Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Puisi

Puisi Yohan Fikri

pulang ke haribaan pelukmu

lalu di mana muara bagi segenap kembara,

bila tak henti di haribaan pelukmu?

seluruh liku jalan yang kutapak bagai lorong

bercabang banyak — gelap nan basah.

dinding-dinding yang kuraba dengan terbata,

hanya menuntun tatih langkahku

pada kegamangan-kegamangan baru menggapai cahaya.

kecemasan kerap jadi batu, mengantuk

sepasang kakiku menujumu, menujumkan segala rindu.

sambut aku, kasihku. sambut aku serupa

kuntum bunga-bunga seroja yang memekarkan diri,

untuk mencumbu jamah matahari.

pagut bibirku dan lampiaskan gelegak birahi.

peluk erat kesepianku, seakan esok adalah hari terakhir

bagi kata-kata, untuk menulis riwayat kita.

lalu kita hikmati setiap lenguh napas dan desah cemas.

setiap inci sentuhan dan jengkal kemabukan.

bayangkan ini perjumpaan sebagai pungkas pelayaran

: kita arungi samudera birahi, kita garami luka-luka dalam diri.

hingga gelap juntaikan tirai, kita tetap baku-dekap,

melihat malam yang sekarat lumpuh-terkulai

— di atas sepasang tubuh kita: tubuh penuh cinta, yang belia!

2021


pagi yang monokrom #1

di stasiun, menanti kereta tiba, kusaksikan peron kebak

para calon penumpang, mencangking kecemasan masing-masing;

hilir mudik para porter mengusung sejumlah koper,

raut-raut kusut; dan kantuk yang berjelaga di pelupuk mata

adalah komposisi di suatu pagi yang miring.

sejumlah orang duduk mencangkung, selebihnya berdiri mematung,

dan sesekali, melongok ke arah kereta tiba

— walau yang mereka temu, masihlah kekosongan belaka.  

sepasang burung gereja menisik bulu di punggung besi tua,

kemudian melenting ke pucuk ranting pohon trembesi.

pagi yang monokrom, cuaca sedingin logam,

dan langit yang muram, seperti wajah resah yang menunggu,

lalu menangis dalam ritmis rintik gerimis itu.

kenangan merambat di antara rel-rel kereta, pipa-pipa tua saluran air

karat dan menggigir, kaki-kaki kursi dan wajah-wajah lesi

yang jemu menanti. sabar pun perlahan pudar,

pada detik-detik yang gusar. “ya. kita memang gampang tergesa,

dan acap tak sadar, bahwa dalam gegas, kerap memicing mata nestapa.”

lengking kereta terdengar dari jauh, memecah gelisah

yang kecamuk dalam dadaku. fajar gemetar di ufuk,

orang-orang berhambur menuju pintu masuk. dan aku,

masih pula berdiri, merunduk, merapal doa keberangkatan,

memanjat mantra-mantra keselamatan, “betapa kita  kerap lupa

untuk senantiasa awas dan was-was pada segala, sebab pada setiap

hitam-putih kemungkinan, selalu tersimpan waktu-waktu yang rawan!”

2021


pagi yang monokrom #2

“angin apa yang telah sampai membawamu kemari?”

mungkin angin purbani, yang bertiup lembut

dari dengus napasmu dulu. ketika jari-jarinya

menyentuh kulit jangatku, ia tumbuh menjelma badai.

aku, sehelai daun ringkih, kasih, yang ingin tanggal

dan merebah di dadamu yang tandus.

biarlah waktu dan cuaca, musim-musim yang itu juga,

meleburkanku, dan aku akan merupa humus bagi benih-benih kata,

untuk tumbuh memutikkan kuncup-kuncup bunga.

ujarku pada suatu pagi yang monokrom, ketika kusaksikan

sehelai daun getas di selasar peron jatuh-meranggas

diterpa angin bulan november. kurapatkan kerah kemeja,

kukancingkan buah jaketku, kota ini sedang dingin dan berangin, cintaku;

waktu-waktu riskan bagi tubuh yang minim dirahmati pelukan.

perjalanan, barangkali, hanya berkisar pada kedatangan

dan keberangkatan. siapa yang bakal tiba lebih dulu,

cumalah masalah waktu. karenanya, aku ingin kaumenungguku,

di puncak bukit mahasakit, di mana luka telah menyalibmu.

akan aku congkel seluruh kesepian yang telah memaku sepasang lenganmu.

dari jendela sembab-berembun, mataku memandang ngungun

ke titik jauh: hamparan sawah bagai wajah yang tengadah,

dangau-dangau di batang pematang seakan melambai pada pikiran

yang capai dan sangsai, sungai mengular membelah kini dan kiwari,

rumah-rumah berbanjar sepanjang bantar rel kereta api,

pohon-pohon berkelebat ke arah masa lalu: ke arah yang tak pernah

terjangkau oleh genggamanku. segalanya hanya bisu.

bahasa menghilang dari tubuh orang-orang. langit kelabu di luar jendela

seperti ingin memuntahkan banyak bercerita. buku puisi yang kubaca

membentangkan sejuta rahasia. dan hujan pun turun. dan jagad pun basah,

menyentil sisi sentimentil dalam tubuh kerontangku. dan kuyuplah sekujur ingatanku.

2021


hal-hal yang masih mengendap

di sprei motif bunga mawar

rintih dan lenguh, hasrat dan peluh

masih mengendap di sprei motif

bunga mawar, juga di dinding-dinding kamar,

yang kusam dan memar.

sekalipun kini, malam-malam telah jadi asam,

dan sepi, harga yang tak dapat lagi

ditawar-tawar. selalu ada

yang tak akan pernah kuasa kauhapus,

pula oleh telapak tangan waktu: ialah segala gebu nikmat

yang sempat menanam geletar dalam ngilu

sendi-sendimu. gigitan-gigitan kecil bagai jarum-jarum

morphin, menyengatkan semacam gigil yang lain.

tidur meringkuk memeluk diri sendiri,

kaukenang kembali sesuatu yang telah jadi ganih;

ingatan-ingatan yang perlahan malih menjadi buih

: lingerie berenda yang masih lekat di indera peraba,

serta sejumlah kerling nafsu yang pernah memantul

di mata manik-maniknya, seakan menjelma

lembut mulut yang mengulum seluruh kesedihanmu

— sampai ke pangkal batangnya.

2021


interlude        

                        /1/

kau kerap gagal di hadapan sesuatu yang krusial.

semisal, melangkah tabah dan bersiap tanggal,          

ataukah tugur, dan terus memilih tinggal

— meski barangkali, kau paham benar,

dingin itu telah seumpama api biru,

yang membakar harapanmu menjadi abu.

                        /2/

menangislah, cintaku. menangislah seperti gelegak ombak

melampiaskan dendam pada daratan.

air mata akan membuat pandanganmu jernih kembali,

sehingga kau dapat melihat:

betapa setia dan khianat gemar bertukar tempat.

segala yang lekang akan kautemu ulang

kelak di ujung tualang. sebab, di hadapan cinta yang remaja,

kita semua pengembara belaka.

                        /3/

kau (pun aku) mungkin kerap keliru menaruh prasangka.

sebagaimana kita sedang berenang

di sebuah tepi, lalu tergesa menyebutnya menyelam ke lubuk terdalam

— bukankah mencintai pun kadang juga begitu?

tetapi kau selalu percaya, kelak, luka akan menjadi karma

dengan sendirinya. Seseorang yang telah menikamkan pisau sepi

ke punggungmu, akan menanggung seluruh kesunyian paling merah.

                        /4/

pada akhirnya, kau lebih memilih berjalan sendiri,

menamsil nasib yang ganjil,

menyelusur hari-hari yang kabur, dan menafsir rasa getir

seumpama seorang penyair,

menyusun ulang tubuh yang telah retak

menjadi sebuah sajak, sebagai ritus pengampunan

atas seluruh dosa-dosa kesunyian.

2021   


scorpius

: Sindy Novia Larensi

Apa kau tak pernah membayangkan,

sebuah rasi bintang scorpio

menampakkan diri di angkasa bumi kita?

Kau melihatnya dari jendela kamarmu, aku

mengintipnya dari halaman rumahku,

sepasang capitnya, mencengkau namamu dan namaku.

Sedang ekornya menyengat masing-masing

dada kita, sehingga tahulah aku, rindu bekerja

bagai racun, membuat biru seluruh tubuhku.

Aku masih mengamatinya. Apakah kau pun?

Tanpa kita sadari, kita telah jadi sepasang penujum,

menerka sesuatu yang belum kita mafhum,

“Di hari apakah, nasib akan menjatuhkan

nama kita pada peruntungan yang sama?”

2021


sajak tentang sebuah vas bunga

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu

kau bertanya,

apa yang membuatnya bermakna,

selain hanya sesuatu

yang kelak layu,

dan kita berupaya mengekalkannya?

— seperti kenangan,

yang terus-menerus kita segarkan.

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu,

kau tak menemukan apa-apa,

tidak juga jawaban

atas kesuwungan tanda tanya,

selain hanya sesuatu

di dadamu yang memurung tiba-tiba.

2021


malam dalam komposisi

Pilau lampu-lampu kota,

seakan sedang

menerjemahkan cerlang

mata kekasihnya.

Udara gigil, musim yang labil,

merepih kantung kemih,

dan bulan yang limau

di langit pucat memutih.

Di atas bangku tepi jalan,

di hadapan lalu lintas waktu,

ia hendak meraih sebungkus

kenangan di liang saku.

Tetapi ia malah merasa,

seperti ada jemari

yang hangat dan melumer

di genggamannya.

Ia terkenang pada suatu malam

ketika untuk pertama kalinya,

ia ingin waktu berjalan lamban

— atau, ke arah selain masa depan?

Disulutnya kekalutan itu, dan

kesedihan mengepul ke udara.

Sedang air matanya, umpama segumpil

mentega yang meleleh di penggorengan.

2021


le poète maudit

Aku seekor ular yang diam-diam

mengamatimu dari pucuk ranting pohon apel,

membelit kegamangannya sendiri:

antara melata pergi, ataukah menghampirimu?

Sementara ketakutan, sebagaimana tuhan,

gemar menorehkan sejumlah larangan

juga kutukan-kutukan, di tubuhku.

Suatu hari, kupetik jantung sendiri.

Kusihir menjelma sebutir apel merah,

dan menyuguhkannya padamu.

Semoga, begitu kau menggigitnya, kau paham

akulah daging buah yang tabah tubuhnya berdarah,

meski dengan lelaki itu pula

pada akhirnya, kau berbagi rasa manisnya

“Tidakkah kau tahu? Itulah saripati rindu,

yang sepanjang usia waktu, selalu luput dari pagutanmu?”

2021


rencana mengunjungi pasar malam

Bagaimana bila sejenak kau sampurkan air mata di pundakku,

dan mari, kita jalan menyusuri hingar-bingar pasar malam

yang tampak melambai-lambai kepada kita itu?

Akan kuajak kau menonton atraksi roda gila supaya bising suara

kenalpotnya, memecah rasa masygul yang terbuhul di dada.

Atau, mengendarai kuda sembrani di sebuah komidi putar?

Di sana, waktu seperti henti melaju, hidup bukan lagi kejar-mengejar.

Kita akan merasa berjalan, meski tidak ke mana-mana.

Mungkin dengan begitu, kesedihan jadi sesuatu yang tak berarti apa-apa.

Atau barangkali, kau ingin sekadar membeli permen kapas?

Lalu, duduk menikmatinya sambil menyimak dan tergelak

melihat orang-orang jerit-teriak di atas perahu yang limbung disapu ombak?

Juga kincir angin yang berjentera seakan ingin mengajari kita:

naik-turun atas-bawah itu biasa, dan begitulah sewajarnya hidup berkelindan

menjalin warna-warninya? Siapa tahu, rasa legit yang leleh di lidah,

bakal samarkan getir-pahit, sedih, dan gundah.

Lalu, akan kucegat seorang pengamen kecil yang kebetulan lewat agar dipetiknya

senar ukulele, agar ditabuhnya tambun tubuh jimbe, sembari kubacakan

sejudul sajak cinta yang sudah kutulis semenjak lama,

lihatlah rembulan yang menggantung di luas lengkuh kubah angkasa:

“Apatah pantas kau tetaskan tetes air mata? Sedang rembulan itu, bintang gemintang itu,

bahkan selamanya akan tersipu, sembunyikan muka di balik murung gemelung mega

lantaran meski parasmu sedih, rupanya masih gagal ia lampaui keindahannya.”

2021


bersama panchali di suatu

pertunjukan wayang orang

            I

Hastinapura kala itu, mungkin tak ubahnya

panggung trapesium di hadapan kita, Panchali.

Dan kita hari ini, adalah sepasang mata

yang tak ingin melewatkan satu pun adegan;

degup jantung yang tak henti menanti,

dan terus dirundung tanya, “Apa lagi setelah ini?”

Sepasang tirai itu kemudian terbuka

disusul lampu-lampu yang menyala,

lalu kita sama saksikan

lidah Sengkuni yang begitu licin,

menjatuhkan Yudhistira di atas meja judi

: tergelecik muslihat licik,

dan terjengkang nasibnya sendiri.

            II

Sementara Yudhistira telah pertaruhkan segala yang ia miliki:

Kereta dan turangga, Pandhawa dan Indraprastha,

harga diri, hingga kekasihnya,

tidakkah kaulihat ada yang berkilat

di mata Kurupati,

bagai lidah bara yang mengeropok bulu domba?

Ketika nafsu telah menyihir Dharmaputra

yang tak bercela bagai amuk seekor kuda,

kadung lepas dari tali kekangnya?

Lalu, sesal tinggallah gelugut

yang bertebar di tubuh Yudhistira.

Detik pun meruam, dan nasib hanyalah nyala

yang masih berupaya terjaga pada sumbu sejumlah kandil

— yang tampak ngungun dan menggigil, Panchali.

Gedung ini sesak penonton, Panchali,

tetapi, kesunyian seperti dinding kedap yang menyerap

seluruh suara-suara di sekitarku, di sekitar kita.

Genggam tanganku, Panchali

agar dapat kurasakan getar-getar kesedihan

yang menusuki batang nadimu.

            III

Kali ini kita saksikan seorang perempuan

— O, itukah kau, Panchali?

diseret Dursasana ke tengah gelanggang

seumpama rusa buruan,

yang dilempar di atas tungku perapian.

“Adakah seorang raja yang sampai hati melempar seorang istri

ke tengah gelanggang judi? Sedang penjudi paling nista pun tiada pernah tega

menggadai perempuannya — sekalipun toh ia seorang sundal!”

Perempuan itu berseru dengan suara terpatah,

menahan sesak-isak yang membuhul kekata dan lidah.

Suara itu, mata pedang menyayat-nyayat,

lenguh napas kijang menahan sekarat.

Kurasakan jari-jemarimu berkeringat dingin

Kau remas erat genggaman tanganku.

Sandarkan kesedihan itu di tampuk pundakku, Panchali.

“Ini hanyalah sebuah pentas,” ujarku padamu

“dan babak tak lama lagi akan pungkas.”

Tetapi kaubilang, “Kesedihan bukan seperti air mata,

yang dapat mengering hanya dengan diseka sehelai kacu,

yang kaulurkan dari saku bajumu.”

            IV

Dan senja pun penuh, ketika perempuan itu

hanya menatap ngungun ke titik jauh

— ke arah di mana harapan

adalah jarak yang begitu muhal ia sentuh.

Tetapi, kita pun seakan mengerti, Panchali,

“Nasib barangkali tak ubahnya permainan dadu.

Dan kita tak akan pernah tahu angka yang bakal keluar,

sebelum dadu-dadu pungkas dilempar!”

Tirai tertutup kembali, dan lampu-lampu bersusulan mati.

Panggung pun usai, sementara kita, masihlah sepasang penonton

yang sibuk menyeka linang masing-masing,

sebelum ruang jadi hening,

dan sepi pun tumpah, membasah ke tubuh kita.

2021


Yohan Fikri, lahir di Ponorogo, 1 November. Belajar di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Puisinya tersiar di pelbagai media dan memenangkan beberapa lomba. Bukunya yang bakal terbit bertajuk Tanbihat Sebuah Perjalanan. Dapat disapa melalui akun Instagram @yohan_fvckry.

Cerpen

Gaun Hijau Botol

Cerpen Jeli Manalu

Nirara berdiri tepat di depan sebuah toko, ketika notifikasi WhatsApp membuat getaran dalam saku jaketnya. Ia membuka pesan itu sesaat setelah mengalihkan pandangan dari gaun hijau botol yang dipakai patung berambut ikal, seperti rambutnya. Isi pesan dalam ponselnya, menjelaskan pada hari raya Natal akan datang seorang pastor tamu. Si pembuat pesan, yakni ketua paduan suara, mengatakan tahun ini harus lebih semarak dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Kelompok paduan suara akan mengenakan baju seragam.

Membaca pesan itu, di mana seruan ketua merupakan keharusan terlebih telah didukung anggota lainnya, harapan Nirara tentang Natal dengan gaun hijau botol yang menggembirakan hati pupus seketika. Mengenakan seragam, membeli baju jadi ataupun menjahitkannya, itu artinya ada pengeluaran tambahan di bulan yang sama. Sementara, sejak gaun hijau botol dipajang pemilik toko, di mana Nirara dapat melihatnya setiap pergi dan pulang bekerja hampir seminggu lamanya, karena telanjur naksir namun belum tiba tanggal gajian, ia membujuk majikannya supaya diberi pinjaman demi menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko sebagai tanda jadi, sehingga gaun itu tidak dijualkan kepada orang yang barangkali berminat membelinya. Dan sekarang, setelah mendapatkan maklumat penting di hari yang genting, selain tak dapat memiliki gaun hijau botol, kemungkinan kehilangan uang tanda jadi sebagai kompensasi karena membatalkan pesanan turut mengganggu pikirannya. Jika harus mengambil gaun bersamaan dengan baju seragam, itu mustahil lagi. Ia tidak punya cadangan uang. Rekeningnya sudah lama tak ada isi. Bila dulu belanja-belanja perkara gampang, pada kehidupannya sekarang, segala sesuatu terasa sulit.

Belakangan, sebelum tiba masa gajian, ia membuat catatan esktra ketat terhadap nominal yang hendak diterimanya. Sesudah uang di tangan, ia langsung membelanjakannya untuk kebutuhan sebulan penuh, hanya menyisakan kebutuhan lauk-pauk yang dibeli per dua hari. Token listrik, beras, minyak sayur, serta isi ulang gas 3 kilo berlabel “hanya untuk masyarakat miskin.”

Ia bimbang, juga mulai bersedih. Ingatan akan gaun berwarna hijau, yang pernah dibelikan Tona, suaminya pada Natal pertama saat mereka baru berumah tangga, hadir dalam lamunannya.

“Buka dan lihatlah. Nama warnanya, hijau botol,” kata Tona, waktu itu.

Hijau botol. Seperti warna botol kaca muatan 620 ml, tempat bir bergambar bintang. Hijau yang gelap. Atau seperti warna kasula pada masa minggu biasa dalam liturgi—Tona mengatakan itu merupakan warna kesukaannya, juga Nirara.

Lelaki itu mengaku senang ketika Nirara mulai memasukkan kepalanya ke lorong gaun. Saat Nirara merentangkan kedua tangan dan menggerak-gerakkan badan, Nirara merasakan tangan Tona membantu Nirara membetulkan di bagian dada sampai pinggul. Gaun itu kemudian Nirara tahu berbahan katun lembut, namun sedikit tebal. Dalam cermin ia melihat dirinya yang sedang mengenakan gaun berkerah lebar, di mana pada sepertiga bagian ujungnya terdapat lubang-lubang mungil menyerupai gambar hati. Panjang gaun setengah betisnya. Risleting di bagian belakang. Ketika hendak mengenakannya untuk merayakan malam Natal di gereja, Nirara meminta tolong pada Tona supaya mengancingkannya. Tona memegang kepala risleting, tapi ia berkata agak kesulitan melakukannya. Ia menarik ke atas, lalu menurunkannya lagi sebelum benar-benar mencapai puncak, ia bilang resletingnya mungkin perlu diberi lilin sedikit supaya lincah gigitannya.

“Jangan bercanda, nanti kita terlambat,” protes Nirara.

Lama-lama, mereka malah saling mencumbu, sampai-sampai tiba di gereja tepat ketika pastor berkotbah di altar cintanya Tuhan tentang kelahiran bayi Yesus. Dan sebulan setelahnya, Nirara mengandung anak pertama, meski pada usia kehamilan tujuh minggu ia mengalami keguguran.

Di depan toko yang ramai oleh lalu lalang pengunjung, tiba-tiba, penyesalan kecil timbul di dada Nirara. Barangkali, bila tidak terlalu memikirkan prinsip hidup tentang masa depan kesendiriannya apabila sudah ditinggal mati Tona, sejak lama, yakni tidak mau seperti tetangganya yang memilih hidup sepi saja sejak ditinggal mati kekasih hatinya, bisa jadi, Nirara tidak sedilema sekarang ini. Ia tidak perlu menghapus keinginan pribadi atas nama kebersamaan. Sepanjang lima tahun, ia sudah mengikuti segenap aturan tak tertulis di kelompok paduan suara—wujud nyata dari sebuah kekompakan, begitu para anggota menamainya. Menjahitkan kebaya lengkap dengan roknya saat uskup berkunjung. Membeli sepatu pantofel merah ketika ada pertandingan kor antar stasi. Membayar kaos bersablon nama paduan suara saat berwisata rohani ke luar pulau, topi lebar ala perempuan bangsawan Inggris, membayar tiket, membeli syal ungu, membeli celana berwarna sama, bergantian mentraktir bila tiba hari ulang tahun, dan lain-lain dan lain-lain.

Saat itu, tiga minggu setelah Tona tiada, Nirara segera membuat keputusan. Pengurus gereja ditemui, dan berkata jika dirinya berniat menjadi anggota paduan suara. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Pertemuan selanjutnya setelah dirinya resmi bergabung, ia mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Bulan-bulan setelahnya ia lalui dalam kebersamaan. Empat kali Natal tak satu pun ia lewati dengan perasaan seorang diri, meski sejak kepergian Tona, hari-hari ia lalui dalam kemerosotan ekonomi.

Ia memang tidak terlalu peduli ketika tak pernah lagi membeli kepiting gendut-gendut untuk dijadikan sup kincung pedas, walau itu sekadar mengenang ulang tahun pernikahannya dengan Tona di masa lalu. Ia mengisi waktu dengan latihan vokal. Tampil di hari Minggu sebagai pemazmur atau pemimpin lagu, juga peserta kor. Menyanyi di pesta pernikahan, hingga upacara kematian. Dan ini mestinya Natal kelima dirinya merupakan bagian dari komunitas itu.

Natal memang belum waktunya walau Desember sudah merayap. Natal masih seminggu lagi, meski orang sudah ramai keluar-masuk toko pakaian, memilih model dan warna yang disuka, mencoba apakah kekecilan atau kebesaran hingga membawanya ke rumah dengan hati senang. Natal memang belum tiba, meski beberapa perempuan paruh baya yang datang tanpa ditemani seseorang, tampak menghadiahi diri mereka dengan satu atau dua pasang baju untuk menghindarkan hati dari nelangsa.

Nirara sebentar berpikir, jangan-jangan si tetangga, yang hidupnya terkesan menyedihkan karena menutup diri dari semua kemungkinan membahagiakan, saat ini justru lebih bersuka cita ketimbang dirinya. Bisa jadi perempuan itu, ada datang membeli gaun kesukaan di toko sama dengan Nirara tanpa diketahui. Perempuan yang selalu menutup pintu, dan tiap sore masih menyeduh dua gelas teh lalu duduk di balkon menatap matahari hingga tenggelam mungkin saja sedang bersenang-senang dengan pikiran serta keinginannya sendiri. Tak perlu merasa terganggu harus mengenakan baju ini atau sepatu itu. Model rambut ini, atau apakah gunanya sebuah topi dan syal, atas nama sebuah kekompakan tanpa peduli apakah perempuan paruh baya seharusnya tak perlu bekerja terlampau keras setelah ditinggal mati pasangan hidupnya demi itu semua.

“Apa gaunnya akan diambil sekarang?” tanya pemilik toko, sewaktu Nirara melangkah ragu-ragu di antara kerumunan di mulut pintu, dan matanya terpaku pada gaun hijau botol dikenakan patung berambut ikal, seperti rambut miliknya yang tak ingin ia ubah, meski teman-teman di paduan suara beberapa sudah meluruskan serta mewarnai rambut mereka untuk persiapan Natal meriah bersama pastor tamu.

“Banyak orang menanyai gaun ini. Tapi sepertinya, hanya kaulah yang beruntung mendapatkannya,” kata pemilik toko lagi.

Nirara berusaha tersenyum, belum tahu harus menjawab apa. Ia tentu mengerti perasaan pemilik toko, mengharapkan supaya barang dagangannya cepat habis, sehingga dapat menuntaskan keinginan pribadi menjelang Natal. Sejak dirinya hanya berdiri sesudah membaca maklumat penting dari ketua paduan suara, ia sesekali memperhatikan bila si pemilik toko menawarkan pakaian dengan warna atau corak berbeda ketika pengunjung ingin mencoba gaun pilihannya.

“Aku akan membungkusnya sekarang,” ujar pemilik toko, ia memiringkan tubuh patung supaya lebih mudah melepas gaun.

“Tapi aku belum punya uang. Maksudku, aku gajian tiga hari lagi.” Nirara mencoba berkelit.  

Pemilik toko melongo. Wajahnya tidak menunjukkan kesan marah, pun tak tampak bersedih. Dan Nirara, hanya berdiri saja menyaksikan pintu toko mulai ditutup, hari sudah sangat malam. Keesokan hari saat akan berangkat dan pulang bekerja, Nirara tak pernah lagi melihat toko itu buka. Begitu pula hari kedua dan ketiga seperti dijanjikannya, pun hari-hari berikutnya.

Nirara mengaktifkan ponselnya, dan mencoba menghubungi nomor yang tertera di pelat nama toko. Menunggu teleponnya diangkat pemilik nomor, Nirara menggeser-geser layar ponselnya. Ia buka galeri, mencari foto dirinya mengenakan gaun hijau botol, ketika sempat mencobanya di ruang ganti saat pertama kali datang ke toko.

Si pemilik nomor belum juga mengangkat telepon dari Nirara. Nirara mencoba menghubungi sekali lagi, sambil jarinya terus mencari foto gaun hijau botol di galeri ponsel. Saat bersamaan, lonceng gereja terdengar liris di tempat jauh. Malam pukul 19.00. Natal bersama pastor tamu, barangkali sudah dimulai.***

Riau, Desember 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Puisi

Puisi Vania Kharizma

Air Mata Pogrom

Kelengangan menjelma rimbun legam yang berdiam
menghuni saban doa yang gemar menatah langkah
mereka koyak tafakur ibu dan tidur biyak yang cemas
seperti gema sirene, onar amunisi
aku isak sepanjang degup jantung ibu

di luar maha riuh keriau berkelibang
mengantarkan pesan melalui gemuruh
barangkali jelaga yang mengabu di awan
berkelun gulana menitip pesan:
              

     di sini kami sedang tidak baik-baik saja

pertumpahan biram begitu kemrusung
segenap wahing mengudara tak kenal arah
tapi di sini kaki pun lecet dicumbu borgol
kening kami dibusung pistol tembaga
suara decit pantofel masihlah gemar terdengar dan tibalah
‘GUBRAK!’ dentuman kencang tubuh yang ambruk di tanah
seperti suara bapak

dan ibu menangis
dan aku menangis
kami tunaikan ibadah air mata di hari Minggu

(Solo, 2021)


Membaca Penjara

Kami sepasang onar yang haus,
di tepi barak kubungkus air mata pada setangkup anyelir di pot nakas bangsal.
Himne di sekujur wabah bercokol dalam guruh jemala. Sesuatu melekang––
adalah tendasku tandas tewas, seperti arah mata angin menyebar virus.

Dan betapa bahak tunawicara bising
dirangum tunarungu. Gigil sekujur kungkungan
meramai, seakan berkicau dalam hening penantian,
Akankah segenapnya fana, atau bisakah kami ulik nostalgia?
Seperti impunitas yang gagal panen, kita diborgol wabah silabus

Darinya kita dicangking hanger yang lepuh,
sepuh, berdebu, di punggung koyak pintu kamar
mengeja yojana dan kesunyian yang hidup berdetak
Seperti seorang narapidana, kita abadi di balik jeruji gamang
Kecemasan menyapu ingin, sedang pagebluk ialah niscaya,
segenap mafia semata merapal semoga dalam amin yang ragu

(Solo, 2021)


Pagebluk dalam Jemala Hemodilusi

Kegelisahan tak lain yakni niskala yang kau kulak sembari mengecer sedih di rakung wabah, tatkala kau bergidik nyeri dalam sakit yang kau kebiri
dan tengkuk jemala sekadar memar-lebam, retak tulangnya tak kuasa memberi jalan arteri
sebab persimpangan plasma tumbuh subur yojana berkisar nanometer dari 1.000.000 jiwa
menampakkan betapa sungkawa asri mencagarkan lara dari liuk relung kulawangsa

dan malam itu kita bersaksi tiada seranah selain liur anyir dari hidu darah pagebluk
yang tengkurap enas mengenyam musim bahagia di mana wabah sekepal mangkuk
   : aglutinasi erang sepetak tabah, sepukal jentaka pun linang dari mata keharuan
layaknya eritrosit di tepi abad––menggumpal bak tuak sepekat legam kecemasan

semenjana, kekalutan meneroka berbenggil-benggil gelabah wabah
tunggang-tunggit mandam dalam carut-marut epidemi buas meruah
layaknya denyut monitor pun ingar sirene sepanjang malam menyayat pekak tunarungu
mengisahkan keriau isak dari deru parau kalabendu; dari kembang-kempis kalpataru

   dan adakah kerisauan menjelma setangkup lila dari bangkup sekujur awak?   dari liyan nestapa sonder huru-hara; sonder kelut-melut peredaran darah pagebluk

(Solo, 2021)


Terhadap Warakawuri

Sisakan tumbang kalpataru yang rampung ambruk
selepas sedihmu menewaskan bara anak-anak firdaus
bergemuruh jemala terisak
kembara tiada sempat berpulang
walakin bekal habis sudah, tungkaimu terkilir lebam-lebam
tapi tidak dengan
nelangsa yang menginap
dari dua manikam matamu

Betapa cendayam nayammu gusar menyaksikan
kembang-kembang ditanam dalam tubuh kekasihmu
pesara yang sempat kau dongengkan di waktu malam
perihal kematian dan kerinduan
anak-anak mengurung cemas dalam kesunyian
semacam dering beker yang mengentak kantukmu
dan dari bangunmu, jam pun tak tampak
habis kau dikoyak balada!

telah tandas bahagia
kesepian kini merajut tubuhmu yang gigil
tiap belulangmu bungkam mengaram rintih
seperti sebuah prosopon yang diulang-ulang
aku merindukanmu
aku merindukanmu
jemput aku ayah

seketika, kau lupa rute ibadah dan doa
sebab kesedihanmu ialah niscaya
dan kematian tinggallah menunggu hari

(Solo, 2021)


Mencangking Problematik

Ode begitu mewah tiap kali
asterik tewas di tendasmu terbelah sebelas
menjadi kepingan nebula di mana kau bermalam
sejenak terusik––sejenak menyelinap––sejenak
tafakur diam, hening.

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kuredam segenap sambat.

Semenjana dalam simpang yojana
dua gelintir bocah rambu apel sibuk berkutat
ihwal kemerdekaan––ihwal pembebasan dari
rasa lapar pun dahaga, tiap kali mereka ketuk
jendela mobil sekadar menyisakan lambai

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kupendam segenap maslahat.

Dalam sembahyang kandidat penumpang kehidupan
mengijabah segenap ketabahan pagi di sepetak kios renta
dalam rutuk tuan gardu, mendeportasi kantuk bohemian
sebab demikianlah tiba waktu mencangking problematik

demikianlah kita ulik enigma kehidupan.

(Solo, 2021)


Menanam Kulawangsa

/1
Sedari ibu tanak akasku dalam sebotol kempung susu
aku kenyang gizi, merimbuni gelak tawa pada binar ibu
yang dahulu gemar muram, mengenyam sendu jua sembilu
semenjana kian ranumlah aku, dimatangkan panci waktu

/2
Ibu tanam aku pada semangkuk tawar air hujan di pagi
barangkali menyerupa air mata, atau dahaga suatu elegi
tapi tidak––ibu sirami pot-pot tubuhku dengan senyum laksmi
betapa juita, aku diayun pada hangat gendongnya yang asri

/3
Ibu beri aku rekah mentari kala gulita semata lelap tertidur
dan aku pesam terkantuk nyenyak di bawah lindung tafakur
seperti ketika ibu berdongeng, aku cendera semalam suntuk
hingga purna lekang kuntumku, tumbuh subur: terbentur dan terbentuk

/4
Sebagaimana sembilan purnama lalu,
ibu menimbunku dalam tanah yang tabah menyeduh kalabendu
agar sesampainya kelak mencagarkan cendayam ibu, rautnya––
kakinya yang tak lagi tangguh; raganya yang tengah separuh renta
sebab kala ibu menanamku, aku tumbuh serupa rumah kulawangsa
menjadi semayam bermalamnya lelah ibu, akan poranda bumantara

Bund, aku tumbuh seperti kembang yang kau tanam
purna merekah bagai kuntum kulawangsa melaram


(Solo, 2021)


Steik Wagyu & Bahagianya
     : buat bohemian dan antek-anteknya

Pagi ini aku memilih cemas dengan radang mengering & kritis di kepala
jalan-jalan yang ditutup ialah keniscayaan rindu memuisikan segenap hela
aku kadung mengutuki terminal yang disepikan suara kerincing koin pengamen
hingga berdiam menyulut waktu pada kepul sigaret pengantar amin

aku berlari mengejar langit yang katanya masih biru
tapi tidak dengan kaca mata hitam di kepalaku yang mengharu
menemui para pengail TPA dengan elegi disenandungkan mereka
& aku menanyai perihal pagi, “Masihkah kau menanti mentari & pelangi?”namun mereka menggeleng & lebih memilih steik wagyu di prospektus
aku memerangi kalut, menggandengnya menjajah resto mahal

di bibirnya sekadar melongo sekelebat menit
ludahnya mengintip di sela lusuh papila legam
aku menelan cemas,
mereka geming––katanya tiada pagi selain hujan yang berpelangi
sedang aku melamun: kekalahan ini ialah maksud dari syukur

(Solo, 2021)


Dimuseumkan Musim Hujan

Rejung yang kejang dibacakan isak sepanjang kemarau mengerang
tapi kita dilautkan dengan gebyur air garam yang menggenang
& tangis di teduh wajahmu sirna dilahap ombak yang liar
hingga melupa sakit apa yang dahulu membara–menguar

aku dipepet senang dengan napas kering akibat gemar tertawa
& memilih meredam lara demi mendapat rangkulmu di rawa
akankah sore menjadi oranye bila kita tiba di lembah?
hingga hadir hujan membekuk kita yang gelebah
terjebak dalam isolir kata yang temaram di waktu senja
kita menantang semesta, masihkah tangismu urung reda?
tiada jawab selain gemuruh dalam ingar jemala

sialnya mataku ialah pagi yang tak mengenal malam
walau dimuseumkan hujan & gigil di sekujur tubuh
mengapa kita tampak seperti bunga dan kupu menganga?
kuncup di kepalamu––aku segan mengecup sekalipun ingin

maka,
kubiarkan saja indah tubuhmu
dimuseumkan musim hujan yang kekal
biar aku tak perlu lagi mengincar dirimu
/ memandangimu dari jauh & dalam diam
sebab kini kau abadi di musim hujan

(Solo, 2021)


Perjamuan Basilika

perkenankanlah tuan dengan jumbai menyapu lantai
kami pegang ikalnya dengan iman & yakin yang dibantai
hingga seorang yang lain menghardik diam––masa bodoh!
tapi kami memilih nekat dengan ingin yang mengaduh

satu-satunya jalan ialah memperkenankan iman kami disumpah
dengan keteguhan diolok––dimaki bak ludah tong sampah
& semata mengangguk bagai seekor guk-guk yang beloon
menyeduh teh & adonan manis perjamuan di sudut peron

masihkah serapah didendang kebodohan?

sebetulnya kami kasihan,
tapi toh dalam basilika kami tak mengenal rintihan
juga lara & bisikan lusifer dari jantung manusia picik
mereka lupa darat––maka duduklah menikmati licik

& tiba di muka orang banyak singgah dengan jubah putih
mereka mengangkat cawan berisikan anggur merah yang
disebut dunia wiski
melampau seni sebuah dosa
tapi aku tak mau mendalami keindahan maut
sebab tibalah perjamuan basilika menyuguh kekudusan

(Solo, 2021)


Sorai Hari Esok

(i)
adakah kau, kelana sepanjang berantah Bekasi–Karawang
kita bersaksi seakan bahagia- begitu subur tumbuh berada
tentang bagaimana kita melupa
          persoalan lusa kemarin atau
               barangkali tahun kalabendu
sebab kala bahagia purna lahir dari rahim sungkawamu –
          sisakan setitik renung untuk
               kubawa pulang …

(ii)
esok kita bertarung kembali seperti bergerilya hari ini
mengijabah perjuangan ibu– dan doa kekasihnya …
sebagaimana cinta merekah
         dari kuntum mawar merah
             menyapu-lenyapkan sedih
                 & segala-gala murungmu

bahagiamu ialah niscaya
nyenyaklah berlibur dalam tidur
kelak gaduh kita tuai bahagia
sebelum akhirnya kau melindur
atas sorak-sorai hari esok …

(Solo, 2021)


Vania Kharizma, lahir di Solo, Jawa Tengah––tahun 2003. Hobi mencuci piring dan mendengarkan lagu. Prestasi terbaik ialah Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan STAHN Mpu Kuturan Singaraja Bali, dan pemuisi terbaik yang mendapat penghargaan bupati dr. Cellica Nurrachadiana dalam rangka HUT Kab. Karawang. Beberapa dirinya di e-mail: [email protected] ; Instagram: @vaniakharizma.