bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.
bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.
bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang. jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?
bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?
Desember 2025
__________________________
Kangen
Kabur dari rumah karena wifi lemot,
duduk memesan secangkir kopi di kafe
Desember 2025
__________________________
Reinkarnasi
“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu
Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.
Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.
Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.
Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.
Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.
Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.
Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.
Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!
Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.
“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.
Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.
Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.
Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.
“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”
Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.
Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.
Arok Dedes yang Lahir
Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.
Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”
Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.
Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.
Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.
Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.
Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.
Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.
Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.
Sumber:
Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.
Yang resah dengan sejarah malah melihat Fadli Zon sumringah. Pada 14 Desember 2024, Fadli Zon tidak libur dari tugasnya sebagai menteri. Minggu yang masih bersuasana duka bersumber bencana di Sumatra tak mengurangi gairah Fadli Zon dalam merayakan sejarah. Ia sedang menunaikan misi besar selaku menteri bertanggung jawab dalam urusan sejarah. Sosok dengan koleksi ribuan buku dan keris itu mengesahkan penerbitan serial buku sejarah resmi nasional.
Tanggal yang dipilih dalam pengesahan disesuaikan ingatan masa lalu. Yang resah dengan sejarah mengetahui 14 Desember 1957 adalah hari awal seminar sejarah yang diadakan di Jogjakarta. Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Seminar tidak sehari saja tapi beberapa hari: 14-18 Desember 1957. Pihak-pihak berkepentingan dalam acara seminar sejarah adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.
Fadli Zon sumringah itu lumrah. Ia sedang merayakan hari bersejarah sekaligus mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa telah terbit buku resmi bagi yang ingin belajar sejarah Indonesia. Konon, penggarapan dan penerbitan buku itu diiringi protes dan perdebatan panas. Yang terjadi para sejarawan dalam instruksi pemerintah terus melanjutkan dan merampungkan.
Kita yang ikut resah gara-gara buku sejarah produksi pemerintah ingin mengelak sebelum berhasil membacanya. Bagaimana kita bisa mendapatkan bukunya? Apakah kita sanggup khatam, sebelum memberi kecaman atau pujian? Orang yang beruntung saja berhasil mendapatkan buku terbitan pemerintah. Yang kebelet bisa saja mencari jalan agar mendapat “file” atau edisi bajakan. Kita tentu bersalah bila menantikan peredaran edisi buku bajakan. Yang membajak dan mengedarkan bisa menyatakan bahwa buku produksi pemerintah dicetak terbatas. Peredarannya pun terbatas atau selektif.
Buku baru belum datang. Tangan kita belum membuka halaman-halamannya. Maka, peristiwa yang dapat dilakukan agar berkaitan dengan peristiwa sejarah dan pemaknaan 14 Desember 2025 adalah membaca buku (laporan) terbitan Universitas Gadjah Mada. Yang ada di hadapan kita adalah Laporan Seminar Sedjarah. Buku yang sederhana dan tipis.
Panitia acara menjelaskan: “Seminar jang baru diadakan pertama kali dalam sedjarah Indonesia ini memang dimaksudkan sekedar untuk mengumpulkan pelbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan-bahan jang berharga untuk menjusun dikemudian hari sedjarah nasional Indonesia jang setjara ilmiah dapat dipertanggungdjawabkan.” Kita tidak kaget bila penyelenggaraan acara tidak memiliki tujuan-tujuan akbar. Perhatikan yang tertulis di pengantar: “sekedar”. Indonesia masih berumur muda. Namun, sejarah sangat dibutuhkan demi kehormatan dan kedaulatan Indonesia.
Bagaimana suasana seminar yang “sekedar” di Jogjakarta? Kita mengutip isi laporan: “Pada waktu seminar berlangsung ternjata perhatian masjarakat besar sekali, ini terbukti dengan banjaknja pengundjung jang langsung datang dari seluruh pelosok Indonesia, misalnja dari Atjeh, Medan, Bukittinggi, Djambi, Palembang, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar dan Nusa Tenggara. Dari Djawa, hampir tiap-tiap kota besar mengirimkan wakilnja.” Ingat, yang berdatangan punya kepentingan mulia.
Kita menyimak sambutan yang diberikan Menteri PP & K Prijono: “Marilah kita bersama-sama berdoa agar halaman hitam itu tidak akan kita djumpai lagi dalam kitab sedjarah modern kita.” Apa yang terjadi? Kita diajak mengingat peristiwa di Cikini, 30 November 1957. Soekarno mendapat serangan. Malapetaka yang mengagetkan. Beruntungnya, Soekarno selamat. Maka, menteri berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi. Padahal, peristiwa itu tetap saja masuk dalam lembaran sejarah.
Selanjutnya, kita membaca peringatan yang disampaikan Sultan Hamengku Buwana IX: “Kita tahu bahwa sedjarah Indonesia jang disusun sampai sekarang pada umumnja masih mempergunakan buku-buku dan tulisan-tulisan jang berasal dari penulis-penulis pendjadjah Belanda. Padahal disamping kita harus mengakui bahwa diantara mereka ada jang berusaha menulisnja setjara objectief, tetapi pada umumnja pendjadjah Belanda itu mentjiptakan sedjarah Indonesia jang tidak lepas dari maksud politiknja, sehingga sedjarah Indonesia dibikin sedemikian rupa agar dapat menguntungkan tudjuan politik mereka.” Pembuatan buku sejarah nasional oleh para sejarawan Indonesia sangat diperlukan agar pengajaran di sekolah memberi keyakinan dapat terhindar dari dampak-dampak buruk dari kepustakaan sejarah yang disusun para sarjana Belanda.
Di Jogjakarta, acara yang diadakan tidak cuma seminar, yang mengundang para ahli. Debat-debat sempat terjadi demi munculnya saran-saran dalam penulisan buku sejarah nasional. Pameran sejarah pun diadakan. Yang melengkapi acara adalah tamasya. Para pembicara, tamu, dan panitian sejenak piknik agar tidak terlalu pusing memikirkan sejarah. Namun, piknik yang diadakan itu dicap sebagai “kunjungan ilmiah.” Mereka berdarmawisata ke Candi Prambanan.
Yang menyempurnakan adalah “malam kesenian”. Seminar yang melelahkan dihibur dengan lagu-lagu di panggung. Kita membayangkan malam itu memberi kesan “indah” setelah hari-hari memikirkan “kebenaran” dalam sejarah.
Peristiwa masa lalu itu mengajak kita menghormati para tokoh yang dihadirkan dalam usaha penulisan buku sejarah nasional meski kita sempat mengetahuinya sebagai “sekedar”. Nama-nama yang teringat dalam seminar sejarah di Jogjakarta: M Yamin, Soedjatmoko, Boejoeng Saleh, Soeri Soeroto, Poerbatjaroko, M Ali, Soegarda Perbatjaraka, Koentjaraningrat, Bahder Djohan, Soekanto, Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, dan lain-lain.
Minggu telah berlalu. Minggu bukan hanya hari libur. Kita justru diminta mengingat Minggu itu peresmian buku sejarah resmi yang dibuat pemerintah, 10 jilid: 14 Desember 2025. Kita pun sudah membaca buku laporan lawas, yang memberi ingatan-ingatan atas peristiwa di Jogjakarta. Kita membaca yang telah terjadi sambil menunggu buku laporan dari tim penulisan buku sejarah nasional yang diurus Fadli Zon. Kita ingin tahu segala hal mengenai proses penulisan buku sejarah, yang kita anggap penting agar proyek itu bukan “sekedar”.
Ada banyak cara orang membentuk seorang anak. Ada yang memilih kelembutan, ada yang memakai kesabaran, dan ada yang mempercayai bahwa disiplin hanya mungkin tumbuh dari suara tinggi, cubitan, atau pukulan ringan yang “tidak apa-apa, nanti juga lupa”.
Dan entah kenapa, dari tiga anak perempuan di rumah ini, akulah yang mendapat bagian paling keras dari cara didik itu. Bukan berarti aku tidak disayang.
Justru karena disayang, katanya.
Kalimat itu dulu sering kudengar—kalimat pembenar yang seolah-olah membuat semua bentakan terasa lebih masuk akal.
***
Namaku… ah, tidak penting.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kami semua perempuan—tiga kepala berbeda yang tumbuh dalam rumah yang sama, tapi rasanya seperti mendapat versi yang berbeda-beda dari ayah dan mama.
Aku tidak bisa bilang kakak dan adikku penurut, karena mereka juga punya keras kepala masing-masing. Tapi mereka selalu terlihat “lebih mudah dipahami”. Lebih bisa duduk manis, lebih cepat berhenti ketika dimarahi, lebih jarang membuat orang tua geleng-geleng kepala.
Sementara aku…
Aku ini kata orang-orang, “anak yang susah diam”.
Mulutku bergerak lebih cepat dari pada otak. Emosiku melonjak lebih tinggi daripada batas yang dianggap wajar. Aku membantah, aku bertanya, aku tidak langsung mengikuti apa yang dianggap benar. Dan dalam rumah yang menganut pola asuh keras, sikap seperti itu dianggap nakal.
Aku ingat sekali: cubitan di lengan kiri, pukulan ringan di paha, ditarik masuk kamar, atau diminta berdiri diam di depan pintu sambil menggigit bibir karena menahan tangis. Yang menyakitkan bukan rasa perihnya, tapi cara semua itu membuatku merasa salah tanpa tahu salahku di mana.
Kalau aku mencoba menjelaskan, aku dianggap membela diri. Kalau aku diam, aku dianggap mengabaikan. Kalau aku menangis, aku dianggap drama. Tidak ada posisi yang aman.
Sampai akhirnya aku belajar bahwa lebih mudah menelan semuanya. Lebih aman menyimpan kata dalam dada. Lebih tidak melelahkan untuk tidak berkata apa-apa. Dan tanpa kusadari, itu menjadi pola yang bertahan sampai sekarang.
***
Tuhan tidak pernah memberi ujian tanpa memberi pereda. Dalam rumah ini, penyeimbangku adalah dua orang: nenek dan tante bungsu—adik mamaku.
Kalau aku sedang dimarahi, merekalah yang paling dulu masuk kamar. Nenek duduk di sampingku sambil mengelus punggungku. Tante bungsu—wajahnya masih belia waktu itu—selalu membelaku dengan keberanian yang tak kumiliki.
“Udah, jangan pukul dia terus. Dia capek,” begitu kata tantenku sekali waktu, suaranya gemetar tapi tegas.
“Uni, nanti dia bukannya belajar malah makin takut,” katanya lagi di kesempatan lain.
Mereka tidak banyak bicara, tapi keberadaan mereka mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang lebih lembut daripada tempat aku biasa berdiri. Mungkin itu sebabnya aku bisa tumbuh dan tetap percaya bahwa kasih sayang itu ada, walau bentuknya tidak selalu ramah.
***
Walaupun begitu, luka kecil masa kecil itu tetap tinggal bersama. Bahkan setelah kami bertiga tumbuh menjadi perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, dampak dari didikan yang keras itu masih menempel pada diriku—lebih kuat daripada pada kedua saudaraku.
Kakakku tumbuh dengan cara bicara yang tegas, tapi ia tidak pernah takut menjelaskan diri. Adikku sering marah, tapi ia selalu bisa mengungkapkan apa yang ia rasa tanpa menunggu semuanya membludak.
Hanya aku yang selalu menahan. Hanya aku yang memilih diam. Hanya aku yang takut salah bicara meski sudah dewasa. Aku cerewet dengan teman, tapi paling pendiam di rumah. Aku bisa tertawa sekeras-kerasnya di luar, tapi di rumah suaraku nyaris setipis kertas.
Kadang aku ingin cerita tentang lelahku, tentang sakitku, tentang sesuatu yang mengganjal… tapi setiap kali membuka bibir, ada bayangan masa kecil yang menarikku mundur.
“Apa pun yang kamu bilang, kamu bakal salah lagi.” Suara itu masih ada.
Masih hidup di kepalaku. Masih memengaruhi caraku bernafas.
***
Puncaknya terjadi pada suatu sore yang tampak biasa-biasa saja. Aku baru pulang dalam keadaan capek, mumet, dan ingin istirahat sebentar. Mama memanggilku, menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Tapi nada suaranya naik sedikit, mungkin karena ia juga lelah.
Aku menjawab dengan nada yang kupikir masih normal—tapi ternyata terdengar keras di telinganya.
“Kamu itu kalau dibilangin jangan ngegas!” katanya.
Aku langsung terdiam. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa kecil. Semua cubitan, bentakan, dan teguran lama itu tiba-tiba muncul di belakang mata. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak marah. Bahwa aku hanya capek. Bahwa suaraku memang begini ketika lelah. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan.
Yang keluar hanya, “Iya, Ma.”
Dan itu membuat semuanya semakin salah. Mama menghela napas panjang. Suasana jadi dingin, kakakku menoleh dan adikku berhenti mengetik di ponsel. Aku merasa menjadi sorotan tanpa ingin disorot. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang selalu terlihat paling salah. Akhirnya aku masuk kamar tanpa berkata apa pun. Tidak menutup pintu keras-keras, tidak menangis keras-keras. Hanya duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.
“Aku sayang kalian… tapi kenapa rasanya selalu susah jadi diriku sendiri di rumah?”
Aku bertanya dalam hati. Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku menunduk dan entah kapan tertidur—mungkin karena kelelahan emosi.
***
Sore itu, semuanya tiba-tiba berubah. Rumah terasa lebih hangat, lebih pelan, lebih lembut. Seolah-olah waktu berdiri diam untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Mama datang menghampiri. Ayah duduk di sebelahku dengan wajah yang tidak menghakimi. Kakak dan adikku berdiri di belakang mereka, menatapku dengan mata yang benar-benar ingin mengerti. Bahkan nenek dan tante bungsu—dua orang yang selalu menenangkanku juga berada di sana.
Entah bagaimana, aku merasa aman. Aman dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku bicara.
Aku ceritakan semuanya—tentang masa kecil yang keras, tentang bentak-bentak yang membentuk ketakutan, tentang cubitan yang membuatku belajar menyembunyikan suara. Tentang bagaimana aku selalu merasa salah sebelum sempat membuka mulut.
Aku bilang bahwa aku tidak marah pada siapa pun. Aku hanya takut. Takut membuat kecewa. Takut salah bicara. Takut dianggap melawan, meski aku hanya ingin menjelaskan.
Mama memelukku sambil menangis. Papa menepuk punggungku lama-lama. Kakakku menahan air mata, menggenggam tanganku. Adikku menyandarkan kepala di bahuku. Nenek mengusap rambutku. Tante bungsu tersenyum lembut seperti dulu.
Tidak ada bentakan. Tidak ada salah paham. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat yang bisa kutinggali tanpa harus mengecilkan diriku. Aku merasa lega, ringan, dan bebas—seolah beban bertahun-tahun itu akhirnya jatuh juga dari dadaku. Semuanya terasa begitu nyata. Begitu mungkin. Begitu… tepat.
Hingga aku membuka mata.
***
Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Suara mama dari dapur. Ayah bersiap. Kakak mengikat rambut. Adikku tetap sibuk dengan ponselnya. Ruang yang semalam terasa penuh, pagi itu kembali biasa saja.
Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan hati ke-hati. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya aku, duduk di kasur dengan jantung yang masih membawa hangat dari sesuatu yang… ternyata tidak pernah terjadi.
Semua yang semalam itu—pelukan, pemahaman, keberanian yang berhasil kutemukan—tidak lebih dari sebuah mimpi.
Mimpi yang terasa terlalu nyata. Terlalu diinginkan. Terlalu mirip dengan apa yang sejak kecil ingin sekali kubicarakan. Dan anehnya, meski itu hanya mimpi…aku bangun tanpa kesedihan. Ada sesuatu yang terbuka sedikit dalam diriku. Ada ruang kecil yang tiba-tiba menemukan cahaya.
Mungkin karena mimpi itu, aku akhirnya tahu bahwa suatu hari nanti—entah kapan—aku bisa benar-benar berkata. Bukan karena dipaksa, bukan karena meledak, tapi karena aku ingin dimengerti.
Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok.
Tapi aku tahu, aku tidak akan selamanya diam. Dan ketika hari itu datang, saat aku benar-benar berani bicara, mimpi itu tidak akan lagi hanya mimpi.
Tanyakanlah pada bukit-bukit yang berdiri telanjang:
ke mana perginya akar purba yang dulu memelukku tenang?
Aku jatuh mencari dahan serta rerimbunan daun,
tapi hanya bertemu tunggul mati yang tak lagi santun.
Tanah tak punya daya untuk menahan laju,
membiarkanku liar menerjang apa saja yang kutuju.
Berhentilah mencari kambing hitam di balik kelabu,
tengoklah jejak gergaji yang memangkas paru-paru.
Banjir ini adalah air mata hutan yang dipaksa diam;
aku hanya bertugas, kalianlah yang lupa etika meminjam.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
______________________
Gugatan dari Penghuni Belantara
Air bah ini bukan tamu yang kami undang,
ia datang menagih akar alam yang kalian buang.
Rumah kami bukan lagi rimbun yang teduh,
melainkan tanah mati yang tak mampu menahan keluh.
Kami, yang jumlahnya kini dihitung jari gemetar,
dipaksa berenang di atas air mata hutan yang liar.
Kalian rampas atap kami demi kertas dan juga meja,
membiarkan kami hanyut bersama dosa yang kalian eja.
Dulu kami lari dari moncong senapan dan jerat,
kini bingung saat tanah pijakan ikut berkhianat.
Hutan gundul tak lagi punya rahasia untuk nyawa,
tak ada dahan kokoh mendekap kami yang tersisa.
Saat kalian sibuk menghitung rugi di kota yang basah,
kami di sini menghitung detak napas yang pasrah.
Kelak, katakan pada cucumu tanpa alibi:
kami punah karena rumah ini digadaikan,
lalu kalian tenggelamkan sendiri.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
______________________
Di Bawah Kibaran Panji Seragam
Hutan yang dulu riuh dalam ribuan bahasa,
kini dipaksa berbaris rapi, lupa caranya tertawa.
Segala yang liar dan berbeda dianggap dosa,
diganti satu rupa demi deretan angka di atas meja.
Di sana, hijau bukan lagi rimbun yang bernyawa,
melainkan kesunyian yang ditata paksa manusia.
Tanah memikul beban akar asing yang egois,
menghisap air tanah hingga ke tetes paling krisis.
Hujan meluncur deras tanpa sempat ditepis,
sebab jejaring purba di dalam tanah telah terkikis.
Bumi tak lagi menjadi ibu yang memeluk manis,
sekadar mesin produksi yang diperas hingga tipis.
Jadi, jangan heran saat sungai meluap membawa dendam,
bukit kehilangan tangan untuk mendekap malam.
Di hamparan monokultur yang angkuh serta rapuh,
kita sedang menggali kubur sendiri, pelan dan patuh.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
________________________
Di Tepi Riwayat yang Basah
Air masuk tanpa permisi, merobek hangat ruang tamu,
menyisakan rangka rumah yang mendadak bisu.
Segala kenang juga tawa hanyut seketika,
jejak hidup dihapus arus yang datang membawa duka.
Malam pecah oleh gemuruh, tangan-tangan terlepas paksa,
teriakan ibu ditelan angin yang mendadak tuli rasa.
Ada tubuh kaku dipulangkan arus dengan kelam,
sisanya menggigil di atap, mendekap malam yang suram.
Rindu menjadi jarak yang tak terjangkau perahu karet,
hanya doa tersisa, tersangkut di ranting yang macet.
Lapar dan dingin kini memeluk tubuh tanpa sungkan,
menunggu bantuan yang datang perlahan dalam ketidakpastian.
Di bawah tenda darurat, mata nanar menatap kehancuran,
manusia kembali menjadi tumbal dari keserakahan zaman.
Inilah panen pahit dari dosa ekologis yang ditanam,
buahnya selalu berupa air mata yang terendam.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
_______________________
Di Atas Meja Transaksi
Di mata mereka, rimba hanyalah angka yang menunggu cair,
gergaji melolong merobek sepi, memutus takdir.
Segala yang bernapas dipaksa mati jadi lembar rupiah,
menukar paru-paru bumi dengan keserakahan yang pongah.
Hijau bagi Tuan bukan kehidupan, melainkan emas semata,
membangun istana megah di atas tanah yang kini buta.
Riwayat hutan dihapus demi grafik laba yang mendaki,
tak peduli pada sungai yang kering juga satwa yang lari.
Mereka tertawa riang di balik tembok gedung yang dingin,
merasa menang menaklukkan tanah, air, dan angin.
Padahal mereka sedang menggali liang lahat sendiri,
menunggu saat alam datang menagih janji yang ngeri.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
_______________________
Maria Utami. Ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Sebagian naskah puisinya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.
Sejak masa muda, Adinegoro sering melakukan perjalanan. Ia mengerti pelbagai negeri. Sosok yang sibuk dalam pers tidak membiarkan perjalanan tanpa catatan atau ingatan. Maka, ia sering membuat tulisan-tulisan yang mengajak pembacanya turut dalam perjalanan. Adinegoro mahir menggerakkan kalimat-kalimat, yang bersifat memberitakan dan menceritakan. Yang ditulisnya sering memikat pembaca.
Pada masa kolonial, ia seperti “membawakan” dunia kepada para pembaca di tanah jajahan. Ia kembalai dari keliling dunia tidak membawa “globe” atau “bola dunia”. Yang ia suguhkan adalah kata-kata. Jumlah potret pun terbatas. Namun, ia mampu membuat pembacanya bergerak jauh untuk mengetahui gunung, sungai, bukit, hutan, danau, sawah, dan lain-lain. Adinegoro percaya kata-kata, yang nantinya membuat pembaca membuat “gambar” agar mengenali tempat-tempat yang diberitakan atau diceritakan.
Buku yang digarapnya selalu terkenang sampai sekarang: Melawat ke Barat. Buku yang merekam banyak negeri, yang membuat pembaca memiliki “peta-kata”. Bagaimana caranya kata-kata membentuk dan menghidupkan peta dunia? Yang pernah membuktikannya adalah Adinegoro. Ia sebenarnya memiliki beragam maksud selama perjalanan. Penguasaan bahasa membuatnya tidak menyia-nyiakan pengalaman, selain ia harus belajar pelbagai referensi agar tulisan tak sekadar selesai sebagai “pandangan mata”. Artinya, Adinegoro yang melakukan perjalanan sebenarnya mengalami petualangan pengetahuan (pustaka).
Pada 1954, terbitlah buku berjudul Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi susunan Adinegoro. Ingat, Adinegoro bukan guru. Sejak masa kolonial, ia kondang sebagai pengarang dan wartawan. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang terus bertambah membuatnya pantas menjadi guru atau yang mengajari guru-guru. Buku yang dibuatnya itu sasarannya adalah guru-guru agar dalam mengajarkan geografi memiliki bekal-bekal yang memadai. Kita menyebutnya geografi tapi Adinegoro dan orang-orang masa lalu menamainya ilmu bumi. Penamaan yang akrab dan khas ketimbang kita segera mengikuti penamaan dari Barat yang berbahasa asing: geografi.
Adinegoro sedang mengajar, yang dimulai dengan sajian peta Indonesia di sampul buku. Yang mau belajar ilmu bumi niscaya berurusan dengan peta. Ia menjelaskan: “Ilmu bumi berisi pengetahuan tentang penjelasan gedjala-gedjala alam, hajati (biologis), ekonomi dan sosial dimuka bumi, dan memperhatikan seluk beluk gedjala-gedjala itu dengan tanah tempat keadaan dan kedjadiannja. Tjara penjelidikan dan keterangannja haruslah menurut dasar chronologis (penjebaran) dan dasar kausal (sebab-akibat).” Pada masa revolusi, belajar ilmu bumi sangat penting demi mengetahui Indonesia di peta dunia. Ilmu bumi yang dipelajari di sekolah-sekolah memberi pengetahuan dan kesenangan. Murid-murid seolah melihat Indonesia dan dunia sebelum semuanya mudah oleh televisi dan internet.
Ilmu bumi kadang mengingatkan bencana. Yang diterangkan Adinegoro: “Di Indonesia sadja ada 125 gunung berapi dan ratusan jang telah mati apinja, jang telah lama tidak berasap… Di Indonesia dan di segala tempat jang banjak gunung berapi, sering timbul gempa bumi atau lindu, kadang-kadang hampir tak terasa, kadang-kadang sangat kuat sehingga meruntuhkan rumah-rumah. Di sepandjang retakan bumi, sering terdjadi tanah runtuh dalam bumi, maka timbul pulalah gempa, jang tidak disebabkan oleh gunung meletus.” Ia menulis kalimat-kalimat supaya pembaca paham. Pengajaran lama itu pasti menyulitkan untuk murid-murid masa sekarang. Mereka butuh gambar (bergerak) agar pengetahuan itu mudah dipahami dan memberi kesan yang kuat. Pembaca boleh pula membandingkan penggunaan istilah. Dulu, Adinegoro menulis “tanah runtuh”. Pada masa berbeda, kita mengetahuinya “tanah longsor”.
Selanjutnya, kita mengutip masalah bahasa dalam ilmu bumi. Mengapa bahasa ikut dibahas dalam ilmu bumi atau geografi? Kita mendingan meminta penjelasan kepada para ahli. Adinegoro sedikit ikut menerangkan: “Bahasa adalah sjarat jang penting untuk membagi penduduk dunia ini mendjadi beberapa golongan, sjarat jang terpenting untuk perhubungan sosial antara manusia. Kata peribahasa: hilang bangsa karena bahasa. Rumpun bahasa-bahasa Indonesia termasuk pada golongan Austronesia. Nama ini adalah nama kumpulan bahasa-bahasa dari Asia Selatan dan Austronesia. Jang masuk golongan-golongan bahasa Asia Selatan ialah bahasa Munda di India-Depan, Khasi dan Mon-Khmer di Siam dan bahasa-bahasa di pula Nikobar. Jang termasuk golongan Austronesia ialah rumpun bahasa Indonesia bersama dengan rumpun bahasa Melanesia dan Polynesia. Jang chusus rumpun bahasa Indonesia ialah segala bahasa di Indonesia ketjuali sedjenis bahasa-bahasa di Halmahera Utara, Alor, dan Irian.”
Pada masa 1950-an, studi bahasa di Indonesia masih diurusi banyak orang asing. Indonesia memang memiliki lembaga bahasa nasional atau komunitas kebahasaan tapi kerja-kerja belum menunjukkan hasil besar. Kehadiran para ilmuwan asing justru memberi asupan besar saat Indonesia direpotkan revolusi. Urusan bahasa mungkin “ketinggalan” meski sudah diingatkan berperan penting dalam penjelasan negara-bangsa, setelah keberakhiran Perang Dunia II. Pada masa Orde Baru, masalah bahasa-bahasa di seantero Indonesia tetap belum mendapat perhatian besar. Maka, kepunahan bahasa-bahasa adalah kewajaran.
Ilmu bumi memuat pula perkara pangan. Perbedaan iklim dan tanah menentukan mata pencaharian. Di pelbagai negeri, kondisi-kondisi yang berbeda mengakibatkan perbedaan dalam menghasilkan pangan. Pola makan terbedakan lewat jenis makanan pokok. Adinegoro membuat beberapa kalimat mengenai nasi, yang masuk dalam pembahasan peta-pangan.
Adinegoro mengungkapkan: “Sekurang-kurangnja 700 djuta manusia didunia memakan nasi setiap hari, istimewa penghuni ‘daerah-musim’. Padi memerlukan banjak air dan suhu jang agak tinggi…” Indonesia termasuk negara yang “ketagihan” nasi. Artinya, nasi sebagai makanan pokok kadang membuat Indonesia kewalahan dalam pertanian. Yang terjadi adalah impor. Konon, Soeharto berani mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan (padi) pada masa 1980-an.
Informasi penting bermasa lalu: “Tahun 1952 di Indonesia harga beras sekitar 3 rupiah, jaitu dihitung menurut angka sadja telah 60 kali lipat harganja dari sebelum perang. Harga beras diluar negeri dalam tahun 1952 mendjadi 10 kali lipat dari harga sebelum perang, hingga mendjadi salah satu barang timbunan jang paling mahal didunia, sedang produksi di Indonesia kenjataan lebih rendah dari tahun 1940.”
Pada masa 1950-an, buku buatan Adinegoro mungkin diminati para guru yang mengajar ilmu bumi dan murid-mirid yang ingin “banyak tahu”. Dulu, referensi yang dimiliki masih terbatas. Akibatnya, pengajaran ilmu di sekolah-sekolah membutuhkan buku-buku yang mudah dipelajari meski belum lengkap. Adinegoro memberi sokongan melalui buku yang diterbitkan oleh Gunung Agung. Buku yang bermutu pada masanya tetapi memerlukan banyak ralat setelah kehadiran kepustakaan yang berdatangan dari pelbagai negara.
Di Indonesia, yang berminat dengan geografi pun makin bertambah, yang memungkinkan adanya jurusan geografi di universitas. Apakah yang terus belajar geografi pada abad XXI masih mengingat Adinegoro dan buku lama yang menampilkan peta Indonesia? Buku itu boleh terbiarkan tanpa pembaca lagi saat dunia makin mudah dilihat dan dipelajari.