Cerpen

Spelunkers

Cerpen Ludira Lazuardi

You will find what you seek. Kamu akan menemukan apa yang kamu cari.” Aku ingat betul kata-kata ayahku saat aku kecil. Beliau adalah seorang speleolog. Meneliti gua-gua di seluruh dunia adalah pekerjaannya. Seumur hidup ayah dihabiskan untuk menyusuri gua, terlebih yang belum pernah terjamah manusia.

“Apa yang ayah cari di gua?” tanyaku suatu waktu.

“Banyak hal, Sayang. Sisa-sisa peradaban, dunia baru, dan terutama, keajaiban.”

“Apakah Ayah percaya keajaiban?”

“Tentu saja. Keajaiban akan membuatmu mengerti betapa berharganya hidup ini.”

Barangkali kegemaranku menyusuri gua karena sedikit banyak aku ingin menjadi seperti beliau. Aku juga ingin menemukan keajaiban. Itu satu alasan. Aku sangat merindukan ayah, mungkin itu alasan paling kuat kenapa aku rela tersesat berlama-lama di dalam gua-gua penuh jalan rahasia. Dengan menyusuri gua, aku berharap bisa mengerti kenapa ayah sampai lebih memilih pergi daripada menemani aku tumbuh.

Ayah menghilang sepuluh tahun yang lalu saat meneliti salah satu gua yang baru ditemukan di China. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan. You’ll find what you seek. Jadi sekarang aku yang akan mencari ayah.

Aku berada di Guangxi dengan beberapa teman sesama spelunkers. Kami mulai dari gua terakhir yang ayah datangi. Pintu gua itu berupa lubang berdiameter sekitar setengah meter. Kami terpaksa masuk satu-satu menggunakan tali. Siapa sangka, setelah kami turun sekitar tiga puluh meter, jalan sempit gua berubah menjadi sangat luas.

Ada sekitar lima pintu lain yang bisa dilewati manusia. Kami putuskan untuk membagi tim. Aku memilih sendiri sementara tim lain terdiri dari 3 orang. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering menyusuri gua bersamaku. Jadi mereka sudah hafal kebiasaanku, juga sudah tahu kemampuanku. Jadi mereka tidak menolak saat aku ingin sendiri dengan hak istimewa memilih pintu mana yang akan kutelusuri. Kupejamkan mata sekejap dan kudengarkan suara angin yang berembus dari tiap pintu. Suatu nyanyian memanggilku dari arah lubang gua paling sempit. “Aku ambil yang ini,” ucapku sambil menunjuk lubang paling kiri.

“Oke, kita bertemu di sini maksimal tiga jam lagi. Setuju?”

“Sip, kita mulai. Jangan lupa hidupkan alat komunikasi dan perekamnya.”

Gua ini tipikal karst yang mirip dengan gua-gua di Indonesia. Pintu sempit yang kulewati hanya sekitar dua meter saja, selebihnya gua makin melebar dan tinggi. Kususuri tiap dinding, berharap menemukan lukisan purba, tetapi aku harus kecewa karena dindingnya bersih dan basah.

“Kay, gimana keadaan di sana? Ganti.” Protofonku berbunyi.

“Belum ada yang menarik. Ganti,” jawabku.

Aku sudah berada dalam gua itu sendirian sekitar satu jam. Kubayangkan ayahku sedang bekerja mencatat batuan dan keadaan gua. Beliau terlihat sangat antusias dan bahagia. Aku terus bergerak maju dan hampir putus asa sampai kurasakan embusan angin dari arah depan. Makin dekat, gua makin terang. Aku matikan senter yang kubawa dan mempercepat langkah.

Betapa terpukaunya aku melihat pemandangan di hadapanku. Sebuah hutan purba dengan berbagai tumbuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanaman dengan aneka macam bentuk bunga bercahaya, pohon-pohon kemerahan dengan daun biru tua, dan hamparan rumput yang berwarna merah terang.

“Bagaimana tanaman-tanaman ini bisa tumbuh di sini?” Aku mendongak mencari sumber cahaya selain dari tumbuhan yang bersinar. Barangkali ada lubang tempat kemungkinan matahari masuk. Yang kutemukan lebih menakjubkan dari yang ada di dasar. Langit-langit gua itu tinggi dan penuh cahaya gemerlap seperti bintang. Awalnya kupikir itu sejenis cacing Arachnocampa Luminosa. Namun, cacing yang menghuni Glowworm Cave di Selandia Baru itu memancarkan cahaya biru temaram. Sedangkan langit-langit gua ini lebih berwarna kemerahan dan menyilaukan.

Guys, kurasa aku menemukan sesuatu. Ganti.” Aku mendekatkan mulut ke protofon, tidak sabar membagikan tempat istimewa ini dengan teman-temanku. Sambil menunggu jawaban, aku mengitari tempat itu lagi dan tergoda untuk menyentuh salah satu bunga paling cantik di antara lainnya. Warnanya biru terang, mahkotanya lebih rumit dari bunga lain, dan aromanya lembut memabukkan.

“Kay, kami juga menemukan sesuatu.” Kurasa itu suara Yuda. Dia terdengar lesu. “Sepertinya, kami menemukan yang selama ini kamu cari. Maaf,” lanjutnya.

Tanpa Yuda menerangkan lebih lanjut, aku tahu yang mereka temukan, ayahku. “Seperti apa keadaannya?”

“Yah, sepuluh tahun berlalu, Kay. Kami membuka tasnya dan menemukan foto dan namamu. Jadi kurasa sudah seratus persen.”

“Oke,” jawabku singkat, bingung harus bersikap bagaimana. Aku tahu tidak seharusnya berharap beliau masih hidup. Akan tetapi, aku masih yakin bisa menemukannya, dan harus siap seperti apa pun keadaannya. Nyatanya kini, saat tahu beliau benar-benar sudah meninggal, aku masih saja merasa patah hati. Yah, paling tidak aku telah menemukan apa yang ingin aku temukan. Ayahku, bersama keajaiban yang beliau ceritakan.

“Tapi ada yang aneh, Kay. Ada tanaman bersinar kemerahan tumbuh dalam apa yang tersisa dari jasadnya. Seperti, bagaimana ya menjelaskannya.” Suara Yuda terjeda, seolah dia sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilihatnya. “Kuharap perkiraanku salah. Sebelum menjadi tulang, tanaman ini seperti memakan beliau.”

“Itu tidak mungkin. Aku juga menemukan banyak sekali tanaman bersinar di sini, Yud. Indah sekali.”

“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu jangan menyentuh tanaman itu, Kay. Siapa tahu beracun. Kita laporkan dulu hasil temuan kita.” Seorang teman lain menimpali.

“Thomas ada benarnya, Kay,” ucap Yuda. “Kay, halo, Kay, kamu masih di sana? Kay?” Gelombang kekhawatiran terdengar jelas dari suara teman-teman.

Aku ingin menjawab mereka, tetapi tidak satu pun kata mampu keluar dari mulutku. Aku merasa sangat pusing, dunia di sekitarku berputar-putar dan pandanganku makin kabur. Rasanya aku melihat bunga yang kusentuh tadi tumbuh makin tinggi dan melilitku sebelum akhirnya gelap total dan aku tidak bisa merasakan apa pun.


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Ragam

PEMBACA DAN KOTA

Malam penderitaan telah berlalu. Malam penuh siksa gara-gara sakit gigi. Kamis, 19 Oktober 2023, datang dengan terang yang sulit ditandingi lampu yang bermerek terkenal menjanjikan “terus terang” dan “terang terus”. Pagi yang siang. Selanjutnya, siang makin tambah siang.

Aku meninggalkan rumah, berpesta panas di jalan. Alamat tujuan adalah toko buku terkenal di Solo. Iseng mau sembunyi dari matahari. Masuk dengan pamrih ikut membaca koran dan majalah. Sejak lama, aku biasa berbekal 2 ribu atau 3 ribu untuk mendekam di toko buku selama 1 jam atau lebih. Di situ, aku adalah pembaca yang tergesa dan pemotret halaman-halaman kertas yang memamerkan huruf-huruf.

Di bawah sinar lampu, aku membaca Kompas. Di luar, orang-orang menikmati sinar matahari tanpa menjadi pembaca koran. Aku membaca Kompas terbitan Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Berdiri membuka halaman-halaman koran yang harganya 9 ribu. Jadilah pembaca cepat!

Aku memberi perhatian yang lama untuk Kompas, Senin, 16 Oktober 2023. Judul berita di halaman depan: “Terjajah Pangan di Kepulauan”. Berita itu bersanding dengan foto Ducati Lenovo di Mandalika, NTB. Aku belum tergoda memikirkan balapan di jalan beraspal. Pikiranku justru ingin balapan membaca berita, segera melupakan atau membuat catatan kecil.

Di toko buku, aku jarang membeli koran, majalah, atau buku baru. Peranku cuma menjadi pembaca. Siang itu aku mewajibkan diri membeli Kompas berisi tulisan-tulisan bertema pangan. Duit untuk beli bensin digunakan untuk Kompas. Pada hari Kamis, aku membeli koran edisi Senin, edisi yang sudah basi. Bensin (12 ribu) membuatku bisa bergerak di jalan beraspal dan pesta panas. Koran (9 ribu) membuatku malu berjalan di muka Bumi makin rusak dan mengalami krisis pangan.

Sore, teman-teman datang ke rumah. Obrolan sejenak mengenai pendidikan, guru, dan bacaan. Sore yang tergesa. Aku masih mengurusi pekerjaan-pekerjaan di belakang tapi harus menghormati teman-teman menginginkan obrolan. Aku tidak bisa menyuguhkan teh hangat. Padahal, teman membawakan pisang goreng. Yang terpenting obrolan singkat.

Aku sempat mengutip hal-hal dalam novel berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda. Novel yang mengisahkan lelaki muda emoh menjadi priyayi seperti dikehendaki orangtua. Ia memilih bekerja di pabrik. Episode mendapat pengetahuan dan keberanian menentukan nasib dipengaruhi bacaan. Darba, tokoh dalam novel, memiliki gairah membaca beragam surat kabar terbit dan beredar di Solo dalam masa pergantian: akhir abad XIX dan awal abad XX. Ia membaca surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa, sebelum menambahi kemampuan dalam bahasa Belanda.

Di hadapan teman-teman, aku sebenarnya ingin menguatkan masalah pendidikan dan keaksaraan bergerak di Solo masa lalu. Mangkunegaran menjadi tempat penting. Jaswidagda bekerja sebagai pengajar di Mangkunegaran. Ia malah pernah menulis buku berjudul Bocah Mangkunegaran. Aku juga mengabarkan ke teman-teman tentang kesusastraan dan Mangkunegaran. Nama wajib diobrolkan bila mengadakan acara di Mangkunegaran: Partini atau Arti Purbani. Ia adalah pengarang cerita-cerita. Beberapa orang mengenalinya sebagai istri Hossein Djajadiningrat.

Senja, mereka pamit. Aku kembali ke urusan rumah dan mushola di desa. Malam tiba, teman-teman yang lain datang ke rumah. Aku masih sempat mengutip hal-hal dalam novel gubahan Jasawidagda. Novel yang aku baca berulang, masih sering aku jadikan referensi dalam menulis esai-esai.

Hari yang dijanjikan tiba, Jumat, 20 Oktober 2023. Aku dan dua teman naik bis, bergerak dari Terminal Tirtonadi (Solo) menuju Balai Bahasa Jawa Tengah beralamat di Ungaran. Bus yang malas. Pagi itu aku menduga bakal terlambat sampai Ungaran. Di Salatiga, bus tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kami diminta ganti bus. Telat. Telat. Telat.

Di ruang diskusi (Balai Bahasa Jateng), 30-an orang sudah hadir untuk ikut dalam diskusi novel Kirti Njunjung Drajat, menjelang peringatan 100 tahun. Aku masih berada di jalan. Bus sudah kehilangan takdir kecepatan. Kami naik bus sekalian ingin mengenang kepergian Darba, tokoh buatan Jasawidagda, menentukan nasib dengan bekerja. Di Solo, ia sudah magang di Kepatihan sebagai juru tulis, berkemungkinan menjadi priyayi. Ia malah meninggalkan Solo, bekerja di Semarang. Bekerja di pabrik dan menambahi pengetahuan-pengetahuan modern. Perjalanan ingatan dalam novel tidak seperti kenyataan saat harus naik dua bisa tetap terlambat dalam diskusi.

Perut lapar, menahan kencing, dan berkeringat. Aku lekas duduk untuk mengikuti diskusi. Segelas air bening sudah masuk perut. Di kertas lambaran, aku menaruh suguhan yang diberikan panitia: jagung rebus, pisang rebus, dan kacang rebus. Inginku segera menyantapnya. Gagal. Segelas jahe sudah aku taruh di atas meja. Dipandangi dulu setelah mengikuti petunjuk pembawa acara: berdiri untuk bersenandung Indonesia Raya.

Di atas meja, pangan khas desa. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisan di Kompas. Para wartawan menulis tentang pangan terutama di Indonesia timur. Pangan tradisional dihajar nasi dan mi instan. Pagi itu aku sarapan pisang, jagung, dan kacang. Nasi belum masuk perut.

Di novel Kirti Njunjung Drajat, Jasawidagda mengisahkan surat kabar dan pangan: abad XIX dan XX. Aku memilih membahas masalah surat kabar. Semula, Darba berperan sebagai pembaca surat kabar. Ia selanjutnya berani menjadi pembuat tulisan dimuat di surat kabar.

Yang ditulis dalam novel: “Anggenipun Darba maos serat kabar punika dados senengan ageng. Ing saben dinten prasasat boten kendhat pamaosanipun ing serat kabar…” Aku dulu pernah seperti Darba. Kini, aku sulit menjadi pembaca koran setiap hari. Harga-harga koran membuatku tidak sanggup memutuskan menjadi pembaca. Harga koran kadang mengejek bila mengingat (harga) beras dan sayur. Istri dan tiga anak mungkin membuat pemberontakan jika aku rakus “makan” koran. Pada masa lalu, Darba membaca Jawi Kandha, Slompret Melajoe, Bramartani, Medan Prijaji, dan lain-lain.

Jaswidagda mengunggulkan pemuda yang rajin membaca koran untuk mengerti zaman “kemadjoean” dan sanggup bersikap dalam “zaman bergerak” di Solo. Di depanku, 30-an mahasiswa dari pelbagai kampus bukanlah pembaca koran. Mereka malah tidak memiliki pengalaman membeli dan memegang koran. Hidup mereka baik-baik saja. Studi mereka tidak bermasalah. Aku salah omong mengenai pembaca surat kabar di depan kaum muda bergawai, tidak hidup dalam kegandrungan bacaan bekertas. Maka, aku menunduk dan malu. Tertawa menebus kecewa.

Surat kabar dan buku mengubah jalan hidup. Darba dijadikan sosok yang merasakan dampak ketakjuban keaksaraan awal abad XX. Jasawidagda bercerita: “Samangke ingkang tansah dados pamanahan, bab badhe pangupadosipun padamelan. Sampun mesthi kemawon pancen wiwit alit dumugi sekolah saha magang, ingkang kajangka namung anggenipun badhe dados priyantun. Nanging makaten punika Darba namun katut ombaking kathah, liripun anak priyanyun limrahipun dados priyantun, mangka nalika pamagangipun Darba angsal tigang taun, sampun kadhedheran raos boten sakeca, saya malih sareng Darba mindhak-mindhak seserepanipun, dening remenipun maos buku-buku saha serat kabar, tetela bilih kapriyantunan punika inggih satunggaling sarana kemawon kangge pangupajiwa…”

Darba meninggalkan jalan (tradisional) kepriyayian. Ia mengenal seorang Belanda yang memberi ragam pengetahuan dan ajakan untuk bekerja di Semarang. Ia menuruti jalan modern. Di Semarang, ia bekerja dan belajar. Pada akhirnya, kembali ke Solo dengan modal besar digunakan untuk mendirikan toko dan bengkel sepeda saat Boedi Oetomo bertumbuh dan Sarekat Islam memiliki pikat besar di Solo. Rekaman “sejarah” oleh Jaswidagda itu bisa dibandingkan dengan Student Hidjo (1920) oleh Marco Kartodikromo dan Moeslimah (1923) oleh Mochtar Boechari.

Beberapa hari yang lalu, aku khatam lagi Kirti Njunjung Derajat ditemani buku Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak (1997) dan buku Susanto yang berjudul Kanonisasi Budaya (2023). Sejarah yang terbaca dalam tulisan Takashi Shiraishi berlatar awal abad XX memudahkan mengetahui sosok, pers, politik, modal, dan lain-lain. Di buku Susanto, aku menemukan dua buku garapan Jasawidagda digunakan dalam mengungkapkan Surakarta masa lalu: Kirti Njunjung Drajat dan Bocah Mangkunegaran.

Di ruang diskusi, aku ikut mengajukan Serat Jayengbaya gubahan Ranggawarsita. Aku anggap itu kitab dagelan terpenting di Jawa. Ranggawarsita tampil dengan humor, bukan pengumbah nasihat-nasihat bijak mengenai pekerjaan. Di hadapan 30-an orang mahasiswa, aku sekadar mengingatkan tentang pendidikan dan pekerjaan mengacu novel gubahan Jaswidagda dan buku-buku berkaitan. Di sampingku, dosen dari Semarang ikut mengingatkan masa lalu dalam ketegangan ideologi, bahasa, dan identitas seperti diceritakan Jasawidagda. Ia sanggup memberi uraian akademik. Aku malah omong sembarangan mengenai novel dan segala hal.

Diskusi rampung. Aku berhasil makan nasi bakar dibungkus daun pisang, tempe goreng, dan kepala ayam. Suguhan yang nikmat sebelum berjumpa Tuhan edisi jumatan. Pada saat makan, bicara dengan beberapa orang, tidak lupa berjualan buku. Kedatanganku tetap sebagai pedagang buku bekas, selain sebagai tukang omong sembarangan.

Siang makin siang. Aku dan teman-teman sempat masuk ke perpustakaan dikelola Balai Bahasa Jateng. Di situ, melihat buku-buku dan obrolan enteng bersama para pegawai. Di bagian belakang, aku melotot dan girang saat menemukan buku mengenai iluminasi dan (sejarah) keaksaraan di Indonesia. Buku besar dan tebal terbitan Lontar. Buku yang mustahil dibaca gara-gara berbahasa Inggris. Terkutuklah!

Kami pulang naik bus. Kami memang tampak naik bus. Aku justru merasa sedang dipanggang matahari. Mesin pendingin udara dalam bus sedang bermasalah. Tubuhku berkeringat. Kaos dan baju basah memberi bau kecut. Di tanganku, ada buku kecil bertema Zen. Aku tidak mau kecewa dan memaki dalam bus. Buku kecil itu terbaca diselingi tidur sejenak yang melelahkan.

Sore, tiba di Terminal Tirtonadi. Sepeda motor yang seharian di parkiran ditunggangi kembali menuju rumah. Di jalan, tunggangan itu kehabisan bensin. Soreku rasanya tetap siang kuadrat. Aku berusaha tidak maki-maki. Hari terlalu banyak keringat tapi tidak sia-sia. [] Kabut

Cerpen

Percakapan di Meja Makan dalam Kepalaku

Cerpen Eko Setyawan

Istriku ingin segera memiliki rumah baru karena merasa hidup satu atap dengan keluargaku seperti halnya ikan yang hidup di akuarium. Ia begitu gerah dengan keadaan karena tidak bisa leluasa melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Sebenarnya, hobinya sederhana, yakni menonton film. Tapi sering kali orang rumah seolah tak suka pada dirinya dan serasa ingin menunjukkan apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kemalasan. Hal itu membuat istriku tersinggung. Ketika di kamar, ia menyampaikan padaku bahwa dirinya ingin segera angkat kaki dari sini.

Pada akhirnya hal ini harus kulakukan untuk menuntaskan semua masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang dikeluhkan istriku harus segera tuntas secepatnya agar tidak menjadi masalah yang meluas. Terlebih, karena posisi istriku yang sudah bekerja keras sepanjang hari demi membantuku mendapat uang.  Karena gaji dari mengajar menurut kami belum cukup memenuhi kebutuhan, cara inilah yang kugunakan mendamaikan keadaan dan meredam segala persoalan yang ada.

Aku menggelar meja makan dan kusiapkan segala keperluan yang nantinya kugunakan menyelesaikan masalah dengan cara menjamu semua orang yang terlibat dalam masalahku. Karena menurutku, masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan suasana yang tenang dan khusyuk, salah satunya dengan makan bersama demi menguraikan persoalan satu demi satu.

Meja makan yang kusediakan cukup sederhana. Hanya berbentuk persegi panjang yang tak seberapa lebar, kualasi dengan taplak renda motif bunga. Ditambah empat kursi mengelilinginya. Dan yang paling utama yakni piring, sendok, dan peralatan makan yang sekiranya diperlukan. Kulanjutkan dengan memasak dan kusesuaikan dengan makanan kesukaan mereka. Aku tahu itu karena aku akrab dengan orang-orang yang akan kuhadapi.

Cara ini menurutku akan manjur menuntaskan masalah yang ada. Sebelumnya, istriku mengatakan ia sudah melakukan banyak hal, baik di rumah maupun saat pergi bekerja, tetapi, ketika ia istirahat dengan menonton film, ibuku meliriknya dengan tatapan tak suka. Karena hal itu, istriku ingin kami memiliki rumah sendiri. Begitulah cerita yang ia sampaikan padaku dan mau tidak mau aku berada di posisi saat ini.

Sebenarnya, untuk meredam amarah dan kegelisahan istriku cukup mudah. Aku hanya perlu berbicara dengannya. Maka aku menggorengkan ia ikan tongkol disertai dengan sambal. Aku tahu semua makanan yang disukainya. Dan di antara yang paling disukai adalah ikan tongkol goreng dengan sambal yang kubuat sama seperti waktu kami awal-awal menikah. Lantas ia ketagihan. Sambal yang kubuat cukup sederhana yakni dengan menggoreng cabai, bawang merah dan putih, lalu dibumbui dengan garam, micin, gula, dan terasi, lantas disertai dengan potongan kulit jeruk purut. Bau dari kulit jeruk purut katanya sangat sedap dan membangkitkan selera makannya. Sebagai tambahan, aku menggoreng kol dan juga memotong mentimun tanpa dikupas.

Dengan makanan yang kuhidangkan, ia akan lahap, bahkan menambah makanannya dan memenuhi lagi piringnya. Mungkin tidak terdengar etis atau di luar kebiasaan perempuan di luar sana, tetapi aku menyaksikan itu semua dan diam-diam ikut menikmati setiap suapnya. Karena sebagai bentuk penyelesaian masalah yang kuhadapi saat ini, ketika ia makan, aku menyela kecil untuk membicarakan masalah yang tak mengenakkan hatinya.

Aku mengatakan pada istriku memang ibu kadang seperti itu. Mungkin saja karena ibu terlampau lelah mengurus bapak yang sakit. Bisa saja memang istriku yang merasa tersindir. Serba risih karena ibu selalu melihat ke arahnya ketika ia sedang istirahat. Maka aku menyarakan padanya agar tidak perlu diambil hati. Aku mengatakan itu sembari menyuapkan makanan ke mulutku.

Istriku memandang sejenak, lantas kembali melihat piringnya dan menjumput nasi serta pelengkapnya. Itu kebiasaannya ketika makan makanan yang kumasak ini. Ia makan dengan tangannya.

Ia menyahut perkataanku. Istriku mengatakan kalau apa yang dilakukan ibu bukan basa-basi semata dengan melihatku tapi sudah dengan tatapan tidak suka. Dari raut wajah istriku menunjukkan kekecewaan dan amarah yang coba diredam. Matanya menatapku tajam. Tangannya berhenti menyuap makanan. Hanya memainkan makanan saja.

Aku coba memahami apa yang dirasakan istriku. Tapi menurutku ia hanya sungkan saja pada ibu. Dan tentu kurasa ibu tahu kalau istriku sudah bekerja keras dari pagi hingga sore. Menurutku, itu bukan masalah yang perlu dipikirkan. Aku mencoba menenangkan suasana.

Tak lama setelahnya, istriku menyampaikan keinginannya memiliki rumah sendiri untuk kami berdua. Ia terus-terusan kepikiran akan kejadian yang menimpanya. Katanya, kami sudah enam tahun menikah,  sudah selayaknya tidak lagi menumpang di sini. Ibu juga sering menyinggung soal anak pada istriku. Karena kami belum memiliki anak sampai saat ini. Saat mengatakan itu, matanya tajam seperti pisau yang siap menghunjamku.

Aku menatapnya dalam. Dari raut wajahnya menunjukkan keinginan yang dalam. Hatiku sedikit getir. Tapi kenyataannya aku belum bisa memenuhi keinginannya. Tapi dalam hati kecilku merasa sejujurnya apa yang ia katakan benar. Aku menyetujui itu dalam hati, namun kenyataan berkata lain. Ibuku tidak mau aku pergi dari rumah ini dan meninggalkannya karena aku anak satu-satunya. Terlebih, yang membantu mengurus bapak dan merawat rumah tidak ada. Jadi kuputuskan meyakinkan istriku.

Tentu apa yang dikatakan istriku membuat dilema perasaan. Itu pilihan sulit karena keadaan tidak memungkinkan. Jika kami meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan bapak dan ibu. Karena di rumah ini bukan semata tinggal bersama, tetapi ada perkerjaan dan tugas yang harus dilakukan. Aku mencoba meyakinkan istriku kembali.

Istriku menimpali dengan gusar, keinginannya meninggalkan rumah ini terlampau besar. Namun dirinya juga memberiku kesempatan berbicara pada ibu agar aku memberi pengertian pada ibu mengenai situasi kami. Ia sedikit meredam emosinya. Tapi dari raut wajahnya terlihat gamang. Aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku mencoba menafsir maksudnya, tapi gagal.

Kukatakan pada istriku tentang rencana berbicara dengan ibu. Tapi apakah ibu menerima apa yang istriku keluhkan dan harapkan menjadi persoalan lain. Semua kembali pada ibu. Itulah kata terakhirku untuk menutup pembicaraan di meja makan, lantas bergegas membereskan meja makan.

Dengan apa yang telah dikatakan dan diinginkan istriku, kuberanikan diri mengatakan semua pada ibu. Di hari berikutnya, kusiapkan meja makan yang sama dengan sebelumnya. Kumasak nasi dan urap untuk ibu, juga kugorengkan ikan asin serta sambal petai kesukaannya. Tak beda dengan istriku, ibu lahap memakan apa yang telah kubuatkan untuknya. Tak beda dengan istriku, ibu juga lebih memilih makan dengan tangan secara langsung, lebih nikmat katanya.

Tak berselang lama, di tengah lahapnya ibu, aku mulai menyela. Jauh sebelum ini, sebenarnya ibuku menatapku curiga karena kelakuanku kali ini. Tak biasanya aku memasak untuknya. Hanya sesekali saja. Biasanya ketika ibu sedang sakit atau malas memasak. Kukatakan apa perluku sembari melahap makanan yang sebenarnya seleranya tak jauh beda dengan istriku.

Kukatakan mengenai keluhan istriku atas sikap ibu. Tak lama setelahnya, mata ibu memicing dan menatapku tajam seolah hendak menerkamku. Mata teduh yang biasanya aku lihat, kali ini benar-benar berganti dengan tatapan yang menakutkan. Baru kali ini aku menatap tatapan ibu semenakutkan ini. Dadaku bergetar. Perasaanku terasa getir.

Ibu menimpali perkataanku dengan suara yang keras. Emosinya meluap. Ibu mengatakan bahwa sudah enam tahun aku menikah dengannya dan sampai sekarang tidak punya anak. Ibu khawatir terjadi sesuatu dan jika apa yang ditakutkan ibu benar, maka masalah lebih besar akan terjadi. Ibu menekankan bahwa dirinya tidak akan diam saja dengan persoalan yang ada di hadapannya. Istri anaknya tidak bisa memiliki keturunan. Lebih dari itu, kata ibu, akhir-akhir ini istriku terlalu bermalas-malasan. Jadi apa yang dilakukan ibu sudah benar. Ibu berbicara dengan sangat gamblang dan lantang.

Makanan yang ada di hadapanku terasa hambar. Begitu pun ibu, ia tak lagi menggubris makanan yang ada di piringnya. Dan yang mengagetkanku ketika ibu tiba-tiba mengatakan perihal perceraian. Persoalan anak adalah persoalan genting, karena keturunan menjadi segalanya bagi ibu.

Ibu mengajukan pilihan padaku. Aku memilih menceraikan istriku atau kami harus meninggalkan rumah ini. Pilihan itu membuatku tercengang. Seperti kilatan cahaya petir yang menyambar tiba-tiba. Aku bingung dengan pertanyaan ibu, juga dengan apa yang harus kukatakan pada istriku. Aku bingung untuk mengatasi masalah yang kuhadapi. Pikiranku kacau sejadi-jadinya.

Berkelindan dengan hal itu, aku mengingat satu hal yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, aku telah melakukan tes kesuburan ke dokter secara diam-diam. Dari hasil lab menunjukkan bahwa kesuburanku tidak normal dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi mulutku terasa berat ketika akan menyampaikan pada ibu. Apalagi kepada istriku. Aku takut menyakiti hati keduanya. Untuk pindah dari rumah ini terasa berat karena ada tanggung jawab yang tersemat di pundakku. Aku harus menjaga ibu dan bapak. Dan yang lebih penting dari itu, tabungan kami tak cukup untuk membeli rumah seperti yang diangankan istriku.

Kenyataannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ditinggal istriku yang pergi dari rumah ini karena tak nyaman dengan tuntutan ibu. Sementara aku lebih memilih menemani bapak dan ibu di sini. Akhirnya, apa yang kubayangkan mengenai percakapan di meja makan dalam kepalaku berlalu begitu saja. Persoalan yang ada hanya berputar di angan-anganku, bahkan tak pernah bisa kuselesaikan. Aku tak berani mengatakan apa pun pada istriku maupun ibu. Memang meja makan ini tak lebih hanya angan-angan semata.


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. Instagram: @setyawan721, surat-menyurat: [email protected].

Ragam

PANGGUNG DAN BUKU

Acara itu megah. Yang menyebabkan megah: musik. Di panggung untuk orkes, aku melihat orang-orang yang memegang biola dan pelbagai alat musik. Di belakang, pasukan bernyanyi. Ruangan itu memiliki dua panggung. Di tengah, pangung untuk beragam peristiwa: pidato, menari, menyanyi, dan lain-lain. Panggung di sebelah khusus untuk musik.

Aku datang ke Pekalongan memenuhi undangan sastra tapi mendapat menu musik yang takarannya lebih banyak. Ditambah tarian dan pidato. Aku ikhlas saja. Dulu, aku sempat berpikiran: acara Prasidatama seharusnya banyak yang mengenai bahasa dan sastra. Di panggung atau ruangan, panitia bisa mengadakan bincang-bincang. Di layar, orang-orang bisa menikmati film dokumenter bertema bahasa dan sastra. Di dinding atau meja, beragam buku atau terbitan bisa dipamerkan. Foto-foto tokoh bisa dipajang di dinding atau berjajar di panggung.

Pikiranku itu kengawuran yang sulit diampuni. Aku mengikuti acara berurusan bahasa dan sastra tapi sulit menemukan pemandangan buku-buku. Balai Bahasa Jawa Tengah rutin memberi penghargaan untuk buku-buku yang ditulis para pengarang di Jawa Tengah. Aku pastikan yang terpenting adalah buku.

Di Hotel Nirwana, aku kebingungan mencari pemandangan buku. Yang aku maksud adalah buku-buku sesuai dengan misi yang diusung Balai Bahasa Jawa Tengah dan pelbagai pihak yang ingin memajukan bahasa dan sastra. Pengarang-pengarang memahang hadir tapi tak ada janji buku-buku ikut hadir.

Di tas, aku membawa beberapa buku, yang akan aku bagikan kepada orang-orang yang berhak. Sengaja, aku menjadikan pertemuan-pertemuan dalam acara untuk mengedarkan buku. Misi yang sembrono. Aku ingin pergi bersama buku-buku. Di alamat-alamat yang didatangi, buku-buku bertemu dan berhak dimiliki orang-orang pilihan.

Seingatku, Indah Darmastuti membawa buku. Di gerbong, ia sempat mengatakan ingin memberikan buku kepada seseorang. Aku tidak mengetahui orang-orang yang sebenarnya membawa buku-buku atau berbagi buku mumpung kumpul bersama di Pekalongan.

Tiba saatnya panggung menjadi milik bahasa dan sastra. Bergantian, orang-orang membacakan pengumuman peraih Prasidatama untuk novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan lain-lain. Yang sering terdengar di telinga: “adalah”. Mereka yang mengumumkan wajib mengucap “adalah”. Pikiran isengku muncul: Prasidatama itu “album adalah”.

Panggung ramai orang. Yang hadir bertepuk tangan. Di depan panggung, orang-orang sibuk memotret. Di kejauhan, aku memandang dengan girang, lupa bertepuk tangan. [] Kabut

Puisi

Puisi Rizka Umami

Sejak Biyung Pergi

Sajak-sajak nyaring itu berhenti

Kelopak mata sembab sudah seperti kemarau di khatulistiwa

Mimpi-mimpi sebatas lewat di awang-awang

dan semua lagu jadi alpa tak bermakna

Kau, tanggal

Sejak biyung pergi

Kau tak lagi punya hasrat berpuisi

Semua kata-kata jadi kaku dan asing

Musikalisasi dan instrumen-instrumen yang memelintir keningmu, ikut kering

Jalan Panjang dan juang yang kau elukan pupus

Tersisa luput yang belum sempat kau tebus

Begini nasib mendewakan manusia

yang hanya berjarak sepenggal napas dari mautnya

Ketika ia kembali

Kau jatuh sendiri.

Pesarean, Oktober 2023


Kepada Sang Maut

Sebuah motor bebek melesat pesat ke depan

Membawa tubuh lelaki tanpa tuan yang bersiap lepas

Ia hantam tabebuya yang baru mekar di pinggir jalan beraspal

Dengan lantam memecah batok kepala

            bersamanya aroma wine bercampur peluh menyeruak beradu anyir

Kepada maut,

Betapa kerdil nyali seorang manusia yang melihat kematian tepat di hadapannya

Betapa sukar memelintir ingatan untuk pura-pura lupa

bahwa tiap-tiap manusia bakal punya cerita perihal kematian yang menggelikan

Aku pernah bermimpi

Di sisa napas penghabisan seonggok tubuh disepuh terik dan lava pijar yang lembut

yang hangat memeluk jasad sampai sukma

Kepada maut yang tak berjarak, yang leluasa mematahkan arteri – vena

Bisakah manusia bersiasat sebelum kematiannya?

Menemukenali tiap-tiap wujud Tuhan pada sepersekian detik terakhirnya

perkara hitam atau putih dan abu-abu yang ranum itu

Kepada maut,

Bagaimana kematianku kelak?

Tulungagung, Oktober 2023


Buat emPuan

Seorang perempuan duduk di satu batang pohon besar di tepi pantai sendirian

Menyulut satu dua batang kretek mendongak ke atas mengingat-ingat

Petaka hidup menjadi perempuan

Haruskah ombak membawa mimpi-mimpinya ke tengah laut lalu tenggelam sampai palung?

Mimpi-mimpi yang lebih banyak pupus dari tercapai yang hilang sebab ia perempuan

Haruskah ia mengubur tubuhnya pada pasir hitam biar tercerabut segala kalut hidup yang ia tahan?

Sebab jadi perempuan harus dan tak boleh sekena hati mencapai tujuan

Biar biarlah kau sekarat di tegur ombak

Biar dirampas dipapas seperti bukit-bukit yang bakal koyak hilang punuknya

Bakal hilang daun-daun rindangnya bakal jadi aspal pekat jalang

Seorang perempuan terperanjat

Bangkit berdiri dari lamunan panjang mencari-cari alasan

Kenapa Tuhan masih giat memberi umur panjang?

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Surat Buat Tole

Seorang ibu sedang menggendong putranya

Duduk menunggu pembeli di pasar subuh

Menuju terbit matahari

Ia biarkan bocahnya menetek sampai pulas lagi

Ia bertanya dalam batin

Sudah sampai di mana kita, Le?

Aku yakin kelak kau dewasa tak sudi hidup seperti aku

Tapi jangan menghukumku

Ini pilihanku jadi mandiri sebab bapakmu tak mau ambil bagian menghidupi

Ini pilihanku sebab aku tahu masih mampu

Jika suatu hari kau temui tubuhku lebih lusuh, Le percayalah

Aku masih teguh pendirian pilihanku sebagai ibumu

Sebab hidup berkalang lelaki bukan pilihanku

Sebab menghamba harusnya bukan pada sesama manusia.

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Ritual Menuju Akhir

Suara tokek bersahutan dari kamar 04 sampai 08

Di balik pintu-pintu yang terkunci dari dalam

Sedang sebuah ritual dijalankan

Mereka saling mendebat warna baju

Yang mencolok menarik perhatian sang ratu

Lalu tahun-tahun melesat jauh

Daun-daun beringin makin lebat disusul suhu ruangan yang naik

Membuat semua jerih payahmu koyak

Ada yang tak segan datang

Dari ujung imajimu

Menebas mencuri napas terakhir.

17 Januari 2023


Perihal Batas

matamu menatap nanar ke perempuan di sebelahmu

ia lebih keriput setengah renta

kaki kirinya sudah mulai penuh borok

kau kira separuh usianya digerogoti Diabetes

perkara ia telah sampai limit

kau menyaksi kematiannya lamat-lamat

kau bergegas lari menyeru ke toa ada yang mati – ada yang mati

lalu ia minta kau jangan kembali

– sedang kau percaya ia datang serupa bekal buat diri yang papa untuk waspada

Tapi kepada siapa kau kembali?

Tulungagung, 02 Juni 2023



Rizka Umami, perempuan kelahiran Tulungagung yang masih menyenangi sastra, isu perempuan dan lingkungan.

Ragam

MEJA DAN HIBURAN

Yang bergerak mulai iseng. Aku menghampiri dosen dan para mahasiswa. Saling beri senyum dan mendoakan. Beberapa bulan yang lalu, aku memberi kuliah umum di Universitas Pekalongan: berakibat agak akrab dengan dosen dan mahasiswa. Pertemuan dalam acara Prasidatama membuat kami seperti mau membuat janji menggerakkan sastra sampai berkeringat dan kelelahan.

Buktinya: aku, dosen, dan mahasiswa berfoto bersama. Yang difoto adalah sepatu kami. Sengaja wajah tidak perlu difoto. Sepatu-sepatu itu lebih penting, yang mengartikan bergerak. Pertemuan sepatu, pertemuan saat para pengarang di Jawa Tengah sudah menunaikan janji bersastra.

Hari mau siang. Aku mulai merasakan bosan. Yang aku lakukan adalah menguji kemampuan berhitung. Berdasarkan pandangan mata, aku menghitung jumlah meja bundar: sembilan. Meja bundar dikelilingi kursi-kursi. Ada yang berbeda. Di meja bundar untuk tamu dan juri, ada piring yang memamerkan pisang, anggur, dan jeruk. Di meja-meja lain, aku tidak menemukannya. Aku berhasil mendapatkan pisang. Jeruk dan anggur cepat dihabiskan teman-teman yang tidak tega menyia-nyiakannya.

Siang itu ada jajanan, minuman, dan buah. Yang tidak boleh dilupakan: beragam tanaman berada di depan panggung. Gedung yang dingin dan sorot lampu yang menghibur. Di luar, panas dan panas dan panas. Maka, berada di dalam ruangan itu keselamatan dari gerah.

Para pengarang tampak saling bicara, bergantian berfoto. Mereka mungkin sudah bosan, merasa waktu bergerak lambat untuk pengumuman para peraih penghargaan Prasidatama. Aku santai saja.

Di panggung, hiburan-hiburan terus disajikan. Tata suara dan tata cahaya cukup memukau. Aku sedikit menikmatinya. Yang aku perlukan adalah membuat percakapan-percakapan sejenak dengan beberapa orang. Aku tidak betah menonton semua hiburan.

Yang mengejutkan saat tiga penyanyi di panggung bergantian membawakan lagu-lagu Nusantara. Musik yang terdengar mengajak orang-orang ikut bernyanyi atau berjoget. Di dekat pintu masuk, aku melihat empat perempuan berjoget. Mereka tertawa dan terhibur. Setahuku mereka adalah para pegawai Balai Bahasa Jawa Tengah. Berjoget membuat mereka senang setelah lelah dan berdebar mengurus acara. Mereka yang bertanggung jawab. Jadi, berjoget sebentar dan tertawa adalah selingan yang menguatkan. Aku tidak ikut berjoget. Malu. Sejak dulu, aku memang pemalu.  

Di Hotel Nirwana, aku mulai berpikiran: acara Prasidatama adalah hiburan-hiburan. Apa aku terlalu menginginkan hiburan? Di ruangan, aku memilih melihat para pengarang Jawa Tengah yang menjadi kaum tabah untuk sampai memegang piala dan piagam. [] Kabut

Ragam

NARUTO DAN PIDATO

Orang-orang sarapan dan omong-omong. Aku ikut menikmati nasi, minuman, buah, dan tempe. Pagi tidak ingin tergesa. Aku masih kepikiran nasib Yuditeha. Apakah ia sembuh? Apakah ia makin tak berdaya?

Di luar, orang-orang duduk di pinggir kolam. Mereka dalam percakapan yang seru. Aku ikut duduk sebentar. Di seberang, ada kesibukan dan suara-suara keras. Di situlah, tempat untuk acara Prasidatama. Beberapa orang berpenampilan rapi berada di lokasi acara. Senang melihat mereka sudah mandi dan memilih pakaian yang terbaik. Aku belum mandi tapi tidak mungkin terjun ke kolam dan sabunan. Sejenak bersama tiga orang, aku sempat bercakap masalah bahasa dan sastra. Obrolan tanpa kopi dan rokok.

Kembali ke kamar. Menit-menit sebelum mandi, aku masih mendapat beberapa halaman buku berjudul Cakap Kecap (2004). Buku mengenai sejarah dan perkembangan periklanan di Indonesia. Di situ, aku tidak menemukan ingatan atau pembahasan iklan-iklan buku sastra. Buku tidak menjanjikan lengkap. Namun, aku mendapat panggilan ulang untuk merampungkan kliping iklan-iklan buku sastra yang sudah aku kumpulkan, sejak beberapa tahun yang lalu.

Datang ke tempat acara. Para tamu duduk tidak tenang. Mereka omong-omong, berfoto, dan makan. Di panggung, aku kaget melihat Naruto berjoget. Ia tampil bersama tokoh-tokoh Nusantara. Panggung sudah meriah dengan Naruto, yang nantinya disusul kehadiran para pengarang sakti di Jawa Tengah. Mereka tidak usah berjoget. Naruto dan teman-temannya itu menghibur agar yang hadir bergairah, tidak diserang bosan dan mengantuk.

Di panggung, aku melihat gong. Benda yang masih seperti dulu: digunakan dalam pembukaan acara secara resmi. Aku sudah jemu. Membayangkan saja ada cara dan benda berbeda dalam membuka acara resmi. Aku penasaran dengan pemukulnya. Tibalah di meja yang berisi tumpukan piagam dan jejeran piala Prasidatama. Pemukul gong itu berhiaskan kembang melati. Wangi. Wangi. Wangi. Inginku, Senin, 25 September 2023, wangi oleh kebahagiaan para pengarang.

Panggung menjadi pusat. Aku kadang mengalihkan pandangan, tidak mau selalu melihat panggung. Aku bergerak semaunya meski dilihat dan diperingatkan panitia. Jika hanya duduk, tubuhku tidak beres dan waktuku sia-sia. Bergerak saja, bertemu orang-orang dan bicara sembarangan. Yang jelas, panggung tetap ramai.

Selain hiburan, ada tokoh-tokoh yang berpidato. Mereka pasti terhormat, memiliki predikat rektor dan kepala. Kehadiran keduanya di panggung mengesahkan acara yang diadakan beberapa lembaga, yang terpenting: Balai Bahasa Jawa Tengah dan Universitas Pekalongan. Aku tidak menyimak semua isi pidato. Yang satu berpidato tentang bahasa. Yang satu menyampaikan kerja-kerja kebahasaan dan kesusastraan. Seorang tokoh menaruh bolpoin biru di saku baju. Seorang tokoh merasa mimbarnya ketinggian. Aku memandang dari kejauhan.

Akhirnya, gong dipukul. Pembukaan terjadi diringi tepuk tangan. Para pejabat dan beberapa orang berdiri di panggung. Dua belas pemotret di depan panggung. Pemandangan cukup indah. [] Kabut

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Ragam

PENGARANG DAN PENERBIT

Hari pun berganti. Senin, 25 September 2023, telah datang tanpa jadwal pekerjaan. Aku yang membuka mata, aku yang menantikan peristiwa. Gelap masih milik Pekalongan. Lampu-lampu menyala, tidak semua terang. Aku belum menerangkan Senin.

Bekal dari rumah dinikmati: kofemik. Roti masih tersedia. Menit-menit menjelang matahari terbit, kehangatan sudah terasa. Aku melengkapinya dengan membaca Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia (2012) garapan  Francis Wheen. Buku kecil dan tipis yang akan turut campur dalam biografi Senin. Buku yang tak ada urusannya dengan kepergianku ke Pekalongan tapi mengharuskan aku membacanya. Dulu, aku membaca Buku-Buku jang Merobah Dunia, hasil terjemahan Asrul Sani, masa 1950-an. Das Kapital terakui mengubah dunia, berpengaruh dalam arus sastra dunia.

Bagiku, Karl Marx tak melulu ekonomi, filsafat, seni, dan sejarah. Ia pun menggerakkan sastra dengan segala janji, kemiskinan, bualan, kemarahan, dan keterasingan. Nama teringat bagi pengarang-pengarang tenar di dunia. Yang membaca buku-buku susunan Karl Marx turut menentukan selera mereka menggubah puisi, cerita pendek, dan novel.

Yang perlu dikutip: “Ambisi Marx yang paling awal adalah sastra. Sebagai mahasiswa hukum di Universitas Berlin, ia menulis sebuah buku puisi, darma bersyair, bahkan novel berjudul Scorpion dan Felix, yang ditulis bergegas dalam kondisi mabuk imajinasi di bawah pesona Tristram Shandy gubahan Laurence Sterne.” Jika dulu ia terus menggubah sastra, nama-nama tenar abad XX bakal sulit bermunculan. Di Hotel Nirwana, Seninku bersama Karl Marx, kofemik, dan roti seharga dua ribu rupiah.

Ingat lelaki berjenggot lebat, ingat sastra di Indonesia. Aku kadang penasaran dengan babak sastra di Indonesia, 1950-an dan 1960-an. Penasaran itu terjawab saat membaca buku dan majalah lama. Kini, keinginan mengetahui silam itu agak redup. Sastra di Indonesia abad XXI tenang-tenang saja. Orang-orang tetap menulis cerita pendek, puisi, dan novel. Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Marjin Kiri, Bentang, Banana, Basabasi, dan JBS terus menerbitkan buku-buku sastra. Buku-buku baru berada di toko buku dan para pedagang di media sosial. Aku melihatnya saja. Aku dikutuk harga. Aku sedang berutang hidup, belum ingin menumpuk utang untuk buku-buku baru.

Senin, 25 September 2023, aku bakal menyaksikan perayaan dan penghormatan sastra dilakukan Balai Bahasa Jawa Tengah. Institusi itu membuat penghargaan memuat ketentuan tentang penerbit. Jadi, buku-buku dinilai juri diharuskan terbit di Jawa Tengah. Pengecualian adalah novel berbahasa Jawa. Aku berkenalan dengan nama-nama penerbit berada di pelbagai kota di Jawa Tengah: Wonosobo, Solo, Demak, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Semarang, Blora, dan lain-lain. Daftar nama penerbit itu wajib dicatat dalam perkembangan sastra di Jawa Tengah meski sulit bersaing di pasar buku nasional.

Prasidatama itu pengarang, buku, dan penerbit. Hal paling rumit itu penerbit. Di Jawa Tengah, banyak pengarang kondang. Buku-buku mereka sering diterbitkan di penerbit-penerbit beralamat di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan lain-lain. Buku-buku mudah diperoleh di toko buku dan situs-situs perniagaan buku. Berbeda nasib dengan penerbit-penerbit mempersembahkan buku berkiatan ikhtiar sastra dan penghargaan Prasidatama. Buku-buku itu tidak mudah diperoleh. Penerbit-penerbit pun sulit berjanji menerbitkan dalam jumlah ratusan atau ribuan, yang membuktikan gairah sastra tak pernah padam. Aku beruntung membaca puluhan buku dalam pamrih Prasidatama. 

Senin mau bermatahari. Aku menaruh Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia di bawah televisi. Aku tidak mau Senin hanya milik Karl Marx. [] Kabut

Ragam

KAMAR TIDUR

Sejak dulu, aku mengenal Yuditeha bukan lelaki penggemar tidur atau penidur sejati. Mata itu biasa digunakan bersastra, selain melihat rambut saat mencukur. Mata lelaki sulit gemuk itu menjadikan obrolan sastra dan belajar sastra memicu gairah-gairah tak biasa. Yuditeha, pengarang tenar di Indonesia. Ia mudah dilekati Kamar Kata.

Sejak masuk gerbong, ia adalah pesakitan. Aku, Panji Sukma, dan Indah Darmastuti merasa kasihan tapi tidak bisa menyembuhkannya. Ia yang menanggung derita. Dugaanku: sastra mengakibatkan sakit. Yuditeha yang biasanya suka tersenyum tampak murung dan lelah. Ia sedang tidak berpikiran waras: gerbong dilihatnya sebagai kamar tidur.

Aku sedih dan sedih. Beberapa hari yang lalu, aku seharian bersama Yuditeha. Pagi, kami naik bis Solo-Semarang. Hari penentuan bagi kami selaku juri cerita. Yuditeha lebih terhormat sebagai juru cerita dan juri cerita. Di perjalanan, kami adalah lelaki berkicau. Alamat tujuan adalah Ungaran. Di kantor berurusan bahasa dan sastra, kami hadir untuk penilaian dan penentuan para peraih Prasidatama. Pulang, kami dalam kondisi cukup lelah tapi tetap berkicau. Di menit-menit menuju Terminal Tirtonadi, ia akhirnya tidur. Aku ikhlaskan saja. Ia sudah tua. Raga lelah jawabannya tidur.

Peristiwa yang berbeda. Empat orang berangkat bersama menuju Pekalongan. Yuditeha gagal sebagai pencerita. Yang dialami adalah perjalanan menyakitkan. Kereta api menjadi “kamar tidur” yang bergerak jauh. Duduk dekat jendela, ia memilih tidur. Ia mungkin ingin menengok jendela mimpi agar sakit tidak makin parah.

Tiba di Pekalongan, Indah Darmastuti berkelana duluan. Tiga lelaki menanti pesanan mobil. Kami salah tempat. Berdiri di pinggir jalan yang bising dan semrawut. Kami berdiri dekat tong sampah. Malam yang tidak indah untuk mengakrabi Pekalongan.

Aku menduga saja: Yuditeha yang sulit berdiri tegak ingin lekas berbaring. Ia mustahil berani tidur di jalan beraspal. Inginnya segera sampai hotel. Kami dijanjikan menginap di Hotel Nirwana. Bagi Yuditeha, ia tidak terlalu memikirkan “nirwana” atau sastra.

Kasur! Ia ingin tidur di kasur. Gagal sebagai pencerita, Yuditeha mendambakan menjadi penidur sejati. Pekalongan itu ‘kamar tidur” bagi lelaki yang mengelola Kamar Kata. [] Kabut