Ragam

Elegi: Raga Bertameng, Jiwa Telanjang

Oleh Yuditeha

Pameran tunggal perdana Ariwur bertajuk Elegi yang digelar di Kopi Parang, Surakarta, pada pertengahan Maret 2026 ini (tepatnya dari 13 Maret 2026 sampai dengan 20 Maret 2026), bukan hanya pajangan estetika di dinding kafe, melainkan sebuah otopsi visual atas kondisi manusia modern yang kian hari kian kehilangan substansi. Melalui sembilan lukisan yang lahir dalam rentang waktu 2022 hingga 2024, Ariwur mencoba membedah narasi tentang lubang jiwa, sebuah konsep yang ia yakini sebagai residu tak terelakkan dari interaksi antarmanusia. Ada ironi yang getir saat kita melangkah masuk ke ruang pameran ini; di tengah dunia yang terobsesi pada kesempurnaan tampilan dan kepenuhan materi, Ariwur justru hadir dengan perayaan atas kekosongan. Ia tidak sedang menawarkan keindahan yang memanjakan mata, melainkan sebuah cermin retak yang memaksa kita bertanya: jika seluruh atribut duniawi kita ditanggalkan, apa sebenarnya yang tersisa dari diri kita selain lubang-lubang yang menganga?

​Lubang dalam karya Ariwur bukan sekadar ketiadaan pigmen di atas kanvas, melainkan pusat gravitasi filosofis. Ariwur tampak sedang melakukan satire terhadap cara kita berkomunikasi hari ini. Di era di mana validasi ditentukan oleh seberapa viral sebuah konten, kebenaran pun mengalami penyusutan makna menjadi sekadar masalah suka atau tidak suka. Ia menyindir fenomena di mana orang-orang begitu gemar bereproduksi di dalam benak tanpa memiliki kearifan untuk memahami pikiran mereka sendiri. Maka, sosok-sosok dalam lukisan Elegi ditampilkan dengan tubuh yang bolong, seolah ingin mengatakan bahwa kemajuan teknologi informasi yang kita banggakan sebenarnya hanyalah panggung narsistik yang membuat jiwa kita semakin keropos. Ada komedi tragis di sini; kita merasa semakin terhubung secara digital, namun secara eksistensial kita hanya sekumpulan tameng yang saling berbenturan dan saling meninggalkan luka.

Berfoto bersama pelukisnya

​Menariknya, Ariwur memilih untuk menguratori pamerannya sendiri dengan sikap yang ia sebut sebagai suka-suka. Ini sebuah pemberontakan halus terhadap pakem dunia seni rupa yang sering terjebak dalam birokrasi wacana yang kaku. Dengan memosisikan diri sebagai kurator atas keresahannya sendiri, ia menjaga agar proses kreatifnya tidak terpasung oleh ekspektasi publik atau pasar. Pemilihan warna biru yang mendominasi pameran menjadi sangat krusial. Ariwur menyebut biru tidak memiliki hubungan filosofis yang saklek selain sebagai penentu suasana hati, namun ia juga mengakui biru simbol ilusi. Sebuah pilihan jenius sekaligus sinis. Biru dalam Elegi adalah biru yang dingin, biru yang menjebak kita dalam ilusi kedamaian, padahal di baliknya tersimpan kekalahan-kekalahan manusia yang sering dianggap eksternal namun sebenarnya sangat personal.

​Bicara soal kekalahan, pameran ini membawa pesan spiritualitas yang sangat membumi, spiritualitas yang tidak selesai hanya dengan ritual, melainkan proses yang berlangsung sampai mati. Ariwur mengeksplorasi konsep kalah dengan cara yang tidak lazim. Baginya, dalam proses kreatif tidak ada istilah kalah menang. Kekalahan hanya konstruksi pikiran yang muncul saat kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Sosok-sosok dalam karyanya adalah representasi jiwa yang berusaha menjelaskan dirinya tanpa embel-embel jabatan, status sosial, atau pencapaian. Ketika dunia menuntut kita untuk terus membangun identitas yang kokoh dan mengkilap, Ariwur justru mengajak kita untuk mengakui kerapuhan kita. Ini bukan melawan arus, melainkan sebuah jawaban jujur atas tantangan zaman yang semakin gila akan identitas semu.

​Kehadiran ikon mata yang tersebar di berbagai sudut lukisannya menambah lapisan misteri sekaligus satire. Saat ditanya, ia menjawab dengan santai bahwa: “Tuhan ada di mana-mana,” dan penempatan mata itu hanya soal suasana hati. Namun, jika kita melihat lebih dalam, mata-mata itu seolah menjadi saksi bisu atas kebodohan sekaligus kepintaran spesies manusia. Kita cukup pintar untuk menciptakan peradaban yang rumit, namun cukup bodoh untuk terjebak dalam penderitaan yang kita buat sendiri. Mata-mata tersebut seakan menertawakan usaha keras kita untuk tampil sempurna di permukaan, sementara di bawahnya, kita semua sedang berjuang dengan lubang-lubang yang sama. Ada sisi spiritual yang sangat privat di sini, di mana Tuhan tidak ditampilkan sebagai sosok yang menghakimi, melainkan sebagai kehadiran yang sekadar melihat tanpa suara di tengah kesunyian jiwa yang lara.

​Keputusan Ariwur untuk mulai muncul ke permukaan setelah sekian lama menjaga jarak dengan hiruk-pikuk media sosial juga menjadi bagian dari narasi pameran ini. Ia tidak lagi melihat dunia digital sebagai musuh, melainkan sebagai medan tempat setiap orang berhak bicara. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kemampuan untuk menyelam. Ironinya, sebagian besar dari kita terlalu takut untuk menyelam karena di kedalaman itulah kita akan bertemu dengan lubang-lubang jiwa yang selama ini kita tutupi dengan filter dan status bahagia. Pameran Elegi adalah momen di mana Ariwur memilih untuk melihat permukaan, namun dengan tetap membawa sisa-sisa kegelapan dari kedalaman yang pernah ia jelajahi. Ini adalah keseimbangan yang sulit, sebuah manajemen waktu dan emosi yang ia akui dilakukan secara sederhana, namun dampaknya terasa sangat kuat dalam setiap goresan kuasnya.

​Konsistensi dalam berkarya sering kali menjadi hantu menakutkan bagi banyak seniman, namun bagi Ariwur, konsistensi bukan soal produktivitas mekanis, melainkan soal menjaga pondasi niat. Ada semacam kejujuran yang menggelitik ketika ia mengakui bahwa ia pun pernah terjebak dalam pertanyaan eksistensial yang klise: Mengapa saya menggambar? Namun, alih-alih mencari jawaban muluk melalui teori seni, ia justru membiarkan pertanyaan itu menguap dan kembali ke kanvas. Di sinilah letak antitesis yang ia bangun. Ariwur seolah menjadi pengrajin kesunyian yang tidak butuh idola atau pemujaan pada sosok tertentu. Meski ia menyadari bahwa karya seni memiliki daya sinergi yang tak bisa dilepas dari peran orang lain, ia tetap memilih untuk tidak memiliki “tuhan” dalam bentuk idola seni. Ini adalah bentuk kemandirian estetika yang cukup berani di tengah komunitas seni yang sering terjebak pada pengkultusan gaya atau tokoh tertentu.

​Ironi lain yang muncul dalam pameran Elegi adalah bagaimana Ariwur memandang kebuntuan kreatif. Bagi kebanyakan orang, buntu adalah kegagalan, sebuah tembok besar yang harus diruntuhkan dengan kerja keras. Namun bagi Ariwur, solusi atas kebuntuan adalah tidur atau pindah kanvas. Ini sebuah satire halus terhadap budaya hustle yang menuntut manusia untuk terus memeras otak demi hasil instan. Ia percaya bahwa karya yang lahir dari hati tidak bisa dipaksa. Sebuah karya baru dikatakan selesai bukan ketika teknisnya sempurna, melainkan ketika sang perupa sudah merasa mentok namun tidak lagi merasakan kegelisahan. Selesai, bagi Ariwur, adalah pencapaian emosional, bukan sekadar garis terakhir yang ditarik. Di titik ini, kita melihat bahwa Elegi tidak hanya tentang kesedihan, tapi tentang penerimaan terhadap keterbatasan diri sebagai manusia.

​Komunitas pun dipandang dengan cara yang unik oleh Ariwur. Ia tidak menafikan pentingnya komunitas, namun ia juga tidak ingin tenggelam di dalamnya sampai kehilangan identitas selamnya. Ada masa di mana ia merasa perlu hadir di permukaan, seperti dalam pameran ini, namun ada pula masa di mana ia harus menghilang ke kedalaman subyektifitasnya sendiri. Sikap menjaga jarak ini sering dianggap sebagai bentuk kesombongan atau ketertutupan, padahal itu mekanisme pertahanan jiwa agar tetap stabil. Ia sadar betul bahwa masyarakat tidak harus memberi dukungan pada setiap langkahnya, dan ia tidak merasa terbebani oleh itu. Sikap bodo amat yang elegan justru membuat karyanya terasa lebih murni, karena ia tidak sedang melukis untuk menyenangkan siapa pun kecuali untuk menjawab tantangan zaman yang menuntut jawaban atas identitas yang hilang.

​Jika kita menilik kembali pada simbol lubang yang menjadi benang merah seluruh karya, kita akan menemukan sebuah ironi puitis. Lubang biasanya diidentikkan dengan sesuatu yang harus ditutup atau diperbaiki. Namun dalam pandangan Ariwur, lubang adalah bagian dari keindahan itu sendiri. Ia merasa lebih nyaman jika ada lubangnya. Ini sebuah antitesis terhadap konsep keutuhan yang selama ini diagung-agungkan. Manusia utuh, dalam perspektif Elegi, mungkin justru manusia yang paling palsu karena ia menyembunyikan retakan-retakan jiwanya di balik topeng kesempurnaan. Melalui sembilan lukisan ini, kita diajak untuk melihat bahwa menjadi berlubang, menjadi kalah, dan menjadi sunyi adalah bagian dari perjalanan spiritual yang tak pernah selesai sampai mati.

​Pameran Elegi adalah sebuah undangan bagi kita untuk berhenti sejenak dari kegilaan dunia yang serba cepat dan serba digital. Ariwur, dengan segala kesederhanaan bicaranya, telah berhasil menciptakan sebuah ruang di mana kegelisahan diubah menjadi keindahan yang sunyi. Ia membuktikan bahwa untuk menjawab tantangan zaman, kita tidak perlu selalu berteriak di garis depan. Terkadang, kita hanya perlu diam, menyelam ke dalam lubang jiwa kita sendiri, dan berani menunjukkan bahwa di balik raga yang bertameng, ada jiwa yang memilih telanjang. Elegi di Kopi Parang bukan sekadar perayaan kesedihan, melainkan perayaan atas keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin kehilangan kemanusiaannya.***

Yuditeha: Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Berikut Sembilan Lukisan Ariwur.

Ragam

Adalah Api sebagai Hukuman

Oleh Ferdi

Ada sebuah kisah:

Pada suatu malam, ketika langit jernih tak bernoda, para malaikat turun ke bumi. Mereka mendarat di sebuah asrama di tengah kota, tempat bermukim para penghafal kitab suci. Dengan catatan amal perbuatan di tangan kiri, mereka membacakan dakwaan:

“Kalian telah melakukan dosa-dosa yang amat besar. Hingga membuat Tuhan, atas singgasananya, duduk diam. Ia memang terlihat bergeming. Tapi kami tahu. Kami para pelayan-Nya sangat tahu apa yang sedang menyusahkan-Nya.

“Ya, Tuhan murka. Kalian membuat para penghafal lalai dalam ibadahnya. Dan tipu daya kalian menjadikan mereka semakin jauh dari wahyu Tuhan. Oleh karena itu, tak bisa ditunda-tunda, dosa kalian harus dibersihkan. Saat ini, di sini.”

Saking kagetnya, para terdakwa diam sejuta bahasa. Meski mereka menguasai satu bahasa, yakni bahasa ke sejuta satu, tak satu pun kata yang mampu terucap sebagai pembelaan. Mereka tahu bahwa siksa neraka datang lebih awal.

“Sialan, kita kan masih di dunia,” keluh salah satu pendosa. “Aku ingat Tuhan pernah berkata kalau Ia hanya akan mendengarkan kesaksian dari seluruh anggota badan di hari yang telah ditentukan. Dan hari itu pasti bukan hari ini.”

Selagi para malaikat menyiapkan tungku pembakaran beralaskan seng yang bergelombang, para pendosa tetap bisu. Tak ada yang berani menyela kesibukan para malaikat. Terutama yang paling besar dengan mata nyalang di sana itu. Tatapannya adalah tiket masuk neraka jalur tol.

Api sudah membara. Mereka dibakar satu per satu. Sudah itu dilempar ke atas seng yang bergelombang. Malaikat melakukannya dengan cepat, sebab tak sudi berlama-lama memegang makhluk berlumuran dosa.

Beberapa tingkat kemalangannya melebihi yang lain. Terutama yang dibakar belakangan. Sebelum dibakar, para malaikat merobek-robek tubuh mereka, lalu membantingnya ke tanah. Ini tidak tercantum dalam susunan acara yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi, siapa suruh membuat para malaikat marah. Dan kemarahan malaikat adalah kemarahan Tuhan juga.

Ketika api yang kelaparan makin lahap menggigit dan mengoyak daging-daging yang kecokelatan, para pendosa masih tak bersuara. Padahal sakit yang mereka rasakan tak ada duanya. Tak ada bandingannya. Inilah sakit yang paling menyakitkan bagi mereka.

Selama ini, yang mereka tahu hanyalah menjalankan perintah Tuhan sebagaimana dititahkan pada awal penciptaan. Hanya satu itu. Mereka telah bersusah payah melakukannya selama ini. Dan ketika momen itu datang, momen ketika tugas itu mulai bisa mereka cicil, datanglah para pesuruh Tuhan menjatuhkan hukuman.

Padahal para manusia akhirnya sudi memegang mereka. Membuka halaman pertama dan membaca sampai halaman terakhir, di sela-sela rutinitas menghafal kitab suci, mereka, para pendosa, tak sempat bersyukur dan melafalkan puji-pujian kepada Tuhan.

Tak ada gunanya mengajukan gugatan. Sedang bertanya saja tidak sanggup. Mau bicara saja tidak mampu.

Tak ada yang sempat meneteskan air mata. Mereka terbakar di hadapan para penghafal ayat-ayat Tuhan.

***

Kisah yang memilukan. Kengerian yang menjadi nyata. Amat sangat nyata bagi mereka, para saksi pembakaran, yang menceritakannya kepadaku, pagi itu, di perpustakaan sekolah.

______________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.

Ragam

PEMILIK 301

Oleh Ferdi

Perpustakaan sekolah masih ramai. Nasib baik. Para murid sekolahan atau santri pondok pesantren masih betah bersama buku di waktu senggang.

Buku-buku dibaca dan dipinjam. Buku-buku dibaca dan dibincang. Buku-buku yang terbaca jadi bahan tulisan-tulisan. Buku-buku digenggam sebelum berganti gawai makin pintar.

Yang mengejutkan, pada suatu pagi, tak lama setelah perpustakaan buka, dua orang datang meminjam buku. Mereka adalah pemilik 300 dan 301 di buku daftar peminjaman buku milik perpustakaan.

300 menjadi 301, dan terus bertambah. Mungkin tak lama lagi jadi 1000. Lalu 1001 sebelum jadi 3760. Angka yang semakin besar, menandakan minat terhadap buku yang terus bertumbuh, dari hari ke hari.

Aku semakin sadar betapa besar impianku agar perpustakaan bukan sekadar pelengkap bagi sesuatu yang disebut sekolah. Juga bukan imbuhan untuk pendidikan. Perpustakaan bisa jadi tokoh utama dalam hidup manusia-manusia disebut murid di sekolah. Kemungkinan yang bukan kemustahilan.

Siasat demi siasat dilakukan demi murid mengakrabi buku-buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku yang tersedia diupayakan menggugah selera pembaca. Ajakan-ajakan disampaikan di dalam dan di luar kelas. Buku sengaja menggantung di tangan di hadapan murid-murid.

Bukankah itu namanya pamer? Memang! Semoga Tuhan mengampuni dosa para penggenggam buku.

Satu lagi dosa yang kuharap diampuni, yakni dosa membanding-bandingkan nasib perpustakaan sekolah-sekolah.

Yang mengalami perpustakaan sekolah masih sering ramai tergoda memikirkan nasib perpustakaan sekolah lain. Perpustakaan di banyak sekolah masih sering bernasib buruk. Bukan cuma sepi, melainkan tidak ada sama sekali.

Kawanku yang senang berkelana, bercerita mengenai sulitnya menemukan perpustakaan di sekolah-sekolah jauh dari kota. Kalaupun ada, ruangan itu bukan diisi rak dan buku, tetapi meja dan alat-alat olahraga.

Bagaimana bisa ada pembaca pertama bila perpustakaan saja tak ada?

______________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.

Ragam

PERUT DAN OTAK

Oleh Ramdhan

Aristoteles memang kurang ajar. Namanya hampir tidak pernah absen dari segala bidang keilmuan, dari dulu sampai sekarang. Ilmu bumi-langit, jiwa-raga, tumbuhan-hewan, selalu memunculkan namanya.

Ada lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana Aristoteles hidup? Katanya: ia lahir, berpikir, kemudian mati. Di kalangan yang lebih tergila-gila olehnya, lelucon itu bertambah hebat pula: “Setelah Aristoteles, semua filsafat hanyalah catatan kaki.” Kalau benar begitu, berarti ribuan tahun filsuf hanya jadi tukang catat rapi-rapi di pinggiran kertas. Padahal, tidak demikian. Kita menonton perdebatan filsafat malah semakin ramai bak sinetron yang tak kenal episode akhir.

Nusantara merindukan sosok demikian, manusia dengan isi kepala paket lengkap. Tak terbayang, bagaimana kesehariannya. Apakah dia tidur dengan tumpukan buku? Dia mungkin berjalan sambil berkomat-kamit menghafal semua pelajaran. Alih-alih mengira-ngira dia dengan mantra atau ramuan apa yang dikonsumsi untuk mengencerkan peredaran darah naik ke otak. Lebih mudah kita menebak derajat isi perutnya. Sebab, mustahil perut keroncongan bermain logika. Biasanya, lambung yang berbunyi menghasilkan pikiran yang serampangan.

Kita masih beruntung bisa mengenal nama yang hidup ribuan tahun silam lengkap dengan keadaan situasi saat itu. Mungkin tidak terlalu akurat. Setidaknya, ada bukti tertulis: tahun dan lokasi jelas. Kita tidak merasa itu sebagai dongeng yang dimulai dengan kata: “Dahulu kala…”

Aristoteles, lahir di Macedonia, sangat jauh dari Nusantara. Tanahnya ditumbuhi pohon zaitun, langitnya sesak oleh cerita dan para dewa. Ia benar-benar manusia dan pernah hidup, tidak dilahirkan oleh dewi kepintaran atau terlahir langsung bisa membaca. Ayahnya adalah pegawai istana, seorang tabib kerajaan. Jika kita coba iseng mencocokkan jabatatannya, kira-kira sepangkat dokter kepresidenan saat ini. Kita juga berasumsi ia tidak termasuk anak yang tumbuh dengan menyandang status malnutrisi. Bayangkan saja: anak seorang dokter, bertugas di dalam istana kerajaan.

Ia tidak berdiri sendirian. Tentu saja, setiap orang kesohor selalu ada sosok yang menakjubkan sebagai pijakannya. Selain seorang ayah yang menjamin perutnya tidak berbunyi kodok, di belakangnya, ada bayang-bayang besar Plato, “sang guru”. Sebuah perpaduan yang serasi antara nafsu perut dan akal budi.

Kita, yang biasa terserang kantuk setelah makan merasa sedikit kebingungan menyambungkan dua frasa di atas. Mungkin rahasianya yang masuk ke mulut bukan sembarang makanan asal kenyang tapi yang berprotein tinggi dan mengandung bermacam-macan vitamin. Perut yang kenyang hanya sebuah perahu dayung, kita perlu mengayuh untuk berlabuh.  Cukup banyak anak yang perutnya terisi penuh tapi nalarnya kosong. Peran Plato memang bukan main-main!

Ia bukan sekadar guru yang memindahkan ilmu, tapi perangsang untuk berpikir lebih. Aristoteles tidak diajar untuk patuh, tetapi untuk meragukan, mempertanyakan kembali, membantah, bahkan mengkritik gurunya sendiri.

Indonesia sedang bermimpi mencetak anak-anak menjadi generasi emas pada 2045. Meski kita belum paham sepenuhnya emas semacam apa yang diinginkan. Pelbagai program dimunculkan., dari yang membingungkan sampai menggelikan. Pada halaman awal pemerintahan Prabowo-Gibran, cita-cita itu naik tangga dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sekolah, anak-anak mendapat jatah makan. Entah, mengapa dari sekian banyak pilihan menuju emas, urusan perut jadi agenda pertama yang dipilih. Kita belum tahu apakah Prabowo dan Gibran pernah membaca Aristoteles. Jika pernah, kita tinggal menunggu gebrakan selanjutnya, yakni urusan isi kepala.

Di tengah ceria anak-anak sambil menyantap daun salada yang jauh lebih banyak dari ayam gorengnya, sebagian orang merasa khawatir.  Khawatir akan mimpi generasi emas kerap terjebak dalam rumus proyek. Di balik nampan yang berjudul gratis, tampak pula sebuah siklus administratif yang berputar pada laporan, dokumentasi, dan serapan anggaran. Proyek ini sangat gampang untuk diakui sebagai sebuah pencapaian rezim. Orang-orang di barisan Istana sibuk menghitung dan berbangga akan kalori dan protein dalam nampan. Kita berharap mereka tidak lupa menimbang masa pikiran yang seharusnya tumbuh setelah perut terisi. Apakah emas yang kita ukur nanti itu adalah kualitas nalar, atau sekadar angka anak yang tidak lagi kelaparan?

Di berita-berita, riuh soal keracunan MBG, di meja diskusi ramai kerisauan-kerisauan.  Saat guru berkata tentang minimnya fasilitas, jawabannya MBG. Ketika orang tua berkeluh tentang biaya, dijawab dengan MBG. Yang dirisaukan: MBG berisiko menjadi tembok besar yang menutupi lubang-lubang masalah lain yang sulit diperbaiki.

Di manakah “Plato-Plato-nya” Indonesia bersembunyi? Apakah mereka masih sibuk memilih foto mana yang akan diunggah atau terjebak dalam birokrasi pendidikan yang kaku? Lebih mendahulukan nilai ujian daripada pikiran yang mendalam? Generasi emas tidak bisa dibangun hanya dengan menyuapi perut dan menyodori soal pilihan ganda. Mereka membutuhkan guru yang tidak takut dikritik, yang mengajak muridnya berjalan-jalan di taman pikiran, merangkai kata menjadi pertanyaan, dan membongkar pasang status qou.  Aristoteles, jika tanpa guru yang hebat, mungkin hanya Arjuna berkepala Dursasana. Bertubuh sehat dan angkuh. Lebih menyeramkan: jika yang tercapai hanyalah generasi jamur, tumbuh subur semalam lalu sirna seketika.

Setelah makanan itu dibagikan, pertanyaan sesungguhnya baru dimulai: sudah siapkah kita menyambut kelaparan yang berikutnya, yakni kelaparan akan ilmu dan pengetahuan.

Namun, dilema lain selalu menyertai. Anggaran kita tidak cukup untuk belanja hamburger sekaligus mencetak “Plato-Plato” di Indonesia, mana yang lebih didahulukan? Keduanya sama indah sama menawan.

Di belakang halaman 365 hari kepeminpinan Prabowo-Gibran, riak suara tak pernah surut. Ada yang diam-diam kenyang oleh proyek sambil tetap berkeluh kesah, ada pula yang mendadak menjadi ahli gizi. Yang mengkritik banyak, tentu itu tanda cinta. Yang bersikap acuh pun sama banyak. Mereka apatis, yang tidak berharap pada sekotak nasi.

Bagi mereka yang percaya akan kebaikan negara boleh-boleh saja, asal tidak menggadaikan urusan perut dan otak seutuhnya. Sebab, negara tidak pernah berhenti mengidap dilema-dilema.

______________________

Ramdhan. Pembaca buku dan tukang roti di Jakarta

Ragam

Berselera Sekardus Buku

Oleh Ferdi

Perpustakaan sekolah biasa buka hari Sabtu. Sejak pagi sampai sore, pemuda-pemudi disebut murid datang silih berganti. Mereka tetap murid meski kita boleh menyebutnya pemustaka.

Sabtu lalu, perpustakaan tidak buka. Aku memang keluar rumah sambil mengendarai motor. Hanya saja, tujuanku bukan sekolah, tetapi pantai kecil dekat pemukiman penduduk di Simboro, Mamuju.

Pagi-pagi ke pantai mencari kesegaran. Kesegaran yang utama pasti mandi. Mandi yang bukan pakai air mengalir dari pipa dan keluar di mulut keran. Di pantai, air melimpah ruah. Mengalir dari sungai atau tumpah dari langit.

Sejauh mata memandang, yang ada hanya air berwarna biru. Di ujung sana, garis tipis antara laut dan langit tetap kentara meski keduanya sama-sama biru.

Sabtu ini, tepatnya besok, 8 November 2025, perpustakaan sekolah tutup lagi. Aku akan tetap ke perpustakaan, tetapi bukan milik sekolah. Perpustakaan yang akan aku kunjungi adalah Perpustakaan Kab. Mamuju. Perpustakaan yang sakti, buka setiap hari.

Kedatanganku besok untuk menukar buku-buku sekardus. Jumlahnya hampir empat puluh judul. Maksudnya, aku akan mengembalikan (hampir) empat puluh buku, lalu akan meminjam lagi sebanyak (semoga bisa) lima puluh. Kami menyebutnya silang layang.

Buku sebanyak itu bukan untuk dibawa pulang ke rumah. Buku-buku akan masuk dalam kardus, berdesak-desakan di sana, untuk kemudian mengisi lemari buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku dalam kardus berpindah tempat, dari perpus (kabupaten) ke perpus (sekolah).

Rencananya, aku akan mengajak murid-murid kelas IX.1. Aku sudah janji bertemu mereka di Perpustakaan Mamuju. Merekalah yang nantinya memilih buku apa saja yang sebaiknya menghuni perpustakaan sekolah. Dengan begitu, besar peluang buku-buku itu terbaca.

Kenapa bisa begitu? Ini kesimpulanku: selera. Selera yang menentukan apakah sebuah buku akan terbaca atau terabaikan.

Begini permulaannya. Ketika pertama kali meminjam puluhan buku dari Perpustakaan Mamuju, akulah yang mencomot buku-bukunya. Hasilnya, banyak sekali buku yang menganggur lebih sebulan dalam lemari.

Saat itulah aku menyadari kesalahanku yang tidak mempertimbangkan selera pembaca: remaja-remaji cap sekolah. Maka, ketika silang layang berikutnya, aku mengajak sebelas orang dari kelas IX.2 untuk membantuku menentukan buku-buku yang akan masuk kardus, kemudian diangkut ke perpustakaan sekolah.

Sejak saat itulah aku makin sibuk melayani murid-murid yang meminjam dan mengembalikan buku-buku di perpustakaan. Ibarat dagangan, buku-bukunya laris manis. Aku sampai sering terlambat masuk kelas karena masih melayani 3-4 orang yang mengembalikan lalu meminjam buku lagi.

Dan, tidak jarang pula aku agak sengaja mengulur-ulur waktu, yakni mengadakan pembicaraan kecil dengan para pemustaka. Paling tidak, aku akan mengajukan pertanyaan, “Bukunya khatam?” Kalau dapat jawaban “iya”, obrolan berlanjut sedikit lebih banyak. Dan, kalau jawabannya “tidak”, aku akan tetap menambahi dengan mengatakan: “Mungkin memang bukan seleramu.”[]

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Ragam

PINJAM BUKU LAGI

Oleh Ferdi

“Kak, mau pinjam buku lagi.” Itu Syanun yang berbicara. Bersamanya, perempuan lain yang ingin meminjam buku Bandit-Bandit Berkelas yang ditulis oleh Tere Liye.

Mereka berdua masih kelas IX. Atau, mungkin sebaiknya kukatakan sudah kelas IX. Mengingat tak lama lagi mereka lulus dan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku selalu berpikir bahwa mereka lebih beruntung dariku. Dalam hal ini, mereka bisa membaca buku sampai halaman terakhir sejak SMP. Bagiku, kali pertama saat itu adalah tahun pertama berseragam putih-abu-abu.

Buku pertamaku pun bukan pinjaman dari perpustakaan sekolah, tetapi dari teman kelas. Seingatku, tak ada buku bacaan di perpustakaan sekolah. Memang, meski dibaca juga, aku yakin buku pelajaran yang digunakan guru sebagai bahan ajar di kelas tidak dikategorikan sebagai buku bacaan.

Coba bayangkan, siapakah gerangan yang mau baca buku Pendidikan Pancasila kelas IX ketika sedang duduk santai di warkop, ditemani es kopi susu, ketika langit sedang merona merah-jingga di atas sana? Aku jelas tak mau!

Meski begitu, aku memang mengenal seseorang yang keranjingan buku pelajaran cap Orde Baru, Orde Lama, hingga yang lebih awal dari itu. Ia terus mencari dan memungut buku-buku seperti itu di toko-toko buku bekas di Gladag, Solo.

Temanku itu pun tak henti-hentinya menjadikan buku-buku pelajaran berusia paruh baya itu tulisan-tulisan. Tak lama lagi, kukira, akan genap satu juta resensi dan esai yang ia tuliskan tentang dan dari buku-buku pelajaran tua.

Kutegaskan: orang itu adalah pengecualian. Tentu saja. Dia bukan orang normal yang menganggap buku pelajaran hanya berarti sepanjang pemiliknya belajar di sekolah. Yang kalau sudah lulus bisa dihibahkan ke orang lain atau ditimbang demi uang.

Dengan begitu, sebagai orang normal, Syanun datang ke perpustakaan sekolah pada hari ini, Senin, 27 Oktober 2025, bukan untuk meminjam buku Pendidikan Al Islam kelas IX. Namun, ia ingin meminjam lagi buku Re: dan Perempuan garapan Maman Suherman. Katanya, ia belum khatam. Maka, dengan senang hati, buku itu kupinjamkan lagi padanya.

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Ragam

AKHIRNYA, BUKU TIDAK SIA-SIA

Oleh Ferdi

Jarum jam belum setengah jalan menuju angka 9 ketika dia datang. Pemuda itu adalah pemustaka pertama pagi ini, Selasa, 21 Oktober 2025. Setelah memberi salam, ia mengutarakan maksud kedatangannya: ingin mengembalikan buku, lalu meminjam buku lainnya.

“Apa maksudnya ‘darah lebih kental daripada air?’,” ia bertanya setelah meletakkan buku berjudul The Orange Girl garapan Jostein Gaarder di mejaku.

Dalam kenyataannya, darah memang lebih kental daripada air. Juga kelihatan perbedaannya kalau kita menonton film-film yang ada darah-darahnya. Begitu tanggapanku. Spontan saja.

Setelah diam sejenak dan memberi paraf di buku daftar peminjaman, aku balik bertanya. “Kalau ditilik secara harfiah memang begitu. Namun, mungkin saja penulis memakai kalimat itu sebagai kiasan. Apa konteksnya?” Siapa tahu, dengan mengetahui sedikit penggalan cerita, bicaraku bisa lebih banyak.

Ia lalu bercerita tentang seorang tokoh lelaki berumur tua. Sosok yang baik hati. Seseorang dalam cerita berujar bahwa “darah lebih kental daripada air”, merujuk pada si lelaki tua.

Entah, apa maksudnya, kataku menyerah. Payah.

Buku yang diterbitkan Mizan itu memang belum kubaca meski sudah termiliki sejak pengujung Desember 2018. Buku yang telah lama tidur nyenyak berselimut debu.

Buku yang sempat kuabaikan. Pernah mendekam di sebuah kamar asrama di Solo. Lalu di sebuah rumah dekat alun-alun Sukoharjo selama 3 bulan. Berlayar lewati ikan-ikan dan batu karang ke pelabuhan di Makassar. Berlanjut menghuni rumah tak jauh dari kantor Bupati Mamuju, hingga mendekam di salah satu rumah dengan cicilan 20 tahun di atas gunung. Perjalanan panjang sebelum bertemu pembacanya, seorang murid di sekolah tempatku mengajar.

Seandainya buku itu tidak menghuni lemari (bukan rak) buku di perpustakaan sekolah, maka ia akan tersia-siakan.

Tapi, tidak. Syukurlah.

Setelah percakapan singkat itu, dia lekas mencari buku lain. Tak lama, seperti dugaanku, dia datang dengan menenteng buku karangan Jostein Gaarder yang lain. Judulnya The Puppeteer. “Buku yang bagus,” kataku dengan yakin. Selain buku itu, belum ada karangan lain dari penulis bestseller Dunia Sophie  itu yang pernah kubaca.

Aku semakin tidak yakin manakah yang lebih benar: pembaca yang menemukan buku atau buku yang menemukan pembacanya. Yang aku tahu, si pemuda dan si gadis jeruk akhirnya bertemu di perpustakaan sekolah.

___________________

Ferdi. Pemuja buku, tinggal di Mamuju

Ragam

MALAM DAN BUKU

Hai, lelaki yang terkurung di kamar kusam. Lelaki yang terlarang gendut setelah bertahun-tahun hidup bersama udara kotor di Kleco. Tubuhmu sedang dihancurkan oleh asap dan debu. Kamar yang bergetar.

Hidupmu mustahil sunyi saat jalan besar mengarah ke Solo dan Kartasura itu hancur atau dihapus dari peta. Oh, dirimu memilih terus bertahan dengan segala khawatir dan kecewa.

Yang datang kepadaku adalah Gha, bukan dirimu. Di GOR Badminton (Blulukan), Jumat, 17 Oktober 2025, Gha datang membawa bukumu. Saat itu aku sedang mengetik di bawah lampun kuning. Aku biarkan Gha menikmati malam yang ramai oleh teriakan jamaah bulutangkis. Tulisan belum selesai tapi aku bolak-balik membuat beragam minuman untuk jamaah di lapangan.

Puluhan menit berlalu, aku berhasil membuka buku yang dibungkus plastik dan diplester. Buku yang dimanja plastik, yang ikut berdosa bila menghancurkan Bumi. Malam itu aku sengaja mendengarkan album jazz (Persia). Tubuhku yang lelah ingin pergi jauh oleh pendengaran. Maka, pilihanku adalah jazz rasa Persia. Beberapa hari sebelumnya, aku sengaja menikmati jazz (Spanyol), jazz (Italia), dan jazz (Arab).

Hai, Joko yang bukan Widodo, buku kecilmu berada di tanganku meski yang menyerahkan bukan tanganmu. Aku membayangkan tanganmu malu padaku. Malam itu tanganmu mungkin sedang mengetik esai atau memegang buku-buku yang bikin sesak kamar di Kleco. Dirimu memang intelektual yang tangguh, yang tidak membiarkan tangan hanya untuk rokok atau ponsel. Buktinya, ada buku kecil berjudul Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan yang diterbitkan Press Mesin, 2025.

Buku enteng, bobotnya tidak sampai 1 kg. Aku mula-mula hanya memegang dan melihat beberapa halaman. Aku taruh bukumu di meja agar ikut mendengarkan jazz (Persia). Tanganku harus segera menyapu dan mengepel lapangan agar jamaah yang baru datang bergembira main bulutangkis. Tanganku yang kotor akhirnya berhasil membaca bukumu. Mataku memerlukan sorotan senter ponsel untuk memastikan kata-kata yang terbaca tidak salah.

Wah, buku yang menghibur! Namun, aku agak bingung: buku itu datang bareng seplastik beras. Dirimu takut aku kelaparan? Jadi, beras membuatku percaya besok bisa makan. Malam itu aku makan buku, belum makan nasi yang berasal dari pemberianmu. Nah, makan bukumu sedikit membuatku tertawa.

Joko Priyno, nama yang biasa tercetak di majalah Tempo dan Kompas, membuat buku yang bertema berat tapi daftar pustakanya ecek-ecek.

Seharusnya, buku itu dirimu hadiahkan kepada Prabowo Subianto yang bertambah umur. Jumat itu milik Presiden RI yang membuat seribu perintah untuk Indonesia yang linglung. Usulan lain adalah mengirimkan buku kepada Fadli Zon, yang sembrono membuat peringatan Hari Kebudayaan. Jadi, aku membaca bukumu bertepatan ulang tahun Prabowo Subianto dan perwujudan kebijakan Fadli Zon. Hari yang parah agar aku mengakui bukumu bermutu ketimbang buku-buku bertema sains terbitan KPG.

Halaman-halaman awal berisi kutipan dari buku cerita anak. Kurang ajar! Dirimu yang mengamati sains mulai percaya bahwa sastra anak adalah referensi penting, bukan cuma buku-buku berbahasa Inggris yang terbit di Amerika Serikat atau Eropa. Masalah planet, makhluk, dan Bumi yang ada dalam cerita gubahan Zubir Mukti dirimu tafsirkan dengan luwes agar pembaca memasalahkan manusia. Makhluk yang kadang berkuasa. Pada situasi lain, manusia itu bodoh dan bedebah. Aku senang dirimu mau berpihak cerita anak saat membabar sains dan kebudayaan. Buku itu dirimu beli 5 ribu rupiah di Gladag, Solo? Buku murahan tapi derajatnya tinggi gara-gara pemikiranmu.

Duh, Jok, aku terkecing-kencing membaca kalimatmu: “Kita terjerembab pada formalitas tanpa substansi dalam memaknai demokrasi.” Kalimat yang konyol. Istilah-istilah yang menyiksa pikiran. Aku menutup bukumu, berlari ke toilet. Aku ingin mengencingi kalimatmu!

Seharian, aku berada di GOR Badminton (Blulukan), kebanyakan minum. Konon, hawa di Indonesia sedang ganas-ganasnya. Aku minum banyak berakibat sering dolan ke toilet. Eh, kalimatmu menambahi masalah sehingga aku terpaksa ke toilet.

Bagaimana kalimat itu bisa dibuat di Kleco? Apakah saat mengetik ada truk bobrok yang lewat jalan yang lebih tinggi dari kamarmu? Dirimu memang sudah saatnya paham dan mahir menggunakan istilah-istilah menyeramkan dalam esai. Aku saja yang terlambat mengetahui dan ikhlas menerimanya.

Wahai, Joko Priyono yang pinter dan berkumis, aku suka dengan usahamu mengingatkan pembaca tentang peran Joko Widodo, yang seolah-olah berpihak sains. Dugaanku dirimu membuat kalimat setelah berhasil menghabiskan 6 batang rokok: “Ia beberapa kali menghadirkan diri pada masyarakat, tak terkecuali ke kalangan anak-anak dengan stimulus hadiah sepeda bagi yang mampu menyebutkan sepuluh nama ikan.” Bagimu itu tema yang penting banget dipikirkan demi kemuliaan Indonesia, bukan kesaktian Joko Widodo.

Yang sakti adalah dirimu! Di kamarmu, ada buku yang berjudul Memelihara Ikan (1984) garapan Meta Candra Satia, yang dirimu gunakan membahasa ikan, manusia, sains, kekuasaan, dan alam semesta. Dirimu tidak salah pilih buku atau salah baca buku. Jutaan orang Indonesia memang harus disadarkan agar paham ilmu ikan, bukan cuma makan pelbagai ikan di warung atau restoran. Oh, bukumu itu tidak bisa digoreng untuk dimakan bareng nasi!

Bukumu sementara ditutup lagi. Aku harus menunaikan kerja yang membuat keringat membasahi tubuh dan kaos. Bau tubuhku sudah kecut dan menyengat. Seharian tidak mandi! Malam itu aku masih meladeni jamaah-jamaah badminton yang berdatangan.

Sialnya, di lapangan sisi utara, aku melihat kaum muda yang berlagak intelektual sedang bermain bulutangkis selama dua jam sambil teriak-teriak dan ketawa-ketiwi. Di pinggir lapangan, aku melihat lelaki yang membaca bukumu. Aku berharap ia mencret setelah khatam bukumu. Ia akan tersiksa gaya bahasamu dan rentetan pemikiranmu yang mirip gerakan kodok. Beruntunglah, ia membaca sejenak saja. Di tangannya, tersisa rokok.

Ada lagi lelaki yang duduk di pinggiran membaca novel Isabel Allende. Lelaki bersepatu dan berkacamata yang ingin bisa menulis kritik sastra. Malam itu ia bersemangat memegang raket. Selingannya memegang buku dan gorengan. Dua lelaki yang salah tempat untuk membaca buku. Mereka itu temanmu yang belum sakti tapi aku percaya seratus tahun lagi mereka bakal menjadi intelektual tangguh di Indonesia bila masih ada.

Malam bertambah malam. Aku mengantuk tapi kerja belum selesai. Duduk di luar sambil memejamkan mata, aku mendengarkan lagu-lagu asmara. Telingaku kedatangan lagu-lagu: Satu-Satunya Cinta (Mahadewi), Simfoni Hitam (Sherina), Jadi Aku Sebentar Saja (Judika), Janji di Atas Ingkar (Audy), Penipu Hati (Tata Janeta), Aku Lelakimu (Virzha), Mendua (Astrid), dan lain-lain.

Deretan lagu bukan seleramu, Jok. Bila mau dengarkan saja lagu-lagunya Koil, Pas, atau Burgerkil. Eh, dirimu semestinta mendengar lagu yang berjudul “Jengah”. Bukumu yang aku baca apik tapi kurang ada lagu-lagunya. Pastinya telingamu tidak sedang kopok, yang abai lagu-lagu.

  Jok, aku masih mengantuk meski dihajar beberapa lagu. Akhirnya, aku membuka bukumu kembali. Aku bisa sedikit tertawa mengetahui dirimu menggunakan buku berjudul Buah-Buahan yang Lezat dan Menyegarkan (1976). Kecewa! Dirimu tidak mengaitkannya dengan menu untuk makan bergizi gratis yang diselenggarakan rezim Prabowo-Gibran. Dirimu hanya membahas kota, desa, pangan, dan sains. Oh, tulisanmu memang sudah agak lama tapi terbit setelah gegeran makan bergizi gratis.

Malam yang capek. Jok, yang membuat capek bukan bukumu. Aku justru gembira mengetahui keberanianmu membuat tulisan panjang yang disahkan sebagai buku. Aku merasa tidak sia-sia membaca bukumu yang sampulnya bergambar ikan berkepala manusia. Lucu! Bukumu bakal bercampur ribuan buku di rumahku yang makin berantakan.

Duh, aku berdoa kelak bukumu tidak mendapat tetesan hujan atau dihancurkan tikus. Bukumu harus aku bungkus dengan selusin plastik agar selamat dari debu atau rayap. [] Kabut

Ragam

RAGA DAN SUARA

Oleh: Randhan S.

Sejak kemarin, hari yang tak berubah namanya, rasa gamir merayap dalam kalbu. Ada sesuatu yang mengambang di udara. Tampaknya  bagai selubung kabut tipis membungkus kepala. Tak pekat, tetapi cukup membuat pijar masa depan tampak sayup. Aku tak sedang terganggu jasmani. Raga ini lelah, memang. Bukan lelah yang terobati oleh tidur. Ini lelah yang lain, lelah yang bersemayam di relung sukma.

Hari ini kuisi dengan kesibukan kerja. Setiap detik termakan rutinitas tanpa jeda untuk sekadar bernapas lega. Kuselesaikan semua tugas secara mekanis. Tubuhku adalah mesin yang telah diatur programnya. Sepulangnya, seluruh urat saraf terasa tertarik hingga ke ujung. Aneh! Kepayahan tak kunjung menjelma menjadi kantuk. Ada sesuatu yang lebih dahsyat menanti di balik pintu kamar. Sepi. 

Yang kudamba ringan saja, yakni mendengar suaranya. Suara milik perempuan yang belakangan menjadi tumpuan rasa. Tak perlu lama, satu menit saja cukup. Waktu sebentar yang meyakinkanku bahwa dunia tak sesepi ini. Sialnya, ia pun habis diterpa derasnya pekerjaan, siang tadi. Ia telah lebih dulu larut dalam lelap. Terlelap tanpa sempat menghadirkan kata-kata manis yang selama ini bagai candu.

Memandangi layar ponsel yang kelam bagai wajah bulan terhalang awan. “Sunyi lagi,” bisikku dalam hati. Kepala menunduk lesu. Sambil merebahkan badan, ingatan melayang tanpa kendali. Masa silam yang pernah kujejak berkelebatan menghampiri. Wajah-wajah lama muncul, peristiwa berdebu yang ternyata masih menyisakan parut samar.

Konon, beberapa saat sebelum mati menjelang, otak kembali memutar segala kenangan masa lalu.  Entah, siapa yang berbicara demikian.  Mustahil. Bukankah mati itu pengalaman sendiri saja. Artinya, tidak bisa dibagi.  Tampaknya orang yang gagal mati  saja yang bisa berkata demikian.  Di lain sisi, bayang masa depan turut mendesak, menghadirkan gambaran ketidakpastian yang mencemaskan. Kupertanyakan dalam hati: ke manakah langkah ini sesungguhnya tertuju? Adakah yang menanti di ujung jalan? Aku hanya berputar pada orbit yang sama?

Rasa gelisah dalam dada kian menjadi. Kucoba mengikuti mantra The Beatles: “Take a sad song and make it better”. Dicari-cari, lagu apa yang pas.  Joan Baez. Ya aku suka suara melengkingnya. Lagu berjudul “Oh Freedom”.  Di awal, liriknya sudah meninggi, meninju langit: Oh freedom // Over me // before I’ll be slave // I’ll be burried in my grave // and go home to my Lord // and be free.

Liriknya sarat protes dan perlawanan. Nada dan makna yang memenuhi sudut ruangan. Kusimak dengan khidmat, berharap ada kekuatan yang merasuk dari setiap alunan gitarnya. Aneh, alih-alih menguat, justru duka kian mengendap.

Baez membawaku kembali untuk menjadi manusia merdeka, melakukan pembangkangan terhadap belenggu keteraturan yang menindas. Aku ingin hidup bukan sebagai hamba upah, bukan sekadar roda kecil dalam mesin raksasa yang terus berputar. Tidak punya pilihan! Ada keadaan yang membelenggu. Sadar diri, kuikuti saja roda itu. Sementara, impian kusimpan di dalam laci yang kian berkarat.

Pada titik itu, aku tak sanggup lagi menahan. Butir air mata jatuh, entah karena apa. Mungkin karena lelah. Mungkin karena rindu. Barangkali karena sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa aku sedang menjalani nasib yang “melulu”.

Kesadaran itu berat. Malam ini aku merasakannya. Aku hidup. Setiap detik juga tahu bahwa hidup ini bisa pupus kapan saja. Aku berada di dunia. Bukan aku yang memilih datang ke sini.

Ya, aku sungguh merasa terlempar, tanpa pegangan, tanpa arah.

Aku mendambakan kebebasan. Kebebasan itu hanya menggantung di langit-langit pikiran. Aku ingin melawan. Ada jerat kebutuhan yang menarikku kembali ke bumi.

Tangisku makin menjadi. Bukan tangis pilu semata. Tangis yang lahir dari kesadaran getir bahwa hidup ini anugerah, sekaligus penjara.

Di tengah rintih,  lintasan lain datang. Bukan dari filsafat Barat.tapi dari hikmah Timur. Aku teringat ucapan seorang sufi agung, Ibnu ‘Athaillah: “Ketika engkau tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab, itu artinya Tuhan sedang memanggilmu untuk mendekat.”  Aku terpaku. Kata-kata itu bagai mengetuk dada.

Apakah kesedihanku malam ini, yang datang tanpa bisa kupahami adalah panggilannya? Apakah air mataku bukan sekadar letih atau rindu pada perempuan, melainkan undangan rahasia untuk kembali?

Kududuk lama, menatap dinding yang bisu. Untaian kata itu terus bergema. Barangkali benar bahwa kesedihan tak selalu musibah. Kadang ia adalah isyarat. Kadang ia adalah sepucuk surat undangan dari langit, yang dikirimkan lewat remuknya perasaan.

Aku mulai melihat diriku dari sisi lain. Mungkin aku terlalu sibuk menuntut keinginan hingga lupa ada jalan lain. Jalan mendekat. Tidak hanya pada manusia. Tidak hanya pada perempuan pujaan. Pada Sang Maha, yang lebih luas,  abadi.

Perasaan ingin menghilang kembali muncul setelah beberapa tahun aku kubur. Lenyap dari ingatan, sirna dari dunia. Mungkin itu lebih baik, pikirku.

“Mati dalam usia muda adalah keberuntungan,” kiranya begitu kalimat yang sering dikutip Soe Hok Gie. Tak perlu memikul beban yang tak kuasa kubawa. Tak perlu menyaksikan ketidakadilan yang tak mampu dipulihkan. Tak perlu terus merasa menjadi bagian kecil yang tak berdaya.

Dan, suara Ibnu ‘Athaillah kembali datang, lebih lantang: “Kesedihan adalah undangan Tuhan untuk mendekat.” Aku terdiam. Kalau begitu, bukankah kesedihan ini adalah semacam panggilan? Panggilan bukan untuk menghilang. Melainkan untuk hadir lebih dalam. Bukan untuk lenyap.

Di luar jendela, dunia tetap sama, penuh luka, penuh nestapa. Di kamar ini, ada sesuatu yang bergeser perlahan. Aku tak lagi memikirkan cara untuk menghilang. Aku mulai mencari cara untuk bertahan. Cara untuk tetap hidup tanpa menyerah. Cara untuk melawan, betapapun kecilnya.

Kupandang langit-langit kamar. “Oh Freedom” telah berhenti. Berpindah pada lagu berikutnya “We Shall Overcome”.  Cukup membuat hati berdansa kecil.

Suara perempuan yang kurindu belum juga terdengar.

Dan, ada suara lain yang kudengar: suara diriku sendiri yang berucap dengan tegas, “Aku akan melawan.” Sebentar. Aku berpikir, tertawa kacau. Melawan siapa?

____________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta

Ragam

1946: INDONESIA DAN BAHASA JAWA

Yang terbaca sampai sekarang adalah teks Proklamasi berbahasa Indonesia. Dini hari, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tak perlu berdebat pilihan bahasa saat ingin memuliakan Indonesia.

Mereka memang fasih berbahasa Belanda. Oh, bahasa Indonesia masih sejenis bahasa baru bagi mereka yang mengerti babak (bersejarah) 1926, 1928, dan 1938. Aku kira mereka belum terlalu menyadari bahasa Indonesia, akhirnya, terbukti memiliki kekuatan politis. Benarkah?

Maka, yang mengucap dan menulis saat teks itu digarap secara wajar memilih bahasa Indonesia, bukan bahasa Belanda meski sangat dikuasai, sejak mereka bertumbuh di tanah jajahan sebagai kaum terdidik. Aku yakin mereka wajib berbahasa Belanda untuk meraup ilmu-ilmu di sekolah! Mereka semestinya mengagumi bahasa Belanda. Jangan lupa wajib berterimakasih telah membentuknya sebagai penyuara nasionalisme!

Eh, mengapa saat dini hari itu (17 Agustus 1945) mereka tidak menuliskannya dalam bahasa Inggris saja agar terbaca dan terdengar keren di dunia? Aku bayangkan bahasa Inggris yang digunakan Soekarno dan Hatta dalam menyusun teks Proklamasi akan membuat para pemimpin dunia segera memberi pujian. Yakinlah bahwa bacaan-bacaan Soekarno dan Hatta banyak yang berbahasa Inggris, yang menghubungkan dengan gejolak-gejolak abad XX. Aku memang belum memiliki catatan judul buku-buku yang dibaca dalam bahasa Inggris. Padahal, sejarah Indonesia dan kemunculan elite intelektual itu dipengaruhi bahasa Inggris. Maksudku, haru ada pengakuan bahwa bahasa Inggris punya saham besar dalam situasi sebelum dan setelah penulisan sekaligus pembacaan teks Proklamasi.

Pada saat menegangkan untuk membuat kalimat-kalimat yang dahsyat, mereka tidak memikirkan iriang lagu. Maksudku, adakah nuansa kemerduan dalam waktu-waktu yang beserjarah? Kini, aku bisa membaca lagi sejarah 1945 dengan iringan lagu. Padahal, lagunya tidak tepat. Apa salahnya mengenang sejarah (dini hari) saat para tokoh menggunakan bahasa Indonesia di teks sambil mendengar lagu berjudul “Menunggu Pagi”.

Terdengar suara Ariel: Apa yang terjadi dengan hatiku/ Aku masih di sini menunggu pagi/ Seakan letih tak menggangguku/ Aku masih terjaga menunggu pagi. Ingatlah, saat itu Soekarno dan Hatta melek memikirkan Indonesia tidak sedang “menunggu pagi” demi asmara pisican!

Aku sudah bertele-tele merawat masa lalu. Ah, diri yang tidak pernah memiliki kesanggupan memberi perhatian kepada sejarah, yang masih bolong-bolong dan menyimpan misteri.

Yang sedang aku lakukan adalah membaca majalah Djojobojo. Nama majalah dicetak berukuran besar di bagian atas. Penulisan yang memerlukan tanda petik. Setahuku, “djojobojo” biasanya mengarah ke gubahan sastra oleh Ranggawarsita.

Pada suatu hari, aku membeli majalah Djojobojo edisi 1 Februari 1946 dari pedagang di Jogjakarta. Seingatku, majalah itu diberi harga 35 ribu. Masa lalu yang murah! Aku membelinya agar bisa menjadi pembaca yang mengandaikan merasakan bulan-bulan mendebarkan setelah 17 Agustus 1945.

Di halaman depan, dicantumkan kutipan dari tulisan Soekarno. Aku membacanya dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Soekarno paham bahasa Jawa tapi ia menuliskan teks pidato dan artikel dalam bahasa Indonesia, yang inginnya terbaca oleh orang-orang di seantero Indonesia.

Pencantuman kutipan di majalah Djojobojo mengartikan bahasa Jawa ikut berperan membarakan Proklamasi. Aku tidak berniat mencari terjemahan “proklamasi” dalam bahasa Jawa. Yang jelas “proklamasi” itu berasal dari bahasa asing. Apakah terjadi salah pilih kata oleh Soekarno dan Hatta dalam “menjuduli” sejarah Indonesia?

Kutipan yang terpilih: “Ibarate kita kabeh iki lagi bisa liwat djembatan mas, doeroeng ing brang kanane, mangka wis pada apradondi tjakar-tjakaran agawe roweting bab-bab kang semestine koedoe diremboeg samangsa kita wis tekan brang kanane djembatan mas kita maoe. Saiki kita koedoe mlakoe disik, bebarengan manoenggal, goejoeb roekoen lan ngliwati djembatan mas ikoe, sarana wani mboewang kepentingan kita dewe lan kepentingan golongan-golongan, amrih kita kabeh bisa slamet ing brang kanane djembatan maoe.”

Petikan yang mengingatkan babak Indonesia sedang menuju atau melewati “jembatan mas”. Soekarno membahasakan perubahan dengan jembatan. Wah, yang dipilih emas, bukan perak atau perunggu. Pada hari yang berbeda, Gesang malah melantunkan “jembatan merah”. Aku tidak bisa mengganti warnanya dengan kuning, biru, atau hijau.

Pada abad XXI, Proklamasi yang menunjukkan jembatan sudah memastikan kita sampai atau belum menuju ke sana? Aku masih ingat pelajaran di sekolah, yang memuat masalah “pintu gerbang kemerdekaan.” Pokoknya, sejarah Indonesia itu aneh. Soalnya, ada jembatan dan pintu.

 Di halaman editorial Djojobojo, aku membaca pesan sangat penting: “Sanadjan kita kalah gegaman perang modern, kalah kapal-kapal, nanging menang akeh djiwane, menang papan ora ngloeroeg malah diloeroegi sakan papane kang adoh banget. Karo pangane moeng remeh-remehan bae woes marem. Sandjata pamoenahing satroe droehaka maoe ora ana maneh jaikoe manoenggaling tekad ngoekoeh kamardikan kang woes goemana.”

Indonesia sudah merdeka, tiak perlu takut dengan kapal dan senjata yang digunakan musuh. Indonesia punya jiwa yang kuat, yang akan memenangkan kemerdekaan. Ah, aku agak merinding membaca kalimat-kalimat berbahasa Jawa yang berpengaruh bagi pembacanya masa itu menghadapi perang.

Aku lanjutkan membaca artikel sehalaman yang diberi tajuk “obor politik” oleh S Dibyo. Pada masa perang, orang-orang yang menulis sebenarnya punya peran besar agar orang-orang tidak menyerah dan putus asa. Namun, yang bisa membaca tulisan hanya sedikit orang. Apa yang membaca bertugas menyampaikan pada saudara, teman, dan tetangga yang belum mengenal aksara? Dugaanku, satu majalah berkhasiat untuk banyak orang asal ada satu atau dua orang yang bisa membaca.

Aku bayangkan mereka mendengar pembacaan pendapat S Dibyo: “Ing sarehne bangsa Indonesia ikoe wiwit bijen moela pantjen bangsa kang karem tetoeloeng ing lijan, mesti wae dapoekaning pamrentahan kang adedasar pri kamanoengsan lan keadilan ikoe gampang ditampa dening bangsa kita kabeh, apa maneh jen kita ngelingi anane roekoen desa, bersih desa, sambatan, lan lija-lijane kang kabeh maoe pantjen dadi dasar kekoewasaan sosialisme.” Adakah terjemahan yang apik untuk istilah “sosialisme” dalam bahasa Jawa?”

Anehnya, Djojobojo yang majalah berbahasa Jawa, belum mampu memuat iklan-iklan yang berbahasa Jawa. Di halaman belakang, semua iklan berbahasa Indonesaa. Yakin saja, dua bahasa itu “berteman”, tidak akan bertengkar dalam majalah.

Yang aku perhatikan adalah iklan penjahit dan membuat sepatu. Pembuat iklan adalah Djamhoeri, yang tinggal di Jalan Doho 97, Kediri. Yang dicantumkan: “Membikin pakaian dan sepatoe menoeroet oekoeran pemesan”. Iklan diakhiri pekik “merdeka”. Artinya, yang berpakain dan bersepatu termasuk kaum yang merdeka.

Djojobojo, majalah yang tipis, cukup 14 halaman. Aku belum kenyang bacaan tapi sudah merasakan getaran sebagai pembaca yang ada pada masa lalu, sekian bulan setelah penulisan dan pembacaan teks Proklamasi. Majalah berbahasa Jawa yang membuktikan peran memuliakan Indonesia dengan berani menanggapi peran dan berusaha memberi kesadaran perlawanan untuk rakyat melawan pihak-pihak asing yang mengganggu kemerdekaan dan kedaulatan. [] Durjana