Cerpen

Perempuan yang Berencana Mati Hari Ini

Cerpen Tiqom Tarra

Aku sedang bersiap dengan alat pancingku ketika melihat perempuan itu duduk sendirian di antara bebatuan karang agak menjauh dari dermaga. Aku tak berniat mengganggunya atau pun mengusik kegiatannya. Tempat ini adalah tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu dengan memancing dan perempuan itu bebas berada di sana karena ini adalah tempat umum bagi siapa saja. Namun, ketika perempuan itu mulai terisak—bercampur dengan deru ombak sehingga aku tidak begitu menyadari sebelumnya—aku mulai menoleh padanya. Ada apa? Kenapa perempuan itu tiba-tiba menangis? Aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun selain kami berdua di tempat ini. Orang-orang lebih memilih dermaga untuk memancing. Dan aku tak yakin apakah aku harus menanyakan keadaan perempuan itu dalam situasi seperti ini.

Tentu itu sebetulnya bukan urusanku. Setiap orang punya urusannya sendiri-sendiri di tempat ini, seperti aku yang hanya ingin memancing sebagai hobiku untuk mengisi waktu luang di sore hari. Ketika aku mulai melempar umpanku yang pertama kali, isakan dari perempuan itu semakin terdengar seolah dia ingin aku bertanya ada apa; seolah ingin aku memperhatikannya.

Ah, itu bukan urusanku, begitu kuyakinkan diri. Namun, ketika melihat wajahnya yang sembab dan air mata yang menderas, aku teringat pada mendiang anak perempuanku; hatiku luluh. Anggaplah perempuan itu memang sedang butuh kawan sekarang. Kutarik pancingku sebelum melangkah pada perempuan itu.

“Kau juga suka melihat ombak di sore hari?” tanyaku membuatnya tersentak seolah sedari tadi dia tidak menyadari keberadaanku, padahal dia yang menarik perhatianku dengan isakannya.

Perempuan itu tak menjawab. Dia hanya menyeka ingus dan air matanya dengan ujung lengan sweter sebelum kembali terisak dengan gigil di tubuhnya. Anak perempuanku pasti seumuran dengannya jika masih hidup. Dulu aku terbiasa menghadapi anak perempuanku jika tengah merajuk atau pun bersedih.

“Kau bisa bercerita apa saja pada ombak. Dia pintar menjaga rahasia.”

“Itu bukan urusanmu, Pak Tua!”

Aku terkekeh mendengarnya. Pak tua. Ya, itu memang panggilan yang pantas untukku karena uban yang begitu lebat di kepala. Aku duduk beberapa langkah darinya sembari memakai topi kesayanganku untuk menutupi uban yang sudah keburu ketahuan oleh perempuan itu.

“Enam puluh lima tahun memang sudah cukup tua untuk hidup di dunia ini. Mungkin sebentar lagi aku akan selesai.”

Perempuan itu tidak lagi bersuara. Kebisuan hadir di antara kami. Mungkin harusnya aku membiarkannya sendiri, tapi lagi-lagi aku teringat mendiang Mei, anak perempuanku. Angin pantai yang begitu kuat nyaris menerbangkan topiku. Beberapa tahun yang lalu, aku dan Mei sering menghabiskan waktu di sini. Aku memancing, sedangkan dia hanya duduk memperhatikanku sambil bercerita tentang sekolahnya, tentang teman-temannya dan ketika aku berhasil menangkap seekor ikan maka Mei akan berjingkrak dengan riang seolah itu adalah ikan yang akan menjadi makan malam yang paling dia nantikan.

Aku tersenyum mengingatnya. Andai Mei masih hidup. Mendadak hatiku diserang lara.

“Aku berencana untuk mati hari ini.” Perempuan itu tiba-tiba bersuara, mengaburkan ingatanku tentang Mei.

Kembali angin menderu dengan kencang, kali ini menerbangkan helaian rambut panjang perempuan itu. Dia tidak menghiraukan rambut panjangnya yang terbawa angin, sedangkan aku masih terpaku di tempatku; kehilangan kata-kata. Berencana untuk mati? Maksudnya bunuh diri? Itu kata-kata yang asing, tetapi juga sangat familier bagiku.

“Pasti akan lebih baik bagi keluargaku jika aku mati, bukan?” Kali ini perempuan itu menoleh padaku. Bibirnya membentuk senyum yang dipaksa, sedangkan matanya merah karena terus dipaksa mengeluarkan air mata.

“Tidak ada yang baik dalam sebuah kematian, apalagi yang direncana.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku. Andai saja bisa aku ingin mengatakan kata-kata itu pula pada Mei.

“Aku tidak tahu bagaimana menghadapi dunia dengan keadaanku sekarang.”

“Apa kau punya teman?”

“Bahkan teman yang paling karib pun pergi meninggalkanku.”

“Tapi keluarga tidak akan pergi meninggalkanmu.”

Perempuan itu kembali terisak. Kali ini dia memeluk kedua lutut untuk menenggelamkan kepalanya, membuatku tidak lagi bisa melihat wajahnya yang ayu.

“Aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini.” isaknya begitu pilu.

Angin kembali menyeret-nyeret ingatanku tentang Mei. Belasan tahun lalu menjadi hari paling memilukan dalam hidupku. Aku mendapat sebuah telepon, deringnya terasa begitu aneh bagiku, padahal setiap hari aku mendengar dering yang sama setiap kali mendapat panggilan telepon. Namun, hari itu ada yang aneh dengan deringnya. Dan ketika aku mengangkat telepon itu, suara di ujung sana mengatakan anak perempuanku ada di rumah sakit, kecelakaan katanya. Tidak, kau bohong, begitu kataku. Ketika aku sampai di rumah sakit, aku bahkan tidak bisa mengenali putri semata wayangku.

Sehari kemudian Mei dimakamkan dengan semua air mata yang keluarga kami punya. Putriku satu-satunya, orang yang paling aku sayang di dunia ini pergi meninggalkan kami. Istriku pingsan beberapa kali dan aku tidak tahu harus bagaimana menggambarkan kesedihanku. Rasanya kebahagiaan telah dicabut dari keluargaku. Mentari keluargaku telah pergi untuk selamanya. Setelahnya hanya ada kemuraman di rumah kami, meski kemudian aku dan istri bisa kembali menata kehidupan. Kami bangkit dari kesedihan, walaupun aku tidak pernah bercerita pada istriku tentang pesan terakhir yang Mei kirim padaku. Sebuah permohonan maaf dan ucapan selamat tinggal yang tidak bisa aku pahami maksudnya.

“Aku telah mengucapkan selamat tinggal pada ayah ibuku hari ini.” Perempuan itu telah menegakkan kembali tubuhnya. Matanya menatap jauh pada lautan yang luas di depan sana. Rambutnya yang panjang kini dia ikat menjadi satu; menampakkan lehernya yang jenjang.

Kapal-kapal kecil penangkap ikan mulai melaut dan menjauh dari pandangan; semakin jauh dan semakin kecil. Aku ingat impianku bersama Mei, kami ingin naik kapal pesiar suatu hari nanti. Sebuah kapal yang amat besar dengan fasilitas seperti hotel bintang lima, begitu katanya. Namun, yang terjadi Mei menaiki kapalnya sendiri dan meninggalkan kami dengan sebuah permohonan maaf dan selamat tinggal yang ganjil.

Apa yang terjadi pada Mei? Apa yang membuatnya menyerah pada hidupnya yang masih panjang. Aku ingat sehari sebelumnya dia bercerita tentang impian untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Mei ingin membuat Ayah bangga, begitu katanya. Aku masih tidak mengerti, bagaimanapun aku memikirkannya.

“Tapi itu bukan selamat tinggal seperti yang dibayangkan orangtuamu.” Kali ini aku mendebat. Bagaimana pun perempuan ini telah mengatakan rencananya untuk mati hari ini dan aku tidak bisa membiarkannya. Setidaknya jika aku tidak bisa menyelamatkan Mei, aku bisa menyelamatkan perempuan ini.

“Mereka bahkan tidak akan memusingkan tentang kematianku.” Kali ini perempuan itu membiarkanku melihat wajah yang sembap. Kepiluan yang menyanyat-nyayat hati. Rasa putus asa yang sudah tidak lagi berujung. Dan di sana hanya ada kegelapan.

Di awal-awal tahun kepergian Mei, aku memikirkan dengan keras apa alasannya meninggalkan kami. Apa yang tengah dialami seorang Mei dan tidak pernah dia ceritakan padaku atau pun ibunya, sedangkan sejak kecil tidak pernah ada satu cerita pun yang luput dia cerita pada kami. Apa yang Mei rahasiakan? Apa yang membuatnya nekat melompat ke rel tepat ketika kereta itu datang. Aku sama sekali tidak punya petunjuk.

“Apa yang terjadi?” desisku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putriku. Pertanyaan yang selama ini hanya sampai pada angan-anganku karena aku tidak mau membuat istriku sedih dengan memikirkan kematian putri kami.

“Suara-suara dalam kepalaku begitu gaduh dan tidak ada lagi tempat yang bisa aku tuju, Pak Tua. Aku takut sendirian, tapi nyatanya aku memang sendirian.”

Mungkin perempuan ini memang tidak lagi punya alasan untuk hidupnya; entah sekadar sebuah alasan kecil untuk melanjutkan hidup seperti keluarga. Akan tetapi, Mei adalah seorang anak yang aku besarkan dalam kehangatan keluarga. Semua kasih sayang tercurah hanya untuknya. Mei dan perempuan di sampingku ini jelas berbeda.

“Kau bisa bercerita apa pun padaku,” terdengar seperti sebuah gombalan laki-laki hidung belang.

Perempuan itu hanya tersenyum sayu. Anak-anak rambutnya beterbangan menyapu wajahnya.

“Bisakah kau bertahan sebentar lagi, setidaknya untuk hal-hal kecil seperti aku menunggu ikan memakan kailku?”

Hening. Baik aku maupun perempuan itu hanya larut pada pikiran masing-masing. Kami diam memandang senja yang semakin turun hingga hari mulai menjadi gelap tanpa kami rasa.

“Bukankah putrimu juga meninggalkanmu, Pak Tua?”

Aku tidak tahu bagaimana perempuan itu tahu tentang putriku. Aku masih tergagap hendak bertanya ketika perempuan itu berdiri, bersiap untuk pergi.

“Aku tidak ingin mati di hadapan orang yang mendengar kisahku. Aku akan tetap mati hari ini seperti yang telah aku rencanakan.” Perempuan itu mulai melangkah. Ujung sweternya berkibar tertiup angin yang kencang menampilkan perutnya yang membuncit. Itu sekitar lima atau enam bulan, bukan? Aku tahu karena dulu aku selalu memperhatikan kehamilan istriku.

“Tunggu, siapa namamu?”

“Mei. Namaku Mei.”***


Tiqom Tarra, lahir dan besar di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di pelbagai media. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

Monolog Guru Rahwana

Cerpen Era Ari Astanto

Jika di luar sana kau mendengar kabar tentang Shinta yang tidak terbakar api suci, itu atas peranku meski tidak ada yang tahu tentang ini. Aku tidak berminat orang mengetahuinya, itu semata-mata untuk menyelamatkan Rahwana dari syak wasangka yang terlalu buruk dari orang-orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Dan tentu saja karena tidak bisa menyelamatkan hidupnya dan kerajaannya dari amukan Rama dan bala tentaranya.

Rahwana itu satu-satunya muridku. Dan aku tahu, aku bukanlah gurunya satu-satunya. Jadi, wajar jika dia memiliki kemampuan kanuragan dan kadigdayaan yang luar biasa. Pengetahuannya tentang tata negara pun luar biasa. Meskipun dia bengal dan kejam, perjuangannya untuk menyejahterakan rakyat Praja Alengka tak terbantahkan. Rakyat Alengka mengelu-elukannya sebagai raja yang agung dan sangat peduli dengan rakyat. Bukankah dulu kau pernah menjelajah seluruh wilayah Alengka, apakah kau melihat ada jalan-jalan kecil di desa-desa pelosok yang berlubang atau bergelombang yang jika dilalui kereta akan membuat gujlak-gujlak? Apakah kau melihat ada rakyat yang memulung sampah untuk bertahan hidup? Apakah kau mendengar ada rakyat yang mengeluh soal harga sembako atau kesulitan soal biaya sehari-hari? Bukankah setiap kali kau mampir di warung yang kau dengar dari pengunjung adalah kebanggaan mereka terhadap Rahwana? Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan.

Sekali lagi, Rahwana itu memang kejam dan bengal, tapi bukan kepada rakyatnya. Dia hanya akan kejam terhadap orang yang melanggar perintah dan peraturan kerajaan. Atau terhadap kerajaan lain yang menjadi rekan bisnisnya: jika terendus melanggar perjanjian atau berusaha mengusik ekonomi rakyatnya maka dia tidak akan segan mencaplok kerajaan itu menjadi wilayahnya atau menjadi ladang permainannya.

Tetapi, Rahwana itu manusia biasa dan lelaki yang memiliki hasrat yang tinggi terhadap perempuan. Meski begitu, dia selalu menikahi perempuan-perempuan itu dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Dari sekian banyak wanita yang dijadikannya sebagai istri, tidak ada satupun dari mereka yang telantar. Karena itulah aku membiarkannya mencari wanita sebanyak apa pun yang dia mau. Namun aku tahu, hanya ada satu wanita di hatinya: Dewi Mandodari.

Sayangnya Dewi Mandodari telah mati, sejak itulah dia berburu perempuan untuk menggantikan Dewi Mandodari di hatinya. Perempuan mana pun yang memiliki kemiripan dengan istri tercintanya itu akan dia dekati dan nikahi dengan cara apa pun. Jika perempuan itu adalah rakyatnya sendiri dan sudah bersuami, dia akan memintanya dari suaminya. Sejauh ini tidak ada suami yang menolak permintaan Rahwana, pun perempuan tersebut. Karena memang Rahwana memberinya ganti yang layak: kepada suami tersebut akan dibiarkan memilih salah satu istri Rahwana dan masih diberi harta, kepada keluarga wanita akan diberi harta. Namun, jika perempuan itu dari kerajaan lain, dia tidak segan merampasnya–inilah sifat Rahwana yang aku sedihkan karena menjadi malapetaka baginya dan Alengka.

Ya, seperti yang telah kalian dengar, Rahwana memang menculik Dewi Shinta ketika Rama dan Laksmana pergi mengejar kijang jelmaan Marica, anak buah Rahwana. Bukan takut menghadapi Rama dan Laksamana, tapi inilah kecerdikan Rahwana. Bahkan dia tidak mau atau tidak bisa menjebol pagar gaib yang dibuat Laksamana ketika hendak menyusul Rama atas permintaan Shinta. Ini pun bentuk kecerdikannya lagi. Dan dengan kecerdikannya memanfaatkan sifat dasar perempuan, dia berhasil membawa Shinta ke Alengka setelah sempat bertarung dan mengalahkan Jatayu.

Biar bagaimana pun, perampasan tetaplah perampasan dan aku tidak menyukai yang telah dilakukan Rahwana terhadap Shinta. Namun, aku masih menaruh bangga terhadapnya. Meskipun dia bisa melakukan apa pun kepada Shinta, tapi dia tidak berbuat terlalu jauh terhadapanya. Kurasa wajar jika Rahwana sampai menyentuh sebagian tubuh Shinta yang memang mirip dengan Dewi Mandodari. Wajar pula jika dia tergila-gila sehingga mengaku dan meyakini bahwa Shinta merupakan titisan mendiang istrinya itu. Namun, aku tidak mau merestuinya menikahi Shinta karena aku melihat badai akan menghancurkan Alengka jika sampai dia menikahi Shinta atau membiarkannya tinggal di Alengka.

Aku mengenal Rama dan Laksamana, meskipun dia hanyalah pangeran yang terusir, tapi cepat atau lambat dia pasti bisa menggalang kekuatan yang mampu menghancurkan Alengka. Sederhana, terusirnya Rama dari Ayodya adalah hinaan baginya dan dia tidak ingin terhina lebih jauh lagi dengan membiarkan istrinya diculik. Pun dia akan sangat malu kepada mertuanya, Prabu Janaka, karena tidak bisa menjaga seorang wanita yang bahkan sudah diseretnya ke dalam penderitaan di hutan belantara. Rama itu memiliki kemampuan sebagai koordinator dan orator yang teramat baik. Jadi bukan tidak mungkin dia mampu meyakinkan banyak pihak untuk mendukungnya merebut kembali Shinta.

“Itu tidak akan terjadi, Bapa Guru. Alengka tak terkalahkan. Sepuluh Ayodya pun tak akan mampu menandingi Alengka.”

“Ya. Aku percaya itu. Tapi, Ngger, Rahwana, meski kau keturunan resi sakti keturunan dewa kau masih manusia yang dilekati rasa sakit, lupa, dan nasib apes. Kecerdasanmu ada kalanya lenyap begitu saja karena sifat lupa yang datang tiba-tiba. Kesaktianmu akan ada kalanya tak berguna karena nasib apes yang sudah waktunya menghampirimu.”

“Tapi, tak ada yang tahu kelemahanku, Guru. Aku tak akan tersentuh kematian. Hanya manusia berwujud binatang yang bisa mengalahkanku. Kurasa tidak ada makhluk seperti itu di jagad wayang ini.”

Aku hanya mengangguk-angguk. Bukan sependapat dengan Rahwana, tapi berpantang mengatakan hal yang lebih jauh, yang bukan wilayah manusia. Aku berpikir keras menemukan cara agar dia tidak lupa daratan.

“Kau mungkin tidak akan mati, Ngger. Tapi berapa banyak pasukanmu yang akan kau korbankan? Berapa banyak rakyatmu yang akan ikut menanggung kejamnya perang? Biar bagaimanapun perang mempertahankan seorang wanita itu bukan perang suci.”

“Itu akan menjadi perang suci jika Guru berkenan merestuiku menikahi Shinta. Seperti yang Guru katakan bahwa istri adalah kesucian suami, adalah harga diri suami. Jika dia seorang istri raja maka dia adalah harga diri dan kesucian kerajaan.”

“Ya. Aku masih ingat perkataanku itu. Tapi, Ngger, Shinta itu tidak sepantasnya kamu nikahi. Dia adalah darah dagingmu sendiri dengan selirmu yang telah kau tukar dengan istri seorang pemuda desa. Saat itu dia telah mengandung anakmu. Tidakkah kau mengetahuinya?”

Rahwana menatapku tajam. Aku tahu itu bukan tatapan benci. Dia hanya meminta ketegasan. Karena itu aku mengangguk mantap.

“Tapi, dia adalah anak Prabu Janaka?”

“Lelaki yang tidak bisa berpikir itu tidak ingin memelihara anak orang lain, meski anak itu adalah anak raja, kemudian membuangnya di ladang. Prabu Janaka yang sedang berkeliling menemukan bayi itu. Karena tidak punya anak, dia mengambil anak itu sebagai anaknya. Begitu cerita singkatnya, Ngger.”

“Akan aku bunuh lelaki kurang ajar itu.” Rahwana berkata sambil memukulkan tangannya yang terkepal.

“Tidak perlu, Ngger. Kau semestinya senang karena anakmu tumbuh dan besar di tangan seorang raja, meski raja kecil.”

Rahwana mengangguk, “Tapi, aku sangat sulit menerima kenyataan ini, Guru. Aku sangat mencintainya dan ingin menikahinya.”

Aku menangkap gurat sedih di wajah angker Rahwana yang kemudian menunduk. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa melakukannya demi menyelamatkan dia dan Alengka. Aku bisa saja menyarankan kepadanya untuk membunuh Rama dan Laksamana saat itu juga. Namun, itu akan mencoreng keperkasaan dan harga diri muridku satu-satunya ini. “Sebaiknya, kau kembalikan Shinta ke hutan itu lagi, Ngger. Atau kepada Prabu Janaka. Itu akan lebih baik bagimu dan Alengka.”

“Maafkan aku, Guru. Dia anakku, dan akan kupelihara dia di Alengka. Tak akan kubiarkan dia hidup di hutan rimba itu. Aku bersumpah tak akan menjamahnya lagi, Guru.”

“Aku percaya kepadaku, Ngger. Tapi, bagaimana dengan Rama dan Laksamana?”

“Aku akan mengundangnya. Dan akan kuresmikan dia sebagai menantuku.”

Aku senang dengan keputusan Rahwana. Dia mengutus prajuritnya untuk memberikan surat undangan itu kepada Rama. Namun, bertahun-tahun Rama tak pernah datang. Malahan dia mengutus monyet untuk menjemput Shinta secara diam-diam, seperti maling. Hingga timbul keributan dan sebagian kecil istana terbakar oleh ulah monyet itu.

Tentu saja Rahwana menganggap itu sebagai tantangan perang. Apa yang menjadi kehendak langit tak bisa dihindari. Perang tak terelakkan. Seluruh saudara Rahwana gugur. Alengka porak-poranda. Nyaris habis seluruh prajurit Alengka. Seluruh rakyat kotaraja pun menjadi korban.

Aku hanya bisa mematung dengan dada sesak, berlinang menatap kobaran api dan kemegahan kotaraja Alengka berubah menjadi reruntuhan yang rata dengan tanah.

Aku masih bisa berpikir, aku tidak bisa terima jika kelak Rahwana akan dianggap sebagai maling istri orang. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan namanya dari kehinaan total. Satu-satunya cara hanyalah dengan menyelamatkan Shinta dari kematian di api suci. Biar bagaimanapun Rahwana mengaku kepadaku sudah terlanjur menjamah sebagian tubuh Shinta meskipun tidak sampai menyentuh pagar kehormatan Shinta.

Ya. Dengan kesaktianku diam-diam aku bisa menyelamatkan Shinta.***


Era Ari Astanto, penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Puisi

Puisi Y Agusta Akhir

Nyantaka

Dalam rupa kera, perempuan yang semula jelita

menjura di depan ramandanya

sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.

sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu

nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.

Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda

mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta

kini ia kera yang merupa katak: nyantaka

dengan penuh harap, terbebas dari karma

Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya

menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun

daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta

yang mengantar masuk ke mulutnya

dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru

kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera

tetapi ia, tersebab karma telah purna

kembali menjadi jelita.

Surakarta, Maret, 2022


Supata Drupadi

Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan

adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.

Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat

berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong

lintah atau segumpal nanah?

Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan

di negeri ramandanya, Pancala,

sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya

: Pandawa

Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis

membuat telinganya begitu pekak

Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya

Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya

yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang

dan kembali terdengar tawa seratus iblis.

Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya

mengurai sanggulnya, tetapi

gagal menelanjanginya.

Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai

beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.

Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai

ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!

Surakarta, Maret 2022


Palgunadi

Aku adalah murid yang mencari guru

katamu pada sebongkah batu yang kau pahat

menyerupai Drona

Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,

kau berlatih kanuragan

merentang sejauh mungkin gendewa

membidikkan jumparing pada mata hidup

yang kian miring.

Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna

sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi

senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.

maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu

mendadak bisa bicara.

: gerangan apa yang membuat dirimu

bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya

Bambang Ekalaya?

Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata

takzim penuh hormat, sembari menunjukkan

ibu jarimu

Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka

di hatimu.

: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi

di balik patung Drona.

O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid

terhadap gurunya?

Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.

Dan apakah diperkenankan seorang

guru meminjam pusaka milik muridnya?

Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.

Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri

demi menghormat pada sang guru.

Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.

Sebuah suara yang entah datang dari mana

mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.

Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.

Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.

Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu

tanpa mengaduh

: tak ada tetes darah

terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar

tetapi mendadak dadamu berlubang

namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal

membawamu terbang ke langit

Kelak, dalam gaduh baratayuda

kau manjing di raga Destrajumena

memenggal kepala Drona yang tengah kalap

tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.

Solo, Desember 2022


Aswatama

Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria

maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan

meramaikan pesta darah di Kurusetra.

Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta

tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku

Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting

Betapa aku merindu padamu

Padamu

Hanya padamu

Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar

di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang

menyelinap mengendap mencecap  birahimu

di belakang Duryudana yang tolol.

O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal

sesungguhnya telah batal.

Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku

yang menyimpan selaksa resah

: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta

Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu

Banowati.

Justru aku-lah yang merenggut hidupmu

Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku

Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut

Solo, Oktober 2019


Duka Duryudana

Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur

tetapi hatiku yang lebur

ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin

yang muram

perempuan itu bernama Surtikanti

yang telah mengepung hatinya dengan

seribu satu panah cinta yang berlesatan

dari setiap inci tubuh sang kekasih

cinta hanya sampai di ambang nyata

tersebab Surtikanti lebih memilih

Karna

Duryudana, sekalipun memendam luka perih

tetap mengalah

merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata

Maka Banowati perempuan molek yang binal

sebagai penggantinya

tetapi cinta sang raja betapa sial

perempuan itu bermain mata dengan Arjuna

yang nakal

Apakah aku masih sanggup menampung luka?

Bayangannya mendadak retak di cermin

Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya

menghampar di matanya

: Setelah satu demi satu saudaranya gugur

Banowati, ah, betapa malang

keris Aswatama menancap di dadanya.  

Solo, Desember 2022


Duka Kunthi

Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?

adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak

kuasa membendung air mata

mengeja takdir yang penuh galaba

: Baratayudha

dalam kecamuk sawala sesama wangsa

ibu tak akan menakar siapa salah

siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa

setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!

adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan

dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa

tetapi kehamilan adalah aib

maka ibu melarungnya di Gangga yang murung

lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,

Parasurama hingga Mahaguru Drona

sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut

hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang

di musim penghujan

dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain

dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?

setiap ibu hanya melahirkan kesucian

tak seorang pun bisa lebih memahami

yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri

bahkan dewa-dewa

juga Kresna, sang penjaga takdir itu

ibu tetap berduka atas kematian Basukarna

betapapun mencoba

derana

Surakarta, Februari 2022


Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.

Cerpen

Malam

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Aku masih memikirkan pernyataan orang-orang tentang malam. Perihal saat yang tepat memikirkan runyamnya hidup atau waktu terbaik memohon sesuatu kepada Tuhan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru pikiranku hampir tak pernah bermuara ke persoalan itu. Terus terang saja, setiap kali mencoba, aku seolah-olah gagal mengejawantahkan pernyataan mereka.

Termasuk malam ini. Aku menikmati kopi dan menyulut rokok, sendiri, di teras rumah sembari memikirkan dunia. Sangar bukan? Memikirkan dunia! Kataku.  Tapi itu yang sering dibilang teman-temanku di tongkrongan. Sementara, di duniaku, yang selalu terbayang hanyalah Sheila Dara Aisha, pemeran Aurora dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Aku tidak membual, Sheila memang menguasai pikiranku dan aku ingin sekali menemaninya melukis. Andai saja terjadi, aku ingin menemaninya menangkap momen daun jatuh seperti yang terlihat di halaman: dari melayang hingga tersungkur menabrak pagar.

Pikiranmu penuh dunia fiksi, bodoh! teriak pikiranku di sisi lain.

Tentu saja kehadiran teriakan itu tidak datang begitu saja. Itu terjadi setelah aku berulang kali cerita kepada teman-teman perihal kecintaanku menonton film. Kata mereka seharusnya aku menyadari bahwa hidup adalah kenyataan, dan apa untungnya membayangkan hidup seperti dunia fiksi? Dasar aneh! masih di sisi yang sama, pikiranku semakin terbakar mendukung mereka.

Tapi, apa yang mereka tahu soal kenyataan selama masih menghabiskan duit buat judi slot? Hanya karena alasan itu, lantas berani-beraninya menganggapku tidak menyadari hidup, memang ada-ada saja perangainya. Sebenarnya aku ingin membalas dengan sok-sokan filosofis, sayang aku terlanjur mati kutu ketika mereka lebih dulu mengatakan: Kenyataan hidup adalah berjudi, maka kita perlu praktik kecilnya.

Mungkin, mereka hanya sekadar melihat bukan menyelami isi setiap film. Ndakik sekali kau! lagi-lagi pikiranku mendesak untuk berperang dengan diriku sendiri. Kubuang rokok yang masih separuh, aku tak mau pusing. Aku ingin menikmati malam, sendiri, sembari menggeser foto Sheila di Instagram. Inilah dunia seharusnya. Begitu, bukan?

Aku memang salah, kuakui itu. Namun apa artinya malam dengan menggantungkan diri pada yang tak terlihat. Dan, bukan berarti aku tidak sepakat dengan pernyataan mereka. Aku hanya ingin malam seperti yang aku bayangkan saja. Aku bosan dengan pengharapan yang membohongi jiwa. Kebablasan kau, Nak, meski terdengar berbisik, pikiranku di sisi lain ini benar-benar menyebalkan.

Aku butuh bantuan untuk mengenal malam lebih jauh. Tidak sendiri maupun dalam kondisi seperti ini. Rasanya sangat tak mengenakan. Kecuali setelah bertemu Ayu besok, malamku bisa saja seperti bayanganku. Sebab temanku yang enggan aku samakan dengan Sheila itu kadang juga sepemikiran denganku. Malam hanyalah waktu yang biasa-biasa saja. Lebih dari itu? nanti dulu. Aku mau tidur.

***

“Kenapa? Padahal kau cerdas, lukisanmu laku mahal, bahkan mengantarmu mendapatkan beasiswa magister di Royal College of Art,” tanyaku kepada Ayu saat kupersamakan dengan aktris kesayanganku itu.

“Hanya itu di pikiranmu? Aku bosan mendengarnya.” Ayu membuka tudung hoodie-nya. “Kau tak ubahnya sama dengan mereka,” desak Ayu sembari mengarahkan telunjuknya kepadaku.

“Malam?”

“Pikiranmu selama ini soal malam, bukan? Mungkin benar yang kaummu katakan, tapi sesampainya mereka di atas kasur, pikirannya tak lebih dari membayangkan tubuh perempuan.”

Obrolan kami terjeda saat pelayan kafe mengantarkan pesanan. Pada saat itu, aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Di sini keadaan tak terlalu riuh, tidak banyak tempat duduk yang diisi lebih dari dua orang. Mereka bercakap pelan sembari sesekali memerhatikan keadaan di luar jendela. Mungkin saja, mereka juga terganggu seperti kami ketika kendaraan berknalpot brong melintas. Sama seperti pernyataan Ayu yang menghardikku, terasa mengejutkan.

Aku menuntut Ayu lebih jauh menjelaskan maksudnya. Kurasa ia orang yang tepat dalam menjawab pertanyaanku. Kubiarkan ia panjang lebar berbicara soal malam. Tentang kesehariannya membuat paper di tengah kesibukan melukis. Ia juga menyinggung betapa beratnya proses mendapat beasiswa untuk belajar ke Inggris. Seiring itu, aku hanya terangguk mengiyakan apa yang keluar dari bibirnya. Aku tak ingin menyela penjelasannya.

Belakangan Ayu lebih banyak menyiapkan keperluannya sebelum terbang seminggu lagi. Ia sangat antusias menceritakan hal yang akan dihadapinya. Terlebih, dalam proses tersebut ia berhasil melewati ribuan pesaingnya. Aku menatap Ayu semakin dalam—mungkin terperangah, ketika ia menceritakan bahwa beberapa kali dipanggil negara menjadi pengisi seminar bagi para pencari beasiswa.

“Aku tak pernah membayangkan, sekarang duniaku sejauh itu,” lanjut Ayu sembari kembali mengangkat tudung hoodie-nya.

Entah mengapa, apa yang baru saja dikatakan Ayu membuatku tersentil. Namun hal itu segera hilang ketika sepasang orang yang duduk di belakang Ayu menjatuhkan gelas. Beberapa saat kami saling bertatapan satu sama lain. Ayu lekas menoleh, ia memandangi mereka dan saat kembali ke posisi sebelumnya mukanya berubah masam.

Kubiarkan Ayu tetap seperti itu. Aku tak mengajaknya berbicara. Tak lama kemudian ia mengambil gawai yang tersembunyi di balik kantong hoodie-nya. Aku tak tahu apa yang ada di balik gawai itu, yang pasti Ayu memunculkan senyum kecil. Mungkin saja ia dihubungi orang terkasih. Sebab ia seperti ragu-ragu ketika akan membalas pesan, hal itu terlihat dari gerak-gerik jarinya yang menggambarkan kirim-tidak-kirim-tidak di atas simbol kirim.

“Kau bisa menikmati malam-malammu, Ayu,” gangguku di tengah keasyikannya dengan gawai.

“Aku tahu isi pikiranmu. Kau menduga aku punya pacar, bukan?”

Entah jin apa yang merasuki perempuan di depanku ini. Ia mampu membaca pikiranku dan aku harus mengelak. Jika tidak kurasa pertemananku akan bermasalah, sebab ia mesti berpikiran bahwa aku sedang cemburu. “Aku ingin membalasmu, sebelum ada gelas pecah tadi,” ucapku sekenanya.

“Mengelak saja terus. Lalu segala curhatmu soal malam kepadaku apa tujuannya?”

Aku tak mengerti harus menjawab apa. Ayu berhasil menyudutkanku, bahkan sejak awal obrolan kami dimulai. Ia sangat sensi dengan apa yang muncul dariku malam ini. Tapi di sisi lain aku sangat membutuhkan dirinya. Akhirnya aku terangguk karena aku tak tahu letak salahku.

“Kurasa yang kau butuhkan di setiap malam bukan lagi bersembunyi, tapi menentukan pilihan: kerja atau cari beasiswa.”

Sontak pikiranku segera melayang. Dua tahun sudah sejak lulus, aku hanya menggantungkan hidup dari orangtua. Ijazahku selama ini hanya tersimpan di lemari. Dan persoalan malam? Rasanya perlu aku tanggalkan. Kini aku merasakan dalam perihal waktu yang sering dikatakan orang-orang mengapa terasa dingin.

Kami tak bercakap lagi. Suasana telah berubah. Agar bisa mengendalikan diri kuseruput vietnam drip pesananku yang terlanjur mendingin. Sebatang rokok juga kusulut kemudian. Asap tembakau terbang ke luar jendela. Ini bukan seperti bayanganku semalam. Ayu baru saja membuatku seperti seorang pesakitan.

“Ayo, pulang,” Ayu menarik tanganku.

Sial kau, batinku di tengah anggukanku menjawab ajakannya. Apakah ia tak melihat bahwa pesananku baru sekali membasahi tenggorokanku. Pula dengan matcha pesanannya, belum tersentuh lagi usai diserahkan pelayan kafe.

Inilah hidup, tiba-tiba pikiranku di sisi lain kembali keluar. “Diam kau!” balasku ketus.

Ayu melepaskan genggamannya dan menoleh kepadaku. Ia berjalan semakin cepat, aku tertinggal beberapa depa di belakangnya. Beberapa pelanggan kafe seperti memerhatikan kami berdua. Kutambah kecepatan langkahku mengejar Ayu.

Kau ini kenapa? Aku tak peduli lagi dengan pikiranku ini. Aku menyuruh diam. Telapak tanganku mendarat di ujung dahiku.***


Rudi Agus Hartanto, putra daerah Mojogedang. Merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret.  Bergiat di komunitas Kamar Kata Karanganyar dan Sanggar Bima Suci.

Cerpen

Panmunjom

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Lee Won Shik melipat suratnya yang ke-1059. Surat-surat penuh cinta yang tak pernah sampai ke tujuannya. Surat itu mustahil menemukan jalannya, lembaran-lembaran kertas itu hanya pelipur lara sang penulis. Lee menggoreskan harapan dan kerinduannya dengan hati-hati. Setiap hari selama ditahan di Utara. Tak apa jika surat untuk istrinya tak sampai, setidaknya surat-surat itu membantunya menghitung hari.

Hari itu seorang serdadu Utara menemukan Lee menulis surat beralaskan lantai semen dalam selnya.

“Hei, Bodoh. Berhentilah menulis catatan harian. Kau seperti perempuan cengeng.” Serdadu Utara itu mengintip di balik jeruji besi. Wajah brengseknya dinodai dua gigi yang tanggal di bagian atas. Mungkin seorang kawan merontokkannya karena mulutnya terlalu besar dan menyebalkan.

Lee memunggunginya. Dia menoleh sedikit tapi tak ingin meladeni. Tujuh teman lain dalam sel itu tertidur walau tak begitu nyenyak. Seseorang tampak menggaruk-garuk kakinya yang digigit kutu. Seorang lagi membuka baju karena panas. Seorang lagi mulai mengigau, mengumpat yang hanya berani dilakukan saat bermimpi. Sementara tiga lainnya mulai gelisah, berusaha memutar posisi tidur, tetapi selalu saling bertabrakan. Mereka kelelahan bekerja pagi hingga malam di pabrik kayu. Sel yang mereka tempati hanya 3×3 meter, memang harus ada pembagian giliran, siapa yang tidur dengan posisi normal, dan siapa yang akan tidur duduk.

“Tidak usah tidur terlalu larut, kalian harus bugar. Besok kalian akan mengucapkan selamat tinggal dan perjalanan akan sangat panjang,” ujar tentara itu sambil berlalu.

Mendengar hal itu, Lee menggosok-gosok surat yang belum selesai dia tulis. Tak bisa dihapus, dia putuskan menulis di bagian belakang kertas. Dia akan menuliskan kembali ucapan serdadu tadi. Selamat tinggal, katanya. Lee yakin bahwa di Panmunjom, Selatan dan Utara pasti telah duduk bersama menyetujui gencatan senjata. Dia kemudian melipat surat itu dan memasukkannya ke sebuah kantung kain yang dibuatnya dari sobekan celana. Surat ke-1059 itu kini bersama-sama surat lainnya. Mungkin surat yang terakhir. Akan diberikannya sekantung surat itu pada Kim Hye Jin, istrinya, saat tiba di Selatan. Kelak, Lee tak perlu mengulang cerita perih seribu hari itu kepada Hye Jin, cukuplah istrinya itu membaca surat-suratnya bagai sekumpulan cerita.

Malam itu Lee Won Shik pikir dia akan bebas. Tak ada lagi pekerjaan di pabrik, tidur dikerumuni lalat, dan makanan yang penuh kutu. Bersama para tawanan perang lainnya, dengan mata tertutup dan kedua tangan diikat, dia diseret naik ke sebuah truk. Mereka berjongkok dengan tubuh saling berimpitan, lutut-lutut kurus kering saling bertabrakan, berdesak-desakan tanpa saling melihat. Para tentara utara itu bahkan tak memberi Lee dan kawan-kawannya air untuk diminum selama perjalanan.

Tiga tahun yang lalu, Lee dan beberapa warga sipil Selatan direkrut untuk ikut berperang. Dengan kemampuan dan senjata seadanya, mereka akhirnya ditangkap pasukan Utara. Sore itu sebelum dimasukkan ke mobil truk, mereka diminta berkumpul di barak utama, sebuah tenda yang paling besar di antara seluruh tenda yang dibangun sementara. Lee, saat itu berpikir bahwa mereka akan dipulangkan. Dia ingat seseorang pernah mengatakan akan memulangkan sebagian dari para tawanan usai gencatan senjata. Tapi mereka tidak punya televisi, radio, atau surat kabar. Mereka tidak tahu kapan kedua wilayah akan melakukan gencatan senjata. Mereka hanya bertahan hidup dengan harapan janji itu akan datang tak lama lagi.

Perjalanan malam itu cukup panjang. Lee mulai kesulitan bernapas, kepalanya berat. Namun, semangat itu membuncah di dadanya. Dia mulai membayangkan truk itu berhenti di perbatasan. Terbayang samar-samar wajah istrinya yang telah lama menunggu. Istrinya bukan lagi gadis belasan tahun. Apakah dia sehat? Apakah dia makan dengan layak? Apakah dia masih setia? Pertanyaan-pertanyaan itu bermain di benak Lee Won Shik, melompat-lompat seperti bola-bola kecemasan dan kebahagiaan yang berkejar-kejaran.

Kenangan akan Selatan, istrinya, dan lagu-lagu Song Min Do, penyanyi wanita yang lagunya sering dia senandungkan, mendadak lenyap ditelan pemandangan yang menghancurkan perasaan. Dia didorong dan ditendang hingga terpental keluar dari truk yang cukup tinggi itu. Kain penutup mata para tawanan dibuka satu per satu. Sebagian tertegun, sebagian terisak. Lee Won Shik, menjadi bagian dari kelompok kedua.

Sebuah terowongan tak berujung tampak di hadapan mereka. Terowongan itu adalah proyek penambangan Utara yang dalam, gelap, dan panas. Para tawanan diminta berbaris memasuki terowongan itu.

“Kau, yang kurus!” teriak seorang tentara Utara berseragam sambil mengacungkan senjata ke arah Lee.

“Kau, iya kau Lee Won Shik, kemari ikut aku.” Seorang tentara lain kemudian menarik lengan Lee dengan paksa, menyeretnya hingga sampai ke salah satu lubang kecil di dinding terowongan. ”Kau masuk pertama”.

Lubang itu kecil sekali, bagaimana mungkin manusia bisa masuk ke sana? Lee mulai merasa khawatir.

“Hei, tak usah banyak berpikir, masuklah!” bentak tentara yang menariknya.

“Dorong saja dia jangan lama-lama,” teriak tentara yang tadi mengacungkan senjata.

Tentara kedua langsung memukul kepala Lee dengan senapannya. “Masukkan kepalamu dulu, merangkak masuk,” perintahnya untuk ke sekian kali.

Aroma gas menyerang masuk ke lubang hidung Lee. Dia merangkak semakin jauh, hampir tidak ada tenaga tersisa. Dia lalu mengintip sedikit ke balik bahunya yang ringkih, tersisa sedikit sinar dari luar. Sinar itu datang dari senter si tentara kedua yang perlahan-lahan redup. Dari kejauhan dia mendengar beberapa kawannya yang memberontak. Mereka melawan tidak ingin masuk ke lubang-lubang bergas itu. Kekacauan terjadi di luar. Rupanya mereka hanya berpindah lokasi pekerjaan. Pabrik kayu ditutup, tetapi mereka harus menjadi budak penambangan Utara.

Lee cemas. Bagaimana mungkin dia bisa tiba di Selatan? Dia bahkan tak lagi bisa melihat lubang kecil yang tadi dilewatinya. Semakin jauh, semakin dia merasa gas itu meracuni paru-parunya. Lubang kecil itu tak tampak lagi, sekelilingnya gelap dan lembap. Tak ada lagi suara, hanya teriakan tentara Utara yang menyuruhnya untuk terus merangkak bergantian dengan suara batuknya yang menyesakkan. Tubuhnya lemas, dia tak lagi bisa merasakan kakinya bergerak. Dia menahan diri untuk tidak makan sejak pagi. Daripada menyantap nasi lembek berkutu, Lee memilih menunggu tiba di rumah menikmati masakan istrinya. Kini dia benar-benar tak berdaya. Keracunan, lapar, dan mati rasa. Lee Won Shik menyerah pada lubang gelap itu, pada nasibnya. Aku, tulang-tulangku, mimpiku, harapanku, biarlah terkubur di sini. Mata Lee Won Shik kemudian perlahan terpejam.

*

Surat Ke-1059.

“Untuk istriku Hye Jin. Aku pernah mendengar seorang serdadu mengatakan hari gencatan senjata di Panmunjom akan segera tiba. Itu artinya kita akan kembali bersua. Aku pikir inilah harinya. Serdadu itu mengatakan esok kami akan mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang perjalanan kami akan panjang. Tunggu aku di rumah. Bila sampai di perbatasan, aku akan berlari sekuat tenaga menemuimu. Jangan hidangkan tahu atau susu kedelai. Aku bukan penjahat yang dipenjarakan. Aku adalah pejuang. Namun, rasanya semua sudah cukup. Aku rindu padamu, perjuangan ini tak sepadan dengan dirimu. Aku akan kembali. Siapkan saja sup dan soju. Nyanyikan lagu ‘Malam Terang Bulan Silla’ untukku nanti. Aku akan pulang. Aku pikir inilah harinya.”***

Catatan:

  • Panmunjom adalah tempat terjadinya perjanjian gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan yang terletak di tengah Zona Demiliterisasi (DMZ).
  • Di Korea Selatan, orang yang keluar dari penjara akan disuguhi tahu putih sebagai simbol pembersihan jiwa dan awal yang baru.


Aprilia Nurmala Dewi, penulis berdomisili di Sinjai Utara.