Cerpen

Yang Berganti Nama di Buku Sejarah

Cerpen Erna Surya

Terakhir kali kulihat wajah itu bukan ketika kami masih bersembunyi di kolong jembatan dekat Kali Code, menunggu iring-iringan truk tentara berlalu. Bukan juga saat kami menggenggam erat tangan masing-masing di tengah gelap, berharap fajar tak datang membawa peluru. Wajah terakhir itu kulihat di ruang interogasi, bertahun-tahun kemudian, di antara bau darah yang belum kering dan suara logam memukul tembok. Ia tersenyum, entah kepada siapa. Dan aku tahu, di detik itu, seseorang sedang mencatat dosa terakhirku di buku yang tak bisa kubaca.

“Tuhan tidak akan menaruh belas kasihan pada bajingan sepertimu,” katanya pelan.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari popor senapan.

Ya, memang.

Bukankah terlalu banyak wajah yang sudah kulenyapkan atas nama sesuatu yang kusebut ideologi? Bukankah terlalu banyak tubuh yang kubenamkan di lubang-lubang tak bernama yang bahkan tikus pun enggan singgah di sana? Aku tak pernah menghitung berapa nyawa yang kutarik keluar dari jasadnya. Kalau ada yang mau membangun monumen dari tulang belulang itu, mungkin satu bukit di pinggir Bantul akan penuh sesak dengan kepala manusia.

Kau tahu, dulu kami tak menyebutnya pembunuhan. Kami menamai itu “pembersihan.” Kata yang manis, rapi, dan terdengar seperti tugas mulia. Tapi malam-malam di kepalaku masih meneteskan darah hingga hari ini.

***

Aku dijuluki Gatot, bukan karena aku gagah, tapi karena aku yang paling cepat menusukkan bayonet tanpa perlu perintah dua kali. Tahun-tahun itu, udara Jogja penuh dengan bisik-bisik tentang pengkhianat, dan aku seorang pemuda yang baru lepas dari barisan rakyat dan dipilih jadi tangan kirinya negara.

Setiap malam, aku dan dua orang lainnya, Gendon dan Wiryo, menjemput orang-orang yang dituduh simpatisan. Kami membawa mereka dengan truk ke tepi sungai atau sawah yang sudah kering, lalu suara tembakan menjadi tanda berakhirnya urusan. Kadang tak perlu tembakan; cukup sebuah cangkul yang menghantam tengkuk.

Kami tidak diberi nama, hanya nomor. Nomorku 23. Aku tak tahu siapa 1 sampai 22, tapi aku tahu nomor 24 adalah Sulastri, perempuan yang kemudian mengubah segalanya.

Dia bukan tawanan. Dia juru ketik di pos komando, sering membawa termos kopi dan senyum kecil. Di antara bau keringat tentara dan lumpur, senyumnya seperti air yang menetes di batu panas. Aku mencintainya dalam diam yang bodoh. Mungkin itu satu-satunya hal manusiawi yang masih tersisa di dalam diriku saat itu.

***

Suatu malam, setelah menuntaskan “pembersihan” terakhir di daerah Klaten, aku kembali ke barak. Sulastri duduk di meja ketik, menggigit bibirnya, menyalin laporan tentang berapa kepala yang hilang hari itu. Aku membaca sekilas: 23 orang.
Angka yang kebetulan sama dengan nomorku.

“Kau tidak lelah, Las?” tanyaku.

“Kalau lelah, untuk siapa aku bekerja, Gatot?” jawabnya, tanpa menatapku.
Suaranya serak tapi lembut, seperti serat daun pisang yang digesek angin.

Malam itu kami bicara banyak hal, tentang rumahnya di Kulon Progo yang terbakar, tentang adik laki-lakinya yang ditangkap di Surakarta, tentang keyakinan bahwa Tuhan pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang berdosa. Aku ingin mengatakan padanya bahwa Tuhan mungkin sudah mati di lubang tempat kami mengubur para lelaki itu, tapi bibirku kelu.

Sejak malam itu, aku berhenti menghitung berapa mayat yang kuurus. Aku mulai menghitung berapa kali Sulastri tersenyum padaku.

***

Lalu, sebuah laporan datang: Sulastri dicurigai membocorkan nama-nama ke pihak seberang.

Aku menertawakan kabar itu. Tapi tawa itu berhenti ketika Letnan memanggilku dan memerintahkan aku sendiri yang menginterogasinya.

“Kau yang paling dekat dengannya. Kau tahu bagaimana memancingnya bicara,” katanya.

Aku menolak. Tapi perintah adalah perintah. Malam itu aku duduk di seberang Sulastri, di ruang sempit berlampu pijar. Meja di antara kami basah oleh keringat dan kopi tumpah. Ia menatapku seperti menatap seseorang yang sudah ia siapkan di dalam doa: bukan untuk keselamatan, tapi untuk pengampunan.

“Kau harus bicara, Las. Mereka akan datang jika aku tak mendapatkan pengakuan.”

“Apa yang harus kuakui, Gatot?”

“Apa pun yang mereka mau dengar.”

“Kalau begitu aku akan mengaku semuanya, termasuk dosamu sendiri.”

Dan di situlah, aku untuk pertama kalinya merasakan takut. Bukan takut pada peluru, tapi pada kebenaran yang bisa menghancurkan diriku sendiri.

“Aku tidak pernah membocorkan rahasia. Tapi aku mencintaimu,” katanya kemudian. “Dan itu sudah cukup untuk membuatku mati di sini, bukan?”

Suaranya pecah. Aku menunduk. Tanganku gemetar di atas meja.
Di luar, suara jangkrik bersahutan seperti nyanyian pengantar ke liang kubur.

Keesokan harinya, Sulastri “dihilangkan.” Aku tidak hadir dalam eksekusi itu, tapi aku tahu siapa yang memegang pistol. Dan entah kenapa, sejak saat itu, aku berhenti bermimpi.

***

Lima belas tahun kemudian, ketika orde yang dulu kami bela runtuh oleh orde yang baru, aku masih hidup. Rambutku memutih, tanganku gemetar, tapi bayangan Sulastri tetap jernih di kepalaku.

Aku tinggal di rumah tua di pinggir Kali Gajah Wong. Setiap kali hujan datang, air sungai naik dan menyeret sisa-sisa lumpur yang seperti masih menyimpan suara jeritan malam. Orang-orang bilang aku gila karena sering berbicara sendiri di tepi air. Mereka tak tahu, aku sedang berbicara dengan masa laluku.

Suatu sore, seorang lelaki muda datang mengetuk pintuku.
Namanya Rama, wartawan dari Jakarta. Katanya, ia menulis buku tentang mereka yang hilang di masa lalu. Di tangannya ada map cokelat, dan di dalamnya ada foto Sulastri muda, tersenyum.

“Kami menemukan kuburan massal di Bantul,” katanya pelan.

“Ada sepotong tulang dengan gelang perak bertuliskan Las.”

Aku hampir roboh. Gelang itu pernah kuberikan padanya, malam sebelum ia lenyap.

“Apakah Anda mengenalnya, Pak Gatot?”

Aku tidak menjawab.  Aku menatap foto itu lama, seolah wajah di sana bisa berbicara.

Rama lalu menyalakan perekam dan berkata, “Boleh saya dengarkan cerita Anda?”

Dan sejak itu, percakapan ini dimulai. Entah ia sadar atau tidak, aku bicara bukan hanya padanya. Mungkin juga pada Sulastri, pada Tuhan yang dulu diam, pada setiap arwah yang masih gentayangan menuntut nama mereka disebut.

***

“Jadi, Bapak membenarkan semua tuduhan itu?” suara Rama bergetar.

“Tidak perlu dibenarkan. Itu sudah terjadi.”

“Berapa orang yang Bapak habisi?”

“Cukup untuk membuat sejarah tak bisa tidur.”

Aku tersenyum getir. Kadang-kadang dosa memang terdengar seperti humor yang gagal.

Rama mencatat dengan cepat. “Mengapa Bapak mau bicara sekarang?”

“Karena aku ingin mati dengan wajah Sulastri menatapku, bukan punggungnya yang menjauh.”

Ia diam. Di luar, hujan mulai turun deras. Butir-butir air menimpa genting seperti langkah kaki ribuan orang yang kembali dari liang.

“Tapi, apakah Anda menyesal?”

Aku tertawa pendek. “Penyesalan itu cuma hiburan bagi mereka yang tidak sempat menebus apa pun.”

“Lalu apa yang Anda harapkan?”

“Pertemuan.”

“Dengan siapa?”

“Dengan dia yang terakhir tersenyum padaku.”

Rama menatapku lama. Mungkin ia pikir aku sudah pikun. Tapi aku tahu, di matanya ada rasa takut yang sama seperti dulu kulihat di mata para tawanan sebelum peluru menembus kepala mereka.

***

Malam itu, setelah Rama pergi, aku duduk di depan jendela. Lampu minyak menyala redup. Di meja, foto Sulastri tergeletak, separuh basah oleh air hujan yang menetes dari atap bocor. Aku menatapnya lama, wajah yang tak berubah meski waktu sudah berkarat.

Kau tahu, kadang Tuhan memilih cara yang aneh untuk menghukum manusia. Ia memberiku umur panjang agar aku sempat menonton ulang semua perbuatanku tanpa bisa menghapus satu pun adegan.

Di luar, kali meluap. Airnya hitam, berbau lumpur dan besi.
Aku berdiri, melangkah ke halaman, membiarkan air menyentuh mata kakiku. Hujan masih turun seperti tirai yang menutup panggung dosa.

Di tepi air, aku mendengar suara perempuan memanggil namaku. Lembut, jauh, tapi jelas.

“Gatot…”

Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan wajahku sendiri di permukaan air dan di belakangnya, samar, seolah ada bayangan perempuan berkebaya, tersenyum.
Senyum yang sama, yang terakhir kulihat di ruang interogasi.

***

“Jadi, apa yang akan kau lakukan jika Tuhan datang malam ini?” suara itu bergema di kepalaku.

“Mungkin aku akan minta Ia menukarkanku dengan satu tulang Sulastri.”

“Kau pikir Tuhan peduli pada transaksi seperti itu?”

“Kalau Ia tak peduli, kenapa Ia biarkan aku tetap hidup sampai sekarang?”

Suara itu tertawa. Tawa yang getir, seperti ranting patah di musim kering.
Aku tak tahu apakah itu suara nuraniku, atau Sulastri, atau bahkan Tuhan sendiri yang sedang menyamar dalam pikiranku.

Malam semakin pekat. Aku melangkah ke tengah halaman, air kini setinggi lutut. Di kejauhan, petir menyambar, menyingkap sejenak siluet pepohonan seperti bayangan orang-orang yang pernah kukubur. Mereka berdiri berbaris, menatapku.
Aku memejamkan mata.

“Las,” bisikku, “Kalau kau di sana, maafkan aku.”

Angin menjawab dengan desir lembut, seolah jari-jari halus menyentuh wajahku. Lalu sunyi. Aku kembali ke rumah, menyalakan rokok terakhir, duduk di kursi bambu. Di meja, foto itu masih menatapku.

***

Pagi belum datang ketika pintu rumahku diketuk. Rama berdiri di luar, wajahnya pucat. Di belakangnya, dua polisi berpakaian sipil.

“Mereka ingin bicara dengan Bapak,” katanya lirih.

Aku tahu apa artinya. Mungkin mereka baru menemukan lagi lubang lain, mungkin namaku tercantum di catatan lama yang baru dibuka.

Aku tersenyum. “Akhirnya giliran saya.”

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, aku mengambil langkah ke dalam, membuka laci meja, dan mengeluarkan sepucuk pistol tua. Mereka berteriak, tapi aku tidak menodongkan senjata itu ke arah mereka. Aku menatapnya sebentar. Itu besi dingin yang dulu menjadi perpanjangan tanganku untuk mencabut nyawa orang lain.

Tiba-tiba, aku mendengar lagi suara itu. “Tidak perlu buru-buru, Gatot. Kematian akan menemukanmu tanpa bantuanmu sendiri.”

Aku menurunkan pistol. Menyerahkannya ke polisi yang mendekat.
“Ambil saja. Aku sudah terlalu tua untuk menembak siapa pun.”

Mereka menggiringku ke mobil. Rama menatapku dengan mata yang tak bisa kutafsirkan, antara kasihan dan jijik.

Sebelum mobil beranjak, aku berkata pelan, “Kalau nanti kau menulis buku itu, jangan lupakan Sulastri. Katakan padanya, aku masih menunggu di seberang.”

Rama tidak menjawab.

***

Kini aku duduk di ruangan sempit ini, temboknya lembap, atapnya bocor. Aku menulis di selembar kertas yang mungkin tidak akan pernah sampai ke mana pun.
Sulastri, kalau kau masih ada di udara, datanglah malam ini. Bawa kembali senyummu, meski aku tahu itu akan membakar mataku sendiri.

Aku tidak tahu apakah besok aku masih hidup. Aku tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan pengakuan seorang algojo yang menyesal setengah hati.

Yang kutahu hanya satu: di luar sana, hujan belum berhenti. Dan di antara suara air yang jatuh di genting, aku masih bisa mendengar bisikanmu. Pelan, nyaris hilang. Ia mengulang kalimat yang sama:

“Tidak ada yang benar-benar mati, Gatot. Kita hanya berganti nama di buku sejarah.”

Aku tersenyum. Dan malam pun menutup wajahnya perlahan, menyembunyikan segalanya di balik tirai air.

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Buku, Resensi

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Judul Buku: Lampu April – Musik dan Persimpangan

Penulis: Rudi Agus Hartanto

Penerbit: Leluasa Book

Cetakan: 1, Juni 2026

Halaman: xv+69 hlm, 15×20.5 cm

QRCBN: 62-9681-9330-980

Satu kesalahan yang sering muncul ketika membicarakan skena musik, terutama musik bawah tanah. Orang menganggap hanya urusan distorsi gitar, teriakan vokalis, jaket penuh emblem, atau keramaian mosh pit. Akibatnya, yang terlihat hanya permukaan. Padahal, di balik itu, ada kerja budaya panjang, membaca zaman, menyimpan arsip, membangun solidaritas, mengkritik kekuasaan, dan mempertahankan ruang hidup yang semakin sempit.

Melalui Lampu April, Musik dan Persimpangan, Rudi Agus Hartanto menunjukkan, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah cara berpikir, bahkan lebih jauh lagi, ia cara masyarakat kecil merawat ingatan ketika banyak orang sengaja lupa.

Empat belas esai dalam buku ini bukan tulisan akademis. Ia lahir dari pengalaman hadir di ruang-ruang kecil, menyaksikan pertunjukan, berbincang dengan pelaku skena, membaca zine, hingga mengamati komunitas yang bekerja jauh dari sorotan. Itulah kekuatan paling menonjol buku ini, penulis bicara dari dalam ekosistem, bukan pengamat yang datang sesaat lalu pulang.

Rudi tidak sedang membela musik metal, hardcore, punk, atau komunitas independen secara norak. Ia memperlihatkan, setiap karya lahir dari konteks sosial. Lagu tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa pengalaman hidup penciptanya, keresahan zamannya, sekaligus harapan bagi pendengarnya.

Salah satu keberanian buku ini menolak dikotomi lama antara musik serius dan musik keras. Di publik Indonesia, musik dengan distorsi sering kali lebih dulu dicurigai daripada dipahami. Padahal, dari ruang-ruang itu lahir diskusi lingkungan, kesetaraan, kebebasan berekspresi, kekerasan negara, hingga diskriminasi. Penulis memperlihatkan bahwa volume keras tidak selalu berarti pikiran dangkal.

Buku ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu harus cepat dan mudah dikonsumsi. Kritik sering dipadatkan menjadi potongan video beberapa detik. Kemarahan hanya bertahan sepanjang linimasa. Buku ini mengingatkan bahwa perubahan tidak dibangun dari ledakan, melainkan kerja kolektif yang terus diulang, meski kecil.

Esai-esai tentang Down For Life, Rock in Solo, Keliling Kabupaten, The Suse, Malinoa, hingga komunitas-komunitas pinggiran sebenarnya sedang menyampaikan satu gagasan besar, kebudayaan tidak selalu lahir dari pusat. Kadang tumbuh di warung kopi, ruang kecil, gudang latihan, kios kaset, atau panggung sederhana yang bahkan tidak diliput media.

Pernyataan itu terasa penting ketika Indonesia masih sering terjebak pada logika pusat. Seolah sesuatu baru dianggap bermutu jika datang dari Jakarta atau kota-kota besar. Padahal, kreativitas tidak mengenal alamat. Buku ini berkali-kali menunjukkan daerah bukan tempat menunggu. Daerah adalah tempat melahirkan gagasan.

Esai tentang zine menjadi salah satu bagian menarik. Penulis tidak sekadar membahas zine sebagai media murah, tetapi bentuk keberanian mendokumentasikan zaman. Ketika banyak orang sibuk mengejar algoritma, zine memilih jalan pelan. Tidak mengejar trend. Tidak mencari pengakuan. Ia hanya memastikan agar gagasan tidak hilang begitu saja. Arsip adalah bentuk perlawanan.

Buku ini juga memberi penghargaan besar kepada orang-orang yang sering luput dari sejarah. Mereka bukan selebritas, bukan pemegang jabatan. Mereka hanya penyelenggara gigs, pembuat zine, penjaga komunitas, pengarsip kaset, atau anak-anak yang menghabiskan malam untuk menyusun acara. Mereka memang tidak masuk berita nasional, tetapi tanpa mereka ekosistem kebudayaan tidak akan pernah bertahan.

Yang menarik, Rudi tidak meromantisme skena. Ia memperlihatkan semua ruang punya persoalannya sendiri. Namun ia melihatnya sebagai proses belajar. Itu sebabnya kata bertahan terasa berulang dalam buku ini. Bertahan bukan diam. Bertahan berarti terus bergerak meski tidak ideal.

Kalimat pembuka buku, “Bertahanlah selagi mampu,” bukan sekadar ajakan. Ia tesis seluruh isi. Bertahan membuat musik tetap hidup. Bertahan membuat komunitas tetap lahir. Bertahan membuat pengetahuan terus berpindah. Bertahan membuat ingatan tidak mudah dihapus.

Keberanian yang patut diapresiasi, buku ini memperlakukan musik sebagai bahan bacaan, bukan sekadar bahan dengar. Sebuah lagu dibaca sebagaimana orang membaca puisi atau esai. Lirik diperlakukan sebagai teks kebudayaan. Konser dipahami sebagai ruang dialog. Bahkan panggung arena produksi pengetahuan. Cara pandang ini masih jarang ditemukan dalam penulisan musik di Indonesia yang sering berhenti pada ulasan teknis atau nostalgia.

Buku ini tidak ditujukan hanya bagi penikmat musik keras. Pembaca biasa, yang tidak mengenal hardcore, punk, atau metal tetap dapat menemukan sesuatu yang penting, tentang bagaimana komunitas membangun solidaritas tanpa menunggu pengakuan. Bagaimana ruang-ruang kecil tetap memilih hidup meski fasilitas terbatas. Bagaimana anak-anak muda menciptakan jalannya sendiri ketika pintu-pintu resmi terasa terlalu sempit.

Ada kesan yang tertinggal setelah halaman terakhir ditutup. Buku ini mengingatkan, sastra tidak tinggal di rak perpustakaan saja. Ia bisa hadir dalam lirik lagu, obrolan selepas konser, zine fotokopian, mural tembok, kaset rilisan mandiri, hingga percakapan sederhana di warung kopi. Bahasa boleh beda, tetapi kegelisahan yang dibawanya sama, bagaimana manusia tetap memiliki martabat di tengah dunia yang terus berubah.

Bila harus dirangkum dalam satu kalimat, Lampu April, Musik dan Persimpangan adalah buku tentang orang-orang yang memilih tetap bersuara. Dan mungkin, itulah definisi paling jujur tentang skena. Mereka tidak mengejar keren. Mereka menjaga agar suara tidak padam.

Di tengah zaman yang sibuk menghitung jumlah penonton, pengikut, dan angka penjualan, buku ini mengajak kita menghitung sesuatu yang sering dilupakan, berapa banyak ruang kecil yang masih bertahan karena ada orang-orang yang bekerja tanpa tepuk tangan.

Pesan yang terus berdengung dari keseluruhan isi buku, sederhana, seperti obrolan anak-anak skena setelah panggung selesai dibongkar: Kalau ruangmu belum ada, bikin sendiri. Kalau suaramu belum didengar, tetap bersuara. Kalau belum bisa mengubah dunia, setidaknya jangan ikut membuatnya semakin sunyi.

Oya, buku ini diterbitkan Leluasa Book, lini Leluasa (Media kolektif seni, budaya, dan musik independen), dengan tanpa ISBN. Saya membatin, syukurlah. Seandainya harus menunggu ISBN, boleh jadi buku ini baru sampai ke pembaca ketika persoalan-persoalan keburu dikubur penguasa.***

____________________

Yuditeha Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Cerpen

Menikah

Cerpen Septi Rusdiyana

“Bagaimana? Berhasil?” tanyaku pada Rena, sembari menyerahkan sekaleng minuman dingin dan sebungkus keripik kentang. Ia meraih keduanya tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu. Desis bunyi soda saat kaleng dibuka mengiringi pandangan Rena, pada Sirih Gading yang bertengger rimbun di tepi kolam ikan milikku.

“Lebih sulit dari urusan perceraian kemarin, Dis,” jawab Rena usai meneguk minuman.

Aku duduk di sebelah Rena. Mengikuti arah pandang mata itu, sekadar mengisi jeda waktu antara senyap suasana sore, dan riuhnya pikiranku sendiri. Sampai detik ini, aku masih saja tidak berhasil menemukan alasan mengapa Rena bersikeras untuk menikah lagi.

“Gadis, apa kau punya asuransi?” tanya Rena tiba-tiba.

Otakku nge-lag. Selama ini asuransi yang pernah kumiliki hanya BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Itu pun kini sudah tak berguna sejak aku resmi menjadi pengangguran tiga bulan lalu. Dana simpanan sudah dicairkan, sepertinya hampir habis untuk bayar kontrakan dan hidup sehari-hari. Setelah kupikir-pikir, aku baru sadar jika selama ini aku tak pernah menabung.

“Aku mau jadi kodok.”

Belum sempat aku menanggapi bab asuransi, pernyataan Rena membuat otakku kembali waspada.

Rena mengawali cerita dengan membuka keripik kentang. Suapan demi suapannya tampak kaku, seolah gerakan itu mengisyaratkan kejengkelan.

“Aku ingin melompat bebas. Bersama diriku. Aku tak butuh siapa dan apa pun lagi. Pria baik hati hanya tercipta di dongeng. Kalaupun lahir di dunia, mereka tak disisakan untukku.”

Rena memalingkan pandangan dari kolam ke wajahku. Ia berhenti menjejalkan keripik kentang ke mulutnya, “Bagaimana kalau kita berdua menikah? Aku bisa menghidupi dirimu yang penuh kemalangan ini. Kau tak perlu berubah, jadilah seperti biasa: Gadis yang menyayangi, menemani dan mendengar bualanku. Kita bahkan tak butuh sex karena kita sama-sama membencinya, bukan?” ungkap Rena serius. Aku hampir percaya. Tapi sebelum aku bereaksi, Rena kembali bicara.

“Berjanjilah padaku, Dis. Tetaplah melajang. Aku tidak mau kau merasakan apa yang kualami,” ralat Rena seperti ia baru saja tersadar akan sesuatu.

Perubahan tiba-tiba itu tidak membuatku terkejut. Aku sangat mengenal Rena. Meski di luar ia tampak serampangan dan ceplas-ceplos, aku tahu ucapannya bukan omong kosong. Ia kecewa. Mungkin perasaan dan jiwanya sudah terlanjur terluka sangat dalam.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman. Rena mulai menyalakan rokok di bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya ia tak ingin lagi diganggu. Aku cukup duduk menemani. Kadang, diam bukan berarti tak peduli. Bagi kami, diam justru menjadi titik tertinggi untuk memahami bahwa tidak selamanya penderitaan butuh validasi.

Ingatanku melayang saat aku menjadi bridesmaid di hari pernikahan Rena. Wajahnya kala itu begitu cerah. Seolah yakin bahwa bersama suaminya, sisa usia Rena akan habis dengan penuh kebahagiaan. Setidaknya itulah yang kupercaya karena selepas menikah, Rena ikut suaminya ke Jakarta. Kami tak pernah lagi berkabar. Hingga dua tahun kemudian, Rena mendatangi kontrakanku.

“Apa malam ini aku boleh tidur di rumahmu?” tanya Rena saat itu. Tubuhnya lusuh. Wajahnya sekusut rambutku. Tentu aku menyambutnya tanpa banyak bertanya. Aku ingat hanya bisa memasakkannya mi instan usai membiarkan Rena mandi dan berganti pakaian.

“Besok, tolong temani aku,” pinta Rena terdengar seperti titah yang tak berani aku bantah, apalagi kupertanyakan.

Sejak hari itu, aku selalu ada untuk Rena. Aku menemaninya ke rumah sakit. Rena menjalani pemeriksaan sekaligus visum yang pada akhirnya berhasil membuatnya cerai dari suami. Keluarga besar Rena mengutuknya. Aku menjadi saksi betapa kisah Rena semacam drama Cina yang kutonton hampir setiap malam. Rena tak mengeluh. Ia tak pernah takut pada keputusan yang sudah diambil. Rena juga tak berniat agar bisa reinkarnasi dan hidup kembali ke masa lalu, untuk balas dendam pada mantan suami serta keluarganya.

“Aku lapar, apa kau masih punya mi instan?” Pertanyaan Rena membuyarkan lamunanku.

“Sepiring nasi dan semangkok sop brokoli pun ada. Aku tak semiskin itu, sampai hanya ada makanan instan saja di rumah.”

Rena terkekeh. Tapi aku tahu ia tidak sedang mengejekku. Rena tampak tidak baik-baik saja. Bagiku, Rena seperti sebuah lukisan picisan yang gagal dipamerkan. Rena mungkin berhasil keluar dari pernikahan yang ia anggap neraka. Tapi ia masih terpenjara pada penyesalan dan ketidakpuasan akan dirinya sendiri.

Apa yang ia coba lakukan sekarang hanya caranya menghibur diri. Kadang, lelah bisa memacu adrenalin yang lain. Termasuk hal absurd yang baru saja dilakukan Rena hari ini. Ia pergi ke kantor catatan sipil untuk bertanya syarat-syarat mendaftar pernikahan bagi dirinya, dengan dirinya sendiri.

“Mereka semua tolol. Tidak punya pikiran terbuka,” kata Rena di antara denting suara sendok garpu di atas piring. Kami melanjutkan obrolan di meja makan.

“Atau bisa jadi kamulah yang dianggap tolol oleh mereka,” sahutku.

“Aku hanya ingin menyelamatkan asetku. Bagaimanapun aku masih punya saham dan harta yang harus kulindungi.”

“Begitu ya?”

“Kau tahu, Gadis, pria yang dulu kucintai dengan membabi buta, rupanya punya utang segunung sebelum menikah denganku. Atas nama cinta dan penerimaan tulus, pada akhirnya akulah yang menutup utang itu.” Rena mengambil kerupuk dan menggigitnya.

“Dasar brengsek! Dia pintar mencuci otakku. Aku terperdaya. Lagi-lagi, atas nama cinta dan pengabdian, aku harus melayani hasratnya yang tak biasa. Kekuatannya seperti tak habis-habis. Aku terus dipaksa hingga nyeri tak terperi itu akhirnya melantakkan kepercayaanku padanya. Aku melawan dengan sisa harapan. Lalu keberanian dan kekuatan besarku muncul, justru di saat dia tuntas menghajarku.”

Hatiku ngilu mendengar Rena bercerita. Aku tak berani menanggapi.

“Tapi sudahlah. Semua telah berlalu. Bagiku hal itu hanya luka kecil seperti kena sundutan rokok,” lanjut Rena lagi.

“Oh ya, Dis…..,” Rena menjeda bicara. Seperti tiba-tiba ingat sesuatu.

Aku menatapnya.

“Di kantor catatan sipil tadi, ada seorang lelaki yang terus melihatku. Dia tidak ikut-ikutan menertawai atau menasihatiku. Dia hanya menyaksikan pertikaian kami. Entahlah, Dis, rasanya hatiku hangat waktu itu. Seperti pelukanmu. Ya, benar. Rasanya sama seperti pelukanmu. Dan kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tidak terlalu sial hari ini.”

Rena menyunggingkan senyum yang mungkin, baru kali ini kulihat kembali, sejak ia mengetuk pintu kontrakanku malam itu.

“Apa kau jatuh cinta?” tanyaku usai jeda sunyi terlalu lama.

Rena gelagapan. Wajahnya memerah. “Sinting!” umpatnya padaku.

Aku menatap punggung Rena yang kian menjauh. “Obatmu, jangan lupa diminum sebelum tidur,” teriakku sebelum tubuh Rena hilang di balik kamar. Mungkin, malam ini Rena sudah tidak butuh lagi obat itu.

Sekarang, akulah yang cemas. Apa benar aku harus melajang seumur hidupku? Atau sebaiknya mengikuti jejak Rena dan menjadi kodok. Ah, mungkin benar ucapan Rena. Aku harus mulai berpikir tentang asuransi. Setidaknya aku masih punya sesuatu yang pantas dilindungi. Meski bukan untuk siapa-siapa.***

____________________

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen

Cerpen

Amplop Cokelat

Cerpen Khairul Azzam EM

Sore itu, sinar matahari mulai meredup, menimpa dinding rumah susun yang sudah tua dan berkarat di pinggiran kota. Di salah satu ruangan sempit lantai tiga, Hamid duduk di tepi tempat tidur, menatap lembaran kertas catatan pengeluaran yang ia susun rapi di meja kayu yang permukaannya sudah halus. Di ruangan itu, udara terasa lembab, bercampur bau debu yang tak pernah hilang meskipun lantai dan perabot sudah disapu dan dibersihkan setiap hari. Suara langkah kaki orang yang berlalu-lalang di lorong terdengar jelas, begitu juga suara percakapan, tangisan anak-anak, atau teriakan orang yang marah, semuanya menyatu menjadi bunyi khas yang tak terpisahkan dari kehidupan di tempat itu.

Hamid adalah guru di sekolah dasar yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Gajinya tidak besar, hanya cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan, dan sisanya harus diatur sedemikian rupa agar bisa memenuhi segala hal yang harus dibayar setiap bulan. Setiap kali tanggal pembayaran tiba, ia selalu merasa seperti berjalan di atas tali yang tipis, satu langkah salah semuanya akan runtuh. Ada uang sewa tempat tinggal yang harus diserahkan tepat waktu, tagihan air yang nilainya kadang naik tanpa alasan yang jelas, tagihan listrik yang sering membuat ia terkejut melihat angkanya, biaya pendidikan kedua anaknya yang tidak pernah turun, dan juga cicilan sepeda motor yang ia beli dua tahun lalu untuk memudahkan perjalanan ke tempat kerja. Di luar itu, ibunya yang tinggal di desa juga sering membutuhkan biaya pengobatan, karena tubuhnya semakin lemah dan penyakit tuanya makin sering menyerang.

“Kamu tidak pernah memikirkan nasib kita, Hamid. Setiap hari hanya pulang dengan wajah tenang, seolah-olah tidak ada beban yang menekan bahumu, padahal di sini tagihan menumpuk seperti gunung,” kata Siti, istrinya, sambil meletakkan piring kotor di meja dengan suara yang agak keras. Matanya tampak lelah, garis halus di wajahnya makin terlihat jelas, bukti dari hari-hari yang dijalani dengan kekhawatiran yang tak berhenti datang. Ia tidak benar-benar marah pada suaminya, hanya rasa cemas yang menumpuk lama membuatnya tidak bisa menahan perkataan yang tajam.

Hamid hanya tersenyum tipis, mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali melihat catatan di tangannya. “Aku tahu, Siti. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi apa yang bisa kita lakukan selain berusaha sekuat tenaga dan tetap sabar? Segala hal akan berlalu, percayalah padaku,” jawabnya dengan suara lembut, seolah-olah ia sedang menenangkan diri sendiri sekaligus menenangkan hati istrinya. Selama sepuluh tahun pernikahan, ia sudah terbiasa mendengar keluhan, omelan, atau kata-kata yang menyakitkan dari mulut orang yang dicintainya. Ia tidak pernah membalas dengan kemarahan, karena ia sadar, tekanan hidup membuat semua orang mudah tersentuh dan kehilangan kesabaran. Ia memahami bahwa di balik setiap kata yang tajam, tersembunyi rasa sayang dan keinginan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.

***

Setiap pagi, Hamid bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan diri, mencium kening anak-anaknya yang masih tidur nyenyak, lalu berangkat menuju sekolah dengan sepeda motor tuanya yang kadang-kadang bermasalah di tengah jalan. Di sekolah, ia mengajar dengan penuh semangat, berusaha memberikan ilmu sebaik-baiknya, seolah-olah tidak ada beban berat yang menunggunya di rumah. Murid-muridnya menyukainya karena ia sabar, pandai berbicara, dan selalu memberikan dorongan semangat kepada siapa saja yang merasa sulit untuk belajar. Bagi Hamid, mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang, melainkan tugas yang harus dijalankan dengan hati, dan di sana ia menemukan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan nilai mata uang.

Pulang dari sekolah, ia tidak langsung beristirahat. Ia masih harus mengurus pekerjaan rumah tangga yang belum selesai, pergi ke kantor pembayaran untuk melunasi segala tagihan, atau berjalan menuju kediaman ibunya untuk memeriksa keadaan dan memberikan sedikit uang yang tersisa dari penghasilannya. Ketika malam tiba dan semua orang di rumahnya sudah tidur lelap, Hamid masih duduk di meja kerjanya, menulis. Di saat yang sepi dan sunyi itu, pikirannya mengalir bebas, dan segala kesusahan yang dirasakan berubah menjadi kata-kata yang disusun menjadi cerita. Ia menulis tentang kehidupan orang biasa, tentang harapan di tengah kesulitan, tentang kebaikan hati yang tetap terjaga meskipun sering diuji oleh keadaan. Ia melakukan hal ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk menumpahkan isi hati dan menyampaikan pesan yang dirasakannya penting bagi orang lain.

Suatu sore, ketika Hamid baru saja pulang dari mengantar obat ke rumah ibunya, Kusnanto, tetangga yang tinggal di ruangan seberang, memanggilnya sambil berdiri di depan pintu. Kusnanto adalah orang yang suka berbicara lantang, selalu tampak santai dan tidak pernah tampak kesulitan meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun, orang-orang di lingkungan itu sering menduga bahwa ia melakukan hal-hal yang tidak sah untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak.

“Hamid, aku punya tawaran yang bagus untukmu. Jika kamu bersedia membantu melakukan satu hal saja, kamu bisa mendapatkan uang yang cukup besar dalam waktu singkat. Masalah uang yang selalu menyusahkanmu akan selesai seketika,” kata Kusnanto dengan nada rendah, sambil melihat ke kiri dan kanan seolah-olah takut didengar orang lain. Ia lalu menjelaskan maksudnya, bahwa pekerjaan itu sebenarnya adalah bagian dari tindakan yang melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, meskipun ia mencoba menyembunyikan sifat buruknya dengan kata-kata yang manis.

Hamid mendengarkan dengan tenang sampai Kusnanto selesai berbicara, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Terima kasih atas kebaikanmu untuk memikirkan nasibku, Pak Kusnanto. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Uang memang dibutuhkan, tapi aku tidak mau mendapatkan sesuatu yang membuat hati tidak tenang dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Selama aku masih mampu bekerja dengan cara yang benar dan jujur, aku akan terus melakukannya, meskipun hasilnya tidak banyak dan butuh waktu lama,” jawabnya dengan sopan namun tegas.

***

Wajah Kusnanto berubah menjadi marah. Ia mulai berbicara kasar, menyebut Hamid orang yang bodoh, keras kepala, dan tidak mengerti keadaan. Ia mengatakan bahwa Hamid akan terus hidup dalam kesulitan seumur hidupnya karena terlalu memikirkan aturan dan kebaikan, sementara orang lain bisa menikmati kemewahan dengan jalan yang lebih mudah. Hamid hanya diam, mendengarkan semua perkataan kasar itu tanpa membantah atau meninggikan suara. Ketika Kusnanto pergi dengan perasaan marah, Hamid masuk ke dalam ruangannya, melihat wajah istrinya yang tampak cemas karena mendengar segalanya, lalu tersenyum dan berkata, “Semua akan baik-baik saja, Siti. Kita tetap bisa bertahan.”

Sejak hari itu, Kusnanto sering menyebarkan berita buruk tentang Hamid kepada tetangga lain. Ia mengatakan bahwa Hamid orang yang sombong, tidak mau menolong orang lain, dan merasa lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya. Banyak orang mulai mengubah sikapnya, menjadi dingin atau berbicara buruk di belakang punggung Hamid. Namun, Hamid tidak mempedulikannya. Ia tetap bersikap ramah, menyapa siapa saja yang ditemuinya, dan melakukan tugasnya dengan penuh kesungguhan seperti biasa. Baginya, penilaian orang lain tidak sepenting keyakinan yang dipegangnya selama ini, bahwa kebenaran dan kejujuran akan membawa hasil yang baik pada waktunya sendiri.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pada suatu siang yang cerah, ketika Hamid sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, dua orang lelaki berpakaian rapi datang dan mencari namanya. Seluruh tetangga di lorong rumah susun itu memperhatikan dengan rasa penasaran, bertanya-tanya siapa mereka dan apa maksud kedatangannya. Kedua tamu itu menyerahkan sebuah amplop cokelat yang besar dan tebal kepada Hamid, sambil menjelaskan bahwa mereka adalah utusan dari penerbit buku terkenal di ibu kota. Amplop itu berisi uang hasil penjualan buku yang telah ditulis Hamid dan diterbitkan setahun yang lalu, yang ternyata disukai banyak pembaca dan dicetak ulang berkali-kali di seluruh negeri.

“Bapak Hamid, karya tulis Bapak sangat menginspirasi banyak orang. Buku ini telah dibaca oleh ribuan orang, dan permintaan untuk mencetak lebih banyak salinan terus berdatangan. Inilah bagian hasil yang menjadi hak Bapak,” kata salah satu tamu itu dengan nada hormat.

Ketika kedua orang itu pergi, berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh bagian bangunan tempat tinggal itu. Orang-orang mulai mengingat bahwa selama ini buku yang dibaca oleh anak-anak mereka di rumah atau di sekolah, yang berisi cerita tentang kesederhanaan, ketabahan, dan kebaikan hati, sebenarnya dibuat oleh orang yang selama ini dianggap miskin dan tidak berharga oleh sebagian besar dari mereka. Kusnanto terdiam tanpa kata-kata ketika mendengar kabar itu, merasa malu dan sadar bahwa semua ucapannya selama ini ternyata salah dan tidak berdasar.

***

Di dalam ruangannya, Hamid memegang amplop cokelat itu dengan tangan yang tenang. Ia melihat istrinya yang matanya basah oleh air mata bahagia, melihat anak-anaknya yang tersenyum lebar karena tahu kesulitan mereka akan segera berakhir. Hamid tersenyum, sama seperti senyum yang selalu ditunjukkannya saat menghadapi hari-hari yang berat.[]

Probolinggo, Mei 2026

____________________

Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.

Film, Resensi

Ketika Cinta Menjelma Teror: Tragedi Ego dan Obsesi

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Obsession

Sutradara: Cury Barker

Pemain Utama : Michael Johnston (sebagai Bear) dan Inde Navarrette (sebagai Nikki)  

Genre: Horor psikologis, romansa, dan fantasi gelap

Durasi Waktu: 110 menit

Tahun Rilis: 2026

Obsession merupakan film horor psikologis besutan sutradara muda Curry Barker yang menghadirkan premis sederhana tetapi dieksekusi dengan cara yang mengganggu sekaligus relevan dengan realitas hubungan modern. Dibintangi oleh Michael Johnston dan Inde Navarrette, film ini memadukan unsur romansa, fantasi gelap, dan horor psikologis menjadi sebuah kisah tentang cinta yang berubah menjadi obsesi mematikan.

Ceritanya berpusat pada Bear, seorang pegawai toko musik yang pendiam dan telah lama memendam perasaan kepada sahabat masa kecilnya, Nikki. Karena tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, Bear memilih jalan pintas ketika menemukan sebuah benda mistis bernama “One Wish Willow”. Dengan memanfaatkan benda tersebut, ia berharap Nikki akan mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.

Keinginannya memang terkabul, tetapi tidak dengan cara yang ia bayangkan. Nikki berubah menjadi sosok yang sangat posesif, obsesif, dan perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dari titik inilah mimpi Bear berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Kekuatan terbesar Obsession terletak pada premisnya yang mengangkat pertanyaan moral yang menarik: apakah cinta masih bisa disebut cinta jika lahir dari paksaan?

Film ini tidak sekadar menghadirkan teror melalui adegan-adegan menyeramkan, tetapi juga melalui kegelisahan psikologis yang terus berkembang sepanjang cerita. Penonton diajak menyaksikan bagaimana keinginan yang tampaknya romantis sebenarnya menyimpan egoisme yang besar. Bear tidak pernah benar-benar berusaha memahami perasaan Nikki. Ia hanya ingin mendapatkan balasan atas cintanya, dan ketika kesempatan instan muncul, ia memilih mengabaikan konsekuensinya.

Dalam konteks ini, film menjadi sebuah kritik terhadap fantasi romantis yang sering kali mengabaikan kebebasan dan pilihan individu lain. Penampilan Michael Johnston sebagai Bear menjadi salah satu faktor yang membuat konflik dalam film terasa meyakinkan. Johnston tidak memainkan karakter utama sebagai sosok jahat sejak awal. Sebaliknya, ia menampilkan Bear sebagai pria biasa yang kesepian, canggung, dan mudah mendapatkan simpati.

Seiring perkembangan cerita, lapisan demi lapisan karakter Bear mulai terbuka. Penonton perlahan menyadari bahwa rasa kasihan yang muncul pada awal film berubah menjadi ketidaknyamanan ketika melihat keputusan-keputusan egois yang diambilnya. Johnston berhasil menggambarkan transformasi emosional ini dengan cukup halus sehingga karakter Bear terasa manusiawi sekaligus menyebalkan pada saat yang sama.

Jika Johnston menjadi pusat konflik moral cerita, maka Inde Navarrette adalah jiwa dari film ini. Performa Navarrette sebagai Nikki merupakan aspek yang paling menonjol sepanjang durasi film. Ia harus memainkan karakter yang mengalami perubahan drastis dari sosok perempuan normal menjadi individu yang terjebak dalam obsesi yang tidak dapat dikendalikan. Tantangan tersebut dijawab dengan sangat baik melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intensitas emosional yang konsisten.

Dalam satu adegan ia dapat terlihat rapuh dan menyedihkan, sementara pada adegan berikutnya ia berubah menjadi sosok yang benar-benar mengintimidasi. Penampilannya memberikan dimensi tragis pada karakter Nikki sehingga penonton tidak hanya takut kepadanya, tetapi juga merasa iba terhadap penderitaan yang dialaminya. Banyak ulasan bahkan menyebut karakter Nikki sebagai pusat emosional film karena di balik semua tindakan mengerikannya terdapat seseorang yang kehilangan kebebasan atas dirinya sendiri.

Dari sisi penyutradaraan, Curry Barker menunjukkan kemampuan yang mengesankan dalam membangun suasana tidak nyaman. Alih-alih mengandalkan jumpscare secara berlebihan, Barker lebih memilih menciptakan ketegangan melalui momen-momen sunyi, tatapan yang terlalu lama, dan perubahan perilaku karakter yang perlahan menjadi semakin tidak wajar. Pendekatan ini membuat horor dalam Obsession terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penonton tidak selalu dibuat terkejut, tetapi lebih sering dibuat gelisah. Ada perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, meskipun film tidak segera menunjukkannya. Strategi tersebut membuat ketegangan terus terjaga hingga menjelang klimaks. Secara visual, film ini juga tampil cukup menarik meskipun berasal dari produksi beranggaran relatif kecil. Penggunaan pencahayaan redup, komposisi gambar yang terkadang terasa sempit, serta dominasi warna-warna dingin membantu memperkuat kesan kesepian dan keterasingan yang dialami para karakternya.

Rumah, toko musik, dan lokasi-lokasi lain dalam film sering kali terasa seperti ruang yang menekan psikologis penghuninya. Kamera tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menjadi alat untuk memperlihatkan bagaimana obsesi perlahan menggerogoti kehidupan Bear dan Nikki. Naskah film juga layak mendapatkan apresiasi karena berani menggabungkan elemen romansa dan horor tanpa kehilangan fokus.

Pada awalnya, cerita bahkan terasa seperti kisah cinta remaja yang canggung. Namun, perlahan nuansa tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kelam. Perubahan tonal ini dilakukan dengan cukup mulus sehingga penonton dapat mengikuti perjalanan cerita tanpa merasa dipaksa berpindah genre. Film ini memahami bahwa horor terbaik sering kali lahir dari sesuatu yang awalnya terasa akrab dan menyenangkan sebelum akhirnya berubah menjadi ancaman.

Meski demikian, Obsession bukanlah film yang sempurna. Beberapa bagian di pertengahan cerita terasa sedikit berulang karena film terus mengeksplorasi perilaku obsesif Nikki dengan pola yang mirip. Akibatnya, ritme narasi sempat melambat sebelum kembali menemukan momentumnya menjelang akhir. Selain itu, beberapa penonton mungkin akan merasa bahwa pesan moral film disampaikan terlalu gamblang.

Kritik terhadap fantasi cinta yang egois memang menjadi tema utama, tetapi terkadang penyampaiannya terasa kurang subtil. Namun kelemahan tersebut tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton karena konflik emosional yang dibangun tetap cukup kuat untuk mempertahankan perhatian penonton. Yang membuat Obsession berbeda dari banyak film horor romantis lainnya adalah keberhasilannya menghadirkan horor yang bersumber dari keinginan manusia yang sangat sederhana.

Semua orang pernah menginginkan cinta dari seseorang yang tidak membalas perasaannya. Film ini mengambil fantasi tersebut dan mempertanyakan apa yang akan terjadi jika keinginan itu benar-benar terwujud tanpa mempertimbangkan kehendak orang lain. Jawaban yang diberikan ternyata jauh lebih menyeramkan daripada monster atau hantu mana pun. Obsession adalah film yang berhasil memadukan ketegangan psikologis, drama emosional, dan kritik sosial ke dalam satu paket yang menghibur sekaligus mengganggu.

Dengan penampilan memikat dari Michael Johnston dan terutama Inde Navarrette, film ini menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya membuat penonton takut, tetapi juga mengajak mereka merenungkan makna cinta, kebebasan, dan batas antara kasih sayang dengan obsesi. Bagi pencinta horor yang mencari sesuatu lebih dari sekadar kejutan sesaat, Obsession merupakan tontonan yang layak mendapat perhatian karena meninggalkan kesan yang bertahan lama bahkan setelah layar menjadi gelap.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Leba. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae” 

Cerpen

Bonus

Cerpen Kesit Himawan Setyadji

Awan lari tergopoh-gopoh menyusuri labirin stasiun di antara orang-orang yang saling berlomba-lomba mengejar keberangkatan KRL. Elevator tidak cukup cepat untuk mengantarnya ke depan pintu gerbong. Naik turun tangga menjadi pilihan, meski keringat akan bercucuran. Awan terus mengumpat, sembari sesekali melihat jam tangan. “Anjing! Terlambat!” Pagi ini jadwal presentasi desain proyek rumah sakit di kantornya.

Meski roda gerbong sudah bergulir menjauhi stasiun, namun pikiran Awan masih tertinggal di peron. Beberapa menit sebelumnya, ketika pintu gerbong akan segera ditutup, dia menyerobot mendahului perempuan berbaju ungu dan berbadan dua. Perasaan berdosa terus menghantuinya. Persoalan desakan waktu mematikan hati nuraninya. Tempat duduk mereka tidak jauh, bahkan Awan sempat mendengar perempuan itu bicara dengan seseorang perihal kampungnya yang terancam digusur dampak proyek besar yang segera dibangun. Hal itu semakin membuatnya cemas. Sejenak di benak Awan sempat terlintas bayangan rumah kecil warisan bapaknya di kampung, rumah tempat dia dan istrinya akan membesarkan anak yang kini sedang berada di kandungan.

Seiring laju kereta, ingatan Awan pada kejadian di depan pintu gerbong mulai menjauh. Pandangan kosong seperti lahan permukiman yang telah diratakan sebelum didirikan bangunan. Jajaran gedung di belakang kaca-kaca gerbong menjelma tampilan desain di layar laptopnya. Penumpang lain mengimpit berjarak lima belas sentimeter dari batang hidungnya, berubah menjadi wajah dingin klien yang akan dihadapinya nanti. Embusan bau napas dan keringat menambah penat pikirannya. Tangannya masih kuat menggenggampegangan di bawah langit-langit gerbong. Namun matanya hampir menyerah. Sesekali kepalanya terbentur bahu penumpang lain. Tujuh stasiun sudah terlewati. Tersisa tiga stasiun lagi untuk sampai tujuan. Isi gerbong mulai surut. Awan melangkah ke kursi kosong di samping pintu gerbong. Sisa perjalanan cukup untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Tengah bulan lalu, Awan menyerahkan surat kepada pimpinan kantor. Keputusannya untuk berhenti bekerja sebenarnya sudah bulat, namun pimpinan menahannya dan berjanji memberikan bonus besar jika dia mampu menyelesaikan proyek desain rumah sakit. Isi dalam kandungan istri, membuatnya sedikit melunakkan rencana itu. Siang malam, Awan mengerjakan desain yang ditugaskan pimpinan. Tidak hanya di kantor, di rumah pun dia melanjutkan pekerjaan itu. Dia berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin. Janji pimpinan terngiang-ngiang membakar semangatnya.

Semalam, ketika Awan masih bergelut dengan pekerjaan. Istrinya terbangun dan menunjukkan foto USG anaknya.

“Bayinya terbelit tali pusar. Kata dokter kemungkinan operasi sesar,” kata istrinya penuh risau dengan besarnya biaya persalinan.

“Tenang saja, Dik,” kata Awan. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia akan mendapat bonus dari kantor. Dengan uang itu, permasalahan biaya kelahiran anaknya sudah ada solusi. Mereka saling berbalas pandang dengan senyum yang tersungging. Kelegaan terlihat dari mata istrinya yang berkaca-kaca. Sementara jemarinya menari di laptop, dia membayangkan anaknya tertidur cantik di ranjang bayi bagus dengan pakaian ungu. Kemudian, dia menoleh ke arah istrinya yang sudah berbaring di kasur.

Kelelahan dan kejenuhan sudah menumpuk di pundaknya. Pengerjaan desain rumah sakit telah menyita banyak waktunya. Dia mengerjakannya sendiri, karena teman-teman di kantor juga sudah memiliki beban proyek masing-masing. Ketika hal itu mendera, ingatan bonus yang akan diterima menjadi obat penawar rasa lelahnya. Namun sedikit kegundahan bercokol di hatinya, pimpinannya tidak memberitahu di mana lokasi proyek itu akan dibangun.

Kakinya yang menjulur tersaruk penumpang lain. Awan tersentak memaksa matanya terbuka. Nama stasiun tujuan terdengar dari pengeras suara. Laptop dimatikan dan dimasukkan kembali ke tas. Pintu gerbong segera terbuka. Dia berdiri gontai melangkah ke pintu keluar stasiun. Sejenak di peron, tangannya mengeluarkan ponsel memesan ojek dari aplikasi daring.  Dia kembali berlari ke luar stasiun menuju pengemudi ojek yang sudah menunggunya di jalan depan stasiun.

Awan sampai di kantor dengan muka lusuh. Kelopak matanya menggantung. Rambutnya berantakan. Masih ada waktu sepuluh menit untuk presentasi. Setelah membasuh muka di kamar mandi. Dia melangkah pelan menuju ke ruang rapat. Di dalam ruangan sudah duduk beberapa orang termasuk pimpinannya. Ketika tangannya membuka pintu, secara tak sengaja terdengar pembicaraan pimpinan dengan seseorang yang diduganya pemilik proyek. Sebuah nama kampung disebut sebagai lokasi proyek. Pintu ruang rapat terasa berat untuk dibuka. Dinding kantor mulai mengimpitnya. Dadanya mulai sesak, membuat napasnya menjadi pendek. Ruangan kantor yang sebelumnya ramai suara papan ketik komputer tiba-tiba membisu. Dia kembali teringat dengan perempuan berbaju ungu dan berbadan dua yang antreannya diserobot saat di stasiun.

Tangannya menarik pelan pegangan menutup pintu ruang rapat. Dia berbalik arah menjauhi ruangan rapat. Ponsel kembali diambilnya. Dia termangu duduk di tangga depan pintu kantor, memandang foto USG kandungan istrinya di layar ponsel. Lalu, dia menulis beberapa kata. Awan menghela napas panjang. Jarinya menekan tanda kirim. Sebuah kalimat kepada pimpinannya: Pak, saya berhenti sekarang saja. Bonusnya tidak saya ambil.

____________________

Kesit H. Setyadji, tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio.

Cerpen

Gerbong Kematian

Cerpen Khairul A. El Maliky

Siang itu matahari berdiri tepat di atas kepala, Panas menggantung di udara desa, menyelinap ke sela-sela dinding bambu, ke punggung-punggung ibu yang membungkuk di dapur rumah Bu Sarkiyem. Hajatan akan dimulai selepas zuhur. Dandang besar mengepulkan uap, pisau beradu dengan talenan, dan tawa kecil bercampur gosip mengalir seperti kuah santan yang belum mendidih sempurna.

Tak ada yang menyangka siang itu akan mengunci desa ke dalam ingatan paling kelam.

Sulastri—bunga desa itu—seharusnya sedang bersolek. Ia dikenal cantik, kulitnya kuning matang seperti padi yang siap dipanen, tubuhnya berisi, senyumnya sering membuat pemuda lupa jalan pulang. Ia anak baik-baik, kata orang. Rajin membantu ibunya, jarang keluar malam, dan bila berjalan selalu menunduk seperti menyembunyikan cahaya. Tapi siang itu, ia tak ada di antara ibu-ibu yang mondar-mandir. Tak ada pula di beranda yang ramai. Seolah ia sudah lebih dulu pergi, menjemput takdirnya sendiri.

Jeritan pertama pecah seperti piring terjatuh.

“Ya Allah!”

Ibu-ibu berhenti. Wajan tergantung di udara. Di atas lincak bambu, tergeletak sesuatu yang tak seharusnya ada: sepotong lengan manusia, basah oleh darah, jari-jarinya bergerak seperti masih mencari tubuhnya. Detik berikutnya, sepotong kaki mencelat, terhempas, bergerak sebentar lalu diam. Dapur berubah menjadi kubangan ngeri. Di teras, kepala seorang gadis dengan mata melotot menghadap langit—mulutnya terbuka seolah hendak berteriak lagi—membuat Bu Sarkiyem menjerit panjang lalu roboh pingsan.

***

Waktu berhenti. Lalu berlari liar.

Bapak-bapak yang semula memotong daging di halaman depan berhamburan. Ada yang muntah, ada yang gemetar, ada yang terdiam seperti patung tanah liat. Barulah mereka sadar: rel kereta api itu dekat. Terlalu dekat. Di sanalah, beberapa menit lalu, Sulastri berjalan di tengah rel seperti orang linglung, meniti besi panas tanpa tujuan.

Klakson kereta dari arah selatan melengking panjang, suara yang biasanya hanya membuat anak-anak menutup telinga kini berubah jadi terompet kematian. Orang-orang berteriak memanggil namanya. “Lastri! Minggir, Lastri!” Tapi gadis itu tak menoleh.

Tatapannya kosong, seperti telah ditinggal penghuninya. Dan ketika ular besi itu melaju tanpa ampun, tubuh Sulastri disambar, dihempas, dipatahkan menjadi potongan-potongan, disebar ke dapur, teras, halaman—ke kehidupan orang-orang yang tak siap menerima kenyataan.

Warga berhamburan mengumpulkan puing-puing itu dengan tangan gemetar dan doa yang patah-patah.

Kompol Sukma datang sore itu.

Seragamnya rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kehati-hatian seorang yang tahu: kematian selalu menyisakan teka-teki. Ia meminta warga berkumpul, satu per satu memberi keterangan. Pak Muklis, lelaki setengah baya yang dikenal dekat dengan Sulastri, maju lebih dulu.

“Gadis itu baik, Bu Kompol,” katanya lirih. “Tak pernah bikin malu keluarga. Pemuda kampung banyak yang naksir.”

“Apakah ada yang mendekatinya secara khusus?” tanya Kompol Sukma.

Pak Muklis ragu sejenak. “Ada… Joni.”

Nama itu seperti batu jatuh ke kolam. Joni dikenal berandalan, anak orang kaya. Sudah beristri dua. Meski begitu, kabarnya ia masih sering bersikap gatal, menggoda Sulastri dengan kata-kata yang tak pantas.

Pernah mengajak melakukan perbuatan mesum, kata orang. Sulastri menolak.

Kompol Sukma mencatat. Ia menemui Mel dan Dila, dua istri Joni. Keduanya berkata serempak: Joni sedang bekerja di Surabaya. Alibi yang rapi, terlalu rapi. Kompol Sukma mencium sesuatu yang ganjil, tetapi polisi lain mengingatkan: kecurigaan bukan bukti.

***

Pemakaman berlangsung sunyi. Tanah merah menutup potongan tubuh yang disatukan seadanya. Di sela doa, Pak Muklis bertanya kepada Kiai Komar, tokoh agama yang disegani desa.

“Apakah orang yang bunuh diri bisa masuk surga, Kiai?”

Kiai Komar terdiam. Ia yang biasanya lantang di mimbar, tiba-tiba kehabisan kata. “Selama ini,” ujarnya pelan, “saya hanya membaca apa yang ditulis di buku.”

Jawaban itu bergaung lebih keras dari takbir. Sejak hari itu, warga mulai memandang Kiai Komar dengan mata berbeda. Pidato-pidato yang dulu menggetarkan kini terasa kosong. Ilmu yang dibaca tanpa bukti hidup.

Kompol Sukma tak berhenti. Ia memerintahkan pencarian Joni. Dugaan sementara: Sulastri dirudapaksa, trauma membuatnya linglung. Joni akhirnya tertangkap. Di ruang pemeriksaan, ia duduk dengan tangan terborgol, wajahnya pucat namun matanya tajam.

“Saya tidak merudapaksa Sulastri,” katanya. “Sejahat-jahatnya saya, Bu Kompol, saya masih punya nurani dan akal. Allah menganugerahi akal untuk berpikir. Saya tahu akibatnya. Penjara menanti. Dan saya tidak mau.”

Kalimat itu menancap. Kompol Sukma merasakan sesuatu yang jarang ia akui: tersentuh. Ia melihat banyak penjahat, tetapi jarang mendengar pengakuan yang dibungkus kesadaran diri. Jika bukan Joni, lalu siapa?

***

Hari-hari berikutnya, Kompol Sukma seperti berjalan di lorong gelap. Hingga suatu sore, di warung kopi, ia mendengar obrolan dua pemuda.

“Menurutmu, surga dan neraka itu ada?” tanya yang satu.

“Entahlah,” jawab lainnya. “Kiai Komar sering bilang begitu. Tapi… lihatlah.”

Nama itu lagi. Kiai Komar. Kompol Sukma menyimak. Obrolan bergeser ke cerita lama: Kiai Komar bukan hanya penceramah. Ia dikenal sebagai ahli spiritual, penyembuh penyakit gaib. Salah satu keluarga Sulastri bercerita—dengan suara ditahan—bahwa Sulastri pernah kena guna-guna. Dibawalah ia ke Kiai Komar. Ia masuk kamar untuk “pengobatan”. Keluar dari sana, Sulastri berubah. Linglung. Menangis tanpa sebab. Membenturkan kepala ke tembok. Bicara sendiri. Hingga akhirnya meniti rel, menjemput kematian.

Potongan-potongan itu menyatu.

Kompol Sukma meminta autopsi. Keluarga menolak. Jenazah sudah dimakamkan. Tapi demi kebenaran, mereka setuju. Hasil forensik dingin dan kejam: ditemukan cairan sperma. Kesimpulan klinis tanpa emosi, namun memekakkan telinga.

Kecurigaan berubah menjadi keyakinan.

Kiai Komar dipanggil. Di hadapan Kompol Sukma, ia tak lagi tampak seperti singa mimbar. Suaranya bergetar. Ia bicara tentang niat baik, tentang doa, tentang ujian iman. Tapi fakta berdiri seperti dinding. Tak bisa ditembus retorika.

Desa berguncang. Orang-orang teringat diamnya Kiai Komar di pemakaman. Terngiang kalimat: membaca tanpa bukti. Mereka merasa dikhianati—bukan hanya oleh seorang manusia, tapi oleh kepercayaan yang mereka bangun bertahun-tahun.

***

Gerbong kematian itu bukan hanya kereta yang menabrak Sulastri. Ia adalah rangkaian peristiwa yang membawa rahasia, dosa, dan kemunafikan, melaju tanpa rem, menghantam siapa saja yang berdiri di jalurnya.

Kompol Sukma menatap rel yang kini sunyi. Besi itu dingin, tak bersalah. Manusia-lah yang sering memilih berjalan di atasnya, memejamkan mata, berharap takdir akan menyingkir. Tapi takdir, seperti kereta, hanya tahu satu arah.

Di ujung senja, desa kembali beraktivitas. Ibu-ibu memasak. Bapak-bapak bekerja. Hidup berjalan, seperti biasa. Namun sejak Sulastri, tak ada lagi bunga yang mekar tanpa bayangan. Dan setiap klakson kereta, selalu mengingatkan: kebenaran mungkin terlambat, tetapi ia akan tiba—dengan atau tanpa kita siap.[]

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.

Buku, Resensi

Alangkah Sukarnya Menjadi Presiden Indonesia!

Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri

Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman

Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif

Penerbit: IRCiSoD

Tahun: 2019

Isi: 432 hlm.

Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:

Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.

Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.

Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.

Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.

Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?

Belajar dari Sejarah

Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.

Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.

Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).

Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?

Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.

Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!

Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.

Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.

Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?

Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.

Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.

Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!

Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.

Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]

____________________

Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju

Puisi

Puisi Dewis Pramanas

MENETAP PADA IMPIAN YANG SAMA

gumpalan rindu

bersarang di dinding ingatan

melekat bagian palung hati

mengalirkan doa-doa mesra

tentang merajut mahligai

sekian lama sendiri

berpacu dengan upaya

meraih pundi-pundi masa depan

membaca peluang tuk kembali

menjemput kasih yang belum usai

dari celah-celah percakapan

ada percikan asa yang mengudara

biarlah masa lalu

menjadi musim semi yang gigil

lalu kita bersenandung kenang

aroma parfum itu

dan berjajar lampu kota

kita disuguhi pesona renjana

menetap pada impian yang sama

tuk menua bersama

di altar paling bahagia

Subang, 17 Februari 2026

____________________

ANALOGI MUSIM

Sebagian kemarau hilang

Terkikis oleh hujan

Ia mendinginkan gersang ambisi

Yang menguasai isi kepala

Hingga berhamburan angkuh

Tetesan air dari sisa gerimis

Mengajarkan kelembutan jiwa

Bahwa tak ada yang menenangkan

Selain mendengar suara gemercik

Dijatuhkannya percik-percik paling perdu

Kemarau hanyalah anomali bumi

Namun panasnya mampu melalap syukur

Disana ia menjadi antagonis yang ulung

Tetapi semua akan berakhir

Setelah hujan mencuci kaki-kaki langit

Sepanjang jarak waktu

Keseimbangan semesta

Fotret perhitungan yang cermat

Kemarau dan hujan

Seperti dua mata pisau

Menjaga kewarasan manusia

Subang, 21 Februari 2026

____________________

LAGI-LAGI MAAFKAN AKU!

Pada sepasang bola mata yang basah

Tersimpan kilau mutiara kasih

Waktu menjadi saksi penerimaan

Duniamu berputar terbalik

Maafkan aku!

Pada wajah setiap pagi tersenyum

Setiap aku membuka mata

Tangan dan kaki tanpa alas

Menerbangkan ribuan harapan

Meski lara kau pikul di punggung itu

Maafkan aku!

Pada nada lisanmu nan merdu

Kau mengajarkan indahnya saling

Juga tentang hati selembut kapas

Menerjemahkan cinta tanpa tapi

Terus bertahan lewati nasib

Yang tak manusiawi

Maafkan aku!

Teruntuk pemilik hati ini

Kini jiwaku seperti rumput

Perlahan-lahan kering

Terjemur terik matahari

Lagi-lagi maafkan aku!

Subang, 11 April 2026

____________________

HINGGA TUTUP USIA

di rinai hujan

kau menjamah sketsa proses

menembus dinding waktu

semua tentang bulir tragedi

juga tentang juang

pada usia kita yang senja

titik pencapaian telah diraih

kau tetap menabur peduli

tak membedakan status

dirangkul dengan hangat

membuka rangkaian album

bergejolak dinamika hidup

aku yang masih papa hari ini

tak sedikit pun kau menjauh

dari perjalanan panjang

kita tetap

hujan kali ini

memberi kabar

menyesakkan dada

kau berpulang

meninggalkan harap

yang tak sempat terwujud

Subang, 2 September 2025

____________________

PENERIMAAN TINGKAT TINGGI

Takbir berkumandang

Tangis haru mengudara

Setelah sekian lama terpisah

Menjelajahi jalan kemapanan

Teruntuk keluarga

Kau membuka bahagia

Tentang pertemuan itu

Tanda maaf terpasang di dinding hati

Segenap rindu tumpah ruah

Suka cita merayakan mahabah

Hari raya saat ini

Aku bisa tersenyum

Menjadikannya pernik-pernik elegi

Berganti puisi-puisi tentang cinta

Sambut hari kedepan

Genggam kuat tiket optimis

Terima ketetapan Tuhan  

Ialah cara bagaimana belajar menerima

Tingkat tinggi

Subang, 23 Maret 2026

____________________

Dewis Pramanas. Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati. Instagram: @dewispramanas

Puisi

Puisi Eko Setyawan

ENTITAS

apakah malaikat memiliki sayap?

dalam segala yang semu

pertanyaan di kepala sering kali menggebu.

ia perlu jawaban

tapi kadang, jawaban akan semakin memusingkan.

dan juga menjelma pertanyaan liyan.

di dunia kita,

sejak lama orang-orang memercayai

ia terlahir dari cahaya.

tanpa pernah mampu terlihat oleh mata manusia.

tapi bagaimana cara mengenali

tanpa melihat yang hakiki?

kita ada di batas pengetahuan.

di dunia yang gelap

malaikat menjelma cahaya

tanpa mampu diketahui wujudnya.

di hidup yang terang

barangkali telah menjadi badai,

menerjang gelombang, dan memecah sunyi sepi.

dan selalu begitu, sepanjang waktu.

lalu ke mana Jibril selepas menyampaikan wahyu?

(Surakarta, 2025)

____________________

DARMA

sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?

seperti Budha tidur

aku terlelap di antara sunyi dan sepi.

kucoba mengenali nama-nama hari.

sejak aku beranjak pergi bekerja

sungguh, aku tak mampu mengenali sesiapa.

pencarian

adalah jalan lain menemukan

meski sering kali tanpa akhir.

sebab mencari dan menemukan

sama halnya menafsir ketiadaan.

ketika matahari mekar

cahayanya tak mampu dikenal

tapi dapat dipahami.

sebab di sana, kita akhirnya menemukan diri sendiri.

mencari diri

menemukan yang hilang dan membangunnya kembali.

lalu kita kembali lagi bertanya

sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?

(Sukoharjo, 2025)

____________________

HAWIAH

berdosakah aku

jika aku sejenak melupakan-Mu?

dalam ragu, kadang,

kepalaku melahirkan tanda tanya

mungkin juga memikirkan dosa.

di sana muncul pertanyaan

yang sejauh ini tak mampu mendapat jawaban.

sungguhkah neraka itu ada?

aku mencari jalan dan jawaban

tapi tersesat dan terjerembab

kian dalam dan kelam.

aku di antara percaya dan melupakan

percaya apa yang diimani

tapi amnesia mengamini

lupa bahwa seharusnya

aku sepenuhnya milik-Mu

bukankah begitu?

aku ragu.

sebab sejauh ini

belum lagi kudengar jawaban dari-Mu.

(Surakarta, 2025)

____________________

ALEGORI IBRAHIM

dalam mimpi yang dingin, dalam lelap tidurnya

Ibrahim mendapatkan kunjungan, entah siapa.

ia gugu dan ragu. dalam mimpi itu,

ia menerima bisik semu.

: sesuatu perlu dikorbankan.

sebab sejak dulu,

garis takdir telah ditentukan.

kita membayangkan, kala itu,

barangkali Ibrahim dipenuhi gelisah dan resah.

ia tercenung dan merenung.

dirinya di antara kalah dan pasrah.

bahkan mungkin juga heran dan penasaran

: sesungguhnya aku ini Ibrahim, Abraham, atau Brahma?

lalu dunia berputar kian cepat.

serupa bianglala, ia di antara

ketinggian dan kegamangan.

tapi Tuhan telah memutuskan.

sejak itu, ditahbiskanlah sebuah firman

dan barangkali, ia menjelma iman.

pada dalamnya keraguan,

ia masih saja mempertanyakan:

: sesungguhnya, leher ini kupersembahkan untuk siapa?

sunyi menghinggapi.

di antara ragu dan pilu.

Ibrahim mantapkan laku

: dalam tubuhku mengalirkan-Mu.

dalam aku, sepenuhnya milik-Mu.

ia tahu, seorang ayah, harus bertanggung jawab.

meski tak semua orang tahu

matanya sembab.

(Surakarta, 2025)

____________________

ALKISAH

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Sukoharjo, 2025)

____________________

Eko Setyawan. Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Guru SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Buku puisi yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Mengunjungi Janabijana (2020), Manten (2022), & Suatu Ketika Kita akan Dewasa (2023). Buku Mengunjungi Janabijana meraih penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021 Kategori Buku Puisi Terbaik. Meraih penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta tahun 2018, serta memenangkan berbagai lomba penulisan puisi dan cerpen.