Cerpen

Gerbong Kematian

Cerpen Khairul A. El Maliky

Siang itu matahari berdiri tepat di atas kepala, Panas menggantung di udara desa, menyelinap ke sela-sela dinding bambu, ke punggung-punggung ibu yang membungkuk di dapur rumah Bu Sarkiyem. Hajatan akan dimulai selepas zuhur. Dandang besar mengepulkan uap, pisau beradu dengan talenan, dan tawa kecil bercampur gosip mengalir seperti kuah santan yang belum mendidih sempurna.

Tak ada yang menyangka siang itu akan mengunci desa ke dalam ingatan paling kelam.

Sulastri—bunga desa itu—seharusnya sedang bersolek. Ia dikenal cantik, kulitnya kuning matang seperti padi yang siap dipanen, tubuhnya berisi, senyumnya sering membuat pemuda lupa jalan pulang. Ia anak baik-baik, kata orang. Rajin membantu ibunya, jarang keluar malam, dan bila berjalan selalu menunduk seperti menyembunyikan cahaya. Tapi siang itu, ia tak ada di antara ibu-ibu yang mondar-mandir. Tak ada pula di beranda yang ramai. Seolah ia sudah lebih dulu pergi, menjemput takdirnya sendiri.

Jeritan pertama pecah seperti piring terjatuh.

“Ya Allah!”

Ibu-ibu berhenti. Wajan tergantung di udara. Di atas lincak bambu, tergeletak sesuatu yang tak seharusnya ada: sepotong lengan manusia, basah oleh darah, jari-jarinya bergerak seperti masih mencari tubuhnya. Detik berikutnya, sepotong kaki mencelat, terhempas, bergerak sebentar lalu diam. Dapur berubah menjadi kubangan ngeri. Di teras, kepala seorang gadis dengan mata melotot menghadap langit—mulutnya terbuka seolah hendak berteriak lagi—membuat Bu Sarkiyem menjerit panjang lalu roboh pingsan.

***

Waktu berhenti. Lalu berlari liar.

Bapak-bapak yang semula memotong daging di halaman depan berhamburan. Ada yang muntah, ada yang gemetar, ada yang terdiam seperti patung tanah liat. Barulah mereka sadar: rel kereta api itu dekat. Terlalu dekat. Di sanalah, beberapa menit lalu, Sulastri berjalan di tengah rel seperti orang linglung, meniti besi panas tanpa tujuan.

Klakson kereta dari arah selatan melengking panjang, suara yang biasanya hanya membuat anak-anak menutup telinga kini berubah jadi terompet kematian. Orang-orang berteriak memanggil namanya. “Lastri! Minggir, Lastri!” Tapi gadis itu tak menoleh.

Tatapannya kosong, seperti telah ditinggal penghuninya. Dan ketika ular besi itu melaju tanpa ampun, tubuh Sulastri disambar, dihempas, dipatahkan menjadi potongan-potongan, disebar ke dapur, teras, halaman—ke kehidupan orang-orang yang tak siap menerima kenyataan.

Warga berhamburan mengumpulkan puing-puing itu dengan tangan gemetar dan doa yang patah-patah.

Kompol Sukma datang sore itu.

Seragamnya rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kehati-hatian seorang yang tahu: kematian selalu menyisakan teka-teki. Ia meminta warga berkumpul, satu per satu memberi keterangan. Pak Muklis, lelaki setengah baya yang dikenal dekat dengan Sulastri, maju lebih dulu.

“Gadis itu baik, Bu Kompol,” katanya lirih. “Tak pernah bikin malu keluarga. Pemuda kampung banyak yang naksir.”

“Apakah ada yang mendekatinya secara khusus?” tanya Kompol Sukma.

Pak Muklis ragu sejenak. “Ada… Joni.”

Nama itu seperti batu jatuh ke kolam. Joni dikenal berandalan, anak orang kaya. Sudah beristri dua. Meski begitu, kabarnya ia masih sering bersikap gatal, menggoda Sulastri dengan kata-kata yang tak pantas.

Pernah mengajak melakukan perbuatan mesum, kata orang. Sulastri menolak.

Kompol Sukma mencatat. Ia menemui Mel dan Dila, dua istri Joni. Keduanya berkata serempak: Joni sedang bekerja di Surabaya. Alibi yang rapi, terlalu rapi. Kompol Sukma mencium sesuatu yang ganjil, tetapi polisi lain mengingatkan: kecurigaan bukan bukti.

***

Pemakaman berlangsung sunyi. Tanah merah menutup potongan tubuh yang disatukan seadanya. Di sela doa, Pak Muklis bertanya kepada Kiai Komar, tokoh agama yang disegani desa.

“Apakah orang yang bunuh diri bisa masuk surga, Kiai?”

Kiai Komar terdiam. Ia yang biasanya lantang di mimbar, tiba-tiba kehabisan kata. “Selama ini,” ujarnya pelan, “saya hanya membaca apa yang ditulis di buku.”

Jawaban itu bergaung lebih keras dari takbir. Sejak hari itu, warga mulai memandang Kiai Komar dengan mata berbeda. Pidato-pidato yang dulu menggetarkan kini terasa kosong. Ilmu yang dibaca tanpa bukti hidup.

Kompol Sukma tak berhenti. Ia memerintahkan pencarian Joni. Dugaan sementara: Sulastri dirudapaksa, trauma membuatnya linglung. Joni akhirnya tertangkap. Di ruang pemeriksaan, ia duduk dengan tangan terborgol, wajahnya pucat namun matanya tajam.

“Saya tidak merudapaksa Sulastri,” katanya. “Sejahat-jahatnya saya, Bu Kompol, saya masih punya nurani dan akal. Allah menganugerahi akal untuk berpikir. Saya tahu akibatnya. Penjara menanti. Dan saya tidak mau.”

Kalimat itu menancap. Kompol Sukma merasakan sesuatu yang jarang ia akui: tersentuh. Ia melihat banyak penjahat, tetapi jarang mendengar pengakuan yang dibungkus kesadaran diri. Jika bukan Joni, lalu siapa?

***

Hari-hari berikutnya, Kompol Sukma seperti berjalan di lorong gelap. Hingga suatu sore, di warung kopi, ia mendengar obrolan dua pemuda.

“Menurutmu, surga dan neraka itu ada?” tanya yang satu.

“Entahlah,” jawab lainnya. “Kiai Komar sering bilang begitu. Tapi… lihatlah.”

Nama itu lagi. Kiai Komar. Kompol Sukma menyimak. Obrolan bergeser ke cerita lama: Kiai Komar bukan hanya penceramah. Ia dikenal sebagai ahli spiritual, penyembuh penyakit gaib. Salah satu keluarga Sulastri bercerita—dengan suara ditahan—bahwa Sulastri pernah kena guna-guna. Dibawalah ia ke Kiai Komar. Ia masuk kamar untuk “pengobatan”. Keluar dari sana, Sulastri berubah. Linglung. Menangis tanpa sebab. Membenturkan kepala ke tembok. Bicara sendiri. Hingga akhirnya meniti rel, menjemput kematian.

Potongan-potongan itu menyatu.

Kompol Sukma meminta autopsi. Keluarga menolak. Jenazah sudah dimakamkan. Tapi demi kebenaran, mereka setuju. Hasil forensik dingin dan kejam: ditemukan cairan sperma. Kesimpulan klinis tanpa emosi, namun memekakkan telinga.

Kecurigaan berubah menjadi keyakinan.

Kiai Komar dipanggil. Di hadapan Kompol Sukma, ia tak lagi tampak seperti singa mimbar. Suaranya bergetar. Ia bicara tentang niat baik, tentang doa, tentang ujian iman. Tapi fakta berdiri seperti dinding. Tak bisa ditembus retorika.

Desa berguncang. Orang-orang teringat diamnya Kiai Komar di pemakaman. Terngiang kalimat: membaca tanpa bukti. Mereka merasa dikhianati—bukan hanya oleh seorang manusia, tapi oleh kepercayaan yang mereka bangun bertahun-tahun.

***

Gerbong kematian itu bukan hanya kereta yang menabrak Sulastri. Ia adalah rangkaian peristiwa yang membawa rahasia, dosa, dan kemunafikan, melaju tanpa rem, menghantam siapa saja yang berdiri di jalurnya.

Kompol Sukma menatap rel yang kini sunyi. Besi itu dingin, tak bersalah. Manusia-lah yang sering memilih berjalan di atasnya, memejamkan mata, berharap takdir akan menyingkir. Tapi takdir, seperti kereta, hanya tahu satu arah.

Di ujung senja, desa kembali beraktivitas. Ibu-ibu memasak. Bapak-bapak bekerja. Hidup berjalan, seperti biasa. Namun sejak Sulastri, tak ada lagi bunga yang mekar tanpa bayangan. Dan setiap klakson kereta, selalu mengingatkan: kebenaran mungkin terlambat, tetapi ia akan tiba—dengan atau tanpa kita siap.[]

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.

Buku, Resensi

Bagaimana Siasat Bekerja

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Siasat Perempuan Menjelang Malam

Penulis : Titi Setiyoningsih

Penerbit : Sirus Media

Cetakan : Maret 2025

Halaman : viii+81hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-540-599-5

Siasat Perempuan Menjelang Malam karya Titi Setiyoningsih yang diterbitkan Sirus Media ini adalah buku berisi sekumpulan bisikan yang mengganggu ketenangan. Selain itu, jika siang identik kepastian, maka menjelang malam dalam buku ini seperti waktu di mana keputusan-keputusan paling jujur diambil, tapi dengan cara paling tidak jujur. Di sinilah perempuan-perempuan hidup di wilayah abu-abu antara bertahan dan menyerang.

Dalam cerpen “Raksasa Timun Mas dari Eropa”. Ini bukan sekadar cerita cinta antar saudara. Ini tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima logika yang tak masuk akal, bahwa wajah sama bisa mengganti cinta yang sama. Ironisnya, yang paling waras dalam cerita itu justru keputusan paling gila untuk menjadi raksasa. Kadang, menjadi jahat adalah cara untuk tetap punya kendali.

Bukankah ini sangat Indonesia? Kita sering diajari ikhlas, tapi dipaksa menelan pengkhianatan yang bahkan tak diberi ruang untuk sedih. Kita diajari menerima, tapi lupa bahwa menerima tanpa marah adalah bentuk lain dari kalah.

Lalu “Percakapan Ibu Menteri”. Jika cerpen ini dibaca santai terasa seperti obrolan biasa. Tapi kalau dipikir lebih lama, menjadi pengganggu. Perempuan di sini memang bukan korban, melainkan pengatur. Dalang yang bekerja dari balik layar. Kalimat seperti “kami para istri” bukan sekadar dialog tapi pengakuan terlalu jujur. Titi seolah sedang bilang bahwa kekuasaan tidak selalu duduk di kursi, kadang ia berdiri di belakangnya, tersenyum, sambil main tunjuk. Dan yang paling menyebalkan, ini terasa realistis. Sangat dekat dengan kabar dan kejadian di sekitar kita. bahkan mungkin kita sendiri juga melakukannya.

Kita hidup di masyarakat yang suka pura-pura kaget pada skandal, padahal diam-diam menikmati drama. Kita mencibir politisi, tapi tetap klik beritanya. Kita mengutuk permainan kuasa, tapi tidak menolak sistem yang membuatnya terus hidup. Cerita ini tidak menghakimi, hanya membuka tirai. Dan rupanya yang kita lihat di belakang tidak jauh beda dari yang kita duga, hanya lebih halus dan dingin.

Berbeda lagi dengan “Pengukuhan Profesor Muda”. Cerita ini tampak intelektual di permukaan, tapi sesungguhnya sangat intern dan intim. Tentang pidato besar soal feminisme ternyata tidak mampu menyentuh hal paling sederhana, yaitu membagi kerja di rumah. Ada sinisme di sini. Seakan Titi ingin berkata, “Teori murah. Praktiklah yang mahal.” Dan memang di negeri ini, bicara soal kesetaraan sering kali lebih mudah daripada mencuci piring.

Konfliknya tidak meledak tapi justru terasa lebih menonjok. Kita tidak diberi kisah besar, hanya diberi gangguan tetapi tidak bisa diabaikan. Bahwa sering kali, ketidakadilan tidak hanya hadir sebagai kekerasan.

Lalu “Lelaki dan Mainan Favoritnya”. Secara sekilas dan harfiah cerpen ini membuat kita marah. Tapi jika direnungkan lebih khusyuk, justru membuat kita diam. Kenapa orang bertahan dalam hubungan yang jelas menyakitkan? Jawaban klise: cinta. Jawaban lebih jujur: karena luka lama lebih menakutkan daripada luka baru.

Cerpen ini seperti cubitan. Tidak menyalahkan korban, tapi tidak juga memanjakan. Ia menunjukkan bahwa kadang manusia tidak mencari bahagia, tapi mencari sesuatu yang sudah akrab, meski menyakitkan. Kita sering setia pada derita yang kita kenal, daripada bahagia yang kita belum paham.

Di sisi lain, “Pelangi Tak Berwarna” menghadirkan luka dengan cara sunyi. Ceritanya tidak berisik, tapi menusuk. Tentang pengorbanan yang tidak pernah diceritakan, tentang cinta yang baru dipahami ketika sudah terlambat. Seperti pengingat, di balik narasi kerja keras demi keluarga, ada cerita yang sengaja disembunyikan. Kita suka cerita sukses, tapi jarang mau dengar harganya. Dan ketika harga itu terungkap, kita hanya membisu karena tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Kumpulan cerpen ini seperti mosaik, tiap kisahnya seperti berdiri sendiri, tapi  membentuk pola jelas. Perempuan-perempuan di sini bukan sekadar karakter. Mereka representasi dari berbagai cara bertahan dalam dunia yang tidak selalu adil. Ada yang melawan, menyesuaikan, pura-pura tidak tahu, memilih luka daripada kehilangan, dan yang menarik tidak ada hero.

Judul Siasat Perempuan Menjelang Malam terasa tepat karena tidak merujuk pada satu cerita. Ia seperti payung yang menaungi. Siasat di sini bukan licik, tapi lebih ke strategi bertahan. Cara-cara kecil, kadang absurd, kadang menyakitkan, yang dilakukan untuk tetap hidup secara emosi maupun sosial. Ini semacam gambaran bagaimana siasat bekerja.

Sementara, Menjelang Malam, memberi kesan semua itu terjadi di momen genting. Di titik di mana pilihan harus dibuat. Yang membuat buku ini menarik bukan hanya ceritanya, tapi keberaniannya untuk menyerahkan jawabannya kepada pembaca. Namun sesungguhnya hidup ini memang bukan tentang menemukan jawaban. Tapi tentang bagaimana kita berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan. Buku ini mungkin tidak membuat kita merasa lebih baik, tapi ia membuat kita lebih sadar. Buku ini seperti cermin yang tidak bisa pecah, dengan agak licik memaksa kita berkaca. Kita bisa menolak melihat, tapi bayangan tetap ada. Jika semakin lama kita menatap, semakin sulit menyangkal bahwa wajah kita tidak jauh beda dari tokoh-tokohnya.***

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Katalog

Retak yang Berulang

Tidak semua telinga mau mendengar, tidak semua rasa kasih mengasihani kesedihan. Maka tulisan mampu membicarakannya, tulisan mampu mengobati sakit, membuka trauma dan menerima luka.

Penulis: Silfianey Banang

Cetakan: Pertama, Tahun 2026

Penerbit Nomina Ide Karya

45 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Buku, Resensi

Alangkah Sukarnya Menjadi Presiden Indonesia!

Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri

Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman

Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif

Penerbit: IRCiSoD

Tahun: 2019

Isi: 432 hlm.

Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:

Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.

Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.

Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.

Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.

Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?

Belajar dari Sejarah

Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.

Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.

Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).

Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?

Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.

Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!

Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.

Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.

Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?

Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.

Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.

Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!

Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.

Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]

____________________

Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju

Puisi

Puisi Dewis Pramanas

MENETAP PADA IMPIAN YANG SAMA

gumpalan rindu

bersarang di dinding ingatan

melekat bagian palung hati

mengalirkan doa-doa mesra

tentang merajut mahligai

sekian lama sendiri

berpacu dengan upaya

meraih pundi-pundi masa depan

membaca peluang tuk kembali

menjemput kasih yang belum usai

dari celah-celah percakapan

ada percikan asa yang mengudara

biarlah masa lalu

menjadi musim semi yang gigil

lalu kita bersenandung kenang

aroma parfum itu

dan berjajar lampu kota

kita disuguhi pesona renjana

menetap pada impian yang sama

tuk menua bersama

di altar paling bahagia

Subang, 17 Februari 2026

____________________

ANALOGI MUSIM

Sebagian kemarau hilang

Terkikis oleh hujan

Ia mendinginkan gersang ambisi

Yang menguasai isi kepala

Hingga berhamburan angkuh

Tetesan air dari sisa gerimis

Mengajarkan kelembutan jiwa

Bahwa tak ada yang menenangkan

Selain mendengar suara gemercik

Dijatuhkannya percik-percik paling perdu

Kemarau hanyalah anomali bumi

Namun panasnya mampu melalap syukur

Disana ia menjadi antagonis yang ulung

Tetapi semua akan berakhir

Setelah hujan mencuci kaki-kaki langit

Sepanjang jarak waktu

Keseimbangan semesta

Fotret perhitungan yang cermat

Kemarau dan hujan

Seperti dua mata pisau

Menjaga kewarasan manusia

Subang, 21 Februari 2026

____________________

LAGI-LAGI MAAFKAN AKU!

Pada sepasang bola mata yang basah

Tersimpan kilau mutiara kasih

Waktu menjadi saksi penerimaan

Duniamu berputar terbalik

Maafkan aku!

Pada wajah setiap pagi tersenyum

Setiap aku membuka mata

Tangan dan kaki tanpa alas

Menerbangkan ribuan harapan

Meski lara kau pikul di punggung itu

Maafkan aku!

Pada nada lisanmu nan merdu

Kau mengajarkan indahnya saling

Juga tentang hati selembut kapas

Menerjemahkan cinta tanpa tapi

Terus bertahan lewati nasib

Yang tak manusiawi

Maafkan aku!

Teruntuk pemilik hati ini

Kini jiwaku seperti rumput

Perlahan-lahan kering

Terjemur terik matahari

Lagi-lagi maafkan aku!

Subang, 11 April 2026

____________________

HINGGA TUTUP USIA

di rinai hujan

kau menjamah sketsa proses

menembus dinding waktu

semua tentang bulir tragedi

juga tentang juang

pada usia kita yang senja

titik pencapaian telah diraih

kau tetap menabur peduli

tak membedakan status

dirangkul dengan hangat

membuka rangkaian album

bergejolak dinamika hidup

aku yang masih papa hari ini

tak sedikit pun kau menjauh

dari perjalanan panjang

kita tetap

hujan kali ini

memberi kabar

menyesakkan dada

kau berpulang

meninggalkan harap

yang tak sempat terwujud

Subang, 2 September 2025

____________________

PENERIMAAN TINGKAT TINGGI

Takbir berkumandang

Tangis haru mengudara

Setelah sekian lama terpisah

Menjelajahi jalan kemapanan

Teruntuk keluarga

Kau membuka bahagia

Tentang pertemuan itu

Tanda maaf terpasang di dinding hati

Segenap rindu tumpah ruah

Suka cita merayakan mahabah

Hari raya saat ini

Aku bisa tersenyum

Menjadikannya pernik-pernik elegi

Berganti puisi-puisi tentang cinta

Sambut hari kedepan

Genggam kuat tiket optimis

Terima ketetapan Tuhan  

Ialah cara bagaimana belajar menerima

Tingkat tinggi

Subang, 23 Maret 2026

____________________

Dewis Pramanas. Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati. Instagram: @dewispramanas

Puisi

Puisi Eko Setyawan

ENTITAS

apakah malaikat memiliki sayap?

dalam segala yang semu

pertanyaan di kepala sering kali menggebu.

ia perlu jawaban

tapi kadang, jawaban akan semakin memusingkan.

dan juga menjelma pertanyaan liyan.

di dunia kita,

sejak lama orang-orang memercayai

ia terlahir dari cahaya.

tanpa pernah mampu terlihat oleh mata manusia.

tapi bagaimana cara mengenali

tanpa melihat yang hakiki?

kita ada di batas pengetahuan.

di dunia yang gelap

malaikat menjelma cahaya

tanpa mampu diketahui wujudnya.

di hidup yang terang

barangkali telah menjadi badai,

menerjang gelombang, dan memecah sunyi sepi.

dan selalu begitu, sepanjang waktu.

lalu ke mana Jibril selepas menyampaikan wahyu?

(Surakarta, 2025)

____________________

DARMA

sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?

seperti Budha tidur

aku terlelap di antara sunyi dan sepi.

kucoba mengenali nama-nama hari.

sejak aku beranjak pergi bekerja

sungguh, aku tak mampu mengenali sesiapa.

pencarian

adalah jalan lain menemukan

meski sering kali tanpa akhir.

sebab mencari dan menemukan

sama halnya menafsir ketiadaan.

ketika matahari mekar

cahayanya tak mampu dikenal

tapi dapat dipahami.

sebab di sana, kita akhirnya menemukan diri sendiri.

mencari diri

menemukan yang hilang dan membangunnya kembali.

lalu kita kembali lagi bertanya

sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?

(Sukoharjo, 2025)

____________________

HAWIAH

berdosakah aku

jika aku sejenak melupakan-Mu?

dalam ragu, kadang,

kepalaku melahirkan tanda tanya

mungkin juga memikirkan dosa.

di sana muncul pertanyaan

yang sejauh ini tak mampu mendapat jawaban.

sungguhkah neraka itu ada?

aku mencari jalan dan jawaban

tapi tersesat dan terjerembab

kian dalam dan kelam.

aku di antara percaya dan melupakan

percaya apa yang diimani

tapi amnesia mengamini

lupa bahwa seharusnya

aku sepenuhnya milik-Mu

bukankah begitu?

aku ragu.

sebab sejauh ini

belum lagi kudengar jawaban dari-Mu.

(Surakarta, 2025)

____________________

ALEGORI IBRAHIM

dalam mimpi yang dingin, dalam lelap tidurnya

Ibrahim mendapatkan kunjungan, entah siapa.

ia gugu dan ragu. dalam mimpi itu,

ia menerima bisik semu.

: sesuatu perlu dikorbankan.

sebab sejak dulu,

garis takdir telah ditentukan.

kita membayangkan, kala itu,

barangkali Ibrahim dipenuhi gelisah dan resah.

ia tercenung dan merenung.

dirinya di antara kalah dan pasrah.

bahkan mungkin juga heran dan penasaran

: sesungguhnya aku ini Ibrahim, Abraham, atau Brahma?

lalu dunia berputar kian cepat.

serupa bianglala, ia di antara

ketinggian dan kegamangan.

tapi Tuhan telah memutuskan.

sejak itu, ditahbiskanlah sebuah firman

dan barangkali, ia menjelma iman.

pada dalamnya keraguan,

ia masih saja mempertanyakan:

: sesungguhnya, leher ini kupersembahkan untuk siapa?

sunyi menghinggapi.

di antara ragu dan pilu.

Ibrahim mantapkan laku

: dalam tubuhku mengalirkan-Mu.

dalam aku, sepenuhnya milik-Mu.

ia tahu, seorang ayah, harus bertanggung jawab.

meski tak semua orang tahu

matanya sembab.

(Surakarta, 2025)

____________________

ALKISAH

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Sukoharjo, 2025)

____________________

Eko Setyawan. Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Guru SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Buku puisi yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Mengunjungi Janabijana (2020), Manten (2022), & Suatu Ketika Kita akan Dewasa (2023). Buku Mengunjungi Janabijana meraih penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021 Kategori Buku Puisi Terbaik. Meraih penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta tahun 2018, serta memenangkan berbagai lomba penulisan puisi dan cerpen.

Cerpen

Negeri Tanpa Bayang-Bayang

Cerpen Rasyid Yudhistira

Di kota ini, cahaya adalah tuhan yang bengis dan lampu-lampu merkuri adalah nabi yang tidak pernah tidur. Mereka melarang bayangan karena dianggap sebagai lubang hitam dalam kesetiaan, sebuah ruang gelap di mana pengkhianatan bisa tumbuh subur tanpa terdeteksi radar keamanan. Setiap orang dipaksa berdiri di bawah pijar dua puluh empat jam, hingga mereka menjadi makhluk-makhluk transparan yang kehilangan kedalaman. Namun, di sebuah sudut gang yang luput dari sorot lampu patroli, aku melihat lelaki bisu itu—si penjahit ingatan—sedang menekuni pekerjaannya dengan khusyuk. Jemarinya yang kasar memegang jarum perak, menusuk kulit-kulit pucat para korban yang telah kehilangan nama, menyatukannya dengan robekan senja yang ia curi dari ufuk terjauh, sebuah perlawanan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh aroma melati dan anyir darah yang mulai menguap ke langit.

Metropolis ini bernama Lux-Aeterna. Sebuah nama yang terdengar seperti janji surga, namun bagi mereka yang merindukan kantuk, ia adalah neraka yang benderang. Di bawah rezim yang memuja kejernihan mutlak, kegelapan adalah musuh negara nomor satu. Undang-Undang Anti-Kegelapan telah menghapus malam dari kalender. Matahari memang terbenam, tetapi ribuan megawatt lampu sorot segera menggantikannya, memastikan tidak ada satu senti pun tanah yang tidak terjamah sinar. Akibatnya, manusia-manusia di Lux-Aeterna kehilangan bayangan mereka sendiri. Mereka berjalan seperti hantu-hantu yang dipaksa eksis, rata dan tanpa dimensi, seolah-olah mereka hanyalah gambar di atas kertas yang disorot lampu dari segala arah.

Saksia adalah bagian dari mesin besar ini, setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia bekerja di gudang tekstil negara, melipat kain-kain putih seragam yang akan dikenakan oleh seluruh penduduk agar pantulan cahaya semakin maksimal. Saksia adalah seorang saksi mata yang bisu—bukan karena ia lahir tanpa suara, melainkan karena ia telah memutuskan bahwa di dunia yang bising oleh dengung trafo listrik, kata-kata hanyalah sampah yang mengotori kesunyian. Namun, di balik bisunya, ia memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih berbahaya ia adalah seorang Penyelundup Senja.

Semuanya bermula ketika suatu malam, saat ia baru saja menutup bengkel rahasianya di ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca, ia menemukan sesosok tubuh. Tubuh itu tergeletak tepat di depan pintu, seperti sebuah paket kiriman maut. Itu adalah tubuh seorang aktivis, seseorang yang pernah berteriak tentang hak-hak atas kegelapan di alun-alun kota sebelum akhirnya dihilangkan oleh Brigade Cahaya.

Tubuh itu mengenaskan. Ia kosong. Bukan hanya nyawanya yang hilang, tapi identitasnya telah dikuras habis. Kulitnya sepucat kertas kalkir, tanpa bekas luka, tanpa tahi lalat, dan yang paling mengerikan tanpa bayangan. Rezim telah menggunakan teknologi radiasi untuk menghapus jejak eksistensialnya. Ia hanyalah seonggok daging tanpa narasi, menunggu untuk dilupakan oleh sejarah yang ditulis dengan tinta cahaya. Saksia menatap mata mayat itu yang terbuka lebar, memantulkan pijar lampu merkuri dari langit-langit gang. Di sana, Saksia tidak melihat kematian, ia melihat sebuah penghinaan terhadap martabat manusia.

Saksia memutuskan untuk pergi. Ia harus melakukan perjalanan ke perbatasan terjauh kota, sebuah wilayah yang disebut Zona Hitam, satu-satunya tempat di mana geografi masih mengizinkan matahari untuk terbenam secara alami tanpa intervensi lampu-lampu raksasa. Wilayah itu adalah tanah terlarang, dipagari kawat berduri dan dijaga oleh menara-menara pengawas yang siap memuntahkan peluru cahaya pada siapa pun yang mendekat.

Dengan mengendap-endap seperti seekor kucing yang mencari lubang tikus, Saksia menembus perimeter. Di sana, ia menyaksikan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh penduduk Lux-Aeterna Senja. Ia melihat bagaimana langit berdarah oleh warna jingga, bagaimana ungu tua perlahan menelan cakrawala, dan bagaimana emas tembaga menyelinap di antara awan-awan.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan gunting karatannya. Ini bukan gunting biasa; ini adalah alat yang ia temukan di reruntuhan museum sejarah, sebuah benda yang konon pernah digunakan untuk memotong tali pusar pahlawan-pahlawan masa lalu. Saksia mulai bekerja. Ia menggunting potongan-potongan warna dari langit yang sedang sekarat itu. Ia menggunting warna jingga yang hangat, ungu yang melankolis, dan merah tembaga yang penuh amarah. Ia memasukkan potongan-potongan langit itu ke dalam sebuah kantong kulit kedap cahaya.

Tiba-tiba, suara sirene membelah kesunyian. Sorot lampu dari menara pengawas menyapu padang ilalang. Brigade Cahaya telah mendeteksi anomali pada spektrum warna di wilayah itu. Saksia segera merangkak, membenamkan dirinya ke dalam gorong-gorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam sana, di tempat yang tidak pernah mengenal matahari, ia merasakan ketakutan yang murni. Beton itu berbau lumut dan kencing, tapi baginya, itu adalah tempat yang paling jujur di seluruh kota. Ia mendekap kantong berisi potongan senja itu di dadanya, merasakan kehangatan yang sisa-sisa dari matahari yang asli.

Kembali ke ruang bawah tanahnya, ritual itu pun dimulai.

Saksia meletakkan tubuh aktivis itu di atas meja kayu. Ia menyalakan sebatang lilin kecil—satu-satunya sumber cahaya yang ilegal namun jujur. Ia mengambil jarum peraknya. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, ia mulai menjahit potongan-potongan senja yang ia curi ke dalam pori-pori kulit sang korban.

Tusukan pertama jarum itu membawa kembali sebuah memori suara tawa seorang anak kecil yang sedang mengejar layang-layang di sore hari. Saksia merasakannya merayap di ujung jarinya. Tusukan kedua membangkitkan aroma kopi yang diseduh di dapur pada hari Minggu yang malas. Tusukan ketiga, sebuah kecupan perpisahan di stasiun kereta yang basah. Setiap jahitan adalah upaya memulihkan identitas yang telah dirampas. Kulit yang tadinya pucat dan transparan mulai terisi oleh warna-warna senja yang dalam.

Ini adalah proses yang menyakitkan. Tubuh mayat itu tampak bergetar, seolah-olah sel-selnya menolak untuk kembali menjadi nyata setelah sekian lama dianggap tiada. Namun Saksia tidak berhenti. Ia menjahit nama yang hilang ke dalam nadi, ia menyulam kenangan ke dalam otot.

Keajaiban pun terjadi. Saat jahitan terakhir selesai, tubuh itu tidak lagi menjadi mayat yang kaku. Alih-alih membusuk, tubuh itu perlahan-lahan mulai berpendar dengan warna ungu yang lembut, lalu menguap. Ya, menguap menjadi rintik-rintik hujan.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Lux-Aeterna diguyur hujan. Tapi itu bukan hujan air biasa. Itu adalah hujan lokal yang hanya jatuh di sekitar gang-gang sempit, dan aromanya bukan aroma tanah kering, melainkan aroma melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun puitis.

Orang-orang di kota mulai terbangun. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka yang benderang, menatap langit dengan bingung. Mereka menyentuh rintik hujan itu, dan mereka yang tersentuh tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Sebuah harapan, yang selama ini terkubur di bawah tumpukan propaganda, mulai tumbuh seperti kecambah di antara retakan aspal. Bisik-bisik mulai menjalar Ada seseorang yang sedang mengembalikan ingatan kita.

Namun, penguasa tidak tinggal diam. Bagi rezim, hujan beraroma melati adalah bentuk pembangkangan sipil yang paling berbahaya. Hujan itu tidak logis. Hujan itu subversif. Mereka segera memperketat pengawasan. Brigade Cahaya dikerahkan dengan kekuatan penuh, membawa lampu-lampu sorot portabel yang mampu membakar kulit.

Saksia tahu waktunya hampir habis. Ia kembali ke mejanya, dan kali ini, ia menemukan tubuh yang berbeda. Tubuh itu masih hangat. Saat ia membersihkan wajah tubuh itu dari debu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajahnya sendiri—atau mungkin bukan dirinya, melainkan bayangan dirinya di masa lalu, atau mungkin kekasih yang telah lama ia lupakan namanya. Di dunia ini, perbedaan antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur saat semua orang dipaksa menjadi sama.

Tiba-tiba, pintu gudangnya didobrak.

Jangan bergerak! Matikan kegelapan itu! teriak seorang komandan Brigade Cahaya.

Lampu-lampu sorot raksasa diarahkan ke arah Saksia. Cahaya putih yang steril dan membutakan menerjang setiap sudut ruangan, menghancurkan sisa-sisa warna senja yang ia simpan dalam botol-botol kaca. Saksia terpojok. Ia merasakan matanya perih, seolah-olah cahaya itu ingin mencongkel keluar bola matanya. Ia tidak bisa lagi melihat warna jingga atau ungu. Semuanya menjadi putih—putih yang hampa, putih yang mematikan.

Namun, Saksia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang masih memegang jarum dan sisa-sisa benang jingga terakhir, ia melakukan sesuatu yang melampaui logika maut. Ia tidak menjahit mayat itu. Ia mulai menjahit sisa-sisa senja terakhir itu ke kulitnya sendiri.

Ia menusuk lengannya, menjahit warna merah tembaga ke ototnya. Ia menusuk dadanya, menyatukan sisa ungu dengan jantungnya. Ia memeluk tubuh korban yang ada di depannya, menyatukan eksistensi mereka dalam satu jahitan yang besar dan semrawut.

Hentikan! teriak sang komandan, tapi suaranya tenggelam oleh dengung energi dari lampu-lampu sorot yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

Terjadi sebuah ledakan metafisik. Tubuh Saksia tidak hancur karena peluru atau panasnya lampu. Tubuhnya pecah karena ia sudah terlalu penuh dengan langit. Ia meledak menjadi badai hujan darah dan melati yang luar biasa hebat. Hujan itu bukan lagi rintik-rintik kecil, melainkan air bah yang mengguyur seluruh penjuru Lux-Aeterna.

Lampu-lampu merkuri di jalanan mulai korsleting dan meledak satu per satu saat air hujan itu menyentuh kabel-kabelnya. Kota itu sejenak jatuh ke dalam kegelapan yang sudah lama dirindukan.

Pemerintah segera mengeluarkan dekrit baru payung dilarang dan hujan dianggap sebagai infiltrasi asing. Mereka mengklaim bahwa air yang jatuh dari langit adalah limbah kimia yang sengaja disebarkan oleh teroris untuk merusak mental rakyat. Namun, bagaimana kau bisa memenjarakan bau darah yang telah menyatu dengan udara Bagaimana kau bisa melarang hidung untuk bernapas

Beberapa hari kemudian, di alun-alun kota, gubernur berpidato di bawah lampu-lampu cadangan yang baru dipasang, lebih menyilaukan dari sebelumnya. Ia berusaha meyakinkan rakyat bahwa bayangan adalah ilusi, sebuah cacat penglihatan yang harus disembuhkan. Ia bicara tentang kemajuan, tentang masa depan yang tanpa noda.

Tapi ia tidak sadar, saat ia bicara dengan semangat yang meluap-luap, setetes air hujan yang tersisa di atap podium jatuh tepat di lidahnya yang sedang menjilat bibir. Air itu membawa rasa amis sejarah yang berusaha ia hapus—rasa besi, rasa duka, rasa melati. Sang gubernur tersedak sejenak. Dan di bawah podium, di tengah terik lampu yang paling terang sekalipun, sebuah keajaiban terjadi.

Bayangannya sendiri mulai muncul. Bayangan itu tidak patuh; ia tidak mengikuti gerakan sang gubernur. Bayangan itu mulai menari, meliuk-liuk di atas lantai beton, menjahit dirinya sendiri ke tanah dengan benang-benang jingga yang tak bisa diputus oleh gunting mana pun. Dan di seluruh alun-alun, rakyat yang berdiri diam mulai melihat ke bawah kaki mereka. Di sana, di bawah pijar lampu yang angkuh, bayangan-bayangan mereka telah kembali, hitam dan pekat, membawa kembali kedalaman yang telah lama hilang.

Saksia telah hilang, memang. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki suara bisu. Namun ia ada di sana, di setiap aroma melati yang tertinggal di baju penduduk kota, dan di setiap bayangan yang kini berani menentang cahaya. Di negeri itu, ingatan telah menemukan jalan pulangnya, dijahit oleh benang-benang senja yang abadi.

____________________

Rasyid Yudhistira. Penulis yang membawa perspektif unik dari disiplin keteknikan. Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Rasyid dikenal memiliki gaya penulisan khas yang ia sebut “Sexy Simplicity,” mengedepankan diksi ringkas namun menghadirkan kedalaman makna, memadukan sensualitas dengan religius. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Pencapaian terbesarnya adalah ketika karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Cerpen

Penjual Bayangan

Cerpen Erna Surya

Setiap malam Minggu, pasar malam itu riuh seperti kerumunan tawon. Komidi putar menjadi sentral. Pedagang berjejer di sekeliling. Anak-anak  berlari membawa balon. Beberapa dari mereka merengek di depan orang tua, dan berakhir dengan tarikan tangan si ibu yang mengajak pulang dengan paksa. Suara musik dangdut berdentam. Bercampur dengan suara ibu-ibu yang menawar panci obral dengan harga sepertiga dari yang ditawarkan. Sementara itu, bapak-bapak lebih memilih mengisap rokok di pinggiran sembari berbincang diselingi tawa.

Dari semua keriuhan itu, tak ada yang memperhatikan lapak paling sudut. Ia berada di bawah lampu yang menggantung lemas seperti leher ayam dipotong setengah. Di sana, lelaki tua dengan topi lebar duduk tenang. Pandangannya mengedar ke seluruh arah, lalu diam lagi. Di hadapannya, tak ada barang jualan. Tak ada rak, tak ada etalase, tak ada poster promo. Hanya selembar kain hitam terbentang, dan di atasnya: bayangan-bayangan. Ya, lelaki itu si penjual ‘bayangan’.

Aneka macam bentuknya. Ada bayangan orang-orang kaya dengan segala macam kemewahannya. Juga bayangan perempuan muda dengan rambut panjang yang cantik dan bertubuh langsing. Bayangan lelaki tinggi berjas yang pintar bermain kata-kata konon katanya yang paling laris di antara semuanya. Bayangan anak kecil hanya sebagai pelengkap, jumlahnya tak banyak. Juga bayangan-bayangan dengan bentuk tak jelas tanpa simbol apa pun.

Mula-mula, orang-orang mengira itu pertunjukan sulap. Beberapa dari mereka mendekat, menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan lelaki itu. Namun semenit kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan menjauh. Kecewa. Merasa sia-sia mengapa harus mengeluarkan antusias yang besar untuk mendekati lelaki itu.

Tapi malam berikutnya, seorang remaja bernama Alin membeli bayangan ramping dan anggun. Sesuai dengan apa yang diinginkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak bulian yang masuk ke telinganya lantaran tubuhnya yang terus membesar lantaran banyak makan. Alin kesal. Dan ia berjanji suatu saat akan menjadi berbeda. Sejak itu, bayangan asli Alin tak pernah terlihat lagi. Ia berjalan membuntuti bayangan baru itu, seakan tubuhnya hanya pelengkap.

Alin berubah. Pertama-tama, keluarganya yang menyadari itu. Lama-kelamaan semua orang ikut merasakan perubahannya. Ia mulai berbicara dengan nada genit, langkahnya naik turun seperti ingin menggoda mata lelaki agar melihat pantatnya, matanya lebih nakal dan mengundang birahi. Teman-temannya bilang bahwa itu bukan Alin.

Lalu Doni, sopir ojek online, membeli bayangan bertubuh tegap dan berkumis. Memang sudah lama lelaki itu berambisi ingin jadi anggota DPR. Hanya sekadar mimpi kosong. Faktanya, Doni tetaplah sopir ojek online. Ia bilang ingin lebih disegani banyak orang. Setelah membeli bayangan itu, ia tak lagi mengenal orang tuanya. Setiap kali ibunya memanggil, ia menoleh dengan bingung. “Ibu siapa, ya?”

Lambat laun, lapak si penjual bayangan jadi primadona. Orang-orang antre. Harga tak jadi soal. Seorang dosen tua menukar bayangannya dengan bayangan anak muda agar bisa mengencani mahasiswi yang minta nilai A. Seorang perempuan simpanan membeli bayangan biar tampak seperti istri sah, biar diajak ke pesta-pesta, katanya. Bahkan pejabat kota, diam-diam, membeli bayangan tentara. Setelah itu, ia mulai memberi perintah dengan suara meledak-ledak dan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Lalu satu per satu, mereka mulai menghilang. Bukan dalam sekejap. Awalnya tubuh mereka jadi samar, seperti kabut pagi yang enggan bubar. Suara mereka menjadi gema yang memantul sendiri. Akhirnya, yang tersisa hanya bayangan—yang tetap beraktivitas seperti biasa: berbelanja, naik bus, bercermin.

Ketika tubuh-tubuh tak lagi ada, pasar malam berubah. Lampu-lampu tetap menyala, tapi cahayanya dingin seperti api tua yang nyaris padam. Tenda-tenda berdiri, tapi tak ada suara tawa, tak ada bau gorengan, tak ada antrean. Boneka-boneka hadiah tergantung tanpa peminat. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tak pernah dimatikan, tapi iramanya melambat, seperti rekaman yang digerus usia.

Bayangan-bayangan masih mondar-mandir, membeli minuman dari warung yang dijaga bayangan lain. Mereka bermain kora-kora, naik bianglala, memotret diri di cermin—semuanya tanpa tubuh, tanpa suara, tanpa napas.

Udara di pasar malam itu seperti disaring dari kenangan yang buruk: lembab, kosong, menggantung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap kemenyan yang entah dari mana. Sesekali terdengar suara derit besi tua dari wahana permainan yang bergerak sendiri. Kota perlahan berubah jadi museum bayangan.

Di malam ke-77 sejak lapak itu muncul, jurnalis tua bernama Pak Winarto datang membawa pena dan catatan. Ia satu-satunya orang yang belum membeli bayangan. “Saya lebih suka bayangan saya sendiri,” katanya. “Meski jelek dan bungkuk.”

Ia duduk di depan lapak itu. Penjual bayangan masih sama: diam, wajahnya tak kelihatan karena tertutup bayangannya sendiri.

“Apa sebenarnya yang kau jual?” tanya Pak Winarto.

“Apa yang orang-orang cari,” jawab si penjual.

“Dan itu?”

“Bayangan yang mereka inginkan. Bayangan yang mereka bayangkan tentang diri mereka.”

Pak Winarto mengangguk. Ia menulis sesuatu. Pena di tangannya bergetar. Bayangannya sendiri tiba-tiba menjauh sedikit, berdiri tak sejajar.

“Apa yang terjadi pada mereka yang menghilang?” tanya Pak Winarto.

“Mereka tak tahan jadi palsu terlalu lama. Tubuh tak bisa hidup dalam kepalsuan. Maka bayangan mengambil alih.”

“Dan tempat ini?”

“Sudah lama kehilangan cahaya. Sekarang hanya tinggal bayangan yang merayap.”

Pak Winarto menatap langit. Tak ada bintang. Ia menulis kalimat terakhir: Manusia kini hanya ingin menjadi apa yang tampak, bukan apa yang nyata. Maka, yang nyata pun lenyap pelan-pelan.

Ia menutup buku catatannya. Saat bangkit berdiri, ia sadar: tak ada suara jejak kaki. Tubuhnya sepenuhnya terhisap bayangan. Pak Winarto menghilang.

Tapi lapak itu tetap ada. Pak Winarto lupa bahwa dulu ia sangat idealis dalam menuliskan pemberitaan. Kini entah ke mana idealisme itu setelah menyaksikan setumpuk uang di hadapannya. Konon katanya, itu dari pengusaha yang sengaja membuang limbah ke sungai dan meminta Pak Winarto untuk menulis berita yang lain saja, jangan tentang pencemaran sungai yang sudah meracuni banyak warga.

Suatu hari, saat kota lain mulai penasaran dan mengirim utusan, mereka hanya melihat bayangan-bayangan yang menjual bayangan-bayangan lain.

Tak ada tubuh, tak ada wajah. Ketika salah satu utusan memutuskan membeli satu bayangan gagah milik seseorang yang entah siapa, ia pun tidak kembali.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Gulai Daun Singkong

Aku tak sepantar dengan genjer

sebab kampungku bukan hamparan sawah

tempat ikan-ikan geladir

laiknya lele dan belut

menempuh hidup di atas lumpur.

Aku bukan kangkung

saban hari memencilkan maut, terdampal kaki, tercabik pangkur petani

dan menempuh petikan sebuah jari

atas tubuhku yang bukan gitar.

Daun-daunku serupa jari mekar

rimpang di batang lurus

aku pernah dibelai angin dan dihinggapi kunang-kunang

juga membantu manusia menemukan peradaban

ya, cemilan keripik.

Dahulu, nasab pertamaku bernama getuk

pergi bercinta dengan daki-daki kelapa

berbulan madu di atas sepeda

berkelana

ke halaman-halaman sekolah.

Demi lidah

aku melepas tangkai di musim yang bukan panen

dan lesung lumpang bukanlah satu-satunya cara

membuatku menjadi lunak.

Sekali waktu

ibu mengenalkanku dengan wajah wajan

tempat bersuci dengan segala kental santan

maka aku bercita-cita

menjelma gulai

demi bertapa barang sehari

di bawah tudung saji.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ayam Pecak

Api tak mematangkan tubuhku

melainkan minyak goreng bersekutu dengan rentang waktu

juga lembar-lembar resep itu

yang tak tahu malu

lantaran memberitahu:

“1001 cara mengolah ayam”

Aku meminta ampun pada pasukan bawang

juga dulur cabai

yang menasehatiku bahwa kematian

akan bertandang dari gerusan batu bundar.

Dari muhibah sebuah lidah

juga sinis piring-piring

manusia berpura melawatku:

Membawa lumpur pedas, melempar garam dolpin,

menabur kembang bunga-bunga kemangi.

Sungguh celakalah aku

lampus diperkosa lidah

namun tak pernah

dilirik suatu hukum.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Indomie Ayam Bawang

Telah kusobek indomie ayam bawang

di hadapan buku-buku George Orwell

berdampingan dengan air bening suci

yang kulunasi kala sore

dari depot lelaki tua.

Telah tertuang molto pada helai-helai kain

dan ketika tabung mesin cuci berkedut

aku berlari menyatroni angka-angka yang melimbang

panel rahim listrik.

Di hadapanku

sapu biru tampak cemburu

yang sedari pagi belum kusentuh

dan minggu ini

barangkali aku pendosa

yang diberi ampun buku catatan

—Raqib dan Atid

Lantaran menyiksa tubuh rumah

sedang mataku tampak bermaksiat

lantaran luput, membaca buku-buku.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Mie Lontong

Kala nasib meminang

gegas kau lepas baju panjang yang mengering

lalu merebah di atas misbah berdebu

menunggu kekekalan terpenggal

bening mata pisau.

Dengan lekat kau terbaring di atas piring

bersuci dengan kuah-kuah santan

sedang helai-helai mie gomak hanyalah selimut

yang kau kenakan sebelum sekubit taoco

mengajakmu ke rahim gelap

di mana sebuah mimpi

tercipta dari rongga-rongga mulut.

Dari negeri gelap itu

kau menunggu pagi

di antara keheningan kamar mandi

dan merelakan tubuhmu

jatuh ke pusara

yang basah

dan hanya sejengkal.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Tumis Taoge

Tanah mana yang kau ingat

bukankah dahulu, kau serupa helmet serdadu

bersembunyi di balik kulit tanah

menunggu hari-hari melunasi

namamu sebagai kecambah.

Ketika panjang menyertai

dan almanak memberimu umur yang cukup

kau merantau ke besi panci

mengharumkan namamu pada sebuah bumbu

demi diramu

telapak tangan centong.

Namun hari itu

kau percaya

bahwa lidah manusia adalah celaka

yang memeluk tajam dagingmu

luruh tak bernyawa.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ilham Nuryadi Akbar. Lahir di Banda Aceh dan saat ini menetap di Kota Pematangsiantar. Beberapa puisi dimuat media lokal dan nasional seperti: Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika.id, Suara NTB, Koran Radar Banyuwangi, Omong-omong.co, Sastramedia, Lensasastra, Harian Rakyat Sultra, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, Riau Sastra, Litera.co, dll. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025.

Film, Resensi

Antara Luka, Algoritma, dan Kebencian

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul               : Inside the Manosphere 

Produser          : Louis Theroux

Tema utama     : Dinamika komunitas “manosphere”, maskulinitas modern, relasi gender, dan pengaruh media digital

Tahun rilis       : 2024

Tahun tayang  : 2026

Pemeran          : Anggota komunitas manosphere, akademisi, jurnalis, dan pengamat sosial

Film dokumenter Inside the Manosphere menghadirkan potret yang tajam sekaligus menggelisahkan tentang sebuah ekosistem digital yang selama ini sering luput dari perhatian publik luas, tetapi memiliki dampak sosial yang nyata. Disutradarai dengan pendekatan observasional yang kuat, film ini membawa penonton menyelami dunia “manosphere”; sebuah istilah yang merujuk pada komunitas online yang berisi berbagai kelompok pria dengan pandangan tertentu tentang maskulinitas, hubungan, dan posisi laki-laki dalam masyarakat modern.

Alih-alih sekadar menjadi tontonan sensasional, film ini berusaha memahami, mengurai, dan sekaligus mengkritisi dinamika yang berkembang di dalamnya. Sejak awal, film dokumenter ini tidak langsung menghakimi. Narasinya dibangun perlahan, dimulai dari pengenalan tentang bagaimana komunitas ini terbentuk dan berkembang di ruang digital. Penonton diperlihatkan forum-forum, kanal video, hingga ruang diskusi anonim yang menjadi tempat berkumpulnya individu dengan keresahan yang beragam.

Ada yang merasa terpinggirkan secara sosial, ada yang kecewa dalam relasi personal, dan ada pula yang mencari identitas diri di tengah perubahan norma gender yang semakin kompleks. Film ini dengan cermat menunjukkan bahwa di balik label kontroversial tersebut, terdapat manusia dengan latar belakang yang tidak seragam. Kekuatan utama film ini terletak pada cara ia memberi ruang bagi berbagai suara.

Beberapa tokoh yang diwawancarai diberi kesempatan untuk menjelaskan pandangan mereka tanpa interupsi yang berlebihan. Mereka berbicara tentang pengalaman pribadi, kegagalan, hingga rasa frustrasi yang kemudian membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Pendekatan ini membuat film terasa lebih jujur, meskipun di saat yang sama juga memunculkan ketegangan bagi penonton yang mungkin tidak sepakat dengan pandangan yang disampaikan.

Di sinilah letak keberanian film ini: ia tidak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Namun, Inside the Manosphere tidak berhenti pada tahap eksplorasi. Secara perlahan, film ini mulai mengungkap sisi gelap dari komunitas tersebut. Beberapa bagian menyoroti bagaimana narasi tertentu dapat berkembang menjadi bentuk kebencian, terutama terhadap perempuan. Retorika yang awalnya berangkat dari pengalaman pribadi kemudian berkembang menjadi generalisasi yang berbahaya.

Film ini memperlihatkan bagaimana algoritma media sosial turut berperan dalam memperkuat echo chamber, sehingga pandangan ekstrem menjadi semakin sulit untuk ditantang dari dalam. Salah satu momen paling kuat dalam film ini adalah ketika narasi personal bertabrakan dengan realitas sosial yang lebih luas.

Ada adegan di mana seorang narasumber menceritakan perasaannya yang terisolasi, lalu dipotong dengan analisis dari ahli yang menjelaskan bagaimana perasaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang lebih radikal. Kontras ini menciptakan efek yang menggugah: penonton diajak untuk melihat bahwa persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang sistem yang memungkinkan ide-ide tersebut berkembang.

Dari segi sinematografi, film ini menggunakan gaya yang sederhana namun efektif. Banyak adegan diambil dari layar komputer, rekaman percakapan online, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari para narasumber. Pendekatan ini memberikan kesan autentik, seolah penonton benar-benar masuk ke dalam ruang privat yang selama ini tersembunyi.

Tidak ada dramatisasi berlebihan; justru kesederhanaan visual inilah yang membuat pesan film terasa lebih kuat. Musik latar yang digunakan juga minimalis, berfungsi sebagai penguat suasana tanpa mendominasi emosi penonton. Selain itu, struktur naratif film ini patut diapresiasi. Alih-alih mengikuti alur linear yang kaku, film ini bergerak secara tematik.

Setiap bagian membahas aspek berbeda dari manosphere, mulai dari asal-usul, dinamika internal, hingga dampaknya terhadap dunia nyata. Perpindahan antar segmen dilakukan dengan halus, sehingga meskipun topiknya kompleks, penonton tetap dapat mengikuti alur pemikiran yang dibangun. Penyuntingan yang rapi membantu menjaga ritme film agar tidak terasa membosankan.

Yang menarik, film ini juga menghadirkan perspektif dari pihak luar komunitas, termasuk akademisi, jurnalis, dan aktivis. Kehadiran mereka memberikan konteks yang lebih luas, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap narasi dari dalam komunitas. Mereka membahas fenomena ini dari sudut pandang sosial, psikologis, hingga politik.

Diskusi ini memperkaya pemahaman penonton, sekaligus menegaskan bahwa fenomena manosphere tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang lebih besar, seperti pergeseran peran gender dan krisis identitas di era modern. Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan.

Dalam beberapa bagian, penjelasan yang diberikan terasa terlalu padat, sehingga berpotensi membuat penonton kewalahan. Ada juga momen di mana film seolah ingin menyampaikan terlalu banyak hal sekaligus, sehingga fokusnya sedikit terpecah. Beberapa penonton mungkin juga merasa bahwa film ini kurang memberikan solusi konkret, karena lebih banyak berfungsi sebagai refleksi daripada panduan.

Kendati demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting film ini secara keseluruhan. Justru, ketidaklengkapan jawaban yang ditawarkan menjadi kekuatan tersendiri, karena mendorong penonton untuk berpikir lebih jauh. Film ini tidak memaksa kesimpulan, melainkan membuka ruang diskusi. Dalam konteks isu yang kompleks seperti ini, pendekatan tersebut terasa lebih relevan dibandingkan penyederhanaan yang berlebihan.

Salah satu aspek yang patut dicatat adalah bagaimana film ini memperlakukan empati. Di satu sisi, ia berusaha memahami individu-individu di dalam komunitas tersebut tanpa menghakimi secara langsung. Di sisi lain, ia tetap tegas dalam mengkritisi ide-ide yang berpotensi merugikan orang lain. Keseimbangan ini tidak mudah dicapai, tetapi film ini berhasil melakukannya dengan cukup baik. Penonton diajak untuk melihat manusia di balik ideologi, tanpa harus menerima ideologi tersebut.

Dampak emosional film ini juga cukup kuat. Ada rasa tidak nyaman yang sengaja dibiarkan mengendap, terutama ketika penonton menyadari bahwa fenomena yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Internet, yang selama ini dianggap sebagai ruang bebas, ternyata juga dapat menjadi tempat berkembangnya ide-ide yang problematis. Film ini mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dunia digital memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik.

Secara keseluruhan, Inside the Manosphere adalah dokumenter yang penting dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia berhasil mengangkat topik yang sensitif dengan pendekatan yang cermat dan seimbang. Film ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara teknologi, identitas, dan dinamika sosial. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film ini layak menjadi bahan diskusi, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya untuk membuka percakapan. Ia tidak menawarkan jawaban yang mudah, tetapi justru mengajak penonton untuk bertanya: bagaimana kita memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita? Bagaimana kita merespons perasaan keterasingan yang dialami sebagian orang tanpa membiarkannya berkembang menjadi kebencian? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita menciptakan ruang dialog yang lebih sehat di tengah perbedaan pandangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung terjawab setelah menonton film ini, tetapi justru di situlah nilai utamanya. Inside the Manosphere bukan sekadar film yang ditonton lalu dilupakan, melainkan pengalaman yang memicu refleksi jangka panjang. Ia menantang penonton untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga bagian dari solusi.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”