Puisi

Puisi Bintu Assyatthie

Sepenggal Tanah Totale

I

Malam purba, hujan singgah

menjejaki sukma yang terjaga

basahi tanah tanpa nama

mengundang tanya tak sudah-sudah

Di atas Toalang,

jimat mantra bersimpuh lapang

lepas dari palung sunyi sang petapa

mendekap jiwa, melucuti raga 

Nabastala runtuh

ketika di dasar laut, sebongkah batu

jatuh ke pelupuk sesepuh

mendegup beku sekujur tubuh

pohonan kaku, daunan bisu

Seutas tali melilit erat

mengikat batu bersegi empat

serupa wangsit dalam tirakat

yang labuh dengan selamat

Dari rahimnya, lahirlah Totale:

bâto sé atalé*

dua kekuatan menyatu penuh misteri:

sudahkah penghuninya sekokoh batu

dan sekuat tali?

                   Totale, Juni 2022

*Bâto sé atalé (Bahasa Madura): Batu yang bertali/terikat tali.


Sepenggal Tanah Totale

II

Sumenep-Bali memahat sejarah

melukis pekat tumpah darah

Totale tabah menadah yang kalah

Bali berkoar, bendera berkibar

pasukan Sumenep terdampar

menyelinap pada semak belukar

batu yang dibabat tali dilempar

berlindung mengucap istigfar

Totale dikukuhkan

pasca ihwal mengharukan

sekeping tanah warisan

mengalir dari peluh zikir nenek moyang

Lihatlah sekarang

batu-batu telah dilindas

tali sengaja dilepas

ketajaman batin telah kandas

bahkan tandas sebelum semua tuntas

Totale, bukan tanpa nama

tetapi tinggal nama

seonggok batu tangguh ranap

seutas tali kukuh lenyap

                   Totale, Juni 2022


Si Buta yang Berkelana

Ia bisa lebih sunyi

senyap dari sengkarut duniawi

kekal menjelma abdi

khusyuk bergerak ke titik kembali

Ia bisa lebih liar dari ular

menjalar pada setiap sudut nalar

menyelinap ke relung belantara

menepikan logika yang lalai memaknai aksara

Ia bisa lebih dekat dari urat kepala

merajai setiap detak

mengalasi kaki yang berkerak,

mata yang jelalat serta mulut penelan pekat

Ia bisa lebih dari raja

meletakkan semesta di rongga dada

sebagai tangga, iapun memanjat tanpa mata

berpuasa dari kicauan kata-kata

Sejak itu, aku berguru padanya

mematahkan mataku dan ikut berkelana

                   Totale, Juni 2022


Si Bisu yang Berbicara

Bukan hening,

ketika mulutmu melumat abjad

pada lembar usang sehabis senja

ataupun saat fajar mengumbar merah.

Namun, telingamu tumbang

tak ada kata yang terdengar

selain dari liangmu yang sumbang

Ia tampak bungkam

sebagai kalam, ia tersuruk kelam

tenggelam dalam bayang-bayang hitam

tersudut pada rongga paling suram

Kau tahu,

dalam diam, ia lantang meneriakkan kebenaran

memuat puja paling mujarab

telaga di tengah bengis antero jagat

Karena itu, aku mengabdi padanya

mengangguk pada tiap suara

yang keluar dari kebisuannya

                   Totale, Juni 2022


Bertapa

Aku menunggu di sudut malam

di antara jajaran pohon siwalan

di tengah bebatuan yang berserakan

lafad demi lafad diagungkan

bergumul dengan cerita masa silam

Perihal siapa dan dari mana,

aku dihimpit tanya

Sukmaku berkelana

menapaki jejak penuturan

mencari pembenaran:

tanah tersirat di tengah lautan

Aku bimbang,

benarkah Bugis sebagai kota asal?

Sebab namamu masih sakral

tenggelam dalam sejarah yang nyaris dilupakan

Akupun menyangsikan,

ikatan sedarah dengan Raden Fatah, Siti Maryam

yang bersemayam di tanah Juruan

sebab, tilasmu tak terlihat

persis pusaramu yang niskala

Siapa dan dari mana,

masih diujung tanya

Duh, pengelana sejati

jejakmu semerbak bunga kasturi

pecahkan tabir misteri

datanglah kemari

meski hanya lewat mimpi

                   Totale, Juni 2022


Bintu Assyatthie, lahir dan besar di kampung kecil bernama Totale, tepian pesisir paling timur Pulasu Madura. Selain aktif mengajar, penulis juga aktif di organisasi kepenulisan, yaitu Rumah Literasi Sumenep, Komunitas Perempuan Membaca dan Komunitas Puan Menulis. Beberapa tulisannya bisa dibaca di blog pribadinya: cahayatotale.blogspot.com. Dapat disapa di Instagram dan Facebook Bintu Assyatthie. 

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Wajah Mematung

kulihat seraut wajah mematung

dengan nasib terkatung-katung

pada bayangan lorong gelap

menyingkap tabir tak terungkap

“di sini tatapan sinis adalah lumrah,” ucapmu

“sebab kemurungan terlalu lama digelar

dan secuil senyuman kecut

telah menjadi kegilaan yang ramah.”

“lantas kenapa kau masih berdiri angkuh?” tanyaku, “sedang singgasana berduri tak kunjung kau rengkuh?”

“entahlah, aku sudah mencoba,” jawabmu

“dari mengibas tanganku sampai buntung

hingga melilitkan lidahku untuk dipasung

hanyalah kekosongan yang kudapat,

dan pada gelapnya lorong inilah

aku bisa merasakan kegetiran yang kudambakan

menikmati sepi yang meringkik dengan merayapinya

menikmati sunyi yang merangkak dengan merasukinya.”

(pelan-pelan ia melangkah pergi dan hilang ke dalam bayangan)

kini berbalik aku melihat wajahku sendiri

dalam wajah yang mematung itu.


Wajah

/1/

ribuan sembilu menyayat waktu

tangisan pilu bertalu-talu

lalu mengutuk

untuk memburu

wajah itu

/2/

pada sekeping cermin

yang disapu angin

kulihat wajah dingin

yang berwarna asin

wajahku, wajahmu atau wajah kita?


Hutan Beton

di kota ini bagiku

semua hal terasa asing

sedikit sekali yang tersisa

selain rimbun hutan beton

yang menjulang subur

di tengah kejomplangan

menghampar sepanjang pelupuk mata.


Hujan Kenangan

hujan ialah segala bait kenangan

yang tergeletak di tepian jalan

untuk dikunyah-kunyah

menjadi seperlima irisan jeruk

dalam sewadah es batu

yang dikupas di landasan kayu

lalu dituang ke mangkok kuah kari rasa keju

dengan beceknya bulir-bulir padi

dan diseruput tanpa puisi.


Ngopi Sederhana

aku ingin ngopi

dengan sederhana

tanpa gula

tanpa susu

tanpa kamu di sisiku.


Kecemasan

pada akhirnya semua memang kembali ke awal

ketika deru cemas di panas paling cadas

melahirkan percakapan yang menguap di udara

seperti sebuah pilihan yang kita pilih

meski tidak benar-benar kita pilih

bagaikan langkah maju dalam keanehan

yang mengaduk prasangka hari depan

seperti rumor bising dalam kegilaan

yang berembus dengan ketidakpastian

semua mengendap bersama pertanda buruk.


Histeria

seorang lelaki dengan raut sumringah tanpa keraguan

berjalan mantap menuju lapangan penjagalan

tempat dimana ia akan dipenggal bersama teman-teman seperjuangan

sesampai di sana ia bergumam lirih “betapa beruntungnya mereka yang tak ambil bagian.”

lalu tiba giliran, ia melangkah tegap naik ke panggung pemancungan seperti tanpa tekanan

saat algojo siap mengayunkan pedang, seluruh penonton pada kelabakan

melihat kejadian aneh di luar perkiraan, bukannya leher lelaki itu yang diserahkan

tetapi kelaminnya sendiri yang sudah tegang yang ia sodorkan

setegang penonton yang menyaksikan.

ia menyodorkan pada algojo yang siap menebas sembari berjabat tangan

penonton kelimpungan dan algojo sempat gelagapan

bahkan ada beberapa penonton yang jumpalitan

tetapi penonton dan algojo langsung sigap menguasai keadaan

apa yang sebenarnya ia bicarakan pada algojo ketika jabat tangan?

dan apa yang sedang mereka rencanakan?

sejurus kemudian terdengar desas-desus yang mengatakan;

ternyata mereka telah membuat perjanjian dengan suatu persyaratan

bahwa algojo akan menghentikan pembantaian

asalkan lelaki itu bersedia dan mampu menggantikan peran

dan tanpa babibu lagi ia setuju mengabulkan

lalu di luar dugaan penonton histeris ketakutan.


Matanya Meleleh

cahaya sore yang merambat

ke ruangan itu seakan enggan

menerpa parasnya yang memantulkan

ketenangan dan kerahasiaan

semesta

seiring matanya yang meleleh

bersama cemas

yang hinggap

dan mengendap

di sebutir peluh

ah… apapun itu

aku suka matamu.


Pada Sebuah Pagi

/1/

selamat bertandang ke rumah, hujan

makhluk di bumi sudah rindu

menyambutmu pulang.

/2/

senyummu dingin mengering

raib ditelan pagi menyingsing.

/3/

untuk apa susah payah menikam dadaku sendiri

bila mata itu telah lebih dulu membunuhku

mata itu adalah milikmu.


Hanyut

cakrawala terbakar hitam dalam

mendung itu

seakan mengiringi kepulanganku

yang kalah kuyup sepanjang jalan

di jalan aku menemui segala ketimpangan:

dari traffic light mati

lampu jalan yang redup

selokan mampet

lalu lintas macet

yang mengisyaratkan aku tuk berhenti

pada trotoar licin yang tergenang

berlumpur penuh lubang

sampai akhirnya kutemukan senyummu

yang mengambang

hanyut terbawa luapan

sungai hujan.


Gandhang Kandhiridho, lahir pada 4 April. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku antologi puisi pertamanya berjudul “Rahim Waktu” (Teras Budaya Jakarta, 2021) dengan menggunakan nama pena “Dan Hermit”. Dalam waktu dekat (2022) sedang menyiapkan buku antologi puisi keduanya. Bisa dihubungi surel: [email protected] dan Instagram @gandha_ng

Cerpen

Pulang

Cerpen A. Muhaimin DS

Kukira yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.

Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang, sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi  perjalanan panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku, aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain terhadapku. Agar aku tak sakit hati.

“Tar, jangan melamun saja. Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”

Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung, menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di tanganku ini.

“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan karena pandemi beberapa tahun lalu.”

“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi ke kota setelah ini.”

“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih hidup di kota dibandingkan di sini?”

“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di sana melalui media sosial milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”

“Kamu tahu kan, kalau kata-katamu membuatku bingung?”

“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini, aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak memperoleh apa pun dariku.”

“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”

“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang sesuai harapanmu.”

“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di kota.”

“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu, biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”

“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”

***

Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan. Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh kebanggaan.

Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka pertemuanku dengan diriku adalah di ujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.

“Ini makan dulu Tar, jangan buru-buru melamun lagi.”

Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai pada sebuah sebab yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.

Bagaimana caranya?

Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.

“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari sebab musababnya.

Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini, seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia utarakan panjang lebar lagi.

Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir seperti itu padaku.

“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.” Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan didalam pikiranku.

“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”

“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku tenggelam memikirkannya?”

“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”

Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai kesadaran.

***

“Sudah siap melamun lagi Tar?”

Ngrokok dululah.”

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”

“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar, masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan jujur saja aku khawatir Tar.”

“Khawatir tentang apa?”

“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat banyak melamun.”

“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius kali ini.”

Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang benar-benar membuatnya khawatir.

Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya matanya berkaca-kaca.

***

Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini. Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di kota juga berkaitan dengannya.

Saya sendiri harus kebingungan dalam menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. (Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).

Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot—tradisonal orang lain, namun secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang. Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.

Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di kota tak bisa kulakukan di desa.

“Menurutmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku Mantra Sastra ini Kum?”

“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”

“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita semua.”

“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa banyak komentar. Hehehe.”

“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”

Nganjuk, 4 Mei 2022


A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita. Menulis puisi, cerpen, dan juga membuat catatan ringan tentang keseharian di rumah sederhananya amuhaiminds.blogspot.com dan catatan tentang pengalaman minum kopi di serupakatakita.blogspot.com. Bisa dihubungi di Instagram @serupakatakita dan Facebook  Abdul Muhaimin

Puisi

Puisi Febriana

Hide away

A feeling of this

Depression is torching me

I’d like to go, please

Solo, 22 Mei 2022


Dream of the Wind

The wind is coming

I feel my body’s freezing 

I’m only dreaming 

Solo, 22 Mei 2022


Gabriella’s Eyes

Gabriella’s eyes

Shine as diamond in the sky

They are eagle’s eyes

Solo, 22 Mei 2022


Juwita Tumpuan Asmara

Kabut, kalut nan bernaung ruang

Peduli apa pada siang?

Bak gerombolan awan

Samar nan menawan

Asmara kau sulut

Kau kira kasihku surut?

Oh, Kau juwita tumpuan kalbu

Detak jantung mengiring rapalan mantraku

Merindumu bak tertusuk duri tajam

Kau lepas panah menderu menghunjam

Perih menempa jiwa

Apa guna raga bersuka

Rinduku menderu seluruh raga

Harap kuucap dalam sukma

Detik berganti tahun 

Pikirku mengharu hingga ke ubun

Sejuk merajuk semilir bayu

Bening mengalir tenang air mataku

Karangpandan, 13 November 2021


Soemarah

Senja menggiring hingga peraduan

Siapakah engkau, wahai Toean?

Merapal doa mengembus asa

Kecupmu tulus pada pelupuk mata

Para penghuni semesta

Harapan adalah doa

Doa adalah mantra

Dirapal dalam jiwa merasuk sukma

Toean, mantramu tertuju para pendosa

Kau pusar tujuh arah mata semesta

Kepada semesta tersemaikan

Benih kasih dan kepasrahan

Teguh bersikukuh bersimpuh

Pusar arah mata angin yang tujuh

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Berserah pada semesta 

Payung penaung para resi pun pendosa

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Kala berlaju saksi deru langkah

Para pencari hakikat dan makna

Solo, 8 Agustus 2022


Nasi

Jangan kau memusuhi nasi

Ingat nasib bapak ibu tani

Meski ini kolonial yang merekonstruksi 

Nanti kau kan susah sendiri

Jangan kau memusuhi nasi

Habiskan jangan buat basi

Berteman baiklah jangan emosi

Sudahlah makan, jangan gengsi

Solo, 22 Mei 2022


Aku Ingin

Aku ingin bertemu, dikau 

Dalam ramai dan sunyi 

Kutahu kau tahu

Kugenggam kasihmu 

dalam mimpi tak berujung

Namamu merajai bawah sadarku

Memenuhi ruang pikir dan hati

Wahai hidup yang paling hidup

Kematian yang paling nyata

Kau, lebih dekat dari napasku

Kau adalah aku

Aku, ingin bertemu

Kutarikan duka

Kupeluk suka

Aku ingin bertemu

Kuhempas rintangan 

Merayakan luka 

Mengamini doa

Aku ingin

Menyelami wajahmu

Kasih yang tak menyurut 

Solo, 27 Mei 2022


Jangkar

Aku adalah jangkar 

Meneguhkan hatimu 

Dari ombak yang menerjangmu

Tak perlu ragu 

Jangkarmu pengamanmu

Aku adalah jangkar 

Di depanmu menghadapi badai

Kau hanya harus kuat 

berpegang erat 

Kau kan selamat 

Aku adalah jangkar 

Percayalah pada nuranimu 

Meski kau tak melihatku 

Kau bisa merasakanku 

dengan yakinmu 

Solo, 27 Mei 2022


Febriana, ibu rumah tangga dan guru paruh waktu.