Cerpen

Cara Berdoa

Cerpen Fahrul Rozi

Aku terbangun dari tidur panjang dan mendapatkan diriku ada di atas batu besar. Aku melihat di sekitarku ada banyak pohon yang melindungi batu ini. Karena penasaran aku segera turun, dan, batu ini amat besar melebihi perkiraanku. Saking besar dan tingginya aku tidak merasakan sakit ketika mendarat. Ini sangat aneh. Mungkin karena sudah lama disakiti tubuhku menjadi kebal terhadap sesuatu. Aku berjalan sebentar di sekitar batu besar dan pohon-pohon rimbun. Sebuah rumah kayu berdiri di antara pohon-pohon. Aku mencoba mengingat sesuatu, perihal rumah, mengapa aku di atas batu besar, dan di mana ini. Ingatan itu datang serupa bom, kepalaku seolah meledak dan tidak ada yang tersisa kecuali kepingan ingatan. Aku tersadar bahwa aku terlempar jauh dari tempa asalku. Jin cilik sepertiku gampang sekali ditendang. Aku pikir saat itu—mungkin 50 tahun lalu—aku akan mati ketika dipukul habis-habisan oleh mereka. Tapi aku masih hidup. Aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan padaku, aku juga tidak peduli dengan hidup ini.

Sebelum ditendang mereka aku pernah berteman dengan manusia bernama Iran, gadis yang baik dan selalu menerimaku apa adanya. Aku ingat sekali dengan kata-katanya, “kamu itu jin yang lucu,” bukannya aku menyangkalnya tetapi ucapan Iran membuatku tidak ingin pergi meninggalkannya.

“Jika suatu hari kamu tersesat dan tidak tahu jalan pulang, ketahuilah bahwa di atas sana ada Tuhan yang selalu melihatmu. Mintalah pada-Nya petunjuk jalan, niscaya Tuhan akan menunjukkan jalan padamu.”

Aku tahu kali ini aku sedang tersesat dan tidak menemukan jalan pulang, tapi aku bukan manusia yang selalu berdoa. Aku jin kecil yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan berdoa saja tidak tahu. Memang aku pernah melihat manusia mengangkat tangan beramai-ramai setelah salat, tetapi apakah itu disebut doa?

Aku harus mencari cara agar tahu caranya berdoa. Bagaimanapun aku harus keluar dari hutan ini. Walau pun aku suka dengan batu besar ini, tapi aku tidak bisa terus-terusan tinggal di sini.

Sebelum aku beranjak pergi, aku mendengar kasak-kusuk dari balik semak-semak. Suara tapak kaki manusia, aku hafal betul. Aku duduk di atas batu, dan keluarlah perempuan setengah telanjang membawa daging ayam yang baru saja dipanggang. Ia letakkan ayam dan segentong air di depan batu, lalu ia mendekap telapak tangan dan menaruhnya di depan dada. Aku tidak pernah melihat manusia berlaku seperti ini. Aku tetap duduk dan memperhatikannya. Tidak lama seorang laki-laki—yang juga setengah telanjang—datang dan menaruh dupa di samping makanan. Aku semakin asik melihat mereka. Mata mereka terpejam dan mulutnya merapal entah apa, mungkin doa, mungkin juga mantra. Aku semakin tertarik dan tetap duduk sampai mereka pergi. Sebelum pergi mereka sempat cekcok karena hal sepele.

Aku mengingat apa yang pernah kulihat sebelumnya, seperti melihat manusia memakai pakaian rapi dan pergi ke masjid. Mereka berlutut, bersujud, dan macam-macam lagi. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi nyatanya mereka tidak bisa diganggu. Sebab waktu aku menghampiri mereka dan menggoda salah manusia di barisan depan, mereka tetap melakukan gerakan itu sampai selesai. Mungkin itu bisa dibilang “berdoa”, seperti dua manusia barusan.

“Kenapa aku bisa melihatmu? Karena Tuhan membuka indera keenamku. Aku sudah biasa melihat makhluk sejenismu, tetapi dari sekian jin, cuman kamu jin yang lucu. Hahah.”

Humor Iran sangat kering. Aku memaksakan tawa agar ia tidak tersinggung. Aku sering mendengar humor Iran. Tidak ada satu pun humornya yang membuatku ngakak, tapi ia sangat suka ketawa. Ia selalu ceria dan tidak pernah memikirkan masalah yang sedang ia hadapi.

Satu hari di musim panas aku menemuinya. Ia sedang mengangkat kedua tangan dan membaca beberapa lafal doa, mungkin. Setelah selesai ia menoleh ke belakang. Ia tahu saja kehadiranku. Aku segera mendekatinya dan bertanya apa yang tadi ia lakukan, walau sudah sering melihat ia melakukan itu, tapi aku enggan bertanya. Ia kemudian menaruh tangannya di atas kepalaku dan berkata di dekat telinga.

“Berdoa,”

“Apa itu berdoa? Apakah itu mendapatkan makanan?”

“Bukan, teman. Berdoa seperti kita sedang mengobrol. Tapi kau perlu tahu bahwa berdoa bukan sembarang mengobrol. Berdoa wujud kita mengobrol pada Tuhan. Kau bisa berdoa dengan caramu.”

Sayangnya, aku tidak pernah diajarkan berdoa oleh orang tuaku di dunia jin. Aku bahkan tidak pernah mendengar mereka berdoa. Aku tidak tahu apakah aku boleh berdoa pada Tuhan atau mungkin sudah lambat untukku berdoa.

Apapun alasannya aku harus menemukan cara berdoa untukku. Segera mungkin aku pergi dari batu besar dan mencari manusia, jin, dan makhluk Tuhan yang lain.

Tidak jauh dari rumah kayu aku menemukan pohon meranti yang amat besar nan tinggi. Aku duduk di atas akar yang menonjol dari tanah. Selama beberapa detik angin bertiup dari arah selatan, menyebabkan bunyi gesekan ranting dan bunyi hewan kecil yang tinggal di pohon besar ini. Aku merasakan getaran pelan di akar yang kududuki. Mungkin ini adalah cara pohon meranti berdoa. Tidak salah lagi. Aku bisa merasakan getaran yang berbeda setiap satu menit, angin yang bertiup, bunyi hewan, ini seperti ratusan doa dari banyak makhluk yang hidup di hutan ini lalu bersatu di pohon meranti. Aku bisa merasakan hal itu, karena aku dapat melihat energi doa terpancar dari batang pohon meranti makin panjang dan membubung tinggi ke langit. Tiba-tiba langit tersibak seolah menyambut energi doa tersebut agar masuk. Aku memperhatikan awan seolah berhenti  dan burung yang terbang terdiam di langit.

Aku sadar telah menemukan sesuatu yang harus kubawa pulang. Pulang ke batu besar. Aku meninggalkan pohon meranti besar. Sebentar lagi aku akan berdoa pada Tuhan.

Di atas batu besar aku duduk menyilangkan kaki lalu mengikuti apa yang dilakukan Iran kemudian berdoa: Wahai Yang Maha Dengar aku berdoa untuk pertama kalinya, aku berdoa karena aku baru mengetahui cara berdoa, aku berdoa karena meminta petunjuk jalan pulang. Wahai Yang Maha Dengar, aku berdosa, sudah sepantasnya aku dihukum, jika hukumanmu adalah pengasinganku di sini, maka aku terima. Tapi aku pun tahu Kau adalah dzat yang Maha Pengampun, maka izinkanlah aku bertemu kembali dengan Iran. Ia manusia yang sangat baik dan selalu menyembunyikan masalah dariku. Aku ingin bersamanya…

Sebelum menyelesaikan doa aku membayangkan Iran di kamarnya. Tapi aku lupa dengan wajah Iran. Lalu aku melanjutkan doa. Langit gelap, tapi doaku terus berlanjut sampai pagi, sampai malam lagi. Aku tidak tahu sudah berapa hari aku berdoa. Kemudian sadar, aku tidak tahu cara mengakhiri doa.**

Jakasampurna, 06-04-2020


Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.

Cerpen

14.400 Detik Sebelum Aku Lahir

Cerpen Seto Permada

Gemetar guruh menggetarkan dinding-dinding rahim yang menjagaku. Kudengar tetes hujan dari kecil-kecil hingga sebesar jempol. Beberapa detik sebelumnya, aku tidur pulas, bermimpi singgah ke negeri peri. Gadis-gadis berkemban dan bersayap putih menawariku segelas susu ekstra madu yang diambil dari sungai panjang nan lebar. Tawaran itu pun kuterima. Namun, saat kucoba menggapai gagang gelas, tangan mereka menjauh, menjauh, hingga kecil-kecil seperti kuman.

Itu suara Ibu. Suaranya mengaduh. Kedua tangannya mengetukku dari luar. Refleks, kedua tanganku pun meraba-raba dinding gelap ini. Ada apa, Bu? Ia bercerita siang tadi ke warung Mpok Jamilah. Di sana ada Pak Tob. Orang itu meledek, “Apakah kau mau melahirkan anak perempuan lagi, Marni, yang kelima kalinya? Tidak bosan?”

Di sela keluhan Ibu, kutangkap nadanya yang ingin aku lahir sebagai anak laki-laki. Kedua tangannya mengelusku dari luar. Rata. Tak ada benjolan kuat yang mengerucut. Pertanda kelak aku menjadi anak perempuan. Apa salahnya menjadi anak perempuan, Bu? Kakak-kakak perempuanku di luar sana pasti sudah banyak membantu; masak, mencuci, atau bahkan ikut mencari nafkah. Ya, kan, Bu?

Kini, suara keluh Ibu dibarengi suara jatuhnya hujan yang mengetuk dinding rahim keras-keras. Sering kutanya pada Tuhan, Mengapa tak Kau-sediakan lampu? Namun Dia tak menjawab. Barangkali ruangan khusus ini memang diciptakan agar tetap menjadi rahasia besar sepanjang zaman.

Kuhitung-hitung, sudah 8 jam Ibu tak makan apa-apa. Biasanya tidak selama ini. Selang yang menancap ke perutku tampak kempis. Bahkan saat kupencet hanya berisi udara. Apa Ibu ingin jadi pembunuh menjelang kelahiranku?

Dua jam penuh Ibu merintih dan meraung-raung tak tentu di tengah lebatnya hujan. Setelah itu, suaranya semakin lemah dan lemah hingga sepenuhnya tergantikan oleh hujan. Detak jantung Ibu yang berada di bawah kedua kakiku terdengar melambat. Ruangan ini pun terasa sesak dan pengap. Aku lemas.

***

“Marni! Marni! Kenapa kau tiduran di sini tengah hujan-hujan begini?”

“Ah, kau sudah pulang rupanya. Tiba-tiba tadi aku ingin jalan-jalan.”

“Di rumah anak-anak bagaimana?”

“Mereka tidur.”

“Ayo pulang. Jangan sampai dilihat orang. Apa kata Eyang nanti kalau dia tahu kau tergeletak di lapangan sepak bola.”

“Ya jangan bilang-bilang.”

“Kamu belum makan, ya? Wajahmu pucat. Ayo kita pulang.”

“Sudah, kok. Tadi makan ikan kalengan.”

Maaf tadi aku tidur sebentar. Jarang-jarang ada suara Bapak. Percakapan tadi, meski sepotong, kudengar dengan saksama, bahkan kata per kata. Ia jarang pulang karena kerja di luar kota, kata Ibu suatu waktu. Sama dengan Ibu, sebenarnya aku merindukan Bapak dan suara-suaranya yang besar itu. Di rumah, Eyang mendominasi suara-suara yang beredar. Kadang aku malu sendiri. Apalagi, kata Ibu, rumah kami diapit dua rumah dan berada di tengah-tengah puluhan rumah lainnya.

Sesampai di rumah, Ibu diantar ke kamar mandi oleh Bapak. Suara hujan deras tadi tergantikan oleh guyuran air kulah yang terasa jauh lebih hangat. Seakan-akan, air itu menyirami sekaligus menyelimuti seluruh permukaan tubuhku. Samar-samar, di luar juga terselip dengkuran Eyang. Mengapa harus ada dengkuran seberisik itu?

Saat Ibu menggosok gigi, ubun-ubunku terasa berdenyut. Apa ini? Udara asing bertiup di ujung kepalaku, membelai-belai sebagian rambutku. Serta-merta, Ibu menghentikan acara gosok gigi dan berteriak memanggil-manggil Bapak. Kudengar suara panik dan langkah kaki mendekat. Namun kepalaku terlalu pusing, dadaku berdetak kencang, dan tubuhku lemas. Suara-suara itu semakin mengecil seperti para peri yang beberapa jam lalu meninggalkanku….

***

Saat bangun tidur, kudengar Ibu teriak keras-keras, menggetarkanku, membuat ruangan ini semakin sempit dari detik ke detik. Getaran lain berasal dari bawah punggung Ibu, diiringi suara klakson dan derum mobil.

“Sebentar lagi sampai.”

“Eyang tidak ikut, Mas?”

“Masih tidur tadi. Sayang kalau dibangunin.”

“Syukurlah. Kita mau ke mana?”

“Rumah Sakit Kasih Ibu. Ya kan, Mang?”

“Ya, Bos,” itu suara Mang Kholil, tetangga sebelah.

“Tidak ke rumah sakit umum saja? Katanya gratis, kan?”

“Aduh, KIS kita kan belum jadi.”

***

Setelah beberapa kali tarikan ke kanan dan ke kiri diiringi erangan Ibu, akhirnya mobil yang kami tumpangi diam juga. Bapak membopong Ibu. Sedang Mang Kholil diminta ke resepsionis agar kamar bersalin cepat siap.

Setibanya di kamar, Ibu belum langsung melahirkan. Sesuai arahan suster, Ibu harus menjaga ritme pernapasan dulu. Jangan ada tekanan padaku. Lepas saja seperti bernapas biasa. Suster itu benar. Apabila Ibu mengerang dan menekan dirinya sendiri, rasanya aku teremas-remas. Sedangkan saat Ibu bernapas lepas, ruangan ini menjadi lapang dan perasaanku sangat lega. Mungkin Tuhan ingin aku dan Ibu saling bekerja sama dan saling mengerti.

“Anda suami dari Ibu Marni?”

“Saya, Bu Dokter.”

“Sesuai prosedur kami, suami dari pasien yang hendak melahirkan diharap ke luar ruangan.”

Meski agak ragu karena tak ingin meninggalkan Ibu, terdengar juga jawaban, “Baik, Bu Dokter.”

Suara Bu Dokter sangat mirip dengan Elisa, salah satu peri berkemban dan bersayap putih yang pernah mengajakku berdansa di atas lapisan salju dalam cuaca cerah. Kami berdansa di atas gerakan ikan hiu, anjing laut, penguin, dan udang. Gerakan kaki-kaki kami membentuk cetakan-cetakan indah.

“Ayo, terus ikuti langkahku dan lihat cetakan apa yang kauhasilkan,” kata Elisa memberi aba-aba.

“Bunga!”

“Ya, kelak kau akan jadi gadis tercantik di dunia.”

Aku tersipu.

“Lihat ada lagi.”

“Kucing!”

“Ya, kelak kau akan selalu menyayangi binatang dan melindungi mereka dari orang-orang jahat.”

“Sekarang kita menuju langkah terakhir. Gerakkan tanganmu ke atas dan berjinjit. Lihat cetakan yang kauhasilkan.”

Aku agak bingung karena cetakan terakhir berbentuk kotak persegi panjang, terdapat gambar di tengah-tengahnya, dan ada tulisan-tulisan di atasnya. Cetakan itu berbentuk lembaran-lembaran saat angin musim dingin meniupnya.

“Apa itu, Elisa?”

“Menurutmu?”

Kurasakan Bu Dokter menekan perutku dari luar. Tak lama kemudian, tangannya meraih kepala dan tubuhku. Tangan kasar itu tak sama dengan Elisa. Apakah Bu Dokter adalah Elisa versi jahat?

Selama prosesi melahirkan, Ibu kehilangan suaranya. Tak bisa kubayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Pasti sangat kecapaian. Bu, besar nanti, aku akan rajin mencuci, memasak, merawat bunga-bunga, dan jadi gadis terpandai di dunia. Aku pasti bisa membuat Ibu bangga.

“Selamat. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat,” kata Bu Dokter sebelum membawaku ke ruangan lain.

Ibu tidak menjawab apa-apa. Mungkin karena ia terlalu letih sekaligus terkejut. Saat Bu Dokter keluar membawaku, sebenarnya Bapak sudah tak sabar ingin menimangku. Namun Bu Dokter tetaplah Bu Dokter. Ia menyerahkanku ke salah satu suster dan membawaku ke ruang pencucian sekaligus peristirahatan.

Saat suster itu membilasku dengan air sehangat tubuh ini, aku terus bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku seorang laki-laki? Laki-laki macam apakah aku nanti? ***

Purworejo, 22 April 2021


Seto Permada adalah nama pena dari Muhammad Walid Khakim. Ia berdomisili di Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa kali karyanya termuat media lokal dan media online.

Buku, Resensi

Populisme Kiri: Menggugat Hegemoni, Meradikalkan Demokrasi

Oleh Muhammad Teguh Saputro

Frasa suci dalam catatan sejarah yang sudah tidak asing lagi kita dengarkan mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tentang perebutan kekuasaan. Makna besar kekuasaan dalam frasa tersebut tidak semata tentang tahta kepemimpinan, susunan kabinet, atau kursi parlemen, melainkan lebih dari itu, pertarungan ide, gagasan, media, bahkan massa yang terkoneksi menjadi suatu tatanan sistem – ekonomi dan politik – yang bersifat mendominasi dalam segala lini kehidupan.

Perebutan wacana ide besar tatanan kehidupan – sistem, tidak lagi menjadi topik baru dalam altar peradaban manusia. Terhitung sejak lahirnya Revolusi Prancis di abad ke 18 sampai mencairnya Perang Dingin di senjakala abad ke 20 –tarik-menarik dominasi di percaturan politik global tidak pernah berhenti. Sejarah panjang yang populer dikenal dengan perebutan wacana antara Faksi Kanan dan Faksi Kiri perlahan berhenti ketika banyak negara secara bergilir mencapai titik konsensus yang dianggapnya sebuah konklusi dari konflik panjang ini. Konsensus yang dengan sepakat diberi nama demokrasi.

Titik Nadir Demokrasi

Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia yang menyandang gelar profesor teori politik di University of Westminster, UK, menguraikan narasi dengan arah arus yang sangat baru dan berbeda. Lewat bukunya yang berjudul Populisme Kiri, Mouffe membeberkan bahwa konsensus demokrasi yang dulu dicita-citakan sebagai titik netral dengan menjunjung nilai kesetaraan dan kedaulatan, hari ini berada di titik nadir dengan semakin dominan dan kuatnya faksi Kanan – populis, yang terus mengglorifikasi politik identitas, sentimen rasial, keagamaan, kesukuan, xenofobik. Sebuah titik yang tidak pernah terbayangkan, titik konsensus yang dianggap netral dan setara hari ini berada di tangan-tangan populis yang mengimani pandangan yang bertolak belakang dari cita-cita.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri juga membeberkan tentang ruang demokrasi yang terkungkung dalam genggaman kaum populis saat ini bukan tanpa alasan. Mouffe lewat catatan dan analisa yang ditulisnya setidaknya mengatakan, titik nadir demokrasi di tangan kaum populis hari ini lahir dari jurang kesenjangan yang dilahirkan ruang demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tatanan sistem konsensus demokrasi pasca perang dingin yang mengaburkan batas kanan-kiri melahirkan suatu pondasi sistem yang rentan akan krisis. Liberalisme yang semakin berkembang setelah mendapat tempat di sisi demokrasi pasca-konsensus, sejak awal mempunyai bagian yang saling bersinggungan dan bersifat kontradiktif.

Demokrasi yang berdiri dengan tiang agung kesetaraan dan kedaulatan, bertolak belakang dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan individualisme. Perkawinan dua sistem yang mempunyai kontradiksi tersebut seakan tampil menjadi wacanan sistem baru yang bersifat mengakomodir. Dengan dibantu kinerja-kinerja hegemonik oleh berbagai formula hegemoni — seperti birokrasi, media, dan wacana globalisasi – sistem konsensus ini berkembang dengan sangat pesat namun menyimpan kerentanan yang sangat besar di baliknya.

Konsensus yang kemudian hari dikenal dengan istilah demokrasi liberal,berkembang dengan semangat mengalenisasi wacana rakyat– terganti dengan wacana kebebasan individu – mencapai titik nadirnya pada pecahnya krisis ekonomi internasional, seperti di tahun 2008 yang menimpa dan membuat dampak yang fatal bagi negara-negara besar demokrasi.

Ketimpangan dan kesenjangan yang dilahirkan demokrasi liberal semakin jelas pasca-krisis. Imbasnya, momen populis–momen merebut kembali kedaulatan dan wacana rakyat yang ada di banyak negara dan bersifat resistance–lahir dan diikuti meletusnya gerakan besar alternatif melawan hegemoni liberalisme.

Momen populis ini semakin tumbuh. Dengan metodologi redefinisi yang jelas antara makna dan siapa-kita serta makna dan siapa-mereka, (baca: rakyat v.s elit), kaum populis memanfaatkan momen ini dengan dalih memulihkan demokrasi. Alih-alih memulihkan ke cita-cita awal – kedaulatan dan kesetaraan – demokrasi semakin mencapai titik nadirnya dengan politik identitas, intoleransi, dan sentimen rasial di bawah tempurung populis-kanan.

Merebut dan Meradikalkan Demokrasi

Keprihatinan mengenai kondisi demokrasi saat ini yang – kebanyakan – berada di bawah kendali kaum populis – yang semakin menjauhkan tatanan dari kesetaraan – membuat beberapa filsuf dan akademisi politik berdebat dalam merumuskan strategi untuk merebut kembali demokrasi. Di posisi inilah Mouffe tampil dengan gagasan yang tertuang di bukunya; Populisme Kiri. Menurutnya, kondisi hari ini tidak semata gagalnya konsensus demokrasi liberal membendung krisis yang berakibat kesenjangan yang begitu besar, tetapi lebih dari terdapat fenomena realitas lain, yakni matinya gerakan revolusioner (baca:kiri), dan keberhasilan kaum populis memanfaatkan momen – kesempatan yang dihasilkan krisis.

Gerakan revolusioner sibuk menenggelamkan diri dengan perdebatan internal mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk merebut demokrasi. Banyaknya faksi yang terdapat dalam arus ini masih sibuk berdebat mengenai metodologi revolusi yang akan digulirkan. Beberapa memilih revolusi total, beberapa lain menyimpang dan memilih memasuki pusaran sistem dan berusaha merovolusi dari dalam. Imbasnya, ketiadaan keselarasan visi tersebut semakin melemahkan arus gerakan dan mengaburkan tujuan awal.

Sedangkan di sisi lain, faksi tandingan yang dikenal dengan istilah populis berhasil memanfaatkan krisis yang dilahirkan demokrasi liberal. Jurang kesenjangan berhasil dimanfaatkan kaum populis untuk meredefinisi musuh bersama. Wacana rakyat yang selama ini perlahan hilang dari gelanggang demokrasi, direbut dan dimunculkan kembali sebagai kendaraan untuk merebut demokrasi dan mengantarkan pada kemenangan – kekuasaan.

Mouffe, sebagai salah seorang yang prihatin terhadap kondisi yang dilahirkan kaum populis ini mencoba merumuskan dan menawarkan strategi baru untuk kaum revolusioner yang kehilangan arah. Bagi Mouffe, strategi populis yang berhasil tersebut dapat kita adopsi, meski tentu dengan berbagai catatan yang membedakan.

Mouffe menjelaskan, keberhasilan kaum populis sangat dipengaruhi momen populis yang dilahirkan oleh krisis. Momen populis yang dimanfaatkan gerakan untuk meredefinisi realitas guna membentuk wacana publik tersebut harus dimanfaatkan sebagai momen mengonsolidasi perlawanan. Jika kaum populis mendefiniskan dengan garis demokrasi yang jelas antara rakyat dan elit, yang dimanfaatkan untuk meraup suara, kaum kiri haruslah mampu melakukan hal yang sama. Membedakan diri dan menciptakan musuh bersama di wacana publik, serta merangkul berbagai elemen untuk mewujudkan kontra-hegemoni secara bersama.

Mouffe menyadari kemapanan sebuah sistem – termasuk demokrasi liberal – sangat ditopang oleh keberhasilan sebuah formula yang bersifat menghegemoni. Meminjam teori yang pernah diajarkan Antonio Gramsci, Mouffe menjelaskan melawan hegemoni tidak lain dengan menciptakan formula baru yang bersifat kontra-hegemoni.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri ini mengajak pembaca untuk merefleksi strategi yang pernah dilakukan kaum populis – dan berhasil, untuk diadopsi dan dimodifikasi dalam gerakan yang lebih revolusioner guna keluar dari hegemoni liberalisme dan menyelamatkan pilar demokrasi yang diinjak-injak kaum populis sejauh ini.

Mouffe yang percaya bahwa demokrasi dan negara adalah ruang netral untuk saling menciptakan ide-ide yang membentuk formula hegemoni, secara sederhana dia mengajak pembaca untuk menggugat hegemoni yang selama ini melahirkan krisis – liberalisme, dengan menciptakan formula kontra-hegemoni untuk turut mewarnai ruang demokrasi, serta menciptakan perubahan yang radikal dalam sistem demokrasi untuk cita-cita mulia yang pernah dimimpikan bersama. Bahwa demokrasi adalah sebuah konsensus untuk menegakkan kesetaraan dan kedaulatan di tangan rakyat – bukan elit, oligarki, dll. Pentingnya kemenangan kiri untuk menyelamatkan demokrasi harus disertai pentingnya membentuk wacana publik lewat momen populis, menciptakan formula kontra-hegemoni sebagai alternatif, serta meradikalkan sistem demokrasi untuk menciptakan berbagai perubahan-perubahan besar yang dimimpikan rakyat.


Muhammad Teguh Saputro, mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Kemah

lihat! malam meninggi menyundul langit, katamu

ombak berlarian dengan kaki-kaki kecilnya

yang sekarang tinggal suara dan dengus gema

kita kemudian menegakkan dua tenda

saling bermuka-muka, di tengah terdapat

kobar api dengan lidah merah menyala

aku mengutuk dingin, ia seperti terlahir dari

ujung daun yang terus melambai nan melandai

ini bulan ke satu, katamu, dingin selalu lewat

dari batas kewajaran manusia di muka bumi

perlahan kita menyederhanakan penyambutan

pada malam. sekadar menolak dingin

mengusir rupa-rupa hening, hingga

mengalungkan hangat di leher masing-masing

sementara lagu-lagu dengan nada berlubang

menusuk kuping. membiarkan kita bertahan

di tengah sengau dingin yang bening

Yogyakarta, 2021


Berpulang

dalam darahku mengalir deru angin

ombak memintal umpama laut kampung halaman

setelah menjauh dan mengunjungi tahun-tahun biru

pulang pelan-pelan, meletakkan batu rindu pertama

aku masih mencintaimu, ternyata

riak-riak kecil di dada meletup

bersorak, benar-benar menyerupai ramai ombak

kulihat kembali, anak kecil di gigir

batu pantai melempar patahan tembikar

ke permukaan laut, mereka menghitung

berapa lompatan sebelum akhirnya

tenggelam sampai dasar

tidak pernah lupa, bendera setengah

robek yang terpancang di tiang sampan

dengan sungguh-sungguh menghantar

pulang seluruh ingatan

Yogyakarta, 2021


Mahabah Bahasa

mula-mula kita menyoal darimana muasal bahasa

kata yang mengendap menjelma epitaf

seumpama duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus pegon di kulit karang

lalu mengirim debar atau debur ke dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

—dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

sebuah suara lantang dari lubang

yang tidak diketahui sebelumnya

semisal kita senantiasa menggali tanah ini

sejengkal demi sejengkal dan tidak sampai satu depa

tetapi terus digali sampai batas paling bawah

menemukan satu dua batu bercampur tanah merah

;tulang dan arwah pohon yang ditarik pada muasal

kita sering bertanya darimana asal seluruh bahasa

cinta dan kesedihan yang tertampung di tulang iganya

dan bila sedikit kau sentuh, akan kau temukan

ketenangan di sana

Yogyakarta, 2021


Senyum Qamariyah

udara berkabut, dingin menyusup ke tulang punggung, qamariyah

kita berdiri di halaman saling tatap dan sangat lekat

umpama masuk ke lubang yang gelap, meski tak kutemukan

bayang-bayang siapa pun lewat walau sekejap

kau mengerdipkan mata, gerak bintang selatan dan awan-awan

merapat ke pundakmu. mereka mengerubungi kita, sementara

kau bertanya; untuk apa senyum diciptakan?

kutemukan bibirmu hanya di tanggal satu, terus-menerus

menyuntikkan senyum, menggetarkan bulu-bulu dada

dan seluruh bangunan kokoh di dalamnya. namun, udara

tetap berkabut, qamariyah, wajahmu timbul tenggelam

bibirmu seperti tumpul menembus nan menebus kegelapan.

batapa pun dunia hanya tercipta dari liang kefanaan

umapa bibirmu yang sepintas lewat di padang pikiran

Yogyakarta, 2021


Tengah Malam Terjaga dan Terpaksa Berdoa

pekarangan berbalut senyap dan kau mengintipnya

dari balik jendela dengan gorden keemasan

serta ulas abu-abu setengah karat

;bulan rebah di padang rumput

sementara pohon di halaman semaput

kau mengangkat tangan seraya meyakini

doa yang mengental di lubang dada

akan dengan mudah mengetuk angkasa

sebelumnya, kau sengaja merebahkan lelah

di dataran ranjang. lalu mengatupkan mata

pelan-pelan sampai tak terdengar bunyi

kedip kelopak yang bersentuhan

kau benar-benar terjaga, kepalamu

seumpama dirasuki deru mesin pabrik

yang berisik sepanjang hari tanpa jeda

kembali kau angkat tangan

Tuhan sedang melambai, meski

sebatas bayang-bayang

Yogyakarta, 2021


Bersalin

apa yang kau tatap? langit-langit kamar sembap

udara berlindung pada ujung bunga di perut pot

tangan kiri menggenggam ujung selimut

tangan kanan kuciumi sampai larut

napas kau tarik lalu diulur

kau tarik lagi diulur lagi

sebuah dunia keluar masuk dari

lubang hidung yang sempit

hanya cukup mencium bau-bau sengit

‘kau pejamkan mata, mengatupkan bibir

lantas mengerang kuat-kuat

itu desis sampai ke langit paling hakikat

doa saya melata di bawah ranjang tua

beserta doa lain dari manusia di luar ruangan

tangis pecah mengusik ubun-ubun

ini dunia baru, anakku, dunia bertemunya

seluruh kesakitan dari kamar rahim

serta, bagimu, bumi yang asing.

Yogyakarta, 2020


Herbsttag

ini musim gugur, hujan tigakali-empatkali

luruh di barat dan timur kota

lalu terhenti, daun maple berwarna

kuning kunyit mendekati merah nanah

terjatuh di tengah-tengah halimun

yang lurus kepala

kau geser kabut-kabur tipis

pohon di halaman minta disunting

kita mengintip dari bibir jendala beruap

bumi seperti padang luas, selalu

menerima sengat terik dengan ikhlas

tetapi, tidak sering kita menemui

lidah matahari menjilat-jilat.

pergantian dari satu musim ke musim lain

tidak pernah bisa ditaksir dengan tepat

Yogyakarta, 2020


Lidah Ibu

itu lidah api, kata ayah

beberapa jenis rasa sudah mengakar di sana

;kopi yang lebih gula satu inci

bisa dipilah lewat lidah paling peka

ia akan berdiri di mulut tungku

sekali-kali duduk menyilangkan kaki

beserta tabah mengakar di dada, menunggu

air dan lapar yang sama-sama mendidih

asap menyundul wuwungan dapur

berkali-kali menyelup ujung telunjuk

sampai kata-kata melekat di kuku

mendekatkan ke mulut, menjilat pelan

pejamkan mata. rasakan, apa yang

berlebihan!

setelah hangat berlalu, sampai

dingin menepi di piring-piring

ibu menjauh, ia hanya menyediakan

lidahnya bagi lidahku

Yogyakarta, 2020


Bahasa Nama

kita duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus epitaf di kulit karang

lalu mengirim debar sekaligus debur pada dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

;dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

rumah ombak, amis ikan, deru-deru kapal

menjemput matahari di dermaga yang majal

tetapi kita selalu duduk dan tetap termangu

duakali-tigakali mengangkat dagu

diiringi angin menggelinding dari ujung bukit

mengacak-acak hitam rambutmu

pikiran ditarik ke masa lalu, beberapa

jengkal dari bahasa kepedihan.

diajari bentuk huruf

hingga menyimpul nama kita

sejakitu pula kauhafalnama-nama

;asma lain kesedihan di lubang dada

Yogyakarta, 2021


Bahasa Laut

beberapa bahasa yang disampaikan laut

pada tebing menjulang atau sebuah tanjung

yang tinggi tidak sampai ke puncak matahari

;isyarat debur kecil yang menghentak

permukaan air

lipatan jalan yang digaris pacu sampan

menerobos dari utara ke selatan

kita tidak pernah menemukan, di laut

yang kekal selain pasang dan surut

bahasa laut umpama telunjuk rasi

menuntun di malam berkabut dan beruntun

menolak segala rupa hingga macam takut

ombak menabuh gendang telinga kita

bertalu-talu sampai di hari ketiga

seluruh yang lahir di laut

kerap berlidung di dada

sampai larut

Yogyakarta, 2021


Moh. Rofqil Bazikh, tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online. Bisa ditemui di surel [email protected] atau twitter rofqil@bazikh.

Cerpen

Seekor Kucing Titipan

Cerpen Ramli Lahaping

Aku tak pernah menduga bahwa kita akan bersama sebagai sepasang kekasih. Aku sama sekali tak punya perasaan spesial kepadamu di awal kebersamaan kita. Aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa. Apalagi, dahulu, kau hanyalah teman dekat seorang perempuan yang menarik perhatianku. Sebab itulah, kau cuma kuanggap sebagai perantara untuk mendekatkan diriku kepadanya.

Tetapi jalan buntu kemudian memupuskan harapanku terhadap teman dekatmu itu. Setelah sekian lama aku menyusun rencana dan menjejaki jalan hatiku, ternyata ia malah jatuh ke dalam buaian lelaki lain. Sampai akhirnya, aku mesti berurusan dengan perasaan yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku harus meredam deru perasaan yang selama ini kupendam terhadapnya.

Namun keseringan bersamamu, ternyata membuatku terjerat dalam perasaan yang sulit kujelaskan. Aku merasa menemukan lahan baru untuk benih cintaku yang tak sempat kusemai di hatinya. Dan kurasa, perasaan itu bukanlah bentuk pelarian semata. Pasalnya, aku merasa semakin nyaman saja bersamamu, dan perasaanku kepadanya perlahan-lahan memudar.

Menjadikanmu sebagai kekasih ketika pada awalnya hatiku mengharapkan dirinya, tentu bukanlah perkara yang mudah. Keteguhanku kadang-kadang goyah, sebab aku kerap menyaksikan kehadirannya bersamamu. Apalagi kalian memang mempunyai banyak aktivitas yang sama, baik dalam soal perkuliahan, atau soal kesenangan semata, khususnya perihal pemeliharaan kucing yang sama-sama kalian gandrungi.

Entah bagaimana perasaanmu kalau tahu bahwa engkau hanyalah ketersesatan yang menyelamatkanku, seumpama cinta kedua setelah aku kalah atas cinta pertama. Barangkali kau akan kesal dan meragukan kesungguhan cintaku yang tumbuh secara perlahan dan semakin menguat. Tetapi kau memang tidak akan pernah tahu, sebab aku akan merahasiakan soal itu selamanya, sehingga kau tetap merasa sebagai yang pertama dan utama di dalam hatiku.

Akhirnya, di balik rahasiaku dan ketidaktahuanmu, hubungan kita berjalan baik-baik saja, seolah-olah kebersamaan kita adalah wujud dari rencana harapan kita sedari awal. Kita menjalani hari-hari yang menggembirakan. Kita terus berusaha untuk saling menyenangkan. Segala hal yang menjadi kepentinganmu, akan menjadi kepentinganku juga. Begitu pun sebaliknya.

Sampai akhirnya, empat belas hari yang lalu, kau pun bertandang ke kos-kosanku, sembari membawa seekor kucing kesayanganmu yang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. “Aku ingin pulang ke kampungku. Aku mendapatkan kabar bahwa sepupuku akan menikah. Aku harus hadir,” terangmu kemudian, sembari mengusap-usap peliharaanmu itu.

Kita lantas duduk bersampingan di teras depan kamar indekosku.

“Apa kau akan lama?” tanyaku, sembari berharap kau hanya sebentar.

Kau menggeleng pelan. “Aku akan kembali ke sini secepatnya,” jawabmu, lantas menyerahkan kucing itu kepadaku. “Tolong jaga dia baik-baik,” pintamu, dengan raut wajah yang redup, seperti menyiratkan keengganan untuk berpisah lama-lama dengannya, ataupun denganku.

Aku lalu mengangguk keras. Berusaha meyakinkanmu. “Aku janji, ia akan baik-baik saja bersamaku.”

Kau pun tersenyum singkat. Tampak memercayaiku sepenuhnya.

Aku balas tersenyum.

Lantas dengan sikap tenang, kau kembali mengelus-elus kepala kucing yang telah berada di dalam dekapanku itu. Kau tampak begitu menyayanginya. Hingga akhirnya, kau mengutarakan tafsiranmu atas hakikat keberadaan kucing, “Kau tahu, kucing adalah makluk yang ajaib. Setiap orang yang hatinya penuh dengan cinta, pasti akan cinta pula pada kucing. Karena itulah, kucing bisa menyatukan cinta orang-orang yang saling mencintai,” katamu dengan raut sayu.

Aku tertawa pendek menyaksikan kemanjaanmu.

Dan akhirnya, hari itu juga, sebuah kapal membawamu ke pulau seberang, ke tanah kelahiranmu.

Sebagai kekasih, aku pun berjuang menjaga kucingmu demi hubungan kita. Aku berusaha memastikan bahwa ia baik-baik saja, sampai aku menyerahkannya kembali kepadamu. Aku berupaya memperlakukannya sebagaimana kau memperlakukannya. Karena itu, di dalam kamar indekosku yang sempit, aku menyediakan tempat tidur sesukanya, makanan sepuasnya, dan belaian-belaian yang manja.

Tetapi aku hanya bertahan selama dua hari untuk memperlakukannya sebagai raja. Aku jadi tak sanggup juga menanggung beban atas air kencing dan tahinya yang menyebar sembarangan di dalam kamarku. Sampai akhirnya, aku mulai melepaskannya untuk menjelajah di sekitar lingkungan kos-kosanku, sembari terus memantau dan membatasi pergerakannya agar tidak pergi terlalu jauh.

Namun kekhawatiranku atas keadaan kucingmu di lingkungan luar, perlahan-lahan memudar. Pasalnya, aku menyaksikan bahwa ia telah mengenali kamarku sebagai tempatnya untuk pulang. Setiap saat, setelah ia menjelajah entah ke mana, ia akan kembali ke dalam kamarku dengan sendirinya, tanpa perlu kupanggil dan kubujuk-bujuk lagi.

Pada hari-hari kemudian, aku pun memperlakukan sepatutnya saja, sebagaimana seharusnya memelihara binatang. Aku membebaskannya bermain di dalam kamarku, tetapi juga membiarkannya menjelajah sesuka hati. Aku menyisakan bagian dari makananku untuknya, tetapi juga membiarkannya mencari makanan semaunya sendiri.

Atas kebebasan yang kuberikan, bebanku atas pemeliharaan kucing itu semakin berkurang.Aku tak perlu lagi repot-repot untuk memanjakan kemalasannya, menyediakan makanan pokoknya, atau mengurus kotorannya. Ia telah beradaptasi dengan lingkungan dan bisa mengatasi semua masalahnya sendiri.

Namun pada waktu kemudian, aku mulai mendengar keluhan penghuni rumah di sekitar kos-kosanku atas ulah para kucing. Mereka kesal pada kucing yang kerap menggarong isi meja makan mereka, membuang kotoran secara serampangan di lingkungan mereka, atau berkelahi dengan kucing-kucing peliharaan mereka. Dan setelah kucermati dan kutilik baik-baik, aku pun tahu bahwa kucingmu adalah salah satu kucing paling berandal yang mereka kutuki.

Tetapi sialnya, permasalahan yang harus kutanggung atas tingkah laku kucingmu itu, sepertinya masih akan berkepanjangan. Pasalnya, kau tak juga datang dari kampung halamanmu. Kau bahkan tak menjanjikan rencana waktu kepulanganmu kepadaku. Sampai akhirnya, di tengah ketidakpastian atas kedatanganmu, sejak tujuh hari yang lalu, kau tak lagi menjawab panggilan teleponku, atau sekadar membalas pesanku.

Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tak bisa memahami kenyataanmu. Awalnya, kukira, kau akan pulang dengan sendirinya, dalam beberapa hari saja, seperti yang engkau janjikan. Atau setidaknya, dalam keberadaanmu yang tanpa kabar itu, kau akan pulang lima hari yang lalu, di hari ulang tahunku, dan memberikan kejutan yang menyenangkan untukku, seperti yang kubayang-bayangkan.

Atas kepergianmu yang entah sampai kapan, aku pun kelimpungan menghadapi perkara kucing kesayanganmu. Hari demi hari, aku terus mendengar kekesalan warga atas kenakalan para kucing. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menyebut ciri-ciri dan menuding kucingmu sebagai pelaku kekacauan, sampai aku khawatir kalau-kalau mereka tahu bila akulah yang merumahkan kucingmu itu.

Hingga akhirnya, di tengah kerisauanku, kucingmu pun melakukan tindakan yang sungguh mengkhawatirkan. Sebuah tindakan yang sangat mungkin membuat hubungan baikku dengan para tetangga jadi bermasalah. Pasalnya, tiba-tiba saja,dua hari yang lalu, ia masuk ke dalam kamarku, sembari membawa seekor ikan hias dengan cengkeraman giginya. Seekor ikan yang kutaksir berharga mahal.

Seketika juga, aku jadi kelabakan. Aku dilema, di antara mengurungnya kembali di kamar, atau tetap membebaskannya untuk sekalian menuai buah dari tindakannya sendiri. Tetapi setelah mengingat-ingat janjiku kepadamu, dengan berat hati, aku putuskan mengurungnya kembali, demi menyelamatkannya dari bahaya, sekaligus menghindarkanku dari masalah.

Untuk menyamarkan statusku sebagai wali kucingmu dari pembacaan tetangga, aku senantiasa bersikap ramah kepada mereka. Kuharap, dengan begitu, mereka tidak sampai mencurigaiku, atau setidaknya tidak terlalu membenciku setelah mereka tahu kenyataan yang sesungguhnya. Apalagi, sebagai seorang pendatang yang hadir di lingkungan mereka hanya untuk kepentingan kuliah, aku sungguh tidak ingin dicap buruk.

Sampai akhirnya, kemarin, saat hari sudah sore, aku pun bertamu pada seorang warga yang tinggal seorang diri di rumah pribadinya yang berada di serong kanan depan bangunan indekosku. Aku menghampirinya setelah ia tampak murung saja di halaman depan rumahnya yang kerap menjadi tempat para kucing membuang hajat. Ia seperti masih sangat berkabung sejak kepulangannya dari pulau seberang untuk menghadiri pemakaman wanita yang hendak ia nikahi, setelah wanita itu meninggal akibat kecelakaan kapal tujuh hari yang lalu, sepulang dari kampung halamannya menuju kota ini, sebagaimana informasi yang kudengar dari warga yang lain.

“Aku turut berdukacita atas apa yang telah terjadi,” tuturku, sendu, setelah basa-basi yang singkat, sembari berharap ia lekas berdamai dengan kenyataannya.

“Terima kasih,” balasnya, begitu saja, lantas melayangkan senyuman simpul.

Aku lalu berusaha meramu kata-kata balasan. Aku tak ingin kami duduk bersampingan di dalam suasana yang hening. “Sabar, Kak,” tuturku kemudian, dengan sapaan sebagaimana biasa aku menyapanya.“Semua kejadian, ada hikmah dan tujuannya. Aku yakin, Kakak akan mendapatkan takdir jodoh yang lebih baik.”

Ia pun lekas mendengkus, kemudian menggeleng. “Aku tidak yakin, Dik. Kurasa, dia adalah cinta pertama dan utama bagiku. Aku ragu bisa mendapatkan perempuan sebaik dirinya, apalagi yang lebih baik daripada dirinya.”

Aku lantas menelan ludahku dengan perasaan bersalah kalau-kalau aku telah mengucapkan harapan yang tidak tepat dan tidak menyenangkan baginya. Sampai akhirnya, aku jadi kebingungan meramu kalimat tanggapan selanjutnya.

Tetapi untungnya, ia lekas menimpali, “Kau tahu, dahulu, aku telah berjuang keras untuk menaklukkan hatinya dari lelaki lain. Tetapi setelah aku berhasil, takdir nyawanya malah sampai sebelum aku benar-benar mencintainya dengan cara yang pantas.”

“Sabar, Kak,” tanggapku sekenanya.

Ia balas dengan senyuman singkat, lantas bergeming saja. Ia tampak kembali larut dalam menungannya.

Kami pun saling mendiamkan.

Sampai akhirnya, ia bertutur lagi, “Dan kesedihanku pun semakin bertambah, setelah aku menjumpai bahwa ikan hias yang ia hadiahkan untukku, telah lenyap entah bagaimana.”

Aku tersentak lantas bertanya dengan sikap yang lugu, seolah-olah kenyataan itu tidak akan ada hubungannya dengan kebengalan kucingmu, “Apa yang terjadi dengan ikan hias itu?”

“Entahlah,” katanya, dengan nada lemah. “Setibanya di rumah, aku hanya menemukan stoples akuariumnya pecah berserakan, dan ikan hiasan itu hilang entah ke mana.”

Aku pun terenyuh dengan perasaan bersalah, sebab aku yakin kalau kejadian itu ada hubungannya dengan tindakan kucingmu sehari sebelumnya.

“Aku dengar-dengar dari warga, di lingkungan ini, memang ada kucing pendatang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. Mereka menduga kucing nakal itulah yang memangsa ikan hiasku,” terangnya kemudian.

Seketika, rasa bersalahku berbalut kecemasan dan kekhawatiran. Aku hanya kuasa mengangguk-angguk bodoh dengan perasaan yang kacau.

Sampai akhirnya, setelah basa-basi penutup, aku lantas beranjak ke dalam lingkungan indekosku. Seiring langkah, aku terus menimbang-nimbang perihal tindakan apa yang seharusnya kulakukan terhadap kucing kesayanganmu itu, sebab aku sungguh tak ingin berada di dalam masalah dengan warga.

Tetapi setelah aku berada di depan kamar, aku malah menjumpai bahan pikiran yang baru. Aku melihat lengkungan perak di atas kusen pintu yang entah kapan adanya. Dan akhirnya aku tahu bahwa benda itu adalah gelang yang pernah kuhadiahku untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Maka seketika pula, aku pun semakin bertanya-tanya tentang arti kepulanganmu.

Perlahan-lahan, perkiraan-perkiraan pun bermunculan di dalam benakku tanpa kendali. Aku menduga bahwa keberadaan gelang itu ada hubungannya dengan kepulanganmu yang tanpa kabar. Aku menaksir, kau sengaja pulang untuk meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku mulai meyakini bahwa kepulanganmu bukanlah untuk menghadiri pernikahan sepupumu, tetapi untuk menghadiri pernikahanmu sendiri.

Akhirnya, atas tafsiran yang berdasar, aku membulatkan tekad mengeluarkan kucing kesayanganmu dari kamarku. Aku sudah muak dan kehabisan cara untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul karenanya. Pada malam hari, aku memasukkannya ke dalam karung, membawa dan membuangnya di gerbang utama jalan, tanpa peduli lagi tentang apa yang akan terjadi kepadanya.

Waktu demi waktu bergulir. Kekalutanku atas keberadaan kucingmu semakin mereda. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan warga akan mengetahui peranku dan menyalahkanku akibat tindakan-tindakannya. Pun, aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengurusnya demi dirimu, sebab engkau telah meninggalkanku tanpa penjelasan apa-apa.

Sampai akhirnya, pagi ini, ketika aku hanya ingin berbaring di kasur dan tak ingin lagi menjalani hari dengan kenyataan yang memilukan atas dirimu, tiba-tiba, aku mendengar ketukan di daun pintu kamar. Dengan perasaan malas, aku bangkit dari pembaringan, mengayun langkah untuk menyelesaikan ganguan itu selekas mungkin, agar aku dapat segera kembali mengkhidmati dan meredakan kegalauanku sendiri.

Dan setelah menyibak daun pintu, tanpa kuduga, aku pun menemukan dirinya, teman baikmu yang pernah kuidam-idamkan, yang seketika menampakkan senyuman yang begitu manis. “Kucingmu,” katanya, sambil menyodorkan kucing putih dengan bercak-bercak hitam itu.

Aku pun menyambut sodorannya dengan penuh keterkejutan dan keheranan.

“Aku menemukannya di depan kos-kosanku,” terangnya, lantas menunduk dengan senyuman simpul.

Aku lantas menyadarkan diri untuk memberi respons, “Terima kasih.”

Ia pun mengangguk pelan, kemudian berbalik dan melangkah pergi.**


Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter: @ramli_eksepsi