluk kecil meski bukan bangsanya sendiri.
Isi kepala Udin mundur ke belakang saat unjuk rasa bareng teman-temannya tempo hari. Dia dan ribuan mahasiswa yang tidak bersenjata diserang habis-habisan polisi anti huru hara. Mahasiswa itu kecil, tidak membawa senjata. Apa yang Udin teriakan di depan gedung dewan perwakilan rakyat adalah bentuk kegelisahan atas kondisi bangsa sekarang yang sekarat dihajar korupsi. Udin dan kawan-kawannya sudah muak memandang wajah-wajah politikus, birokrat, pengusaha yang tersenyum seperti badut ketika mengenakan rompi oranye di depan kamera.
Dua hari lalu, Udin baru mengantar jenazah kawannya sesama mahasiswa yang tewas saat unjuk rasa. Namanya Sarkam. Sarkam bukan anak orang yang mempunyai rumah di setiap jengkal negara ini. Ibu bapaknya orang pinggiran yang bermimpi suatu saat anaknya menjadi orang besar. Dia tewas di tangan gerombolan yang merasa mempunyai kekuasaan besar yang seharusnya melindunginya.
“Ibu jualan kecil-kecilan di depan rumah. Bapak karyawan kelas sandal jepit di perusahaan swasta. Tetapi semangat mereka menyekolahkanku sama tingginya dengan semangat para pendaki yang berhasrat menaklukkan puncak Everest.” Itu kata-kata Sarkam ketika pertama kali mengenalnya. Semangat orang-orang kecil yang mempunyai mimpi yang sangat besar.
Udin kembali menatap gelasnya. “Aku telah membunuhnya. Aku telah membunuhnya.”
Kata-kata itu nyaris tidak terdengar keluar dari sepasang bibirnya. Wajah Udin menengadah ke langit kamarnya. Dia mengadu kepada Tuhan.
“Ampuni aku, Tuhan! Telah membunuh makhluk ciptaan-Mu yang kecil. Aku sudah melakukan dosa besar. Seharusnya binatang kecil itu bertemu ibu bapaknya andai tidak tercebur ke dalam gelasku. Aku makhluk besar yang telah membunuh makhluk kecil yang tidak berdosa. Maafkan aku, Tuhan!”
Kematian cicak kecil di dalam gelasnya berubah menjadi gunung yang membebani punggungnya. Udin merasa wajib bertanggung jawab.
Matahari baru sepenggalan. Sule yang hendak pergi ke kampus curiga melihat tambang biru terlilit di kusen pintu kamar kostnya Udin. Sejak kumandang azan subuh, dia merasa janggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar Udin padahal lampunya terang benderang. Setiap pagi terdengar nada-nada dakwah dari radio yang keluar dari celah-celah kamar sebelahnya itu. Sule gegas memanggil teman-teman indekosnya. Yang belum membuka mata dia kagetkan dengan lengkingan nyaring supaya bangun.
Satu… Dua… Tiga… Sule dan kawan-kawan mendobrak pintu kamar kostnya Udin. Semua terbelalak melihat sosok tubuh tergantung di balik pintu. Tubuh Udin buru-buru diturunkan dengan menggunting tali yang mengikat lehernya. Namun nyawanya kadung meninggalkan raganya.***
____________________
Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan media daring.
Hari pertama di Kerajaan Tong Tong Sot, Raja Petruk Kantong Bolong duduk di singgasananya dengan mahkota di kepalanya yang penyok. Tapi hatinya bungah dan semringah. Akhirnya ia benar-benar menjadi raja. Setelah janji Prabu Kresna ia tagih bertahun-tahun dan hanya dibalas dengan keputusan yang menyakitkan hati.
Dulu Petruk disuruh mengalahkan raksasa yang mengancam Amarta. “Cuma kamu yang bisa,” kata Prabu Kresna. Imbalannya adalah anaknya sendiri, alias mau dikawinkan dengan Prantawati. Petruk yang tidak punya kesaktian pun langsung siap maju perang. Naluri kejantanannya berdiri tegak karena dijanjikan anak raja. Ternyata raksasa itu adalah Gareng, kakaknya sendiri.
Setelah urusan beres, Petruk menagih janji. Tapi Prabu Kresna malah sen kanan belok kiri, alias berencana menjodohkan Prantawati dengan Raden Lesmana Candrakumara, putra mahkota Hastina yang cengeng.
Petruk nangis gerung-gerung. Ia kabur ke pertapaan Balaseta, curhat ke Begawan Salantara-ayahandanya.
“Romo, aku bosan jadi abdi. Aku mau jadi raja. Biar bisa melamar Prantawati. Tetapi aku mau pakai maharnya istana. Romo kan sakti.”
Begawan Salantara diam lalu menatap Petruk dalam. Tatapan mata Begawan Salantara sedalam samudera dengan ombak yang begitu besar dan tidak terencana. Sejurus kemudian ia berkata dengan tenang. Setenang air yang tidak tertebak ke mana arusnya mengalir.
“Aku kabulkan. Sebuah kerajaan. Tapi ini hanya uji coba dulu. Satu bulan saja. Kalau kamu bisa memakmurkan, kerajaan itu jadi milikmu selamanya. Tapi kalau gagal, kamu melamar Prantawati sebagai Petruk saja. Apa adanya.”
“Siaaap! Jangankan sebulan, sehari juga jadi, Romo!” Petruk asal jawab.
Keinginan Petruk menjadi nyata. Sekedipan mata, ia telah duduk di singgasana dengan mahkota yang kebesaran. Begawan Salantara berdiri di depannya. “Satu bulan. Kerajaan ini bukan untuk kamu miliki, tetapi untuk kamu pahami. Kekuasaan itu bukan sekadar dapat.”
Begawan Salantara lalu menghilang. Mendadak istana ramai. Mahapatih, punggawa, hulubalang, rakyat. Semuanya lengkap. Semuanya berjanji untuk mengabdi kepada Raja Petruk Kantong Bolong.
Pekan pertama di istana, Petruk membuat program “Raja dekat dengan rakyat”. Makan malam gratis di alun-alun, dangdutan semalam suntuk. Pekan kedua: gerakan minum susu bersama raja. Susu dibagi-bagi ke rumah-rumah. “Biar rakyat sehat wal afiat!”
Tetapi setelah itu Petruk ongkang-ongkang kaki mendengar rakyatnya menggaungkan namanya. Hidungnya kembang kempis. Ternyata benar dugaannya: enak betul menjadi raja.
Dua pekan berlalu. Petruk tidak sadar kalau lumbung makanan perlahan menipis. Tetapi dari waktu dua pekan itu, tidak ada interupsi. Jelas ia merasa kondisi baik-baik saja. Waktu terus bergulir, tidak pernah ada evaluasi. Hingga akhirnya terhenti di suatu hari. Ketika suara-suara itu mulai terdengar dari luar istana. Suara-suara itu seperti sebuah retakan dari celah tembok istana. Mereka berteriak kalau susunya ternyata basi. Mereka menuntut nasi yang porsinya semakin sedikit, dan rasa asam pada sayur dan lauk pauk karena makin tidak layak saji.
Namun Petruk menganggap sebagai angin lalu. Parahnya ia menganggap itu adalah suara-suara dari orang-orang yang tidak bersyukur. Ia tetap saja duduk manis, ngopi-ngopi sambil makan roti dengan kaki diangkat di atas singgasana sembari dikipasi pelayan.
Ia juga tidak mengetahui kalau orkestra dangdut di alun-alun mulai sayup. Penonton jarang berdatangan karena tidak ada lagi acara makan malam bersama. Persediaan makanan sudah benar-benar habis.
Pekan keempat, terdengar suara Begawan Salantara menggema tanpa wujud: “Waktumu habis besok, Petruk! Kerajaanmu nggak maju!”
Petruk tergagap. Tetapi ia masih memiliki nyali untuk menyanggah dengan pongah. “Rakyat saya bahagia, Romo! Tiap hari minum susu, tiap malam dangdutan. Program kerja saya berhasil!”
“Mana? Sebagian rakyatmu hilang. Kamu bahkan tidak tahu kalau negeri ini sudah tidak ada rakyatnya lagi.”
Petruk sontak tergagap. Ia gegas berlari menuju menara. Dari atas sana ia bisa melihat dengan jelas bahwa ternyata pemukiman rakyatnya sudah lenyap. Panggung alun-alun tinggal padang rumput. Tidak ada jejak. Seluruh persendian Petruk seperti dilolosi satu per satu. Perutnya mulas. Ia terduduk lemas di tepian dinding menara.
“Romo, minta tambahan waktu lagi, ya ….” pintanya memelas.
“Tidak ada lagi tambahan waktu. Kamu gagal jadi pemimpin. Aku sudah beri kesempatan tapi kamu sia-siakan.”
Petruk balik ke singgasana. Punggawa dan pelayan raib. Ia gontai sendirian. Jam berdentang dua belas kali. Pilar istana rontok satu-satu. Singgasana lenyap. Mahkota di kepalanya berubah jadi kupluk lusuh.
Petruk berdiri di gelapnya belantara. Tepat sebulan. Tidak tersisa apa-apa kecuali kenangan yang mirip mimpi di siang bolong.
Nuraninya mengakui bahwa ia gagal menjadi raja. Ternyata memimpin kerajaan tidak semudah mengedipkan mata. Padahal di luar sana banyak raja-raja tidak mumpuni yang masih hidup enak, tidur nyaman, dan tidak ditinggalkan rakyatnya. Tapi mengapa ia tidak bernasib serupa.
Petruk tercenung. Seandainya bisa, ia sebenarnya ingin diberi kesempatan lagi. Tetapi itu hal yang paling mustahil. Ia tidak akan pernah dapat membeli waktu dan kesempatan.
Pelan-pelan ia mencoba bangkit sambil mengais kembali serpihan hatinya yang hancur berceceran. Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan. Terbayang wajah Prantawati yang ingin ia banggakan. Niatnya untuk menyenangkan hati kekasihnya musnah sudah. Namun ia telah bertekad untuk memperjuangkan Prantawati dengan segala cara. Jika cara pertama gagal, masih ada pintu-pintu kemungkinan untuk bisa menagih janji Prabu Kresna. Besok tetap akan berangkat ke Dwarawati. Melamar Prantawati sebagai dirinya sendiri. Petruk Kantong Bolong, abdi dalem Amarta. Apa adanya, meski mungkin nyawa taruhannya.***
Kalasan Sept 2026
____________________
Puput Sekar. Ibu dua orang anak, lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta yang masuk di dunia sastra. Lalu memutuskan berhenti mengajar di sekolah formal. Saat ini aktif menulis di beberapa media.