Buku, Resensi

Setelah Menutup Buku Iblis, Saya Jadi Curiga pada Manusia

Oleh Erna Surya

Judul Buku: Iblis

Penulis : Yuditeha

Penerbit: Langgam Pustaka

Cetakan I: Mei, 2022

Halaman: v + 96 hlm, 13×20 cm

ISBN: 978-623-5600-72-7

Saya tidak langsung menutup buku itu setelah selesai membaca halaman terakhirnya. Saya diam sebentar. Bukan karena ceritanya membuat saya takut. Justru sebaliknya. Setelah membaca Iblis karya Yuditeha, saya malah merasa perlu memeriksa sesuatu yang lebih dekat: manusia. Mungkin diri sendiri.

Sebab sepanjang membaca kumpulan cerpen yang diterbitkan Langgam Pustaka ini, saya seperti sedang diajak melihat iblis dari jarak yang berbeda. Bukan sebagai makhluk bertanduk yang muncul dari tempat gelap, melainkan sebagai sesuatu yang bisa tumbuh dari hal-hal yang sangat biasa: prasangka, keserakahan, nafsu, kekuasaan, fanatisme, dan keyakinan bahwa diri kita selalu berada di pihak yang benar.

Ada empat belas cerpen di dalam buku ini. Masing-masing memiliki persoalannya sendiri. Namun, saya merasakan satu benang merah yang terus mengganggu: manusia ternyata punya kemampuan luar biasa untuk melakukan sesuatu yang buruk sambil meyakini bahwa dirinya sedang melakukan kebaikan. Dan bukankah itu yang paling menakutkan?

Dalam “Babi”, misalnya, persoalan yang tampaknya sederhana berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Ada kabar, kecurigaan, dan sekelompok manusia yang kemudian merasa tahu siapa yang patut dicurigai. Saya tidak akan menceritakan bagaimana ceritanya berakhir. Tetapi bagi saya, bagian yang paling mengusik bukanlah persoalan babinya, melainkan kerumunan. Saya selalu curiga kepada kerumunan yang terlalu cepat menemukan orang untuk disalahkan.

Kita hidup di zaman ketika satu pesan WhatsApp bisa lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi. Sebuah potongan video dapat mengubah penilaian kita terhadap seseorang. Satu kalimat yang keluar dari mulut orang lain bisa membuat kita membenci seseorang yang bahkan belum pernah kita temui.

Yuditeha membawa kegelisahan semacam itu ke dalam cerita. Ia tidak perlu berteriak kepada pembaca bahwa prasangka itu berbahaya. Ia cukup memperlihatkan bagaimana prasangka bekerja. Perlahan. Dari satu orang ke orang lain. Dari bisik-bisik menjadi keyakinan. Dari keyakinan menjadi tindakan. Di situlah saya merasa cerpen-cerpen dalam Iblis dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan terlalu dekat.

Cerpen Iblis sendiri menjadi salah satu cerita yang membuat saya kembali memikirkan judul buku ini. Tokoh yang tampak religius dan memiliki pengaruh justru memperlihatkan bahwa kesalehan yang terlihat dari luar belum tentu berbanding lurus dengan apa yang disimpan seseorang di dalam dirinya.

Saya menyukai keberanian Yuditeha memasuki wilayah seperti ini. Agama, moralitas, kekuasaan, tubuh, uang, dan hasrat bukan perkara sederhana. Tetapi Yuditeha tidak mengubahnya menjadi ceramah. Ia membiarkan tokoh-tokohnya bergerak, mengambil keputusan, berbuat salah, menyembunyikan sesuatu, lalu membiarkan pembaca membuat penilaiannya sendiri.

Bahasanya pun tidak berusaha menjadi rumit. Ini salah satu hal yang saya sukai dari buku ini. Yuditeha seperti tahu bahwa cerita yang kuat tidak selalu membutuhkan kalimat yang ingin terlihat pintar. Ia menggunakan bahasa yang relatif sederhana, tetapi membiarkan persoalan di dalam ceritanya menjadi rumit. Akibatnya, kita tidak sibuk mengagumi kalimat. Kita justru sibuk memikirkan manusia yang ada di dalamnya.

Dan manusia-manusia itu tidak selalu menyenangkan. Ada yang mudah percaya. Ada yang suka menghakimi. Ada yang menggunakan agama untuk kepentingan sendiri. Ada yang tergoda oleh kekuasaan. Ada yang menyimpan kejahatan di balik wajah yang dipercaya banyak orang. Tetapi yang membuat buku ini terasa lebih jujur bagi saya adalah: tidak ada jarak yang benar-benar aman antara mereka dan kita.

Saya bisa saja membaca cerita tentang seseorang yang suka menghakimi dan merasa, “Untung saya tidak seperti dia.” Padahal, mungkin saya pernah melakukan hal yang sama. Hanya bentuknya berbeda. Atau bahkan lebih buruk dari itu.

Saya pernah mempercayai sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya. Pernah menilai seseorang hanya dari cerita orang lain. Pernah merasa paling tahu tentang kehidupan seseorang hanya karena melihat sedikit bagian dari hidupnya. Mungkin di situlah iblis bekerja paling baik. Ia tidak selalu membuat kita menjadi orang jahat. Kadang ia hanya membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain.

Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwa mungkin iblis tidak selalu membutuhkan manusia yang kejam. Ia hanya membutuhkan manusia yang merasa dirinya benar. Sebab ketika seseorang sudah yakin dirinya benar, ia bisa melakukan banyak hal tanpa merasa sedang melakukan kesalahan. Itulah yang membuat Iblis bagi saya bukan sekadar kumpulan cerita tentang keburukan manusia. Buku ini seperti cermin yang diletakkan diam-diam di hadapan pembacanya. Dan cermin tidak pernah memilih siapa yang akan terlihat buruk. Ia hanya memantulkan.

Saya menutup buku itu akhirnya. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tertutup bersamanya, kecurigaan kecil kepada manusia. Termasuk kepada diri saya sendiri. Barangkali itulah keberhasilan sebuah buku: bukan ketika kita selesai membacanya, melainkan ketika beberapa halaman masih terus hidup di kepala setelah buku itu dikembalikan ke rak.

Dan Iblis membuat saya bertanya sekali lagi: Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk mencari iblis di luar sana, sementara diam-diam kita sedang memberinya tempat di dalam diri sendiri.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Istri Jenderal

Cerpen Moony Tan

Suara gemericik air yang menetes di kaleng terdengar dengan jelas, membangunkanku. Rupanya aku telah tertidur, namun aku tidak dapat melihat apa-apa. Sekelilingku gelap. Apakah aku buta? Ataukah aku berada di ruang gelap? Sementara di kakiku, seperti ada yang mengalir, terasa perih. Apakah itu darah? Lantai ruang ini becek. Aku tidak tahu, aku berada di ruang apa? 

“Tolong, tolong!” teriakku kencang. Aku mendengar suaraku menggema.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku disekap di ruang ini. Aku juga tidak ingat, peristiwa apa yang kualami, sehingga tangan dan kakiku harus diikat. Apa kesalahanku, hingga aku diperlakukan seperti ini? Tiba-tiba ada bunyi langkah kaki mendekat. Tampaknya lebih dari satu orang. Aku ketakutan dan badanku gemetar. Apakah mereka orang jahat ataukah orang yang akan menolongku?

Saat orang itu tiba, menyalakan lampu dan terbelalaklah mataku dan jeritanku mengagetkan mereka. “Tenang, tenang.” Seorang pemuda berpakaian polisi menghampiriku dan melepaskan ikatan tangan dan kakiku.

“Pak, kenapa saya berada di sini?”

“Sudah, kamu tidak ada waktu lagi. Kamu cepat pulang ke rumah orang tuamu.”

“Lantas, Bu Nani bagaimana?” tanyaku 

“Kamu cepat pulang, jangan banyak tanya. Nyawa kamu terancam,” jelas pemuda itu.

Aku cepat-cepat berjalan meski terseok-seok. Kendati kepalaku masih terasa sakit, kakiku perih dan memar, tapi aku paksakan diri untuk berjalan.

“Kau coba telepon ambulan.” Pemuda itu memberi instruksi pada salah seorang polisi.

“Siap inspektur,” kata salah seorang Bharatu.

Ketika mereka sedang sibuk mengurus jenazah Bu Nani, aku mengemas beberapa pakaian. Tanganku gemetaran, aku menangis melihat ibu terbujur kaku. Hatiku berkecamuk dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.

“Istri Jenderal meninggal. Tolong jemput aku sekarang, Pak.” Aku menelpon bapakku.

Maksudmu, Bu Nani?”

“Iya, Pak.”

“Innalillahiwainnailaihirojiun. Nak, bukankah kamu harus tetap di sana.”

“Inspektur menyuruhku segera pulang malam ini, Pak. Bapak jemput aku ya. Aku ketakutan,” rengekku.

“Baiklah, kamu kemasi pakaian dulu. Setengah jam, bapak sampai di sana.”

“Kelamaan, Pak. Aku takut.” Aku menangis.

“Kalau begitu, pesan grab saja.”

“Baik, Pak. Bapak tunggu aku ya.”

“Baik, Nduk.”

***

“Ini bukan pertama kali. Kau sudah berulang kali bertemu suamiku. Kau tidak tahu malu. Berani-beraninya merebut suami orang.” Nani langsung memborbardil kata-kata ketika bertemu Maya, selingkuhan suaminya. 

“Heh, kau yang harusnya introspeksi. Aku tidak pernah mencari suamimu, dan tidak pernah mau merebut suami orang, justru suamimulah yang terus menerus mencariku,” kata Maya.

Aku  mulai ingat samar-samar pertengkaran Bu Nani dengan Maya, sosialita yang lagi naik daun.

“Saya beri kau kesempatan untuk tinggalkan suami saya. Kalau tidak, tahu rasa,” ancam Bu Nani. 

“Siapa yang mau dengan suamimu. Saya sudah menolak kedatangannya berulang kali, tapi dialah yang terus datang ke rumah saya.”

“Aduhh, kau sungguh keras kepala.” Tangan Bu Nani mencengkeram kerah baju Maya dan mencekik leher yang memakai kalung Mutiara berliontin berlian.

“Kau lihat, ini kalung pemberian Jenderal. Kau tidak punya, kan?” Tawa Maya mengejek.

“Persetan dengan semua itu.” Bu Nani langsung menarik kalung Maya dengan kencang, dan butiran mutiara itu berceceran di tanah.

“Apa ini? Kok ada serbuk putih di mutiara?” tanya Bu Nani heran sambil menjambak rambut Maya. 

Maya tertawa. Didoronglah tubuh Maya hingga jatuh ke belakang. Ketika aku mencoba melerai pertengkaran mereka, masuklah Jenderal Trisna, kepalaku dihantam benda berat, sehingga membuat aku pingsan.  Aku menceritakan semua kejadian itu kepada bapakku, ketika kepalaku sudah berangsur pulih dan mengingat kejadiannya. 

“Wah, kalau begitu kau harus bersaksi di pengadilan, Nduk,” kata bapakku.

“Tapi aku tidak ingat kejadian detailnya, Pak.”

“Ceritakanlah apa saja yang kau ingat.”

“Baik, Pak.”

***

Airbus A380 yang kunaiki memang salah satu jet pribadi termahal di dunia. Di dalam jet pribadi ini, selain memiliki ruang makan yang elegan, juga terdapat ruang konser, bar, ruang gimnastik dan ruang kantor cukup besar yang dilengkapi dengan perabotan mewah.

“Permisi, Bu Jenderal, ini juice kiwi dan timun pesanan, Ibu.” Seorang pramugari meletakkan minuman di atas meja.

“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum.

Sudah tiga tahun ini, aku menemani Jenderal Trisna bertugas. Orang memanggilku Bu Jenderal, tapi sebetulnya kami masih menikah siri. Itupun hanya ajudan dan orang terdekat yang tahu. Jenderal masih memakai surat nikah istri pertama, sehingga hanya orang-orang terdekat saja yang tahu bahwa aku hanyalah pengganti Bu Nani. Jika ada yang sampai membocorkan rahasia ini, maka nyawanya melayang. 

Jenderal Trisna tidak mau nikah sirinya terbongkar, hal yang bisa membuatnya menerima sanksi pemecatan, karena dianggap menurunkan kehormatan dan martabat Polri.

            Sepintas terlihat kehidupanku tampak diimpikan banyak gadis-gadis muda. Orang hanya melihat hidupku bak putri kerajaan, serba mewah, bergelimang harta, dihormati orang-orang, apalagi hidup bersama petinggi yang mempunyai kekuasaan. Apa yang kurang? Status sebagai istri Jenderal memiliki banyak keuntungan. Hidup di kalangan orang-orang tajir, yang memiliki uang tak berseri.

            Kenikmatan hidup yang diidamkan banyak orang terlihat terasa bahagia. Namun sesuatu yang terlihat, belum tentu sesuai dengan kenyataan. Setiap hari, hidupku dalam bahaya. Semua perintah Jenderal harus kuturuti, tidak boleh ada satu pun celah yang membuat Jenderal mencurigaiku. Itulah sebabnya, kemewahan yang kudapatkan itu senilai dengan nyawaku.

Entah bagaimana, saat ini degupan jantungku terasa kencang sekali. Meski aku berusaha duduk tenang di dalam pesawat, disertai juice Kiwi Mentimun, namun aku tidak dapat merasakan kenyamanan. Untuk meredakan dag dig dugku, aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ke kamar. Sewaktu aku melewati ruang rapat, di mana terlihat ada beberapa petinggi korps Bhayangkara, aku menjadi heran. Aku mendapat peringatan. “Maaf, Bu, tempat ini tidak boleh dilewati.” Salah seorang ajudan Jenderal menghalangi langkahku.

“Kenapa tidak boleh?” tanyaku memperpanjang waktu, berusaha untuk mendengar apa yang dirapatkan.

“Ini perintah Jenderal,” jawabnya singkat.

Aku diam saja, samar-samar aku menjadi terkejut, ketika mendengar nama Bu Nani disebutkan. Karena rasa penasaran, aku langsung melempar microdot tiny audio recorder ke karpet rapat. Microdot itu ukurannya hanya 12 mm saja. Warnanya hitam. Jadi nyaris tak terlihat oleh mata saat berada di atas karpet bulu cokelat gelap itu.

“Ok, baiklah.” Aku meninggalkan tempat itu dan langsung masuk ke kamarku. Di dalam kamar diam-diam kudengar semua pembicaraan di ruang rapat rahasia. Saat sedang asyik mendengarkan, tiba-tiba Jenderal Trisna memasuki kamarku dan mencabut ear phone yang kudengar.

“Apa ini? Kau tadi menguping ya!” Hardik Jenderal Trisna dengan suara kerasnya. “Kau tidak tahu diri. Berani-beraninya mematai-mataiku. Aku sudah memberi kehidupan serba mewah kepadamu, tapi kau tidak menghargaiku. Kau malah mencurigaiku.”

Aku menjadi gemetaran. Tidak kusangka tini recorder sekecil itu dapat diketahui Jenderal. Tanpa ampun lagi, Jenderal Trisna menghajarku.

“Ampun, Pak. Ampunnn.” Aku berusaha menutupi kepalaku agar tidak dipukul bertubi-tubi.

“Berhubung kau sudah mendengar pembicaraan rapat tadi, kau harus ikut ambil bagian.” Hardik Jenderal Trisna keras, membuat jantungku kembali berdegup lebih kencang.

“Mulai besok kau harus dieksekusi.”

“Ampun Jenderal. Jangan eksekusi saya.” Tangisku sambil memegang kakinya.

“Jika kau tidak mau dieksekusi, kau harus ikut mengeksekusi. Paham!”

Aku hanya bisa menangis. Malam itu malam yang mencekam. Aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang, Aku tidak tahu, apa yang menjadi rencana Jenderal? Tapi sekilas tadi aku mendengar ada gudang yang dijadikan tempat penyimpanan narkotika jenis sabu-sabu.  

***

Selama perjalanan bersama supir, ajudan dan petinggi di dalam mobil, kami semua lebih banyak diam. Aku terlihat gugup dan terus meremas tanganku. Aku diberi sebuah pistol untuk mengeksekusi seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa yang akan dieksekusi.

Sejam yang lalu, aku ingin menelepon bapak, tapi aku dijaga ketat oleh salah seorang polisi. Ketika aku akan menelpon, polisi itu melarangku. Ketika aku melihat HP, tidak diperbolehkan. Aku tidak bisa apa-apa. Tapi aku tidak kekurangan akal, aku ketik nama bapakku, kemudian aku masukkan HP ke dalam saku celanaku dan jariku menelepon bapak diam-diam. Dari seberang sana, bapak bisa tahu, kalau aku tidak berbicara, itu artinya bapak tahu bahwa situasinya gawat.

Jadi saat ini pun, meski aku terlihat cemas, tapi aku merasa bapakku ada di sampingku. Beliau dapat mendengar semua pembicaraan yang ada di dalam mobil dan dapat mengetahui perjalananku menuju ke arah mana. Ketika sampai di tempat, aku di suruh Jenderal masuk duluan. “Kamu masuk ke rumah itu?”

            “Rumah siapa pak?” tanyaku heran.

            “Kamu akan tahu, setelah kamu berjumpa orangnya.”

            Aku melangkah perlahan-lahan dan mengetuk pintu rumah itu. “Assalamualaikum.” Tampak tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi. “Spada.”

            “Sebentar.” Suara dari dalam terdengar dan langkah kaki.

            “Ibu.” Aku terkejut menyaksikan Bu Nani yang membuka pintu.

            Belum sempat Bu Nani menjawab, Jenderal Trisna langsung muncul di belakangku dan menodongkan pistol ke pinggangnya.

            “Pak, apa yang kau lakukan? Aku tidak mengganggu kehidupanmu. Aku juga tidak melapor kau telah menikah berapa kali.” Bu Nani terlihat cemas. Suaranya gemetaran.

            “Benarkah?” Jenderal Trisna mendekatkan wajahnya ke Bu Nani.

            “Iya pak. Jangan bunuh aku, Pak,” pinta Bu Nani.

            “Siapa yang akan membunuhmu? Saya tidak akan membunuhmu.” Suara Jenderal tertawa terkekeh. “Sinda,” panggil Jenderal dengan suara keras.

            “Siap, Pak,” sahutku.

            “Kau tembak dia,” perintah Jenderal.

            “Sekarang, Pak?”

            “Iya, tembak dia.”

            Tanganku gemetaran, tapi karena Jenderal terus menyuruhku, sehingga tanpa sadar aku menembak ke bagian pinggir dada Bu Nani.

Door….

“Maafkan aku, Bu.” Seraya menembak, aku langsung meminta maaf. Aku menangis tidak tega. Tanganku gemetaran, aku hanya menembak sekali saja.

            “Tembak lagi. Tembak. Tembak!” teriak Jenderal semakin keras.

            Terpaksa aku menembak lagi, tapi kutembak kakinya saja. Aku tidak berani menembak ke jantungnya, meski sudah pernah berlatih. Tidak berapa lama, beberapa anggota polisi datang. Jenderal Trisna melaporkan bahwa aku telah menembak Bu Nani, sehingga mereka memborgol tanganku. Mereka lantas membawaku ke mobil polisi dan memenjarakanku.

***

            “Nduk.” Bapakku menjengukku di kepolisian. “Bapak sudah mendengar semua peristiwa. Dan bapak sudah menyerahkan rekaman suara itu ke kepolisian. Kamu tenang saja. Kamu pasti bebas, Nak,” hibur bapak sambil mengelus kepalaku.

            “Pak, mereka mengintaiku terus.”

            “Bapak juga mengintaimu terus.” Bapak tersenyum.

            Aku tersenyum mendengar lelucon bapak, yang tampak sungguh-sungguh melindungiku.

            “Nduk, bapak tahu, ketika kau dipersunting Jenderal. Bapak sudah melobi beberapa petinggi Polri. Bapak sudah merasa, pasti ada yang tidak beres dengan Jenderal, tapi bapak takut jika menolak permintaan Jenderal menikah denganmu, maka nyawa bapak terancam. Maafkan bapak, Nduk.”

            “Bukan salah Bapak.”

            “Tapi kau hebat, Nduk. Kau akan menjadi saksi kejahatan yang dilakukan oleh Jenderal Trisna.”

            “Bapak yang hebat. Bapak sudah mempersiapkan rekaman semuanya. Aku yang harusnya berterima kasih kepada Bapak.”

            “Nduk, persidangan ini perlu waktu agak lama, karena harus mempersiapkan saksi-saksi.”

            “Gak apa-apa, Pak. Oiya, Pak, aku sempat ditawarin Jenderal uang 10 M, asalkan aku mau menembak mati Bu Nani, tapi aku gak mau. Aku hanya menembak pinggiran dada dan kaki saja pak.”

            “Iya, Bapak tahu. Kamu gak mungkin tega membunuh Bu Nani.”

            “Oiya, Bapak kok bisa kenal Bu Nani? Kenal dari mana?” tanyaku penasaran.

            Bapak hanya tersenyum, tidak menjelaskan, tapi aku memakluminya. Mungkin bapak merasa bersalah saat Jenderal meminta aku untuk bekerja di tempat Jenderal, sebagai gantinya bapakku.

            “Bapak yang menolong Bu Nani waktu sekarat itu. Dan bapak mencari rumah kost untuk ditempati Bu Nani.”

            “Ow pantas. Tapi kenapa Bapak tidak beritahu saya?”

            “Kalau bapak beritahumu, nanti Jenderal bisa tahu. Kan teleponmu disadap.”

            Kamipun tertawa bersama-sama.

***

            Barang bukti yang dibawa bapakku sudah diamankan oleh tim pengacara untuk dibawa ke persidangan. Hasil persidangan tidak semudah yang dibayangkan, meski ada barang bukti, Jenderal Trisna bisa berdalih. Ketika Bu Nani muncul di persidangan, beberapa petinggi menjadi ketakutan.

            Selama ini Bu Nani yang dikenal lembut, selalu melindungi kebusukan suaminya dengan mengatakan hal yang baik-baiknya saja. Jika ada yang mencurigai Jenderal Trisna mempunyai selingkuhan, atau menikah diam-diam, maka Bu Nani menutupi dengan cara menghajar selingkuhan suaminya. Bu Nani ingin menjaga harkat dan martabat suaminya.

Tapi melihat sifat suaminya semakin brutal dan ancamannya membuat Bu Nani gentar, maka dia melaporkan ke pimpinannya. Berharap Kepala Divisi Polri dapat menindaklanjuti pengaduan dirinya itu. Tapi malah dirinya terkena ancaman pembunuhan. Bu Nani berharap Institusi yang seharusnya punya peranan menegur dan memberi sanksi kepada anggota polri yang menyimpang, malah laporan itu berbalik menjadi senjata yang menghantam dirinya.

“Demi menikahi wanita itu, Jenderal tega membunuhku, Yang Mulia,” jawab Bu Nani.

“Lantas siapa yang menolong Bu Nani?” cecar Hakim Adi, sambil menatapnya tajam.

“Brigadir Lukas, Yang Mulia.”

“Siapa dia?”

“Beliau dulu ajudan saya.”

“Mengapa dia sudah tidak menjadi ajudan Anda?”

“Dia takut di bunuh Jenderal, Yang Mulia.”

“Mengapa dia takut dibunuh?”

“Karena beliau tahu permainan bisnis haram yang dijalankan suami saya. Juga mengetahui wanita-wanita selingkuhannya adalah salah satu pion bandar narkoba.”

Brigadir Lukas membocorkan rahasia pada Bu Nani tentang bisnis apa saja yang dijalani Jenderal, rencana jahat apa yang sedang direncanakan, serta dunia gangster yang dipimpinnya. Selain itu Jenderal Trisna menggunakan kekerasan di dalam menyelesaikan masalah yang mengganjal dirinya.

Meski Bu Nani tahu rahasia yang dibuka di persidangan akan membahayakan posisi suaminya seorang Jenderal, yang akan terkena sanksi pemecatan terkait kasus pembunuhan dirinya sebagai istri pertamanya, tapi Bu Nani tidak khawatir.  Baginya jabatan adalah amanah, yang tidak berarti jika dilumuri dengan darah orang-orang tak bersalah.

            Bu Nani juga bersaksi selama disiksa dan disekap di dalam gudang, Brigadir Lukas, yaitu bapakku, telah menolongnya. Awalnya Bu Nani dikiranya meninggal, karena kepalanya dihantam benda keras, tapi nyawanya terselamatkan. Berkat kesaksian Bu Nani dan bukti-bukti yang memberatkan, Jenderal Trisna dicopot jabatannya. Meski aku pernah menjadi istri Jenderal, tapi Bu Nani-lah istri Jenderal yang sejati. Beliaulah yang layak disebut Istri Jenderal. Kewibawaan dan keberanian Bu Nani mengungkap fakta kebusukan suaminya, mengantarkan dia sebagai wanita yang dikagumi orang-orang.  

“Yang Mulia, saya tahu, suami saya melakukan kejahatan terencana itu sebenarnya memiliki kerapuhan jiwanya. Saya tidak ingin menyakitinya tapi saya tidak bisa membiarkan kesalahan yang terus dilakukan. Mohon yang Mulia mengeksekusi dengan adil,” jelas Bu Nani.***

Curug, 7 Nopember 2022

____________________

Moony Tan. Seniman sejati, penuh semangat dan kreativitas. Ia mengekspresikan dirinya melalui tulisan, lukisan, fotografi, hingga desain. Pernah pula ia menorehkan jejak di panggung fashion show, mempersembahkan beberapa rancangan busana karyanya sendiri. Pernah juga menyutradarai  opera & teater comedi. Penyuka udara sejuk ini tengah menempuh studi sambil menyalurkan hobinya: traveling, fotografi, serta menjelajahi museum dan galeri seni. Bagi Moony, seni bukan sekadar hobi, melainkan napas yang menghidupkan kreativitasnya.

Cerpen

Cicak yang Mengapung di Dalam Gelas

Cerpen Eli Rusli

Mata Udin tersentak. Bibir keringnya yang baru bangun dari tidur tidak jadi diolesi air putih menurut kebiasaannya. Sebelum menempelkan permukaan gelas ke bibirnya, matanya terlebih dulu menelanjangi badan gelas. Tampak seekor cecak sebesar jari kelingking anak taman kanak-kanak mengapung di atas air gelas. Dugaan Udin, cicak itu terjun dari langit-langit kamar ketika dirinya terlelap dalam mimpinya.

Tidak seperti biasa, malam tadi Udin tidak menutup permukaan gelas sebelum tidur. Mahasiswa tingkat tiga itu terlalu sibuk mengerjakan tugas yang seperti tidak kelar-kelar sehingga lupa menutup gelas. Tutup gelas warna biru satu-satunya miliknya tergeletak dengan tutup menghadap ke atas beberapa senti di samping gelasnya. Udin benar-benar lelah tadi malam, tubuhnya langsung merapat dengan tempat tidur setelah membolak balikkan tugasnya.

Dada Udin berguncang hebat. Tiba-tiba dia berasa telah melakukan perbuatan dosa besar atas kematian cicak di dalam gelasnya. Bagaimana pun, dia adalah pemilik gelas. Apa yang terjadi di dalam gelas adalah tanggung jawabnya. Cicak, makhluk kecil tidak berdaya itu tewas di tangannya. Dia yang menuangkan air ke dalam gelas dan menyimpannya di atas meja. Seandainya gelas itu tidak disimpan di sana, peluang reptil kecil itu hidup sangat besar. Terlintas kisah Nabi Sulaiman yang meminta pasukannya berhenti supaya tidak menginjak semut. Nabi Sulaiman sangat memperhatikan makhluk kecil meski bukan bangsanya sendiri.

Isi kepala Udin mundur ke belakang saat unjuk rasa bareng teman-temannya tempo hari. Dia dan ribuan mahasiswa yang tidak bersenjata diserang habis-habisan polisi anti huru hara. Mahasiswa itu kecil, tidak membawa senjata. Apa yang Udin teriakan di depan gedung dewan perwakilan rakyat adalah bentuk kegelisahan atas kondisi bangsa sekarang yang sekarat dihajar korupsi. Udin dan kawan-kawannya sudah muak memandang wajah-wajah politikus, birokrat, pengusaha yang tersenyum seperti badut ketika mengenakan rompi oranye di depan kamera.

Dua hari lalu, Udin baru mengantar jenazah kawannya sesama mahasiswa yang tewas saat unjuk rasa. Namanya Sarkam. Sarkam bukan anak orang yang mempunyai rumah di setiap jengkal negara ini. Ibu bapaknya orang pinggiran yang bermimpi suatu saat anaknya menjadi orang besar. Dia tewas di tangan gerombolan yang merasa mempunyai kekuasaan besar yang seharusnya melindunginya.

“Ibu jualan kecil-kecilan di depan rumah. Bapak karyawan kelas sandal jepit di perusahaan swasta. Tetapi semangat mereka menyekolahkanku sama tingginya dengan semangat para pendaki yang berhasrat menaklukkan puncak Everest.” Itu kata-kata Sarkam ketika pertama kali mengenalnya. Semangat orang-orang kecil yang mempunyai mimpi yang sangat besar.

Udin kembali menatap gelasnya. “Aku telah membunuhnya. Aku telah membunuhnya.”

Kata-kata itu nyaris tidak terdengar keluar dari sepasang bibirnya. Wajah Udin menengadah ke langit kamarnya. Dia mengadu kepada Tuhan.

“Ampuni aku, Tuhan! Telah membunuh makhluk ciptaan-Mu yang kecil. Aku sudah melakukan dosa besar. Seharusnya binatang kecil itu bertemu ibu bapaknya andai tidak tercebur ke dalam gelasku. Aku makhluk besar yang telah membunuh makhluk kecil yang tidak berdosa. Maafkan aku, Tuhan!”

Kematian cicak kecil di dalam gelasnya berubah menjadi gunung yang membebani punggungnya. Udin merasa wajib bertanggung jawab.

Matahari baru sepenggalan. Sule yang hendak pergi ke kampus curiga melihat tambang biru terlilit di kusen pintu kamar kostnya Udin. Sejak kumandang azan subuh, dia merasa janggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar Udin padahal lampunya terang benderang. Setiap pagi terdengar nada-nada dakwah dari radio yang keluar dari celah-celah kamar sebelahnya itu. Sule gegas memanggil teman-teman indekosnya. Yang belum membuka mata dia kagetkan dengan lengkingan nyaring supaya bangun.

Satu… Dua… Tiga… Sule dan kawan-kawan mendobrak pintu kamar kostnya Udin. Semua terbelalak melihat sosok tubuh tergantung di balik pintu. Tubuh Udin buru-buru diturunkan dengan menggunting tali yang mengikat lehernya. Namun nyawanya kadung meninggalkan raganya.***

____________________

Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan media daring.

Cerpen

Kerajaan yang Kosong

Cerpen Puput Sekar

Hari pertama di Kerajaan Tong Tong Sot, Raja Petruk Kantong Bolong duduk di singgasananya dengan mahkota di kepalanya yang penyok. Tapi hatinya bungah dan semringah. Akhirnya ia benar-benar menjadi raja. Setelah janji Prabu Kresna ia tagih bertahun-tahun dan hanya dibalas dengan keputusan yang menyakitkan hati.

Dulu Petruk disuruh mengalahkan raksasa yang mengancam Amarta. “Cuma kamu yang bisa,” kata Prabu Kresna. Imbalannya adalah anaknya sendiri, alias mau dikawinkan dengan Prantawati. Petruk yang tidak punya kesaktian pun langsung siap maju perang. Naluri kejantanannya berdiri tegak karena dijanjikan anak raja. Ternyata raksasa itu adalah Gareng, kakaknya sendiri.

Setelah urusan beres, Petruk menagih janji. Tapi Prabu Kresna malah sen kanan belok kiri, alias berencana menjodohkan Prantawati dengan Raden Lesmana Candrakumara, putra mahkota Hastina yang cengeng.

Petruk nangis gerung-gerung. Ia kabur ke pertapaan Balaseta, curhat ke Begawan Salantara-ayahandanya.

“Romo, aku bosan jadi abdi. Aku mau jadi raja. Biar bisa melamar Prantawati. Tetapi aku mau pakai maharnya istana. Romo kan sakti.”

Begawan Salantara diam lalu menatap Petruk dalam. Tatapan mata Begawan Salantara sedalam samudera dengan ombak yang begitu besar dan tidak terencana. Sejurus kemudian ia berkata dengan tenang. Setenang air yang tidak tertebak ke mana arusnya mengalir.

“Aku kabulkan. Sebuah kerajaan. Tapi ini hanya uji coba dulu. Satu bulan saja. Kalau kamu bisa memakmurkan, kerajaan itu jadi milikmu selamanya. Tapi kalau gagal, kamu melamar Prantawati sebagai Petruk saja. Apa adanya.”

“Siaaap! Jangankan sebulan, sehari juga jadi, Romo!” Petruk asal jawab.

Keinginan Petruk menjadi nyata. Sekedipan mata, ia telah duduk di singgasana dengan mahkota yang kebesaran. Begawan Salantara berdiri di depannya. “Satu bulan. Kerajaan ini bukan untuk kamu miliki, tetapi untuk kamu pahami. Kekuasaan itu bukan sekadar dapat.”

Begawan Salantara lalu menghilang. Mendadak istana ramai. Mahapatih, punggawa, hulubalang, rakyat. Semuanya lengkap. Semuanya berjanji untuk mengabdi kepada Raja Petruk Kantong Bolong.

Pekan pertama di istana, Petruk membuat program “Raja dekat dengan rakyat”. Makan malam gratis di alun-alun, dangdutan semalam suntuk. Pekan kedua: gerakan minum susu bersama raja. Susu dibagi-bagi ke rumah-rumah. “Biar rakyat sehat wal afiat!”

Tetapi setelah itu Petruk ongkang-ongkang kaki mendengar rakyatnya menggaungkan namanya. Hidungnya kembang kempis. Ternyata benar dugaannya: enak betul menjadi raja.

Dua pekan berlalu. Petruk tidak sadar kalau lumbung makanan perlahan menipis. Tetapi dari waktu dua pekan itu, tidak ada  interupsi. Jelas ia merasa kondisi baik-baik saja. Waktu terus bergulir, tidak pernah ada evaluasi. Hingga akhirnya terhenti di suatu hari. Ketika suara-suara itu mulai terdengar dari luar istana. Suara-suara itu seperti sebuah retakan dari celah tembok istana. Mereka berteriak kalau susunya ternyata basi. Mereka menuntut nasi yang porsinya semakin sedikit, dan rasa asam pada sayur dan lauk pauk karena makin tidak layak saji.

Namun Petruk menganggap sebagai angin lalu. Parahnya ia menganggap itu adalah suara-suara dari orang-orang yang tidak bersyukur. Ia tetap saja duduk manis, ngopi-ngopi sambil makan roti dengan kaki diangkat di atas singgasana sembari dikipasi pelayan.

Ia juga tidak mengetahui kalau orkestra dangdut di alun-alun mulai sayup. Penonton jarang berdatangan karena tidak ada lagi acara makan malam bersama. Persediaan makanan sudah benar-benar habis.

Pekan keempat, terdengar suara Begawan Salantara menggema tanpa wujud: “Waktumu habis besok, Petruk! Kerajaanmu nggak maju!”

Petruk tergagap. Tetapi ia masih memiliki nyali untuk menyanggah dengan pongah.  “Rakyat saya bahagia, Romo! Tiap hari minum susu, tiap malam dangdutan. Program kerja saya berhasil!”

“Mana? Sebagian rakyatmu hilang. Kamu bahkan tidak  tahu kalau negeri ini sudah tidak ada rakyatnya lagi.”

Petruk sontak tergagap. Ia gegas berlari menuju menara. Dari atas sana ia bisa melihat dengan jelas bahwa ternyata pemukiman rakyatnya sudah lenyap. Panggung alun-alun tinggal padang rumput. Tidak ada jejak. Seluruh persendian Petruk seperti dilolosi satu per satu. Perutnya mulas. Ia terduduk lemas di tepian dinding menara.

 “Romo, minta tambahan waktu lagi, ya ….” pintanya memelas.

“Tidak ada lagi tambahan waktu. Kamu gagal jadi pemimpin. Aku sudah beri kesempatan tapi kamu sia-siakan.”

Petruk balik ke singgasana. Punggawa dan pelayan raib. Ia gontai sendirian. Jam berdentang dua belas kali. Pilar istana rontok satu-satu. Singgasana lenyap. Mahkota di kepalanya berubah jadi kupluk lusuh.

Petruk berdiri di gelapnya belantara. Tepat sebulan. Tidak tersisa apa-apa kecuali kenangan yang mirip mimpi di siang bolong.

Nuraninya mengakui bahwa ia gagal menjadi raja. Ternyata memimpin kerajaan tidak semudah mengedipkan mata. Padahal di luar sana banyak raja-raja tidak mumpuni yang masih hidup enak, tidur nyaman, dan tidak ditinggalkan rakyatnya. Tapi mengapa ia tidak bernasib serupa.

Petruk tercenung. Seandainya bisa, ia sebenarnya ingin diberi kesempatan lagi. Tetapi itu hal yang paling mustahil. Ia tidak akan pernah dapat membeli waktu dan kesempatan.

Pelan-pelan ia mencoba bangkit sambil mengais kembali serpihan hatinya yang hancur berceceran. Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan. Terbayang wajah Prantawati yang ingin ia banggakan. Niatnya untuk menyenangkan hati kekasihnya musnah sudah. Namun ia telah bertekad untuk memperjuangkan Prantawati dengan segala cara. Jika cara pertama gagal, masih ada pintu-pintu kemungkinan untuk bisa menagih janji Prabu Kresna. Besok tetap akan berangkat ke Dwarawati. Melamar Prantawati sebagai dirinya sendiri. Petruk Kantong Bolong, abdi dalem Amarta. Apa adanya, meski mungkin nyawa taruhannya.***

Kalasan Sept 2026

____________________

Puput Sekar. Ibu dua orang anak, lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta yang masuk di dunia sastra. Lalu memutuskan berhenti mengajar di sekolah formal. Saat ini aktif menulis di beberapa media.

Cerpen

Di antara Nada-Nada yang Hilang

Cerpen Era Ari Astanto

Malam merayap perlahan, membalurkan kesenyapan di seluruh penjuru rumah. Dinding-dindingnya seperti menyimpan rahasia. Ada bayangan masa lalu yang enggan pergi. Ada sesuatu yang berbeda dalam keheningannya, seperti luka yang tetap menganga.

Aku duduk di sudut kamar, memandangi gitar ayah yang diam di sana. Dawai-dawainya dulu adalah sumber kehidupan bagi kami, mengalirkan melodi yang menenangkan, menaburkan cerah pada wajahku yang lelah setelah seharian di sekolah. Ayah akan duduk di kursi kayu itu. Jemarinya menari di atas gitar, sementara ibu sibuk di dapur, seringkali bersenandung mengikuti nada. Tapi sekarang, helai-helai dawai itu bisu. Rumah ini kehilangan suaranya. Kini hanya ada gelap yang merangkul kami dengan kesepian yang dingin, terasa seperti selalu malam.

“Ayah kapan pulang?” gumam pertanyaanku menggantung di udara tanpa jawaban.

Ibu masuk ke kamar tanpa bicara. Langkah kakinya berat, seperti menyeret beban tak kasat. Di wajahnya ada sesuatu yang tampak asing, sesuatu bersembunyi di balik tatapan matanya yang kerap kali kosong. Ia berdiri di ambang pintu, memandangku dengan penuh ketidakpastian. Ia duduk di tepi ranjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku menunggu. Tetapi, ibu tak kunjung bicara. Mungkin karena sudah terlalu lelah dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, atau mungkin karena kata-kata yang tersimpan di dadanya terlalu berat untuk diucapkan.

“Ayahmu tidak bisa memberi kita apa yang kita butuhkan,” gumamnya perlahan. Suaranya lirih, nyaris tenggelam di antara suara hujan di luar. “Dia terlalu sibuk dengan gitarnya, dengan buku-bukunya. Apa yang bisa kita makan dari nada-nada dan kata-kata?”

Aku menatapnya, bibirku ingin bergerak, tapi aku tak tahu apa yang harus dikatakan. Bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada ibu bahwa bagi ayah, nada dan kata-kata adalah hidupnya? Bahwa, ketika ia duduk di kursi kayu itu dan mulai memainkan gitar, ia sedang berbicara dalam bahasa yang tak semua orang mengerti. Bahasa yang hanya dipahami oleh orang-orang yang hidup dari mimpi, yang percaya bahwa seni adalah sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan.

Tapi bagiku, ayah tak pernah mengabaikan kami. Ia menciptakan sesuatu—sesuatu yang tak bisa diukur dengan uang, tetapi memiliki makna yang dalam, sesuatu yang terasa nyata meski tak terlihat.

Semenjak kepergian ayah, rumah ini terasa makin asing. Setiap sudutnya seperti panggung kosong tanpa aktor, hanya bayangan-bayangan yang bergerak tanpa arah. Dulu, tawa dan canda memenuhi ruangan ini, menciptakan kehangatan di setiap incinya. Tapi sekarang, hanya tersisa hening yang perlahan menjelma sembilu.

Aku ingat malam itu, malam terakhir ketika ayah masih bersama kami. Ia duduk di kursi kayu itu, seperti biasa, memetik gitar dengan lembut. Ibu mendekat, berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat, wajahnya kaku seperti patung yang kehilangan ekspresinya.

“Berhenti memetik gitar itu, kita butuh uang, bukan lagu!” suara ibu meledak, seperti petir yang memecah keheningan malam.

Ayah menatap ibu, matanya yang tenang kini mulai menunjukkan retakan-retakan kecil, seperti kaca yang perlahan hancur.

“Apa kau tak sadar? Apa kau tak peduli pada kami?”

Ayah tidak membalas. Hanya diam, membiarkan petikan gitar terakhir menggantung di udara, lalu berhenti sepenuhnya.

“Musik ini takkan membuat kita kenyang, takkan membayar sewa rumah, takkan membuat hidup kita lebih baik!” Ibu terus berbicara, seolah ada badai yang bergolak di dalam dirinya, badai yang telah lama ia tahan dan kini meledak ke segala arah.

Aku hanya bisa mematung di sudut ruangan, menyaksikan pemandangan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Hatiku mencelos, seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak pernah bisa kembali.

Kini, setiap kali aku memandang gitar ayah yang diam di pojok kamar, aku merasakan kehilangan yang sulit diungkapkan. Seperti nada yang tak lagi bisa dimainkan, seperti lagu yang terputus di tengah-tengah, tanpa penyelesaian. Mungkin itulah yang dirasakan ayah, hidupnya adalah lagu yang belum selesai, tetapi dipaksa berhenti.

Aku tahu ayah tidak pernah menyerah. Meski ia harus pergi, ia tetap berkarya. Dari surat-surat yang ia kirimkan, aku tahu ia masih terus menulis, terus bermain musik di kafe-kafe kecil di pinggir kota, meski penontonnya hanya segelintir orang. Di dalam setiap kata yang ia tulis, aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam, tapi ia tutupi dengan kata-kata yang memintaku tetap tegar dan doa agar aku selalu dalam bahagia.

Tak ada cara lain bagi ayah selain dengan surat yang ia kirimkan ke sekolahku. Dulu, ayah memberiku ponsel, tapi disita ibu agar aku tak berkomunikasi dengan ayah.

“Aku tidak pernah meninggalkan kalian, Nak,” tulisnya dalam salah satu suratnya. “Aku hanya sedang mencari cara untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik. Musikku adalah caraku berbicara, dan tulisan-tulisanku adalah suaraku. Mungkin kau belum mengerti sekarang, tapi suatu hari nanti kau akan tahu bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang.”

Setiap kali surat dari ayah datang, aku akan membacanya di depan ibu. Awalnya, ia marah karena aku masih berkomunikasi dengan ayah. Tapi, aku tak peduli. Seiring waktu ibu mau mendengarkan meski dengan wajah datar, seolah kata-kata ayah tak berarti apa-apa. Tapi perlahan, aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Setiap kalimat dari ayah mulai meninggalkan jejak di matanya, meninggalkan bayangan yang tak bisa ia singkirkan.

Suatu malam, aku melihat ibu duduk di depan meja makan, memegang surat dari ayah dengan tangan gemetar. Air mata jatuh satu per satu ke atas kertas, menciptakan bercak-bercak seperti luka.

“Mungkin aku salah,” gumam ibu pelan, hampir seperti bisikan. “Mungkin aku terlalu keras pada ayahmu. Aku hanya ingin hidup yang lebih baik untuk kita, tapi mungkin aku lupa apa yang sebenarnya membuat hidup ini berharga.”

Aku mendekati ibu, mencoba memahami apa yang terjadi di dalam benaknya. Tangannya menggenggam surat itu begitu erat, seolah surat itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberinya harapan.

“Mungkin kita tidak pernah benar-benar mengerti satu sama lain,” lanjutnya, suaranya tersendat oleh isak yang tertahan. “Aku terlalu takut pada kemiskinan, terlalu takut pada ketidakpastian, hingga aku melupakan cinta yang dulu menyatukan kami.”

Di sisi lain, aku tahu ayah tetap berusaha tegar. Meski hidupnya tak lagi bersama kami, ia tidak pernah benar-benar pergi. Setiap nada yang ia mainkan, setiap kata yang ia tulis, adalah cerminan dari cinta yang tak pernah hilang dan terus terpatri dalam ingatanku.

Aku ingat suatu malam, ketika aku akhirnya memutuskan untuk menemui ayah di tempatnya bekerja. Ia sedang tampil di sebuah kafe kecil, memainkan gitar dengan mata yang memejam. Suaranya lirih, tetapi setiap nada yang ia petik terasa begitu penuh makna. Aku melihatnya dari sudut remang, melihat ayah yang dulu kukenal, tapi dengan kesedihan yang lebih mendalam di wajahnya.

Saat pertunjukannya usai, aku berjalan mendekat. Ayah menoleh, bangkit, dan tersenyum kecil saat menyambutku. Tapi aku bisa melihat bayangan pilu di balik senyumnya.

“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanyanya, suaranya serak, seperti seseorang yang telah terlalu lama berbicara tanpa didengar.

“Aku rindu ayah,” jawabku pelan, menahan tangis yang selama ini kusembunyikan. Aku rindu malam-malam ayah membacakan cerita untukku, rindu saat-saat kami duduk bersama di ruang tamu, mendengarkan petikan gitar yang membuat segalanya terasa lebih baik.

Ayah mengangguk, lalu menatapku dengan mata yang penuh kehangatan, tapi juga kesedihan yang sulit dijelaskan. “Aku juga rindu kalian,” katanya sambil mengusap kepalaku beberapa jenak. “Kau tahu, Nak, rindu adalah satu-satunya cara kita bisa tetap dekat, meski berjauhan?”

Kami terdiam lama, hanya suara hujan di luar yang meningkahi kesunyian di antara kami. Aku ingin bertanya banyak hal, ingin tahu kenapa semua ini harus terjadi. Tapi dalam hening itu, aku menemukan jawabannya sendiri, bahwa cinta tak selalu berarti harus bersama. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan, tentang memberi ruang bagi yang lain untuk menemukan jalannya sendiri.

Ketika aku pulang malam itu, ibu menungguku di ruang tamu. Ia menatapku dengan mata yang bengkak, wajahnya pucat. Aku tahu, ia telah membaca surat terakhir dari ayah. Perlahan, ibu mengulurkan surat itu padaku, tangannya gemetar.

“Mungkin, kita bisa memulainya lagi,” suaranya hampir terseret angin, seolah-olah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan. Aku mengambil surat yang ibu ulurkan. Tangan ibu dingin, getarannya mencerminkan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Surat ayah singkat, lebih pendek dari biasanya. Isinya terasa seperti senandung pelan di malam yang hening, di antara harapan dan kenyataan yang kadang saling bertolak belakang.

Aku tidak akan pernah berhenti mencintai kalian. Mungkin aku tak pernah bisa memberi kehidupan yang kalian inginkan, tapi aku ingin kalian tahu, setiap nada yang aku mainkan, setiap kata yang aku tulis, semuanya untuk kalian. Jika ini memang jalannya, aku sangat berharap kalian menemukan kebahagiaan, dengan atau tanpaku.

Aku membaca surat itu berulang-ulang, setiap kalimatnya menorehkan perasaan pilu di hati. Saat aku menatap ibu, dia terisak. “Aku… aku tak pernah tahu dia merasakan ini,” gumamnya, suaranya putus-putus. “Aku pikir, selama ini dia tak peduli… aku pikir dia hanya mementingkan musiknya.”

Aku mendekat, duduk di samping ibu, tangan kami bersentuhan, saling menguatkan. “Ibu… mungkin kita tidak pernah benar-benar mengerti ayah,” kataku pelan, suaraku bergetar. “Tapi aku tahu dia selalu berusaha untuk kita, dengan caranya sendiri.”

Ibu terdiam, matanya kosong menatap ke depan, seolah sedang menembus dinding di hadapannya, mencari sesuatu yang tak bisa dia temukan. Aku bisa merasakan kecamuk dalam dirinya, kecamuk antara kemarahan yang telah lama dipendam, rasa kehilangan, dan penyesalan yang perlahan muncul ke permukaan. Dia telah terlalu lama hidup dalam ketakutan, dalam kekhawatiran yang menenggelamkan perasaan cinta yang dulu ada.

“Aku hanya ingin kita hidup lebih baik…” katanya lirih. “Aku ingin kalian punya masa depan yang cerah, bukan tenggelam dalam mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud.”

Aku paham kekhawatiran ibu, meski rasa marah dalam diriku belum sepenuhnya hilang. Tapi sekarang, saat melihat betapa rapuhnya ibu, aku mulai mengerti bahwa tak semua orang bisa memahami dunia seperti yang ayah lihat. Baginya, realita adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan diimpikan. Dia takut kehilangan kami, takut tersesat dalam dunia ayah yang tak bisa dia pahami.

Waktu berlalu pelan demi pelan, tapi luka kami masih terasa segar. Namun, sesuatu mulai berubah antara ibu dan aku. Percakapan kami kini lebih dalam, tidak lagi diselimuti kemarahan dan penolakan. Ibu mulai belajar mendengarkan, dan aku pun belajar memahami ketakutannya. Kami berdua mulai menerima bahwa cinta itu bisa berwujud dalam bentuk yang berbeda-beda meski kadang harus berkorban untuk bisa memahami wujud cinta yang lain.

Suatu hari, di pagi yang dingin dan kelabu, aku mendengar suara petikan gitar. Suara itu samar, tapi cukup untuk menghentikan langkahku. Aku berdiri di ambang pintu kamar ibu, mengintip dengan hati-hati. Di sana, duduk di kursi kayu yang biasanya ditempati ayah, kulihat ibu memegang gitar itu dengan kikuk.

Ia mencoba memainkan sebuah melodi, meski jari-jarinya kaku, seolah-olah ia baru pertama kali memegang gitar itu. Suaranya serak saat ia bersenandung kecil, dan ada kepedihan yang tergambar di wajahnya. Lagu yang ia coba mainkan adalah lagu favorit ayah, lagu yang dulu selalu ayah mainkan untuk kami.

Aku berdiri terpaku, dadaku terasa sesak melihat ibu yang selama ini menolak musik, kini mencoba merangkai kembali melodi yang hilang. Di balik air mantanya, ada kerinduan yang begitu dalam. Mungkin dia sadar, meski terlambat, bahwa nada-nada itu adalah bagian dari cinta yang pernah dia abaikan.

“Ibu…” suaraku menggantung. Aku berjalan mendekatinya, duduk di sebelahnya.

Ibu menatapku dengan mata yang merah dan bengkak, lalu tersenyum kecil, senyum yang getir. “Aku tidak pernah benar-benar mengerti dia,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Tapi sekarang, mungkin aku tahu kenapa dia tak pernah bisa melepaskan musiknya. Itu… adalah bagian dari dirinya.”

Aku mengangguk. “Ayah tak pernah berhenti mencintai kita, Bu. Dia hanya punya caranya sendiri untuk menunjukkan itu.”

Kami duduk berimpit di sana, di antara gitar yang senar-senarnya kini mulai bergetar lagi, membawa pulang melodi yang pernah hilang. Di luar, hujan turun dengan tenang, seolah mencoba menghibur hati yang selama ini penuh badai.***

____________________

Era Ari Astanto. Lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali. Telah menerbitkan beberapa novel. Novel terbarunya Sesepuh dan Sebuah Dukuh (Diomedia).

Cerpen

Tanduk Rusa

Cerpen Erna Surya

Laksono membeli tanduk rusa itu pada suatu sore. Seorang lelaki datang ke rumahnya membawa sepasang tanduk yang dibungkus kain hitam. Usianya sekitar lima puluh tahun. Kulitnya gelap. Tangannya kasar.

“Dari Kalimantan,” katanya.

Laksono membuka kain itu. Tanduknya besar. Bercabang banyak. Pangkalnya masih menyisakan warna merah kecokelatan.

“Jantan?”

Lelaki itu mengangguk.

“Ditembak?”

“Iya.”

Laksono menyentuh salah satu cabangnya. Dingin. Ia membayar tanpa menawar. Puluhan juta. Lelaki itu memasukkan uang ke dalam tas, kemudian pergi.

Laksono berdiri di depan pintu sampai mobil lelaki itu menghilang. Ia lalu membawa tanduk itu ke ruang tamu. Dinding rumahnya berwarna putih. Lantainya marmer. Sofa besar memenuhi hampir separuh ruangan. Di atas meja terdapat botol anggur yang belum dibuka.

Tanduk itu dipasang tepat di tengah dinding. Laksono mundur beberapa langkah. Bagus. Ia tersenyum. Rumah itu akhirnya memiliki sesuatu yang pantas dilihat. Selama ini rumah itu hanya berisi barang-barang mahal. Jam mahal. Lukisan mahal. Mobil mahal. Tetapi tidak ada yang membuatnya merasa apa-apa.

Tanduk itu berbeda. Ia tidak tahu mengapa.

Malam pertama, Laksono duduk lama di depannya. Ia meminum anggur sambil memandangi tanduk itu.

“Bagus sekali.” Ia mengatakannya kepada dirinya sendiri.

***

Laksono berusia lima puluh tahun. Ia seorang bankir. Uangnya banyak. Rumahnya besar. Tetapi ia tinggal sendirian. Ia tidak pernah menikah. Ketika teman-temannya membicarakan istri dan anak, Laksono selalu tertawa.

“Istri itu beban.”

Teman-temannya ikut tertawa. Laksono memang pandai membuat orang tertawa. Ia tidak pernah mengatakan bahwa setiap malam ia makan sendirian. Tidak pernah mengatakan bahwa ia sering berbicara kepada televisi. Tidak pernah mengatakan bahwa ketika sakit, ia harus membawa tubuhnya sendiri ke rumah sakit. Ia hanya mengatakan bahwa hidupnya baik-baik saja.

Sejak tanduk itu dipasang, ia merasa lebih baik. Pagi hari ia bangun dengan tubuh yang ringan. Pekerjaannya lancar. Seorang nasabah besar mempercayakan uangnya. Proyek investasi yang selama ini sulit akhirnya berhasil. Laksono menganggap semua itu bukan kebetulan.

Ia semakin sering berdiri di depan tanduk.

“Benar, kan?” Ia tersenyum. Tanduk itu diam.

***

Mimpi pertama datang seminggu kemudian. Laksono berdiri di ruang tamu. Tanduk itu berada di depannya. Kemudian sesuatu jatuh dari langit-langit. Tubuh seekor rusa. Lehernya berdarah. Matanya masih terbuka. Laksono mundur. Rusa itu menatapnya. Tidak bergerak. Lalu terdengar suara tembakan.

Laksono terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Jam menunjukkan pukul dua lewat tiga belas menit. Ia menyalakan lampu. Ruang tamu kosong. Tanduk itu masih tergantung di dinding.

Laksono tertawa kecil. “Cuma mimpi.”

Ia mengambil air putih. Tangannya gemetar.

***

Mimpi itu datang lagi. Kali ini rusa itu tidak sendirian. Ada banyak rusa. Mereka berdiri di dalam hutan. Semuanya memandang Laksono. Tidak ada suara. Kemudian satu per satu rusa itu kehilangan tanduk. Mereka jatuh.

Laksono terbangun sambil berteriak. Sejak saat itu ia mulai takut tidur. Ia membeli obat tidur. Ia memasang semua lampu rumah. Ia bahkan meminta satpam berjaga sampai pagi. Tetapi setiap kali matanya terpejam, hutan itu kembali. Dan selalu ada rusa.

***

Suatu malam Laksono berdiri di depan tanduk.

“Apa yang kau mau?”

Ia tidak tahu kepada siapa ia bertanya. Tanduk itu diam. Laksono mendekat. Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang tidak pernah diperhatikannya. Ada lubang kecil di pangkal tanduk. Seperti bekas peluru.

Ia menyentuhnya. Tiba-tiba tercium bau tanah. Bau daun basah. Bau darah. Laksono menarik tangannya. Ia mundur. Kemudian ia melihat sesuatu di lantai.

Darah. Hanya setetes.

Laksono menatapnya lama. Ia mengambil tisu. Ketika tisu menyentuh lantai, noda itu sudah tidak ada.

***

Laksono mulai berubah. Ia tidak lagi sering datang ke kantor. Telepon dibiarkan berdering. Rapat dibatalkan. Makanan di rumah sering tidak disentuh. Ia semakin kurus.

Suatu siang, seorang kolega datang menjenguk. “Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Sudah berapa hari tidak masuk kantor?”

Laksono tidak menjawab. Kolega itu melihat tanduk di dinding. “Barang baru?”

Laksono mengangguk.

“Bagus.”

“Jangan terlalu dekat.”

Kolega itu tertawa. “Kenapa?”

Laksono menatapnya. “Dia tidak suka.”

Kolega itu berhenti tertawa. “Siapa?”

Laksono menunjuk tanduk. Setelah koleganya pulang, Laksono mengunci semua pintu. Ia berdiri di depan tanduk sampai malam.

***

Beberapa hari kemudian ia memanggil tukang untuk menurunkannya. Dua orang datang. Mereka baru memegang tangga ketika salah satunya muntah. Yang lain tiba-tiba memegangi kepala.

“Pak, saya tidak enak badan.”

Mereka pergi. Laksono tidak mencoba lagi. Ia mulai percaya bahwa tanduk itu memang memilihnya. Atau mungkin ia hanya ingin mempercayainya. Sebab sejak tanduk itu datang, hidupnya terasa memiliki sesuatu. Sesuatu yang menunggunya. Sesuatu yang tidak akan pergi.

***

Malam hujan. Laksono duduk sendirian di ruang tamu. Di tangannya ada segelas anggur. Lampu hanya dinyalakan satu. Tanduk itu tampak lebih besar dalam gelap. Laksono menatapnya.

“Aku sudah memberimu tempat.”

Tidak ada jawaban.

“Aku sudah membayar mahal.”

Diam.

“Apa lagi?”

Petir menyambar. Bayangan tanduk memenuhi dinding. Laksono tiba-tiba melihat bentuk seekor rusa. Ia berkedip. Bayangan itu kembali menjadi tanduk.

Ia tertawa. Kemudian menangis.

“Jangan tinggalkan aku!”

Kalimat itu keluar begitu saja. Ia sendiri terkejut mendengarnya. Untuk pertama kalinya, Laksono sadar bahwa selama ini bukan tanduk itu yang ia takuti. Ia takut ditinggalkan. Ia takut rumahnya kembali kosong. Ia takut bangun suatu pagi dan tidak ada siapa-siapa. Ia takut mati sendirian.

Ia meneguk anggurnya. Kemudian memejamkan mata.

***

Pagi harinya, satpam menemukan pintu rumah tidak terkunci. Ia masuk.

“Pak Laksono?”

Tidak ada jawaban. Ruang tamu berantakan. Gelas pecah di lantai. Kursi terbalik. Tetapi Laksono tidak ada. Tanduk rusa masih tergantung di dinding.

Satpam memanggil polisi. Mereka mencari ke seluruh rumah. Tidak ditemukan apa-apa. Tidak ada mayat. Tidak ada darah.Tidak ada tanda orang masuk dari luar. Hanya ada satu benda yang aneh. Di lantai, tepat di bawah tanduk, terdapat jejak kaki. Bukan jejak sepatu. Jejak kaki rusa.

Polisi menganggapnya lelucon. Satpam mengatakan mungkin ada binatang masuk. Tetapi pintu dan jendela semuanya terkunci.  Sampai hari ini tidak ada yang tahu ke mana Laksono pergi.

Rumah itu kemudian dijual. Tanduk rusa tetap berada di sana. Pemilik baru mencoba menurunkannya. Tidak berhasil. Ia akhirnya membiarkannya.

Beberapa bulan kemudian, rumah itu kembali kosong. Tetapi orang-orang yang melewati rumah tersebut pada malam hari kadang mendengar suara langkah dari dalam.

Pelan. Empat kaki. Berjalan mengitari ruang tamu. Kemudian berhenti tepat di bawah tanduk. Tidak ada yang berani memeriksa. Mereka hanya melihat dari luar. Dan kadang-kadang, ketika hujan turun sangat deras, mereka melihat bayangan seekor rusa berdiri di balik jendela. Padahal rumah itu sudah kosong.

Dan tanduk di dinding masih ada. Tetap bercabang. Tetap diam. Seperti sedang menunggu seseorang pulang.***

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Fluktuasi Rumus Usaha

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Panji-panji hitam yang berkibar di langit tiba-tiba berjatuhan setelah suara letupan senjata api menggelegar di udara. Orang-orang berhamburan ke berbagai sudut. Beberapa lainnya mengoleskan odol di sekitar mata untuk mengurangi perih akibat gas. Pula air mineral jualan Mamat, bertebaran di tengah jalan terkena semprotan water cannon.

Di tengah orang-orang yang berlarian dan teriakan untuk menyelamatkan diri, tangan Mamat mencoba tangkas mengais botol-botolnya. Karena di hari itu ia telah berjanji mengantarkan berobat Tarmi, ibunya.

Sejak penyakit stroke menjangkiti Tarmi, angkringan yang menjadi sumber pemasukan keluarga pun tutup. Hal itu berdampak kepada Mamat yang harus meninggalkan sekolah, meski sebenarnya ia hampir lulus.

Sulit rasanya bagi Mamat putus sekolah, tempat di mana ia menambatkan mimpi besar menjadi seorang fisikawan. Ingin sekali ia memberontak, hanya saja ia tak mengerti kepada siapa harus melakukannya. Namun di hari terakhir mengenakan seragam putih abu-abu Mamat teringat sesuatu: rumus usaha.

Pada saat itu, Indonesia Raya sedang berkumandang mengiringi Dwiwarna menaiki tiang. Di barisan siswa, Mamat menunjukkan sikap hormat tanpa daya. Pikirannya melayang-layang: ia terpaksa menanggalkan mimpi. Tak ada lagi masa muda, seperti rumus usaha dalam fisika, Mamat harus bergeser meski telah mengerahkan daya serta kekuatannya. Di tempat lain ia meyakini akan lebih berguna dan berharga.

Sejak saat itu, Mamat pergi tanpa berpamitan kepada siapa pun. Merelakan mimpi. Ia melanjutkan usaha angkringan yang sebelumnya tutup. Tetapi tidak untuk membiayainya sekolah lagi, melainkan untuk hidup keluarga dan kalau bisa membantu ibunya berobat.

Beberapa kali teman-teman sekolahnya datang ke angkringan, menanyakan alasannya tak pergi ke sekolah. Jawaban Mamat hanya memunculkan perasaan iba bagi mereka. Walhasil pertemuan-pertemuan itu hanya membuat Mamat sakit hati. Dan ia memutuskan untuk berhenti berjualan sejenak.

Malam-malam setelah itu, sehabis mengurus Tarmi yang terkulai di atas kasur. Mamat enggan berangkat, kedatangan yang ia dapati sebelumnya telah membuatnya patah. Walaupun ia telah mendapat tempat baru. Pertanyaan-pertanyaan aneh bermunculan, yang seakan merongrong kepalanya: mengapa harus aku? Apa yang kuperbuat hingga harus seperti ini?

Di suatu sore yang mendung, Mamat menengok Tarmi yang sudah hampir tidak bisa bergerak. Mereka tak membincangkan apa pun. Tarmi mengerti sesuatu yang diisyaratkan pandangan anaknya. Dalam diam kedua orang itu saling memahami. Jalan paling tepat bagi mereka mungkin menerima keadaan.

Masih di waktu yang sama, terdengar suara ketukan pintu yang menggerakan diri Mamat untuk membukanya. Ketika deritan pintu berhenti, ia melihat sosok yang mengenalkan dan memberi inspirasi untuk bermimpi. Membawanya kembali ke masa di mana ia mengenal pertama kali rumus usaha. Pengantar sederhana yang membuat Mamat berani bercita-cita. Jika ingin perubahan maka diperlukan gaya dan usaha.

“Kau masih ingat itu?” tanya Pak Bardi—orang yang mengetuk pintu. Mamat mempersilakan duduk kepada guru fisikanya itu. Meminta menunggu sebentar untuk dibuatkan teh.

Sekuat-kuatnya Mamat menahan air mata sembari mengaduk teh. Kedatangan guru itu pasti akan memintanya kembali ke sekolah. Tempat yang mungkin tak dapat ia kunjungi lagi. Terlebih teman-temannya pasti juga sudah bercerita tentang keadaanya di sekolah. Peristiwa yang membuatnya jeda berjualan.

Setelah dihidangkan, sesapan teh membasahi kerongkongan Pak Bardi. Tak banyak yang ia bicarakan, kecuali rasa kangen kepada siswa kesayanganya. Murid yang jarang sekali mengeluh menerima pelajaran fisika. Dan selama pengalamannya mengajar, hanya Mamat yang mengatakan ingin menjadi seorang fisikawan.

Pada saat mengajar di kelas, Pak Bardi membuktikan kebenaran desas-desus yang terjadi di ruang guru. Para siswa menceritakan mengenai Mamat yang berhenti sekolah karena ibunya yang sakit, dan harus berjualan di angkringan. Ia harus menghidupi keluarga, apa lagi setelah bapaknya meninggal. Bagi seorang guru, itulah kehilangan yang paling besar.

“Jika sesuai dengan yang bapak ajarkan. Saya sudah siap, Pak,” terang Mamat ketika teh bikinannya melewati tenggorokan Pak Bardi.

Kata-kata itu membawa ingatan Pak Bardi saat menjelaskan materi rumus usaha. Hanya Mamat yang mengerti, dan berani maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal. Sebelum duduk, Mamat memberikan secarik kertas bertuliskan kemauannya belajar lebih lanjut tentang fisika.

“Saya lebih cepat membuktikan kebenaran rumus itu dengan cara seperti ini, Pak. Sekarang saya berjualan di sekitar kampus. Jika berkenan silakan datang, Pak,” tak kuasa Mamat menahan air mata yang tertahan sejak mengaduk teh sebelumnya. Tak lama setelah itu ia mendapat pelukan paling tulus dari gurunya. Kecurigaanya tak ada yang muncul satu pun.

Setelah pertemuan itu, Mamat memindahkan tempat jualannya di sekitar kampus. Ia buka menjelang siang sampai malam. Angkringan Mamat ramai dikunjungi kalangan mahasiswa. Beberapa kali Pak Bardi mengunjungi Mamat. Saat tak sedang melayani pelanggan, Mamat meminta untuk tetap diajari tentang fisika oleh gurunya itu.

Sebuah pertemuan besar diadakan oleh para mahasiswa itu di angkringan Mamat. Saat mereka mulai berkenalan, ia mengetahui tak hanya kalangan terpelajar saja yang hadir. Ada buruh, seniman, pkl, yang turut bergabung di forum itu. Mereka merencanakan sebuah aksi untuk keesokan harinya. Ada yang unik menurut Mamat, mereka harus menanggalkan identitas kelembagaan masing-masing.

Pada saat itu, Mamat berpikiran mengenai keuntungan besar jika berjualan air mineral. Terlebih banyak mahasiswa yang makan di angkringan itu kerap mengeluh tak adanya penjual air mineral di setiap demonstrasi. Padahal keadaan di jalanan panas, berdebu, dan belum lagi polusi.

Ketika pulang Mamat memberanikan diri berjanji kepada ibunya akan mengantar berobat. Tergambar binar kebahagiaan dari sorot mata Tarmi saat mendengar hal itu. Tampilan yang membuat Mamat berangkat pagi-pagi sekali untuk berbelanja bahan.

Benar bayangan Mamat, siang itu terik sekali. Air mineral yang ia jajakan laku keras. Namun, semua berubah ketika orang-orang berlarian karena tembakan peringatan. Dan yang paling naas, box yang berisi botol-botol itu tumpah terkena semprotan water cannon.

Setelah beberapa botol yang berhamburan dapat Mamat kumpulkan dalam kaosnya, ia menengok box wadah air mineralnya, seketika ia terbayang muka Tarmi. Kotak itu kelihatan pecah terinjak entah oleh siapa di balik sepatu dan tameng aparat. Pada saat itu, ibu, box dan angkringan mengingatkan dirinya perihal rumus usaha. Pecah dan membeku.***

____________________

Rudi Agus Hartanto. Bagian dari Sanggar Bima Suci Mojogedang, Ngglituk Podcast, dan Leluasa Project.

Cerpen

Hanya Saya yang Berhak Menentukan

Cerpen Indarka PP

Sebelum hari pernikahan, saya memutuskan pindah agama.

Sebelumnya saya sudah bicara dengan mama dan papa, Puji Tuhan mereka memberi keyakinan bahwa apapun pilihannya, hanya saya yang berhak menentukan. Air mata saya mengalir tiris mendengarnya. Satu hal yang akan saya ingat selamanya ialah ketika mama mendoakan saya, “Semoga kamu jadi muslim yang baik,” katanya, lalu saya spontan memeluk mama. Erat sekali.

Saya pun semakin menangis.

Boleh dibilang saya belum terlalu lama mengenal Hasbi. Kami saling mengenal secara tak sengaja. Entah hari apa saya lupa, waktu itu Hanum meminta saya menemaninya bertemu Badru, teman lamanya sewaktu SMA. Di sanalah saya berjumpa Hasbi yang kebetulan juga menemani Badru. Perkenalan kami kemudian berbuntut panjang. Empat bulan sesudahnya, Hasbi mengutarakan niat ingin menikahi saya. Perasaan kaget lebih dulu mencuat, sebelum sekilas lindap oleh rasa bahagia.

Ada kilau gemintang di pandangan saya, seperti lampu disko menyala-nyala tiada henti di setiap malam pesta. Namun itu berlangsung singkat karena saya harus segera kembali ke kenyataan rumit perihal keyakinan kami. Saya nasrani, sedangkan Hasbi muslim.

Setahu saya, pernikahan beda agama acap kali berjalan terjal. Saya tahu, meski yang akan menikah adalah saya dan Hasbi, saya juga mesti berurusan dengan adat-istiadatnya, keluarga besarnya, kebiasaan-kebiasaan keagamaan mereka. Dan yang demikian bukan perkara gampang. Saya harus mengawini paket itu sekaligus.

Saya merasa dilema. Selalu.

Akan tetapi sejak kali pertama Hasbi bilang ingin menikahi saya, ia senantiasa meyakinkan saya tentang kesungguhan hatinya. Dari caranya memperlakukan saya, saya bisa melihat sebentuk ketulusan. Selain pengertian, Hasbi juga pemerhati yang baik. Beberapa kali ia memberitahu saya tentang ini dan itu, tentang hal yang perlu saya lakukan atau sebaiknya saya hindari. Mengajari saya cara memandang kehidupan sebagai tempat lahirnya pilihan-pilihan yang tak bisa dimungkiri sedikit pun. Sikapnya yang hangat kerap mengajak saya tamasya ke suasana rumah tangga tenteram-sejahtera, bertabur berkah bersama anak-anak kami kelak. Sikap seperti itu belum pernah saya jumpai dari laki-laki yang pernah mendekati saya selama ini.

Hasbi sosok ideal yang saya dambakan.

Suatu malam, kami makan di kafe pinggiran kota. Seusai beres dengan menu masing-masing, hal yang saya pikirkan selama ini akhirnya tiba juga. Saya tidak terkejut sama sekali ketika Hasbi mengajak saya ikut dengannya: menjadi muslim. Sesudah malam itu saya langsung bicara dengan mama dan papa, Puji Tuhan mereka memberi keyakinan, bahwa pilihan apapun itu, hanya saya yang berhak menentukan. Selain mama dan papa, saya juga sempat menemui Hanum dan meminta pendapatnya. Sebagai teman aku hanya bisa mendukung, karena kamulah yang paling berhak menentukan, ucap Hanum. Ia tersenyum lalu memeluk saya.

Entah mengapa saya merasa kami seperti akan berpisah dalam waktu yang lama sekali.

“Bagaimana dengan keluargamu?”

“Mereka malah senang,” kata Hasbi.

“Senang aku jadi istrimu?”

Ia mengangguk. “Ditambah bonus bisa mengajakmu masuk ke agama kami.”

“Oh…” saya menirunya mengangguk.

Begitulah mula-mula pernikahan kami, dua tahun tujuh bulan yang lalu. Sekarang kami menjalani hari-hari penuh suka dan cita. Sebagai seorang mualaf, sudah tentu saya belajar banyak dari Hasbi.

Perubahan demi perubahan mulai terasa. Tentu saja saya tak sanggup, atau mestinya tak boleh, membendungnya.

Beberapa pekan setelah akad nikah, Hasbi menyarankan saya untuk membiasakan diri berjilbab. Saya berkata jujur bahwa saja saya belum siap, lagi pula banyak juga perempuan muslim tidak berjilbab. Tetapi ia bilang kalau mengenakan jilbab bukan masalah siap atau tidak, melainkan kewajiban. “Memang nggak kasian? Aku nanti yang nanggung dosanya.” Lantaran bingung maksud pertanyaan tersebut sehingga tidak paham harus menjawab apa, sejak saat itu saya mulai mengenakan jilbab.

Di kesempatan lain, Hasbi menyuruh saya belajar sembahyang dan mengaji. “Nanti Mas ajari, Sayang.” Ketika saya mulai hafal gerakan dan bacaan sembahyang serta sedikit-sedikit bisa mengaji, Hasbi kembali menuntut hal baru pada saya. Ia ingin saya mengganti model jilbab yang selama ini saya kenakan. Saya tanya, memang kenapa? Ia bilang aurat saya belum tertutup sempurna. Lagi-lagi karena tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana, saya hanya menurut.

Kadang saya sering mencari-cari sendiri maksud di balik permintaan-permintaan Hasbi itu. Saya membaca artikel-artikel di ponsel saya. Dari sanalah saya mulai tahu, walau belum paham benar, ke arah mana cara beragama kami ini. Dan benar saja, sekitar dua bulan setelah itu, Hasbi pun meminta saya untuk berpuasa. “Bukannya Ramadan masih lama?” Hasbi menjawab bahwa yang ia maksud puasa Senin-Kamis. “Pahalanya luar biasa, Sayang. Mudah-mudahan kita bisa cepat dikasih momongan,” katanya, sambil membelai lembut kepala saya.

***

Seperti biasa, saya terbangun di subuh buta. Namun, terus terang kali ini berat sekali rasanya menyeret kaki untuk pergi sembahyang. Saya tidak bergerak. Tatapan saya mengarah ke sisi kosong ranjang yang sudah ditinggal empunya enam malam belakangan. Meski baru enam hari Hasbi pergi, sejatinya kekacauan rumah tangga kami sudah tercium setengah tahun terakhir.

Teringat kembali di pusaran kepala puncak keributan kami enam hari yang lalu. Saya dan Hasbi berseteru hebat. Saya tegaskan ke sekian kalinya pada dia, kalau semua cara sudah saya tempuh supaya saya bisa lekas hamil. Saya juga tidak sudi kalau terus-menerus disudutkan, seolah masalah utama terletak pada saya. Karena kesal dan tak terima, saya balikkan keadaan. Saya bilang kalau dialah biang keladinya. Saya tantang Hasbi bersama-sama pergi ke dokter untuk membuktikan saya atau dia yang sebenarnya bermasalah.

Alih-alih setuju, tubuh Hasbi justru cepat sekali menegang. Dia bangkit lalu menghampiri saya. Persis di depan muka saya, mulut Hasbi fasih menyebut anjing serta rupa-rupa binatang lain. Dikatailah saya sebagai istri nusyu. Perempuan tak kaya iman. Istri durhaka dan durjana. Saya tugur menahan nyeri mendengar serapah itu. Rupanya iblis sudah bersemayam di bola matanya. Saya tidak tinggal diam. Saya balas kata-kata jahaman itu tak kalah pedasnya. Sekian detik sesudahnya, sebuah sabetan menjilat pipi kiri saya, disambung luncuran air liur yang muncrat ke sekujur badan.

Seakan tunai segala amarahnya, laki-laki itu cepat-cepat berjalan keluar rumah. Mesin motor mulai berderu laju, lantas lekas menghilang.

Iblis itu meninggalkan rumah kami. Rumah tangga kami.

Saya kian menangis. Betapa saya ingat laki-laki yang mengajari saya sembahyang dan mengaji, menuntut saya berpuasa seminggu dua kali, juga menyuruh saya supaya sempurna menutup aurat demi menjauhkan dia dari kubang dosa, telah berlaku bengis menghujam batin saya demikian jahatnya. Tidak pernah terlintas di bayangan saya kalau Hasbi bisa bertindak demikian menyimpang dari ajaran agama yang selama ini dia imani.

Mata saya kembali basah. Tetapi saya buru-buru mengusapnya. Saya tak mau jadi istri yang lemah, maksud saya, perempuan lemah.

Rupanya putaran jam sudah jatuh di angka tujuh. Saya bangkit dari ranjang demi memulai hari. Saya menuju dapur, meracik sisa-sisa sayur seadanya. Sembari menyiapkan sebongkah kubis, wortel, seunting seledri, dan aneka bumbu rempah, alam pikir saya mengantarkan saya bertamu ke rumah mama dan papa.

Akankah mereka ke gereja di Minggu yang suntuk ini? Apakah mama dan papa masih mengasihi saya? Apakah keputusan saya menyisakan luka di hati mereka?

Saya ingin mengetahuinya.

Maka saya harus menyusun beberapa rencana. Hari ini saya harus mulai mengemasi semua pakaian. Lalu besok saya akan pulang ke rumah mama dan papa dan menginap tiga malam di sana. Kamis-nya saya akan mendatangi kantor pengadilan agama. Dan hari Minggu saya akan turut mama dan papa ke gereja, lalu saya…

Suara motor dari luar tiba-tiba membuat saya berhenti memikirkan rencana-rencana. Saya mengenal betul raung motor itu. Akan tetapi saya tidak ingin mengenal lagi siapa yang datang dengan motor itu. Saya harus segera memulai rencana yang pertama. Kemudian saya juga tidak akan menunggu besok untuk menjalankan rencana kedua.

Demikianlah mesti saya hadapi kenyataan ini sekalipun menyedihkan. Sebab, hidup yang saya jalani sesungguhnya hanya berisi pilihan-pilihan. Dan sebagaimana yang sudah-sudah, hanya saya yang berhak menentukannya.***

____________________

Indarka PP, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini mukim di Tana Paser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.  

Cerpen

Wajah

Cerpen Diana Rustam

Kamu telah memiliki wajah itu selama satu tahun, dan selama itu pula kamu suka memandanginya lama-lama di cermin. Setiap kali menatapnya, kamu memiliki perasaan semacam diawasi oleh wajahmu sendiri.

Kamu meraba mata yang bukan milikmu, ia adalah mata yang tidak memiliki gairah tertentu. Ketika tersenyum, kamu tidak bisa membaca emosi pada mata itu. Kamu menyadari bahwa ia sama sekali tidak mewakili perasaanmu. Kadang kala mata itu masih mempertahankan lengkungnya padahal kamu sudah berhenti tersenyum.

Secara keseluruhan, wajah baru itu jauh lebih baik dari wajah aslimu. Meskipun begitu, kamu sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri, sama seperti ketika kamu meminjam sepatu seseorang yang meskipun pas dan cocok, kamu sangat malu memakainya.

Sebagaimana sepatu itu, yang mula-mula hanya kamu pinjam, kamu berharap kelak akan terbiasa dengan wajah yang bukan wajahmu, lalu pelan-pelan melupakan wajahmu sendiri.

Dan yang terpenting bagimu adalah, wajah itu sudah memberi kemerdekaan, paling tidak dari rasa takut saat memandang wajah lamamu yang buruk. Ia juga telah menyelamatkanmu dari keterasingan dan persembunyian yang sunyi. Karena itu, sudah seharusnya kamu berterima kasih kepada dokter Voon untuk wajah baru itu.

*

Sebelum wajah baru itu:

Wajahmu selalu bersembunyi di balik masker dan kacamata hitam semenjak kebakaran yang melelehkannya juga separuh tubuhmu, karena ledakan di tambang tempatmu  bekerja pada sebuah Sabtu yang nahas.

Suatu hari dengan penampilan seperti seseorang yang punya penyakit menjijikkan, kamu berbelanja di toko serba ada. Mata setiap orang menatapmu. Anak-anak bersembunyi di balik tubuh ibu mereka, tetapi juga mengintipmu dari sana dengan gerakan hati-hati. Orang-orang dewasa lebih bisa menahan rasa takut, atau mungkin jijik. Mereka berpura-pura tidak melihat saat kalian berpapasan, tetapi beberapa langkah kemudian mereka akan berbalik menatapmu. Sekali dua kali kamu menangkap basah tingkah itu, mereka kikuk lalu seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Dengan begitu, kamu merasa telah dipisahkan dan berada pada jenis yang berbeda dari mereka, karena itu kamu menjadi takut pada setiap tatapan.

Saat orang-orang menghindar, seorang lelaki yang mengenakan mantel mendekatimu. Tubuhnya setinggi tubuhmu, sehingga kamu bisa menatapnya dengan baik, dan kamu tidak melihat gelagat yang menyiratkan rasa takut atau jijik. Lelaki itu bahkan menjabat tanganmu yang terbungkus sarung tangan kulit karena jari-jari yang tidak utuh dan saling menempel. Dari tangannya, ia selipkan sebuah kartu nama.

Saat itulah kamu mengenal dokter Voon.

*

Sebelum wajah baru itu:

Seseorang menyelinap masuk ke rumah Nona Yeselle, tetanggamu yang tinggal sendirian. Saat itu pukul 00.00 dan kamu belum tidur.

Dari jendela kamarmu, kamu melihat seseorang sedang mencekik Yeselle di kamar tidurnya. Yeselle meronta dan tampaknya ia berusaha melawan. Lampu kamar Yeselle belum padam sehingga kamu bisa melihat bayangan mereka dari balik jendela bertirai. Yang entah atas dorongan apa kamu tidak rela. Bisa jadi diam-diam kamu menyukai Yeselle, sebuah perasaan samar yang perlu kamu pastikan. Kendatipun begitu, dorongan yang muncul tidak bisa kamu tolak.

Rumahmu dan rumah Yeselle hanya dipisahkan pagar kayu yang bisa kaulompati dengan enteng, sehingga tidak butuh waktu lama untuk bisa menerobos masuk dan berhadapan dengan seorang laki-laki yang menutup wajahnya dengan sesuatu yang menyerupai topeng dari kain hitam yang hanya dilubangi pada bagian mata, hidung, dan mulut.

Menerjangnya dengan segenap tenaga yang kamu miliki, kamu bergulat dengan laki-laki itu di lantai. Yeselle keluar dan kamu tidak tahu apa yang selanjutnya ia lakukan.

Laki-laki itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya dan mengacungkan ke arahmu yang mulai pucat. Tidak ada pilihan untukmu kecuali kursi di samping tempat tidur yang segera kamu sambar lantas menghantamkannya ke arah laki-laki bertopeng itu. Ambruk dan bersimbah darah, ia tergeletak dalam keadaan tengkurap dan wajahnya menoleh ke kiri. Kamu pikir lelaki itu sudah mati, lalu kamu mencari Yeselle. Gadis itu ternyata sudah berdiri di belakangmu, tubuhnya gemetar, tangannya menggenggam gagang telepon, lalu dengan suara tergagap-gagap ia memberitahu bahwa ia baru saja menghubungi polisi.

Kembali ke kamar, kamu memeriksa lelaki itu, tetapi tubuhnya sudah tidak ada, yang kamu temukan hanya darah yang berceceran di lantai dan  jendela yang terbuka.

Polisi datang setelah peristiwa itu, mereka bertanya tentang wajah. Tetapi kamu dan Yeselle tidak bisa menggambarkan bagaimana wajahnya. Kamu menyadari bahwa wajah adalah identitas, semestinya kamu lucuti topengnya.

Menurut polisi, lelaki itu memiliki jari yang unik.

Lelaki itu dicurigai sebagai buronan polisi. Bertahun-tahun muncul di tempat berbeda untuk kejahatan yang sama, tetapi tujuan dari lelaki itu membunuh belum diketahui. Ia selalu meninggalkan pola serupa pada korban-korbannya, menyayat wajah mereka dengan pisau lipat hingga sulit dikenali.

Sejak malam itu, Yeselle selalu berbicara kepadamu dan membawakan makanan kecil buatnya. Ia berbicara hanya dengan memandang sepatu atau bahumu. Tidak sekali pun matanya singgah pada wajahmu. Lama-kelamaan kamulah yang lebih dulu menunduk setiap kali ia datang atau berpapasan dengannya.

*

Sebelum wajah baru itu:

Kamu berada di sebuah rumah sakit yang terletak di pinggiran kota, jauh dari pemukiman padat. Jika bukan karena  kartu nama yang kamu terima tempo hari, kamu tidak akan sampai di rumah sakit yang sepertinya kurang banyak diketahui orang.

Menurutmu rumah sakit itu sunyi. Tidak ada suara brankar didorong, atau seseorang yang histeris dan menangis untuk orang lain.

Dua atau tiga pasien duduk di kursi taman, wajah mereka bagai tersengat puluhan tawon. Kadang kala mereka saling bicara dengan lebih banyak gerakan tangan, tetapi lebih sering mereka diam, barangkali untuk menghemat tenaga.

Beberapa yang lewat dengan kursi roda didampingi perawat. Wajah mereka tidak ada bedanya dengan kepompong ulat sutera, putih dililit kasa. Sedikit bagian mata terbuka, dan segaris pada bagian mulut dan hidung.

Kamu pun duduk di kursi roda yang mirip dengan mereka, seorang perawat perempuan yang jarang bicara mendorongmu dari belakang menuju ruang bedah.

Malam sebelumnya di rumah sakit itu, kamu takut kehilangan dirimu yang meskipun telah meleleh masih bisa kamu rasakan sebagai dirimu, di menit berikutnya kamu juga mengharapkan wajah yang bisa diterima oleh orang-orang di sekitarmu.

Kamu melewati sebuah ruangan di sebelah ruang bedah. Di sana, seseorang sedang terbaring di atas brankar, wajahnya ditutupi kain hijau. Tangan kirinya menjuntai lemas dengan jari ke enam yang mencuat seperti duri randu di pangkal jempolnya. Kamu bertanya-tanya, apakah dia masih hidup?

Tiba di sebuah ruangan yang dingin dan sunyi, kamu dibaringkan dan melihat wajah dokter Voon yang kedua kali. Ia berkata padamu, “Kamu akan mendapatkan hidup yang ke dua” setelah itu suaranya menggema dalam kepalamu untuk beberapa saat lalu hilang bersama kesadaran yang kamu bawa ke tempat itu.

*

Setelah wajah baru itu:

Seorang pria muda yang rambutnya panjang dan dikuncir ke atas menodongkan senjata api di kepalamu. Kejadian itu tiba-tiba saja di sebuah bilik warung internet. Kamu bingung, ingin bertanya, tetapi tidak diizinkan untuk bicara saat itu.

Kamu sudah diawasi sejak lama, begitu yang ia katakan. Ia menyebut namamu, tetapi itu bukan namamu.

Di ruang interogasi, kamu dipaksa mengaku sebagai Silias. Tubuhmu babak belur, jari-jari tanganmu patah, empat gigi depanmu tanggal, mereka membuat rasa sakit sedemikian rupa agar kamu mengatakan sesuatu yang ingin mereka dengar.

Kamu bersumpah bahwa kamu adalah Orell, sejak lahir hingga saat ini, itu tidak pernah berubah.

Tetapi, sesuatu membuatmu terperanjat dan bagaimana pun juga kamu tidak bisa percaya bahwa sidik jarimu tidak dikenali sebagai Orell, tetapi sebagai Silias.

Mereka lalu mengatakan bahwa Silias akhirnya ditemukan.

Kamu benar-benar merasa telah dihapuskan dari dunia dan menjadi orang asing, seolah-olah kamu adalah mata tunas yang ditempelkan pada batang pohon yang tidak kamu ketahui lalu kamu kehilangan dirimu dan menjadi pohon itu. Lantas menit-menit selanjutnya kamu menyesali kartu nama dan ruang bedah rumah sakit.

Kamu bertanya pada dirimu dengan hati gemetar, jika wajah itu bukan milikmu, dan sidik jari itu juga bukan milikmu, lalu apa yang tersisa yang bisa disebut dirimu? ***

Makassar, 2026.

____________________

Diana Rustam. Menulis cerpen dan puisi. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerpen dan puisinya telah dimuat media daring. Media sosial Fb @Diana Rustam dan IG @dianarustam_

Cerpen

Wajah Murung Cut Nyak Meutia

Cerpen Sapta Arif

Ridho baru saja menonton konten video TikTok tentang curhatan seorang korban penipuan aplikasi exchange ketika Ayu mengatakan bahwa ia ingin mulai membeli kripto untuk investasi pendidikan anak mereka.

Lelaki itu menekan layar ponsel, menatap murung wajah istrinya. Dahinya berkerut. “Apa katamu?” tanyanya.

Ayu menunjukkan layar ponsel. Di layar aplikasi TikTok tampak wajah Timothy Ronald sedang memberikan edukasi finansial secara live streaming bersama rekannya. Mereka menyarankan pada seorang penelepon untuk mengamankan tabungan sepuluh juta dan mempersiapkan uang keperluan tiga bulan ke depan sebelum berinvestasi ke kripto. Ridho memandangi wajah istrinya, lalu tumpahan susu di lantai tak jauh dari kaki Ayu yang duduk selonjoran.

Ridho bangkit membuka laci meja, matanya sayu melihat tiga lembar uang bergambar Mohammad Hoesni Tamrin, dua lembar bergambar Frans Kaisiepo, selembar bergambar Ir. H. Djuanda Kertawidjaja, dan selembar Ir. Soekarno yang tersenyum padanya. Ridho hafal nama setiap pahlawan yang tercetak di setiap lembar uang. Tetapi, tentu saja yang paling ia perhatikan adalah wajah Cut Nyak Meutia yang murung. Wajah itu ia simpan dalam wadah khusus berukuran dua puluh kali lima belas senti berbahan plastik bening. Jumlahnya paling banyak. Ridho memperkirakan, mungkin hampir tiga puluh. Atau malah sudah lebih setelah subuh tadi ia kembali memasukkan tiga lembar.

“Kita masih punya kopi, Yu?”

Ridho beranjak ke teras, mendaratkan bokong ke kursi kayu, mengeluarkan sebatang rokok Nalami, dan menyulutnya. Mereka sudah menikah selama lima tahun dan memiliki seorang anak. Kursi kayu ini adalah satu-satunya tempat Ridho menghilangkan penat. Bukan karena rumah mereka terlampau kecil yang hanya berukuran enam kali enam dengan satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang tengah yang tidak seberapa. Melainkan, ia teringat kembali kalau hari ini sudah tanggal 15 bulan enam dan belum ada kabar royalti penjualan bukunya masuk di email.

“Ini kopi terakhir, Bang. Tinggal teh, gula pun sudah habis,” ucap Ayu sambil meletakkan cangkir kopi sepaket dengan lepek di atas meja mungil di samping kursi. Ridho mengambil cangkir lantas menghirup asap yang mengepul di atasnya sebelum menyeruput. Seperti biasanya, rasa kopi yang ampang. Ridho melirik wajah Ayu yang masih terpekur menatap wajahnya. Istrinya pasti menuang air sebelum mendidih, lagi dan lagi. Ridho pernah protes tetapi selalu berakhir dengan pertengkaran. Istrinya kerap mengungkit-ungkit dan menuduh jika Ridho lebih suka kopi buatan Yu Sumi, janda penjual kopi di pertigaan pasar Siman.

“Siska pernah bilang kalau kita punya tabungan lebih, ada baiknya mencoba investasi di kripto Bang. Banyak orang mendadak kaya dari situ,” ucap Ayu yang duduk di dingklik kayu sebelah pintu. “Abang ingat Siska, kan? Teman SMA-ku dulu. Awalnya, banyak yang kasihan padanya. Masih muda, sudah jadi janda. Suaminya kabur sama perempuan lain. Tapi, eh tapi, mujur benar nasibnya Bang. Ya… itu, dia nyoba di kripto. Pas reuni kemarin, dia bawa Brio merah.”

Ayu menoleh ke dalam rumah, memastikan anaknya masih terlelap. Lalu, menatap wajah suaminya lagi, “Awalnya hanya buat nabung, Bang. Katanya biar aman. Kemudian, ada temannya yang menyarankan untuk ikut apa namanya itu…” jari telunjuk Ayu mengetuk-ngetuk pipi kiri, “Rebonding! Eh, apa namanya, pokoknya ada ing-ing-nya… Langsung deh, dia jadi tajir melintir kayak sekarang.”

Ridho paham betul maksudnya trading. Tetapi, alih-alih menanggapinya, Ridho mengembuskan napas panjang, lalu berkata, “Kamu sudah cek email lagi? Sudah tengah bulan, belum ada kabar dari penerbit.”

Wajah Ayu mendadak masam. Tidak berselang lama, terdengar tangis bayi. Ayu gegas bangkit sambil berteriak, “Eh, Mira…”

Percakapan semacam ini tidak pernah selesai. Mereka akan beku meratapi nasib. Ridho memang penulis dengan banyak buku yang masih beredar di toko-toko buku besar. Tetapi, mengandalkan royalti penjualan buku yang dikirim enam bulan sekali bukan ide bagus untuk bertahan hidup. Ia sudah mulai mendaftar menjadi guru di beberapa sekolah. Sayang, usianya telanjur kepala empat. Sekolah-sekolah hari ini lebih menyukai guru-guru muda yang melek aplikasi edit konten video. Bukan sekadar mengedit tulisan seperti yang sering dilakukan Ridho untuk pekerjaan sambilan. Sementara Ayu, terlalu nyaman menjadi ibu rumah tangga yang saban hari tak pernah lepas dari aplikasi TikTok. Sambil berangan-angan menjadi konten kreator Facebook Pro seperti ibu rumah tangga kebanyakan yang kerap ia saksikan.

Masalah sebenarnya bukan tentang investasi kripto. Ridho sudah lama membayangkan bisa mengamankan tabungan menjadi kepingan-kepingan emas antam. Bahkan Ridho pernah nekat mencicil dengan membeli emas digital di aplikasi pegadaian. Belum terkumpul 1 gram, Ridho harus mencairkannya lagi menjadi uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Ia pun sadar kalau tidak bisa menggantungkan hidup dari tulisan. Bisnis ini telanjur mati suri sejak lama. Belum lagi, banyak muncul penulis muda yang dianggap membawa angin segar di dunia yang kering pendapatan ini. Ia tentu pernah membayangkan dan berupaya menulis seserius mungkin agar novelnya bisa mencapai label best seller seperti teman angkatan kuliahnya dulu. Tetapi, otaknya kadung beku untuk beralih gaya menulis. Dan terus terpaku menggarap hal-hal serius yang berat bagi kebanyakan orang.

Usaha untuk beralih ke gaya populer pernah nekat dilakoninya. Dua draft novel jadi, lalu dikirimkan keduanya sekaligus ke dua penerbit berbeda. Jawaban dari masing-masing penerbit hampir sama. Editor mengatakan gaya ini bukan kekhasan Ridho, apalagi tema yang diangkat terlalu remeh temeh. Mereka tak mau mengambil risiko bertaruh dengan pasar.

***

Ridho mengambil bungkus rokok, lalu meremasnya. Ia merogoh saku celana, dipandanganya tiga lembar uang: wajah Frans Kaisiepo, Ratulangi, dan Cut Nyak Meutia yang selalu murung. Bisa beli satu bungkus rokok, gula dan kopi, batinnya. Ridho masih memandang wajah Cut Nyak Meutia, membandingkan dengan wajah Frans Kaisiepo dan Ratulangi. Frans Kaisiepo bungkam tanpa senyum. Sedangkan Ratulangi bibirnya serasa dipaksa tersenyum. Tersentak oleh suatu hal, Ridho bangkit. Membuka laci mejanya. Dari sekian wajah yang tersemat di pecahan uang di laci, hanya wajah Soekarno dan Hatta yang terlihat tersenyum lepas.

“Sialan!” gumamnya. “Mereka masih terjajah, hanya Soekarno dan Hatta yang merasa merdeka.” Ridho tersenyum satir.

Dilihatnya kembali wajah Cut Nyak Meutia. “Macam mana nasibmu? Menikah tiga kali, suami pertama jadi pengecut, kedua mati, ah… kasihan. Bahkan setelah dianggap pahlawan wajahmu tetap murung terus.”

Ridho duduk, mengangkat selembar uang seribuan ke atas. Ia sandarkan punggungnya ke kursi hingga terangkat dua kaki depan kursi tersebut. Ridho menerawang uang dan menerawang isi pikirannya sendiri. “Bahkan, untuk memilih pahlawan yang menjadi ikon uang saja, negara kita sangat patriarkis! Cih!”

“Untung saja, saya memilih kamu dibanding pahlawan lain untuk sedekah subuh. Kau dapat pahala jariyah,” Ridho terkekeh sendiri.

Terlalu hanyut dalam pikirannya, Ridho tersentak oleh teriakan Ayu, “Bang!”

Ridho kaget hingga hilang keseimbangan. Tubuhnya tersungkur ke depan, hingga kepalanya membentur meja. Meja pun bergetar membuat segelas air putih tumpah membasahi tumpukan buku.

“Duh, Abang gimana si? Malah ngelamun!”

Tanpa mengatakan apapun, Ridho menyelamatkan buku-buku yang basah. Lalu mengelap meja dengan ujung bajunya.

Kesal tidak ditanggapi, sekaligus tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ayu menekan suaranya, “Bang! Ini lho…” sembari menggendong Mira, Ayu menunjukkan layar ponsel.

Ridho meraih ponsel dengan malas. Ia memandang pesan What’sApp dari Siska, lalu memandang wajah istrinya yang masam. Dua hal itu ia lakukan berkali-kali sampai istrinya heran dengan yang dilakukan suaminya.

“Bang! Kok diem aja! Itu lho, Siska mau pinjam uang?”

Ridho masih tercenung. Belum lama istrinya, ah, bahkan belum ada satu setengah jam yang lalu istrinya bercerita soal Siska yang tajir melintir, kini malah mau pinjam uang padanya. Pada keluarganya yang bahkan untuk beli kopi dan gula saja masih mempertimbangkan dua sampai tiga kali.

“Aku barusan tanya Fera, kasihan Bang, Si Siska ini. Fera cerita banyak, kalau Siska habis kena tipu aplikasi apa itu namanya…” Ayu merenung tidak sampai lima detik, lalu kembali berkata, “eceng-eceng atau apa gitu Bang.”

Aplikasi exchange, batin Ridho membenarkan. Tetapi, Ridho masih diam mematung melihat tingkah istrinya.

“Hanya satu juta Bang, katanya untuk bertahan hidup seminggu. Sambil nanti dia ngurus ke polisi atau ke mana gitu.”

Ridho mengerutkan dahi, berupaya menerjemahkan perkataan istrinya. Ia ingat Fera. Tiga orang ini memang berteman karib saat SMA. Tetapi, Ridho menganggap persahabatan mereka sama sekali tidak menguntungkan bagi keluarganya. Baik Fera maupun Siska lebih suka mengumbar kekayaan. Entah di media sosial atau bahkan ketika mereka bertiga bertemu. Apalagi, saat reuni terakhir. Siska bawa Brio merah, sedangkan Fera bawa Honda Jazz putih lengkap dengan suaminya yang diperkirakan sepuluh tahun lebih tua darinya.

Tidak berselang lama, Ridho membuka laci dan mengeluarkan wadah plastik berwarna bening. Ayu paham betul wadah itu berisi uang seribuan yang entah berjumlah berapa.

“Nah! Kan! Akhirnya, kau bisa membantu, Mutia.” Ridho memberikan wadah itu pada Ayu sambil terkekeh. “Berikan saja ini pada Siska ya!”

Ridho berlalu meninggalkan istrinya yang diam mematung. Tangan kanannya menggendong Mira, sedangkan tangan kirinya memegang wadah plastik itu. Ayu melihat suaminya berjalan keluar.

Tidak lama kemudian, Ridho melongokkan kepala dari muka pintu, “Oh ya! Jangan lupa sampaikan pada Siska, ngga perlu ngutang! Katakan saja, itu sedekah subuh kita!”***

Ponorogo, Oktober-Desember 2025

____________________

Sapta Arif. Menulis cerita pendek dan puisi. Buku terbarunya, kumpulan cerita Tanah Hayat dan Cinta Martina (JBS, 2026). Kenali lebih hangat melalui IG:@saptaarif.