Dunia Menulis

Semua Peserta adalah Pemula

Oleh Yuditeha

Setiap kali saya mengirim karya ke sebuah lomba, hampir selalu ada komentar datang beriringan. Nadanya mirip, kata-katanya di situ-situ saja: “Wah, harus bersaing sama senior.” “Senior turun gunung, bahaya.” “Alamat kalah nih.” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, bahkan bercanda. Namun, seperti hujan gerimis jatuh terus-menerus di satu titik, ia pelan-pelan melubangi.

Saya paham, komentar-komentar semacam itu sangat mungkin hanya pengganti sapaan, bentuk keakraban, atau cara ringan untuk membuka percakapan. Saya juga tidak pernah membacanya sebagai serangan, apalagi merendahkan. Tulisan ini pun tidak lahir dari rasa kesal, tersinggung, atau keinginan membalas apa pun. Sama sekali tidak.

Ia lebih merupakan kegelisahan kecil yang barangkali sering lewat di kepala banyak orang, tapi tak sempat diucapkan. Siapa tahu, suatu waktu, ketika situasi serupa kembali muncul, tulisan ini bisa bekerja sebagai ruang hening untuk menimbang, bukan untuk menghakimi. Lebih sebagai ajakan berbagi sudut pandang, bukan penegasan posisi.

Karena itu, saya tidak sedang menunjuk siapa pun. Tidak sedang menyasar kelompok tertentu. Tidak sedang membangun kubu. Saya hanya ingin meletakkan pengalaman kecil ini di meja, lalu mengamati bersama: barangkali di sana ada yang bisa kita pelajari, tanpa perlu menjadi polemik melelahkan.

Saya tidak tersinggung, apalagi marah. Barangkali hanya sempat merasa tidak nyaman. Sebab, di balik kelakar itu, ada asumsi diam-diam bekerja: bahwa lomba seharusnya hanya diisi oleh mereka yang dianggap sedang belajar. Sementara yang sudah keburu dicap senior, atau entah apa namanya, seolah harus minggir sukarela, demi menjaga kenyamanan batin kolektif.

Padahal, di dalam lomba, terutama lomba menulis, semua peserta berdiri di titik sama: nol. Dalam naskah lomba, nama penulis sering kali disamarkan. Yang tersisa hanya teks dan penilaian. Tidak ada suhu, tidak ada murid, tidak ada senior, tidak ada junior. Semua pemula yang mengetuk pintu juri dengan satu bekal: tulisan.

Namun, di luar sistem itu, dunia sosial sering kali berjalan dengan hukum yang berbeda. Kita gemar memberi label. Kita senang membuat hierarki. Kita hobi mengurutkan siapa di atas, siapa di bawah. Dan begitu label senior menempel, ia berubah menjadi semacam kutukan sosial. Menang dianggap wajar. Kalah dianggap memalukan. Ikut lomba dianggap menakuti. Tidak ikut dianggap bijaksana.

Seorang penulis yang masih terus mengirim karya ke lomba justru dianggap turun kelas. Padahal, bukankah berkarya itu soal proses, bukan soal status? Bukankah kreativitas tumbuh dari kegelisahan, bukan dari gelar-gelar tak resmi itu?

Di titik ini, saya sering bertanya: sebenarnya apa yang kita jaga? Keadilan atau kenyamanan psikologis? Sebab, jika kita telusuri lebih jauh, komentar semacam “wah, bersaing dengan senior” sering kali lahir bukan dari ketimpangan sistem, melainkan dari ketakutan. Kita ingin merasa punya peluang. Kita ingin merasa punya ruang. Kita ingin merasa diakui. Dan ketika ruang itu menyempit karena hadirnya seseorang yang dianggap lebih berpengalaman, yang muncul bukan semangat berlatih lebih keras, melainkan keinginan agar yang bersangkutan menyingkir dengan sopan.

Di sinilah ironi bekerja. Di satu sisi, kita memuja kompetisi. Kita mengagungkan lomba sebagai ajang pembuktian. Kita memuja kualitas. Tapi di sisi lain, kita ingin kompetisi yang ramah perasaan: di mana peluang menang dibagi rata berdasarkan usia kreatif, bukan kualitas. Jika logika ini diteruskan, akan muncul pertanyaann janggal: sampai kapan seseorang boleh disebut pemula? Dan sejak kapan seseorang wajib berhenti menjadi peserta?

Apakah setelah menang tiga kali, lima kali, sepuluh kali? Atau setelah namanya mulai dikenal di lingkaran tertentu? Atau setelah ia cukup sering muncul di linimasa? Lebih jauh lagi: setelah status senior resmi disematkan? Lalu apa yang harus ia lakukan? Menjadi juri seumur hidup? Menjadi pembicara tetap seminar? Menulis esai-esai reflektif tentang masa lalu sambil menatap senja?

Lantas, di mana lagi ruang kegelisahan kreatifnya? Kita sering lupa bahwa menulis bukan profesi yang menjamin hidup. Tidak seperti pegawai dengan slip gaji bulanan. Tidak seperti pedagang dengan perputaran modal harian. Bagi banyak penulis, lomba adalah salah satu cara untuk bertahan: bertahan secara ekonomi, secara mental, dan secara eksistensial.

Maka, ketika seseorang yang kita sebut senior masih ikut lomba, barangkali bukan karena ia rakus piala, melainkan karena ia masih ingin hidup. Masih ingin membeli beras tanpa meminjam. Masih ingin membayar listrik. Masih ingin kerja kreatifnya punya nilai tukar, betapa pun kecil.

Kita sering memuja karya, tapi lupa memikirkan perut pembuatnya. Di ruang-ruang diskusi sastra, kita gemar membicarakan idealisme, integritas, dan keberpihakan. Namun, begitu masuk ke soal keseharian, kita berharap para penulis senior hidup dari udara dan pujian. Seolah setelah mencapai satu titik simbolik itu, seseorang otomatis bebas dari kebutuhan material.

Inilah titik satire. Bayangkan, seorang penulis yang telah puluhan tahun bergulat dengan kata, jatuh bangun dengan penolakan, lalu akhirnya sedikit dikenal. Begitu ia mencoba tetap ikut lomba demi menjaga segala yang dulu diusahakan, ia justru dihadang dengan kata: “Wah, senior turun gunung.” Seolah gunung itu tempat suci yang tak boleh ditinggalkan, dan turun ke lembah adalah tindakan tidak pantas. Padahal, hidup memang terjadi di lembah: di pasar, di dapur, di kamar sempit, di meja tulis yang sering goyah.

Dalam dunia yang sehat, kehadiran penulis berpengalaman di arena lomba seharusnya sebagai berkah: sebagai pemicu standar, sebagai tantangan menyenangkan, sebagai kesempatan belajar. Bukan ancaman. Sebab, dari situlah kita bisa mengukur: seberapa jauh kita melangkah, seberapa dalam kita menggali, seberapa jujur kita menulis. Kompetisi yang sehat bukan tentang memastikan semua orang punya peluang menang, melainkan memastikan semua orang dinilai dengan ukuran sama. Dan ukuran itu, dalam lomba menulis, hanya satu: kualitas teks.

Maka, ketika saya mengatakan bahwa “dalam ranah kompetisi, kedudukan semua penulis adalah pemula,” itu bukan basa-basi. Itu keyakinan. Sebab, setiap karya baru adalah kelahiran baru. Setiap teks adalah pertaruhan. Tidak ada jaminan, pengalaman akan selalu berbuah kemenangan. Tidak ada kepastian, reputasi akan membawa piala. Bahkan, sering kali justru sebaliknya: yang merasa terlalu mapan justru terjebak pada formula, sementara yang gelisah melahirkan kejutan.

Sastra, seperti hidup, justru tumbuh dari gesekan. Dari pertemuan yang tak seimbang. Dari persaingan yang tak selalu ramah. Dari kegagalan berulang. Dari kemenangan yang tak pasti. Dan barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan kompetisi lunak, melainkan keberanian untuk kalah tanpa menyalahkan siapa pun.

Sebenarnya, tema ini sudah lama ingin saya tuliskan. Ia kerap muncul singkat di kepala, lalu menghilang, seolah tidak cukup penting untuk diberi ruang. Saya berkali-kali menunda, meyakinkan diri bahwa barangkali ini hanya kegelisahan remeh yang tak layak dijadikan bahan renungan. Namun, seperti suara kecil yang tak benar-benar pergi, ia selalu kembali, dengan wajah sama, dengan pertanyaan serupa.

Sekali lagi, saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru berterima kasih karena dengan kejadian ini saya akhirnya menulis ini. Peristiwa ini membuat saya berhenti menunda. Bukan karena menyakitkan, melainkan justru karena ia terasa terlalu biasa. Terlalu berulang. Dan mungkin, justru di situlah letak kepentingannya: bahwa sesuatu yang terus berulang, sekecil apa pun, patut diperhatikan sebagai gejala, bukan sekadar kebetulan. Maka tulisan ini lahir bukan sebagai luapan, melainkan upaya berdamai dengan gelisah yang sejak lama saya simpan.

Sebab, di ujung semua lomba, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang terus menulis. Siapa yang masih setia pada gelisahnya. Siapa yang tak berhenti percaya bahwa kata-kata, betapa pun rapuh, masih layak diperjuangkan. Di sana, semua orang kembali setara. Pemula.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Dunia Menulis

Mengasah Pikir, Menyapa Dunia

Oleh Yuditeha

Pelatihan menulis, seringkali hanya dipandang sebatas jalan pintas untuk menjadi penulis profesional. Namun, jika kita menggali lebih dalam, belajar menulis bukan sekadar memburu profesi. Keterampilan menulis memiliki nilai yang jauh melampaui cita-cita untuk menjadi penulis. Ia alat berpikir, medium komunikasi, dan jembatan untuk mengubah gagasan menjadi aksi.

Banyak orang berpikir pelatihan menulis ditujukan untuk mencetak pernyair, cerpenis, novelis, jurnalis, atau esais. Padahal, menulis adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan hampir di semua bidang kehidupan. Ambil contoh seorang insinyur yang brilian tetapi kesulitan menulis laporan teknis yang jelas, atau seorang akademisi yang gagal menuangkan gagasan ilmiahnya dalam bentuk artikel jurnal. Ketidakmampuan menulis dapat menjadi penghambat yang signifikan, terlepas dari seberapa dalam keahlian seseorang di bidang tertentu.

Dalam pelatihan menulis, peserta diajarkan tidak hanya untuk menghasilkan karya tulisan, tetapi juga untuk mengasah kemampuan berpikir sistematis. Menulis memaksa kita untuk menyusun gagasan secara logis, membedakan mana yang relevan dan mana yang tidak, serta menyampaikan pesan dengan cara yang efektif. Bahkan jika peserta tidak pernah menerbitkan satu buku pun, kemampuan ini tetap akan bermanfaat.

Penulis dan filsuf Prancis, Michel de Montaigne, pernah berkata, “Saya menulis untuk mengetahui apa yang saya pikirkan.” Menulis tidak hanya mencerminkan pemikiran kita, tetapi juga membantu kita memproses dan memperjelasnya. Dalam proses menulis, sering kali kita menemukan wawasan baru yang sebelumnya tersembunyi dalam pikiran kita.

Pelatihan menulis dapat menjadi ruang bagi peserta untuk menjelajahi ide yang kompleks, baik itu tentang diri sendiri maupun dunia di sekitarnya. Latihan menulis cerita, misalnya, dapat membantu seseorang memahami emosi, sementara menulis esai dapat memperdalam pemahaman tentang topik tertentu. Proses ini tidak hanya mendukung pengembangan intelektual, tetapi juga kesehatan mental.

Keterampilan menulis dapat membuka peluang di berbagai bidang. Seorang dokter yang mampu menulis artikel populer tentang kesehatan akan lebih mudah menjangkau masyarakat luas. Seorang pengusaha yang piawai menulis proposal akan lebih mungkin mendapatkan dukungan investor. Bahkan di era media sosial, kemampuan menulis konten yang menarik dan informatif menjadi salah satu kunci kesuksesan.

Di sinilah pentingnya pelatihan menulis yang tidak hanya berfokus pada teknik, tetapi juga pada tujuan dan audiens. Peserta diajarkan untuk menyesuaikan gaya menulis mereka dengan kebutuhan spesifik, seperti menulis untuk publikasi ilmiah, konten pemasaran, atau narasi kreatif.

Menulis adalah bentuk komunikasi yang paling inklusif. Tidak peduli latar belakang sosial, usia, atau pendidikan seseorang, menulis memberikan ruang untuk menyuarakan pendapat. Dalam pelatihan menulis, peserta dari berbagai latar belakang dapat saling berbagi perspektif, menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman gagasan.

Selain itu, pelatihan menulis juga bisa menjadi alat pemberdayaan. Banyak komunitas yang menggunakan menulis sebagai cara untuk memperjuangkan hak mereka, mulai dari kampanye lingkungan hingga advokasi sosial. Dengan keterampilan menulis, mereka dapat menyampaikan pesan dengan lebih meyakinkan dan berdampak.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa pelatihan menulis akan langsung menghasilkan karya besar. Padahal, menulis adalah proses panjang yang membutuhkan latihan berulang dan umpan balik konstruktif. Pelatihan menulis bukanlah janji instan, tetapi investasi jangka panjang dalam keterampilan yang terus berkembang.

Di sisi lain, beberapa orang merasa bahwa menulis adalah bakat bawaan, sehingga pelatihan tidak akan banyak membantu. Pandangan ini keliru. Seperti keterampilan lainnya, menulis dapat dipelajari dan ditingkatkan. Bahkan penulis besar seperti Ernest Hemingway dan Virginia Woolf mengakui bahwa mereka terus belajar sepanjang hidup mereka.

Salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan pelatihan menulis adalah dengan mengintegrasikan menulis ke dalam rutinitas sehari-hari. Tidak perlu menunggu inspirasi besar; cukup mulai dengan menulis catatan singkat, jurnal harian, atau refleksi sederhana. Semakin sering seseorang menulis, semakin mudah baginya untuk menyusun gagasan dan menemukan suaranya sendiri.

Pelatihan menulis juga dapat membantu seseorang mengenali keunikan gaya mereka. Dalam dunia yang dipenuhi standar dan format, menemukan suara otentik adalah salah satu pencapaian terbesar seorang penulis, baik ia seorang novelis, ilmuwan, atau aktivis.

Di era digital, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Komunikasi melalui teks, baik itu dalam email, laporan, atau media sosial, mendominasi kehidupan kita. Dalam konteks ini, pelatihan menulis tidak hanya relevan tetapi juga mendesak. Ia membantu kita berkomunikasi dengan lebih jelas, meyakinkan, dan manusiawi.

Menulis juga dapat menjadi warisan yang kita tinggalkan. Entah itu dalam bentuk buku, artikel, atau sekadar catatan pribadi, tulisan adalah jejak pemikiran kita yang bisa diakses oleh generasi mendatang. Dengan menulis, kita tidak hanya berbicara kepada orang-orang di sekitar kita, tetapi juga kepada masa depan.

Pelatihan menulis bukanlah tentang mencetak penulis profesional semata. Ia adalah upaya untuk mengasah kemampuan berpikir, menyampaikan ide, dan berkomunikasi dengan dunia. Menulis adalah keterampilan yang relevan untuk siapa saja, di bidang apa saja. Jadi, jika Anda ragu untuk mengikuti pelatihan menulis karena merasa tidak ingin menjadi penulis, pikirkan lagi. Menulis adalah tentang menjadi versi terbaik dari diri Anda, dalam pikiran, kata-kata, dan tindakan.***

Film, Resensi

Sunyi yang Tak Dianggap Penting

Oleh Yuditeha

“Hidup hanya menunda kekalahan”

—Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara

Kalau film Indonesia diundang ke pesta, Siti (2014) barangkali hanya berdiri di belakang tanpa alas kaki. Tak gemerlap, tak mengenal siapa pun, dan tak diajak menari. Padahal ia membawa sesuatu yang lebih langka dari gaun malam, yaitu kejujuran.

Film Eddie Cahyono ini seperti hujan kecil di atas seng tua: pelan, sunyi, tapi bila didengar baik-baik, menyisakan gema. Seperti suara Siti sendiri, tak pernah berteriak, namun justru membekas.

Siti adalah ibu muda di pantai selatan Jawa, bukan pantai eksotis yang dipamerkan brosur wisata, melainkan pantai keras dengan angin tajam. Suaminya lumpuh, jualan keripik seret, dan hidup harus terus diraut agar bisa ditanak. Siti tak menuntut simpati. Ia bekerja, merawat, dan diam-diam bernegosiasi dengan malam.

Difilmkan hitam-putih, Siti tidak menjual gaya, tapi menegaskan sesuatu yang kini terasa asing: kejujuran. Karena itulah ia terasa seperti kesalahan di tengah dunia yang sibuk memoles segalanya jadi cantik dan gaduh.

Film ini tidak mengajak kita masuk lewat pintu drama besar. Ia mengantar kita ke ruang yang lebih akrab: rumah kecil itu, dan perempuan di dalamnya. Siti bukan pahlawan, dan memang tak perlu. Hidup tak selalu butuh pahlawan. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap bangun pagi, mengurus anak, mengisi termos, lalu menyusuri hari dengan doa yang sudah kering. Ia perempuan biasa, dan justru di sanalah kekuatannya.

Tidak ada drama meledak-ledak atau air mata yang disorot. Yang ada justru keheningan. Dan dari sanalah suara paling keras keluar. Ketegangan dalam Siti tidak terletak pada ledakan, melainkan pada retakan. Ketika Siti berbicara pada suaminya yang diam seperti batu. Ketika ia tenang di depan anak, sementara kita tahu hatinya sedang mengiris sendiri. Ketegangan semacam ini akrab dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam budaya resah yang enggan menyatakan. Kita memendam, berharap masalah lelah sendiri. Siti adalah potret dari kebiasaan itu.

Ia menghadapi ekonomi yang menekan, suami yang tak komunikatif, anak kecil yang tak paham, serta pekerjaan malam yang rawan digunjingkan. Tapi tak sekali pun ia meledak. Bahkan ketika seorang polisi mendekatinya, ia tidak langsung menyerah, juga tidak menolak mentah-mentah. Ia bimbang, dan itu manusiawi. Betapa jarangnya sinema kita merayakan kebimbangan sebagai bentuk keberanian, padahal hidup kita penuh ragu.

Soal ekonomi dan kehormatan menjadi ironi paling tajam. Siti bekerja malam demi membayar utang. Ia mungkin dicap murahan. Tapi siapa yang bertanya biaya sekolah anaknya? Kita suka menilai perempuan dari caranya mencari uang, bukan dari alasan mengapa ia terpaksa melakukannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: siapa sebenarnya yang murahan?

Siti tidak menjawabnya dengan dialog. Jawabannya hadir lewat adegan sunyi yang dibiarkan panjang. Kamera statis seperti menuntut kita menatap kenyataan tanpa permen visual. Ini kehidupan yang jika ditonton tergesa, akan dianggap membosankan. Tapi jika diberi waktu, ia menyilet pelan.

Salah satu adegan paling mengiris adalah saat Siti duduk di pinggir ranjang suaminya. Ia mencoba bicara. Suaminya diam. Tak ada dialog, hanya desis angin. Di sana berkumpul kelelahan, penyesalan, cinta yang mulai basi tapi belum bisa dibuang. Adegan ini bukan sekadar personal, melainkan metafora relasi sosial kita: saling tahu ada yang retak, tapi memilih diam.

Kita hidup dalam masyarakat yang tahu banyak hal tidak beres, tapi tetap berpura-pura baik-baik saja. Kita tahu negara sering abai, tapi memilih menunduk. Kita sibuk mengurus gosip sambil membiarkan kebijakan pincang. Kita seperti Siti, tahu sedang terseret ombak, tapi duduk di pantai berharap air surut sendiri.

Namun film ini bukan semata duka. Ada harapan kecil yang muncul dari anaknya, dari dagangan yang habis, dari senyum tipis setelah menarik napas panjang. Ini bukan pasrah, melainkan adaptasi. Bertahan tanpa perayaan.

Ada juga getir ketika perempuan saling menghakimi perempuan lain. Di tengah tekanan ekonomi, solidaritas mudah goyah. Kita lebih cepat menyalahkan individu ketimbang melihat sistem yang menjebak mereka.

Kritik sosial Siti tidak hadir lewat orasi. Tidak ada tokoh berteriak tentang keadilan. Justru karena itu ia terasa nyata. Film ini seperti tetangga yang hidup susah tapi tetap menanak nasi, tanpa pernah meminta belas kasihan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi korban paling menyedihkan di media sosial, Siti hadir sebagai potret orang kecil yang tetap berjalan tanpa meminta tepuk tangan. Ada jenaka pahit: Siti dengan segala keterbatasannya tampak lebih tegar dibanding banyak pejabat yang goyah oleh sedikit tekanan.

Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan soal heroisme, melainkan keberanian bertahan dalam diam. Bukan membela kebenaran di panggung, tapi menemani anak sambil menyeka lelah.

Menonton Siti seperti menatap potret diam diri sendiri. Kita merasa pernah menjadi Siti, atau mengenal seseorang seperti dia: ibu, kakak, tetangga. Luka yang disentuh terlalu akrab untuk ditolak.

Film ini mungkin tak laku box office. Ia tak dijual lewat poster besar. Tapi ia menetap di hati yang masih memberi ruang pada perenungan. Di ruang kecil itu, kita belajar bahwa sunyi pun bisa bicara, asal mau mendengar.

Peran diam menjadi pusat film ini. Di banyak film, diam diisi musik dan ditutup dialog heroik. Di sini, diam dibiarkan canggung. Kamera tak buru-buru memotong. Kita dipaksa merasakan bagaimana menjadi perempuan yang harus kuat tanpa panggung bicara.

Kita hidup di negeri yang bising. Setiap hari penuh opini. Tapi kisah penting justru tenggelam. Tidak ada trending topic untuk ibu rumah tangga yang kehilangan penghasilan. Tidak ada headline untuk perempuan yang memilih antara utang dan harga diri. Ia tak masuk algoritma.

Ironinya, kita gemar mengulas moral tapi jarang mau mendengar. Padahal Siti bicara jujur sepanjang film, lewat mata, napas, cara duduk yang pegal. Kita lupa rasanya menonton film yang mempercayai penonton untuk merasa sendiri.

Relasi Siti dengan anaknya ditampilkan tanpa petuah. Hanya rutinitas melelahkan yang tak bisa ditolak. Di sanalah cinta hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kerja sunyi yang menguras tenaga.

Di luar, orang ramai mengeluh soal moral dan keluarga. Tapi jarang yang mau menyelami bagaimana keluarga bertahan di bawah tekanan sosial. Dalam Siti, kehancuran bukan datang dari niat buruk, melainkan dari ketiadaan pilihan.

Siti tak punya akses bantuan sosial. Di kampungnya, jika miskin, lebih baik diam. Ribut dianggap tak tahu diri. Film ini tak mengatakannya gamblang, tapi siapa pun yang lama hidup di republik ini akan paham.

Namun harapan tetap ada, justru karena sunyi. Harapan yang tidak diucapkan, tapi dijalani. Tetap bekerja, mengurus anak, menyuci baju. Harapan yang jarang masuk film komersial, tapi di sini diletakkan di tengah.

Film ini juga menyindir definisi sukses. Siti tak punya pencapaian versi media. Tapi film ini justru menunjukkan betapa kosongnya ukuran sukses kita. Hidupnya adalah perang harian yang tak pernah diumumkan.

Yang menarik, Siti tidak diposisikan sebagai korban yang meminta dikasihani. Ia tidak ingin dinobatkan inspiratif. Ia hanya ingin hidup. Dan betapa mulianya keinginan sederhana itu.

Relasinya dengan polisi tidak dijadikan jalan keluar ajaib. Ia menjadi ruang bimbang yang penuh rasa bersalah. Film ini jujur mengatakan: tidak semua pilihan menyelamatkan tanpa melukai.

Siti adalah tes kepekaan. Jika setelah menontonnya kita masih menyebutnya sekadar “film perempuan nelangsa”, mungkin yang perlu dikoreksi bukan filmnya, tapi empati kita. Film ini seperti kaca retak. Jika ditatap lama, kita melihat bayangan diri sendiri: sebagai suami yang tak mendengar, tetangga yang cepat menilai, negara yang membiarkan. Dan sebagai penonton yang baru peduli ketika kisah perempuan viral.

Mengapa film seperti ini jarang dibuat? Karena terlalu sepi? Atau karena kita takut menonton hidup apa adanya? Hiburan sejati bukan yang membuat lupa, tapi yang membuat ingat kembali siapa kita.

Siti mengingatkan bahwa menjadi manusia tak selalu tentang menang besar. Kadang hanya tentang tidak menyerah pada hari yang panjang. Tentang hidup seadanya, dan tetap berjalan. Perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang berbentuk duduk diam di lampu redup, menggenggam termos kosong. Film ini memotret perjuangan yang tak pernah masuk berita utama.

Sunyi, di tangan Eddie Cahyono, bukan kekosongan. Ia perlawanan pasif. Siti tidak sibuk menjelaskan penderitaannya. Ia sibuk bertahan. Dari sanalah kemanusiaan muncul tanpa perlu pengakuan.

Di era ketika semua harus terdengar, perempuan seperti Siti tenggelam. Ia tak punya waktu tampil. Ia hanya punya waktu hidup. Ironinya, sistem justru mengabaikannya. Film ini juga tidak menghukum tokohnya. Siti tidak divonis. Ia dibiarkan hidup. Dalam konteks sosial kita, itu sudah radikal.

Masyarakat kita cepat memvonis perempuan, lambat membantu. Dan Siti hadir sebagai surat terbuka yang tak pernah dikirim, tapi kita butuhkan. Film ini bukan hanya tentang Siti. Ia tentang banyak perempuan tanpa nama. Mereka bukan tokoh utama sinema, tapi tokoh utama kenyataan. Dan film ini menampilkan mereka tanpa eksotisme, tanpa glorifikasi. Hanya manusia yang lelah, bisa salah, tapi tetap berjalan.

Tentu film ini punya kekurangan. Ia sangat kontemplatif dan tak ramah bagi penonton yang ingin narasi cepat. Karakter lain terasa lebih sebagai latar. Visualnya indah, kadang terlalu sadar diri. Konteks sosialnya universal tapi mengambang. Namun di luar itu, Siti memperlihatkan martabat sehari-hari: tidak mencuri, tidak menipu, hanya berusaha. Dalam dunia yang kacau, usaha jujur adalah kehormatan paling murni.

Jika ada yang bilang film Indonesia terlalu dangkal, ajak mereka menonton Siti. Lalu ajak mereka diam. Jika setelah itu mereka masih tak merasa apa-apa, mungkin bukan filmnya yang kurang manusiawi, tapi hati kita yang sudah kebas. Barangkali kita tak butuh ulasan lagi. Kita hanya butuh keberanian untuk berkata: aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Dan kisahmu penting. Sama seperti kisah Siti.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Puisi

Puisi M. Z. Billal

STRUKTUR TUBUH KENANGAN

helai rambutnya                                  

adalah ratus ribuan peristiwa

rasa hari yang kemarin

wajahnya                                            

adalah peradaban dari tahun-tahun

yang sunyi; yang juga berbunyi

tulang dadanya                                  

adalah gerbang agung memasuki sebuah

portal rahasia bernama jiwa

sepasang lengannya                            

adalah serikat rindu yang menyibak

sejumlah keajaiban memeluk

kedua telinganya                                

adalah instrumen yang mengalunkan

lagu-lagu tenang yang menyembuhkan

otot perutnya                                      

adalah tempat persembunyian

luka-luka pedih yang gemar tertawa

selangkangannya                                

adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga

yang tidak pernah tumbuh di dunia

tungkai-tungkainya                            

adalah jarak panjang yang harus ditempuh

dari dunia ke surga; ke hutan dan laut

jari-jemarinya

adalah nama dari berbagai jenis sentuhan

yang menguarkan aroma waktu

seperangkat netranya                         

adalah mesin penjelajah yang liar berburu

langit dan ciuman-ciuman

hidungnya                                          

adalah hamparan kota sibuk yang berjuang

mengendus bau para pembawa mimpi

dua katup bibirnya                             

adalah siaran radio yang mengudara memenuhi

musim hujan dan panjang kemarau

air matanya

adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil

memanggil nama ibu mereka

2025

__________________________

INDIGO

aku tak pernah berhenti menulis.

menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.

kutulis saja. kulepaskan semuanya.

kekacauan biar saja kacau; luluhlantak

seperti bencana masa lalu. dan keheningan

biar saja hening. suara-suara membuatku

terapung. terapung hingga menembus

langit lembayung. dan aku terurai.                                         

terurai

            b     e     r    d     e    r     a   i.

     l           e          r          a          i

            renyai seperti hujan

pekan pertama april.

dan semuanya akan sangat membekas

seperti rindu yang tak pernah lepas.

karena aku selalu berharap kau bukanlah

orang yang pergi itu. kau akan menetap

di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda

saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.

sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku

membutuhkan waktu yang tidak singkat.

bahkan kalender akan mati berguguran

melawan peperangan dalam puisi ini;

di mana setiap kota yang kukunjungi

hanya memberiku sentuhan kecil

yang mengingatkanku padamu.

            dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.

            dalam kekacauan, dalam keheningan

            yang sulit kuhentikan.

2025

__________________________

BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU

aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.

bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah

pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya

bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum

saat mengelusnya. kuhela napas menyambut

pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.

berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk

dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur

dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.     

ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.

seperti doaku yang berhamburan ke langit:

semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku

tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.

2025

__________________________      

MEMBASUH LUKA

aku menulis puisi

dan kulepaskan ia berlari

ke dalam hujan yang turun

pada pertengahan februari.

            ia tertawa keras sekali

            lalu melambaikan

salam perpisahan kepadaku;

aku akan merindukanmu

dengan cara lain jika nanti

masih ada waktu.

kemudian dia menghilang

selamanya. menyisakan sebuah tanda

yang tak pernah kutahu

apa namanya. tapi aku tahu itu apa.

2025

__________________________

HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING

#1

kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali

bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu

di bawah rimbun flamboyan kuning;

diriku yang lucu dan menggemaskan

pada masa silam. ia yang selalu

ingin pulang dan tidur lebih lama

di atas kasur kenangan yang mahir

menyerap luka.

dan pada beberapa pagi dalam sepekan

kutanyai ia akan mengerjakan apa

hari ini. lalu ia akan menjawab

dengan kata-kata yang sama:

menyembuhkanmu.

ya, menyembuhkanmu!

#2

aku membicarakan lagi tentang

sejumlah cinta yang hebat di dada ibu

pada petang-petang tertentu untuk episode

yang entah ke berapa aku tak pernah

menghitungnya. dan meminta ibu untuk

melepaskan kerisauannya.

sebab kesedihan ibu adalah yang paling

berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata

jatuh ke pipinya, maka sebuah badai

akan datang dan menggulung semua

peradaban.

dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir

ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.

yang membuatku tersungkur

di kakinya berkali-kali saat aku

mendengarnya:

rindukanlah selalu cinta ibu nanti

rindukanlah. sebab rindu adalah

pelukan kasih sayang

berumur panjang.

#3

satu hal yang paling kusuka ketika

menutup percakapan di ruang obrolan malam

denganmu; manusia kesukaanku,

adalah saat kau mengirimiku emoji

sepasang beruang imut saling merengkuh

pelukan hangat ke dada masing-masing

lalu percikan berbentuk hati menyertainya.

kau tampaknya mahir

menghangatkan dingin malam

yang memasuki tubuhku.

dan saat kubilang aku menyukai

hal-hal lucu yang kaukatakan,

membuatku ingin terperangkap dalam

mimpi yang selalu ada kau

di dalamnya. kau justru mengirimiku

sepucuk puisi pendek

yang menggetarkan:

aku ingin memiliki sebuah pelukan

yang bernama dirimu. ya, namamu.

2024

__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”