Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Akulah Namamu

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya telah luruh

Selepas segalanya

tak sanggup lagi kuseduh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya tiada kuasa bersimpuh

Selepas segalanya tak sempat berlabuh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat semua memilih tiada

Selepas ramalan berlalu-lalang

Menghancurkan segala rupa wajah

Yang sudah terlanjur belang-belang

Kendal, April 2018


Kerja Sebuah Pertanyaan

Dua malam sudah. Kami cemas.

Pertanyaan kembali bekerja

Hadir dan memulai dengan caranya

yang beda-beda

Mereka lebih senang berbahagia sendiri

Tanpa memikirkan kami,

Yang lelah mencari jawaban bersembunyi

Bergulirlah pertanyaan itu berkali-kali

Bekerja di atas kening mereka sendiri

Kami semakin cemas. Mereka menenteng

bermacam batu-batu

Disimpan rapat-rapat, di balik punggungnya

Yang lebam dan hampir berlubang

Esok hari, kami telah bergulir

Menghampiri pertanyaan kembali

Mereka terus berjalan, seakan kami tak kuasa

mengejar. Semua berlari, menuju segala arah

yang tak pasti kami tahu

Bersamamu segala sesaat, bersama segala waktu

Setelah jawaban urung datang

Selepas segalanya bekerja

dan datang berkali-kali

Dengan pertanyaan-pertanyaan

Yang tak pernah kami ketahui

Kendal, April 2018


Andai Saja Aku Tidur Siang

Andai saja aku tidur siang

Apakah kau masih mau menemaniku

Menjadi peluru, atau menjadi apa saja

Yang lebih gemar melesat melampaui

kecematan cahayamu

Seperti segala waktu,

yang tak butuh perantara

Yang tak sempat berkelit lidah

untuk saling menolak

dan menjejaki segala tidur yang ragu

Andai saja aku tidur siang

Maka kau akan segera melihat

Segenap kegagalan yang melanjutkan tidurku

Menukar sebuah perjalanan yang lelap

Pada petualangan kecil, yang seolah terburu-buru

Mencari segalanya selepas membuka pintu

Andai saja aku tidur siang

Pasti jika kau juga masih begitu saja,

Menjadi segala waktu yang

kau sudah menjadi ngeri

Teman-temanmu yang akan mengangkatmu

tinggi-tinggi

Mereka seakan menemukan kemenanganmu

Saat semua yang terjadi saat itu adalah batu-batu

Kendal, April 2018


Hari Libur di Kalendermu

Di kalendermu

Hari libur telah pulang

Ia memilih keluar lebih awal

Dari kepergianmu yang panjang

Di kalendermu

Hari libur telah hilang

Ia memilih pergi jauh

Meninggalkan banyak kegagalan

Dari segenap ketiadaan

yang kerap tanggal sendirian

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Segalanya seakan bergegas

Memilih tinggal di segala arah

yang lusuh

Melampaui foto-foto yang patah warna

di dinding kamarmu yang pecah-pecah

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Ia memilih abadi

Di kampung yang jauh di sana

Di sebuah hutan

Yang tak pernah lagi dihuni siapa-siapa

Kendal, April 2018


Bulan Tidur Siang

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Kami sudah pesan satu meter ranjang kayu

Yang dikirim langsung dari taman yang gagal

diciptakan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Di atas kasur empuk yang dibeli

dengan sepenuh tunggakan cicilan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Matamu sudah memerah

Semalaman matamu bilang lelah

Menonton rupa-rupa adegan

Yang gagal disetir sutradara pilihan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Dadamu sudah lelah

Ia tak lagi sanggup membaca arah

Dunia telah lelap

Ia memilih tidur sendirian

Sepanjang waktu

Selepas segalanya urung mengguyur tubuhmu

yang kian dangkal

Kendal, April 2018


Biarkan Mata dan Kening Bekerja

Bekerjalah mata, bekerjalah

Berbuatlah melampaui mulutmu

Meninggalkan segala bising

yang nyangkut di kupingmu

Bekerjalah kening, bekerjalah

Berbuatlah melampaui hidungmu

Meninggalkan segala kebusukan

yang nyangkut di dadamu

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening mengerutkan lukanya

Agar nanti, segala kecukupan

Mereka berdua yang mengeja

Membaca dan menerka segalanya

Sebelum semua merasa gelap

Mengikuti jejak dan tafsirmu yang berkelok

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening bekerja, biarkanlah

Kendal, April 2018


Kisahkan Kepada Kami

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Yang menembus batas kesadaran

Yang menerka batas pemahaman

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Tentang jalanan yang lengang

Tentang segala wujud

yang dibiarkan rumpang

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Menuju perkampunganmu itu

Di balik segala keabadian

yang kian membocorkan banyak kekalahan

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Agar kami lekas dan bergegas

Bergerak lurus di jalan yang tak lagi lapang itu

Ruas yang tak lagi diterangi banyak pilihan lampu

Yang tiada lagi menemukan

ke mana arah sesungguhnya pulang

dan ke mana arah melarikan diri

dari tubuh yang gagal

Kendal, April 2018


Dalam Gelap, Kita Lelap

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Meski di luar, hujan tak lagi bergegas

Mengguyur kening kita

Yang kian hari kian retak

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Kita tak siap membawa diri lahir

Kepada segenap panas

Yang menggenangi dada kita

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Orang-orang memilih penasaran

Kenapa mereka memilih diam-diam

dan tidak datang bersamaan

Untuk saling mendinginkan

Untuk saling membakar

Kendal, April 2018


Mematunglah Kami

Maka mematunglah kami

Kepada hari-hari yang lewat

Kepada segenap gegap

Yang tak lagi beri kami gempita

Lihatlah, di sana mereka memilih diam

Menyaksikan ketiadaan kami

Yang pelan-pelan berjalan mundur

Menyusuri tepi punggung kami

Yang kian sepi dari kerja-kerja kepala

Maka mematunglah kami

Kepada malam-malam yang pekat

Kepala segala palung yang tak lagi merenung

Lihatlah, di sana mereka memilih senyap

Membuang dirinya dalam lelap

Mementalkan dirinya jauh-jauh

Ke atas bukit, ke atas segala ketinggian

yang tiada pernah dijejak

Maka mematunglah kami

Ke hadiratmu, kepada segala duka-duka

Kepada segenap lupa-lupa

Kendal, April 2018


Kepada Segala Tuan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau pegawai pemerintahan desa

yang setiap pagi menenteng batu-batu

Pulang membawa suara-suara

Yang dipasung waktu

Tuan, kenapa kau memilih diam

di dalam ransel bekas

Yang kerap ditenteng

mengelilingi banyak pintu

Apakah kau lebih tenang menjadi dirimu

Yang sempat berjaya pada masa 1970 itu

Saat dinding sekolah tak begitu digubris

Saat segalanya memilih menjadi punggung-punggung

Yang setiap pagi dijatuhkan di lahan-lahan sewaan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau kau memilih berkukuh

Seperti dirimu yang dulu

yang baru mulai mengenal beberapa huruf

yang belum begitu bernafsu

memilah teman untuk menemukan banyak ibu

di sudut-sudut bangku sekolah

Pada zaman dahulu itu,

Saat semua orang mengaku

Bahwa tetap teguh bersekolah

Menjadi segala cara menghancurkan segala salah

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud di Leiden, Belanda.

Buku, Resensi

Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019), pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertarikh 2018 terbit menjelang situasi negara yang karut-marut. Menggunakan latar tahun di mana Orde Baru berkuasa, Felix teruji ketelatenannya menjahit keping-keping cerita masyarakat Indonesia bagian timur. Novel yang dilabeli 19+ itu menghamparkan kepada kita kehidupan paling lekat dan sehari-hari. Kehidupan sebagai masyarakat sipil yang kerap dibikin runyam negara dan kemudian juga institusi agama. Tingkah onar negara, aparat, institusi agama baik dalam novel karangan Felix maupun dalam kehidupan kita yang sebenar-benarnya berhasil membuat kita terlalu sering sengsara.

Puluhan tahun Indonesia membungkam Papua. Mengabaikan suara personal mereka, membatasi akses bagi media dalam dan luar negeri yang hendak meliput ke tempat itu, tak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Belakangan menyepelekan protes-protes yang berakibat rusuh dan terus memakan korban jiwa, juga melakukan kejahatan teknologis dengan membatasi akses internet bagi warganya. Atas dalih menjaga keutuhan NKRI, negara acap kali abai pada nilai yang paling dasar dan berarti dalam kehidupan kita—kemanusiaan. Menyalin teriakan histeris Maria saat Sang Perwira menyampaikan pidato di hadapan mendiang suami dan anaknya, dan menghubungkan kematian mereka dengan usaha mempertahankan kesatuan negara. “Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya…” (hlm. 158).

Dalam Orang-Orang Oetimu, Maria sudah lama tak percaya pada negara, aparat, dan institusi agama. Sebelum mendapati segala yang ia perjuangkan melawan negara sia-sia belaka, Maria ialah mahasiswa yang gemar berkoloni untuk membicarakan dan berdebat memperkarakan banyak hal. Perang di Timor Timur, pemerintahan Soeharto yang anti-kritik, agama, dan  segala anak turunannya. Maria ialah representasi gadis yang tak sungkan mengumpati segala hal yang dinilainya tak tepat takaran. Ia juga hampir selalu menyanggah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada lawan bicaranya.

Dalam perkara agama mari kita kutip sebagian kecil sikap Maria menghadapi khotbah agamawan. Saat Frater Yosef memberi keterangan menuding kadar iman dan syukur kita sebagai umat amat minim, sementara itu Tuhan akan menjaga dan memberikan hal-hal terbaik pada kita apabila kita rajin bersyukur. Maria melempar sambutan telak. “Wahai Frater, bagaimana kalau Tuhan Maha murah, tetapi setiap pemberiannya selalu diambil oleh orang-orang yang serakah?” (hlm. 128).

Kekuasaan yang Serakah

Keberadaan negara sejak masa kolonialisme menyengsarakan hampir setiap sendi kehidupan masyarakat kendati kadarnya berlainan-lainan. Perang antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin merelakan banyak sekali nyawa dan harga diri para perempuan muda. Laura belum genap berusia dua puluh saat ayah dan ibunya ditembak aparat di pinggiran dermaga. Ia seharusnya jadi gadis periang, tetapi perang merebut segala yang ada padanya. Termasuk sel-sel telurnya(hlm. 48).

Sekarang, mari kita mampir ke Buenos Aires, menyimak pengisahan Jorge Luis Borges mengenai perang saudara yang melenyapkan nyawa kakeknya. Di awal tahun 1874, Francisco Borges— kakek Jorge Luis Borges, menjadi Komandan Tertinggi di perbatasan Utara dan Barat Buenos Aires. Ia bersama sepuluh atau belasan anak buahnya berderap menuju barisan musuh. Di sana ia dilumpuhkan oleh dua butir peluru Remington (Jorge Luis Borges, 2019: hlm. 6). Dalam kalimat lain, perang senantiasa membawa duka bagi tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kekuasaan Oligarkis

Apa tujuan perang? Ialah ambisi berkuasa. Soesilo Toer melalui Pram dalam Bubu (Pataba Press, 2015) memberi penggambaran mudah terpahami soal itu. Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai perwujudan dari ideologi yang dianut oleh kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, tidak heran apabila kekerasan digunakan sebagai tameng untuk menumpas ideologi yang rawan dan akan mengganggu kelangsungan hidup kekuasaan yang sedang bercokol. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ambisi berkuasa itu menjangkiti hampir setiap orang yang masuk dalam sistem kenegaraan, entah ia bagian dari eksekutif maupun legislatif, pun termasuk yang paling purba mengamini arti kekuasaan ialah para aparat yang apapun duduk perkaranya senantiasa latah main hajar.

Tokoh rekaan Felix hadir dengan cukup utuh untuk memberi gambaran aparat yang latah main hajar. Konon, Sersan Ipi ialah polisi yang mendapat mandat istimewa bertugas di Kampung Oetimu. Mandat itu ia peroleh lantaran Am Siki, kakek asuhnya dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menumpas penjajah demi mempertahankan harkat dan martabat negara. Tiap kali Sersan Ipi muncul, selalu ada yang kena hajar, baik tukang ojek, sopir truk, bahkan anak-anak sekolah sekalipun. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia aparat negara yang berseragam dan bertindak atas nama negara. Ia bertindak demi kebaikan seluruh warga negara. Dan barang siapa melawan aparat, ia berarti melawan negara. Melawan negara sama artinya dengan komunis. Komunis harus dibunuh dan ditanam di hutan jati (hlm. 59).

Praktik “kekuasaan” itu juga terjadi di gereja. Para romo mendayafungsikan statusnya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai orang terhormat guna melakukan pelbagai pelecehan seksual kepada remaja-remaja perempuan binaannya. Para remaja perempuan itu jelas lebih banyak bungkam sebab pelaku pelecehan itu ialah orang yang selama ini sangat dihormati masyarakat. Masyarakat kiranya mudah saja menuduh para gadis hendak merendahkan harkat martabat para romo dengan membuat kabar miring sedemikian rupa.

Praktik “kekuasaan” yang lain lagi ialah sekolah berbasis keagamaan yang sebelumnya dikhususkan sebagai sekolah untuk warga kurang mampu, yang secara berangsur dipoles jadi sekolah elitis yang memberlakukan biaya sangat mahal dan susah dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Perlahan namun pasti, di sekolah itu anak-anak dari keluarga kurang mampu tak bersisa sama sekali. Demikianlah aturan main tuan-tuan yang mahakuasa. Mereka menghendaki masyarakat sipilnya jadi mahasengsara. Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Cerpen

Kunang-Kunang di Mata Julian

Cerpen Dody Wardy Manalu

Pemuda itu berdiri di bawah pohon kemboja di samping gereja. Ia menatap kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar. Julian, demikian namanya. Namun teman-temannya lebih sering memanggil namanya tanpa huruf N. Julia. Ia tak kuasa berontak saat mereka mengejek dirinya dengan nama itu.

“Aku ingin berbagi bekal denganmu.”

Solura menghampiri. Ia sudah lama mengintip dari balik jendela gereja. Julian tergeragap mendapati gadis pemurung itu berdiri di sebelahnya. Tangan Solura menenteng sebuah rantang.

“Aku tidak mau kalau menunya nasi goreng lagi.”

“Aku tahu kamu suka sekali roti bakar isi cokelat.”

Julian mengekor di belakang Solura. Mereka menuju batu besar tepat di depan gereja. Kelompok muda-mudi sedang latihan natal. Solura sering merasa lapar hingga terpaksa bawa bekal ke gereja. Latihan berlangsung hingga sore. Solura melepas tutup rantang. Aroma cokelat menguar di udara.

“Makan roti bakar membawaku ke masa tiga belas tahun silam. Ayahku selalu membelikannya setiap pulang dari pasar.”

Julian bercerita sembari melahap roti pemberian Solura. Persahabatan mereka sudah terjalin selama dua tahun lima bulan saat pertama kali masuk jadi anggota muda-mudi gereja. Siapa mau berteman dengan gadis pemurung dan pemuda bermata sendu? Tidak ada. Mereka dipertemukan oleh nasib serupa.

“Tampaknya kamu bahagia hari ini.”

“Dari mana kamu tahu.”

“Ribuan kunang-kunang di matamu memancarkan cahaya.”

Bibir Julian tersenyum. Gadis pemurung itu pintar sekali menggombal. Mana bisa kunang-kunang berdiam dalam bola mata.

“Apa ayahmu masih membelikan roti bakar hingga sekarang?”

Wajah Julian mendadak muram. Cahaya kunang-kunang di matanya meredup. Ayahnya berubah seiring bertambah usia Julian. Ia sering dipukul gara-gara kedapatan main boneka dengan anak perempuan tetangga.

“Salah bila laki-laki tidak suka main bola?”

Mereka saling tatap. Cahaya kunang-kunang di mata Julian benar-benar redup.

“Apa salah bila perempuan tidak suka lipstik?”

Solura balik bertanya. Julian menggeleng. Ketika masih kecil, ayahnya kerap memaksa dirinya menonton bola semalam suntuk.

“Lelaki itu harus suka nonton bola, bukan nonton kartun barbie. Duduk di samping ayah. Temani ayah nonton. Kamu tidur di luar bila mengantuk.”

Julian ketakutan. Setengah mati menahan mata untuk tidak tidur. Menonton acara TV tidak kita suka sama dengan memaksa diri menyantap makanan busuk. Julian dipaksa berteriak ketika terjadi gol, meski air mata tak henti berjatuhan.

*

Solura belajar memoles wajah, menyapukan lipstik pada bibir. Hasilnya tidak terlalu buruk. Wajahnya terlihat lebih cantik terpantul di cermin. Solura ingin berubah di mata Julian. Bukan lagi gadis pemurung ber’aroma bunga ilalang. Ia pecahkan celengan demi membeli sebotol parfum ber’aroma bunga lili. Solura malu mengakui perasaannya. Takut perasaan itu membuat kunang-kunang di mata Julian terbang dan tak kembali.

Solura menerima Julian apa adanya. Julian tidak tahu banyak hal. Ia tidak tahu main bola, memanjat kelapa, menjaring ikan dan meng’kapak kayu. Namun Julian punya kelebihan. Ia pintar membedakan bumbu masak. Ia bisa mengubah masakan sederhana menjadi bercita rasa tinggi. Julian juga pintar menggambar model pakaian. Bahkan selalu mendorong Solura untuk tampil modis.

Solura ingin memiliki Julian bukan sebagai sahabat. Ia mencintai Julian layak seorang gadis tergila-gila pada seorang pemuda. Solura sering bermimpi hadiri pesta dengan digandeng oleh Julian. Ingin tunjukkan pada orang-orang bila mereka bukan pasangan aneh.

Sebuah sms masuk di kotak pesan membuat khayalan Solura terhenti: Apa yang kamu lakukan? Kamu cantik. Tapi lipstikmu terlalu tebal. Gegas Solura berlari ke jendela. Julian tengah berdiri di halaman menatap lurus ke arah kamarnya.

“Bisa menemaniku malam ini?”

“Ke mana.”

“Menonton organ tunggal di kampung sebelah.”

“Aku segera keluar.”

“Jangan keluar sebelum lipstik tebalmu itu kamu hapus.”

Solura berlari sembari menghapus lipstik di bibir. Bersama Julian, ia bisa menikmati dunia. Ia bisa berubah menjadi gadis cerewet. Ribuan kunang-kunang di bola mata Julian seperti kerlip lampu pohon natal di bulan Desember.

*

Sehabis latihan, puluhan pemuda berlarian menuju lapangan bola. Di jalan setapak di bawah pohon pinus, Solura melihat kejadian itu. Hatinya beku bagai sebongkah salju melihat kunang-kunang di mata Julian enggan bercahaya.

“Jangan bergabung dengan kami.”

Salah satu dari mereka mendorong Julian hingga tersungkur.

“Hanya ingin melihat kalian main bola. Apa tidak boleh?”

“Kami enggan berteman dengan orang tak jelas jenis kelaminnya.”

Ribuan kunang-kunang di mata Julian tenggelam dalam pusaran air bah. Matanya berkaca-kaca. Solura menerobos kerumunan dan membawa pergi Julian. Mereka melewati koridor gereja, melintasi rumah Pendeta dan belok kiri menuju bangunan tua berada di puncak bukit.

“Apa benar aku tidak berguna?”

Julian mematung di tengah ruangan. Solura tak kuasa menatap ribuan kunang-kunang di mata Julian berdengung mirip tangisan.

“Setidaknya kamu berguna untukku.”

Julian dongakkan wajah, menatap Solura berdiri di hadapannya. Rambut Solura digerai. Ia memakai baju tipis. Bibirnya merah jambu. Polesan make up minimalis membuat Solura bagai bidadari. Ia cantik sekali. Solura meloloskan pakaian hingga jatuh ke lantai. Cahaya senja menerobos masuk dari ventilasi menyinari seluruh tubuh Solura. Julian terkesiap.

“Aku mencintaimu sejak dulu. Seperti cinta dimiliki Juliet pada Romeo dalam kisah roman itu. Bukan cinta seorang kakak pada adiknya.”

Solura meraih tangan Julian, lalu meletakkan tangan itu di atas dada membusung. Berharap pemuda itu mengelus dan mengecupnya. Ke mana hasrat itu? Tak ada niat untuk menikmati. Julian memaki diri. Buru-buru menarik tangan, lalu memungut pakaian tergeletak di lantai.

“Pakai kembali bajumu. Aku tidak bisa.” ujar Julian sembari berjalan menuju sudut ruang.

“Apa kekuranganku.”

Solura rela merendahkan diri demi cinta. Julian tetap menolak.

“Justru kekurangan itu ada di sini. Di hatiku.”

Julian menunjuk dada. Tangisnya pecah. Rasa itu tak pernah ada.

“Hatiku tidak tergerak.”

Julian memukul-mukul dada sekuat tenaga.

“Apa aku tak pernah ada di hatimu?”

“Kamu selalu ada di hatiku. Namun sebagai sahabat. Selamanya jadi sahabat.”

Ribuan balok menghantam dada Solura. Tak ada lagi kesempatan untuk dapatkan Julian. Ruang itu telah tertutup. Selamanya jadi sahabat.

“Kamu bilang, di mataku bersarang ribuan kunang-kunang. Bila kamu sedih, kunang-kunang itu akan menangis. Mereka tidak akan mengeluarkan cahaya lagi.” ujar Julian sembari menarik tangan Solura keluar. Ia tahu ke mana membawa Solura pergi. Padang ilalang!

*

Sudah tiga hari Julian tidak hadir latihan. Tidak biasanya pemuda itu absen. Pulang dari gereja, Solura gegas ke rumah Julian.

“Mau ditaro di mana muka ayahmu ini.”

Suara dari dalam rumah urungkan langkah Solura. Ayah Julian marah-marah. Solura berlari ke samping rumah mengintip dari celah jendela. Julian diikat pada sebuah tiang. Wajahnya lebam-lebam. Ada kemarahan di bola mata Julian. Ribuan kunang-kunang itu mengeluarkan cahaya api.

“Lebih baik kamu kedapatan membuntingi anak gadis orang dari pada kedapatan berciuman dengan laki-laki.” bentaknya ayahnya. Sekujur tubuh Julian lebam membiru. Solura masuk dari jendela setelah ayah Julian keluar.

“Maaf tidak bisa menolongmu.”

Solura menangis menatap wajah Julian yang hancur. Matanya bengkak.

“Aku malu dilihat olehmu dalam keadaan seperti ini. Aku ingin mati saja.”

Cahaya ribuan kunang-kunang di mata Julian meredup.

“Aku bawa makanan kesukaanmu.” ujar Solura sembari membuka plastik. Roti bakar isi cokelat. Solura mengambil satu iris, lalu menyuapkan ke mulut Julian.

“Kelak, bila kamu punya anak laki-laki, latih ia main bola. Cukup aku mengalami nasib buruk ini.”

Kembali Solura menyuapkan roti ke mulut Julian. Segerombol kunang-kunang keluar dari matanya. Seluruh ruangan dipenuhi ribuan kunang-kunang. Perlahan, kelopak mata Julian tertutup. Tertutup selamanya!***


Dody Wardy Manalu. Lahir di kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menghabiskan masa remaja di kota Sibolga menjadi salah satu siswa di SMA Katolik di kota itu. Awal tahun 2015 mulai serius menulis. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa media.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Merawat Cinta dalam Jangkauan

lampu mati,

mengirim gelap yang mendekatkan

senyata kenyataan yang menghimpit

angkasa lapang,

sepi dari lalu-lalang pujian

sekhusyuk lilin di tengah ruangan

fajar di halaman,

rumput-rumput berdesakan

sembunyikan genangan hujan semalam

kebun,

harapan yang segan tumbuh

derai gulma, ilalang dan tanah jenuh

rumah,

menaungi sisa-sisa kantor

kran bocor dan tumpukan piring kotor

anak-anak,

nyala yang tak pernah kau saksikan

di kepulanganmu yang masih keruh

istri,

kesejukan yang kau lewatkan

dalam sunyi dan kesetiaan menanti

cinta,

adalah bagaimana kesanggupanmu

menjangkau dan merawatnya


Ke Mana Pergi

dunia belakangan jadi sempit

bahkan tak lebih besar dari ibu jari

sementara zaman demi zaman

kerap melahirkan orang-orang besar

yang lebih banyak dari rahim mancanagari

ke mana pergi pewaris ibu pertiwi?

sehari terasa tak cukup

waktu terengah-engah hampir tak sanggup

sementara otak tak lagi berupa lahan subur

kerja otak tak bisa dihitung

acapkali tak keluar keringat justru bikin makmur

ke mana pergi pelaksana hati?

rasa dan ketulusan cukup dipajang

agar selalu ada kenangan

sekalipun bukan milik sendiri

hidup harus hemat jangan dibuka semua

secukupnya untuk diri kita sendiri saja

ke mana pergi diri yang belum mati?


Menunggu Kedatangan

awan berkelipat-gelung menelan senja yang tak gesa

angin menghimpun gelap mendorong malam tiba lebih cepat

orang-orang bergegas mengaliri lorong masing-masing

sementara butiran kehidupan mulai menitik singgahi segala muka

dan langit semakin menunduk, kian dekat dari sebelumnya

hitam di mata orang-orang mendekati batas kelopak pandangan

air muka kerut, simpul kening menjerat perlihatkan penat

hujan pun tiba dan malam melindungi penuh gelora

anak-anak memandangi jalanan basah dari balik kaca jendela

dan aku diam-diam melepas rindu bersama deras tak berkesudahan

sepertinya anak panah itu melesat,

angan itu bergelantungan,

rindu itu di kedalaman

sepertinya…, tak perlu kau tanyakan

kucing-kucing terdesak dingin di emperan hingga hujan berselang

gerah seharian dikuliti, hingga tinggal belulang

tergolek aku di kesendirian, menimbang utang yang belum lunas

selama purnama masih terhalang mendung di mata anak-anak negeri

dan sedikit pun tak kukenali lagi bara api di dada para terpelajar

sepertinya laju takdir tercerabut,

jalan maju kian terentang,

rindu ini belum terlawan

sepertinya…, akan segera datang


Mendekatlah

mendekatlah padaku,

dengarkan kabar tentang elang

yang melayang tenang terdorong angin

mengarungi cakrawala dengan mata waspada

menghitung berapa kali pusaran berputar

menyaksikan perubahan, merekam kenyataan

itulah kabar tentang batas hari ini dan esok

yang harus segera kita kerjakan

mendekatlah pada-nya,

dengarkan kabar tentang bintang

yang bertengger di dahan keabadian

menyandarkan kegalauan dan keragu-raguan

melabuhkan harapan penuh penghambaan

menyusun ingatan tentang pergulatan fana

itulah kabar tentang batas daya dan upaya akal

yang harus segera kita endapkan

mendekatlah pada diri,

dengarkan kabar tentang tanah negeri

yang kering kala hujan tak datang

menyediakan hamparan kejujuran

menorehkan jejak-jejak terdalam

menempuh kesadaran dan tanggungjawab

itulah kabar tentang batas selain kau dan engkau

yang harus segera kita kabarkan


Sejarah Kerinduan

adakalanya kerinduan menjelma wewangian

terpendar dari rona tersipu bebunga taman

merayapi segala penjuru lesu yang hiruk pikuk

hingga para penghuninya seketika bertengadah

dan serasa teraliri dengan darah-darah yang baru saja diperas

dari kemerahan mega saat matahari mulai menggeliat

dan menyingkap selimut yang semalaman

telah membungkus keseluruhannya dengan rapat

kantuk melarut, keletihan menguap,

selayak kabut yang kian menipis saat mentari mengintip

tapi siapa yang tahu dari mana datangnya wewangian bunga?

seperti kerinduan yang tiba-tiba saja mendekap erat,

tak lagi memberi ruang bagi siapa saja

yang menghuni lesu untuk bergelimpangan tak bertenaga

tanpa kita tahu dari mana awal keberangkatannya

dan di mana tempat yang menerima kepulangannya


Kalian dan Kita

I

teman

: entah kepada siapa sebutan ini kutujukan

ketika kusadari napas yang menandai hidup

bersama kalian hingga detik ini

tatapanku seakan menghindar

dari kecenderungan hasrat banyak orang

dan barangkali juga kalian

alam kita sama, zaman kita sama pula

akan tetapi ada ruang-ruang kesunyian

yang selalu menarikku ke sana

sesak kurasakan di keramaian

kosong kurasakan di perayaan-perayaan

jiwaku selalu mengembara

menelusuri celah-celah tak menarik

mendekati yang kalian singkirkan

II

teman

: entah kepada siapa tanda ini kusematkan

kaki angin tersangkut di sangkar kenangan

ketika kita berdua tertegun dan sangsi

mentari tak beranjak seolah memberi jalan

bagi kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang kita ramal

kita pernah saling bertandang

saling berkirim jejak kaki di lantai yang asing

sebelum akhirnya kita sadari tak pernah ke mana-mana

saat di mana otak dan perut kita telah sama-sama terisi

angin masih saja tersangkut

sepertinya menunggu dentang rencana

yang barangkali tengah disiapkan untuk kita

sedangkan kita tak lagi tertegun dan sangsi

semoga sampai kapan pun, meski tak lagi di sini

III

pada suatu saat nanti

bersama-sama akan kita petik kembali

kemewahan yang pernah mengaliri nadi

seperti diamnya batu

seperti kehadiran yang tertunda sekian lama

dan wangi kemewahan itu tak bisa kita tolak

mencumbui ke mana saja angin pergi

bersama tetesan waktu

bersama kening kita yang batasnya kian menepi

dan cukup lewat berita yang tak perlu dimuat

sehingga pantas untuk datangnya senja

pada suatu saat nanti

ada kemilau berputar di batas nalar

kemewahan yang menjadi pundi-pundi


Tiga Anak Kucing

tiga kucing kecil memburu anak sungai

masing-masing berbinar purnama yang berbeda

jemariku yang hitung sepekan merasai kelembutan

entah genap atau baru sedalam sayatan pisau

bulu mataku seketika rontok tergoyang bayu sasmita

menolak semai benih-benih pengebirian

tiga anak kucing dengan ekor terombang-ambing

seburuk ranting yang patah ketika muda

saat kala melibas deras tak ambil pusing

lalu terbirit tanpa sekalipun berpaling muka

putik-putik surya di kepalaku menangkap bahasa kebisuan

membuka lipatan subuh yang terbungkam dingin

benih-benih, tandas begitu ditanam

membingkai jalan pencarian anak sungai

arah manakah mereka?

tiga anak kucing rebah lupa gelisah

tupai-tupai pingsan saksikan langkah memukau, kebingungan

alangkah pelik bekal yang harus dibawa

bukannya cukup karsa terhunus tak putus

alam telah sediakan jalan untuk haus dan lapar

dan tak hanya mentari yang sanggup memanggang kebekuan

tiga anak kucing mengerontang

kedatangan tua sejuk bersepoi-sepoi

dan anak sungai masih nampak di ujung mata


Pada Butir-Butir Padi

sebelum kita sama-sama tahu

bahwa jalan ini segera bersinggah

sadar kusongsong pelita di kedalaman sanubarimu

dan langkah kita terbawa oleh satu cerita

mengukir dialog- dialog yang terajut rapat

kita banyak belajar darinya, tentang sebuah perjalanan

pun ketika kita berjarak satu sama lain

masih mampu kita hadir bersama-sama

menjumpai orang-orang dan keseharian kita masing-masing

kau hadir sertaiku dan kusertai kehadiranmu

karena cinta bagi kita alam semesta

karena hidup bagi kita jalan cerita

tirai demi tirai terbuka

dan genggaman kita bersinar seperti matahari

kita selalu percaya binar itu tak mungkin padam

seperti halnya kita selalu yakin

kehidupan masih tersedia pada butir-butir padi

kita sama-sama terdiam suatu ketika

dan lewat pejam kita saling berpandangan

bersama kita sadari tak punya apa-apa

hanya cinta, kesetiaan, dan rasa percaya

hati kita pun berdekapan agar lebih kuat

menumbangkan tiupan angin sekeliling

             naskah demi naskah terbaca

             dan kegamangan kita menjelma patri kesungguhan

             kita selalu mencoba berbicara dengan kenyataan-kenyataan sulit

             seperti halnya kita bertanya ke hati

             saat asa masih tersimpan pada butir-butir padi


Perjalanan Malam

sore, kala kunang-kunang masih bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan

sukma-sukma yang baru saja terbangun berkerumun di ujung hari

mendekat satu sama lain, meraba kenangan sepanjang lelap sehari

subuh masih tercekat di belahan masa yang berbeda

perjalanan usia nampak tatkala cahaya mengurai bentuknya sendiri

sementara rembulan pucat menanti jelaga terhampar

jemari senja kian nampak sedang meraih bentang angkasa

usai kuundang kenangan yang tak lagi sekadar kerinduan

sedang raga terlanjur letih, ditemani sisa-sisa dosa yang menempel di benak hari

sementara jiwa menyapa beranda-beranda yang masing-masing menunggu dikunjungi

seteguk kerinduan basahi sekujur angin yang terdiam telanjang

membalut luka kenangan meski tak sembuh seketika

saat jelaga tumpah dan di antara kita rasa ini menjadi sahabat

menemani di setiap putaran, menyertai di setiap perjalanan

sepi pun menyediakan ruang pengembaraan yang begitu luas

di perbatasan kota, di mana kenangan membawa serta sekawanan harapan

berdua kita berdiri, sama-sama menjadi saksi kedatangannya

emas cahaya rembulan hinggap, memberi irama perjalanan

hingga saat kelambu malam terbakar di ujung timur

dan lagi-lagi kita sadari, satu langkah lagi akan menyusul esok hari


Hikayat Purnama

purnama mengantarkan kedatanganmu

di jendela yang sengaja kubuka malam ini

angin malam berduyun-duyun menyelimuti

dan langit tersapu pucat oleh awan-awan tipis

aku sedang menatap purnama itu

di rengkuhan langit yang kelelahan

kusaksikan drama yang begitu panjang

seperti saat kutebus kerinduan tadi pagi

tertera begitu tegas namamu

yang sanggup membuat purnama hadir dengan kerelaan

demi menghimpun keseluruhan cerita tentang kita

memenuhi rangkaian episode tak kenal akhir

di jendela yang membingkainya ke dalam petak-petak kenangan

bersama malam, bersama dingin

bersama sejarah yang tengah kita kerjakan


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Cerpen

Sebuah Ranting di Rambutmu

Cerpen Fina Lanahdiana

Pohon waru itu berhantu. Orang-orang memercayainya dengan alasan yang mungkin telah dirancang sedemikian masuk akal di kepala mereka, alasan yang tidak berlaku untuk kau.

“Dengar, Nelia. Pohon itu memang tampak tua karena usia, sehingga batang itu harus tampak keropos dan rapuh. Di luar itu hanyalah prasangka yang tidak pantas dipelihara oleh pikiran siapa pun. Bukan sebuah horor yang selama ini mereka, para orang lama perdengarkan.”

Kau sebut para orang tua di kampung kita sebagai orang lama, hanya sebab kau merasa lahir di zaman yang serba modern dengan aneka perangkat berbasis mesin. Mungkin kelak manusia tidak lagi dibutuhkan, dan segala pekerjaan beres dilakukan para robot buatan manusia. Lalu, bukankah pengangguran akan kian bertumbuh dan bertambah? Segala yang usang mestilah dimusnahkan, itu katamu. Termasuk cara pikir kuno memercayai segala yang tak tampak oleh mata.

Kau usapkan warna merah buah murbei ke bibirmu. Perih. Sariawan. Tapi kau tetap tak peduli meskipun jelas kau tengah meringis menahan nyeri.

Pohon waru itu tua dan tegak di sisi Kalibodri, sungai yang memisahkan dua kecamatan berbeda: Cepiring dan Patebon.

“Begitu mudah perbedaan lahir dari perpecahan,”

“Apa tidak terbalik?”

Matamu mengerjap tiga kali, memandang dengan takjub. Tertarik. Mungkin. Atau entah.

Desa Pidodo yang berkecamatan Patebon berada di satu lintasan dengan seluruh desa milik Kecamatan Cepiring. Mengapa? Katamu suatu ketika. Ibumu, sebagai orang lama merasa senang sebab kau begitu ingin tahu. Sejarah kecil yang tidak tertulis di buku mana pun. Hanya cerita dari mulut ke mulut yang sebenarnya susah dipercaya–meskipun tentu saja, masuk akal.

“Di masa lampau, Kalibodri hanyalah sungai lurus yang menuju muara. Akan tetapi, sebab peristiwa banjir besar yang menyebabkan tanggul bedah menumpahkan seluruh isi perut sungai sehingga harus menyebabkan sungai itu melebar dan berbelok ke kiri. Sementara Desa Pidodo yang semula berada di ruas kanan Kalibodri pun menyesuaikan diri, meluas sehingga bergabung dengan ruas kiri Kalibodri. Dan di antara belokan tanggul itu, bukankah kau sudah tahu perihal tanggul malang?”

Dahimu membentuk sungai-sungai kecil kering, sulit mencerna penjelasan ibumu. Bagaimana mungkin? Tapi pada akhirnya kau cepat lupa sebab bagimu cerita itu tak lebih sekadar dongeng.

Tanggul malang itu serupa bayi sungsang. Oleh sebab itu, setiap satu tahun sekali di bulan suro, dilakukan pesta rakyat dengan serangkaian acara: pasar malam, pertunjukan wayang, nyadran ke tengah laut, pertunjukan singo barong, dan ditutup kembali oleh pertunjukan wayang.

“Luka sekecil apa pun, kenapa tetap terasa sebagai luka jika dicampur dengan rasa asam dan asin?”

“Mungkin juga rasa-rasa yang lain,”

Kita duduk di bawah pohon waru. Rambutmu serupa ombak pendek yang meriap-riap menjilat pantai daratan. Mulutmu masih mengulum murbei yang semestinya belum terlalu matang itu. Menghadap sungai. Perahu-perahu berjajar, salah satunya milik ayahmu. Dan kau senang berada di atasnya. Kadang-kadang ikut berlayar hingga beberapa hari tanpa pulang. Tanpa mandi, mengusung bau ikan yang demikian menyengat di sekujur tubuhmu, dan kau merasa sebagai laki-laki yang tangguh serupa ayahmu.

“Kenapa kau suka sekali mengulum murbei?”

“Aku suka warnanya. Akan membuat bibirku merah. Kau ingin coba?”

Aku menggeleng. Tidak, dengan bisikan hampir tak terdengar olehmu.

“Mengapa? Kau perempuan,”

“Lalu kenapa jika aku perempuan?”

“Berdandanlah sedikit. Seperti ibumu. Bibirmu mesti merah segar. Kau bisa mengusapnya dengan murbei. Tidak harus beli, kan? Pipimu mesti putih dengan sapuan bedak. Dan rambutmu itu lebih menyerupai sarang burung di atas dahan. Sisirlah dengan olesan orang-aring hingga licin, dan lalat saja akan jatuh terpeleset.”

Kau tergelak sambil menepuk-nepuk lengan atasku. Sakit. Kataku. Kubilang kau pada ibuku.

“Dasar tukang ngadu.”

Tentu saja aku tak sungguh-sungguh mengatakannya. Hanya ancaman yang tak berarti apa-apa.

***

“Mau ke mana?”

“Naik,”

“Nanti jatuh,”

“Tidak akan.”

Kau memang tidak pernah jatuh hanya sebab memanjat. Kau terlalu lihai untuk sekadar terpeleset. Jatuh.

Kau petik sebuah ranting pohon waru yang masih cukup muda dan segera turun. Melompat. Dan aku kaget bukan main.

“Aku menemukan sesuatu untukmu,”

“Apa?”

“Kemarilah, Nelia. Mendekat. Lebih dekat lagi.”

Aku mendengar deru napasku sendiri. Detak jantungku yang seolah drum kaleng roti bergambar keluarga yang berulang kali dipukul ritmis. Tentang kaleng roti itu, aku pernah hampir tidak menginginkan segala jenis roti saat berkunjung sebagai tamu hanya sebab kaleng merah bergambar keluarga itu tidak kutemukan di atas meja si pemilik rumah. Tentu saja, saat itu usiaku masih lima dan belum pandai untuk mengungkapkan sesuatu dan hanya bisa merajuk dan menangis tanpa orang tuaku benar-benar tahu apa yang kuinginkan.

Mula-mula kau ambil pisau kecil di dalam saku, menyayat bagian tengah ranting. Memanjang namun belum sampai putus. Tangan kirimu cekatan mengambil helai-helai rambutku, mengumpulkannya, lantas dengan tangan kananmu memasukkannya ke dalam lubang ranting yang telah kau siapkan. Memutarnya, dan mengunci rambutku. Entah bagaimana caranya, rambutku yang katamu serupa sarang burung itu, telah rapi dengan puncak membentuk sebuah gelungan.

“Kau lebih tampak sebagai perempuan sekarang. Jangan potong rambutmu dan aku ingin melihatnya memanjang hingga pinggang. Dan jangan biarkan kepalamu dipenuhi sarang burung sialan yang kelak mengotori wajahmu dengan warna kusam.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sejak itu, aku lebih sering mandi dan menata tubuhku. Menggosok dengan batu hingga daki warna abu-abu menggumpal, bau wangi sabun yang busanya kupaksa ada hingga bergelembung-gelembung, sesekali mencuri bedak milik ibu, dan memanjangkan rambut segaris pinggang.

“Jika kau mandi, gosokkan sabun hingga kulitmu benar-benar kesat sehingga air yang kau guyurkan membentuk embun-embun kecil. Artinya kuman tidak akan lagi bisa menyerangmu dengan cara apa pun.”

Tentu saja itu hanyalah omong kosong, yang meskipun secanggih apa mesin, tidak akan pernah menghasilkan kebenaran. Kau melotot mendengar itu dari Zed, teman kita yang pengecut sebab selalu lari dan menangis untuk pulang ketika kalah dalam bermain apa pun.

Ibu begitu heran melihat perubahanku. Kau tahu benar, gara-gara kulitku yang berwarna gelap, ibuku pernah memaksaku untuk bersekolah dengan fasilitas asrama. Agar tak cuma main saja kerjaanmu, kata ibu. Entah di mana hubungannya, aku tidak tahu ketika itu. Itu alasan yang lebih masuk akal dibandingkan dengan: tinggal di asrama bisa membuat kulit penghuninya lebih cemerlang karena sering dilarang keluar meski di waktu-waktu luang. Meskipun banyak juga yang demikian.

***

Waktu cepat melahap setiap yang berada di bawahnya. Kini usiaku dua puluh dua dan tiba-tiba mengingatmu.

Lewat sebuah mimpi, kau datang. Tersenyum. Aku geli. Kau, entah tampak lebih bahagia daripada sebelum, sebelum, dan sebelumnya lagi yang sangat banyak di belakang. Bibirmu merah seperti yang kau harapkan.

“Aku tidak suka dituduh sebagai perokok hanya karena bibirku yang cokelat gelap kehitaman. Aku tidak pernah sekali pun merokok. Sebelumnya. Tapi sekarang aku merokok. Hanya untuk menuruti sifat keras kepala ayahku agar tampak sebagai kebenaran.”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena ayahku yang menginginkannya.”

Kau baik-baik saja, dan bahagia setelah aku menanyakan kabar. Bagaimana kau, Nelia.

“Bagaimana menurutmu? Tidakkah aku sungguh seorang perempuan sekarang?”

“Ya. Kau cantik sekarang. Dan tidak lagi menyimpan sarang burung di atas kepalamu. Atau kutu.”

“Enak saja, aku tidak pernah sekali pun memelihara kutu.”

Kau terbahak-bahak. Mengusap rambutku, yang kini terjuntai lurus segaris pinggang serupa lintasan air terjun. Seperti keinginanmu.

Kau tentu tidak mendengarnya sebab aku hanya berkata pada diriku sendiri. Seolah gema yang memantul-mantul di sebuah ruang tanpa lubang udara.

Aku cinta kau.

Pagi menerobos kedua mataku dengan begitu sembrono. Panas. Bukan hangat. Jendela telah menampilkan warna terang. Hijau daun-daun, cokelat atap rumah tetangga, biru langit, putih awan, bening embun, bau basah. Petrikor. Bau kau.

“Apakah semalam hujan, Bu?”

“Sangat deras. Tidakkah kau mendengarnya?”

Aku hanya menggeleng. Berjalan ke meja. Mengambil gelas tengkurap, mengisinya dengan bubuk cokelat dan air panas. Tanpa cuci muka.

“Tidakkah aneh jika pagi ini matahari datang terlalu dini?”

“Kupikir kau sedang sakit demam. Jadi aku memilih tidak membangunkanmu.”

Aku diam sejenak dengan lubang mulut mengerucut bibir rapat, menahan cokelat panas yang telah menciptakan gembung di kedua pipi.

“Memangnya ini jam berapa?”

“Sembilan lebih dua puluh satu.”

Aku terkejut.  Terpaksa libur kerja dan memutuskan memungut buku di rak secara acak. Mengenakan kacamata bundar, dan membaca.  Mungkin sedikit terlambat karena buku itu telah lama kumiliki dan tidak langsung kubaca karena merasa tidak becus meluangkan waktu. Sebuah novel pemberian temanku. Berwarna biru dengan gambar seekor monyet terbalik. Lumayan tebal. Tapi cukup menarik perhatianku karena sering diperbincangkan oleh teman-temanku. Sebuah cita-cita dan cinta seekor monyet yang ingin menjadi dan mencintai seorang manusia.

Aku cinta kau. Bagaimanapun, mimpi telah dibangunkan mata yang terbuka, tapi bagaimana kalimat itu tetap melompat-lompat di dalam kepala?

Dadaku berdebar mengingatmu. Kau dengan sebuah ranting tanaman rambat di rambutmu: sebuah lingkaran seperti mahkota. Tubuhmu yang tak lagi bergerak, menghilang beberapa hari dan ditemukan dalam kondisi hampir membusuk dengan sekujur tubuh berwarna hijau kebiruan, Di arus Kalibodri. Bercampur warna pucat tanpa mengenal matahari. Mungkin vampir telah menghisap darahmu. Aku ngeri. Nyeri. Mungkin kau benar, Bama. Pohon waru itu tidak berhantu. Tapi aku.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Puisi

Puisi Kharisma Damayanti

Malam yang Panjang

Doa berembus dari bibirmu

dan kau tiupkan di sekujur malam

mimpi baik akan datang

menyelimuti lelap yang dingin

Pejamkan mata sekarang

apalagi yang sibuk berlalu-lalang

di dadamu itu?

Mengapa tak kau loloskan saja

agar ia bebas menyusuri malam

dan menemukan tempatnya bertenang-tenang?

Waktu semakin tajam

kau sampai di puncak sepi

mengetuk bulan untuk membukakan

pintu cahaya lalu masuk dan

menemukan dirimu jatuh di antara

lembaran-lembaran masa lalu

Kau sudah lelah, tampak dari

sajak-sajak yang kau bacakan

hanya bergaung di kepala

tak pernah didengar oleh siapa-siapa

Tidurlah,

maka malam akan terasa panjang

dan pagi masihlah jauh membangunkan

rindu di hati tabahmu itu

Magetan, Oktober 2019


Doa di Suatu Hari Menjelang Pagi  

Sunyi meninggi

malam kian menepi

embun terburu-buru tumbuh

dari dadamu yang rapuh

Jelang pagi

hening bersuara di kepalamu

meribut segala ingatan

isak tak bisa lagi kau tahan

Lalu yang pecah

adalah gelas-gelas matamu

berserak masa lalu di lantai

begitu buram semua itu

Puncak sunyi

langit masih gelap

azan pertama menyelinap

di jantungmu yang berkarat

Sedikit berdebar,

kau menunggu matahari jatuh

mengeringkan luka-luka yang ngembun

dari celah matamu

Magetan, Oktober 2019


Pukul Setengah Sepuluh

Matahari pukul setengah sepuluh

mencondongkan tubuhnya kepadamu

sampai peluh membasahi kepala

membanjur sampai sela-sela doa

Kau lihat langit pukul setengah sepuluh

jutaan burung melesat pergi dari tanganmu

yang sedari subuh kau penjarakan

demi meraup harapan demi harapan

Mendung belum lagi bangun,

tapi kau telah menginginkan gerimis

bertandang ke rumahmu selagi

anak-istri menekan kosong perut mereka

Cuaca sedang sekarat, katamu

terik tak bisa diajak kompromi

meski kau jejalkan dupa

ke kantong bolong musim

Tak bisa, langit pukul setengah sepuluh

memang selalu begitu

mengikat setiap lakumu

yang mulai linglung dan bosan

Tapi, tidakkah kau rela berjalan jauh

demi menemukan cuaca

anak-istrimu sudah lama menanti

bermandi gerimis tertawa-tawa

Pukul setengah sepuluh lebih

langit menangis tanpa air mata

Magetan, Oktober 2019


Cuaca yang Baik

Tenanglah,

bukankah cuaca sudah mengalah hari ini

ia tak membebankan tugasnya padamu

juga tak mengundang angin untuk membadai

di sore yang kelewat hening

Jangan salahkan ia,

puisi-puisimu tak ditulis musiman kan?

kau berkata-kata sepanjang hari

bahkan cuaca senantiasa mengabadikan

dengan mengalirkan napasnya ke denyut ingatanmu

Ia setia melakukan tugas

merawat baik kenanganmu

tak membiarkan waktu mencurinya atau meracuni dengan khayalan-khayalan

Maka tenanglah,

cukupkan hatimu yang sakit itu

biarkan perlahan pulih dengan merelakan yang tak kembali

dan kelak pun sembuh saat kau sudah berdamai dan memaafkan luka-luka di masa lalu

Magetan, Oktober 2019


Menanti Hujan Turun

Di beranda, sepasang mata berkaca-kaca membaca cuaca. Semesta di pikirannya sibuk melipat kemarau dan berusaha merentangkan penghujan.

Sementara itu, di luar angin beraroma tanah basah. Semilir membelai kenangan yang menjuntai-juntai dari ingatan. Denyar gerimis mulai terasa menitik satu-satu dari mata.

Hujan pun turun. Ricih-ricih waktu deras bersejatuh. Memanggil-manggil doa dari dada yang tergenang, sampaikan ke langit paling tenang.

Magetan, Oktober 2019


Seseduh Ingatan

Masih panas,

kepul asap kopi di meja

serupa kabut menggayut di jalan-jalan pikiran

kita sesap pahitnya perlahan-lahan

menanggalkan kesedihan dan membiarkan

segalanya hilang begitu saja

Bukankah itu lebih baik

daripada menjaga apa yang telah tiada

membuang detik percuma

sudah cukup kita rawat luka

perihnya yang lama membikin lupa

bagaimana cara berdoa

Magetan, 2019


Pada Suatu Senja

Pada suatu senja,

ia berjalan entah ke mana

membawa rahasia

Barangkali ke rumah ibu

di pusara lindap sepi

tempatnya menabur bunga-bunga

Atau ke rumah ayah

yang letaknya di sudut mata

begitu nanar dan jauh

Ia linglung, sudah jauh berjalan

melewati kelokan-kelokan,

tapi semakin menjauh dari ayah dan ibu

Ia seorang, berkelana tanpa arah

mengikuti jejak dari gugur daun-daun

diterpa angin yang badai di matanya

Pada suatu senja di hari lain

ia menemukan sebuah alamat di koran

dan ingin berkunjung ke sana, menemui Kau

Tapi, apa guna rahasia yang ia bawa

bila Kau sudah tahu segala-gala

akankah Kau berpura-pura menerimanya?

Magetan, 30 Juli 2017


Sebentar

Hari demi hari

angin menyisir padang-padang

menerbangkan debu-debu

sampai padaku

Berkumpullah debu itu

pada kaca jendela rumah

yang kian mengabu

termakan waktu

Lalu kugambar wajahmu

di kaca jendela itu

kepalaku bersandar di sana

kita bertemu mata

Cerita-cerita kita bagi

tawa-tangis silih berganti

dan angin datang lagi

menerbangkanmu, membawamu pergi

Apakah kau kembali

ke padang-padang itu lagi?

Magetan, Juli 2019


Mata Beningmu

ada awan, matahari, kadang juga

bulan, bintang-bintang berkelip di sana

di matamu, mata bening itu

aku gemar sekali merangkai tatapmu

yang seringkali berganti cuaca

menjadi sajak-sajak musim

di mata beningmu,

telah hidup semesta cintaku

membentang rindu tak terukur oleh penjuru

Magetan, September 2019


Kelahiran Puisi

Malam ini, telah kulahirkan puisi

disaksikan cahaya bulan dan ribuan gugus bintang

meriah cericit burung malam menyambut

angin riuh bergemuruh, berpestalah semesta!

Silakan timang puisiku, duhai Kekasih

aku adalah ibu yang akan mengenalkannya pada keras dunia

kelak, ia adalah kata-kata paling tajam

menusuki jantung-jantung orang ngawur

agar tak semena-mena mengatur

Kekasih, atas nama-Mu

izinkan puisiku menggapai puncak citanya

dibaca dunia sebagai tanda bahwa berkata-kata memiliki hak merdeka

Magetan, Oktober 2019


Kharisma Damayanti, lahir dan besar di kaki gunung Lawu. Beberapa karyanya baik puisi maupun cerpen telah dibukukan dalam antologi bersama.

Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Cerpen Daruz Armedian

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Dua jam ke depan, pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak tertulis, guru baru di sekolah itu mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.

Lima menit berlalu dan Bu Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh berubah jadi senyap. Berpasang-pasang mata siswa menatapnya. Menunggu apa yang akan dikerjakan perempuan itu beberapa menit ke depan.

Bu Oka masih melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap siswa di sana. Daftar kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri.

“Oke. Kalian tahu, siapa yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya melirik kanan kiri. Menatap satu persatu siswa di situ. Semua terdiam. Kamu belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.

“Itu adalah kata-kata Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian belum kenal?”

Kamu dan teman-temanmu menggelengkan kepala. Sungguh, itu kali pertama kamu mendengar namanya.

Bu Oka menjelaskan panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (kamu pernah mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan kamu merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru dan dipekerjakan secara paksa. Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan pemerintah.

“Kalian harus tahu, kalau sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”

Bu Oka kembali menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam pelajaran sewajarnya. Asyik sekali, pikirmu.

**

Kamu merasa tidak aneh, ketika sekarang teman-temanmu semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah, walaupun tidak ada absensi. Bagimu, itu karena pelajaran sejarah Bu Oka asyik sekali meski hampir semua yang diajarkannya berbeda dengan penjelasan Pak Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari teman-temanmu dan tentu saja kamu, meski pada akhirnya setelah itu mendapat hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh, atau dipaksa menghafalkan UUD (kamu tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ, tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, berarti juga tidak boleh mengikuti ujian.

Hari itu, kamu merasa Bu Oka datang lebih cantik dari biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kamu yang tidak betul-betul tahu apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka, toh, tetap asyik cara bertuturnya.

Begitulah, kenapa kamu menyukai Bu Oka.

**

Hampir satu semester sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelasmu. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi kalau tujuannya cuma mencari nilai. Yang penting paham atau minimal tahu. Tetapi, karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, kamu dan teman-temanmu tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90 bagi setiap siswa.

Sepuluh menit waktu pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang di kelasmu. Tidak seperti biasanya. Kamu tahu, Bu Oka lebih rajin dari siswa mana pun di sekolahanmu. Ia datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. Bahkan Si Satpam kenal dekat dengan dia.

Sampai di sini, kamu mengakui, pelajaran Bu Oka itu candu, membikinmu ketagihan. Kamu gelisah. Teman-temanmu juga. Akhirnya, salah satu dari teman-temanmu mempunyai inisiatif untuk berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat penting. Mereka menunjukmu sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat kamu maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat itu tidak bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.

Kalian sedih. Tetapi, menanggapi kesedihan itu, Bu Oka berjanji akan kembali mengajar lagi kalau kalian naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah di kelasmu. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam itu. Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah tuannya.

Dua bulan berlalu namun Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelasmu. Ia sendiri tidak pernah memberi tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru baru. Anak seorang guru di sekolahanmu yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib, begitu ia menyuruh kalian memanggilnya.

Sama seperti guru sejarah sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kalian sejarah yang semestinya. Sesuai dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiai, dan santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila. PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kalian agar mengisi semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.

Ketika salah satu dari kalian tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur. Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kalian tidak sering tidur dan padahal kalian tidak malas kalau Si Guru cara mengajarnya enak.

Maka begitulah, kamu sangat merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum kamu ketahui, membebaskan kamu dan teman-temanmu bertanya, berdebat, dan tentu saja berpikir. Suatu hari kamu memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah, kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawabmu, Bu Oka tidak cocok mengajar di sini.

“Ada masalah?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (kamu heran, kenapa bapak itu sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).

Kamu tak berani bicara. Dan kamu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit untuk kamu pahami.

***

2017


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mengikuti Kelas Menulis Balai Bahasa DIY. Tulisannya pernah di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, detik.com, basabasi.co, dll. Pernah memenangi lomba cerpen se-DIY yang dilaksanakan Balai Bahasa DIY tahun 2016 dan 2017.

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

Menjadi Penyair

di hari pertama

aku menjadi penyair

aku sibuk melakukan banyak hal

yang tidak menghasilkan apa-apa.

di hari kedua,

ketiga, keempat, kelima,

sampai pada hari yang tidak lagi kuhitung

sebagai penanda bagi hari terakhirku menjadi penyair.

aku makin konsisten

melakukan banyak hal

yang tidak menghasilkan apa-apa

memang semudah itulah menjadi penyair

di negara yang tidak pernah bosan memproduksi koruptor.

2019


Pernyataan Seorang Penyair

penyair tidak pernah

menciptakan kesedihan

hanya saja, kesedihan kerap

kali mencintai banyak penyair

dengan cara berlebihan.

maka wajar kalau

suatu waktu pembaca puisi

akan mendefinisikan penyair sebagai

orang yang benar-benar ahli

dalam hal menunaikan kesedihan.

2019


Bagi Seorang Penyair

bagi seorang penyair

tidak ada tempat yang

benar-benar menyenangkan

kecuali di hati banyak orang.

2019


Doa Penyair

aku mencintaimu

dengan iman yang tuhan kasih

semoga kau terima cintaku

dengan perasaan aman yang tuhan asuh.

2019


Pengakuan Penyair

tuhan maha tahu

aku maha ragu

kau maha rindu:

pusat penyatuan

tuhan denganku.

2019


Surat Dari Penyair

tidak ada yang

berbeda dari rinduku

ia hanya memperhatikan dunia

yang melulu berhubungan denganmu.

2019


Cara Penyair Bekerja

hampir seluruh waktunya

yang berisi sempat dan sehat

dalam suasana cerah ataupun gelap.

ia gunakan hanya untuk memaksa

pikiran, memikirkan segala sesuatu yang

di mata orang lain tidak layak dipikirkan.

kemudian bersama bahasa ia membuat

ketidakmungkin menjadi mungkin, seperti

mimpi yang berhasil keluar dari dalam tidur.

2019


Sengat Ibrahim, Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, (2018) merupakan manuskrip buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Cerpen Ken Hanggara

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Barangkali tak ada yang lebih buruk dari itu. Jika sebatas itu yang terjadi, aku juga tidak mungkin pulang dalam waktu dekat. Bahkan boleh jadi aku tidak pulang selamanya dan baru pulang dalam wujud lain di hari kiamat kelak, ke tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau.

Membayangkan itu aku takut. Anehnya punggung dan leherku tidak merasa ada getaran yang aneh. Dulu dan kapan pun sebelum aku berhenti di titik ini, seseorang atau apa pun akan dengan mudah membuat punggung dan leherku berkeringat dalam getaran yang aneh. Rasa takut memunculkan sensasi tak nyaman. Saat ini, sensasi itu hanya ada dalam wujud yang tak dapat kurasakan selain kupikirkan. Segalanya kian buruk, karena aku sadar aku tak dapat kembali ke masa-masa itu.

Aku tak bisa kembali karena menuruti ucapan seseorang suatu sore di suatu telepon: “Datang ke bawah jembatan. Jam delapan.”

Aku takut terseret ke pengadilan, yang pasti merepotkan bisnis dan keluargaku. Aku datang dan berharap sebuah penyelesaian ditemukan. Kuharap sejumlah uang dapat membuat orang-orang itu membiarkanku pergi. Tetapi, aku dibawa pergi dengan mobil dan kemudian berakhir di tempat ini.

Di sini tidak ada toko atau lalu lalang manusia. Tidak ada rumah makan atau toilet umum atau tempat semacam kios service televisi yang berdiri selama tiga dekade di pojok pertigaan dekat rumahku, yang tak lagi disambangi orang sebab pada saat ini pemilik kios itu pikun dan tinggal sebatang kara tanpa anak istri yang dengan sengaja mencampakkan dirinya. Aku dengar sedikit cerita soal pria tua itu dari beberapa orang di lingkungan rumahku dan aku merasa betapa kasihan dia. Sekarang aku mengasihani diriku sendiri.

Apa yang terjadi padaku tidak lebih baik dari yang dialami pria tua penyepi itu. Dulu aku sering membayangkan, jika tidak sengaja melintasi kios service televisi itu, soal betapa mendungnya pikiran si pria tua atau betapa kosongnya dada yang lama tak ada kehidupan bersama keluarga. Aku curiga orang itu diam-diam memiliki rencana bunuh diri suatu hari nanti, tapi karena belum menemukan cara yang tepat agar dia tidak ditertawakan anak-istri yang membencinya setengah mati, sampai detik di hari terakhir aku melihatnya, dia masih terlihat bernapas walau sorot matanya terlihat sangat lelah.

Apa detik ini sorot mataku pun begitu?

Apa pada suatu hari, jika benar datang seekor anjing yang dapat mengendus datang bersama seorang lelaki atau perempuan waras, maka kedua makhluk itu berpikir sama, yakni tentang sorot mataku?

Aku tak bisa memastikan mataku bersih dari kotoran pada detik ketika orang-orang itu meninggalkanku di sini.

Semua terasa dingin. Tak ada apa-apa. Aku tak bisa pastikan apa keluargaku baik- baik saja. Apa mereka juga berakhir seperti ini, di tempat yang jauh dari sini?

Aku menangis tanpa air mata. Hatiku sakit, tapi jantungku bagaikan pria penyepi itu, di tempat service televisi yang bobrok dan terlihat membatu dan menguarkan aura yang membuat waktu seakan berhenti bekerja pada radius beberapa meter. Aku merasa segala sesuatu di sekitarku membeku dalam waktu yang mendadak henti. Barangkali sama persis seperti situasi ketika nuklir menyebabkan dua kota di Jepang di masa Perang Dunia Kedua hancur lebur; segalanya mendadak terasa membatu dan mati dan tertinggalkan waktu. Apa benar? Apa benar setiap bom yang meledak akan menyisakan sensasi aneh yang membuat kita seolah-olah tidak lagi dipedulikan waktu?

Aku tak tahu rasanya dibom. Mereka tak memasangi tubuhku dengan bom, tetapi kini tiba-tiba aku teringat dengan korban jiwa di berbagai tempat yang mati karena dibom. Aku pikir, “Barangkali panas.”

Aku tak pernah serius memikirkan itu. Aku hanya memikirkan hidupku membaik jika tiap usaha kulakukan untuk memajukan bisnisku. Aku ingin merajai bidang yang kugeluti, tapi suatu hari, mau tidak mau, kuperbuat sesuatu yang merugikan seseorang. Seseorang itu yang kemudian datang menuntut balas atas kematian seseorang akibat ambisiku.

Aku kepanasan karena dengan bodoh menemui orang-orang tersebut di lokasi yang disepakati. Aku kepanasan hingga tidak lagi merasakan batas antara hidup dan mati. Pada saat itu, aku tidak lagi berada di bawah jembatan. Aku digiring orang-orang berbadan besar ke tempat rahasia, setelah dua mataku ditutup dan dibawa menumpang mobil kira-kira tiga puluh menit.

Mataku terbuka ketika rasa panas itu menjalar ke kulit di hampir tiap bagian tubuhku. Yang dapat kutatap hanya lorong hitam di kiri ruangan dan bohlam tua di atas kepalaku. Wajah-wajah eksekutorku tak benar-benar kuperhatikan dan lagi pula mereka tak terlihat jelas. Aku berharap ini segera berakhir. Aku tidak tahan dan pingsan, dan orang-orang gila itu berhenti, lalu membawaku sekali lagi dan menurunkanku ke sini.

Barangkali seperti ini rasanya orang kehilangan segala-galanya, namun tidak diberi daya dan upaya oleh langit untuk berbuat. Begitu sakit. Aku tidak mampu menemukan apa pun selain tubuh yang tidak lagi berdaya dan waktu yang seakan-akan hengkang dari sisiku. Seakan-akan aku hidup dengan cara yang lain, karena dijauhi oleh waktu.

Aku merasa hidup sebagai sesuatu yang lain. Saat sadar aku tak dapat mengubahnya dan hanya bisa membayangkan sialnya nasibku yang kini jauh lebih sial ketimbang pemilik kios service televisi busuk itu, aku tahu aku hanya bisa berharap tentang anjing yang dapat mengendus dan seseorang yang waras pergi bersamanya.

Aku tidak tahu sampai kapan. Barangkali itu terjadi dalam waktu dekat dan si anjing akan panik tidak keruan begitu melintasi jalanan yang tak jauh dari bangunan bobrok ini. Barangkali itu besok atau nanti jam sepuluh malam. Aku bisa membayangkan itu terjadi seminggu setelah pikiran-pikiran ini terbit atau bahkan lebih lama dari itu.

Apa pun itu, aku harap siapa pun akhirnya akan menemukanku dan membawaku pulang dengan cara yang mereka mampu dan itu terjadi sebelum terlambat. Sebelum tubuh yang sejak dua hari lalu mati ini menjadi tulang belulang.***

Gempol, 25 Juli 2018 – 28 Oktober 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Puisi

Puisi Risa Fauziah

Hujan Paling Deras

Kau lupa cangkir itu kosong

Untuk apa kembali meminta

Sedang kopi yang kusuguh hilang

Menjelma langkah detik yang paling hampa.

Kau ingat air itu sulit

Sesulit memintamu berbicara

Hujan kali ini pelit

Tapi air di mataku masih terus mengalir

Tanpa diminta.

Tasikmalaya 2019


Resah

Serupa nama tanpa makna

Serupa seruan tanpa nada

Kita hendak memilih bersama

Namun jeda terlampau lama

Kian hari, kian merontaMeminta arti tak mau pergi

Ingin tinggal tapi takut tak diinginkan

Tasikmalaya 2019


Mendung Singgah

Acap kali mendung singgah

Di langit kamarku, jengah

Membekap bibir tuk bicara

Awan meluap

Tergetar petir ingatan

Tak dapat terbendung

Gelap, mencekam.

Lebat. Meruah dari atap

Beralaskan hati yang rapuh

Tasikmalaya 2019


Paling Dalam

Sedikit katamu, cobalah

Perihal ruang paling dalam

Tidaklah mudah

Bukan satu atau dua kali

Sesering itu, sampai lupa

Sukarnya membuka kembali

Untuk ia yang inginkan menetap.

Tanpa niat singgah.

Tasikmalaya 2019


Tua

Langkahnya masih teguh

Jejaknya tinggalkan bekas mendalam

Dari pagi hingga larut malam

Tanamkan asa melimpah.

Keriputnya tak kenal menyerah

Bungkuknya tak kenal lelah

Jajakan buah seadanyamenawari orang berlalu-lalang.

Wajahnya ceria tak kenal cuaca

Senyummya menyisakan kesan mendalam

Bagi ia yang datang

Membeli atau sekadar tergetar hati.

Tasikmalaya 2019


Sekian

Kau menoleh, untuk apa?

Jika temu saja enggan

Kau berlalu, sudah biasa

Lantas, apa tadi katamu?

Hahaha, aku yang terbaik?

Aku yang terakhir?

Cukup, ucapan basi itu

Muak, janji palsu itu

Sekian.

Tasikmalaya 2019


Si Kecil

Dari Tubuhmu Aku Lahir

Dari pelukmu aku tumbuh

Dari tangguhmu aku kuat

Dari kerja kerasmu aku hebat.

Si kecil dulu kini telah mendewasa

Si kecil dulu kini merasa lelahmu kala itu

Si kecil dulu kini hampir menyerah

Si kecil dulu kini butuh nasihatmu

Dari hidup yang kian keras

Dari dunia yang kian ganas

Tanpa dukungan, tanpa do’a

Sebenarnya aku masih merupa kecilku.

Tasikmalaya 2019


Rumit

Sebanyak apapun aku berpuisi tentangmuSepenuh rasa kutuang kedalamnya

Sekali pun enggan kau baca.

Serumit itu pula aku berhenti

Berhenti dari merindukanmu

Berhenti dari mengenangmu

Berhenti berharap kita kembali

Bersama.

–Tasikmalaya 2019


Arah Takdir

Detakku mengarah padamu

Jauh sebelum wajah kita beradu

Di balik jalan punggungmu

Aku sembunyi dari kemelitanku.

Tanpa dinyana takdir menemu kita

Kembali tanpa banyak kata

Bilik pesan mempersingkat jarak

Sampai di titik paling bahagiaMeramu rasa yang sama.

Tasikmalaya 2019


Usaha Bahagia

Wajah bulat, berkaca mata

Berdampingan. Senyum yang sama

Cekrek …

Potret terakhir tapi tidak cintanya

Harus memang, kakiku melangkah

Bukan maksud menjauh

Lebih dari mengejar hidup

Lebih layak, lebih dapat dipercaya

Nanti, kau bisa kuhidupi

Dengan jerih payahku sendiri.

Melihat kau setiap hari

Tersenyum lega.

Tasikmalaya 2019


Risa Fauziah, lahir di Tasikmalaya 1995