Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Cerpen Jeli Manalu

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali, basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.

Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.

Lalu, seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada gambar itu?

Ulira tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis, nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere di barisan bangku kanan paling belakang.

Setiap ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan. Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku. Sana kau sama mama kau.”

Sere mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.

Mata Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli, Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”

Melihat orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas, membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang barangkali sedang sangat mereka rindukan.

“Nek, mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte, memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.

Esok harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya, sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi kesepian.

Perempuan berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah ‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”

Karena tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter jauhnya.

Oleh polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.

Bila kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin. Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik. Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang siapa diri Nurli di masa lalu.

Nurli merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap kali ia menyukai lelaki. 

Tak lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya kebanyakan.

Di depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?

Ulira lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya, saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek. ***

Riau, Maret 2019

Cat: (1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”

Cerpen

Aleana

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Puisi

Puisi Pusvi Defi

Mendua

bila kuluahkan; sempurna bayangmu

yang hendak kulipat dekat

ada lembayung jingga membayu benak

serupa gadis hilang perawan, kocar-kacir mencari sasaran

ratap tersuruk, ambruk

pecah gelombang, menghantam karang

kian kuingat jerit hati tersayat

saat kudulang kembali ingatan itu

di pantai cermin indah nian seri

kau tikam aku dengan genit rayuan

tersulam sejumput ikrar, memadu kasih lewat cumbu birahi

janji-janji hanya omong kosong

tipu bualanmu mencubit!

Sebulan lebih kuurung rerindu ini, menahan konak kian terpenjara

rupa-rupa air mataku berderai gagah

menyaksi lekat lekuk tubuhmu tengah asik bercinta di pelabuhan dermaga 

napas tersedak sembilu membara

;hatiku patah

Pantai Cermin, 2019


Hubungan Jarak  Jauh

:Bagi A.B

Cobalah engkau bayangkan

aku seumpama ikan benih dari hulu

yang dengan tabah tergerus arus para perambah

Sedang kau

Adalah pelayar yang melawan arus gelombang

Namun tetap kita 

menghilir mudik di sepanjang risalah penantian

menakik segala rintang

menanjak  jarak membentang

dengan rindu yang semakin garang

Panam Kota, 2019


Terkenang Mantan Kekasih 

:An

memasuki jalan kecil, melewati tiap-tiap gang sempit

lampu-lampu kendaraan serupa kunang-kunang

yang bertubrukan. seraya aku mengenangmu

bagaimana kabarmu setelah kurun waktu 4 tahun kutinggalkan

masihkah wajahmu yang lugu manis seumpama buah manggis

itu gemar tersenyum tipis?

atau jangan-jangan setumpuk awan mendung tengah menyelimut

selepas kupatahkan kau dari peraduan cinta yang sekecut buah mempolam

kau tahu, akhir-akhir ini aku mudah terserang penyakit lupa

baik itu hari, tanggal, dan apa pun itu

namun bagiku, lengang jalan yang sering kita susuri, 

bagai riak-riak kecil yang terpercik dari pengayuh

membilang kenang yang ingin kembali memulai

Harapan Raya, 2019


Tuli

diladang sunyi,

capung-capung mengepung

lalat bertengker di ujung

dan biji kedelai tengah membenih; semi 

aku melirik, mendongak pandang

orang-orang sibuk berkerumun

bercengkerama entah apa

Pekanbaru, 2019


Air Mata

di ranjang basah, kutiduri keringat mata

tak sempat kuseka, hanya kujilati asinnya

ranum membuahi; perih

Pekanbaru, 2019


Sakau

Aku adalah wanita yang gemar menjambak imaji

mengeram rahim puisi tanpa metafora

memuntahkan birahi frasa yang entah apa

semua kulumat sesuka sakauku mengeja

Pekanbaru, 2019


Bayang

Di sebuah ranjang ada bayang mengangkang!

bertabuh dengan sayap kenang

serupa kunang-kunang berteduh di daun ketapang

Pekanbaru, 2017


Jerebu

aku tertidur dalam kepulan asap jahannam,

menyibak mataku menyerih, perih

Pekanbaru, 2015


Ihwal Rumah Tangga

:Sakinah Bersamamu

Aku membangun sebuah atap di hutan belantara

Sebelum kaudirikan sebuah pondasi

Di dalam tembok-tembok perkasa

Dan untuk sekian kalinya pada senja yang terpasung

Oleh cericit murai yang ceriwis

Kita salingsilang menjenguk kerinduan

sebagai pengembara purba

Rumah adalah Raga

Yang lebih Agung

Dari sebuah hiduk suci

Rumah adalah keheningan

Yang menebar teduh dari ancaman

Rumah adalah kunci

Yang membuka pintu hati

Untuk kita saling mencintai

Pekanbaru, 2015


Ihwal Angan

Aku melayang-layang bagaikan kapas putih

Dihembus angin liar

Dan busur-busur bercahaya lentur

Timbul tenggelam

Dalam puncak pikiran

Pekanbaru, 2019


Pusvi Defi, kelahiran Medan, 23 Juni 1994. Mencintai puisi, dan kamu.

Cerpen

Manna dan Buah Merah

Cerpen Karisma Fahmi Y

Manna, lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana. Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami cari.

Di pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak. Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia terus nyerocos menceritakan kisah itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar sana.

Siang itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul, kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri buku.

Aku menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku, sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam jagung bersama-sama.

Bu Guru  menugaskan setiap anak menggali tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru  memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah, sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat. Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu. Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada tanaman-tanamannya.

Suatu ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah satu pakaian yang tertiup angin.

Angin sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu, merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu menjadi salah satu muridnya.

Rumah Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

mengartikan pelukan

ingat malam itu: aku memelukmu. sebuah cara mengucap cinta tanpa kata-kata. tubuhku beku dan suaraku sepi seperti ditelan bumi. tapi saksikan, dadaku berteriak. seolah ada sesuatu yang retak. di dalamnya ada diriku yang lain berdoa. semoga aku bagian dari kamu.


aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

seumpama jendela yang setia mengamatimu

melangkah pergi dan kembali

meski yang kau tuju adalah pintu

cukup aku menjadi jerawat

yang menolak tumbuh di wajahmu

agar kau tak malu dan berpaling

saat berhadapan dengan cermin dan orang lain

aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh

masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh


membicarakan hari ini

sejak kamu ambil hatiku, aku merasakan segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai saat ini. buku-buku itu juga milikmu. lengan yang merengkuhmu seperti merengkuh diri sendiri. mata yang menatapmu adalah kebutaanku terhadap orang lain.

hari ini aku meniadakan diri. kamu meniadakan dirimu. untuk satu, kita perlu hilang di tubir waktu. lalu hadir sebagai diri lain. bukan angin, bukan aku juga bukan kamu.


mempertanyakan keabadian

apa yang dipersoal? segalanya kita kenal dan tak ada yang bakal kekal. sapamu kemarin hanya angin. bumi yang bijak suatu hari akan retak. kita memang pernah membaca madah. puisi sapardi tentang waktu yang fana dan kita abadi. tapi usia manusia tak bisa setua puisi atau waktu itu sendiri.

apa yang akan kamu abadikan? segalanya meluncur deras bagai hujan. atau bagai sungai yang tawar cepat lepas ke asin lautan.

bukan aku mengutukmu jadi bongkahan batu.  makhluk dungu yang tak pandai mengenang sesuatu. hanya, kita lahir untuk titik nadir. kita tenggelam dalam ada tapi tak sungguh-sungguh ada.


belajar yang lain

dalam bahasan lain, otak kita terbagi jadi tiga. pertama untuk mengenang, kedua untuk menjalani hari ini, ketiga untuk merencanakan masa depan. aku bermimpi kehilangan otak pertama dan kamu membicarakan tak punya otak ketiga. kita menjalani hari ini di ruang dan waktu yang sama.


selamat malam, istri orang

selamat malam, istri orang

ada gelombang di matamu

seperti ingin tumpah ke daratan

apakah hari-hari kau jajaki tak sederhana

seperti hari yang kumiliki

pagi dengan kopi di meja

menghadap jendela

dan buku-buku yang

menceritakan banyak hal

selamat malam, istri orang

begitu tua wajahmu

lebih tua ketimbang usianya

apakah kenangan begitu berat kautanggung:

ketika itu pernah aku jadi pacarmu

ketika itu pernah aku datang sebagai tamu

di hari pernikahanmu

selamat malam

apalah arti pernikahan dengan lain orang

jika aku mungkin masih kau kenang?


nama lain kesedihan

/1/

nama lain dari kesedihan

adalah air mata perempuan

yang lahir dan mengalir

dari dada remuk redam

jika ia sungai

luka-luka akan diseretnya

dengan arus rumit

menuju ke arah yang

menanam rasa sakit

/2/

nama lain dari kesedihan

adalah penantian panjang

di hadapannya: waktu melambat

bosan dan gelisah meledak

serpih-perihnya terserak

menyesaki ruang tunggu

sementara kabar darimu

telah bosan mengetuk pintu telingaku

/3/

nama lain dari kesedihan

            adalah kesendirian


maafkan

maafkan kenakalanku:

mencuri namamu

dan kuserahkan

kepada tuhan

maafkan kemalasanku:

menyia-nyiakan waktu

dengan tidak mengerjakan apa-apa

kecuali duduk di sampingmu

dan membicarakan segalanya

maafkan kebodohanku:

menganggap semua ilmu pengetahuan

tidak perlu kutahu

kecuali dirimu


dingin benar udara di sini

dingin benar udara di sini

di luar, pohon-pohon berlarian

seperti ke arah masa silam

masa di mana ketakutan-ketakutan kualamatkan

di kaca jendela kereta

embun menyublim

dan aku di dalamnya

membeku

sambil menatapmu

sedang memandang

kelebat pohon-pohon itu

kau berkata pelan

ketika kereta baru setengah jam berjalan:

rebahlah di pundakku

pakailah jaketmu

udara dari ac

jauh lebih berbahaya

ketimbang jatuh cinta

aku tak butuh memakai jaket

atau merebahkan kepala

aku ingin menciummu

dan menantang bahaya dari keduanya:

jatuh cinta

dingin udara


mencemburui waktu

aku lelaki pencemburu, perempuanku

terlebih kepada waktu

ia mengubah bentuk wajahmu jadi tua

tulang-tulangmu jadi renta

kakimu jadi lelah melangkah

sedang ia masih berlari dan terus berlari

seperti anak kecil

yang tak mengerti

bagaimana perihnya menjadi dewasa

orang-orang berusaha menghitung waktu

menciptakan jam dan tanggalan

dan perhitungan-perhitungan lain

jam di lenganmu mati

dan kau tak menemukan apa-apa

selain semua itu sia-sia

tanggalan di rumahmu

selalu tidak mampu menghitung

kurun waktu dua tahun

atau lebih

aku bisa mencegah siapa pun

yang ingin merebutmu

tapi bagaimana jika itu waktu?

ia bisa saja mendatangimu

sebagai ketiadaan

menyeretmu perlahan-lahan

ia bisa saja mendatangi kita

sebagai kelupaan

kau melupakanku dan aku melupakanmu

atas dasar terlalu berat mengingat


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi bagi remaja DIY. Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll.

Esai

Narasi Perempuan dalam Bingkai Internet

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Gembar-gembor Internet of Things (IoT) menjadikan hampir segala hal di kehidupan kita mencuat ke permukaan dan berebut panggung untuk jadi konsumsi publik. Hal-hal yang tak terjamah akses internet mudah tertuduh sebagai wujud ketertinggalan, tertutup, asing, dan bahkan aneh. Era kiwari sungguhan membaiat kita sebagai manusia-manusia latah jumawa berkat kecerdasan buatan yang hadir dalam bentuk alat-alat elektronik berteknologi sentuh. Kemudahan mengakses informasi mengenai segala hal menjadikan manusia-manusia merasa tahu, gemar dan (seolah-olah) pandai dan merasa berhak bicara apa aja.

Salah satu tema yang jadi pokok bahasan “seksi” berkat gembar-gembor internet beserta kroni-kroni turunannya ialah menyoal perempuan dan kemudian juga seksualitas. Setidaknya dua tahun terakhir ini internet mengabarkan massifnya gerakan perempuan. Di akar rumput, para penggerak perempuan terus mendampingi perempuan-perempuan penyintas kekerasan seksual untuk mendapat pendampingan yang layak dan manusiawi. Kabar yang dihembuskan internet memberitahu keberadaan sekian penyintas berani mengungkap kasus yang menimpanya. Hal yang begitu jelas memantik api keberanian bagi perempuan-perempuan lain yang mengalami kasus serupa.

Jelang akhir tahun 2018, Tirto.id, The Jakarta Post, dan Vice Indonesia membentuk tim investigasi khusus bertagar #NamaBaikKampus untuk meliput perkara kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi. Liputan-liputan mendalam yang dilakukan ketiga media tersebut lekas tersebar dan turut menyulut keberanian para perempuan (lebih-lebih penyintas) untuk bersuara. Gerakan massa memprotes ketidaktegasan kampus menindak para pelaku terus bermunculan. Kita juga disodori kasus Baiq Nurul yang terkriminalisasi justru karena ia melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya. Berkah internet memudahkan perempuan satu dengan perempuan lain yang berada di pelbagai daerah merasa satu, senasib sepenanggungan dan sudah saatnya tak takut atau malu untuk bicara.

Mendengar Para Penyintas

Para penyintas kekerasan seksual mencuat keharibaan publik internet melalui beragam cara. Setelah menyimak kisah-kisah penyintas di ranah perguruan tinggi melalui kompilasi produk jurnalistik bertajuk #NamaBaikKampus, di malam yang lebih mutakhir saya bertatap muka dengan beberapa penyintas kekerasan seksual melalui medium film. Bulan menggantung di langit Solo yang senantiasa ramah dan santun. Teater Kecil Institut Seni Indonesia Solo yang agak dipaksakan fungsinya sebagai ruang tonton terasa penuh. Sejak Magrib lepas, orang-orang membentuk antrean mengular guna menunggu jatah presensi di bagian depan Teater Kecil. Gurat wajah mereka begitu antusias menjelang pemutaran film Telur Setengah Matang (Reni Apriliana, 2019).

Film pendek berdurasi 16 menit itu diputar perdana pada 12 Juli 2019 lalu. Apa yang coba disampaikan film kepada penonton bukan suatu hal yang baru apalagi asing. Digawangi lima perempuan muda yang tergabung dalam satu kesatuan di Larasati Creative Lab, film menampakkan kepada penonton persoalan remaja tergoda dan terjerumus pergaulan seksual tanpa pengetahuan atau informasi yang memadahi soal dampak setelahnya. Anisa dan Adit ialah sejoli berusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terduga kuat berhubungan badan dengan motif coba-coba berkemauan seru dan menyenangkan.

Berlatar perdesaan dan menyoroti cerita hidup kelas ekonomi menengah ke bawah, film ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak penonton. Kendati sempat menyembunyikan fakta kehamilannya, Anisa akhirnya bercerita kepada bapaknya hampir tanpa hambatan yang berarti. Sebagai gadis “setengah matang”, Anisa tampak begitu menguasai diri saat menceritakan permasalahannya. Anisa bahkan dengan sigap memiliki pilihan-pilihan logis nan bijak seperti keinginannya untuk aborsi dan memberi pelajaran kepada Adit untuk turut merasakan malu dan menanggung akibat atas perbuatannya. Dengan demikian, tokoh Anisa justru terasa ganjil. Anisa adalah perempuan “setengah matang” yang alpa atau kebablasan terintervensi sosok-sosok peracik film sehingga latah tampil sebagai tokoh yang begitu matang.

Terlepas dari film Telur Setengah Matang, yang lebih menarik untuk disimak adalah kisah orang-orang di baliknya. Dalam diskusi pasca menonton, produser dan moderator tak segan-segan mengaku dirinya adalah penyintas kekerasan seksual. Sementara empat perempuan lain yang tergabung dalam tim produksi film punya pengetahuan dan pengalaman mendapati kisah-kisah bertaut kekerasan seksual yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Sekira dua atau tiga tahun lalu, lima perempuan berbagi cerita dan berakhir serius. Kebetulan perempuan-perempuan itu punya latar konsentrasi yang sama, film dan grafis. Maka dipilihlah film sebagai medium untuk mereka berbicara.

Gara-gara Internet

Saya tak sepakat dengan argumen yang menyatakan “perempuan” adalah isu yang kering dan tak menarik. Di era “internet adalah segalanya”, isu perempuan terus berkembang menjadi pokok bahasan yang seksi dan massif diperbincangkan baik di jagat maya maupun di kenyataan. Orang-orang dari pelbagai kalangan kian santer memperbincangkan, berdebat, mengkaji ulang, menghasilkan karya dari isu-isu seputar perempuan. Gagasan-gagasan dan kemudian juga gerakan aplikatif bertaut perempuan terus memperbarui diri.

Kita semua jadi saksi betapa massifnya desakan publik supaya RUU Kekerasan Seksual lekas-lekas disahkan, banjirnya dukungan kepada para penyintas untuk berani bersuara, terus bertumbuhnya gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan yang didasari atas kesadaran untuk kreatif dan berdikari. Dan internet, salah satunya melalui kedigdayaan media sosial mengabarkan dan menautkan kisah-kisah haru ataupun pilu para perempuan dari pelbagai daerah. Dengan demikian, naluri untuk merasa dan menjadi dekat satu dengan yang lain begitu mudah terjadi. Kemudahan akses internet bagi para perempuan di pelbagai daerah di Indonesia meski belum secara keseluruhan, setidak-tidaknya terus-menerus berkemauan mengentaskan para perempuan dari tumpukan permasalahan yang membayangi keseharian mereka. Isu-isu soal perempuan tak lagi terkungkung dalam jerat eksklusivisme dan isolasionisme seperti yang dikhawatirkan Muhammad Nurkhoiron dalam pungkasan tulisannya yang berjudul Identitas Perempuan Indonesia: Menyintas di Tengah Pusaran Kapitalisme Global (Desantara Foundation, 2010, hlm. 199). Tsah!***


Rizka Nur Laily Muallifa, pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

Cerpen

Bunda Menjelma Dewi Kunti

Cerpen  S. Prasetyo Utomo

Kembali Dewi Laksmi dan calon suaminya,Wisnu,  mendatangi Arum, ibu yang meninggalkannya. Arum tengah suntuk berlatih menari. Beberapa hari lagi iamesti mementaskan tari Dewi Kunti di salah satu gedung kesenian di ibu kota – dengan tiket yang sudah habis terjual. Ia yang lama meninggalkan suami dan anak-anak, bertanya dalam hati: benarkah aku telah memerankan Dewi Kunti dalam kehidupanku dengan menyia-nyiakan anak kandung? Ia merasa tidak seagung Dewi Kunti yang setia melindungi  kelima anaknya yang lain.

Permintaan penata tari Retno Ayu agar Arum memerankan Dewi Kunti dalam drama tari klasik telah mengusik perasaannya. Ia sangat mengagumi tokoh itu. Ia bisa menangis saat memerankan Dewi Kunti, saat menghadapi pertempuran dua anak kesayangannya: Arjuna dan Karna. Dewi Kunti telah menyia-nyiakan Karna dari bayi hingga akhir hayatnya.

Begitu mudah Arum memerankan Dewi Kunti, dan begitu cepat ia larut dalam jiwa Dewi Kunti. Terus-menerus ia mengulang menarikanlakonDewi Kunti, meski tanpa gamelan, di setiap kesempatan.

Berhari-hari Arum menarikan penderitaan Dewi Kunti dalam kisah kematian Karna dengan tubuh bergetar. Seluruh gerak, mimik wajah, tatapan, dan getar suara Dewi Kunti dihayatinya dengan kesempurnaan peran.

Dua hari sebelum pementasan, Arum ditemui Dewi Laksmi dan Wisnu. “Apa Bunda tak ingin kembali pada Ayah?”

Arum masih bimbang. “Aku belum bisa memenuhi permohonanmu.”

“Apa indahnya Bunda hidup sendiri?”

“Aku punya dunia sendiri. Bekerja, menari, dan menemukan teman-teman sendiri.”

“Kenapa dulu Bunda tak menuntut hal itu pada Ayah?”

“Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu,” tukas Arum. “Nikahlah. Semoga kau tak mengikuti jejakku, setelah nikah justru mencari kebebasan masa muda yang hilang.”

Arum ingin suntuk menarikan kegetiran jiwa Dewi Kunti. Tak mau direpotkan permintaan Dewi Laksmi. Dibiarkan gadis itu dan calon suaminya meninggalkan rumahnya dengan masgul. Ia terus menari, sambil melenyapkan bayangan wajah suami, anak sulung, Wulan, dan Dewi Laksmi, yang bakal menikah tak lama lagi. Ia menari untuk memenuhi dorongan hati. Ia terus mengikuti gerak tari Dewi Kunti.

                                                            ***

Sangatlama Arum tak ziarah ke makam Nyai Laras, leluhur para penari di kampungnya. Ia terusik untuk berziarah ke makam yang berada di pekarangan belakang rumah Aji, dekat masjid. Pintu pekarangan belakang rumah Aji selalu terbuka, yang memberi kesempatan pada siapa pun untuk ziarah. Langkah kakinya terasa berat, bergetar mendekati makam yang tampak megah, terawat, dan bersih. Masih seperti dulu, bila ia berziarah ke makam Nyai Laras, berhasrat memperoleh ketenangan jiwa. Kali ini pun demikian: menebar bunga, bersimpuh, berdoa, dan menemukan kembali gairah menari.

Ketika Arum bangkit dari berdoa, masih pada pendiriannya: tak ingin kembali pada suami. Ia merasa tenang, ketika tak memikirkan suami dan anak-anak. Ia hanya berpikir tentang menari. Seperti biasa ketika ia berdoa di makam Nyai Laras, kupu-kupu kuning beterbangan di atas rambutnya. Begitu ia bangkit dari bersimpuh, ingin beranjak, segera mengurungkan langkah. Turun dari mobil di pelataran itu pemilik rumah, Aji, keturunan Nyai Laras, bergegas menghampiri Arum. Menyalaminya. Aji sangat mengenal putri bungsunya, Dewi Laksmi.

“Bagaimana kabar Dewi? Lama saya tak ketemu dia.”

“O, dia hampir nikah.”

Arum menahan kegugupan. Ia tak mungkin bertahan lebih lama, takut bila Aji  bertanya lebih lanjut tentang Dewi Laksmi. Ia tak tinggal serumah dengan anak gadisnya itu, dan tak memahami perkembangan kepribadiannya. Meski sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama, tapi ia memutuskan untuk pulang.Arum mohon diri, bergegas meninggalkan Aji.

***

Di gedung kesenian ibu kota, sehari sebelum pementasan,Arum menghabiskan waktu seharian untuk memerankan Dewi Kunti bersama dengan pemeran Arjuna, Karna, dan Surtikanti. Ia menyelaraskan gerak tarinya dengan mereka. Ia juga menyelaraskan gerak tarinya dengan iringan gamelan. Ia mengikuti segala arahan penata tari, Retno Ayu, seorang penari sepuh yang sangat dihormati. Letih sekali tubuhnya. Tetapi ia merasakan kesuntukan menari yang membahagiakan.

Arum menari, meleburkan diri dalam jiwa Dewi Kunti.Ia melupakan suami dan Dewi Laksmi. Ia tak ingin tergoda rasa iba, membiarkan anak gadisnya memasuki gerbang pernikahannya, tanpa seorang ibu. Ia larut dalam gerak tari, ke dalam rasa berdosa Dewi Kunti, membuang bayi Karna. Ia terus menarikan keagungan seorang dewi yang dirapuhkan perasaan nista. Iringan gamelan membawanya lebur dalam derita Dewi Kunti.

Larut malam baru Arum kembali ke kamar hotel. Tubuhnya terasa letih, dan ingin cepat memejamkan mata. Tetapi selalu sajakamar hotel menciptakan keterasingan, yang membuatnya tak gampang tidur. Sepasang matanya terus nyalang.

Ketika minum teh hangat, sebelum sarapan, ia merasakan tubuh yang pelan-pelan terasa segar, meski kurang tidur. Ia masih memiliki waktu beristirahat sampai sore nanti, sebelum menuju gedung kesenian, tempat ia pentas. Di kamar hotel ia memutuskan untuk menari, terus menari, dengan iringan gamelan dari dalam hati. Ia merasa dirinya lenyap, dan yang hadir cuma Dewi Kunti. Caranya menatap, bukan lagi tatapan Arum, melainkan tatapan Dewi Kunti.

Gedung kesenian itu masih sepi, dan di belakang panggung sudah duduk bersimpuh di karpet Retno Ayu. Para penari duduk melingkar di sekelilingnya. “Menarilah seperti saat gladi resik. Temukan hakikat kehidupan kalian dalam setiap gerak tari. Ini hari pertama dari tiga hari pementasan kita. Kalau kalian bisa menyajikan pementasan yang memukau, tentu akan dikenang orang.”

Para penari menerima busana, didampingi perias. Alangkah cekatan perias mematut Arum seperti menjelma sang dewi. Arum naik panggung. Ia menari sebagai seorang ibu yang berada di tengah kancah pertempuran dua anak beda ayah yang berhadap-hadapan: Arjuna dan Karna. Tarian seorang ibu yang tak adil dalam memberikan kasih sayang. Ibu yang menikmati keagungan, mengingkari pengorbanan.

Tepuk tangan yang riuh menggetarkan gedung kesenian ketika seluruh penari memberi hormat pada para penonton, dengan bau harum bunga melati yang tertebar di atas panggung. Arum masih merasa dirinya sebagai Dewi Kunti. Lampu-lampu dinyalakan, sebagian penonton memburu ke panggung, menyalami Arum. Ia sama sekali tak merasakan letih setelah kurang tidur dan melakukan pementasan tari. Wajahnya masih segar,  bahkan mungkin lebih segar dari hari biasa. Sepasang matanya lebih cemerlang. Lebih agung.

Arum baru saja bergerak hendak turun panggung, ketika kemudian datang seorang laki-laki muda, menyalaminya, mencium tangannya. “Apa memang Bunda tega membiarkan kami nikah, tanpa didampingi seorang ibu?” suara lelaki itu tegas. Tetapi suaranyabergetar. Arum masih membiarkan tangannya digenggam Wisnu, calon suami Dewi Laksmi, yang tanpa diketahuinya menonton pergelaran tarinya.

“Sudahlah. Jangan terlalu diratapi,” balas Arum, menahan getar suara. “Akan Bunda pertimbangkan lagi untuk kembali pada keluarga. Tapi kalau saya tetap bertahan tak kembali pada Ayah, jangan kalian berkecil hati.”

Wisnu – sebagai pilot –  yang sedang tidak bertugas, memang sengaja menonton pergelaran tari Arum. Dewi Laksmi yang meminta agar menemui ibu kandungnya. Wisnu yang memahami benar perasaan calon istrinya, getir juga menghadapi sikap calon ibu mertuanya: kukuh pendirian, bukan berkemauan kembali pada keluarga.

                                                                      ***

HARI kedua pergelaran usai, di antara serakan bunga melati di panggung, Arum berharap tak bertemu seseorang yang menyeretnya kembali ke dunia lama: dunia seorang ibu yang tenang, setia pada suami. Begitu banyak orang menyalaminya dengan takjub, dengan rasa kagum dan sanjungan. Ketika para penonton sudah mulai meninggalkan gedung kesenian, ia turun panggung. Ia dihadang suami-istri setengah baya, tampak terpelajar dan santun, menyalaminya.

“Saya ayah Wisnu, calon besan Ibu,” kata sang suami, enam puluh tahun, menampakkan keramahannya. “Senang sekali bisa bertemu Ibu di sini.”

“Sudah sangat lama kami ingin bertemu Ibu,” kata si istri. “Kebetulan suami menerima tawaran sebagai pembicara di sebuah universitas siang tadi, dan berencara nonton pergelaran tari ini. Sekalian saya ikut serta.”

Tersipu-sipu, Arum hampir tak dapat mengatakan apa pun. Canggung. Terpukul. Malu. Tetapi ia mesti bersikap ramah, dan tak luruh kehilangan kepribadian. Ia tahu dari cerita Dewi Laksmi, calon ayah meertuanya seorang guru besar di sebuah universitas ternama di Yogya.

“Terimakasih, sudah bersusah payah mencari saya di sini,” balas Arum. “Titip anak gadis saya, Dewi Laksmi.”

Tak sekali pun mereka, calon besan Arum, meminta padanya agar kembali pada suami. Mereka lebih banyak menyanjung pergelaran tarinya. Kali ini ia lebih tenang, lebih riang, dan merasa terbebas dari segala harapan kembali pada suami.

Suami-istri calon besan itu mesti kembali ke hotel tempat mereka menginap, dan esok pulang dengan penerbangan pagi. Mereka meninggalkan gedung kesenian tempat pergelaran tari. Tetapi Arum masih mematung di panggung: merenungi perilakunya sendiri.

                                                              ***

USAI pergelaran tari hari ketiga, dengan penonton yang memenuhi gedung kesenian, Arum merasakan kesempurnaan pergelaran tarinya. Seluruh penari tampil dengan kesuntukan peran. Ini pergelaran terakhir. Berdiri di atas panggung, dengan tebaran bunga melati – yang kali ini membuka rasa pedih di hati – Arum merasakan keharuan seorang ibu. Ia teringat kematian Karna di pangkuannya, dengan anak panah Arjuna tertancap di dada. Kematian yang gemilang. Tetapi memilukan: anak yang disia-siakan ibu.

Beberapa orang penonton menaiki panggung, menyalami para penari. Retno Ayu, penata tari, memeluk Arum, hangat dan penuh kasih. Penata tari itu berkaca-kaca, suaranya tersendat, “Terimakasih, sudah mementaskan tari tanpa cela. Lain kali, kuajak kau pentas ke lain kota.”

Retno Ayu menyalami penari lain, dan para penonton dengan penuh kesabaran menemui Arum untuk menyalami, foto bersama, atau menyanjung. Panggung pun sepi. Lambat-lambat Arum melangkah hendak menuruni panggung. Telapak kakinya masih terasa menginjak serakan bunga-bunga melati.

Belum mencapai undak-undakan panggung, seorang gadis menyambutnya dengan uluran tangan. Menyalaminya. Mencium  tangannya. Lama. Ketika wajah gadis itu diangkat, terasa lelehan bening yang hangat di punggung tangan Arum. Wajah gadis itu terangkat pelan-pelan. Tampak sepasang matanya yang berair itu menggugatnya.

“Bunda telah menjelma Dewi Kunti,” kata Dewi Laksmi, yang tak diduga Arum, meluangkan waktu menonton pergelaran tarinya. Dewi Laksmi tak menyampaikan permintaan apa pun. Hanya tatapan matanya yang berair itu yang mengisahkan perasaannya.

Dewi Laksmi meninggalkan panggung. Melangkah ke arah pintu keluar gedung kesenian. Arum hanya memandangi punggung gadis itu. Tubuhnya gemetar. Gadis itu telah menggugatnya. Bukan menyanjungnya. ***

Pandana Merdeka, Juli 2019


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut(HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Buku, Resensi

Dokumentasi Sejarah dan yang Direntankan

Oleh Rachman Habib

Kumpulan cerpen Faisal Oddang ini bisa dibaca sebagai dokumentasi sejarah—tapi kalau penyebutan ini berat dan bermasalah, lewati saja. Di dalamnya terentang sejarah Sulawesi Selatan. Terutama periode pasca revolusi kemerdekaan sampai 1965.

Di antara topik pentingnya adalah pemberontakan Negara Islam Indonesia, Permesta, dan pemberontakan komunis. Kehadiran karyanya mengisi ruang kosong khazanah sastra Indonesia yang kerap berpusat di Jawa jika menyangkut topik-topik tersebut.

Selain itu, topik tersebut jarang diangkat oleh penulis Sulawesi Selatan lainnya, di mana kebanyakan berfokus pada kearifan lokal. Bukannya Fai juga tidak menulis kearifan lokal. Dalam buku ini terdapat beberapa, misalnya Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon (cerpen terbaik Kompas 2014), Sebelum Berangkat Ke Surga, dan Yang Terbaring Di Rumah Arung, Pagi Itu.

Rentang sejarah dalam karya ini menunjuk pada Indonesia saat dalam keadaan darurat. Kata Agamben, negara dalam kondisi darurat bisa menunda hukum. Agamben menyebut status negara tersebut sebagai “kondisi pengecualian” (state of exception). Negara selalu dapat menetapkan hukum dan bediri di luarnya atas nama kedaruratan, seperti demi stabilitas nasional. Dalam kondisi ini negara memiliki kekuasaan “luar biasa” untuk mengeluarkan warganya menjadi berstatus bukan warga, sehingga mereka bersifat—meminjam istilah Arendt—stateless person. Dengan begitu warga tersebut bisa dengan mudah dikucilkan, dibunuh, dan hak-hak dasarnya sebagai warga dirampas (Robet dan Tobi 2014: 168).

Warga yang dieksklusi ini disebut sebagai Homo Sacer. Subjek yang tidak diakui, boleh dibunuh dan yang membunuhnya tidak mendapat hukuman. Negara modern, tidak pernah absen dalam memproduksi Homo Sacer. Indonesia pun begitu. Dalam buku ini, Anda dapat menjumpai para Homo Sacer.

Pada cerpen Jangan Tanya Tentang Mereka yang Memotong Lidahku Anda akan menjumpai kisah para Bissu yang dibersihkan pada 1965 dalam operasi militer. Pendeta transgender dalam tradisi pra-Islam di Bugis ini dituduh mengkhianati Tuhan serta dianggap bagian dari kaum merah (sebutan untuk komunis). Para Bissu diburu dan dibunuhi dengan cara-cara keji. Satu di antaranya ada yang diikat dan ditenggelamkan di danau, juga ada yang dipotong lidahnya dan dijadikan tahanan politik.

Konon, sekarang jumlah Bissu tinggal sedikit. Berkurangnya Bissu disebabkan pembersihan pada 1965, juga pada pemberontakanNegara Islam Indonesia (DI/TII) tahun 1953.

Kasus yang sama terjadi pada penganut kepercayaan Tolotang dalam cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Orang-orang Tolotang yang menyembah Dewata Sewwae ini oleh tentara dipaksa meninggalkan kepercayaan mereka untuk menganut agama resmi dan mencantumkannya di KTP. Seorang tentara mengancam pada pimpinan orang Tolotang : ”Uwak harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali. Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” (Hal—25).

Mereka akhirnya memang menerima perubahan agama di KTP meski harus menerabas dilema menyakitkan. Andai mereka menolak, barangkali terjadilah apa yang diancamkan tentara itu kepada mereka: hak sebagai warga negara tidak didapatkan.

Perlakuan serupa, yang mengancam hak mendasar sebagai manusia sekaligus warga negara, juga menimpa mantan gerilyawan kemerdekaan atau komunitas muslim sipil lantaran dicurigai terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Di bawah keadaan darurat operasi menundukkan pemberontakan, warga sipil kerap berada di posisi rawan. Karena sewaktu-waktu, dan memang begitu adanya, mereka juga menjadi sasaran hanya disebabkan kecurigaan tak berdasar.

Cerita tentang mereka yang rawan tersebut dapat Anda jumpai dalam cerpen Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?, Peluru Siapa Yang Kami Temukan Ini?, Di Sana, Lima Puluh Tahun Yang Lalu, dan Siapa Suruh Sekolah Di Hari Minggu?.

Tidak hanya menjadi objek kekerasan negara, tetapi juga objek kekerasan sesama warga ketika kekerasan terpolarisasi secara horizontal. Jadi bisalah dikatakan bahwa dalam kondisi kedaruratan negara memproduksi subjek-subjek rentan. Di mana tidak ada kepastian keamanan dan perlindungan terhadap hak-haknya terhindar dari kekerasan.

Dan selanjutnya, belajar dari sejarah, kita lihat bahwa tak satu pun dari pelaku pembunuhan atau pelanggaran hak asasi manusia memeroleh hukuman. Alih-alih, pelakunya justru melenggang bebas. Persis di titik begini Agamben menjelaskan bahwa “kondisi kedaruratan” (state of exception) menyediakan kondisi alamiah atas adanya kekebalan hukum terhadap pelaku kekerasan. Termasuk ketika pelakunya adalah negara sendiri (Robet dan Tobi 2014: 175).

Gaya Bercerita

Lain daripada itu ada sedikit catatan. Sebagai dokumentasi sejarah, buku ini memang terbilang berhasil. Sementara perihal gaya bercerita lain soal. Gaya bercerita keseluruhan cerpen di buku ini nyaris seragam. Barangkali sebab dua pokok. Pertama, Fai kerap mempekerjakan kisah cinta untuk membangun tangga dramatik atau untuk memberi kejutan. Pola yang diulang di beberapa cerpen membuatnya kehilangan daya gigit. Kedua, hampir di semua cerpen tidak muncul karakter yang hidup kecuali digerakkan oleh suara pencerita. Bila pun ada, karakter tersebut kalah ketimbang narasi liris kalimat-kalimat pengarang.

Namun, apa pun catatannya, buku ini menunjukkan bahwa Fai telah berupaya melihat dan menghadirkan narasi sejarah—mengutip esainya, “dengan cara berpikir sebaliknya. Dengan lugu, dengan kembali dan meminjam cara pikir kanak-kanak.”[]


Rachman Habib, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan aktif di Teater ESKA Yogyakarta.

Puisi

Puisi Lailatul Kiptiyah

Syawal

                 ; Ibuku Siti Ngaisah


sepetak ladang berpuluh tahun
menyulam dirinya untuk terus hijau

di tengah-tengahnya jantung ibu

berdegup mekar menjaga kangenku

sedang pohon-pohonnya tubuh yang tabah
melepas anak-anak embun
lesap ke urat-urat

perjalanan
melimpahiku ribuan maaf


dari kejauhan

Mataram, Syawal 1440 H


Menulis Sajak Tiga Baris

yang putih adalah kabut
yang sedih adalah putih
yang terenggut

burung-burung kembali
berpulang pada magrib
menujuMu duka berjalan tertib

kuseterika baju-bajumu
setelah kau cuci bersih
masa lalu

rembulan penuh
jatuh ke mata sungai
oh, cinta yang berderai

di bawah lampu menyala
begitu subur air mata
begitu rimbun luka-luka

kemarau yang menggenangi
seluruh kota
mengenangkanku pada lagu Africa

dari puisimu, Goenawan Mohamad
kusimpan dengan sedih
sepatu kecil Aylan Kurdi

di dalam tanah
sebutir benih pecah
ia pahami hakekat ibadah

yang dalam adalah laut
yang hitam adalah luput
yang cemas adalah doa-doa yang kusebut

Ramadhan- Syawal, 1440 H


Memandang ke Seberang Halaman

apa yang kau temukan
saat kau pandang
ke seberang halaman

jalan berpaving kotak-kotak
pembatasnya dulu jajaran batang-batang
luntas, sebatang nangka bubur dan
sedepa ke kiri segerumbul talas

seorang modin, beberapa orang dandan
pernah melewati jalan itu
membawa seorang demi seorang
-calon menantu

bagi tiga anak perawan
penghuni rumah limas
sebelah kiri jalan

apa yang kau simpan
di lubuk kenang
pada seberang halaman

kau yang datang dari arah jauh
arah yang berlawanan
bersetelan jas hitam, bersongkok hitam

di kiri kanan pundakmu
disangga tangan-tangan keluarga
sepasang kembar mayang mekar
menjemput mempelai perempuanmu

ke dalam rumah limas itu


dengan tubuh saling gemetar
kau dan mempelai perempuanmu
menyesap kucuran air kendi

air yang terperam dalam tujuh
rupa kembang

yang aromanya tak bisa hilang
hingga jauh memasuki tubuh malam
membenam dalam

menetes-netes, bermalam-malam
menjadi candu tak terbilang

Ampenan, 20 Maret 2019


Jarak

sebatang jarak tumbuh masih rendah
di tepi parit dekat masjid
yang tak begitu megah

pernah kupetik beberapa lembar
daunnya
tanpa izin ke barang siapa

“petiklah beberapa lembar daun jarak
dekat masjid itu
untuk kubalurkan ke perut bocah lelakimu”

seorang ibu dari Sumbawa
mengucap padaku

di tengah malam sebelumnya
diare serta panas menyerang
bocah lelakiku

beberapa hari selepas genap dua tahun

kini sebatang jarak kutemukan lagi, rimbun
di halaman sebuah rumah
dekat pondokan kami yang baru

kupandang setiap lewat
pohon yang menyimpan kelebat
suara seorang ibu dari Sumbawa
suara mantra yang sepurba

mitologi itu

Ampenan, 19-20 Maret 2019


Burung Hantu

di pohon hitam
di jam terkelam
kutangkap melodimu

Pagesangan, Januari 2017


Tarekat

aku menulismu
berulang-ulang

aku memanggilmu
tak pernah bimbang

dan aku menempuhmu
lewat ribuan lambang

2017


Di Kolam Renang Valerie

di atasmu duduk

bergantung enam butir jeruk

pada carang-carang sekaku telunjuk

gemar dan mahir menusuk

sesuatu yang sedih kau sembunyikan

di kediaman tengkuk

Jember, September 2018


Di Balai Kota


di balai kota menegak pagar
dari ribuan papan kembang
matahari mata yang menyabarkan
saat laki-laki itu
memasuki jantung gedung
namun ia merasa tenang
dan barangkali menang

memandang dendam kian mekar
di ruang sidang

Mei 2017-September 2018


Kesedihan Musim

sebuah paceklik datang tak memandang

waktu. Tangannya terulur demikian karib

menjangkau pintu

seekor induk unggas memburu butiran jagung

yang terbawa paruh burung
di hampar kebun yang memutih itu

seperti sehabis hujan abu

namun dari pucuk daun nangka
sebutir embun menitik
tak kentara

serupa doa yang diam-diam
terjaga
di sudut gema

bilakah hujan membuyar

lagi dari utara?

lewat tangan laut yang menyudahi nestapa


2017-2019


Doa

duhai angin yang melipur
ladang-ladang kering, musim-musim tugur
bawa sajak-sajakku serupa burung
menabur kidung dan terbang
merambahi puncak kesedihan

2018


Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak 2014 hingga sekarang menetap di Mataram dan turut menjadi bagian keluarga dari komunitas Akarpohon Mataram, NTB.