Oleh Yuditeha

Setiap kali saya mengirim karya ke sebuah lomba, hampir selalu ada komentar datang beriringan. Nadanya mirip, kata-katanya di situ-situ saja: “Wah, harus bersaing sama senior.” “Senior turun gunung, bahaya.” “Alamat kalah nih.” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, bahkan bercanda. Namun, seperti hujan gerimis jatuh terus-menerus di satu titik, ia pelan-pelan melubangi.
Saya paham, komentar-komentar semacam itu sangat mungkin hanya pengganti sapaan, bentuk keakraban, atau cara ringan untuk membuka percakapan. Saya juga tidak pernah membacanya sebagai serangan, apalagi merendahkan. Tulisan ini pun tidak lahir dari rasa kesal, tersinggung, atau keinginan membalas apa pun. Sama sekali tidak.
Ia lebih merupakan kegelisahan kecil yang barangkali sering lewat di kepala banyak orang, tapi tak sempat diucapkan. Siapa tahu, suatu waktu, ketika situasi serupa kembali muncul, tulisan ini bisa bekerja sebagai ruang hening untuk menimbang, bukan untuk menghakimi. Lebih sebagai ajakan berbagi sudut pandang, bukan penegasan posisi.
Karena itu, saya tidak sedang menunjuk siapa pun. Tidak sedang menyasar kelompok tertentu. Tidak sedang membangun kubu. Saya hanya ingin meletakkan pengalaman kecil ini di meja, lalu mengamati bersama: barangkali di sana ada yang bisa kita pelajari, tanpa perlu menjadi polemik melelahkan.
Saya tidak tersinggung, apalagi marah. Barangkali hanya sempat merasa tidak nyaman. Sebab, di balik kelakar itu, ada asumsi diam-diam bekerja: bahwa lomba seharusnya hanya diisi oleh mereka yang dianggap sedang belajar. Sementara yang sudah keburu dicap senior, atau entah apa namanya, seolah harus minggir sukarela, demi menjaga kenyamanan batin kolektif.
Padahal, di dalam lomba, terutama lomba menulis, semua peserta berdiri di titik sama: nol. Dalam naskah lomba, nama penulis sering kali disamarkan. Yang tersisa hanya teks dan penilaian. Tidak ada suhu, tidak ada murid, tidak ada senior, tidak ada junior. Semua pemula yang mengetuk pintu juri dengan satu bekal: tulisan.
Namun, di luar sistem itu, dunia sosial sering kali berjalan dengan hukum yang berbeda. Kita gemar memberi label. Kita senang membuat hierarki. Kita hobi mengurutkan siapa di atas, siapa di bawah. Dan begitu label senior menempel, ia berubah menjadi semacam kutukan sosial. Menang dianggap wajar. Kalah dianggap memalukan. Ikut lomba dianggap menakuti. Tidak ikut dianggap bijaksana.
Seorang penulis yang masih terus mengirim karya ke lomba justru dianggap turun kelas. Padahal, bukankah berkarya itu soal proses, bukan soal status? Bukankah kreativitas tumbuh dari kegelisahan, bukan dari gelar-gelar tak resmi itu?
Di titik ini, saya sering bertanya: sebenarnya apa yang kita jaga? Keadilan atau kenyamanan psikologis? Sebab, jika kita telusuri lebih jauh, komentar semacam “wah, bersaing dengan senior” sering kali lahir bukan dari ketimpangan sistem, melainkan dari ketakutan. Kita ingin merasa punya peluang. Kita ingin merasa punya ruang. Kita ingin merasa diakui. Dan ketika ruang itu menyempit karena hadirnya seseorang yang dianggap lebih berpengalaman, yang muncul bukan semangat berlatih lebih keras, melainkan keinginan agar yang bersangkutan menyingkir dengan sopan.
Di sinilah ironi bekerja. Di satu sisi, kita memuja kompetisi. Kita mengagungkan lomba sebagai ajang pembuktian. Kita memuja kualitas. Tapi di sisi lain, kita ingin kompetisi yang ramah perasaan: di mana peluang menang dibagi rata berdasarkan usia kreatif, bukan kualitas. Jika logika ini diteruskan, akan muncul pertanyaann janggal: sampai kapan seseorang boleh disebut pemula? Dan sejak kapan seseorang wajib berhenti menjadi peserta?
Apakah setelah menang tiga kali, lima kali, sepuluh kali? Atau setelah namanya mulai dikenal di lingkaran tertentu? Atau setelah ia cukup sering muncul di linimasa? Lebih jauh lagi: setelah status senior resmi disematkan? Lalu apa yang harus ia lakukan? Menjadi juri seumur hidup? Menjadi pembicara tetap seminar? Menulis esai-esai reflektif tentang masa lalu sambil menatap senja?
Lantas, di mana lagi ruang kegelisahan kreatifnya? Kita sering lupa bahwa menulis bukan profesi yang menjamin hidup. Tidak seperti pegawai dengan slip gaji bulanan. Tidak seperti pedagang dengan perputaran modal harian. Bagi banyak penulis, lomba adalah salah satu cara untuk bertahan: bertahan secara ekonomi, secara mental, dan secara eksistensial.
Maka, ketika seseorang yang kita sebut senior masih ikut lomba, barangkali bukan karena ia rakus piala, melainkan karena ia masih ingin hidup. Masih ingin membeli beras tanpa meminjam. Masih ingin membayar listrik. Masih ingin kerja kreatifnya punya nilai tukar, betapa pun kecil.
Kita sering memuja karya, tapi lupa memikirkan perut pembuatnya. Di ruang-ruang diskusi sastra, kita gemar membicarakan idealisme, integritas, dan keberpihakan. Namun, begitu masuk ke soal keseharian, kita berharap para penulis senior hidup dari udara dan pujian. Seolah setelah mencapai satu titik simbolik itu, seseorang otomatis bebas dari kebutuhan material.
Inilah titik satire. Bayangkan, seorang penulis yang telah puluhan tahun bergulat dengan kata, jatuh bangun dengan penolakan, lalu akhirnya sedikit dikenal. Begitu ia mencoba tetap ikut lomba demi menjaga segala yang dulu diusahakan, ia justru dihadang dengan kata: “Wah, senior turun gunung.” Seolah gunung itu tempat suci yang tak boleh ditinggalkan, dan turun ke lembah adalah tindakan tidak pantas. Padahal, hidup memang terjadi di lembah: di pasar, di dapur, di kamar sempit, di meja tulis yang sering goyah.
Dalam dunia yang sehat, kehadiran penulis berpengalaman di arena lomba seharusnya sebagai berkah: sebagai pemicu standar, sebagai tantangan menyenangkan, sebagai kesempatan belajar. Bukan ancaman. Sebab, dari situlah kita bisa mengukur: seberapa jauh kita melangkah, seberapa dalam kita menggali, seberapa jujur kita menulis. Kompetisi yang sehat bukan tentang memastikan semua orang punya peluang menang, melainkan memastikan semua orang dinilai dengan ukuran sama. Dan ukuran itu, dalam lomba menulis, hanya satu: kualitas teks.
Maka, ketika saya mengatakan bahwa “dalam ranah kompetisi, kedudukan semua penulis adalah pemula,” itu bukan basa-basi. Itu keyakinan. Sebab, setiap karya baru adalah kelahiran baru. Setiap teks adalah pertaruhan. Tidak ada jaminan, pengalaman akan selalu berbuah kemenangan. Tidak ada kepastian, reputasi akan membawa piala. Bahkan, sering kali justru sebaliknya: yang merasa terlalu mapan justru terjebak pada formula, sementara yang gelisah melahirkan kejutan.
Sastra, seperti hidup, justru tumbuh dari gesekan. Dari pertemuan yang tak seimbang. Dari persaingan yang tak selalu ramah. Dari kegagalan berulang. Dari kemenangan yang tak pasti. Dan barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan kompetisi lunak, melainkan keberanian untuk kalah tanpa menyalahkan siapa pun.
Sebenarnya, tema ini sudah lama ingin saya tuliskan. Ia kerap muncul singkat di kepala, lalu menghilang, seolah tidak cukup penting untuk diberi ruang. Saya berkali-kali menunda, meyakinkan diri bahwa barangkali ini hanya kegelisahan remeh yang tak layak dijadikan bahan renungan. Namun, seperti suara kecil yang tak benar-benar pergi, ia selalu kembali, dengan wajah sama, dengan pertanyaan serupa.
Sekali lagi, saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru berterima kasih karena dengan kejadian ini saya akhirnya menulis ini. Peristiwa ini membuat saya berhenti menunda. Bukan karena menyakitkan, melainkan justru karena ia terasa terlalu biasa. Terlalu berulang. Dan mungkin, justru di situlah letak kepentingannya: bahwa sesuatu yang terus berulang, sekecil apa pun, patut diperhatikan sebagai gejala, bukan sekadar kebetulan. Maka tulisan ini lahir bukan sebagai luapan, melainkan upaya berdamai dengan gelisah yang sejak lama saya simpan.
Sebab, di ujung semua lomba, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang terus menulis. Siapa yang masih setia pada gelisahnya. Siapa yang tak berhenti percaya bahwa kata-kata, betapa pun rapuh, masih layak diperjuangkan. Di sana, semua orang kembali setara. Pemula.***
____________________
Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.





