Akulah Namamu
Akulah namamu
Dalam secangkir kopi
Saat segalanya telah luruh
Selepas segalanya
tak sanggup lagi kuseduh
Akulah namamu
Dalam secangkir kopi
Saat segalanya tiada kuasa bersimpuh
Selepas segalanya tak sempat berlabuh
Akulah namamu
Dalam secangkir kopi
Saat semua memilih tiada
Selepas ramalan berlalu-lalang
Menghancurkan segala rupa wajah
Yang sudah terlanjur belang-belang
Kendal, April 2018
Kerja Sebuah Pertanyaan
Dua malam sudah. Kami cemas.
Pertanyaan kembali bekerja
Hadir dan memulai dengan caranya
yang beda-beda
Mereka lebih senang berbahagia sendiri
Tanpa memikirkan kami,
Yang lelah mencari jawaban bersembunyi
Bergulirlah pertanyaan itu berkali-kali
Bekerja di atas kening mereka sendiri
Kami semakin cemas. Mereka menenteng
bermacam batu-batu
Disimpan rapat-rapat, di balik punggungnya
Yang lebam dan hampir berlubang
Esok hari, kami telah bergulir
Menghampiri pertanyaan kembali
Mereka terus berjalan, seakan kami tak kuasa
mengejar. Semua berlari, menuju segala arah
yang tak pasti kami tahu
Bersamamu segala sesaat, bersama segala waktu
Setelah jawaban urung datang
Selepas segalanya bekerja
dan datang berkali-kali
Dengan pertanyaan-pertanyaan
Yang tak pernah kami ketahui
Kendal, April 2018
Andai Saja Aku Tidur Siang
Andai saja aku tidur siang
Apakah kau masih mau menemaniku
Menjadi peluru, atau menjadi apa saja
Yang lebih gemar melesat melampaui
kecematan cahayamu
Seperti segala waktu,
yang tak butuh perantara
Yang tak sempat berkelit lidah
untuk saling menolak
dan menjejaki segala tidur yang ragu
Andai saja aku tidur siang
Maka kau akan segera melihat
Segenap kegagalan yang melanjutkan tidurku
Menukar sebuah perjalanan yang lelap
Pada petualangan kecil, yang seolah terburu-buru
Mencari segalanya selepas membuka pintu
Andai saja aku tidur siang
Pasti jika kau juga masih begitu saja,
Menjadi segala waktu yang
kau sudah menjadi ngeri
Teman-temanmu yang akan mengangkatmu
tinggi-tinggi
Mereka seakan menemukan kemenanganmu
Saat semua yang terjadi saat itu adalah batu-batu
Kendal, April 2018
Hari Libur di Kalendermu
Di kalendermu
Hari libur telah pulang
Ia memilih keluar lebih awal
Dari kepergianmu yang panjang
Di kalendermu
Hari libur telah hilang
Ia memilih pergi jauh
Meninggalkan banyak kegagalan
Dari segenap ketiadaan
yang kerap tanggal sendirian
Di kalendermu
Hari libur telah memilih dimakamkan
Segalanya seakan bergegas
Memilih tinggal di segala arah
yang lusuh
Melampaui foto-foto yang patah warna
di dinding kamarmu yang pecah-pecah
Di kalendermu
Hari libur telah memilih dimakamkan
Ia memilih abadi
Di kampung yang jauh di sana
Di sebuah hutan
Yang tak pernah lagi dihuni siapa-siapa
Kendal, April 2018
Bulan Tidur Siang
Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah
Kami sudah pesan satu meter ranjang kayu
Yang dikirim langsung dari taman yang gagal
diciptakan
Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah
Di atas kasur empuk yang dibeli
dengan sepenuh tunggakan cicilan
Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah
Matamu sudah memerah
Semalaman matamu bilang lelah
Menonton rupa-rupa adegan
Yang gagal disetir sutradara pilihan
Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah
Dadamu sudah lelah
Ia tak lagi sanggup membaca arah
Dunia telah lelap
Ia memilih tidur sendirian
Sepanjang waktu
Selepas segalanya urung mengguyur tubuhmu
yang kian dangkal
Kendal, April 2018
Biarkan Mata dan Kening Bekerja
Bekerjalah mata, bekerjalah
Berbuatlah melampaui mulutmu
Meninggalkan segala bising
yang nyangkut di kupingmu
Bekerjalah kening, bekerjalah
Berbuatlah melampaui hidungmu
Meninggalkan segala kebusukan
yang nyangkut di dadamu
Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah
Biarkanlah kening mengerutkan lukanya
Agar nanti, segala kecukupan
Mereka berdua yang mengeja
Membaca dan menerka segalanya
Sebelum semua merasa gelap
Mengikuti jejak dan tafsirmu yang berkelok
Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah
Biarkanlah kening bekerja, biarkanlah
Kendal, April 2018
Kisahkan Kepada Kami
Kisahkan kepada kami,
Wahai juru kunci
Yang menembus batas kesadaran
Yang menerka batas pemahaman
Kisahkan kepada kami,
Wahai juru kunci
Tentang jalanan yang lengang
Tentang segala wujud
yang dibiarkan rumpang
Kisahkan kepada kami,
Wahai juru kunci
Menuju perkampunganmu itu
Di balik segala keabadian
yang kian membocorkan banyak kekalahan
Kisahkan kepada kami,
Wahai juru kunci
Agar kami lekas dan bergegas
Bergerak lurus di jalan yang tak lagi lapang itu
Ruas yang tak lagi diterangi banyak pilihan lampu
Yang tiada lagi menemukan
ke mana arah sesungguhnya pulang
dan ke mana arah melarikan diri
dari tubuh yang gagal
Kendal, April 2018
Dalam Gelap, Kita Lelap
Dalam gelap,
kita tak bisa sepenuhnya lelap
Meski di luar, hujan tak lagi bergegas
Mengguyur kening kita
Yang kian hari kian retak
Dalam gelap,
kita tak bisa sepenuhnya lelap
Kita tak siap membawa diri lahir
Kepada segenap panas
Yang menggenangi dada kita
Dalam gelap,
kita tak bisa sepenuhnya lelap
Orang-orang memilih penasaran
Kenapa mereka memilih diam-diam
dan tidak datang bersamaan
Untuk saling mendinginkan
Untuk saling membakar
Kendal, April 2018
Mematunglah Kami
Maka mematunglah kami
Kepada hari-hari yang lewat
Kepada segenap gegap
Yang tak lagi beri kami gempita
Lihatlah, di sana mereka memilih diam
Menyaksikan ketiadaan kami
Yang pelan-pelan berjalan mundur
Menyusuri tepi punggung kami
Yang kian sepi dari kerja-kerja kepala
Maka mematunglah kami
Kepada malam-malam yang pekat
Kepala segala palung yang tak lagi merenung
Lihatlah, di sana mereka memilih senyap
Membuang dirinya dalam lelap
Mementalkan dirinya jauh-jauh
Ke atas bukit, ke atas segala ketinggian
yang tiada pernah dijejak
Maka mematunglah kami
Ke hadiratmu, kepada segala duka-duka
Kepada segenap lupa-lupa
Kendal, April 2018
Kepada Segala Tuan
Tuan, kenapa kau tak minat
menjadi seperti gurumu
Atau pegawai pemerintahan desa
yang setiap pagi menenteng batu-batu
Pulang membawa suara-suara
Yang dipasung waktu
Tuan, kenapa kau memilih diam
di dalam ransel bekas
Yang kerap ditenteng
mengelilingi banyak pintu
Apakah kau lebih tenang menjadi dirimu
Yang sempat berjaya pada masa 1970 itu
Saat dinding sekolah tak begitu digubris
Saat segalanya memilih menjadi punggung-punggung
Yang setiap pagi dijatuhkan di lahan-lahan sewaan
Tuan, kenapa kau tak minat
menjadi seperti gurumu
Atau kau memilih berkukuh
Seperti dirimu yang dulu
yang baru mulai mengenal beberapa huruf
yang belum begitu bernafsu
memilah teman untuk menemukan banyak ibu
di sudut-sudut bangku sekolah
Pada zaman dahulu itu,
Saat semua orang mengaku
Bahwa tetap teguh bersekolah
Menjadi segala cara menghancurkan segala salah
Kendal, April 2018

Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud di Leiden, Belanda.










