Cerpen

Anomali

Cerpen Indarka P.P.

Suatu masa pasca-425 hari kelahiran, di sebuah kamar yang dindingnya tertempel poster dunia binatang—yang langit-langitnya terhias bola-bola berputaran; di atas pintunya terpasang seikat padi dan selembar daun dringu; lantainya terbalut karpet busa tipis; mejanya bergeletak empeng dan lipatan jarik; di stopkontaknya tertancap seutas kabel kipas angin; dan ranjangnya berseprai motif bunga tulip—terlentang seorang bayi berkupluk dan berkaus kaki yang dilindungi kelambu mangkuk raksasa.

Bayi tersebut tidaklah diam. Telapak tangannya bergerak mengepal-ngepal, lalu terbuka, lalu mengepal kembali, dan terus seperti itu sepanjang kipas angin memusing-musingkan kepala. Kedua bola mata bayi yang seukuran kelereng mini, berpendar tersorot cahaya lampu di atasnya. Ia anteng ditinggal Ibu yang dua belas menit lalu merasa sukses meninabobokannya, yang kemudian keluar kamar menuju toilet untuk menuntaskan bilas terakhir cucian terjeda.

Pembaca yang Budiman, sesungguhnya bukan karena kepiawaian Ibu tersebut si bayi bisa seanteng itu. Adapun yang membikin si bayi tidak rewel tiada lain tiada bukan adalah ragam hiburan yang berasal dari poster dinding kamar. Kalian lihat, bayi itu acap berseringai mungil lantaran ulah mahkluk-mahkluk poster dunia binatang. Dua biji gigi susunya pun kentara bagai biji mentimun tiap kali mengulum senyum.

***

Ayam mewanti-wanti Bebek supaya menahan diri menertawakan Macan Tutul. Ia khawatir kalau-kalau di waktu mendatang Bebek akan beroleh karma. Tapi Bebek tetap tak hirau dengan peringatan itu. Tawanya terus saja menguar ketika melihat air liur Macan Tutul menderas bercucuran meratapi bayang-bayang memangsa Rusa.

“Lihatlah,” kata Bebek, “menjilat duri-duri Landak di sebelahnya saja dia tak mampu. Wkwkwk!” Bebek tambah meledek.

“Kematian memang pasti, Bek. Tapi diterkam Macan Tutul tentu bukan kematian yang baik bagimu,” ucap Ayam sambil membentangkan kedua sayapnya.

Macan Tutul tidak sepenuhnya bergeming. Ejekan-ejekan Bebek kerap ia balas dengan beberapa ancaman tak main-main. Kali ini, sambil berputar-putar di tempat dan mengasah-asah cakarnya, ia mengucap sumpah: kelak jika ia terbebas, maka paha Bebek-lah yang akan pertama kali dijamah oleh taring-taringnya.

Lain Macan Tutul, nasib mujur justru baru-baru dialami Kucing. Binatang rumahan itu sekarang tengah khusyuk mendengkur usai menyantap Tikus yang kebetulan sekali bertempat persis di sebelahnya—entah pertimbangan apa posisi mereka didekatkan. Penantian yang tidak sia-sia, gumam Kucing dalam mimpi indahnya.

Sudah berbulan-bulan ia menanti Tikus bertambah usia, yang berarti bertambah pulalah ukuran tubuh Tikus itu. Pagi tadi, sesaat Tikus lengah terlelap, dengan gesit Kucing mengigit separuh dari total panjang ekor Tikus, lantas menarik-narik dan mencabiknya secara paksa, tentu saja. Sungguh beringas aksi Kucing dalam memenuhi rasa naluriahnya dengan melibas segala daya upaya perlawanan Tikus. Tenaga Kucing itu kelewat kuat karena ditopang lapar. Dalam kasus ini, jelas sekali bahwa Kucing lebih bernas daripada Macan Tutul.

***

Di seberang kota, mata Ayah merona merah saga. Jalannya gontai, langkahnya ditopang tangan; merambati tembok sepanjang lorong sempit. Tiada yang tahu apakah Ayah masih mengingat baik alamat rumah yang sudah ia tinggal sejak tujuh bulan lalu.

Dahulu, ketika pertama kali mengutarakan niatnya ingin pergi ke kota, ia yakin kalau bekerja di perantauan adalah satu-satunya jalan supaya terlepas dari runyam ekonomi yang selama ini melilit keluarganya. Namun kota tak selalu menepati janji seperti yang diyakini banyak orang. Jangankan bertabur rampai-rampai uang, keperluan biaya persalinan istrinya saja tak sanggup Ayah penuhi. Antara malu, kecewa, ataupun bebal, apa yang terjadi sekarang adalah seperti yang Pembaca Budiman lihat: Ayah telah kehilangan akal pikir yang sehat.

Entah Ayah sadari atau tidak, titimangsa pun berangsur melaju. Di suatu tempat di mana Ayah meninggalkan permata paling berharga, buah kandungnya sudah bertumbuh. Sudah berkembang. Hari demi hari.

***

“Ini bukan yang pertama lho Bu. Dua hari lalu mata Pak Doni nyaris ditusuk pensil saat mencoba mengajari anak itu menulis latin.”

“Kata Pak Umam dan Pak Ragil kok baik-baik saja, ya?”

“Maaf seribu maaf, Bu Kepala. Terus terang, menurut saya Pak Umam itu orangnya memang kurang peka. Makanya beliau mungkin menganggap Yusuf masih baik-baik saja. Nah, kalau Pak Ragil, ehm, ya, Bu Kepala tahu sendiri gimana dia…”

Kepala Sekolah menghela napas, lalu menanggalkan kaca matanya. “Ya sudah, buatkan undangan untuk orangtuanya. Besok biar saya yang bicara,” pintanya.

Esoknya, Ibu Yusuf datang memenuhi panggilan. Kepala Sekolah lantas membicarakan terkait keganjilan perilaku Yusuf yang meresahkan itu. Kepala Sekolah bertanya apa yang terjadi pada diri Yusuf. Ibu Yusuf pun lugas menjawab kalau ia tidak pernah melihat hal aneh pada diri anaknya selama ini.

“Pak Hamid hampir tidak mau lagi mengajar kelas satu gara-gara Nak Yusuf pernah beberapa kali menjilati tangannya,” terang Kepala Sekolah. “Pak Natsir juga kehabisan akal menghadapi Nak Yusuf. Ia satu-satunya murid yang menolak menghafal Pancasila. Dan baru-baru ini, anak Ibu hampir meruncingi mata Pak Doni menggunakan mata pensil miliknya.”

“Nak Yusuf sering bertingkah aneh setiap kali diajar para guru, Bu,” kata Kepala Sekolah lagi. “Sebagai pimpinan, sejujurnya saya sudah sangat pusing mendengar keluhan-keluhan mereka.”

“Mohon maaf, Bu, tapi…”

“Oh, saya ingat, kecuali dua guru,” Kepala Sekolah memotong. “Pak Umam dan Pak Ragil justru bilang kalau Nak Yusuf ini cukup santun dan tidak pernah sekalipun bikin masalah. Tapi apa boleh buat, Bu, yang merasa terganggu jumlahnya lebih banyak daripada mereka berdua.”

Obrolan berlangsung cukup lama. Entah bagaimana persisnya Ibu Yusuf sampai menceritakan keadaan keluarganya. Kepala Sekolah bertanya di mana Ayah Yusuf sekarang. Ibu Yusuf menjawab apa adanya. Suaminya tak pernah pulang sejak usia kandungannya menginjak bulan ke tujuh. Tentang bagaimana nasib ataupun keberadaannya saat ini, ia juga tidak tahu-menahu.

“Apa Nak Yusuf tidak pernah bertanya tentang ayahnya?” telisik Kepala Sekolah, terdengar klise tapi ia sangat penasaran.

“Pernah. Namun sayangnya pertanyaan itu dilontarkan bukan pada saya, Bu, melainkan pada neneknya. Dan neneknya enteng saja menjawab kalau ayahnya mati dimakan kucing kota.”

Kepala Sekolah manggut-manggut belaka. Ia bingung menangkap apa yang disayangkan Ibu Yusuf perihal pertanyaan anaknya kepada sang nenek. Bagi Kepala Sekolah, penjelasan tersebut tak menggambarkan secara terang benderang tentang perilaku Yusuf. Satu hal yang memang sejak kemarin terbayang di pikiran Kepala Sekolah itu adalah memindahkan Yusuf ke sekolah luar biasa.

Ehm… Begini, Bu,” Kepala Sekolah mengambil ancang-ancang, “kata Pak Umam, Nak Yusuf ini cerdas sekali berhitung. Kemampuan matematiknya di atas rata-rata murid lain. Oya, ngomong-ngomong soal kucing. Ternyata anak Ibu juga pandai menggambar, lho. Pak Ragil, guru seni budaya kami, sampai-sampai menunjukkan gambar seekor kucing hasil karya Nak Yusuf kepada saya. Bahkan beliau menyarankan supaya Nak Yusuf-lah yang maju mewakili sekolah apabila suatu saat ada lomba menggambar. Pokoknya, untuk ukuran anak seusianya, saya berani ngasih dua jempol untuk Nak Yusuf!”

Bagai gayung yang tiada bersambut, serangkaian cerita hiperbolis Kepala Sekolah tak berbanding lurus dengan tanggapan positif Ibu Yusuf. Malah sekarang pandangannya terlihat kosong, entah takjub, entah bingung.

Sadar tidak memperoleh respons apa pun, Kepala Sekolah lantas melanjutkan perkataannya. “Jadi, Bu…” tangan Kepala Sekolah perlahan memegangi tangan Ibu Yusuf di atas meja—barangkali semacam siasat untuk mengelabuhi emosional. “Keistimewaan anak Ibu yang saya ceritakan barusan adalah modal besar baginya untuk bisa belajar di tempat lain, tentu saja tempat yang lebih bersahabat bagi diri Nak Yusuf. Jadi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Di tempat lain? Maksud Ibu sekolah lain?” tanya Ibu Yusuf, ia mengernyit dalam sepersekian detik.

“Betul. Tenang. Tenang saja, Bu. Kami berjanji akan memfasilitasi dengan baik proses perpindahan Nak Yusuf.”

Dan bisu sama-sama merasuki kedua perempuan itu. Kepala Sekolah dibuat pongah saat menangkap pandangan lawan bicaranya. Di saat bersamaan, sesungguhnya Ibu Yusuf juga tak kalah pongah ketika mendengar keputusan Kepala Sekolah itu.

Detik-detik pada jam dinding ruangan itu mengambil peran utama untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tergilas kembali oleh situasi yang lebih mengejutkan. Seorang guru tiba-tiba masuk ruangan dengan napas tersengal-sengal. Ibu Yusuf terperanjat, Kepala Sekolah terperangah, lalu ia lekas bertanya, “Ada apa?”.

“Pak Ragil, Bu!” seru guru itu.

Mereka buru-buru menuju pusat kegaduhan. Di ruang kelas satu, murid-murid bersorak-sorai melihat Pak Ragil menggendong Yusuf di balik punggungnya, dengan posisi mengunci kedua kaki Yusuf di kolong lengannya. Guru dan murid itu seakan jatuh tenggelam ke sebuah alunan semarai yang tercipta dari mulut murid-murid lain. Pak Ragil berlagak bagai pendaki gunung dengan beban di punggung, mencapai puncak fantasi yang kian tinggi. Sedang Yusuf, bocah yang digendong Pak Ragil itu, memamerkan selembar kertas bergambar binatang rupa-rupa. Seringai senyum dari guru dan murid itu maujud lengkung terbalik sebuah pelangi. Indah, barangkali.

Sementara di ambang pintu kelas, Kepala Sekolah dan Ibu Yusuf hanyalah patung yang tak berarti. Para guru yang geli saling mererak-rerak, berebut intip lewat kaca jendela. Besar kemungkinan dalam hitungan hari, sekolah tersebut akan mengalami penurunan jumlah guru, atau jumlah murid, atau malah jumlah keduanya.***


Indarka P.P., lahir di Wonogiri. Anggota Komunitas Kamar Kata.

Puisi

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Satu Warna

 

/Nona/

 

Pada tungku yang menyayang yin dan yang

aku duduk di sudut sambil mengaduk warna hitam saja.

Aku memangku kisah cinta kita seperti

dua telapak tangan melindungi lilin perawan.

 

Aku menatap diriku pada rumah ibadah

dan membiarkannya terbakar sepenuhnya.

Aku bilang, kita tak mungkin bercinta di sana.

Di sana keluargaku bercampur pada tungku yin dan yang.

 

Langkah gontai di tengah buruan kecewa dan malu

membawaku kembali pada lembut suara dan harum rambutmu.

Lidah kelu yang tadi tak bisa bertingkah dan menyangkal kini

cekatan mengkaji setiap bagian tubuhmu dengan napas memburu

dengan bantuan jari jemari karena itu saja yang aku punya.

 

Mengaduk rasa yang sama: saliva kita

membuka kelopak bunga yang sama—tak kautemukan

muntahan busuk itu, kita hanya menangis.

 

/Dara/

 

Tak perlu kautanggalkan mahkotamu itu

sebab kau harus tetap menjadi ratu.

Jangan kau pergi meninggalkan ibu kota dan

menjelajah dunia untuk menjadi bapak-bapak pendiri.

 

Lalu akan melanglang buana diriku dalam lika-liku indramu:

akan kusamarkan cita rasa kaki Adam

yang selama ini menjejaki Puncak Sri Pada hatimu;

akan lekat hatimu bermandikan pasir rusuh

dalam kecemburuan Hawa di daratan Arab.

 

Bersatu padu dalam jalinan kasih yang samar,

selama bulan masih bersinar, kita harus

sembunyi dengan benar, dan jangan sampai

matahari mengolok kita penuh sinar.

 

Rambut kita berkelindan dengan kerlingan bara api

dan dari tangis serta elegi kita akan kembali

kepada tungku yang memanggang yin dan yang

dan mencelupkan jiwa kita ke sana: jurang hitam legam.

 

Sampai lilin kita yang perawan padam,

janganlah engkau berhenti mengaduk, Sayang.

 


Diskursus Emosi

 

Sangkakala berbunyi di ujung malam

mengguncang orang-orang yang beriman.

Mereka yang teguh kembali runtuh

meski telah matang dalam persiapan.

 

Di tengah dimensi emosi yang gagap

mimpi buruk hinggap di antarmasa gelap.

Dan pagi tiba. Ia membuka mata.

Mimpi indahnya lenyap begitu saja.

 

Ia tak ingin kembali pada hari lalu yang gelap,

tetapi pagi memaksanya melanjutkan pemaknaan.

Ia menjawab pertanyaan dengan asal-asalan

lalu pulang dengan tegap menawan.

 

Ia melihat kanan dan kiri,

ladang bunga berwarna-warni.

Sementara dirinya adalah gurun pasir,

tersesat mencari sumber mata air.

 

Di matanya ia temukan oasis,

ia mandi di sana sepuasnya.

 


Menyetubuhi Kata

 

Aku memetik helai rambutmu,

merajutnya menjadi metafora.

 

Aku memangkas mimpi-mimpimu,

lelap mereka bermakna ganda.

 

Aku menambang lubang hidungmu,

konjungsi melenggang bebas

bersama tanda baca mewujud kalimat.

 

Aku memoles bola matamu,

memastikan setiap pembaca berkaca-kaca.

 

Aku menjadikan pangkuanmu perpustakaanku,

pahamu tempatku mengeja rindu.

 

Aku menggigit daun telingamu,

mengimitasi suara agar lidahku serbaguna.

 

Aku meludah di telapak tanganmu,

mencongkel air yang berkerak di garis-garis idenya.

 

Aku mencabik buah dadamu,

merasakan haru merasuk, lalu nafsu

memburu pena agar berdansa leluasa.

 

Aku melamun di tepi pipimu,

mengunyah diksi sambil disapu ombak.

 

Aku menusuk punggungmu,

menanam cinta pada setiap ruas

yang bermekar lindu konsonannya.

 

Aku mengecup bibirmu dengan syahdu,

mengalirkan rima di tiap merahnya.

 

Kini puisi telah lahir.

Ia telanjang bulat.

Mari tanggalkan baju kita

agar puisi ini punya busana.

Kita lanjut lagi bercinta

agar puisi-puisi lain bisa terbaca.

 


Telanjang

 

Mari kita bergandeng tangan

dan berjalan bersama-sama

dengan kondisi telanjang

menuju toko pakaian di sudut jalan

lalu membeli dosa sampai banyak sekali

untuk mengenyahkan malu di wajah kita.

 


Telanjur Tenggelam

 

Pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam

adalah menangis di hadapan mereka karena mereka tenggelam

kemudian pergi dan membiarkan mereka mati karena tenggelam.

 

Belasungkawa pertama untuk orang yang mati karena tenggelam

adalah menangis di hadapan jasad mereka karena mereka tenggelam

dan menyesali kenapa tidak menarik mereka ketika mereka tenggelam.

 


Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.

Cerpen

Urusan Kita Belum Selesai

Cerpen Yeni Kartikasari

Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.

“Jon!”

Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.

“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.

“Muncullah, Jon! Kau di mana?”

Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.

Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.

“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”

Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.

Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.

Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.

Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.

“Kau hapal semua?” tanyaku

“Tidaklah. Cuma beberapa.”

“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”

“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”

“Payung nabi?”

“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”

“Meski aku pemabuk?”

“Meski kau pemabuk.”

Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.

Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.

“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”

“Loh, aku cuma tanya.”

“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”

“Kenapa kau marah?”

“Siapa yang marah?”

“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”

“Apa?”

Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.

“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”

Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.

Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.

Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.

“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.

Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.

Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Cerpen

Seribu Ekor Tikus

Cerpen Erwin Setia

Semuanya dimulai dari kamar, ketika ia melihat seekor tikus berderap cepat di sela rak buku. Tikus itu gesit sekali, lekas lenyap dari pandangan sebelum ia benar-benar melihat keseluruhan wujud si tikus. Yang jelas tikus itu besar dan hitam. Dua keterangan itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti kejijikan sekaligus kemuakan macam apa yang ditanggungnya. Dengan mata mendelik, melangkah hati-hati menuju rak buku, ia menggebrak-gebrak rak seraya memperhatikan sekeliling kamar. Tikus itu tidak kelihatan di mana pun. Hanya dari atap kamarnya yang punya banyak celah (dari sanalah tikus-tikus keluar-masuk) ia mendengar samar-samar cericit tikus. Ia kembali ke kursi, mengempaskan bokongnya sambil tetap memendam kekesalan kepada si tikus, dan ia terlompat dari tempat duduk saat mendapati si tikus sedang melata di atas meja kerjanya, meniti lembaran kertas catatannya tanpa rasa bersalah, lalu melesat ke kolong meja, dan kembali lenyap dari pandangan. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia tidak mematahkan punggung kursinya.

Jika kau berpikir itu adalah satu-satunya hari Eriko mengalami nasib sial macam itu, kau keliru. Tapi jika kau berpikir pengalaman semacam itu mengubah hidupnya, kau agak benar. Sebab sejak itulah ia menjalani hidup dengan lebih hati-hati dan mawas diri. Ia tidak lagi sembarangan berjalan lurus tanpa menengok kanan-kiri-atas-bawah. Ia tidak lagi mengabaikan dunia seperti sebelumnya. Ia kini begitu peduli pada dunia, pada hal-hal di sekelilingnya. Dan karena ia terlalu peduli pada dunia ia jadi tahu hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Misalnya fakta bahwa di area tempatnya tinggal yang terdiri atas 300 rumah, setidaknya ada 1.000 ekor tikus! Dari mana ia tahu soal itu? Tentu saja dari pengamatannya pada dunia.

Ketika ia pergi ke luar rumah, dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor, matanya ia gunakan lebih maksimal daripada yang sudah-sudah. Ia melihat banyak orang asing. Ia melihat tanaman-tanaman yang tak ia ketahui namanya, tapi ia kagumi bentuknya. Ia melihat rumah-rumah berderet, rumah-rumah yang sejak bertahun-tahun lalu tetap di situ-situ saja, padahal para penghuninya berpindah-pindah. Saat melihat rumah-rumah inilah, Eriko memperhatikan dinding luar rumah dan tempat sempah beton yang biasanya terletak di tepi luar pagar. Di salah satu rumah yang dindingnya dirambati oleh tanaman keriting dengan tata letak berantakan ia melihat seekor tikus besar dan hitam merambat di dinding seperti atlet panjat tebing. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke sebuah tempat sampah di rumah seberangnya. Kali ini muncul seekor tikus besar dan hitam (lagi-lagi besar dan hitam) sedang menggerogoti sesuatu di dalam tempat sampah. Segera ia memalingkan matanya ke arah lain, tapi ke mana pun matanya menuju, yang ia lihat adalah tikus-tikus! Tikus-tikus yang ia lihat memang tidak berkumpul berombongan seperti sekumpulan tentara sedang berbaris. Ia hanya melihat tikus itu satu per satu, tapi di berbagai tempat, di semua tempat yang dicapai matanya. Ia yakin tikus-tikus yang ia lihat itu—walaupun bentuk dan ukurannya mirip—adalah tikus-tikus yang berbeda. Ia menaksir dalam sebuah rumah pasti ada setidaknya 3-4 ekor tikus yang menetap. Jika dikalikan 300 (yaitu jumlah rumah di area perumahan ini), berarti ada sekurangnya 1.000 ekor tikus di area tempatnya tinggal! Pemikiran itu membuatnya bergidik. Waktu itu ia bergegas kembali ke rumah dengan kepala menunduk dan sesekali memejamkan mata. Tapi tetap saja, sebelum tiba di rumah, ia sempat melihat beberapa ekor tikus melintas di jalanan atau menclok di tembok sebuah rumah yang tak sengaja ia lihat.

Apakah ini adalah halusinasi? Apakah ini adalah mimpi? Eriko sempat menduganya demikian. Namun ia mengonfirmasi apa-apa yang dilihatnya kepada ibu, bapak, tetangga, dan anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumahnya.

“Kau tidak salah lihat, Eriko. Ibu juga belakangan ini lihat tikus di mana-mana.”

“Betul! Bapak juga lihat tikus setiap hari, bahkan di televisi! Ini bukan majas, Eriko. Bapak sungguh-sungguh lihat ada tikus lewat di atas TV waktu bapak nonton acara debat politik!”

“Ya, Mas Eriko. Saya bahkan langsung beli perangkap tikus ketika sadar ada banyak tikus mondar-mandir di dalam rumah. Percaya nggak, Mas Eriko, di malam pertama saya pasang perangkap tikus, saya langsung dapat tiga ekor tikus! Tiga ekor, Mas Eriko. Besar-besar dan hitam-hitam.”

“Aku juga liat tikus, Kak Eriko. Aku kejar tikus itu, terus tikus itu malah kabur. Aku pukul tikus itu pake sapu, tikus itu lari ketakutan. Aku ingin habisi tikus-tikus itu, Kak Eriko. Tapi tikus-tikus itu kok nggak abis-abis ya? Malah makin banyak.”

Tanggapan ibu, bapak, tetangga, dan anak kecil itu cuma membuat hati Eriko makin dongkol. Sebab semua itu menambah terang segalanya, menambah jelas kenyataan yang terhampar di hadapan Eriko. Ini bukan halusinasi. Ini bukan mimpi. Tikus-tikus itu benar ada. Semua orang menyadarinya. Semua orang mengetahuinya. Dan tikus-tikus itu ada dalam jumlah banyak. Bahkan kini Eriko merasa seribu adalah perkiraan jumlah yang terlampau sedikit. Namun ada satu hal yang mengganjal bagi Eriko. Kenapa orang-orang di sekitarnya tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran 1.000 ekor tikus (kemungkinan besar lebih dari itu) di area ini. Mereka tidak terlihat gelisah atau ketakutan dengan kenyataan itu. Mereka seakan-akan menganggap keberadaan tikus-tikus itu wajar belaka, sama wajarnya dengan matahari yang terbit tiap pagi. Padahal, bagi Eriko ini sama sekali bukan hal wajar. Seribu ekor tikus! Bagaimana mungkin itu bisa dianggap hal biasa?

Lantas muncullah sebuah gagasan di kepalanya. Eriko berpikir orang-orang di sekelilingnya tidak menganggap serius maraknya tikus karena mereka tidak mengetahui fakta sebenarnya. Ia yakin tak banyak di antara mereka yang sadar bahwa jumlah keseluruhan tikus yang ada di area ini mencapai 1.000 ekor, bahkan lebih. Soal jumlah, Eriko beberapa kali mendebat dirinya sendiri. Tidak mungkin sampai 1.000 ekor, sebab boleh jadi tikus yang dilihatnya di rumah-rumah yang berbeda adalah tikus yang sama. Katakanlah seekor tikus bisa menyatroni empat sampai lima rumah dalam sehari. Dengan total 300 rumah, jadi, paling banyak hanya ada 60-75 ekor tikus di area ini. Pikiran alternatif itu sempat membuat kengeriannya berkurang sampai suatu siang ia pergi ke luar rumah untuk membeli lauk pauk. Ia mengendarai sepeda motor. Ia terkejut saat mendapati tiga sampai empat ekor tikus berdiam seolah menontonnya di setiap muka rumah yang ia lewati. Meskipun untuk pergi ke warung makan ia hanya perlu melewati beberapa rumah, Eriko melewati semua rumah untuk memverifikasi pikiran buruknya. Dan di tiap muka rumah yang ia lewati, memang betul-betul ada tiga sampai empat ekor tikus! Ia memutari perumahan sampai dua kali dan menghitung ulang jumlah tikus yang ada di tiap muka rumah. Tidak salah lagi. Jumlahnya memang 1.000 ekor tikus!

Lantaran semua sudah jelas, ia melakukan gagasan itu: memberitahu orang-orang bahwa ada 1.000 ekor tikus di area ini.

Tak ada yang menganggap serius kata-kata Eriko. Bahkan saat Eriko menceritakan soal ia melihat tiga sampai empat ekor tikus berdiam di muka setiap rumah pada suatu siang, semua orang tertawa, menganggapnya sedang melontarkan lelucon. Ibu dan bapaknya juga tertawa, tawa mereka lebih keras dari orang-orang lain.

“Kau tidak perlu membawa cerita-cerita yang kautulis ke dalam kehidupan nyata, Eriko.”

“Betul! Sebaliknya, seharusnya kehidupan nyata inilah yang kaubawa ke dalam cerita-cerita yang kautulis, Eriko.”

Demikian ucapan ibu dan bapaknya kepada Eriko setelah tawa terbahak-bahak mereka berhenti.

Eriko ingin menyahuti ibu dan bapaknya, menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan bukanlah karangan, apalagi khayalan. Semua yang ia ceritakan adalah kenyataan, senyata dirinya dan benda-benda di sekelilingnya. Tapi tak mudah bagi Eriko untuk memberikan penjelasan semacam itu. Apalagi peristiwa tikus-tikus berdiam di depan muka setiap rumah cuma terjadi sekali dan anehnya saat itu tak ada orang yang menyadari kejadian itu selain dirinya sendiri. Seolah-olah pada siang itu semua orang disibukkan oleh perkara lain sehingga tak sempat menyaksikan keajaiban—atau tepatnya keanehan—itu.

Karena semua orang memilih untuk menertawakannya, Eriko tak mau merepotkan diri memaksa mereka untuk memercayai matematikanya, bahwa ada 1.000 ekor tikus (boleh jadi lebih, mengingat tikus-tikus itu lebih cepat beranak-pinak daripada mati) di area ini. Seandainya mereka mau setuju pada hitung-hitungan Eriko, pastilah mereka akan menjadi lebih hati-hati dan waspada. Mereka tidak akan menganggap sepele keberadaan tikus-tikus itu. Mereka tidak akan hanya sebatas memasang perangkap atau menyebar racun. Mereka akan melakukan lebih dari itu. Mungkin melakukan pemusnahan massal dengan alat penyemprot atau kerja bakti membersihkan lingkungan supaya tikus-tikus pergi ke tempat lain. Tapi kalaupun tikus-tikus itu berkurang, atau bahkan menghilang, lantas kenapa? Apa bedanya 1.000 ekor tikus dengan 100 ekor tikus atau 10 ekor tikus atau 1 ekor tikus atau tidak ada tikus?

Pikiran filosofis itu menggelayuti kepala Eriko malam ini, di tempat dari mana semuanya berawal. Ia sedang duduk di atas kursinya, menatap laptop yang baru saja dimatikan, dan kini matanya melirik ke arah rak buku yang berada di samping meja kerjanya. Apa itu benda hitam-besar yang bergerak-gerak di bawah rak? Apakah seekor tikus? Ia tidak mengeceknya. Ia memalingkan mata dan membayangkan bisa jadi itu cuma halusinasinya, atau perasaannya, atau mungkin itu cuma kaleng, sebuah bola, kantong plastik, seekor kucing, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa itu adalah… tiba-tiba Eriko terlonjak dari kursinya, dan kali ini punggung kursinya patah. Tentu saja Eriko telah melihat sesuatu melintas di atas meja kerjanya. Tapi sebaiknya kita tak perlu tahu itu apa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 16 November 2023


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.

Cerpen

Frans

Cerpen Erna Surya

Tikus-tikus kecil berlarian di atas kepala Frans. Mereka memakan rambut, lalu kulit kepala lelaki itu hingga lenyap seluruhnya.      Dua telinga Frans berpindah ke bawah ketiaknya, dan matanya kini ada di dada. Frans mulai ketakutan. Ia mendengar suara teriakan orang-orang. Frans tahu betul siapa mereka. Mata Frans menangkap sebuah bayangan.

It’s your turn,” bayangan itu bersuara.

Frans bangun dengan tubuh berkeringat.

***

Frans baru saja meniup lilin ulang tahunnya yang ke empat puluh bersama istri dan kedua putrinya ketika telepon berdering. Sebuah panggilan datang di waktu yang kurang tepat.  Frans sedikit menggerutu setelah mendengar suara dari seorang lelaki yang ia panggil ‘bos’ karena dua alasan: pertama,  ini adalah hari ulang tahunnya yang seharusnya ia habiskan untuk di rumah saja bersama keluarga tanpa harus diganggu dengan berbagai macam pekerjaan. Kedua,  ia sedang tidak siap untuk sebuah misi. Ini adalah hari istimewanya.

“Dia sudah membuat banyak perempuan kehilangan masa depannya,” ucap lelaki itu.  Frans diam sesaat,  kemudian mematikan telepon. Kepada istrinya,  Frans beralasan bahwa seorang pelanggan lama sedang mengalami masalah dengan mobil Chevrolet tuanya dan harus segera diperbaiki karena esok akan dibawa berkendara ke luar kota untuk sebuah urusan mendadak. Dan hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah ini.

“Adakah urusan yang lebih penting daripada merayakan ulang tahunmu, Sayang?” tanya istrinya dengan suara lembut, berharap suaminya akan berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya.  Frans berjanji akan segera kembali setelah semua selesai,  dan ia tak akan melewatkan jam makan malam keluarganya. 
Frans segera memacu mobil ke bengkelnya yang berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. 

Bengkel Frans berada di pinggiran kota, sebuah lokasi yang sangat strategis untuk sebuah usaha bengkel mobil di mana ia bisa mendapatkan harga sewa dengan sangat murah tetapi akses menuju kota pun sangat dekat.  Sedangkan untuk tempat tinggal,  Frans setuju untuk tinggal di sebuah desa kecil di mana istrinya punya lahan yang cukup untuk menanam bunga-bunga. Semenjak menikahi perempuan muda yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya itu,  hidup Frans seketika berubah.  Ia tak lagi senang dengan berbagai macam pesta yang menyuguhkan alkohol dan perempuan bersama teman-temannya. Frans juga lebih senang menyisihkan hasil kerjanya untuk amal.  Semua itu karena istrinya senang berbagi dengan orang-orang miskin.  Frans menemukan kedamaian bersama perempuan itu.  Dan kebahagiaan semakin berlipat ketika putri pertamanya lahir dan disusul putri keduanya dua tahun kemudian.

Ketika memasuki bengkel,  Frans tak menemukan siapa pun.  Semua pegawai sudah pulang.  Bau oli menyengat.  Frans segera menuju sebuah ruangan di sudut,  sebuah ruangan yang biasanya ia pakai untuk bersantai di waktu istirahat siang.  Frans segera menggeser posisi meja dengan gerakan sangat cepat.  Lalu ia angkat tiga deret keramik sehingga menimbulkan lubang.  Di tempat itulah tersimpan rahasia Frans.
Frans mengangkat sebuah tas kecil keluar dan segera membukanya. Sudah ada catatan untuknya.

‘Bos’ yang beberapa saat menelepon tadi telah lebih dulu masuk dengan cara rahasia, meletakkan tas itu,  dan pergi lagi dengan cara ajaib tanpa seorang pun tahu.
Sudah ada sebuah catatan tentang siapa yang akan ia eksekusi malam ini,  seorang dokter bedah syaraf yang membuka praktek sampai pukul sepuluh malam setiap harinya.  Bahkan di hari Minggu pun,  ia tak libur.  Berdasarkan catatan itu, Frans tahu bahwa dokter itu memanfaatkan pasien-pasiennya yang masih muda dan cantik untuk pelampiasan nafsunya. Dan semua itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.  Dokter itu tak menikah. Namun ia punya seorang putri yang kerap mengunjunginya di hari Minggu siang sekadar untuk mengantarkan makan siang. Tentu saja putrinya tak tertulis secara hukum negara.

Sedangkan tentang seseorang yang ia panggil ‘bos’ itu, Frans sendiri belum pernah bertemu dengannya. Entah dari mana,  lelaki itu tahu bahwa Frans pernah keluar masuk penjara sejak usianya remaja.  Banyak perkara.  Frans pernah memukul kepala tetangganya hingga gegar otak ketika mendapati lelaki itu di rumahnya dan ibunya berteriak-teriak minta tolong. Ibunya gagal diperkosa,  tapi Frans harus masuk penjara untuk beberapa saat.  Kasus lain masih ada.  Frans juga pernah mendapati dirinya tiba-tiba babak belur lantaran mencuri kalung emas di sebuah toko emas kecil di dekat pasar kota. Menjadi kurir narkoba pun pernah ia kerjakan.  Nasib baiknya,  ia belum pernah tertangkap.

‘Bos’ menggali segala informasi tentang Frans dan akhirnya merekrut lelaki itu menjadi timnya.  Frans awalnya menolak. Ia tak ingin kembali ke dalam penjara suatu saat nanti. Kedua putrinya yang menjadi alasan. Frans lebih menikmati kehidupan menjadi seorang montir yang membuka bengkel di pagi hari dan menutupnya di sore hari dengan penghasilan pas-pasan ketimbang berurusan dengan kriminal lagi. Itu sudah cukup asal ia punya banyak waktu untuk keluarganya. Namun semua pikiran itu seketika berubah ketika datang dua pilihan kepadanya: ikut bergabung atau istri dan kedua anaknya dibunuh. 

Frans resmi menjadi anggota tim eksekutor dengan bayaran sangat tinggi.  ‘Bos’ memiliki cukup banyak uang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya merusak tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Frans salah satu pembunuh bayaran yang paling ia senangi. Gerakan Frans cepat dan rapi.

Frans segera menuju ke sebuah alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil.  Ia akan bersembunyi di sebuah tempat rahasia di rumah sang dokter,  muncul ketika dokter itu masuk,  membunuhnya,  menghilangkan jejak,  kemudian pulang.  Ia merencanakan semua itu dengan sangat saksama tanpa menghabiskan banyak waktu.  Sepanjang perjalanan, Frans bernyanyi-nyanyi kecil.  Ia ingat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan ibunya waktu ia masih kanak-kanak.  Lagu itu pula yang ia nyanyikan untuk kedua putrinya setiap malam menjelang tidur. Frans sangat mencintai keduanya.

Tiba di rumah sang dokter, Frans tak menemukan siapa pun.  Frans semakin yakin bahwa misinya kali ini tak akan mendapatkan kesulitan yang berarti, juga akan memakan waktu singkat saja. Semua sudah ia pikirkan secara detail.  Dengan mengendap-endap,  Frans masuk ke rumah yang tak begitu besar itu.  Pertama, ia perhatian sudut-sudut  rumah tempat biasanya orang memasang CCTV.  Setelah merasa semua aman,  Frans memutuskan untuk bersembunyi di loteng.  Tak berapa lama, Frans mendengar suara mobil datang.  Ia bergerak pelan untuk mencari celah guna pengamatan. Dilihatnya seorang lelaki berjalan memasuki halaman,  teras,  lalu masuk ke rumah.  Frans segera menyiapkan senjatanya dan bersiap turun. Ia bergerak pelan sekali,  sampai tak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Frans bersembunyi di samping lemari besar. Ia melihat targetnya tengah menuang minuman ke dalam gelas.

Dooorrrrr….

Sebuah tembakan mengenai kepala Frans.  Seketika ia roboh. Frans masih bisa melihat darahnya sendiri mengalir dari kepala dan membuat lantai memerah. Tikus-tikus kecil datang lagi. Mereka muncul dari genangan darah lelaki sekarat itu. Frans merasakan kaki-kaki kecil mereka yang berjinjit menaiki hidung dan telinganya. Kini tikus itu tak hanya memakan kepala Frans, tapi semuanya. Suara-suara teriakan datang lagi. Satu per satu wajah-wajah itu muncul di kelopak matanya, dekat sekali. Frans tak sempat meminta ampun lantaran telah menghilangkann nyawa mereka.

Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya bernyanyi lagu masa kecilnya. Kemudian suara itu berubah menjadi suara putrinya.

“Tikus kecilmu sudah kulenyapkan, ” suara lelaki itu masih samar terdengar di telinga Frans bersama lagu yang hampir selesai dan akhirnya semuanya benar-benar gelap.

“Terimakasih.  Dia paling membahayakan, ” suara ‘Bos’ di ujung sana.


Erna Surya, suka dengan cerita-cerita dan kata-kata. Seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK. Berdomisili di Klaten.