Masih kau sebut durikah beskap hijau tua tak bergigi itu—seraya terus bersembunyi dari mata licik orang iseng tengah malam—sedang harummu, amboi, laksana kawinnya setandan pisang matang dengan nenas madu, apel merah dan mangga harum manis; yang memanggil-manggil janin mungil di perut ibu muda yang mulai kepayahan berjalan. Terberkatilah kuning dagingmu yang mencolok itu, meski sumpah akibat putih getah darahmu acap pula membuat kami waswas semata. Tetapi benarkah moyangmu lahir dari hujan yang rajin menuruni hutan raya India? Atau sebenarnya kau hanya biji belaka yang tekun menjalar kemana suka? Lihat, betapa kaya kau pada segala guna; sampai keringat batang jisimmu, jubah pendeta Buddha tampak kian berwarna. Kini, pantaskah wajah kau muram percuma bila legit tubuhmu kami lahap gembira?
Akasia 11CT
Belenggu
Bagai ikan dalam lemari pendingin; serupa kapuk yang ditekan-tekan ke dalam kasur maupun bantal muda pengantin. Bersusun-susun kami; tak pantas sekadar menyepadan jenjang kaki barang sejenak. Pun telah kami minta sedikit luas padang gurun atau secuil lebat rimba raya. Akan tetapi lancip daun pendengar senyata tak kuasa menerima maklumat dukacita. Lihat, tinja siapa itu? Mana ada tinja di sini!Itu busuk kaki kami yang menempel di lantai. Amboi, betah nian kita mengejami; bukan main lalai mereka mendiami, arca itu mungkin adalah kami yang pemalu lagi buta-tuli. Sememangnya engkaukah yang terkurung atau kaulah semestinya Gitamara nan bengis lagi erat menggigit?
Akasia 11CT
Lepas
Jikalau kau patuh menyeluruh
Alamat luput berita buruk
Luruslah jalan ke semenanjung
Lapanglah tanjak ke gunung
Apabila madah kau jaga
Isyarat rantai sungkan memasung
Mestilah lengang kabar burung
Pastilah lancar niat meluncur
Ke selokan sukma muara Sang Raja.
Akasia 11CT
Puisi
Bilamana engkau enggan bertamu. Atau kedua kaki terlampau lejar tamasya ke rimbun anggur yang menggantung. Cukup ceritakan saja bagaimana budi pekerti mampu lolos dari sergapan tentara waham.
Sungguh, betapa benci kami pada kisah siluman serigala. Itu sebab datuk moyang kami senang belaka menuturkannya kali berulang. Dan kuping kami teramat tekun menakzimkannya; seraya terus bibir berdoa semoga jauh pergi marabahaya.
Mungkin bisa jadi kami risih. Dimasuki keruwetan yang sebetulnya bukan semata keinginan kami. Namun kenapa engkau rajin pula turut-menurut, sehingga putih daging dan hitam darah kami mudah percuma tersamarkan.
Barangkali kita musti tutup mulut sekejap: menunggu paus biru dilahirkan sekali lagi atau reinkarnasi si jalang hadir memilah-memilih; menyambung-memotong apa-apa yang patut dan elok tangan tuliskan serta lidah bunyikan.
Setakat ini, masihkah kau jantan menghakimi—suntingan ini benar puisi atau sekadar curahan hati?
Akasia 11CT
Belajar Ikhlas dari Buku Buku
Berjilid-jilid buku lolos mencatat cara adiluhung memasukinya; menyelaminya. Supaya yang rusak parah segera embus pergi tak perlu kembali. Akan tetapi alangkah benua tubuhnya, mungkin juga luas semesta; sehingga tak pernah genap kita menaklukinya. Maka muncul dan terus muncul kitab-kitab segar membahas-mengulitinya. Sampai kita luput mendedahkan ibu bapak kitab dari segala kitab yang sesungguhnya ialah obat bagi ragam penyebab.
Akasia 11CT
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Facebook: Ilham Wahyudi dan Instagram: @ilhamwahyudi_ilham
Hamparan warna-warni kue menggoda mata, tersusun rapi aneka jajanan berbungkus daun pisang, harum menyeruak. Radio mengalunkan pengajian, sesekali ditingkahi iklan obat herbal. Subuh belum matang di kawasan Senen, Anwar Saleh bersiap menunggu pembeli, sambil memegang gagang kayu pipih berujung rumbai plastik guna mengusir lalat. Pemandangan pasar subuh seperti biasa, hanya satu yang tampak berbeda, bukan pada jenis dan susunan kue, meja alas, toples uang, atau plastik bungkus kue, melainkan penampilan Roheti.
Eti, biasa penjual lain memanggil perempuan yang kali ini mengenakan kaos putih bertuliskan no comment dengan celana kulot abu-abu batako. Lipen warna merah bata memoles bibir, jedai warna biru muda langit puncak menghimpun rambut hitamnya, dan wangi Harum Sari sachetan menguar bersaing dengan wangi kue talam pandan. Lapak kue Eti bukan hanya mengundang lalat-lalat hijau tentara, namun juga pandangan mata para lelaki, tak terkecuali Anwar Saleh.
“Bang,” sapa Eti pada Anwar Saleh sambil mengangguk pelan di lapak seberang.
Anwar Saleh mengangguk kecil. Lanjut menebah lalat yang mampir di antara rainbow cake dan black forest penuh krem putih.
“Buset. Ntu mah bidadari turun ke bumi, War. Resep dah kalo gua kawin ama Eti kali, ya?” celetuk Haji Zaenal. Anwar Saleh hanya meringis kuda, separuh menaruh hormat pada juragannya dan selebihnya tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan itu.
Haji Zaenal gloyor menuju lapak kue Eti sambil tangannya membenahi peci hitam lusuh. Anwar Saleh rasakan ada yang berkecamuk di dadanya melihat kelakuan genit Haji Zaenal pada Eti, tapi dia tidak tahu persis akan apa yang dirasanya. Lamunan Anwar Saleh buyar ketika seorang langganan mengatakan ingin membeli kue basah.
Anwar Saleh mencuri pandang pada lapak kue Eti di tengah cekat tangannya melayani pelanggan.
“Demen ama yang sono, ya?” tanya pelanggan sembari mengarahkan ujung matanya ke lapak kue seberang.
Anwar Saleh tidak hirau. Hanya diam dan tangannya memasukan pesanan kue basah ke plastik besar warna seragam Juventus.
“Kagak ada bonus nih, War.”
“Iya dah ditambah atu nih.”
“Yaelah langganan cuma ditambah atu doang. Gua laporin juragan lu baru nyaho.”
Senyum tersimpul dari bibir Anwar Saleh.
Satu pelanggan berlalu, datang beberapa pelanggan lain. Silih berganti pembeli, sebagian wajah-wajah yang sudah dikenal Anwar Saleh, selebihnya wajah baru.
Haji Zaenal datang ketika semua pembeli sudah pergi. Air mukanya tampak girang-girang bangga. Lelaki yang sudah kawin sama persis jumlahnya dengan keberangkatannya ke Makkah—dua kali, berpanjang lebar menceritakan tentang Eti.
“Eti titip salam juga buat lu, War. Dia bakal mampir ke sini habis jualan nanti. Kagak sabar gua. Gimana? Gua ajib, kan? Panteslah ama Eti, ya?” tanya Haji Zaenal sambil merapikan baju kokonya yang tidak kusut atau tertempel kotoran sama sekali.
Anwar Saleh mengacungkan jempol saja menanggapi semua.
“Oya, lu sering ketemu Eti juga katanya. Bener?”
Anwar Saleh mengiyakan. Ingatannya terlempar pada hari-hari yang telah gugur di makan angka-angka. Itu adalah pertemuannya dengan Eti yang kerap terjadi kala siang hari, waktu di mana Anwar Saleh menjaga bengkel ban berdinding triplek miliknya lengkap dengan radio penghibur, sementara Eti numpang istirahat karena lelah ngobyek duteng—dangdut tenteng. Anwar Saleh tak tahu menahu alasan Eti memilih istirahat di bengkelnya dan juga tak mau hirau akan alasan itu. Dia tidak memasalahkan pilihan Eti. Kerap Anwar Saleh mengambilkan teh botol untuk Eti ketika penyanyi keliling itu istirahat dan yang diberi hanya membalas dengan ucapan terima kasih dan senyum.
Beriring hari dengan kerapnya Eti mampir di bengkel ban, keakraban semakin terjalin. Anwar Saleh dan Eti mulai kerap banyak mengobrol. Mulanya tentang pekerjaan masing-masing, lantas merambat pada hal-hal pribadi, semisal cita-cita Eti menjadi penyanyi dangdut beken yang tampil di panggung nasional. Anwar Saleh mendukung penuh dan mendoakan baik akan niat Eti, wajahnya saksama menyimak cerita Eti, sementara yang disimak hanya tersenyum tipis malu-malu dan mengatakan senang dengan dukungan Anwar Saleh, karena hanya lelaki itu yang mendukung dan mendoakan naik perkara cita-cita Eti.
Di bengkel ban, Eti juga sering bercerita tentang asmara. Ketika sudah menginjak pada masalah itu, Anwar Saleh lebih banyak menanggapi dengan candaan saja, sementara Eti tampak serius. Sekali waktu Eti bertanya perkara kriteria perempuan pada Anwar Saleh dan yang ditanya tidak tahu harus menjawab persisnya bagaimana.
“Masa kagak ada, Bang?”
Anwar Saleh diam sejenak, lantas menjawab dalam gurauan kalau dia suka perempuan yang seperti Eti. Di antara bising mikrolet dan asap hitam knalpot Kopaja, radio mengalunkan lagu Kuingin milik Rita Sugiarto.
Kalau kau memang sayang kepadaku
Kuingin hanya kau yang kau sayang
Kalau kau memang cinta kepadaku
Kuingin hanya aku yang kau cinta
Eti mendendang. Dia khatam di luar kepala lagu itu dan air mukanya tampak lebih ceria dari sebelum-sebelumnya. Keesokannya, Eti lebih lama untuk istirahat di bengkel ban. Dia tersenyum memandangi Anwar Saleh yang bekerja. Kerap sampai sore Eti di sana hingga akhirnya dia tak nge-duteng lagi pasca istirahat.
Pertanyaan-pertanyaan dari Eti lebih sering terlontar dibanding milik Anwar Saleh ketika mereka berdua saja. Suatu waktu Eti pernah bertanya tentang arti cinta bagi Anwar Saleh, namun lelaki itu hanya diam.
“Kok abang kagak jawab?”
“Bingung, Ti. Apa, ya?”
Suara-suara hanya milik mereka yang di jalan, bukan di bengkel ban.
“Gini kali ya, cinta ibarat kuku,” ucap Anwar Saleh. Eti diam, memandang Anwar Saleh dengan raut bingung.
Anwar Saleh melanjutkan ucapannya, kuku meski sudah dipotong, akan selalu tumbuh, dan begitulah cinta.
“Gitulah, Ti. Kan kalo kuku panjang juga kagak enak, kalo ada tahi kukunya ya kudu dibersihin.”
Sejak itu sikap Eti berubah, lebih sering memoles dan mematutkan diri dibanding sebelum-sebelumnya, entah saat di lapak kue pasar subuh atau di bengkel ban. Dia juga tampak lebih perhatian pada Anwar Saleh, yang tidak sepenuhnya menggubris semua itu. Bagi Anwar Saleh, Eti tetaplah Eti yang dia kenal seperti sebelum-sebelumnya.
Radio di lapak kue mengumandangkan azan, buyar lamunan Anwar Saleh. Haji Zaenal duduk di kursi plastik warna cokelat bermotif anyaman masih mengusir lalat-lalat jail yang mampir di kue dagangannya.
“Kagak kayak biasanya, nih,” seloroh Anwar Saleh.
“Bukan masalah, War. Asal gua bisa lihat romannya Eti ya udah senang.”
Anwar Saleh geleng-geleng. Sekali-dua pembeli datang lantas lapak sepi lagi. Radio mengudara dengan lagu-lagu dangdut pagi yang mengalun sesekali ditingkahi iklan obat dan laporan lalu lintas Jakarta kota kala pagi.
Jalanan mulai dipadati mikrolet dan kopaja. Orang-orang ramai berlalu lalang di antara kerja dan olahraga pagi. Dari seberang jalan, Eti datang menghampiri lapak kue Anwar Saleh. Haji Zaenal menyambut uluran tangan Eti meski itu ditujukan untuk Anwar Saleh.
“Gua kira tadi cuma basa-basi, Ti,” celetuk Haji Zaenal yang menganggap ucapan Eti mampir ke lapak kuenya hanya gurauan, namun penuh harap dia menunggunya.
“Kagak pak haji.”
“Panggil bang haji aja, jangan pak, kesannya udah bangkot bener gua.”
Eti hanya mengangguk.
Anwar Saleh hanya berdiri mematung, melihat Haji Zaenal dan Eti di dekatnya. Sesekali ada pembeli datang, Anwar Saleh meladeni dengan cepat.
“Gimana, Ti? Kapan hari ntar main ke tempat gua, ya?” ucap Haji Zaenal.
“Iya. Asal sama bang Anwar juga.”
“Kendiri aja kagak apa-apa. Anwar kan sibuk. Ya kan, War?”
“Bener, Ji,” ucap Anwar Saleh.
“Eti kagak berani kalo sendiri.” Eti menunduk usai mengatakan itu.
“Kagak apa-apa, Ti. Eti yang udah abang anggap kayak adik sendiri kagak boleh takut,” ucap Anwar Saleh.
“Abang nganggap Eti cuma kayak adek abang?”
Anwar Saleh mengangguk penuh yakin. Seketika juga Eti pamit, hanya tampak belakang dalam pandangan Anwar Saleh dan Haji Zaenal. Dua lelaki itu tidak tahu ada air mata yang menetes di hitamnya aspal jalanan Senen pagi itu.
Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana. Suka lele bakar atau goreng dan Dji Sam Soe.
[1] Nukilan lirik lagu Setelah Jumpa Pertama dinyanyikan Mus Muliadi dan Ida Laila.
Seusai mimpi buruk pada malam itu, Bono ingin sekali agar matanya buta seperti nenek dan yang dilihatnya hanya kegelapan. Ia lebih menyukai kegelapan. Ini aneh. Bono adalah penyuka hal-hal cerah dan terang. Semua orang terdekatnya tahu betul mengenai itu. Ia akan memilih baju warna matahari ketimbang dongker dan buku bersampul ramai ketimbang temaram. Ia menyukai yang terang-benderang dan ketika kemudian ia malah mengharapkan dan menyukai kegelapan, tentu ganjil sekali.
Untuk memahami Bono pada hari ini, perlu kiranya menyusuri jalan hidup Bono pada hari-hari lalunya. Manusia, bagaimanapun, dibesarkan oleh hari-hari silam.
Bono ketika kecil adalah anak lelaki kurus yang senang melukis dengan media apa pun. Sebelum ayah-ibu Bono sadar akan kebiasaan anaknya, Bono biasa melukis dengan cat air yang bertumpuk di gudang, ia melukisi tembok, pakaian ayahnya, lantai, dan apa pun selain kanvas. Kemudian, setelah kekagetan dan kegeraman sesaat, melihat kelakuan anaknya itu, ibu Bono membelikannya seperangkat alat lukis.
Meskipun sudah memiliki seperangkat alat lukis, terkadang Bono tetap mencoret-moreti objek-objek yang seharusnya tak boleh dilukisi. Bono, bagaimanapun, hanyalah seorang kanak-kanak. Tetapi, ayah Bono, sebagai pegawai perusahaan multinasional sibuk, yang sangat tidak menghendaki hal-hal mengecewakan sesampainya di rumah selepas pulang dari kantor, tak mau peduli, biarpun anak kecil Bono mesti tetap diberi pelajaran.
Maka itulah salah satu hari yang terus Bono ingat, ketika ayahnya menampar wajahnya sampai ia terempas dan menangis keras, akibat Bono melukis wajah seorang lelaki yang mirip ayahnya di jas ayahnya yang tersampir di kamar. Ibunya datang. Mengangkat Bono. Menatap tajam ayahnya. Ayahnya membalas tatapan itu lebih tajam. Ayahnya masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu Bono mengelus dan memeluk Bono.
Beranjak besar, Bono dititipi untuk tinggal bersama neneknya yang sudah tak mampu melihat di kota seberang. Ayahnya dipindahtugaskan ke kota yang jauh. Bono ingin ikut. Tapi ibu, yang menemani ayah, melarang. “Kota itu sangat jauh, Bono.” Bono merajuk dan jawaban ibunya tetap sama. “Nanti ibu dan ayah akan rajin mengunjungi rumah nenek, kok. Membelikanmu apa saja yang kamu mau. Oke, sayang?”
Bono tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Ia hanya menghambur ke dekapan ibunya, dekapan panjang, yang mungkin akan berlangsung lebih panjang jika saja ayah Bono tak memotong, “Ayo, Bu, pesawat kita akan segera berangkat.”
Setelah hari itu, Bono tidak lagi berjumpa ibu dan ayahnya, kecuali satu tahun sekali. Biasanya ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek dan menemuinya pada pengujung tahun, ketika ayahnya libur panjang. Kadang mereka juga mengunjungi rumah nenek pada libur lebaran, tapi yang demikian itu jarang sekali.
Satu hal yang Bono perhatikan, tiap ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek dari tahun ke tahun, adalah paras ibunya. Paras ibunya selalu tampak lebih gelap dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Bono tak tahu mengapa dan ia juga tak berani menanyakan perihal itu kepada ibunya apalagi kepada ayahnya. Kendati gelap, sesungguhnyalah ibu Bono selalu menguarkan senyuman. Namun, senyuman itu, lebih terlihat menyedihkan daripada memancarkan aura kegembiraan.
Ibu dan ayahnya datang dan pulang, dan perubahan paras ibunya tetap serupa kotak kaca hitam yang belum terpecahkan di kepala Bono.
Semenjak paras gelap ibunya menggelayuti pikiran Bono, ia menjadi pemburu hal-hal terang dan cerah. Mulai dari pakaian, sampul buku, tema film, sepatu, benda pecah belah, koleksi lukisan, dan lain sebagainya. Bono berharap usahanya itu bisa berdampak pada ibunya. Barangkali, pada perjumpaan berikutnya, wajah ibunya akan kembali cerah atau setidaknya tak bertambah gelap.
Usaha Bono sia-sia belaka.
Ia memang semakin banyak membeli hal-hal bertema cerah dan terang-benderang hingga teman-temannya mengidentikkan sesuatu yang semacam itu kepada Bono. Misalkan mereka menjumpai sampul buku yang heboh bukan main dengan gradasi warna-warna cerah di toko buku atau menemui poster film dengan corak terang di area bioskop, mereka akan berseru, “Wah, ini Bono banget!” Namun ketika hari kedatangan ibu dan ayahnya tiba, kadar gelap di paras ibunya semakin tinggi. Seolah-olah waktu berputar hanya untuk mempergelap paras ibu.
Satu hal lagi yang baru Bono sadari adalah paras ayahnya. Sementara wajah ibunya kian menyerupai awan-awan musim hujan, wajah ayahnya justru sebaliknya, tampak berbinar seakan-akan seluruh cahaya wajah ibu direnggut wajah ayah.
Menyadari itu, rasa iba Bono kepada ibunya semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, rasa bencinya kepada ayah kembali tumbuh dan menyubur. Rasa benci yang sebetulnya sudah coba ia kubur. Rasa benci yang bermula dari hari ketika ayahnya menamparnya semena-mena. Bono akan terus membenci ayahnya sejak hari itu andai saja ibu tak menasihatinya. “Bono, tolong kamu maafkan ayahmu, ya. Jangan sampai kamu membenci ayahmu sendiri. Biar bagaimanapun ayah tetaplah ayah yang harus dicintai dan dihormati, bukan dibenci. Oke, sayang?”
Satu tahun sebelum malam yang membuat Bono beralih mencintai kegelapan, ibu dan ayahnya datang dengan wajah bertolak belakang. Wajah ibu makin layu. Wajah ayah makin mekar. Namun, ada hal lain yang benar-benar membuat Bono tak lagi bisa memendam rasa penasarannya perihal perubahan ibu. Hari itu wajah ibu bukan hanya sendu, melainkan juga luka memar tampak di sekitar pelipis dan bagian bawah rahangnya.
“Ibu tidak apa-apa, Bono,” jawab ibu saat Bono bertanya soal luka memar di area wajahnya. Mendapati jawaban begitu, Bono memandangi ayahnya yang tampak biasa-biasa saja, seolah tak ambil peduli dengan kondisi istrinya.
“Ada apa kau lihat-lihat ayah seperti itu, Bono?” Ayahnya bertanya dengan nada membentak dan Bono menimpalinya dengan pandangan menyilet.
Bono baru saja akan mengatakan sesuatu pada ayah, ketika ibunya berujar lirih, “Sudah, Bono. Ibu memang tidak kenapa-kenapa. Tak usah mengkhawatirkan ibu.”
Pada kunjungan kali itu, yang sekaligus kunjungan terakhir ibu dan ayahnya, mereka tidak menginap di rumah nenek berminggu-minggu seperti biasanya. Mereka menginap hanya beberapa hari. Ketika nenek menanyakan kenapa ayah dan ibu buru-buru sekali, ibu bilang kerjaan ayah sedang melimpah sehingga mereka tidak bisa berlama-lama. Ayah membenarkan ucapan ibu dan mereka pun pulang.
Sebelum pulang, ibu mengelus kepala Bono dan mengecup kening anak tunggalnya itu. Bono sudah beranjak dewasa. Ia tampak rikuh diperlakukan begitu, tapi pada kemudian hari ia berharap kala itu ibu mengelus kepala dan mengecup keningnya lebih lama.
Hal terakhir yang Bono lihat dari ibu menjelang kepulangannya adalah punggung ibu saat hendak menaiki taksi. Dan Bono kembali baru menyadari satu hal: punggung ibu terlihat bungkuk, padahal usia ibu belum begitu tua.
Sore sebelum malam kelam itu, seharusnya jadwal ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek. Tetapi, mereka tak datang. Yang datang hanyalah sebuah telepon dari kota yang sangat jauh, kota tempat ibu dan ayah tinggal. Suara di telepon itu pun bukan suara ibu dan ayah, melainkan suara semi bariton seorang lelaki asing. Nenek dengan tergopoh-gopoh mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian nenek pingsan. Telepon rumah itu terjatuh dan kabelnya menjuntai-juntai. Tapi masih menyala. Setelah membaringkan tubuh nenek di atas sofa, Bono mengangkat telepon itu. Rupanya telepon dari kepolisian tempat tinggal ibu dan ayah. Ketika suara di seberang telepon mencapai inti persoalan, Bono nyaris pingsan dan membuat telepon terjatuh sebagaimana nenek barusan, namun ia menahannya. Bono mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, menutup telepon, dan duduk melamun di sofa bersampingan dengan neneknya yang belum siuman.
Bono melamun terus-menerus hingga ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya Bono bermimpi persis seperti isi cerita polisi di telepon tadi. Mimpi itu begitu nyata, terang-benderang, dan tak terhalangi suatu apa pun. Dalam mimpi itu, Bono melihat darah begitu merah, cahaya mentari begitu menyilaukan, dan desing pisau begitu tajam. Dalam mimpi itu, Bono melihat dua orang yang begitu dikenalnya, dua orang yang menjadi perantara Bono lahir ke muka bumi dan merasakan hidup. Dalam mimpi itu, Bono merasakan hawa begitu dingin dan aroma anyir darah begitu pekat. Dalam mimpi itu, Bono duduk di sebuah kursi dan menyaksikan dua kematian. Seorang lelaki berjas rapi yang tak lain adalah ayahnya, ternganga seolah menjerit dalam kebisuan dengan dada berlubang di atas tempat tidur. Seorang perempuan dengan pakaian koyak moyak dan rambut berantakan yang tak lain adalah ibunya, tersenyum pilu dengan nadi terputus di atas lantai.
Sebangun dari tidur, bayangan mengerikan mimpi itu masih terus menghantui Bono dengan amat jelas. Bono melihat ke arah neneknya dan ia ingin seperti nenek agar yang dilihatnya hanya kegelapan. Sebab, bagi Bono, kegelapan adalah sebaik-baik pemandangan.***
Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].
Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, dan penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Ia sesekali melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].