Puisi

Puisi S. Prasetyo Utomo

Mantera Cucu

Cucuku lahir dari mantera kecemasan     

bayi merah yang dipuja harta     

dan tiupan angin mengendapkan suratan

untuk sebuah kisah yang memendam teka-teki

Kau berada dalam sebuah panggung    

yang menggelar  harapan palsu

masa depan dan kenangan    

terpilin selubung rahasia    

Tanganmu memainkan lakon   

yang mungkin sudah usang  

dalam hamparan waktu penuh kegaduhan

akankah kau tegar dalam pertikaian?    


Mantera Kakek  

Telah kauendapkan petualangan    

pengalaman yang sia-sia    

dalam pusaran zaman        

dihadapkan ketamakan anak     

Kaususupi titian waktu  

dengan gagah      

dengan tangguh      

tapi pewarismu penghisap candu          

Ketika pohonmu lapuk

anak-cucu abai  petunjuk   

segala ikatan luruh    

tumbang dan terpuruk  


Mantera Pencari Tahta 

Masih tersisa sihir  pencari tahta     

tiap tokoh menebar sugesti    

untuk merenggut kuasa      

dan cuan lebih berharga daripada surga     

hidup melulu didera kegusaran  

berlumur keculasan      

dan tai asu dikais      

dikemas sebagai riasan  

Tiap orang tertambat resah      

berhambur mantera penaklukan    

gugup mencari perlindungan    

tak ada ruang bernaung   

untuk menghindar dari penistaan.    

Kecemasan serupa kudis menggerogoti tubuh        

lesap terisap lembab      

tersembunyi dalam pengap


Mantera Rubah    

Serupa rubah yang malih rupa   

kaudekati siapa pun yang berkuasa  

mengabdi pada mereka yang punya cuan  

sebagai raja, mungkin sebagai dewa   

dan kau menghambakan diri serupa kacung   

yang culas memainkan kesetiaan

untuk ikut menikmati mangsa  

yang ditangkap raja hutan   

setelah menerkam binatang buruan   

Kau hanya bisa hidup sebagai rubah  

yang berlindung di bawah penguasa rimba  

dengan segala pengabdian

dengan segala pengkhianatan

Kau selalu berada dalam pusat pesta   

mengabdi siapa pun yang bermahkota    

sambil mengendus mangsa   

dan kau akan merenggutnya.


Mantera Ratu Adil        

Labirin  mengendap di sepanjang jalan   

ruang yang kini senyap dari propaganda    

dan kisah penuh janji    

tebaran gugus fantasi       

yang tak mungkin terpenuhi      

dalam lakon  yang menawarkan dusta   

Tak ada lagi cuan, beras, dan kaos    

bergambar  Ratu Adil    

dalam daya pikat fantasi       

kau kembali mengarungi musim-musim getir     

hidup dalam kubangan comberan   

mengais nasib seorang diri.     

Tak seorang pun mengenang janji

kau tersekap ruang sunyi     

dalam lelah menanti   

mereka berpesta lagi.    


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.

Cerpen

Percakapan di Meja Makan dalam Kepalaku

Cerpen Eko Setyawan

Istriku ingin segera memiliki rumah baru karena merasa hidup satu atap dengan keluargaku seperti halnya ikan yang hidup di akuarium. Ia begitu gerah dengan keadaan karena tidak bisa leluasa melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Sebenarnya, hobinya sederhana, yakni menonton film. Tapi sering kali orang rumah seolah tak suka pada dirinya dan serasa ingin menunjukkan apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kemalasan. Hal itu membuat istriku tersinggung. Ketika di kamar, ia menyampaikan padaku bahwa dirinya ingin segera angkat kaki dari sini.

Pada akhirnya hal ini harus kulakukan untuk menuntaskan semua masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang dikeluhkan istriku harus segera tuntas secepatnya agar tidak menjadi masalah yang meluas. Terlebih, karena posisi istriku yang sudah bekerja keras sepanjang hari demi membantuku mendapat uang.  Karena gaji dari mengajar menurut kami belum cukup memenuhi kebutuhan, cara inilah yang kugunakan mendamaikan keadaan dan meredam segala persoalan yang ada.

Aku menggelar meja makan dan kusiapkan segala keperluan yang nantinya kugunakan menyelesaikan masalah dengan cara menjamu semua orang yang terlibat dalam masalahku. Karena menurutku, masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan suasana yang tenang dan khusyuk, salah satunya dengan makan bersama demi menguraikan persoalan satu demi satu.

Meja makan yang kusediakan cukup sederhana. Hanya berbentuk persegi panjang yang tak seberapa lebar, kualasi dengan taplak renda motif bunga. Ditambah empat kursi mengelilinginya. Dan yang paling utama yakni piring, sendok, dan peralatan makan yang sekiranya diperlukan. Kulanjutkan dengan memasak dan kusesuaikan dengan makanan kesukaan mereka. Aku tahu itu karena aku akrab dengan orang-orang yang akan kuhadapi.

Cara ini menurutku akan manjur menuntaskan masalah yang ada. Sebelumnya, istriku mengatakan ia sudah melakukan banyak hal, baik di rumah maupun saat pergi bekerja, tetapi, ketika ia istirahat dengan menonton film, ibuku meliriknya dengan tatapan tak suka. Karena hal itu, istriku ingin kami memiliki rumah sendiri. Begitulah cerita yang ia sampaikan padaku dan mau tidak mau aku berada di posisi saat ini.

Sebenarnya, untuk meredam amarah dan kegelisahan istriku cukup mudah. Aku hanya perlu berbicara dengannya. Maka aku menggorengkan ia ikan tongkol disertai dengan sambal. Aku tahu semua makanan yang disukainya. Dan di antara yang paling disukai adalah ikan tongkol goreng dengan sambal yang kubuat sama seperti waktu kami awal-awal menikah. Lantas ia ketagihan. Sambal yang kubuat cukup sederhana yakni dengan menggoreng cabai, bawang merah dan putih, lalu dibumbui dengan garam, micin, gula, dan terasi, lantas disertai dengan potongan kulit jeruk purut. Bau dari kulit jeruk purut katanya sangat sedap dan membangkitkan selera makannya. Sebagai tambahan, aku menggoreng kol dan juga memotong mentimun tanpa dikupas.

Dengan makanan yang kuhidangkan, ia akan lahap, bahkan menambah makanannya dan memenuhi lagi piringnya. Mungkin tidak terdengar etis atau di luar kebiasaan perempuan di luar sana, tetapi aku menyaksikan itu semua dan diam-diam ikut menikmati setiap suapnya. Karena sebagai bentuk penyelesaian masalah yang kuhadapi saat ini, ketika ia makan, aku menyela kecil untuk membicarakan masalah yang tak mengenakkan hatinya.

Aku mengatakan pada istriku memang ibu kadang seperti itu. Mungkin saja karena ibu terlampau lelah mengurus bapak yang sakit. Bisa saja memang istriku yang merasa tersindir. Serba risih karena ibu selalu melihat ke arahnya ketika ia sedang istirahat. Maka aku menyarakan padanya agar tidak perlu diambil hati. Aku mengatakan itu sembari menyuapkan makanan ke mulutku.

Istriku memandang sejenak, lantas kembali melihat piringnya dan menjumput nasi serta pelengkapnya. Itu kebiasaannya ketika makan makanan yang kumasak ini. Ia makan dengan tangannya.

Ia menyahut perkataanku. Istriku mengatakan kalau apa yang dilakukan ibu bukan basa-basi semata dengan melihatku tapi sudah dengan tatapan tidak suka. Dari raut wajah istriku menunjukkan kekecewaan dan amarah yang coba diredam. Matanya menatapku tajam. Tangannya berhenti menyuap makanan. Hanya memainkan makanan saja.

Aku coba memahami apa yang dirasakan istriku. Tapi menurutku ia hanya sungkan saja pada ibu. Dan tentu kurasa ibu tahu kalau istriku sudah bekerja keras dari pagi hingga sore. Menurutku, itu bukan masalah yang perlu dipikirkan. Aku mencoba menenangkan suasana.

Tak lama setelahnya, istriku menyampaikan keinginannya memiliki rumah sendiri untuk kami berdua. Ia terus-terusan kepikiran akan kejadian yang menimpanya. Katanya, kami sudah enam tahun menikah,  sudah selayaknya tidak lagi menumpang di sini. Ibu juga sering menyinggung soal anak pada istriku. Karena kami belum memiliki anak sampai saat ini. Saat mengatakan itu, matanya tajam seperti pisau yang siap menghunjamku.

Aku menatapnya dalam. Dari raut wajahnya menunjukkan keinginan yang dalam. Hatiku sedikit getir. Tapi kenyataannya aku belum bisa memenuhi keinginannya. Tapi dalam hati kecilku merasa sejujurnya apa yang ia katakan benar. Aku menyetujui itu dalam hati, namun kenyataan berkata lain. Ibuku tidak mau aku pergi dari rumah ini dan meninggalkannya karena aku anak satu-satunya. Terlebih, yang membantu mengurus bapak dan merawat rumah tidak ada. Jadi kuputuskan meyakinkan istriku.

Tentu apa yang dikatakan istriku membuat dilema perasaan. Itu pilihan sulit karena keadaan tidak memungkinkan. Jika kami meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan bapak dan ibu. Karena di rumah ini bukan semata tinggal bersama, tetapi ada perkerjaan dan tugas yang harus dilakukan. Aku mencoba meyakinkan istriku kembali.

Istriku menimpali dengan gusar, keinginannya meninggalkan rumah ini terlampau besar. Namun dirinya juga memberiku kesempatan berbicara pada ibu agar aku memberi pengertian pada ibu mengenai situasi kami. Ia sedikit meredam emosinya. Tapi dari raut wajahnya terlihat gamang. Aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku mencoba menafsir maksudnya, tapi gagal.

Kukatakan pada istriku tentang rencana berbicara dengan ibu. Tapi apakah ibu menerima apa yang istriku keluhkan dan harapkan menjadi persoalan lain. Semua kembali pada ibu. Itulah kata terakhirku untuk menutup pembicaraan di meja makan, lantas bergegas membereskan meja makan.

Dengan apa yang telah dikatakan dan diinginkan istriku, kuberanikan diri mengatakan semua pada ibu. Di hari berikutnya, kusiapkan meja makan yang sama dengan sebelumnya. Kumasak nasi dan urap untuk ibu, juga kugorengkan ikan asin serta sambal petai kesukaannya. Tak beda dengan istriku, ibu lahap memakan apa yang telah kubuatkan untuknya. Tak beda dengan istriku, ibu juga lebih memilih makan dengan tangan secara langsung, lebih nikmat katanya.

Tak berselang lama, di tengah lahapnya ibu, aku mulai menyela. Jauh sebelum ini, sebenarnya ibuku menatapku curiga karena kelakuanku kali ini. Tak biasanya aku memasak untuknya. Hanya sesekali saja. Biasanya ketika ibu sedang sakit atau malas memasak. Kukatakan apa perluku sembari melahap makanan yang sebenarnya seleranya tak jauh beda dengan istriku.

Kukatakan mengenai keluhan istriku atas sikap ibu. Tak lama setelahnya, mata ibu memicing dan menatapku tajam seolah hendak menerkamku. Mata teduh yang biasanya aku lihat, kali ini benar-benar berganti dengan tatapan yang menakutkan. Baru kali ini aku menatap tatapan ibu semenakutkan ini. Dadaku bergetar. Perasaanku terasa getir.

Ibu menimpali perkataanku dengan suara yang keras. Emosinya meluap. Ibu mengatakan bahwa sudah enam tahun aku menikah dengannya dan sampai sekarang tidak punya anak. Ibu khawatir terjadi sesuatu dan jika apa yang ditakutkan ibu benar, maka masalah lebih besar akan terjadi. Ibu menekankan bahwa dirinya tidak akan diam saja dengan persoalan yang ada di hadapannya. Istri anaknya tidak bisa memiliki keturunan. Lebih dari itu, kata ibu, akhir-akhir ini istriku terlalu bermalas-malasan. Jadi apa yang dilakukan ibu sudah benar. Ibu berbicara dengan sangat gamblang dan lantang.

Makanan yang ada di hadapanku terasa hambar. Begitu pun ibu, ia tak lagi menggubris makanan yang ada di piringnya. Dan yang mengagetkanku ketika ibu tiba-tiba mengatakan perihal perceraian. Persoalan anak adalah persoalan genting, karena keturunan menjadi segalanya bagi ibu.

Ibu mengajukan pilihan padaku. Aku memilih menceraikan istriku atau kami harus meninggalkan rumah ini. Pilihan itu membuatku tercengang. Seperti kilatan cahaya petir yang menyambar tiba-tiba. Aku bingung dengan pertanyaan ibu, juga dengan apa yang harus kukatakan pada istriku. Aku bingung untuk mengatasi masalah yang kuhadapi. Pikiranku kacau sejadi-jadinya.

Berkelindan dengan hal itu, aku mengingat satu hal yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, aku telah melakukan tes kesuburan ke dokter secara diam-diam. Dari hasil lab menunjukkan bahwa kesuburanku tidak normal dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi mulutku terasa berat ketika akan menyampaikan pada ibu. Apalagi kepada istriku. Aku takut menyakiti hati keduanya. Untuk pindah dari rumah ini terasa berat karena ada tanggung jawab yang tersemat di pundakku. Aku harus menjaga ibu dan bapak. Dan yang lebih penting dari itu, tabungan kami tak cukup untuk membeli rumah seperti yang diangankan istriku.

Kenyataannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ditinggal istriku yang pergi dari rumah ini karena tak nyaman dengan tuntutan ibu. Sementara aku lebih memilih menemani bapak dan ibu di sini. Akhirnya, apa yang kubayangkan mengenai percakapan di meja makan dalam kepalaku berlalu begitu saja. Persoalan yang ada hanya berputar di angan-anganku, bahkan tak pernah bisa kuselesaikan. Aku tak berani mengatakan apa pun pada istriku maupun ibu. Memang meja makan ini tak lebih hanya angan-angan semata.


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. Instagram: @setyawan721, surat-menyurat: [email protected].