Cerpen Khairul Azzam EM

Sore itu, sinar matahari mulai meredup, menimpa dinding rumah susun yang sudah tua dan berkarat di pinggiran kota. Di salah satu ruangan sempit lantai tiga, Hamid duduk di tepi tempat tidur, menatap lembaran kertas catatan pengeluaran yang ia susun rapi di meja kayu yang permukaannya sudah halus. Di ruangan itu, udara terasa lembab, bercampur bau debu yang tak pernah hilang meskipun lantai dan perabot sudah disapu dan dibersihkan setiap hari. Suara langkah kaki orang yang berlalu-lalang di lorong terdengar jelas, begitu juga suara percakapan, tangisan anak-anak, atau teriakan orang yang marah, semuanya menyatu menjadi bunyi khas yang tak terpisahkan dari kehidupan di tempat itu.
Hamid adalah guru di sekolah dasar yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Gajinya tidak besar, hanya cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan, dan sisanya harus diatur sedemikian rupa agar bisa memenuhi segala hal yang harus dibayar setiap bulan. Setiap kali tanggal pembayaran tiba, ia selalu merasa seperti berjalan di atas tali yang tipis, satu langkah salah semuanya akan runtuh. Ada uang sewa tempat tinggal yang harus diserahkan tepat waktu, tagihan air yang nilainya kadang naik tanpa alasan yang jelas, tagihan listrik yang sering membuat ia terkejut melihat angkanya, biaya pendidikan kedua anaknya yang tidak pernah turun, dan juga cicilan sepeda motor yang ia beli dua tahun lalu untuk memudahkan perjalanan ke tempat kerja. Di luar itu, ibunya yang tinggal di desa juga sering membutuhkan biaya pengobatan, karena tubuhnya semakin lemah dan penyakit tuanya makin sering menyerang.
“Kamu tidak pernah memikirkan nasib kita, Hamid. Setiap hari hanya pulang dengan wajah tenang, seolah-olah tidak ada beban yang menekan bahumu, padahal di sini tagihan menumpuk seperti gunung,” kata Siti, istrinya, sambil meletakkan piring kotor di meja dengan suara yang agak keras. Matanya tampak lelah, garis halus di wajahnya makin terlihat jelas, bukti dari hari-hari yang dijalani dengan kekhawatiran yang tak berhenti datang. Ia tidak benar-benar marah pada suaminya, hanya rasa cemas yang menumpuk lama membuatnya tidak bisa menahan perkataan yang tajam.
Hamid hanya tersenyum tipis, mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali melihat catatan di tangannya. “Aku tahu, Siti. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi apa yang bisa kita lakukan selain berusaha sekuat tenaga dan tetap sabar? Segala hal akan berlalu, percayalah padaku,” jawabnya dengan suara lembut, seolah-olah ia sedang menenangkan diri sendiri sekaligus menenangkan hati istrinya. Selama sepuluh tahun pernikahan, ia sudah terbiasa mendengar keluhan, omelan, atau kata-kata yang menyakitkan dari mulut orang yang dicintainya. Ia tidak pernah membalas dengan kemarahan, karena ia sadar, tekanan hidup membuat semua orang mudah tersentuh dan kehilangan kesabaran. Ia memahami bahwa di balik setiap kata yang tajam, tersembunyi rasa sayang dan keinginan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.
***
Setiap pagi, Hamid bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan diri, mencium kening anak-anaknya yang masih tidur nyenyak, lalu berangkat menuju sekolah dengan sepeda motor tuanya yang kadang-kadang bermasalah di tengah jalan. Di sekolah, ia mengajar dengan penuh semangat, berusaha memberikan ilmu sebaik-baiknya, seolah-olah tidak ada beban berat yang menunggunya di rumah. Murid-muridnya menyukainya karena ia sabar, pandai berbicara, dan selalu memberikan dorongan semangat kepada siapa saja yang merasa sulit untuk belajar. Bagi Hamid, mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang, melainkan tugas yang harus dijalankan dengan hati, dan di sana ia menemukan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan nilai mata uang.
Pulang dari sekolah, ia tidak langsung beristirahat. Ia masih harus mengurus pekerjaan rumah tangga yang belum selesai, pergi ke kantor pembayaran untuk melunasi segala tagihan, atau berjalan menuju kediaman ibunya untuk memeriksa keadaan dan memberikan sedikit uang yang tersisa dari penghasilannya. Ketika malam tiba dan semua orang di rumahnya sudah tidur lelap, Hamid masih duduk di meja kerjanya, menulis. Di saat yang sepi dan sunyi itu, pikirannya mengalir bebas, dan segala kesusahan yang dirasakan berubah menjadi kata-kata yang disusun menjadi cerita. Ia menulis tentang kehidupan orang biasa, tentang harapan di tengah kesulitan, tentang kebaikan hati yang tetap terjaga meskipun sering diuji oleh keadaan. Ia melakukan hal ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk menumpahkan isi hati dan menyampaikan pesan yang dirasakannya penting bagi orang lain.
Suatu sore, ketika Hamid baru saja pulang dari mengantar obat ke rumah ibunya, Kusnanto, tetangga yang tinggal di ruangan seberang, memanggilnya sambil berdiri di depan pintu. Kusnanto adalah orang yang suka berbicara lantang, selalu tampak santai dan tidak pernah tampak kesulitan meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun, orang-orang di lingkungan itu sering menduga bahwa ia melakukan hal-hal yang tidak sah untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak.
“Hamid, aku punya tawaran yang bagus untukmu. Jika kamu bersedia membantu melakukan satu hal saja, kamu bisa mendapatkan uang yang cukup besar dalam waktu singkat. Masalah uang yang selalu menyusahkanmu akan selesai seketika,” kata Kusnanto dengan nada rendah, sambil melihat ke kiri dan kanan seolah-olah takut didengar orang lain. Ia lalu menjelaskan maksudnya, bahwa pekerjaan itu sebenarnya adalah bagian dari tindakan yang melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, meskipun ia mencoba menyembunyikan sifat buruknya dengan kata-kata yang manis.
Hamid mendengarkan dengan tenang sampai Kusnanto selesai berbicara, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Terima kasih atas kebaikanmu untuk memikirkan nasibku, Pak Kusnanto. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Uang memang dibutuhkan, tapi aku tidak mau mendapatkan sesuatu yang membuat hati tidak tenang dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Selama aku masih mampu bekerja dengan cara yang benar dan jujur, aku akan terus melakukannya, meskipun hasilnya tidak banyak dan butuh waktu lama,” jawabnya dengan sopan namun tegas.
***
Wajah Kusnanto berubah menjadi marah. Ia mulai berbicara kasar, menyebut Hamid orang yang bodoh, keras kepala, dan tidak mengerti keadaan. Ia mengatakan bahwa Hamid akan terus hidup dalam kesulitan seumur hidupnya karena terlalu memikirkan aturan dan kebaikan, sementara orang lain bisa menikmati kemewahan dengan jalan yang lebih mudah. Hamid hanya diam, mendengarkan semua perkataan kasar itu tanpa membantah atau meninggikan suara. Ketika Kusnanto pergi dengan perasaan marah, Hamid masuk ke dalam ruangannya, melihat wajah istrinya yang tampak cemas karena mendengar segalanya, lalu tersenyum dan berkata, “Semua akan baik-baik saja, Siti. Kita tetap bisa bertahan.”
Sejak hari itu, Kusnanto sering menyebarkan berita buruk tentang Hamid kepada tetangga lain. Ia mengatakan bahwa Hamid orang yang sombong, tidak mau menolong orang lain, dan merasa lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya. Banyak orang mulai mengubah sikapnya, menjadi dingin atau berbicara buruk di belakang punggung Hamid. Namun, Hamid tidak mempedulikannya. Ia tetap bersikap ramah, menyapa siapa saja yang ditemuinya, dan melakukan tugasnya dengan penuh kesungguhan seperti biasa. Baginya, penilaian orang lain tidak sepenting keyakinan yang dipegangnya selama ini, bahwa kebenaran dan kejujuran akan membawa hasil yang baik pada waktunya sendiri.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pada suatu siang yang cerah, ketika Hamid sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, dua orang lelaki berpakaian rapi datang dan mencari namanya. Seluruh tetangga di lorong rumah susun itu memperhatikan dengan rasa penasaran, bertanya-tanya siapa mereka dan apa maksud kedatangannya. Kedua tamu itu menyerahkan sebuah amplop cokelat yang besar dan tebal kepada Hamid, sambil menjelaskan bahwa mereka adalah utusan dari penerbit buku terkenal di ibu kota. Amplop itu berisi uang hasil penjualan buku yang telah ditulis Hamid dan diterbitkan setahun yang lalu, yang ternyata disukai banyak pembaca dan dicetak ulang berkali-kali di seluruh negeri.
“Bapak Hamid, karya tulis Bapak sangat menginspirasi banyak orang. Buku ini telah dibaca oleh ribuan orang, dan permintaan untuk mencetak lebih banyak salinan terus berdatangan. Inilah bagian hasil yang menjadi hak Bapak,” kata salah satu tamu itu dengan nada hormat.
Ketika kedua orang itu pergi, berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh bagian bangunan tempat tinggal itu. Orang-orang mulai mengingat bahwa selama ini buku yang dibaca oleh anak-anak mereka di rumah atau di sekolah, yang berisi cerita tentang kesederhanaan, ketabahan, dan kebaikan hati, sebenarnya dibuat oleh orang yang selama ini dianggap miskin dan tidak berharga oleh sebagian besar dari mereka. Kusnanto terdiam tanpa kata-kata ketika mendengar kabar itu, merasa malu dan sadar bahwa semua ucapannya selama ini ternyata salah dan tidak berdasar.
***
Di dalam ruangannya, Hamid memegang amplop cokelat itu dengan tangan yang tenang. Ia melihat istrinya yang matanya basah oleh air mata bahagia, melihat anak-anaknya yang tersenyum lebar karena tahu kesulitan mereka akan segera berakhir. Hamid tersenyum, sama seperti senyum yang selalu ditunjukkannya saat menghadapi hari-hari yang berat.[]
Probolinggo, Mei 2026
____________________
Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.











