Siksaan itu datang ketika orang yang menyebalkan ini terus mengumbar suaranya. Delapan jam lebih omongannya menghantam utara, menabrak selatan, menendang barat daya sebelum kemudian berbalik arah dan akhirnya tersesat. Saya gagal mencari cara menutup mulutnya; terpaksa membiarkan telinga ini panas sekali. Bahkan hampir melepuh.
“Turun mana, Mas?” tanya orang ini setelah lima belas menit sebelumnya riuh menceritakan kesaktian keris-keris dagangannya. Namanya Agung, rambutnya gondrong, biasa bolak-balik Solo-Jakarta, dan pedagang barang pusaka. Langganannya para pejabat. Istrinya kurus langsing. Wajahnya biasa-biasa saja.
Saya sebutkan nama sebuah desa yang kini dibelah jalan tol. Kabar yang saya dengar, sungai tempat kami dulu biasa mandi itu telah dikangkangi jalan layang. Pohon asam raksasa itu juga sudah ditebang. Dua puluh tahun sudah tanah kelahiran yang dulunya dipenuhi para begundal itu tidak saya injak. Saya pergi seminggu sebelum bapak meninggal dunia dan tak bisa menghadiri pemakamannya. Sejak itu belum pernah pulang lagi.
Teman-teman seangkatan saya telah pergi satu per satu. Ada yang merantau. Ada pula yang mati mengenaskan. Sebagian peristiwa maut itu saya saksikan sendiri. Ketika ingin membeli tambahan minuman keras, Agus, Santo, dan Rudi tewas ditabrak bus dan tak bisa merayakan Lebaran esok harinya.
Tubuh mereka berantakan dan berserakan. Darah menggenangi aspal. Motor yang mereka naiki ringsek. Mengganjal roda belakang sebelah kiri bus. Lima bulan kemudian Joko Pendek overdosis. Panggung acara tujuh belasan itu saksi bisu ketika drumer amatir itu ambruk meskipun lagu “Semut Hitam” punya Gong 2000 itu belum mencapai refreinnya. Stik drum itu masih digenggamnya.
“Aku kenal orang-orang situ. Brengsek semua!” ucap Agung tiba-tiba. “Endar sudah mati, kan?”
Saya tersenyum dan tak membantah. Endar teman akrab saya dan memang liar. Hotel itu bersebut gardu ronda dan bau kencing. Setelah seharian pesta minuman keras, Endar tidur ditemani pacarnya. Yang Endar dan pacarnya lakukan malam itu adalah rumor. Namun, peristiwa pagi harinya adalah fakta. Azan Subuh bergema. Pacarnya minta diantar pulang. Berjalan sempoyongan, disusurinya jalan beton itu; sekitar lima ratus meter. Endar pinjam mobil bapaknya, tapi tidak diperbolehkan. Segera saja ditendang-tendangnya pintu garasi itu.
Si kakak perempuan meredakan suasana. Menyuruh Endar memakai mobilnya. Barangkali agar si Endar lebih berhati-hati ketika nanti mengemudi, bukan hanya mobil barunya yang diberikan si kakak yang sedang mudik lebaran itu, tapi juga dua anak perempuannya yang sudah bersiap-siap pergi Salat Id. Dua bocah berumur sepuluh dan delapan tahun itu cantik sekali. Juga wangi. Mereka berpakaian serba putih seperti sepasang bidadari.
Seolah-olah jalan raya Solo-Semarang itu milik moyangnya, Endar menggunakan dua jalur sekaligus. Termasuk yang berlawanan arah. Bus malam penuh penumpang itu pun dihantamnya. Setelah dua kali jungkir balik, sedan biru metalik itu melompati jalur lambat, menghantam pohon waru, lalu menimpa warung. Endar dan dua keponakannya tewas seketika. Tubuh mereka ringsek. Aneh, tapi nyata, si pacar selamat. Lehernya hanya tergores kaca.
Endar dan dua ponakannya dikuburkan setelah salat Id. Seakan-akan ikut berduka, langit tiba-tiba mendung, lalu hujan turun cukup deras tak lama sesudahnya. Tanah kuburan basah. Pohon-pohon kamboja menggugurkan kembangnya. Tiga jenazah itu dikebumikan bersebelahan. Bergiliran. Jenazah dua bocah perempuan itu sudah ditimbun tanah. Doa-doa telah dipanjatkan. Orang-orang menangis. Bapak-ibunya hampir pingsan.
Berikutnya, giliran Endar. Begitu pocong yang bermandikan darah itu menyentuh tanah, petir menggelegar keras sekali. Tiga kali saja. Setelah itu sepi. Seisi kompleks pemakaman pucat pasi. Semua terdiam seperti kawanan anjing tanah terinjak kaki. Bayangan malaikat penjaga kubur yang lagi mengayun-ayunkan cemeti besi itu membius mereka.
Arwah Endar lalu menghantui saya. Paling tidak seperti itu perasaan saya. Bau semacam bunga melati tercium sangat tajam ketika saya melewati pos ronda tempat kami biasa berkumpul. Bulu kuduk ini langsung berdiri. Saya pun segera berlari secepat-cepatnya. Pulang. Tidak jadi beli rokok.
Bukan hanya itu saja. Saya juga merasa ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamar. Memanggil-manggil. Suara yang sangat mirip suara Endar itu menerobos lubang ventilasi, memutari dinding kamar, dan tak mau pergi. Bocah gila berumur seperempat abad ini pun lalu menjadi seperti bayi lagi. Gegas menyusul ibunya. Minta dikeloni.
Saya baru berani keluyuran lagi, juga tidur sendiri, setelah ibu meninggal dunia. Tepat empat puluh hari sejak kematian Endar dan dua keponakannya itu. Saya yakin Endar tidak berani menghantui karena saya dijaga ibu. Endar selalu mencium tangan ibu ketika mereka bertemu. Walaupun sudah meninggal, harapan saya, Endar tidak lupa kebiasaan baik itu.
Mobil memasuki Brebes. Kecepatannya cukup tinggi. Undangan pernikahan keponakan itu tidak bisa saya tolak. Ketika dulu meninggalkan rumah, kakaklah yang membelikannya karcis kereta. Saya pilih naik travel. Tidak harus tes antigen dan sebagainya. Cukup pakai masker. Namun, kepraktisan itu ternyata ada imbalannya. Termasuk saya, sebenarnya penumpang travel hanya tiga orang. Namun, suara Agung yang gegap gempita itu telah memberi kesan seakan-akan penumpangnya sangat penuh.
Saya sudah hampir tertidur ketika pertanyaan Agung ini tiba-tiba datang mengusik.
“Bagaimana kabar Kerek? Sepertinya dia tak pernah pulang.”
Saya mengerutkan kening, lalu melirik si penanya yang sangat menjengkelkan itu. Masker hitam yang melorot itu segera saya benahi. Nama itu sangat menarik perhatian saya. Kerek adalah bahasa Jawa yang artinya pemungut sisa-sisa hasil panen. Konsonan belakang dibaca seperti kata “korek”. Saya tak ingat kapan julukan itu lahir. Juga alasannya.
“Aku pernah dipukuli Kerek. Coba saja waktu itu Kerek tidak bersama anak-anak kompleks AURI. Pasti sudah kuhajar. Mukanya kupermak,” kata Agung lagi.
Agung lalu menceritakan jalannya pemukulan itu. Suaranya riuh rendah. Sepertinya tak peduli nantinya bakal mengganggu tidur istrinya. Dia ingin memberi kesan dialah jagoannya. Dipukuli, tetapi baik-baik saja. Wajahnya yang porak poranda itu tidak diceritakannya. Juga ketika dilemparkan, mencium selokan, lalu diinjak-injak.
Sepertinya Agung sangat kenal Kerek. Hafal kejahatan-kejahatan yang dulu dilakukan Kerek. Merampok bensin pom bensin. Memukuli sopir bus yang ugal-ugalan menjalankan busnya. Menghajar wasit yang curang ketika memimpin pertandingan bola, dan masih banyak lagi. Bahkan, Agung tahu sejarah diusirnya Kerek.
“Mungkin saking malunya punya anak yang nakalnya seperti setan,” kata Agung.
Saya tersenyum masam dan ingat betul peristiwa malam itu. Si bapak memanggil Kerek. Berucap tanpa kemarahan. Tak ada intonasi yang meninggi. Wajah si bapak terlihat teduh. Meskipun demikian, matanya tampak basah dan titik-titik air mata menggenangi kedua sudutnya. Kerek, preman kampung yang ketenaran nama premannya melebihi nama aslinya itu pun tak berkutik. Kepalanya menunduk.
“Bapak tidak perlu malu lagi,” ucapnya lirih. “Besok saya pergi.”
Mobil SUV memasuki Bawen lalu berhenti. Rumah makan itu tak terlalu ramai. Saya tidak lapar. Hanya memesan kopi, lalu duduk menghadap pemain organ tunggal. Menikmati lagu Didi Kempot. Saya tak ingin mencari tahu posisi Agung dan istrinya. Sementara itu, si sopir travel sedang makan bersama sopir-sopir lainnya.
Satu jam kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalan tol ramai-lancar. Lampu-lampu mobil mulai dinyalakan. Cahayanya berseliweran. Berebut menembusi pori-pori udara. Tanah kelahiran saya masih lima puluh kilometer lagi. Sabuk pengaman saya pasang. Mencoba tidur. Namun, baru juga mulai memejamkan mata, suara bising nan cempreng ini mengganggu lagi.
“Sebenarnya Kerek itu pengecut. Beraninya main keroyokan. Temanku pernah menantang single. Kerek ngeper. Pilih ngumpet,” kata Agung.
Saya tersenyum kecut tanpa memberikan tanggapan, lalu menguap. Masker hitam yang kembali melorot itu saya betulkan. Kerek punya banyak tato, kata Agung lagi. Tak ada yang bagus. Gambar naganya mirip cacing. Jelek sekali. Agung lalu tertawa.
Masih banyak lagi cerita Agung yang bertemakan si Kerek. Namun saya tak ingin menanggapi. Lebih sering menguap. Namun, ketika tiba-tiba Agung menyebut-nyebut nama Erna, kantuk saya seketika hilang.
“Erna jadi pacar Kerek karena kena guna-guna. Semua tahu itu. Kalau mainnya wajar, tak mungkin Erna mau,” kata Agung sangat yakin.
Saya menegakkan punggung. Memijat-mijat kedua kelopak mata. Mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba hadir itu, tapi gagal. Erna anak guru SD. Ketika cinta Kerek dan Erna sedang tumbuh dan semekar bunga mawar, hubungan mereka diketahui orang tua Erna. Si bapak guru itu mengancam akan mengusir Erna jika tetap menjalin hubungan dengan Kerek. Namun, Erna bergeming.
Erna tetap mengirim surat seminggu sekali. Kerek kadang membalasnya walaupun seringnya tidak. Suatu hari surat berisikan kata-kata cinta yang akan dikirimkan Erna itu kena sita. Bapaknya sangat marah lalu memaksa Erna menjalani perkawinan ala Siti Nurbaya. Erna pun minggat. Tujuannya Jakarta. Tempat Kerek sedang berada. Namun, Kerek justru mengusirnya.
“Pulanglah! Patuhi orang tuamu!” ucapnya.
Erna menunjukkan sifat keras kepalanya. Bersikukuh menentang kehendak orang tuanya. Sampai akhirnya Kerek mengatakan sudah tidak mencintai Erna lagi. Sudah punya pacar baru, katanya. Bahkan, foto perempuan entah siapa itu dia tunjukkan. Erna menangis; tak percaya. Saat itu juga Erna meninggalkan kamar kontrakan Kerek. Itu setelah memeluk, lalu mencium pipi Kerek. Masih menangis dan masih tak percaya.
Dua bulan berikutnya Erna dinikahi laki-laki pilihan orang tuanya dan meninggal dunia setahun kemudian—juga bayinya—setelah mengalami pendarahan sangat hebat saat melahirkan. Kerek menangis mendengar kabar kematian itu. Menangisi kisah cinta mereka yang pupus. Menyesali pengorbanannya yang sia-sia. Walaupun percintaan mereka telah direnggut paksa, kebahagiaan Erna-lah yang paling utama. Menurut pengalamannya, anak yang menentang orang tuanya, nasibnya akan celaka. Kerek tak ingin hal itu menimpa Erna.
Harapan Kerek, nantinya perjalanan hidup Erna serupa kumpulan kalimat, paragraf, dan bab yang membentuk sebuah buku. Dengan akhir yang indah pastinya. Sementara itu, seperti halnya kata depan, dirinya tidaklah sangat penting. Bisa dihilangkan semau-maunya tanpa mengubah makna kalimat. Bahkan isi sebuah teks.
Namun, siapa yang menyangka kehidupan Erna ternyata langsung tamat begitu memasuki bab kedua. Kematian sang kekasih hati itulah yang telah mengubah cara Kerek memandang kehidupan. Hidup dan kehidupan ini ternyata bukan perhitungan matematika yang serba pasti dan tak terbantahkan.
Mobil melewati perbatasan Kota Solo. Sebentar lagi rumah kelahiran itu kelihatan. Rumah saya. Jaket saya kancingkan. Topi yang sedikit miring itu saya luruskan. Tak lupa, membenahi letak masker yang terus-terusan melorot. Mobil berhenti. Saya turun. Melewati Agung tanpa menyapa. Saya masih menahan kegeraman ini. Terutama perihal si Erna yang katanya dipelet Kerek. Itu jelas-jelas fitnah yang sungguh keji dan mungkar. Coba saja saya tidak sangat lelah dan ngantuk. Sibanyak bacot itu pasti sudah saya injak-injak perutnya. Pukuli wajahnya. Tendangi mulutnya. Lagi.***
Kajen, 21 Februari 2022
Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit, menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal. Oktober 2022.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,
setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,
membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,
setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga
dalam keadaan jatuh cinta.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,
setelah aku paham kau melambaikan tangan,
yang bukan untuk sapaan.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.
cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,
sebelum kau memilih pergi.
2021
Aku Bermimpi
aku bermimpi
menjadi bayi
yang menangis
karena paham
tangannya tidak
menggenggam
apa pun
kecuali
ketiadaan.
Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari
desember mengubah malam
menjadi bahasa yang
tak mudah dikatakan.
orang-orang tampak lebih
murung dan segalanya
yang mereka genggam
hanyalah kekosongan.
orang-orang merencanakan
sesuatu untuk hari depan
yang mereka sudah tahu
itu adalah kegagalan,
atau sekumpulan kemustahilan.
malam jadi tambah kosong,
langit padam & hujan
jatuh sebagai gesekan biola
pada lagu-lagu melankolia.
Mata didera insomnia & Pikiran lelah
bertarung dengan angan-angan
tentang hari dan nasib baik
di tahun yang akan datang.
desember mengubah malam
menjadi luka yang
tak mudah disembuhkan,
menjadi tubuh yang rentan
jatuh dan dikecewakan.
Jogja, 2021
Menepi
selalu ada hari
di mana seharusnya
kau menepi
dan menyembuhkan
luka-lukamu sendiri.
orang-orang mungkin
bisa memberikan pelukan,
tapi tidak untuk ketenangan
jangka panjang.
Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.
memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar
yang punya mulut dan gigi
maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich
seolah aku dimakan
lalu dari kepalaku
tumpah adegan-adegan mengerikan
seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat
tumpah ke mana-mana
di mana-mana
ia kuingat kemudian
dan perlahan
tak pernah datang
tak pernah pulang
ke dalam pelukan
atau pun kutukan
lenyap seperti disihir
evanesco
abrakadabra
hilang
di dalam spons cake mocca rich
tubuhku 40°
sendirian
2022
Ketika Aku Cemas
kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera
tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong
maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas
ke mana aku dilemparkan?
pada ketiadaan atau kekosongan?
malaikat berwarna putih memegang tanganku
ia tidak memiliki sayap
tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga
ketika kuinjak ekornya
matanya terbakar
dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka
aku di mimpi atau di neraka?
aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan
yang datang dan yang hilang
lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan
aku di mimpi atau di neraka?
begitu hidup masih saja kuterka
2023
Mimpi
seorang perempuan wangi susu
berdiri di ujung jariku ketika aku tidur
dari matanya yang sayu
aku menyaksikan;
seorang ibu yang beranak
dari perutnya keluar api
lalu mengental menjadi daging
lalu tuhan menyuruh menangis
lalu terbelalak;
iblis berjalan semakin dekat
semakin cepat
dan perlahan kelopak mataku jadi beku
2023
Di Meja Makan
fla yang warna merah
yang meleleh dari dalam roti itu
bukan rasa stroberi
darahku mendidih
muncrat ke atas meja
2023
Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.
Hikayat Setangkai Mawar merupakan kisah perjalanan bunga jiwa dari sang Pencipta, cinta yang murni apa adanya dapat berubah sesuai dengan rasa dan karsa yang kadangkala mengikuti kelamnya senja. Seseduh cinta menjadi kata penuh makna, merekah berbunga, mati rasa, gelap mata bahkan membabi-buta. Setangkai mawar melambangkan mazmur mawar yang tak akan pudar.