
Fragmen Subuh
Ada dua gelap yang berdiri
di dekat tempat tidurmu
Mereka menunggumu bangun
Untuk mengentaskan rindu
Yang ditabur di sekeliling rumahmu
Sebongkah gelap melaju ke arah yang riuh
Meninggalkan rindu yang rapuh
Sebelum gemericik embun menetes
Di tanah basah tempat dibangkitkannya subuh
Kau akan membaca fragmen,
menguliti doa
dari sajak-sajak yang memanggilmu pulang
tak bisa kau temui ia
dalam buku-buku
tentang hari rindu diutus
Ada dua gelap, yang tidur
di dekat tempatmu berdiri
Mereka sedang menyiapkan
Fragmen-fragmen
Untuk kau baca dengan lirih
Sehingga rindu pulang
Ke pangkal petang
Bandar Lampung, November 2022
Kembara Malam
Aku seorang musafir
Pergi ke sudut malam yang layu
Dengan tubuh lunglai menghardik sunyi
Merapihkan kegelapan
Di ruang-ruang antara kau dan aku
Aku seorang musafir
Kembali menebar benih-benih
Di bawah pijakan kakimu
Menjelang pagi yang terhunjam gerimis
Mengosongkan suara-suara gaduh
di belakang mataku
Aku seorang musafir
Mengitari rindu di lekuk-lekuk waktu
Mengirim surat rahasia
Pada jam terakhir sebelum cahaya
Ke arah laut, ke tepi langit
Aku seorang musafir
Gelap aku tempuh menuju rumahmu
Adakah pulang paling rindu
bagi ruh dan jasad
Selain pada nuraniku
Bandar Lampung, November 2022
Antara Rindu dan Pulang Tidak Mengenal Batas
Aku memeram pagi
Hingga ia beranak pinak
Menjadi tumpukan jerami
Di bawah denting jam yang lirih
Dan memutar ke arah yang dianggap baik
Bagaimana dengan nasib cinta
Yang tertinggal di meja makan malam
Pada perbincangan lusuh itu
Kutebar pilu di bola mataku
Sepahit apa rindu, setelah lepas landas
Dari tubuhmu, kucium wangi dari ribuan
Mawar, sebelum ia mekar
Di kerut keningmu itu, kudaratkan api
Sebelum semuanya padam dan hangus
Hanya saja, subuh akan datang
Menjemputmu ke dalam luka yang sulit
Untuk diurai, sebab di batas itu
Kutaruh namamu, Safira
Tak ada sesiapa dapat menjamahnya
Kecuali jalan yang telah dibuat
Oleh doa-doaku
Bandar Lampung, November 2022
Tidak Ada Maya Hari Ini
Subuh tiba terlalu cepat
Alarm di ponsel masih pulas
Sketsa di mimpi liarmu
Masih berusaha membubarkan diri
Kalender membacakan agenda
Pukul 5 di timur cakrawala
Pagi membuka notifikasi di beranda
Tugas-tugas yang sudah tertunda
Saatnya berangkat kerja
Tidak ada maya hari ini
bayang-bayangmu telah melebur
di belakang hantu resesi
kita terlalu sering sarapan
dengan fyp tiktok
atau instastory
hingga lupa, ada realita yang harus kita hidupi
Tidak ada maya hari ini
kita akan menahan lapar dan haus
dari hidangan lezat di sosial media
kita akan mencoba merindukan
ributnya suasana di lorong “comment”
kita akan menyelami arus
yang lengang dan sunyi
sambil terus memandangi worksheet
atau menyeruput latte
Tidak ada maya hari ini
kita akan menyusuri diskusi
demi menjaga progresi
Bandar Lampung, 29 Oktober 2022
Seorang Milenial kepada Ibunya
Sore pergi begitu saja
sebelum aku sempat menyeruput senja
yang hilang memasuki lorong tanpa cahaya
di beranda rumah,
ada distorsi yang menyerang
dalam bilik-bilik kosong tanpa penjaga
di kepalaku
setelah lilin membakar diri sendiri
aku berbincang dengan Ibu
tentang pendar desa yang padam
dan jalanan bersuluh temaram
tak ada temerang selain cahya api
tak ada listrik selain bau minyak
peradaban kian maju bagi kami
semakin tak beradab bagi bumi
waktu menuju hilang
dan hidup ini semakin ricuh
apakah hanya kita
yang menyingkir dari semarak hari bumi?
kita yang selalu menidurkan daun-daun
dan mengemasi botol-botol
tidakkah pantas bagimu hadiah nobel?
Ibu, konon orang-orang kota
selalu mematikan lampu
satu jam dalam siklus kalender
untuk menghemat bumi
Bagaimana dengan kita,
yang tak bisa mengurai cahaya,
apakah ada pilar setrum di luar sana?
Bandar Lampung, 30 Oktober 2022

Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.
