Di hari ketika Musa dan pengikutnya berbondong-bondong meninggalkan Mesir, kumpulan mega berarak persis menuju laut dan seketika permukaan air jadi gelap, tetapi ikan-ikan tetap berenang seperti biasa seakan-akan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dan seakan-akan segalanya masih dan akan terus berjalan normal, meski sebenarnya telah muncul beberapa potong pertanda sepele yang barangkali tidak terlihat oleh mata makhluk biasa, tentang lahirnya sesuatu yang agung dan tercatat di sebuah kitab suci dan terkenang hingga berabad lamanya dan bahkan hingga kiamat: perahu nelayan putus asa, beberapa kuda yang berbincang dengan burung-burung, dan diri saya yang tak terlibat apa-apa, kecuali sebagai penonton, tetapi tentang diri saya itu tidaklah penting, karena ada ataupun tidak diri saya ini, toh Musa dan para pengikutnya tetap menuju tanah yang dijanjikan, di seberang yang jauh dan tak terjangkau oleh imajinasi ikan-ikan, sehingga saat kabar dari masa lalu tentang raja yang mengaku sebagai tuhan itu sampai ke telinga saya, saya tidak akan menduga ada peristiwa sehebat ini; ribuan orang berjalan setengah berlari ke arah laut dalam formasi yang terlihat tanpa direncana dan terburu-buru dengan jumlah yang dapat membuat tanah di dekat pantai bergetar-getar seiring dekatnya jarak mereka dari kemerdekaan, dan itu sambung-menyambung tanpa henti sampai ikan-ikan sadar bahwa jumlah manusia yang lari dari raja zalim itu tidaklah tanggung-tanggung, oleh karena getaran dahsyat yang diakibatkan derap langkah mereka memang mencapai titik yang memungkinkan dalam membuat air di laut turut bergetar, dan tentu perahu sang nelayan yang putus asa juga turut bergetar, tapi yang ada di kepala orang udik itu hanya bahwa dirinya sedang tak waras dan kegelapan di langit, juga gempa serupa tabuhan perkusi dari bawah air di balik lantai perahu, seakan bukan kenyataan dan cuma terbit dari pikiran sendiri, dan semua ini menjadi bahan lelucon burung-burung yang sejak dulu kerap membawa kabar dari Mesir untuk ikan-ikan, dan siapa pula yang tidak paham jikalau burung-burung ini mendapat kabar dari beberapa kuda dan terkadang bangsa belalang atau bahkan katak dan unta, dan tidak jarang juga arwah orang-orang yang tidak lama meninggal di kawasan proyek ambisius sang raja yang ingin disembah sebagai tuhan dan ingin menang sendiri, yang berupa piramid dan patung dan segala bangunan yang entah bagaimana lagi saya menyebutkannya, tetapi mereka, burung-burung itu, tidak mungkin bicara dengan manusia yang putus asa dan bingung demi mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga mereka hanya tertawa sekaligus menangis karena tidak bisa berbuat lebih, dan karena inilah ikan-ikan lalu menghibur setiap ekor burung yang terlibat dalam perkara aneh ini dengan bilang bahwa segala kematian itu urusan Tuhan yang Mahaesa, termasuk kematian seseorang yang secara konyol terjadi di waktu bersamaan dengan hikayat agung yang bakal tercatat dalam lembar sejarah dan kitab suci, dan lagi pula mereka juga sadar pada akhirnya nanti si nelayan itu juga kaget lantaran Musa dan seluruh pengikutnya berjalan ke arah yang sama, dan barangkali di saat yang sama dia akan melihat betapa malu dia jika harus mati dengan ditonton oleh ribuan orang, tapi siapa pun tak bisa membaca masa depan, dan nasib sang nelayan tidak ada yang tahu sampai seluruh manusia, yang ribuan jumlahnya tadi, yang dipimpin Musa, benar-benar tiba di tepian pantai, sehingga seluruh semesta pun, pada detik saat mega pekat berarak ke sini, memutuskan menunggu; burung-burung, ikan-ikan, beberapa kuda yang telah kabur dari tuan mereka, beberapa belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain; tak ada satu pun yang sanggup melewatkan apa yang akan terjadi, dan semua bakal terus bertanya-tanya: dengan mukjizat macam apa Musa bisa membawa para pengikutnya lolos dari raja dan pasukannya, sementara di sini, tidak lama lagi, mereka menjumpai titik akhir berupa air yang hanya sanggup dilalui oleh ikan-ikan, perenang andal, dan perahu dan bukannya orang-orang tua renta, bayi-bayi, para wanita lemah, lelaki loyo, orang-orang pemalas, dan siapa pun yang tidak sanggup berenang dan tidak kuasa melawan ganasnya Laut Merah, dan saya sendiri yakin tak ada yang selamat kalau harus memaksa terjun ke air, kecuali tidak ada pilihan lain selain mati ketimbang menjadi budak raja yang mengaku sebagai tuhan, dan itu sungguh akan menjadi kisah paling menyedihkan yang akan saya saksikan, tapi saya berharap di detik-detik genting ini agar mukjizat Musa—yang tak kalah hebat ketimbang mengubah tongkat menjadi ular atau mengeluarkan cahaya dari telapak tangan—benar-benar lahir atas izin Tuhan yang Mahaesa, dan ini membuat saya terus saja berdoa, bahkan meski getaran di bumi akibat derap langkah ribuan pengikut Musa mulai bikin kacau tempat bernaung saya, dan bahkan meski suatu ketika saya harus berhenti oleh karena menyadari betapa perahu nelayan itu kini berada tidak jauh dari sekumpulan ikan-ikan yang terlihat cemas (yang mungkin membuat sang nelayan semakin terbenam dalam emosi yang tidak terkendali sehingga tanpa berpikir panjang membunuhi ikan-ikan itu untuk pelampiasan, karena sejatinya dirinya tak bisa benar-benar menghabisi dirinya sendiri dengan terjun ke laut dan pasrah didekap air hingga tewas—entah karena mulai memikirkan tentang neraka yang kelak menelannya bulat-bulat dalam keabadian atau entah karena mulai terpikir tentang solusi yang lebih baik ketimbang lari dari masalah dengan mencabut nyawanya sendiri), saya tetap berdoa, dan memang terkabullah doa itu setelah beberapa saat Musa berdiri di tepi suatu tebing di salah satu bagian pantai ini, dan dia terlihat bersujud dengan khusyuk, lalu bangkit dan berjalan ke dekat batas air dan tanah, dan di sanalah dia jamah permukaan air laut dengan ujung tongkat sebelum laut yang telah bergejolak karena angin dan pergerakan tidak wajar dari seisi semesta, terbelah menjadi dua, dan tentu saja ini membuat saya dan burung-burung dan ikan-ikan dan beberapa kuda yang telah kabur dari tuan masing-masing dan para belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain, dan juga seluruh pengikut Musa, serta tak ketinggalan: si nelayan yang bermaksud bunuh diri di laut, melongo berjamaah, seakan-akan barusan kami disuguhi sihir paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi, tetapi tentu saya tahu itu bukan sihir, karena sihir sangat dibenci oleh Tuhan dan siapa pun hamba yang terlibat dengan ilmu sihir, apa pun alasannya, diharamkan menyentuh wanginya surga, sehingga ini tentunya tidak lain hanyalah suatu mukjizat, dan jujur saja, inilah pertama kali saya menonton Musa memperagakan mukjizat atas seizin Tuhan yang Mahaesa, karena dari setiap mukjizat lama yang telah dia tampilkan di luar sana, yang hikayatnya disampaikan kuda dan belalang dan burung-burung dan entah makhluk hidup jenis apa lagi kepada saya dan beberapa makhluk lain di sekitar sini, tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan pada titik ini saya benar-benar merasa dada saya mulai penuh dan boleh jadi bakal meledak, sehingga saya juga yakin si nelayan yang kini perahunya oleng tak keruan dan malah terseret ke tepi atau batas pembelahan laut yang serupa air terjun di tengah laut, juga merasakan sensasi yang sama atau lebih gila di dadanya, dan ini membuat lelaki itu terlihat bersujud di atas perahu lalu bangkit dan menangis dan seluruh makhluk, yang melihat keberadaan perahu kecil itu sebagai titik kecil yang nyaris mencapai batas pembelahan air laut, tampak berteriak dan mulai khawatir orang tolol itu bakal mati karena jatuh ke dasar laut yang berupa jalanan pasir berbatu yang basah, tetapi ternyata nelayan itu dapat melompat dari perahu lalu berenang menuju batas pembelahan dan membiarkan tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah selagi ribuan pengikut Musa mempercepat laju mereka agar tak terkejar oleh rombongan Fir’aun yang ternyata mencapai titik yang tidak jauh dari laut, dan karena rombongan raja itu mampu menghabisi mereka sewaktu-waktu, Tuhan memberi hukuman yang setimpal, dan hukuman ini tidak sampai berimbas pada nelayan tolol yang keburu bergabung bersama Bani Israil yang masih memenuhi jalan dadakan di dasar laut yang kanan-kirinya ditemboki air setinggi bangunan-bangunan yang dulu mereka dirikan dengan darah dan air mata demi raja yang kini mengejar mereka, dan tentu beberapa orang bertanya-tanya terkait apa yang dilakukan nelayan tolol itu sehingga dia seakan terjun dari atas, dari langit yang mendung, tapi nelayan itu hanya bilang, dia nyaris tersesat dan kini bertekad meluruskan hidupnya, dan para pengikut Musa membiarkan orang itu berlari bersama mereka, lalu seiring lenyapnya detik demi detik hukuman Tuhan yang tak lagi ditunda, karena persis setelah Musa dan ribuan orang yang bersamanya mencapai seberang, saya melihat Fir’aun dan pasukannya dilumat habis oleh laut karena kini tembok air raksasa itu roboh dan bergejolak, kembali ke asal, kembali ke takdir dirinya sebagai laut, sebagai kumpulan air dalam jumlah besar yang akan dan selalu setia memenuhi setiap lubang atau celah yang tersisa karena memang begitulah hukum alam bekerja untuk air, dan tentu saja situasi ini merugikan siapa pun yang masih tertinggal di jalan yang terbentuk akibat mukjizat Musa yang terhebat, kecuali saya dan ikan-ikan lain yang memang dilahirkan untuk bernapas dalam air.
Gempol, 2018-2024
Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV sejak 2012. Karyanya tersebar di pelbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ atau IG kenhanggara.
Hari-hari tidak sama. Nama-namanya berbeda. Rasanya pasti berbeda. Apakah warna hari-hari pun berbeda? Aku tidak tahu jawabannya. Jika menghitung: berapa jumlah Rabu yang aku miliki, sejak lahir sampai sekarang? Bagi yang belajar, Rabu itu sekolah. Bagi yang mencari nafkah, Rabu itu hari kerja. Aku belum bisa memastikan Rabu yang sering aku alami memiliki makna atau klise.
Rabu, 20 November 2024, aku bukan pemenang hidup. Hari yang anggaplah tetap “sama” bagi orang yang terbebani masa lalu buruk, penyesalan, dan menyeret sekarung kutukan. Rabu yang datang rasanya biasa saja. Yang sedikit membedakan saat siang terlalu benderang dan membara.
Yang masih mungkin dilakukan adalah melihat Alun-Alun Utara (Keraton Surakarta Hadiningrat) dan memandang kesibukan para pedagang pakaian di sekitarnya. Tidak lupa, mengamati para pedagang mi ayam, tahu kupat, es teh, soto, dan lain-lain. Mereka yang merayakan Rabu dengan berdagang. Rabu yang jual-beli, berhitung laba dan kepuasan.
Aku tidak bisa menjadi pedagang mi ayam, hanya dapat menikmati mi ayam. Hari yang ditunggu belum tiba. Yang aku inginkan adalah makan mi ayam dengan cara ditraktir pengarang kondang, yang beberapa hari lalu pergi ke Jakarta untuk menerima anugerah besar. Membayangkan makan mi ayam dan berbagi cerita. Aku sekadar ingin terhubung dengan situasi sastra mutakhir, yang teristimewa novel. Aku masih membaca novel tapi pengalaman dan pengetahuanku justru makin surut.
Duduk di bawah pohon beringin. Di sampingku, pemuda yang biasa berkeliling kota naik sepeda onthel. Ia membaca lembaran-lembaran yang memuat huruf-huruf Arab. Yang terdengar: ia sedang mengaji. Di dekatku, ada juga lelaki tua yang tangannya memegang buku primbon. Pengetahuan lama yang masih terbaca saat berteduh dari sinar matahari. Telingaku mendengar orang membaca kitab suci. Mataku tergoda kesibukan lelaki yang bereferensi primbon.
Sebenarnya, aku ingin menikmati siang yang lambat. Bergerak menuju belakang deretan kios yang berjualan buku. Duduk lama untuk memandangi buku-buku di rak dan tumpukan buku, yang tidak rapi. Beberapa tangan telah membuatnya agak berantakan. Aku kadang berharap dapat kejutan: melihat sampul buku dan menginginkannya tanpa berpikir 3 detik.
Jadi, aku tidak mau terlalu menyibukkan tangan dengan menggeser atau mengubah posisi buku. Percaya mata saja. Melihat! Menemukan! Pengalaman yang terwujud. Mataku melihat sampul buku yang anggun. Judul buku: Seni Hidup Bersahaja. Gambar yang dipasang adalah bangku dan sandal. Apa maksudnya benda-benda di sampul buku? Aku yakin bukan buku petunjuk duduk yang benar atau cara-cara menggunakan sandal.
Buku ditulis oleh Shunmyo Masuno. Nama khas Jepang. Pastinya ia berasal dari Jepang. Buku dibuka halaman-halamannya, dibaca di lorong mendapat embusan angin. Yang disampaikan penulis Jepang: “Daripada mengernyitkan dahi untuk memahami gagasan Zen, cobalah berdiri di depan salah satu taman. Ini dapat menyegarkan pikiran dan semangat kita. Celotehan dan riak pikiran tiba-tiba menjadi diam dan hening. Saya menemukan bahwa pertemuan dengan sebuah taman Zen akan bisa menyampaikan lebih banyak tentang konsep-konsep Zen daripada membaca buku-buku yang menjelaskan falsafahnya.”
Kalimat-kalimat cukup berat. Di dekatku, yang terlihat alun-alun, bukan taman. Setahuku, taman-taman di Jepang itu unik dan indah. Tempat kadang kecil tapi kemuliaan dan keanggunan terasakan. Konon, “seni” taman di sana sulit ditandingi meski aku kada membaca taman-taman dalam novel-novel Eropa dan Amerika Serikat.
Yang ada di tanganku adalah buku mengenai ajaran Zen untuk panduan hidup. Nasihat yang terbaca: “Di setiap hari, yang kita butuhkan hanya sepuluh menit. Cobalah meluangkan waktu untuk kekosongan, untuk tidak memikirkan apa pun. Cobalah untuk membersihkan pikiran, dan tidak terperangkap dalam hal-hal di sekitar kita. Berbagai pikiran akan mengapung di benak kita, tetapi cobalah mengirimnya pergi, satu per satu…” Rabu bertemu nasihat. Siang yang berimajinasi taman dan keinginan tenang.
Aku sedang tidak menjadi pembantah atau pengejek nasihat. Rabu yang memerlukan kalimat-kalimat bukan berasal dari novel atau puisi. Akhirnya, buku itu menjadi pembelian yang wajar. Rabu itu buku. Aku mengalami Rabu yang buku. Rabu yang menerima nasihat-nasihat.
Berpindah ke kios lain. Aku melihat bapak yang semula memegang buku primbon berganti memegang buku tentang Tao. Selintas, aku melihat buku itu dibuat untuk menasihati orang-orang yang menanggung banyak masalah dan ingin harmonis dalam kehidupan. Aku belum tergoda memegang dan membelinya. Di tanganku, buku yang memuat ajaran-ajaran Zen.
Di tumpukan buku yang hampir jatuh, aku melihat punggung buku yang bertuliskan: Lentera Hati. Buku yang berulang aku baca saat resah dan ingat agama. Beberapa teman aku hadiahi buku yang dibuat Quraish Shihab meski dalam kondisi bekas. Buku memuat artikel-artikel pendek, berpijak agama. Aku mudah membaca dan menyukainya. Pada suatu hari, aku ingin meniru dengan membuat artikel-artikel pendek tapi tanpa keharusan bertema agama.
Buku berukuran kecil dan tebal terbitan Mizan. Di rumah, aku mungkin sudah punya 4 atau 5 eksemplar. Rabu itu aku membeli lagi. Aku segera membuka halaman-halamanya sambil diselingi mengarahkan mata ke Alun-Alun Utara. Tempat yang terang oleh matahari, bukan lentera.
Quraish Shihab memberi tafsir atas ayat dalam Al Quran: “Demikianlah, perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada manusia.” Kalimat yang memadai saat aku memiliki Rabu yang buku. Namun, aku belum pasti pembaca. Apa aku cuma penonton buku, pemegang buku, dan pembeli buku?
Konon, jumlah pembaca buku di Indonesia bertambah. Pemerintah mungkin senang. Yang aneh, toko buku di beberapa kota makin sepi dan tutup. Pasar buku bekas pun merana atau lesu. Di media sosial, para pedagang buku pamer keluhan ketimbang mendapat uang.
Hari mau sore, aku tidak bisa terlalu lama bersama buku dan majalah bekas di Gladag (Solo). Sebelum pergi dan pamitan, aku masih berhasil melihat setumpuk buku yang di sampulnya tampak logo perusahaan minuman. Aku mengambilnya dan membelinya tanpa menawar. Empat buku adalah “Ensiklopediku: Serial Pengetahuan Anak.” Yang terbawa adalah “sains di sekitar kita”, “tubuh manusia”, “bumi kita”, dan “burung”. Buku-buku tipis yang dulu diminati anak-anak. Mereka membava buku setelah minum Frisian Flag.
Lima buku dalam seri “Tokoh Inspirasiku”. Aku mendapatkan buku mengenai Louis Pasteur, Marie Curie, Alexander Graham Bell, Christopher Columbus, dan Thomas Alva Edison. Semua orang asing dari negara-negara yang jauh. Mereka yang mengubah dunia, yang memberi gairah peradaban manusia. Anak-anak di Indonesia menjadi pembaca dan kolektor buku, setelah memenuhi syarat minum Frisian Flag. Aku tidak ingin mengejek atau setor kritik. Aku mengangguk sebagai tanda maklum siasat industri dalam mencipta laris dan turut membentuk masyarakat-baca. Buku-buku itu siasat bisnis dan godaan keaksaraan.
Aku memiliki Rabu yang bermutu. Rabu itu buku. Rabu dengan bacaan-bacaan bergelimang nasihat. Aku pun menjadi pembaca mengandaikan seperti anak atau mengikuti definisi industri, yang menghendaki: jadilah konsumen, sebelum berlagak menjadi pembaca buku. Kabut