aroma membawa kabar di luar pikiran nalar menginjak kepatutan dengan sadar perpecahan tumbuh tersamar nalar budi pun tercemar bergelinjang perlahan memudar
Memasuki pelataran rumah yang terletak di Lembah Kelelawar, Salindri merasakan langkah kakinya bergetar. Tiga puluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Dulu ia meninggalkan Samsul, anak lelakinya yang masih bayi, dan diasuh Nenek. Ia tak pernah pulang. Tak pernah bertemu Samsul, yang kini mendekam sepuluh tahun di penjara, menanti hukuman mati, karena merampok seorang nasabah bank, menembak mati tiga polisi dan membunuh sesama napi.
Di depan pintu rumah kayu Salindri berhadapan dengan Surti, perempuan muda, sintal, agak genit, dan Laila, seorang gadis kecil 9 tahun. Salindri sempat mendengar dari beberapa orang, Surti seorang penyanyi Orkes Melayu Mawar Rembulan yang diidolakan banyak orang. Begitu juga Laila, anaknya, yang mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi cilik.
Surti dan Laila memandang Salindri dengan tatapan aneh. Mereka curiga dengan kehadiran perempuan setengah baya itu. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya itu mendadak mendatangi rumahnya?
Tatapan Salindri menyelidiki perempuan muda sintal yang dianggapnya sebagai istri Samsul.
“Samsul selalu cerita, Ibu meninggalkannya ketika ia masih bayi.”
“Tentu dia sangat ingin kuasuh,” kata perempuan setengah baya itu. “Boleh aku menginap di sini?”
“Oh, tentu saja. Ini rumah Ibu,” balas Surti, dengan keramahan seorang anak menantu pada ibu mertuanya. “Kebetulan sekali Ibu datang. Nanti malam Samsul dihukum mati, besok pagi dimakamkan.”
Pucat wajah Salindri. Tubuh perempuan setengah baya itu gemetar. Ia merasa bersalah. Ia meninggalkan suami dan anak yang kini menjelang dijatuhi hukuman mati. Ia menyiram bensin dan membakar suami yang tak mau berhenti berjudi. Ia melarikan diri dari rumah, mengembara di ibu kota, tak berani pulang.
Kini Salindri memasuki kamar yang dikosongkan sejak kematian Panji Rangsang, suaminya. Ia menemukan tempat tidur dan lemari baju kayu sonokeling, masih kokoh, kecoklatan, kusam berdebu. Tiga puluh tahun meninggalkan rumah papan kayu di Lembah Kelelawar, ia masih menemukan kenangan seperti semasa pengantin baru.
Di dalam kamar itu Salindri merasakan degup jantung yang kencang. Tubuhnya lemas. Ia merasa telah menjelma iblis betina yang mengorbankan anaknya sendiri.
***
Pagi berkabut, dalam sunyi tanah kuburan di lereng Gunung Wurung, Salindri berdiri goyah di bawah pohon trembesi, menanti jenazah Samsul dimakamkan. Di sisinya berdiri gelisah Surti dan Laila.
Hanya beberapa orang yang mengusung dan mengiringi jenazah Samsul. Liang lahat sudah digali kemarin sore. Salindri sangat ingin melihat wajah anak lelakinya. Tetapi komandan regu tembak, yang mengiringi jenazah Samsul, tak memperkenankannya membuka peti mati. Salindri berdiri memandangi peti mati jenazah anak lelakinya diturunkan ke dalam liang lahat, ditimbuni tanah hingga berupa gundukan yang ditaburi bunga. Seorang ulama membaca doa, seperti tergesa-gesa, dan terkesan melakukan pemakaman rahasia. Hanya beberapa orang desa yang hadir dalam pemakaman. Suro Kolong turut melayat. Lelaki setengah baya itu berdiri di sisi ulama yang membaca doa. Beberapa pelayat buru-buru meninggalkan makam.
“Kudengar Samsul kebal peluru,” kata Salindri pada anak menantunya. “Bagaimana mungkin ia bisa ditembak mati?”
Menuruni jalan setapak makam Gunung Wurung, Salindri terus menunduk, seperti ingin menyembunyikan masa lalu yang dijalaninya bersama Samsul. “Tiap tubuh yang kebal pasti memiliki kelemahan. Peluru yang digunakan menembak Samsul sudah disepuh mantra Suro Kolong yang dikenal sakti. Kekebalan Samsul tak ada artinya.”
Salindri teringat akan sosok Suro Kolong, lelaki yang selalu tirakat di Gunung Jabalkat. “Seingatku, Suro Kolong pernah berguru pada Ki Gandrung Marsudi.”
“Samsul juga berguru ke sana. Tapi Suro Kolong lebih sakti.”
***
KetikaSurti mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya, dimasukkan dalam kopor, dan dikemas rapi, Salindri tercengang. Apakah menantunya akan meninggalkan rumah ini?
“Apa yang kaulakukan?” tanya Salindri, dengan pandangan tak mengerti.
”Kami akan meninggalkan rumah ini. Kami akan menetap di kota, agar saya bisa lebih mudah menerima tanggapan nyanyi.”
“Kau akan meninggalkanku seorang diri di rumah ini?”
“Saya tak bisa bersama Ibu. Seorang lelaki akan melamar saya. Kami segera nikah.”
“Siapa laki-laki itu?”
“Ibu akan mengenalnya.”
Siang hari komandan regu tembak datang dengan mengendarai mobil sedan. Di belakangnya sebuah truk bak terbuka diparkir di pelataran rumah dan seluruh barang-barang Surti diangkat ke dalamnya. Komandan regu tembak menjemput Surti dan Laila.
“Itukah calon suamimu?” tanya Salindri dengan sepasang mata keheranan.
“Ya.”
“Kau akan jadi istri kedua?”
Surti mengangguk, setengah terpaksa. “Aku merasa tenteram dan dilindungi.”
“Tapi kenapa dia tampak sungkan padaku? Ia seperti ingin menghindariku.”
“Dia cuma belum akrab pada Ibu. Kalau sudah akrab, ia akan menjadi lelaki yang menyenangkan.”
Salindri merasa bahwa komandan regu tembak menyembunyikan sesuatu yang belum dipahaminya. Sepasang mata komandan regu tembak memancarkan rahasia yang ingin disingkap Salindri.
***
Menjelang sore seluruh barang Surti dan Laila sudah dimasukkan ke dalam truk. Komandan regu tembak mengendarai sebuah mobil sedan memarkir mobil itu di tepi jalan Lembah Kelelawar. Salindri merasakan sepi yang menggerogoti jiwanya. Ia akan tinggal seorang diri di rumah warisan suaminya. Tak ada tetangga yang menempati rumah di lembah ini.
“Biar Laila tinggal bersamaku di rumah ini,” pinta Salindri. “Ingin kutebus kesalahanku pada Samsul dengan mengasuh cucu.”
Lama Surti memandangi Laila dan komandan regu tembak.
“Laila bukan cucumu. Ia anak gadisku,” balas komandan regu tembak.
“Bagaimana mungkin Laila bukan anak Samsu?”
Terdiam sesaat, komandan regu tembak itu menukas sopan, “Tanyakan keadaan anak lelakimu itu pada Suro Kolong. Ia pernah mencelakai Samsul.”
Salindri tertegun. Lama memandangi Laila, dan gadis kecil itu hanya terdiam. Mengikuti semua perintah komandan regu tembak, Surti dan Laila berpamitan pada Salindri. Lembah Kelelawar senyap. Pohon sonokeling, jati, dan munggur yang rimbun memendam angin pegunungan.
“Kau puas bisa menghukum mati anakku dan mengawini jandanya?” kata Salindri pada komandan regu tembak, ketika lelaki setengah baya itu berpamitan.
***
Matahari hampir tenggelam. Di ladang jagung Suro Kolong, Salindri menjumpai lelaki setengah baya itu. Ia sudah mengenal lelaki setengah baya itu semenjak masih tinggal di Lembah Kelelawar, sebelum meninggalkan desa. Perempuan setengah baya itu tampak gugup dan gelisah.
“Apa yang kaulakukan terhadap anak lelakiku?” tanya Salindri, dengan suara yang bergetar.
“Oh, dia pernah menggagahi putriku, Tari, di sendang.”
“Samsul pernah mencuri jagung di ladang pada tengah malam. Aku meminta Subro, anak lelakiku untuk memanah selangkangannya.”
“Kenapa kamu sekeji itu?”
“Anakmu akan lebih keji, kalau tak dilukai kelaminnya. Cuma aku yang bisa melukainya.”
Dada Salindri bergemuruh. Tetapi ia tak berani menumpahkan kemarahannya pada lelaki setengah baya di sisinya. Ia menunduk, meninggalkan ladang jagung. Dalam hati ia merencakan balas dendam.***
Pandana Merdeka, Juli 2024
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018). Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).
Tak ada suara alarm, tak ada suara anak-anak yang bernyanyi riang. Aku justru terkejut karena terbangun dalam kesunyian.
Lain dari biasanya.
Meski tak sama seperti hari-hari sebelumnya, namun satu benda yang selalu dan pasti akan kucari setiap bangun dari tidur pulas semalaman, satu benda yang biasa kusimpan rapat di bawah bantal, hanyalah satu: ponselku.
Satu, aku selalu terbangun karena tersentak suara alarm dari ponselku. Dua, aku harus mengecek aplikasi perpesanan, lagi-lagi dari benda yang sama.
Namun kini, di mana itu? Jelas sekali kalau alarm yang harusnya berdering dari sana, pagi ini tidak melaksanakan tugasnya seperti hari-hari lalu.
“Nina…Nin!” teriakku, gusar.
Nina itu nama istriku.
Tak ada jawaban.
Sepi, sunyi.
***
Matahari telah menggantung tinggi di seperempat langit dan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai putih di kamar. Aku beranjak dari pembaringan.
Di mana ponselku?
Sial! Jam berapa ini? Mestinya alarm di ponsel itu berbunyi pukul tujuh, membuatku jenggirat dari tempat tidur dan buru-buru meraba ke bawah bantal, mengambil si ponsel dan mematikan alarmnya, bergegas untuk mandi, sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah dan melesat ke kantor melawan kemacetan.
Sial! Ada meeting jam sembilan pagi ini!
***
Melangkah aku keluar kamar, namun seketika kakiku terhenti di depan pintu yang menghubungkan living room dengan ruang makan sambil kutengok dua kamar di depan living room itu, kamar kakak adik yang bersebelahan dan selalu berantakan setiap pagi karena keduanya sibuk mengaduk lemari demi mencari seragam dan atau menyiapkan buku pelajaran. Kini rapi, sepi, kosong. Rumah cluster yang selalu ramai ini terasa ada di ujung bumi.
Pandangku terlempar pada jam dinding bulat yang menempel di ruang makan. Jam sembilan kurang, kurang sepuluh atau lima belas, entah!
Kenapa Nina tidak membangunkanku? Sudah jelas aku telat, kini aku harus bolos kerja dan…
Ah, di mana Nina dan anak-anak?
Di mana ponselku?
***
Dua malam lalu, Nina bilang kalau dia tak sanggup jika harus resign, mungkin dia akan mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk boleh bekerja di rumah.
Jawabku, “Terserah kamu saja.”
Dan tadi malam, Nina pun bilang, “Andre, kalau memang itu yang kamu mau, supaya aku fokus mengurus anak-anak di rumah dan undur dari pekerjaan, mungkin akan kupertimbangkan. Aku bisa menyibukkan diri di rumah dengan membuat konten. Aku suka memasak, aku bisa memasak apa saja lalu menjadikannya konten di Instagram.”
Jawabku, “Terserah kamu saja.”
Yang terjadi di malam-malam sebelumnya, hanyalah pertengkaran-pertengkaran panjang setelah anak-anak tertidur nyaman di pembaringan.
***
Pada akhirnya kutemukan ponselku di atas meja makan.
Aplikasi perpesanan pribadi antara aku dan seseorang, masih terbuka.
Alin : Selamat tidur sayang. Jangan lupa besok pagi meeting jam 9.
Andre : Selamat tidur juga sayang. Ok, siap.
Alin : Jangan lupa taruh hp di bawah bantal!
***
Termangu kini aku, kembali ke kamar, menatap kosong pada setiap sudut ruangan.
Jam di ponsel menunjuk pada angka sembilan kurang tiga. Sudah terlambat untuk meeting, sudah terlambat untuk mencari Nina atau anak-anak.
Sudah jelas semuanya. Keributan demi keributan yang terjadi selama enam bulan terakhir, aku yakin, hari ini kami sudah sama-sama menemukan jalan.
Dua jam yang lalu, sebelum alarm di ponsel itu membangunkanku atau mungkin justru saat alarm itu berteriak dan aku tidak menyadarinya, Nina telah lebih dulu mengambil ponselku, persis di bawah bantal tempatku melabuhkan kepala semalaman. Lalu ia membuka kuncinya dengan ujung jari telunjukku dan menemukan segala macam bukti yang menguatkannya untuk pergi.
Tak ada pertengkaran lagi, Nina pun tak ingin membangunkanku demi amarahnya.
Sebab, kuyakin, Nina juga memang ingin pergi.
Inilah yang terjadi pada akhirnya di antara segala macam perselisihan yang menguatkan alasan untuk perpisahan. Istriku sudah tak tahan, pun aku memilih perselingkuhan. Jadi pagi ini, aku hanya terduduk di ujung ranjang sambil terus menerus berpikir : “sudah, kan?“
Alarm di ponsel berbunyi, tepat pukul 9. Untuk yang satu ini pun aku tahu, tentu Nina yang menyetelnya demikian.
Sara Sujana, dari Yogyakarta. Suka kopi, kadang sehari tiga kali. Instagram: @sarasujana46.
“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”
lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi
luruh masuk dalam tangismu semalam
masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku
di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam
tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia
sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak
menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu
setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap
merupa gerimis masai. renyah dalam duka
terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku
“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”
semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu
menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu
setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai
bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,
atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah
tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah
di halaman hatimu
“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”
lantas kugegaskan saja perjalanan ini
mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru
bukan sesat dan penuh isak
2019
Sajak Tentang Hujan Malam
tak ada yang kekal
bau hujan
tanah yang bergulingan
aspal basah
cahaya lampu bersejajar
semua mengkilap
menghapus duka
hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku
lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia
mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu
seperti bekas darah merah di celana dalammu
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun
ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai
tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap
asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin
adakah yang kekal?
selain matahari
aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam
gulita. kubaca zarathustra
tak ada
tak
tak ada
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi
2019
Ujung Percakapan
1.
percakapan ini akan ada ujungnya
kau akan mendapati sebuah pagi
yang miskin matahari di sana
tak ada bentang cakrawala
cuma pertikaian yang kerap tak sudah
2.
mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu
kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur
masih banyak hal-hal lain yang tak terucap
bukan karena kata
bukan sekadar percakapan hampa
3.
tapi sudah jauh kita melangkah
tak perlu kita kebas lintangan nasib
sebab akan kita khidmati seluruh karib
merentangkan sebilah mimpi yang resah
2019
Senin Pagi
Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi
Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah
Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi
2019
Gerimis Tak Sampai
Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi
Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini
Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah
Tapi, gerimis tak lagi sampai
Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang
Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori
2019
Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).