Dunia Menulis

Besar Boleh, Kecil pun Boleh, Asal Dasarnya Tulus

Di balik podium sayembara sastra, di antara tumpukan pengumuman anugerah bergengsi yang memuja karya-karya monumental tentang konflik ras, luka sejarah, dan teriakan sosial yang seolah tak ada jeda, diam-diam ada banyak penulis yang memandangi layar kosong dengan gemetar. Bukan karena tak bisa menulis, tapi karena merasa kisahnya terlalu sepele. Terlalu kecil. Terlalu personal. Terlalu tidak meledak. Mereka yang menulis tentang sunyi kamar kontrakan, tentang kecemasan makan siang terakhir menjelang PHK, tentang ibu yang diam-diam menjahit baju bekas agar bisa dibungkus ulang jadi kado ulang tahun anaknya. Lalu muncul pertanyaan getir: “Siapa yang mau peduli?”

Fenomena ini bukan fiksi. Ia nyata, sedekat napas kita saat membaca pengumuman lomba yang menang lagi-lagi tentang tokoh aktivis, konflik SARA, isu lingkungan global, atau sejarah panjang penjajahan yang dituturkan ulang dengan narasi megah. Seolah cerita yang layak diberi medali adalah yang bisa mengguncang bumi. Seolah penderitaan harus berskala nasional agar bisa dianggap memiliki makna. Dan kita yang hanya ingin menulis tentang perempuan tua yang memandangi foto suaminya saban pagi—karena takut lupa wajahnya—mulai merasa kalah sebelum bertanding.

Padahal, bukankah kesunyian itu juga bagian dari dunia? Bukankah manusia lebih sering meringkuk dalam bilik kecil kesedihan pribadi daripada berorasi di tengah massa? Tapi sayangnya, dalam lanskap sastra yang makin dipengaruhi kebutuhan akan gagasan besar, narasi yang subtil, yang lirih, yang nyaris tak terdengar, malah dianggap terlalu jinak. Padahal, bisa jadi justru di situ letak gemuruh paling purba, di bisikan kecil yang tak sempat didengar.

Ironi pun menyembul di sana-sini. Kita membaca cerpen pemenang lomba yang mengisahkan revolusi agraria dengan istilah berlapis seperti makalah seminar, namun entah mengapa tak terasa denyut manusianya. Sementara naskah tentang anak kecil yang diam-diam menyembunyikan sepatu baru agar bisa diberikan ke adiknya justru tak pernah lolos seleksi awal. Mungkin karena tak cukup penting? Atau tak cukup menjual dalam sinopsis?

Bisa jadi, sebagian dewan juri punya selera yang terlalu politis. Atau terlalu ingin mencetak pernyataan daripada membiarkan sastra mengalir sebagai cermin kemanusiaan. Tentu tak semua begitu, dan kita tahu, ada juga karya besar yang benar-benar berhasil menyelami dua-duanya: yang politis sekaligus manusiawi. Tapi kita bicara tentang atmosfer umum yang membuat banyak penulis muda (dan yang tidak muda) mulai menyangsikan validitas ceritanya sendiri. Yang membuat mereka menahan diri menulis tentang cintanya yang gagal, tentang aroma dapur neneknya, atau tentang perasaan aneh saat pulang kampung dan tak dikenali tetangga. Karena merasa: “ah, ini cuma remeh.”

Dan inilah titik bahaya. Ketika penulis mulai menulis dengan niat memenuhi selera, bukan menyuarakan isi hati. Ketika naskah dibuat bukan dari desakan batin, tapi dari perhitungan tema tertentu agar bisa menembus kurasi. Maka sastra bukan lagi jalan pulang menuju diri, tapi sekadar jalan tol ke panggung. Dan di situlah mungkin kita sedang kehilangan satu hal penting: kejujuran.

Lucunya, dalam semua kerinduan terhadap karya yang membela kemanusiaan, kita kadang lupa bahwa kemanusiaan paling mendasar justru terjadi dalam hal-hal kecil. Dalam roti yang dibagi dua, dalam senyum yang dipaksakan saat perpisahan, dalam cara seseorang memeluk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang bisa ia peluk. Tapi siapa yang mau membaca itu? Siapa yang akan memberi hadiah untuk cerita tentang ayah yang diam-diam menyetrika seragam sekolah anaknya tengah malam?

Lalu bagaimana menyikapinya?

Barangkali kita hanya perlu menertawakan sedikit kebisingan itu. Tertawa dengan penuh cinta, bukan dengan sinis. Bahwa kadang lomba dan penghargaan memang lebih suka teriakan. Tapi bukan berarti bisikan tak punya tempat. Kita tidak sedang bertanding siapa paling megah, kita sedang mencoba menjadi manusia paling jujur. Dan kalau tulisan kita hanya mampu menyentuh satu pembaca yang akhirnya merasa tak sendirian di dunia ini, itu sudah lebih dari cukup.

Kita pun tak perlu merasa rendah diri. Tidak semua orang ditakdirkan jadi guntur. Ada yang diciptakan sebagai embun pagi yang pelan-pelan membasahi rumput. Dan embun juga penting. Sebab tanpa embun, daun bisa layu sebelum siang datang.

Jangan khawatir jika karya kita belum sebombastis yang mereka cari. Tulis saja terus. Tentang jendela kamar, tentang suara sepatu di gang sempit, tentang cinta yang diam-diam tumbuh di antara jemuran. Sebab dunia butuh semua jenis cerita. Tidak hanya yang bersuara keras, tapi juga yang berbisik dengan lembut, bahkan yang hanya berdiam dengan tatapan.

Dan kadang, di antara tumpukan naskah penuh ledakan isu, justru naskah tentang perempuan tua yang menanam melati di halaman rumah kecilnya itulah yang paling menyentuh nurani juri yang diam-diam lelah dengan dunia.

Tentu, tidak semua kisah personal harus ditulis seperti curhatan. Kita tetap bisa memperlakukan hal kecil dengan kepekaan estetika dan ketajaman emosi. Bahkan ironi pun bisa menyelinap di sana. Misalnya cerita tentang seorang ibu yang rajin mengikuti demo lingkungan, tapi membuang sampah rumah tangga ke selokan belakang. Atau aktivis HAM yang di rumahnya tak pernah menyapa anaknya sendiri. Nah, di sanalah jenaka dan getir bisa bergandengan tangan.

Pada akhirnya, sastra bukan tentang siapa paling keras bicara, tapi siapa yang paling dalam mendengar. Dan jika karya kita ditulis dari ruang yang jujur, dari luka yang tak dibuat-buat, dari rasa yang tak dikemas agar viral, maka ia akan menemukan jalannya sendiri. Entah lewat lomba, entah lewat orang yang tanpa sengaja membacanya sambil menunggu hujan reda.

Jadi, bagi kamu yang sedang ragu karena ceritamu terasa remeh, percayalah, remehmu bisa jadi rembesan cahaya bagi orang lain. Tulis saja. Tetap tulis. Dunia ini tak hanya butuh kisah tentang revolusi dan sejarah, tapi juga tentang seorang anak yang mencium tangan ibunya diam-diam saat ibunya tidur. Kadang, cerita yang besar bukan karena temanya, tapi karena tulusnya. Karenanya, mau pilih besar boleh, pilih kecil pun boleh, asal dasarnya tulus. [] Redaksi