Puisi

Puisi Hamzah

Desimal

Mula dari nol
hitung berulang
setelah sembilan
sepuluh jari-jemari
meletakkan zaman
berbuku-buku
berbilang negara
atau res publica
diukur tonggak
satu, dua, tiga.

Sembilan, sepuluh depa
dan usia diejanya
jiwa-jiwa dijatah,
disiapkan; ditentukan.

Karanganyar, 2022


Jenaka

Kembang hijau begitu bungah
nalarnya menjalar beriring angin
bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah
berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”

Karanganyar, 2022

Sibak

Mulanya hela nafas begitu jernih.
Kristal-kristal es berhembus
Angin Utara dan Udara Dingin
lembah di sela-sela lereng.
Dibawanya tarikan nafas masa,
waktu, dan musim bersampir
biji-biji disemai oleh ratu
di bawah pertiwi dan tanahnya.
Harusnya desah nafas dihela
kusir-kusir berkumis salju
mengantar gugur dan semi
anak-anak tahun. Diseretnya
dua hingga empat perumpamaan
musim dengan mata panah pada
belikat bernafas setengah terengah,

Angin adalah bedebah
kembar dari waktu.”

Karanganyar, 2022


Kelelahan

Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi,
mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah
dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas,
luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin
menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.

Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan
bibir terkulum berhias jigong berengut tajam
berseling umpat-umpatan, bahwa:
dia harus memanaskan motornya,                   matahari belum tinggi benar
orang dan mesin yang berkejaran,                   serta alasan agar nyawa bulan itu
tetap utuh.

Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar
dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya
agar tidak dijera angan-angan, katanya.
Pukul lima sore, badannya bergetah.
Di tengah mesin dan manusia,
dia melihat mataharinya terbenam.

Karanganyar, 2022


Lob

Empat sudut bingkai kamera,
kehidupan ada dalam kolong lapar
tempat-tempat tercerabut
oleh perasaan lupa. Dinas adalah
wilayahnya luput, luas di mana lepra
meratu lela.

Karanganyar, 2022


Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/

Cerpen

Obituari untuk Ayah

Cerpen Edellweiss London

Baru beberapa jam lalu jenazah ayah dikebumikan, tetapi beberapa sanak saudara sudah berani menyinggung tentang penerus perusahaan di depanku. Sungguh tak punya sopan-santun. Malas menaggapi Paman dan Bibi, aku melipir menjauh.

Aku membuka kantor ayah yang terletak di ujung koridor. Lengang. Kepalaku berdenyut hebat dan mataku terasa berat karena terlalu banyak menangis. Dengan kaki berat, aku menghampiri kursi goyang ayah lalu duduk di sana. Punggungku menggoyang sandaran kursi beberapa kali. Kala ayunan menjadi konstan, mataku mulai terpejam. Ingatan tentang ayah, ibu dan apa yang terjadi di antara mereka mulai berkelebat.

Mati memang tidak membawa harta, tapi tetap saja orang-orang kaya dimakamkan di tempat yang berbeda dengan rakyat jelata. Ayahku, Sastrowijoyo, adalah seorang ningrat keturunan keraton. Sebelum meninggal, ayah telah mempersiapkan tanah berharga ratusan juta untuk dijadikan pusara keluarga.

Makam ayah berada di pekuburan mewah, bersanding tepat di sebelah makam ibu. Mereka sehidup-semati, rupanya. Mengingat betapa tidak akur mereka berdua semasa hidup, aku sungguh tak menyangka jika ayah akan begitu cepat menyusul ibu.

Aku ingat, menjelang kematian ibu, ayah berbisik di telinga ibu sembari terisak, “Aku tak bisa hidup tanpamu, Utari.”

Ternyata kata-kata itu bukan isapan jempol belaka. Ibu baru berpulang kurang dari dua bulan lalu, dan sekarang ayah menyusulnya. Hatiku yang susah payah bertahan selepas kematian ibu, kini harus kembali koyak. Sesak, dan kehilangan memang tak pernah terasa lapang.

Aku kini tinggal seorang diri. Rasanya hampir tak percaya, aku telah menjadi yatim piatu dalam waktu singkat. Jika bukan karena para pelayat itu, aku menyangsikan ayah sudah tak bersamaku lagi.

Berbeda dengan ibu yang selalu mendukungku, semasa hidup ayah adalah pengkritik terbesarku. Walau aku dan ayah sering bersitegang, namun kematiannya terasa seperti tembakan peluru yang meninggalkan lubang di dadaku.

***

Bunyi ketukan pintu membuatku membuka mata. “Masuk,” kataku.

Sesaat kemudian kepala laki-laki itu tersembul dari balik pintu. Aku mengenalinya sebagai pelayan setia ayah.

“Ada apa?” tanyaku ketus. Aku agak sebal karena dia tak membiarkanku beristirahat barang sejenak.

Pelayan setia ayah mengangguk hormat. Dia menghampiri dudukku lalu mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, “Nyuwun sewu, Panjenengan diaturi menulis obituari untuk menghormati mendiang bapak.”

Aku tertegun untuk beberapa saat, lalu menggumam, “Obituari?”

Inggih, obituari yang indah. Sama seperti yang Panjenengan tulis untuk mendiang Ndoro Putri.” Laki-laki di hadapanku itu berkata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memang biasa menyapa ibuku dengan sebutan Ndoro Putri.

Saat kematian ibu, aku memang menulis obituari sepanjang tiga halaman yang begitu menyentuh. Aku banyak bercerita tentang kebaikan ibu, juga waktu-waktu yang kami lewatkan berdua. Bahkan aku sempat melihat ayah menitikkan air mata saat membacanya.

“Harus?” tanyaku menyelidik.

Inggih, Mbak. Kita akan menerbitkannya di website perusahaan. Juga, mengirimnya ke beberapa surat kabar.”

“Apa yang harus kutulis dalam obituari tentang ayah? Dari mana aku harus memulainya?” tanyaku pada pelayan setia ayah yang hampir tak pernah kusebut namanya itu.

Dia mematut ujung alisnya, tampak berpikir sebentar. “Mungkin, Mbak Ayu bisa memulainya dari cerita masa kecil, atau kenangan indah bersama bapak.”

Tak ayal, jawaban pelayan setia ayah malah membuatku tercenung. Bagaimanapun, ayah tidak sama dengan ibu. Jika dirunut jauh ke belakang, kehadiran ayah selama ini lebih banyak memberiku kemarahan. Dia memang tak pernah melakukan kekerasan fisik, namun mentalku terjerembab hingga dasar jurang akibat perilakunya, juga beragam intimidasinya yang terasa mengekang.

Bagaimana aku bisa menulis obituari untuknya, jika apa yang paling kuingat adalah saat dia membawa seorang anak laki-laki ke dalam rumah kami?

“Dia Gada, adikmu. Mulai sekarang akan tinggal bersama kita,” jelas ayah dengan begitu lugas.

Aku masih tujuh tahun ketika itu. Otak kecilku masih bingung mencerna, bagaimana mungkin tiba-tiba aku punya adik yang hampir sama besar dengan diriku?

Gada berumur enam tahun pada saat itu. Dia hanya berjarak satu tahun lebih muda dari aku. Sehingga ibu meraung berhari-hari mengetahui fakta bahwa ayah menghianatinya saat usia pernikahan mereka baru berjalan beberapa tahun.

Sejak kehadiran Gada di rumah kami, ibu jadi sering menangis. Dari mulutnya, berbagai sumpah-serapah untuk ayah seringkali terdengar. Ayah hanya diam membisu. Ayah membawa pulang bukti perselingkuhannya tanpa pernah mengungkap siapa perempuan itu.

Kala ibu bertanya panjang lebar dengan emosi berapi-api, ayah hanya menjawab pendek, “Tak perlu diperpanjang, perempuan itu sudah mati.”

Begitulah, karena ibunda Gada mati muda, ayah membawa anak laki-laki itu ke rumah kami. Aku yang tadinya menikmati segala fasilitas dan kasih sayang sebagai putri tunggal, sejak saat itu harus rela berbagi.

Ibu adalah tipe perempuan Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan. Dia bertindak dengan keanggunan seorang aristokrat. Ibu dibesarkan di tengah keluarga priayi yang tersohor. Perceraian seringkali dianggap aib, maka ibu memilih tetap mendampingi ayah. Ibu memang memaafkan Ayah, namun tak pernah menerima Gada sebagai anaknya.

Ayah berusaha bersikap adil dengan memberi Gada semua fasilitas yang kudapatkan. Sedangkan Ibu, hanya akan mengutamakan kepentinganku tanpa pernah peduli pada anak tirinya.

Gada bersekolah di sekolah yang sama denganku. Namun aku enggan mengakui dia sebagai adikku. Di sekolah, kami berlakon seperti tak saling kenal. Ibuku pun tak mau mengakui Gada sebagai anaknya dan menolak mengurus segala keperluan anak laki-laki ayah. Ibu hampir tak pernah berbicara pada Gada kecuali marah. Ibu juga tak pernah membiarkan Gada makan semeja dengan kami.

Gada anak yang cerdas. Dia cepat mengerti bahwa kehadirannya tak diterima oleh siapa pun di rumah, kecuali ayah. Dia tak pernah berisik, dan menerima segala caci-maki yang kulontarkan untuknya. Dia tak pernah membalas sumpah-serapahku selama bertahun-tahun, sejak kami masih kecil hingga dewasa. Namun segala penerimaannya justru membuatku merasa muak. Gada telah membuatku merasa menjadi orang jahat.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, ayah tak pernah mempercayaiku. Ayah selalu memasang Gada di sebelahku. Gada hampir tak punya keinginan sendiri. Apa yang dia lakukan hanyalah menuruti perintah ayah. Ke mana pun aku pergi, Gada menjagaku. Dia akan mengantarku ke sana kemari, menungguku dalam diam, lalu menjemputku dengan senyuman. Dia mengerjakan apa pun yang kusuruh, termasuk membeli pembalut saat aku tengah datang bulan.

Jika aku dan ibu pergi berbelanja, Gada akan dengan patuh berjalan di belakang, membawakan seluruh belanjaan yang kami beli. Jika kami mampir ke restoran, dia akan duduk menjauh, tidak akan makan kalau tidak disuruh. Jika ibu berbaik hati menyuruhnya makan, Gada akan memesan menu paling murah. Perbuatan yang membuatku makin membencinya karena dia sok menderita.

Ayah memberikan semua uangnya kepada ibu, mewariskan semua aset perusahaannya kepadaku, namun dia memberikan seluruh hatinya kepada Gada. Bahkan ayah sendiri yang mengajari Gada menyetir mobil. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan untuk aku.

“Kau tak boleh menyetir, biar Gada yang mengantarmu,” begitu kata ayah, membuatku semakin muak.

Ibu hidup untuk aku, ayah hidup untuk Gada. Begitulah keluarga kami terbelah. Ibu dan ayah kerap berdebat karena ibu bersikeras mendahulukan kepentinganku, sedang ayah kerap meminta belas kasihan ibu agar Gada mendapat sesuatu yang sama sepertiku.

Aku tumbuh menjadi perempuan dewasa yang egois. Gada tumbuh menjadi lelaki yang tak punya daya juang. Sekali lagi, dia membuatku membencinya karena telah menempatkanku menjadi penjahat.

Menulis obituari untuk ayah, tak mungkin menafikan kehadiran Gada. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Gada adalah putra kandung ayah. Di luaran, ayah mengakui Gada sebagai anak angkatnya. Hanya kepada aku dan ibu saja, seorang Sastrowijoyo, pejabat publik yang merangkap pengusaha kayu, mengakui bahwa dia memiliki anak lain di luar nikah. Aku dan ibu mengunci rapat mulut kami. Bagiku dan ibu, kehormatan keluarga adalah nomor satu.

Aku bangkit dari kursi goyang, ganti menghampiri pelayan setia ayah lalu membisikkan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau kau saja yang menulis obituari untuk ayah? Lagipula, kau juga anaknya, kan, Gada.” ***


Edellweiss London adalah penggiat literasi di Rumah Baca Cerdas Institute A. Malik Fadjar, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang aktif menulis di grup kepenulisan Nulis Aja Dulu, anggota klub menulis Tiga Strata, dan militan eksklusif di Terus Saja Tulis. Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.

Katalog

Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi (Sebuah Refleksi Kepustakawanan Lasa)

“Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi.”. Buku biografi tokoh kepustakawanan ini diangkat dari hasil penelitian Aha yang berjudul: “Pustakawan Bukan Jalan Hidup tapi Menghidupi: Sebuah refleksi Kepustakawanan Lasa Hs.”

Buku ini dihadirkan di ruang baca Anda untuk mencoba mengangkat kisah Lasa dalam perjalanan hidupnya sebagai pustakawan senior di Jogja dan telah purna tugas  mengabdi sebagai ASN dan pangkat terakkhir adalah pustakawan utama golongan IVe  di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai buku yang mengangkat isu kepustakawanan, biografi tokoh ini relatif  jarang ditulis dan tokoh yang ‘langka’ seperti ini menarik sebagai role model bagi siapa pun yang menaruh kepedulian pada isu-isu kepustakawanan.

Tak ubahnya sebuah anomali, di perpustakaan yang diam dan sepi, sejatinya terjadi keriuhan dalam pikiran, ide dan gagasan untuk sebuah kemajuan.  Konsep perpustakaan yang hidup seperti ini bukan hanya dipahami oleh seorang Lasa Hs, namun telah diresapi dan diejawantahkan olehnya melalui denyut-denyut kehidupannya dalam keseharian. Lasa Hs adalah satu dari sedikit orang yang memaknai perpustakaan bukan sebagai museum, namun sebagai lumbung kehidupan. Karena itulah, orang yang masuk dalam perpustakaan, ibarat masuk dalam lumbung kehidupan itu sendiri. Sehingga ketika seorang masuk di dalamnya, dia akan mendapatkan energi untuk bekembang menjadi manusia seutuhnya. (Hamdani MW)

 

Penulis: Agung Hartono (Aha)

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

109 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Cerpen

Bopeng

Cerpen Kathy Okano

Sebelum jatuh cinta pada Hanuman, aku pernah sangat ingin mati. Aku merasa kosong seperti selongsong yang ditinggalkan proyektil apinya. Namun, aku juga merasa berat. Kosong tetapi berat. Aneh bukan? Dan tidak jelas.

Kenangan-kenangan yang kumiliki seperti potongan-potongan puzzle yang berserak. Juga tidak jelas. Kadang aku harus berusaha sangat keras agar setiap potongan sesuai, untuk sebuah ingatan yang utuh. Kadang juga isi kepalaku memuntahkan ingatan-ingatan yang tiba-tiba mencuat seperti kancing baju yang terlepas.

Ketika berusia dua belas, aku pernah mendengar kisah tentang ruh yang tak mau berdamai dengan raga yang ditempatinya. Memberontak. Pemilik raga nyaris sakit jiwa dibuatnya. Itu juga terjadi padaku. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikiranku, nyaris membuatku gila.

Perasaan hampa seperti tabung bejana hampa udara seolah menggerogotiku. Jika kosong sama dengan nol, apakah ia sama juga dengan ketiadaan? Lalu jika aku merasa kosong, apakah itu artinya aku tiada? Tetapi aku merasa diriku ada. Aku berpikir, jadi aku ada. Ada dulu atau berpikir dulu? Ada dulu atau sadar dulu? Mungkinkah manusia sadar selagi dirinya belum ada? Ataukah kesadaran yang membuatnya ada? Ah, omong kosong! Pikiranku terus mengembara dan membuatku muak hingga berteriak. Kasihan. Kasihan. Papa lebih kasihan, aku yakin ia amat terluka melihat putri semata wayangnya seperti ini, dan kekayaan yang dihasilkan pabrik anggurnya tak dapat menolong.

Lalu, Februari itu, ketika langit dengan murah hati menumpahkan hujan, kekosongan itu terasa lebih jinak. Setelah sebulan aku berada di Indonesia–Yogyakarta, Aunty Barnes mengajakku menonton pertunjukan wayang wong yang mementaskan lakon Anoman Obong. Itulah awal mula aku jatuh cinta pada sang Hanuman. Pada Mas Adi, Argo Dumadi. Aku tersihir oleh penampilannya yang memukau.

Tubuhnya yang tinggi tegap menari-nari lentur dan anggun, dipadu dengan jurus-jurus silat penuh kejantanan. Mengalirkan ekspresi Hanuman sejati. Dengan perjuangan setulus hati, Hanuman mengobrak-abrik kerajaan Alengka.

Hanuman membakar Alengka dengan api berkobar-kobar yang diikatkan di ujung ekornya. Menumpas kecurangan dan kejahatan, serta angkara murka Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Dengan hentakan kaki-kakinya yang kukuh lincah, tangan-tangannya yang perkasa, dan gerakannya yang trengginas Hanuman melompat ke sana-kemari. Melompat dan melesat tinggi-tinggi, melingkar-lingkar bak putaran sejuta cambuk, menangkis serangan Rahwana yang membabi-buta.

Suasana tegang mencekam. Sorot lampu panggung dimainkan gelap-terang-gelap-terang-gelap diakhiri dengan sorot seperti sebuah ledakan ketika Rahwana terkapar. Perjuangan Hanuman yang tanpa pamrih itu berakhir gemilang. Dewi Sinta yang terkulai dalam ketakutan pun bebas dari cengkraman keji Rahwana. Pertunjukan diakhiri dengan Hanuman menyerahkan Dewi Sinta pada suaminya, Sri Rama. Rupanya bukan hanya aku yang terpesona, orang-orang bahkan menjerit histeris untuk Hanuman.

“Ada londo wedok datang ke tobong!” komentar dari anak-anak wayang membuatku geli, ketika pertama kali aku mendatangi tobong. Lazimnya mereka menyebut ras kulit putih dengan wong londo.

Aku mencari Mas Adi. Berdalih melakukan penelitian tentang kehidupan anak-anak wayang. Mereka mengerumuniku, penasaran. Aku berpendapat, kehidupan di tobong ini nyaris tidak memiliki rahasia, tidak memiliki privasi.

Sayang sekali orang yang kucari tidak di tempat. Sedang mengurus perizinan untuk tampil di Surakarta, katanya. Sebagai gantinya, Sri Ratih–istri Mas Adi yang juga seorang ledhek dan perempuan paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu sang Hanuman, menemani kami–aku dan Aunty Barnes. Aunty Barnes yang sudah fasih berbahasa Indonesia membuat kami cepat akrab. Aku menikmati kedekatan kami meski dalam hati tersimpan setitik kecewa. Orang yang kusukai sudah beristri.

“Orang Indonesia memang banyak yang menikah muda,” ucap Aunty Barnes ketika kami dalam perjalanan pulang. Sepertinya ia paham bahwa aku patah hati.

Hari-hari berikutnya aku sering datang ke tobong. Siang, sore, atau malam hingga tengah malam. Mewawancarai bintang utama penelitianku dan menonton setiap pementasannya. Orang-orang mengatakan bahwa aku kedanan. Aku tak menampiknya, juga tak membenarkannya.

Aku menikmati kehidupan bersama anak-anak wayang di tobong. Menyantap makanan yang sederhana, sayur lodeh, juga ikan asin. Semuanya terasa nikmat. Aku juga mencintai Asri, putri Mbak Ratih dan Mas Adi. Dan kekosongan yang dulu amat ganas, kini makin jinak.

Asri. Padanya aku berlaku seperti seorang ibu. Menyisir dan mengikat rambutnya, juga menyematkan pita merah. Menggunting kuku-kukunya, menemaninya belajar, tak jarang juga ngeloni saat tidur siang. Ibunya tak sempat.  Mbak Ratih sibuk menyiapkan panggung dan kostum untuk para pemain wayang wong. Asri mengikatku, lebih dari cintaku pada Mas Adi.

Berita-berita miring tentangku dan Mas Adi terus beredar. Namun, tak ada klarifikasi dari Mas Adi, dan aku tak mau memusingkannya. Sedang Mbak Ratih sepertinya memendam sakit hati. Tapi bukankah Mbak Ratih seharusnya yang paling tahu bahwa aku dan Mas Adi tak memiliki hubungan apa-apa? Dan berita-berita miring itu juga tak benar, bahwa aku dan Mas Adi sering bermesraan? Satu-satunya moment kedekatan kami adalah ketika Mas Adi mengantarku pulang ke kaputren dengan naik becak. Hanya itu. Aku menghormati kesetiaannya pada pernikahan karena tak tergoda sedikit pun padaku, yang orang bilang serupa Anne Hathaway.

Kuperhatikan Mbak Ratih selalu murung dan sering melamun, sehingga membuat penampilannya saat menari gambyong tampak tidak semarak. Tidak sedikit penonton yang protes. Tapi dia tidak memperbaiki diri. Ia malah tampil semakin buruk, buruk, dan buruk. Akhirnya ia jatuh sakit. Banyak bisik-bisik yang mengatakan ia ngenes karena berkali-kali menyaksikan aku dan Mas Adi bermesraan. Apakah Mbak Ratih sungguh termakan oleh berita bohong itu?

Aku masih ingat suatu malam ia mengerang-erang sambil memegangi perutnya, ngoling-oling. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru digegat-gegat. Roknya yang kuning berubah menjadi berwarna merah, dengan gemetar aku memperhatikan darah itu bersumber dari vaginanya. Ketika itu semua sedang pentas di panggung, aku tetap di tobong untuk menemaninya dan Asri.

“Sampeyan yang mbuat saya gini. Sampeyan guna-gunai saya!” lirih ia menuduh, tapi penuh dendam. “Agar sampeyan bisa demenan sama suami saya. Dasar londo edan! Minggat sana, jangan sentuh saya!” sambungnya, menghardik.

Aku tidak menghiraukan ucapannya, berusaha bersikap tenang agar bisa menolongnya, sedang tangis Asri sudah meledak.

Oleh dokter, Mbak Ratih dinyatakan menderita kanker rahim. Dan setelah berjuang selama sebulan, ia meninggal. Hari ketika Mbak Ratih dimakamkan, menjadi hari paling menyiksa buatku. Berpuluh-puluh pasang mata seolah menghakimi, menyalahkanku atas kematian istri Mas Adi.

“Terang saja dia mau berkorban gitu karena kedanan Mas Adi–suami Dik Ratih, si Anoman!” seru ibu yang didukung oleh perempuan lainnya, ketika mengetahui biaya pengobatan dan pemakaman aku yang menanggung. Aku melakukannya bukan karena mencintai Mas Adi, tapi karena menyayangi Asri.

“Esmee Helaine tidak kedanan aku. Tapi akulah yang kedanan, mabuk kepayang dan tergila-gila–gandrung kepati-pati sama dia. Jangan salahkan londo itu!” Suara Mas Adi mengiba-iba. “Istriku meninggal karena memang sakit, bukan karena black magic.”  Pembelaan Mas Adi justru menyakiti hatiku dan menempatkanku pada posisi yang serba salah.

Seperti ujung rantai yang ditarik, kemudian bagian lainnya mengikuti, hal-hal buruk terjadi secara beruntun.

Waktu di mana pekat menjadi penguasa hari dan sunyi, rasa hormatku pada sang Hanuman berkecai-kecai. Aku menahan muntah. Gila. Aku tak ingin mempercayai apa yang kulihat. Menjijikkan. Hanuman dan Rahwana bermesraan! Keringat dingin membalutku seperti kepompong, lututku lemas. Apakah Mbak Ratih tahu? Apakah ini penyebab sesungguhnya kengenesannya?  Aku membekap mulutku sendiri dan tanpa kuinginkan, air mata melelehi pipiku. Mereka terkejut ketika mendengar pekikan, dan lebih terkejut lagi ketika melihatku berdiri gemetaran.

“Asri bukan anakku,” Argo Dumadi berkata ketika menghampiriku yang tengah berkemas. Aku bergeming. “Ratih mendapatkannya dari laki-laki lain,” sambungnya, menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya dalam-dalam.

Aku tak menanggapi. Aku juga tak melihatnya. Aku jijik. Meski sesungguhnya aku ingin berteriak dan meludahinya. Menuntut perbuatannya yang tercela dan mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi bopengnya. Kalau bukan karena Asri, aku tak akan menginjakkan kaki ke tobong lagi setelah kematian Mbak Ratih, terlebih karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh Mas Adi karena pengakuannya.

Sejak hari itu kondisi kesehatanku menurun drastis. Aunty Barnes mengantarku pulang ke Ostrali. Kekosongan yang kurasakan kembali mengganas dan ingatanku melayang pada Grandma. Ia yang memaksaku menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi feminim, menjadi sempurna. Aku ingat, sejak saat itu kekosongan mulai membungkusku seperti selimut kepompong, mengisap habis gairah hidup dan kedamaian dalam dadaku. Aku benci Grandma, aku benci Mas Adi, aku benci Mbak Ratih. Namun, aku mencintai Asri yang sekarang telah tumbuh menjadi gadis cantik. Aunty Barnes yang membawanya kemari untuk mengenyam pendidikan yang lebih layak.

Aku memandangi gadis yang pernah mengalami tangis yang panjang karena kehilangan ibunya, juga ayahnya yang katanya mati gantung diri karena tak kuat oleh tekanan situasi. Sudah terbukakah boroknya?

Ia tengah membelakangiku, membuka jendela-jendela di kamar perawatan agar udara segar menggantikan udara yang mulai terasa pengap. Rasa sayang memenuhi dadaku. Aku tak ingin ia bernasib seperti ayah atau ibunya, karena air cucuran atap ke mana jua jatuhnya? Aku ingin melindunginya dari karma orangtua, maka kuhujamkan pisau pengupas buah berkali-kali ke punggungnya dengan cepat, hingga ia roboh.***


Kathy Okano, nama pena penulis asal Sulawesi Tengah, yang menyukai drakor dan anime. Menamatkan pendidikan S1 pada 2017. Sekarang sedang aktif di klub menulis Tiga Strata, NAD (Nulis Aja Dulu) dan anggota militan eksklusif TST (Tulis Saja Terus). Menyukai makanan pedas dan gurih.

Cerpen

Lelaki Berjubah Putih

Cerpen Pasini

Hujan tak kunjung reda. Sepertinya langit nelangsa dengan seisi bumi yang cukup lama dicengkeram kuasa kemarau dan tergerak menyudahinya. Tapi rerimbun pohon beringin tempat aku berteduh sungguh penuh kasih. Tak setitik pun air yang diperbolehkan menetes di kemejaku.

Pada sisi jalan berbeda, di bawah pohon beringin yang lain, seorang lelaki berjubah putih meneduhkan juga tubuhnya. Ia tersenyum menatapku. Aku mengangguk takzim, sebelum kemudian mataku kembali menekuni bulir-bulir air langit yang jatuh dan mengenai apa saja. Menimpa atap gedung dan meruntuhkan kesombongannya. Menimpa besi dan meninggalkan jejak karat. Melarutkan debu pada jalan aspal dan bebatuan. Serta memupus dahaga tetumbuhan yang menangguk rindu sampai semusim penuh. Beberapa hari ke depan, kelopak bunga akan tersenyum dengan indahnya.

Aku menjadi teringat akan sebuah senyum pula. Milik seorang gadis kecil. Hidupnya belum tercemari legamnya dunia sehingga hanya meminta lalu terkabulkan yang ia tahu. Dan sebaiknya memang begitu. Biarlah kesusahan hanya milik orang-orang dewasa dan jangan dikenalkan pada anak-anak sebelum waktu mereka tiba.

“Sebuah boneka beruang ya, Yah. Yang besar,” pinta gadis itu tadi pagi.

Aku mengangguk sembari mengembalikan senyumnya dengan lebih manis. Lalu kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hendak kudekatkan dengan langit. Tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan. Bahkan ia masih memelihara senyumnya di beranda dengan pandangan mengikuti angkutan berwarna kuning yang membawaku pergi. Sampai kemudian tubuh mungil gadis itu digantikan dengan pohon palem, pohon akasia, pohon pakis, dan pohon bebungaan di tepi sepanjang jalan menuju pabrik sepatu tempat aku bekerja.

Lelaki berjubah putih tak ada di tempat teduhnya. Mungkin ia menerobos hujan dan tak jenak menunggunya sampai sedikit reda.  Begitu pun senyum gadis kecilku. Mereka sama-sama hilang. Berganti dengan senyum kecutku. Aku membuka tas kerja berwarna hitam untuk sebuah tujuan memberi keyakinan bahwa memang hanya ada amplop tipis di dalamnya.

Sebagian besar isi amplop itu telah berganti dengan senyum seorang lelaki tua berbaju lusuh. Karena perutnya kenyang sekarang. Besok ia bisa memeluk tubuh istri juga cucu. Setelah selama ini menumpuk rindu demi rindu hingga memenuhi setiap sekat, lorong, dan bilik hatinya. Tak ada ruang untuk rasa yang lain. Tak ada keinginan selain bertemu orang-orang terkasih. Tapi sayang keinginan itu selama ini ibarat benda antik tergadai yang belum mampu ia tebus kembali.

Aku sibuk merangkai kalimat yang tepat  untuk kusampaikan pada istriku di rumah. Juga gadis kecil kami. Aku tidak ingin membuat  kecewa tentu saja. Bahkan selama ini aku sanggup melakukan apa pun demi memelihara senyum mereka.

Mungkin istriku akan mendiamkan aku. Atau melontarkan kemarahan. Lalu mengubah kebiasaan secangkir kopi di pagi hari dengan air putih. Mau tidak mau memutar otak agar sisa uang belanja bulan kemarin cukup untuk sampai bulan depan. Daging, telur, diganti dengan tahu dan tempe. Jamur tiram, ikan, diganti dengan kangkung dan bayam. Lalu suasana meja makan akan berubah dingin. Tidak ada gelak tawa. Tidak ada bual cerita. Menghikmati isi piring masing-masing dan tidak disambi tanya: liburan ke mana enaknya akhir pekan. Atau: rilis film terbaru apa di bioskop.

Tapi bagaimana dengan gadis kecilku? Bisakah matanya dibuka pada rupa-rupa dunia sementara yang ada di otaknya hanyalah boneka, keripik kentang, pesta ulang tahun yang meriah, serta gaun berumbai? Apa yang kusebutkan sebagai kesusahan lelaki tua yang menahan lapar dan berpakaian lusuh lagi robek, akan dianggapnya sebagai dongeng belaka sebagaimana isi komik yang istriku bacakan untuknya di ambang waktu tidur. Di kehidupan nyata, peristiwa semacam itu mana mungkin ada.

Sayang, langit prematur menutup kran air yang tercurah ke bumi. Padahal aku belum menemukan patah-patah kata yang tepat. Tapi senja keburu hadir dengan sisa-sisa hujan berupa genangan air di badan jalan yang berlubang. Mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Aku tidak mungkin menghindari rumah layaknya prajurit perang yang kalah.

   Sebuah mobil putih menepi. Dikendarai lelaki tua berjubah putih. Ingatanku melayang pada beberapa puluh menit silam, seseorang yang juga meneduhkan tubuhnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon. Tetapi aku tidak begitu meyakininya. Karena bisa saja keduanya adalah orang berbeda.

 “Naiklah. Saya akan mengantar Kisanak sampai tujuan,” tawarnya dengan senyum laksana cahaya.

 “Terima kasih, Pak. Maaf saya tidak ada ongkos. Lagi pula rumah saya tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam jalan juga sampai.”

 “Bukankah Anda sudah membayarnya tadi?”

Aku bingung. Tapi sepasang kakiku buru-buru naik, mendahului  kepalaku yang bahkan masih sibuk mencerna, apa maksud dari kata-katanya barusan. Bagai otak dan rangka tubuhku tidak terhubung dalam satu jalinan koordinasi. Seperti ada yang menggerakkan sendi-sendiku tapi itu bukan perintah pikiranku sendiri. Aku terduduk kikuk pada jok hitam yang licin dan mengkilat. Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu banyak tersenyum. Kami hanya bicara seperlunya.

 “Tidakkah waktu Bapak terbuang hanya dengan mengantarkan saya?”

“Tidak ada kebaikan yang percuma. Semua ada hitungannya.” Lalu ia tersenyum lagi.

Aku diturunkan tepat di halaman, sebelum kemudian mobil dan pengemudinya segera menghilang dari pandangan. Tas kerjaku melorot dan nyaris jatuh. Sampai tidak menyadarinya karena sibuk melamun.  Aku hendak membetulkan posisinya pada pundak setelah terlebih dulu menautkan bagian kancing yang agak terbuka. Tanpa sengaja tanganku menyentuh amplop. Padat dan menggelembung. Aku terkesiap.  Ada  lembar-lembar merah.  Jumlah yang mencengangkan. Tubuhku sampai bergetar.

Sesampainya di dalam rumah, tidak pernah kulihat istriku sebahagia ini sebelumnya. Untung ia tidak bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Karena  memang bukan jawaban atas kemungkinan itu yang kupersiapkan. Aku justru sudah dalam keadaan siaga untuk beberapa hal yang buruk. Bahkan semisal ia mengusirku dan menyuruh tidur di emperan toko karena pulang tanpa membawa sebagian besar uang gajian.

“Gusti…” lirihku dalam zikir.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan derasnya.  Aku terjaga sampai dini hari, tapi tak kunjung menemukan jawaban dari berondong pertanyaan yang menyerang batok kepala. Beranjak pagi aku baru tertidur. Lelaki tua dengan baju yang lusuh mendatangiku dalam mimpi.

***

 “Tiga kali sehari itu jumlah yang berlebihan, Nak. Sekali sehari, tapi setiap hari, itu sudah cukup.” Lelaki tua itu terkekeh.

Beberapa saat sebelumnya, lelaki tua itu melontarkan kegetirannya lewat kisah seorang bocah piatu yang ditinggal berpulang ibunya kala bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia. Ayah si bocah berlimpah ke perempuan baru. Menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut pada dirinya dan istrinya yang merupakan orang tua dari perempuan yang meninggal setelah melahirkan itu.

Ketika lelaki tua pergi merantau, cucunya baru berusia tiga bulan. Tapi dalam foto terakhir yang dikirim istrinya dari kampung halaman, bocah itu sudah setinggi pangkal paha orang dewasa. Punya rahang kotak semirip dirinya. Rambut lurus serupa istrinya. Dan mata bulat milik mendiang anaknya.

Dalam surat yang menyertai foto, istrinya menyebutkan bahwa bocah itu begitu pandai bicara. Banyak bertanya. Sampai ia susah menjawabnya. Semisal tanya, apakah surga itu tempat yang teramat jauh sampai-sampai ibunya harus menempuh waktu yang lama untuk bisa menemuinya tapi belum juga tiba sampai hari ini. Atau tanya, kapan kakek membawa pulang mobil-mobilan yang nenek  janjikan.

Ini adalah kota besar yang keras. Tidak memberikan ruang yang lapang bagi seorang tua dan tanpa keahlian. Meski begitu lelaki tua itu pantang menengadahkan tangan. Pagi-pagi sekali ia sudah mendorong gerobaknya  mengitari komplek perumahan, perkantoran, dan gedung-gedung pabrik. Memungut sisa-sisa limbah yang bisa menjadi rupiah. Besi tua, kaleng bekas minuman, botol plastik.

“Berapa lama Bapak tidak pulang?”

“Tiga setengah tahun.”

Dijawabnya dengan mata keras berkedip, menahan sesuatu agar jangan sampai jatuh. Aku tidak bisa membayangkan itu aku yang tidak bertemu istri dan anakku.

Awalnya aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Setengah hari kerja di tanggal muda. Beberapa rencana telah berada di kerangka kepala. Tapi baru beberapa pijak meninggalkan muka gedung, pandanganku singgah pada seorang lelaki tua. Duduk mematung di sisi jalan dengan gerobak sampah di dekatnya. Matanya menatap gerobak bakso, gerobak siomay, dan gerobak ketoprak yang sibuk berlalu-lalang. Acuh melewatinya.

Kuraba amplop cokelat tua yang baru saja diangsurkan bagian keuangan. Beberapa kepentingan saling berperang: boneka beruang, beras, susu, lelaki tua, bayar kontrakan, air ledeng, lalu lelaki tua lagi. Siklus berulang beberapa kali seiring wajah cerah langit yang bertukar kepada muram. Setelah beberapa lama, barulah wajah layu lelaki tua di hadapanku itu keluar sebagai pemenangnya.

 “Saya kira ini cukup untuk ongkos jalan. Belilah mobil-mobilan. Juga kebaya berenda untuk istri Bapak. Sisanya buat pegangan.”

Tanpa kata lelaki tua itu menatapku. Tubuhnya langsung kaku. Ia bagai bukan manusia melainkan patung yang terbuat dari butir-butir pasir lalu dicampur semen dan diguyur bulir-bulir air. Sejenak kemudian mata lelaki tua itu mengembun, tangannya bergetar.

 “Cepatlah Bapak cari tiket kereta atau bus. Cuacanya sungguh tidak bersahabat…”

Ujung kalimatku disambung dengan titik-titik gerimis. Tapi untung saja kami masih sempat berpelukan. Aku berlari dan mencari tempat berteduh. Tak sempat memastikan ke arah mana lelaki tua berbaju lusuh itu mendorong gerobak sampahnya.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Salah satu cerpennya masuk sebagai nominasi cerpen terbaik dalam Anugerah Sastramedia 2022.

Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Serenada Hitam

hari itu, orang-orang lupa tanggal berapa

mereka bernyanyi memanggil arwah-arwah

ketakutan berlari tersuruk-suruk mencari ceruk

pepohonan gemetar debu-debu bertuba

siapa bisa menggambarkan maut menyentuh pundak kanak-kanak?

seperti lilin-lilin redup menyala

menyanyikan happy birthday

lantas padam begitu saja

namun serenada-serenada hitam itu tetap saja kita lagukan

sambil membayangkan perjalanan tamasya ke kubur kelam

serenada hitam dinyanyikan, ikan-ikan menangis

burung-burung gagak memekik, sajak-sajak menggelepar

membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam

2023


Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa

            siapa yang dilupa?

Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju

dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung

keramat menyesali usia

menuju entah perbatasan mana

: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap

menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.

tinggal doa samar yang gemetar

tersesat di wilayah senja kala.

siapa yang dimuliakan?

segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?

matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan

di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan

daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing

: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan

seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.

menyerpih tanpa suara hanya desah

mendesiskan kenangan yang segera melapuk

dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!

ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan

tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara

bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim

puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja

yang melenggang atau bergegas

pun pada sumuk yang mengambang di udara

puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu

boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat

yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya

tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.

                                                                        Ngawi, maret 2023


Memoria  Desa

/1/

ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya

tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan

coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan

di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit

/2/

: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca

seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir

cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu

memuja-muja rindu yang bergegas berlalu

kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi

tak akan ada lagi wali  menjagai gemericiknya

batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing  dengan matahari lain.

tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati

kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu

: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu

lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai

apalagi bertukar cinderamata

/3/

kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan

rembulan tak lagi menyimpan kemurnian

hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat

semua hanya milik masa silam

seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.

Ngawi, 2023   


Hujan dengan Garis Putus-Putus

langkah tersaruk-saruk

kita tetap enggan menepi

dari hujan dengan garis putus-putus

sore terperangkap sabda-sabda gaib

milik para penyair penuh rindu kemarau

menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu

hujan tak reda-reda

kita tetap enggan menepi

dari hujan sore hari

terperangkap sabda-sabda

gaib para penyair mengerang pada kemarau

di sana kepedihan terus berulang

tercipta dari reruntuhan kota

seperti piatu tanpa

cinta

                                    2023


Sepanjang Malam Pintu Diketuk

sepanjang malam pintu diketuk

tamu-tamu asing membawa oleh-oleh

sekeranjang air mata

: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!

hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai

di jarum arloji bau peluhmu bertik tok

meratap-ratap pada doa yang sia-sia

seperti perempuan renta tak berdaya

di depan jendela termangu memintal kalender

seperti menjahit luka menyambut dengus si maut

Nov, 2023  


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik  Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di  SMA 2 Ngawi.