Puisi

Puisi Mohamad Latif

Malam penghabisan

Bakarlah kata-kata itu

Di atas tungku

Malam hanya menambah dingin

Jendela hanya mengatupkan suara

Kelak kau akan tahu

Aku yang berdiri menyendiri

Di antara sauh kesedihan

Habis nubuat di tengah jalan

Tak lagi ada yang ingat

Di malam penghabisan ini

Aku dilingkari lolong kalut

Pamekasan 2020


Masakan ibu

Serut daun kelor

Jalan-jalan jauh ke tegalan

Kucari cinta pada ikan tongkol, nasi jagung,

Dan sayur bayam

Pudar daun-daun bawang

Pijar senyum ibu tenggelam

Runyam di relung santan

Pamekasan 2020


Pencarian

Waktu tidak akan mengerti bagaimana perihnya menjadi dewasa

Ia masih saja terus berlari menjadi kanak kecil yang tak tahu apa-apa

Di luar sana orang-orang menciptakan jam dan tanggalnya sendiri

Membuat perhitungan-perhitungan kecil dan besar

Tapi aku, aku masih belum menemukan apa-apa termasuk juga cinta

Ahhh, begitu kesepiankah diriku?

Tahun-tahun adalah alat menerka diri

Waktu membusuk dalam dada

Rekah segala gelisahku ditelan musim

Pamekasan 2020


Di dermaga

Selepas silir angin laut ke kota tubuhku

Bulan hanya potret di air genang

Bangau perak bersesaran dari timur

Berlayar ke langit

Warna pudar sebuah kapal

Bulan dan mataku, jiwa yang basah

Dan sauh laut di batas

Aku hanya jangkar tua dan kemalaman

Januari mengubah takdir jarum kompas

Pada karang, pada siul angin

Dan jala para nelayan

Pamekasan 2020


Punggung kata

:annuriyah al-masuniyah

Kita mencari sesuatu yang hilang

Sebuah diksi yang tak mungkin genap

Dari setiap degup percakapan

Kerling malam juga kerling lampu di sudut kafe

Malam berlalu

Dan tembakau belum selesai juga dilinting

Membiarkan bisik

Terus melamun ke relung meja-meja gelap

Kemudian kau lindap dimamah lelap

;mengeluh

“andai waktu bisa diperlambat

tentu kita bisa merekayasa kembali purwa luka-luka”

tetapi kita hanya bisa melipat punggung kata

terjebak dalam pilihan diksi yang rumit

yang tidak pernah kita tahu akhirnya

Sumenep 2020


Tirta amarta

Ia menyimpan kabar yang tak boleh didengar

Surat-surat hanya menyimpan peluk dan ingin

Sepasang mata melotot

Tak ada air bersih di sini

______Termasuk air mata_______

Sungai menguap jalan-jalan kehabisan napas

Air menjebak mata itu di balkon

Wabah mengapung di jantung hingga batas kota

Kesedihan melompat-lompat dari atap ke atap

Mata itu bersembunyi

_______Di balik botol arak pengangguran_____

Memandu setiap perjalanan panjang dan dekat

Terminal dan pelabuhan terdekat

Yang paling sepi

Awan di atas pecah

Siapkan wadah yang paling besar

Tadah air mata yang tumpah

Biarkan dahaga lepas

Hanyut dalam denyut

Mencari dunianya masing-masing

Pamekasan 2020


Di beranda

Malam nanti

Aku kan menjelma meja di beranda

Duduk dan akan kau dapati

Kopi dengan lebur senyum

Asbak tempat membuang kenang

Dan nampan tempat kau kembalikan seluruh rindu

_____padaku______

Pamekasan 2020


Di moncek timur

Di moncek timur, pohon-pohon tengadah

Seperti hatiku

;tabah

Nyala heningku

Dimamah jarak

Siang malam pucat di dadaku

Melintas pada senyum getir

;ibu

;bapak

Pamekasan 2020


Wangsit

Di sini, di semesta jiwaku

Risau masih terasa melengking

                        Kabar yang berkisah dari malam

                        Memecah celah-celah gerimis

Sebuah tanah di musim hujan

Menjaga ingatannya

                        Pertemuan-pertemuan basah

                        Risau dan ingin meletup-letup di sini

Dari jauh anak-anak meninggalkan lamunannya

Menakar peluh dan takdir

Di tepian ladang ia melihat ibunya

Ranggas di tengah jagung

Pamekasan 2020


Nyonson

Kamis malam menjelang purnama

Perempuan-perempuan tua

Merapal harap dan ingin umat manusia

Dengan sebilah sepat berbakar kemenyan

Gemericik asap pengharapan, menebar mantra dan doa

Aroma sedap menyeruak ke segala tempat

Merasuk dari pintu ke pintu, menyeruak ke luar jendela

Menyusup ke barzakh, mengantar rindu pada leluhur

Cinta subur di sini

Menjadi tali persaudaraan

Hidup tenang dengan kesederhanaan

Pamekasan 2021


Mohamad Latif, lahir di Moncek Timur, Sumenep 28 Desember 1998. Pernah aktif di Taneyan Kesenian Bluto, Forum Belajar Sastra, Sanggar Asap dan sekarang masih bergiat di UKM Teater Fataria IAIN MADURA. Bisa disapa di Facebook: Mohammad Latif, Instagram: latifmohammad086, atau Surel: [email protected].

Cerpen

Caraphernelia

Cerpen Fina Lanahdiana dan Zahratul Wahdati

“Selamat pagi!”

Dave mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Tangannya menyentuh baju, wajah, serta tas jinjingnya seolah-olah sedang memastikan tidak ada yang kurang atau pun tertinggal. Dia tersenyum kepada seekor kucing berwarna abu-abu gelap bermotif seperti pusaran gelombang berwarna hitam di salah satu sisi tubuhnya. Bagian kiri. Sekilas hampir tak tampak pemandangan itu jika tidak diamati dalam jarak dekat dan selekat-lekatnya. Kucing itu sedang duduk begitu saja di taman kecil halaman rumahnya. Tampak malas meskipun ia berada di dekat kolam dengan hiasan batu-batu di bagian tepi, tempat bagi para ikan koi menyambungkan napas hidupnya. 

“Kau tidak boleh nakal ya, Joni!”

Dia mengatakan kalimat itu seperti sedang menasihati anaknya sendiri. Tentu saja Dave tahu, belum pernah ada kucing yang menolak diberi ikan-ikan.

Sesekali matanya memandangi arloji bundar yang melingkari lengannya, “Masih pukul 05.45.”

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Sekitar dua puluh menit selanjutnya, dia sudah sampai di peron. Menunggu kereta yang akan membawanya pergi ke sebuah tempat yang telah membawa lari hati dan pikirannya yang dipenuhi bayang-bayang. Tempat itu seolah seseorang yang mengulurkan tangan ketika Dave sedang jatuh-jatuhnya.

Di peron itu, dia hanya berdiri sendiri, tak ada penumpang lain yang menunggu. Tiba-tiba dia berpikir: Bagaimana jika ternyata kereta yang kau tunggu tidak akan membawamu kembali? Tetapi pikiran itu hanya selintas dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Itu hanya ada dalam dongeng, batinnya.

Tetapi ia begitu heran. “Apa yang sedang terjadi dengan kota ini?”

Dia tak pernah benar-benar yakin sebelumnya dengan apa-apa yang berjalan di atas bumi. Segalanya berjalan normal dan tak mesti diperdebatkan. Lalu lalang orang-orang, lalu lintas yang selalu dipenuhi suara klakson di garis-garis lampu merah, anak-anak berseragam bergegas pergi dan pulang sekolah, remaja tanggung yang memainkan gitar dari angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya, pedagang asongan, sepasang muda-mudi yang bertengkar di kafe-kafe ternama, dan hal-hal lain yang selama ini luput ia amati dengan serius.  Tiba-tiba saja kota ini teramat sunyi. Sunyi sekali.

Berkali-kali dia memastikan. Apakah ini mimpi? Tapi ini pasti bukan mimpi. Tidak ada satpam, petugas pemeriksa tiket, tidak ada suara yang memberikan informasi, bahkan tidak ada petugas yang mengatur jalannya kereta.

Dave mengamati tiketnya. Tiket berwarna kuning kecokelatan itu menjelaskan dia harus naik gerbong 5 dan duduk di bangku nomor 21 A.

Meskipun sebenarnya terlampau banyak pertanyaan yang melayang-layang di kepala, dia harus tetap bergegas untuk segera sampai ke kantornya, di sebuah gedung surat kabar lokal yang di dalamnya dia bekerja sebagai wartawan. Menjadi wartawan bukanlah cita-cita yang pernah dia harapkan. Tapi selanjutnya semesta begitu saja menariknya seperti dia tersedot begitu saja, sehingga pada akhirnya mau atau pun tidak mau, harus menyukainya. Dan mungkin memang bisa dikatakan dia telah mencintai pekerjaannya karena telah terlampau terbiasa.

Mulutnya menggumamkan 21 A berulang-ulang seperti sedang merapal mantra. Tak lama dia menemukan gerbong yang dicarinya dan dia segera duduk. Meskipun masih sambil memikirkan dugaan-dugaan kenapa kota ini seperti telah mati atau mungkin seluruh penduduknya telah berpindah tempat ke planet lain yang dipercaya sebagai pengganti bumi yang telah berusia sangat tua, rapuh, dan sakit-sakitan.

“Apakah kereta ini akan tetap berjalan bahkan jika tak ada penumpang-penumpang lain yang biasanya begitu berdesakan? Atau yang terjadi justru sebaliknya, bahwa dia harus menunggu dan menunggu dan menunggu, seperti yang terjadi dalam cerita Alan Lightman dalam wujud sebuah mimpi yang dialami Einstein,Di dalam dunia di mana waktu tidak bisa diukir, tak akan dijumpai jam, kalender, atau pun janji pertemuan yang pasti. Satu kegiatan didahului oleh kegiatan lain, bukan berdasar waktu …

Sepersekian detik selanjutnya, segalanya di luar kendali akal sehatnya. “Apakah ini hutan? Ataukah aku salah menumpang kereta?”

Sebagaimana sebuah mimpi yang cenderung acak dan absurd, pohon-pohon seolah tiba-tiba tumbuh dari bawah kereta. Seperti akar-akar yang bergerak cepat. Menempel di lantai, dinding-dinding hingga menyentuh atap kereta. Segalanya menjadi berwarna hijau. Warna yang sejuk. Seperti embun sisa pagi hari sebelum matahari memunculkan dirinya di awang-awang di atas bumi.

Lalu burung-burung bernyanyi, seperti siulan seorang lelaki yang sedang menggoda gadis yang membuatnya ingin tertarik. Jika hal ini terjadi di dalam hutan sungguhan ketika dia sedang mendaki, adalah hal yang menenangkan dan menyenangkan. Tapi, di sebuah kereta? Lantas dia kehilangan kata-kata apa pun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Kehilangan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya.

Ini rimba. Kereta ini berisi rimba. Suara hewan rimba menyamarkan deru roda kereta yang beradu cium dengan rel. Tapi walaupun terdengar samar, Dave tahu kereta ini sudah mulai bergerak.

Meninggalkan peron. Menjauhkannya dari Joni dan ikan koi yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, dan semua hal yang biasa dia sapa setiap hari.

Dave mengucek lagi matanya, tapi rimba di kereta itu malah makin lebat. Ditatap tiketnya, tulisan di tiket sudah berubah, entah sejak kapan, tujuannya bukan ke kota tempat kantornya ada. Tetapi sebuah kota yang tidak ada di jalur kereta. Kota itu bernama Mayapada.

Dia melongok ke belakang dan ke depan, ke barisan kursi kosong di depannya, yang tertutupi semua dengan akar dan daun.

Rasa penasarannya tak kunjung habis. Dia memutuskan untuk berjalan sepanjang gerbong. Beberapa kali terdengar bunyi kriuk ranting patah. Ini bukan lagi sesuatu yang bisa dianggapnya sebuah candaan. Ingin rasanya berteriak, lalu menampar pipi kanan dan kirinya, mencubit lengannya berkali-kali hingga lebam. Segalanya tampak terlalu nyata.

 Suara burung-burung semakin nyaring dan dia tetap tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Hutan itu meluas, lapang, seperti bukan di dalam sebuah kereta. Pengamatannya tidak ingin sekali pun berpaling, dan segalanya tetap berjalan melampaui apa-apa yang sanggup ditampungnya. Juga langit-langit yang membentuk jalan-jalan kecil dari bayangan pohon-pohon yang menjulang. Batas itu kian tak ada. Baik dinding atau atap kereta, segalanya kini lenyap.

Dia ingat sesuatu di kantongnya. Sebuah ponsel. Tangannya meraih dengan susah payah sebab tangannya sedikit bergetar. Ia tak ingat harus menghubungi siapa, tetapi kemudian yang pertama kali muncul adalah ingatan tentang atasannya.

Panggilan itu terhubung dan dia demikian penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Kira-kira, akan seperti apa reaksi atasannya?

“Halo?”

Terdengar suara dari seberang.

“Aku … Maaf …”

Dave kehilangan kata-kata.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku tersesat …”

Dia mendengus kesal dan begitu mengharap pertolongan.

“Tersesat apa? Kau sedang mengajakku bercanda? Setiap hari kau pergi bekerja dan tak pernah ada masalah lalu tiba-tiba kau bilang dirimu tersesat? Konyol sekali, Dave. Jika kau sedang sakit, kau hanya perlu mengatakannya. Tak perlu mengarang cerita fiktif.”

“Tidak. Aku benar-benar tersesat.”

Lalu sambungan suara itu terputus dengan sendirinya.

Dave mengumpat. Mencoba menelepon atasannya kembali tetapi tidak terhubung. Sinyal penuh. Baterai masih empat garis. Pulsa masih tersisa 119 ribu. Mungkin ponsel atasannya mati. Jadi dia mencoba menelepon teman kantornya yang lain. Terhubung. Ahura.

“Halo, aku tersesat. Mungkin aku salah naik kereta. Tolong bilang ke atasan bahwa aku akan sangat terlambat. Dan kau harus tahu, di sini segalanya menjadi tak masuk akal, tidak ada orang sama sekali. Sunyi.”

“Dave, kau tahu kerjaanku banyak. Jangan main-main.”

“Sumpah! Kau dengar suara burung, kan? kereta yang kunaiki isinya rimba raya dan tak seorang pun bisa aku ajak bicara …”

“Gila, kau!”

Lalu sambungan suara itu terputus, kali ini Dave yakin, teman kantornya ini yang menekan gagang telepon warna merah.

Drrrttt … drrrttt … Suara itu membuat Dave terpelanting ke belakang. Suara rem. Kereta berhenti. Saat ia berusaha keras untuk beranjak dari duduknya, pemandangan itu lenyap dari hadapannya, hutan itu dengan pohon-pohon yang menaunginya. Seperti amblas. Pohon-pohon itu bergerak kembali masuk ke tanah.

“Apa lagi ini? Aku hampir saja dibuat gila.”

Dia ingin keluar, tapi pintu kereta tidak terbuka. Di luar tampak stasiun kecil, tempat singgah sementara, ada seorang nenek duduk memandang ke arah kereta.

Mata nenek itu mirip senja, indah namun sebentar lagi tenggelam dan lenyap. Begitu yang dirasakan Dave. Dave mengamati nenek itu, berteriak pun tidak akan dengar, tidak mungkin juga seorang nenek membantunya keluar dari kereta ini. Tiba-tiba ingatannya memilih sebuah perasaan terluka dan memasangnya ke dalam kepalanya. Seperti seorang perempuan yang sedang mengepas baju di depan cermin.

Kereta bergerak kembali. Hutan itu tumbuh kembali dari lantai gerbong, semakin lebat, dan hanya ada ruang kosong tempat bisa dia duduki, tempat duduknya. Beruntung tak satu pun tanaman-tanaman itu mencekik lehernya. Meskipun tanpa dicekik juga dia sudah kesulitan mengatur napas.

Dave mengingat nenek itu. Nenek itu pernah berada di dalam pelukannya, dan 14 hari kemudian, nenek itu berubah jadi senja yang tenggelam.

Hutan di dalam kereta itu makin lebat, lampu-lampu kereta tertutup, hingga gerbong itu gelap.

Dia mendengar namanya dipanggil, “Dave! Dave!”

Suara itu dari luar kereta. Suara neneknya. Dia coba berlari ke arah kaca jendela, memandang ke belakang, pohon-pohon di tepi rel seperti sedang berlari memunggungi kereta yang ditumpanginya. Namun seperti sebelum keretanya berhenti di stasiun kecil, pemandangan yang semula dialaminya kembali terjadi. Dia kurang suka situasi ini, karena itu membuat kepalanya berisik sekali.

Selain neneknya, perlahan tapi pasti, pemandangan itu kian nyata. Zora, Qui, Dante, Globe, Alofe, Koa, itu adalah sebagian teman-temannya dari masa yang jauh. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka harus bertemu dalam situasi yang tidak tepat ini. Kilasan-kilasan peristiwa merambat seperti kaki laba-laba yang tengah membangun rumah jaringnya. Sedangkan dia adalah mangsa yang kelak terjebak di antaranya.

Situasi yang seolah-olah sengaja menjebaknya. Dia terduduk sambil berusaha keras mengatur ritme napasnya. Sekali lagi, dia mengingat ponsel di kantongnya. Kali ini ia benar-benar merasa butuh bantuan.

Jari-jarinya lincah menekan angka. Tapi tak satu pun bisa dia hubungi. Dipandanginya layar kotak yang sensitif terhadap sentuhan itu, segalanya telah lenyap dari sana. Tak ada tanda-tanda ponselnya terhubung dengan jaringan apa pun. Dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi menjadi seorang lelaki tak mengizinkannya untuk mudah menangis. Tidak satu pun bisa dia lakukan, kecuali bahwa dia hanya mampu berbicara kepada dirinya sendiri.***

Kendal-Pemalang, Maret 2020


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Zahratul Wahdati, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Randudongkal.

Cerpen

Balada Rindu

Cerpen Indah Fai

Ya Tuhan, suara lembut ibu merambat anggun memenuhi segala sudut. Ada resonansi merdu ketika suara ibu menimpa perabotan di dalam ruangan ini. Aku mendengar rak buku, lemari pakaian, kasur lantai, meja, kursi, gelas, piring, pigura. Ah, bahkan dinding pun melantunkan suara ibu.

Aku bisa merasakan tatapan hangat  dari bola matanya ketika aku demam tinggi begini. Ibu menghabiskan sepanjang malam duduk di tepi ranjangku dengan mata terjaga. Setiap kali aku terbangun, ibu mencecarku dengan pertanyaan, “Sudah merasa baikan?” Aku mengangguk kemudian  ibu tersenyum dan mengusap punggung tanganku sampai aku jatuh tidur.     

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus.Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Terakhir,  ibu menekan sakelar lampu pada dinding di sisi kanan pintu kamarku. Ruangan menjadi gelap ketika ibu beranjak keluar. Lantas aku bangkit dari ‘tidurku’ menuju meja komputer, menekuri lagi permainan sepak bola sampai larut, sampai aku benar-benar mengantuk.

Pernah di malam tahun baru aku pulang pagi. Ketika akan memasuki kamar, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu kamarku dengan raut wajah kecewa. “Sekarang  pukul setengah empat pagi. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali.” Suara ibu bergetar tapi masih lembut. Aku tidak menemukan  amarah di sana.

“Coba lihat rambut  pelangi dan jambulmu. Astaga!” Aku mengabaikannya dan melenggang ke kamar. “Cuma setahun sekali, Bu.” Aku menatap ibu sejenak sebelum menutup pintu kamar. Mata ibu dikelilingi lingkar hitam karena menahan kantuk. “Lebih baik ibu tidur saja.”

Ibu mengetuk pintu kamarku, “Tadi ibu memasak semur ayam kesukaanmu. Mungkin sekarang sudah dingin. Apakah kau sudah makan? Ibu akan menghangatkannya lagi supaya enak.”

Seandainya ibu tahu betapa merasa bersalahnya aku waktu itu. Aku bahkan tidak ingin berpura-pura tidur lagi setiap pukul sepuluh malam.

Suatu waktu, ibu menghampiriku di teras rumah. Aku sedang berkonsentrasi menggambar poster grup band kesukaanku yang akan kubawa pada konsernya di alun-alun kota minggu depan. Ibu mencermati gambarku dengan saksama. Ia berkata : “Bagus. Tapi kau tak akan pergi ke konser itu.” Aku menatap ibu tak percaya. “Mereka ini band pro rakyat, Bu. Lagu mereka suara hati rakyat. Menyanyi untuk rakyat. Kenapa tidak?”

Ibu balas menatapku. Senyumnya semanis tebu. “Tidak. Kau tak akan pergi ke konser itu. Percayalah, di sana hanya ada kerumunan pemuda malas yang merokok, minum-minuman beralkohol, berjoget, berteriak, tawuran, dan banyak lagi. Apa yang akan kau lakukan di sana?

Biar Ibu beritahu, lima belas meter dari rumah kita ada panti asuhan. Kau boleh mengajari mereka melukis dengan cuma-cuma. Tetangga kita, Bi Ami, malam kemarin rumahnya kemalingan. Sisihkan uang sakumu dan uang yang akan kau gunakan untuk membeli tiket konser lalu berikan padanya. Atau bantulah ibu menyapu halaman depan sore nanti. Pro rakyat yang lebih manusiawi, kan?”

Ibu tidak memerlukan sihir agar bisa membaca isi hatiku melaui ekspresi tubuh. Pada suatu siang, sepulang sekolah, aku memasuki pintu utama tanpa mengucap salam. Waktu itu ibu tengah menyiapkan makan siang, sekilas ia melihatku tersuruk-suruk menuju kamar. Aku mengurung diri sepanjang sore dan baru keluar ketika ibu mengetuk pintu kamarku untuk yang kesebelas kali—memintaku makan.

Hanya ada suara piring dan sendok makan yang beradu pada menit-menit pertama; kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Ketika nasi di piring kami sisa separuh, ibu menatapku geli sambil menggeleng,  lalu berkata, “Ayahmu berjuang setengah mati untuk bisa menikahi ibu. Ibu selalu menolak setiap ayahmu mengutarakan perasaannya. Tapi, memang dasar ayahmu itu keras kepala. Semakin ditolak, semakin dia penasaran katanya.”

Aku mencerna kalimat ibu sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutku. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Aku berusaha mengaitkannya dengan apa yang berlaku padaku di sekolah pagi itu. Ketika aku memberi sekotak cokelat kepada Vani—dan ia langsung menolaknya.

Pipi ibu memerah seperti kelopak mawar. Aku mengamati kedua mata ibu berputar dengan senyum yang merekah. Jam makan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan dari ibu:

 “Apakah kau akan memerjuangkan gadis yang kau sukai itu?”

***

Pada pertengahan Agustus, aku mengepak barang-barangku ke dalam koper besar berwarna biru laut pemberian ayah. Ibu memandangiku dari ambang pintu kamar tanpa sepatah kata dan kemudian berjalan pelan menuju ranjang tempatku mengepak barang—ia duduk di sampingku. Aku mendengar ranjangku berderit menampung tubuh ibu. Kemudian ibu berujar lirih, “Kau sungguh ingin kuliah di Malang?” Aku menatap ibu sekilas sambil tesenyum, dan mengangguk mantap.

“Kenapa harus di Malang? Bogor tidak kekurangan Universitas.”

“Adit ingin belajar mandiri, Bu.”

“Di sini juga sama saja.”

“Malang, Bu.”

“Kau tahu berapa jarak Bogor-Malang?”

“Ayolah, Bu. Adit sudah delapan belas tahun.”

“Justru karena kau baru delapan belas tahun, Adit.”.

Aku menarik napas dalam kemudian menghempasnya pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke kaca jendela kamar. Ada bulir-bulir embun mengalir zigzag di sana, sisa hujan semalam. Beberapa daun mahoni yang menguning berguguran tersapu semilir angin Agustus di pagi hari. Aku mengalihkan lagi pandanganku kepada ibu. Kepala ibu menghadap lurus ke depan dan matanya beradu pandang dengan dinding, tetapi seakan-akan ia menatap ke kejauhan.

Aku melihat ayah berdiri di ambang pintu kamar seperti yang dilakukan ibu sebelum duduk di sampingku. Entah, sudah berapa lama ayah berdiri di sana. Ayah menyandarkan punggungnya ke gawangan pintu. Ia berkata, “Sudahlah, Bu. Biar Adit belajar mandiri. Sebentar lagi juga liburan Natal, Adit pasti pulang, kan?”

Aku melihat mata ibu berkilau terpapar cahaya yang menerobos dari jendela kamar. Ada semerbak air yang akan tumpah di sana. Ibu berkata, “Siapa yang akan mengingatkanmu untuk mencukur rambut? Memasakkan semur ayam? Astaga, kau akan banyak-banyak makan mi instan di sana. Ya Tuhan, jagalah anak Ibu.” Lalu air di mata ibu tumpah seluruhnya.

***

Beberapa waktu terakhir, setiap pukul sepuluh malam, aku selalu mendengar derap langkah ibu menuju kamar kontrakanku. Ia membuka pintu, mematikan komputer, membenahi selimutku, dan mematikan lampu. Ketika bangun di pagi hari, aku tertegun karena komputer dan lampu masih menyala.

Sekarang, suara langkah itu semakin keras dan dekat. Aku tahu itu ibu. Sebentar lagi ibu akan sampai di depan kamarku dan membuka pintu. Berdiri di sana, lalu berujar, “Kenapa bisa sakit? Kau telat makan?” Sudah lama aku tidak melihat ibu berdiri di ambang pintu dengan suara lembutnya.

Aku menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan kemudian mengangkat kepalaku ke arah pintu yang setangah terbuka. Aku bangkit dari tidurku, menyandarkan punggungku ke dinding. Aku berkata, “Ibu? Ibukah itu?”

Kemudian pintu terbuka seluruhnya dan aku melihat sosok itu berdiri di sana, kedua alisnya bertaut, “Ibu?”

Dia bukan ibu.

Aku kembali merebahkan punggungku ke kasur lantai. Rizal meletakkan nasi bungkus di atas rak piring mini dekat pintu. “Apa kau ingin aku mengantarmu ke dokter?” Aku menggeleng. “Tidak usah,” kataku pelan.

“Vani bilang akan menjengukmu besok.”

“Aku tahu, boleh minta tolong?”

“Iya?”

“Tolong beritahu Ibuku aku sedang sakit.”

“Kau ingin aku meneleponnya di wartel?”

“Tidak, pakai ponselku saja.”

“Oh, ya? Kenapa bukan kau saja yang meneleponnya?”

“Aku tidak bisa.”

“Apa kau pikir aku sehebat itu?”

Rizal menatapku kesal lantas ia duduk di  lantai di jalan masuk pintu. Ia membuka bungkusan nasi yang ia letakkan di atas rak piring tadi kemudian memindahkannya ke dalam piring. Rizal menyorok piring itu ke samping kanan kasurku. “Makanlah,” ujarnya. Aku melihatnya tanpa selera, kuamati  langit kamar yang cat putihnya mulai menguning dimakan waktu dan pandanganku terhenti pada lampu yang aku lupa mematikannya pagi tadi.

“Ini sudah bulan kedua kau bertingkah seperti orang gila.”

“Maksudmu?”

“Ayolah, Dit. Ibumu sudah meninggal. Kau harus menyikapi realita dengan baik.”

Aku masih memandangi lampu itu. Cahaya putihnya menyakiti mataku. Rizal bangkit dan menekan sakelar lampu di dinding di sisi kanan pintu masuk. Lampu mati dan ruangan menjadi redup. Hanya sedikit cahaya matahari sore yang menyusup dari jendela kamar kontrakan ini.

 Rizal pamit menuju kamarnya. Kemudian, samar-samar aku mendengar seluruh perabot melantunkan suara ibu lagi. Aku juga mengingat hari pertama aku tiba di  sini. Ibu menelponku sebanyak dua puluh sembilan kali, dan aku mengabaikannya.**


Indah Fai, kelahiran Banyuwangi, 15 Juli 1994. Tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Bisa disapa melaui akun Facebook: Indah Fai dan email: [email protected]

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Jam di Tangan Sudah Mati

jam di tangan sudah mati

masih melingkar di tangan kiri

namun, kata-kata tetap berdetak

mengulur waktu mentashih sajak.

dan terkadang pikiran kelayapan

mencari-cari alasan kebenaran

menyalahkan waktu, tak tahu jalan.

bus kota pun lekas datang

membawa seratus penumpang

namun aku tidak jadi pulang

sebelum sajak yang kau tulis

menjadi penerang jalan.

Jombang, April 2020


Membagi Waktu

diam-diam mataku membagi waktu

pada hujan membunyikan sendu

pada daun-daun  lotus di altar rumah

pada nyala kerlip lilin dan kasturi di atas tanah

berkecipak bulir menerpa kendi liat

sebagai bunga berpijak: lotus merah jambu

tatkala bayangmu sekelebat datang

di pembagian waktu

melewati sela hujan yang ragu-ragu

menari-nari di antara insomnia dan rindu

berliku-liku dalam angan sajak bisu

yang setiap malam datang mengganggu

mataku menuliskan peristiwa itu: sajak masalalu

di balik daun lotus kering dan kelopak warna ungu

sajak-sajak itu tersimpan rapi

pada nyalang album puisi

dan akan kuberikan padamu

ketika engkau sedang rindu

seperti aku yang bertengadah untukmu

Jombang, 2020


Pingsut

gajah marah pada telunjuk

yang menunjuk-nunjuk

ketika semut sibuk menggaruk

pada telinga lebar, hingga terkapar.

namun, semut pun kandas; tertindas

oleh jari telunjuk; saling menunjuk.

dan batu pun mulai geram

pada gunting; hingga berkeping-keping.

namun ia merinding ketika kertas merunding,

apalagi jika tertempel materai iming-iming.

hompipa alaihum gambreng!

mayoritas terkapar

minoritas berlayar.

suuuut jleeng..!

gajah marah

telunjuk menunjuk

dan kelingking melengking.

Jombang, Desember 2020


Kereta Pukul Dua Siang

kereta datang tepat pukul dua siang

saat hujan menahan air matanya berlinang

pada gemawan menghitam

di atas stasiun membawa pesan

ihwal skenario digariskan.

seseorang telah datang

dengan gaun merah marun menjuntai

berkerlip kunang. sepatu tanpa hak

warna biru  genitri cukup terang.

lihatlah, perempuan itu

yang tiap malam datang bersama secawan

harapan rindu. melilit di setiap detak waktu

hidup dalam liku diksi-diksi kelu.

lihatlah, ia sedang berjalan ke arahku

seperti yang telah dikabarkan tuhan

dalam mimpiku

perihal kekasih yang turun

dari gerbong nomor tujuh

ketika hujan datang, air matanya jatuh dan luruh.

Jombang – Jogja, 2019 – 2020


Terkadang  Ingin Menjadi Air

terkadang aku ingin menjadi air

menyucikan segala hadas

yang membatalkan segala rindu.

terkadang aku merindukan air

meredakan segala haus

pada tandus.

terkadang aku membenci air

yang tiba-tiba datang

menghanyutkan segala kenang.

dan terkadang,  aku merenungi air

segala takdir adalah takrir

bagi yang berpikir.

Jombang, Juni 2020


Selaksa Api

lukaku adalah api

menyala pada puisi-puisi.

kadang murka dan membakar

pada sajak-sajak sunyi

pada muskil janji-janji .

kadang menyinari

pada lanskap kalbu

pada gelombang muasal rindu.

lukaku adalah api

nyalang  abadi di bulan Juni.

Jombang, Juni 2020


Meniup Seruling

enam lubang oktaf sudah kau tutup

namun lengking masih saja meletup

masihkah kau terus meniup

menemukanku pada nada

yang tak kau anggap hidup

Jombang,  Agustus 2020


Kelopak Anggrek

ia sudah tak berbunga

semenjak kau patahkan kelopaknya

kemarau membuatnya risau

sementara hujan buatan

hanya ada pada tangisan

maukah engkau menangis

pada bunga yang rindu gerimis

Jombang,  Desember 2020


Halaman-Halaman Pertemuan

pada halaman pertama aku mencium

bau parfummu yang legit vanila

lantas aku sibak pada halaman kedua

aku menemukan bercak lipstikmu

merah buah delima

dan selanjutnya,

dan selanjutnya

hingga aku temukan dirimu

di akhir bait yang beku

pada halaman terakhir sekumpulan puisi

dan seikat narasi, tentang penantian yang kini

menjadi semacam tali, mengikat janji di jemari

Jombang, September 2020


Matahari Mekar Berbunga

  :Kinan

matahari sedang mekar berbunga, kinan

ia bersolek di ujung timur,  langit arunika

pohon-pohon pinus sontak terbangun

dari tidur panjang semalaman

dan mereka mulai berdesis

melantunkan zikir pagi

di setiap daun-daun

dimandikan percik matahari

dan dibelai-belai desir angin

sementara,  engkau masih bersembunyi

di balik kalut jendela kayu mahoni

menghirup semerbak biji-biji puisi

yang ditulis para lelaki

apakah engkau masih takut, kinan

memilih sebiji puisi paling menawan

menggenapi puisimu yang perawan

matahari sedang mekar berbunga,  kinan

seperti engkau yang semakin perawan

Jombang, September 2020


Sarung

sarung yang dipakai ibu

sebenarnya milik bapakku

bukan karena ibu tak bisa membeli baru

namun ada tenun rindu: 

dari harum parfum bapakku

benangnya halus, sutra buih samudra

coraknya berkilau, pualam mutu manikam

hangat dari pelukan malam

sejuk dari embusan siang.

sarung yang dipakai ibu

kini diwariskan padaku

terdapat tiga jahitan baru

dari benang-benang rindu.

Jombang, April 2020


Miftachur Rozak, tinggal dan lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Ia alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang tahun 2011, kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang sebagai guru Bahasa Indonesia. Selain menggemari vespa dan kopi, ia juga menyibukkan diri menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya tersiar di pelbagai media cetak dan daring. Puisinya Masuk dalam antologi tiga negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku Sang Acarya. Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook: Miftachur Rozak atau Instagram: @arrozak_88.

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Cerpen Ken Hanggara

Ingin kuakhiri semuanya hari ini. Kota sudah terlalu busuk. Udara tak lagi nyaman kuhirup. Anjing-anjing yang menemaniku sudah kulepas ke tangan para pencinta satwa. Rumahku sudah dimiliki sejumlah gelandangan terbusuk di Kalodora. Tak ada keluarga, tak ada teman atau sahabat. Bahkan beberapa wanita yang sempat menemaniku selama belasan tahun terakhir kini entah di mana. Aku tak yakin mereka masih mengingat sosok lelaki kaya raya kesepian yang memutuskan tak pernah memiliki anak sampai mati ini. Itulah yang membuat mereka kabur satu per satu; mereka berharap menimang anak dari percintaan atau pernikahan kami, sedang aku menolak kehidupan seperti itu.

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Melihat situasi taman pusat Kota Kalodora yang nyaris tak pernah ramai ini, tiba- tiba membuatku ingin menangis. Bukan demi penyesalan, tapi demi keinginan yang tak pernah orang-orang pahami.

Maka, aku menangis. Di sebuah kursi besi panjang, aku menangis selama kira-kira sepuluh menit. Tak seorang pun tahu. Mungkin hanya malaikat dan setan sajalah yang tahu bagaimana aku menangis sebelum mengakhiri semua ini. Mungkin juga tidak ada yang tahu sampai beberapa hari kemudian bahwa aku berada di sini, memutuskan untuk selesai dari hidup ini di sini, hingga jasadku membusuk dan orang-orang baru akan menyadari itu jikapun ada yang melintas di bagian tenggara taman yang paling sering dijauhi karena terlalu senyap. Mungkin butuh waktu sebulan untuk menemukan jasadku, tapi apa pun itu aku tak peduli.

Namun, aku tak cukup yakin sudah berhasil ‘menghilangkan’ diri sejak tadi malam, meski kubuang identitas dan jejak yang membuat seisi kota, bahkan kaum gelandangan yang sehari-hari tak ada kesempatan menonton TV atau membaca berita tentang diriku di koran lokal, tak akan menemukanku.

Aku tak yakin tak ada seorang pun yang bertanya-tanya kenapa seorang lelaki tenar macam diriku berkeliaran di taman kota, di bagian yang paling senyap, seorang diri pula? Apa yang membuat lelaki itu berpakaian apa adanya, malah cenderung mendekati gaya gelandangan? Apa juga yang membuatnya menyerahkan rumah terbaiknya ke sejumlah gelandangan?

Para gelandangan itu mungkin sempat bertanya-tanya siapa aku, tapi aku tak ingin menjawab, dan pada akhirnya mereka bakal tahu juga setelah membongkar setiap sudut dari rumahku, lantas menemukan foto-foto, piagam dan piala, potongan berita tentang kisah suksesku, berbagai skandal, dan lain-lain.

Jejak-jejakku masih tertinggal di rumah, dan karena itu, menunda kematian kurasa akan jauh lebih baik ketimbang orang kota menemukan jasadku dan headline hari yang sial itu berbunyi: Ali Mudakir, pengusaha tersukses di Kalodora, ditemukan mati bunuh diri di bagian tersenyap dari taman kota setelah dengan sengaja meninggalkan seluruh hartanya untuk para gelandangan.

Itu bukan sesuatu yang kudamba. Orang-orang yang dulu pernah menjadi keluarga dan temanku pasti akan sangat terganggu.

Aku berharap sebuah kedamaian untuk akhir yang buruk ini. Aku mau tak seorang pun menyadari diriku saat sudah menjadi jasad nanti. Aku harap sebagian besar tubuhku bisa berguna untuk beberapa mahasiswa di sebuah fakultas kedokteran, di dalam ruang praktik di mana jasad-jasad tanpa identitas diotopsi demi ilmu pengetahuan, sekalipun mungkin sebagian diriku akan membusuk.

Maka, sisa hari itu kuhabiskan dengan berjalan lebih jauh, menuju pinggiran Kota Kalodora, menelusuri bagian-bagian sunyi dan kemungkinan jarang dilalui orang paling tidak hingga beberapa hari ke depan. Waktu itu hari sudah cukup gelap dan aku berjalan tak terlalu jauh dari jalan utama, tapi wajahku tetap terlindungi oleh kegelapan sebab di kawasan tersebut, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi.

Pernah dulu terjadi perampokan di area sini. Seorang pegawai salah satu bioskop terbaik di Kalodora ditemukan berbaring melingkar bagai udang di kotak sampah dan mungkin saja saat ini lokasi tersebut tak terlalu jauh dariku. Aku pasti tak salah tebak. Kawasan ini memang sepi. Rumah-rumah kosong dibiarkan telantar, dan hanya dihuni beberapa orang gila dan orang liar yang tak tepat disebut gelandangan, melainkan lebih cocok menyandang gelar para pengganggu keamanan. Konon mereka datang dari kota sebelah yang sebagian besar hancur total karena kerusuhan beberapa tahun lalu, dan kini kehidupan di kota tersebut jauh lebih buruk ketimbang kesialan yang sehari-hari ditelan oleh orang-orang termiskin di Kalodora. Bisa dibayangkan seliar apa orang-orang itu jika turun, beraksi merampok, atau memalak orang-orang di jalanan. Bisa dibayangkan nyawa para mangsa tak bakal ada artinya demi kebahagiaan memiliki uang dan hidup bersenang-senang seminggu ke depan untuk mereka.

Tiba-tiba aku memikirkan gagasan itu; mati sebagai korban perampokan dari kaum liar ini, lalu jasadku dibuang, hingga ‘hilang’ dari dunia paling tidak sampai tiga atau empat minggu ke depan. Apa mungkin?

Namun, para pembegal pastilah memilih siapa yang layak menjadi korban, dan aku jelas bukan korban yang menggiurkan, sebab yang kubawa hanyalah pakaian lusuh yang tadi pagi masih dikenakan salah satu gelandangan yang kini kubiarkan menguasai tiap sudut rumahku.

Aku harus melakukan sesuatu untuk memancing orang-orang liar itu ke luar sarang. Mungkin kini mereka mengintai dari balik lorong-lorong gelap di antara rumah-rumah yang lama tidak disambangi pemiliknya sebab sebagian besar dari mereka mati dalam kecelakaan di pabrik bir. Para buruh di pabrik itu tewas dalam kebakaran yang dahsyat beberapa tahun lalu dan kini rumah mereka tak ada yang memiliki, kecuali orang-orang gila dan para begal itu.

Mereka mungkin hanya melihatku sebagai orang gila, atau gelandangan biasa yang tersesat, dan tidak cukup menarik untuk digasak. Demi tewas dengan cara seburuk itu, demi mati sebagai mayat tanpa identitas, aku pancing mereka. Dengan keras kukatakan, “Kalian mau uang dan emas? Ayo, keluar dan bunuh saya!”

Tak seorang pun merespons. Tetap sepi dan hanya terdengar bisik-bisik gerutuan di beberapa rumah: orang-orang gila yang terganggu tidurnya. Kembali kuucap tawaran, tapi tak seorang pun muncul.

Mereka baru tergoda setelah kutampakkan wajahku ke bawah sinar lampu jalanan. Mereka tentu tak sepenuhnya tahu siapa aku, tapi wajahku bukan ciri orang-orang yang lama hidup di jalanan. Mereka dengan sabar mendengarkan sejumlah arahan dariku jika nanti sudah menghabisiku dan menyembunyikan mayatku. Kusampaikan mereka bakal menjemput kekayaan di rumah—di alamat yang kutulis untuk mereka. Tentu alamat itu bukan alamat rumahku. Itu tak lebih alamat palsu sebab jika kutunjukkan rumahku, mati yang kualami bukan lagi mati yang rahasia. Bukankah aku mengharapkan berakhir dan tak seorang pun menyadarinya?

“Bagaimana kami yakin kau tidak bohong?” tanya seseorang dari balik kegelapan.

“Apa gunanya saya berbohong, sedang saya benar-benar bosan hidup?”

“Apa buktinya kau memiliki uang dan emas?”

Tanpa berkata-kata, kulempar sesuatu yang lupa kulepaskan sejak pergi dari rumah mewahku: sebuah arloji emas.

Demikianlah, mereka menghabisiku malam itu. Mayatku dibuang ke suatu selokan di pinggir kota, ditemukan dua hari kemudian oleh sopir taksi yang sedang kencing. Tak ada yang perlu dicemaskan tentang alamat palsu itu. Alamat itu tidak lebih dari sebuah tanah kosong di bagian utara kota, tempat dulu, dua puluh tahun lalu, aku bercinta untuk kali pertama dengan kekasihku yang tidak sudi melanjutkan hubungan kami sebab aku tak pernah berharap memiliki anak.

Aku ingat apa yang kekasih itu katakan usai kami bersetubuh malam itu, “Kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik. Tak perlu takut memiliki anak.”

Aku hanya menjawab, “Oh, mustahil. Aku tak akan bisa menjadi ayah yang baik.” ***

Gempol, 14 April-15 Desember 2020


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Museum Anomali 2: Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerpen terbarunya: Pengetahuan Baru Umat Manusia.