Buku, Resensi

Alangkah Sukarnya Menjadi Presiden Indonesia!

Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri

Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman

Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif

Penerbit: IRCiSoD

Tahun: 2019

Isi: 432 hlm.

Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:

Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.

Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.

Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.

Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.

Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?

Belajar dari Sejarah

Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.

Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.

Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).

Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?

Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.

Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!

Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.

Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.

Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?

Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.

Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.

Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!

Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.

Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]

____________________

Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Buku, Resensi

Mengenang Saat Bocah

Oleh M. Ghaniey Al Rasyid

Kata Freud kepribadian seseorang itu dimulai sedari bocah. Meski demikian teori psikonalisa sampai Phalus Envy nya Freud tetap mengundang kritik. The Childhood is the Father of Man, kurang lebih demikian.

Masa kanak-kanak menyiratkan sebuah kisah nan mendalam. Keberadaannya seperti rekaman yang menembus waktu. Beberapa aktivitasnya acap kali teringat mewarnai insan yang sadar. Kita ada dari puing-puing silam yang berlalu. Hari ini dan esok, konon kitalah yang menentukannya.

Kita bertemu dengan kisah silam. Para esais itu merangkai kata, membeberkan pengalaman yang silam, bocah yang meninggalkan masa kanak-kanaknya itu, berujar jujur.

Buku itu aku temukan di toko buku Gladag. Sore nan basah itu, aku menyelinap mengais tumpukan buku yang dimakan jamur. Ganang pemilik toko, setengah sadar tertidur, sambil memutar tape. Lagu gubahan K3S membikinnya mengantuk sambil menekuk tengannya menjadi bantal.

Aku mengangkat buku-buku yang bertumpuk. Tumpukan buku paling bawah seakan berbisik untuk merogohnya. Debu-debu beterbaran, membikinku bersin. Aroma jamur bercampur aroma tetikus dan kecoak yang menguar, memaksaku untuk tersendat-sendat bernafas.

Sebuah buku berjudul ‘Mengenang…’ membikinku terperanjat. Buku itu terbit tahun 2012, oleh penerbit Jagat Abjad. Tersirat di pojok kanan kaver buku bertulis -Bandung Mawardi, sebagai editor.

Buku itu aku selamatkan. Ia nampak mengenaskan. Kavernya hampir lepas, namun sesampainya di tempat mengetik, aku rekatkan kembali dengan lem. Aku mengira buku itu tidak asli atau imitasi. Penerbit memilih kertas buram, seperti kertas koran. Beberapa bagian sisinya lecek seperti terendam oleh air.

Syahdan, aku menghiraukan itu. Aku fokus dalam isinya. Dua puluh empat penulis, membicarakan tentang masa kanak-kanak. Mereka begitu keranjingan. Seluruh ingatannya tentang masa ketika bocah, tepatnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ditulis dengan rapi.

Para esai itu mengajakku untuk hadir dan menyigi sudut pandang satu ke lainnya. Esai Afrizal Malna terselip di situ. Adalah Rumah Kata dan Menggigit Sapu Tangan. Ia jujur, menulis kisah dirinya sewaktu bocah.

Mulanya adalah Ibu. Ia mengajarkannya untuk berkenalan dengan kata. “Kamu cukup memegang 26 huruf untuk hidupmu,” kata Ibunya. “Bersama bilangan 0 dengan 9 bilangan lainnya,” tambahnya.

Berkenalan dengan kata, membikinnya bersemangat. Setiap merapal kata yang berjejer dengan huruf-huruf lainnya, ia berteriak. Suaranya membikin telujuk ibunya mendarat persis di mulutnya, “jangan berteriak begitu.” Dia malu tetanggannya terusik oleh rasa keranjingan saat berkenalan dengan kata-kata.

Kata-kata itu kemudian terbesit dalam ingatannya. Segalanya yang nampak di mata, akan tersirat dalam rangkaian huruf membentuk sebuah kata, kalimat sampai rentetan paragraf.

Perjumpaannya dengan kata, membikinnya berkembang. Meski demikian, ia mengaku, perjumpaannya dengan bilangan tak seakrab dengan huruf. Ia pergi ke sekolah, dan pulang karena mencret, lantaran bertemu dengan bilangan dan hitung.

Hal senada namun tak serupa, ditulis oleh Rahmah Purwahida. Adalah Kepada Anak-Anak yang Sekarang Telah Dewasa. Kali ini beda dengan Afrizal Malna yang mencret saat bertemu Matematika, sedangkan Rahmah Purwahida sebaliknya. Ia sangat menyukai Matematika.

Perkenalan dengan Sekolah Dasar, lengkap dan bersahabat dengan Matematika. Beberapa kali ia mendapatkan nilai ujian yang unggul di Matematika. Ia begitu mencintai matematika, sampai-sampai lewat matematikan ia berjumpa dengan puisi-puisi.

Perkenalan dengan kata dan puisi tak lahir begitu saja. Ada sebuah perkenalan yang mengantarkannya. Perkenalan itu lewat Matematika. Perjumpaannya tak seperti Wittgenstein. Saat ujian berlangsung, ia berhasil menyelesaikan soal matematika. Teman-temannya masih bergelut dengan angka. Rahmah berhasil keluar ruangan lebih dahulu. Angka-angka itu terlalu gampang baginya.

Walakin, nasib berkata lain. Ia teledor untuk mengerjakan soal esai matematika. Ia berhasil menyelesaikan soal pilihan ganda. Soal esai tak terselip, naas hasil akhir membikinnya murung. Ia mendapatkan nilai 48. Nilai yang mampus bagi seseorang yang mencintai Matematika.

Rahmah merasakan derita. Nilai Matematikanya remuk. Ia mengurung diri di kamar, sampai-sampai kedua orang tuanya gelisah. Bahagia berganti murung, kengerian nampak seperti kisah dalam guratan Edgar Allan Poe. Ia tercabik-cabik. Mukanya jadi pucat pasi, serasa tak berarti untuk digeluti.

Kedua orang tua dan guru tak ingin Rahmah hanyut dalam derita. Sebuah kalimat meluncur, membikin Rahmah untuk menginjak segalanya yang telah terjadi. Ia ingin menghempaskan kengerian itu –nilai matematikanya remuk. Batinnya seperti bergeming, oleh kata-kata indah yang menggulung kengerian. Ia kemudian bertemu dengan chairil anwar. Sebuah sajak berjudul ‘Aku’.

Rahmah membacanya penuh semangat. Kata dan nada yang keluar dari sela-sela giginya, menggetarkan penikmatnya. Kengerian yang menggumpal ia hempaskan dengan membaca sajak-sajak. Sajak itu menggema, membikin pendengarnya bergidik.

Kepiawannya saat bertemu dan membaca sajak, mendapatk perhatian. Saat-saat penting misalnya dalam acara di kelurahan, sekolah, kecamatan, kantor gubernur Bandar Lampug, mengundang Rahmah untuk membaca sajak. Rahmah menemukan teman baru, yaitu kesusastraan.

Saat akan lulus dari SMA, ia tetap mencintai Matematika. Namun, ada satu hal yang membikin bulu kuduknya bergidik. Adalah kejelitaan. Ia tak ingin rambutnya botak seperti Einstein. Ia tak ingin ruwet. Rambutnya ingin tetap lebat, tebal dan harum. Kemudian, aku mengingat Naomi Wolf menyoal kecantikan. Ia kemudian memilih Bahasa Indonesia, ya memilih untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.

Kisah-kisah itu tersirat dengan teliti dan jujur. Para esais itu berkisah yang silam meskipun berlalu, tetap hadir dalam hidupnya. Ia bersama dalam elan vital yang menancap dalam kalbunya. Mengais untuk renungan sepi di malam sunyi. Waktu yang berlalu tak akan pernah kembali.

____________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra yang Tinggal di Kota Surakarta

Buku, Resensi

Belajar Hidup dari Malaikat Maut

Oleh Erna Surya

Kadang, kematian bukanlah tentang berakhirnya hidup, melainkan tentang bagaimana seseorang akhirnya benar-benar hidup. Seo Eun-chae menulis novel Seminggu Sebelum Aku Mati (Haru, 2024) dengan kesadaran itu—bahwa manusia sering kali baru memahami arti hidup justru ketika kematian datang mengetuk.

Novel ini dibuka dengan premis sederhana: seorang perempuan bernama Jeong Hee-wan diberi waktu tujuh hari sebelum ia mati. Namun yang membuatnya tak biasa adalah sosok yang datang menjemputnya: Kim Ram-woo, cinta pertamanya yang telah lama meninggal. Ram-woo kini menjelma sebagai malaikat maut.

Malaikat maut di sini bukan sosok mengerikan bersayap hitam, melainkan kehadiran yang tenang—seolah cinta yang belum selesai. Ia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menemani Hee-wan menutup hidupnya dengan damai. Ia datang bukan dengan sabit, melainkan dengan kenangan.

Hee-wan diberi waktu tujuh hari untuk “menyelesaikan urusannya di dunia”. Dalam rentang waktu itu, ia membuat daftar keinginan kecil: menonton film yang belum sempat selesai, mengunjungi tempat yang pernah ia datangi bersama Ram-woo, menulis surat kepada diri sendiri.

Namun, daftar itu perlahan berubah menjadi perjalanan batin. Setiap hari membawanya ke lapisan baru dari rasa kehilangan—dan penemuan. Ia belajar memaafkan dirinya sendiri, menerima luka masa lalu, dan memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama selamanya.

Seo Eun-chae menulis dengan nada lirih. Tidak ada letupan besar, tidak ada air mata yang berlebihan. Justru dari kesunyian itu muncul kekuatan emosional yang dalam. Ia membuat pembaca memahami bahwa kesedihan yang paling tajam bukanlah tangisan, melainkan keheningan yang panjang.

Banyak karya sastra Korea modern berbicara tentang kehilangan dan waktu. Namun Seminggu Sebelum Aku Mati membawa nuansa berbeda. Ia memadukan realisme psikologis dengan sentuhan spiritual yang lembut.

Ram-woo bukan hanya figur cinta lama, tetapi juga simbol tentang waktu yang tak kembali. Dalam dirinya, Hee-wan melihat apa yang ia relakan dan sekaligus apa yang tak pernah bisa ia lepaskan. Maka perjalanan tujuh hari itu menjadi semacam ritus perpisahan yang suci: sepasang jiwa yang pernah saling mencintai, kini berjalan berdampingan menuju akhir.

Novel ini menolak pandangan biner antara hidup dan mati. Seo Eun-chae tampak ingin berkata bahwa keduanya hanyalah dua sisi dari keberadaan yang sama. Hidup, seperti halnya kematian, adalah proses pulang.

Di satu bagian, Hee-wan berkata pelan, “Aku tidak takut mati. Aku hanya takut hidup tanpa alasan.”

Kalimat itu sederhana, tapi menembus jantung tema novel ini: ketakutan manusia bukan pada kematian itu sendiri, melainkan pada kemungkinan hidup yang sia-sia.

Seo Eun-chae punya gaya penulisan yang khas—lirih, sinematik, dan penuh udara. Ia tidak terburu-buru. Setiap bab seolah dibuat untuk dibaca pelan-pelan, memberi ruang bagi pembaca untuk ikut bernapas bersama tokohnya.

Dalam terjemahan Dwita Rizki, bahasa novel ini tetap terjaga kepekaannya. Diksi sederhana tapi tajam. Tidak ada kalimat yang ingin terdengar indah secara berlebihan; justru dalam kesederhanaan itu, maknanya menjadi dalam.

Struktur cerita yang dibagi dalam tujuh hari membuat novel ini terasa seperti perjalanan spiritual yang runtut. Setiap hari adalah fase kesedihan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Seo Eun-chae tidak menuliskannya secara eksplisit, tapi emosi itu terasa jelas di bawah lapisan narasi.

Ia seperti menyusun peta jiwa dalam bentuk kisah cinta.

Ada banyak simbol bertebaran di dalamnya: laut, langit senja, rel kereta, dan jembatan. Semua itu melambangkan perlintasan—antara hidup dan mati, masa lalu dan masa kini, keberadaan dan ketiadaan.

Laut, misalnya, selalu muncul di saat-saat penting: tempat di mana Hee-wan merasa hidup sekaligus mati; tempat di mana Ram-woo mengajarinya arti melepaskan. Laut bukan sekadar pemandangan, tapi lambang tentang kedalaman diri yang harus ia selami sebelum benar-benar pulang.

Simbol-simbol itu tidak disusun dengan pretensi intelektual. Semuanya mengalir alami, seperti ingatan yang muncul di kepala seseorang yang sedang menunggu ajalnya dengan tenang.

Novel ini juga berbicara lembut tentang isu kesehatan mental. Hee-wan digambarkan sebagai sosok yang “hidup tapi tidak sungguh-sungguh hidup.” Ia berjalan di antara rutinitas kosong, kehilangan arah, dan merasa bahwa dunia tidak lagi menawarinya apa pun.

Kehadiran Ram-woo—meski dalam bentuk kematian—justru menjadi pengingat untuk hidup. Inilah ironi yang indah dari novel ini: kematian menjadi penawar bagi keputusasaan. Seo Eun-chae tidak memotret depresi secara klinis, tapi secara eksistensial: rasa kehilangan makna, rasa bersalah, dan ketidakmampuan mencintai diri sendiri.

Maka ketika Hee-wan akhirnya mampu menatap langit tanpa air mata di hari ketujuh, itu bukan kemenangan besar, tapi penerimaan kecil yang menenangkan.

Kelemahan novel ini mungkin terletak pada ritme yang sangat lambat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan konflik cepat, kisah ini bisa terasa datar. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia tidak memaksa kita untuk larut dalam drama, tapi mengajak kita untuk duduk diam dan mendengarkan kesunyian.

Setiap kalimat seperti undangan untuk berhenti sejenak—menyadari bahwa hidup kita sendiri pun sebenarnya sedang berjalan menuju ujung, dan mungkin yang kita butuhkan hanya keberanian untuk menerima itu dengan damai.

Seminggu Sebelum Aku Mati bukan kisah romantis dalam arti konvensional. Ia lebih tepat disebut meditasi tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk hidup. Seo Eun-chae menulis seolah ingin membisikkan pesan: bahwa mati tidak selalu berarti berakhir, kadang ia justru awal dari kehidupan yang lain.

Dalam setiap halusnya percakapan antara Hee-wan dan Ram-woo, kita diajak menyadari bahwa yang membuat hidup berharga bukanlah panjangnya waktu, melainkan kesadaran penuh di dalamnya. Tujuh hari dalam novel ini terasa seperti seumur hidup. Dan mungkin memang begitulah hidup: sebentar, tapi bisa sangat penuh.

Ketika novel berakhir, yang tersisa bukan kesedihan, melainkan kelegaan.
Hee-wan telah berdamai dengan kematiannya, dan pembaca—anehnya—ikut merasa tenang.

“Kadang, kematian hanyalah cara cinta untuk pulang,” tulis Seo Eun-chae.

Dan kita pun tahu, setelah menutup buku ini, bahwa mungkin hidup memang seharusnya dijalani seperti itu: dengan kesadaran bahwa setiap hari bisa menjadi yang terakhir, dan justru karena itu, setiap detiknya berharga.

___________________

Erna Surya. Penulis dan pembaca sastra, berprofesi sebagai seorang guru.

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Buku, Resensi

Populisme Kiri: Menggugat Hegemoni, Meradikalkan Demokrasi

Oleh Muhammad Teguh Saputro

Frasa suci dalam catatan sejarah yang sudah tidak asing lagi kita dengarkan mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tentang perebutan kekuasaan. Makna besar kekuasaan dalam frasa tersebut tidak semata tentang tahta kepemimpinan, susunan kabinet, atau kursi parlemen, melainkan lebih dari itu, pertarungan ide, gagasan, media, bahkan massa yang terkoneksi menjadi suatu tatanan sistem – ekonomi dan politik – yang bersifat mendominasi dalam segala lini kehidupan.

Perebutan wacana ide besar tatanan kehidupan – sistem, tidak lagi menjadi topik baru dalam altar peradaban manusia. Terhitung sejak lahirnya Revolusi Prancis di abad ke 18 sampai mencairnya Perang Dingin di senjakala abad ke 20 –tarik-menarik dominasi di percaturan politik global tidak pernah berhenti. Sejarah panjang yang populer dikenal dengan perebutan wacana antara Faksi Kanan dan Faksi Kiri perlahan berhenti ketika banyak negara secara bergilir mencapai titik konsensus yang dianggapnya sebuah konklusi dari konflik panjang ini. Konsensus yang dengan sepakat diberi nama demokrasi.

Titik Nadir Demokrasi

Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia yang menyandang gelar profesor teori politik di University of Westminster, UK, menguraikan narasi dengan arah arus yang sangat baru dan berbeda. Lewat bukunya yang berjudul Populisme Kiri, Mouffe membeberkan bahwa konsensus demokrasi yang dulu dicita-citakan sebagai titik netral dengan menjunjung nilai kesetaraan dan kedaulatan, hari ini berada di titik nadir dengan semakin dominan dan kuatnya faksi Kanan – populis, yang terus mengglorifikasi politik identitas, sentimen rasial, keagamaan, kesukuan, xenofobik. Sebuah titik yang tidak pernah terbayangkan, titik konsensus yang dianggap netral dan setara hari ini berada di tangan-tangan populis yang mengimani pandangan yang bertolak belakang dari cita-cita.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri juga membeberkan tentang ruang demokrasi yang terkungkung dalam genggaman kaum populis saat ini bukan tanpa alasan. Mouffe lewat catatan dan analisa yang ditulisnya setidaknya mengatakan, titik nadir demokrasi di tangan kaum populis hari ini lahir dari jurang kesenjangan yang dilahirkan ruang demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tatanan sistem konsensus demokrasi pasca perang dingin yang mengaburkan batas kanan-kiri melahirkan suatu pondasi sistem yang rentan akan krisis. Liberalisme yang semakin berkembang setelah mendapat tempat di sisi demokrasi pasca-konsensus, sejak awal mempunyai bagian yang saling bersinggungan dan bersifat kontradiktif.

Demokrasi yang berdiri dengan tiang agung kesetaraan dan kedaulatan, bertolak belakang dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan individualisme. Perkawinan dua sistem yang mempunyai kontradiksi tersebut seakan tampil menjadi wacanan sistem baru yang bersifat mengakomodir. Dengan dibantu kinerja-kinerja hegemonik oleh berbagai formula hegemoni — seperti birokrasi, media, dan wacana globalisasi – sistem konsensus ini berkembang dengan sangat pesat namun menyimpan kerentanan yang sangat besar di baliknya.

Konsensus yang kemudian hari dikenal dengan istilah demokrasi liberal,berkembang dengan semangat mengalenisasi wacana rakyat– terganti dengan wacana kebebasan individu – mencapai titik nadirnya pada pecahnya krisis ekonomi internasional, seperti di tahun 2008 yang menimpa dan membuat dampak yang fatal bagi negara-negara besar demokrasi.

Ketimpangan dan kesenjangan yang dilahirkan demokrasi liberal semakin jelas pasca-krisis. Imbasnya, momen populis–momen merebut kembali kedaulatan dan wacana rakyat yang ada di banyak negara dan bersifat resistance–lahir dan diikuti meletusnya gerakan besar alternatif melawan hegemoni liberalisme.

Momen populis ini semakin tumbuh. Dengan metodologi redefinisi yang jelas antara makna dan siapa-kita serta makna dan siapa-mereka, (baca: rakyat v.s elit), kaum populis memanfaatkan momen ini dengan dalih memulihkan demokrasi. Alih-alih memulihkan ke cita-cita awal – kedaulatan dan kesetaraan – demokrasi semakin mencapai titik nadirnya dengan politik identitas, intoleransi, dan sentimen rasial di bawah tempurung populis-kanan.

Merebut dan Meradikalkan Demokrasi

Keprihatinan mengenai kondisi demokrasi saat ini yang – kebanyakan – berada di bawah kendali kaum populis – yang semakin menjauhkan tatanan dari kesetaraan – membuat beberapa filsuf dan akademisi politik berdebat dalam merumuskan strategi untuk merebut kembali demokrasi. Di posisi inilah Mouffe tampil dengan gagasan yang tertuang di bukunya; Populisme Kiri. Menurutnya, kondisi hari ini tidak semata gagalnya konsensus demokrasi liberal membendung krisis yang berakibat kesenjangan yang begitu besar, tetapi lebih dari terdapat fenomena realitas lain, yakni matinya gerakan revolusioner (baca:kiri), dan keberhasilan kaum populis memanfaatkan momen – kesempatan yang dihasilkan krisis.

Gerakan revolusioner sibuk menenggelamkan diri dengan perdebatan internal mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk merebut demokrasi. Banyaknya faksi yang terdapat dalam arus ini masih sibuk berdebat mengenai metodologi revolusi yang akan digulirkan. Beberapa memilih revolusi total, beberapa lain menyimpang dan memilih memasuki pusaran sistem dan berusaha merovolusi dari dalam. Imbasnya, ketiadaan keselarasan visi tersebut semakin melemahkan arus gerakan dan mengaburkan tujuan awal.

Sedangkan di sisi lain, faksi tandingan yang dikenal dengan istilah populis berhasil memanfaatkan krisis yang dilahirkan demokrasi liberal. Jurang kesenjangan berhasil dimanfaatkan kaum populis untuk meredefinisi musuh bersama. Wacana rakyat yang selama ini perlahan hilang dari gelanggang demokrasi, direbut dan dimunculkan kembali sebagai kendaraan untuk merebut demokrasi dan mengantarkan pada kemenangan – kekuasaan.

Mouffe, sebagai salah seorang yang prihatin terhadap kondisi yang dilahirkan kaum populis ini mencoba merumuskan dan menawarkan strategi baru untuk kaum revolusioner yang kehilangan arah. Bagi Mouffe, strategi populis yang berhasil tersebut dapat kita adopsi, meski tentu dengan berbagai catatan yang membedakan.

Mouffe menjelaskan, keberhasilan kaum populis sangat dipengaruhi momen populis yang dilahirkan oleh krisis. Momen populis yang dimanfaatkan gerakan untuk meredefinisi realitas guna membentuk wacana publik tersebut harus dimanfaatkan sebagai momen mengonsolidasi perlawanan. Jika kaum populis mendefiniskan dengan garis demokrasi yang jelas antara rakyat dan elit, yang dimanfaatkan untuk meraup suara, kaum kiri haruslah mampu melakukan hal yang sama. Membedakan diri dan menciptakan musuh bersama di wacana publik, serta merangkul berbagai elemen untuk mewujudkan kontra-hegemoni secara bersama.

Mouffe menyadari kemapanan sebuah sistem – termasuk demokrasi liberal – sangat ditopang oleh keberhasilan sebuah formula yang bersifat menghegemoni. Meminjam teori yang pernah diajarkan Antonio Gramsci, Mouffe menjelaskan melawan hegemoni tidak lain dengan menciptakan formula baru yang bersifat kontra-hegemoni.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri ini mengajak pembaca untuk merefleksi strategi yang pernah dilakukan kaum populis – dan berhasil, untuk diadopsi dan dimodifikasi dalam gerakan yang lebih revolusioner guna keluar dari hegemoni liberalisme dan menyelamatkan pilar demokrasi yang diinjak-injak kaum populis sejauh ini.

Mouffe yang percaya bahwa demokrasi dan negara adalah ruang netral untuk saling menciptakan ide-ide yang membentuk formula hegemoni, secara sederhana dia mengajak pembaca untuk menggugat hegemoni yang selama ini melahirkan krisis – liberalisme, dengan menciptakan formula kontra-hegemoni untuk turut mewarnai ruang demokrasi, serta menciptakan perubahan yang radikal dalam sistem demokrasi untuk cita-cita mulia yang pernah dimimpikan bersama. Bahwa demokrasi adalah sebuah konsensus untuk menegakkan kesetaraan dan kedaulatan di tangan rakyat – bukan elit, oligarki, dll. Pentingnya kemenangan kiri untuk menyelamatkan demokrasi harus disertai pentingnya membentuk wacana publik lewat momen populis, menciptakan formula kontra-hegemoni sebagai alternatif, serta meradikalkan sistem demokrasi untuk menciptakan berbagai perubahan-perubahan besar yang dimimpikan rakyat.


Muhammad Teguh Saputro, mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Buku, Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.

Buku, Resensi

Negara, Peliknya Administrasi dan Hidup Orang-orang Biasa

Oleh Poppy Trisnayanti Puspitasari

La Muli tidak dibuka dengan adegan mengerikan. Lembar-lembar selanjutnya pun, tidak dihiasi orang yang mati bunuh diri, adegan seks tersurat hingga pembantaian. Bagi pembaca yang terbiasa mengonsumsi sastra serius dengan cerita menghentak dan berdarah-darah, La Muli barangkali mengejutkan. Namun bagi pembaca yang sebelumnya pernah membaca karya lain dari Nunuk Y. Kusmiana, ketiadaan hal-hal ekstrim tadi tentu tidak bikin terkejut.

Lengking Burung Kasuari (LBK), menjadi karya perdana Nunuk yang menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lalu. Nyaris serupa dengan La Muli, LBK menceritakan kehidupan sehari-hari pendatang di tanah Irian Jaya. Jika LBK menceritakan kehidupan keluarga tentara kelas menengah yang pendatang dari Jawa, La Muli sebaliknya. La Muli justru menceritakan kehidupan kelas bawah keluarga nelayan pendatang dari Buton.

Pergulatan keluarga dalam LBK dan La Muli pun nyaris serupa, harus ada upaya bertahan hidup, mengakali penghasilan dan penyesuaian diri dengan budaya-budaya di tanah rantau. Meski tentu saja, persoalan air hingga sanitasi tidak dialami sama sekali oleh kelas menengah dalam LBK, beda betul dengan kelas bawah dalam La Muli yang salah satu permasalahan utamanya adalah hal satu ini.

LBK di awal hingga akhir novel menyajikan sudut pandang putri tertua keluarga tentara yang berusia tujuh tahun. Sedang La Muli sebagai naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019, menyajikan sudut pandang orang ketiga dalam sebagian besar jalan ceritanya. Gaya berbahasa dalam La Muli pun tidak berbunga-bunga. Pergantian waktu, latar dan para tokoh yang berhadapan selalu ditandai satu paragraf penjelas tanpa diksi-diksi sukar.

Pantainya landai. Pasirnya hitam. Air lautnya kotor. Mungkin pengaruh dari pasir yang hitam itu. Kampung itu belum benar-benar bangun, kecuali sekelompok kecil nelayan yang baru pulang melaut. (hal 117)

Sinar mentari siang memancar ganas. Seolah ingin menghanguskan apa saja. Di dalam gereja hantaman sinar mentari siang teredam sedikit oleh langit-langit. Angin mengalir masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Mengusir pengap yang terperam di dalam ruangan. (hal 124)

Tapi bagaimana La Muli yang tanpa kalimat berbunga dan hampir minim adegan ekstrim menjadi menarik buat terus dibaca? Semua ternyata bertumpu pada lokalitas yang bukan tempelan. Dialog dibuat berbahasa Indonesia kental logat Papua. Meski demikian, Nunuk tidak memaksakan kosakata lokal yang harus dijejalkan catatan kaki agar pembaca mengerti. Lokalitas Papua yang disajikan pun jauh dari koteka, upacara bakar batu dan hal-hal yang biasa dicap primitif dan disajikan di media massa. La Muli justru menunjukkan pergerakan masyarakat urban di tahun 1980an yang ternyata juga terjadi di Papua.

Salah satu poros permasalahan dalam novel ini adalah persoalan administrasi. Dapat dikatakan, peliknya administrasi menjadi sosok antagonis alias penghalang bagi para tokoh utama. La Muli si pendatang mesti dihadapkan dengan kekagetannya soal pembentukan er-te alias Rukun Tetangga. Rutinitasnya sebagai nelayan pun kerap berubah, ketika mesti berkenaan dengan persoalan warga yang katanya wajib jadi tanggungan ketua er-te. La Muli dan sesama pendatang lainnya di tahun tersebut ternyata buta soal perapihan administrasi dan pembentukan perangkat kampung. Hal tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 11 sebagai berikut:

“Apa persisnya tugas ketua er-te?” celetuk salah satu peserta rapat.

“Salah satunya berhubungan dengan administrasi. Mencatat nama-nama penduduk. Membuat rekomendasi kalau penduduk ingin mendapatkan surat rujukan untuk membuat ka-te-pe, atau membuat surat pengantar untuk mengurus surat kelakuan baik. Contoh surat rekomendasinya seperti ini.” kata Obet sambil mengambil selembar blanko isian.    

Tidak jauh berbeda dengan La Muli, suku Kayo Batu mesti juga menyesuaikan diri dengan perapihan administrasi. Persoalan tanah adat dan peralihan pemerintahan dari Belanda hingga akhirnya Indonesia, menjadi hal yang suku asli Jayapura ini mesti perjuangkan. Perjuangan soal tanah adat tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 157.

“Bagaimana kalau saya pelajari lebih teliti berkas-berkasnya?” tambah gubernur. “Lebih-lebih setelah pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, yang tersisa hanya masa lalu yang sudah selesai. Singkat kata, peristiwa ini terjadi di masa lalu dengan pemerintahan yang bebeda. Saat ini bapak-bapak berhadapan dengan perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Akan saya pelajari dan memberikan jawaban tertulis. Begitu lebih baik?”

Tidak ada perang si jahat melawan si baik dalam novel ini. Baik La Muli dan orang-orang suku Kayo Batu hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan usaha apapun yang mereka bisa. Mereka tidak memahami atau terlalu peduli dengan pergolakan politik, peralihan kekuasaan dan sejenisnya. Yang mereka lakukan hanya memerjuangkan hak dan makan dari keringat sendiri. Mula-mula kehidupan pendatang dan suku asli Jayapura ini pun cenderung tanpa gejolak, jika saja perapihan administrasi tidak tiba-tiba hadir kemudian memaksa mereka mengikutinya.

Nunuk telah memotret lokalitas yang betul-betul tidak bisa ditempelkan jika latar belakangnya selain Jayapura. Ada persoalan sejarah hingga peralihan kekuasaan yang goncangannya membuat novel setebal 196 halaman ini bergerak dinamis. Para tokoh yang berprofesi sebagai polisi dan tentara tidak lepas juga dalam jalan cerita. Mereka ini yang diceritakan menjaga perdamaian di tanah Irian Jaya meski ternyata, kebijakan yang dibuat turut pula membikin rumit kehidupan masyarakat kelas bawah karena tidak disesuaikan adat setempat. Tokoh berseragam lain, ada pula yang digambarkan menempuh kebijakan demi mempermudah urusan negara di tempat dirinya bekerja, sekalipun menyadari telah menyalahi hak orang lain.

Kesenjangan antara kebijakan, perapihan administrasi dan juga diterapkannya dua hal tadi tanpa mengindahkan adat setempat yang ternyata menyumbang depresi dalam diri para tokoh La Muli. Semuanya terasa serba tiba-tiba. Dari kehidupan mereka yang dulunya datar dan sekadar memenuhi kebutuhan perut, namun tiba-tiba mesti berlarian memenuhi aturan-aturan baru dari orang-orang berseragam yang digambarkan sangat pula para tokoh ini hormati. Masih orang-orang berseragam ini pula yang ternyata hampir semuanya berasal dari luar Jayapura. Hal demikian yang barangkali juga menyumbang kebijakan-kebijakan yang ditelurkan dan paksa diterapkan pada akhirnya tanpa melihat adat sekitar.

Para penulis yang berambisi mengemukakan tema-tema lokalitas, agaknya mesti betul-betul menguliti La Muli agar apa yang diusung bukan lagi hanya tempelan, apalagi sekadar drama percintaan urban yang paksa diberi latar pantai dan profesi nelayan. Sebuah cerita yang di mana saja latarnya diganti sekalipun, bukan menjadi masalah. Demikian barangkali akan serupa La Muli, yang memang bukan sekadar novel dengan tempelan latar pantai, profesi nelayan dan kosakata berbau daerah yang padanan katanya sukar dicari dalam Bahasa Indonesia.

Halaman terakhir novel ini pun tidak betul-betul menunjukkan kesedihan atau kebahagiaan yang terang. Para tokoh ditunjukkan mesti terus melanjutkan hidup yang tidak tahu bagaimana ujungnya. Mereka yang kemudian tidak sengaja memilih, hidup dipermudah negara atau kemanusiaan antar orang-orang biasa. Kemudian Nunuk dalam La Muli barangkali pula ingin menyampaikan, sastra serius yang apik tidak mesti dibuka dan ditutup dengan kejadian-kejadian tragis.


Poppy Trisnayanti Puspitasari, belajar menulis di Pelangi Sastra Malang. Dapat ditemui di blognya http://semangkaaaaa.blogspot.com

Buku, Resensi

Pendidikan dalam Catatan Soca Sobhita

Oleh Fauzi Sukri

Namanya Soca Sobhita. Waktu bocah, dia gemar membaca, menulis, melamun, ngupil, lalu mulai suka main game, juga gergaji-gergaji bareng Beps (nama panggilan bapaknya), bantu masak Bi Yo, dan lain-lain. Dia termasuk salah satu—bahkan mungkin satu-satunya—bocah yang punya rumah pohon di Rawamangun, Jakarta Timur: tempat favorit yang dibuatkan Beps. Makanan favorit nomor satu terlezat: KKK alias kue kering keju. Cita-cita: jadi ninja, biar bisa jalan-jalan ke sana kemari, nguber-nguber maling, juga penjahat. Tapi, dia pernah bersemangat untuk menjadi menteri pendidikan. Biar bisa membuat kebijakan pendidikan yang membahagiakan siswa-siswa Indonesia.

Yang menarik tapi tak unik, seperti semua murid/siswa sekolah di Indonesia, dalam catatan autobiografisnya yang diterbitkan jadi buku ini, dia punya pendapat sendiri tentang sekolah dan pendidikan di Indonesia. Ini juga sangat terkait dengan pola pengasuhannya di rumah.

Perhatikan catatan autobiografis Soca ini: “Aku tidak suka sekolah, sebetulnya. Aku suka tinggal di rumah bersama Opa dan Beps. Baca-baca cerita, main game, main di rumah pohon bersama Cathy Miauw, mencium kain dua…atau membantu Bi Yo dan Mak David memasak, atau membersihkan rumah.”

Jika kita perhatikan apa yang ditulis Soca ini, kita tahu masalahnya bukan perihal sekolah. Tapi sangat terkait lingkup “pendidikan” itu sendiri dan pola proses pendidikan-pengajaran. Di rumah, Soca sebenarnya terus dalam proses “pendidikan-pengajaran” secara tidak formal. Dari Opa yang mahir banyak bahasa asing, Soca belajar bahasa Jepang, lalu kuliah jurusan Sastra Jepang, bahkan membuat Soca akhirnya tinggal dan bekerja di Jepang. Dari Beps dan orang-orang di keluarga itu, Soca “belajar” perihal keterampilan buat bertahan hidup: memasak, membuat perabot, menjaga rumah. Tentu, juga menikmati hidup, atau “me time”.

Kita bisa merasakan bahwa Soca merasakan lebih senang ‘beraktivitas pendidikan’ di rumah daripada di sekolah. Kuncinya adalah bahagia. Di rumah, jelas Soca bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi proses pendidikan-pengajaran yang dilandasi kasih sayang: kesejahteraan batin psikologis anak didik. Inilah memang tantangan terbesar paradigma pendidikan di Indonesia bahkan di dunia. Masalah ini sudah diperhatikan dengan sangat serius sejak pertama kali Taman Siswa didirikan pada 1922: jadi salah satu asas dasar pedagogi Ki Hadjar Dewantara.

“Kenapa sih anak sekolah harus dikasih PR? Kan pulang sekolah aku sudah capek. Aku mau tidur siang. Mau main dengan Cathy Miaw, mau duduk-duduk santai di rumah pohon, mau baca buku, mau main game sama Om Eri, gergaji-gergaji sama Beps, bantu Bi Yo cuci-cuci, siram tanaman…” kata Soca Sobhita sekali lagi mengeluh tentang pendidikan-pengajarannya.

Yang juga dikritik Soca adalah ulangan.“Aku juga tidak suka ulangan. Karena aku jadi deg-degan waktu menjawab soal-soalnya. Meps bilang, santai aja, kan sudah belajar. Ya sih, tapi deg-deganku tuh nggak bisa ditahan lho, Meps.” Soca punya solusi cesples atas saran dari ibunya: “Meps bilang, kalau aku jadi menteri pendidikan, aku bisa bikin peraturan supaya sekolah tidak usah sering-sering bikin ulangan. Sedikit-sedikit saja, cukup.”

Masalah Soca adalah keluhan umum siswa Indonesia. Barangkali menarik untuk dicatat bahwa pola pendidikan-pengajaran dengan model PR yang terkesan ‘intimidatif’ sudah banyak dipertanyakan bahkan ditinggalkan. Finlandia termasuk negara yang cukup menghindari PR ini.

Tentu saja, Soca akhirnya mendapatkan sekolah SMP yang disukainya setelah dua kali tes masuk tidak diterima. Di sekolah SMP ini, dia ketemu dengan Pak Gondo (kepala sekolah) yang mengetesnya dan menerimanya meski tes belum selesai semua. Soca takjub pada kepala sekolah yang supel ini: akrab dengan siswanya, suka berkumpul dengan siswa dan bercerita. Dia bisa menjadi dalang. Plus, sekolah SMP itu, Soca mendapati seorang guru bahasa Indonesia yang pola pengajaran-pendidikannya menggugah rasa ingin tahunya.

Catatan-catatan autobiografis Soca ini mengingatkan kita pada masalah penting dalam pola pengasuhan dan pendidikan: kebebasan dengan penekanan pada kebahagiaan batin dan inisiatif atau disiplin ragawi yang keras dengan fokus pada kuasa pendidik-pengajar. Negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, secara umum, sering dianggap sebagai kawasan yang lebih menerapkan kebebasan, meski sebenarnya tidak pernah cukup bebas. Sedangkan negara dengan pengaruh Konfusianisme seperti Korea Selatan, Jepang, China lebih menekankan pada disiplin ketat. Dua pola ini punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Barangkali karena hal punya sisi positif dan negatif itu, Indonesia termasuk yang tidak pernah cukup tegas menerapkan pola.Tentu saja, paradigma pendidikan-pengajaran sekolah Indonesia secara umum lebih dekat pada kebebasan. Bahkan, sekarang sedang dipropagandakan “Merdeka Belajar”. Indonesia memang cukup gemar bikin slogan, tapi tidak pernah memikirkan ‘tradisi’ pendidikan-pengajaran dalam jangka panjang. Agar bisa dievaluasi secara mendasar, sebagaimana China yang selama berabad-abad menerapkan tradisi disiplin keras dalam pembelajaran sekarang sudah mulai beralih pada pola pendidikan-pengajaran kebebasan.

Pola pengasuhan Soca khususnya di rumah jelas sekali lebih mengedepankan kebebasan. Sejak mulai dari pola komunikasi keluarga seperti sebutan Meps dan Beps, keakraban anak ayah ibu, termasuk penentuan cita-cita, karier keilmuan/profesi, Soca diberikan hak (kebebasan) untuk menentukan. Salah satu keunggulan dari paradigma kebebasan dalam pengasuhan/pendidikan adalah anak (didik) punya rasa harga diri (self-esteem) dan rasa percaya diri (self-confidence) yang tinggi. Dua hal ini adalah fondasi penting pendidikan karakter manusia.

Ngomong-ngomong, ulasan ini sudah terlalu kaku dan analitis, tidak serenyah dan menggelitik catatan-catatan autobiografis Soca. Duh!


M. Fauzi Sukri, penulis Guru dan Berguru (2015)

Buku, Resensi

Pisau Bedah di Ruang Informasi Serbamedia

Oleh Dwi Alfian Bahri

Saat hidup di era informasi serbamedia, justru kebenaran informasi tidak lagi dipertanyakan. Itu karena yang menjadi kebenaran adalah yang dipercayai. Dengan banyaknya informasi di berbagai media, terutama media sosial, orang tidak lagi bisa mengingat dari  mana informasi tersebut berasal, apa isinya, atau apa distingsinya dengan informasi-informasi lain. Permasalahan inilah yang coba dikumpulkan oleh Wening Udasmoro (editor) dalam buku Gerak Kuasa (KPG, 2020).

Meminjam kacamata Deleuze, masyarakat era informasi serbamedia sebenarnya sedang mengidap skizofrenik. Sebuah masyarakat yang meletakkan yang nyata dan semu pada posisi yang sama. Kondisi ini menjadikan individu mengenggam berbagai kebenaran sekaligus, sehingga ia berbasis pada absurditas. Ini sebagaimana paradoks logika yang berkembang di tengah masyarakat: ingin bebas makan tetapi tubuh tetap langsing, ingin tubuh yang sehat tetapi tetap begadang, dan seterusnya.  Inilah fenomena yang terjadi dewasa ini.

Melalui buku ini, fenomena absurditas dan temporalitas masyarakat informasi serbamedia coba direkam, diulas, dibedah, diuraikan, dan ditawarkan. Buku ini semacam gudang perbekalan untuk mengarungi ruang-ruang informasi serbamedia yang banal tersebut. Persis seperti pendaki yang harus dan wajib menyiapkan perlengkapan safety sebelum menaklukkan medan terjal. Apa yang teruraikan dan tertawarkan dalam Gerak Kuasa inilah alat safety tersebut.

Semua itu coba diurai dengan sederhana, komprehensif, berdasar, dan terarah. Dimulai dari pemahaman mengenai culture studies, buku ini sebenarnya mengajak masyarakat informasi serbamedia untuk mulai berpikir secara mendasar, mengakar, kritis, dan mengakui-hargai perbedaan. Sebab, sekarang ini masyarakat memang sedang krisis atas hal itu.

Selain itu, culture studies sendiri merupakan suatu body of knowledge yang sangat berpotensi menjadi agen penting proyek dekolonasi produksi pengetahuan selain karena sifatnya yang politis; secara metodelogis ia melengkapi diri dengan conjunctural analysis, yang bisa membantu menghindarkan diri dari jebakan-jebakan esensialisme.

Lebih lanjut lagi, buku ini merupakan usaha untuk menjelaskan teori-teori yang banyak dipakai dalam kajian budaya dan media. Kekuatan utama buku ini adalah dihadirkannya konsep-konsep dari berbagai teoritikus kajian budaya dan media yang belum banyak disentuh dalam perdebatan akademis di Indonesia. Mulai pemikiran Hommy Babha, Stuart Hall, Julia Kristeva, Slavoj Zizek, Paul Gilroy, Christian Mets, Andy Benner, Gilles Deleuze, Angela McRobbie, Paul Virilio, Henri Lefebvre, dan Pierre Bourdieu, semua coba dihadirkan untuk mengulas, mengurai, dan mengkritisi fenomena masyarakat informasi serbamedia. Lebih tepatnya, buku ini semacam pisau bedah untuk fenomena informasi serbamedia.

Secara keseluruhan, buku Gerak Kuasa menghimpun 14 tulisan yang terbagi dalam 4 bab. Yang pertama berisi konsep-konsep dasar kajian budaya dan media, kedua berbicara tentang bahasa dan wacana, ketiga mengenai subjek dan identitas, serta keempat menyoal politik ruang dan waktu.

Para  pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai landasan berpikir awal dalam olah pemikiran akademisnya maupun non-akademisnya. Tidak hanya itu, ada kebaruan yang ditawarkan dalam pembedahan tiap tulisan dan teorinya. Dapat dibilang, buku ini mencoba memberi jalan alternatif pemikiran yang lebih terarah, mendasar, sistematis, dan segar.

Awalnya, fenomena coba digulirkan, lalu pemikiran teoritikus coba dimasukkan untuk memahami, mengurai, dan mengonstruksi fenomena, kemudian semuanya dipertegas pada bagian penutup. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan bahwa buku ini tepat secara akademis.

Masyarakat informasi serbamedia membutuhkan keadaan berpikir semacam itu. Karena sesungguhnya masyarakat dewasa ini kehilangan atas apa yang disebut pijakan berpikir, bersikap, dan berkritis. Segala hal yang ada sekarang sifatnya rapuh, banal, dan multiplisitas. Akibatnya, masyarakat mentransformasikan dirinya, dari kelompok empati menjadi kelompok antipati (banci sosial). Ini yang sedang terjadi sekarang.

Buku ini hadir mengisi kekosongan itu sekaligus mengurainya secara akademis. Bagaimana pembaca akan diajak berpikir secara teoritis guna menghindari konflik panjang yang tak berakar dan tak berkesudahan seperti yang sedang terjadi saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, dalam masyarakat yang tenggelam dalam informasi saat ini, beragam fenomena sosial yang demikian beragam dan tidak sedikit darinya mengejutkan, bisa jadi hanya mampu dibaca dengan meminjam kacamata dari teoritikus dalam uraian buku ini.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan, 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di Instagram @suaraalfian47.