Puisi

Puisi Gandang Kandirido

Epifani

kesunyian datang

meringkus keterasingan

menyergap kebisuan

seiring gelap malam.

tubuh ini ringkih

berjalan makin tertatih

menangkap sosok di retak cermin

sorot matanya kulihat letih.

kekosongan pada akhirnya

menemukan jalan pulangnya sendiri

sekalipun sebatas tafsir ulang

dari sejarah yang sengaja dibenam kedalam

sajak-sajak gagak hitam.

epifani! epifani!

aku ingatkan selalu padamu

untuk jangan mati terlalu dini!

sebab mimpi-mimpi kini lupa

merangkai dirinya sendiri.

(2022)


Sepenggal Ingatan di Hari Lain

Di hari lain terkadang aku

masih ingat akanmu

kadang-kadang tak utuh

kadang-kala cuma

selintas bayangan

yang mengabur dan

samar

seperti adegan ganjil

dalam sebuah film bisu

tak bersuara.

(2023)


Semesta Kepalamu

Setelah hujan barangkali

Segala hal yang keluar dari mulutku

Akan dipenuhi huruf-huruf

dengan sayap Icarus

Sebelum nantinya terbang rendah

Mengitari semesta kepalamu

Dan bermukim di dalam sana

Sepanjang musim berganti.

(2023)


Diam Segala Ucap

bukan pulangmu yang buatku sekarat

tapi sepimulah yang datang

begitu rambat

lalu dari dalam sunyi gelap

diam-diam menyelinap

segala ucap

entah jadi ratap

entah jadi senyap

entah jadi apa-apa yang mungkin

akan mengendap.

(2022)


Pada Sebuah Pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi duduk bercerita

Sambil rasakan ombak kecil menerpa

Pukuli kedua telapak kaki

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi bicara apa-apa

Sekalipun cuma bertukar sapa

Apalagi berbincang tentang suatu masa

Yang lewat dan yang akan tiba

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita saling berjalan menjauh

Dan tak mungkin menoleh lagi.

(2022)


Pada Beku Wajahnya Aku Menemukan Tebing

Curam

Terjal

Menganga

Jalan menujunya

Nyaris

Sepi tak habis

Habis.

(2022)


Aku Katakan Kepadamu Seperti Apa Sepi yang Membunuh Itu

Mula-mulanya ia merangkulmu

Seperti kawan lama

Bertandang ke rumah

Bertamu tanpa memberimu

Kabar lebih dulu

Kemudian ia mendekapmu

Seperti seorang kekasih

Dimana dari wajahnya kau yakin

Dialah satunya-satunya orang

Yang akan kau lihat

Setiap pagi

Setiap kau bangun

Dari tempat tidurmu

Lalu entah oleh apa

Seperti bayangan

Ia menyelinap

Mengendap-endap

Pergi ke dalam

Mengambil pisau dan

Menikammu saat lengah

Setelah tersadar

Kau cium gelagat janggal

Dari sebuah kedatangan.

Solo, 2022


Pada Apa-Apa yang Mungkin

Kini kita hanya bisa bersandar pada apa-apa yang mungkin

Hanya bisa bersandar pada apa-apa yang terlihat mustahil

Maka untuk semua waktu yang pernah nyaris itu

Sesekali jenguklah ruangan yang membeku kini

Fragmen fragmen yang tak lagi membicarakan percakapan–percakapan kecil

Percakapan sederhana

Kalaupun harus dipecah, pecahlah

menjadi bagian-bagian kecil

Bahkan jika harus menyelam, selamilah

Sekalipun harus ke jurang paling dasar

Paling dalam

Paling sukar

Dan tak terbahasakan

Oleh kata-kata.

Solo, 2022


Lautan Ini Kembali Tenang

langit menghangat

sore menguning

cahaya keemasan tak lagi

merah membakar pucat

wajah seseorang

Lautan ini kembali tenang

meski deru-debur ombak itu

pernah menggulung tubuhnya

sampai tenggelam

di kegelapan paling dasar.

Lautan ini kembali tenang

Tiada lagi gemuruh badai itu

yang sempat hantam-karamkan

seluruh kehidupan

di kedua matanya yang redup.

(2022)


Gandang Kandirido, lelaki insomnia. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi.

Cerpen

Kisah Tanpa Kata Depan

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Siksaan itu datang ketika orang yang menyebalkan ini terus mengumbar suaranya. Delapan jam lebih omongannya menghantam utara, menabrak selatan, menendang barat daya sebelum kemudian berbalik arah dan akhirnya tersesat. Saya gagal mencari cara menutup mulutnya; terpaksa membiarkan telinga ini panas sekali. Bahkan hampir melepuh.

“Turun mana, Mas?” tanya orang ini setelah lima belas menit sebelumnya riuh menceritakan kesaktian keris-keris dagangannya. Namanya Agung, rambutnya gondrong, biasa bolak-balik Solo-Jakarta, dan pedagang barang pusaka. Langganannya para pejabat. Istrinya kurus langsing. Wajahnya biasa-biasa saja.

Saya sebutkan nama sebuah desa yang kini dibelah jalan tol. Kabar yang saya dengar, sungai tempat kami dulu biasa mandi itu telah dikangkangi jalan layang. Pohon asam raksasa itu juga sudah ditebang. Dua puluh tahun sudah tanah kelahiran yang dulunya dipenuhi para begundal itu tidak saya injak. Saya pergi seminggu sebelum bapak meninggal dunia dan tak bisa menghadiri pemakamannya. Sejak itu belum pernah pulang lagi.

Teman-teman seangkatan saya telah pergi satu per satu. Ada yang merantau. Ada pula yang mati mengenaskan. Sebagian peristiwa maut itu saya saksikan sendiri.  Ketika ingin membeli tambahan minuman keras, Agus, Santo, dan Rudi tewas ditabrak bus dan tak bisa merayakan Lebaran esok harinya.

Tubuh mereka berantakan dan berserakan. Darah menggenangi aspal. Motor yang mereka naiki ringsek. Mengganjal roda belakang sebelah kiri bus. Lima bulan kemudian Joko Pendek overdosis. Panggung acara tujuh belasan itu saksi bisu ketika drumer amatir itu ambruk meskipun lagu “Semut Hitam” punya Gong 2000 itu belum mencapai refreinnya. Stik drum itu masih digenggamnya.

“Aku kenal orang-orang situ. Brengsek semua!” ucap Agung tiba-tiba. “Endar sudah mati, kan?”

Saya tersenyum dan tak membantah. Endar teman akrab saya dan memang liar. Hotel itu bersebut gardu ronda dan bau kencing. Setelah seharian pesta minuman keras, Endar tidur ditemani pacarnya. Yang Endar dan pacarnya lakukan malam itu adalah rumor. Namun, peristiwa pagi harinya adalah fakta. Azan Subuh bergema. Pacarnya minta diantar pulang. Berjalan sempoyongan, disusurinya jalan beton itu; sekitar lima ratus meter. Endar pinjam mobil bapaknya, tapi tidak diperbolehkan. Segera saja ditendang-tendangnya pintu garasi itu.

Si kakak perempuan meredakan suasana. Menyuruh Endar memakai mobilnya. Barangkali agar si Endar lebih berhati-hati ketika nanti mengemudi, bukan hanya mobil barunya yang diberikan si kakak yang sedang mudik lebaran itu, tapi juga dua anak perempuannya yang sudah bersiap-siap pergi Salat Id. Dua bocah berumur sepuluh dan delapan tahun itu cantik sekali. Juga wangi. Mereka berpakaian serba putih seperti sepasang bidadari.

Seolah-olah jalan raya Solo-Semarang itu milik moyangnya, Endar menggunakan dua jalur sekaligus. Termasuk yang berlawanan arah. Bus malam penuh penumpang itu pun dihantamnya.  Setelah dua kali jungkir balik, sedan biru metalik itu melompati jalur lambat, menghantam pohon waru, lalu menimpa warung. Endar dan dua keponakannya tewas seketika. Tubuh mereka ringsek. Aneh, tapi nyata, si pacar selamat. Lehernya hanya tergores kaca.

Endar dan dua ponakannya dikuburkan setelah salat Id. Seakan-akan ikut berduka, langit tiba-tiba mendung, lalu hujan turun cukup deras tak lama sesudahnya. Tanah kuburan basah. Pohon-pohon kamboja menggugurkan kembangnya. Tiga jenazah itu dikebumikan bersebelahan. Bergiliran. Jenazah dua bocah perempuan itu sudah ditimbun tanah. Doa-doa telah dipanjatkan. Orang-orang menangis. Bapak-ibunya hampir pingsan.

Berikutnya, giliran Endar. Begitu pocong yang bermandikan darah itu menyentuh tanah, petir menggelegar keras sekali. Tiga kali saja. Setelah itu sepi. Seisi kompleks pemakaman pucat pasi. Semua terdiam seperti kawanan anjing tanah terinjak kaki. Bayangan malaikat penjaga kubur yang lagi mengayun-ayunkan cemeti besi itu membius mereka.

Arwah Endar lalu menghantui saya. Paling tidak seperti itu perasaan saya. Bau semacam bunga melati tercium sangat tajam ketika saya melewati pos ronda tempat kami biasa berkumpul. Bulu kuduk ini langsung berdiri. Saya pun segera berlari secepat-cepatnya. Pulang. Tidak jadi beli rokok.

Bukan hanya itu saja. Saya juga merasa ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamar. Memanggil-manggil. Suara yang sangat mirip suara Endar itu menerobos lubang ventilasi, memutari dinding kamar, dan tak mau pergi. Bocah gila berumur seperempat abad ini pun lalu menjadi seperti bayi lagi. Gegas menyusul ibunya. Minta dikeloni.

Saya baru berani keluyuran lagi, juga tidur sendiri, setelah ibu meninggal dunia. Tepat empat puluh hari sejak kematian Endar dan dua keponakannya itu. Saya yakin Endar tidak berani  menghantui karena saya dijaga ibu. Endar selalu mencium tangan ibu ketika mereka bertemu. Walaupun sudah meninggal, harapan saya, Endar tidak lupa kebiasaan baik itu.

Mobil memasuki Brebes. Kecepatannya cukup tinggi. Undangan pernikahan keponakan itu tidak bisa saya tolak. Ketika dulu meninggalkan rumah, kakaklah yang membelikannya karcis kereta. Saya pilih naik travel. Tidak harus tes antigen dan sebagainya. Cukup pakai masker. Namun, kepraktisan itu ternyata ada imbalannya. Termasuk saya, sebenarnya penumpang travel hanya tiga orang. Namun, suara Agung yang gegap gempita itu telah memberi kesan seakan-akan penumpangnya sangat penuh.

Saya sudah hampir tertidur ketika pertanyaan Agung ini tiba-tiba datang mengusik.

“Bagaimana kabar Kerek? Sepertinya dia tak pernah pulang.”

Saya mengerutkan kening, lalu melirik si penanya yang sangat menjengkelkan itu. Masker hitam yang melorot itu segera saya benahi. Nama itu sangat menarik perhatian saya. Kerek adalah bahasa Jawa yang artinya pemungut sisa-sisa hasil panen. Konsonan belakang dibaca seperti kata “korek”.  Saya tak ingat kapan julukan itu lahir. Juga alasannya.

“Aku pernah dipukuli Kerek. Coba saja waktu itu Kerek tidak bersama anak-anak kompleks AURI. Pasti sudah kuhajar. Mukanya kupermak,” kata Agung lagi.

Agung lalu menceritakan jalannya pemukulan itu. Suaranya riuh rendah. Sepertinya tak peduli nantinya bakal mengganggu tidur istrinya. Dia ingin memberi kesan dialah jagoannya. Dipukuli, tetapi baik-baik saja. Wajahnya yang porak poranda itu tidak diceritakannya. Juga ketika dilemparkan, mencium selokan, lalu diinjak-injak.

Sepertinya Agung sangat kenal Kerek. Hafal kejahatan-kejahatan yang dulu dilakukan Kerek. Merampok bensin pom bensin. Memukuli sopir bus yang ugal-ugalan menjalankan busnya. Menghajar wasit yang curang ketika memimpin pertandingan bola, dan masih banyak lagi. Bahkan, Agung tahu sejarah diusirnya Kerek.

“Mungkin saking malunya punya anak yang nakalnya seperti setan,” kata Agung.

Saya tersenyum masam dan ingat betul peristiwa malam itu. Si bapak memanggil Kerek. Berucap tanpa kemarahan. Tak ada intonasi yang meninggi. Wajah si bapak terlihat teduh. Meskipun demikian, matanya tampak basah dan titik-titik air mata menggenangi kedua sudutnya. Kerek, preman kampung yang ketenaran nama premannya melebihi nama aslinya itu pun tak berkutik. Kepalanya menunduk.

“Bapak tidak perlu  malu lagi,” ucapnya lirih. “Besok saya pergi.”

Mobil SUV memasuki Bawen lalu berhenti. Rumah makan itu tak terlalu ramai. Saya tidak lapar. Hanya memesan kopi, lalu duduk menghadap pemain organ tunggal. Menikmati lagu Didi Kempot. Saya tak ingin mencari tahu posisi Agung dan istrinya. Sementara itu, si sopir travel sedang makan bersama sopir-sopir lainnya.

Satu jam kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalan tol ramai-lancar. Lampu-lampu mobil mulai dinyalakan. Cahayanya berseliweran. Berebut menembusi pori-pori udara. Tanah kelahiran saya masih lima puluh kilometer lagi. Sabuk pengaman saya pasang. Mencoba tidur. Namun, baru juga mulai memejamkan mata, suara bising nan cempreng ini mengganggu lagi.

“Sebenarnya Kerek itu pengecut. Beraninya main keroyokan. Temanku pernah menantang single. Kerek ngeper. Pilih ngumpet,”  kata Agung.

Saya tersenyum kecut tanpa memberikan tanggapan, lalu menguap. Masker hitam yang kembali melorot itu saya betulkan. Kerek punya banyak tato, kata Agung lagi.  Tak ada yang bagus. Gambar naganya mirip cacing. Jelek sekali. Agung lalu tertawa.

Masih banyak lagi cerita Agung yang bertemakan si Kerek. Namun saya tak ingin menanggapi. Lebih sering menguap. Namun, ketika tiba-tiba Agung menyebut-nyebut nama Erna, kantuk saya seketika hilang.

“Erna jadi pacar Kerek karena kena guna-guna. Semua tahu itu. Kalau mainnya wajar, tak mungkin Erna mau,” kata Agung sangat yakin.

Saya menegakkan punggung. Memijat-mijat kedua kelopak mata. Mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba hadir itu, tapi gagal. Erna anak guru SD. Ketika cinta Kerek dan Erna sedang tumbuh dan semekar bunga mawar, hubungan mereka diketahui orang tua Erna.  Si bapak guru itu mengancam akan mengusir Erna jika tetap menjalin hubungan dengan Kerek. Namun, Erna bergeming.

Erna tetap mengirim surat seminggu sekali. Kerek kadang membalasnya walaupun seringnya tidak. Suatu hari surat berisikan kata-kata cinta yang akan dikirimkan Erna itu kena sita. Bapaknya sangat marah lalu memaksa Erna menjalani perkawinan ala Siti Nurbaya. Erna pun minggat. Tujuannya Jakarta. Tempat Kerek sedang berada. Namun, Kerek justru mengusirnya.

“Pulanglah! Patuhi orang tuamu!” ucapnya.

Erna menunjukkan sifat keras kepalanya. Bersikukuh menentang kehendak orang tuanya. Sampai akhirnya Kerek mengatakan sudah tidak mencintai Erna lagi. Sudah punya pacar baru, katanya. Bahkan, foto perempuan entah siapa itu dia tunjukkan. Erna menangis; tak percaya. Saat itu juga Erna meninggalkan kamar kontrakan Kerek. Itu setelah memeluk, lalu mencium pipi Kerek. Masih menangis dan masih tak percaya.

Dua bulan berikutnya Erna dinikahi laki-laki pilihan orang tuanya dan meninggal dunia setahun kemudian—juga bayinya—setelah mengalami pendarahan sangat hebat saat melahirkan. Kerek menangis mendengar kabar kematian itu. Menangisi kisah cinta mereka yang pupus. Menyesali pengorbanannya yang sia-sia. Walaupun percintaan mereka telah direnggut paksa, kebahagiaan Erna-lah yang paling utama. Menurut pengalamannya, anak yang menentang orang tuanya, nasibnya akan celaka. Kerek tak ingin hal itu menimpa Erna.

Harapan Kerek, nantinya perjalanan hidup Erna serupa kumpulan kalimat, paragraf, dan bab yang membentuk sebuah buku. Dengan akhir yang indah pastinya. Sementara itu, seperti halnya kata depan, dirinya tidaklah sangat penting. Bisa dihilangkan semau-maunya tanpa mengubah makna kalimat. Bahkan isi sebuah teks.

Namun, siapa yang menyangka kehidupan Erna ternyata langsung tamat begitu memasuki bab kedua.  Kematian sang kekasih hati itulah yang telah mengubah cara Kerek memandang kehidupan. Hidup dan kehidupan ini ternyata bukan perhitungan matematika yang serba pasti dan tak terbantahkan.

Mobil melewati perbatasan Kota Solo. Sebentar lagi rumah kelahiran itu kelihatan. Rumah saya.  Jaket saya kancingkan. Topi yang sedikit  miring itu saya luruskan. Tak lupa, membenahi letak masker yang terus-terusan melorot.  Mobil berhenti. Saya turun. Melewati Agung tanpa menyapa. Saya masih menahan kegeraman ini. Terutama perihal si Erna yang katanya dipelet Kerek. Itu jelas-jelas fitnah yang sungguh keji dan mungkar. Coba saja saya tidak sangat lelah dan ngantuk. Sibanyak bacot itu pasti sudah saya injak-injak perutnya. Pukuli wajahnya. Tendangi mulutnya. Lagi.***

Kajen, 21 Februari 2022


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit, menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal. Oktober 2022.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

Mungkin Ada

& Mungkin Tak Ada

mungkin ada,

seseorang

duduk di bawah

pohon purba.

matanya menatap kota

yang jauh—

dan meski jauh,

tetap terasa panas,

bau, pengap, sesak

& membosankan.

matanya menatap

kerumunan manusia

            yang jauh—

            dan meski jauh,

            tetap terasa berisik,

            jahat, licik, ambisius,

            penuh dendam

            & sangat menyedihkan.

tapi mungkin juga

tak ada

siapa pun

di sana.

tak ada kota,

tak ada manusia.

angin ketiadaan

berembus dengan percuma.

2022


Perbincangan Tengah Malam

dengan caranya

yang aneh,

sunyi meledak.

serpihnya berserak,

& semesta dimulai.

kekosongan berserakan,

di serpih yang satu,

juga di serpih

yang lain.

apa tak ada

sedikit pun angin?

tanyamu

mencari celah

pada yang mungkin.

dari arah yang jauh,

s  a  n  g  a  t   j  a  u  h ,

bertahun kemudian,

angin bergemuruh.

menyentuh serpihan itu,

menjadikannya basah,

&

kehidupan

dimulai.

cuma di bumi maksudmu?

kau tak memberi waktu.

       tak memberi jeda,

untuk persoalan

selanjutnya.

apa tak ada kehidupan

di planet lain?

di bintang-bintang,

& sejumlah tempat

dari kesunyian?

mungkin ada. mungkin tak ada.

hidup selalu soal menduga-duga.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi nama-nama;

ini pohon,        ini gunung,

ini danau,        ini bunga.

itu sungai,        itu laut,

itu teluk,          itu muara.

kau membuka jendela.

biar angin masuk, katamu.

tapi di luar tak ada apa-apa.

udara akhir-akhir ini,

jarang sejuk

meski dini hari.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi ruang tumbuh

untuk kehancuran,       kebisingan,

kegaduhan,                  kesemrawutan,

kerusuhan,                   polusi udara

dan lain sebagainya.

kau mengambil sebatang

rokok, dan membakarnya.

mari kita akhiri perbincangan ini.

istirahat.

lalu terjaga.

lalu bekerja.

orang miskin

seperti kita

tak punya banyak waktu

untuk membicarakan semesta.

2022


Cara Terbaik Membuka Mata

Setelah Kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.

2021


Aku Bermimpi

aku bermimpi

menjadi bayi

yang menangis

karena paham

tangannya tidak

menggenggam

apa pun

kecuali

ketiadaan.


Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari

desember mengubah malam

            menjadi bahasa yang

            tak mudah dikatakan.

orang-orang tampak lebih

            murung dan segalanya

            yang mereka genggam

            hanyalah kekosongan.

orang-orang merencanakan

            sesuatu untuk hari depan

yang mereka sudah tahu

            itu adalah kegagalan,

            atau sekumpulan kemustahilan.

malam jadi tambah kosong,

            langit padam & hujan

            jatuh sebagai gesekan biola

            pada lagu-lagu melankolia.

Mata didera insomnia & Pikiran lelah

bertarung dengan angan-angan

tentang hari dan nasib baik

di tahun yang akan datang.

desember mengubah malam

            menjadi luka yang

            tak mudah disembuhkan,

            menjadi tubuh yang rentan

            jatuh dan dikecewakan.

Jogja, 2021


Menepi

selalu ada hari

di mana seharusnya

kau menepi

dan menyembuhkan

            luka-lukamu sendiri.

orang-orang mungkin

bisa memberikan pelukan,

tapi tidak untuk ketenangan

            jangka panjang.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Buku Dongeng

sehabis membacakan buku dongeng

ibu pergi menutup pintu kamar

kepalaku jatuh ke lantai

lalu aku tidak mengenali apa pun

tokoh-tokoh dalam dongeng

mengubur tubuhku di negeri yang jauh

2023


Dalam Spons Cake Mocca Rich

ketika aku diserang demam

dan kepalaku ditusuk-tusuk memori buruk

aku tidak ingin menutup mata

sebab kulihat ia terbang

lalu hinggap di dahan awan

aku senang bukan kepalang

ia turun kemudian

memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar

yang punya mulut dan gigi

maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich

seolah aku dimakan

lalu dari kepalaku

tumpah adegan-adegan mengerikan

seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat

tumpah ke mana-mana

di mana-mana

ia kuingat kemudian

dan perlahan

tak pernah datang

tak pernah pulang

ke dalam pelukan

atau pun kutukan

lenyap seperti disihir

evanesco

abrakadabra

hilang

di dalam spons cake mocca rich

tubuhku 40°

sendirian

2022


Ketika Aku Cemas

kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera

tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong

maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas

ke mana aku dilemparkan?

pada ketiadaan atau kekosongan?

malaikat berwarna putih memegang tanganku

ia tidak memiliki sayap

tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga

ketika kuinjak ekornya

matanya terbakar

dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka

aku di mimpi atau di neraka?

aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan

yang datang dan yang hilang

lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan

aku di mimpi atau di neraka?

begitu hidup masih saja kuterka

2023


Mimpi

seorang perempuan wangi susu

berdiri di ujung jariku ketika aku tidur

dari matanya yang sayu

aku menyaksikan;

seorang ibu yang beranak

dari perutnya keluar api

lalu mengental menjadi daging

lalu tuhan menyuruh menangis

lalu terbelalak;

iblis berjalan semakin dekat

semakin cepat

dan perlahan kelopak mataku jadi beku

2023


Di Meja Makan

fla yang warna merah

yang meleleh dari dalam roti itu

bukan rasa stroberi

darahku mendidih

muncrat ke atas meja

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.

Katalog

Hikayat Setangkai Mawar

Hikayat Setangkai Mawar merupakan kisah perjalanan bunga jiwa dari sang Pencipta, cinta yang murni apa adanya dapat berubah sesuai dengan rasa dan karsa yang kadangkala mengikuti kelamnya senja. Seseduh cinta menjadi kata penuh makna, merekah berbunga, mati rasa, gelap mata bahkan membabi-buta. Setangkai mawar melambangkan mazmur mawar yang tak akan pudar.

Penulis: Wiwoho

Cetakan: Pertama, Tahun 2023

Penerbit Nomina Ide Karya

110 halaman; 14 x 21 cm

ISBN: 978-623-99817-9-2

Harga: Pp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136