Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Pada Sebuah Peta

peta ini

yang kau susun

dari sumber air mata

dalam belantara surga

di hati apimu

peta ini

yang kau ciptakan

dari tarikan napas batu

di hari minggu

yang kerap miring

selepas orang-orang lari

ke dinding taman kota

dan atap lima waktu

peta ini

yang mengajarimu

bagaimana melihat matahari jatuh

serupa nenek-nenek mencari

arah lari cucunya

yang membentang

ke dalam dan luar angkasa

peta ini

yang kau hidupkan

setiap kali mata angin menjauh

dan meninggalkan rahasia baru

peta ini

yang menjadi tersangka

pengirim resep masakan

menguning di meja makan

lalu kau bersama segelas cuka

menatapku

yang diam-diam ditimbun

dalam nada dering di dadamu

peta ini

yang menumbuhkanmu

menjadi sebuah tatanan hidup baru

di akhir pekan

yang menghitam itu

menandai kapan semua

akan segera pulang

kapan semua akan dihitung

dari seberapa jauh

dan pendeknya garis tujuan

Kendal, Januari 2021


Di Atas Batu

Di atas batu

Ada namamu

Di bawah batu

Ada garis melupakanmu

Aku sedang belajar

Menghitung pertumbuhan

daki

di dadamu

Dari suaramu

di atas batu

Sesungguhnya

aku tahu

Bagaimana hari itu,

Menjadi seperti sangat kecil

sekali

Entah, aku menganggap

tiada lagi cara terbaik

untuk dapat memahamimu

Bagaimana suatu saat nanti

Hari-hari menjadi batu

Menjadi segala rupa

yang tak pernah kita hitung

sebagai waktu

Kendal, Januari 2021


Ruang Tunggu

Di ruang tunggu

Kusaksikan kau duduk

Bersama sebutir peluru

Orang-orang naik tangga

Anak-anak kecil membeli

sebuah kaleng berisi harga

sebuah nyawa

Di ruang tunggu

Kau masih duduk

Sedangkan dari kejauhan

Sepasang kekasih saling lempar

cium tak keruan

Aku tak tahu,

Bagaimana kau tinggal

dengan sebutir peluru itu

Yang baru saja dikenang

Dalam sebuah upacara terakhir

menjelang kepulangan

Yang entah harus berangkat

ke mana

Meski pada saat itu

Aku tahu,

Kau meratapi segala

yang tumbuh dari matamu

Betapa yang menetes

Adalah peluru itu

Yang sesungguhnya

Akan menjadi siapa

Tak ada yang tahu

Kendal, Januari 2021


Berat Badan

Aku tak tahu

Kapan berat badan

berumur panjang

sepertimu

Aku tak tahu

Kapan kau tumbuh

dari cangkul

dan ular-ular berbisa

namun tak bernafsu

Aku tak tahu

Bagaimana kau

menciptakan kebaikan

dari sepasang mata

di punggungmu

yang di situ, ada aku

sendirian

Mengunci

Dalam berat badanmu

Kendal, Januari 2021


Layar Komputer

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Puisi-puisi berserakan

Memandangi dinding

halaman koran minggu

Aku mendapatimu

diam-diam

di antara jaringan internet

putus

dan suara pukulan huruf

bersahutan

dengan detak jam dinding

di sebelah kamar

Aku bilang, duduklah

sebentar

Istirahatlah dengan tenang

Tapi kau bilang,

itu candaan picisan

Tak pernah diikuti

oleh siapa pun

yang kerap memburu

perjalanan

Apalagi, bagi mereka

yang mengungsi saat hujan

tumbuh dalam kerongkongan

yang lapar

Aku yakin, kau masih

punya banyak pikiran

Bagaimana hutan menjadi bunyi

keterlambatan

Yang melambaikan alarm

Setiap kali tuhan datang

Mengguyur jari-jari tanganmu

dengan senyum lebar

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Kau duduk bergandengan

dengan kata-kata

yang sebentar lewat

sebentar menunggu dijatuhkan

Dan aku, kian tak tahu

Harus ke mana lagi mengejarmu

Sedangkan kau

sepertinya sudah asyik

Menjadi layar kehidupan;

juga kematian

yang tak pernah

dihuni banyak orang

Kendal, Januari 2021


Sebuah Pabrik

Sebuah pabrik

dan permasalahan baru

Korek api

dan ke mana perginya ibumu

Kandang ayam

dan pasokan gizi

bagi balita yang tinggal

seorang diri

Sebuah pabrik

dan antrian panjang

Menempati urutan kesekian

di pengadilan

Palu diketuk pelan

selepas burung-burung masuk

di ruang sidang

Sebuah pabrik

Narasi buntu dan seribu payung

mengadili kehadiranmu

Cuaca buruk dan makan malam

yang timbul-tenggelam

selepas mertuamu mengganti warna

gincu

Sebuah pabrik

Ditanam dalam arloji plastik

di punggung seorang ibu

Dijuallah pertanyaan,

kapan jadwal terbaik

untuk minum susu

dan menggoda tetangga baru

Sebuah pabrik

Dalam kolam ikan

Kapan menjadi koloni baru

Yang dipaksa masuk

di abad paling lampau

yang katanya sudah kian

ditinggalkan itu

Sebuah pabrik

Mencari tahu

Kapan dirimu

dan aku

Menjadi serupa mesin

Yang lebih merdeka

dari sebuah pintu

Biar dibanting-banting

dan digedor itu

Namun tetap saja,

ia menutupi

segala kesalahan

dan kegagalan

Darimu

dan dari aku

Kendal, Januari 2021


Beternak

Beternaklah di kakimu

Yang jauh-jauh hari dikirim

dari semesta kirimu

Beternaklah menjauh dariku

Agar suatu saat

Ada kabar yang menyusup

Lewat telingaku yang buntu

Beternaklah mendekati

mautku

Jika memang hari depan

akan tumbuh

Bersama sekian ucap

yang dipilih seorang diri itu

Beternaklah mencapai puncakku

Di sebuah napas

Dalam nafsuku yang masih itu-itu

Kendal, Januari 2021


Dua Kali Sehari

Sehari, dua kali sehari

Mamamu pulang

Menjemputmu dari kejauhan

Sehari, dua kali sehari

Papamu bilang jangan sampai

telat makan

Sehari, dua kali sehari

Cuaca berhenti di tikungan

tubuhmu

Yang saat itu masih lugu

dan berwarna ungu

Sehari, dua kali sehari

Kau memandangi nenekmu

Ia makin kuat

menjadi lampu-lampu

Sehari, dua kali sehari

Aku memanggilmu

Sebab bagaimana lagi,

kamarmu hitam

Berisi alpukat busuk

dan gambar-gambar rindu

yang kuyu

Sehari, dua kali sehari

Pacarmu naik tangga

Menuju kamarmu

Sehari, dua kali sehari

Ia menginap di situ,

pada sebuah rumah

Yang sama sekali

Tak pernah mempertemukanku

Dengan dirimu

Sehari, dua kali sehari

Hanya pacarmu saja,

yang sampai masuk

Sangat dalam

;dalam sekali

Lalu di sana, ia menggantung diri

Katanya,

hanya karena demi aku.

Kendal, Januari 2021


Tarik Napas Panjang

Tarik napaslah panjang-panjang

Baru dua hari selepas itu

Pagar tertutup,

Setiap kali sore mengunci

pintumu

Rapat-rapat dalam tidurmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Sebab ke mana lagi,

angin akan berterus-terang

membawamu

Jika memang sungguh,

pergi bukan lagi menjadi jauh

Yang meninggalkanmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Di sana sedang didirikan

rumahmu

Sebuah perjumpaan

yang sering mampir

dalam setiap hujan

yang turun

di atas bantalmu itu

Tarik napaslah panjang-panjang

Dengan caramu yang paling sepi

Kemudian tataplah aku,

Jika memang ini waktu

yang tepat untuk pulang

Pergi sendiri,

tanpa meninggalkanmu

Kendal, Januari 2021


Seekor Kucing

Seekor kucing

Menatapmu dari depan

pintu sebuah kamar

Suaranya melengking

Menjadi sebuah nada panggilan

Berbunyilah sebentar

Meski tak sedikit

yang perlu ditawarkan

Kucing itu masih menatapmu

Ia sendirian berdiri

Di antara kaki orang-orang

Yang sedang berebut berlarian

Meninggalkan doa perjamuan

Kipas angin masih berputar

di sudut ruang paling kanan

Kau memanggilku

Dengan suaramu yang riang

tanpa nada getar

Dan di ponselmu

Aku menyanyikan sebuah lagu

Kemudian seekor kucing itu

Mencakar mulutku

Dan kau memanggilku berkali-kali

Aku pura-pura tak tahu

Yang ternyata kian dalam

Kau menghancurkan suaraku

;apalagi perasaanku

Kendal, Januari 2021


Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Bisa disapa di [email protected]

Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Cerpen Arafat Nur

Sudah tiga tahun lebih Laila menunggu, tetapi belum ada kabar tentang Khaidir, suaminya. Meskipun tidak terlalu yakin, dia masih berharap suaminya kembali. Cuma itu sisa hidupnya sesudah putranya juga pergi.

Hari-harinya begitu sepi tanpa suaminya dan semakin hampa setelah anak lelakinya yang digerogoti penyakit aneh meninggal dunia setahun lalu. Laila tidak tahu apa jadinya ketika suaminya nanti kembali begitu tahu anaknya telah tiada.

Kekalutan terus menyelimuti perempuan yang sudah lima tahun berumah tangga itu. Kerutan halus di bawah matanya menunjukkan betapa buram kehidupannya. Cuma sepenggal harapan yang menyulut gairahnya dalam menjalani hari-hari sepi di kampung yang terpencil itu.

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Benar saja. Ada lelaki yang sedang menuju ke situ. Jantung Laila berdegup kencang antara harap dan ragu. Perasaan itu memang menyiksanya, sekaligus menyenangkan. Menyenangkan karena dia masih bisa berharap suaminya itu pulang.

“Laila, kenapa termenung?!”

Ternyata lelaki itu bukan Khaidir. Perempuan itu tersipu karena ketahuan melamun lagi.

“Oh, Bang Alan rupanya. Dari mana?”

“Baru pulang melaut. Ini kubawakan sedikit ikan untukmu, tapi tak segar lagi.”

“Kapan Bang Alan mulai melaut?” Laila agak terkejut.

“Baru seminggu ini.”

“Abang tak lagi membajak sawah?”

“Payah. Wereng begitu merajalela. Lagi pula sudah terlalu lama hujan tidak turun-turun. Sawah-sawah di lembah sudah kekeringan. Bagaimana padi bisa tumbuh di tanah kerontang yang pecah-pecah?”

Perempuan itu tertegun. Itu pula alasan Khaidir menyingkir dari dusun itu untuk mencari penghidupan lain. Namun, suaminya bukan pergi melaut, melainkan bekerja di Pelabuhan Kota Banda. Jaraknya begitu jauh bagi perempuan semacam Laila. Lagi pula dia belum pernah pergi ke luar kampung selain ke kota kecamatan.

“Ini ikannya,” Alan mengacungkan bungkusan plastik hitam.

“Apa di Kuala, Bang Alan ada dengar-dengar kabar tentang Bang Khaidir?”

“Belum sih. Abang sudah tanya-tanya sama beberapa nelayan, tapi tidak ada yang tahu,” sahutnya.

Wajah perempuan itu berubah muram. 

“Kamu jangan bersedih begitu. Kalau ada umur, pasti Bang Khaidir pulang.”

Laila berusaha tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Lelaki yang masih membujang itu pamit. Sepi kembali menghimpit dada perempuan itu.

Sebenarnya, harapan-harapan Laila tidak beralasan. Dunia pun tahu kalau ombak besar tiga tahun lalu itu sudah menenggelamkan sebagian besar Kota Banda dan sejumlah tepi pantai. Dua puluh lima ribu lebih orang meninggal, dan belasan ribu lainnya hilang tanpa jasad dan tanda digulung ombak.

Oh, Laila tak menginginkan ombak itu menelan suaminya. Barangkali saja ketika ombak itu menghantam daratan, Khaidir tidak lagi di sana. Hari itu Minggu, bisa saja suaminya pergi ke tempat lain karena libur kerja. Dia yakin itu meskipun sampai sekarang dia tidak menerima kabar apa-apa.

Tentunya jika Laila tidak memiliki harapan lagi, dia sudah menerima lamaran tuan tanah, Ampon Lah, yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Atau Bang Gani berkepala empat yang masih terus membujang. Lagipula tiga tahun baginya belum terlalu lama untuk menunggu suaminya pulang.

“Tapi berapa lama lagi kamu harus menunggu?” tanya Cek Midah, bibinya, yang cemas dengan keadaan Laila.

“Aku tak tahu, Cek. Tapi kalau sudah terima kabar tentang Bang Khaidir, baru nanti bisa aku putuskan….”

***

Rumah yang terletak di pinggang bukit menawarkan hamparan pemandangan indah. Kadang-kadang Laila bisa merasakan bau laut yang dibawa angin menjelang petang. Sedangkan malam, cuma angin gunung yang mengusupkan dinginnya kesunyian. Suara serangga menyelinap sampai ke dalam tidurnya. Tengah malam Laila terbangun, ditemui dirinya terbenam dalam kesepian.

Empat tahun sudah berlalu hidup yang dijalani sendiri. Orang-orang mendesak agar dia segera menikah lagi. Selagi masih muda, masih ada lelaki yang suka. Lagipula tidak mungkin dia terus-terusan sendirian tanpa suami dan anak lagi. Bagaimana hari tuanya nanti? Hidupnya semakin sepi, tanpa seorang pun yang menemaninya.

“Diam-diam Bang Alan juga menyukaimu,” kata Cek Midah.

“Yang betul?” Laila terhenyak.

Alan lelaki sederhana, baik, dan pekerja keras. Dia mau bekerja apa saja demi bertahan hidup. Selama ini dia pula yang menghidupi kedua orang tuanya. Ketika mudah rezeki, Alan tidak sungkan-sungkan membantu Laila. Tidak ada lagi yang memberikan nafkah kepada perempuan itu sejak suaminya pergi. Satu-satunya sumber penghidupannya adalah sepetak kebun kelapa di belakang rumah yang buahnya sudah jarang. Akar-akarnya kekurangan air selama kemarau ini.

Laila teringat Alan, tetangga paling akrab dan paling peduli. Dia yakin, perhatian lelaki itu padanya tulus tanpa pamrih. Semata-mata bantuan yang diberikan Alan itu atas rasa kemanusiaan. Alan pula yang sering menghibur gundah hatinya yang tak berkesudahan.

“Betul,” jawab Cek Midah.

“Dari mana Cek Midah tahu?”

“Dia sendiri yang bilang.”

“Apa katanya?”

“Katanya dia belum ingin kawin, kalau suamimu belum pulang.”

“Apa hubungannya?”

“Ya, kamu pikir sendiri.”

Kening Laila berkerut.

“Dia juga bilang, dia akan kawin kalau kamu sudah kawin lagi.”

Alan memang mempunyai kesamaan dengan Khaidir. Selain rajin, dia juga gigih. Lagipula Alan memiliki rupa tidak jelek, meskipun tidak terlalu tanpan. Sebagaimana wajah lelaki Aceh kebanyakan, begitulah Alan. Dia memiliki rahang kuat sebagaimana jamaknya petani atau nelayan. Kulitnya agak legam, memang, karena sering terbakar matahari.

“Kamu tahu?” tanya Cek Midah. “Itu artinya dia menaruh hati padamu.”

“Hmmm….” pipi Laila merona.

“Jika kamu bersedia, orangtuanya akan datang melamar. Kita bikin saja acara yang sederhana….”

***

Lengkungan ujung janur kuning melambai-lambai di pintu pagar rumah itu. Dua tenda terpasang, menaungi orang-orang yang sibuk menyiapkan dan menyantap hidangan. Tercium aroma masakan kari ayam. Terdengar sentuhan sendok, gelas, dan piring kaca, sesekali orang tertawa.

Mereka tidak menyadari kehadiran seorang lelaki berkaus hitam. Dia menerobos kerumunan orang-orang yang sedang sibuk satu sama lain atau dengan diri mereka sendiri. Di depan pintu rumah, lelaki itu memandang Laila dan Alan sedang bersanding di pelaminan. Keduanya terlihat bahagia tanpa sadar kehadirannya.

“Aku pulang….” ucap lelaki itu.

Seketika ruangan hening. Sangat hening.

Laila berusaha meyakinkan penglihatannya. Tidak lama kemudian dia terpekik menghambur ke tubuh lelaki itu. Sedangkan Alan terpana, tubuhnya terlonjak berdiri. Tubuh pengantin pria itu seperti beku.

“Bang Khaidir!” pengantin perempuan itu bersimpuh di kakinya.

Sesaat saja ruangan pelaminan yang sempit itu sesak oleh orang-orang yang berada di luar. Tidak hanya tamu, para pekerja pun memasakkan tubuhnya melesak dalam kerumunan. Pintu rumah itu seakan ingin terkuak lebih lebar lagi.

Tak ada yang tahu kalau lelaki itu masih hidup dan terdampar oleh gelombang raya di sebuah pulau terpencil selama hampir empat tahun lamanya.***

Aceh, 2016-Ponorogo, 2020


Arafat Nur, dosen Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Novel Lampuki (Gramedia) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2011 dan memenangkan sayembara DKJ 2010. Buku kumpulan cerpen terbarunya Serdadu dari Neraka (Diva Pres, 2019).

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

CINTA

YANG KUKENAL

cinta(ku)

sama seperti cinta yang kau kenal.

tidak ada bedanya. tidak berubah juga tidak kekal.

membebaskan.

penuh kesialan-kesialan takterduga.

kedengkian. setiap detik selalu curiga.

setia yang bajingan.

pengkhianat paling cakep. muslihat

kejahatan dari yang paling masuk akal & takmasuk akal.

marabahaya

di luar ancaman. harapan tiada batas.

kesedihan paling remeh sekaligus paling serius.

senyum

yang terbuat dari bibir anak kecil.

puncak kebahagiaan. sarang kesedihan.

kelelahan

yang menolak keringat. kesenangan

yang tidak berhubungan dengan permainan.

ramai

yang sunyi. sepi yang cerewet.

panas yang mudah menempel di kulit sekaligus

merasuk

ke dalam daging. dingin

yang tidak bisa masuk ke dalam kulkas.

sinar

yang belum dilihat oleh mata.

gelap yang selamanya menjadi rahasia.

penyatuan

surga dan neraka.

tuhan paling akrab bagi seluruh manusia.

2020


PADASUATUKETIKA

SEBELUM MENJADI CINTA

pada suatu ketika

sebelum menjadi cinta. hidupku

sempat sempit. mataku kegelapan mahaluas.

hatiku

rasa cemas mahadahsyat.

pikiranku masa depan yang terbakar. 

tangan & lenganku

tempat terlarang bagi pelukan.

kakiku adalah tujuan tanpa perjalanan.

mulutku

sampah yang tidak perlu

dipakai atau dibuang untuk menjadi sampah.

pada suatu ketika

sebelum menjadi cinta. aku

adalah ketiadaan yang tidak perlu dihancurkan.

2020


TERHADAP CINTA

AKU HANYA BISA MENGANGGUK

                                  terhadap cinta aku hanya bisa mengangguk

atau takada batu dalam kepala atau hanya bisa

                               berdoa atau rasa cerewet yang tidak mau jadi

suara atau penglihatan yang berisi kebahagiaan

                                   bunga-bunga atau kebetulan yang berhasil

menjadi pengetahuan; penghapus bagi kesulitan

                                manusia atau kesalahan yang takpernah bisa

membelakangi perbuatan atau kebaikan yang

                             berulang-ulang terjadi tanpa menunggu kapan

waktunya dibutuhkan atau mendengar suara

                               yang seluruh bunyinya membuat jiwa menari

bersama tuhan atau serakah yang membuat

                                hasrat merasa cukup sebelum cakap berbuat

salah atau pemurah yang membuat miskin

                                    dan kaya takberbeda di mata so(sial) atau

penghasut yang membuat sakit dan sehat hidup

                                rukun dalam satu rumah atau pemarah yang

berhasil membersihkan negara dari kejahatan.

                                             2020


GOBLOK

DENGANKATALAIN CINTA

jika bukan  karena  cinta  punggungku  tidak  akan

mugkin

                                                                     mampu

menyangga  beban  hidup  yang  masuk  ke  dalam

                            kepala selama delapanjam penuh

                                              (duduk) menulis puisi.

jika bukan karena cinta  tuhan  tidak  akan  mampu

menciptakan   kebahagiaanku   yang  tidak  terbuat

dari apa-apa.

                                                   seperti manusia lain

aku tidak bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri.

ibuku bilang:

‘mencintai adalah memberi kebutuhan kita (sendiri)

menjadi kebutuhan orang lain.’

dan   aku  hanya  bisa  memahami  kalimat  tersebut

                                      jika menjadi kalimat berikut:

‘mencintai

adalah   menghadapi   kehilangan-kehilangan  yang

mungkin dan itu direncanakan.’

2020


ANDAI

CINTA BISA KUPESAN

andai cinta bisa kupesan. aku akan memesan cinta yang tidak perlu

                                            mengeluarkan airmata dan kesedihan

                                                dan kebahagian  dan  kemarahan 

                                                   dan penantian dan kenangan

                                                         dan kecemburuan dan

                                                                 kehilangan.

andai cinta bisa kupesan. aku akan memesan cinta yang terbuat

                                              dari aku aku aku aku aku aku aku

                                                 aku aku aku aku aku aku aku

                                                     aku aku aku aku aku aku.

                                                         ya, cinta yang tidak

                                                             ada siapa-siapa

                                                                selain aku.

                                                                    2020


KEPADA KESABARAN

AKU DIBESARKAN IBU

begitu cepat aku dipaksa melihat kematian.

dan tuhan adalah segala sesuatu yang kuyakini sebagai kejahatan.

dulu aku (sering) belajar berbuat jahat terhadap tuhan

& ibukulah yang terluka.

aku gemar membeli pengetahuan

& berharap tidak memiliki hidup seperti ibu.

kehidupan yang dimiliki ibu terlalu jauh dari pengetahuan

& terlalu dekat dengan keyakinan

& aku makhluk asing yang berjalan untuk keduanya.

ibuku terlalu takut kepada neraka

& terlalu percaya terhadap surga

& tuhan tidak bisa beliau lihat tanpa kehadiran keduanya.

jika aku tahu  siapa yang pertamakali dulu mengenalkan

surga & neraka kepada ibu, aku akan bunuh.

setelah kutanya mengenai itu kepada ibu,

ternyata yang mengenalkan surga & neraka kepada ibu adalah ayah

& tuhan sudah (sejakakuberumurenamtahun) lama membunuh ayah.

“jika aku memiliki kesempatan menciptakan sebuah kehidupan,

aku akan buat tuhan menjadi ibuku

& ayah menjadi aku

& kau adalah rindu yang mengatur warna penglihatan.”

2021


PERSOALAN-PERSOALAN

DI NEGARA PALING KECIL DI DUNIA

hidupku sama seperti hidupmu duapuluhempatjam hitungannya,

pergantian malam & siang, matahari & bulan, tidur & terjaga,

bekerja & berlibur, beragama & berbudaya, bernegara & berkeluarga.

napas memberi hidup sama pancaindra yang membedakannya

makna memberi warna sama penglihatan yang membedakannya.

kehendak memberi kesempatan sama cinta yang membedakannya.

kata ibuku ‘negara paling jelas keberadaannya adalah keluarga.’

dan aku percaya sebelum kalimat tersebut keluar dari mulutnya.

‘lihatlah, di luar keluarga semua orang begitu mudah mengatakan

cinta tetapi perasaan mereka begitu takut mengenakan kesetiaan.’

‘bagaimana caranya menemukan kesetiaan?’ tanyaku.

‘ciptakanlah keberuntungan dari kelemahanmu.’ jawabnya.

2021


KEBODOHAN

YANG HARUS KAUKENAL

aku tahu sedari awal kau memerlukan kesetiaan(ku) tapi kau

takpernah tahu bahwa ‘setiap kesetiaan selalu datang terlambat.’

kesetiaan adalaah bayang-bayang dibalik kenyataan.

kenyataan adalah benda yang  tidak bisa lepas dari bayang-bayang.

jika kuulang, kesetiaan adalah harapanku memiliki hidup

yang dipenuhi bayang-bayang dari kenyataanmu.

kesepian kerapkali berbuat jahat kepadamu juga kepadaku

nyaris setiap waktu orang-orang meletakkan harapan di sana

membuatmu memiliki banyak kesibukan yang tidak berhubungan

denganku. aku mengghilang ke dalam kesepianmu

dan takbisa dilihat. hidup berjalan diluardugaan.

kesialan-kesialan silih berganti menertawaiku.

kau terburu-buru membuat pilihan. aku tergesa-gesa menjadi

kenangan.  aku berada di antara kedatangan dan kehilanganmu:

‘satu-satunya tempat yang tidak mungkin mampu

tuhan ciptakan kecuali mendapat restu dariku.’

2021


RAMALAN-RAMALAN

SEBELUM TIDUR MALAM

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kesibukan-kesibukan

dan kesibukan-kesibukan

yang selalu kunanti-nanti

adalah mencari nafkah untukmu.

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kehilangan-kehilangan

dan kehilangan-kehilangan

yang selalu kunanti-nanti

adalah kehilangan diri(ku)sendiri.

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kamu dan kamu dan  kamu

dan kamu yang selalu kunanti-nanti

adalah yang berhasil mencuri detak jantungku.

2021


BAGIAN

LAIN DARI PUISI

bagian lain dari puisi adalah cinta,

adalah agama, adalah engkau

yang menyatukanku dengan keyakinan.

bagian lain dari puisi adalah tuhan,

adalah hal-hal menakutkan

yang mengutukku menjadi kesetiaan.

bagian lain dari puisi adalah rumah

adalah pintu, adalah jalan

yang membawaku pada pekerjaan.

bagian lain dari puisi adalah pikiran,

adalah perasaan, adalah jantung

yang memberiku hidup untukmu.

2021


setia yang bajingan.
pengkhianat paling cakep. muslihat
kejahatan dari yang paling masuk akal & takmasuk akal.

Sengat Ibrahim, pemilik buku Bertuhan pada Bahasa, (Basabasi, 2018) & Asmaragama, (LiterIsi, 2018). Lahir dan menetap di Sumenep 22 Mei 1997. Bisa disapa melalui akun Twitter: @dialogbolong. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring.

Cerpen

Yin dan Yang

Cerpen Romi Afriadi

“Dari sekian banyak pelacur yang aku tiduri, kamu jelas spesial bagiku.”

“Jangan bilang kau jatuh cinta padaku, seorang pelacur tak berhak untuk menaruh hati pada lelaki, apalagi pelanggannya.”

“Bukan, tapi aku menemukan ketenangan kala memandang matamu.”

“Omong kosong macam apa itu. Lekas lucuti pakaianmu, lalu tunaikan hasratmu. Aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan gombalanmu.”

Percakapan itu terjadi pada saat pertemuan ketiga kita. Malam itu kau tak hendak menjamahku, bahkan saat aku sudah membuka kancing baju.

“Kali ini aku hanya ingin menemuimu untuk bercerita bukan bercinta,” ujarmu.

“Kau kira aku ini psikiater?” Aku berseru galak, kesal bukan main pada sikapmu.

Namun pada akhirnya memang tak terjadi apa-apa di antara kita malam itu. Kau berubah dari seorang lelaki penjelajah vagina sebagaimana di malam pertama kita berkenalan menjadi lelaki sendu. Hilang semua seringai nakal dan wajah memerah penuh kenikmatan saat pertemuan kedua kau begitu bergairah di ranjang.

“Bodo amat dengan ceritamu, aku bekerja di sini bukan untuk mendengar itu.” Aku masih protes.

“Aku akan membayarmu sesuai tarifmu kencan dengan lelaki lain, bukankah yang terpenting bagimu adalah uang.”

Malam itu, kau menjadi seorang pencerita. Sedangkan aku meski mendengarkan, meski awalnya tidak suka.

***

Hujan masih deras turun dari langit, dari balik bilik wisma remang yang bersiap menanti tamu asing dari tempat-tempat jauh, aku bisa menatap di luar, sepanjang gang basah di mana-mana. Di seberang jalan, sebuah warung milik lelaki tua sedang melayani dua pemuda yang sepertinya membeli rokok. Di sampingnya ada warung menjajakan makanan. Tak banyak perubahan di sana, kecuali tidak adanya belasan pelacur yang hilir mudik menghiasi jalanan, menggoda dan mengajak lelaki mana pun untuk singgah.

“Mia, lebih baik kita turun ke bawah mencari mangsa.”

Sherly mengerling kepadaku. Aku melirik jam, tertera angka 22:37, masih terlampau dini untuk ukuran dunia hiburan. Tapi aku tetap membuntuti Sherly yang melenggang mendahuluiku.

Di bawah, alunan musik sudah mulai mengentak, belum ramai betul. Aku memilih duduk di sofa, mencoba menggoda seorang pria berkemeja panjang yang lewat. Dengan harap cemas, aku menunggu pelanggan di situ. Berapakah pria hidung belang yang akan aku ladeni malam ini? Aku hanya berharap Tuhan berbaik hati dengan mengirimkan banyak lelaki berduit yang tidak pelit. Dan semoga Tuhan tak bosan mendengar permintaan seorang hina sepertiku. Terlepas apakah semua doaku akan ditolak, aku tetap tak punya jalan selain mengirimkan doa kepada-Nya. Sebab, dalam kamus kehidupanku tak ada yang pasti, mungkin akan ada puluhan laki-laki, atau hanya hitungan sebelah jari yang menghampiri.

Barangkali yang datang seorang pemuda tampan, seorang eksekutif muda yang sedang mencari kesenangan tersebab istrinya yang sibuk. Pejabat yang sedang terlibat jual beli jabatan, pria paruh baya yang penisnya akan layu dalam dua kali genjotan. Tapi peduli setan, bagiku yang terpenting cuma uang. Toh, semua lelaki yang tiba sama-sama mencari selangkangan.

“Brengsek!” desahku kesal. Sambil kembali mengisap rokok, aku mengedarkan pandang ke berbagai penjuru.

Jam sebelas malam telah lewat seperempat menit, tapi belum ada satu pun pelanggan yang berhasil aku gaet. Apakah malam ini aku sial? Padahal biasanya aku sudah menuntaskan hasrat tiga pria, paling buruk, setidaknya dapat satu pelanggan.

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

“Boleh saya temenin, Mbak.”

Dalam suasana itulah kau muncul memberi pengharapan. Aku menatapmu yang sedang cengengesan. Diawali tatapan kaget, karena wajahmu masih sangat anak-anak bagiku. Tapi di kamar, kau menunjukkan keahlian yang seharusnya belum dimiliki lelaki seusiamu. Kau buas, memangsa setiap jengkal tubuhku dengan dengus napas yang memburu.

Dua hari berikutnya, kau kembali datang. Bahkan mem-bookingku lebih lama. Malam itu aku senang sekali, sebab tak harus mengangkang untuk banyak lelaki namun mendapatkan uang yang cukup. Lewat kamu, pertama kali aku merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda. Apakah aku menyukaimu? Aku buru-buru menghapus itu dari daftar kemungkinan. Kau anak orang terhormat, aku seorang yang nista. Mungkin karena itulah kau memanggilku dengan sebutan Yin, lalu kau menyebut dirimu Yang. Aku melambangkan kegelapan, sedangkan kau kecerahan. Meski bagimu, Yin dan Yang memiliki arti yang berbeda.

***

“Mulai saat ini aku akan memanggilmu Yin, sebaliknya sebut saja aku Yang.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Yin dan Yang itu pertanda keserasian hubungan seksual antara lelaki dan perempuan, keduanya saling melengkapi. Setiap ada Yin pasti ada Yang, begitu pun sebaliknya,” katamu.

Belakangan aku tahu dari sebuah artikel, bahwa itu mitos Cina tentang seksualitas yang muncul pada abad IV sebelum Masehi.

Sejak kunjungan ketiga itu, pertemuan kita selalu diawali dengan bercerita sebelum bercinta. Tentang ayahmu yang merupakan pejabat tinggi negeri ini, tapi tak pernah kau sukai. Bahkan beberapa kali kau berterus terang ingin membunuhnya.

“Dia hanya memberiku banyak uang, bukan kasih sayang.”

Maka, setiap pertemuan aku terus menyiapkan diri terlebih dahulu mendengar curahanmu yang membuatku sakit kepala, sebelum kau mengakhiri dengan kembali merampok selangkanganku.

Aku melihat banyak keanehan dalam dirimu. Setiap berhubungan, kau selalu ingin berada di posisi atas, dan aku selalu di bawah. “Yang harus berada di atas, karena dia laki-laki,” ucapmu. Mana peduli seorang pelacur dengan aturan semacam itu. Di hari lain, kau juga menjuluki alat kelaminku dengan nama Teratai Emas. Aku kembali mencari tahu, itu ternyata juga sebutan dalam teks Cina klasik.

Seiring keanehan itu, kelihaianmu di atas ranjang kian menjadi. Kau menunjukkan kepadaku berbagai posisi bercinta yang tak pernah aku bayangkan kendati aku bersanggama dengan puluhan lelaki hampir tiap malam. Dan kau selalu memberi nama yang tak lazim terkait gaya bercinta kita.

Tapi setelah percumbuan kita yang membara entah pada pertemuan ke berapa. Kau tak lagi berkunjung, jejakmu menghilang, walau aku menunggumu sampai malam terakhir sebelum tempat ini tutup di bulan Ramadan. Lalu aku sadar mulai merindukanmu.

***

Sepanjang Ramadan aku terus memikirkanmu. Aku menjalani kehidupan normal layaknya manusia biasa di bulan suci itu. Siang hari aku puasa, malamnya aku tarawih lalu menyambung dengan tadarus. Tidak ada orang di kampung ini yang mengetahui pekerjaanku, makanya aku bersikap seperti pada umumnya. Berharap Ramadan bisa sedikit membasuh kesalahanku yang menggunung. Sebelum pada waktu-waktu mendatang, aku kembali bergelimang dosa.

Namun aku menyadari, ingatan tentangmu selalu mengusik batok kepalaku, meski aku selalu berusaha mengusir tanpa jeda. Berbagai prasangka juga berkembang biak dalam pikiranku.

“Aku tak akan senang, jika ayahku tidak celaka di tanganku.” Terngiang lagi ceritamu.

“Jangan begitu, bagaimana pun ia tetap ayahmu.”

“Kau tidak tahu betapa bejatnya ayahku. Dia punya istri simpanan di mana-mana, dia jelas melukai ibu. Kadang, jika pulang, dia membawa perempuan-perempuan muda itu dan memasukkannya ke kamar.”

“Bukan ayahmu saja pejabat yang seperti itu, mereka punya uang banyak, punya kekuasaan, segalanya,” jawabku.

Apakah kau sekarang berhasil membunuh ayahmu? Lalu polisi meringkusmu dan mendekapmu dalam penjara? Aku sekarang malah berharap Hari Raya Idul Fitri cepat tiba, dan aku akan menunggumu lagi di tempat biasa kita bertemu.

Tujuh hari pasca lebaran, masa itu datang juga. Pagi sekali aku sudah berkemas, memasukkan pakaian dengan tergesa. Aku senang sekaligus gamang. Gerimis malah turun satu-satu saat aku mulai melangkah menuju jalan kampung sembari menunggu sepupu yang akan mengantarkanku ke terminal kecamatan. Tapi langkahku terhenti saat sebuah mobil sedan menerobos jalanan dan berhenti persis di depan rumah. Aku terkejut, lebih-lebih orang yang datang itu adalah kamu.

“Aku sekarang bukan lagi anak ayahku. Aku sudah memutuskan hubungan apa pun dengannya. Mulai sekarang, apa kau ingin hidup denganku, Yin? Tinggalkan pekerjaan itu, kita bisa mulai semuanya dari bawah.”

Bibirku terkatup, tak tahu harus bercakap apa.

“Mia…, Apakah ada tamu?” Dari dalam rumah, suara ibu menggema.***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November 1991. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah dimuat di media online dan cetak. Beberapa lainnya juga terpilih dalam Antologi, di antaranya: Antologi cerpen #di rumah aja Apajake, Antologi cerpen Rumah Kayu Pustaka, Antologi cerpen genreSosio-Religi Unsa Press, dan Antologi cerpen Mbludus.com. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung. Bisa dihubungi lewat email: [email protected], akun Facebook Romie Afriadhy.

Cerpen

Kabar dari Jauh

Cerpen Jeli Manalu

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Hari-hari berlalu setelahnya. Musim juga berganti. Pepohonan menggugurkan daun, tumbuh lagi dan gugur lagi. Saat Natal tiba, Salomo pulang dari perantauan dan Anggoni yang tinggal di kampung menyambutnya dengan hati gembira. Tetapi malam itu satu peristiwa menegangkan terjadi. Salomo anak paling tua. Empat bulan lagi usianya genap tiga puluh enam tahun. Dua saudari mereka telah lebih dahulu berumahtangga, dan masing-masing sudah memiliki keturunan. Anggoni sendiri anak bungsu, tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan orangtua sang perempuan acap kali menyuruh anak gadisnya menanyakan Anggoni kapan akan mempersunting putri mereka.

“Menikahlah, Abang,” satu kalimat yang terlontar pelan namun memantul seperti bola keras di kepala Salomo—itu perkataan dari adik kesayangannya, Anggoni, yang kemudian menyebabkan sebuah ledakan di rongga dada Salomo.

Malam itu, di tengah rapat keluarga serta bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara tampak indah bercahaya, Salomo tertunduk memandangi pusaran kopi hitam di bagian atas cangkir. Ia berpikir apakah ke dalam gelas kopinya ia perlu menambahkan satu sendok gula lagi, atau sesekali perlu memvariasikannya dengan krimer kental manis—supaya hidup sedikit lebih manis? Ah ya, belum sempat Salomo memutuskan yang mana dari keduanya, Anggoni bicara lagi, “Kupikir sudah waktunya Abang berumahtangga.”

Dengan bibir bergetar Salomo menjawab bila sampai hari itu juga, belum ada perempuan yang mau diajak hidup bersamanya.

“Aku tak percaya. Abang itu ganteng, tidak perokok, tidak peminum, rajin pula ke gereja. Pokoknya, menikahlah Abang.”

Salomo membisu, tidak tahu dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kenyataan itu.

“Soal dana, kubantu pun nanti. Abang jangan khawatir,” Anggoni melanjutkan kata-kata yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, meski saat itu, ia tidak menjelaskan tentang dana yang dimaksud adalah dua ekor anak lembu yang sudah ia beli dan rawat dua tahun.

Mendengar Anggoni menyinggung soal uang, Salomo kian geram. Ia merasa adiknya itu bukan saja mendesaknya perihal menikah tetapi sudah sampai pada tahap merendahkan dirinya soal mata pencaharian. Lantas, Salomo menyarankan adiknya itu agar berhenti mengusik hatinya dengan lebih baik mengurus kehidupan masing-masing saja. Dan di hadapan segelas kopi yang belum ditambahkan apakah gula atau krimer kental manis serta di sudut rumah bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara bersinar indah Salomo meninggalkan rapat keluarga. Ia menemui kegelapan malam agar tak seorang pun melihat betapa sakit dirinya, lalu esok harinya ia pergi padahal semua orang seharusnya berkumpul untuk bergembira bersama.

Pada perjalanan sendu yang entah ke mana arahnya kali itu, Salomo terus mengutuki nasib. Ia ingat kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Gara-gara ditolak gadis pada masa SMA, ia jadi siswa yang tak bisa diatur. Ia memakan uang SPP dan suka cabut dari kelas. Kata orang yang pernah melihatnya hingga melapor ke guru mengatakan, ia jadi preman di sekitaran toko dan berlagak sebagai juru parkir atau tukang pungut uang kebersihan. Saat mendapat surat panggilan dari sekolah hingga terancam tak bisa mengikuti ujian akhir karena tidak membayar SPP, ibunya panik namun berupaya mencari jalan keluar dengan menjual dua karung buah kopi tanpa sepengetahuan bapak.

Sepanjang merantau dan menjadi orang baik, Salomo sering memikirkan bagaimana kelak ia akan menikah. Ia mulai rajin bertanya tentang besaran sinamot (mahar) untuk anak gadis orang yang profesinya sebagai perawat. Ia pun makin sering menghadiri berbagai undangan adat yang datang padanya. Ragam serta kualitas ulos juga ia pelajari: mana buatan pabrik dan mana hasil tenunan. Ia merasa seandainya kelak menemukan jodoh, dirinya yang sudah merantau lama dan konon di telinga orang bekerja di sebuah perusahaan asing itu kurang pantas saja bila pernikahannya dirayakan terlalu biasa—ia tidak ingin masyarakat sekampung bicara macam-macam ke depannya.

Pernah persiapannya mencapai tujuh puluh persen. Tanpa ada firasat Salomo mendapati hatinya teriris. Mulanya ia menghadiri satu undangan dari kerabat. Di sana, di acara yang dihadirinya itu, ia saksikan kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain. Kekasihnya merangkul erat tangan lelaki lain itu. Dilihatnya lelaki lain itu masih kalah ganteng ketimbang dirinya. Apa kurangku, apa salahku?—ia bertanya pada hati yang lebam.Kata-kata makian sempat terlontar dari bibirnya.Hampir saja ia melayang untuk membanting tubuh lelaki lain itu namun apa daya, si perempuan, toh tak menjadikannya sebagai pusat tujuan.

Saat begitu galau, ia rajin menulis status di facebook. Banyak akun menaruh simpati akan keadaannya, termasuk adiknya, Anggoni mengirim emoji mata yang menangis. Di sisi lain, waktu itu, Salomo tidak tahu kalau Anggoni sebetulnya sudah tak sabar menunggu Salomo supaya menikah secepatnya, agar abangnya itu jangan pula ia langkahi sebagaimana dilakukan dua saudari mereka—Anggoni cemas seandainya itu ia lakukan maka dalam bayangannya Salomo bisa-bisa bernasib sial, yakni tidak mendapatkan jodoh sampai ubanan, dan Anggoni, tak ingin itu terjadi. Ia ingin Salomo bahagia selamanya. Akan tetapi Salomo tidak mengerti hutan hati Anggoni, adik kesayangannya itu. Ia tidak tahu bila Anggoni sudah merasa terdesak agar segera mengakhiri masa lajang. Ia tidak tahu Anggoni berada dalam kegelisahan yang apabila terlalu lama menunda untuk melamar, gadis pujaannya dikhawatirkan malah diembat orang—ada satu teman Anggoni ditinggal menikah sang pacar karena merasa digantung meski alasan temannya itu jelas, yakni menyelesaikan studi di luar negeri yang bersisa tak lebih dari sepuluh bulan.

Sejak rapat keluarga ketika pulang merayakan Natal di kampung yang membuat keduanya sama-sama terluka itu, setahun lamanya Salomo dan Anggoni saling menghindar. Tidak menelepon dan tidak saling berkirim pesan. Suatu hari sewaktu Salomo mengaktifkan lagi aplikasi messenger-nya, ada pesan yang mengakibatkan perasaannya sulit untuk didefinisikan. Pesan itu sudah dua tahun dikirim, pesan ketika dirinya masih akur-akurnya dengan Anggoni, pesan ketika ia belum putus cinta dengan perempuan yang berprofesi sebagai perawat, pesan yang tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari perhatian Salomo.

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayanganku untuk membeli dua ekor anak lembu, supaya ketika mereka besar nanti, bisa kita pergunakan untuk lauk daging pada masing-masing pesta pernikahan kita. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Salomo menyesal. Bibirnya bergetar menyadari kebaikan hati sang adik yang ternyata telah menyiapkan banyak untuk pernikahan mereka kelak. Ia menyesali pertengkaran yang tak menghasilkan apapun itu. Seandainya waktu itu ia tidak langsung tersinggung. Seandainya ia membiarkan adiknya mengutarakan maksud terlebih dahulu, sehingga ia paham akan orangtua kekasih dari adiknya sudah mendesak Anggoni supaya menikahi putri mereka. Salomo kini bersedih. Dalam pikirkannya sekarang hanyalah memperbaiki hubungan dengan sang adik, lebih tepatnya ia merestui Anggoni agar menikah lebih dahulu.

“Halo. Bapak?”

“Ya, aku.”

“Bagaimana kabar Anggoni?”

“Kau tidak tahu kabar?”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sudah berapa lama kau tidak mau bicara dengannya?”

Salomo diam, menebak apa yang sedang terjadi.

“Kalian berkelahi lagi, kan?”

“Sudah lama ia tidak meneleponku.”

“Kalau ia tak meneleponmu, kaulah yang meneleponnya.”

Salomo tersentak dengan ponsel yang masih menempel di telinga, belum pernah ia dengar suara bapak ketus begitu. Biasanya bapak senang bercanda. Kali ini bapak terkesan menyerang seakan Salomo sudah melakukan kesalahan yang amat fatal.

Salomo lalu membuka facebook dan mencari nama Anggoni yang sudah sempat ia unfollow itu. Ia gulir ke bawah, ketemu foto adiknya. Posisinya duduk. Kedua tangan beserta dahi bertumpu di lutut. Pose dalam foto itu diambil dari samping. Dibuat gambar lembu sebagai bingkainya. Di bagian tengahnya terdapat tulisan. Salomo men-zoom-in supaya bisa membacanya.

Suatu pagi, aku begitu bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menolong orang yang lagi kesusahan. Ada yang menggedor-gedor pintu mencari lembu untuk dimasak di sebuah pesta sebab ia tahu aku memiliki apa yang mereka butuhkan. Dua orang yang datang pagi itu tampak begitu memelas. Wajahnya tak tega untuk kutolak. Mereka menawariku dengan harga satu setengah kali lipat atas dua ekor lembuku. Kata mereka, hewan yang mereka persiapkan mendadak pingsan lalu mati dalam perjalanan. Aku pun memenuhi permintaan mereka, mengira seandainya hal serupa menimpaku menjelang pesta pernikahanku kelak—bila itu terjadi, seseorang mungkin sudi membantu karena aku sudah terlebih dahulu melakukanya. Sehari kemudian, setelah daging lembu itu dimasak lalu diantarkan kepadaku sebagai ucapan terima kasih dan aku memakannya begitu lahap karena masakan itu sangat enak, aku baru tahu kalau yang menikah itu ternyata calon istriku.***

Riau, 2017-2020


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu tahun 2018.