Cerpen Khairul Azzam El Maliky

DI LERENG Bukit Serindit, tempat angin selalu membawa pesan dari rimbun hutan pinus dan kabut pagi sering berjalan beriringan dengan cahaya matahari yang enggan segera turun, berdiri bangunan Sekolah Guru Bantu yang sederhana. Di sana, sekitar tahun 1910, masa muda Tan Wijaya berputar. Di antara puluhan siswa laki-laki yang duduk berjejer di ruang kelas berlantai kayu, hanya ada satu wajah perempuan yang bersinar: Sariati. Ia putri dari Pak Abdul Karim, satu-satunya guru pribumi yang paling dihormati di lingkungan sekolah itu—tempat yang masih sangat kental dengan aturan kaku dan budaya tatanan kolonial. Ia bukan sekadar murid biasa; ia cerdas melebihi rata-rata teman seangkatannya, bicaranya halus namun tajam, dan pandangannya jernih.
Bagi Tan, kehadiran Sariati bagaikan munculnya matahari di tengah hari yang mendung. Di lingkungan pendidikan yang penuh aturan kaku dan pelajaran yang sering kali terasa asing, jauh dari napas tanah kelahirannya, dialah jendela yang membuka pandangan lebih luas dan segar. Bersamanya, Tan berdiskusi hingga larut tentang rahasia bahasa, tentang sejarah bangsa, tentang adat warisan nenek moyang. Di matanya yang berwarna cokelat gelap dan teduh, Tan melihat berkilat semangat yang sama persis dengan yang bergejolak hebat di dalam dadanya sendiri. Semakin lama berkenalan dan bertukar pikiran, semakin dalam akar rasa itu menancap kuat ke dalam sanubari. Ia sadar, hatinya telah memilih satu tempat berlabuh, dan tak ada kekuatan apa pun yang sanggup mencabutnya kembali.
Saat tahun kelulusan tiba, keluarga besar Tan memberikan penghormatan tertinggi sesuai tradisi setempat: gelar kehormatan warisan leluhur, sekaligus usulan pertunangan dengan gadis pilihan kaum kerabat yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Dengan tegas namun tetap menjaga kesopanan, Tan menolak pasangan yang ditawarkan itu. Ia menerima gelar tersebut sebagai amanah besar bagi kaum dan kampung halamannya, namun hatinya telah menetapkan tujuan lain yang jauh lebih berharga. Di dalam diamnya, ia mengukir janji: suatu hari nanti, setelah ia memiliki bekal ilmu yang cukup dan kedudukan yang pantas, ia akan datang meminang Sariati dengan cara yang paling mulia dan terhormat.
Kesempatan besar datang, ia terpilih mewakili daerah untuk melanjutkan pengajaran dan ilmu keguruan ke negeri Belanda. Berangkatlah Tan menyeberangi samudra, meninggalkan tanah kelahiran yang dicintainya , namun membawa satu harta paling berharga yang tak bisa dicuri siapa pun dan tak akan lapuk dimakan waktu: kenangan tentang Sariati.
Di kota Haarlem, di utara Belanda yang sering diselimuti kabut dingin, Tan khusyuk bersama buku-buku tebal, banyak catatan, serta diskusi malam panjang dengan teman-teman pelajar dari berbagai penjuru dunia. Namun setiap kali malam tiba, kesunyian menyelimuti kamar sewaannya, ingatannya selalu terbayang ke lereng Bukit Serindit. Di saat itulah, pena dan lembaran kertas menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan jarak itu.
Setiap surat yang dikirimkan bukan sekadar berisi kabar perjalanan atau catatan ringkas pelajaran. Ia berisi tentang harapan agar ia tetap menunggu setia, serta gambaran jelas tentang cita-cita besar yang ingin ia bangun kelak di tanah air, di antaranya: Di sini, di negeri yang dingin tanpa hangat mentari tropis, satu-satunya kehangatan yang mampu kurasakan hanyalah bayangan wajahmu. Ilmu yang kucari dan pelajari bukan semata untuk kebesaran diri, melainkan agar kelak aku pantas berdiri tegak di hadapanmu, dan di hadapan seluruh bangsa kita yang sedang terperangkap.
Surat pertama dikirim. Ia menunggu berhari-hari, berminggu-minggu. Tidak ada jawaban.
Surat kedua dikirim dengan lebih banyak kata dan pengakuan tulus. Tetap saja senyap.
Surat ketiga, keempat, hingga berpuluh kali surat terkirim, namun semuanya jatuh dalam keheningan yang sama. Tan mulai gelisah. Apakah surat itu tersesat di pos perbatasan? Apakah tidak sampai tujuan? Atau ada sesuatu yang tak bisa ia bayangkan?
***
Di tengah kegelisahan itu, datang kabar paling tajam dan pahit menghantam dadanya. Sariati telah melangsungkan pernikahan. Bukan dengan seorang pemuda yang memiliki cita-cita serupa, bukan pula dengan sahabat masa sekolahnya, melainkan dengan seorang Bupati di daerah pesisir barat.
Berita itu bukan sekadar mematahkan harapannya, bagaikan seluruh dunia yang ia kenal terbalik. Ia yang berjuang siang malam agar rakyat terbebas dari belenggu kekuasaan yang kaku dan semena-mena, kini mendengar wanita yang dicintai justru bersedia menjadi bagian dari struktur kekuasaan itu sendiri. Di kamar sempitnya di Haarlem, Tan duduk diam berjam-jam. Angin dingin menusuk dari celah jendela, namun ia tak lagi merasa kedinginan, karena hatinya telah jauh lebih dingin. Meski demikian, ia tidak pernah menyimpan sedikit pun rasa benci atau dendam. Ia mencoba belajar satu hal: takdir kadang menulis garisnya sendiri. tinggi.
Tan kembali menginjakkan kaki di tanah air tercinta, namun tidak lagi sebagai pemuda yang tenang dan manis, melainkan sebagai pejuang yang terus bergerak, sering diburu pasukan penjaga keamanan kolonial, sering ditangkap dan dipenjara namun tak pernah mau menunduk atau menyerah. Ia berkelana dari satu pulau ke pulau lain, menyebarkan benih-benih pemikiran baru tentang kebebasan, kemandirian, dan martabat manusia yang setara. Di setiap langkah kakinya, jejak kenangan masa lalu itu tetap ada menyertai, namun kini dalam bentuk nyeri. Pada titik itu ia memutuskan seluruh sisa hidupnya akan dipersembahkan sepenuhnya demi bangsanya yang masih tertindas.
***
Tahun 1924. Kabar beredar, Sariati berpisah dari suaminya. Ia kini hidup mandiri, kembali menetap di lingkungan asalnnya. Cahaya samar dan jauh, secercah harapan yang sempat mati mencoba menyala kembali di sudut terdalam hatinya. Namun saat itu dirinya adalah orang yang paling diburu oleh penguasa kolonial. Tan tetap berusaha mengirim pesan lagi, dan kali ini jauh lebih hati-hati, namun isinya tetap sama persis seperti surat-surat lama.
Namun jawaban yang datang justru mematikan sisa-sisa nyala harapan itu untuk selamanya. Penolakan yang disampaikan dengan halus namun tegas dan tak terbantahkan. Bagi Sariati, masa sekolah yang indah dan surat-surat lama yang sampai itu hanya kenangan masa muda yang telah berlalu. Bertahun-tahun kemudian, dalam percakapan pribadi, ia sendiri mengakui: surat-surat itu sampai utuh ke tangannya, ia membaca satu per satu dengan penuh perhatian dan haru, namun ia sadar memilih untuk tidak menjawab satu pun. Bagi gadis yang tumbuh besar dan dibesarkan di tengah aturan adat yang kuat serta struktur kekuasaan masyarakat yang kaku dan teratur, jalan hidup Tan yang penuh bahaya, pergerakan tanpa henti, serta sikap berani menentang sistem, adalah jalan yang terlalu jauh berbeda, terlalu asing, dan berisiko dalam hidupnya.
Penolakan kedua ini menjadi luka terbesar. Tapi Tan akhirnya paham dan menerima takdir. Ia menutup ruang khusus di dalam hatinya itu. Ia berhenti menulis surat-surat yang tak sampai. Ia beralih menulis surat yang jauh lebih luas dan lebih besar. Surat yang ditujukan kepada setiap jiwa yang mendambakan kebebasan dan kemerdekaan.
Di sisa perjalanan hidupnya yang penuh badai dan rintangan itu, setiap kali ia melewati pegunungan yang rimbun serupa dengan Bukit Serindit, atau mencium aroma tanah basah mengingatkannya pada kampung halaman, bayangan lembut wajah Sariati masih sesekali hadir menyapa. Namun tidak lagi membawa rasa sakit. Ia telah berubah menjadi kenangan yang menguatkan jiwa dan pendiriannya. Surat-surat yang tak pernah berbalas itu ternyata mengajarkannya tentang ketabahan hati, tentang keikhlasan, dan tentang cara mengubah luka menjadi kekuatan yang lebih berguna. Tan terus berjalan, terus berjuang tanpa lelah, memilih membujang hingga akhir hayatnya.[]
_________________
Khairul A. El Maliky. Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.










